![]() |
| Majo to Ryouken Volume 1 Chapter 3 |
Bab 3: Ratapan
Bagian 1
Teresalisa Maiden mulai bekerja di Kastel Löwenstein sekitar satu tahun yang lalu, tepat setelah ia tiba di Kerajaan Löwe.
Teresalisa yang saat itu berusia delapan belas tahun mencari pekerjaan di guild kota. Selama ia bisa bekerja sebagai pelayan, ia tidak peduli di mana tempatnya. Bekerja di kediaman yang kecil sekalipun tidak masalah, tetapi kemampuan melayani Teresalisa—yang telah mengumpulkan banyak pengalaman sebagai pelayan (maid) dengan berpindah-pindah dari satu kediaman ke kediaman lain—sangatlah menonjol dibandingkan pelayan lainnya. Guild mengadakan tes kemampuan untuk mengukur kecakapan melayani tersebut, dan Teresalisa yang berhasil meraih nilai peringkat atas pun menarik perhatian Kepala Pelayan Kastel Löwenstein.
Bekerja di sebuah kastel adalah pengalaman pertamanya. Tanpa disangka, kehidupan itu sangatlah menyenangkan. Mungkin karena negara ini juga disebut sebagai 'Negara Perdagangan' di mana lalu lintas orang sangat padat, rekan-rekan sesama pelayan sangat toleran terhadap Teresalisa yang merupakan orang asing, dan lingkungan tempat banyak orang bekerja itu terasa lebih hidup dibandingkan kediaman-kediaman yang pernah ia singgahi sebelumnya.
Sampai saat itu, Teresalisa hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, terus-menerus mengubah namanya dan tempat tinggalnya. Ia sudah bisa menggunakan sihir sejak ia mulai mengerti keadaan sekitarnya, sehingga ia sudah terbiasa disebut sebagai pembawa malapetaka dan dibenci oleh orang-orang yang melihat kekuatannya.
Menjalani kehidupan yang penuh ketegangan, selalu waspada terhadap Ahli Sihir yang bisa muncul dan memburunya kapan saja, telah menjadi kesehariannya. Namun, ia selalu memiliki ketertarikan pada cara hidup sebagai manusia biasa.
Setiap kali ia melihat senyum bahagia orang-orang yang tinggal di kediaman tempat ia dipekerjakan sebagai pelayan selama ini, ia selalu merasa heran. Bagaimana mereka bisa tertawa sebahagia itu? Apakah karena mereka hidup tanpa kekhawatiran? Apakah karena mereka terbebas dari keseharian yang penuh dengan ancaman 'membunuh atau dibunuh'? Pernahkah ia sendiri tertawa dengan sungguh-sungguh dari lubuk hatinya seperti itu?
Jika memungkinkan, Teresalisa ingin menjadi seorang manusia.
Kerajaan Löwe adalah 'Negara Kesatria' yang pernah berperang melawan Kerajaan Amelia dalam Perang Empat Binatang Buas. Meskipun keluar masuknya para Wizard tidak dilarang, jumlah mereka di sini sangatlah sedikit. Dengan bekerja di kastel Löwe inilah, untuk pertama kalinya Teresalisa mendapatkan ketenangan yang sederhana. Ia berpikir, di sinilah harapannya untuk hidup sebagai manusia biasa mungkin bisa terwujud.
Karena itulah suatu hari, Teresalisa memutuskan untuk melepaskan cermin tangan yang telah ia miliki sejak kecil. Sihirnya bermanifestasi melalui cermin tangan tersebut. Ia memasukkan benda yang melambangkan identitasnya sebagai seorang penyihir itu ke dalam sebuah kotak kayu paulownia.
Di tengah kabut pagi yang menyelimuti, Teresalisa menyelinap keluar dari Kastel Löwenstein dan menuju ke sebuah hutan kecil di pinggiran kota. Ia meletakkan kotak kayu itu ke dalam lubang yang digalinya di tanah, lalu menutupinya dengan tanah. Ia bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menggunakan sihir lagi. Berharap bahwa nama 'Teresalisa' yang ia gunakan di negara ini, akan menjadi nama terakhirnya.
Sekitar tiga bulan setelah mulai bekerja di kastel, Teresalisa telah menemukan tempat favoritnya di dalam area kastel.
Tempat itu berada di atas dinding kastel yang menghubungkan satu menara pengawas dengan menara pengawas lainnya. Sebuah lorong penghubung terbuka yang sepi dan berangin. Sangat jarang ada orang yang sengaja naik sampai ke lantai paling atas seperti ini. Meskipun bekerja di tengah keramaian itu menyenangkan, Teresalisa juga sangat menghargai waktu sendirian di mana ia bisa melemaskan bahunya dan bersantai.
Meletakkan tangannya di atas dinding batu yang tersusun setinggi dada, ia memandangi matahari terbenam yang perlahan tenggelam di batas cakrawala. Ia sangat menyukai pemandangan menakjubkan yang bisa dilihat dari sana. Deretan pemandangan kota Löwe yang dipenuhi batu bata merah, perlahan diwarnai oleh cahaya senja. Di seberang sana, permukaan air laut memantulkan sinar matahari, berkilauan dengan indahnya.
Bisa memonopoli pemandangan matahari terbenam di cakrawala seorang diri, tidak ada kemewahan yang lebih besar dari ini.
Sesaat sebelum matahari terbenam, lampu-lampu mulai menyala satu per satu di jalanan kota di bawah sana. Area di sekitar 'Jalan Kemenangan' terlihat sangat terang. Malam yang hiruk-pikuk pun tiba.
Di sepanjang dinding batu itu, diletakkan sebuah bangku batu.
Saat matahari terbenam, Teresalisa duduk di sana dan menatap bulan yang mengambang di langit.
Bulan mencairkan malam yang gelap tanpa suara. Teringat akan masa lalunya, ia menengadahkan tangannya.
Teresalisa menghabiskan masa kecilnya di karavan 'Kaum Pengembara' (Drifter). Pemimpin karavan yang memimpin kelompok beranggotakan sekitar empat puluh orang itu adalah ayah angkat yang membesarkannya.
Tak lama setelah ia lahir, Teresalisa dipungut oleh karavan tersebut.
Ia mendengar cerita itu dari sang Pemimpin. Pada suatu malam yang diwarnai badai, sebuah kereta kuda yang memaksakan diri melintasi pegunungan tergelincir jatuh. Keesokan paginya, Pemimpin dan kelompoknya yang mencari barang berharga di dasar jurang, menemukan seorang bayi yang menangis tersedu-sedu di dalam kereta kuda yang dipenuhi mayat tersebut. Bayi yang menggenggam erat sebuah cermin tangan putih itu, adalah Teresalisa.
Sebagai anggota 'Kaum Pengembara', Teresalisa menghabiskan waktunya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain bersama mereka.
Tidak memiliki tempat tinggal tetap, terus-menerus mengembara, dan melakukan perdagangan serta pertunjukan adalah cara hidup mereka. Jarak tempuh dari satu kota ke kota lain sangatlah jauh. Garis bukit berbatu yang tidak pernah berubah, kaktus yang sesekali terlihat, serta suara derap tapak kuda dan roda yang tak terhitung jumlahnya──. Hanya hal-hal itulah yang teringat di benaknya, hari-hari yang membosankan.
Di malam-malam saat ia tidak bisa tidur, ia sering berbaring di kereta barang yang berguncang dan menatap langit malam. Di langit, bulan selalu mengambang, menatap diam-diam ke arah Teresalisa di bawah sana.
──Kau ini, sering sekali mengikutiku tanpa merasa bosan, ya.
Apa sebenarnya yang menarik dari menatap ke bawah pada orang seperti dirinya. Teresalisa kecil mengulurkan tangannya ke arah bulan. Itu adalah hari-hari yang membosankan, tetapi kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin itu adalah salah satu dari sedikit momen kedamaian dalam hidupnya yang singkat. Kini ia sudah meninggalkan karavan tersebut. Mengubah namanya, mengubah kehidupannya, dan tidak ada lagi orang yang mengenal dirinya di masa lalu.
Kecuali bulan itu, yang terus mengikutinya tanpa henti──.
Hari itu adalah malam yang membawa nuansa awal musim panas. Angin malam membelai kulit yang sedikit berkeringat, terasa sangat nyaman. Teresalisa yang sedang dalam suasana hati yang baik duduk di bangkunya yang biasa, menatap bulan sambil bersenandung.
Itu adalah lagu yang sering dinyanyikan oleh sang Pemimpin karavan saat sedang dalam suasana hati yang baik, sambil memegang kendali di kursi kusir.
"──Melodi yang sungguh indah."
Tiba-tiba disapa, Teresalisa langsung menutup mulutnya. Ia terkejut saat melihat sosok yang berdiri di depan menara pengawas, asal suara tersebut.
Pria yang berdiri di sana adalah sang Raja Singa, Prius Löwe.
Pria berambut pirang dan bertubuh tinggi itu masih muda, sekitar akhir dua puluhan, dan tidak memiliki janggut, sebuah hal yang langka bagi seorang Raja Singa. Layaknya seorang Komandan Kesatria yang mengayunkan pedangnya sendiri, tubuhnya yang terlatih dan berotot bisa terlihat jelas bahkan saat ia mengenakan atasan kulit sapi dan jubah. Sangat bisa dimengerti mengapa rekan-rekan sesama pelayan sering memekik kegirangan saat membicarakan sang Raja; ia adalah seorang raja yang jantan dan tampan.
Teresalisa bangkit dari bangku dan membungkuk dalam-dalam.
"……Permisi."
Ucapnya, lalu dengan cepat berbalik dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Tanpa jeda, sebuah suara memanggil punggungnya.
"Tunggu sebentar. Melodi barusan, sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat……. Lagu apa itu?"
"…………"
Jika Raja menyuruhnya menunggu, ia tidak punya pilihan selain menghentikan langkahnya. Teresalisa pun menoleh ke belakang.
"Saya tidak tahu judul lagunya. Sepertinya itu adalah lagu yang tersebar dari mulut ke mulut di antara 'Kaum Pengembara' (Drifter)."
Teresalisa menjawab dengan cepat karena ingin segera dibebaskan dari situasi tersebut.
"Oh, lagu 'Kaum Pengembara'……? Apakah kau berasal dari 'Kaum Pengembara'?"
"…………"
Gawat, Teresalisa panik di dalam hatinya.
'Kaum Pengembara' yang tidak memiliki tanah berada pada posisi status sosial yang sangat rendah. Terkadang mereka dikatakan sering dijadikan kedok oleh orang-orang jahat seperti pencuri atau penipu, dan khususnya di kalangan kelas atas, ada orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan seolah melihat penjahat hanya karena mereka berasal dari 'Kaum Pengembara'. Padahal justru karena itulah ia berusaha keras menyembunyikan identitas aslinya dengan baik di guild.
Sebelum Teresalisa yang sempat ragu sejenak memikirkan cara untuk mengelak bisa merespons, Prius sudah terlebih dahulu membuka mulutnya.
"Kalau tidak salah, mereka adalah orang-orang yang utamanya mengembara di benua ini, menjual barang dagangan, dan melakukan pertunjukan jalanan, 'kan? Aku pernah mendengarnya, tapi baru pertama kali ini aku bertemu dengan seseorang yang berasal dari sana. Tolong ceritakan hal itu padaku."
Prius yang mendekat duduk di bangku batu, dan menepuk ruang kosong di sebelahnya, menyuruh Teresalisa duduk di sana.
Mendapat pergantian situasi yang tidak terduga ini, Teresalisa kehabisan kata-kata. Berduaan saja dengan Raja, dan disuruh menceritakan masa lalunya? Jangan bercanda.
"……Apakah itu, sebuah perintah?"
"Tentu saja tidak. Ini hanya sebuah permintaan."
"Kalau begitu, saya menolak."
"Oh…… eh, kau tidak mau?"
"Permisi."
Teresalisa membelakangi sang Raja dan meninggalkan bangku kesukaannya.
Di tempat ini, Teresalisa suka memandangi pemandangan sendirian dengan tenang. Ia tidak ingin mengobrol santai dengan siapa pun. Apalagi jika lawan bicaranya adalah seorang Raja. Mengobrol dengan orang yang bisa memecatnya hanya dengan satu patah kata akan membuatnya harus terlalu menjaga sikap hingga kelelahan.
Waktu yang paling ia nantikan dalam sehari telah dirampas, dan hal itu membuat Teresalisa merasa kesal. Biarpun dia seorang Raja, ini sungguh keterlaluan. Besok, ia berniat duduk di bangku itu lebih lama untuk menebus waktu hari ini.
Namun keesokan harinya, saat Teresalisa naik ke atas dinding kastel, sang Raja sudah duduk di bangku batu itu.
"Yo," sapa Prius sambil mengangkat tangannya. "Ceritakan padaku tentang kisah 'Kaum Pengembara'."
"…………"
Teresalisa membungkuk dalam dengan anggun, lalu berbalik dan pergi.
Keesokan harinya, dan hari berikutnya lagi, Prius duduk di bangku itu. Setiap kali melihat wajahnya, Teresalisa membungkuk dan pergi meninggalkan dinding kastel. Apakah sang Raja berniat datang ke sini setiap hari? Tempat kesukaannya, dari semua orang yang ada, malah direbut oleh sang Raja sendiri.
Sehari setelahnya lagi. Teresalisa mencoba mengubah jadwal rutinnya dan naik ke atas dinding kastel setelah matahari terbenam. Mungkin karena mengira Teresalisa tidak akan datang hari ini dan menyerah, sosok Prius tidak terlihat di bangku batu.
Teresalisa merasa lega dan duduk di bangku tersebut. Meskipun ia tidak bisa melihat matahari terbenam, setidaknya ia bisa menatap bulan yang mengambang di langit.
Namun, tak lama kemudian Prius muncul. Teresalisa pun bangkit berdiri.
"Tunggu, tunggu, aku mengerti. Jangan sebenci itu padaku. Aku tidak akan menyuruhmu duduk di sebelahku."
Prius menahan Teresalisa yang hendak pergi, lalu langsung duduk begitu saja di atas lantai batu lorong tersebut.
"Aku di sini saja."
Teresalisa menggelengkan kepalanya. Situasi ini malah membuatnya semakin tidak bisa duduk tenang di bangku.
"……Saya tidak bisa membiarkan Raja duduk di tempat seperti itu."
"Jangan pedulikan aku. Aku di sini cuma mau memakan ini."
Ucap Prius sambil meletakkan sebuah keranjang di dekatnya. Benda yang ia keluarkan dari sana adalah kue panggang.
"Canele!!"
Teresalisa tanpa sadar berseru lantang.
Benda yang dikeluarkan Prius adalah canele yang berjejer rapi di atas piring kayu. Itu adalah kue mewah dengan bagian luar yang dipanggang renyah dan tekstur dalam yang lembut nan lembap. Permukaannya dilapisi dengan lilin lebah (beeswax) kualitas terbaik yang dipanen di Löwe, dan saat digigit, rasa manis yang elegan akan menyebar memenuhi seluruh rongga mulut.
Bagi seseorang dengan status sosial seperti Teresalisa, itu adalah penganan yang sangat jarang bisa ia dapatkan.
"Fufun. Melihat wajahmu yang sampai meneteskan air liur begitu, sepertinya informasi dari Kepala Pelayan bahwa makanan favoritmu adalah canele memang benar, ya?"
"……Air liur saya tidak menetes, kok."
Teresalisa menyeka sudut mulutnya. Namun, bagian bahwa canele adalah makanan favoritnya memang tepat. Baru beberapa hari yang lalu ia ditegur oleh Kepala Pelayan karena memakan tiga buah canele lebih banyak daripada pelayan lainnya dari jatah camilan di dapur.
"……Anda menanyakan makanan favorit saya kepada Kepala Pelayan? Jika Anda melakukan hal seperti itu, orang-orang akan berprasangka buruk dan gosip aneh akan tersebar, lho."
"Mau prasangka buruk atau apa pun, itu tidak salah, kok. Lagipula, aku memang ingin menarik perhatianmu."
"…………"
Teresalisa berpikir bahwa dia adalah raja yang aneh. Apakah seorang raja memang memiliki selera yang sedikit berbeda dari orang biasa? Bagi Teresalisa yang tidak mengenal raja lain selain dirinya, ia tidak punya pembanding.
"Kau juga ingin makan canele?"
Prius membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit canele mewah itu dengan lahap.
"……Anda orang yang licik, ya. Jadi Anda berniat memancing saya dengan itu?"
"Masa? Ini semua milikku, lho."
"Eh."
Teresalisa mengeluarkan suara kaget yang konyol, dan Prius pun tertawa terkekeh. Itu adalah senyuman seperti seorang anak laki-laki yang berhasil melakukan kenakalan.
"Tapi, kalau kau mau menceritakan kisah tentang 'Kaum Pengembara', aku boleh saja membaginya denganmu sebagai imbalan."
"……Uugh."
Meskipun Teresalisa ingin menikmati pemandangan sendirian, ia tidak bisa menang melawan godaan canele.
Pada akhirnya, sesuai permintaan Prius, ia menceritakan kisah masa kecilnya. Namun, karena sang Raja duduk di lantai batu, tidak mungkin bagi seorang pelayan untuk duduk di bangku.
Sambil membiarkan bangku kosong di samping mereka, keduanya duduk di lantai batu. Jarak di antara mereka masih tetap renggang.
Prius membungkus tiga buah canele dengan sapu tangan dan menyerahkannya kepada Teresalisa.
Canele yang dimakan sang Raja terasa berkali-kali lipat lebih manis dan lebih lezat daripada yang pernah dikirimkan ke dapur pelayan.
Teresalisa dan Prius pun mulai rutin bertemu setiap malam di atas dinding kastel yang sepi.
Bagi Teresalisa, ia tidak merasa sedang membuat janji temu, namun setiap kali ia naik ke dinding kastel untuk melihat matahari terbenam, ia mulai berpikir apakah hari ini sang Raja sudah datang.
Jarak antara keduanya yang duduk di atas lantai batu semakin menyempit dari hari ke hari. Tak lama kemudian, mereka mulai duduk di ujung bangku yang sama, hingga akhirnya mereka cukup dekat untuk menjangkau canele di piring kayu tanpa perlu dibungkus sapu tangan lagi.
Pada hari-hari hujan ketika mereka tidak bisa keluar ke lorong penghubung di atas dinding kastel, keduanya menghabiskan waktu di dalam menara pengawas. Musim telah memasuki awal musim gugur. Prius membawakan teh herbal lemon balm yang hangat, lalu menambahkan madu ke dalam cangkir Teresalisa.
"Teh herbal semanis dan selezat ini…… baru pertama kali saya merasakannya."
"Ini didatangkan khusus dari wilayah Elder. Ini favoritku, lho."
Prius tersenyum bangga, dan membiarkan Teresalisa menikmati kemewahan yang sebenarnya terlalu berlebihan bagi seorang pelayan.
Setiap hari, sedikit demi sedikit, Teresalisa menceritakan kisah masa kecilnya di karavan sebagai imbalan atas canele. Garis bukit berbatu yang terlihat dari bak kereta, kaktus yang berdiri sendirian di tanah luas, serta suara derap tapak kuda dan roda yang tak terhitung jumlahnya. Ia menyampaikan pemandangan yang pernah ia lihat kepada Prius.
Iring-iringan kereta barang dengan atap terpal yang menutupi baknya. Bulan yang mengambang di langit malam, terus mengikuti ke mana pun mereka pergi tanpa rasa bosan.
Teresalisa bermaksud menceritakan betapa pedih dan menderitanya kehidupan pengembara itu. Namun, Prius justru merasa iri dengan masa kecilnya. Ia berkata bahwa ia juga ingin mencoba menjalani kehidupan seperti itu.
Teresalisa menggelengkan kepala. Bagi Prius yang tumbuh besar di "dalam rumah kaca", ceritanya pasti tidak tersampaikan dengan baik. Hal itu membuatnya merasa kesal sekaligus sedih. Ia ingin menyampaikan perasaan yang ia pendam dengan lebih benar. Ia ingin Prius mengerti. Itu bukanlah hal yang patut dicemburui. Teresalisa kabur dari karavan justru karena ia membenci kehidupan terlunta-lunta seperti itu.
Prius merasa bingung karena Teresalisa tiba-tiba menjadi tidak senang.
"Tapi, bukankah luar biasa bisa bepergian dengan bebas tanpa terikat apa pun? Setiap hari, besok yang berbeda dari hari ini selalu menantimu, 'kan? Kalau aku, aku percaya diri bisa menikmati setiap hari itu sepenuhnya."
"……Meskipun setiap hari itu berada di ambang antara hidup dan mati?"
Kehidupan di karavan sama sekali bukan seperti yang dibayangkan Prius. Demi bertahan hidup, melakukan tindak kejahatan bukanlah hal yang jarang. Teresalisa sempat ragu sejenak, namun ia akhirnya menceritakan kisah saat ia menyerang kediaman orang atas perintah sang Pemimpin. Ia ingin Prius mengerti bahwa daripada melukai seseorang demi bertahan hidup, hidup aman di kastel jelas jauh lebih baik.
"……Tugas saya adalah menyusup ke kediaman sebagai budak, lalu menyelidiki kekayaan serta ada atau tidaknya penjagaan di sana."
'Kaum Pengembara' (Drifter) yang normal tidak akan melakukan tindakan kriminal semacam itu.
Namun, karavan tempat Teresalisa dipungut bukanlah karavan biasa. Sang Pemimpin menjual anak-anak sebagai budak ke kediaman pedagang kaya atau bangsawan, dan menyuruh mereka melakukan pengintaian. Kemudian, pada hari dan jam saat penjagaan paling lengah, mereka diminta membuka kunci dari dalam kediaman agar orang-orang dewasa bisa masuk dan merampok. Itulah modus operandi karavan yang dipimpin sang Pemimpin.
"……Bagi saya yang tumbuh di karavan, kehidupan seperti itu adalah hal yang wajar."
Sang Pemimpin sangat menghargai Teresalisa karena ia adalah seorang penyihir, dan memprioritaskannya untuk dikirim sebagai budak dibandingkan anak-anak lain. Teresalisa yang berkulit putih dan memiliki mata yang indah sangat populer di negara-negara selatan, dan akan langsung terjual dengan harga setinggi apa pun.
Jika kau merasa terancam, gunakan sihirmu dan segera lari──begitu kata sang Pemimpin karavan. Namun, meski ia bisa menggunakan sihir, bagi seorang gadis berusia sekitar sepuluh tahun, betapa menakutkannya menjalani kehidupan di dalam kediaman di mana identitasnya bisa terbongkar kapan saja.
Setelah ia tumbuh menjadi gadis remaja, tak jarang ia dipanggil ke tempat tidur tuannya. Sebagai cara untuk menjaga kesuciannya, Teresalisa menggunakan sihir untuk mengubah warna lidahnya. Ia akan menjulurkan lidahnya yang berwarna merah keunguan (magenta) yang tampak beracun, lalu memelas dengan lemah, "Saya sedang sakit." Hal itu selalu berhasil membuat para tuannya merasa jijik dan mengusir Teresalisa dari tempat tidur. Dalam skenario terburuk, ia akan diusir dari kediaman tersebut, namun jika itu terjadi, ia tinggal mencari mangsa baru. Sang Pemimpin mengizinkan hal itu daripada membiarkan Teresalisa "ternoda".
Pada dasarnya, perampokan dilakukan setelah orang-orang di kediaman tertidur lelap. Namun, jika penyelidikan kurang matang atau saat nasib buruk menimpa, pertempuran terkadang tidak bisa dihindari. Ada kalanya Teresalisa harus menggunakan sihir dan bertarung.
Ia benci harus bertarung dengan orang-orang yang telah baik kepadanya di kediaman tersebut. Karena itu, Teresalisa menghadapi mereka sambil berharap agar mereka tidak menyerangnya. Ia ingin mereka berpaling. Ia ingin mereka tidak mendekat. Sebab jika mereka mendekat, ia harus membunuh mereka──. Itulah alasan mengapa ia memilih senjata sihir yang bisa memberikan ketakutan instan kepada orang-orang dalam sekali lihat──sebuah sabit besar (Great Scythe).
Sambil menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang penyihir, Teresalisa menceritakan pengalamannya kepada Prius. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati dan menyampaikannya dengan teliti. Ia menceritakan betapa menderitanya masa-masa itu.
"……Maafkan aku."
Setelah Teresalisa selesai bercerita, Prius menundukkan kepalanya.
"Aku tidak terpikir betapa berbahayanya kehidupan yang kau jalani selama ini."
Teresalisa terkejut. Apakah seorang Raja juga bisa menundukkan kepala meminta maaf?
"……Tidak. Sayalah yang seharusnya minta maaf karena menceritakan hal yang tidak perlu. Mohon maafkan saya……"
Ia bercerita bukan demi canele. Bukan juga karena diminta, melainkan karena Teresalisa sendiri yang ingin didengarkan. Ia menyadari bahwa ia mulai bercerita atas kemauannya sendiri, dan hal itu membuatnya merasa tidak enak.
Prius pun membalas dengan menceritakan kisahnya kepada Teresalisa. Kisah masa kecilnya sendiri.
Kapal dagang yang membawa kedua orang tuanya karam tepat setelah Prius merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh. Di usia yang baru sepuluh tahun, Prius harus memikul tanggung jawab besar sebagai 'Raja Singa'.
"Saat orang tuaku meninggal dan aku melihat para pengabdi kerajaan menangis tersedu-sedu, aku berusaha mati-matian menahan air mataku. Aku berpikir bahwa hanya aku yang tidak boleh menangis. Karena singa tidak pernah menangis di depan orang lain."
Prius yang duduk di bangku tersenyum kepada Teresalisa.
"Di saat itulah, untuk pertama kalinya aku menjadi seorang 'Raja'."
Mendengar ceritanya, kali ini giliran Teresalisa yang menundukkan kepala dan berucap, "Mohon maafkan saya."
Sebagaimana Prius yang tidak begitu mengenal tentang 'Kaum Pengembara' , Teresalisa pun tidak begitu mengenal tentang sang Raja. Ia mengira sang Raja hanya hidup bersantai di dalam kastel, padahal yang dipikirkan Prius hanyalah bagaimana cara meningkatkan taraf hidup rakyat yang tinggal di negeri ini.
"Teresalisa. Bagaimana pendapatmu tentang negara ini?"
Prius bangkit dari bangku dan berdiri di depan dinding batu.
Matahari terbenam yang perlahan tenggelam di cakrawala mewarnai deretan bangunan bata merah dengan warna jingga.
Dengan latar belakang pemandangan yang membentang luas, Prius merentangkan kedua tangannya.
"Sebagai seorang 'Kaum Pengembara', kau pasti sudah melihat berbagai macam negara, 'kan? Dibandingkan dengan negara-negara yang pernah kau kunjungi, bagaimana dengan Löwe? Di matamu, seperti apa negara ini terlihat?"
Teresalisa yang duduk di bangku berpikir sejenak sebelum menjawab.
"……Negara ini berkilauan. Rakyat di negeri ini mencintai tanah air mereka. Mereka merasa bangga menjadi rakyat Löwe. Negara yang seperti itu memiliki semangat dan kekuatan──"
Hanya saja── Teresalisa ragu sejenak.
Hal yang sulit dikatakan pun, harus ia sampaikan. Sebab Raja ini pasti tidak menginginkan sekadar penjilatan.
"Semakin terang kota ini bercahaya, maka bayang-bayangnya akan semakin pekat. Di balik 'Jalan Kemenangan' yang megah, di kota kumuh 'Ash Town', banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan menderita dalam kemiskinan. Para budak yang seharusnya dilarang pun, tampaknya masih diperjualbelikan di dalam bayang-bayang. Menurut saya, negara ini masih dalam proses pembangunan. Masih dalam proses tumbuh menuju negara ideal yang dicita-citakan oleh Sang Raja Singa."
"……Ya, luar biasa. Kau memperhatikannya dengan baik."
Prius mengangguk dalam.
"Aku ingin membuat negara ini menjadi lebih baik lagi. Bukan hanya kaum kaya yang sukses dalam perdagangan, tapi aku ingin kaum miskin dan penduduk selain bangsa Transmare juga bisa membusungkan dada dan bangga menjadi rakyat Löwe. Aku ingin menjadi raja yang bisa menerangi setiap sudut bayang-bayang di kota ini. Apakah aku bisa menjadi raja yang seperti itu?"
"Anda pasti bisa."
Teresalisa menjawab dengan seketika.
"Sang Raja Singa mampu merangkul rakyatnya. Mampu membuat orang-orang bersemangat. Mampu membuat kota ini bersinar, layaknya matahari. Karena Sang Raja Singa sudah menjadi raja yang seperti itu."
Kemudian ia berpikir sedikit lagi, dan menambahkan.
"……Dulu saya menyukai pemandangan yang dilihat dari tempat ini. Melihat seluruh kota berkilauan saat warna merah batu bata menguat karena cahaya senja. Saya sempat berpikir betapa bahagianya bisa memonopoli pemandangan seperti itu sendirian. Berpikir bahwa itu adalah kemewahan yang tiada bandingnya. Tapi──"
Teresalisa memperlihatkan gigi taringnya dan tersenyum lepas tanpa beban.
"Lembayung senja yang saya lihat bersama Sang Raja Singa, entah mengapa terasa jauh lebih indah."
Angin senja musim gugur bertiup semilir, membuat rambut panjang Teresalisa berkibar lembut. Ujung rambut yang melambai itu terpapar cahaya matahari terbenam, berkilauan bak benang emas. Prius terpaku, kehilangan kata-kata demi melihat kecantikan itu.
"……Teresalisa."
"Ya, ada apa?"
Teresalisa memiringkan sedikit kepalanya.
"Bolehkah aku menciummu?"
"Hah!?"
Mendapat tawaran tak terduga itu, Teresalisa menarik bahunya dan menutupi mulut dengan punggung tangan.
"Anda keterlaluan! Anda pikir saya ini apa? Kalau Anda hanya ingin bermain-main, silakan cari pelayan lain saja!"
"Begitu ya, maaf. Kalau begitu, mari kita menikah."
"Hah……?"
Teresalisa mengerutkan kening, amarahnya semakin memuncak.
"Apa yang Anda bicarakan!? Tolong jangan bercanda!"
"Aku serius. Ini adalah hal yang terus kupikirkan. Sebagaimana aku menyinari kota ini, kau menyinari diriku. Teresalisa, itu karena kau menjadi kekuatan bagiku untuk hidup. Maukah kau terus mendukungku di sisiku?"
Prius berdiri di depan Teresalisa dan mengulurkan tangannya.
"…………"
Apakah orang ini serius? Teresalisa menatap balik mata Prius, mencoba mencari tahu kebenaran di baliknya. Namun, terkena tatapan yang begitu lurus itu, Teresalisa hanya bisa tertunduk lesu di bangkunya. Ia tidak mencoba menyambut tangan yang terulur itu.
"……Tidak boleh. Sang Raja Singa tidak mengenal siapa saya sebenarnya."
"Aku mengenalmu," jawab Prius. "Kau adalah pelayan di kastel ini, dan berasal dari 'Kaum Pengembara' ."
"Hanya itu yang Anda tahu. Mungkin saja saya menyembunyikan hal lain."
"Contohnya?"
"Contohnya……. Contohnya,"
Teresalisa bangkit berdiri dari bangku dengan penuh dorongan emosi.
"Seandainya saya──"
──Seandainya saya adalah seorang penyihir, apa yang akan Anda lakukan?
Teresalisa menatap tajam ke arah Prius yang mundur selangkah. Namun, kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan. Ia sama sekali tidak sanggup mengucapkannya.
"Seandainya kau apa?"
"……Tidak. Bukan apa-apa."
Teresalisa kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Maksud saya, Sang Raja Singa adalah pemimpin sebuah negara, jadi Anda tidak seharusnya menikah dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya seperti saya. Anda harus memikirkannya dengan lebih baik──"
"Asal-usul atau apa pun itu, aku tidak peduli. Entah kau pelayan kastel, atau berasal dari 'Kaum Pengembara'. Contohnya…… ya, katakanlah, meskipun kau adalah seorang 'penyihir' sekalipun."
"Eh."
Teresalisa mengangkat wajahnya dengan terkejut.
Entah sebuah kebetulan atau bukan, Prius baru saja mengucapkan kata-kata yang tidak sanggup diucapkan oleh Teresalisa.
Tangan besar itu menyentuh lembut pipi Teresalisa. Dengan penuh kasih sayang, Prius menatap ke bawah ke arah sepasang mata merah Teresalisa yang bergetar karena guncangan emosi. Bulu matanya yang gemetar berkilauan terpapar cahaya senja.
"……Karena itu, jangan lupakan ini. Orang yang aku cintai adalah dirimu yang ada di sini sekarang. Siapa pun dirimu sebenarnya, aku akan terus mencintaimu."
Iris matanya yang cerah mulai berkaca-kaca oleh air mata. Teresalisa mengerjap sekali.
"……Anda benar-benar raja yang aneh, ya."
Dengan pipi yang merona merah, ia memalingkan wajah seolah ingin lari dari tatapan lembut Prius.
"S-saya, perlu Anda tahu, ini adalah... ciuman pertama saya."
"Aku mengerti, jadi jangan menangis lagi. Aku ingin melihatmu tersenyum."
"Saya... tidak sedang menangis, kok...!"
"Ah, ya, kau benar."
Ucap Prius, lalu ia perlahan menyatukan bibir mereka.
Bulan putih mengambang di langit yang mulai membiru gelap. Bulan yang terus mengikutinya tanpa rasa bosan itu, hari ini pun tetap menatap ke arah Teresalisa.
Gadis yang dulu mengulurkan tangan ke arah bulan dari atas bak kereta barang itu, kini telah berubah seiring pertumbuhannya. Ia mengubah namanya, mengubah cara hidupnya, dan berhenti menjadi seorang penyihir.
Didekap dalam pelukan Prius, Teresalisa merasakan ketenangan. Ia berpikir bahwa meskipun dirinya selama ini hidup sebagai seorang penyihir, mulai sekarang mungkin ia bisa tersenyum dengan bahagia.
Bagian 2
Pada dinding sel tempat Teresalisa dipenjara, terdapat sebuah jendela besar setinggi pinggang.
Jendela itu tidak dipasangi kaca. Sekilas, tempat itu tampak seperti jalan keluar untuk melarikan diri, namun sel itu berada di lantai tertinggi 'Menara Pemenjaraan'. Semua tahanan yang pernah mencoba melarikan diri dari sana berakhir jatuh dan tewas. Tidak ada satu pun orang yang berhasil kabur.
Angin dan hujan yang terus-menerus bertiup masuk melalui jendela besar itu menggoyangkan api obor yang dipegang Rollo.
Di dalam sel yang pintunya telah terbuka, Rollo yang berjongkok berhadapan dengan Teresalisa yang duduk di lantai.
Teresalisa tertunduk, tidak mencoba mengangkat wajahnya. Ia tampak sangat merana dan kelelahan.
Rollo menyodorkan cermin tangan yang dititipkan Diethelm kepadanya, namun Teresalisa tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menerimanya.
"…………"
Rollo menyimpan kembali cermin tangan itu ke dalam kantong goni, lalu mengeluarkan seikat kunci. Itu adalah kunci yang ia rebut dari Figaro yang telah ditumbangkannya. Dari sekian banyak kunci, ia memilih sebuah kunci berwarna putih dengan urat merah, sama seperti borgol batu (stone shackles) yang membelenggu kedua pergelangan tangan Teresalisa.
"Sepertinya ini adalah kunci dari belenggu tangan itu. Sekarang, aku akan melepaskannya untukmu."
Belenggu yang menahan pergelangan tangan Teresalisa juga merupakan alat sihir (magic item) untuk menyegel kekuatan mana. Jika dilepaskan, ia akan bisa menggunakan sihirnya kembali. Namun, meski Rollo sudah berlutut dan mendekat, Teresalisa tidak menunjukkan niat untuk mengulurkan kedua tangannya.
"……Untuk apa kau datang ke sini?"
Sambil tetap menunduk, ia bertanya dengan suara yang nyaris berbisik.
"Untuk membawamu keluar dari sini. Aku tidak akan membiarkanmu dihukum bakar. Berbeda dengan penyerangan kereta barang kemarin malam, ini bukanlah kehendak Campusfellow. Ini adalah permintaan dari Tuan Putri Snow White."
Snow White. Mendengar nama itu, Teresalisa mengangkat wajahnya.
"……Dia masih hidup?"
"Beliau hidup. Dengan bantuan Tuan Diethelm, beliau selamat dari 'Pernikahan Berdarah' dan kini sedang menyembunyikan diri. Beliau sangat mengkhawatirkan Anda."
"Tunggu, kalau begitu... bagaimana dengan Tuan Prius?"
Teresalisa bertanya dengan nada penuh harap yang memilukan. Rollo menggelengkan kepalanya perlahan.
"……Sayangnya. Yang selamat dari 'Pernikahan Berdarah' hanyalah Putri Snow White dan Tuan Diethelm."
"…………"
"Putri Snow White sangat mendambakan keselamatan Anda. Beliau merasa iba karena Anda dimanfaatkan oleh Adipati Omura Löwe dan dijebak sebagai seorang penyihir, karena itulah beliau meminta bantuan kami."
"……Anak itu, dia masih mengira aku adalah seorang ratu yang malang, ya. Dijebak atau apa pun itu... faktanya aku memanglah seorang penyihir. Aku berbohong, dan mencoba menjadi seorang ratu. Itu adalah kenyataan."
Teresalisa bangkit berdiri, mengambil jarak seolah ingin lari dari Rollo. Rollo mengikuti gerakannya dengan pandangan mata. Cahaya obor yang ia genggam memantulkan bayangan besar Teresalisa pada dinding sel yang dingin.
"……Situasi ini, bisa dibilang akulah penyebabnya."
Teresalisa ingat dengan wanita tua bermata kiri keruh yang memberikan kesaksian melawannya. Ia pernah menyusup ke kediaman keluarga wanita itu, keluarga Darkoil, sebagai pelayan. Saat identitasnya terbongkar, ia mengamuk dengan mengayunkan sabit besarnya. Luka yang diderita wanita tua itu memang benar-benar berasal dari sihir Teresalisa.
'Pernikahan Berdarah' memang bukan perbuatan Teresalisa. Namun, tidak semua kejadian ini seratus persen direncanakan oleh Omura dari awal hingga akhir. Omura hanya mendapatkan informasi bahwa Teresalisa adalah seorang penyihir, lalu memanfaatkan fakta itu untuk merebut takhta.
Jika demikian, maka akar penyebabnya adalah dirinya sendiri. Teresalisa sangat menyesali kedatangannya ke Löwe. Ia menyalahkan dirinya sendiri dengan keras karena telah bertemu Prius──dan karena telah mencoba untuk menjadi bahagia.
Masa lalunya yang mengayunkan sabit besar sebagai 'Penyihir Berlidah Merah Keunguan', pada akhirnya berputar balik dan dimanfaatkan oleh Omura untuk membunuh Prius. Masa lalu yang coba ia sembunyikan, justru membunuh orang yang ia cintai.
Air mata menggenang di mata merahnya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat karena rasa sesal yang mendalam.
"……Aku seharusnya tidak pernah datang ke Löwe."
Teresalisa duduk di ambang jendela dengan lemas. Angin yang bertiup masuk membuat rambut panjangnya menari-nari.
Rollo bangkit berdiri dengan obor di tangannya.
Teresalisa tampak sangat lemah dan menderita. Jauh lebih parah dibandingkan saat mereka bertemu di kereta barang kemarin malam.
"Apakah kau berniat membiarkan dirimu dihukum bakar……?"
"……Kematian Sang Raja Singa adalah karena aku seorang penyihir, aku tidak punya muka untuk bertemu Snow White. Di negara tanpa Prius-sama ini…… tidak ada alasan lagi bagiku untuk hidup. Aku memutuskan untuk menerima kematian ini apa adanya."
Tatapannya menusuk Rollo. Teresalisa mengerjap perlahan sekali.
"Namun, aku tidak akan mati dibakar."
Gumam Teresalisa, lalu ia berdiri tegak di ambang jendela.
"Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan sesuai keinginan Omura──"
Jika "drama balas dendam atas kematian sang kakak" yang disusun Omura akan mencapai kesempurnaan dengan membakar Teresalisa hidup-hidup, maka setidaknya sebelum itu terjadi, ia akan mengakhiri hidupnya sendiri. Bukan sebagai seorang penyihir, melainkan sebagai seorang ratu yang malang.
Teresalisa menjatuhkan dirinya ke belakang, membiarkan tubuhnya condong ke luar jendela.
"Eh, tung—!!"
Rollo secara refleks melemparkan obornya dan menerjang lantai. Dalam sekejap ia mendekati jendela dan melompat ke ambangnya.
Ia menjulurkan lengannya sekuat tenaga ke arah tubuh Teresalisa yang mulai jatuh ke luar jendela.
Bagian 3
Setelah Pengadilan Penyihir berakhir, rombongan Campusfellow yang tertahan karena hujan yang mulai turun, akhirnya ikut serta dalam pesta yang diselenggarakan oleh Omura sesuai jadwal semula.
Ini adalah pesta penyambutan untuk mempererat hubungan persahabatan antara Campusfellow dan Löwe. Acara ini juga mencakup penyerahan 'Penyihir Cermin' yang baru saja dijatuhi hukuman bersalah tadi.
Tempat rombongan Campusfellow diarahkan bukanlah 'Ruang Singgasana' maupun 'Ruang Tamu Kehormatan'. Melainkan sebuah aula kecil berkapasitas sekitar tujuh puluh orang. Di depan pintu, para Pengawal Kerajaan Löwe sedang melakukan pemeriksaan agar para tamu kehormatan tidak membawa senjata ke dalam. Karena ini adalah sebuah pesta, mereka yang menyandang pedang diminta untuk menitipkan pedang mereka.
"Apa katamu? Tidak bisa. Tombak ini tidak bisa kuberikan."
Tampak seorang pria bertubuh besar yang sedang berdebat karena dilarang membawa tombaknya ke dalam aula. Itu adalah Heartland.
"Ini adalah senjata yang diperlukan untuk melindungi Tuanku. Jangan khawatir, aku tidak akan mengayunkannya sembarangan."
"Tapi, ini sudah peraturannya."
"Kalian ini benar-benar tidak fleksibel, ya!"
Tiba-tiba, ada seseorang yang menyentuh punggungnya yang lebar itu. Saat ia menoleh, seorang gadis dengan pakaian biarawati berdiri di sana.
"Tombak yang luar biasa, ya. Apakah ini tombak yang sudah membunuh banyak orang?"
"Siapa kau……?"
Gadis itu menatap ke atas ke arah Heartland dengan mata sayu yang tampak mengantuk. Ia adalah Ferocactus.
Mengabaikan Heartland yang kebingungan, Ferocactus menoleh ke arah para Pengawal Kerajaan.
"Orang ini boleh masuk. Tidak masalah meskipun dia membawa tombaknya."
Para Pengawal Kerajaan saling berpandangan, namun sesuai instruksi gadis itu, mereka membiarkan Heartland lewat.
Setelah masuk ke dalam aula, Heartland menoleh ke belakang dengan raut wajah yang masih tidak mengerti. Apakah gadis itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari para Pengawal Kerajaan? Ferocactus menyapa para Kesatria Campusfellow yang datang ke aula satu per satu, berjabat tangan atau memeluk mereka. Ia juga tiba-tiba memeluk dan mengejutkan Capuccino yang datang bersama Delirium. Ia benar-benar anak yang tidak mengerti batasan jarak personal.
Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling aula, di atas panggung yang terletak di bagian paling ujung, orang-orang Löwe dengan Omura sebagai pusatnya tampak sedang duduk. Di kedua sisi Omura, para menteri senior yang dikumpulkannya duduk berjejer. Di kursi paling ujung, hakim yang masih mengenakan wig putih tampak sedang duduk. Itu adalah Raggini. Meskipun belum waktunya bersulang, ia sudah mulai meminum anggurnya.
Matahari telah terbenam. Nyala lilin menerangi setiap sudut, mulai dari dinding aula hingga meja-meja. Di lantai aula, beberapa meja panjang telah ditata berjejer.
Sosok Bud dan Meister Shimei berada di barisan paling depan. Di atas meja, berbagai hidangan telah disajikan dengan cepat. Ayam panggang utuh, pai daging, dan tong-tong kecil berisi anggur telah diletakkan di sana.
Aula itu memiliki struktur atap terbuka, dan di kursi lantai dua yang menghadap ke lantai dasar, sebuah kelompok musik sedang memainkan alunan nada yang ceria. Mereka menyambut kedatangan orang-orang Campusfellow yang terus berdatangan.
"Mereka menyambut kita dengan sangat meriah, ya."
Bud bergumam sambil menatap kelompok musik tersebut.
Karena rencananya penyihir itu akan diserahkan secara rahasia di acara ramah tamah ini, maka yang diundang hanyalah orang-orang dari Campusfellow. Terlebih lagi, kursi telah disiapkan untuk mereka semua, mulai dari Kesatria hingga para pengikut, tanpa memandang status. Benar-benar sebuah jamuan yang sangat royal.
"Lagi pula, Adipati Löwe pasti sudah tidak berniat menyerahkan penyihir itu. Mungkin ini dimaksudkan sebagai bentuk keramahan sebagai gantinya."
Shimei yang duduk di sebelah Bud menanggapi sambil menuangkan anggur ke dalam gelas-gelas kayu yang berjejer.
"Yah, memang benar, setelah dijamu sedemikian rupa, kita mungkin tidak bisa marah jika dia bilang tidak bisa menyerahkannya."
Acara ini sepertinya diadakan untuk memperbaiki hubungan, meskipun kesepakatan negosiasinya telah dibatalkan sepihak. Karena itulah mereka menyajikan hidangan yang mewah dan menjamu Campusfellow dengan sangat baik. Namun, Bud sama sekali tidak keberatan jika negosiasi ini dibatalkan. Sebab saat perhatian Omura tertuju ke arah sini, sesuai rencana, sang Anjing Hitam akan membawa lari Teresalisa.
"Tapi ini membuatku tidak tenang." Bud menunjuk para Kesatria berzirah emas yang berdiri di dekat panggung dan di sepanjang dinding dengan dagunya.
"Kalau ini memang bentuk keramahan, seharusnya mereka juga ikut minum."
Terkena cahaya lilin, zirah emas mereka berkilauan saat mereka terus berdiri mematung dengan wajah kaku, menatap lurus ke satu titik. Mereka terlihat seperti pajangan.
"Mereka sangat berdedikasi pada pekerjaannya, ya. Kudengar para Kesatria Löwe dilarang minum minuman keras saat mengenakan zirah."
Shimei menyerahkan gelas kayu yang telah diisi anggur kepada Bud.
"Ngomong-ngomong, ke mana Edelweiss? Gawat juga kalau Menteri Luar Negeri sampai datang terlambat ke acara ramah tamah."
"Entahlah? Dia ada saat Pengadilan Penyihir tadi, tapi……"
Shimei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sosok pria paruh baya berkepala plontos itu tidak terlihat di mana pun di lantai aula.
Saat itu, di atas panggung di bagian depan aula, Omura berdiri dengan piala perak di tangannya. Alunan musik pun berhenti.
"Hadirin sekalian dari Campusfellow, selamat datang dan terima kasih telah berkumpul di sini. Hari ini adalah hari yang sungguh membahagiakan. Kita berhasil menghukum penyihir sang 'Pembunuh Raja Singa', dan aku bisa membalaskan dendam mendiang kakakku. Dan hari ini, adalah hari di mana aku, Omura Löwe, mewarisi nama 'Raja Singa'. Aku merasa sangat gembira bisa merayakan hari yang bersejarah ini bersama kalian semua dari Campusfellow."
Meskipun upacara penobatan resmi untuk jabatan Raja Singa mungkin masih lama, sebuah mahkota emas sudah berkilauan di atas kepala Omura.
"Silakan minum yang banyak, makan yang banyak, dan nikmatilah malam di Löwe ini. Kami akan segera menyiapkan penyihirnya──"
"……?"
Bud mengerutkan keningnya. Bertentangan dengan dugaannya, apakah Omura benar-benar berniat menyerahkan penyihir itu?
"Untuk masa depan Löwe dan Campusfellow!"
Omura mengangkat piala peraknya. Serempak, orang-orang di aula juga mengangkat gelas mereka masing-masing. Musik ceria kembali bergema di aula.
Beberapa saat setelah pesta dimulai. Sosok Delirium berada di luar aula.
"……Apa? Pembicaraan yang katanya hanya boleh didengar olehku?"
Lawan bicaranya yang ditatap dengan ekspresi curiga itu adalah hakim bergaun hitam, Anemone. 'Ada pembicaraan penting yang ingin saya sampaikan ke telinga Tuan Putri'──setelah dibisikkan hal itu, Delirium membiarkan dirinya dituntun hingga ke lorong. Anemone melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada orang di lorong tersebut.
"Boleh aku pinjam telingamu sebentar?"
Tepat saat ia mengatakan itu dan mendekatkan wajahnya ke Delirium.
Dari bayangan yang jatuh di dekat kaki Anemone, tentakel-tentakel hitam melesat keluar. Tentakel yang tak terhitung jumlahnya itu melilit tubuh Delirium bagaikan pusaran air, menyatu dan mulai membentuk wujud.
"……!!"
Sosok yang muncul dalam posisi memeluk punggung Delirium itu adalah seorang pria bertubuh kurus yang seluruh badannya hitam pekat layaknya bayangan. Salah satu tangannya membungkam mulut Delirium, sementara lengan satunya melingkar dari belakang memeluk tubuh Delirium erat-erat.
Kaki Delirium yang dicengkeram kuat oleh pria itu mulai tenggelam ke dalam bayangan Anemone. Dalam sekejap mata, tubuhnya terseret masuk ke dalam bayangan. Lorong itu kembali ke keadaan normalnya seperti sediakala. Hanya suara riuh orang-orang dari dalam aula di balik pintu yang terdengar.
"Hoho……!"
Anemone yang tersenyum menutupi mulutnya, lalu pergi ke arah yang berlawanan dengan aula.
"Emm……. Sosok Tuan Putri tidak terlihat di mana pun……"
Capuccino datang ke meja barisan paling depan dan melapor. Karena Bud sedang meninggalkan tempat duduknya, Shimei yang sedang memegang gelas anggur menoleh ke belakang.
"Apa? Bukankah dia hanya pergi ke kamar kecil?"
"Saya juga berpikir begitu dan sudah memeriksa toiletnya, tapi beliau tidak ada di mana pun……"
"Hmm……. Ini tentang Tuan Putri kita yang keras kepala itu. Ada kemungkinan dia keluyuran dan tersesat, ya…… Aku akan memberitahukan hal ini ke telinga Tuan Bud. Tunggu sebentar."
Shimei menggeser pandangannya ke arah Bud yang berdiri di depan panggung.
Bud sedang memberikan salam kepada Omura yang duduk angkuh di atas panggung.
"Saya ucapkan selamat yang sebesar-besarnya atas pewarisan gelar Raja Singa kali ini."
Bud memalsukan sebuah senyuman, di tangannya ia memegang gelas kayu berisi anggur.
"Ya, tentu. Terima kasih."
Omura melirik sekilas ke arah Bud dari atas panggung, lalu mengangkat piala peraknya dengan acuh tak acuh.
"…………"
Jawabannya terasa agak dingin. Senyum palsu yang menempel di wajah bulatnya tadi malam kini tidak terlihat lagi. Apakah ia menjadi besar kepala setelah mewarisi takhta Raja Singa?
"Mengenai penyerahan penyihir itu──"
Tepat saat Bud mulai berbicara, seorang Kesatria naik ke atas panggung dan berlutut di samping Omura. Ia membisikkan sesuatu. Meskipun Bud sedang berbicara, Omura mengabaikannya dan balas berbisik kepada Kesatria tersebut.
Kesatria yang turun dari panggung itu berjalan melewati Bud dan berlari menuju pintu utama aula. Bud menoleh ke belakang, mengikuti punggung Kesatria itu dengan matanya. Oleh tangannya, pintu utama aula pun ditutup.
Ada kejanggalan yang aneh dan firasat buruk yang meresahkan.
"…………"
Bud kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh aula.
Menghadap ke arah panggung tempat Omura duduk, di dinding sebelah kanan berjejer empat jendela besar. Jendela-jendela itu dipasangi kaca patri (stained glass). Kaca berwarna-warni itu melukiskan sebatang pohon ek dan seekor singa. Terdapat tiga buah kaca patri bertemakan musim semi, musim panas, dan musim gugur. Lukisan itu menggambarkan seekor singa yang perlahan berubah menjadi manusia, namun tidak ada kaca patri keempat yang mewakili musim dingin.
Jendela keempat sepertinya pecah, dan kini ditutup dengan papan kayu yang dipaku.
Bud menyingkap karpet yang dibentangkan di bawah kakinya menggunakan ujung sepatunya. Lantai batu di bawahnya membentuk pola geometris. Pola yang sering terlihat di kapel pemujaan Dewa Perang Vayalis──.
Terlihat bekas noda darah kehitaman yang tidak sepenuhnya bersih tercuci.
"……Tempat ini adalah."
Aula kecil ini adalah kapel. Tempat dilangsungkannya 'Pernikahan Berdarah', di mana lebih dari lima puluh orang termasuk Raja Singa Prius Löwe dibantai. Para Kesatria yang tangguh dikurung di dalam kapel ini tanpa menyandang pedang mereka, lalu dihabisi.
Situasinya terlalu mirip. Menyadari bahwa musik yang ceria telah berhenti mengalun, Bud menatap ke atas ke arah kursi lantai dua. Sosok kelompok musik yang baru saja ada di sana beberapa saat lalu, kini telah menghilang.
"──Maafkan saya, Lord Grace. Tadi Anda sedang berbicara. Apa tadi yang Anda katakan mengenai penyerahan penyihir?"
Omura menatap ke bawah ke arah Bud dari atas panggung. Ia memunculkan sebuah senyuman merendahkan yang sama sekali bukan dibuat-buat.
Bud menatap balik Omura dan mengerutkan keningnya.
"……Kenapa?"
Syut──.
Sebuah anak panah crossbow (busur silang) menancap di pinggang Bud.
Bud secara refleks menunduk menatap bagian perutnya. Darah merah mulai merembes dari pinggangnya.
Di kursi lantai dua tempat kelompok musik tadi berada, kini bermunculan para Kesatria yang membidikkan crossbow mereka. Syut, syut, anak panah ditembakkan secara berturut-turut, menancap di punggung dan paha Bud.
Bud terhuyung hebat dan jatuh berlutut.
"Lord Bud!!"
Melihat kejadian itu, Shimei berteriak lantang. Ia buru-buru berdiri dari kursinya. Namun di belakangnya, seorang Kesatria berzirah emas telah mendekat. Kesatria itu melingkarkan lengannya dari belakang Shimei. Di tangannya, tergenggam sebuah belati.
Saat Kesatria itu menarik lengannya dengan kuat dalam satu tarikan napas, darah segar menyembur dari leher Shimei yang tersayat horizontal dalam satu garis lurus.
"A…… pa……?"
Percikan darah membasahi wajah Capuccino yang berdiri tepat di depannya.
"Kyaaaaaa……!!"
Di samping Shimei yang tumbang tak berdaya, Capuccino menjerit histeris.
Suara pedang yang dihunus bergema satu demi satu di seluruh kapel. Para Kesatria Singa Emas yang berdiri di sepanjang dinding mulai menyerang para tamu secara serentak. Orang-orang Campusfellow tidak bisa mencerna situasi akibat serangan mendadak yang begitu luar biasa ini. Di punggung mereka yang ketakutan dan berlarian tak tentu arah, pedang demi pedang ditebaskan tanpa henti.
Kepala seorang pejabat sipil muda dihantam dengan pedang dua tangan. Kesatria Tekka yang melawan dengan tangan kosong dikepung dari depan dan belakang, lalu perutnya ditusuk. Seorang wanita peracik parfum yang diseret keluar dari bawah meja, punggungnya ditusuk dengan pedang.
Dengan tatapan kosong, Bud menoleh ke belakang dan menyaksikan tragedi pembantaian itu.
Meja-meja panjang digulingkan, hidangan berserakan di mana-mana. Di tengah gema jeritan dan teriakan putus asa, semburan darah memancing di setiap sudut. Hampir enam puluh orang dari Campusfellow dilukai dan dibantai tanpa bisa melakukan perlawanan apa pun──. Pemandangan yang terbentang di depan matanya ini benar-benar persis seperti neraka.
──Ada apa ini. Apa yang sedang terjadi……?
Melihat pemandangan yang terasa sangat tidak nyata ini, Bud merasa pusing. Suara-suara di sekitarnya terdengar semakin menjauh. Apakah ini sebuah mimpi buruk──. Di atas punggung Bud yang masih terpaku kaget, Heartland tiba-tiba menutupi tubuhnya. Sebuah anak panah crossbow menancap di punggung pria besar itu.
"Ngh……!!"
"Hartland……!"
Heartland, yang menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Bud, menggertakkan giginya menahan rasa sakit.
"Lord Bud, permisi sebentar!!"
Heartland menggendong Bud yang tidak bisa bergerak karena luka di pahanya. Ia memindahkannya ke bawah meja yang tidak terjangkau oleh anak panah crossbow.
Heartland sendiri segera bangkit berdiri, membiarkan suaranya menggelegar ke seluruh penjuru kapel.
"Wahai Ordo Kesatria Besi dan Api, jangan gentar! Lindungi rakyat Campusfellow!"
Heartland menghentakkan pangkal tombaknya ke lantai. Brak, brak, seolah mencoba membangkitkan semangat tempur para anggotanya.
"Jika kalian tidak punya pedang, rebut milik lawan! Gunakan kursi, meja, atau apa pun! Tidak ada alasan untuk gentar. Kita adalah Kesatria Besi dan Api. Kita akan mengubah cara bertarung kita menyesuaikan dengan situasi medan tempur……!!"
Heartland memutar tombaknya, dan mengubah wujud senjatanya.
Dengan titik sedikit di atas area pegangannya sebagai titik tumpu, bilah yang tak terhitung jumlahnya menyebar berderak dari gagang tombak bagaikan kipas yang terbuka. Ini bukan sekadar trisula atau catur-sula. Siluet tombak dengan banyak bilah yang bercabang itu tampak persis seperti sebatang pohon. Inilah wujud lain dari tombak kesayangan Heartland yang mampu menusuk mati beberapa musuh sekaligus dalam satu tikaman──'Tangerine Tree' (Pohon Jeruk Keprok).
Para Kesatria Campusfellow memang tidak menyandang pedang. Namun, di antara para Kesatria yang telah diperintahkan bersiap pulang ke tanah air sejak pagi, ada beberapa yang hadir dengan pakaian bepergian lengkap dengan sarung tangan besi (gauntlet) dan pelindung tulang kering. Dan sebagian besar perlengkapan pelindung yang digunakan oleh orang-orang Campusfellow dapat berubah bentuk (bertransformasi).
Menghadapi pedang yang diayunkan, ada Kesatria Besi dan Api yang memasang sarung tangan besinya. Dalam sekejap, sarung tangan besi itu menyebar melingkar dan menjadi sebuah perisai. Kesatria lain menyembunyikan belati di dalam sarung tangan besinya. Ada juga Kesatria yang menyembunyikan puluhan pisau di balik sabuknya.
Mereka masih bisa bertarung. Para Kesatria Besi dan Api membalas serangan dalam pembantaian itu.
Omura turun ke lantai melalui tangga di samping panggung. Sambil dikawal oleh para Pengawal Kerajaan, ia berjalan menuju pintu belakang yang berada di sisi panggung.
"Tunggu! Omura!"
Menemukan sosoknya, Bud berdiri dengan menggunakan meja sebagai tumpuan.
"Kenapa……? Kenapa kau menyerang Campusfellow di saat seperti ini?"
Omura menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ya ampun, kau tanya kenapa? Apa kau tidak mengerti? Campusfellow menipu kami dan mencoba merebut penyihir itu. Kalian berbohong mengatakan akan membuat 'Pedang Sihir', dan berani mencoba mengakali diriku ini. Dosa kalian adalah meremehkan kebanggaan Löwe."
Informasi dari pihak kita bocor──.
Memang benar mereka mencoba menipu Löwe. Tapi pihak sana pun melakukan hal yang sama. Saling tipu-menipu adalah hal yang sudah sewajarnya dalam negosiasi antar negara. Terlebih lagi, Omura yang pada dasarnya adalah seorang pedagang seharusnya sangat memahami hal itu. Jika pembantaian ini adalah balasan karena ditipu, ini jelas sudah sangat kelewat batas.
Bud memprotes.
"Hentikan pembantaian ini……. Jika kalian menghilangkan nyawa seorang Penguasa (Lord) dengan perlakuan seperti ini, para kesatria yang kutinggalkan di Campusfellow tidak akan tinggal diam. Ini akan memicu peperangan!"
"Ahaha."
Omura tertawa lepas.
"Negara sekelas Campusfellow berani memamerkan taringnya pada negara besar Löwe? Apa kalian punya waktu luang untuk itu? Bukankah kalian sekarang sedang sibuk memikirkan bagaimana cara menghadapi ancaman Kerajaan Amelia yang semakin mendekat?"
"…………"
Bud mengerutkan wajahnya dengan penuh rasa curiga. Perkataan Omura memang benar. Ancaman di depan mata mereka saat ini adalah Kerajaan Amelia. Sebagai tindakan penanggulangannya, Bud dan kawan-kawan berupaya mengumpulkan para penyihir. Tapi kenapa Omura bisa mengetahui hal itu? Apakah urusan internal serahasia itu juga sudah bocor ke telinganya──.
"Tapi tenang saja, Lord Grace. Campusfellow akan kujadikan negara yang jauh lebih makmur dari sekarang dengan tanganku sendiri."
"Apa maksudmu……?"
Omura tidak menjawab, ia hanya menyipitkan matanya dengan tatapan merendahkan, lalu melangkah pergi.
Sesaat setelah itu. Dari arah pintu belakang, para pria yang mengenakan baju zirah lempeng berwarna abu-abu berhamburan masuk dengan membawa kapak dan pedang di tangan mereka. Mereka adalah para tentara bayaran dari 'Kelompok Tengkorak dan Kalajengking', pasukan bayaran pribadi milik Omura.
Bagian 4
"Nngh……. Nnn……"
Delirium terbangun di salah satu ruangan di dalam Kastel Löwenstein.
Tempatnya mendudukkan diri adalah di atas sebuah tempat tidur yang besar.
"……Hah?"
Rambutnya berantakan, dan sepatunya telah dilepas. Namun gaun koktail yang dikenakannya masih sama dengan yang ia pakai saat menghadiri pesta. Delirium mencoba menelusuri ingatannya. Ia dibawa ke lorong oleh wanita bangsawan bergaun hitam dengan alasan ada pembicaraan rahasia──lalu ia diserang oleh bayangannya. Apakah itu hanya salah lihat……?
Sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu. Delirium mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Itu adalah ruangan tanpa jendela. Lilin-lilin dinyalakan di mana-mana, dan api juga menyala di perapian.
Suhu di dalam ruangan itu cukup hangat hingga membuatnya sedikit berkeringat.
Ruangan yang luas. Sebuah partisi besar didirikan, memisahkan area tempat tidur dengan ruang di sebelahnya.
Pada rak besar yang diletakkan di dekat dinding, terdapat kalung dari suku entah dari mana, miniatur kapal, kotak perhiasan, dan lain-lain. Memberikan kesan seperti kumpulan suvenir yang dikumpulkan dari berbagai negara. Daripada disebut sebagai pajangan, barang-barang itu lebih terlihat berantakan.
Di dinding, tergantung beberapa topi dengan hiasan bulu yang mencolok, dan sebuah peta benua ditempelkan di sana.
Dan di sini pun, sama seperti di 'Ruang Tamu Kehormatan', tergantung sebuah awetan kepala rusa. Tanduknya jauh lebih besar dan lebih megah daripada awetan kepala rusa mana pun yang pernah ia lihat selama ini.
"Keren, bukan? Tanduk rusa itu."
Tiba-tiba disapa, Delirium pun menoleh.
Dari balik bayangan partisi, Omura menyembulkan wajahnya.
"Setelah upacara penobatan selesai, dan aku resmi mewarisi nama Raja Singa, rencananya benda itu akan kupajang di 'Ruang Tamu Kehormatan'."
Sambil berkata demikian, Omura mendekat ke arah tempat tidur.
"Orang-orang di negara Löwe mengibaratkan diri mereka sebagai singa. Ukuran tanduk rusa hasil buruan adalah bukti dari kekuatan yang mereka miliki. Tapi karena aku tidak berburu, aku membeli rusa itu dengan harga yang sangat mahal. Bukankah ini juga merupakan salah satu bukti kekuatan? Kekuatan itu, bisa dibeli dengan uang."
"……Merebut rusa hasil buruan orang lain, bukankah itu kelakuan seekor dubuk?"
Delirium mengatakannya dengan penuh sindiran, namun Omura hanya mengangkat bahunya.
"Mungkin kau belum mengerti, ya……. Betapa hebatnya diriku ini. Yah, aku akan mengajarkannya padamu perlahan-lahan mulai sekarang. Nah, aku membawakan jus anggur yang asam manis untukmu."
Sambil tetap berdiri di samping tempat tidur, Omura menyodorkan gelas perak di tangannya kepada Delirium.
"Aku bahkan memasukkan sirup elderflower kesukaan Tuan Putri ke dalamnya."
"Aku tidak mau. Aku mau kembali ke pesta."
"O-tunggu dulu. Sebaiknya kau jangan melakukan itu."
Omura mencengkeram bahu Delirium yang baru saja berbalik untuk turun dari tempat tidur.
"Jangan sentuh aku!"
Delirium secara refleks menepis tangan itu. Akibatnya, jus anggur dari gelas perak itu tumpah dan mengenai dada Omura. Noda merah kehitaman menyebar di atas pakaian mewahnya yang berkilau keemasan.
"Ugh……!! Beraninya. Turuti kata-kataku!"
Omura menjadi murka, dan dengan tangannya yang bebas, ia menampar pipi Delirium.
"Kya!"
Delirium memegang pipinya yang ditampar, terpaku kaget. Namun, itu hanya sesaat. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu meninju balik pipi Omura.
"Oof!"
Omura mengerang kecil, tetapi pukulan dari lengan yang kurus itu tidak memberikan dampak yang berarti.
Omura mencengkeram pergelangan tangan Delirium. Sambil menaikkan lututnya ke atas tempat tidur, ia membuang gelas peraknya. Kemudian, ia mencengkeram pergelangan tangan Delirium yang satu lagi yang sedang meronta, lalu mendorongnya hingga jatuh terlentang.
Kepala Delirium tenggelam ke bantal. Di atas perutnya, tubuh gemuk itu menindihnya.
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!"
"Begitu ya, kau memang benar-benar kuda liar yang sulit diatur……. Tapi, kuda liar yang sombong sepertimu, sensasi kenikmatan saat berhasil menjinakkannya benar-benar tak tertahankan."
Omura mendekatkan hidungnya seolah ingin mengendus tengkuk Delirium. Ia mendengus-dengus, persis seperti seekor babi.
Kedua lengannya dicengkeram hingga ia tak bisa bergerak. Delirium menendang-nendangkan kakinya dan menggelengkan kepalanya untuk melawan.
"Kyaaaaaa! Siapa pun! Tolong!! Apa tidak ada orang di luar sana!"
"Percuma saja. Orang-orang Campusfellow pasti tidak akan datang menolong. Lebih tepatnya, tidak bisa datang."
"Apa? Apa maksudmu!"
"Saat ini, mereka sedang dibantai sebagai hukuman karena telah berani mencoba menipu diriku, sang Raja Singa."
"……Dibantai?"
"Ayahmu, para kesatria yang melindungimu, para pelayanmu. Semua orang yang berharga bagimu, sedang dibunuh tanpa sisa satu pun. Bisa dibilang ini adalah reka ulang dari 'Pernikahan Berdarah'."
Mata biru Delirium yang jernih terbelalak karena terkejut.
Melihat ekspresi itu, Omura tertawa terbahak-bahak.
"Ahah! Ekspresi yang sungguh luar biasa! Aku sangat, sangat suka melihat wajah wanita cantik yang menangis ketakutan hingga menjadi jelek, kau tahu? Melihat orang yang sombong dan angkuh dihancurkan rasa percaya dirinya lalu diinjak-injak, membuatku merasa begitu gemas tak tertahankan."
Omura menjilat bibirnya dan memamerkan tawa liciknya.
Delirium menatap tajam wajah pria itu.
"……Bohong. Aku tidak akan percaya."
"Terserah mau percaya atau tidak. Cepat atau lambat kau akan mengerti."
Karena Delirium mulai terdiam, Omura melepaskan cengkeramannya dari kedua pergelangan tangan gadis itu, lalu beralih meraih korset di perutnya. Ia bermaksud melonggarkan tali yang menyilang untuk melucuti korset tersebut. Namun, simpul tali yang diikat kuat itu tidak mudah diurai. Omura menjadi kesal dan berdecak lidah.
"……Para Kesatria Tekka tidak mungkin kalah."
Delirium menatap kosong ke arah langit-langit. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menggertakkan gigi gerahamnya sekuat tenaga demi menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Pembantaian semacam itu tidak mungkin terjadi. Kesatria Campusfellow itu sangat kuat!"
"Aah! Putri Delirium yang cantik nan malang."
Omura sedikit menegakkan tubuhnya. Menyerah mengurai tali tersebut, ia malah mencengkeram bagian depan kerah gaun Delirium. Sekali lagi, ia mendekatkan ujung hidungnya ke wajah gadis itu dengan kasar. Secara refleks, Delirium memalingkan wajahnya. Pada saat itulah, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Ke arah wajah samping yang berpaling darinya itu, Omura berbisik pelan.
"Tidak peduli seberapa tangguhnya para Kesatria Tekka, tidak mungkin mereka bisa menang melawan seorang 'Ahli Sihir', bukan?"
"……Ahli Sihir?"
Ahli Sihir adalah eksistensi yang secara eksklusif hanya dimiliki oleh Kerajaan Amelia. Mengapa Löwe sang 'Negara Kesatria' yang seharusnya bermusuhan dengan mereka malah membicarakan soal Ahli Sihir? Tepat di telinga Delirium yang dipenuhi kecurigaan, Omura kembali melanjutkan kata-katanya.
"Saat ini, Kerajaan Amelia terus-menerus memperluas wilayah kekuasaannya. Ancaman itu, cepat atau lambat pasti akan merambah ke Löwe juga. Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Haruskah kami juga mengerahkan para kesatria dan berperang melawan Amelia?"
Tidak, tidak, para kesatria tidak akan bisa menang melawan seorang Wizard──ucap Omura sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kalian dari Campusfellow sepertinya berniat menggunakan Penyihir Wanita sebagai kartu as untuk melawan sihir para Ahli Sihir, tapi kurasa itu sama sekali bukan metode yang cerdas. Pilihanku berbeda."
Omura menyipitkan kedua matanya.
"Löwe mempersembahkan sejumlah besar uang kepada Kerajaan Amelia, agar kami diizinkan untuk tetap eksis sebagai negara bawahan."
"Bohong…… Maksudmu kau telah menjual negaramu sendiri?"
"Ini juga bagian dari transaksi bisnis. Kami memiliki Kerajaan Amelia yang menyokong dari belakang. Jika aku berhasil menghancurkan Keluarga Grace, sebagai imbalannya dari Amelia, aku akan mendapatkan hak atas Campusfellow──"
Delirium menatap lurus ke wajah pria itu. Di sepasang mata birunya yang jernih, terpantul senyuman Omura yang sangat merendahkan.
"Tanpa menyadari hal itu sedikit pun, kalian datang kemari dengan begitu polosnya. Sayang sekali, tapi riwayat Keluarga Grace sudah tamat. Kau akan menjadi istriku, dan Campusfellow, sebentar lagi akan menjadi milikku seutuhnya."
"Kau menipu kami, dasar pengecut busuk……!"
"Kita tidak akan bisa bertahan menang jika tidak menjadi pengecut. Lagipula, ini adalah perang, Tuan Putri!"
Dengan mengandalkan tenaga kasarnya, Omura merobek kerah gaun Delirium hingga terbuka.
Tulang selangka putih dan belahan dadanya terekspos seketika, membuat Delirium menjerit histeris.
Di dalam kapel, pertempuran berdarah masih terus berlanjut.
Tanpa bisa keluar dari pintu utama yang tertutup rapat, orang-orang Campusfellow terus menerima serangan dari para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran dari 'Kelompok Tengkorak dan Kalajengking'.
Namun meski begitu, para Kesatria Besi dan Api memberikan perlawanan yang sengit. Mereka harus melindungi para pejabat sipil dan pengikut yang tidak bisa bertarung──rasa tanggung jawab itulah yang membakar semangat tempur para Kesatria Tekka. Ada yang merebut pedang dari tangan lawan, ada pula yang maju menghadapi musuh hanya bermodalkan belati. Mereka berhasil keluar dari kondisi panik akibat serangan mendadak itu, dan situasi perlahan mulai sedikit membaik.
Bud yang terluka menyandarkan tubuhnya di tepi meja, berusaha keras untuk membaca situasi pertempuran. Sambil tetap waspada terhadap tembakan crossbow dari lantai dua, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tenanglah, ia terus mengingatkan dirinya sendiri. Jika ia tenang, ia bisa menyusun strategi. Jika ada strategi, mereka bisa terhindar dari pemusnahan total. Para Kesatria Tekka memiliki kekuatan yang cukup untuk mewujudkan hal itu.
Heartland menusukkan tombak transformasinya, Tangerine Tree, dan menembus batang tubuh tiga orang kesatria musuh sekaligus. Begitu ia memutar gagangnya dan menariknya, bilah-bilah yang tadinya menyebar seperti cabang dan daun itu melesak kembali ke dalam gagang, menebas tubuh para kesatria itu secara serentak. Jeritan pilu terpencar bersamaan dengan semburan darah segar.
Diperlihatkan pemandangan mengerikan seperti itu tepat di depan mata, niat untuk menerjang maju pun tertahan oleh keraguan. Para Kesatria Singa Emas yang mencoba menahan pergerakan Heartland kini mulai gentar.
"Hertland, bentuk formasi berkumpul."
Bud memanggil Heartland.
"Kita tidak tahu apa yang menunggu di pintu belakang. Kemungkinan terburuk, kita bisa terperangkap mati seperti tikus di dalam karung. Kalau begitu, kita harus berkumpul jadi satu dan menerobos lewat depan!"
"Siap……!"
Heartland menghentakkan pangkal tombaknya ke lantai, dan berseru lantang kepada para kesatria yang sedang bertarung.
"Berkumpul! Ordo Kesatria Besi dan Api!!"
Dari sekitar enam puluh orang rombongan Campusfellow, kini jumlah mereka telah menyusut hingga hampir setengahnya. Sebagian besar dari mereka yang bertahan hidup adalah para kesatria. Meister Shimei telah tewas, dan sosok Capuccino juga tidak terlihat di mana pun.
Bud bertanya kepada punggung Hartland yang sedang menyiagakan tombaknya.
"Delirium tidak ada. Bisa kau mencarinya?"
"Saya rasa memprioritaskan evakuasi Tuan Bud ke luar kastel adalah hal yang lebih utama."
"Bodoh. Aku ini tidak apa-apa. Begitu kau keluar dari kapel ini, segeralah pergi mencari Delirium."
"Lalu," Bud menambahkan satu hal lagi.
"Edelweiss juga tidak ada. Sepertinya dia tidak datang ke kapel sejak awal."
Apakah dia menyadari pembantaian ini? Jika dia masih hidup, mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat di dalam kastel ini.
"Ada hal yang ingin kutanyakan padanya. Kalau kau menemukannya, pastikan kalian bergabung."
"Dimengerti."
Hartland kembali berseru memimpin para Kesatria Tekka yang mulai berkumpul di sekitarnya.
Berikut adalah kelanjutan terjemahannya!
Momen ini mengubah arah pertempuran sepenuhnya. Para hakim palsu yang tadinya hanya menonton akhirnya ikut campur, dan kekuatan sihir gila yang mereka miliki langsung memutarbalikkan harapan Campusfellow ke dalam keputusasaan yang lebih dalam!
"Baiklah, bentuk kelompok dengan memusatkan non-kombatan di tengah, dan kita terobos lewat pintu depan──"
Tepat pada saat itu. Kata-kata Hartland tenggelam oleh jeritan memekakkan telinga.
"Aaaaaarrgghh……!!"
Semua orang secara refleks mengarahkan pandangan ke sumber suara, dan menahan napas melihat pemandangan tersebut.
Hakim yang mengenakan wig putih, Raggini, sedang mencengkeram kepala salah seorang Kesatria Tekka dengan mengapitnya menggunakan kedua tangannya. Dari telapak tangannya yang mencengkeram kuat bak cakar elang itu, uap putih mengepul.
Sambil terus mencengkeram wajah kesatria yang meronta kesakitan itu dari depan, Raggini menatap lekat ekspresi pria yang terus menjerit tersebut.
"Aaaaaarrgghh……!!"
"Ada apa? Hm? Aaaah, kalau begitu aku tidak mengerti, lho. Bicaralah yang jelas."
Senyuman sadis mengembang di wajah Raggini yang memiringkan kepalanya sedikit.
Jeritan kesatria itu perlahan mereda hingga akhirnya terhenti, dan Raggini pun melepaskan tangannya. Dari kepala kesatria yang ambruk berlutut itu, kepulan uap dalam jumlah besar menguar tak karuan. Kulitnya telah meleleh sepenuhnya, mengekspos tulang tengkoraknya yang telanjang.
"Aah, dia mati. Kesatria terlalu lemah, membosankan sekali."
Menghadap ke arah orang-orang Campusfellow yang terpaku kaget, Raggini merentangkan kedua lengannya.
"Jangan bilang kalau kalian masih berpikir bisa selamat hidup-hidup dari sini? Itu tidak akan terjadi, hei. Dengar ya, hal yang paling kubenci di dunia ini adalah ketika mangsaku berhasil kabur tepat sebelum sempat kubunuh."
"……Fero, asal kalian tahu, sangat suka opera musikal."
Di dekat bagian tengah kapel, berdiri seorang gadis berpakaian biarawati. Ia juga merupakan salah satu dari kelompok hakim tersebut.
"Tapi, ada orang-orang yang bilang kalau mereka membenci opera musikal. Katanya, sangat tidak wajar jika tiba-tiba ada musik yang mengalun di tengah keseharian, lalu menyampaikan dialog lewat nyanyian. Orang-orang seperti itu pasti tidak punya dorongan untuk bernyanyi di hari-hari mereka. Kasihan sekali."
Entah kepada siapa dia berbicara, dan apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan. Tatapan gadis itu memang mengarah pada orang-orang Campusfellow, namun mata sayunya tampak menatap kosong ke suatu tempat di udara.
"Hei, Raggini."
Ferocactus menatap ke arah Raggini.
"Aku sudah boleh bernyanyi sekarang?"
"Ya. Mengamuklah."
Raggini mengangguk.
Cahaya memancar di dalam sepasang mata sayu itu. Tersenyum menyeringai lebar, Ferocactus memperlihatkan deretan giginya yang bergerigi tajam tepat di bawah hidungnya yang dihiasi tato bertuliskan 'conviction' (Penghukuman). ── "Kihihi."
"Tararan, ran♪"
Ferocactus mengangkat kedua lengannya yang tersembunyi di balik lengan baju biarawatinya yang panjang, melakukan pose mengangkat kedua tangan ke udara.
Tepat pada detik itu, tanpa ada pertanda apa pun, dinding batu kapel itu seketika terbakar serentak dengan suara gemuruh yang hebat.
Api di dinding muncul kira-kira setinggi punggung Ferocactus, mengelilingi seluruh penjuru lantai. Kapel yang tadinya remang-remang itu seketika diterangi dengan terang benderang.
Para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran di dalam kapel berseru kaget dan kebingungan.
Orang-orang Campusfellow yang berkumpul menjadi satu juga merasa ngeri melihat kejadian yang terlalu tidak masuk akal ini. Dinding batu tidak mungkin tiba-tiba terbakar tanpa ada sumber api. Ini di luar nalar. Ini adalah──.
"……Sihir, kah," gumam Bud.
"Kalian ini, Ahli Sihir!" seru Hartland.
Hartland melangkah maju seolah ingin melindungi orang-orangnya, lalu menyiagakan tombaknya.
"Tepat sekali, kami adalah Ahli Sihir," Raggini tersenyum licik.
"Api ini. Sebenarnya apa yang menjadi sumber apinya hingga bisa menyala…… kalian pasti tidak tahu, 'kan? Mau Tuan Raggini yang baik hati ini beritahu? Haaah?"
Raggini mengulurkan tangan kanannya agar bisa dilihat oleh Hartland dan yang lainnya.
"Seorang Ahli Sihir itu menyerap mana yang ada di alam ke dalam tubuh mereka, lalu memancarkan kekuatan sihir. Kekuatan yang meluap dari tubuh itu dikumpulkan di tangan lalu dilepaskan, atau dibentuk sedemikian rupa untuk diwujudkan. Kelihatan, tidak?"
Hartland mengerutkan keningnya sambil tetap menyiagakan tombaknya. Di sekitar tangan Raggini, terlihat sesuatu yang samar-samar menyerupai aura putih. Seolah-olah dari pergelangan tangannya ke ujung jari terbungkus oleh api putih.
"Kelihatan, 'kan? Aku memberi warna pada kekuatan sihir yang kuwujudkan. Teknik untuk mengubah kekuatan sihir menjadi berbagai macam hal seperti ini, itulah yang disebut 'Sihir'."
"Cerita yang sangat menarik," Bud menyeret kakinya dan melangkah maju. "Kenapa kau memberitahukan hal itu pada kami?"
"Tentu saja, agar kalian mati dalam penyesalan. Jika kalian tahu betapa agung dan kuatnya para Ahli Sihir, kalian akan lebih mudah merenungi betapa bodohnya tindakan kalian yang mencoba melawan kami dengan mengumpulkan para penyihir, 'kan?"
"…………"
Bud kehilangan kata-kata. Rencana mereka untuk mengumpulkan para penyihir dari seluruh benua guna melawan Kerajaan Amelia, bahkan hal itu pun sudah bocor?
"Nah, sihir ini, setiap Ahli Sihir memiliki keunikan yang berbeda-beda. Itulah poin yang ingin kusampaikan. Sihir milik Ferocactus, 'Pessimistic Love' (Cinta Sang Pesimis), menggunakan kekuatan sihir yang dipancarkannya sendiri sebagai sumber api untuk terbakar."
"Kyaa, bodoh. Kenapa kau kasih tahu? Soal sihir Fero."
Raggini menoleh ke belakang, dan menunjuk Ferocactus yang memasang wajah cemberut.
"Berisik, bodoh. Sihirmu itu, jauh lebih menarik kalau triknya dibongkar, tahu."
Raggini kembali menghadap Bud, dan melanjutkan penjelasannya.
"Kenapa dinding batu ini tiba-tiba terbakar? Kalau tahu triknya, sebenarnya bukan hal yang hebat. Anak itu sebelumnya sudah berjalan menelusuri dinding ruangan ini memutar, lalu menempelkan pemicu api yang tidak kasatmata. Ia menjadikan pemicu itu layaknya jerami atau kayu bakar, lalu menyulutnya serentak."
Sambil menatap orang-orang Campusfellow satu per satu, Raggini mengangkat jari telunjuknya.
"Kalian yang peka pasti sudah menyadarinya, 'kan? Tadi, sebelum masuk ke kapel ini, ada beberapa dari kalian yang berjabat tangan dengan Sister itu di pintu masuk, bukan? Bagaimana dengan yang dipeluk? Aku peringatkan saja... pemicu api itu sudah menempel erat di tubuh kalian, lho."
"Uwaaaaaargh……!"
Seorang pejabat sipil muda yang tidak sanggup menahan rasa takutnya berlari menerjang ke arah pintu utama. Ia mencoba kabur ke luar dari pandangan para Wizard itu, namun Ferocactus dengan sigap menunjuknya──"Taran♪"
Seketika, tubuh pejabat sipil muda itu terbakar hebat.
Pejabat itu ambruk berlutut saat masih berlari, lalu tumbang tak berdaya. Tubuhnya masih terus dilalap kobaran api.
Raggini tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Api milik Fero tidak akan pernah bisa dipadamkan. Selama pemicu api yang menempel itu belum habis terbakar, tentunya. Kalian yang sudah disentuh olehnya, akan terus terbakar hidup-hidup sampai menjadi abu. Bukankah ini luar biasa karena bisa menghemat tenaga untuk mengkremasi kalian?"
Namun, tiba-tiba percikan api beterbangan ke arahnya dan menghanguskan sedikit bahu Raggini. "Aw," Raggini menepuk-nepuk kuat api di bahunya hingga padam.
"……Yah, tapi api yang menyambar begini sih masih bisa dipadamkan."
Orang-orang Campusfellow mematung karena ketakutan yang mencekam. Mereka benar-benar tertelan oleh rasa gentar, kewalahan menghadapi sihir mutlak para Ahli Sihir.
Orang pertama yang memecah kebisuan itu adalah Hartland. Guna mendobrak keputusasaan tersebut, ia menghentakkan pangkal tombaknya ke lantai seakan membangkitkan semangat juang. Mengayunkan tombaknya, pria besar itu menerjang lurus ke arah Raggini.
"Uwooooh!"
Membiarkan Tangerine Tree dalam wujud tombak normalnya, ia mengayunkan senjata itu kuat-kuat, menghujankan mata tombaknya tepat ke atas kepala Raggini. Namun, Raggini mengelaknya dengan langkah kaki yang ringan.
"Coba balas seranganku, Ahli Sihir!"
Hartland mengayunkan tombaknya dua hingga tiga kali berturut-turut, memaksa Raggini terus melangkah mundur.
"Sihir melelehkan milikmu itu pasti juga punya nama, bukan?"
"Oh, tentu saja punya. Sihir unik milikku adalah 'Just Melt'."
Raggini tersenyum angkuh, lalu membentuk telapak tangan kanannya lurus merapat layaknya bilah pedang, dan menyusupkannya ke kerah depan jubah hukumnya.
Dengan tangan kanan yang menguap mendesis, ia menggesernya turun hingga ke pusar, melelehkan deretan kancing yang tak terhitung jumlahnya bagaikan menebasnya dengan pedang. Setelah itu, ia mencengkeram kerah bajunya dengan kedua tangan dan merobeknya dengan kasar, membiarkan sisa kancingnya terpental selagi ia mengekspos dada bidangnya dengan gagah.
Ia tidak mengenakan sehelai benang pun di balik jubah hukum tersebut. Meski siluet tubuhnya tampak kurus, otot-ototnya yang terbentuk kencang kini terekspos jelas. Membuang jubahnya, Raggini kini bertelanjang dada. Pemandangan bulu dadanya yang jantan dipadukan dengan wig putih bergaya intelek di kepalanya benar-benar terlihat sangat tidak serasi.
Sambil menyiagakan tombak di depannya, Hartland berseru kepada para kesatria di belakangnya.
"Tunggu apa lagi! Bawa Lord Bud dan cepatlah melarikan diri dari sini!"
Para Kesatria Tekka serentak berlari menuju pintu utama. Namun, tentu saja para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran yang tersisa di kapel tidak akan membiarkan hal itu. Sembari mengayunkan pedang, mereka kembali menyerang rombongan Campusfellow.
Bud merangkul bahu salah seorang kesatria, berjalan tertatih-tatih menuju pintu di tengah kapel yang berkobar itu dengan tumpuan sang kesatria.
Ke arah rombongan yang bergegas menuju pintu utama itu, Ferocactus mengarahkan telunjuknya.
"Taa-rararan, ran♪"
Orang-orang yang berlarian itu seketika terbakar satu per satu dan menjerit histeris. Mengejutkannya, di antara mereka yang dilalap kobaran api, terdapat juga para Kesatria Singa Emas. Ternyata, Ferocactus tidak hanya menempelkan pemicu api pada orang-orang Campusfellow saja.
"Ah, aku salah sasaran."
Tidak ada niat terselubung. Para Kesatria Singa Emas yang menjadi korban salah sasaran hanya karena keisengan belaka itu memucat pasi dan menghentikan langkah mereka.
Memanfaatkan celah kelengahan itu, Bud beserta orang-orang yang tidak tersentuh oleh Ferocactus bergegas menuju pintu utama, terpaksa meninggalkan kawan-kawan mereka yang terbakar hidup-hidup──.
Di sisi lain, Hartland terus mengayunkan tombaknya ke arah Raggini. Uap panas mengepul dari gagang tombaknya yang ditahan oleh cengkeraman maut Raggini, membuat Hartland buru-buru menarik kembali senjatanya.
"……Ugh!"
Namun, celah sesaat itu berhasil dimanfaatkan. Raggini yang sudah menyusup ke jarak dekat, kini mencengkeram leher Hartland. Suara desisan uap panas terdengar dari lehernya yang dicengkeram, dan Hartland mengerutkan wajahnya menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Nnggghhh……!!"
Hartland mencengkeram pergelangan tangan Raggini, lalu mengerahkan seluruh tenaga kasarnya untuk melepaskan tangan pria itu dari lehernya.
Kulit lehernya meleleh dan terkelupas dengan mengerikan. Ia segera memutar tombaknya untuk mengambil jarak dan menahan pergerakan musuhnya.
Napas Hartland tersengal-sengal hingga bahunya naik-turun.
──Mengejutkan. Inikah gaya bertarung seorang Ahli Sihir……?
Selama ini ia berpikir samar-samar bahwa seorang Ahli Sihir adalah sosok yang bertarung di garis belakang, menembakkan bola api dari jauh atau menjatuhkan petir. Tapi apa-apaan ini. Raggini adalah tipe petarung jarak super dekat.
Kuda-kuda dan pergerakan kakinya jelas-jelas menunjukkan gaya ahli bela diri. Hanya dengan dicengkeram saja target akan menerima damage besar, jadi membiarkannya masuk ke jarak dekat akan langsung berakibat fatal. Dengan tombak, sangat sulit untuk mengimbangi kecepatan pria itu.
──Sepertinya memang akan sulit untuk mengalahkannya…….
Tanpa memberikannya jeda untuk bernapas, Raggini kembali memangkas jarak. Staminanya pun masih melimpah.
Sambil melangkah mundur (backstep) untuk menjaga jarak, Hartland mengarahkan mata tombaknya ke langit-langit. Benda yang melayang turun dari atas kepalanya adalah panji-panji panjang Kerajaan Löwe yang sebelumnya menjuntai dari kursi lantai dua. Percikan api dari dinding telah menyambar, membuat separuh panji itu terbakar. Hartland melilitkan panji yang terbakar itu pada tombaknya di udara, lalu mengayunkan ujung tombak berapi tersebut tepat ke atas kepala Raggini yang sedang menerjang maju.
Setelah mengayunkan tombaknya dua, tiga kali dengan lebar untuk mematikan momentum Raggini, ia menghantamkan panji yang terbakar itu ke arah wajah pria tersebut. Percikan api berhamburan di sekitar wajah Raggini yang menyilangkan lengannya untuk bertahan.
"Cih…… trik murahan!"
Memanfaatkan celah itu, Hartland berbalik arah. Ia berlari sekuat tenaga menuju pintu utama kapel.
Di depan pintu utama yang tertutup rapat, orang-orang Campusfellow sedang berdesakan panik.
Para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran menyiagakan pedang mereka seolah mengepung kerumunan itu, namun tidak ada satu pun yang berani maju karena waspada terhadap sihir Ferocactus. Sebagai gantinya, Ferocactus sendirilah yang berlari menuju pintu utama. Ia menggulung lengan bajunya, dan ujung kedua lengannya yang terentang terbakar merah.
Ia berniat menempelkan pemicu api secara langsung.
"Aku tidak akan membiarkan kalian kabur, tahu."
Seorang pelayan wanita dipeluk dari belakang, dan seketika tubuhnya terbakar hebat bersamaan dengan jeritan melengking. Kobaran api itu menyambar, menghanguskan pakaian dan rambut orang-orang di sekitarnya.
Kesatria yang meminjamkan bahunya kepada Bud kebetulan berada tepat di sebelah pelayan yang terbakar itu. Terkejut bukan main melihat pelayan yang tiba-tiba terbakar, ia tanpa sadar melepaskan rangkulannya dari Bud.
"Ugh……"
Kehilangan tumpuannya, Bud jatuh ke lantai. Anak panah crossbow masih menancap di perut, bahu, dan pahanya, mengirimkan rasa sakit luar biasa yang tak tertahankan.
Ke arahnya, kedua tangan Ferocactus yang terbakar semakin mendekat.
Tepat sebelum tangan itu menyentuh bahu Bud──"Minggir!!" Menendang para Kesatria Singa Emas di sekitarnya hingga terpental, Hartland yang baru saja tiba mengayunkan tombaknya ke arah kepala Ferocactus.
"Woah……"
Ferocactus melompat ke samping untuk menghindari ujung tombak itu, lalu mengambil jarak.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Tuan Bud walau hanya seujung jari pun!"
Sambil terus mengikuti pergerakan gadis itu dengan ujung tombaknya, Hartland melirik Bud.
"Anda tidak apa-apa, Lord Bud!"
"……Maaf. Memalukan sekali diriku ini malah jadi beban."
"Tolong jangan bicara lemah begitu. Itu tidak seperti Anda!"
Hartland mengangkat tubuh Bud, lalu memanggulnya di bahu.
Bermaksud mendobrak pintu utama begitu saja, ia menendangnya sekali, dua kali──tepat pada saat itu.
"Ferocactus!! Jangan biarkan pria itu lolos!"
"Tentu saja. Terbakarlah!"
Raggini berteriak, dan Ferocactus menjulurkan kedua lengannya ke arah Hartland.
Detik berikutnya, api tersulut dari bahu hingga punggung Hartland. Api itu berkobar membesar.
"Ugh……!?"
Tepat sebelum pesta dimulai, di pintu masuk kapel, punggung Hartland telah disentuh oleh Ferocactus. Sama seperti korban-korban lain yang telah terbakar, pemicu api Ferocactus rupanya telah tertempel di tubuhnya.
Punggungnya terbakar hebat dengan suara gemuruh, Hartland buru-buru menurunkan Bud yang dipanggulnya ke lantai.
"Lord Bud. Apakah Anda ikut terbakar?"
"Bodoh. Yang terbakar itu kau!"
"Luka semacam ini, bukan apa-apa……!"
Namun meski begitu, Hartland tidak berhenti.
Ia mengabaikan sepenuhnya kobaran api di punggungnya, lalu menabrakkan tubuhnya ke pintu utama.
"Uwooooooohhh……!!"
Begitu pintu terbuka layaknya meledak, Hartland mengapit Bud di bawah lengannya, lalu menerjang keluar ke lorong.
Orang-orang Campusfellow yang masih bisa bergerak mengikuti di belakangnya.
Bagian 5
Di lantai tertinggi 'Menara Pemenjaraan'.
Dengan kaki yang masih berpijak di ambang jendela, Teresalisa mencondongkan punggungnya ke luar jendela. Karena bagian tengah borgol yang membelenggu kedua pergelangan tangannya dicengkeram oleh tangan kiri Rollo, tubuhnya kini dalam keadaan tergantung di udara.
Rollo menapakkan kakinya di ambang jendela dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan kirinya mencengkeram borgol Teresalisa, sementara tangan kanannya yang tersisa berpegangan pada bingkai jendela di sampingnya. Ia menahan tubuh Teresalisa yang bergelantungan hanya dengan kekuatan satu lengan kirinya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari bahu kanannya yang semalam terkena panah Figaro, membuat Rollo mengerutkan wajahnya menahan perih.
Rambut panjang Teresalisa yang telentang menghadap ke atas di luar menara menari-nari diterjang angin badai.
Keadaan di luar menara yang diguyur hujan lebat sangatlah gelap gulita. Jubah cokelat kemerahan yang tersampir di bahu Teresalisa terlepas, lalu menghilang lenyap ke dalam kegelapan. Ujung gaun merahnya yang kini terekspos berkibar ditiup angin kencang.
"……Ugh. Jangan, ikut campur."
Teresalisa mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Rollo.
"Tentu saja aku ikut campur! Aku bakal kerepotan kalau kamu melompat tepat di depan mataku. Padahal aku ke sini berusaha menyelamatkanmu."
"Sudah kubilang itu hanya tindakan ikut campur yang tidak perlu! Aku sudah ingin mati!"
"Kenapa? Karena kamu seorang penyihir?"
"Benar, karena aku seorang penyihir! Karena meskipun aku seorang penyihir, aku bertingkah seolah mencoba hidup sebagai seorang manusia. Aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak pernah datang ke Löwe. Seharusnya aku tidak pernah bekerja di kastel ini──"
Rintik hujan menerpa wajahnya. Raut wajah Teresalisa berkerut penuh penderitaan.
"Seharusnya aku tidak pernah mencoba untuk menikah. Seharusnya aku tidak pernah mencintai seseorang……! Aku tidak ingin terlahir…… sebagai penyihir. Seharusnya, aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini……!"
Merasa begitu sedih dan hancur, ia menumpahkan seluruh penyesalannya pada angin badai yang mengamuk.
Air mata yang tumpah ruah terhempas dan menyebar tertiup angin.
"Gara-gara aku, Prius mati! Karena aku menyembunyikan fakta bahwa aku adalah seorang penyihir──"
"……Tunggu dulu. Tunggu!"
Rollo mengerahkan tenaga pada tangan kirinya yang mencengkeram borgol.
"Bukan begitu! Beliau pasti sudah tahu. Sang Raja Singa sudah tahu bahwa kamu adalah seorang penyihir!"
"……?"
"Sang Raja Singa mendekatimu justru karena kamu adalah seorang penyihir!"
Mendengar kata-kata Rollo, Teresalisa mengerutkan keningnya.
Rollo meninggikan suaranya agar tidak tenggelam oleh deru badai.
"Cermin tangan itu! Cermin tangan yang kucoba berikan padamu tadi adalah barang titipan dari Tuan Diethelm. Dan Tuan Diethelm dititipi barang itu oleh Sang Raja Singa. Beliau berpesan agar mengembalikannya kepadamu jika terjadi sesuatu padanya──cermin tangan itu, aslinya milikmu, 'kan? Barang yang kamu kubur di dalam tanah dan kamu buang!"
"……Bagaimana kau bisa tahu──"
"Kudengar bawahan Figaro melihatmu saat menguburnya."
Itu adalah cerita yang ia dengar dari Figaro saat mereka bertarung di depan sel penjara tadi.
Bawahan setia Figaro yang menjabat sebagai Wakil Komandan Pengawal Kerajaan, Roberto, secara kebetulan melihat seorang pelayan menyelinap keluar dari kastel secara diam-diam pada suatu pagi buta. Dan karena gerak-geriknya yang mencurigakan, ia pun membuntutinya.
Dia melihat Teresalisa mengubur kotak kayu paulownia itu ke dalam tanah.
Roberto menggali kembali kotak kayu itu dan melapor kepada atasannya, Figaro. Isinya adalah sebuah cermin tangan putih yang khas dengan hiasan ular melilit di gagangnya. Di bagian belakangnya terukir nama "A.Fygi".
Setelah diselidiki, diketahui bahwa itu adalah barang milik Keluarga Fygi yang memiliki lambang keluarga ular. Namun, keluarga tersebut telah tewas dalam kecelakaan kereta yang tergelincir jatuh di bagian selatan benua delapan belas tahun yang lalu. Kereta kuda itu dijarah oleh 'Kaum Pengembara' (Drifter), dan semua barang berharga telah dirampas. Jasad mereka ditinggalkan begitu saja di dalam kereta, namun hanya jasad anak perempuan keluarga tersebut yang baru berusia satu tahun yang tidak pernah ditemukan.
Dalam proses menyelidiki detail cermin tangan tersebut, Figaro sampai pada petunjuk tentang seorang penyihir. Seorang gadis muda yang dijuluki 'Penyihir Berlidah Merah Keunguan' yang mengayunkan sabit perak, terutama beroperasi di sekitar wilayah Republik Inatera. Konon, penyihir kecil itu selalu membawa cermin tangan putih dengan hiasan ular melilit di gagangnya ke mana pun ia pergi.
Figaro berhasil menemukan wanita tua dari Keluarga Darkoil yang merupakan korban dari 'Penyihir Berlidah Merah Keunguan'. Lalu ia membawanya ke kastel, dan memperlihatkan sosok Teresalisa yang sedang bekerja dari kejauhan. Melalui kesaksian wanita tua itu, ia mendapat keyakinan bahwa Teresalisa adalah sang 'Penyihir Berlidah Merah Keunguan', lalu sebagai Komandan Pengawal Kerajaan, ia melaporkan hal tersebut kepada Raja Singa Prius.
Prius menerima cermin tangan itu dari Figaro, dan mengatakan bahwa ia ingin memastikan sendiri penyihir tersebut dengan mata kepalanya. Dan setelah mengetahui bahwa Teresalisa sering naik ke atas dinding kastel saat senja, ia pun pergi untuk menemuinya.
──Aku sudah memperingatkannya.
Figaro mengatakan hal itu sambil beradu pedang dengan Rollo.
Demi melindungi negara ini, ia telah menemukan sang penyihir. Namun, Sang Raja Singa hanya menyuruhnya untuk menyerahkan urusan itu kepadanya, dan sama sekali tidak berniat menyingkirkan penyihir itu. Malahan, beliau mengatakan akan menikahinya. Jangan-jangan raja telah terkena sihir──jika dibiarkan, negara ini akan direbut oleh penyihir. Berpikir demikian, Figaro menyerah pada rajanya dan melaporkan masalah ini kepada adik raja, Omura Löwe.
Omura memanfaatkan fakta ini untuk mengincar takhta Raja Singa. Cermin tangan yang menjadi bukti bahwa Teresalisa adalah penyihir ada di tangan Prius. Karena itulah, sebagai gantinya ia menghadirkan korban dari bencana penyihir──wanita tua dari Keluarga Darkoil ke mimbar saksi.
"──Karena itulah, Sang Raja Singa sudah tahu."
Rollo berseru meyakinkan Teresalisa.
"Beliau bermaksud menikahimu, setelah mengetahui dengan jelas bahwa kamu adalah seorang penyihir!"
"……Tidak mungkin."
──Asal-usul atau apa pun itu, aku tidak peduli. Teresalisa teringat kembali kata-kata Prius di atas dinding kastel waktu itu.
──Entah kau seorang pelayan kastel, atau berasal dari 'Kaum Pengembara'.
──meskipun kau adalah seorang 'penyihir' sekalipun.
"Dia tahu? Sejak awal, selama ini……?"
Ujung-ujung jari Rollo mulai mati rasa. Baik tangan kanannya yang mencengkeram ambang jendela, maupun tangan kirinya yang menahan borgol batu Teresalisa. Tertarik oleh beban dua orang yang mencondong ke luar jendela, jari-jarinya mulai terlepas satu per satu.
"Bagaimanapun juga, kamu adalah seorang penyihir──. Hanya dengan hidup saja kamu akan ditakuti, dijauhi, dan dibenci. Tapi, kamu tidak perlu bersikap pesimis. kamu masih bisa bertarung. Masih terlalu cepat untuk mati. Karena kamu, tidak sendirian."
Rollo menatap lurus ke arah Teresalisa dengan sepasang mata hijau tuanya.
"Tidak apa-apa menjadi penyihir. Kamu boleh hidup sebagai seorang penyihir. Karena Prius Löwe, mencintaimu meski ia tahu kamu adalah seorang penyihir!"
──Karena itu, jangan lupakan ini. Orang yang aku cintai adalah dirimu yang ada di sini sekarang.
──Siapa pun dirimu sebenarnya, aku akan terus mencintaimu.
Kata-kata Prius kembali terngiang di benak Teresalisa. Seolah mengizinkannya untuk tetap hidup.
"……Anda benar-benar raja yang aneh, ya……"
Tepat pada saat itu, dari salah satu sudut kastel yang berada cukup jauh dari 'Menara Pemenjaraan', kobaran api membumbung tinggi. Di tengah kegelapan malam yang terus diguyur hujan, api merah yang besar itu tampak menyala terang.
Rollo mengangkat wajahnya. Ia menatap kobaran api yang muncul di sudut kastel itu dan mengerutkan kening.
Teresalisa juga ikut menatap nyala api itu dengan posisi terbalik sambil masih telentang. Kastel sang raja sedang terbakar. Kobaran api itu kembali mendidihkan amarah dan kebencian yang sempat mengering di dalam dada Teresalisa. Apakah ia benar-benar rela membiarkan negara yang dicintai Prius ini direbut oleh adik raja yang pengecut itu? Bolehkah ia membiarkan hal itu terjadi──.
"Nona Penyihir!" seru Rollo dengan suara lantang.
"Aku ingin melepaskan belenggu tanganmu, Nona Penyihir, tapi kuncinya ada di tangan kananku."
Hanya dengan tatapan matanya, Rollo menunjuk ke arah tangan kanannya yang mencengkeram ambang jendela. Untaian kunci yang disatukan dalam sebuah cincin tersangkut di ujung jari-jarinya. Namun jika ia melepaskan tangan kanannya, mereka berdua akan terlempar jatuh ke luar jendela.
Lagipula, Rollo sudah tidak memiliki tenaga tersisa untuk menarik tubuh wanita itu ke atas.
"Lebih tepatnya, aku sudah mencapai batasku……. Aku akan melepaskan belenggunya saat kita jatuh nanti, jadi bisakah kamu melakukan sesuatu dengan sihirmu?"
"……Anjing Hitam. Apa kau membawa cermin tanganku?"
"Ada. Di dalam kantong goni yang tergantung di pinggangku……"
Cermin tangan yang seharusnya telah ia buang, kembali kepadanya melalui perantara tangan Prius. Seolah-olah Prius sedang menyuruhnya untuk terus bertarung. Teresalisa memejamkan matanya dalam posisi telentang, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Aku mengerti. 'Penyihir Cermin' akan meminjamkan kekuatannya padamu. Namun, ada satu syarat."
Setelah mengatakan itu, ia kembali mengangkat kepalanya. Sepasang mata merahnya yang menyala bagaikan api menatap Rollo tajam.
"Akulah yang akan membunuh Omura."
"……Aku mengerti."
Rollo bergidik ngeri merasakan niat membunuh sang penyihir.
"Kalau begitu, tidak masalah. Ayo kita jatuh."
Rollo melepaskan tangan kanannya, membiarkannya meluncur begitu saja dari ambang jendela.
Mereka berdua pun jatuh melayang dari lantai tertinggi Menara Pemenjaraan.
Di udara, Rollo memilih kunci berwarna putih dari untaian tersebut, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci belenggu batu yang menahan pergelangan tangan Teresalisa. Dalam sekejap, ia memutar dan melepaskan belenggu itu.
Tanpa membuang waktu, Teresalisa merapal mantranya── "Cermin, oh, cermin."
Dari kantong yang tergantung di pinggang Rollo, meluaplah cairan berwarna perak. Cairan dalam jumlah besar yang tampak persis seperti raksa (mercury) itu berkumpul dan menyatu di punggung Teresalisa.
Sambil terus terjatuh, Teresalisa menarik Rollo ke pelukannya.
Detik berikutnya, bagaikan burung yang mengepakkan sayap, cairan yang menempel di punggung Teresalisa membentang lebar. Benda yang terbentuk itu tak lain dan tak bukan adalah sepasang sayap perak.
"Luar biasa……"
Rollo bergumam sambil berpegangan erat pada Teresalisa, menyaksikan fenomena ajaib yang terjadi tepat di depan matanya.
Sayap perak itu mengepak, dan tubuh mereka berdua berputar hingga kaki mereka menghadap ke bawah. Sayap itu kembali mengepak dua kali, membunuh momentum jatuhnya, dan kini mereka berdua perlahan mendekati permukaan tanah.
Saat mereka sudah cukup dekat dengan tanah, Rollo melepaskan pegangannya dan melompat turun.
Begitu Teresalisa mendarat, sayap perak itu meleleh dan kembali menjadi wujud cairan, menyatu membentuk sebuah gumpalan layaknya slime berukuran besar.
Teresalisa mengulurkan tangannya kepada Rollo.
"Terima kasih sudah mengantarkan cermin tanganku."
Rollo mengeluarkan cermin tangan itu dari kantong di pinggangnya, lalu mengembalikannya kepada Teresalisa.
Saat Teresalisa mengarahkan cermin tangannya ke arah slime di bawah kakinya, slime itu perlahan terisap masuk ke dalam permukaan cermin. Dari sudut pandang Rollo, itu benar-benar pemandangan yang aneh. Ia menunjuk ke arah cermin tangan yang dipegang Teresalisa.
"……Benda perak itu…… apakah ia hidup?"
"Tidak hidup, kok. Benda ini bergerak karena kehendakku."
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya seolah sedang menyendok sesuatu. Cairan perak itu pun lenyap sepenuhnya ke dalam cermin.
"Hee…… benar-benar benda yang ajaib, ya."
"Tapi, dia punya nama."
"Nama? Siapa namanya?"
"April. Katanya itu adalah nama asliku. Orang tua angkatku yang memberitahunya. Inisialnya juga terukir di cermin tangan ini."
"Eh. Kalau begitu, apakah aku harus memanggilmu Nona April?"
"Panggil Teresalisa saja tidak apa-apa. Aku bahkan tidak ingat masa-masa saat aku dipanggil dengan nama itu. Lagipula, ada yang lebih penting──"
Teresalisa menatap ke atas, ke arah salah satu sudut kastel yang berkobar di tengah kegelapan malam.
"Tempat itu, itu adalah kapel. Tempat di mana pernikahan kami dilangsungkan……. Orang-orang Campusfellow, ada di mana mereka sekarang?"
"Seharusnya saat ini sedang dilangsungkan pesta ramah tamah dengan pihak Löwe. Lokasinya memang tidak diberitahukan, tapi…… jangan bilang, pestanya diadakan di kapel……"
"Sangat mungkin. Sebaiknya kita bergegas. Api itu……. Itu adalah api dari sihir."
"Eh……? Sihir berarti ulah Ahli Sihir? Kenapa ada Ahli Sihir di Löwe?"
"Aku tidak tahu soal itu. Entah apakah ini demi Pengadilan Penyihirku…… atau Omura sedang merencanakan sesuatu yang lain."
"…………"
Rollo mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Situasi yang tidak menentu ini memberinya firasat yang sangat buruk.
Bagian 6
Sejak pembantaian di kapel itu dimulai, Cappuccino terus bersembunyi di bawah meja.
Bahkan ketika dinding batu terbakar oleh sihir Ferocactus, maupun saat kelompok Hartland mendobrak pintu utama dan melarikan diri, ia hanya bisa gemetar ketakutan di bawah meja, benar-benar kehilangan momen untuk keluar.
Di tangannya, tergenggam erat sebuah cakar Direwolf pemberian Rollo. Rollo pernah bilang bahwa benda ini bisa menjadi jimat pelindung. Di saat seperti inilah, aku ingin benda ini melindungiku. Aku butuh pertolongan. Dengan tangan yang masih bergetar, ia meremas cakar itu kuat-kuat.
"……Tolong aku. Rollo……"
Mengejar sisa orang-orang Campusfellow yang masih hidup, para Kesatria Singa Emas, tentara bayaran, dan dua orang Ahli Sihir itu berhamburan keluar dari kapel. Hanya beberapa Kesatria Singa Emas yang tersisa di dalam, berlarian ke sana kemari mencoba memadamkan kobaran api yang kian membesar.
Jika aku terus bersembunyi di bawah meja seperti ini, bantuan tidak akan pernah datang. Mengumpulkan segenap keberaniannya, Cappuccino merangkak keluar dari bawah meja. Sambil menundukkan badan agar tidak ketahuan oleh para kesatria itu, ia melangkah menuju pintu utama yang tadi didobrak oleh Hartland. Aku harus cepat-cepat bergabung dengan orang-orang Campusfellow lainnya.
Sambil mengendap-endap, ekor matanya menangkap sosok orang-orang Campusfellow yang telah tumbang. Ada yang punggungnya tertembus pedang. Ada pula yang tubuhnya hangus terbakar. Semuanya adalah wajah-wajah yang ia kenal. Dengan gigi yang gemeretak menahan ngeri, Cappuccino melangkah keluar dari kapel yang terbakar itu menuju lorong.
Tidak ada siapa-siapa di lorong tersebut, namun suara teriakan keras dan derap langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Bisa jadi para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran sedang berkumpul. Menyadari ada sekelompok Kesatria Singa Emas yang berjalan mendekat dari arah kiri lorong, Cappuccino buru-buru membalikkan badannya. Ia berjalan cepat menyusuri dinding, menuju ke arah yang berlawanan dari mereka.
Sebagai orang Campusfellow, jika ia ketahuan oleh Kesatria Löwe, ia pasti akan langsung dibunuh. Entah apa alasannya, tapi pembantaian ini memang dirancang seperti itu. Para Kesatria Singa Emas, tentara bayaran, dan para Wizard itu memang sengaja menargetkan orang-orang Campusfellow. Apakah mereka yang berhasil keluar dari kapel tadi bisa melarikan diri dengan selamat? Membayangkan wajah Delirium dan Rollo, air mata menetes dari sudut matanya karena perasaan tidak berdaya yang menyelimutinya.
"……Semuanya, ada di mana……?"
Dari arah depannya, terdengar suara jeritan seorang pria.
Dengan langkah ragu dan ketakutan, Cappuccino terus maju. Ia menyusuri lorong itu hingga tiba di sebuah selasar berpilar yang mengelilingi sebuah halaman tengah. Tempat itu adalah 'Taman Miniatur Raja', lokasi yang sama di mana Rollo dan Figaro melakukan pertandingan ekshibisi kemarin.
Itu adalah sebuah taman yang sangat luas, dikelilingi oleh selasar dengan pilar-pilar yang berjejer rapi. Rerumputan yang terawat dengan sangat baik membentang bagai karpet, dan di sana-sini terdapat hamparan petak bunga yang sedang bermekaran. Sebuah pohon ek yang sangat megah berdiri di dekat bagian tengah taman, dahan dan rantingnya yang membentang luas dihiasi oleh dedaunan berwarna kuning.
Karena obor-obor menyala di pilar-pilar selasar yang jumlahnya tak terhitung, taman tengah yang sedang diguyur hujan itu di luar dugaan ternyata cukup terang.
Orang-orang Campusfellow yang melarikan diri lewat lorong kini berlarian secara berpencar di taman tengah yang terbuka maupun di selasar. Ada banyak lorong yang menghubungkan taman itu dengan bagian dalam ruangan. Namun, dari setiap lorong tersebut, para Kesatria Singa Emas terus berdatangan menyerbu. Menyadari jalan ini buntu dan jalan itu pun buntu, orang-orang Campusfellow terpaksa mundur dan kini benar-benar terpojok di taman tengah.
Di belakang mereka, Ferocactus semakin mendekat.
Seorang Kesatria Tekka menyiagakan pedang rampasannya, mencoba menahan kobaran api yang melilit kedua tangan Ferocactus. Namun, pedang yang diayunkannya tidak sedikit pun menggores Ferocactus yang bergerak terlampau lincah. Hanya masalah waktu sebelum ia ikut dihanguskan.
Hartland mengapit Bud di bawah lengannya, nyaris seperti menyeretnya. Ia keluar dari selasar menuju taman tengah yang sedang diguyur hujan lebat. Punggung besarnya itu, masih terus berkobar dilalap api.
Ia bermaksud memotong lewat taman menuju selasar di seberang, namun Raggini mengejarnya dari belakang.
"Jangan dingin begitu, mau pergi ke mana kau!"
Hartland secara refleks berbalik, menggunakan tombaknya sebagai perisai untuk menahan telapak tangan Raggini. Akibat gerakan tiba-tiba itu, ia tanpa sengaja menjatuhkan Bud ke atas rerumputan.
"Ugh……. Lord Bud. Saya benar-benar minta maaf!"
Hartland mengayunkan tombaknya, memaksa Raggini mundur.
Ia segera mencoba merengkuh tubuh Bud yang terjatuh, namun Bud menepis tangannya.
"……Jangan pedulikan aku, aku bisa berdiri sendiri."
"…………"
Bud menegakkan tubuh bagian atasnya. Sambil melihat hal itu, Hartland berpikir keras. Memikirkan cara agar tuannya bisa bertahan hidup. Cara agar bisa meloloskan diri dari kastel ini. Sambil terus berpikir, ia menghadap sang Wizard setengah telanjang berwig putih itu dan kembali menyiagakan tombaknya. Setidaknya, jika ia tidak menyingkirkan pria ini, mereka tidak akan bisa lolos.
Kalau begitu, mulai dari sini kita harus berpencar.
"……Lord Bud. Saya akan memancing perhatiannya. Sementara itu, kumohon larilah."
"……Aku tidak berniat menjadikanmu sebagai tameng hidup. Jika kau memilih bertarung, pastikan kau menang. Ini adalah perintah."
"…………"
Hartland tidak menjawab. Lebih tepatnya, ia tidak bisa menjawab. Ia tidak tahu apakah ia bisa menang atau tidak melawannya. Justru karena itulah, ia ingin tuannya memanfaatkannya sebagai tameng.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya pada tangannya yang menggenggam tombak. Ia tak lagi punya pilihan untuk kalah. Hartland menurunkan ujung tombaknya ke bawah, lalu melangkah maju satu, dua langkah untuk menekan Raggini.
Raggini menjaga jarak yang konstan, mundur sejauh Hartland maju. Berbeda dengan Hartland yang menatap tajam dengan wajah serius, Raggini justru merentangkan kedua lengannya dengan raut wajah yang sangat santai.
"Kau ini lucu sekali, ya. Hm? Punggungmu itu sedari tadi terus terbakar, lho. Memangnya tidak panas?"
Kekuatan sihir yang menyelimuti telapak tangannya itu memang tidak kasatmata, namun rintik hujan yang menyentuh tangan Raggini mendesis mengeluarkan uap dan langsung lenyap seketika.
"……Cuma segini. Sama sekali tidak panas."
Sambil membiarkan keringat dingin mengucur di dahinya, Hartland memaksakan diri bersikap tangguh. Meski kobaran apinya sedikit mengecil karena terguyur hujan yang turun di taman tengah itu, namun api Ferocactus tidak akan padam sampai targetnya habis terbakar. Selama maryoku (kekuatan sihir) yang menjadi pemicu api itu masih menempel, punggung Hartland terus terbakar.
Tanpa disadari, Hartland telah tiba di dekat bagian tengah taman. Di bawah kakinya, terdapat garis putih yang menunjukkan posisi berdiri saat pertandingan dimulai. Tempat ini adalah arena untuk beradu pedang.
Raggini juga berdiri di atas garis yang satu lagi. Niat awal Hartland adalah menekan maju untuk menjauhkan Raggini dari Bud, tapi sepertinya ia justru digiring hingga ke tempat ini.
Di selasar sekeliling mereka maupun di atas rerumputan, para Kesatria Tekka yang masih bertahan hidup terus bertarung melawan para Kesatria Singa Emas, tentara bayaran, dan juga Ferocactus.
Di tengah taman yang dipenuhi gema jeritan dan teriakan pertempuran itu, Hartland dan Raggini saling berhadapan.
Raggini memutar lehernya, lalu melompat-lompat kecil layaknya sedang pemanasan.
"Hei kau, namamu?"
"……Komandan Ordo Kesatria Besi dan Api, Hartland Pablo."
"Komandan rupanya. Begitu ya…… kau benar-benar seekor 'Fire Hedgehog' (Landak Berpunggung Api)."
Raggini tertawa seraya menunjuk lambang ordo kesatria yang disulam di lengan Hartland. Lambang landak dengan punggung terbakar itu, ironisnya benar-benar mirip dengan Hartland yang punggungnya sedang berkobar saat ini.
Raggini merentangkan kedua lengannya, lalu merendahkan postur tubuhnya memasang kuda-kuda.
"Nah, mari kita mulai ronde kedua. Hartland Pablo."
"……Baiklah. Majulah, Ahli Sihir."
Merespons tantangan itu, Hartland memutar tombaknya, lalu melebarkan bilah-bilah cabang Tangerine Tree miliknya.
Di sisi lain, sebagian orang Campusfellow yang berlarian melintasi taman tengah itu menemukan sebuah lorong dengan penjagaan longgar di sudut selasar. Dari sana, mereka mungkin bisa melintasi bagian dalam kastel dan kabur hingga ke luar.
"Ke sebelah sana! Lari!"
Sambil dilindungi oleh dua orang kesatria yang menggenggam pedang rampasan, tiga orang pejabat sipil berlari kencang.
Menginjak-injak bunga di hamparan taman, mereka berlari nekat lurus menuju sudut selasar tersebut. Di belakang mereka, Ferocactus terus mengejar. Namun, tidak ada sosok Kesatria Singa Emas maupun tentara bayaran di lorong depan sana. Yang berdiri menghalangi jalan masuk lorong itu, hanyalah seorang wanita bangsawan bergaun hitam──.
"Ara-ara, ternyata pestanya sudah dimulai, ya?"
Mengenakan topi hitam bertepi lebar, wanita bangsawan yang menutupi area matanya dengan perban itu adalah salah satu dari kelompok hakim. Dia adalah Anemone.
"Tolong, minggir dari sana……!"
Kesatria Tekka yang memimpin rombongan itu tidak mengetahui hal tersebut. Mengira wanita bangsawan itu hanyalah bangsawan biasa, ia menodongkan ujung pedangnya sambil berlari dan berseru. Anemone tidak bergeming dari posisinya. Karena wanita itu diam saja, si kesatria muda mencoba menghindarinya untuk lewat, namun tiba-tiba sesuatu mencengkeram pergelangan kakinya kuat-kuat.
Kesatria itu tersungkur jatuh ke depan. Saat dilihat, lengan hitam legam yang mencengkeram pergelangan kakinya itu tumbuh dari bayangan yang jatuh di kaki Anemone.
"……A-apa…… ini," Empat orang yang mengikuti di belakang kesatria pemimpin itu ikut menghentikan langkah mereka.
"Kalian mau pergi ke mana? Padahal tragedi yang sesungguhnya baru saja akan dimulai──" Dari bayangan di kaki Anemone, muncul satu lengan lagi. Bahu muncul, dada muncul, lalu muncullah siluet pria bertubuh kurus kering hingga tulang rusuknya menonjol. Pria itu seluruh tubuhnya hitam pekat, sama persis dengan warna bayangan. Wajahnya yang tidak rata tampak seperti buatan, sama sekali tidak terasa adanya kemauan atau nyawa.
Di atas hidung pada wajah itu, muncul sebuah garis belahan horizontal. Kepalanya tiba-tiba terbuka ke atas dan ke bawah dengan suara keras, memperlihatkan deretan gigi yang berjajar mirip seperti manusia. Barulah disadari bahwa itulah mulut yang sesungguhnya dari bayangan ini.
Pria yang lahir dari bayangan itu mengangkat pergelangan kaki si kesatria muda yang masih dicengkeramnya. Dengan tangannya yang lain, ia mencengkeram kepala kesatria itu dan langsung menggigit wajahnya. Jeritan kematian sang kesatria menggema di salah satu sudut taman tengah.
Satu kesatria dan tiga pejabat sipil yang tersisa mematung kaku karena pemandangan yang terlampau mengerikan itu.
Pria bayangan itu melahap tubuh si kesatria muda, menelannya bulat-bulat ke dalam mulut besarnya. Setelah habis melahap semuanya, wajahnya menoleh ke belakang, dan kini wajah itu telah berubah menjadi sama persis dengan kesatria muda yang baru saja dimakannya. Tubuh pria bayangan yang bangkit berdiri itu berubah wujud dengan cepat. Yang tadinya bertelanjang dada kini berubah mengenakan pakaian yang sama dengan si kesatria, dan di tangannya, terbentuk sebuah pedang yang persis seperti yang dipegang kesatria tadi. Namun, seluruh tubuhnya tetap hitam pekat, dan matanya menatap kosong tak fokus.
"Hohoho. Anak muda memang dagingnya padat ya, Tatakari."
'My Dear Knight' (Kesatria Kasihku)──bayangannya menyalin wujud kesatria yang dimakannya. Itulah sihir unik milik Anemone. Anemone menamai bayangan ini 'Tatakari'. Dalam bahasa daerah di pedalaman Republik Inatera, kata itu berarti 'Aku terlalu mencintaimu sampai rasanya ingin membunuhmu'.
"Oooooooonn……. Oooooooonn……" Tatakari mengeluarkan suara rintihan yang penuh duka nestapa. Suara yang terdengar seperti deru angin di malam badai. Kesatria yang tersisa menyiagakan pedangnya, melindungi ketiga pejabat sipil di belakangnya. Ke arahnya, Tatakari melompat menerjang.
Cappuccino berada di sudut taman tengah. Ia berada di posisi diagonal berseberangan dengan tempat Tatakari sedang membantai orang-orang. Tragedi mengerikan sedang berlangsung di setiap sudut taman.
Orang-orang yang berlarian di selasar dikepung oleh para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran, sementara di tengah taman, Hartland yang punggungnya sedang terbakar berhadapan langsung dengan Raggini. Orang-orang Campusfellow sudah hampir habis tak tersisa.
Ferocactus menghentikan langkahnya setelah mangsanya direbut oleh Tatakari. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan gelisah, mencari mangsa berikutnya. Lalu, ia menemukan Cappuccino yang sedang gemetar ketakutan di sudut taman, dan ia pun tersenyum menyeringai lebar.
Tubuh Cappuccino mematung kaku.
──Aku harus lari. Aku harus cepat-cepat sembunyi di suatu tempat.
Meski kepalanya berpikir demikian, kakinya bergetar dan menolak untuk bergerak. Air mata mengalir deras, ia mengendus menahan tangis. Memeluk erat jimat itu di dadanya. Samar-samar, Cappuccino mulai menyadari kenyataan pahit ini. Ah, begitukah... jadi aku akan mati di sini──.
"Capu!"
Mendengar suara yang tak asing dari belakangnya, Cappuccino menoleh. Dari arah lorong yang terhubung dengan kapel, Rollo berlari menghampirinya. Ia mengenakan pakaian ala Pembunuh (pembunuh bayaran) hitamnya, dengan bagian penutup wajah di helmnya yang dibiarkan terbuka. Merasa lega melihat sosok pemuda itu, Cappuccino buru-buru menggelengkan kepalanya dan berteriak dengan wajah yang kusut bersimbah air mata.
"Tunggu, jangan mendekat! Kumohon!"
Rollo menghentikan langkahnya di selasar.
"……Karena aku, sudah disentuh olehnya."
"……?"
Di belakang Cappuccino, Ferocactus menunjuk tepat ke punggung gadis itu. Di pintu masuk kapel tadi, Cappuccino telah disentuh oleh Ferocactus. Ia telah dipeluk oleh tubuh kecil gadis gila itu.
"Uwah……!"
Seketika, bersamaan dengan jeritan kecil yang keluar dari bibirnya, Cappuccino dilalap kobaran api tepat di depan mata Rollo.
"Capu……!?"
"Minggir, Anjing Hitam."
Teresalisa menyelinap melewati sisi tubuh Rollo yang terpaku kaget.
Pada saat yang sama, ia mengangkat cermin tangannya, lalu memancarkan cairan berwarna perak dari permukaan cermin tersebut.
"Padamkan apinya, April!"
Cairan itu dalam sekejap membungkus bagian atas tubuh Cappuccino yang sedang terbakar. Seolah-olah menekan paksa kobaran api yang muncul itu. Dengan tubuh bagian atas yang terbungkus cairan perak, Cappuccino jatuh berlutut di atas rerumputan, lalu ambruk tak berdaya.
Teresalisa segera menarik kembali cairannya. Ia mengayunkan cermin di tangannya, dan cairan perak itu pun berkumpul kembali ke permukaan cermin. Seiring cairan itu lenyap, wajah Cappuccino mulai terlihat. Api yang sebelumnya muncul dari tubuhnya kini telah padam seutuhnya. Rollo berlari ke sisi Cappuccino, lalu merengkuh tubuh lemas gadis itu ke dalam dekapannya.
"Capu……! Bertahanlah!"
Cappuccino tetap memejamkan matanya, tidak merespons. Ujung rambut hitamnya mengeriting karena panas, dan seragam pelayannya hangus terbakar. Rollo menempelkan jari-jarinya ke leher Cappuccino, mencari denyut nadinya. Dug, ia bisa merasakan detak jantung yang lemah.
"Anak itu, dia masih hidup?"
Teresalisa melirik Cappuccino dari sudut matanya, sambil tetap mewaspadai Ferocactus yang berada di depan mereka.
"Tidak apa-apa. Dia masih hidup."
"Begitu ya. Syukurlah."
"Apa yang…… sebenarnya terjadi?"
"Tubuh anak itu ditempeli oleh kekuatan sihir yang pekat. Kemungkinan besar, sihir itulah yang menjadi pemicu api yang membakarnya. Karena itulah, aku menghancurkan kekuatan sihir itu menggunakan April. ……Yang menempelkan pemicu api itu, gadis yang di sana itu, 'kan."
"Loh. 'Penyihir Cermin'?"
Ferocactus tertegun, lalu memiringkan kepalanya sedikit ke samping.
"Bukannya kau seharusnya berada di dalam sel penjara?"
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Dari permukaan cermin itu, cairan berwarna perak kembali memancar, membentuk busur di atas kepala Teresalisa, lalu mengeras. Terkena cahaya dari api obor yang menyala di pilar-pilar, bilah dan gagang senjata yang berkilauan itu dihiasi dengan relief halus yang memperlihatkan jalinan tanaman rambat dan dedaunan. Senjata itu tak lain adalah sebuah sabit besar (scythe), jenis senjata yang biasa didekap oleh Sang Pencabut Nyawa.
"Tidak boleh begitu, Penyihir Cermin. Keluar seenaknya sendiri. Fero akan menangkapmu."
Ferocactus menyulut api di kedua tangannya, lalu berlari menerjang ke arah Teresalisa.
"……Sudah lama aku tidak menggunakan sabit besar ini, tapi," Teresalisa juga mengayunkan sabit peraknya dan mulai berlari. "Aku tidak akan membiarkan diriku tertangkap oleh seorang biarawati palsu, seolah-olah aku sudah kehilangan kemampuanku."
Mereka berdua bentrok di tengah taman yang diguyur hujan. Tangan Ferocactus yang diselimuti kobaran api nyaris menyentuh tubuh Teresalisa──namun, Teresalisa mengelaknya dengan sebuah langkah step yang lincah, lalu menghujankan bilah sabitnya tepat ke atas kepala Ferocactus.
"Ah, wah. Oh……" Ferocactus secara refleks menghindari bilah tersebut dan mundur dengan cepat──.
Teresalisa kembali mengayunkan sabitnya dengan lebar untuk melancarkan serangan susulan. Ferocactus terdesak oleh momentum serangan itu dan semakin melangkah mundur, namun──gagang dan bilah sabit perak itu dapat memanjang dengan bebas sesuai kehendak Teresalisa.
"Kyaaaaaa……!!" Ferocactus menjerit histeris saat bahunya terkoyak oleh bilah sabit yang memanjang lebih jauh dari dugaannya.
Bagian 7
"Menjauhlah dariku, dasar mesum, dasar mesum!"
Di atas tempat tidur, Delirium meronta-ronta dengan kaki yang menendang-nendang karena ditindih oleh bokong Omura yang menungganginya.
Ia menyilangkan lengan di depan dada, berusaha menutupi bagian dadanya yang tersingkap. Payudaranya yang sintal tertekan oleh lengannya sendiri, justru membuat napas Omura semakin memburu tidak teratur.
"Oho. Kau cukup dewasa untuk usiamu ya, Tuan Putri."
Sambil tetap menindihnya, Omura dengan terburu-buru melepas kancing atasannya sendiri. Ia melemparkan jasnya yang kotor terkena jus anggur, memamerkan perutnya yang buncit berlemak. Matanya tetap tertuju pada dada Delirium bahkan saat ia sedang menelanjangi dirinya sendiri.
"Lihat, bukankah kau bilang kau suka singa? Bergembiralah. Sebagai istri sang Raja Singa, aku akan mencintaimu sepenuh hati."
"Berisik! Kau itu bukan singa, tapi babi! Babi! Raja Babi!"
Delirium mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik kakinya yang terhimpit bokong Omura. Ia menggerakkan kakinya dengan liar, menendang wajah dan perut Omura. Namun, pergelangan kakinya segera dicengkeram kuat.
Kakinya dipaksa terangkat tinggi, membuat paha putihnya terekspos jelas.
"Kyaaaaa!"
Delirium menahan roknya yang tersingkap dengan tangannya.
Omura menyusupkan tubuhnya di antara kedua paha yang terbuka itu, lalu menindih tubuh Delirium sepenuhnya.
"Bagus, bagus sekali! Silakan mengamuk sesukamu. Aku jadi semakin bersemangat!"
"Tolong! Siapa pun, tolong──"
Saat Delirium berteriak, Omura mendekatkan bibirnya ke ujung hidung gadis itu.
Delirium memalingkan wajahnya. Namun, lidah tebal Omura menjilat pipinya dengan kasar.
"Tidak mau... nngh!!"
Pada saat itulah, saat Delirium memalingkan wajah ke samping, ia melihat sesuatu yang mustahil di sisi tempat tidur.
Tergeletak di atas karpet, adalah sebuah pergelangan tangan manusia. Pergelangan tangan itu berdiri dengan lima jari yang berfungsi seperti kaki. Bagian potongan pergelangan tangan itu berwarna hitam, tampak sangat rapi seolah dipotong bersih dengan golok daging. Tidak ada setetes darah pun yang mengalir.
──Apa-apaan itu?
Di depan mata Delirium yang membelalak lebar, pergelangan tangan itu bergerak-gerak seperti sedang melangkah di tempat.
"Benar-benar pemandangan yang tidak sanggup kulihat."
Tiba-tiba terdengar suara lembut seorang pria, yang jelas bukan suara Omura──.
Seketika, Omura menyentakkan tubuh bagian atasnya hingga tegak.
"Guh…… ogh……?"
Saat menatap Omura yang mengerang, terlihat sebuah pergelangan tangan sedang mencekik lehernya yang tebal. Itu adalah pergelangan tangan yang berbeda dari yang tergeletak di lantai tadi. Omura meronta kesakitan, menancapkan kuku-kukunya berusaha melepaskan tangan itu. Namun, pergelangan tangan itu tidak mau lepas. Bagian potongan pergelangan tangan ini juga berwarna hitam, tanpa setetes darah pun yang mengalir.
"……Apa yang sebenarnya terjadi?"
Omura akhirnya mulai mengeluarkan busa dari mulutnya, matanya mendelik putih, dan ia pun tumbang telentang. Delirium menyadari ada seseorang yang berdiri di belakang pria itu.
Orang itu mengenakan topi bertepi dan jubah hitam yang menyelimuti tubuhnya. Wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng dengan paruh besar menyerupai burung. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas koper berbahan kulit sapi yang kaku.
Delirium merasa pernah melihat sosok dengan penampilan ganjil tersebut. Dia adalah orang yang menarik rantai belenggu batu Teresalisa dan memimpin jalannya Pengadilan Penyihir.
"……Kau, siapa?"
Delirium menarik sprei di dekatnya, berusaha menutupi dadanya yang tersingkap.
Sosok misterius itu mengalihkan pandangannya ke arah pergelangan tangan yang masih terus mencekik leher Omura.
"Sudah, jangan membunuhnya."
Cara bicaranya lembut, seolah-olah sedang menegur seekor anjing yang sedang berbuat jahat. Pergelangan tangan itu dengan patuh menuruti perkataannya dan melonggarkan cekikannya.
"Selamat malam, Nona Delirium Grace."
Pria misterius itu berdiri di samping tempat tidur, menatap Delirium dari depan. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak terlihat di balik topeng itu. Merasa ditatap oleh wajah yang tanpa ekspresi membuat Delirium merasa tidak tenang.
"Namaku Parmigiano Reggiano."
"……Parmi…… giano."
"Sebagai tuan putri dari Campusfellow, Kau seharusnya dipersembahkan kepada pria ini sebagai salah satu bentuk imbalan, tapi……"
Parmigiano meletakkan koper kulit sapinya di atas karpet, lalu melepas sarung tangan kirinya. Ia mengulurkan tangannya yang terbuka ke arah Delirium di atas tempat tidur. Jari-jarinya tampak putih, ramping, dan indah.
"Aku tidak tahan melihat tangan yang indah itu tercemar oleh binatang buas yang menjijikkan."
"…………"
Meski tetap waspada, Delirium menurunkan kakinya dari tempat tidur. Sosok ini benar-benar tidak jelas identitasnya. Namun, fakta bahwa dia telah menyelamatkannya dari tangan jahat Omura adalah sebuah kebenaran.
"……Terima kasih."
Delirium mengucapkan terima kasih. Ia kemudian menyambut tangan yang terulur itu secara alami dan bangkit berdiri.
Parmigiano membungkus tangan Delirium dengan tangannya yang lain.
"……Syukurlah kau selamat, sungguh."
Detik berikutnya, Delirium merasakan pusing yang luar biasa hingga kesadarannya mulai menjauh.
Tubuhnya lemas dan ambruk, namun Parmigiano dengan sigap menangkap dan mendekap tubuh gadis itu.
Bagian 8
Setelah membaringkan Cappuccino yang tak sadarkan diri di selasar, Rollo mengedarkan pandangannya ke seluruh taman tengah untuk mencari keberadaan Bud. Taman itu kini telah berubah menjadi medan perang. Di area tengah, Hartland sedang menyiagakan tombaknya menghadapi salah satu hakim. Sementara itu, Bud tampak terduduk menyandarkan punggungnya pada salah satu pilar selasar.
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Bud?"
Rollo segera berlari menghampiri Bud. Bud, yang terkena anak panah crossbow di bagian perut, bahu, dan paha, tampak bernapas tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi.
Sambil berlutut di sampingnya, Rollo menerima penjelasan singkat dari Bud mengenai situasi yang terjadi. Bahwa pesta ramah tamah itu adalah jebakan, bahwa informasi pihak Campusfellow telah bocor sepenuhnya. Ada kemungkinan keberadaan pengkhianat. Dan Bud mengatakan bahwa Delirium tidak terlihat di mana pun.
"Temukan Delirium. Harus, apa pun yang terjadi."
Bud meringis menahan sakit, kemungkinan karena luka-lukanya mulai berdenyut. Bagian perutnya yang tertembus anak panah tampak merembeskan warna merah darah.
Rollo berusaha menyemangati Bud dengan sengaja membuat suaranya terdengar cerah.
"Ada satu kabar baik. Ratu Teresalisa adalah seorang penyihir. Dia bekerja sama dengan kita."
"Begitu ya……"
"Saat ini pun ia sedang bertarung melawan salah satu Ahli Sihir. Mari kita segera tinggalkan kastel ini. Setelah memastikan keselamatan Anda, saya akan mencari Tuan Putri Delirium──"
Di tengah kalimatnya, Bud memotong perkataan Rollo dengan berkata, "Sebelum itu." Matanya menunjuk ke arah tengah taman, tepat di area arena pertandingan. Di sana, Hartland sedang mengayunkan tombaknya melawan Raggini yang terus merangsek maju.
"……Hartland sedang kesulitan. Berikan dia bantuan."
Sambil menguapkan setiap butir air hujan yang menyentuhnya, telapak tangan Raggini menjulur ke depan.
Dari gagang tombak kesayangan Tangerine Tree yang sempat tercengkeram, suara desisan uap dalam jumlah besar membubung ke udara.
"Nuuuugh……!!"
Hartland memutar tombaknya untuk mengempaskan tangan Raggini.
Di arena yang diterangi oleh obor-obor selasar, duel satu lawan satu antara Hartland dan Raggini terus berlanjut. Punggung Hartland masih terus berkobar hingga saat ini. Lehernya yang sempat dicengkeram saat pertempuran di kapel tadi tampak melepuh dengan sangat menyedihkan.
Meskipun Tangerine Tree memiliki banyak bilah dan menunjukkan kekuatan yang tak tertandingi dalam pertempuran melawan banyak musuh sekaligus, namun saat menghadapi Raggini yang menggunakan gaya bertarung jarak dekat (close combat), Hartland tidak mampu mengeluarkan kekuatannya secara maksimal.
Bilah-bilah yang menyebar seperti dahan dan dedaunan itu memang bisa menembus banyak orang dalam satu tusukan, namun karena ukurannya yang besar, serangannya menjadi terlalu terbuka. Jika musuh berhasil masuk ke jarak dekat, Hartland harus menarik masuk bilah-bilahnya ke dalam gagang satu per satu agar bisa mengayunkan tombaknya dengan cepat.
"……Huu…… Huu……"
Napas Hartland mulai tidak beraturan. Guyuran hujan membasahi wajahnya yang pucat karena kehilangan banyak darah. Terus-menerus dalam posisi bertahan bukanlah hal yang ia inginkan. Ia harus segera membawa Bud keluar dari kastel ini. Ia harus segera mengalahkan Raggini, namun gerak tubuhnya jelas semakin melambat.
Menyadari ujung jarinya yang menggenggam tombak sedikit bergetar, Hartland meremas gagangnya kuat-kuat. Tidak ada rasa takut terhadap sang Wizard. Hanya saja, jika terus begini, ia mungkin tidak akan bisa melindungi Bud sampai akhir. Itulah yang ia takuti.
──Siapa pun…… asalkan ada yang membawa Tuan Bud melarikan diri……
Tanpa sadar, Hartland mengedarkan pandangan mencari sosok Bud dengan sudut matanya. Hal itu menciptakan celah. Raggini yang mengambil langkah serang, secara instan merangsek masuk ke jarak dekat Hartland.
"Kau mengkhawatirkan tuanmu? Membuatku iri saja, Hartland. Lihat aku baik-baik."
"Kh…… gawat──"
Secara refleks Hartland menegakkan tombaknya untuk dijadikan perisai. Raggini mencengkeram gagang tersebut. Lalu dengan tangan kirinya yang lain, ia mencengkeram pergelangan tangan kanan Hartland yang sedang memegang tombak. Suara desisan uap membubung dari pergelangan tangan Hartland.
"Guaaaakh……!!"
"Hahaha! Sakit? Pasti sakit sekali, ya!"
Hartland mencoba menyentakkan tangannya agar terlepas, namun ia kehilangan tenaga. Hartland menghantamkan dahinya ke wajah Raggini dengan sebuah sundulan keras. Namun, Raggini tidak goyah. Darah mengalir dari hidung Raggini saat ia mengembalikan posisi kepalanya, tapi kedua tangannya tetap mencengkeram erat pergelangan tangan Hartland dan gagang tombaknya.
"Ayo, ada apa!?"
Raggini mengintip ke arah wajah Hartland. Ia menjilat darah hidung yang mengalir ke bibirnya.
"Kalau tidak lebih melawan lagi, tanganmu bisa copot, lho?"
"……Kuh. Huu……!"
Pada saat itu, Raggini menyadari sesosok bayangan yang menerjang ke arahnya. Si "Anjing Hitam" yang mengenakan pelindung tangan (gauntlet) hitam dan helm hitam──Rollo, dalam sekejap merangsek masuk ke jarak dekat Raggini dan mengayunkan gauntlet-nya.
Raggini secara refleks melepaskan kedua tangannya dari Hartland, melentingkan tubuh bagian atasnya untuk menghindari serangan itu──namun di saat yang sama, ia menangkap gauntlet tersebut dan menghentikan gerakan Rollo.
"Oi, oi…… siapa kau ini, hah?"
Dari ujung gauntlet yang dicengkeram Raggini dan mengeluarkan uap panas itu, terlihat sebilah pisau yang mencuat.
"Ada pengganggu yang tidak tahu tata krama rupanya……. Aku paling benci orang yang menyela duel satu lawan satu antar pria, tahu?"
Tanpa membuang waktu, Raggini menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mencengkeram bagian depan helm Rollo.
Helm Rollo mulai mengeluarkan uap dan meleleh karena panas.
"Tch……!"
Di sana, Hartland mengayunkan tombaknya, menebas ke atas seolah hendak mengoyak Raggini dari arah kaki. Saat Raggini melompat mundur, Hartland segera mengarahkan ujung tombaknya untuk melakukan gerak tipu (feint). Ia melirik Rollo dari sudut matanya.
"……Apa yang kau lakukan? Bawa Tuan Bud melarikan diri."
Hartland tampak bernapas tersengal-sengal; luka dan kelelahannya pasti sudah menumpuk sedemikian rupa.
Bagian pelindung wajah Rollo telah meleleh dan rusak, menyingkapkan sisi kiri wajahnya.
"Saya juga ingin melakukannya. Tapi ini perintah Tuan Bud. Beliau menitahkan agar kita bekerja sama untuk mengalahkan Ahli Sihir," jawab Rollo.
"Bisa menang……? Termasuk pria itu, setidaknya ada tiga orang Ahli Sihir atau lebih di sini."
"Saya tidak tahu. Tapi…… saya rasa itu bukan hal yang mustahil."
Rollo menoleh ke samping. Hartland mengikuti arah pandangannya.
Di kejauhan taman tengah, Teresalisa sedang mengayunkan sabit perak besarnya. Dengan gaun merah yang berkibar, ia mempermainkan Ferocactus yang kedua tangannya diselimuti api.
"Karena kita memiliki 'Penyihir Cermin' di pihak kita."
Satu demi satu, para Kesatria Singa Emas mulai berkumpul di <King's Garden> (Taman Miniatur Raja). Mereka muncul di selasar seolah hendak mengepung taman tengah, bersiap bertarung bersama para Wizard untuk menumpas orang-orang Campusfellow.
Di antara mereka, terlihat sosok Figaro dengan lengan kanan yang disangga kain mitela. Ia sempat pingsan setelah dikalahkan oleh Rollo di <Prison Tower>, namun kini telah siuman dan berhasil sampai ke tempat ini.
Penyerbuan telah dimulai. Sebagian besar orang Campusfellow telah kehilangan nyawa mereka. Banyak mayat bergelimpangan di rerumputan taman tengah dan selasar.
Sekilas, mereka yang masih bertahan dalam pertarungan hanyalah Rollo dan Hartland yang menghadapi Raggini di tengah arena, serta Teresalisa yang sedang bertempur sengit melawan Ferocactus.
Figaro tidak boleh membiarkan penyihir yang dijadwalkan akan dibakar besok itu meloloskan diri di sini.
"Kalian semua, apa yang kalian lihat dengan bengong begitu! Cepat tangkap penyihir itu!" teriak Figaro kepada para Kesatria Singa Emas yang mematung di selasar.
"Jangan sampai kalah dari para Ahli Sihir itu! Tangkap wanita itu meskipun kalian harus melukainya! Dengar, jika kalian membiarkan 'Pembunuh Raja Singa' itu lolos, itu adalah aib bagi nama kesatria kalian……!!"
Mendengar bentakan Figaro, para kesatria satu per satu kembali menyiagakan pedang mereka. Dengan teriakan perang, mereka menyerbu masuk ke taman tengah.
Teresalisa melentingkan tubuh bagian atasnya, menghindari ayunan pedang dari seorang kesatria yang menyerang dari belakang sembari tetap waspada terhadap tangan api Ferocactus. Ia mengelak dari pedang yang diayunkan dari atas kepala, lalu dengan gerakan memutar tubuh yang sangat cepat, ia menghindari ujung pedang yang menusuk dari samping.
Satu demi satu pedang diayunkan ke arah Teresalisa. Ia menghindari semuanya, atau menangkis dan mementalkannya menggunakan gagang sabit besarnya. Sambil berputar layaknya sedang menari, ia mengayunkan sabit besar itu dan menghantam kepala seorang kesatria dengan bagian tumpul sabitnya hingga terpental.
"Guaaaaakh……!!"
Satu demi satu kesatria menyerbu, melompati rekan-rekan mereka yang sudah terkapar di rumput. Teresalisa menghantam tenggorokan mereka dengan ujung bawah gagang sabitnya—butt cap—atau mengayunkan bagian tumpul kepala sabitnya untuk memukul mereka. Sebanyak apa pun ia diserang, ia tidak ingin membunuh para Kesatria Singa Emas itu. Bagaimanapun, mereka adalah bawahan mendiang Prius.
Namun, bagi Ferocactus, ceritanya berbeda.
"Aduh, apa-apaan sih orang-orang ini...!?"
Ferocactus kesulitan mendekati Teresalisa karena terus terhalang dan tertabrak oleh para kesatria yang dipentalkan oleh sang penyihir. Ferocactus sama sekali tidak berniat bekerja sama dengan para kesatria itu; bagi dia, mereka hanyalah pengganggu yang menghalangi pertarungannya.
"Minggir, kalian menghalangi saja...!!"
Seketika, ia menyulut semua "benih api" yang sempat ia tempelkan pada para kesatria saat mereka bersenggolan atau bersentuhan dengannya.
Dalam sekejap, bagian tubuh para kesatria yang mengepung mereka—lengan, kepala, bahu—meledak dalam api. Meski benih api yang ditempelkan hanya berjumlah sedikit, kobaran yang menyala serentak itu menerangi seluruh taman tengah dengan terang benderang.
Para kesatria jatuh dalam kepanikan, jeritan mereka membelah langit malam yang diguyur hujan.
"Uaaaaakh...!!" "Padamkan!! Padamkan!!" "Panas, panas, panaaas...!" "Tolong aku!"
Melihat itu, Teresalisa melemparkan sabit besarnya ke udara.
Tepat saat tangannya yang kini kosong ia ayunkan ke bawah menuju tanah, sabit besar itu mencair dan pecah. Cairan perak yang terbagi menjadi butiran tak terhitung jumlahnya itu meluncur turun layaknya meteor, menempel tepat pada bagian tubuh para kesatria yang terbakar.
Kobaran api yang tadi menerangi taman tengah padam dalam sekejap mata.
Sebaliknya, api yang menyelimuti kedua tangan Ferocactus justru semakin membesar karena amarah.
"Jangan dipadamkan! Itu apiku! Jangan seenaknya memadamkan api Ferocactus...!!"
Ia melotot tajam ke arah Teresalisa dan berlari menerjang dalam luapan kemarahan.
Ia mengangkat lengannya yang membara ke arah Teresalisa yang kini tak bersenjata—namun, sesaat sebelum tangan itu menghanguskan wajah Teresalisa, langkah Ferocactus terhenti oleh rasa sakit luar biasa yang menusuk seluruh tubuhnya.
"……Ah."
Mata Ferocactus membelalak, ia memuntahkan darah tepat di depan wajah Teresalisa yang menatapnya lurus dari jarak dekat. Profil wajah mereka berdua diterangi oleh sisa api di lengan Ferocactus yang masih terangkat.
"……Saat bertarung melawan penyihir tipe manipulasi, kau harus selalu waspada terhadap sekelilingmu."
Cairan perak yang masih menempel pada para kesatria tadi telah berubah menjadi duri-duri tajam tak terhitung jumlahnya, menusuk tubuh Ferocactus dari segala arah.
Begitu Teresalisa mengepalkan kelima jarinya, duri-duri perak itu tercabut dari tubuh Ferocactus dan menyusut kembali ke arah para kesatria. Tanpa penyangga lagi, Ferocactus ambruk ke atas rumput yang basah oleh hujan.
"……Sial."
Figaro, yang menyaksikan para kesatria terbakar dari selasar, berdecak kesal. Meski pahit untuk diakui, kesatria biasa sama sekali bukan tandingan sang penyihir. Bahkan jika ia yang lengannya sedang digips ini turun tangan, ia tidak akan bisa menangkapnya. Apa yang harus dilakukan—saat Figaro sedang memutar otak untuk mencegah sang penyihir kabur, seorang wanita berdiri di sampingnya.
"Aduh, aduh…… Ini gawat, ya."
Wanita bangsawan bergaun hitam, Anemone, membawa serta pria bayangan hitam di sisinya—Tatakari. Tatakari, yang telah menyalin wajah ksatria muda tadi, duduk di kaki Anemone layaknya seekor anjing penjaga yang setia. Sambil mengelus wajah Tatakari yang tatapannya kosong dengan penuh kasih, Anemone bergumam.
"Untuk menghadapi seorang penyihir, kurasa memakan satu pemuda saja tidak akan cukup, kan, Tatakari?"
"Oooooonn……. Oooooonn……"
Tatakari melolong dengan suara yang menyedihkan.
"Anak manis. Ayo makan sedikit lagi dan buat tubuhmu jadi lebih besar, ya."
Anemone berbalik ke arah Figaro.
"Kau, meskipun sedang terluka, kau terlihat kuat. Maukah kau dimakan sebentar?"
"……Hah?"
Seketika, wajah Tatakari yang sedang membungkuk di samping Anemone terbelah secara horizontal dari atas hidung. Di dalam kepalanya yang terbuka ke atas dan ke bawah, deretan gigi terlihat mengintip.
Dengan mulut terbuka lebar, Tatakari menerjang ke arah kepala Figaro.
"OOOOOOOONN……!"
"Tch……!!"
Secara refleks Figaro melompat mundur. Ia mencengkeram bahu ksatria paruh baya yang berdiri di sampingnya dan menjadikannya sebagai tameng.
Tatakari menggigit wajah ksatria paruh baya itu. Jeritan sang ksatria pun menggema di sepanjang selasar.
Teresalisa mengumpulkan kembali cairan perak yang tadi menempel pada para ksatria ke tangannya. Cairan itu kembali membentuk wujud sabit besar yang ia dekap di kedua lengannya.
"Kalian masih mau lanjut?"
Para ksatria yang tersisa mengepung Teresalisa dengan pedang terhunus. Namun, tak ada satu pun yang bergerak. Tak ada celah bagi mereka untuk menang melawan sang penyihir. Terlebih lagi, melihat rekan-rekan mereka yang terbakar justru diselamatkan oleh wanita itu, semangat bertempur mereka pun terkikis.
"Nona Penyihir!"
Rollo, yang masih berhadapan dengan Raggini di arena, memanggil Teresalisa. Ia menunjuk ke arah punggung Hartland yang berdiri di sampingnya.
"Bisakah kamu memadamkan api di punggungnya juga?"
"……Kau, terus terbakar selama ini? Luar biasa."
Tepat saat Teresalisa melangkah maju menuju Hartland yang punggungnya masih berkobar, terdengar suara hantaman keras yang menghancurkan sesuatu dari arah belakang. Teresalisa menoleh. Sesosok pria raksasa dengan tubuh bagian atas yang membengkak muncul ke halaman tengah setelah menghancurkan langit-langit dan pilar selasar.
Ia mengenakan zirah lempeng (plate armor) hitam dan menggenggam pedang dua tangan raksasa yang juga berwarna hitam legam. Sosok pria raksasa itu benar-benar hitam pekat, mulai dari senjata hingga kulitnya. Kepalanya berjumlah delapan. Di antaranya, tampak wajah ksatria muda Campusfellow yang pertama kali dimakan, hingga wajah ksatria paruh baya Leve yang dijadikan tameng oleh Figaro.
Tatakari—bayangan Anemone yang telah melahap delapan ksatria—kini membengkak raksasa sebanding dengan volume tubuh mereka. Kekuatan dan senjatanya setara dengan delapan ksatria. Namun, tubuh yang membengkak itu tampak janggal; alih-alih berotot kekar, ia lebih terlihat seperti gumpalan daging yang obesitas.
Dug, dug. Tatakari melangkah berat di atas rumput, lalu mulai berlari menerjang Teresalisa. Sambil berlari, ia mengangkat pedang dua tangan raksasanya—sebuah bongkahan besar yang terbentuk dari penyatuan delapan bilah pedang.
"OOOOOOOONN……!"
"Apa-apaan makhluk ini, menjijikkan sekali."
Teresalisa mendongak dengan tatapan ngeri tepat saat pedang Tatakari terayun turun ke arah kepalanya.
Tanah dan rumput terkoyak hebat, membuat bongkahan tanah terpental ke udara.
"Nona Penyihir……!!"
"Jangan lengah, bodoh……!"
Raggini pun mulai bergerak kembali. Ia merentangkan kedua tangannya, merangsek ke arah Rollo yang sempat terdistraksi oleh kemunculan Tatakari.
"Tch……!"
Rollo menyentakkan lengan kanannya, memanjangkan bilah pisau yang terlipat di balik pelindung tangannya (gauntlet) dan bersiap siaga.
"……Heh. Pisau tersembunyi, ya? Menarik juga."
Raggini mendekat, lalu berjongkok untuk menghindari tebasan horizontal dari bilah pisau itu. Tanpa membuang waktu, ia merentangkan kelima jarinya dan mencengkeram leher Rollo. ——Tepat saat Rollo merasakan sensasi perih terbakar di lehernya, sebilah tombak menghujam turun di antara mereka berdua.
Hartland-lah yang menyela masuk. Ia mengambil alih posisi Rollo dan melancarkan serangan beruntun.
Raggini menyelinap di antara ujung tombak yang mengayun vertikal, horizontal, dan diagonal, sambil mencari celah untuk masuk ke jarak dekat Hartland. Ayunan tombak itu besar, pasti akan ada celah yang tercipta——. Di saat tombak terayun turun dengan hentakan yang paling kuat, Raggini merangsek maju. Ia menyelinap di bawah ujung tombak dan mendekati dada Hartland——namun tepat setelah itu, Rollo muncul melompati punggung Hartland.
"Kh……!!"
Raggini secara refleks melompat mundur, namun lengan kanannya telah tersayat oleh bilah pisau Rollo. Raggini memiringkan lehernya.
"……Haha. Si besar jadi umpan, dan si kecil yang menyayat, ya? Kalian benar-benar menyebalkan."
Hartland berlari melakukan serangan susulan, diikuti oleh Rollo tepat di belakangnya.
Namun, pada saat itu, Teresalisa yang datang berlari melompat melewati kepala Hartland. Ia memutar tubuhnya di udara dan melepaskan sabit besarnya tepat ke arah punggung Hartland——.
"Padamkan apinya, April……!"
Seketika, sabit perak itu mencair dan menempel erat, membungkus punggung Hartland seutuhnya.
"Nuooh……! Apa-apaan ini?"
"Tidak apa-apa, Tuan Hartland. Nona Penyihir sedang memadamkan apinya," seru Rollo.
Tepat di atas kepala mereka berdua, tubuh raksasa Tatakari yang sedang mengejar Teresalisa melompat lewat.
"OOOOOOOONN……!"
Teresalisa yang mendarat di arena, menarik kembali lengannya yang tadi terulur ke arah Hartland ke sisi pinggangnya. Merespons gerakan itu, cairan yang menempel di punggung Hartland kembali membentuk wujud sabit besar dan meluncur balik ke tangan Teresalisa. Cairan itu berputar-putar dengan suara syur-syur-syur.
Dan di jalur lintasan putaran sabit itu, ada Tatakari──.
"OOOOONN……!!"
Tatakari melolong ke arah langit saat punggung hingga bahunya tersayat lebar oleh tebasan tersebut.
Permukaan luka yang menganga itu berbuih dan meletup-letup, lalu perlahan-lahan tertutup dan beregenerasi kembali.
"……Sudah kuduga. Sepertinya aku tidak punya pilihan selain mencari si pengguna sihirnya," gumam Teresalisa sambil menangkap sabit besarnya.
Tatakari kembali mengangkat pedang dua tangan raksasanya dan mulai mengejar Teresalisa lagi. Teresalisa pun memutar tumitnya, berlari melintasi taman tengah dengan Tatakari di belakangnya.
Teresalisa menekuk lututnya tepat di depan selasar, lalu melompat tinggi. Target lompatannya adalah area yang lebih tinggi dari selasar—benteng kastel yang seharusnya berada di luar jangkauan Tatakari. Teresalisa menyelimuti kakinya dengan maryoku (kekuatan sihir), lalu berlari mendaki dinding secara diagonal. Namun, mengekor di belakangnya, Tatakari menghentak rumput dan ikut melompat.
"Tch……!"
Mobilitas Tatakari ternyata jauh lebih tinggi dari dugaan. Dengan jemari dan ujung kaki yang terbuka, ia menghujam dinding benteng, memanjat permukaan vertikal itu dengan gigih untuk terus memburu Teresalisa. Suara kehancuran bergemuruh di sekitar, dan serpihan puing-puing batu pun berjatuhan ke taman tengah.
Teresalisa berlari kencang sejajar dengan tanah di sepanjang dinding benteng yang mengelilingi taman. Tatakari mengejarnya sambil terus merintih.
Dengan latar belakang kejar-kejaran yang ganjil itu, Hartland mengayunkan tombaknya dengan hebat di tengah taman. Raggini menghindar dari ujung tombak tersebut. Dari titik buta, Rollo menyelinap tanpa suara sambil memanjangkan bilah pisaunya.
"Cih…… sialan, kalian benar-benar berisik."
Terdesak oleh kombinasi serangan keduanya, Raggini tidak bisa melancarkan serangan balik.
Api yang membakar punggung Hartland kini sudah sepenuhnya padam.
Arus pertempuran seolah berada di pihak mereka berdua──namun, sebuah kejadian tak terduga menimpa mereka.
Gagang Tangerine Tree yang berkali-kali dicengkeram dan dilelehkan oleh Raggini, akhirnya patah menjadi dua tepat di saat krusial ini.
"Apa……!?"
Raggini tidak menyia-nyiakan celah yang tercipta dari kegentaran Hartland. Ia melangkah maju dengan mantap, merangsek masuk ke jarak dekat Hartland dalam sekejap. Tangan kirinya, yang mengeluarkan uap panas, menghujam masuk menusuk perut Hartland.
"Ngghuukk……!!"
"Hartland!"
Hartland mencampakkan tombaknya yang telah patah, lalu mencengkeram lengan Raggini yang menghujam perutnya. Sambil menggenggam erat agar lengan itu tidak lepas, ia berteriak ke arah Rollo.
"Sekarang! Bunuh dia……!"
Raggini berdecak kesal, mencoba menarik paksa lengan kirinya dari perut Hartland. Namun, lengannya terkunci rapat oleh cengkeraman Hartland, membuatnya tak bisa berkutik.
"Jangan bercanda, keparat……!"
Dalam amukannya, Raggini menggunakan tangan kanan yang bebas untuk mencengkeram wajah Hartland.
"Ngaaaaaaaaarrgh……!!"
Uap panas membubung dari wajah Hartland.
Rollo mengayunkan bilah pisau dari pelindung tangannya (gauntlet).
Ia sebenarnya bisa saja menebas leher Raggini hingga putus. Ia juga bisa menusuk perutnya sampai mati. Namun, bilah yang diayunkan Rollo justru memotong lengan kanan Raggini yang sedang mencengkeram wajah Hartland.
"Gyaaaaaaaa……!!"
Raggini menjerit histeris karena rasa sakit yang luar biasa saat lengannya terputus dari bagian siku ke bawah. Ia pun menarik paksa lengan kirinya keluar dari perut Hartland.
"Lenganku…… lenganku! Takkan kumaafkan kalian. Akan kubunuh pelan-pelan……!"
Dengan urat nadi yang menonjol di pelipis dan mata yang merah padam, Raggini melotot tajam ke arah mereka berdua.
"Aku sudah memutuskan. Sekarang juga. Akan kulelehkan kalian sedikit demi sedikit mulai dari ujung kaki……. Dari pergelangan kaki, paha, kemaluan, lalu organ dalam, pelan-pelan, sangat pelan. Takkan kubiarkan kalian mati dengan mudah……."
Udara tiba-tiba bergetar hebat. Rollo merasakan keanehan. Pelindung wajah pada helm Rollo bagian kiri yang tadi sempat dicengkeram Raggini telah meleleh. Pipi kirinya yang kini terpapar udara merasakan rasa sakit yang menyengat.
"Aku……! Paling benci rasa sakit tahu……!!"
Uap mulai membubung dari celana dan sepatu bot yang dikenakan Raggini, bahkan dari tanah tempatnya berpijak. Jika diperhatikan, gauntlet milik Rollo dan pakaian yang dikenakan Hartland pun mulai mendesis mengeluarkan uap. Segala sesuatu di sekitar Raggini mulai meleleh. Padahal mereka sama sekali tidak menyentuhnya──.
Kekuatan sihir (maryoku) yang sebelumnya hanya ia fokuskan pada kedua tangan, kini tampaknya kehilangan kendali akibat rasa sakit yang ia derita. Apa pun yang terpapar energi sihir itu akan meleleh. Itulah sihir unik milik Raggini── 'Just Melt' (Hanya Melelehkan).
"……Kamu baik-baik saja, Tuan Hartland?"
Hartland memungut bagian ujung dari Tangerine Tree yang patah. Meski gagangnya menjadi pendek, senjata itu masih bisa diayunkan. Bilah-bilah kecilnya yang tak terhitung jumlahnya kini masih dalam keadaan tersimpan.
"……Dasar bodoh. Padahal tadi itu kesempatan emas," gumam Hartland sambil menyeka darah di mulutnya.
Tentu saja, ucapan itu ditujukan kepada Rollo yang gagal menghabisi musuh mereka.
"……Maafkan aku."
"Akan kuajarkan kepadamu apa itu jalan kesatriaku. Jika ada sesuatu yang ingin kau lindungi, jangan pernah ragu untuk membunuh. Keraguan hanya akan menumpulkan bilah pedangmu. Sayang sekali, padahal kau—"
Hartland berdiri tegap di samping Rollo dan menyiagakan tombaknya.
"Kau adalah seorang Pembunuh, bukan?"
"……Iya."
Rollo melirik Hartland dari sudut matanya. Separuh wajah Hartland yang tadi dicengkeram kuat kini melepuh merah. Dengan punggung yang terbakar dan perut yang tertusuk, seharusnya ia sudah tidak dalam kondisi untuk bertarung. Bahkan fakta bahwa ia masih bisa berdiri tegak pun merupakan sebuah tanda tanya besar.
"Gatupkan gigi kalian kuat-kuat!!"
Raggini menjulurkan lengan kirinya ke depan dan mulai berlari menerjang mereka berdua.
"Akan kulelehkan kalian dengan rasa sakit yang luar biasa, keparaaat!!"
"Aku yang akan maju di depan."
Rollo melangkah maju, seolah ingin melindungi Hartland yang terluka parah.
Begitu jarak dengan Raggini menyempit, pipi kiri Rollo yang terpapar udara merasakan sensasi panas yang menyengat seolah sedang dipanggang. Semakin dekat ia dengan Raggini, semakin banyak uap yang membubung dari sekujur tubuhnya. Jika tidak segera diselesaikan, ia bisa-bisa kehilangan kemampuan bertarung dalam sekejap──.
Tepat di depan Raggini, Rollo menangkis lengan kiri pria itu dengan gauntlet-nya dan mengayunkan bilah pisaunya. Raggini, yang menjaga keseimbangan hanya dengan satu tangan kiri, dengan cekatan menghindari serangan Rollo. Ia terus terpukul mundur oleh serangan bertubi-tubi Rollo yang tidak memberikan napas pada serangan kedua dan ketiga.
"Aaakh…… menyebalkan!!"
Raggini mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia menghentikan langkahnya, siap untuk menerima tebasan, dan sengaja membiarkan bilah pisau Rollo menghujam bahunya. Dengan begitu, ia mengunci gerakan Rollo dan menggunakan lengan kirinya untuk mencengkeram leher pemuda itu.
"Haha!! Kena kau—" Pada detik itu juga, Rollo menghantamkan tendangan keras ke perut Raggini.
Raggini terhuyung dan punggungnya menghantam batang pohon ek yang berdiri di tepi arena.
"Guh……!!"
Raggini berusaha menegakkan tubuh dan melangkah maju. Namun, Rollo menggunakan lutut pria itu sebagai pijakan kaki, lalu berlari naik ke bahunya. Ia melompat tinggi dari bahu Raggini sebagai tumpuan──menendang Raggini kembali ke batang pohon, lalu melakukan salto di atas kepala Hartland yang sedang merangsek maju dari belakang.
"Tuan Hartland!"
"Ooooooooaaaaarrgh……!!"
Tombak yang dilepaskan Hartland menusuk perut Raggini hingga tembus ke batang pohon ek──tepat pada saat itu, Hartland memutar gagang tombaknya yang patah, memekarkan dahan dan dedaunan Tangerine Tree.
"Gohhaakk……!!"
Zapaatt! Bilah-bilah tak terhitung jumlahnya yang menyebar dari gagang tombak itu mencabik tubuh Raggini hingga terbelah dua dari atas ke bawah.
Akibat guncangan hebat tersebut, dedaunan kuning dalam jumlah besar gugur berjatuhan dari pohon ek yang dahannya terkoyak itu.
Rollo mendarat tepat di belakang Hartland.
Tubuh bagian atas Raggini kini terpancang di atas bilah-bilah Tangerine Tree yang menghujam batang pohon yang tebal. Sementara itu, tubuh bagian bawahnya tergeletak begitu saja di akar pohon. Kepalanya terkulai lemas, tidak menunjukkan gerakan sedikit pun. Lengan kirinya menjuntai tak bertenaga.
Seketika, uap panas yang tadi membubung dari pelindung tangan Rollo dan area sekitarnya pun lenyap. Rasa sakit yang menyengat di pipi kirinya juga mulai memudar. Betapapun ajaibnya sihir yang digunakan oleh seorang Ahli Sihir, mustahil ia bisa tetap hidup dalam kondisi seperti itu.
"……Kita berhasil, Tuan Hartland."
Rollo berdiri di samping Hartland. Namun, sang ksatria tetap membeku dalam posisi saat ia melepaskan tusukan tombaknya.
Di tengah guyuran hujan yang deras, wajah Hartland tertunduk sehingga tidak terlihat.
"……Tuan Hartland?"
Tepat di saat pertarungan melawan sang Wizard berakhir, Hartland pun mengembuskan napas terakhirnya.
"OOOOOOOONN……!!"
"……Liat, dia gigih sekali, sih."
Tatakari, pria raksasa dengan delapan kepala itu, terus memburu punggung Teresalisa dengan gerakan yang liar dan membabi buta. Teresalisa yang mendarat di atas rumput segera melompat masuk ke dalam selasar yang mengelilingi taman tengah. Para ksatria yang berada di sana lari tunggang-langgang ketakutan melihat Tatakari yang mendekat.
Tubuh Tatakari yang terlalu besar tidak memungkinkannya masuk ke dalam selasar. Sebagai gantinya, ia mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal ke arah Teresalisa yang sedang berlari di dalam sana. Bilah pedang hitam itu menghancurkan pilar-pilar selasar satu demi satu, beserta obor-obor yang terpasang di sana.
"Kh-aah……"
Teresalisa terhantam puing-puing yang terpental dan jatuh tersungkur di lantai.
Tatakari mengulurkan tangannya ke arah Teresalisa yang terjatuh. Dengan tangan hitam besar yang memiliki kekuatan delapan orang, ia mencengkeram pinggang Teresalisa dan menyeretnya keluar dari selasar menuju tengah taman.
"OOOOOOOONN……"
Tatakari mendekatkan Teresalisa yang berada dalam genggamannya ke hadapan delapan wajah miliknya.
Wajah Teresalisa tampak meringis menahan sakit. Ia mencoba memutar tubuhnya, namun cengkeraman itu terlalu kuat sehingga ia tidak bisa meloloskan diri.
"Hohoho! Lihatlah dirimu, 'Penyihir Cermin'……!"
Melihat Teresalisa tertangkap, Anemone menampakkan dirinya di taman tengah.
Ia menengadah menatap Teresalisa yang sedang diremas oleh Tatakari, lalu tertawa dengan nada penuh kemenangan.
"Tatakari-ku bilang, dia ingin meremukkanmu sekarang juga. Tapi, tidak boleh. Kau harus dibakar besok, tahu? Kau akan mati dengan cara yang jauh, jauh lebih menyakitkan daripada sekadar diremuk dalam sekejap. Sayang sekali, ya? Padahal kau hampir saja bisa melarikan diri."
"Kuh……"
"Menyesallah! Untuk penyihir sepertimu, mencoba lari dariku dan Tatakari itu butuh waktu seratus──"
Namun, pada saat itu, Anemone mendadak terdiam. Ia baru menyadari sesuatu. Teresalisa yang sedang dicengkeram erat oleh Tatakari, ternyata tidak memegang apa pun di tangannya.
"……Kau, ke mana perginya sabit besarmu itu?"
"……Akhirnya kau menampakkan diri juga, ya, Ahli Sihir."
──Syuuut!
"Lho……?"
Tiba-tiba, kepala Anemone terpenggal. Ia ambruk dengan darah yang menyembur deras dari potongan lehernya.
Di belakangnya, berdiri sesosok manusia perak yang baru saja mengayunkan sabit raksasa. Itu adalah sebuah boneka dengan lekuk tubuh wanita namun berkepala polos seperti telur—sebuah entitas yang dibentuk dari cairan perak.
Teresalisa memanggilnya dengan nama "April".
"OOOOOOOONN……"
Seiring dengan tewasnya sang pengguna sihir, Tatakari pun mulai melenyap.
Teresalisa yang kini mendarat di atas rumput, menatap dingin kepala Anemone yang menggelinding.
"Menyesallah. Untuk ahli sihir sepertimu, mencoba menang dariku dan April itu—"
Di belakangnya, delapan mayat yang tadi ditelan oleh bayangan jatuh berdebub satu per satu ke atas rumput.
Teresalisa mengusap dadanya yang terasa sesak akibat remasan tadi.
"Seratus tahun terlalu cepat. ——Uhuk."
Bagian 9
Rollo memotong emblem "Landak Punggung Berapi" (Fire Hedgehog) dari lengan baju Hartland yang sudah tak bernyawa. Ia melakukannya agar lambang kebanggaan sang ksatria itu bisa dibawa pulang ke tanah air mereka, Campusfellow.
Ia segera berlari kembali ke arah Bud yang masih terduduk menyandarkan punggung di pilar selasar. Napas Bud terasa pendek dan dangkal.
Rollo membuka pelindung wajah helmnya yang bagian kirinya telah meleleh, lalu berlutut di samping Bud.
"……Mohon maafkan saya. Tuan Hartland telah…… gugur."
"Bukan hal yang harus kau mintakan maaf."
Wajah Bud tampak semakin pucat pasi. Genangan darah yang merembes di bagian perutnya kian melebar luas.
Teresalisa melangkah mendekati mereka berdua.
"……Anda adalah penguasa Campusfellow, bukan?" tanya Teresalisa sambil menatap Bud.
Bud mendongak menatap sosok wanita itu, lalu tersenyum tipis.
"……Jadi kau adalah sang 'Penyihir Cermin'. Aku ingin sekali bertemu denganmu."
"Tuan dari Si Anjing Hitam ini adalah Anda, kan? Terima kasih telah membebaskanku dari penjara."
"……Ah, kita hanya saling menguntungkan. Kami hanya meminjam kekuatanmu untuk──"
Tiba-tiba, Bud menelan kembali kata-katanya saat merasakan sebuah kengerian yang tak terlukiskan.
Rollo dan Teresalisa pun merasakan atmosfer di sekitar mereka mendadak menegang secara ganjil. Mereka serentak menoleh ke arah taman tengah. Di selasar sisi seberang, berdiri sesosok individu.
Sosok itu mengenakan topi bertepi dan jubah hitam, serta menjinjing sebuah koper kulit sapi. Wajahnya tersembunyi di balik topeng berparuh besar. Dia adalah orang yang memandu Teresalisa saat memasuki ruang Pengadilan Penyihir. Di bahu kanannya, ia memanggul seorang wanita bergaun.
"Tuan Putri Delirium……!"
Rollo sontak berdiri. Delirium tampak terkulai lemas tak bergerak, entah karena pingsan atau hal lain.
"……Apa-apaan ini sebenarnya?"
Si pria bertopeng paruh, Parmigiano, mengedarkan pandangannya dari selasar ke arah taman tengah. Raggini telah terbelah dua di depan pohon ek, Ferocactus terkapar di rumput, dan Anemone telah terpenggal kepalanya. Ia memiringkan kepala burungnya, seolah bertanya-tanya apa yang terjadi selama ia pergi.
"……Siapa dia? Apa dia seorang Ahli Sihir?" gumam Bud sambil tetap menyandarkan punggungnya pada pilar.
Teresalisa-lah yang menjawab.
"Kekuatan sihir yang ganjil ini dan topeng burung itu…… Kemungkinan besar, dia adalah salah satu dari Sembilan Rasul. Rasul Keenam── sang 'Alkemis' (Alchemist)."
Pangkat yang berada jauh di atas para Wizard. Mereka disebut Sembilan Rasul (Nine Apostles), individu-individu yang konon sanggup menghancurkan satu kastel sendirian. Salah satu dari mereka kini berada tepat di depan mata. Dan celakanya, ia sedang memanggul Delirium di bahunya.
"……Apakah kita berdua bisa mengalahkannya?" tanya Rollo berbisik kepada Teresalisa.
"……Kalau beruntung, ya."
"Penyihir Cermin……" paruh Parmigiano kini mengarah tepat ke arah Teresalisa. "Aku tidak bisa membiarkanmu kabur. Nyonya Lucy akan memarahiku nanti."
"…………"
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Sekali lagi, sabit perak raksasa tercipta dan ia dekap di kedua lengannya.
"Rollo──"
Bud mengangkat wajahnya. Rollo kembali berlutut di samping Bud.
"Ambil kembali Delirium, lalu segera keluar dari kastel ini."
Kata-kata itu membuat Rollo tersentak ragu. "Lalu bagaimana dengan Anda, Tuan Bud?"
"Aku akan tinggal. Kalian bawa Delirium dan tinggalkan Lowe malam ini juga."
"……Tidak bisa. Tuan Bud harus ikut bersama kami."
"Tidak boleh. Ini perintah," tegas Bud dengan nada bicara yang keras sambil menatap balik ke arah Rollo.
"Bahkan aku pun tahu kalau si brengsek berparuh itu bukan orang sembarangan. Dengan luka seperti ini, aku hanya akan menjadi beban. Kalian tidak akan bisa kabur jika membawaku. Tapi…… setidaknya bawalah Delirium pergi."
"……Namun,"
"Dengar, Kuroinu (Anjing Hitam)!!"
Bud mencengkeram kerah baju Rollo yang masih bimbang, dan sengaja memanggilnya dengan sebutan Kuroinu.
"Yang harus kau lindungi bukanlah aku……! Melainkan 'masa depan' Campusfellow. Aku tidak akan memaafkanmu jika kita semua habis di sini. Prioritaskan kelangsungan hidup Campusfellow di atas segalanya……"
Bud menatap dalam ke mata hijau tua milik Rollo. Bud, yang biasanya akan bertanya "apa kau bisa?", kali ini memberikan perintah mutlak.
"Pergilah……!!"
"……Sesuai titah Anda."
Rollo berdiri dan melepas helmnya yang sudah rusak. Ia berdiri sejajar di samping Teresalisa.
"Nona Penyihir. Maukah Anda meminjamkan kekuatan Anda?"
"Aku berutang budi pada kalian. Akan kubayar di sini."
"Saat ini kita tidak punya kemewahan untuk meladeni salah satu dari Sembilan Rasul. Kita ambil Tuan Putri, lalu kabur dari kastil."
"……Dimengerti. Aku akan membuat celah."
Parmigiano melangkah turun dari selasar menuju rerumputan. Ia berjalan membelah taman tengah. Tangan kirinya menjinjing koper, sementara bahu kanannya masih memanggul Delirium. Kedua tangannya terpakai. Meski begitu, perawakannya sama sekali tidak menunjukkan celah. Rollo merasa gelisah hanya karena merasakan tatapan dari balik topeng burung itu.
Teresalisa memasang kuda-kuda dengan sabit perak raksasanya, sementara Rollo memanjangkan bilah pisau dari kedua pelindung tangannya (gauntlet). Ini adalah saat penentuan.
"Aku maju."
Sambil memacu semangatnya, Rollo melesat ke depan. Teresalisa menyahut cepat.
"Begitu kau kontak dengannya, dalam empat detik aku akan menebas secara horizontal!"
"……Dimengerti!"
Rollo menghentak kaki, berlari kencang melintasi rumput yang basah kuyup oleh hujan.
Dalam sekejap ia sudah berada di jarak dekat Parmigiano, lalu mengayunkan bilah gauntlet kanannya tepat ke arah bahu kiri lawan. Parmigiano menghindar dengan melentingkan tubuhnya. Rollo memanfaatkan kelincahan tangan kanan dan kirinya, melancarkan serangan beruntun tanpa henti. Parmigiano menghindari semuanya, atau menangkis serangan itu menggunakan koper yang ia pegang di tangan kiri.
Lawan hanya menggunakan satu tangan, sementara Rollo unggul dalam jumlah serangan. Dalam sekejap mata, Rollo menemukan celah dan membidik batang tubuh Parmigiano dengan bilah tangan kirinya.
Namun, sesuatu yang tak terduga mencengkeram dan menghentikan gauntlet tersebut──sebuah pergelangan tangan.
"……!?"
Sebuah pergelangan tangan dengan potongan melintang berwarna hitam tampak melayang di udara, mencengkeram lengan kiri Rollo. Tak lama kemudian, pergelangan tangan lain melesat keluar dari balik jubah Parmigiano dan mencekik leher Rollo dengan kuat.
──Ini, sihir……!?
Tapi tidak ada waktu untuk terkejut. Sudah empat detik sejak Rollo melakukan kontak dengan Parmigiano──Teresalisa yang sudah mendekat ke sisi mereka mengayunkan sabit raksasanya dengan tenaga penuh. Ia menebas lurus secara horizontal, membidik pinggang Parmigiano.
Rollo melompat dan berputar di udara sejajar dengan tanah untuk keluar dari jalur lintasan sabit.
Di saat yang sama, Parmigiano secara refleks berjongkok, menghindari bilah sabit besar tersebut.
Dua pergelangan tangan misterius itu masih menempel pada leher dan lengan kiri Rollo yang sedang melompat. Seolah ditekan dari atas oleh kedua tangan itu, punggung Rollo dihantamkan ke atas rumput dengan keras.
"……Kuh!"
Dari balik jubah Parmigiano, pergelangan tangan demi pergelangan tangan terus bermunculan. Tangan-tangan itu juga mengerumuni leher serta anggota tubuh Teresalisa yang baru saja menyelesaikan ayunan sabitnya, lalu menghantamkan tubuh sang penyihir ke atas rumput, persis seperti yang dilakukan pada Rollo.
Hanya dalam sekejap mata, mereka berdua telah dilumpuhkan oleh tangan-tangan tak terhitung jumlahnya.
Di bawah guyuran hujan, hanya Parmigiano yang tampak berdiri tegak. ——Atau begitulah kelihatannya.
Tiba-tiba, sosok Rollo muncul di belakang Parmigiano.
Memanfaatkan celah yang sangat sempit, Rollo merebut Delirium yang tadi dipanggul di bahu Parmigiano.
Parmigiano menunduk menatap kakinya sendiri. Rollo seharusnya sudah dilumpuhkan di atas rumput──dan memang benar, sosoknya masih tergeletak di sana. Rollo──entah bagaimana, sekarang ada dua orang.
Rollo yang tergeletak di tanah menusukkan bilah gauntlet-nya ke punggung tangan yang mencengkeram lengan kirinya. Darah menyembur dari punggung tangan itu. Tampaknya serangan itu memberikan dampak, karena cengkeramannya mulai melonggar. Rollo kemudian mengayunkan bilahnya ke arah tangan yang mencekik lehernya, memotong jari-jari tangan tersebut.
Begitu cengkeraman pergelangan tangan yang menekan tubuhnya melemah, Rollo segera bangkit berdiri. Ia langsung berlari mengejar sosok Rollo lainnya yang sedang menjauh.
Perlahan, sosok Rollo yang memanggul Delirium itu berubah wujud menjadi Teresalisa.
"Berat sekali……! Ini kan Tuan Putri-mu, kau saja yang bawa!"
Melihat punggung mereka berdua yang sedang berlari menjauh, Parmigiano memiringkan kepalanya sedikit. ──Kalau begitu, siapa Teresalisa yang ini? Di bawah kakinya, sosok Teresalisa masih tergeletak, dilumpuhkan oleh tangan-tangan tak terhitung jumlahnya. Sekarang, ada dua sosok Teresalisa.
Teresalisa yang baru saja menyerahkan Delirium kepada Rollo menoleh sembari terus berlari melintasi rumput taman tengah.
"Ulur waktu, April!!"
"……Ah, begitu rupanya."
Tepat saat Parmigiano bergumam, sosok Teresalisa yang terkapar di bawah kakinya mulai meleyot dan terdistorsi. Dalam sekejap, sosok itu berubah menjadi cairan perak yang memuncrat dan menempel erat pada kaki Parmigiano. Cairan itu langsung mengeras, menjadi belenggu yang mengunci Parmigiano di tempatnya.
"…………"
"Jangan biarkan mereka lolos! Kejar!!"
Figaro berteriak lantang dari arah selasar kepada para Kesatria Singa Emas.
Lorong-lorong yang menghubungkan taman tengah dengan bagian dalam kastel kini dipenuhi oleh para kesatria. Mereka tidak akan bisa keluar tanpa menghabisi orang-orang itu terlebih dahulu. Rollo, yang berlari sambil memanggul Delirium di bahunya, menoleh ke arah Teresalisa.
"Nona Penyihir……! Apa kamu masih bisa bertarung……!?"
"Malas, ah! Merepotkan!"
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Cairan perak yang muncul dari permukaan cermin berubah bentuk menjadi seutas tali, melesat ke atas benteng yang mengelilingi taman tengah. Begitu Teresalisa mendekap Rollo dari belakang, tali perak itu menyusut dengan cepat, menarik tubuh mereka bertiga naik ke atas dinding benteng.
Sambil menapakkan kakinya di puncak benteng, Rollo sempat menunduk menatap taman tengah untuk terakhir kalinya.
Para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran telah membanjiri taman, mendongak menatap ke arah Rollo dan kawan-kawan.
Bud juga masih di sana, menyandarkan punggungnya pada pilar selasar, menatap ke arah Rollo.
Melihat keselamatan Delirium, ia tersenyum tipis, dan bibirnya tampak bergerak sedikit.
──Kuserahkan padamu.
Rollo merasa suara itu terdengar sangat jelas di telinganya.
