Tefuda ga Oome no Victoria 2 - Di Kerajaan Shen
Aku menatap sekeliling vila di Shen, tempat kami tinggal selama lima tahun terakhir. Setiap sudutnya dipenuhi barang-barang yang kami beli selama menetap di sini.
Kupikir, setelah kembali ke Ashbury nanti, kami akan tinggal sementara di hotel atau di kediaman Lord Edward. Karena itu, sebaiknya kami tak membawa terlalu banyak barang pulang.
“Nonna, kamu sudah selesai beres-beres barangmu?”
“Sudah. Semuanya sudah kumasukkan ke dalam tas ini.”
Dia menunjuk ke sebuah tas kecil yang pasti tidak bisa menampung banyak barang di dalamnya.
“Hanya itu yang kamu bawa?”
“Iya. Ini semua yang benar-benar penting bagiku,” Ia membuka tas itu dan memperlihatkan isinya. Disana hanya ada tiga barang: satu set seragam bela diri khas Shen, sebuah buku tebal dengan sampul indah bertuliskan huruf Shen, dan patung singa giok yang diberikan Yil, putra keluarga yang menampung kami selama di sini. Nonna memang bukan tipe anak yang mudah terikat pada benda-benda.
“Kamu boleh bawa lebih banyak kalau mau, tahu?” kataku.
“Tidak apa-apa. Hal-hal yang paling berharga buatku malah yang nggak bisa kubawa. Seperti orang-orang yang berlatih bersamaku, taman di sini, dan ikan-ikan indah yang berenang di kolam itu. Oh, tapi yang paling penting bagiku adalah Ibu. Selama aku bisa bersama Ibu, aku nggak butuh apa-apa lagi.”
Aku memeluk Nonna erat-erat, terharu hingga tak kuasa menahan emosi. Ia sudah tumbuh begitu tinggi sekarang. Ia tertawa pelan di bahuku.
Karena kelucuannya itu, aku sempat berhenti mengemasi barang. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman vila tempat kami tinggal. Di sana, kami mengagumi bunga-bunga liar yang tumbuh di bukit kecil, jembatan merah mungil yang melintasi kolam, dan ikan-ikan berwarna cerah yang berenang tenang di air jernih.
“Jadi, bagaimana menurutmu tentang Shen? Lima tahun ini terasa seperti apa? Atau kamu sudah tak sabar ingin pulang ke Ashbury?” tanyaku.
“Aku senang di sini! Yang paling seru itu belajar bela diri Shenese. Gaya bertarungnya beda banget sama yang Ibu ajarkan. Itu yang paling menarik, menurutku.” Dia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang putih. Sebagian besar gigi susunya sudah tanggal selama kami di sini, dan gigi dewasanya sudah mulai tumbuh.
“Ibu, karena ini terakhir kalinya kita ada di rumah ini, aku mau kasih tahu rahasia kecilku,” katanya dengan nada penuh rahasia.
“Oooh, Rahasia? Ibu mau dengar, dong.” Apa mungkin tentang batu-batu cantik yang biasa ia kumpulkan dan sembunyikan? Aku sudah tahu soal itu, sebenarnya.
Nonna tersenyum lebar dan menggandengku menuju pojok belakang taman, tepat di depan gudang tempat alat-alat berkebun disimpan. Begitu sampai di sana, ia menyelinap di celah sempit antara gudang dan pagar.
“Tunggu, Nonna. Kamu sembunyikan apa di situ?” tanyaku.
“Nanti juga tahu,” jawabnya.
“…Baiklah, Ibu ikut, ya.”
Ia tampak seperti menahan tawa saat terus berjalan melewati lorong sempit itu. Kami sekarang berada tepat di belakang gudang. Dia mengulurkan tangan untuk memindahkan baskom logam besar.
“Ibu, bantu aku angkat ini.”
Aku memegangi tepinya, dan bersama-sama kami mengangkatnya.
“A—apa?!”
“Tuh, Ibu pasti kaget, kan!”
Di bawah baskom itu ada sebuah lubang besar di tanah, dindingnya dilapisi bata. Ukurannya pas untuk satu orang dewasa merangkak masuk.
“Nonna? kamu pernah masuk ke dalam ini, kan? Lubang ini mengarah ke mana?”
“Langsung ke halaman rumah seberang jalan!” katanya, matanya berbinar.
“Apa Yil yang tunjukin ini, ya? Jadi kamu sering pakai ini buat keluar rumah.”
“Benar. Yil dan aku pergi ke toko-toko di kota dan membeli camilan atau kebab untuk dimakan bersama.”
Jadi mereka berdua sering kabur lewat lubang ini untuk beli makanan. Memang kedengarannya seru.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan tentang ini, tetapi aku menahan diri untuk tidak mengatakan yang terburuk karena aku tidak ingin memarahinya setelah dia bersusah payah menceritakan sebuah rahasia kepadaku.
Aku pun ikut turun ke lubang mengikuti Nonna. Setelah melompat ke dasar, lorongnya berlanjut mendatar. Kami harus membungkuk sambil berjalan sampai akhirnya keluar ke halaman kosong di seberang jalan. Aku bisa membayangkan betapa mendebarkan ini bagi anak-anak.
“Oh iya! Ibu bawa uang nggak?”
Aku selalu membawa uang tunai. Kukeluarkan beberapa koin dari saku gaun dan menunjukkan padanya. Wajahnya langsung bersinar senang.
Dia membawaku menyusuri jalanan menuju deretan kedai yang ramai dikunjungi warga setempat. Sambil mendengarkan suara orang-orang berbicara dalam bahasa Shen yang khas, Dia sampai sejauh ini cuma buat jajan?! Lalu satu pikiran lain muncul. Argh, seandainya aku bisa ikut dari dulu juga! Kami berdua Kami berdua mencicipi berbagai hidangan khas Shenese, dan aku takjub melihat betapa murah dan lezatnya semua hidangan itu. Kami memesan kebab daging berlapis glasir, roti gandum kukus bulat berisi daging babi pedas dan daun bawang, serta taffy yang lembut dan halus. Lalu kami memesan udang yang dipanggang di atas piring besi tebal hingga harum dan renyah. Aku ingin Jeff mencoba semua ini juga! pikirku, sambil membeli sedikit makanan tambahan untuk dibawa pulang untuk suamiku.
“Enak banget. Aku belum pernah makan udang seenak ini sebelumnya. Jadi ini yang kau dan Yil lakukan diam-diam, Nonna? Andai aku juga bisa ikut menjelajahi terowongan itu juga. Kedengarannya jauh lebih seru daripada menghabiskan hari bersalaman dan berbasa-basi dengan orang-orang,” Kata Jeff. Dia selalu bersikap baik padaku dan Nonna. Dia tersenyum saat menggigit udang bakar renyah itu.
Permen dan kebab dari kios-kios yang biasa dikunjungi warga lokal itu begitu beragam dan lezat. Aku belum pernah masuk ke tempat semacam itu sebelumnya. Semua orang Shen yang pernah merekomendasikan tempat makan padaku selalu menunjuk restoran mewah. Makanan di sana memang enak, tapi kalau suatu hari kami kembali ke Shen, aku ingin menjelajahi distrik yang ditunjukkan Nonna sepenuhnya.
“Aku tak percaya kita baru tahu tempat itu sehari sebelum pulang! Rasanya sebal sampai ingin menghentak kaki!” gerutuku, membuat Jeff tertawa lagi.
Besok, kami akan berlayar pulang menuju Kerajaan Ashbury.