Danganronpa Kirigiri Jilid 3 Bab 1

Kirigiri Kyoko menghilang tanpa jejak. Di tengah kecurigaan dan organisasi misterius, Yui menghadapi awal era kelam yang penuh intrik dan bahaya
Ilustrasi Pertama Danganronpa Kirigiri Volume 3 Chapter 1

Bab 1: Pemuda dan Sang Bangsawan

Bagian 1

Awal Tahun yang Baru.

Itulah yang dikatakannya.

Mungkin saja, yang kami hadapi bukanlah sekadar pergantian kalender tahun baru, melainkan awal dan akhir dari sebuah era besar.

7 Januari.

Liburan musim dingin telah usai, dan semester baru pun dimulai.

Wajah-wajah mengantuk teman sekelas berjajar di dekat jendela yang bermandikan cahaya mentari lembut. Bahkan setelah bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi, suasana kelas masih terasa lesu. Hanya suara kapur yang berderik di papan tulis, digoreskan oleh guru, yang terasa terlalu bersemangat hingga menjengkelkan.

Saat jam istirahat tiba, aku menyempatkan diri mengintip ke kelas SMP.

Bangku Kirigiri Kyoko kosong.

Ketika kutanya pada seorang siswi di dekat sana, ternyata dia memang tidak masuk.

—Sejak hari itu, dia tak pernah muncul lagi.

Hari itu, saat kami berhasil mengalahkan ‘Duel Noir’ atau ‘Tantangan Hitam’ yang digelar di Hotel Norman’s, dan menyaksikan akhir yang janggal. Tempat itu, di mana kami berdua berpegangan tangan, gemetar sambil melarikan diri.

Dipikir-pikir sekarang, berpisah dengannya setelah kejadian itu adalah sebuah kesalahan. Entah bagaimana, mungkin aku seharusnya tidak melepaskan tangannya.

Aku tidak menahan Kirigiri ketika dia memutuskan pulang ke rumahnya. Sebab, kuanggap tempat itu yang paling aman. Setelah melihatnya kembali, barulah aku kembali ke kamarku di asrama.

Satu minggu setelahnya, hari-hariku tak berhubungan sama sekali dengan kasus pembunuhan atau ‘Tantangan Hitam’.

Meskipun begitu, pikiran tentang orang-orang yang telah mati itu tak pernah hilang dari benakku, baik saat mengerjakan pekerjaan rumah, mandi, bahkan saat berbaring di tempat tidur. Hatiku sepertinya masih terpenjara dalam kasus itu. Bagiku saat ini, waktu yang damai dan tanpa kejadian apa-apa justru terasa seperti sesuatu yang palsu, sesuatu yang bukan keseharian yang semestinya.

Aku mencoba menelepon rumah Kirigiri karena ingin mengajaknya bicara, namun tak ada yang mengangkat. Bukan hanya dia, kakeknya, bahkan asisten rumah tangga yang katanya tinggal di sana pun tak ada. Setiap kali kutelepon, hasilnya selalu sama.

Merasa curiga, aku mendatangi rumahnya. Interkom kupencet, tapi tak ada respons, hanya kamera pengawas yang terus menatapku. Di balik pagar tinggi, rumah itu tampak gelap, tak ada satu pun lampu menyala, bahkan tak terasa ada tanda-tanda kehadiran seseorang.

Jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada Kirigiri.

Kecurigaanku kian menguat setelah mengetahui dia tidak masuk sekolah.

Rasanya seolah Kirigiri Kyoko benar-benar lenyap dari dunia ini.

Mungkin Komite Penyelamat Korban Kejahatan akhirnya mulai bergerak. Bos organisasi itu, Shinsen Mikado, tampaknya memiliki hubungan yang pelik dengan kakek Kirigiri, yang seorang detektif. Apakah Kirigiri Kyoko terseret ke dalam kekisruhan itu?

Jika benar dia diculik oleh organisasi itu, maka ini adalah giliranku—seorang detektif yang menyandang nomor '88' dalam klasifikasi Perpustakaan Detektif DSC—spesialis kasus penculikan—untuk beraksi.

Aku pasti akan menyelamatkannya.

—Meskipun demikian, aku tidak tahu pasti apakah Kirigiri benar-benar diculik. Sejak awal, aku merasa dia tidak akan semudah itu jatuh ke tangan musuh. Aku tahu betul bakat luar biasa dari putri tunggal keluarga Kirigiri, yang secara turun-temurun menjalankan profesi detektif.

Ke mana perginya Kirigiri Kyoko?

Mencari orang hilang juga merupakan tugas seorang detektif.

Aku memutuskan untuk menuju Perpustakaan Detektif demi menelusuri jejaknya. Siapa tahu ada pesan atau petunjuk yang tertinggal.

Perpustakaan Detektif menyimpan sekitar 65.500 berkas informasi detektif. Berkas-berkas tersebut dibuka untuk umum, dan siapa pun bebas mengaksesnya. Jika ingin mendapatkan informasi tentang detektif, mengunjungi tempat ini adalah langkah dasarnya.

Aku turun dari bus di halte 'Depan Perpustakaan Detektif' dan melewati gerbang kuno. Setelah menaiki tangga beranda pintu masuk bergaya bangunan Eropa yang sarat sejarah itu, sampailah aku di gerbang Hutan Detektif.

Aku sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini. Bahkan belum lama ini aku datang bersama Kirigiri. Namun, Perpustakaan Detektif yang kulihat kini terasa bukan hanya mistis, tetapi juga menyimpan kegelapan yang dalam dan tak terduga.

Mungkin ini gara-gara aku telah mengalami ‘Tantangan Hitam’ sebanyak dua kali. Aku tak bisa berhenti berpikir bahwa bayangan hitam Komite Penyelamat Korban Kejahatan yang menyeramkan bersembunyi di balik Perpustakaan Detektif ini.

Secara resmi, Perpustakaan Detektif mendeklarasikan posisi netral, tidak terlibat sama sekali dengan organisasi mana pun.

Tapi, benarkah begitu?

TN Yomi: 犯罪被害者救済委員会 (Hanzai Higaisha Kyūsai Iinkai): jadi diterjemahin sebagai "Komite Penyelamat Korban Kejahatan", lupa belum ngasih tau.

Sejak awal, Shinsen Mikado, pendiri Komite Penyelamat Korban Kejahatan, dikatakan adalah salah satu anggota yang terlibat dalam pendirian Perpustakaan Detektif 15 tahun yang lalu. Selain itu, ‘Tantangan Hitam’ memilih detektif yang akan dipanggil berdasarkan peringkat di DSC. Ditambah lagi, para detektif yang memegang peringkat tertinggi '000' dalam DSC tampaknya bekerja sama dengan Shinsen.

Dengan banyaknya bukti tak langsung yang terkumpul ini, sungguh tidak mengherankan jika Perpustakaan Detektif dan Komite Penyelamat Korban Kejahatan memiliki hubungan di balik layar.

Dan jika itu memang faktanya, berarti saat ini aku datang ke markas musuh seorang diri.

Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu ditakutkan—

Tidak mungkin aku tidak takut.

Meskipun begitu, aku membusungkan dada dan berjalan menuju konter, berusaha agar rasa gentar ini tidak terlihat. Tapi kurasa rona wajahku yang pucat tidak bisa kusembunyikan.

“Apakah ada pesan yang ditujukan kepadaku?”

Aku menyodorkan kartu registrasi Perpustakaan Detektif kepada petugas paruh baya dengan rambut beruban itu. Jangan-jangan dia juga anggota organisasi kriminal?

Petugas itu memeriksa namaku di kartu, lalu segera menggeleng.

“Tidak ada.”

“Kalau begitu… tolong perbarui kartuku.”

Dengan gerakan lambat, petugas itu pindah ke depan komputer, lalu memasukkan kartuku ke terminal di tangannya.

“Tidak ada pembaruan.”

“Eh, benarkah?”

Petugas itu mengangguk tanpa bicara, lalu mengembalikan kartuku.

Memang, pada ‘Tantangan Hitam’ yang lalu, aku sama sekali tidak berguna. Walaupun begitu, aku sempat berharap peringkatku mungkin naik satu tingkat. Rupanya, kenyataan memang tidak semudah itu.

Aku meninggalkan konter dan menuju ruang rak buku.

Di sana, berkas-berkas yang tak terhitung jumlahnya berjejer di rak-rak buku yang tersusun rapi. Ruangan itu sepi tanpa ada orang lain, hanya suara langkah kakiku yang menggema di langit-langit yang tinggi. Aku menyusuri rak-rak buku, menuju rak dengan nomor '9'.

Aku menemukan berkas Kirigiri Kyoko, lalu menariknya keluar dari rak.

Kubuka, dan isinya sama sekali tidak berubah dari terakhir kali kulihat. Kasus di Norman’s Hotel sama sekali tidak disinggung.

Mungkinkah karena Kirigiri tidak terpilih sebagai Detektif dalam kasus sebelumnya, maka peristiwa itu tidak dicatat sebagai rekam jejak?

Tidak, tapi kasus Observatorium Sirius terekam dengan baik dalam berkas. Padahal saat itu Kirigiri juga bukan detektif yang bertugas.

Jangan-jangan, insiden Norman’s Hotel tidak dicatat karena secara resmi tidak pernah diangkat sebagai kasus publik? Memang, aku tak pernah melihat kejadian itu diberitakan di televisi atau surat kabar.

Tiba-tiba terpikir, aku bergeser ke rak '900'. Aku mencari berkas Nanamura Suisei. Nanamura adalah detektif kelas Double-Zero yang dipanggil dalam kasus Norman’s Hotel.

Di dalam berkas yang merangkum pencapaiannya yang gemilang, halaman yang mencatat akhir nasibnya tidak ada. Biasanya, detektif yang telah meninggal akan dicantumkan tahun wafatnya di kolom profil, tetapi catatan itu juga tak ada.

Namun, fakta bahwa Nanamura telah mati adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Dia menembak kepalanya sendiri dengan pistol. Setelah itu, jenazahnya, bersama seluruh Norman’s Hotel, dilipat dan menghilang.

Ketika Shinsen Mikado melipat saputangan di depan mataku, secara bersamaan, seluruh pemandangan yang ada dalam pandangan mata seakan ikut terlipat. Rasanya seperti sedang bermimpi.

Namun Kirigiri dengan cepat meyakinkanku bahwa itu adalah kenyataan.

“Karena pandanganmu, Yui Onee-sama, terhalang saputangan, jadi kau tidak bisa melihatnya. Tapi mataku jelas melihat hotel itu terbalik bersamaan dengan tanah di sekitarnya.”

“Terbalik?”

Kami kembali ke lokasi berdirinya hotel, dan menemukan celah yang sangat tipis antara pondasi pagar yang mengelilingi area itu dengan tanah. Menurutnya, seluruh lahan hotel semula diletakkan di atas semacam papan tebal, dengan poros putar yang terpasang dari depan ke belakang di tengah papan. Rupanya, itu adalah mekanisme agar papan dapat berputar 180 derajat—mirip seperti plot twist—lalu berubah menjadi tanah lapang tanpa apa-apa. Garis pemisah tanah sengaja disamarkan dengan pagar dan batas lain agar tidak terlihat sekilas.

“Kau sempat curiga, Onee-sama, bahwa ketika terjadi pembunuhan ruang terkunci di dalam hotel, dindingnya akan berputar seperti plot twist, tapi ternyata yang berputar bukanlah dinding, melainkan seluruh hotel.”

Shinsen Mikado membuka saputangan di depanku, kemungkinan besar tujuannya adalah menyembunyikan mekanisme itu untuk sementara waktu. Itu adalah trik yang sering dilakukan oleh pesulap atau ilusionis.

“Untuk memutar massa sebesar itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun, dibutuhkan perangkat yang sangat besar dan tak terbayangkan. Mungkin saja bangunan-bangunan yang terlibat dalam ‘Tantangan Hitam’ dirancang sedemikian rupa agar bisa disembunyikan dari pandangan sekitar dalam sekejap, dengan berbagai metode. Mereka menyembunyikannya saat hari biasa, dan memunculkannya hanya saat permainan dimulai.”

“Kalau begitu, bagaimana kau menjelaskan pemandangan di sekitar yang terlipat dan menghilang?”

“Menurutku, itu memang benar-benar terlipat dan menghilang. Hampir semua latar itu terbuat dari semacam kakewari (latar tiruan) atau papercraft, yang bisa mereka kumpulkan kapan saja. ‘Tantangan Hitam’ adalah semacam pertunjukan, jadi tidak aneh jika segalanya, termasuk latarnya, adalah properti panggung,” ujar Kirigiri.

Meskipun begitu, aku sulit memercayainya. Komite Penyelamat Korban Kejahatan menyediakan berbagai macam kejahatan di berbagai tempat. Apakah mereka memasang perangkat besar dan menyiapkan latar tiruan di setiap lokasi? Rasanya berapa pun dananya, tidak akan cukup.

Selain masalah dana, ada juga masalah tenaga kerja. Menyiapkan dan membongkar panggung membutuhkan banyak orang. Semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar kemungkinan rahasia akan bocor ke luar.

Namun, jika ‘Tantangan Hitam’ selama ini berhasil dilakukan tanpa diketahui siapa pun… itu berarti mereka adalah organisasi yang memiliki koordinasi sangat ketat.

Sebenarnya, berapa banyak orang yang terlibat dalam Komite Penyelamat Korban Kejahatan? Mungkin saja, orang-orang yang berpapasan denganku di jalan adalah bagian dari mereka, tanpa aku ketahui.

Memikirkan hal itu, aku diliputi rasa dingin yang tak terlukiskan.

Apa yang mereka pamerkan kepada kami saat mereka pergi adalah kekuatan finansial dan organisasi mereka yang luar biasa. Atau, mungkin, kemampuan eksekusi mereka untuk mewujudkan mimpi buruk yang mustahil.

Seandainya saat itu aku menyelidiki sedikit lebih teliti, mungkinkah aku bisa menemukan setidaknya jasad Nanamura? Selama mayat mereka tidak ditemukan, kasus itu tidak akan pernah terkuak ke publik.

Aku menghela napas berat sambil mengembalikan berkas Nanamura ke rak.

Mungkin saja, beberapa detektif yang berbaris di rak ini adalah kolaborator Komite Penyelamat Korban Kejahatan.

Justru, berapa banyak detektif yang benar-benar jujur di sini? Bahkan detektif kelas Triple-Zero yang seharusnya dihormati pun ternyata berada di pihak musuh.

Aku tak bisa memercayai apa pun.

Bahkan pemandangan yang kulihat sekarang mungkin hanya buatan.

Satu-satunya sosok yang bisa kupercaya—Kirigiri Kyoko—kini tak ada. Pada siapa aku harus bersandar untuk membedakan kebohongan dan kebenaran?

Pada akhirnya, aku gagal menemukan petunjuk apa pun di Perpustakaan Detektif yang bisa menunjukkan keberadaan Kirigiri Kyoko.

Karena jam tutup sudah dekat, aku bergegas menuju pintu keluar ruangan.

Entah perasaanku saja atau bukan, tiba-tiba suasana di sekitarku terasa gelap. Lampu bergaya lentera di atas pintu keluar mulai menyala remang-remang.

Saat aku hendak melangkah melewati ambang pintu di bawah cahaya remang itu, tiba-tiba—

Sesosok bayangan muncul mendadak dari depan, lalu meluncur cepat melewati sampingku dan masuk ke dalam ruangan.

Saat kami berpapasan, aku mencium aroma manis.

Bukan bau kimiawi seperti parfum, melainkan aroma bunga yang mekar di pagi hari. Bau yang terasa familier dan entah mengapa, begitu menawan.

Itu adalah seorang anak laki-laki dengan warna rambut yang mencolok.

Mengenakan setelan three-piece yang terlihat dewasa, dengan jaket yang dilepas dan disampirkan di lengan, ia berjalan tanpa suara hanya dengan rompinya. Aku hanya sempat melihat wajahnya sekilas saat berpapasan, namun tanpa sadar aku menahan napas.

Aku pernah melihatnya di suatu tempat.

Bukan seseorang yang ada dalam ingatanku… melainkan seseorang yang lebih universal. Misalnya, para malaikat yang dilukis di lukisan religius. Misalnya, para peri yang bermain dengan cahaya dalam dongeng. Seorang pemuda tampan di luar dunia ini, yang terasa pernah kulihat tetapi hanya mungkin ada dalam fantasi—

Aku berbalik dan mengikuti punggungnya dengan mata.

Namun, sosoknya sudah tidak ada di sana.

Hanya aroma yang tersisa yang menunjukkan ke mana ia pergi.

Rasanya seperti melihat hantu atau ilusi.

Apakah anak itu juga membutuhkan seorang detektif?

Meskipun sedikit penasaran, aku tidak menyelidiki lebih jauh dan meninggalkan Perpustakaan Detektif. Keberadaan Kirigiri jauh lebih penting daripada anak laki-laki yang entah siapa itu.


Keesokan harinya, Kirigiri juga tidak masuk sekolah.

Aku bertanya kepada guru wali kelas dan Suster Kepala Sekolah, namun tak ada jawaban. Sepertinya orang dewasa belum menyadari betapa seriusnya hilangnya Kirigiri Kyoko.

Jika Kirigiri terus menghilang seperti ini, apa yang harus kulakukan? Apakah aku bisa melawan Komite Penyelamat Korban Kejahatan sendirian? Atau, haruskah aku berpura-pura tidak tahu dan menjalani keseharian yang biasa, padahal aku tahu mereka berkeliaran di dunia gelap?

Aku tidak mungkin melakukan itu.

Mengetahui keberadaan kejahatan tapi mengabaikannya sama saja dengan bersekutu dengannya. Aku akan berjuang sendirian sampai Kirigiri kembali. Bahkan jika dia tidak akan pernah kembali…


Keesokan harinya, aku memutuskan untuk kembali mengunjungi Perpustakaan Detektif.

Tujuannya adalah untuk memastikan sekali lagi apakah ada pesan. Meskipun harapannya tipis, ada makna dalam bertindak. Aku percaya itu, dan turun dari bus di halte 'Depan Perpustakaan Detektif' di tengah rintikan salju tipis.

Udara masih mengepul saat aku membuka pintu tua dan masuk ke dalam gedung. Mungkin karena salju, suasana terasa lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Melihat tempat payung di pintu masuk kosong, sepertinya tidak ada pengunjung.

Aku bertanya di konter apakah ada pesan, tapi tetap saja tak ada.

Haruskah aku meminta bantuan detektif spesialis pencarian orang hilang? Tapi detektif yang kupanggil itu belum tentu bukan bagian dari musuh. Haruskah aku melapor ke polisi? Entahlah, bisakah polisi diandalkan? Berdasarkan pengalaman di masa lalu, polisi tidak bisa dipercaya.

TN Yomi: Mirip kek polisi di konoha…

Aku merasa sangat kesepian.

Tidak ada seorang pun yang bisa kuandalkan.

Tak berlebihan rasanya jika kukatakan dunia yang kulihat hari ini telah berubah total dibandingkan beberapa bulan lalu. Bagiku sebelum terlibat dengan ‘Tantangan Hitam’, dunia adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana. Kini, bahkan di bayangan gedung yang jatuh di pinggir jalan saat senja, aku merasa tersembunyi kegelapan yang begitu pekat, yang membuat seseorang bisa kehilangan kewarasan jika menengok ke dalamnya.

Betapa melegakannya jika Kirigiri Kyoko berada di sisiku saat-saat seperti ini…

Kirigiri-chan, kau pergi ke mana?

Meninggalkanku—

Saat aku berjalan tanpa tujuan di antara rak-rak buku, sesosok bayangan tiba-tiba melintas beberapa blok di depanku.

—Siapa itu tadi?

Entah mengapa penasaran, aku berbelok di sudut rak buku, seolah mengejar bayangan itu.

Sekitar 20 meter di depan, kudapati pemuda tampan berompi yang kulihat beberapa hari lalu.

Aroma manis itu tercium lagi.

Ia menyampirkan jaket jasnya di lengan kanan, berdiri menghadapku, seolah sudah menantiku.

Dia mungkin sedikit lebih pendek dari Kirigiri. Usianya… sulit diketahui. Hanya saja, jelas ia masih muda dan belum dewasa.

Saat mata kami bertemu, ia tersenyum.

Senyum itu polos layaknya seorang anak laki-laki, dan memikat layaknya seorang gadis.

Jika diibaratkan, ia seperti Peri Perpustakaan.

Kulitnya bening, dengan bulu mata yang panjang. Posturnya mungil dan rapuh. Mungkinkah dia perempuan? Tidak, ataukah dia anak-anak yang belum terbagi jenis kelaminnya. Mungkin saat ini ia adalah eksistensi seperti peri, bukan anak laki-laki maupun perempuan. Rambutnya yang sedikit panjang dan mata birunya semakin menonjolkan keanehan dirinya.

Ia segera menyembunyikan diri di balik rak buku.

Aku bergegas memutari sudut rak, seolah mengejar bayangan dirinya yang tertinggal.

Puluhan meter di depan, anak laki-laki itu berdiri lagi, seolah menungguku.

Lalu, sekali lagi ia menghilang di balik rak.

Apakah kamu mencoba bermain kejar-kejaran?

“Hei, kamu!”

Aku berseru sambil mengejarnya.

Saat aku berbelok di sudut rak berikutnya—

Sosok anak laki-laki itu tidak ada.

Sebagai gantinya, ada sebuah pintu besi kecil di dinding paling ujung.

Apakah ia lari melalui pintu itu?

Omong-omong, memang ada pintu di tempat seperti itu?

Ini seperti pintu masuk ke negeri ajaib.

Aku perlahan mendekati pintu itu, dan memegang kenop yang terasa dingin.

Kubuka perlahan.

Angin dingin langsung berembus masuk, dan butiran salju tersangkut di rambutku.

Ternyata ini di luar.

Jalan setapak berbatu terbentang di balik lengkungan pagar tanaman. Apakah ini pintu belakang? Aku tidak pernah tahu ada jalan keluar seperti ini.

Anak laki-laki itu tidak ada.

Pasti dia bersembunyi di balik lengkungan pagar tanaman.

Aku melangkah keluar ke tengah rintikan salju tipis dan melewati lengkungan pagar tanaman.

Di sana adalah tempat parkir. Dikelilingi oleh pagar tanaman yang tinggi, area itu memiliki ruang yang cukup untuk dua mobil. Dan saat ini, di sana terparkir limusin berbadan panjang, yang kontras hitamnya sangat menonjol di tengah salju putih.

Anak laki-laki yang tadi berdiri di samping mobil.

Ia membuka pintu limusin, seolah memanggilku masuk.

“Ada apa ini…? Kau menyuruhku masuk?”

Anak laki-laki itu mengangguk tanpa kata.

“Kau pasti bercanda!” Aku berkata sambil memasang kuda-kuda. “Ke mana tujuannya? Jangan-jangan tempat yang tak akan bisa kukunjungi lagi?”

Anak laki-laki itu tidak menjawab apa pun. Entah dia tidak bisa bicara, atau tidak memahami perkataanku. Ia hanya berdiri, menunggu sambil membukakan pintu mobil layaknya seorang pelayan hotel.

Sebenarnya, siapa yang berusaha membawaku pergi, dan untuk tujuan apa? Untuk ukuran penculikan, ini terlalu sopan. Namun, untuk undangan pesta, ini terlalu mencurigakan.

Sungguh bodoh jika aku sampai termakan jebakan yang begitu kentara.

Namun, ada alasan mengapa aku tidak bisa membalikkan badan dan pergi.

Mungkin saja Kirigiri Kyoko juga dibawa pergi dengan cara yang sama ke suatu tempat. Jika memang begitu, berani naik mobil ini adalah salah satu cara untuk menyusul. Tujuannya pasti sama. Barangkali, aku bisa bertemu kembali dengan Kirigiri di tempat tujuan.

“Baiklah. Aku akan ikut.”

Aku mengatakannya dengan nada yang kuat, seolah berusaha mengumpulkan keberanian.

Anak laki-laki berompi itu tersenyum dan mengulurkan tangan seolah mengawaliku. Rasanya aneh diperlakukan dengan lembut oleh seseorang yang lebih kecil dariku.

Aku menyambut tangannya, sedikit membungkuk, dan masuk ke dalam kabin mobil yang gelap.

Pintu segera tertutup.

Aku sedikit terkejut dengan suaranya, hampir saja melompat.

Di bawah cahaya lampu kabin yang remang-remang, wajah seorang pria yang duduk di kursi yang berhadapan denganku muncul.

Wajah yang familiar—

Saat aku menyadarinya, aku hampir menjerit. Namun, sebelum sempat berteriak, tubuhku secara refleks mencari tuas pembuka pintu.

Aku harus kabur!

“Aku tidak berniat mencelakaimu,” kata suara maskulin yang berat dan dalam. “Jika aku berniat seperti itu, kau sudah tidak ada di dunia ini. Mengerti?”

Aku tanpa sadar menarik bahu ke dalam, dan mengangguk berulang kali.

Yang terlihat jelas di kabin mobil yang remang-remang itu adalah—wajah seorang pria berkarakter liar, dengan kumis di sekitar mulut dan rambut panjang yang disisir rapi ke belakang. Sorot matanya, yang berbinar seolah menyimpan gairah, sangat mengesankan. Namun di sisi lain, terlihat pula sisi yang tidak sehat, seperti warna kulitnya yang seolah tidak pernah terpapar sinar matahari dalam waktu lama, dan bayangan di pipinya yang cekung. Sikapnya tenang, menunjukkan kematangan seorang dewasa.

“Kau kenal aku, kan?”

Sambil terbatuk-batuk, ia mengeluarkan kartu registrasi Perpustakaan Detektif dari balik mantel tebal berwarna hitam. Ia menyodorkannya kepadaku tanpa basa-basi.

Ryūzōji Gekka (龍造寺月下) DSC Nomor ‘000’

Bagian 2

Ryūzōji Gekka (龍造寺月下) DSC Nomor ‘000’

Ini pertama kalinya aku melihat tiga angka nol.

Bukti bahwa ia adalah yang paling unggul di semua bidang sebagai seorang detektif.

Dialah salah satu dari mereka yang berada di puncak Perpustakaan Detektif, dikenal sebagai ‘Count Armchair’ atau ‘Sang Bangsawan Kursi Santai’, Ryūzōji Gekka.

Aku mengembalikan kartu itu kepada Ryūzōji dengan hormat. Ryūzōji menerimanya dengan tangan yang gemetar. Jari-jarinya kurus dan kering seperti ranting pohon.

Setelah kembali terbatuk-batuk, ia menuang wiski ke gelas di meja samping dan meneguknya sekali tegukan. Seolah-olah wiski itu adalah obat—

Pada saat yang sama, mobil mulai bergerak.

Kenapa dia ada di sini?

Apakah dia sudah menungguku?

Seiring kecepatan mobil bertambah, pertanyaan-pertanyaan melintas cepat di benakku.

Di dalam ruang tertutup yang bergerak ini, aku dan Ryūzōji berdua saling berhadapan. Anak laki-laki tadi sepertinya berada di kursi depan, di balik sekat. Kursi mobil ini empuk dan nyaman, setidaknya cukup meredakan tubuhku yang kaku karena rasa takut.

Seandainya situasinya tidak seperti ini, bertemu langsung dengan Ryūzōji Gekka seharusnya menjadi kehormatan terbesar.

Di mana takdir mulai melenceng?

“Berapa usiamu?”

“…16 tahun.”

“Angka yang tidak buruk. Bulan keenam belas melambangkan keraguan dan harapan—”

TN Yomi: 十六の月が象かたどるのは、ためらいと希望── (jūroku no tsuki ga katadoru no wa, tamerai to kibō—): Diterjemahin "Bulan keenam belas melambangkan keraguan dan harapan," ini tuh dialog yang puitis dan metaforis.

Ryūzōji bergumam pada dirinya sendiri, menatap gelas di tangannya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi suara gentleman-nya terasa nyaman di telinga.

“Kau terlihat bingung. Tanyakan saja apa pun yang ingin kau tahu. Aku akan menjawabnya.”

“Mobil ini… menuju ke mana?”

“Ke tempat para anak domba mencari penyelamatan.”

“Anak domba…?”

“Mereka, yang kehilangan petunjuk di kegelapan, membentuk ribuan kawanan, dan mencari cahayaku.”

Apakah dia sedang bermain teka-teki?

“Jangan-jangan… ini kantor detektif Anda, Ryūzōji-san?”

“Jawaban yang benar. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat kerjaku. Aku sangat ingin mengundangmu.”

Di antara tiga detektif kelas Triple-Zero, Ryūzōji adalah satu-satunya yang memiliki kantor detektif dan menerima permintaan dari klien umum. Pekerjaan yang ia tangani dalam sehari dikatakan mencapai seratus hingga dua ratus kasus. Dan karena ia menyelesaikan semua kasus tanpa beranjak dari kursi kantornya, ia dijuluki ‘Count Armchair’ atau ‘Sang Bangsawan Kursi Santai’, meniru detektif kursi santai. Gelar bangsawan itu sendiri tampaknya terinspirasi dari penampilannya.

“Kenapa harus aku?”

“Aku melihat ‘Tantangan Hitam’ yang melibatkanmu. Ketidakmampuanmu memang menjadi perbincangan, tapi aku tidak bisa menertawakanmu. Kau tahu kenapa?”

Ryūzōji menutup mulutnya seolah menunggu jawaban.

Ketika aku terdiam karena tidak bisa menjawab, ia segera melanjutkan.

“Karena kau mirip dengan diriku di masa lalu. Bahkan, kegigihanmu pantas dihormati.”

Ryūzōji mengatakan hal yang aneh.

Aku tidak bisa menerima perkataan itu mentah-mentah, dan malah merasa seperti sedang direndahkan.

“…Apa maksud Anda?”

Aku bertanya dengan sedikit nada membangkang.

“Maksudku, sungguh sayang jika aku kehilanganmu begitu saja.”

“Kehilangan?”

“Pernahkah kau membayangkan saat-saat terakhir kematianmu? Atau pernahkah kau menulis surat wasiat?”

“Eh? Hah?”

Aku bingung dengan arti pertanyaannya, dan memiringkan kepala. Semakin kupikirkan, pertanyaan itu semakin mengerikan.

“Anu… itu maksudnya apa…”

“Permisi, waktunya sudah tiba.”

Ryūzōji tiba-tiba mengangkat satu tangan seolah memotong pembicaraan, lalu mengeluarkan ponsel entah dari mana dan mulai menghubungi seseorang.

Saat ia menghubungi orang di telepon, ia berseru ke arah kursi pengemudi.

“Pertahankan batas kecepatan legal. Jangan melanggar satu kilometer pun.”

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ryūzōji melanjutkan dengan memberikan instruksi ke ponselnya.

“60 detik dari sekarang, ubah lampu lalu lintas dari titik A hingga titik C di Jalur Empat menjadi merah.”

Ia melanjutkan dengan mengeluarkan ponsel lain.

“Tujuan mereka bukanlah aksi terorisme melalui pembajakan bus. Tujuan sebenarnya adalah mencuri harta benda penumpang. Di bus itu ada seorang lansia yang membawa koper berisi 50 juta yen uang tunai, dan seorang wanita yang membawa aksesori senilai 200 juta yen di dalam tasnya. Tidak, itu bukan kebetulan, itu semua sesuai dengan rencana para pelaku. Para penumpang lengah terhadap barang bawaan mereka akibat kekacauan pembajakan bus. Harta benda itu pasti sudah dicuri dan ditukar dengan koper dan tas palsu. Barang-barang itu akan dilemparkan kepada kaki tangan lain di jalanan. Kaki tangan itu seharusnya mengendarai mobil convertible. Atapnya terbuka penuh di tengah musim dingin ini. Rencananya, harta benda itu akan dilemparkan dari jendela bus ke arah mobil convertible saat mereka berpapasan di persimpangan.”

Dari percakapan lisan Ryūzōji, aku bisa memahami garis besar situasinya. Rupanya, sedang terjadi kasus pembajakan bus, dan Ryūzōji bergerak untuk menyelesaikannya.

“Hentikan mobil di tengah persimpangan berikutnya.”

Ryūzōji memberi instruksi kepada kursi pengemudi.

Aku mengintip ke luar jendela.

Mobil itu sebentar lagi akan memasuki persimpangan. Tetapi lampu lalu lintas di arah kami berwarna merah. Tidak ada mobil di depan kami.

“Dua detik… Satu detik… Nol.”

Tepat saat hitungan mundur Ryūzōji berakhir, lampu lalu lintas di jalur kami berubah menjadi hijau. Mobil itu memasuki persimpangan tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.

Pada saat itu, dari kiri persimpangan, sebuah mobil convertible melaju dengan kecepatan tinggi. Seperti yang dikatakan Ryūzōji, atapnya terbuka penuh di tengah rintikan salju tipis.

Sementara itu, dari arah kanan, muncul sebuah bus kota dengan tulisan SOS menyala di papan petunjuk digitalnya.

Mereka berencana untuk berpapasan di sini!

Keduanya tampaknya berniat menerobos persimpangan secara paksa, memanfaatkan momen tepat setelah lampu lalu lintas berubah.

Akan tetapi, limusin yang kami tumpangi mengerem mendadak dan berhenti di tengah persimpangan, seolah menyumbat jalan. Karena bodinya yang panjang, kedua jalur pun terblokir.

Mobil convertible dan bus mendekat dari kiri dan kanan.

Kalau begini…

“Kita akan tabrakan!”

Aku menutup mata dan tanpa sadar meringkuk.

Suara rem mendadak menusuk telinga.

Sesaat, aku pasrah akan mati. Aku menyesal belum menulis surat wasiat.

Namun, benturan itu tidak terjadi.

Ketika kubuka mata…

Mobil convertible berhenti tepat di samping limusin, agak di kiri depan, sementara bus berhenti di kanan belakang, nyaris menempelkan bagian depan mereka.

Suara sirene meraung dan mobil-mobil patroli polisi berkumpul. Mobil convertible dan bus sempat mencoba mundur dan melarikan diri, tetapi segera dikepung oleh mobil-mobil patroli.

Pasukan khusus menyerbu para pelaku, dan sandera berhasil dibebaskan dengan selamat. Kejadian yang hanya pernah kulihat di film kini tergelar di depan mataku.

“Luar biasa…”

Aku bergumam tanpa sadar, melihat pemandangan di luar jendela.

Entah sejak kapan aku terlibat dalam kasus ini, dan entah sejak kapan pula kasus ini berakhir. Meskipun orang biasa memang sering dipusingkan oleh detektif ulung, Ryūzōji Gekka mungkin berada di tingkatan yang berbeda.

Setelah seluruh kekacauan itu selesai, para petugas polisi memberi hormat ke arah kami.

Seolah itu adalah tanda berakhirnya kasus, limusin kembali melaju.

“Kupikir aku akan mati…”

“Tenang saja, dalam bab penyelesaian kasus yang kutangani, tidak ada korban jiwa,” kata Ryūzōji sambil terbatuk-batuk parah, dengan ponsel di satu tangan. “Ah, maaf. Ini urusan lain. Pelaku mungkin memuat gudang itu ke atas trailer dan memindahkannya. Mereka membuka gudang di tempat tujuan, membunuh korbannya di dalam, lalu kembali ke tempat semula…”

Ia sudah mulai memecahkan misteri kasus yang lain.

Inilah Ryūzōji Gekka, ‘Count Armchair’ itu…

Seorang jenius Parallel Thinking dan Multi-Tasking. Pria dengan jumlah penyelesaian kasus terbanyak di antara semua detektif yang terdaftar di Perpustakaan Detektif.

TN Yomi: パラレル・シンキング&マルチ・タスク (Parareru Shinkingu & Maruchi Tasuku): Diterjemahin "Parallel Thinking & Multi-Tasking"

“Nah, ada lagi yang ingin kau tanyakan padaku?”

Ryūzōji dengan cepat menyimpan ponselnya entah ke mana, seolah berteleportasi, lalu melipat jemari di atas lututnya sambil berkata.

“Apakah kalian yang membawa pergi Kirigiri-chan? Di mana dia sekarang?”

“Sayangnya, aku tidak tahu keberadaannya. Ini kenyataan. Seharusnya tidak mungkin kami kehilangan jejak satu individu pun, tapi fakta bahwa kami belum juga menemukannya berarti dia pasti menggunakan keterampilan detektifnya untuk menyembunyikan diri dengan kemauannya sendiri.”

“Kirigiri-chan menyembunyikan diri…?”

“Kau punya ide? Tolong beri dia nasihat bahwa bersembunyi dari kami itu membuang-buang waktu.”

Rupanya, Komite Penyelamat Korban Kejahatan juga sedang mencari Kirigiri. Dia tidak tertangkap. Mengetahui fakta itu saja sudah sepadan dengan upayaku datang ke sini.

Padahal, jika boleh memilih, aku ingin pulang sekarang juga.

Aku menghela napas, merosot di kursi.

“Jangan khawatir,” kata Ryūzōji sambil tersenyum lembut. “Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak berniat mencelakaimu. Aku berniat menjemputmu seperti seorang putri dalam dongeng, dan mengantarmu pulang seperti seorang putri.”

“Apa tujuan Anda?”

“Kepentingan pribadi.”

“Pribadi…?”

“Ya, kehadiranmu di sini tidak ada hubungannya dengan kehendak Komite Penyelamat Korban Kejahatan. Ini adalah langkah maju yang kuambil atas inisiatifku sendiri.”

Semuanya semakin tidak masuk akal.

Aku memiringkan kepala.

“Ini adalah rahasia internal, tapi… Komite sudah menyiapkan ‘Tantangan Hitam’ berikutnya, di mana kau akan ditunjuk sebagai detektif yang bertugas.”

“Eh…”

Meskipun itu adalah fakta yang mengejutkan, entah kenapa aku tidak bisa terkejut secara wajar. Aku merasa kepalaku tidak bisa mengikuti rentetan perkembangan cepat yang terjadi di depan mata ini.

“Tantangan untukmu kusimpan. Mudah saja untuk menyerahkannya, tetapi aku menyukaimu, jadi aku tidak ingin kehilanganmu.”

Aku hampir terbuai oleh suaranya yang manis.

Seandainya saja aku bisa mendengar kata-kata seperti itu dari orang lain.

“Karena itu, aku memutuskan untuk mengambil satu pertaruhan. Sayang sekali hidupku jauh dari judi, tapi aku ingin mencari jawaban dari takdir,” Ryūzōji menatap jendela yang tertimpa salju sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali. “Samidare Yui-kun—maukah kau bermain game denganku?”

—Game?

Apakah aku harus terlibat lagi dengan game yang diciptakan oleh orang dewasa tak berguna?

“Tidak ada aturan sulit dalam game ini. Aku akan memaksamu memilih, dua kali. Kau hanya perlu memilih jawaban yang kau yakini benar. Namun, pertanyaannya akan sama, untuk kedua kalinya.”

“Hanya memilih pilihan?”

“Kau boleh memahaminya begitu. Apa itu baik-baik saja?”

Aku mengangguk tanpa tahu apa maksudnya.

Kedengarannya seperti game yang sangat sederhana, tapi…

“Kalau begitu, aku akan bertanya.”

Ryūzōji mengeluarkan amplop hitam pekat dari balik mantelnya. Amplop terkutuk itu. Lak segel Komite Penyelamat Korban Kejahatan tampak merah menyala, seolah baru saja dicetak.

Selain amplop itu, ia juga mengeluarkan satu amplop lagi. Kali ini warnanya putih bersih. Namun, lak segelnya bermerek sama.

Ryūzōji memegang amplop hitam di tangan kiri dan amplop putih di tangan kanan, lalu menyodorkannya ke hadapanku.

“Amplop hitam adalah surat tantangan yang sudah akrab, disiapkan oleh Komite. Detektif yang dipanggil adalah Samidare Yui, dirimu. Jika ini dibuka, ‘Tantangan Hitam’ akan dimulai.”

Tanpa memedulikan tatapan bingungku, Ryūzōji melanjutkan.

“Amplop putih adalah surat rekomendasi untuk menjadi anggota Komite Penyelamat Korban Kejahatan. Biasanya, untuk bergabung dengan Komite, diperlukan surat rekomendasi dari anggota eksekutif. Ini adalah surat yang sudah kutandatangani untukmu.”

Ryūzōji menatapku dengan tatapan menguji.

Aku akhirnya mengerti maksud dari game ini.

Putih atau Hitam.

Mengikuti mereka, atau melawan mereka.

“Sebagai pilihan ketiga, ada juga jalan untuk tidak memilih keduanya. Namun, kurasa kau tidak akan memilih opsi itu. Nah, waktunya telah tiba. Silakan pilih salah satunya.”

Mobil berhenti karena lampu merah.

Bersamaan dengan itu, waktu di dalam mobil pun ikut terhenti. Aku tidak bisa bergerak hingga mobil kembali melaju.

“Tidak perlu setegang itu. Seperti yang kukatakan tadi, ada dua kesempatan memilih. Kau bisa mengambil kesimpulan pada kesempatan kedua.”

“Kalau begitu, apa arti pemilihan pertama ini?”

Ryūzōji tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia hanya menyodorkan kedua amplop itu kepadaku, seolah mendesak batas waktu pemilihan.

Sejujurnya, ini bukan masalah yang perlu diragukan.

Namun, aku tetap tidak bisa menyembunyikan kebingunganku karena terkejut Ryūzōji mencoba merekrutku ke dalam Komite. Apa keuntungannya bagi mereka jika menjadikanku anggota, yang tidak memiliki bakat istimewa atau prestasi besar?

“Kau sudah punya jawaban?”

“Ya.”

—Sudah pasti.

Aku segera menunjuk amplop hitam.

Siapa yang sudi menjadi bagian dari organisasi kriminal?

“Bagus.” Ryūzōji tersenyum menantang sambil menyimpan kedua amplop itu ke dalam jasnya. “Santai saja.”

“Apa sudah selesai?”

“Kelanjutannya nanti. Sebentar lagi kita akan tiba di tempat kerjaku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu di sana. Maukah kau menemaniku?”

“…Ya.”

Aku takut dan ingin melarikan diri, namun jika dipikir-pikir, mungkin ini adalah kesempatan untuk menginspeksi markas musuh. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya tanpa mengumpulkan sedikit pun informasi mereka.

Pemandangan dari jendela berangsur-angsur berubah, dari gedung-gedung perkotaan menjadi ladang dan hutan yang diselimuti salju.

“Aku bergabung sebagai anggota Komite Penyelamat Korban Kejahatan 6 tahun lalu—” Ryūzōji tiba-tiba mulai monolog. “Sejak saat itu, aku terus menciptakan trik untuk ‘Tantangan Hitam’. Dalam banyak kasus, ‘Tantangan Hitam’ dibentuk oleh beberapa kreator dan koordinator, dan pada akhirnya akan disupervisi oleh Shinsen Mikado.”

Ia melanjutkan pengakuannya dengan santai, seolah sedang mengobrol biasa. Ia pasti percaya diri bahwa mengungkapkan rahasia ini tidak akan menggoyahkan posisinya.

Kejatuhan para detektif ulung yang setara dengan dewa—

Mengetahui fakta itu langsung dari mulutnya sendiri benar-benar mengejutkan.

“Kau mungkin menganggap Komite Penyelamat Korban Kejahatan hanyalah organisasi kriminal. Organisasi gelap yang menyediakan pertunjukan pembunuhan bagi para gentleman berkelas.”

“Bukankah begitu?”

“Itu hanyalah sistem pengumpulan dana untuk menggerakkan organisasi. Setidaknya, tidak ada ideologi di dalamnya. Jika Komite hanyalah organisasi selevel itu, aku tidak akan pernah mau bekerja sama sejak awal.”

Ideologi… ya.

Apakah mereka juga memiliki keadilan versi mereka sendiri?

Mobil melewati lengkungan bata dan menyusuri jalan berbaris pohon yang meranggas.

“Mulai dari sini adalah area privat,” kata Ryūzōji sambil memandang ke luar. “Kau bisa mendengarnya? Suara mereka yang mencari seorang detektif.”

Aku melihat ke luar jendela.

Meskipun bukan di pusat kota, sesekali terlihat bayangan orang berjalan di sepanjang jalan berbaris pohon. Ada keluarga, pasangan kekasih. Entah mengapa, anak-anak yang lewat melambaikan tangan ke arah kami dan mulai berlari mengejar mobil. Namun, mereka tidak bisa mengikuti kecepatan mobil, jarak pun perlahan melebar, dan akhirnya mereka menghilang dari pandangan.

Seiring kami melaju, jumlah orang semakin banyak.

Akhirnya, kerumunan itu berubah menjadi barisan yang tertata rapi.

Barisan apa ini?

Mobil keluar dari jalan berbaris pohon dan kembali melewati lengkungan bata. Di depan terhampar air mancur dan taman mawar. Pemandangan yang suram untuk musim dingin, namun tidak kehilangan kesan megahnya. Barisan itu memutari taman air mancur dan terus berlanjut ke depan.

Mobil bergerak maju, mengikuti barisan itu, semakin jauh ke dalam.

Tak lama, kantor detektif Ryūzōji terlihat.

Itu adalah bangunan yang pantas disebut kastel. Parit kering mengelilingi pagar tinggi, dan jembatan batu kuno membentang di atasnya. Gerbang kastel yang terlihat di seberang jembatan, jendela-jendela tak terhitung yang berjejer di menara melingkar, dan celah-celah bergerigi di atap, semuanya persis seperti benteng abad pertengahan Eropa. Sejak memasuki area privat ini, pemandangan fantastis terus berlanjut.

Mobil berhenti di depan pintu masuk marmer.

Anak laki-laki berompi itu membukakan pintu dari luar. Aku menyambut uluran tangannya dan keluar.

Seketika, barisan yang membentang hingga pintu masuk mendadak kacau, dan kerumunan orang terbentuk mengelilingi mobil. Ada berbagai macam orang, tua dan muda, pria dan wanita. Mereka mengintip ke arah mobil dari kejauhan dengan wajah penuh harap.

Tak lama kemudian, tangga otomatis memanjang dari limusin, dan Ryūzōji turun dengan kursi roda listrik.

Seketika itu juga, suara ceria yang menyerupai sorakan pecah dari kerumunan di sekitar.

“Selamat datang kembali, Ryūzōji-sensei!”

“Terima kasih atas kerja keras Anda, Ryūzōji-sensei!”

“Terima kasih atas bantuan Anda tempo hari!”

Semua orang menyambut Ryūzōji. Suasana hebohnya seperti saat seorang idola atau bintang film muncul. Ryūzōji mengangkat satu tangan, mengambil pose seolah menenangkan mereka tanpa berkata-kata.

Anak laki-laki berompi itu segera berputar ke belakang Ryūzōji dan mulai mendorong kursi roda menuju pintu masuk gedung.

Aku mengikuti mereka, masih tercengang.

Pintu masuk terbuka secara otomatis.

Lantai satu kastel itu menyerupai lobi hotel, dengan beberapa anak yang berpakaian seperti resepsionis berjas berdiri di meja depan. Ada karpet tebal dan sofa untuk menunggu.

Yang mengejutkan, di sepanjang jalur dari pintu masuk hingga ke lift di depan, berjejer anak-anak berseragam yang tampaknya adalah karyawan, menyambut Ryūzōji.

“Satu, dua…”

“Selamat datang kembali, Ryūzōji-sensei!”

Anak-anak itu membungkuk serentak. Suara sapaan yang agak tidak seragam justru menunjukkan betapa mereka masih anak-anak.

Barisan tamu umum yang datang dari luar terus berlanjut, melewati lobi menuju pintu di belakang. Mereka pasti adalah anak-anak domba yang bermasalah, yang datang mengandalkan Ryūzōji. Mungkin di ruangan selanjutnya mereka akan berkonsultasi tentang kasus, atau mencurahkan masalah mereka.

Anak laki-laki berompi menekan tombol lift. Pintu segera terbuka, dan mereka mundur dengan kursi roda sambil masuk ke dalamnya.

“Kau juga, silakan masuk.”

Aku menuruti perintah Ryūzōji.

Tepat sebelum pintu lift tertutup, dua anak berseragam kerja, membawa pel dan ember, dengan tergesa-gesa masuk.

“Ah, selamat datang kembali, Ryūzōji-sensei!”

“Selamat datang kembali!”

Kedua anak itu menyapa serempak.

Pintu lift tertutup dan mulai naik.

“Apakah pekerjaan bersih-bersih sudah selesai?”

Ryūzōji bertanya kepada anak-anak itu.

“Ya, kami sudah membuat jendela dan lantai kinclong!”

“Sudah berkilauan!”

“Bagus.”

Mendengar perkataan Ryūzōji, kedua anak itu tampak bangga.

Anak-anak itu turun di lantai tiga. Lift terus naik, dan kami turun di lantai lima.

Koridor berkarpet merah terbentang lurus di depan.

Anak laki-laki berompi itu mulai mendorong kursi roda Ryūzōji perlahan.

“Kau pasti berpikir ini sandiwara konyol,” kata Ryūzōji, seolah membaca pikiranku. “Atau mungkin kau merasa tersesat di sekte kultus. Tapi, inilah kenyataan sehari-hariku yang sama sekali tanpa kepalsuan.”

Orang-orang yang menghormati Ryūzōji sebagai guru, berkumpul mencari pertolongan.

Anak-anak yang memercayainya dan bekerja di bawahnya.

Inilah pemandangan sehari-hari dari detektif pahlawan yang telah menyelamatkan lebih banyak orang daripada siapa pun—

Inikah yang ingin dia tunjukkan padaku?

Dunia yang terlihat dari kursi seorang detektif yang sukses.

Dan Neverland penuh kedamaian yang ia bangun.

TN Yomi: ネバーランド (Nebārando): Merujuk pada Neverland (Pulau yang tak pernah berubah) dari cerita Peter Pan.

Di ujung koridor panjang, ada pintu ganda.

Saat kami mendekat, pintu terbuka otomatis oleh sensor.

Namun, tempat itu adalah medan perang sepi bagi seorang pahlawan, kontras dengan dunia Neverland yang bersih.

Tumpukan berkas dan dokumen menggunung. Buku-buku referensi yang tersusun semrawut. Foto dan memo ditempel di sana-sini. Ruangan itu mungkin seluas 30 tikar tatami, namun buku-buku yang menumpuk di sana-sini membentuk pegunungan, dan tumpukan kertas yang berserakan menjadi lautan. Benar-benar seperti miniatur alam liar. Atau, mungkin ruangan ini adalah perwujudan langsung dari isi otak Ryūzōji.

Begitu masuk kamar, Ryūzōji mengemudikan sendiri kursi roda listriknya dengan lancar dan menempatkan diri di sudut yang samar-samar terlihat seperti meja kerja.

Anak laki-laki berompi yang tadi mendorong kursi roda memberi hormat lalu keluar dari ruangan.

Kini tinggal aku dan Ryūzōji berdua.

Setelah terbatuk-batuk dengan kesakitan, Ryūzōji melemparkan beberapa pil ke mulutnya dan langsung menenggak wiski dari botolnya.

“Aku mempekerjakan anak-anak yatim piatu di sini. Mereka semua adalah detektif magang. Terkadang, aku juga menyuruh mereka melakukan investigasi sesuai kebutuhan. Mereka adalah mata, telinga, serta tangan dan kakiku. Dalam istilah Sherlock Holmes, mereka adalah Baker Street Irregulars. Ada banyak yang bisa dipelajari dari para pendahulu.”

Sambil berbicara, Ryūzōji membaca dokumen, menulis sesuatu, lalu mengambil dokumen lain. Rupanya, bahkan saat ini, kasus demi kasus sedang diselesaikan oleh tangannya.

“Apakah Anda juga melibatkan anak-anak itu dalam kejahatan?” Tanyaku.

Ryūzōji menyunggingkan senyum di sudut bibirnya dan menggelengkan kepala.

“Tugas mereka hanya sebagai detektif.”

“—Berarti, anak-anak itu tidak tahu apa yang Anda lakukan di balik layar, ya?” Aku berkata dengan nada pahit. “Anda, yang telah mendapatkan status dan kehormatan sebagai detektif, dan masih berusaha keras menyelesaikan kasus, mengapa Anda malah bergabung dengan organisasi kriminal… Aku tidak mengerti. Bisakah diri Anda sebagai detektif dan diri Anda di Komite Penyelamat Korban Kejahatan ada tanpa kontradiksi?”

“Memangnya apa yang kontradiktif?”

Nada bicaranya yang terlalu berani membuatku kehilangan kata-kata.

“Tujuan menyelamatkan seseorang tidak berubah, baik bagi detektif maupun Komite. Tentu saja, cara yang digunakan mungkin tidak selalu benar. Tanganku mungkin juga berlumuran darah. Namun faktanya, dengan tangan ini, aku telah menyelamatkan lebih banyak orang daripada siapa pun. Itu adalah harga diriku. Dan hanya karena harga diri itulah, aku bisa terus menjadi detektif.”

Ryūzōji berbicara sambil terus memproses dokumen satu per satu.

“Meskipun begitu, menjustifikasi kejahatan seharusnya tidak bisa dibenarkan,” aku merasa harus mengatakan ini. “Terutama bagi seorang detektif!… Seorang detektif seharusnya membenci kejahatan dan melawan pihak yang tidak masuk akal!”

“Hehe… mungkin kau benar,” ia menghentikan tangannya yang sedang membalik dokumen sejenak dan menatapku. “Namun, jangan salah. Kami juga membenci kejahatan dan melawan pihak yang tidak masuk akal. Justru, siapa yang bisa disebut benar-benar berjuang? Kau, yang hanya bisa berbicara indah tanpa mengotori tangan, atau kami, yang berdiri di medan perang yang diguyur hujan darah?”

“Ugh… Tapi…”

Aku mencari-cari kata.

Mustahil bagiku, yang hanya mencicipi profesi detektif selama beberapa tahun, untuk mengalahkan detektif yang telah aktif di garis depan selama lebih dari sepuluh tahun.

“Jika kau sudah lama menjadi detektif… kau akan menghadapi situasi di mana tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan dengan cara yang benar. Aku adalah orang yang selalu menghadapi aturan, baik hukum maupun etika, secara ketat, dan selalu mengendalikan diri. Namun, karena itu pula aku sering kali merasa frustrasi. Aku berdoa kepada Tuhan berkali-kali. Kumohon, izinkan aku menyelamatkan lebih banyak orang.”

Sebuah doa yang lahir justru karena ia adalah detektif yang hebat—

Mungkin dunia ini terlalu kecil untuk menampung bakatnya.

“Itukah… alasan Anda menempatkan diri di Komite Penyelamat Korban Kejahatan?”

“Sederhananya, ya. ‘Tantangan Hitam’ diadakan di bawah aturan yang, bagaimanapun, dianggap adil. Cahaya yang kulihat pada Shinsen Mikado adalah mentalitasnya yang adil itu. Jika dia hanya seorang teroris biasa, aku tidak akan pernah memaafkannya sejak awal.”

“Melibatkan orang-orang yang tidak bersalah dalam balas dendam, dan Anda masih menyebutnya adil?”

“Pengorbanan tak terhindarkan sebelum mencapai penyelamatan yang murni—itulah kesimpulan yang kuambil.”

“Buk… Bukankah itu menempatkan gerobak di depan kuda?!”

Meskipun karier dan kemampuanku jauh lebih rendah darinya, satu hal ini sangat jelas bagiku. Jika seseorang membenarkan pembunuhan dan tidak lagi merasa ragu akan hal itu, maka itu bukanlah apa-apa selain kejahatan.

“Kau menganggap kami tidak bisa dimaafkan—kau berpikir begitu.” Ryūzōji perlahan keluar dari balik meja dan mendekatiku. “Kau sama denganku. Aku juga tidak bisa memaafkan kejahatan. Itu sebabnya aku membuat keputusan untuk mengambil senjata yang lebih kuat daripada mereka, demi mengalahkan kejahatan.”

“Tidak… Aku berbeda.”

“Tidak, kau hanya belum membuat keputusan.”

“Aku berbeda!”

Apakah aku benar-benar berbeda?

“Aku…”

ingin menjadi pahlawan keadilan.

Aku ingin menolong orang-orang yang mencari pertolongan.

Itulah mengapa aku mulai menempuh jalan detektif.

Saat aku memikirkannya lagi, tiba-tiba aku merasa takut pada diriku sendiri.

Bukankah citra detektif ideal yang kukejar adalah Ryūzōji Gekka itu sendiri?

“Wajar jika kau bimbang. Dan itulah yang kusukai darimu. Kau adalah diriku di masa lalu.”

Tidak…

Aku tidak seperti itu.

“Kau menjunjung tinggi harga dirimu sebagai detektif. Dan aku berpendapat, itulah satu-satunya syarat mutlak untuk terus menjadi detektif.”

Tanpa kusadari, Ryūzōji sudah berada tepat di depanku.

Matanya berkilat, seolah menusukku.

“Dengarkan baik-baik. Kau pasti bisa mendengarnya. Suara yang memohon pertolonganmu—”

Onee-chan…

Yui Onee-sama….


Ah… suara itu memanggilku lagi.

Itu adalah suara adik perempuanku yang memohon penyelamatan.

Suara Kirigiri-chan.

Untuk apa aku berjuang?

“Aku tahu. Pada dasarnya, kau adalah orang yang berada di pihak ini. Kau adalah orang yang rela mengotori tangan demi mereka yang memohon pertolongan.”

Apa itu keadilan seorang detektif?

Sebenarnya, apa yang—ingin kulakukan?

“Nah, mari kita lanjutkan game-nya.”

Ryūzōji tiba-tiba memotong pembicaraan.

Aku terkesiap mendengar kata-katanya, dan kembali tersadar pada kenyataan.

“Kau ingat aturannya? Kau hanya perlu memilih. Namun, ini sudah pasti akan menjadi pilihan yang membagi jalan hidupmu. Pilihlah dengan hati-hati.”

Saat aku masih bimbang, Ryūzōji mengeluarkan dua amplop dari balik mantelnya.

Satu adalah amplop hitam pekat.

Satu adalah amplop putih bersih.

“Setelah kau mengambil salah satu amplop, segera berbalik dan keluar dari ruangan,” Ryūzōji menunjuk pintu keluar ruangan. “Dunia di balik pintu itu akan menjadi dunia baru yang kau pilih sendiri saat itu juga.”

Putih dan Hitam.

Mana yang benar-benar bisa menyelamatkan orang?

Aku tidak tahu.

Mana yang harus kupilih?

Aku tidak tahu.

Hanya ada satu hal yang jelas—

Panggilan darinya.

Mungkin jawabannya ada di sana.

Ayo maju—

Aku meraih salah satu amplop.

—Jalan yang kupilih sendiri.

Ryūzōji menyunggingkan senyum tipis tanda puas, lalu memutar punggung kursi rodanya menghadapku.

“Pertaruhanku sepertinya menang. Aku bangga dengan keputusanmu.”

Aku juga membalikkan badan dan menuju pintu keluar ruangan.

Membuka pintu, aku meninggalkan medan perang.

Bagian 3

Di ujung karpet merah, anak laki-laki berompi berdiri di depan lift. Ia melipat tangan, dengan jaket disampirkan di salah satu lengan. Ia menunggu aku mendekat, lalu membuka mulutnya.

“Kamu memilih yang itu.”

“Lho, kau bisa bicara?” Aku berkata dengan terkejut. “Kupikir kau ini boneka yang bergerak.”

Aku mengatakannya dengan nada bercanda, namun ia diam-diam meraih tangan kananku, menariknya ke dadanya sendiri, dan membiarkannya menyentuh. Di balik kain rompinya, aku bisa merasakan detak jantung kecil. Aku merasa malu dan langsung menarik tanganku.

Ia menatapku, dengan ekspresi seolah ingin bertanya sesuatu.

“Baiklah, baiklah, kau bukan boneka. Bukti yang sempurna,” kataku.

Mendengar itu, ia tersenyum lebar dan menekan tombol lift.

Pintu segera terbuka.

Mengikuti escort-nya, aku melangkah masuk mengikutinya.

Di dalam kotak kecil itu, hanya ada kami berdua. Anak laki-laki itu tetap beraroma wangi.

“Bolehkah Kamu memberitahuku, mengapa kamu memilih yang itu?”

Anak laki-laki itu tidak menoleh, ia berkata sambil menatap panel tombol lift.

“Karena aku ingin bisa berbangga saat bertemu kembali dengan teman berhargaku.”

Aku tidak cukup dewasa maupun berpengalaman untuk memberikan jawaban atas filosofi atau etika detektif.

Meskipun begitu, aku tahu bahwa ada hal-hal yang tidak boleh hilang.

Mungkin hal itulah yang ia sebut ‘harga diri’.

Aku melihat amplop di tanganku sekali lagi.

Surat tantangan hitam—

Rasanya lebih tebal daripada saat aku memegangnya sebelumnya. Mungkin ‘Tantangan Hitam’ berikutnya adalah permainan yang membutuhkan aturan yang lebih rumit.

Meskipun begitu, aku tidak boleh kalah.

“Kamu gagah berani,” kata anak laki-laki itu, seolah melontarkan sebuah kesan. “Tidak peduli amplop mana yang kamu pilih, aku ditugaskan untuk mendukungmu selama beberapa waktu. Mohon kerjasamanya.”

“…Mohon kerjasamanya. Siapa namamu?”

“Apakah itu perlu?”

“Hm ya?”

“Namaku.”

“Kalau tidak tahu namamu, aku tidak bisa memanggilmu.”

“Kalau begitu, panggil aku Licorne. Aku meminta orang-orang di sini memanggilku begitu.”

Aneh sekali ungkapan itu. Jangan-jangan ia dipanggil dengan nama yang berbeda tergantung tempatnya, seperti kucing liar yang berpindah-pindah rumah.

“Licorne-kun, ya.”

Aku mengatakannya untuk memastikan.

“Singkatnya ‘Lico’ juga boleh.”

“Baiklah, aku akan memanggilmu begitu.”

Lift mencapai lantai satu. Barisan tamu umum masih belum terputus. Para staf anak-anak sudah meninggalkan lobi dan tampaknya bekerja di pos mereka masing-masing.

Aku dan Lico keluar melewati pintu masuk marmer.

“Langsung saja aku bertanya, kau juga anggota Komite Penyelamat Korban Kejahatan? Ryūzōji-san bilang anak-anak tidak terlibat dalam kejahatan, tapi kau sepertinya tahu tentang amplop hitam ini.”

“Aku tidak ada hubungannya dengan Komite. Aku hanya mengetahui situasinya.”

“Begitu… tapi kau orangnya Ryūzōji, kan?”

“Ya. Meskipun begitu, aku akan mendukungmu.”

Singkatnya, pengawas? Atau memang hanya bertugas sebagai pendukung? Mungkin ini adalah cara adil ala Ryūzōji.

“Sejak kapan kau bekerja untuk Ryūzōji-san?”

“Sekitar enam bulan yang lalu.”

Ia menjawab sambil memiringkan kepala seolah sedang mengingat. Tingkahnya kekanak-kanakan, namun aura keseluruhannya tampak dewasa. Sungguh anak yang misterius.

Limusin itu masih terparkir di pintu masuk gedung. Di kursi pengemudi terlihat sopirnya. Sudah kuduga, sopirnya bukan anak-anak.

Lico membuka pintu belakang, meraih tanganku, dan mengantarku masuk ke dalam mobil.

“Mau diantar ke mana? Perpustakaan Detektif? Atau tempat tinggalmu?”

“Aku akan senang jika diantar ke asrama.”

“Baik.”

Lico berputar ke depan mobil dan memberi instruksi kepada sopir. Setelah itu ia langsung kembali.

“Untuk hari ini, aku juga akan pamit di sini. Terakhir, mohon bawa ini.” 

Aku menerima kotak kayu tipis memanjang yang diikat pita. Ukurannya pas di kedua tangan dan terasa cukup ringan.

“Ini adalah hadiah dari Ryūzōji. Namun, mohon dibuka hanya saat dibutuhkan.”

“Saat dibutuhkan, ya…”

“Sampai jumpa.” 

Lico menutup pintu, menjauh selangkah dari mobil, dan membungkuk hormat. 

Tak lama kemudian mobil mulai bergerak.

Mobil berputar mengitari taman mawar dan air mancur, mempercepat lajunya, seolah menelusuri kembali barisan orang-orang yang memohon pertolongan. Sosok Lico yang terlihat di jendela pun akhirnya menghilang.

Melewati lengkungan bata, mobil melaju di jalanan berbaris pohon. Keadaan sudah benar-benar gelap, dan di bawah cahaya lampu jalan yang menyala satu-satu, rintikan salju tipis terlihat jelas.

Di tengah jalan, aku melihat dua anak sedang menyapu di bawah lampu jalan.

“Pak Sopir, tolong berhenti sebentar.”

Aku spontan berseru ke arah kursi pengemudi. Meskipun kursi pengemudi tidak terlihat dari sini karena ada sekat pembatas, mobil segera berhenti merespons suaraku.

Anak-anak yang sedang bersih-bersih itu datang mengintip ke mobil, ingin tahu ada apa.

Aku menurunkan jendela elektrik dan menjulurkan kepala.

“Hei, kalian.”

Aku menyapa anak-anak itu.

Mereka, yang kira-kira masih sekolah dasar, menatapku dengan wajah bingung.

“Orang seperti apa Ryūzōji-sensei itu?”

Kedua anak laki-laki itu saling pandang, lalu menunjukkan senyum polos.

“Dia orang yang sangat baik.”

“Tapi kalau marah, dia menakutkan.”

Keduanya berkata bersahutan.

“Impianku adalah menjadi detektif seperti beliau.”

“Aku juga ingin menjadi seperti Sensei kalau sudah besar nanti!”

“Begitu… Terima kasih sudah memberitahu. Semangat ya bersih-bersihnya.”

““Iyaaa!””

Aku melambaikan tangan, lalu berpisah.

Mobil kembali melaju.

Anak-anak itu tidak terlihat berbohong. Setidaknya, itu bukan ekspresi wajah orang yang dipaksa atau dicuci otak.

Namun, mengingat kekuatan Komite Penyelamat Korban Kejahatan, tidak aneh jika semua yang kulihat hari ini adalah tipuan yang telah disiapkan sebelumnya. Aku masih tidak bisa menghilangkan perasaan melayang, seolah masih berada di dalam mimpi.

Saat aku menatap kosong ke luar jendela, pemandangan berangsur-angsur berubah menjadi lanskap kota yang sudah kukenal.

Aku mendekatkan amplop hitam itu ke jendela, mencoba menggunakan lampu jalan untuk melihat tembusnya, tetapi aku tidak dapat melihat apa pun


Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Sopir tidak mengatakan apa-apa. Aku membuka pintu dan keluar dari mobil. Aku membungkuk hormat ke arah sopir, dan mobil itu kembali ke jalurnya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menghilang dari pandanganku.

Akhirnya aku merasa kembali ke kenyataan. Lampu asrama yang terlihat dari jauh terasa akrab.

Saat aku masuk ke asrama, sudah ada kerumunan orang di koridor.

Suasananya agak gaduh.

Firasatku tidak enak.

Gadis-gadis yang tinggal di kamar lain di asrama menyadari kehadiranku dan berseru.

“Ah, Yui! Gawat!”

“Ada apa?”

“Sudahlah, cepat, ke mari!”

Aku ditarik oleh mereka dan menyusuri koridor. Rupanya, kerumunan itu berkumpul di depan kamarku.

“Ada orang mencurigakan yang mencoba masuk ke kamar Yui dengan cara lock-picking.”

Lock-picking?”

Aku menerobos kerumunan teman-teman asramaku dan akhirnya sampai.

Seorang gadis duduk meringkuk memeluk lututnya, bersandar di pintu kamarku.

Rambutnya tampak berkilau meskipun hanya di bawah lampu neon asrama yang usang, dan pipinya yang pucat terlihat semakin memutih. Ia menatap lurus ke depan dengan wajah cemberut, tetapi saat menyadari kehadiranku, wajahnya langsung berseri-seri.

“Yui Onee-sama!”

Itu adalah Kirigiri Kyoko.

Dia berdiri dan memelukku.

Aku mendekap tubuhnya yang kecil dan ringan. Pakaiannya kotor di sana-sini, dan berbau tanah serta debu. Aku rasa dia belum pernah menyerahkan diri ke pelukanku seperti ini sebelumnya. Saat aku mendekap kepalanya, rasanya dia begitu rapuh dan mudah hancur.

Para siswa asrama yang tidak mengerti situasinya mulai bertepuk tangan saat melihatku dan Kirigiri. Mungkin mereka menganggapnya sebagai reuni yang mengharukan.

“Apa tidak apa-apa kalau tidak lapor polisi?”

Teman asramaku bertanya.

“Ya, tidak apa-apa. Dia kenalanku. Terima kasih semuanya,” kataku sambil membuka pintu dan mendorong Kirigiri masuk ke dalam kamarku. “Kalau begitu, selamat malam semuanya. Sisanya serahkan padaku.”

Aku masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangku, seolah memutus kebisingan dan tatapan penasaran.

Kukunci pintunya.

Kirigiri menatapku dengan wajah cemas.

“Aku ketahuan saat mencoba menyelinap masuk.”

“Semua orang pernah membuat kesalahan,” kataku, melempar ranselku ke tempat tidur dan mendudukkan Kirigiri di sebelahnya. “Lagipula, bukankah mencoba menyelinap masuk dari pintu depan itu sudah salah?”

“Awalnya aku mau memecahkan jendela dan masuk. Tapi aku khawatir kalau jendelanya bolong, nanti jadi dingin.”

“Perhatian sekali, ya. Terima kasih.”

Saat aku mengelus kepalanya, ia menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak puas.

Aku duduk di kursi meja belajar, menghadapnya.

“Kenapa kau mencoba menyelinap ke kamarku?”

“Karena, hanya di sini tempat yang kumiliki…”

Kirigiri menunduk, menatap jari-jari yang bertaut di atas lututnya.

Keheningan melanda.

Aku berharap dia akan mulai menjelaskan jika aku diam, tetapi dia tetap membisu.

“Bagaimanapun, syukurlah kau selamat,” aku menumpangkan tanganku di atas tangannya. “Aku khawatir, Kirigiri-chan. Kau pergi ke mana saja tanpa menghubungiku?”

“…Aku belum bisa membicarakannya sekarang.”

“Apa maksudmu?” kataku sedikit kesal. “Karena kau tidak memercayaiku? Atau karena aku tidak bisa diandalkan?”

“Bukan begitu,” kata Kirigiri dengan nada mendesak. “Hanya saja, aku belum bisa mengatur perasaanku…”

Dia, yang biasanya selalu tenang dan tabah, kini terlihat bingung. Pasti ada situasi yang sangat mengacaukan dirinya terjadi di luar pengetahuanku. Jika ada entitas yang mampu mendesak detektif sekelas dia sampai sejauh ini, hanya ada satu yang terpikirkan.

“Mereka melakukan sesuatu, kan?”

Setelah keheningan yang panjang, Kirigiri mengangguk.

—Aku tidak bisa memaafkannya.

Orang dewasa mengerahkan seluruh kekuatan mereka melawan seorang gadis SMP. Hanya karena dia kebetulan lahir di keluarga yang mewarisi darah detektif…

“Aku akan menjelaskannya pada Yui Onee-sama nanti,” kata Kirigiri, matanya tetap tertunduk. “Pokoknya, selama beberapa hari ini, aku terus melarikan diri dari mereka. Setidaknya aku ingin mengulur waktu sampai Kakek datang. Untuk saat ini, target mereka adalah aku, jadi selama aku menyembunyikan diri, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa…”

“Hebat. Mereka memang kehilangan jejakmu, Kirigiri-chan. Mereka bilang mereka tidak tahu di mana kau berada—”

“Yui Onee-sama!” Kirigiri menyela perkataanku dengan ekspresi terkejut. “Kau dengar itu dari siapa?”

“Ah, yah…”

Aku ragu-ragu.

Haruskah aku menceritakan kejadian hari ini padanya?

Haruskah aku bicara tentang ‘Tantangan Hitam’ yang baru?

Namun, hal itu mungkin akan semakin memojokkannya. Aku tidak ingin dia menderita lagi.

Namun, tanpa perlu berpikir panjang—Kirigiri tampaknya sudah mengetahui keraguanku.

“Komite sudah menghubungimu, kan?” Kirigiri mengerutkan kening, membuat kerutan kecil di antara alisnya, dan menggigit bibir bawahnya. “Terlambat… Ternyata terjadi seperti yang kuduga. Aku sempat berpikir, saat aku tidak ada, mungkin sasaran mereka akan beralih ke Yui Onee-sama. Mereka mungkin akan memanfaatkannya untuk memancingku keluar… Itu sebabnya aku langsung datang ke sini.”

“Begitu… tapi kali ini kurasa bukan hanya kamu yang menjadi tujuan mereka.”

“Maksudmu?”

Aku menceritakan semua interaksiku dengan Ryūzōji kepadanya.

Seiring dia mendengarkan ceritaku, wajah Kirigiri perlahan berubah menjadi ekspresi detektifnya yang biasanya sedingin es. Dia terlihat keren dengan ekspresi itu, tapi juga sedikit menyedihkan. Bakatnya begitu kuat dan rapuh, sampai-sampai bisa menghancurkan dirinya sendiri.

“Kira-kira, jika aku mengambil amplop putih, apakah mereka benar-benar akan menerimaku sebagai anggota?”

“Kau menyesal?”

“Tidak mungkin,” balasku sambil mencibir. “Aku tidak akan membiarkan mereka bertindak sesuai keinginan mereka.”

“Tapi… kurasa pada akhirnya, itu memang sesuai dengan keinginan mereka.”

Memang benar, Ryūzōji tampaknya sudah menduga aku tidak akan mengambil amplop putih. Sifatnya yang yakin akan hasil akhir, namun tetap mengambil tindakan, itulah yang mengerikan.

“Sejauh yang kudengar dari Ryūzōji-san, mereka benar-benar menganggap ‘Tantangan Hitam’ adalah cara untuk menyelamatkan korban kejahatan. Mungkin bagi mereka, keluarga Kirigiri adalah penghalang terbesar.”

“Entahlah…”

Kirigiri bergumam sambil merenung. Dia tampak tidak fokus.

“Ngomong-ngomong, ini surat tantangan yang baru.”

Aku mengeluarkan amplop hitam dari ranselku.

“Kau belum membukanya?”

“Belum. Kalau dibuka, ‘Tantangan Hitam’ akan langsung dimulai, kan? Aku tidak punya keberanian untuk membukanya di sana.”

Amplop tantangan itu sepertinya memiliki sensor chip, dan begitu dibuka, informasi tersebut akan dikirim ke pelaku dan Komite. Terhitung sejak saat itu, 168 jam adalah waktu permainan ‘Tantangan Hitam’. Syarat kemenangan bagi pelaku adalah berhasil membunuh semua target balas dendam dan tidak dilaporkan oleh detektif. Sebaliknya, jika dilaporkan, atau jika tidak berhasil membunuh semua target, pelaku dianggap kalah dan wajib membayar semua biaya yang digunakan dalam ‘Tantangan Hitam’ (uang yang ditalangi Komite). Karena jumlahnya sangat besar dan tidak mungkin dibayar secara pribadi, pelaku akan membayar kompensasi melalui asuransi jiwa atau sejenisnya.

“Apa yang akan terjadi kalau ini tidak dibuka?”

“Surat tantangan yang tidak dibuka mungkin akan diteruskan ke detektif lain. Tapi karena kali ini mereka sepertinya menargetkan Yui Onee-sama sejak awal, bahkan jika ini dilewatkan, hanya akan ada amplop baru yang dikirimkan lagi.”

Aku mengarahkan amplop hitam ke lampu neon. Tetap saja, isinya tidak terlihat.

“Pasti aku akan dikurung di suatu tempat lagi, ya. Hah…” Aku menghela napas tanpa sadar. “Kali ini vila di gunung? Atau pulau terpencil? Padahal aku bukan spesialis kasus pembunuhan…”

“Tapi tingkat kesulitan kasus seharusnya disesuaikan dengan pangkat Yui Onee-sama, jadi mungkin akan lebih mudah daripada yang sebelumnya.”

“Ah, benar juga.”

Dalam ‘Tantangan Hitam’, pangkat detektif yang dipanggil ditentukan dari senjata, trik, dan hal-hal lain yang digunakan dalam kasus. Karena kali ini aku sudah diberitahu untuk dipanggil, itu berarti aku bisa memperkirakan tingkat kesulitan kasusnya.

“Kirigiri-chan juga akan membantuku, kan? Aku tidak mau kau pergi sendirian lagi.”

“Tentu saja. ‘Tantangan Hitam’ bukan lagi hal yang tidak penting atau tidak ada hubungannya denganku. Aku harus menepis percikan api yang menimpaku.”

Kirigiri berkata dengan tatapan yang luar biasa serius. Matanya memancarkan api yang dingin.

“Agar lebih mudah menghitung batas waktunya, mari kita buka amplop ini dengan waktu yang tepat,” kataku. “Bagaimana kalau besok siang, tepat pukul dua belas?”

Kirigiri mengangguk.

“Mari kita selesaikan semua persiapan sebelum itu. Kita harus menghadapinya dengan kesiapan penuh. Pertama, Kirigiri-chan, sana mandi dulu. Rambutmu yang kusut itu juga akan kubantu sisir dan kucir.”


Malam itu, Kirigiri langsung mendengkur nyenyak begitu dia masuk ke tempat tidurku. Aku tidak tahu di mana dan bagaimana dia melanjutkan pertarungan solonya selama ini, tapi setidaknya sekarang dia bisa menyerahkan dirinya pada kedamaian.

Seandainya malam seperti ini bisa berlanjut selamanya. 

Namun, apakah takdir tidak mengizinkan bahkan kedamaian itu?

Tempat tidur terlalu kecil untuk kami berdua, jadi aku memutuskan tidur di lantai. Mungkin, malam yang damai tidak akan datang lagi untuk sementara waktu setelah hari ini.

Pagi pun tiba, tanggal 10 Januari.

Aku dan Kirigiri mengajukan izin cuti sekolah selama seminggu. Kepala sekolah, seorang biarawati, adalah orang yang pengertian, jadi permohonan itu diterima tanpa masalah.

Tepat pukul dua belas siang, aku membuka amplop hitam itu.

Ilustrasi Tantangan Hitam (Duel Noir)

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 1

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 2

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 3

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 4

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 5

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 6

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 7

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 8

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 9

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 10

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 11

Tantangan Hitam untuk Sang Detektif 12

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar