Koide Yuzuka 1 — Mengenai Temanku yang Sudah Lama Tidak Kulihat Tahu-tahu Menjadi Sangat Dimabuk Cinta
April.
Merupakan hari-hari yang sibuk sekaligus padat bagi orang-orang yang hidup di tengah masyarakat, di mana ada begitu banyak acara seperti upacara penerimaan siswa baru, upacara pembukaan semester, hingga upacara penyambutan karyawan baru.
"Heei~, Mattsun. Katanya kamu tidak naik kelas SMA ya~?"
"Yah~ begitulah."
......Di tengah siang bolong pada hari kerja seperti ini, kami berdua—yang duduk berakar di atas sofa famires sambil melamun tanpa melakukan apa-apa—mungkin adalah sosok yang sedikit terlempar dari lingkup orang-orang "normal" yang hidup di tengah masyarakat tersebut.
Namaku Koide Yuzuka. Seorang pekerja paruh waktu yang putus sekolah SMA.
Sosok tak berperasaan yang saat ini berada di depan mataku... Matsushita Ayami, yang terus-menerus menatap layar ponselnya tanpa memedulikan pertanyaanku, adalah teman sekelas saat SMP dulu.
Setelah secara tidak sengaja bertemu lagi di depan stasiun untuk pertama kalinya setelah kira-kira setengah tahun, dan karena kami berdua sama-sama tidak ada urusan lain, entah bagaimana kami jadi menghabiskan waktu bersama seperti ini.
"Kamu sudah merosot sampai ke titik terendah ya~ Padahal waktu SMP kamu itu masuk jajaran murid papan atas, lho."
Kalau orang-orang di sekitar melihat kami berdua—seorang anak yang putus sekolah dan anak yang katanya tidak naik kelas—sedang mengobrol santai dengan raut wajah bosan, mereka mungkin berpikir kalau kami ini adalah teman tidak berguna yang punya hubungan buruk sejak lama, atau sesama orang rusak yang sangat cocok satu sama lain.
Ya, benar-benar tipe dua orang yang kelihatan seperti sedang bekerja sama melakukan pekerjaan paruh waktu yang berbahaya.
......Tapi, kenyataannya sadiiikiit berbeda, sih.
Lagipula dengan anak ini... dengan Mattsun, aku tidak terlalu akrab saat SMP dulu.
Lebih tepatnya, meskipun kami sekelas, kami hampir tidak pernah berinteraksi.
Bisa dibilang kami berdua sama sekali tidak punya ketertarikan satu sama lain.
Soalnya Mattsun itu, kalau boleh dibilang, dulunya berada di grup murid-murid teladan.
Sedangkan aku, kalau boleh dibilang... bukan, aku memang berada di grup yang posisinya paling bawah.
"Terserah mau bagaimana juga tidak masalah, kok... Yang penting sekarang menyenangkan."
"...Menyenangkan, nih?"
"Tahulah ya~"
Alasan kenapa kami bisa keluyuran bersama seperti ini... kalau tidak salah sekitar setengah tahun yang lalu.
Aku, yang langsung keluar dari SMA level bawah dengan kecepatan ala speedrun RTA, sedang luntang-lantung di stasiun lokal sejak siang hari karena tidak ada pekerjaan. Saat itulah di depan stasiun yang sama, ada seseorang yang melakukan gerakan persis sepertiku... yang tampak tidak asing, yaitu si mantan murid teladan, Matsushita.
Lalu, saat aku asal menyapanya dengan niat ingin sedikit menjahili, jawaban yang kembali darinya justru berupa kalimat: “Nee Koide, hari ini aku boleh menginap di rumahmu tidak?”
"Tebakanku pasti gara-gara cowok, kan~? Ayo cerita dong~"
"Bukan hal yang penting juga, kan..."
"Kamu lupa ya sama kebaikanku yang mau menampungmu selama sebulan saat kamu tidak punya tempat tinggal~?"
Dan ternyata, kalimat “Hari ini boleh menginap tidak?” itu beneran berlanjut sampai satu bulan penuh. Jujur saja aku sendiri sampai kaget.
Matsushita si murid teladan itu. Matsushita yang penampilannya lumayan berkilauan itu.
Tidak masuk sekolah, tidak pulang ke rumah, malah menempel di rumah orang lain, mendekam di dalam kamar seolah-olah sedang menahan napas, dan membiarkan dirinya membusuk begitu saja.
"Ah~ uang untuk biaya selama aku berutang padamu waktu itu pasti kubayar, kok. Tunggu sebentar lagi ya."
"...Bukan hal seperti itu yang sedang kubahas, tahu."
"...Maaf."
Ya, serius deh, waktu itu Mattsun beneran sudah membusuk. Sampai-sampai membuatku merasa kesal sendiri.
Dia memang mengucapkan kata "Maaf", tetapi kalimat itu sama sekali tidak datang dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Rasa ketulusannya seperti tertinggal di suatu tempat. Dia mengganti semuanya dengan nilai uang.
Tapi ya, sikap Mattsun yang seperti ini ke aku tuh bukannya karena dia mau pamer atau sok berkuasa seperti hierarki zaman SMP dulu, lho.
Mattsun yang sekarang ini terus-menerus merasa sungkan ke aku. Dia terlalu tenggang rasa.
Bukan, lebih tepatnya dia menjaga jarak dengan sangat, amat pas.
Dia menjaga jarak di batas aman agar tidak dibenci, tidak terlalu akrab hingga kebablasan, dan tidak memperlihatkan sisi buruknya.
Tapi di saat yang sama, dia juga takut setengah mati kalau jarak itu terlalu jauh sampai hubungan kami terputus.
Benar-benar persis seperti menjaga jarak antar-landak agar duri mereka tidak saling menusuk.
Waktu Mattsun menginap di rumahku, pernah sekali dia pergi sebentar. Begitu kembali, dia sudah memegang beberapa lembar uang sepuluh ribuan yen lalu menyodorkannya padaku.
Saat kutanya sambil setengah bercanda (menurutku itu sudah lumayan mencampuri urusannya), “Apaan nih? Dapat uang dari mana kamu?”, dia cuma menjawab, “Aku pulang ke rumah sebentar buat mengambil uang,” tanpa mau menceritakan lebih lanjut.
Padahal sudah kubilang tidak usah, tapi dia tetap memaksaku memegangnya.
Melihat sikapnya itu, aku jadi sedikit gengsi. Begitu kutolak balik dengan raut wajah kesal, dia cuma menguncupkan bibirnya lalu berkata maaf dan menarik uang itu kembali.
Namun beberapa hari kemudian, aku menemukan uang itu terselip dengan sangat rapi dan tersembunyi di dalam laci meubelmuku.
Aku berpikir, kalau sudah begini, marah-marah pun tidak ada gunanya lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut menyelaraskan diri dengan "sensasi jarak yang pas" buatannya itu.
Tapi, mungkin saja hal itu yang malah bikin makin tidak bagus, ya...
"Kamu itu sifatnya memang begitu ya, Mattsun? Makanya waktu masuk SMA kamu malah jadi terasing dan tidak bisa dapat teman."
"Aku tahu kok. Kalau aku ini memang sampah yang sudah tidak ada gunanya lagi."
"Duh, di saat begini harusnya kamu bales: 'Masa aku harus mendengarkan omongan orang yang posisinya paling bawah seperti kamu sih~?' tahu!"
Soalnya, yang namanya menjaga jarak dengan pas seperti itu tuh...
Adalah jarak yang bikin kami tidak bisa menyadari perubahan perasaan satu sama lain, atau perubahan-perubahan kecil yang semacam itu, kan.
Aku sendiri, selama sebulan menghabiskan waktu bersamanya, sudah sedikit berubah—berubah secara sangat halus.
Seiring berjalannya waktu tinggal bersama Mattsun, perlahan-lahan aku mulai mengkhawatirkannya.
Awalnya sih cuma sebatas ‘Ah terserahlah ya~’, lalu berubah menjadi ‘Tapi ini anak kenapa bisa jadi begini ya?’, sampai akhirnya aku berpikir ‘Coba saja dia mau menceritakan masalahnya dengan jujur ya...’
Yah, biarpun sudah dengar alasannya, belum tentu juga seorang pengangguran sepertiku bisa berbuat sesuatu (mungkin sih).
Tapi setidaknya, aku berpikir kalau aku bisa hadir di sisinya.
Setidaknya aku mungkin bisa bilang, “Aah~ ternyata jadi anak teladan itu berat juga ya~ walau aku tidak paham-paham amat sih.”
......Yah, kalau diucapkan mentah-mentah begitu mungkin malah bisa memicu pertengkaran sih, tipis-tipis di garis batas.
Tapi, kalaupun sampai bertengkar, bukankah pertengkaran itu malah bisa dijadikan pemicu untuk saling melangkah lebih dalam ke masalah yang sebenarnya?
Sekitar setengah bulan dia tinggal di kamarku, aku mulai memikirkan hal-hal seperti itu.
Namun Mattsun sendiri, sejak pertama kali menempel di kamarku, pada akhirnya sama sekali tidak berubah.
"Tapi, tidak apa-apa..."
Akan tetapi, sekarang.
Mattsun yang sama sekali tidak berubah saat tinggal bersamaku itu...
"Aku, sekarang... asalkan ada ——, itu sudah cukup."
"Haa~? Ngomong apa kamu~?"
Malah memberikan respons dengan jarak yang amat sangat menempel rapat seperti ini—hanya kepada layar ponselnya.
Yah, mungkin lebih tepatnya kepada orang di seberang ponsel itu, sih.
"...Kamu tidak lapar? Aku traktir apa saja, mau?"
Lalu kepada diriku yang berada di depan matanya ini, dia masih tetap sama saja: berusaha mengambil hatiku dengan menyebar uang.
......Duh, parah. Anak ini sama sekali tidak berubah, dan tidak paham apa-apa.
Mattsun, kamu itu beneran payah dalam mengambil jarak dengan orang lain tahu. Mana payahnya kebangetan lagi.
Ketergantungan yang tidak pernah dia perlihatkan kepadaku—padahal sudah tinggal bersama selama sebulan—sekarang malah dia tunjukkan begitu saja kepada orang di ponsel yang mungkin baru dia kenal. Bukankah itu agak bahaya?
Tidak sih, kalau dia bilang aku ini bukan tipe orang yang bisa diandalkan sampai seperti itu, aku memang tidak bisa membantah apa-apa, sih...
Tapi, kalau kamu mendadak jadi dimabuk cinta sampai seperti itu, lalu hubungannya tidak berjalan lancar, kamu mau jadi bagaimana nanti?
Yang namanya hubungan antarmanusia itu kan, tidak seharusnya melangkah terlalu jauh tanpa melewati waktu, dan bukankah kalau sudah menghabiskan waktu bersama harusnya bisa melangkah sedikit lebih dalam?
Takaranmu untuk urusan yang satu itu beneran aneh tahu!
Kamu bertingkah dengan gerakan yang mengkhawatirkan seperti itu terus-menerus, apa beneran bakal baik-baik saja?
Tapi, yah...
"Aku pesan omurice ya."
"Kalau begitu, aku juga samaan ah~"
"Terus ya Mattsun, cerita yang benar dong soal cowok itu!"
"Duh~ bukan begitu tahu~ Hentikan dong, Yuzu."
Karena dia kelihatan begitu bahagia dengan raut wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya, untuk saat ini... ya sudahlah ya.
Tolong ya, Mas Pacar?
Tolong terima Mattsun apa adanya ya?
Anak itu punya kemungkinan besar bakal terperosok ke masalahnya sendiri lalu kabur begitu saja, tapi demi harga diri seorang pria, tolong usahakan agar hubungan kalian tetap bertahan ya?
Cuma itu satu-satunya permohonanku.