Saranami (LN) Jilid 2 Selingan 2 - Sepuluh Hari Sebelum Perjalanan Singkat

Meski Terlambat, Aku Sudah Jatuh Cinta Pada Teman Masa Kecilku Jilid 2, Selingan 2 - Kisah Taa-kun & Ayami kian meregang.

Selingan 2: Sepuluh Hari Sebelum Perjalanan Singkat

Awal Juli.

Awal musim panas yang sesungguhnya akhirnya tiba, di suatu siang terik berawan tipis yang bikin banyak orang merasa muak.

"Emm..."

Meskipun bagi diriku ini adalah waktu paling buruk, cuaca paling buruk, dan musim paling buruk di mana aku bahkan tidak ingin melangkah keluar rumah sedetik pun... tempatku berada saat ini justru di jalan utama depan stasiun, di mana sinar matahari langsung menyengat tanpa ada tempat berteduh.

Namun aku yang sekarang, tanpa gentar sedikit pun oleh serangan gelombang panas ini, sedang adu tatap dengan lembaran-lembaran kertas yang ditempel di jendela kaca sebuah bangunan di sepanjang jalan.

...Yah, walau kukatakan begitu, kamu mungkin sulit membayangkannya, sih.

"Sedang cari kamar ya~?"

"...Cuma lihat-lihat saja."

Benar, tempat itu adalah agen properti waralaba yang biasa ada di depan stasiun.

Dan kertas-kertas yang kutatap itu adalah brosur berbagai unit properti yang dipajang oleh toko ini.

Padahal aku baru melirik beberapa detik saja. Tapi menyapa anak yang kelihatan seperti siswi SMA atau pengangguran begini, staf toko ini sebenarnya berhati-hati atau cuma sekadar asal tebak, sih.

"Kamu murid sekolah? Mau tinggal sendiri?"

"Tidak, berdua."

...Padahal dalam hati kasihan melihat usahanya yang bakal sia-sia.

Tapi entah kenapa, aku tetap menjawab pertanyaan dari staf yang kasihan dan bakal membuang-buang tenaganya ini.

"Kalau begitu, bagaimana dengan yang di sekitar sini? Memang butuh jalan kaki sepuluh menit dari stasiun, tapi di area ini banyak pasangan muda yang tinggal..."

Menerima "salah ucap"-ku barusan secara mentah-mentah, dia dengan jelas menunjukkan brosur properti yang diperuntukkan bagi pasangan suami istri atau sejoli.

Anggota keluargaku memang dua orang sih, tapi bukan berarti kami ini "pasangan muda".

Orang ini benar-benar salah paham dan mengira aku berniat tinggal berdua dengan seorang laki-laki. Kasihan sekali.

"Atau kalau kamu mencari yang lebih luas, walau agak jauh sedikit, bagaimana dengan unit 2DK yang ini? Area ruang tamunya menghadap ke selatan, lho..."

"Tidak butuh kamar terpisah."

Beneran deh, salah paham yang parah banget...

Lagipula dari awal aku sama sekali tidak sedang mencari kamar.

Aku tahu betul kalau percakapan ini cuma lelucon konyol yang menumpuk salah paham demi salah paham dari kedua belah pihak.

"Satu kamar saja... yang kecil juga tidak apa-apa. Tidak, justru makin kecil makin bagus."

Padahal tahu begitu, tapi aku...

Dari salah ucap yang kumulai sendiri ini, aku malah terus menumpukkan imajinasi keliaranku.

"Kamar sempit yang bikin kami berdua tidak punya pilihan selain merapat dan bersandar satu sama lain..."

"...Ngomong-ngomong berapa anggarannya?"

Mendengar "permintaan sederhana"-ku itu, staf yang lagi-lagi salah paham dan mengiranya sebagai masalah uang mulai menunjukkan gestur berpikir yang agak malas, lalu kembali ke dalam toko.

Sepertinya karena sadar ini tidak bakal jadi uang, dia memutuskan untuk menyerah ya?

Tapi bagiku, hal itu justru makin menguntungkan.

Dengan begini, aku bisa dengan tenang memandangi... tidak, berimajinasi sepuasnya.

Mengenai satu kamar kecil satu-satunya yang sangat kudambakan...

 

Musimnya, pasti musim dingin.

Tanpa alat pemanas ruangan, di kamar berukuran 4,5 tatami.

Penerangannya temaram, dan jendela bangunan murah itu bergetar hebat dihantam angin dingin.

Ujung jari tangan dan kaki membeku, tubuhku sendiri gemetaran hebat.

Di tengah situasi seperti itu, "kami berdua" berselimutkan satu lembar kain yang sama, menyandarkan punggung ke dinding, saling bertatap mata, dan tertawa bersama dengan polosnya...

 

...Yah, walau kudeskripsikan seperti itu, aku sendiri tidak pernah tinggal di kamar seperti itu, sih.

Soalnya aku cuma pernah melihatnya di tayangan ulang drama lama atau hal-hal tidak realistis semacamnya.

Mungkin kalau situasi seperti itu benar-benar terjadi dalam kenyataan, aku pasti bakal panik melihat jurang perbedaan antara realitas dan idealita, lalu langsung mengeluh, "Bukan seperti ini yang kumau!"

Tapi, justru karena itulah, kan? Justru karena hal itulah, imajinasi keliaran yang salah ini jadi semakin membengkak.

Soalnya, siapa tahu hal itu benar-benar ada, kan...?

Sebuah kebahagiaan mutlak yang sanggup memutarbalikkan semua rasa ketidakpuasan dan keluhan itu...

 

"Nah begini, kalau mau menekan anggaran, area di sekitar sini mungkin pilihan yang bagus ya."

Staf toko tadi kembali muncul dari dalam bangunan sambil membawa map tebal di tangannya.

Siapa sangka, dia ternyata menerima perkataanku soal "kamar kecil saja tidak apa-apa" secara mentah-mentah dan bersusah payah mencarikan unitnya dari dokumen di dalam toko.

Hal itu... bagaimana ya bilangnya, rasanya kasihan dan bersalah, tapi di sisi lain juga membuatku merasa sedikit senang.

Tapi...

 

"Ah... maaf ada telepon masuk. Nanti aku ke sini lagi, ya."

"Ah, baik, kami tunggu kedatangan Anda kembali~"

Ini bukan cuma sekadar alasan untuk kabur, melainkan nada dering dari ponselku yang beneran berbunyi.

Meski begitu, aku membungkukkan badan meminta maaf kepada staf toko—yang tidak kuketahui apakah dia benar-benar baik, suka ikut campur, atau sekadar bersemangat mengejar komisi—karena harus meninggalkan tempat ini, lalu melangkah pergi.

Soalnya, apa yang akan kubahas mulai dari sekarang...

"Ibu... ada apa?"

Dibandingkan dengan obrolan bersama staf toko tadi, isinya benar-benar berbanding terbalik dan bikin muak setengah mati.

 

"Kan sudah kubilang. Cuma dua atau tiga hari saja, kok."

Dari balik telepon, terdengar suara teriakan histeris yang luar biasa nyaring.

Padahal baru tadi malam aku tidak pulang setelah sekian lama, tapi reaksinya sudah seperti ini.

Padahal sebelumnya... saat pria brengsek itu masih ada di rumah, biarpun aku tidak pulang selama setengah tahun pun dia tidak pernah berkomentar apa-apa.

"Hari ini aku pulang, kok... Aku tidak akan menghilang."

Lagipula begitu aku pulang nanti, dia pasti bakal langsung membentakku.

Terus kalau aku membalas perkataannya, dia bakal menangis sesenggukan sambil bilang, 'Semuanya gara-gara Ibu, kan!? Kamu berpikir begitu, kan!?', tanpa mau menerima satu patah kata pun dari penjelasanku.

"Duh, jangan gampang bilang mau mati atau semacamnya begitu, dong..."

Aah, astaga, astaga...

Padahal yang butuh diselamatkan itu harusnya diriku...

 

"Iya, aku paham... Hari ini aku beneran pulang, kok."

Aku menemukan Ibu tergeletak di ruang tamu akibat menenggak obat tidur dalam jumlah banyak, beberapa jam setelah percakapan telepon itu.

Inilah kisah sekitar sepuluh hari sebelum aku berangkat melakukan perjalanan liburan itu.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar