Danganronpa Kirigiri Jilid 3 Bab 2

Dua belas kasus pembunuhan ruang terkunci dalam seminggu. Di tengah Tantangan Hitam, muncul sosok misterius Mikagami Rei, kawan atau lawan?
Ilustrasi Pertama Danganronpa Kirigiri Volume 3 Chapter 2

Bab 2: Identitas yang Tak Dikenal (Ghost in the Mirror)

Bagian 1

Aku membuka amplop hitam itu, dan saat aku menarik kertas Jepang berwarna hitam dari dalamnya, aku mengerti mengapa isinya terasa sangat tebal.

Surat tantangan itu berisi total dua belas lembar.

Sebelum membukanya, aku sudah mengantisipasi berbagai pola kasus, tapi kenyataannya jauh melampaui imajinasi dan menjatuhkan kami ke dalam keputusasaan.

Ke-12 lembar itu semuanya mencantumkan namaku.

“A-Apa-apaan ini…”

Aku melihat kembali surat tantangan itu berkali-kali dengan tangan gemetar. Bukan dua belas lembar yang sama, melainkan semuanya adalah kasus yang berbeda.

“Triknya sepertinya disatukan dalam tema ruang terkunci.”

Kirigiri berkata, berusaha tetap tenang. Namun, jelas sekali wajahnya pucat.

“Mereka menyuruhku menyelesaikan dua belas kasus dalam waktu seminggu? Ditambah lagi, semuanya pembunuhan ruang terkunci? Ini gila!”

Aku kembali menyaksikan kengerian Komite Penyelamat Korban Kejahatan secara langsung. Logika tidak berlaku bagi mereka. Padahal seharusnya aku sudah tahu itu sejak awal.

Game ini sudah dimulai.

“Apa yang harus kulakukan…”

Aku memegangi kepala, mondar-mandir di dalam kamar kecil itu.

Dari dua belas surat tantangan, hanya dua yang memiliki lokasi kejadian yang sama. Artinya, aku harus mendatangi setidaknya sebelas lokasi kejadian. Aku belum tahu di mana lokasi-lokasi itu berada, namun tidak mungkin ada kemudahan seperti semua lokasi berada di satu kota. Bagaimanapun cara berpikirnya, satu minggu terlalu singkat.

“Tenanglah, Yui Onee-sama. Mari kita susun strategi.”

“Strategi apalagi… Ini tak akan bisa diselesaikan tanpa ‘pintu ke mana saja’! Bahkan jika ada, mustahil menangani dua belas kasus sekaligus!”

TN Yomi: tau lah referensi itu darimana.

“Dalam skenario terburuk, kita harus membuangnya.”

“…Membuang?”

“Bahkan jika kasusnya tidak terpecahkan, detektif tidak akan dikenakan penalti sama sekali. Kalau begitu, kita hanya perlu memilih kasus yang mungkin bisa diselesaikan, dan mengabaikan sisanya. Ini seperti melewatkan soal yang tidak bisa dijawab saat ujian.”

“Ini bukan ujian, tapi kasus, lho? Ada orang yang benar-benar akan dibunuh, dan ada pelakunya. Nyawa orang dipertaruhkan. Tidak ada kasus yang boleh diabaikan.”

“Ya, itulah sebabnya aku bilang kita selesaikan semampu kita. Daripada mencoba semuanya dan berakhir setengah-setengah, bukankah lebih pasti jika kita membereskan apa yang bisa kita tangani terlebih dahulu?”

Kirigiri duduk di tempat tidur, menatapku dengan mata memohon.

Apa yang akan kukorbankan demi tujuan?

Aku kembali dipaksa memilih.

“…Kau mungkin benar,” aku duduk di sebelahnya, akhirnya mendapatkan kembali ketenanganku. “Sejak awal, dengan kekuatanku, aku tidak yakin bisa menyelesaikan satu pun… Aku salah mengira bahwa aku bisa menangani semuanya jika berusaha keras.”

“Tiba-tiba kau jadi pesimis sekali.”

“Aku sedang dihancurkan oleh kenyataan. Kurasa mereka ingin mengajarkanku dengan surat tantangan ini bahwa ada pemandangan yang tidak bisa kulihat, tak peduli seberapa keras aku mencoba mendongak.”

“Tapi Yui Onee-sama bisa melompat lebih tinggi dari siapa pun,” kata Kirigiri sambil tersenyum canggung. “Ada banyak hal yang bisa kulewati karena kau ada.”

“Kirigiri-chan…”

Kapan kau mulai bisa menunjukkan senyuman padaku?

“Jadi, jangan pesimis begitu. Masih ada harapan.”

“Harapan?”

“Ada banyak detektif yang terdaftar di Perpustakaan Detektif yang ahli dalam kasus pembunuhan kamar terkunci. Jika kita bisa meminjam kekuatan mereka, bukankah kita bisa menyelesaikan dua belas kasus sekaligus?”

Benar!

Jika musuh datang dengan strategi kuantitas, maka kami juga bisa merekrut banyak detektif untuk menghadapi mereka—

“Tunggu sebentar, itu tidak boleh,” aku langsung menyangkalnya. “Perpustakaan Detektif tidak bisa dipercaya. Aku yakin mereka terhubung dengan Komite Penyelamat Korban Kejahatan di balik layar. Pasti ada anggota Komite yang menyusup di antara para detektif.”

Mereka yang menerima amplop putih.

Aku dengar, jumlah detektif yang menghilang begitu saja setelah mencoba menyelidiki rahasia Komite Penyelamat Korban Kejahatan mencapai dua digit. Secara sederhana, mereka pasti dieliminasi, tapi mungkin di antaranya ada yang menerima ajakan bergabung, sama sepertiku, dan mengambil amplop putih.

“Benar… orang-orang seperti merekalah yang dengan senang hati akan mengajukan diri untuk menghalangi kita.”

“Iya, kan? Kita tidak punya waktu untuk memilah-milah apakah detektif yang berkumpul itu kawan atau lawan,” kataku sambil melirik jam dinding. “Lihat, sudah tiga puluh menit berlalu! Jika begini terus, hari akan berakhir hanya dengan kita merenung! Aduh… apa yang harus kulakukan? Apa yang harus…”

Detektif dari Perpustakaan Detektif tidak bisa diandalkan.

Kalau begitu, haruskah aku mencari detektif yang tidak terdaftar di Perpustakaan Detektif? Bagaimana caranya aku menemukan detektif yang tidak berafiliasi dan ahli dalam kamar terkunci?

“Bagaimana dengan kakekmu? Apa beliau masih belum bisa datang?”

“Ya,” Kirigiri mengangguk sambil berpikir. “Tidak ada kontak darinya sejak hari itu.”

Sepuluh hari yang lalu, Kirigiri Fuhito, kepala keluarga Kirigiri saat ini, telah mengirimkan peringatan untuk ‘jangan mendekati Shinsen Mikado’. Dia sedang menangani pekerjaan penting di luar negeri, sehingga butuh waktu baginya untuk kembali.

“Sepertinya kita harus berjuang sendiri…”

“Hanya ada satu orang yang mungkin bisa diandalkan,” kata Kirigiri sambil mengangkat wajah. “Bahkan, mungkin hanya orang itu saja yang kita butuhkan, daripada menyewa puluhan detektif.”

“Eh, siapa? Teman detektifmu?”

“Bukan, orang yang juga tidak kukenal—salah satu detektif kelas Triple-Zero, Mikagami Rei.”

Saat ini, ada tiga detektif dengan nomor ‘000’.

Ryūzōji Gekka, si ‘Count Armchair’.

Johnny Arp, si ‘Law Enforcer’.

Dan Mikagami Rei, yang identitasnya tidak diketahui.

Profil Mikagami Rei tidak pernah terungkap sama sekali, dan tidak ada yang tahu di mana ia berada. Hanya berkas laporan kasus yang pernah ia tangani yang menunjukkan keberadaan dirinya—atau dirinya.

Kasus yang ditangani Mikagami Rei sebagian besar adalah kasus yang sangat misterius, seperti kasus okultisme yang aneh atau kasus sejarah yang belum terpecahkan. Ketika ia berhasil memecahkan kasus pembunuhan berantai bergaya teater di Los Angeles yang terjadi pada tahun 60-an dan belum terpecahkan, yang dikenal sebagai ‘Kasus Zodiak’, ia pernah diwawancarai oleh surat kabar lokal sambil menyembunyikan wajah di balik kaca buram. Saat itu, nama Mikagami Rei diterjemahkan menjadi ‘GHOST IN THE MIRROR’. Frasa itu kini menjadi sinonim bagi Mikagami Rei.

“Aku sudah memastikan Ryūzōji Gekka dan Johnny Arp berada bersama Shinsen Mikado, tapi Mikagami Rei tidak ada di sana.”

“Tapi dia pasti anggota Komite. Dia adalah detektif yang terkenal karena tidak pernah mengungkapkan identitasnya, jadi dia pasti bagian dari mereka, hanya saja tidak muncul di depan umum.”

“Justru untuk memastikan hal itu, kurasa ada baiknya kita mencoba menghubungi Mikagami Rei. Jika dia musuh, kita harus tahu identitasnya sesegera mungkin.”

“Itu juga benar, tapi…”

Aku kembali merasakan ketakutan karena harus berhadapan dengan detektif kelas Triple-Zero sebagai ‘musuh’. Aku merasa seperti dilempar ke medan perang yang salah. Kenapa semua ini bisa terjadi? Dari mana pun dilihat, aku hanyalah seorang siswi SMA biasa.

“Bagaimana cara kita menghubungi seseorang yang identitasnya tidak diketahui siapa pun?”

“…Kita harus mulai dengan memikirkan hal itu terlebih dahulu.”

“Aku harap seminggu tidak berlalu begitu saja saat kita memikirkannya.”

“Jika kau punya waktu untuk menyindir, lebih baik kau ikut berpikir, Onee-sama.”

Kirigiri berkata dengan sedikit nada marah.

Aku menenangkannya, lalu kembali memikirkan tentang Mikagami Rei.

Berdasarkan pengalamanku sejauh ini, pangkat tinggi tidak menjamin bahwa seseorang itu detektif yang waras. Dilihat dari fakta bahwa dia menyembunyikan identitasnya, mungkinkah dia orang yang sangat eksentrik?

Musuh?

Atau kawan?

Jika detektif kelas Triple-Zero mau berpihak pada kami, waktu penyelesaian kasus bisa dipersingkat secara drastis.

“Bagaimana kalau kita meninggalkan pesan di Perpustakaan Detektif lagi, seperti sebelumnya? Tapi kita tidak bisa memercayai Perpustakaan Detektif…”

Ide-ide untuk solusi mulai habis, dan aku serta Kirigiri terdiam sambil melipat tangan. Kami bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Saat itu—bunyi dering telepon yang tidak kukenal mulai berdering entah dari mana.

Aku dan Kirigiri saling pandang.

“Ponsel Kirigiri-chan?”

“Bukan, aku tidak membawanya.”

“Bukan punyaku juga.”

Aku memeriksa ponselku. Layarnya dalam mode standby, dan tidak ada nada dering yang berbunyi. Namun, suara itu terdari terdengar dari suatu tempat.

Aku menajamkan telinga, mencari asal suara.

Suara itu berasal dari dalam ranselku.

“Ah, jangan-jangan…”

Aku teringat hadiah yang kuterima dari Licorne, anak laki-laki berompi, saat aku meninggalkan kantor detektif Ryūzōji kemarin. Aku buru-buru menariknya keluar dari ransel.

Suara itu memang berasal dari dalam kotak kayu.

Aku membuka ikatan pita dan membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel yang dibungkus bahan pelindung. Ponsel itu menyala, menandakan adanya panggilan masuk. Hanya itu isi di dalam kotak.

“Itu apa?”

“Pemberian dari Ryūzōji-san,” jawabku singkat, lalu mengeluarkan ponsel itu. “Aku angkat, ya.”

Kirigiri mengangguk.

Di layar LCD tertera tulisan ‘Nomor Tidak Dikenal’.

Aku menekan tombol jawab.

“—Halo?”

“Selamat siang, bagaimana perasaanmu?”

Aku mengenali suara gentleman itu.

“Ryūzōji-san?”

“Jawaban yang tepat. Sepertinya kau sudah membuka surat tantangannya. Pasti kau sedang terkejut dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya.”

“Bukankah hal seperti ini tidak bisa disebut adil?”

Aku berkata dengan nada tajam. Aku juga mengubah ponsel ke mode speaker agar Kirigiri bisa mendengar percakapan itu.

“Hehe… ini tetaplah ‘Tantangan Hitam’ yang adil. Bahkan bisa dibilang ini terlalu menguntungkan bagimu,” suara Ryūzōji terdengar seolah menikmati situasi ini. “Fakta bahwa aku menghubungimu seperti ini saja sudah merupakan pengecualian dari pengecualian.”

“Ada perlu apa denganku?”

“Ada tiga hal yang ingin kusampaikan. Pertama, dalam ‘Tantangan Hitam’ kali ini, informasi dari kepolisian akan menjadi sangat penting. Semua informasi yang didapatkan polisi sudah kuatur agar bisa kau bagi dengan bantuan Lico. Kau bisa mengandalkannya kapan pun.”

Ternyata ini maksud dari dukungan yang ia sebutkan.

“Baik. Berapa nomor kontaknya?”

“Sudah terdaftar di ponsel itu. Gunakanlah dengan bebas. Biaya telepon aku yang tanggung.”

Ryūzōji tertawa, hehe…, seolah itu adalah lelucon.

Sama sekali tidak lucu.

“Kedua. ‘Tantangan Hitam’ kali ini disutradarai dan diproduseri olehku, Ryūzōji Gekka. Dengan kata lain, ini adalah tantangan dari dua belas pelaku, sekaligus tantangan dariku. Aku ingin kau menganggapnya begitu.”

“—Baik.”

“Maka dari itu, aku ingin menetapkan syarat kemenangan dan kekalahan untuk pertarungan kita.”

“Baik… Eh?”

Pertarungan kita?

Aku akan bertarung melawan detektif kelas Triple-Zero?

“Jika kau berhasil menyelesaikan atau mencegah semua kasus dalam batas waktu, kau menang. Tapi, jika ada satu saja kasus yang tidak bisa kau selesaikan, kau kalah. Bagaimana?”

“Itu namanya bukan pertarungan! Jelas-jelas ini tidak menguntungkan di pihakku!”

“Namun—” Ryūzōji melanjutkan, mengabaikan protesku. “Jika aku kalah, aku akan mundur dari Komite Penyelamat Korban Kejahatan.”

“Mundur? Maksudnya keluar dari Komite?”

“Benar. Jika aku, kreator utama, mundur, Komite akan merasakan kerugian sebesar kehilangan salah satu lengan. Itu adalah kondisi yang pasti kau inginkan.”

“Jika aku kalah?”

“Tidak ada apa-apa. Sekalipun kau kalah, kau hanya akan kembali ke medan perang. Jika harus disebut penalti, mungkin itulah penalti bagimu. Selama kau seorang detektif, pertarunganmu akan terus berlanjut.”

Syarat kemenangannya memang berat, tetapi ini bisa disebut game tanpa risiko namun menawarkan imbalan besar. Justru karena itu, rasanya ada sesuatu yang janggal…

Aku melirik Kirigiri, meminta konfirmasi.

Dia mengangguk pelan tanpa berkata-kata.

Tekadku sudah bulat.

“Baik. Aku terima tantangan itu.”

“Bagus, itulah detektif yang kuharapkan.”

Lagi pula, aku tidak bisa mundur lagi.

Aku harus melakukannya.

“Apa hal ketiga yang ingin Anda sampaikan?”

“Kau tahu Mikagami Rei?”

Aku tersentak mendengar nama itu.

“Aku pernah melihat berkasnya.”

“Kalau begitu, pembicaraan akan lebih cepat. Sudah dikonfirmasi bahwa Mikagami Rei, yang menghilang setelah terakhir kali dikonfirmasi keberadaannya di Fairbanks, Alaska, setahun yang lalu, sudah kembali ke negaranya.”

“…Itu berarti Anda dan yang lain juga tidak tahu di mana Mikagami Rei berada selama ini?”

“Sayangnya, bagi kami pun, Mikagami Rei tetaplah ‘GHOST IN THE MIRROR’ yang tidak diketahui identitasnya. Informasi kembalinya ia kami dapatkan dari mengurai fakta bahwa ada beberapa organisasi yang masuk ke negara ini dari negara lain secara bersamaan.”

“Aku kurang mengerti maksudnya…”

“Mikagami Rei diburu oleh berbagai organisasi di seluruh dunia. Polisi, intelijen, pasukan khusus, militer, pembunuh, detektif, mafia, preman… Intinya, orang-orang yang ingin memanfaatkan bakatnya dan orang-orang yang tidak ingin bakatnya dimanfaatkan telah bersaing memperebutkan Mikagami Rei sejak beberapa tahun lalu. Di beberapa negara, seluruh negara membentuk tim khusus untuk menangkap Mikagami Rei. Dengan menyelidiki pergerakan tim-tim khusus itu, jejak Mikagami Rei perlahan-lahan terlihat.”

Pembicaraan ini terasa jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan. Selain itu, dari pembicaraan ini, Komite Penyelamat Korban Kejahatan tampaknya tertinggal cukup jauh.

“Nah, inilah inti pembicaraannya… Hari ini, kami mengetahui bahwa dua organisasi dan tiga pembunuh bayaran bergerak menuju Stasiun Meyura. Kami sudah mengonfirmasi bahwa mereka telah mengejar Mikagami Rei sejak beberapa waktu lalu. Tidak mungkin mereka semua berkumpul untuk piknik. Kau mengerti maksudku?”

“Ya.”

Mikagami Rei akan muncul di Stasiun Meyura—

Stasiun Meyura adalah stasiun terminal yang berada di tengah kawasan perbelanjaan. Dan letaknya tidak terlalu jauh dari sini. Aku sering pergi ke sana untuk membeli pakaian saat musim diskon.

Maksudnya, tawar-menawar yang memengaruhi keseimbangan kekuatan dunia akan terjadi di tempat yang biasa kupakai untuk menentukan panjang celana pendekku? Sulit membayangkan hal yang luar biasa di tengah pemandangan yang biasa saja. Itu terlalu jauh dari kenyataan. Pembunuh bayaran?

“Ada baiknya kau juga pergi ke stasiun. Siapa tahu kau bisa bertemu hantu itu. Komite juga sudah mulai bergerak.”

Eh?

Komite tidak tahu identitas Mikagami Rei, dan juga tidak bisa melacak keberadaannya. Mungkinkah itu berarti…

“Mikagami Rei bukan anggota Komite?”

“Jika dia anggota, aku tidak akan menceritakan hal ini kepadamu sejak awal.”

Mikagami Rei bukan musuh!

Ini benar-benar kabar baik. Itu berarti kekuatan musuh sekitar tiga puluh persen lebih rendah dari yang diperkirakan. Jika dengan ini aku berhasil menjatuhkan Ryūzōji Gekka dari Komite, secara efektif kekuatan lawan akan berkurang setengahnya.

“Tapi, mengapa Anda memberitahuku bahwa Mikagami Rei akan muncul?”

“Semata-mata demi permainan yang adil. Saat ini, kau pasti sangat membutuhkan sebanyak mungkin sekutu, bukan? Ngomong-ngomong, mengumpulkan sekutu untuk membantu penyelidikan bukanlah kecurangan. Kumpulkanlah sebanyak yang kau mau.”

Dia tahu segalanya, ya.

“Memang, Mikagami Rei adalah sosok penyendiri. Belum tentu dia bisa kau jadikan sekutu. Atau sebaliknya, ada kemungkinan dia setuju dengan ideologi Komite kami dan bergabung dengan pihak ini. Dalam artian itu, perebutan Mikagami Rei bisa disebut babak pertama dari ‘Tantangan Hitam’ kali ini.”

Mungkin yang dia katakan benar.

Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja hanya karena dia bukan musuh. Aku harus menjadikannya sekutu, meskipun itu akan memakan sedikit waktu. Terlepas dari apakah hal itu mungkin atau tidak…

“Itu saja yang ingin kusampaikan. Setelah ini, aku tidak akan pernah berinteraksi langsung denganmu lagi. Saat kita bertemu lagi, salah satu dari kita akan menjadi pemenang, dan yang lain akan menjadi pecundang.”

“Tunggu…!” Aku buru-buru menahan telepon yang hampir terputus. “Apa kita benar-benar harus bertarung? Apakah ini yang Anda inginkan, Ryūzōji-san?”

“Aku tidak menginginkannya. Jika bisa, aku ingin berbagi idealisme denganmu. Namun, waktu tidak bisa diputar kembali. Baik bagimu, maupun bagiku.”

Keheningan merambat dari ujung telepon.

Beberapa kata yang harus kuucapkan terlintas di benakku, tetapi pada akhirnya aku tidak bisa mengatakannya.

“Semoga ini menjadi pertarungan yang hebat.”

Setelah kata-kata itu, panggilan terputus.

Aku menghela napas berat.

“…Entah kenapa, masalahnya jadi besar sekali,” itu adalah kesan jujurku. “Situasi ini sudah terlalu di luar kendali bagi seorang detektif siswi SMA.”

“Ada aku, detektif siswi SMP, di sampingmu,” kata Kirigiri, seolah menyemangatiku. “Lebih dari itu, aku terkejut Yui Onee-sama bisa berbicara dengan Ryūzōji Gekka sealami itu. Kalian terlihat sangat akrab.”

“Apa itu terdengar seperti obrolan akrab bagimu? Tanganku gemetar sepanjang waktu… Ah, jangan-jangan kau cemburu?”

“Sama sekali tidak cemburu. Tidak ada yang cemburu.”

“Oh, ya?”

“Tapi, setidaknya kita melihat sedikit harapan. Kita harus menghubungi Mikagami Rei sesegera mungkin.”

Harapan… ya.

Bisakah Mikagami Rei benar-benar menjadi harapan?

Lagi pula, mampukah kami menghubungi Mikagami Rei, setelah berhasil mengelabui badan intelijen dan pembunuh bayaran dari berbagai negara?

“Untuk sekarang, mari kita coba pergi ke Stasiun Meyura. Sebelumnya… Kirigiri-chan mau kembali ke rumah sebentar?”

“Tidak.”

Kirigiri menggelengkan kepala.

“Tapi kau hanya punya seragam dan blus itu, kan? Untuk mengambil baju ganti—”

“Tidak perlu. Cepat siapkan dirimu untuk pergi.”

“K-Kenapa kau begitu ngotot?”

Saat itu, seolah menyela percakapan kami, ponsel di tanganku berdering lagi.

Aku melihat layar LCD dan tertera ‘Panggilan Masuk: Licorne’. Aku menekan tombol jawab.

“Halo?”

“Samidare Yui-san? Kamu cepat sekali mengangkat telepon. Apakah kamu sudah menerima penjelasan dari Ryūzōji?”

“Benar.”

“Kalau begitu, aku akan mempersingkat penjelasan. Aku diperintahkan oleh Ryūzōji untuk pergi ke Stasiun Meyura. Mari kita bertemu di sana.”

“Kau disuruh mengawasiku?”

“Aku akan menunggu di bawah salju.”

Panggilan terputus.

Aku sedikit kesal, tetapi aku menahan diri untuk tidak melempar ponsel karena frasa terakhirnya tadi terasa begitu indah.

Bagian 2

Pada akhirnya, aku meninggalkan asrama dengan seragam sekolahku yang biasa. Padahal, aku ingin tampil modis karena akan berjalan-jalan di kota bersama Kirigiri, namun karena ‘Tantangan Hitam’ sudah dimulai, aku tidak bisa bersikap terlalu santai. Waktu yang tersisa untuk permainan hidup dan mati ini terus berkurang setiap menit dan detik. Oleh karena itu, aku memilih pakaian pertempuranku: yang mudah digerakkan dan biasa kupakai.

Lima stasiun dengan kereta. Aku dan Kirigiri duduk bersebelahan di kursi, memandangi pemandangan yang terlihat dari jendela di seberang kami. Salju tipis menyelimuti jalanan, dan butiran salju kecil berjatuhan.

“Kalau kita terus naik kereta ini, kita akan sampai di laut.” 

Saat aku mengatakan itu, Kirigiri menoleh ke arahku dengan bingung.

“Ayo kita pergi ke laut bersama saat musim panas tiba.”

Kirigiri tampak terkejut, lalu mengangguk pelan sambil menunduk. Namun, ekspresinya terlihat muram, seolah dia tidak yakin hari seperti itu akan datang. Saat aku tersenyum, dia memalingkan wajahnya dengan canggung.

Kami turun dari kereta dan menuju tempat pertemuan.

Karena ini siang hari kerja, suasana tidak terlalu ramai. Di depan monumen berbentuk kristal salju yang berada di depan stasiun, seorang anak laki-laki dengan dasi dan rompi berdiri sambil memegang payung hitam pekat.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Ketika aku mendekat, dia menundukkan kepala. Dia tetaplah anak laki-laki yang cantik nan halus, bak peri. Seperti biasa, ia menyampirkan jasnya di lengannya. Apakah dia tidak kedinginan?

Kirigiri mengintip anak laki-laki bernama Licorne itu, bersembunyi di balik punggungku.

“Temanku ikut, tidak apa-apa?”

Kataku, sambil menunjuk Kirigiri.

“Tidak masalah,” kata Lico sambil tersenyum misterius. “Mari kita bicara sambil berjalan. Bagaimana kalau kita berbelanja?”

“Bagus!”

“Yui Onee-sama,” Kirigiri menarik ujung bajuku dari belakang. “Kau terlalu bersemangat.”

“Bukan, ini penyamaran.”

Kami mengikuti Lico. Lico masuk ke pusat perbelanjaan yang terhubung dengan gedung stasiun. Kami menyusuri lantai yang hangat, dan menaiki eskalator, menuju lantai atas.

“Apa kau tahu secara spesifik kapan dan di mana Mikagami Rei akan muncul?”

Aku memanggil punggung kecil Lico.

“Aku hanya diperintahkan untuk pergi ke stasiun,” jawabnya, tetap menghadap ke depan.

“Oh… Kalau begitu, kita sedang menuju ke mana sekarang?”

“Lantai tiga, bagian pakaian wanita.”

“Apa Mikagami Rei ada di sana?”

“Tidak. Aku hanya berpikir Yui-san pasti ingin ke sana.”

“Kau ini… sangat perhatian, ya.”

“Yui Onee-sama” Kirigiri menyikut punggungku. “Berhenti bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Aku serius ingin mencarikan pakaian yang cocok untukmu.”

“Aku mau pulang.”

Kirigiri berbalik dan mencoba pergi. Namun, karena kami berada di eskalator, ia hanya menghentakkan kakinya beberapa langkah di tempat. Dia pun menyerah dan naik ke lantai tiga, dengan wajah cemberut membelakangiku.

Aku meraih tangannya dan menariknya berjalan.

“Mengenai identitas Mikagami Rei, rumor begitu cepat menyebar sehingga tidak ada yang tahu mana yang benar. Ada juga yang berpendapat bahwa keberadaannya sendiri hanyalah legenda urban.” 

Lico tiba-tiba mulai bicara sambil berjalan di lorong bagian pakaian wanita. Pelanggan lain sibuk memperhatikan barang dagangan dan tidak tertarik pada kami. Mungkin ‘penyamaran’ yang kukatakan tidak sepenuhnya salah.

“Aku punya ide, bagaimana dengan ‘Teori Multi-Mikagami Rei’?” Kataku spontan. “Seperti Ellery Queen yang ternyata nama gabungan dua orang… atau mungkin seperti Michael Slade, yang merupakan tim berisi beberapa orang—”

“Tidakkah menurutmu baju ini akan cocok untuk Kyōko-san?”

Lico masuk ke toko brand tanpa mendengarkan perkataanku.

“Hei, kau, dengarkan aku—Ah, bagus! Baju itu! Kirigiri-chan, coba pakai!”

Aku mengambil gaun biru muda. Warna langit musim semi. Bagian dada dihiasi renda dan pita. Karena warna yang terlalu cerah tidak cocok untuknya, aku akan memadukannya dengan kardigan berwarna kalem…

“Kekanak-kanakan.” 

Kirigiri berkata dengan nada tercengang, sambil menatap pakaian yang kusempatkan di dadanya.

“Kau ini ngomong apa sih, kau ini kan memang masih remaja, tidak mungkin tidak cocok. Hmm… Tapi, mungkin akan lebih baik jika sedikit lebih dewasa…”

“Aku sudah cukup dengan seragam.”

“Kau tidak bisa memakai seragam seumur hidup. Bagaimana menurutmu, Lico? Berikan pendapat pria.”

“Gaun yang manis itu bagus, tapi aku rasa perlu sedikit lebih berkelas.”

“Kau mengerti dengan baik! Aku juga berpikir begitu.”

“Kaus bergambar binatang lucu seperti kucing atau beruang mungkin juga cocok secara mengejutkan.”

“Ah! Itu dia!”

“Mari kita lihat toko lain.”

Karena Lico sudah melangkah keluar dari toko, aku segera mengikutinya sambil menarik lengan Kirigiri. Wajah Kirigiri sudah pasrah.

“Dua organisasi yang mengejar Mikagami Rei kali ini adalah badan intelijen Tiongkok dan tim peneliti ilmiah di bawah militer Rusia.”

Lico kembali memulai pembicaraan serius secara tiba-tiba. Bagi kami, situasi luar biasa mungkin tidak lagi berada di balik kehidupan sehari-hari, melainkan berjalan secara paralel.

“Kau tahu banyak sekali.”

“Memang tugasku untuk menyampaikan informasi detail,” Lico berbalik dan tersenyum polos. “Kedua organisasi masing-masing terdiri dari dua non-kombatan. Mereka tidak membawa senjata saat beroperasi di negara lain, jadi tingkat bahayanya rendah. Khususnya tim Rusia, mereka bukan tentara, melainkan peneliti yang mengembangkan prajurit dengan kemampuan psikis, jadi tampaknya mereka hanyalah peneliti okultisme biasa.”

Aku melihat sekeliling. Sepertinya tidak ada pelanggan yang terlihat seperti orang Rusia. Hanya ada wanita-wanita yang berjalan dengan wajah bahagia sambil menenteng banyak tas belanja.

“Masalahnya, pasti ada pada tiga pembunuh bayaran itu, alih-alih mereka.”

Lico mengucapkan kata-kata mengerikan itu dengan ekspresi wajah yang tidak berubah sama sekali.

Pembunuh bayaran—

Kami akan melangkah ke tempat mereka berada. Untuk mendekati Mikagami Rei, kami tidak akan bisa mengabaikan mereka.

“Pembunuh bayaran pertama dijuluki ‘Copycat’—kebangsaan tidak diketahui, jenis kelamin perempuan. Dia adalah seorang pembunuh bayaran yang ahli meniru kejahatan. Dia meniru persis kasus pembunuhan berantai yang belum terpecahkan di negara atau negara bagian tempat target tinggal, lalu membunuh target. Artinya, dia mengalihkan kecurigaan dari dirinya sendiri dan kliennya dengan melemparkan mayat target ke dalam rangkaian pembunuhan berantai yang tidak berhubungan. Dengan metode ini, banyak pekerjaannya dianggap sebagai ulah pembunuh berantai lain. Namun, karena metode ini tidak memungkinkan pembunuhan yang mencolok, tindakannya sangat hati-hati dan tidak menggunakan cara yang terlalu agresif.”

Informasi keluar bertubi-tubi seolah dia sedang mencari di komputer. Penampilan Lico memang sudah tidak seperti manusia biasa, tapi kemampuan pemrosesan informasinya juga luar biasa.

Kami menaiki satu lantai lagi menggunakan eskalator. Lantai ini juga bagian pakaian wanita.

Di tengah pemandangan yang biasa saja, percakapan yang tidak masuk akal terus berlanjut.

“Pembunuh bayaran kedua adalah ‘Night Flyer’. Konon dia orang Rumania bertubuh kecil, tapi kebenarannya tidak diketahui. Metode pembunuhannya standar: mendekati target dan menembak dengan pistol berperedam. Dia bisa dibilang sangat tergesa-gesa dan agresif. Dia mendapat julukan itu karena ia sering terlihat melarikan diri dengan pesawat pribadinya dari bandara terdekat setelah menyelesaikan pekerjaan.”

“Apakah pembunuh bayaran itu dan pembunuh bayaran yang tadi kau sebutkan pertama adalah sekutu?”

“Tidak, tampaknya mereka semua beraksi sendiri-sendiri. Bagi mereka, mereka adalah pesaing yang memiliki target yang sama, jadi akan lebih baik jika mereka saling bertemu dan saling menghabiskan tenaga.”

“—Dan yang ketiga?”

“Kebangsaannya Jepang. Dia tidak memiliki julukan khusus, tapi dia adalah mantan ‘Siswa Super SMA Rock Climber’ dari Akademi Kibougamine, Hitomoshi Tsurugi. Setelah lulus, ia menjadi terkenal dengan menaklukkan berbagai tebing di luar negeri, tapi pada suatu titik, ia mulai melakukan pendakian bergaya performance pada bangunan bersejarah seperti Menara Eiffel dan Angkor Wat, dan akibatnya ia dikeluarkan dari industri itu. Sekarang, memanfaatkan bakatnya itu, ia dikenal oleh penduduk dunia bawah sebagai pembunuh bayaran yang bisa muncul di mana saja hanya dengan satu jari, dan membunuh siapa saja hanya dengan satu jari. Kabarnya, dia bisa membengkokkan laras senapan hanya dengan satu tangan. Ada juga laporan bahwa dia pernah meremas jantung seorang polisi yang mengenakan rompi antipeluru, langsung dari balik pakaiannya.”

Pembunuh bayaran lulusan sekolah elite, ya. Benar-benar kumpulan orang-orang yang luar biasa.

Aku merasa kasihan pada Mikagami Rei yang terus-menerus diburu oleh orang-orang semacam itu. Apakah seorang detektif hebat, jika bakatnya terlalu berlebihan, akan menjadi alat untuk intrik dan perebutan kekuasaan? Sama seperti penculikan dan pembunuhan ilmuwan yang terjadi di berbagai negara saat Perang Dunia karena perebutan pengembangan senjata.

Jika demikian, Kirigiri Kyōko juga mungkin suatu hari akan dijadikan alat oleh seseorang. Atau, bahkan mungkin sudah…

Sambil berjalan di lorong lantai itu, Lico kembali membuka mulut, seolah sedang membicarakan cuaca.

“Ngomong-ngomong, sebelum aku bertemu dengan kalian berdua, aku menyaksikan seorang wanita yang tampak seperti ‘Copycat’ masuk ke pusat perbelanjaan ini.”

“Eh?”

Aku tiba-tiba merasakan niat membunuh dan langsung siaga.

Tidak ada orang mencurigakan di sekitar.

Hanya para wanita penjaga toko dengan pakaian modis yang tampak sibuk, seperti biasa.

“Kenapa tidak bilang dari tadi! Seperti apa penampilannya?”

“Dia mengenakan mantel bertudung merah, seperti Little Red Riding Hood. Rambutnya pirang dan dia membawa tas koper.”

TN Yomi: "Little Red Riding Hood" adalah judul dongeng klasik Prancis tentang seorang gadis kecil dan seekor serigala besar yang jahat.

“Penampilan yang cukup mencolok, ya. Sepertinya mudah dikenali dari jauh. Kalau melihatnya, kita harus hati-hati agar tidak mendekat.”

“Onee-sama, kalau begitu kita tidak akan bisa sampai ke tempat Mikagami Rei berada,” kata Kirigiri. “Kita harus membuntutinya segera setelah menemukannya. Kita tidak bisa menghindari bahaya jika ingin maju—bukan begitu?”

“Memang begitu, tapi…”

Apakah ini jalan yang harus ditempuh, meski harus mengambil risiko?

Lagipula, kami bahkan tidak yakin apakah Mikagami Rei ada di ujung jalan itu. Semuanya terasa begitu samar, benar-benar seperti upaya menangkap hantu di cermin.

“Yui-san.”

Lico tiba-tiba berhenti.

“A-Ada apa? Pembunuh bayaran datang?”

“Bagian baju renang ada di sana,” 

Lico menunjuk ke ujung lorong.

“Bagus, Nak!”

Aku menarik Kirigiri dan hendak berlari.

Namun, aku terpaksa menghentikan langkahku.

Saat itu, seolah menyelinap di antara toko-toko—

Si tudung merah melintas di depan mataku.

Aku menatap Lico, seolah meminta konfirmasi.

Lico mengangguk.

Tidak salah, itu tadi ‘Copycat’.

Kami mengikutinya dengan santai. Untungnya ada beberapa pelanggan berjalan di lorong, dan kami berhasil membuntuti dengan memanfaatkan kerumunan orang.

Si Tudung Merah tampaknya tidak menyadari kehadiran kami. Dia menarik tas kopernya dengan tangan kanan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan sangat ramping. Tangan yang memegang tas terlihat putih. Mungkinkah dia orang Kaukasia? Pakaian yang ia kenakan lebih menyerupai ponco daripada mantel, dan tudungnya memiliki dua tonjolan menyerupai telinga kucing. Meskipun tudung itu menutupi kepalanya, rambut pirangnya yang menyebar dan bergoyang terlihat jelas dari belakang.

“Untuk ukuran pembunuh bayaran, dia cukup mencolok, ya. Dan dia jauh lebih rapuh dari yang kukira.”

Aku berbisik pada Lico.

“Kekuatan fisik tidak diperlukan untuk membunuh seseorang.” kata Lico dengan wajah bak malaikat.

Setelah membuntuti ‘Copycat’ sebentar, dia berbelok di lorong, mendorong pintu bertuliskan ‘Khusus Karyawan’, dan masuk ke dalamnya.

Kami mengejarnya dan mendekati pintu.

“Tangga yang digunakan karyawan, ya. Mau ke mana dia?”

Aku meletakkan tangan di pintu.

“Tunggu,” Kirigiri meraih tanganku. “Aku punya firasat buruk.”

“Langkah Kaki Dewa Kematian, ya? Tenang, aku tidak akan terlalu jauh membuntutinya. Lebih baik kita pastikan dia naik atau turun.”

Aku perlahan mendorong pintu hingga terbuka.

Saat celah pintu terbuka, sebuah lengan ramping melesat keluar dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Gya!”

Aku langsung terseret masuk ke balik pintu.

Itu adalah bordes tangga yang remang-remang. ‘Copycat’ berada tepat di samping pintu dan menahanku dari belakang. Di sisi ini, yang hanya dipisahkan satu pintu, terasa sepi, dingin, dan pengumuman toko terdengar samar seperti halusinasi.

Seharusnya aku menuruti peringatan Kirigiri.

Benda tajam ditempelkan di leherku.

Sambil mengangkat kedua tangan agar tidak melawan, aku melirik ‘Copycat’. Dia memiliki wajah pucat seperti gadis cantik dari Nordik atau Alpen, dan memakai kacamata tebal dengan lensa yang sangat tinggi. Dia berdandan tipis, seolah menutupi bintik-bintik di wajahnya. Melihat ujung alisnya yang turun dengan cemas, dia memberikan kesan sebagai orang yang agak pemalu. 

Apakah tonjolan telinga kucing itu karena dia ‘Copycat’? Atau dia hanya seorang cosplay otaku di luar negeri?

Wanita itu mengucapkan sesuatu dalam bahasa asing, sambil menarikku agar lebih mudah menahan.

Saat itulah, Lico membuka pintu dan bergegas masuk.

“Kamu baik-baik saja, Yui-san?”

“T-tidak masalah…” Aku mencoba bersikap tegar meski masih tertahan. “Kau mengerti apa yang dia katakan?”

“Dia bertanya ‘siapa kalian’?”

Lico mulai berbicara dengan ‘Copycat’. Aku tidak tahu bahasa apa yang mereka gunakan, tapi suara ‘Copycat’ berangsur-angsur menjadi lebih tenang. Hebat, Lico. Senyumnya pasti memiliki efek menenangkan.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

—Kirigiri tidak ada.

“Hei, di mana Kirigiri-chan?”

Aku menyela percakapan Lico dan si pembunuh bayaran untuk bertanya. Namun, keduanya tidak menghiraukan kata-kataku. Percakapan mereka tampak semakin seru.

Aku ini sandera, tapi kenapa rasanya aneh terasingkan…

“Memangnya kalian sedang membicarakan apa?”

“Dia bertanya, ‘siapa komikus favoritmu?’ Hmm, kalau aku—”

“Kenapa malah basa-basi!”

Apakah Lico akan berhasil membujuknya?

Tidak… dia adalah pembunuh bayaran. Apalagi, dia berada dalam posisi di mana dia bisa membunuhku kapan saja jika dia mau. Meskipun akhir-akhir ini aku sial terus, ini adalah pengalaman pertamaku ditangkap oleh pembunuh bayaran dan dijadikan sandera.

Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak bisa ilmu bela diri, dan aku tidak punya senjata.

Aku ingin berdoa kepada Tuhan—

Tapi aku memutuskan untuk berdoa kepada Kirigiri Kyōko saja.

Tolong aku, Kirigiri-chan!


—Klak.


Di tengah percakapan Lico dan si pembunuh bayaran, tiba-tiba terdengar suara logam berdentang dari belakang.

‘Copycat’ pun menyadari keanehan itu dan menoleh.

Saat itu juga, semuanya sudah berakhir.

Di pergelangan tangan ‘Copycat’—lengan yang tidak menahanku—sebuah borgol telah terpasang entah sejak kapan.

Di ujung rantai borgol itu terpasang tas kopernya. Borgol yang lain terpasang di pegangan tas koper itu.

Dan di balik tas—di tempat yang sedikit lebih rendah dari bordes tangga, Kirigiri Kyōko sudah berdiri entah sejak kapan. Dia saat ini sedang bersiap menarik tas koper itu jatuh dari tangga.

‘Copycat’ berteriak dan berusaha meraih tas koper. Karena lengannya mengejar tas, cengkeramannya padaku terlepas.

Detik berikutnya, tas koper itu mulai berguling menuruni tangga.

Dan ‘Copycat’, yang terhubung dengan borgol, juga ikut terseret jatuh bersama tas itu. Ternyata tas itu lebih berat dari yang diperkirakan. Si Tudung Merah bertelinga kucing yang ramping dan gesit itu langsung terseret ke bordes bawah.

Dia berguling dengan suara keras, lalu menabrak dinding bordes di lantai bawah.

Dia mengerang, terbaring lemas di lantai.

“Yui Onee-sama, kau baik-baik saja?”

Kirigiri bergegas menghampiriku.

“Y-ya… Kau, sejak kapan ada di belakang?”

“Aku hanya memutar dari bawah, menggunakan tangga di area penjualan.”

Kirigiri berkacak pinggang dan membusungkan dada.

Kali ini pun aku diselamatkan oleh kecerdikan Kirigiri. Entah sudah berapa kali aku kehilangan nyawa jika bukan karena dia.

Sebuah pulpen tergeletak di kakiku. Rupanya, inilah yang tadi ditempelkan di leherku.

Kami berdua menuruni tangga dan mengepung ‘Copycat’. Meskipun dia tidak kehilangan kesadaran, dia terbaring tak bergerak karena benturan di sekujur tubuhnya.

Saat kami memeriksa isi tas, selain buku kliping koran tentang pembunuhan berantai dan beberapa buku tentang kasus yang belum terpecahkan, tas itu juga penuh dengan tumpukan majalah komik Jepang dan doujinshi tipis. Pantas saja berat. Ada beberapa paspor, dan kami tidak tahu mana yang asli. Bahkan, mungkin semuanya palsu.

Di antara barang-barang miliknya, tidak ada yang terlihat seperti senjata. Pulpen itu tampaknya satu-satunya senjatanya.

“Dia membunuh target setelah menyusun rencana yang matang. Hari ini, dia hanya berniat mengonfirmasi target, dan belum ada rencana untuk membunuh,” kata Lico.

“Syukurlah dia pembunuh bayaran yang ‘berbudaya’ (bukan tipe fisik).”

“Perlukah kita memberinya pukulan terakhir?”

“T-tidak, tidak usah melakukan hal seperti itu,” kataku buru-buru.

“Kamu yakin? Jika dia hidup, seseorang yang tidak bersalah akan dibunuh lagi. Bagaimanapun, dia adalah seorang pembunuh bayaran.”

“Tujuan kita berbeda, kan? Kita sedang mengejar Mikagami Rei.”

Lico menatapku selama beberapa detik, namun tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.

“Di antara barang-barang miliknya, tak ada dokumen tentang Mikagami Rei,” kata Kirigiri sambil berdiri di samping tas itu.

“Lico, apa kau berhasil mendapatkan informasi darinya?”

“Dia tampaknya tidak tahu apa-apa tentang latar belakang Mikagami Rei. Dia bilang dia datang ke sini hari ini karena mendapat informasi bahwa target akan muncul di atap pusat perbelanjaan ini pada pukul empat sore.”

“Itu informasi yang hebat!” 

Mikagami Rei akan muncul pukul empat sore!

Aku mengecek waktu di ponsel. Pukul 3:50 sore—

“Wah, kita kehabisan waktu!”

“Bagaimana kalau kita langsung naik tangga ini ke atap?” kata Lico tanpa menunjukkan kepanikan.

Atap itu tampaknya berada di atas lantai sembilan. Meskipun akan cukup sulit untuk berlari dari sini, kami pasti bisa sampai sebelum waktunya.

“Ayo kita pergi, Kirigiri-chan.”

“Tunggu sebentar,” Kirigiri berjongkok di samping ‘Copycat’ dan melepaskan borgolnya.

“Sedang apa kau?”

“Aku mengambil kembali borgolnya. Ini barang kenang-kenangan.”

“Ah, borgol yang waktu itu…”

Kirigiri menyimpan borgol itu di saku seragamnya. Ternyata dia menyembunyikannya di sana.

Bagian 3

Kami meninggalkan ‘Copycat’ di tempat itu dan bergegas menaiki tangga.

Dari lantai 4 ke 4, dari 4 ke 6…

Namun, ketika kami sampai di lantai enam, tiba-tiba terdengar bunyi alarm dari suatu tempat.

Kami spontan menghentikan langkah dan saling pandang.

“Alarm kebakaran…?”

“Mari kita kembali ke lantai penjualan.”

Kami membuka pintu dan masuk ke lantai 6 untuk mengamati keadaan. Itu adalah lantai tempat dijualnya perlengkapan tidur dan peralatan rumah tangga. Pegawai toko dan pelanggan menjadi gempar karena alarm yang tidak berhenti berbunyi. Namun, kekacauan belum sampai pada tingkat panik.

Tidak lama kemudian, terdengar pengumuman dari public address.

“Kami baru saja mengonfirmasi adanya kebakaran di area restoran. Para pelanggan dimohon untuk mengikuti instruksi staf terdekat dan segera mengungsi dengan tenang. Kami ulangi…”

Suasana di seluruh lantai mulai terasa tegang. Suara-suara yang mendekati teriakan mulai terdengar, dan langkah kaki yang tergesa-gesa juga terdengar.

“Gunakan pintu darurat ini!”

Seorang pegawai toko berseru. Para pelanggan tampaknya sudah menyadari situasi darurat. Mereka berbondong-bondong menuju pintu darurat.

“Menurutmu bagaimana?”

“Alarm kebakaran pada waktu seperti ini, kurasa tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan masalah Mikagami Rei.”

Kirigiri berkata dengan ekspresi tenang.

“Masalahnya, siapa yang sengaja melakukannya, apakah yang mengejar atau yang dikejar.”

“Pokoknya, mari kita pergi ke atap dan memeriksanya.”

Kami berjalan melawan arah instruksi para pegawai toko, menyelinap melewati pandangan mereka, menuju pintu ‘Khusus Karyawan’. Sudah jarang terlihat orang, dan evakuasi tampaknya berjalan lancar. Pemandangan di mana orang-orang berangsur-angsur menghilang dari lantai yang biasanya ramai dengan pembeli memiliki nuansa menyeramkan yang khas, seolah akhir dunia sudah dekat.

Kami membuka pintu menuju tangga.

Saat hendak meninggalkan lantai itu, seseorang memanggil kami dari belakang.

“Kalian, arah sana bukan jalur evakuasi!”

Aku menoleh. Sekitar sepuluh meter di lorong, seorang satpam berdiri. Mungkinkah dia mengejar kami setelah menyadari kehadiran kami? Dia menatap kami dengan pandangan curiga.

“Kalian mau ke mana? Cepat mengungsi!”

“I-Iya, anu, kami pikir lewat sini mungkin lebih cepat…”

Aku menjawab dengan gagap.

“Arah sana berbahaya, kemari kalian.”

Dia memberi isyarat tangan, dan aku dengan enggan menjauh dari pintu.

Namun, Kirigiri dan Lico tidak langsung menuruti perintahnya.

“Apa kalian tidak mengerti kalau aku bilang berbahaya?” 

Suara satpam itu menjadi lebih mengancam.

“M-Maaf, kami akan ke sana sekarang. Ayo, Kirigiri-chan.”

“Yui Onee-sama, jangan pergi ke sana.”

“Eh?”

“Baik, time up! Anak yang tidak patuh akan mendapatkan penalty!!

TN Yomi: dari raw nya emg pke eng

Satpam itu memutar lengannya ke belakang dan mengeluarkan sesuatu dari punggungnya.

Itu bukanlah senter atau walkie-talkie

Melainkan pistol.

“Die!”

Moncong pistol dengan peredam berbentuk silinder diarahkan ke kami.

Namun, yang mengejutkan, Lico bergerak lebih dulu sebelum pelatuk ditarik.

Lico melempar payung yang tadinya ia letakkan di lantai, mengayunkannya ke atas.

Payung itu menjadi tombak hitam berkat gaya sentrifugal, menyerang satpam itu.

Namun, ujung payung itu tidak mengarah ke tubuh pria itu, melainkan ke moncong pistol.

Ujung payung menancap tepat di peredam suara.

Tepat di tengah sasaran, bull’s-eye!

Sudah jelas, tidak mungkin menarik pelatuk saat payung menancap di moncong pistol, dan bahkan sulit baginya untuk memegang pistol dengan satu tangan. Dia mencoba mencabutnya, tetapi tidak berhasil. Pria itu mengumpat dalam bahasa asing dan melempar pistolnya.

Saat itu juga—sosok Lico telah menghilang dari hadapan pria itu.

Lico sudah berada di belakang pria itu dan dengan mudah memelintir lengan kanannya ke atas. Dan tanpa ragu sedikit pun, dia menekuk lengan kanan itu ke arah yang mustahil. Suara tulang patah terdengar jelas, bercampur dengan suara alarm kebakaran.

Satpam itu berlutut, mengeluarkan jeritan serak tak berbentuk, dan ambruk telungkup.

Lico tidak menunjukkan belas kasihan, menginjak leher pria itu dari belakang dan melumpuhkannya sepenuhnya. Di bawah tubuh anak laki-laki kecil itu, pria itu tidak bisa melawan sama sekali.

Namun, serangan Lico belum berhenti.

Dia mengeluarkan sebuah palu dari balik setelan jas yang disampirkan di lengannya. Itu bukanlah palu sederhana yang digunakan tukang kayu untuk memukul paku, melainkan palu yang seluruhnya terbuat dari bahan carbon steel, yang tampaknya dibuat sebagai senjata.

Dia mengayunkannya—

“Lico!”

Aku sontak meraih lengannya dan menghentikannya.

Lico menatapku dengan wajah bak peri yang tidak berubah sama sekali.

“Mengapa kamu menghentikanku?”

“Sudah cukup!”

“Tidak bisa begitu.”

“Kau mau membunuhnya?”

“Tidak mungkin. Aku tak akan melakukan itu,” Lico memutar palu di tangannya. “Aku hanya akan menghancurkan tenggorokan, mata, dan jari-jarinya.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Ini agar dia tidak bisa bicara apa-apa lagi, tidak bisa melihat apa-apa lagi, dan tidak bisa memegang apa-apa lagi, selamanya.”

“Kau tak perlu melakukan itu!”

“Yui-san, tenanglah. Kamu tak punya alasan untuk membela pria ini, kan?”

“Aku tidak membela orang ini. Aku tak mau kau melakukan hal seperti itu!”

“Aku juga tidak melakukannya karena ingin. Orang-orang seperti ini, jika tidak dilumpuhkan di sini, akan kembali untuk membalas dendam di kemudian hari dan itu merepotkan. Apa yang akan aku lakukan sama seperti menutup jendela sebelum badai topan datang.”

“Yes—bunuh saja aku sekalian,” pria yang terkapar di bawah Lico itu bersuara lantang. “Aku akan datang lagi berkali-kali. Lebih baik kau menancapkan pasak sekarang, daripada diganggu oleh si pembunuh di langit malam setiap malam.”

“Dia sendiri yang mengatakannya… Kalau begitu” 

Lico tersenyum dan mengangkat palunya lagi.

“Cukup sampai di situ.”

Suara Kirigiri menghentikan Lico.

Entah sejak kapan, dia telah mengarahkan pistol ke Lico. Peredam suara yang tertancap payung sudah dilepaskan dari moncong pistol dan tergeletak di sampingnya. Dia memegang grip pistol dengan kuat menggunakan kedua tangan, menekuk siku di depan dada tanpa meluruskannya, dan membidik. Pistol itu tampak besar dan berat di tangan seorang gadis SMP.

“Sudah hampir jam 4. Cepatlah kita naik.”

“Baik.”

Lico mengangkat kedua tangannya sedikit, lalu menyimpan palunya kembali ke dalam setelan jasnya, dan menyingkirkan kakinya dari leher pria itu.

Sepertinya dia sudah mau mengalah.

“Tapi, sebagai jaga-jaga, biarkan aku patahkan lengan kirinya juga.”

Sesuai dengan pernyataannya, Lico meraih pergelangan tangan kiri pria itu dan dengan sangat mudah memelintirnya hingga patah. Pria itu kembali menjerit. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.

“Kau… pendidikan macam apa yang kau dapatkan?” 

Aku menatap Lico dengan hati-hati.

“Orang tuaku meninggal lebih awal, jadi aku tidak mendapat pendidikan yang layak,” kata Lico sambil tersenyum manis. “Mimpiku adalah masuk universitas dan belajar tentang alam semesta.”

“Begitu…”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kirigiri mengambil lakban yang diletakkan di samping kasir di lantai itu dan melilitkannya untuk mengikat pria satpam itu.

Setelah itu, dia mulai memeriksa barang bawaannya. Dompet ada di saku, tetapi foto di SIM itu jelas bukan wajah pria di depan kami.

“Sepertinya dia mencuri satu set seragam dari satpam. Meskipun dia menyamar, jelas dia orang asing. Apa pria ini benar ‘Night Flyer’?” 

Kirigiri bertanya pada Lico.

“Aku tidak tahu. Mari kita tanyakan langsung padanya.”

Lico mendekati pria itu. Pria itu sedikit gemetar, tampak ketakutan.

“Apakah kamu ‘Night Flyer’?”

“No!”

Lico mengeluarkan palu dari balik setelannya.

“Yes! Yes!”

“Begitu katanya.” 

“Meskipun kau mengancamnya dan mendapatkan kesaksian, kita tidak tahu apakah itu bohong atau benar!” kataku dengan tercengang.

“Yui Onee-sama, waktu.”

“Ah, benar.” Aku mengecek jam di ponsel. “Tinggal satu menit lagi!”

“Ayo cepat.”

Kami meninggalkan ‘Night Flyer’ di tempat itu, dan menggunakan eskalator untuk langsung naik ke lantai sembilan dari lantai yang sudah sepi pengunjung.

Kami berlari melewati toko jam dan optik, lalu membuka pintu menuju atap.

Di luar, salju masih turun.

Begitu pintu terbuka, angin dingin menerpa dan mengacaukan kami. Atap itu berupa lapangan terbuka, tempat yang biasa digunakan untuk beer garden atau acara-acara lain saat musim panas. Namun, sekarang tempat itu diselimuti warna putih salju, seperti lembaran kertas kosong.

TN Yomi: Beer garden adalah area luar ruangan tempat bir dan makanan disajikan, seringkali dengan tempat duduk komunal di bawah naungan pepohonan. Konsep ini berasal dari Bavaria, Jerman, pada abad ke-19 dan kini populer di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai tempat bersosialisasi yang santai.

Ada beberapa jejak kaki yang berantakan di tanah. Namun, karena pelanggan bebas keluar masuk atap bahkan selama musim dingin, jejak itu tidak terlalu berguna.

Sejauh mata memandang, tidak ada siapa-siapa—

“Ada seseorang tergeletak di sana.”

Kirigiri menunjuk ke ujung lapangan, sambil menahan rambutnya yang berantakan tertiup angin.

Di balik bayangan balok bata di pot bunga, terlihat kedua kaki seseorang yang terbaring telentang. Dari sini hanya terlihat ujung kakinya, dan kami tidak tahu siapa dia.

Kami berjalan keluar dan melintasi lapangan terbuka itu. Awan salju terasa sangat dekat di atas kepala, seolah aku bisa menggapainya jika kuulurkan tangan.

Kami berputar mengitari pot bunga.

Yang tergeletak di sana bukan hanya satu, melainkan empat orang.

Dua pria Asia berpenampilan seperti pegawai kantoran berjas, dan dua pria yang tampak seperti orang Rusia dengan mantel serta celana panjang lusuh, yang jauh dari kata modis.

Mereka tergeletak di sekitar pagar, dalam posisi meliuk dan terpelintir seolah sedang menari. Di balik pagar adalah kehampaan, dengan pemandangan kota abu-abu di bawah.

Kirigiri berjongkok di samping pria Rusia dan menyentuh lehernya.

“Mereka sudah meninggal.”

“Bohong… Sudah meninggal?” Aku meraih pergelangan tangan pria yang terbaring itu. “Tidak ada denyut nadi, tapi tubuhnya masih sedikit hangat.”

“Pukul berapa sekarang?”

“Pukul empat lewat lima menit.”

Waktu yang dijadwalkan sudah terlewat.

Apakah semuanya sudah berakhir?—

“Apa Mikagami Rei yang melakukannya?”

“Sepertinya keempat orang ini adalah anggota organisasi yang mengejar Mikagami Rei” 

Lico berkata sambil menggeledah saku pakaian pria-pria yang terbaring itu. Dompet dan paspor ditemukan. Namun, tidak ada informasi penting tentang Mikagami Rei.

“Mereka terlihat tidak ada luka luar, apa penyebab kematiannya?”

“Ada memar di leher mereka.”

“Jadi, dicekik…?”

“Tapi ada memar di leher keempatnya. Seandainya Mikagami Rei yang melakukannya, apakah dia akan menggunakan metode pembunuhan yang memakan waktu seperti itu dalam situasi empat lawan satu? Meskipun mereka non-kombatan, yang lain pasti bisa melarikan diri saat dia mencekik satu orang.”

Kirigiri mengangkat kepala mayat yang telentang, untuk memeriksa tengkuknya.

“Ah…” Kirigiri mengeluarkan suara pelan, seolah menyadari sesuatu. “Tulang lehernya patah.”

“Pria yang ini juga sepertinya begitu.” 

Kirigiri dan Lico tampaknya tertarik dengan kondisi mayat yang tidak biasa itu. Mereka berdua berjongkok di samping mayat, saling membicarakan sesuatu.

Keempatnya tewas dengan leher patah?

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Aku tidak punya pengetahuan tentang otopsi dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya berdiri agak jauh memperhatikan mereka.

Oleh karena itu—

Kirigiri dan yang lain tidak menyadari adanya gerakan samar-samar di tepi atap, di seberang pagar, tempat yang seharusnya tidak ada pijakan—

Hanya aku yang menyadari keanehan kecil itu. Tapi awalnya aku tidak bisa melihat dengan jelas, jadi aku tidak tahu apa itu.

Itu berangsur-angsur membesar, mengambil bentuk yang jelas.

Itu adalah kepala manusia.

Seorang pria berkepala plontos mengintip ke arah kami dari seberang pagar, tempat yang seharusnya kosong…

“A-Ah… itu.”

Aku menunjuk ke arahnya, gemetar ketakutan.

“Ada apa, Yui Onee-sama—”

Saat Kirigiri dan yang lain menyadari, pria itu sudah melompat, menampakkan seluruh tubuhnya, dan berdiri di seberang pagar. Dia mengenakan pakaian wetsuit ketat tujuh per delapan di bagian atas dan bawah, memamerkan otot-ototnya yang seperti karya seni.

Lebih cepat dari teriakanku, dia mencengkeram kawat pagar berbentuk belah ketupat dengan jarinya, lalu dengan mudah merobeknya ke kiri dan kanan seolah menyibak tirai, dan menerobos lubang yang terbentuk.

Itu—pasti Hitomoshi Tsurugi, mantan ‘Super Siswa SMA Rock Climber’.

Tanpa tali atau pengaman, satu-satunya perlengkapan yang dia bawa adalah kantong kapur di pinggangnya… Itu berarti dia menempel di dinding luar gedung hanya dengan jari-jarinya, menunggu kami.

Pria itu mendekat.

Kirigiri berusaha menyiapkan pistolnya, namun pria itu menyadarinya, dan langsung menyerbu tanpa melihat ke samping.

Kirigiri terlempar tak berdaya oleh hantaman yang seperti banteng aduan. Pistol itu melayang di udara dan jatuh di atas tangki air. Sepertinya tidak mudah untuk mengambilnya.

“Kirigiri-chan!”

Dia terbaring lemas di atas salju.

Target Hitomoshi berikutnya adalah—

Aku.

Dalam kebingungan, dia sudah berada di depanku.

Menghindar—

Tidak sempat!

Aku hanya bisa melihat pria itu mendekat dengan mata kepalaku sendiri.

Aku bersiap akan terlempar—tapi ketika aku memejamkan mata, ada hal lain yang terjadi pada tubuhku.

…Aku tidak bisa bernapas.

Aku sadar tangan pria itu telah mencengkeram leherku.

Ah, begitu.

Aku tahu bagaimana orang-orang Rusia itu dibunuh. Jika Hitomoshi mengerahkan sedikit lagi kekuatan pada jari-jarinya, tulang leherku akan hancur berkeping-keping.

Wajah pria yang berusaha membunuhku itu tidak dipenuhi dengan niat membunuh atau kebencian, melainkan lebih mirip wajah seorang atlet yang sedang bertanding serius demi memecahkan rekor. Mungkinkah hal terakhir yang ia temukan setelah dikeluarkan dari industrinya adalah menaklukkan dinding berharga yang disebut nyawa manusia…

Sementara aku memikirkan hal itu, kesadaranku mulai memudar.

Dalam pandangan yang meredup, hal terakhir yang kulihat adalah…

Sebuah papan peringatan bertuliskan ‘Dilarang Masuk Kecuali Petugas’. Kirigiri mendekat ke belakang Hitomoshi sambil membawa papan itu.

Dan—papan itu diayunkan, menghantam bagian belakang kepala Hitomoshi yang plontos.

Namun, Hitomoshi tidak bergerak sama sekali, seolah tidak terjadi apa-apa. Ekspresinya juga tidak berubah.

Tapi, sehelai darah menetes dari dahi kepala plontos itu.

Tampaknya serangan itu memberikan sedikit kerusakan.

Jari-jari yang mencengkeram leherku terlepas.

Aku terjatuh dan ambruk di tempat, seolah dibuang. Lengan kanan Hitomoshi yang kuat kini memilih Kirigiri sebagai mangsanya. Seperti ular, dia mencengkeram leher Kirigiri yang ramping.

Hitomoshi mengangkat tubuh Kirigiri. Dalam sekejap, kaki Kirigiri sudah terangkat dari tanah.

Hentikan!

Aku ingin berteriak, tapi suaraku tidak keluar. Itu karena leherku tadi dicekik.

Sialan kau… Akan kubunuh kau…!

Aku mencoba bangkit dengan tekad itu, tapi kakiku tidak bisa bergerak.

Wajah Kirigiri memucat.

Ya Tuhan, Kirigiri akan dihancurkan…

Saat aku hampir menunduk dalam keputusasaan, sepotong kain hitam melayang di udara dan menutupi wajah Hitomoshi.

Setelan jas…?

Itu adalah jas yang dilempar oleh Lico.

Hitomoshi menyentak jas yang menutupi wajahnya dengan tangan yang bebas.

Lalu, dia menatap anak laki-laki yang berdiri di atas salju.

“Kemarilah,” anak laki-laki itu memanggil, sambil mengendurkan dasinya dan mengundang dengan telapak tangan menghadap ke atas, seolah memprovokasi. “Mantan Super Siswa SMA.”

Hitomoshi tampaknya menerima itu sebagai tanda tantangan.

Pada saat itu—dia tersenyum dengan wajah yang sangat gembira.

Dia melempar Kirigiri ke samping seperti mainan yang sudah tidak menarik, dan berlari menuju Lico.

Lico baru saja selesai melepaskan dasinya.

Dengan perbedaan fisik sebesar itu, mungkinkah ada peluang menang? Tubuh Lico terlihat lebih ramping dari paha Hitomoshi. Dia bukan lawan yang bisa dihadapi secara adil.

Hitomoshi dengan cepat mengulurkan tangan kanannya, mencoba mencengkeram leher Lico.

Lico bahkan tidak berusaha menghindar.

Hitomoshi tersenyum penuh kemenangan.

Sudah tamat, lehernya akan dicengkeram…

Aku hampir saja berteriak.

Namun, lengan Hitomoshi terhenti di tengah jalan.

Di tengah lengan bawah Hitomoshi yang terentang ke arah Lico, sehelai dasi melilit. Lico memegang kedua ujung dasi itu di tangan kiri dan kanannya, mengikat lengan kanan Hitomoshi. Dia kemudian mencoba menariknya lebih kencang ke kiri dan kanan.

Wajah Hitomoshi terdistorsi. Darah mulai mengalir deras dari area yang diikat dasi.

“Ada kawat tipis di dalamnya. Semakin kau mencoba mengerahkan kekuatan pada ototmu yang kaubanggakan itu, semakin kawat itu akan menancap.”

Lico memperingatkan, tetapi Hitomoshi mengertakkan gigi dan mulai mengerahkan tenaga untuk melepaskan ikatan di lengan kanannya.

“Uooohhh!”

Dia meraung.

Bersamaan dengan itu, darah menyembur dari lengannya, mewarnai salju di sekitarnya menjadi merah pekat.

Namun, ikatan itu tidak terlepas.

Hitomoshi mengabaikan lengan kanannya, dan mencoba memukul sisi perut Lico dengan lengan kirinya yang bebas.

Namun, Lico dengan mudah melepaskan pegangannya pada dasi dan melompat mundur dengan anggun.

Hitomoshi mendapatkan kembali kebebasannya. Lengan kanannya masih terlilit dasi, tetapi ia masih punya lengan kiri. Aku tidak tahu mana lengan dominannya, tetapi sebagai seorang rock climber, kekuatan cengkeramannya pasti di atas rata-rata di kedua lengan.

Akan gawat jika ia berhasil mencengkeram dengan lengan kirinya yang tersisa.

Benar saja, Hitomoshi menyerang hanya dengan mengandalkan lengan kirinya, mengayunkannya. Lico berhasil menghindar, tetapi jaraknya sangat tipis. Perbedaan ukuran tubuh perlahan-lahan mulai mendesak Lico.

Tanpa disadari, Lico sudah memunggungi pagar.

“Kau hebat, ya.”

Hitomoshi akhirnya berbicara untuk pertama kalinya.

Mungkin dia menjadi lebih santai setelah tahu dia sudah benar-benar mendesak lawannya.

“Sebelum aku membunuhmu, beri tahu aku namamu?”

“Perlu?”

“Hah?”

“Apa nama begitu penting… Kalau begitu, akan kuberitahu. Aku Mikagami Rei. Beberapa orang memanggilku begitu.”

“Kau Mikagami Rei—aku mengerti, kalau begitu ini sangat kebetulan.”

Hitomoshi mengerahkan seluruh tenaganya dan mengayunkan lengan kirinya ke atas.

Namun, lengan itu tidak pernah terayun ke bawah…

Dia langsung ambruk berlutut seolah kehilangan tenaga, dan jatuh tersungkur ke depan.

Apa yang terjadi?

“Selamat tidur, mantan Super Siswa SMA,” kata Lico sambil mengeluarkan dasi baru dari saku rompinya dan mengikatnya dengan cekatan dan cepat.

Hitomoshi terbaring tak bergerak.

Aku tidak tahu bagaimana prinsipnya… namun pertarungan itu tampaknya sudah usai.

“K-Kau…” Aku berdiri dan berhasil memanggilnya dengan suara serak. “Kau itu Mikagami Rei?”

“Maaf aku merahasiakannya,” katanya sambil mengambil setelan jasnya.

“Maksudnya apa? Benar-benar kau?” Aku mulai berjalan dengan bingung. “Kalau kau bilang lebih awal, semua ini tidak akan terjadi…”

Aku hendak menghampirinya, tapi ada hal yang lebih penting bagiku.

“Kirigiri-chan!”

Aku dan Lico berlari ke arah Kirigiri yang terbaring.

“Kau baik-baik saja? Kirigiri-chan!”

Saat aku memeluknya, Kirigiri membuka matanya sedikit dan mengerang.

“Syukurlah, aku kira tulang lehermu sudah remuk! Hiks.”

Aku menyandarkan pipiku pada rambut halusnya.

“Dia…?”

Kirigiri melihat sekeliling dan menemukan Hitomoshi terbaring berlumuran darah.

“Lico yang mengalahkannya.”

“Begitu…”

“Dia pingsan karena racun yang dioleskan pada kawat, tapi karena postur tubuhnya bagus, dia tidak akan mati. Tapi aku rasa dia tidak akan bisa bergerak untuk sementara waktu.”

Rupanya ada racun yang disiapkan.

Benar-benar seorang pemuda cantik yang menakutkan.

“Ayo kita tinggalkan tempat ini sebelum masalahnya semakin rumit.”

Aku dibantu Lico untuk menggendong Kirigiri di punggungku. Kami meninggalkan atap, menggunakan lift karyawan untuk turun. Kami keluar melalui pintu belakang dan saat kami sampai di depan stasiun, jalanan di sekitarnya sudah merah menyala oleh lampu rotator pemadam kebakaran dan mobil polisi.

Kami melompat ke taksi yang diparkir di jalanan.

“Lico, kau ikut juga.”

“Kamu akan marah padaku, kan?”

“Aku tidak akan marah!”

Lico memasang wajah bingung sambil duduk di kursi penumpang depan.

Dengan begitu, kami meninggalkan stasiun yang telah menjadi medan pertempuran.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar