Saranami (LN) Jilid 2 Shirasaka Hikari 1

Meski Terlambat, Aku Sudah Jatuh Cinta Pada Teman Masa Kecilku Jilid 2, Shirasaka Hikari Bagian 1, Benih-benih cinta yang mula bermekaran.

Shirasaka Hikari 1 — Meskipun Sudah Terlambat, Aku Jadi Sangat Mempertimbangkan Kembali Teman Masa Kecilku

Hari yang benar-benar biasa.

Akhir Mei, salah satu dari sedikit periode dalam setahun yang bisa kubanggakan sebagai waktu yang nyaman: belum terlalu panas dan belum terasa pengap.

"Lho? Ta-kun, selamat pagi~"

"Hikari? Tumben hari ini cepat?"

Di bawah sinar matahari pagi yang cerah itu, aku, Shirasaka Hikari (kelas satu SMA), berpapasan dengan teman masa kecilku yang tinggal di sebelah rumah, Takamura Yuu-kun... biasa kupanggil Ta-kun, tepat di saat aku melangkah keluar rumah untuk berangkat sekolah.

"Sebenarnya hari ini ada rapat komite sebelum jam pelajaran dimulai~ Entah kenapa OSIS di sekolahku ambisius banget."

"Hee, kudengar sekolahmu itu sangat menghargai kemandirian muridnya, tapi ternyata hebat juga ya."

"Gara-gara itu aku yang repot. Fuaaaaa~"

Yah, sesuai ucapanku, biarpun agak sedikit jengkel karena terpaksa harus bangun lebih pagi dari biasanya...

Namun, bisa mengobrol santai seperti ini dengan tetangga sebelah rumah—yang sejak kami berdua menjadi anak SMA jadi makin jarang punya kesempatan untuk bertemu—bikin aku merasa tidak ada salahnya untuk sedikit mengapresiasi OSIS di sekolahku.

Apalagi kesempatan seperti ini baru saja gagal total kemarin malam.

"Ngomong-ngomong, maaf ya soal kemarin? Aku malah membatalkan acara makan malamnya secara mendadak."

"Uhum, tidak apa-apa kok~ Oiya, temanmu tidak apa-apa?"

"E-Emm... dia langsung pulih kok. Terima kasih ya."

Ya, aku dan Ta-kun sebenarnya dijadwalkan bertemu kemarin malam di acara makan malam rutin bulanan antar-keluarga (walau biasanya para ayah tidak bisa ikut).

Namun, teman yang bermain dengannya di siang hari mendadak jatuh sakit, dan karena harus mendampinginya sampai larut malam, dia terpaksa membatalkan kehadirannya di acara makan malam tersebut tepat di menit-menit terakhir.

"Soalnya kalau tidak ada Ta-kun, acaranya beneran jadi seperti murni gosip ibu-ibu komplek. Aku saja sampai ikut-ikutan jadi komplotan para ibu, heboh membicarakan rumor tetangga sekitar~ Ah, maaf ya padahal kamu sendiri lagi kerepotan di sana?"

"T-Tidak... serius, justru aku yang minta maaf."

"Ahaha, makanya~ kenapa coba Ta-kun harus minta maaf~?"

Padahal itu adalah situasi mendesak yang tidak bisa dihindari, tetapi dia sekarang malah membungkukkan punggungnya—seolah-olah malu dengan tubuhnya yang makin tinggi—dan menundukkan kepalanya berulang kali padaku.

Seperti biasa, selalu saja rendah hati~ Padahal kami seumuran.

"Tapi tetap saja, Hikari dari dulu masih akrab banget ya sama keluarga."

"Aku juga akrab kok sama ibunya Ta-kun?"

"Benar juga sih... Hal-hal semacam itu darimu beneran bikin lega, deh."

"...?"

Lagipula hari ini kenapa tiba-tiba memuji-mujiku begini?

Ada kejadian apa di sekolah?

※ ※ ※

Setelah itu, kami berdua berjalan berdampingan hingga sampai di stasiun.

Karena tujuan kami sejarah sampai di stasiun tempatku turun, kami naik ke dalam kereta yang sama seperti biasa.

"...Teman kita waktu SD dan SMP dulu, kamu masih ingat tidak sama Ishikawa?"

"Ishikawa-kun...? Kalau tidak salah waktu kelas 5 SD kita sekelas, kan?"

"Iya, anak itu."

"Waktu itu dia beberapa kali main ke rumah Ta-kun, kan? Kesanku ke dia agak kurang bagus sih~ Soalnya tiap kali kita berdua lagi bareng, dia sering banget menjahili kita."

Begitu pintu kereta tertutup, Ta-kun mulai membuka pembicaraan...

Pembicaraan tentang teman sekelas masa lalu yang jujur saja tidak terlalu berbekas di dalam ingatanku.

"Terus, memangnya kenapa dengan Ishikawa itu? Apa dia satu sekolah lagi di SMA yang sama?"

"Tidak, belakangan ini aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan aku tidak tahu sekarang dia sedang apa."

"H-Hee..."

Melihatnya membicarakan teman yang 'belakangan ini tidak pernah ditemui lagi' dengan raut wajah yang agak muram begitu...

Kurasa ekspresi mukaku saat mendengarkannya benar-benar sangat cocok digambarkan dengan kata "tertegun".

"Sebenarnya waktu kelas dua SMP, dia mendadak jadi anak yang bolos sekolah... sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi."

"Eh...?"

"Waktu itu aku sekelas lagi dengan Ishikawa. Tapi entah kenapa sewaktu semester dua dimulai, dia mendadak berhenti masuk sekolah... dan pada akhirnya tetap bolos sampai naik kelas."

"H-Hee... aku sama sekali tidak tahu, lho~"

Apalagi saat topik pembicaraannya perlahan-lahan mulai makin berat, raut kebingungan pasti makin jelas terpancar di wajahku.

......Serius, kamu ini kenapa sih?

Apa ada sesuatu yang bikin kepikiran atau bikin berat?

"T-Tapi, memangnya kenapa dengan hal itu? Bukannya Ta-kun tidak melakukan kesalahan apa-apa?"

......Kurasa bertingkah terlalu sensitif dan mengkhawatirkan hal berat di sini bukanlah pilihan yang tepat. Jadi demi mencairkan suasana, aku mencoba berseloroh santai.

"Ya, aku memang tidak melakukan apa-apa... atau lebih tepatnya, aku tidak berbuat apa-apa sama sekali."

"Eh...?"

"Sekitar dua bulan setelah Ishikawa berhenti masuk, wali kelas kami mendadak bilang, 'Ayo kita buatkan surat ucapan selamat/pesan bersama untuk Ishikawa'. Dan aku yang ditunjuk buat mengoordinasi hal itu."

"Aah, hal seperti itu memang ada ya... Tapi kalau sekarang sih rasanya hal semacam itu banyak menimbulkan pro dan kontra."

Seperti biasa, aku sama sekali tidak paham ke mana arah pembicaraannya ini...

"Benar juga. Kalau zaman sekarang, ada yang berpendapat kalau hal itu malah bisa berdampak sebaliknya... Tapi mau bagaimana pun, sampai sekarang aku tetap menyesali apa yang terjadi saat itu."

"Kenapa? Kamu tidak berhasil mengumpulkan pesan-pesannya?"

"Bukan hal seperti itu, sih..."

Lalu sepanjang perjalanan satu stasiun berikutnya, begilah ringkasan dari apa yang diceritakan oleh Ta-kun:

 

Dia telah menjalankan tugasnya dengan baik: mengelilingi seluruh teman sekelas dan menyelesaikan lembaran pesan bersama tersebut.

Namun isinya... tidak ada satu orang pun yang menyampaikan pesannya secara sungguh-sungguh. Kata-katanya terasa sangat dangkal, bahkan ada yang terkesan mengejek, hingga membuat Ta-kun ragu apakah lembaran itu pantas diserahkan kepada Ishikawa-kun atau sebaiknya dihancurkan saja.

Karena bingung antara harus menyerahkannya atau menyembunyikannya, dia berkonsultasi dengan wali kelas. Hasilnya, keputusan itu diserahkan kepada orang tua Ishikawa-kun, dan pada akhirnya lembaran itu tetap diantarkan ke rumahnya.

 

"Jadi, kamu menyesal karena sudah menyerahkannya?"

"Bukan, hal yang kusesali bukan di situ."

"Kalau begitu...?"

"Kan sudah kubilang? 'Tidak ada satu orang pun yang menyampaikan pesannya secara sungguh-sungguh'... yang artinya, pesan dariku pun cuma sebatas itu."

"Eeh~? Tapi kalau hal seperti itu kan..."

"Kenapa ya, waktu itu aku tidak mau menghadapinya secara sungguh-sungguh?"

"Ta-kun...?"

"Soal tidak masuk sekolah, kalau zaman sekarang memang sudah dianggap hal yang wajar, sering terjadi, atau banyak yang bilang tidak usah terlalu dipikirkan... Tapi,"

Memang membingungkan kenapa dia mendadak menggali kembali cerita lama seperti ini di saat sekarang.

"Tetapi, kalau kita tidak tahu bagaimana situasi yang dialami orang tersebut dan apa yang sedang dia pikirkan hingga menjadi seperti itu, kita tidak akan pernah tahu apakah itu hal yang wajar atau tidak, dan kita juga tidak tahu apakah dia sedang menderita atau tidak."

Namun, raut wajahnya saat ini—yang memancarkan rasa kesedihan dan kepedulian dari lubuk hatinya yang paling dalam—meruntuhkan seluruh keraguanku.

"Bisa saja orang tersebut sebenarnya sangat menarik dan bisa menjadi sosok yang berharga bagi diri kita. Namun 'sikapku yang seperti itu' justru telah menutup kemungkinan untuk menyadarinya."

Untuk sebuah awal hari di pagi hari yang baru dimulai, topik ini terasa bukan cuma sekadar berat, melainkan sangat berat hingga rasanya sulit untuk kuterima sepenuhnya.

"Makanya, mau pesan itu tersampaikan atau tidak ke orangnya, kurasa aku harusnya bertanya dengan lebih sungguh-sungguh dan berusaha mencari tahu secara sungguh-sungguh... Itulah penyesalanku."

"......Ada sesuatu yang terjadi ya?"

Meskipun begitu, aku......

Perkataan santai yang sempat kusembunyikan di dalam hati puluhan menit lalu...

Kini kucoba tanyakan kembali padanya, dengan nada yang sedikit lebih serius.

"Tidak ada apa-apa kok...... Sekadar memberi tahu ya, teman yang kemarin juga sudah beneran sehat, lho?"

Tetapi dia, terhadap pertanyaanku itu, hanya membalas dengan senyuman tipis dan sudut mata yang sedikit melengkung turun.

 

"Makin dewasa saja ya~! Ta-kun!"

Terhadap alur pembicaraan yang bikin penasaran seperti ini—namun pada akhirnya malah ingin diselesaikan tanpa menceritakan apa-apa—sebenarnya aku ingin menyemprotnya sedikit, sih.

"Bukannya begitu juga kok...... Bahkan sampai sekarang pun, aku cuma sebatas memikirkannya tanpa bisa mempraktikkannya ke dalam tindakan. Tidak ada yang berubah."

"Nggak kok! Cuma dengan bisa berpikiran seperti itu saja, itu sudah hal yang luar biasa tahu!"

"Masa, sih...... Terima kasih ya."

"Ngomong-ngomong, di kelasku yang sekarang juga ada anak yang jarang masuk sekolah, lho...... Yah, zaman sekarang sih hampir di setiap kelas pasti ada satu ya."

"Iya, di tempatku juga ada."

"Kalau begitu, kalau nanti aku bertemu anak itu, aku bakal meniru Ta-kun untuk mencoba menghadapinya dengan sungguh-sungguh, deh!"

"Bukan begitu, kan kubilang aku belum melakukan apa-apa yang bisa ditiru......"

Tapi, yah, siapa yang hatinya tersentuh duluan, dia yang kalah kan~

 

Shirasaka Hikari, 15 tahun......

Hari ini entah kenapa, aku merasa sangat bangga pada teman masa kecilku ini.

 

"......Ngomong-ngomong ya Ta-kun, bagian memerah dan bengkak di lehermu itu, kenapa?"

"!? I-Ini...... di kamar ternyata sudah mulai ada nyamuk, lho~!"

"Hee, padahal rasanya masih cukup nyaman, tapi ternyata suhunya sudah makin panas ya~"

"......Fiuh."

"Emm?"

"Bukan apa-apa kok!"

Ilustrasi 3 Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 2 Shirasaka Hikari Bagian 1
Ilustrasi Saranami Jilid 2 Shirasaka Hikari 1

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar