![]() |
| Konosuba Yorimichi 4 - Tugas Sang Penguasa Willayah |
Bab 1: Tugas Sang Penguasa Wilayah
Bagian 1
Demi mengusir panasnya musim panas yang menyengat, ember-ember berisi es yang dibuat dengan sihir Freeze diletakkan di berbagai sudut mansion. Berkat itu, suhu di dalam ruangan tetap terasa sejuk dan nyaman.
Menjelang siang hari, Aqua yang baru saja bangun tidur akan pergi keluar ke kota. Berdalih melakukan uchimizu [1], tapi dia malah memamerkan trik sulap airnya dan menuai sorak-sorai dari anak-anak.
TN Yomi Novel: [1] Uchimizu (打ち水), Tradisi Jepang menyiramkan air di jalanan atau halaman, biasanya di musim panas, untuk mendinginkan suhu udara di sekitarnya dan mencegah debu berterbangan.
Saat matahari mulai terbenam, Megumin akan melepaskan ledakan yang menggelegar. Suara ledakan itu kini dijadikan penanda waktu pulang kerja oleh para penduduk Axel, dan mereka pun bergegas kembali ke rumah masing-masing.
Di tengah keseharian kami yang damai dan berjalan seperti biasanya itu, kepala pelayan tua dari keluarga Dustiness, Hagen-san, datang berkunjung.
"Ini cuma teh biasa."
Kami mempersilakannya duduk di ruang tamu. Namun, saat Aqua menghidangkan teh dengan wajah tegang, Hagen-san justru tersenyum ramah.
"Terima kasih atas perhatian Anda. Ini sangat luar biasa.... Um, luar biasa... air putih panasnya."
"Kenapa, kau selalu menyajikan air putih panas?! Maafkan kami, ini sama sekali bukan niat buruk. Anak ini memang punya wujud fisik aneh yang otomatis memurnikan cairan apa pun jadi air putih biasa!"
Saat ini, Darkness sedang tidak ada di mansion.
Para anggota kerajaan dan bangsawan di dunia ini sangatlah kuat. Tergantung pada situasi pertempuran melawan Pasukan Raja Iblis, mereka tidak akan segan memimpin prajurit dan ikut terjun langsung ke medan perang.
Akibat serangan Pasukan Raja Iblis yang semakin beringas, sepertinya salah satu kota di garis depan telah berhasil mereka duduki.
Syukurlah para penduduk kota tersebut sudah selesai dievakuasi sehingga mereka semua selamat. Namun, demi merebut kembali kota yang dirampas itu, Ayah Darkness yang kini sudah sehat bugar pergi melakukan ekspedisi militer untuk memenuhi panggilan keluarga kerajaan.
Oleh karena itu, belakangan ini Darkness harus mengurus urusan pemerintahan wilayah seorang diri, tapi....
"Aku minta maaf soal air putih panasnya, gomen ne. Terus, kali ini siapa yang berulah? Ngomong-ngomong, aku belum ngapa-ngapain, orang aku baru saja bangun. Lagian kemarin seharian aku cuma mendekam di rumah sambil minum-minum dan menyusun doktrin yang baru."
"Yang bener saja, memangnya ajaran agama bisa dibikin asal-asalan begitu? E-ehem, jadi, keluhan macam apa yang Anda bawa kali ini...?"
Aku bertanya dengan hati-hati, dan Hagen-san pun tersenyum kecut.
"Ah, tidak, kunjungan saya hari ini bukan untuk menyampaikan keluhan.... Oh, tunggu, bicara soal itu, ada satu hal.... Bisakah Anda meminta Megumin-sama di sini untuk berhenti menyeret pelayan keluarga kami demi rutinitas hariannya...?"
"Maafkan aku! Belakangan ini cuacanya panas banget, jadi aku selalu menolak ajakannya untuk rutinitas harian itu. Akan kusuruh dia berhenti sekarang juga, aku benar-benar minta maaf!"
Awalnya aku kira dia minta tolong petualang acak buat menggendongnya pulang, ternyata dia malah melakukan hal semacam itu?!
"Yah, anggap saja masalah itu cuma selingan.... Ada alasan lain kenapa saya datang kemari hari ini."
Saat aku sedang meminta maaf habis-habisan, Hagen-san menggelengkan kepalanya seraya menenangkan.
"Kumohon, tolong bantu Ojou-sama kami."
Dia berkata begitu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam──
"──Kalau begitu, Dustiness-sama, tolong tanda tangani dokumen ini."
"Untuk dokumen yang ini, Anda cukup memeriksa apakah ada kesalahan di dalamnya. Selanjutnya..."
"Akibat cuaca panas yang ekstrem, sepertinya para katak mulai memperluas area pergerakan mereka untuk mencari sumber air. Tolong berikan izin untuk mengeluarkan quest darurat bagi para petualang...!"
"Ugh.... Tolong pelan-pelan sedikit, aku tidak setangkas Ayahanda..."
Aku dan Aqua, yang telah diantar ke kediaman keluarga Dustiness, mendengar suara-suara itu dari balik pintu.
"Kami sudah dengar semuanya!"
![]() |
| Kazuma dan Aqua yang datang membantu Darkness |
Aku membuka pintu ruangan yang tampaknya adalah ruang kerja itu lebar-lebar dengan suara bantingan yang keras—!
"Hah...!? K-kalian berdua, ada apa tiba-tiba? E-eto, maaf saja, tapi seperti yang kalian lihat aku sedang sibuk sekarang. Kalau soal mainan baru, nanti saja kalau aku lagi senggang kutemani..."
Di tengah tumpukan dokumen dan kepungan para pejabat, Darkness malah mengatakan hal tidak sopan seperti itu.
Aku dan Aqua memasang doya-gao [2] yang penuh percaya diri.
TN Yomi Novel: [2] Doya-gao (ドヤ顔), Istilah bahasa gaul Jepang untuk ekspresi wajah yang sombong, angkuh, atau penuh kebanggaan (smug face).
"Kami sudah dengar situasinya dari Hagen-san. Menggantikan ayahmu yang pergi menghajar Pasukan Raja Iblis, sepertinya kau sebagai putrinya sedang kesulitan mengerjakan tugas penguasa wilayah yang tak biasa kau lakukan ini, ya."
"Dengar-dengar sebelumnya kau juga sudah beberapa kali ngebantuin kerjaan Papa Darkness sebagai penguasa wilayah, 'kan? Tapi kali ini, karena Papaness benar-benar lagi pergi dan kau nggak punya penasihat, katanya kau lagi kewalahan. Makanya kami datang buat menyelamatkanmu!"
Melihat kami yang muncul mendadak bak bintang penyelamat, Darkness tertegun sejenak.
"Tolong bawakan teh dan camilan untuk dua orang ini, lalu suruh mereka pulang."
"Padahal kami jauh-jauh datang buat jadi bala bantuan, apa-apaan perlakuan kasarmu itu!"
"Benar, porsi buat berdua saja nggak bakal cukup! Aku tak mau pulang kalau nggak dikasih jatah buat Megumin yang tidak ada di sini juga!"
Di saat Aqua merengek soal hal yang salah fokus itu, aku mengambil dokumen yang tergeletak di atas meja.
Menurut Hagen-san, mereka sedang kekurangan orang yang bisa mengambil keputusan akhir dalam urusan pemerintahan.
Namun, karena yang ditangani adalah dokumen-dokumen penting, mereka tidak bisa mengandalkan sembarang orang. Mereka butuh seseorang yang bisa dipercaya, punya rasa tanggung jawab, dan tidak mudah hancur di bawah tekanan berat.
Karena suasana hatiku sedang bagus berkat penilaian tinggi nan langka dari Hagen-san itu, aku pun membaca sekilas dokumen di tanganku.
"Fumu. Kawanan Belalang Tentara sedang mendekati kota Axel. Karena prediksi jalur pergerakan belalang dari peramal cuaca meleset, ada permintaan yang diajukan agar peramal ulung dari Desa Penyihir Merah mau meramalkannya lagi... ya. Tapi, anggaran tidak cukup untuk mempekerjakan mereka, eh."
"Oi Kazuma, ada dokumen rahasia juga di sini, jadi jangan mengintip sembarangan. Aku tidak tahu apa malam ini aku bisa pulang atau tidak. Nanti kubawakan oleh-oleh, jadi kalian pulanglah duluan ke mansion..."
Akhir-akhir ini, setelah selesai bekerja, Darkness memang sering langsung menginap di rumah keluarganya ini.
Karena ini pada dasarnya adalah rumahnya sendiri, hal itu sama sekali bukan masalah.
Namun, setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, aku melihat lingkaran hitam tipis di bawah mata Darkness. Mungkin karena tumpukan pekerjaannya, dia jadi kurang tidur belakangan ini.
"Aku tidak tahu seberapa akurat peramal dari Desa Penyihir Merah, tapi di kota ini juga ada orang yang bisa melihat masa depan, 'kan? Lagipula, akhir-akhir ini dia buka jasa konsultasi di Guild Petualang."
Seorang pejabat wanita yang sejak tadi menatapku seolah aku ini orang mencurigakan, langsung menepuk kedua tangannya setuju.
"Benar juga. Kalau memikirkan biaya transportasi dan lain-lain untuk mengirim utusan ke Desa Penyihir Merah, cara ini jauh lebih murah. Selain itu, kita juga bisa menghemat waktu."
Seolah hal itu memancing yang lain, suara-suara dari para pejabat lain pun bermunculan.
"Kudengar konsultan itu adalah kenalan Dustiness-sama, jadi jika kita membayar upah yang pantas, dia pasti tidak akan menolak."
"Kalau begitu, mari kita segera buat surat permintaannya. Jika Dustiness-sama mau mampir ke Guild Petualang, Anda bisa memintanya sekalian berbasa-basi..."
Di tangan para pejabat yang cekatan itu, dokumen tersebut selesai dalam sekejap mata.
"Darkness, waktu kau memintanya, jangan sampai dia memanfaatkanmu. Kau harus bertingkah seolah kau sedang berbaik hati padanya, seperti, 'Sebenernya aku bisa aja minta tolong peramal dari Suku Penyihir Merah, siiih~. Tapi berhubung Vanir udah sering bantuin aku~. Apalagi kita dulu pernah menyatu, jadi mau gimana lagi, kali ini kukasih kerjaan ke kamu deh!' kurang lebih seperti itu."
"Aku lebih baik mati daripada memintanya dengan cara konyol seperti itu! Tapi memang benar, kalau aku tidak bernegosiasi dengan baik, dia pasti akan memanfaatkanku. Aqua, ikutlah denganku saat aku pergi ke Guild Petualang nanti. Kalau kau ada di sebelahku, Vanir tidak akan bisa membaca niat asliku dengan mudah."
Hanya dengan berada di dekatnya saja sudah bisa membuat kemampuan membaca segalanya Vanir jadi kacau, jadi membawa Aqua bersamanya adalah ide yang bagus.
Lagipula, iblis satu itu pasti bakal mematok harga yang cuma beda tipis lebih murah daripada menyewa Suku Penyihir Merah.
"Aku sih tidak keberatan ikut, tapi aku minta minuman keras yang agak mahal ya. Tuh Darkness, Kazuma-san kita ini kadang bisa diandalkan juga di saat-saat begini, 'kan?"
Padahal dia sendiri belum melakukan apa-apa, tapi entah kenapa Aqua bertanya dengan ekspresi doya-gao yang menyebalkan.
"...Iya, aku baru ingat lagi kalau stat kecerdasan Kazuma memang tinggi. Dan juga soal betapa cekatannya dia sebagai panitia saat Festival Syukur Dewi Aqua dulu. Tapi, uhm, aku memang sangat butuh bantuan kalian, sayangnya kondisi keuangan kota sedang memburuk. Jadi, biarkan keluarga Dustiness yang membayar upah kalian nanti."
Sang ojousama itu tersenyum kecut dan menggaruk pipinya dengan canggung.
Gestur itu mengingatkanku pada kebiasaan yang sering dilakukan oleh sahabat karib Darkness saat dia sedang kebingungan.
"Kalau dibiarkan saja, kau pasti bakal memaksakan diri. Kita ini 'kan teman, jadi tekor sedikit soal bayaran sih bukan masalah. Terus, soal berapa lama kami akan membantumu..."
Sebenarnya bisa saja kami membantunya sampai ayah Darkness pulang, tapi....
Mengingat gadis pencuri yang suka mengocehkan kalimat sok keren itu, dia pasti akan mengatakan hal seperti ini di saat-saat begini.
"Anggap saja sampai lingkaran hitam di bawah mata Darkness menghilang. Kalau tidak, wajah cantikmu bakal terbuang sia-sia lho, Ojousama?"
Mendengar kata-kataku yang terkesan murahan, Darkness tersipu malu sebentar.
"Tumben sekali pria sinis sepertimu melontarkan pujian 'wajah cantik'..."
Lalu, seakan baru menyadari sesuatu, pipinya tiba-tiba merona merah kebingungan.
"Lingkaran hitam? Lingkaran hitam di bawah mata katamu? Hagen! Apa lingkaran hitamku sebegitu ketaranya!?"
Ah, wajah gadis yang sedang tersipu malu... Eh, tunggu dulu. Dia kelihatan benar-benar panik sekarang.
Alih-alih merona karena malu, wajah memerahnya lebih terlihat seperti seseorang yang baru saja ketahuan melakukan hal memalukan.
"Sebab itu sudah saya peringatkan 'kan, Ojousama. Meskipun urusan pemerintahan sedang menumpuk, tolong tahan diri Anda untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi Bakibaki Z! Benda itu pada dasarnya adalah obat kuat! Kalau Anda minum terlalu banyak, tubuh Anda akan terasa panas, dan setiap malam—"
"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah! Iya aku paham, makanya jangan teruskan lagi, Hagen! B-baiklah Kazuma, mohon bantuannya untuk beberapa waktu ke depan!"
"Bisa-bisanya kau membuat kantung mata gara-gara kelakuan malammu. Kembalikan rasa simpatiku dan motivasiku tadi, Nona Muda Super Mesum!"
Saat aku menyentaknya sambil melayangkan tatapan sedingin es, Darkness yang wajahnya sudah semerah tomat bergumam pelan, "Maafkan aku."
Tapi, bisa-bisanya dia malah terlihat sedikit senang saat ditatap dengan tatapan penuh cibiran begitu…
"Kazuma-san kau sangat jeli! Bener, wajah cantikmu bakal terbuang sia-sia! Sini ku-Heal wajah Darkness biar kembali mulus dan cantik!"
Dan aku yang telanjur melontarkan kalimat murahan tadi, tak ayal ikut merasakan wajahku memanas karena komentar Aqua yang sama sekali tidak bisa membaca suasana.
──Gara-gara Si Nona Mesum itu, start awalku jadi sedikit tersendat. Tapi, inilah saatnya kecerdasanku yang tinggi serta pengetahuan modernku beraksi.
Setelah disediakan meja khusus, di sanalah tumpukan dokumen yang menggunung diletakkan untukku.
Di sebelahku, Aqua—yang tadi merengek minta disiapkan meja sendiri—kini duduk manis. Dia tampak sibuk melahap camilan yang dihidangkan, jadi untuk saat ini dia bersikap cukup tenang.
Tanpa membuang waktu, aku pun mengambil selembar dokumen──
【 Usulan untuk menjadikan ledakan harian sebagai ciri khas kota telah mendapat suara mayoritas dalam kuesioner penduduk, mengingat suara ledakan tersebut sudah dimanfaatkan sebagai penanda jam pulang kerja. Namun, karena waktu ledakannya sering kali bervariasi, mereka meminta agar ada jadwal yang pasti. Waktu yang diharapkan adalah sekitar pukul lima sore. Mengenai titik target ledakan, harap gunakan lokasi yang telah ditetapkan oleh Asosiasi Pariwisata... 】
Aku membaca dokumen itu sampai di situ saja, lalu memindahkannya secara diam-diam ke atas meja Aqua.
"Dokumen ini mau diapain? Apa maksudnya kau menyuruhku pamer trik seni pakai kertas ini, ya?"
"Siapa juga yang menyuruhmu melakukan hal macam itu. Dokumen itu tentang masalah yang susah buat kita putuskan."
Aqua mengangguk-angguk sok paham, lalu memegang dokumen yang kuserahkan tadi.
"Habis ini pasti bakal ada dokumen-dokumen lain yang susah buat kuputuskan, jadi tugasmu adalah mengumpulkan semuanya. Terus, kalau kertasnya sudah numpuk, serahkan ke Darkness."
"Serahkan padaku. Bakal kurapihkan dengan cara di-tonton [3] sampai benar-benar sejajar tanpa meleset sedikit pun."
TN Yomi Novel: [3] Tonton (トントン): Onomatope (kata tiruan bunyi) dalam bahasa Jepang untuk suara mengetuk-ngetuk ringan. Dalam konteks ini, merujuk pada tindakan mengetukkan ujung tumpukan kertas ke atas meja agar posisinya rata dan rapi.
Walaupun itu kerjaan yang tidak ada faedahnya sama sekali, tapi setidaknya ini lebih baik. Anak ini biasanya malah membuat ulah kalau dibiarkan menganggur.
Sambil memikirkan hal tersebut, aku pun mengambil dokumen selanjutnya.
【 Gerombolan Undead yang entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul dan berbaris menuju Axel. Kami memohon agar para petualang segera dikirimkan untuk menyelidiki penyebabnya sekaligus membasmi mereka. 】
【 Kawah-kawah yang tercipta di sekitar kota kini tergenang air hujan dan berubah menjadi sumber air bagi hewan-hewan liar. Akibatnya, monster-monster yang mengincar hewan tersebut ikut berdatangan... 】
"Uhm, dua lembar ini juga masuk ke tumpukan Darkness. Ah, dokumen yang ini juga. Aqua, kumpulkan semuanya dan tonton biar rapi."
"Serahkan saja padaku."
"Hei, Kazuma. Aku sebenarnya tidak mau melihat dokumen-dokumen yang sedang Aqua tonton itu..."
Kau 'kan yang jadi wakil penguasa wilayahnya, jangan lari dan urus saja sana.
"Telah terjadi perselisihan antara para pengungsi yang datang dari kota dan desa yang ditaklukkan dengan penduduk asli Axel. Mohon segera ambil tindakan secepat mungkin... kah."
Di Bumi pun, kalau ada perang pasti bakal muncul masalah semacam ini. Tapi, kenapa ya manusia tidak pernah bisa berhenti berselisih?
Benar, walau ada perbedaan ras dan budaya sekalipun, kita 'kan masih bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin dan saling bicara──
"Soal penyebab perselisihan itu.... Pada dasarnya, hidangan khas Axel yaitu Katak Goreng itu dibumbui dengan garam, tapi ada banyak protes dari para pengungsi yang menuntut agar bumbunya diganti jadi kecap asin."
Aku yang telanjur memikirkan masalah ini dengan sangat serius, seketika meremas dokumen itu dan melemparnya.
"Beberapa hari lalu juga mereka bertengkar meributkan soal telur mata sapi itu enaknya dipakaikan garam atau kecap asin. Ya ampun, benar-benar hal yang konyol..."
Sumpah, itu konyol sekali. Jangan berantem cuma gara-gara masalah sesepele itu...
"Sudah jelas telur mata sapi itu paling enak pakai kecap asin, 'kan. Hal kayak gitu tak perlu diperdebatkan lagi..."
Berkat satu gumaman dariku itu, pekerjaan untuk hari ini pun langsung berakhir.
Sebuah perdebatan sengit yang turut menyeret para pejabat di ruangan itu pun meledak──
Bagian 2
Keesokan harinya.
"Kemarin aku kekanak-kanakan sekali. Niatnya datang buat jadi bala bantuan, malah cuma ngerecokin kerjaan. Maafkan aku, Darkness."
"Ah, sudahlah, mari kita berhenti membahas soal makanan. Kemarin kita nyaris saja memakan korban jiwa gara-gara perdebatan itu."
Kami sepakat untuk tidak lagi menyinggung masalah perselisihan antar penduduk tersebut.
Demi menebus kesalahanku kemarin, aku pun bergegas mengambil dokumen pertama.
【 Pertumbuhan hasil panen tahun ini sangat buruk, kami memohon agar ada tindakan penanggulangan yang diambil... 】
Ini dia. Kasus semacam ini yang kutunggu-tunggu.
Kalau bicara soal pertumbuhan hasil panen yang buruk, secara garis besar ada tiga penyebab utamanya. Bisa jadi karena cuaca panas ekstrem belakangan ini, kekurangan air, atau tanahnya yang kurang nutrisi.
Namun, terlepas dari semua itu, Axel mungkin adalah kota tempat tinggal seorang dewi air yang memproklamirkan diri, sehingga kekurangan air sama sekali tidak mungkin terjadi.
Kalau begitu, penyebabnya sisa dua: cuaca panas atau tanah yang kurang nutrisi....
"Oi Darkness, apa kau tahu soal Rotasi Tanaman?"
Aku sengaja menyebutkan nama metode pertanian terkenal yang sudah jadi jurus mainstream di novel-novel isekai.
Itu adalah metode di mana kau menanam lobak atau semacamnya, sambil membiarkan tanahnya beristirahat untuk memulihkan unsur hara.
"Aku baru dengar. Apa itu?"
Di dunia ini, rupanya bahkan Darkness yang notabene keturunan bangsawan berpendidikan tinggi pun tidak tahu, ya.
Bahkan, para pejabat lain di ruangan ini ikut memasang wajah cengo.
Kalau begini ceritanya, kemungkinan besar penyebab gagal panennya memang bukan karena cuaca panas, melainkan tanah yang kurang nutrisi.
"Tiap jenis tanaman itu 'kan butuh nutrisi yang beda-beda. Nah, menanam tanaman yang berbeda-beda tergantung musimnya, sekaligus memberi waktu bagi tanah untuk beristirahat, itulah yang namanya rotasi tanaman."
Dalam kisah reinkarnasi isekai, pengetahuan modern adalah senjata paling mematikan.
Bagi seseorang yang cuma punya modal sedikit keberuntungan sepertiku, satu-satunya yang bisa kuandalkan adalah ilmu pengetahuan dari Bumi.
Tapi, mungkinkah pengetahuan tingkat tinggi dari Bumi terlalu sulit dipahami oleh penduduk dunia ini?
Darkness menatapku dengan ekspresi yang seolah berkata, 'Ni orang ngomong apaan, sih?'....
"Kalau kekurangan nutrisi, bukannya mereka bakal pindah sendiri mencari tanah yang subur? Bahkan beberapa tanaman yang kebetulan tidak bisa bergerak pun akan membasmi monster dan menjadikannya sebagai pupuk..."
Ah, benar juga. Aku sampai lupa dan meremehkan betapa nge-bug-nya sistem pertanian di dunia ampas ini.
Tumbuhan seharusnya tidak bergerak! Kalau bisa gerak sekalian saja ganti identitasnya jadi hewan!
"Musim panas adalah saat di mana makhluk hidup menjadi lebih aktif. Pertumbuhan hasil panen yang buruk kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya intensitas serangan monster ke ladang pertanian. Karena kelelahan akibat menghadapi serangan yang bertubi-tubi, tanaman-tanaman itu mungkin tidak punya sisa energi bahkan untuk sekadar berfotosintesis."
Salah satu pejabat menimpali dengan wajah kelewat serius. Sumpah, apa yang dia bicarakan? Untuk apa aku datang ke sini?
Kita ini lagi bahas soal pertanian, 'kan?
Melihat para pejabat yang mendiskusikan penyebab gagal panen dengan wajah kelewat serius, aku yang mulai merasa hal ini bodoh pun melontarkan asal.
"Mengapa tidak sekalian menyebarkan racun di ladang untuk menyingkirkan monster-monster itu."
"Benar juga! Ada banyak racun yang berbahaya bagi hewan, tapi tidak berdampak buruk pada tumbuhan. Saat panen, kita tinggal menyewa Priest untuk memurnikan racunnya..."
"Tunggu dulu. Membasmi monster dengan racun berarti mengurangi kesempatan bagi tanaman untuk menyerang balik, yang artinya mereka tidak akan mendapatkan exp, bukan? Sayuran level rendah seperti itu, entah seberapa besar nilainya di pasaran..."
Bukannya pejabat itu harusnya orang-orang pintar, ya.
Paling banter yang ditebar di ladang itu pestisida. Kalau petani organik di Bumi mendengar ini, mereka bakal mengamuk.
Lagian, sayuran seharusnya tidak bisa naik level? Yang bener saja.
"Kenapa kita tidak mengirim Aqua ke pertanian saja dan memintanya untuk menggunakan sihir buff di ladang..."
"""Itu dia!"""
Hanya itu? Pikirkanlah dengan tenang.
Mengapa Aqua terlihat seperti tidak sepenuhnya menentangnya?
"...Begitu, ya. Kalau kita cuma meningkatkan kemampuan bela diri sayuran dengan sihir buff, mengingat jumlah monster yang meningkat dan serangan yang makin beringas, mereka malah akan tumbuh menjadi sayuran berkualitas tinggi yang dipenuhi exp."
Aku tahu aku mengatakan ini sendiri, tetapi apa yang begitu mendalam tentang hal itu.
Darkness, kau itu pihak yang biasanya jadi tsukkomi, apa kau benar-benar tidak keberatan dengan itu?
"Hebat sekali, Kazuma. Pengetahuanmu selalu saja bisa diandalkan. Mohon bantuannya untuk terus seperti ini."
"Ya..."
Aku pun menyerah untuk berpikir waras.
──Setelah itu.
"Tawon raksasa yang jumlahnya meledak mulai membuat sarang di mana-mana di dalam hutan, dan serikat penebang kayu meminta agar mereka dibasmi. Tapi, karena sarang tawon raksasa itu bisa dijual mahal, sepertinya para petualang malah memperebutkan quest itu dan jadi bertengkar..."
"Kalau quest yang menguntungkan, harusnya dibagi rata. Daripada membebankan quest kepada satu pihak, mari kita minta mereka untuk membaginya menjadi quest yang lebih kecil dan mengirimkannya ke banyak orang. ...Aqua. Dokumen yang ini juga di-tonton."
"Serahkan padaku. Kertasnya sudah mulai menumpuk, jadi aku bakal serahkan ini ke Darkness, ya."
Tumpukan dokumen yang sudah dirapikan dengan sempurna oleh Aqua diletakkan di atas meja Darkness.
Tanpa repot-repot mengecek dokumen yang ditaruh itu, Sang Wakil Penguasa Wilayah tiba-tiba bersuara.
"...Kazuma, mau bertukar dokumen tidak? Ini 'kan bidang keahlianmu."
"Surat keluhan yang ditujukan khusus buat Sang Penguasa Wilayah itu terlalu berat bebannya buat rakyat jelata sepertiku."
Setidaknya baca dulu dokumennya. Nama-nama yang tertulis di situ semuanya orang-orang yang berhubungan denganmu.
"Kalau begitu, sebagai Wakil Penguasa Wilayah, aku memerintahkanmu. Hai rakyat jelata di sana, urus dokumen ini."
Sang Wakil Penguasa Wilayah yang semena-mena itu tiba-tiba saja menggunakan kekuasaannya secara tidak masuk akal.
"Seperti yang diharapkan dari mantan Alexei Barnes Lalatina-sama. Kesewenang-wenangannya sama sekali tidak kalah dari mantan penguasa wilayah sebelumnya, Alexei Barnes Alderp-sama, ya."
"Maafkan aku, aku janji tidak akan egois lagi, jadi kumohon berhentilah memanggilku dengan nama itu."
Darkness, yang langsung tunduk pada seorang rakyat jelata sepertiku, kembali mengambil dokumen itu dengan patuh.
"...Hei Kazuma, ternyata selama ini kau selalu melakukan pekerjaan yang sangat berat, ya. Mulai sekarang, setidaknya aku sendiri akan berusaha untuk sedikit lebih menahan diri."
"Tolong tahan diri kalian banyak-banyak. ...Ngomong-ngomong, keluhan di dokumen itu gara-gara ulah siapa?"
Aku merasa senang karena sepertinya dia mulai memahami penderitaanku, tapi aku jadi sedikit penasaran tentang siapa yang berhasil mematahkan semangat Darkness.
"【 Mendengar desas-desus bahwa ada iblis yang tinggal di kota ini, sekelompok pemuja iblis, Satanist, dikabarkan telah tiba. Karena adanya kebebasan beragama, kita tidak bisa menolak kedatangan mereka, sehingga bentrokan dengan Pemuja Axis pun diperkirakan akan terjadi... 】 Ah! Tunggu Aqua, kau mau ke mana?! Tunggu dulu, mereka belum melakukan apa-apa! K-Kazuma, bantu aku sebentar—"
Mengabaikan keadaan sekitarku yang mendadak jadi kacau balau, aku kembali fokus pada pekerjaan di depanku.
Bagian 3
Tiga hari telah berlalu sejak Hagen-san meminta bantuan kami.
Dengan memanfaatkan kemampuanku sebagai mantan petinggi guild besar di masa-masa keemasanku sebagai gamer online, aku berhasil mengefisienkan pekerjaan yang sia-sia dan akhirnya mendapatkan pengakuan dari para pejabat.
Tepat saat aku mulai terbiasa menangani masalah-masalah tak masuk akal di dunia ini, dan ketika rasa kebersamaan dengan rekan-rekan kerjaku mulai tumbuh.
"Sepertinya ada dokumen aneh yang terselip di sini..."
Darkness memegang selembar dokumen dan bertanya dengan raut wajah heran.
Itu adalah selembar surat permohonan yang bertuliskan, 【 Kami menginginkan fasilitas rekreasi di kota Axel 】.
Di sana juga tercantum rencana pembangunan kolam renang lengkap dengan perkiraan anggarannya yang kubuat setelah begadang semalaman.
──Di dunia ini, membangun fasilitas rekreasi itu tingkat kesulitannya sangat tinggi.
Bukannya tidak ada sama sekali. Di Ibukota Kerajaan ada beberapa fasilitas budaya, dan kami pun sudah beberapa kali pergi ke sana untuk bermain.
Namun, di museum seni, monster-monster yang terkena sihir pembatuan dipajang sebagai karya seni, dan dulu sempat terjadi kekacauan besar gara-gara Aqua seenaknya mencoba melepaskan sihir pembatuan itu.
Di museum, terdapat replika artefak suci yang konon digunakan oleh para pahlawan di masa lalu, serta berbagai item terlarang yang dikutuk. Dan seperti biasa, dulu sempat terjadi kekacauan hebat karena Aqua seenaknya mencoba melepaskan kutukan benda-benda itu.
Kudengar sebenarnya ada juga rencana untuk membangun akuarium dan kebun binatang. Namun, karena sulitnya mencari staf berlevel tinggi untuk merawat dan menjinakkan satwa liar serta biota laut tersebut, rencana itu akhirnya dibatalkan.
Untuk taman hiburan, sedari awal ada kendala teknis dalam membangun wahananya. Sedangkan untuk resor ski, kabarnya fasilitas tersebut terpaksa ditutup lantaran dihuni oleh Peri Salju, yang memicu risiko datangnya serangan Fuyu Shogun──
"Maka dari itu, aku ingin membangun fasilitas rekreasi yang bisa menyembuhkan kepenatan orang-orang di dunia ampas ini."
"B-begitu, ya. Yah, kurasa itu ide yang bagus.... Tapi, bukannya di kota ini sudah ada fasilitas rekreasi seperti taman dan pemandian umum? Apa itu masih belum cukup?"
Tidak bagus, orang ini sama sekali tidak mengerti apa-apa.
"Pertama-tama, mari kita luruskan dulu perbedaan persepsi kita. Putri Duke Darkness, kalau di musim panas yang menyengat begini, biasanya caramu menghabiskan waktu itu bagaimana?"
Palingan juga yang begitu-begitu, 'kan? Punya vila di tempat peristirahatan musim panas elit, kemudian mereka mungkin akan mengadakan pesta barbekyu di kebun mereka menggunakan bahan-bahan mewah.
"Sebelum bertemu denganmu, di musim begini aku biasanya menghabiskan waktu di tepi danau Ibukota Kerajaan. Saat musim panas tiba, kami menyewa penyihir dari Desa Penyihir Merah untuk membangun kota benteng yang terbuat dari es di pinggiran danau. Keluarga kami juga selalu mendapatkan jatah satu kastil es di sana. Lalu, sembari memandangi pemandangan malam yang memantul di permukaan danau, chef dari restoran kelas satu yang kami panggil ke kastil akan... K-kenapa Kazuma? Ada apa dengan raut wajahmu itu...? Eh, yang lain juga kenapa memandangku begitu..."
"Aku cuma kepikiran, ternyata imajinasiku soal gaya hidup orang kaya itu pada akhirnya cuma sebatas standar rakyat jelata, ya."
Apa-apaan coba 'kota benteng es' itu? Kita di sini mendinginkan ruangan saja pakai ember isi es!
Terus, apa maksudnya 'dapat jatah satu kastil es'?! Memangnya chef dari restoran elit bisa dipanggil begitu saja ke rumah pribadi?!
Coba kau lihat ekspresi yang lain, para pejabat yang daritadi sibuk kerja saja sampai melongo dan berhenti total emengerjakan tugasnya!
"...A-aku cuma mau bilang, kalau para bangsawan menimbun uang mereka, perputaran ekonomi akan terhambat! Jadi, kemewahan dalam batasan tertentu itu memang diperlukan! Bangsawan yang kuat sering terjun bertempur di garis depan, makanya pendapatan kami juga sepadan besarnya. Uang yang didapat dengan mempertaruhkan nyawa itu kami habiskan secara royal untuk memulihkan jiwa dan raga kami."
"Aku tidak bilang itu hal yang buruk, cuma pengalaman Ojousama ini tak bisa dijadikan patokan buat orang biasa. Kesampingkan dulu soal standar finansial kaum bangsawan, kalau membahas musim panas, itu pastinya identik sama bermain air. Dan kalau bermain air, jawabannya ya kolam renang! Aku mau kolam renang."
Mendengar perkataanku barusan, Darkness memiringkan kepalanya bingung.
"Buat apa repot-repot membangun tempat seperti itu? 'Kan ada danau di dekat kota ini."
"Sumber air di luar kota itu sarangnya para monster. Kalau tidak dijaga ketat, tempat itu bakal langsung jadi habitat kawanan Brutal Alligator. Mana mungkin kita bisa main air dengan aman dan tenang di sana?! Tolong jangan samakan kami sama tubuh super alotmu itu!"
Mendengar perkataanku pun, Darkness masih memasang wajah bingung.
"Kalau begitu, mengapa tidak menggunakan sungai yang mengalir melalui kota saja."
"Biar kukatakan lagi, jangan samakan kami dengan dirimu yang kelewat alot itu. Di sungai 'kan ada udang karang. Kudengar monster-monster itu bisa dengan mudahnya memutus jari kaki petualang selevel diriku."
Lagian, waktu kami pergi ke negara tetangga Elroad dulu, aku disuruh membantu menangkap udang karang tanpa tahu kalau mereka itu lawan yang seberbahaya itu.
Di musim seperti ini, anak-anak nekat biasanya melompat ke sungai, menangkap udang karang atau kecebong untuk leveling tipis-tipis, tapi kudengar kecelakaan air juga sangat sering terjadi.
...Yah, walaupun aku agak ragu apa mati konyol dibunuh udang karang itu pantas dikategorikan sebagai "kecelakaan air".
"Main air yang kumaksud itu bukan yang mengharuskan kita menyewa pengawal petualang cuma buat pergi ke sana, atau yang membuat kita harus selalu waspada sama pijakan di bawah air. Aku mau tempat di mana kita bisa main air dan bersenang-senang dengan santai!"
"Hoo. Kalau aku sih, makin banyak sumber air itu hal yang bagus, jadi aku tidak keberatan."
Sesuai gelar Dewi Air-nya, entah karena dia senang wilayah kekuasaannya bertambah atau bagaimana, Aqua menyetujui usulanku.
Darkness tampak berpikir sejenak, lalu berkata,
"Keuangan kota Axel... atau lebih tepatnya, keuangan negara ini sedang tidak bisa dibilang bagus. Buktinya, anggota kerajaan seperti Iris-sama sampai harus pergi ke negara tetangga untuk meminta bantuan dana. Kita tidak bisa menghamburkan uang dalam jumlah besar untuk sesuatu yang belum pasti bisa balik modal, tahu?"
"Setelah dengar gaya hidup mewah bangsawan tadi, omonganmu itu tidak ada unsur meyakinkannya sama sekali. Lagipula, fasilitas ini dijamin bakal menguntungkan, jadi tak masalah."
Meski sangat tidak cocok dengan penampilannya sehari-hari, Darkness yang notabene adalah seorang bangsawan itu langsung menunjukkan ketertarikan saat mendengar kata "menguntungkan".
"Kalau memang benar-benar bisa untung, aku tidak keberatan mengalokasikan anggarannya, tapi.... Konkretnya bagaimana? Kalau kau menetapkan harga tiket masuk yang terlalu mahal, pengunjungnya pasti bakal terbatas, 'kan?"
Tenang saja, semuanya aman terkendali.
"Baju renang yang dipakai di dalam area kolam harus memiliki luas kain di bawah batas maksimal yang telah ditentukan. Dengan syarat itu, pengunjung wanita gratis masuk. Sedangkan untuk laki-laki dikenakan biaya 2.000 Eris per orang..."
"Usulanmu ditolak karena berpotensi merusak moral dan ketertiban umum, dasar bodoh!"
Ideku ditolak mentah-mentah, dan proposal yang sudah kubuat susah payah pun dibuang.
──Namun, dokumen yang dilempar ke lantai itu dipungut oleh seorang pejabat pria.
"Biaya pembangunannya tidak terlalu mahal, ya. Atau lebih tepatnya, jujur saja ini jauh lebih murah daripada harga pasaran. Bagaimana Anda bisa menekan biayanya sampai serendah ini?"
"Aku lumayan akrab dengan Mandor konstruksi tembok luar kota, kadang kami suka minum bersama. Waktu kubilang aku mau membuat fasilitas rekreasi sebagai tempat bersantai buat semua orang, dia dengan senang hati berjanji akan bantu."
Benar sekali, rencana pembangunan kolam renang ini memikul impian banyak orang.
Bukan hanya Sang Mandor, tapi ketua asosiasi pertokoan dan berbagai lapisan masyarakat lainnya pun turut memberikan dukungan mereka.
"Begitu rupanya, mereka semua tersentuh oleh antusiasme Satou-dono. Hmm, kalau begini sih, sepertinya kita benar-benar bisa mengharapkan keuntungan."
Berkata demikian pejabat itu mengembalikan dokumen tersebut ke atas meja Darkness, lalu membuka suara untuk meyakinkannya.
"Dustiness-sama..."
"Tidak boleh."
Sebelum si pejabat sempat mengucap sepatah kata pun, Darkness sudah memangkasnya hanya dengan dua kata.
"Saya bahkan belum bicara apa-apa! Lagipula, sebagai pemangku kebijakan, apa gunanya jika Anda tidak berinvestasi pada proyek publik yang menjanjikan keuntungan! Saya mendukung rencana Satou-dono!"
"Tepat sekali. Di dalam draf rencana ini, ada juga permintaan dari pihak pertokoan yang ingin membuka gerai makanan di dalam fasilitas kolam renang. Kita tinggal memberikan izin usaha sebagai imbalan atas bantuan mereka menanggung sebagian biaya konstruksi."
"Rakyat akan senang jika ada fasilitas hiburan, pedagang mendapat untung, dan pendapatan pajak Axel pun akan meningkat. Dibandingkan hanya berteduh di bawah pohon, ini jauh lebih efektif sebagai langkah penanggulangan heatstroke akibat cuaca panas yang ekstrem ini. Terlebih lagi, poin tentang 'Night Pool' ini? Dengan menciptakan ruang untuk bersosialisasi, hal ini akan membantu meningkatkan angka pernikahan di Axel yang terus menurun! Saya sungguh sulit mengerti kenapa Anda masih ragu!"
Kecuali satu pejabat wanita yang terus menatap dengan pandangan dingin, Darkness tampak kewalahan menghadapi kobaran semangat dari rekan-rekan kerjanya. Ia menjulurkan kedua tangannya dengan sikap defensif.
"Kalian, sejak kapan kalian jadi begitu akrab dengan Kazuma.... T-tapi tetap saja... Kalau memang mau dilanjutkan, setidaknya hapus bagian tentang luas kain baju renang itu. Kalau tidak, moral dan ketertiban umum di kota ini bisa..."
Melihat Darkness yang sama sekali tidak paham meski statusnya adalah Wakil Penguasa Wilayah, kesabaranku akhirnya habis juga.
"Justru itu bagian yang paling penting! Kalau kau bicara soal moral, kau sendiri itu eksistensinya sudah melanggar ketertiban umum!"
"Jangan seenaknya menyebut orang sebagai barang porno! Kubunuh kau nanti! Lagipula, dokumen ini cuma mencantumkan biaya konstruksi! Kalaupun kolamnya sudah jadi, bagaimana dengan biaya perawatannya?!"
Jangan remehkan mantan petinggi guild besar biarpun cuma di gim online. Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang.
"Aqua, setiap tahun di musim seperti ini, aku minta kau merapal sihir Sacred Create Water ke kolamnya. Imbalannya, kau boleh minum sepuasnya di gerai makanan yang ada di sana."
"Serahkan padaku! Bakal kupastikan airnya selalu bersih nan suci."
Seolah-olah dia telah mengantisipasi hal seperti itu, Darkness meninggikan suaranya lagi.
"Lokasi! Apa kau sudah menyiapkan lahan pembangunannya?! Lahan di dalam tembok kota itu terbatas. Sangat sulit mencari tanah luas untuk kolam renang, meskipun kita punya uang untuk membelinya!"
Seakan memang menunggu kata-kata itu keluar, aku segera membentangkan peta.
"Kalau soal lahan, di sini ada yang kosong. Di sebelahnya ada bangunan yang dulunya dijauhi karena dianggap rumah berhantu, ditambah lagi penghuni yang tinggal di sana selalu saja membuat masalah, jadi tidak ada orang yang mau pindah ke tanah itu..."
"Itu 'kan lahan di sebelah rumah kita! Ah! Jadi alasanmu begitu bersemangat mempromosikan rencana ini adalah supaya kau bisa melihat wanita berbaju renang kapan saja?!"
Si payah yang tidak tahu akan akal sehat dunia ini, giliran masalah begini saja cepat sekali tanggapnya.
"Sekitar rumah kita itu banyak rumah kosong, lagipula sampai kapan pun tidak akan ada yang mau pindah ke sana! Aku cuma ingin dibangunkan oleh suara ceria gadis-gadis yang sedang main air! Aku ingin menghabiskan liburan musim panas dengan minum-minum di balkon sambil memandangi wanita berbaju renang! Aku ini membantu tanpa dibayar, wajar kalau aku dapat keuntungan sampingan begini!"
"Mana ada yang wajar! Mana sudi aku membiarkan pajak dipakai untuk hal konyol begini! Bahkan Alderp, si penguasa korup itu saja, cuma berani mentok sampai membuat pemandian cermin satu arah di rumahnya! Membangun kolam renang cuma karena ingin melihat baju renang itu skalanya sudah bukan rakyat jelata lagi!"
Di tengah perdebatanku dengan Darkness, Aqua tiba-tiba bertanya dengan wajah doya-gao yang entah kenapa terlihat bangga.
"Tuh Darkness. Kazuma-san kita ini kalau di saat begini benar-benar tidak bisa diandalkan, 'kan?"
"……Iya, aku baru ingat lagi betapa ampasnya laki-laki ini. Aku juga ingat saat Festival Syukur Dewi Aqua dulu, dia bertindak semaunya sebagai panitia pelaksana..."
Lama-lama meladeni mereka hanya buang-buang waktu.
Aku pun merampas dokumen yang hendak dibuang oleh Darkness.
"Pokoknya ini sudah pasti untung, jadi sudah cukup, 'kan? Yang keberatan cuma kau saja! Sudahlah, cepat stempel saja!"
"Sebagai sesama wanita, biar kukatakan ya, kolam renang yang penuh hawa nafsu begini tidak akan ada yang mau datang meski digratiskan sekalipun!"
Aku mencengkeram tangan Darkness, mencoba memaksanya membubuhkan stempel.
"Sial, dalam kondisi begini dia masih melawan... Ita-ta-ta-ta-ta! Patah, tanganku mau patah!"
"Petualang level rendah sepertimu berpikir bisa menang adu tenaga melawanku, hah?!"
Tepat saat aku malah balik dilumpuhkan oleh Darkness dan lenganku nyaris dipatahkan, saat itulah terdengar suara...
"Aku sudah dengar semuanya!"
Bertolak belakang dengan suaranya yang begitu bersemangat, pintu diketuk dengan sangat sopan sebelum akhirnya terbuka perlahan.
![]() |
| Kedatangan Megumin ke kediaman Darkness |
"Megumin, tolong aku! Penguasa zalim ini tidak mau mendengar aspirasi rakyatnya!"
"Megumin, kau datang di waktu yang tepat! Tolong buang pria ini ke suatu tempat!"
Yang muncul adalah Megumin yang sedang digendong di punggung seorang pelayan.
Tanpa sadar, langit di luar jendela sudah berwarna jingga kemerahan. Karena asyik berdebat, aku sampai tidak menyadari suara ledakan tadi, tapi sepertinya dia sudah menyelesaikan rutinitas hariannya.
Meski tubuhnya tampak lemas lunglai, mata Megumin berkilat-kilat penuh ambisi.
"Aku dengar Darkness sedang kesulitan karena urusan pemerintahan yang tidak biasa dia lakukan! Aku pikir kenapa belakangan ini kalian pulangnya telat, ternyata begini! Tega sekali kalian meninggalkanku sendirian!"
"S-soal itu, aku minta maaf. Tapi kalau Megumin ikut campur, aku merasa urusannya bakal jadi makin gawat..."
Megumin yang merasa dicampakkan selama beberapa hari terakhir ini pun mendeklarasikan diri dengan suara lantang.
"Sekarang karena aku sudah di sini, semuanya akan baik-baik saja! Suku Penyihir Merah itu identik dengan kecerdasan tinggi! Memberi saran kepada penguasa adalah tugas seorang penyihir. Mulai sekarang, aku yang pernah menyandang predikat lulusan terbaik di Desa Penyihir Merah ini akan ikut turun tangan!"
"…………Tidak, itu…… Kalau kau bisa membawa Kazuma pulang saja, itu sudah cukup bagiku……"
Melihat bala bantuan baru yang menyusul datang, Darkness sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
Bagian 4
Keesokan harinya.
Meskipun perilaku sehari-harinya agak "ajaib", secara mengejutkan Megumin mampu membereskan dokumen-dokumen dengan sangat cekatan.
"Gerombolan Crow Hornet mendekati hutan untuk mengincar sarang Tawon Raksasa, ya.... Mari kita pancing Hashiri Taka-tobi yang merupakan predator alami mereka ke dalam hutan. Hashiri Taka-tobi memiliki insting untuk menyerang benda-benda keras. Di sinilah Darkness berperan."
"Begitu rupanya. Kita akan menggunakan otot perut Dustiness-sama yang lebih keras dari Adamantite sebagai umpannya, ya."
"……Beruntunglah kita sedang kekurangan tenaga kerja. Kalau ini situasi normal, aku pasti sudah mengirimmu ke garis depan sekarang juga."
Darkness yang tampaknya sedikit tersinggung memberikan tatapan tajam pada pejabat pria itu, sementara aku mengoper dokumen ke sebelah kananku.
"Bagian tonton, tolong yang ini. ……Fuu. Pekerjaan yang didelegasikan padaku sudah beres semua, jadi berikan sisanya. Kalau bisa masalah di dalam kota saja. Aku sudah muak dengan fenomena alam atau urusan makhluk hidup."
Entah apa asyiknya merapikan kertas, tapi Aqua yang entah kenapa sedang dalam suasana hati yang sangat bagus menerima dokumen itu.
Megumin yang berada di sebelah kiriku meletakkan tumpukan dokumen baru di mejaku.
"Kalau begitu, aku serahkan dokumen-dokumen ini pada Kazuma. Sebagai gantinya, biar aku yang membereskan masalah di luar kota. ……Ngomong-ngomong, apa itu 'Bagian tonton'? Itu jabatan yang belum pernah kudengar. Kazuma ini memang kurang pengetahuan umum, tapi malah tahu hal-hal yang aneh, ya."
"Tugas Bagian tonton adalah merapikan dokumen yang sebenarnya malas kami lihat. Begitu dokumennya menumpuk, Darkness akan memprosesnya sambil setengah menangis."
"Soal itu, aku ingin minta tolong orang lain saja buat mengurus hasil tonton-an itu..."
Mendengar percakapan kami, Megumin sepertinya menyadari jenis dokumen seperti apa yang sedang di-tonton itu.
Dia pun menundukkan pandangan ke dokumen di tangannya, lalu mulai bergumam seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"……Humu? Pakar meteorologi dari Ibukota menyatakan kekhawatirannya mengenai suhu udara di Axel yang secara tidak wajar jauh lebih tinggi dibanding kota-kota lain..."
"Anu, apa ada yang bisa menggantikanku mengurus dokumen hasil tonton-an ini..."
Darkness memelas dengan suara yang seolah hampir menangis, namun wajah Megumin yang sedang membaca dokumen itu perlahan berubah menjadi serius.
"Kemungkinan Roh Agung Musim Panas sedang berulah sangatlah kecil, dan dikhawatirkan ada seekor Fire Dragon yang sedang tertidur jauh di bawah tanah Axel.... Naga, ya. Akhirnya saatnya tiba juga."
"Jangan bilang kau mau sok-sokan jadi Dragon Slayer. Coba kulihat.... Pakar meteorologi itu akan datang ke Axel untuk melakukan investigasi, ya. Terus, mereka mau minta tolong petualang tangguh untuk jadi pengawal.... Yah, kalau bicara soal party petualang tangguh di kota ini..."
Baru saja aku hendak melanjutkan kalimatku, Darkness menyela.
"Ah. Ada party besar 'Clumsy Legion' yang mengandalkan jumlah anggota. Ada juga party beranggotakan empat wanita 'White Lily'. Lalu.... party tiga orang 'Sanken' yang dipimpin oleh Swordmaster pemegang pedang sihir, atau petualang solo 'Kokou no Kurenai' (Si Merah yang Terasing), mungkin?"
………….
"Memang ada party lain yang tangguh, tapi kalau melihat dari sisi perilaku, empat party inilah yang paling layak. Kudengar 'Sanken' saat ini menjadikan Ibukota sebagai markas utama mereka, dan 'Kokou no Kurenai' adalah yang paling normal—baik secara kemampuan maupun kepribadian, dia yang paling mudah dimintai tolong, tapi..."
"Salah! Kalau bicara soal party tangguh, harusnya kami duluan yang disebut!"
"Benar sekali! Daripada party antah-berantah yang tidak jelas asal-usulnya begitu, harusnya kau mengandalkan kami! Menjadi pengawal otoritas dari Ibukota itu termasuk jenis permintaan yang menguntungkan!"
──Eh, tunggu sebentar.
"Ngomong-ngomong, nama-nama yang kau sebutkan tadi itu nama party? Petualang lain memangnya pakai kasih nama ke party mereka segala?"
"Hm? ...Kalau dipikir-pikir, kita memang belum mendaftarkan nama, ya. Mengingat pertemuan kita saat membentuk party ini cukup... istimewa."
Yang benar saja. Jadi bagi orang lain, memberi nama party itu sudah jadi hal yang lumrah?
Lagipula, 'Kokou no Kurenai' yang disebut tadi, mau dipikir bagaimanapun pasti itu Yunyun, kan? Anak itu mendaftarkan diri sebagai party solo?
"Oi, ini bukan waktunya mengurus pemerintahan. Kita ini sudah beraksi sejauh ini, tapi kalau sampai sekarang masih belum punya nama party, rasanya tidak keren, kan?"
Jujur saja, aku baru tahu kalau ada sistem pendaftaran nama party.
Kalau diingat-ingat, di cerita isekai yang kubaca di Jepang pun, momen tokoh utama memberi nama party itu sudah jadi semacam tradisi.
"Kalau dipikir-pikir, memang masalah kalau party yang dipimpin oleh seorang dewi tidak punya nama. Orang-orang di Guild juga tidak bisa terus-menerus memanggil kita 'Aqua-sama dan pengikutnya', kan?"
"Mungkin kita dipanggil 'party-nya Satou-san'. Tapi sejujurnya, aku merasa nama itu juga agak gimana, gitu."
"Itu... bukannya mau sombong, tapi menurutku nama 'Dustiness' itu terdengar cukup keren..."
Darkness yang biasanya tidak suka menonjolkan diri pun ikut angkat bicara sambil menyingkirkan dokumennya.
Sepertinya para pejabat juga sudah mulai bosan dengan pekerjaan kertas ini, karena mereka pun mulai tertarik dengan topik nama party kami──
"Serahkan saja padaku, si ahli dalam urusan pemberian nama. Akan kubuatkan nama yang sangat keren sampai-sampai jiwa siapa pun yang mendengarnya akan bergetar."
Berkat perkataan Megumin itu, pekerjaan untuk hari ini pun resmi berakhir.
Perdebatan sengit yang kembali menyeret para pejabat di ruangan itu pun meledak──
Bagian 5
Setelah bertukar salam pagi dengan para pejabat, aku mengumumkan keputusan kami kepada semua orang.
"Maaf soal kemarin karena sudah mengacaukan pekerjaan. Party kami tidak butuh nama. Mari kita lanjut seperti biasa saja."
"Benar, tidak ada lagi pertengkaran. Mari kita semua bekerja sama dengan rukun."
Kami pun sepakat untuk tidak lagi menyinggung soal nama party. Jujur saja, kalau bukan karena sihir pemulihan Aqua, mungkin sudah ada dua orang yang kehilangan nyawa gara-gara masalah sesepele itu.
Ngomong-ngomong──
"Kenapa Darkness menangis? Ada apa pagi-pagi begini?"
"Sebelum ke sini kami mampir ke Guild Petualang. Untuk meminta si Topeng Aneh itu melakukan pekerjaan ramalan. Terus, sebagai syarat untuk menerima pekerjaan itu, di depan semua orang Darkness dipaksa mengatakan, 'Sebenernya aku bisa aja minta tolong peramal dari Suku Penyihir Merah, siiih~. Tapi berhubung Vanir udah sering bantuin aku~. Apalagi kita dulu pernah menyatu, jadi mau gimana lagi, kali ini kukasih kerjaan ke kamu deh!', begitu," jelas Aqua blak-blakan.
……Rasanya aku pernah mendengar kalimat itu di suatu tempat.
"Itu 'kan kalimat yang kau usulkan tempo hari. Iblis jahat itu, padahal ada aku di sampingnya yang seharusnya membuat kemampuannya sulit melihat masa depan, tapi dia malah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melihat hal apa yang paling dibenci Darkness. Gara-gara itu, dia bilang untuk sementara dia tidak bisa memakai kekuatan penglihatannya. Sebagai imbalan atas emosi negatif yang meluap-luap itu, dia berjanji akan meramalkan rute pergerakan Belalang Tentara nanti."
"Bajingan itu... dia sampai mengerahkan kekuatan penuh cuma buat bikin Darkness menangis?"
Darkness memang pulang sambil terisak, tapi kalau dengan begitu kita bisa dapat ramalan gratis, itu hasil yang sangat bagus.
Demi rakyat, mengorbankan diri sendiri kepada iblis, kurasa itu tindakan yang cukup mulia sebagai seorang bangsawan.
"Bagaimana Ayahanda bisa mengelola pemerintahan dengan anggaran sekecil ini.... Sekarang aku sedikit paham perasaan Alderp yang memungut pajak tinggi..."
"Jangan bicara sembarangan! Kalau pajak dinaikkan lagi, aku bakal bikin kerusuhan! Sekarang saja kita sudah disuruh bayar pajak yang macam-macam!"
Dunia berbeda, pajaknya pun berbeda.
Aku masih paham soal Pajak Penghasilan, tapi apa-apaan itu "Pajak Level"?
Katanya, karena petualang mendapat banyak keistimewaan, mereka yang sudah mencapai level tinggi harus berkontribusi dalam pertarungan dengan benar. Kalau tidak mau bertarung, mereka harus membayar pajak sesuai dengan kekuatan dan penghasilan mereka.
Lalu bagaimana dengan orang tanpa bakat sepertiku yang levelnya naik tapi stat-nya tetap rendah? Apa aku disuruh berhenti jadi petualang dan jadi warga biasa saja?
"Nah, mari pulihkan semangat dan mulai bekerja lagi hari ini! Baiklah, dokumen pertamanya adalah..."
Megumin bersuara ceria mencoba mencairkan suasana, tapi begitu memegang dokumen tersebut, ekspresi wajahnya langsung datar dan dia terdiam membeku.
"Oi, berikan itu padaku."
"Kenapa? Ini bagianku yang mengurusnya. Kazuma kerjakan saja tugasmu sendiri."
Anak ini... apa lagi yang sudah dia perbuat kali ini?
"Steal!"
"Aah! Dari dulu aku sudah mikir begini, tapi Steal milik Kazuma itu curang! Itu 'kan bukan skill buat mencuri barang spesifik yang kau incar!"
Aku menghindari tangan Megumin yang berusaha merebut kembali dokumen itu, lalu mulai membacanya.
"【 Telah terjadi banyak kasus penyerangan terhadap petualang dari kota lain oleh petualang Axel. Menurut laporan korban, pelakunya adalah seorang gadis berambut hitam dan bermata merah── 】 Kau ini..."
"Eits, terlalu cepat kalau kau menyimpulkan aku pelakunya cuma dari ciri-ciri itu! Yah, walaupun rasanya agak aneh bilang begini tentang kaumku sendiri, tapi semua anggota Suku Penyihir Merah itu sumbu pendek! Bahkan Yunyun yang kelihatan kalem itu saja bakal meladeni kalau ditantang berantem. Jadi, orang yang cocok dengan ciri-ciri itu ada segunung!"
Tepat saat Megumin sedang mengocehkan alibi yang tidak enak didengar itu...
"【 Pelaku dengan sengaja mengumumkan kemenangannya sebelum pergi, berkata: 'Akulah Megumin, petarung nomor satu di Axel! Bisa-bisanya kalian dikalahkan oleh petualang dari kota pemula, ternyata petualang didikan garis depan tidak sehebat itu, ya!' ── 】"
Begitu aku membacakan kelanjutan dokumen tersebut, wajah Megumin kembali berubah sun[4] dan ia langsung terdiam kaku.
TN Yomi Novel: Sun (スン), Onomatope untuk ekspresi wajah yang mendadak berubah datar/kaku karena ketahuan atau salah tingkah.
"Aqua, tolong tonton yang ini juga."
"Serahkan padaku. Tapi ngomong-ngomong, lama-lama aku jadi khawatir sama kondisi mental Darkness. Tadi pagi saja dia baru dibuat menangis oleh pegawai paruh waktu yang jahat itu."
"Tolong biarkan aku menjelaskan alasanku soal perkelahian itu. Akibat serangan Pasukan Raja Iblis yang semakin beringas, para petualang yang mundur dari kota garis depan mulai bersikap sok senior kepada petualang Axel, bilang 'Sini, biar senior yang pulang dari garis depan ini ngajarin kalian para bocah ingusan'. Tentu saja aku harus memberi mereka sedikit 'pelajaran', 'kan?"
Saat aku menyerahkan dokumen itu pada Aqua, Megumin terus membeberkan alasan yang sama sekali tidak terdengar seperti alasan.
Tepat ketika kukira semua orang akan mengabaikannya, salah satu pejabat membuka suara.
"Bukannya saya bermaksud membela Megumin-dono, tapi belakangan ini memang cukup banyak terjadi perselisihan antara petualang pendatang dan petualang Axel. Jika kita tidak mengambil tindakan, masalah ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang serius..."
"……Begitu, ya. Karena petualang di kota Axel kebanyakan berkelakuan baik, aku jadi tidak terlalu memikirkannya. Tapi pada dasarnya, orang-orang yang mengambil profesi ini memang banyak yang bertemperamen kasar. Kuharap para pendatang itu bisa segera menyesuaikan diri dengan tradisi di kota ini.... Uuh..."
Darkness mengerang pelan sambil memegangi kepalanya. Tapi sebenarnya, berkat adanya layanan Succubus di kota ini, para petualang yang kasar itu selalu berada dalam fase Kenja Time [5].
TN Yomi Novel: Kenja Time (賢者タイム), Secara harfiah berarti "Waktu Sang Bijaksana" (sering dipadankan dengan post-nut clarity). Ini adalah slang Jepang untuk kondisi pikiran pria yang menjadi sangat tenang, jernih, dan tidak lagi dikendalikan hawa nafsu setelah melampiaskan hasrat biologisnya
Kalau mereka berbuat onar dan diusir dari kota, mereka tidak akan bisa lagi menggunakan jasa toko impian tersebut. Makanya, khusus untuk petualang laki-laki dengan beberapa pengecualian mereka semua berkelakuan sangat baik dan sopan.
"Para pendatang itu cuma lagi beringas karena belum tahu soal eksistensi toko itu. Nanti juga bakal anteng sendiri."
Malahan...
"A-ada apa, Kazuma? Kenapa kau menatap kami seperti itu? Dan lagi, 'toko' apa yang kau maksud itu?"
"Wajah itu pasti lagi mikirin hal yang tidak sopan. Kalau kau mau ngomong sesuatu, katakan saja."
Seperti yang bisa dilihat dari tingkah mereka ini, di kota ini justru para petualang wanita yang lebih gampang mendidih darahnya.
Dikhawatirkan, kalau petualang pendatang juga ikut berubah jadi pria herbivora, para petualang wanita yang makin tidak laku ini malah akan bertambah ganas.
──Lalu, Darkness yang sedang membaca dokumen sambil memegangi kepalanya tiba-tiba memiringkan kepalanya keheranan.
"Ada dokumen aneh lagi yang terselip di sini..."
Dokumen yang ditunjukkan Darkness sambil berkata begitu adalah selembar surat permohonan yang bertuliskan, 【 Kami menginginkan menara pengawas di kota Axel 】.
"Kota ini mengklaim diri sebagai kota untuk petualang pemula, tapi entah kenapa monster kelas kakap sering sekali menyerang. Walaupun kota ini dikelilingi tembok luar, demi mendeteksi monster yang mendekat lebih awal, menurutku wajar saja kalau ada permintaan untuk membangun menara pengawas."
Sambil dihujani tatapan dari semua orang, Megumin entah kenapa mulai membela perlunya menara itu padahal tidak ada yang bertanya padanya.
"Bukan itu, membangun menara pengawas untuk meningkatkan pertahanan kota itu memang bagus, tapi masalahnya..."
Darkness menyodorkan dokumen bertuliskan rencana lokasi pembangunan itu.
"Kenapa lokasi pembangunannya ada di sebelah mansion kita?"
"Kalau menara pengawas dibangun, tentu butuh orang untuk mengawasinya. Karena itu, demi memangkas biaya tenaga kerja, aku bersedia mengajukan diri sebagai pengawasnya! Entah kenapa di sekitar rumah kita jarang ada orang yang mau tinggal. Ini juga bisa jadi pemanfaatan lahan kosong, dan kalau menaranya ada di sebelah rumah, perjalananku ke tempat kerja bakal sangat praktis!"
Aku pun langsung paham kenapa anak ini ngebet sekali minta dibangunkan menara pengawas.
"Tenang saja, mengingat hubungan baikku dengan Darkness, aku tidak bakal minta gaji. Cuma, karena ini bakal jadi tempat kerjaku, asalkan aku diizinkan memberi nama untuk menara itu, bagiku itu sudah cukup."
"Apanya yang 'sudah cukup'! Kau cuma mikir kalau ada menara di sebelah rumah, kau bisa santai mengerjakan rutinitas harianmu tanpa harus pergi jauh di hari hujan, 'kan?! Mansion kita itu ada di pinggiran kota dekat tembok luar, jadi kalau kau menembakkan sihir dari puncak menara, ledakannya pasti bakal sampai ke luar kota!"
Ditambah lagi, Megumin memang punya kecenderungan menyukai tempat yang tinggi.
Ada pepatah yang bilang orang bodoh dan Raja Iblis itu suka tempat tinggi. Bagi Megumin yang selalu berencana merebut tahta Raja Iblis suatu hari nanti, meskipun tidak bisa punya Kastil Raja Iblis sekarang, dia pasti ingin punya menaranya sendiri.
"Kalau kau sudah paham sejauh itu, urusannya bakal cepat. Aku tahu kalau penduduk kota menggunakan sihirku sebagai penanda waktu pulang kerja. Kalau aku menembakkan sihir dari puncak menara, suaranya bakal bergema jauh lebih keras ke seluruh kota! Punya menara sendiri adalah impian setiap penyihir. Ini adalah transaksi yang adil. Kalau kalian ingin memanfaatkan sihirku, buatkan aku menara khusus untukku!"
Memang, ada kesan kalau penyihir jahat itu suka mendekam di menara atau dungeon.
"Kalau begitu, sekalian saja bangun kolam renang di sebelah menaranya. Dengan begitu aku juga bakal mendukung pembangunan menara itu. Lagipula, kalau ada menara di sebelah rumah, aku tidak perlu repot-repot menggendongmu pulang lagi."
"Bicara apa kau ini, biarpun ada menara, Kazuma tetap jadi petugas seksi tukang gendongku! Belakangan ini aku memang selalu diangkut oleh para pelayan, tapi cara mereka membawaku sama sekali tidak ada rasa cintanya."
"Beriisiiik! Menara pengawas, kolam renang, jangan pakai uang pajak untuk kepentingan pribadi kalian! Jangankan kolam renang yang penuh hawa nafsu itu, menara pengawas pun kutolak! Nanti akan kusiapkan tempat khusus di luar kota untuk menembakkan sihir Explosion, jadi Megumin puaskan saja dengan itu!"
Darkness membuang dokumen itu ke tempat sampah dan membalas dengan nada setengah mengamuk.
"Tempat khusus kedengarannya memang bagus, tapi pada intinya kau cuma mau menjadikannya sebagai objek wisata, 'kan?! Aku tahu orang-orang dari Asosiasi Pariwisata sudah mengajukan permintaan semacam itu!"
"Makanya, kenapa kolam renang tidak boleh?! Kalau ada objek wisata, harusnya fasilitas rekreasi juga boleh dibangun, 'kan! Fasilitas itu bakal membuat semua orang senang, jadi cepat berikan izinnya!"
Menerima protes beruntun dariku dan Megumin, Darkness menutup telinganya dan mulai berteriak.
"Aaaah! Sudahlah, kalian berdua berhentilah bersikap egois! Contohlah Aqua yang duduk manis merapikan dokumen di sana! Tumben sekali Aqua yang paling berguna di sini!"
"Padahal aku bakal senang kalau kau nggak pakai embel-embel 'tumben sekali'. Sepertinya anak ini butuh diberi pelajaran sesekali, ya!"
"Bagus Aqua, hajar saja! Sementara itu, mari kita buat rincian anggaran untuk Megumin Tower dan kolam renangnya."
"Bisa tolong jangan pakai nama Megumin Tower? Aku ingin nama yang punya perpaduan antara rasa gentar dan keren, yang cuma mendengarnya saja bisa membuat anak kecil ngompol di celana."
Darkness yang terus-terusan kami recoki akhirnya...
"Aku akhirnya paham kenapa Ayahanda dijuluki sebagai Belati Tersembunyi Kerajaan! Tolong cepatlah pulang, Ayahanda!"
Jeritnya frustrasi dan hampir menangis layaknya orang yang sudah putus asa──
Bagian 6
──Setelah itu.
"Kawanan Belalang Tentara diperkirakan akan menerjang kota Axel secara langsung pada siang hari di akhir bulan ini! Tolong segera ambil tindakan penanggulangan!"
"Mountain Coatl terlihat di bagian utara Axel. Kemungkinan besar monster itu terbang kemari untuk mengincar katak-katak raksasa yang mengenyangkan, tapi kami tidak bisa memastikannya seratus persen..."
"Sepertinya akan terjadi bentrokan antara Pemuja Eris dan para pemuja iblis! Dan kelihatannya, Pemuja Axis-lah yang menghasut para Pemuja Eris!"
"Sepertinya ada benda bernama Kembang Api Kilat yang sedang populer di kalangan petualang. Kelihatannya itu adalah mainan yang menggunakan Magic Scroll berisi sihir Flash. Kudengar sumbernya dari toko alat sihir yang 'itu'. Asosiasi Penyihir menuntut agar penjualan tanpa izin itu ditindak tegas, tapi pihak toko bersikeras kalau itu bukanlah Scroll melainkan kembang api. Para penduduk kota juga meminta agar kilatan cahaya di tengah malam itu dihentikan──"
Menghadapi keluhan dan perselisihan yang bertubi-tubi setiap harinya, Darkness yang seharusnya penyabar akhirnya meledak juga.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!"
"Darkness!? Jangan! Merobek-robek dokumen, itu tidak akan membuat masalahnya hilang begitu saja!"
"Hei, jangan bikin berantakan! Oi Aqua, kau bisa perbaiki dokumen yang dirobek Darkness kan!?"
"Tentu saja. Kalau ada butiran nasi, aku bisa memperbaikinya dengan sempurna."
Kepada Darkness yang merobek dan menghamburkan dokumen dengan mata berkaca-kaca, para pejabat yang tak kenal ampun itu menyodorkan dokumen baru tanpa bergeming sedikit pun.
"Ini tambahan dokumennya. Dustiness-sama, pekerjaan Anda masih banyak yang tersisa. Kalau kecepatan kerja Anda seperti sekarang, tumpukannya akan semakin bertambah, lho?"
"Kalau Ayahanda Anda, pekerjaan semacam ini biasa beliau selesaikan sebagai sambilan saja. Berhentilah menangis dan cepat kembali bekerja."
"Aqua-sama, bisakah Anda membantu merapikan dokumen yang diacak-acak Dustiness-sama?"
"Serahkan padaku. Aku cuma perlu men-tonton yang berserakan di lantai, 'kan."
Aku tidak akan bilang kalau Darkness sepayah Aqua, tapi dia itu 'kan tergolong anggota party kami yang cuma bermodal otot.
Setelah dihadapkan pada pekerjaan dokumen jangka panjang, kepalanya pasti sudah mau meledak.
……Sejujurnya, kami semua juga sudah hampir mencapai batas kesabaran dalam mengurus administrasi kota ini.
Memang benar party kami sehari-harinya selalu saja bikin onar, tapi bukan berarti semua masalah di kota ini kami yang jadi penyebabnya.
Sudah lama kupikirkan, tapi petualang dan penduduk kota ini lumayan tidak waras.
Setelah terbiasa dengan sihir Ledakan dan serangan monster kelas kakap, ada kecenderungan di mana mereka menganggap insiden selain itu sebagai hal yang sepele.
Fakta bahwa dokumen terus menumpuk meskipun kami sudah mengurung diri di ruang kerja berhari-hari ini adalah buktinya.
"Sepertinya ojou-sama Noukin kita sudah dipekerjakan terlalu berlebihan. Seperti yang ditunjukkan oleh otot perutnya yang terbelah itu, Darkness pada dasarnya itu anak yang suka bergerak aktif. Kurasa dia sudah butuh istirahat sejenak."
Bahkan tidak memberikan reaksi sedikit pun terhadap sindiran 'otot perut terbelah' dari Megumin, Darkness memeluk mejanya dengan wajah tertelungkup, melakukan aksi protes dalam diam.
Membaringkan tubuhnya menutupi meja mungkin adalah bentuk perlawanannya agar tidak ada lagi dokumen yang diletakkan di sana. Namun, sebuah dokumen baru dengan santainya ditaruh tepat di atas kepala Darkness yang sedang tertelungkup itu.
Di sebelah kami, Aqua dengan telaten memunguti dokumen-dokumen itu, men-tonton-nya agar rapi, dan memperbaiki bagian yang robek menggunakan butiran nasi.
Awalnya kukira Aqua hanya akan menjadi pengganggu, tapi ternyata dia cukup membantu juga.
Namun, kalau aku membiarkan Darkness terus-menerus menumpuk stres seperti ini, dia bisa saja kabur dari rumah.
Lagipula, aku sendiri pun sudah ingin keluar rumah untuk urusan selain menemani rutinitas harian Megumin.
──Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Sebenarnya ini adalah tugas yang harusnya diserahkan kepada petualang kota, tapi...
"Oi Darkness. Sore ini, katanya akan ada pakar meteorologi dan tim investigasi yang datang untuk menyelidiki penyebab pemanasan global di kota Axel. Katanya mereka mau mengajukan permintaan pengawalan kepada party petualang yang berkelakuan baik. Bagaimana kalau kita saja yang mengawal mereka demi menghemat anggaran?"
Mendengar kata-kata itu, Darkness mendadak mendongakkan wajahnya.
Saking kencangnya, tumpukan dokumen di atas kepalanya sampai berhamburan, tapi Darkness tidak memedulikannya dan langsung melesat keluar ruangan.
"Aku yang tipe indoor ini bakal nunggu di sini sambil men-tonton dokumen saja ya."
"Ngomong apa kau ini, aku yang hikikomori level akut saja mau pergi. Lagipula, peran penyembuh itu wajib dalam misi pengawalan. Kalau sampai terjadi sesuatu pada target yang kita kawal, tinggal pakai Resurrection-mu saja dan semuanya jadi no-kan."
"Kalau sampai butuh Resurrection, itu artinya misi pengawalannya sudah gagal, tahu! Yah, tapi selama ada Darkness yang alot dan punya skill umpan, kurasa hal-hal gawat tidak akan sering terjadi..."
Prediksi pakar meteorologi tersebut mengatakan bahwa ada kemungkinan seekor Fire Dragon sedang tertidur jauh di bawah tanah kota Axel.
Tapi kalau memang ada makhluk seperti itu yang sedang tidur, harusnya dia sudah bangun dari dulu karena setiap hari ada sihir Ledakan yang ditembakkan tepat di depan hidungnya...
"Maaf membuat kalian menunggu! Karena dulu setelah pertempuran melawan Hydra Kowloon aku berpikir mungkin suatu saat kita akan melawan makhluk raksasa lagi, jadi aku sudah memesan perlengkapan khusus anti-monster besar!"
Lalu, Darkness yang entah sejak kapan sudah mengenakan perlengkapan perang berat muncul sambil membanting pintu.
Kan tadi kubilang tim investigasinya baru datang sore ini, kenapa kau sudah siap-siap sekarang?
Melihat Darkness yang begitu bersemangat, Aqua yang masih men-tonton dokumen pun berkata:
"Hei Kazuma. Aku kok sudah merasa nggak enak ya soal ini."
Kebetulan sekali, aku juga merasa begitu.
──Wanita perwakilan tim investigasi yang datang dari Ibukota itu pun langsung melontarkan kalimat pertamanya:
"Kota ini benar-benar aneh di banyak hal."
"Sebagai orang yang mengelola kota ini, sejujurnya aku tidak terlalu senang mendengarnya..."
Orang yang tiba-tiba melontarkan hal tidak sopan pada Darkness adalah seorang sarjana wanita berkacamata yang berusia sekitar akhir dua puluhan.
Sepertinya dia sudah berkeliling menyelidiki keadaan kota ini sebelum menemui kami, dan kalimat barusan adalah kesimpulan yang dia dapat.
"Ah, tolong jangan salah paham. Maksud saya aneh dalam artian yang baik. Ya, saya bilang aneh dalam artian yang baik."
"Hoo...?"
Darkness yang sejak tadi tampak kesal, kini memiringkan kepalanya kebingungan mendengar hal itu.
Jangan mau ditipu, Darkness. Tidak semua ucapan bisa dimaafkan cuma dengan nambahin embel-embel 'dalam artian yang baik'.
"Pertama, menurut pandangan Elemental Master dari pihak kami, tanah ini dipenuhi oleh energi keberuntungan elemen air yang sangat kuat. Kemungkinan besar, kota Axel ini tidak akan pernah mengalami masalah kekurangan air."
Mulai dari diterjang banjir bandang sampai diserang oleh Roh Agung Badai, kota ini malah sering sekali kena bencana air.
"Lebih jauh lagi, menurut Priest kami, aura keilahian dapat dirasakan dari kota ini. Para pemuka agama di kota ini pasti memiliki moral dan kebajikan yang sangat tinggi..."
Pemuka agama di kota ini sebentar lagi mau perang terbuka dengan kelompok pemuja iblis.
"Yang terpenting, tidak ada aura jahat di kota ini. Untuk kota dengan populasi sebesar ini, wajar jika ada aura hawa nafsu para pria yang kotor, serta berbagai emosi negatif lain yang bergejolak. Tapi sungguh luar biasa apa yang terjadi di sini! Meskipun hari sudah menjelang sore, para pria yang berjalan di jalanan memiliki tatapan mata yang berbinar-binar cerah, seolah mereka sedang memimpikan masa depan yang penuh harapan!"
Itu karena ada iblis yang tinggal di kota ini, makanya hawa nafsu dan emosi negatif mereka dilahap dengan nikmat. Lagian aku juga sudah buat reservasi buat malam ini, jadi wajar saja kalau aku juga bakal memimpikan masa depan yang penuh harapan.
"Intinya, kota ini sama sekali tidak normal. Mengingat ada eksistensi yang sampai mampu mengubah lingkungan sekitar, kemungkinan besar kita berhadapan dengan monster raksasa kelas kakap. Semuanya, kami mohon bantuan kalian untuk pengawalannya!"
"Tentu, kalau soal melindungi, serahkan saja padaku! Demi nama klan Dustiness yang merupakan klan tameng, aku berjanji tidak akan membiarkan kalian terluka sedikit pun!"
Kepada pemimpin tim investigasi yang memohon dengan ekspresi serius itu, Darkness—yang sudah mencapai batasnya akibat tumpukan stres pekerjaan belakangan ini—mendeklarasikannya sambil mengukir senyum yang luar biasa segar──!
"──Padahal kalian sudah repot-repot datang jauh-jauh dari Ibukota, aku benar-benar... benar-benar minta maaf!"
"T-tidak apa-apa, bagi kami ini juga menjadi pengumpulan data yang sangat menarik, kok..."
Cuma butuh tiga menit sampai penyebab aslinya terungkap.
Sementara Darkness meminta maaf habis-habisan kepada tim investigasi, sang penyebab utama pemanasan global itu malah membusungkan dada dengan wajah doya-gao kebanggaan.
"Akhirnya aku pun telah menjadi eksistensi yang begitu luar biasa hingga mampu mengubah iklim dan lingkungan, ya. Sepertinya hari di mana namaku melambung sebagai buronan kelas kakap sudah tidak lama lagi."
"Kalau kepalamu sampai dihargai nilai buronan, aku yang bakal pertama kali memburumu."
──Penyebab pemanasan global itu adalah sihir Explosion milik Megumin.
Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal saat mendengar bahwa hanya suhu di Axel saja yang mendadak tinggi?
Lagi pula, kalau memang ada makhluk seberbahaya itu di bawah tanah, mana mungkin katak-katak raksasa itu mau bersembunyi dan berhibernasi di sana.
Darkness, yang sejak tadi bersusah payah mempertahankan ketenangannya, akhirnya jatuh berlutut lemas setelah melepas kepergian tim investigasi yang pulang ke Ibukota menggunakan sihir Teleport.
"Uhk, uhk.... Aku sudah tidak kuat lagi.... Kukira aku bisa terbebas dari pekerjaan dokumen ini walau cuma sebentar, tapi tumpukannya malah tambah satu lagi..."
"D-Darkness, coba pikirkan dari sudut pandang ini! Ancaman yang membahayakan kota itu sejak awal memang tidak ada! Krisis yang mendekat telah berlalu, dan kedamaian telah tiba di Axel... Aaaah, apa yang kau lakukan?!"
Melewati batas kesabarannya, Darkness langsung menerjang Megumin yang baru saja melontarkan komentar tak perlu itu.
Sambil menghela napas panjang, aku mengeluarkan selembar dokumen.
"Di sini ada pekerjaan yang seharusnya diserahkan ke Guild Petualang."
Dua orang yang sedang asyik bergulat itu serempak menoleh ke arahku.
"Alasan kenapa dokumen ini bisa ada di sini adalah karena quest ini merupakan pekerjaan yang tidak ada seorang pun yang mau mengambilnya. ...Benar, Darkness. Kecuali dirimu, tentunya."
"Tidak ada yang mau mengambilnya kecuali aku, katamu? Memangnya itu apa..."
Saat Darkness hendak mengatakan sesuatu, aku menyodorkan dokumen itu tepat di depan wajahnya.
"Isi quest-nya adalah membasmi Slime Mesum."
"Slime Mesum!? Kau bilang Slime Mesum!? Apa maksudnya itu, cepat serahkan dokumennya padaku!"
Dengan wajah luar biasa serius, Darkness merebut dokumen itu dan membacanya lamat-lamat.
"...Begitu rupanya, ini adalah situasi yang sangat gawat. Ini bukan saatnya mengurus pekerjaan kertas!"
"Membasmi slime yang punya kecenderungan suka menempel pada petualang wanita, ya.... Kekuatan serangannya memang sangat kecil, tapi para petualang wanita enggan mengambilnya karena bayarannya yang rendah. Sedangkan para petualang pria, entah kenapa mereka merasa membasmi slime semacam itu adalah tindakan yang kelewat batas sehingga mereka juga menolaknya.... Slime ampas macam ini memang harus segera kita basmi."
Rasa putus asa yang menyelimuti Darkness beberapa saat yang lalu seketika lenyap tak berbekas. Dengan suasana hati yang sudah sangat membaik, dia berseru lantang.
"Slime kurang ajar yang menjadi musuh bebuyutan para wanita ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Ayo berangkat, Kazuma! Kita harus segera melindung... membasmi slime ini secepatnya!"
"Syukurlah suasana hatimu sudah membaik. Tapi setelah urusan ini selesai, kau harus kembali ke tugasmu sebagai penguasa wilayah.... Hei, walau kau tutup telinga rapat-rapat begitu, kerjaanmu tidak bakal hilang secara ajaib!"
Sejak awal aku memang sudah punya firasat buruk saat mendengar soal permintaan pengawalan itu. Jadi, sebagai langkah antisipasi jika quest itu berujung zonk, aku sengaja menyimpan dokumen ini untuk sarana pelampiasan stres Darkness.
──Lalu, Aqua dengan lembut meletakkan tangannya di atas kepala Darkness yang sedang meringkuk sambil menutup telinga demi menolak mendengar perkataanku.
Entah apa lagi yang mau dia mulai sekarang, tapi ekspresi Aqua saat ini benar-benar memancarkan senyuman penuh kasih sayang layaknya seorang dewi sungguhan──
Darkness yang masih meringkuk pun melepaskan tangan dari telinganya dan menengadah menatap Aqua.
"Mengekang diri dan hidup dengan penuh keseriusan, ataupun hidup santai tanpa berusaha keras, toh kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kalau begitu, daripada memikirkan hari esok yang tidak pasti, lebih baik engkau nikmati saja masa sekarang yang sudah pasti ini."
"Hentikan. Ajaran sektemu itu terlalu menusuk buat Darkness yang mentalnya lagi terpojok sekarang."
Entah karena hatinya sedang sangat rapuh atau bagaimana, tatapan Darkness ke arah Aqua sudah persis seperti anak domba tersesat yang mendambakan keselamatan.
"Kalau ada sesuatu yang membebani pikiranmu, jalani saja masa sekarang dengan gembira. Mengalirlah ke arah yang lebih nyaman. Kalau ada hal yang tidak engkau sukai, lari saja darinya. Melarikan diri itu bukan berarti kalah. Ada pepatah yang mengatakan, 'melarikan diri adalah sebuah kemenangan'."
"Darkness, jangan dengarkan dia! Tutup lagi telingamu! Kalau putrinya sampai masuk jadi Pemuja Axis, ayahmu pasti bakal shock berat!"
"Benar kata Megumin! Darkness, kau ini Pemuja Eris yang taat! Kalau kau sampai pindah sekte, Chris bakal menangis!"
Mendengar seruanku dan Megumin, raut wajah Darkness sempat mendung sejenak.
Biar kelakuannya mesum begitu, dia ini adalah sisa-sisa hati nurani di party kami. Kalau dia sampai tercemar oleh Ajaran Axis, dia bakal benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.
"Darkness. Aku bukannya menyuruhmu pindah sekte. Aku cuma khawatir jiwa dan ragamu bakal hancur kalau kau terus-terusan memaksakan diri begini. Kau cuma perlu berserah diri pada ajaran ini untuk sementara waktu. Anggap saja ini masa trial terbatas, cuma sampai ayahmu pulang. Kalau cuma begini, Eris juga pasti bakal memaafkanmu, kok."
"Eris-sama juga bakal memaafkanku..."
Mana mungkin dimaafkan, dia pasti bakal shock bukan main.
"Darkness, percayalah pada ayahmu. Serahkan semuanya pada ayahmu. Atau, serahkan saja pekerjaanmu yang sekarang pada dirimu di masa depan. Untuk saat ini, kau istirahat saja. Kalau besok masih bisa istirahat, ya istirahat saja. Dirimu di masa depan pasti bakal berjuang keras untukmu."
"……………………"
Darkness pun memutuskan untuk memercayai dirinya di masa depan──
![]() |
| Aqua yang menyemangati Darkness |



