![]() |
| Konosuba Yorimichi 4 - Job Kelas Atas Ingin Terus Mengawasi |
Bab 2: Job Kelas Atas Ingin Terus Mengawasi
Bagian 1
Di depanku yang sedang menyamar menjadi pohon peneduh jalan, Kazuma-san meninggikan suaranya.
"Tidak, mending yang ini! Daripada pertunjukan yang baru rilis, mending sekuel yang sudah pasti terjamin keseruannya! Karya baru yang baru tayang perdana itu mending ditonton nanti saja kalau ulasannya bagus!"
Sebaliknya, Megumin pun membalas dengan tak kalah sengit.
"Apa yang kau bicarakan, Kazuma? itu namanya cuma lari dari kenyataan! Kita harus jadi yang pertama! Kita tidak mengikuti tren yang sudah ada, tapi kita yang harus memelopori tren itu! Tren itu bukan diikuti, tapi diciptakan! Kitalah yang harus jadi pionirnya!"
Di depan gedung teater yang penuh sesak oleh pengunjung, mereka berdua berdebat soal pertunjukan apa yang mau ditonton tanpa memedulikan pandangan orang sekitar.
"Tempo hari gara-gara kau ngomong begitu juga kita ujung-ujungnya nonton pertunjukan ampas, 'kan! 【Aku yang Didepak dari Party karena Dianggap Tidak Berguna, Terbangun dengan Kekuatan Sejati dari Profesi Unik NEET, dan Ternyata Memang Benar-Benar Tidak Berguna】! Apa-apaan coba itu, cuma buang-buang uang dan waktu!"
"I-itu 'kan karena aku cuma tertarik sama judulnya! Judul yang bawa-bawa kata 'NEET' itu yang salah, soalnya itu ngingetin aku sama seseorang!"
Megumin, kalau dipikir-pikir lagi, perkataanmu barusan itu terdengar seolah kau bilang kalau kau cuma tertarik sama 'seseorang' itu, lho.
Kazuma-san, kau paham 'kan makna terselubung dari ucapan Megumin barusan?
"Oi, 'seseorang' yang kau maksud itu aku, kan?! Berhenti mengaitkan NEET denganku!"
"Habisnya kau belakangan ini sama sekali tidak pernah pergi berpetualang! Aku gak bakal kaget kalau kolom profesi di Kartu Petualangmu sebentar lagi berubah jadi NEET!"
"Selama kolom profesi di kartumu belum berubah jadi 'Maniak Ledakan', hal kayak begitu tidak akan terjadi! Lagian, aku ini cuma tidak mau kerja karena sudah punya uang! Jangan samakan pensiun dini dengan NEET!"
Benar juga, soal yang satu itu aku setuju dengan Kazuma-san.
Kalau tidak, aku yang hidup santai mengandalkan uang pensiun ini juga bakal dianggap NEET.
Onee-san ini bukan NEET.
Aku ini adalah pegawai negeri yang telah memeras keringat demi melindungi negara hingga menderita luka parah, dan akhirnya diberi kelonggaran untuk menghabiskan sisa hidupku di kota yang aman ini.
"Cuma ganti istilah doang tapi intinya tetap saja NEET, 'kan? Apanya yang pensiun dini, remaja belasan tahun yang sehat bugar tapi kerjanya cuma main-main doang itu ya pantesnya disebut NEET."
"Tidak pantes, tahu! Aku cuma lagi menikmati hidup santai pakai uang hasil kerja kerasku sendiri, jadi panggil aku pakai sebutan lain! Entah itu 'Kaum Kelas Atas', 'Seleb', atau apa pun terserah!"
Aku sendiri adalah wanita sehat berusia dua puluhan yang menjalani hidup sederhana. Tapi aku bisa kembali sehat begini juga berkat datang ke kota ini, jadi kurasa aku berhak menyebut diriku sebagai veteran perang yang terluka.
Yah, biarpun aku sebenarnya bukan tentara militer. Melainkan mantan agen intelijen.
"Cepatlah, nanti keburu mulai! Aku mau nonton! 【Lamaran Ke-Satu Juta Kali】! Hari ini kita tonton kisah romansa!"
"Ayo pilih 【Selesaikan dengan Menari, Potemkin】! Kau juga suka kan cerita Baron Potemkin? Di rak bukumu ada banyak sekali berjejer buku serinya!"
Ternyata Megumin suka Baron Potemkin, ya. Aku juga suka, Potemkin.
Cinta dan perselisihan antar manusia, banyak misteri dan foreshadowing yang membuat penasaran, serta trik yang rumit.
Lalu membuang semua kerumitan itu dan menyelesaikan masalah pakai kekerasan, rasanya puas sekali, 'kan.
"Ara, padahal kau jarang main ke kamarku, tapi ingatanmu lumayan tajam juga, ya."
"Habisnya Terlalu banyak buku yang menarik minatku. Apa-apaan coba, kau memajang buku-buku dengan judul yang rada minta di-tsukkomi seperti【Si Cantik dan Raja Buas】 atau 【Penyihir Tidur di Hutan】."
Kazuma-san benar-benar paham ya soal buku kesukaan Megumin. Hebat, hebat.
"【Si Cantik dan Raja Buas】 itu menceritakan tentang cinta beda ras yang bersemi melalui balas dendam, sebuah kisah romansa yang sangat memuaskan dan menyegarkan. Di suatu tempat, hiduplah mantan petinggi Pasukan Raja Iblis yang dijuluki Raja Buas dengan tenang. Lalu, seorang putri yang diusir karena kalah dalam perebutan takhta datang menemuinya dan berkata, 'Jika kau bersedia meminjamkan kekuatanmu padaku, akan kuberikan separuh dari negaraku'."
"Hentikan, jangan menodai mahakarya klasik! Tapi aku agak penasaran juga, jadi nanti pinjamkan padaku ya kalau kita sudah pulang."
Aku juga jadi penasaran. Nanti coba kubaca kalau uang pensiunku bulan depan sudah turun.
Tapi Kazuma-san, Megumin itu lho yang ngajak nonton kisah romansa!
Ingin nonton kisah romansa bareng orang yang disukai, itu artinya sudah jelas, 'kan! Harusnya kau iyakan saja ajakan nonton Lamaran Ke-Satu Juta Kali ituuu....
"Ya sudahlah. Hari ini aku mengalah, tapi besok kita tonton Potemkin!"
"Boleh. Sebagai penggemar Baron Potemkin, aku juga penasaran dengan seri ini. Karya pertamanya, 【Selesaikan dengan Memukul, Potemkin】, dan karya keduanya, 【Selesaikan dengan Bernyanyi, Potemkin】, dua-duanya sangat bagus. Besok, ya, janji."
Apa-apaan tuh, dengan santainya bikin janji kencan lagi buat besok. Seperti yang diharapkan dari Kazuma-san yang selalu bisa diandalkan di saat begini.
Mantap, mantap. Benar banget, kalau nonton buat kencan sama gadis sih pilihannya mutlak kisah romansa, 'kan! Yah, biarpun aku tidak punya pengalaman kayak gitu sih.
Lagian aku juga belum pernah nonton pertunjukan teater.
"Kalau begitu, ayo kita pergi. Permisi, tolong dua tiket teater untuk 【Lamaran Ke-Satu Juta Kali】, pakai diskon couple, ya. Kazuma, tolong bayar."
"Siaap! Dua tiket diskon pasangan, totalnya jadi 1.500 Eris, yaa~!"
"Eh. Ah, iya, k-kalau begitu ini uangnya..."
TN Yomi Novel:【Lamaran Ke-Satu Juta Kali】 (Hyakuman-kai me no Propose) adalah pelesetan dari drama TV Jepang terkenal "101-kai me no Propose" (101st Marriage Proposal).
Benar juga, kalau Megumin pasti sudah jelas bakal memilih beli pakai diskon couple yang menguntungkan itu, 'kan.
"Kau ini bener-bener gampang sekali ya melakukan hal semacam itu. Tolong jangan kasih serangan mendadak di siang bolong begini, 'kan sudah kubilang kasih aba-aba dulu."
"……? Katanya bulan ini diskon couple-nya bisa terus dipakai, jadi untuk tiket besok biar aku yang bayar. Dengan begitu kita jatuhnya patungan, 'kan."
Hmm, sepertinya bukan itu deh yang mau Kazuma-san sampaikan.
"Tapi memang benar aku harusnya bilang dulu, maaf ya. Hari ini kita tiba-tiba memutuskan untuk nonton teater pas lagi di jalan mau melakukan rutinitas harian. Kalau mau pergi melakukan rutinitas, aku selalu meninggalkan barang bawaan dan dompet di rumah biar bebanku jadi lebih ringan untuk orang yang nanti bakal menggendongku."
Bukan gitu Megumin, bukan gitu. Bukan bahas soal pembayarannya, Kazuma-san salah tingkah tuh bukan gara-gara itu.
"Tidak, masalah patungan itu terserah, lagian kau 'kan harus mengirim uang ke keluargamu, jadi besok biar aku saja yang bayar lagi. Bukan itu masalahnya, caramu ngomong 'diskon couple' dengan santainya itu.... Yah, harganya memang jadi lebih murah dan menguntungkan, jadi sebenarnya ya tidak masalah juga..."
Tuh 'kan, Kazuma-san pasti bakal kepikiran soal itu. Wajar aja sih kalau dia jadi terbawa perasaan.
"Oh, maksudnya itu. Ya tidak apa-apa 'kan, pura-pura jadi pasangan biar dapat harga murah. Lagipula, kita tidak disuruh ciuman di depan mereka sebagai bukti kalau kita ini beneran pasangan, 'kan."
"Bisa tolong jangan terang-terangan bicara 'pura-pura jadi pasangan' di depanku yang jualan tiketnya?"
Nah lho, Mbak penjual tiketnya jadi repot 'kan. Jelas saja dia repot kalau kalian membicarakan kecurangan terang-terangan tepat di depan hidungnya.
"Hubungan kami ini lebih dari sekadar teman tapi belum jadi sepasang kekasih, jadi hitungannya tidak sepenuhnya bohong, 'kan? Aku juga tidak benci kok kalau pegangan tangan kayak begini."
Aaaah! Megumin-san, ini gawat lho! Megumin-san! Megumin-san! Kenapa malah pasang wajah gadis kasmaran di tempat keramaian begini sih, Megumin-san!
Kazuma-san yang tiba-tiba digenggam tangannya juga ikut-ikutan merah mukanya tuh!
Jangan jangan, gawat banget ini, masih siang bolong dan banyak orang yang lihat! Semuanya pada lihat, aku juga lihat, Mbak penjual tiketnya apalagi!
"Yah, kalau soal ciuman pun.... E-eto, kalau misalnya memang terpaksa harus dibuktikan.... mau kulakukan?"
"Baik, ini dua lembar tiket diskon pasangannya, terima kasih banyak! Kalian berdua ini sudah jelas-jelas pasangan sejoli!"
Bener banget, Mbak. Bener banget.
Haa... tenang, keep calm. Onee-san ini bisa-bisa ketahuan penyamarannya kalau terlalu baper dan panik begini.
Bukan cuma Kazuma-san sih yang merasa jantungan, aku pun sama. Jadi tolong jangan ngasih serangan mendadak kayak gitu lagi deh, Megumin.
"O-oi, di sekitar sini juga ada anak kecil, jaga ucapanmu! Oi, jangan malah salting setelah kau sendiri yang mengatakannya!"
"Iya, iya, ayo pergi Kazuma! Acaranya sudah mau mulai!"
Telinga Megumin sampai merah begitu, biarpun wajahnya disembunyikan pakai topi, mata Onee-san ini tajam lho, jadi kelihatan jelas.
Berada di sini lebih lama lagi bisa gawat. Melihat pasangan sejoli yang baru selesai nonton kisah romansa itu sudah pasti bakal bikin overdosis, mending aku mundur saja.
Haa... Syukurlah aku memilih Axel sebagai kota tempat tinggalku setelah pensiun.
Hari ini pun, dua oshi-ku benar-benar toutoi ──
TN Yomi Novel: Teetee / Mulia (Toutoi / 尊い), Istilah slang otaku untuk mendeskripsikan sesuatu (biasanya interaksi karakter anime/vtuber) yang saking manis, imut, dan berharganya sampai-sampai terasa suci atau mulia untuk disaksikan.
Bagian 2
Begitulah ceritanya, makanya aku pingin banget bagi-bagi asupan gosip ini ke kamu.
...Ah, iya, iya. Beda kapal, ya, beda kapal.
Kamu 'kan tim yang maunya Kazuma-san nggak jadian sama siapa-siapa dan mereka semua hidup rukun selamanya. Berisik ah, Kazuma-san itu harusnya jadian sama Megumin, tahu.
──Eh, daging yang di sebelah sana udah matang tuh.
Ngomong-ngomong, kau tahu dongeng atau semacamnya nggak?
Ah, 【Gadis Loli Penjual Korek Api】, ya.
Kisah balas dendam tentang gadis kecil misterius yang berteriak, 'Dunia yang memaksa anak kecil malang sepertiku bekerja sambil kedinginan begini mending hancur saja!', lalu keliling membakar segala hal pakai korek api sihir misterius itu, 'kan.
Mengingat job-mu, kau memang kelihatan kayak tipe yang suka cerita balas dendam sih.
Terus, kau tahu dongeng 【True-derella】?
Iya, iya, cerita tentang Derella, putri bungsu keluarga rakyat jelata yang sering di-bully ibu tiri dan kakak perempuannya, terus akhirnya sukses naik kasta itu.
Kisah di mana rakyat jelata yang memakai perlengkapan gaun dan sepatu sihir pemberian penyihir, berhasil menang melawan para putri bangsawan yang rajin skincare-an dan pakai makeup on-point, cuma bermodalkan kecantikan alaminya doang.
Cerita ampas yang ngajarin kita kalau yang sebenarnya dicari pria kaya itu bukanlah kecerdasan atau latar belakang keluarga, melainkan cuma wajah cantik dan masa muda.
──Ah, daging yang itu juga udah matang. Mumpung kita lagi di restoran mahal, cepetan dimakan mumpung belum gosong.
...Hah? Kau nggak tahu setting kalau gaun dan sepatunya itu adalah item sihir?
Lolos dari kejaran penjaga kastel level tinggi dan sang pangeran itu, kecuali kalau kau sehebat Kazuma-san dalam urusan kabur, orang biasa mah nggak bakal mungkin bisa melakukannya, 'kan.
Kau juga dulu pernah kerja bareng aku sebagai agen intelijen, jadi kau paham 'kan maksudku?
Bener 'kan, bener 'kan. Nah, ada satu hal yang paling kusuka dari cerita itu.
Gadis jelata yang berhasil menyalip tuan putri dan nona bangsawan buat dapetin hati sang pangeran, rasanya ngasih harapan dan mimpi banget, 'kan.
Aku sebenarnya suka sih sama Lalatina-chan atau Iris-sama, tapi pada akhirnya aku tetep pingin Kazuma-san bahagia sama Megumin.
【True-derella】 itu 'kan berakhir happily ever after setelah dia menikah sama pangeran.
Tahu nggak kelanjutan ceritanya setelah mereka menikah?
Ceritanya tuh, karena si gadis jelata itu mendadak menikah dengan pangeran, tapi dia nggak bisa baca-tulis, nggak paham tata krama, dan nggak berpendidikan sampai obrolan mereka nggak pernah nyambung, akhirnya hubungan mereka hancur berantakan dalam sekejap.
Tragis banget, 'kan!
Makanya, menurutku Kazuma-san dan Megumin yang sama-sama rakyat jelata itu yang paling cocok buat jadian.
Lagipula dari awal, buat Lalatina-chan sih perbedaan status sosial mereka itu tembok yang mustahil banget buat ditembus.
Padahal normalnya, Kazuma-san yang sudah mengalahkan banyak petinggi Pasukan Raja Iblis itu setidaknya bakal dikasih gelar kebangsawanan, sih.
Soalnya, alasan kerajaan ngasih gelar bangsawan ke rakyat jelata yang berjasa itu 'kan demi menyerap garis keturunan orang kuat ke dalam negara, atau biar mereka menghasilkan keturunan yang kuat demi meningkatkan kekuatan tempur.
Tapi Kazuma-san itu sejujurnya, cuma beruntung aja, sedangkan stat yang lainnya 'kan ampas banget....
Dia juga nggak punya Divine Relic buat diwariskan ke anak cucunya, jadi ya wajar kalau kerajaan nggak merasa perlu-perlu banget buat menyerap garis keturunannya. Apalagi sama Iris-sama, kalau bukan berkat pencapaian luar biasa sekelas membunuh Raja Iblis sungguhan, udah pasti mustahil deh mereka bisa bersatu.
Lagian, Kazuma-san itu nggak bakal bisa bikin harem. Dia nggak secerdik dan setidak bertanggung jawab itu buat ngelakuin hal semacam itu. Yah, justru karena sifatnya itulah semua orang jadi tertarik padanya, sih.
Tapi Kazuma-san... atau lebih tepatnya Aqua-san itu 'kan magnet bencana, jadi yah, biarpun belum sampai ngelawan Raja Iblis, aku ngerasa mereka bakal terus-terusan berhadapan sama petinggi Pasukan Raja Iblis ke depannya....
──Hah?
Kau jadi khawatir dan pengin ngajarin skill ke Kazuma-san?
Jangan ngawur deh, skill milikmu itu 'kan isinya yang bahaya-bahaya semua.
Tidak, tidak. Aku juga sebenernya pengen ngajarin skill ke dia, tapi aku tetep menahan diri, tahu.
Walaupun skill kelas atas tipe pencuri kayak kita ini kelihatannya bakal cocok banget sama Kazuma-san, sih.
Anak itu 'kan udah milih deretan skill yang lumayan absurd. Masa petualang malah ngambil skill memasak? Harusnya dia milih skill yang lebih berguna buat bertarung, dong.
"Aaaah! Daging yang itu aku yang besarin (bakar)! Dasar NEET pencuri!"
"Karena aku yang bayar, semua makanan di meja ini itu milikku. ...Lagian, kenapa kau malah lebih jago ngebakar daging daripada aku yang punya skill memasak?"
...Ampas banget deh Kazuma-san, masa kalah sama Aqua-san dalam urusan ngebakar daging doang.
"Lihat nih, Darkness. Makanan yang namanya Yakiniku itu dibakar sendiri kayak gini. Terus, kalau sudah matang pas, tinggal dicelupin ke saus ini baru dimakan."
"B-begitu rupanya.... Tapi, ini kedai yang unik ya, membiarkan pelanggannya memasak sendiri. Namun, karena tidak perlu mempekerjakan chef, ada keuntungan di mana mereka bisa menyajikan makanan dengan harga yang lebih murah, ya..."
Benar juga, buat Lalatina-chan yang bangsawan, restoran Yakiniku pasti jadi hal yang asing dan langka, ya.
Megumin ngebakar daging dan ngebagiin ke piring semuanya, kelihatannya manis banget kayak induk burung yang ngasih makan anak-anaknya. Padahal dulu dia yang paling rakus dan gila makan, tapi sekarang dia udah bener-bener jadi wanita seutuhnya, ya.
Dia 'kan punya adik perempuan, makanya sebagai kakak, nalurinya buat ngurusin orang telaten banget.
"Oi Darkness, coba lihat menunya baik-baik. Yakiniku itu tidak murah."
"……? Ah, eto, umm……? Begitu, ya. Mahal, kah……?"
Mahal, tahu. Harga makan di kedai ini saja setara dengan uang pensiun kami selama seminggu penuh.
"Oh iya, aku lupa kalau anak ini anak orang kaya. Biasanya kau pasti makan di tempat-tempat elit yang tidak bisa didatangi rakyat jelata kayak kami, 'kan? Oi, mengaku saja, biasanya kau makan di mana?"
"Benar, kasih tahu! Terus, bawa kami ke sana juga!"
"Benar sekali, kita ini 'kan teman? Party itu harus berbagi penderitaan dan kebahagiaan bersama."
Ah, ah……! Tolong jangan terlalu menyudutkan Lalatina-chan begitu……! Yah, walaupun aku sendiri tahu sih dia biasanya pergi ke kedai yang mana!
"T-tidak, umm, itu……"
"Palingan juga kau pergi ke kedai yang harganya sekitar 3 digit lebih mahal daripada menu di sini, 'kan. Makanya kau sungkan memberitahu kami. Tapi, biarpun kami ini cuma seleb dadakan, kalau kami mau pergi ke sana uangnya ada."
"Bener juga, tempat makan di kota ini hampir semuanya sudah kita taklukkan pakai uang Kazuma-san. Tapi cuma kedai-kedai di distrik bangsawan saja yang selalu penuh reservasinya tiap kali kita mau ke sana. Darkness juga pernah mengalaminya, 'kan? Waktu mau booking, mereka bilangnya, 'Untuk saat ini antrean reservasinya bisa memakan waktu bertahun-tahun...', jadinya tidak pernah bisa masuk."
Tuh 'kan, Lalatina-chan sampai keringatan dingin begitu! Udah dong hentikan, Kazuma-san itu 'kan anak pintar, harusnya kau bisa baca situasi dong!
"Oi, tunggu dulu. Waktu aku bilang 'Palingan harganya 3 digit lebih mahal daripada menu di sini', anak ini sama sekali tidak membantah! Padahal tadi aku cuma bercanda, apa dia serius?!"
"A-ah, tidak, tidak sampai 3 digit! Paling cuma 2 digit!"
"Kazuma-san, Kazuma-san. Karena stat kecerdasanku tidak terlalu tinggi, aku tak paham apa yang diomongin Darkness. Memangnya 2 digit itu maksudnya apa? Itu 'kan harga yang sudah bisa dipakai buat beli rumah."
"Mana mungkin bisa buat beli rumah. ……Eh, tunggu, kalau rumah keluargaku sepertinya bisa kebeli……"
Tadi Aqua-san baru saja bilang, 'kan? Kalau tiap kali mereka mau ke sana selalu dibilang reservasinya penuh dan nggak bisa masuk. Itu artinya……
"Ah! Jangan-jangan selama ini kita selalu ditolak di depan pintu itu bukan karena reservasinya penuh, tapi karena kita dinilai dari penampilan luar, ya?! Itu yang namanya kebijakan 'Rakyat Jelata Dilarang Masuk', 'kan!"
"Begitu rupanya!? Jahat sekali! Nanti bakal kupamerin trik seni panggung andalanku di depan kedainya buat bikin para tamu reservasi itu terpaku di tempat, biar mereka tidak bisa masuk ke dalam!"
Kedai-kedai di daerah sana itu 'kan memberlakukan dress code, jadi sebenarnya kalian itu cuma ditolak secara halus.
Lagipula itu 'kan kedai eksklusif bersistem membership. Kalau nggak ada undangan atau kenalan dari dalam, sampai kapan pun reservasinya nggak bakal bisa diterima.
"B-baiklah! A-aku akan mengatur secara khusus agar makanannya saja yang diantar ke rumah kita! Lagipula, kalian juga pasti tidak suka dengan kedai yang punya aturan tata krama makan yang kaku? Kalau kita makan di rumah, biarpun kita makan sambil berteriak-teriak dan membuat keributan, kita tidak akan mengganggu siapa pun!"
"Itu artinya, kalau kau membawa kami ke sana, kami cuma bakal membuat keributan dan jadi beban!"
"Ah, benar! Memang begitu kenyataannya! Sekarang saja kalian lagi asyik membuat keributan di dalam kedai!"
"Darkness, kau yang suaranya paling berisik! Kalau lagi makan daging enak, harusnya diam sambil... Ah! Aqua, kau baru saja memakan semua daging di piringku!"
Apaan tuh, kau senyum-senyum begitu. Ngelihatin party itu bikin hatimu terasa hangat, ya?
Iya sih, mereka emang kelihatan bahagia banget setiap harinya.
Kalau ngelihat pemandangan kayak gitu, aku juga lumayan paham sih kenapa kau pengin Kazuma-san nggak usah jadian sama siapa-siapa. Pingin rasanya ngelihat party itu terus hidup rukun sama-sama.
Jangan ngangguk-ngangguk kencang gitu, nanti lehermu putus lho. Aku nggak bilang kalau pandangan kita udah sejalan, ya.
Kazuma-san itu tetep harus jadian sama Megumin. Urusan itu ya beda lagi ceritanya.
Hah? Apaan, ngajak ribut ya? Lagian, kalau lagi makan mbok ya minimal copot kek topengmu itu.
"Salah sendiri kau merebut anak yang sudah susah payah kubesarkan. Coba lihat, perutku sampai membesar begini.... Di dalam sini, ada anaknya Kazuma...."
Dari dulu aku udah penasaran, topengmu itu konsepnya gimana sih? Terus kau makannya gimana coba?
Lagian sedari awal, kau ini cowok atau cewek, sih?
"Berhenti menyebut daging panggang sebagai 'anak'! Kau sengaja bicara begitu, 'kan! Mentang-mentang pakai uang orang lain, kau makan rakus sekali sampai perutmu buncit!"
Walaupun karena urusan pekerjaan kita nggak pernah saling ngasih tahu nama, tapi biarpun kita udah selama ini kerja bareng, masa aku bahkan nggak tahu jenis kelaminmu. Rahasia? Apaan sih, kasih tahu dong.
Waktu mengambil pekerjaan ini, aku sudah membuang identitas kewanitaanku....
Eh, seriusan cewek?
Ada kemungkinan nggak sih, di balik topengmu itu ternyata ada wajah pria paruh baya cool yang punya aura misterius gitu?
Gitu ya, cewek rupanya.... Yah, nggak masalah juga sih.
Sialan. Padahal aku sempet mikir sedikit, 'Jangan-jangan orang ini cowok. Kalau cowok bagus deh. Lagian kita udah lama kenal, udah saling paham luar-dalam berkat sering jalanin misi bareng. Kayaknya nggak buruk juga kalau kita menghabiskan masa pensiun bareng-bareng di kota ini'. Eh, tunggu? Jangan-jangan orang ini bakal jadi cinta pertamaku?
Yang bener saja. Karena dia cewek, berarti no-kan (nggak dihitung), 'kan.
──Hah? Bukan apa-apa kok, aku nggak nangis. Ini cuma gara-gara asap panggangan dagingnya pedih di mata. Ya udahlah, abaikan aja soal diriku.
Yah, mau kau ini cewek kek, karena kau sendiri bilang udah ngebuang identitas kewanitaanmu itu, ya udah nggak masalah sih.
"Darkness, daging yang itu lebih enak dimakan pakai garam. Beda bagian daging, beda juga cara makannya".
Pokoknya, maksudku jangan coba-coba godain Kazuma-san, ya. Aku sendiri juga hidup dengan sebisa mungkin menghindari perhatian party itu.
Hmm, kalau kau paham sih bagus. Orang-orang yang hidup di balik bayangan kayak kita ini pantang buat ikut campur sama party yang kelihatan bahagia itu.
Hah? Kalau gitu nggak usah nguntit mereka? Aku bukan nguntit, tahu! Aku ini cuma mengawasi mereka!
Kau juga sama aja, 'kan. Seharian melamun sambil berjemur di depan Guild cuma buat nungguin party itu datang, 'kan?
"Begitu rupanya, ini memang cocok pakai garam. ...T-tunggu dulu, Megumin, bukannya daging yang itu masih mentah!?”
"Ini namanya Reba-sashi. Daging yang memang bisa dimakan mentah."
Lagian Kazuma-san kadang nyapa kau, 'kan? Udah kubilang, jangan sampai terlibat terlalu jauh sama mereka.
Kalau sama Aqua-san sih pengecualian. Toh, dari awal kita berdua udah telanjur berurusan erat sama dia.
Dulu, pas aku kehilangan lengan dominanku di misi waktu itu, di hari aku datang ke kota ini buat menghabiskan sisa hidupku, Aqua-san lagi nangis bombay gara-gara dompetnya hilang.
Waktu aku bantu nemuin dompetnya pakai Treasure Detection dia berterima kasih banget sampai-sampai numbuhi lenganku lagi sebagai imbalan. ...Terus, kalau kau gimana ceritanya?
"Bukan begitu... Kalau sashimi ikan aku masih mengerti, tapi makan jeroan mentah itu butuh keberanian ekstra..."
"Padahal di antara kita semua, Darkness yang kelihatannya paling kebal racun, tapi apa yang kau takutkan? Lagipula, waktu kita makan ikan buntal yang butuh sihir penawar racun itu, kau kelihatan percaya diri sekali, 'kan?"
Oh, gitu. Kau memandu Aqua-san yang lagi nangis gara-gara tersesat di jalan sampai ke Guild.
Dan sebagai imbalannya, dia numbuhi lagi kakimu yang hilang pas misi waktu itu? Syukurlah kalau begitu.
...Tunggu, apanya yang bagus, imbalannya kelewat nggak ngotak kalau cuma buat nebus jasa nyari dompet sama nunjukkin jalan, tahu!
Pertama-tama, Archpriest yang bisa pakai sihir Sacred Highness Heal itu hampir nggak ada.
Terus, Aqua-san yang bisa ngerapal sihir sekelas itu seenak jidat tanpa butuh katalis mahal, kemungkinan besar dia itu beneran 'hal itu', 'kan.
"Justru gara-gara aku dengan pedenya memakan ikan buntal itu dan berujung kita hampir kena party wipe, makanya aku jadi khawatir begini..."
Yah, sudahlah. Disapa sama Kazuma-san sih terserah, tapi pokoknya jangan sampai Kazuma-san ngelihat wajah di balik topengmu itu, ya.
Yah, muka dari orang kelas atas tipe petarung kayak kau ini palingan juga kayak gorila. Tapi sekadar jaga-jaga aja, soalnya aku nggak mau jadi penghalang buat Megumin.
"Haa, mengecewakan sekali. Padahal aku sudah mengakui kalau keberanian Darkness itu nomor satu di Axel, dan kealotannya adalah nomor satu di dunia. Kau adalah seorang Crusader terbaik.... Tidak kusangka kau malah ketakutan cuma gara-gara disuruh makan hati mentah. Biar aku saja yang makan semuanya, jadi sisakan saja untukku."
"A-apa...! T-tentu saja aku juga bakal memakannya!"
Eh, apa? Kau bilang Kazuma-san pernah melihat wajah aslimu? Padahal aku saja yang rekanmu sendiri tidak tahu wajahmu seperti apa?
Kau ini mantan agen intelijen sama sepertiku, 'kan? Bagaimana bisa kau seceroboh itu di depan orang amatir?
...Ah, benar juga. Kazuma-san punya skill Lurking dan Clairvoyance.
Jadi kau ketahuan saat sedang melepas topeng untuk mencari angin malam di tengah kegelapan? Yah, kalau itu sih mau bagaimana lagi.
Aku paham kok, pakai topeng terus itu bikin gerah dan sesak, tapi Kazuma-san sendiri sedang apa keluyuran di jam segitu tanpa membawa penerangan...
"Hou, padahal ini jeroan mentah, tapi rasanya enak juga ya."
"Benar, 'kan? Jangan membenci makanan sebelum mencobanya. Manusia itu kalau niat makan, Goblin bahkan Terror Blight pun bisa dimakan. Yah, kalau aku sih ogah."
"Siapa juga yang mau makan hal itu. Kalau kau pulang setelah makan benda seperti itu, tidak akan kubiarkan kau masuk ke rumah."
Terus, apa Kazuma-san sadar kalau orang yang dia lihat tanpa topeng itu adalah dirimu?
Oh, jadi beberapa hari kemudian dia menyapamu seperti biasa dan mengungkit masalah itu.
Hah? Booking? Apa maksudnya booking?
Dia menggodamu dengan bertanya, 'Boleh tidak kalau nanti aku me-request-mu di kuesioner toko?' Begitu? Aku benar-benar tidak paham.
Sejak kapan kau mulai kerja sambilan di toko mesum, hah?
Lagipula, memangnya ada toko seperti itu di kota ini?
"Hei Kazuma-san. Setelah ini aku mau pergi minum-minum, jadi berikan aku uang. Atau kita pergi minum bareng-bareng saja?"
"Kau ini, setelah makan dan minum sebanyak ini perutmu masih muat saja. Kami mau santai dulu di sini baru pulang, jadi nih, pakai ini buat minum sedikit saja."
Kau tidak bekerja di sana? Sosokmu cuma muncul di mimpi pelanggan saja? Ah, jadi kau tidak membantah kalau itu toko mesum, ya.
Benar-benar tidak masuk akal. Kau ini terkadang tahu hal-hal yang tidak kuketahui, padahal tugas pengumpulan informasi itu 'kan bagianku!
"Kalau segini benar-benar cuma 'sedikit'. Tambah lagi."
"Aku selalu berpikir begitu, tapi tolonglah pakai uang jajanmu dengan lebih terencana..."
Terus, waktu Kazuma-san tanya apa dia boleh me-request-mu, kau jawab apa?
Waktu kau bilang 'boleh', dia malah jadi gelisah? Kebingungan? Aku tidak mengerti.
Apa-apaan kau bilang 'dia terlihat imut' begitu, bodoh! Bukannya kau bilang sudah membuang identitas kewanitaanmu, hah? Kenapa kau malah tersipu malu begitu!
Monster yang bisa mencabut kepala Kobold dengan tangan kosong sepertimu itu tidak ada imut-imutnya sama sekali kalau tersipu malu!
Jangan tunjukkan wajah kasmaranmu di depan anak laki-laki yang usianya sepuluh tahun lebih muda darimu, dasar nenek-nenek!
Berisik! Di mata anak remaja belasan tahun, kita ini sudah masuk kategori nenek-nenek tahu! Apa? Apa? Mau ribut, hah?
Ayo keluar sekarang lewat pintu belakang biar tidak ketahuan party itu, dasar perempuan sialan!
Tidak akan kubiarkan kau mengganggu hubungan Kazuma-san dan Megumin!
Bagian 3
──Yah, semalam bisa dibilang seri lah ya.
Kami berdua memang sama-sama punya Advanced Job, tapi karena profesi dia lebih condong ke tipe petarung, mau bagaimana lagi.
Dasar monster itu, dia malah meninggalkanku begitu saja tanpa merawat lukaku sedikit pun.
Untung saja kami baku hantam di depan kedai. Kalau Aqua-san tidak muncul dari dalam dan menyembuhkanku, aku pasti sudah mati konyol di pinggir jalan.
"Nah, ini dia pertunjukan yang ingin kutonton bersamamu."
"【Lamaran Ke-Satu Juta Kali】…… Ini 'kan, apa yang biasa orang sebut sebagai pertunjukan romansa……"
Lagian Kazuma-san, apa-apaan sih, baru juga kemarin kejadian, sekarang sudah begini lagi.
Kenapa malah datang ke teater bareng Lalatina-chan?
Bukannya hari ini kau sudah janji mau nonton Potemkin bareng Megumin?
"Eits, aku ini tipe orang yang pantang kasih spoiler. Mbak, dua tiket pakai diskon couple ya!"
"D-diskon couple!?"
"I-iya…… Dua tiket paket pasangan, ya……"
Tuh 'kan, Mbak penjual tiketnya sampai keringat dingin melihat Kazuma-san datang membawa cewek yang berbeda dari kemarin……
"A…… Anu, karena kami bukan pasangan, tolong dua tiket harga normal saja……"
Ah, seperti dugaan, Lalatina-chan memang anak baik. Benar banget, jangan mau diajak selingkuh.
Tapi pas ngomong gitu, dia kelihatan agak kesepian lho. Kazuma-san ini bener-bener, ya……
"Memangnya kenapa? Diskon couple itu bagus, dan lebih murah. Lagian tiketnya kan aku yang bayar."
"Pelanggan, sudah dibilang jangan bahas masalah itu terang-terangan di depanku……"
Tuh 'kan, Mbak penjual tiketnya jadi repot lagi.
"Bukan begitu, aku merasa tidak enak menonton teater tanpa diskusi dulu dengan Megumin, apalagi kalau harus memakai diskon couple, rasanya hatiku sedikit perih……"
Lalatina-chan! Lalatina-chan! Lalatina-chan!
"Megumin sudah tahu. Malahan dia sendiri yang minta aku buat nonton ini bersamamu Darkness karena katanya hari ini perutnya lagi sakit."
"O-oh, begitu ya……? Megumin, itu pasti gara-gara dia makan terlalu banyak hati mentah kemarin……"
Jadi Megumin keracunan hati mentah, toh. Ada-ada saja sih……
Tapi ya sudahlah, ternyata sifat dasarnya memang tidak berubah. Masih saja rakus seperti dulu, Onee-san jadi tenang melihatnya.
"Mau minta tolong Aqua buat nawarin racunnya pun percuma, dia baru pulang tadi subuh dalam keadaan mabuk berat dan tidak akan bangun sampai sore. Padahal dia tidak punya uang, tapi entah di mana dia bisa minum sebanyak itu."
Maaf banget, beneran deh. Akulah yang mentraktir Aqua-san minum semalam sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyembuhkan luka-lukaku setelah diserang si monster itu.
"Aqua memang punya pergaulan yang luas, ya.... Tapi, kalau Megumin sudah memberi izin, mari kita nikmati pertunjukannya. Lamaran Ke-Satu Juta Kali.... Aku tidak tahu ceritanya seperti apa, tapi aku sangat menantikannya!"
"Ah, soalnya Aqua tidak bisa diajak menonton yang satu ini. Kalau Darkness, aku yakin kau pasti bakal menikmatinya."
Oi, Aqua-san itu meski begitu kan masih seorang perempuan, lho! Dia pasti bisa menikmati kisah romansa juga!
Tapi Lalatina-chan kelihatan senang sekali ya, syukurlah. Selamat bersenang-senang.
Kemarin aku langsung kabur karena merasa tidak akan tahan melihat kemesraan pasangan yang baru selesai nonton film romantis, tapi hari ini, aku akan mengawasi mereka sampai tuntas....
Sambil menyamar menjadi tanaman pot di pinggir jalan, aku memantapkan tekadku sambil tetap waspada pada pandangan orang sekitar──!
"──Apanya yang kisah romansa, ini kisah horor! Jangan bercanda!"
"Aku kan tidak pernah bilang sepatah kata pun kalau ini cerita romansa. Kau saja yang salah paham sendiri!"
Ternyata dengan judul begitu, isinya malah horor ya.
Kalau tahu begitu, harusnya kemarin aku tidak usah kabur dan tetap mengawasi mereka.
"Saat aku menonton ini dan merasa telah ditipu, aku langsung berpikir. 'Pokoknya aku harus merekomendasikan ini ke orang lain!', begitu."
"Seleramu buruk sekali! Jangan pernah lakukan ini ke orang lain selain aku! Apa-apaan drama panggung ini!"
Pantas saja Megumin memberi izin, ya. Lalatina-chan kasihan banget, tapi imut.
"Tapi pikir saja, mana mungkin manusia bisa melamar sampai satu juta kali kalau bukan hantu. Kalaupun melamar setiap hari, itu akan memakan waktu ratusan tahun."
"Aku tidak butuh ulasan logismu itu! Jangan pakai hantu sungguhan sebagai aktornya! Siapa juga yang memberi izin untuk pertunjukan gila seperti ini!"
Hebat juga. Grup teater ini punya dedikasi yang luar biasa ya. Pasti bakal sukses besar, deh. Akan kuingat namanya.
"Ah! Jadi itu alasanmu bilang tidak bisa mengajak Aqua! Kalau Aqua yang ikut, dia pasti tanpa ba-bi-bu langsung memurnikan mereka semua!"
"Baru sadar sekarang, ya? Hei Darkness, rasanya tidak enak kan kalau cuma kita yang kena tipu? Karena kita sesama korban, ayo kita rekomendasikan ini ke orang-orang di Guild Petualang."
"Itu.... T-tidak boleh, tidak boleh! Drama bodoh seperti ini akan kuhentikan paksa pakai wewenangku sebagai penguasa wilayah!"
"Tadi sedetik kau sempat pasang wajah 'kayaknya seru juga', kan! Curang sekali mau pakai kekuasaan cuma gara-gara kena tipu! Ayo tambah lagi korbannya! Kalau kau tidak mau bantu, aku bakal ajak orang lain sendirian!"
"Jangan menambah korban lagi! Cukup aku saja yang kau permainkan!"
"Karena sudah jelas kalau kalian berdua ini pasangan kekasih, bisa tidak berhenti bermesraan di depanku? Ini loket tiket, tahu."
Duh, Kazuma-san bener-bener, deh....
Bagian 4
──Sisanya sih, ya kejadian yang biasa.
Lalatina-chan ngamuk, Kazuma-san yang lehernya dicekik balik melawan....
Yah, emang sih, sebagai penonton luar itu pemandangan yang menghibur banget.
Iya, iya, bener katamu. Paling bener emang semuanya hidup rukun sama-sama.
Kazuma-san itu emang harusnya............
Jadian sama Megumin, tahu! Dasar bego!
Waduh, bahaya! Berhenti dong, jangan lempar senjata tajam di dalam Guild! Kalau bukan aku, pasti sudah mati itu!
Hah? Bukan nimpuk aku?
"Fuhahahahahaha! Sambutan yang luar biasa! Dasar gadis suram yang hari-harinya penuh aura lembap nan negatif! Berjemurlah di depan Guild seperti biasa supaya tidak jamuran!"
Vanir-san, sudahlah.... Anak ini 'kan orangnya serius, berhentilah datang cuma buat makan emosi negatifnya setiap kali ketemu....
Terus, biasanya kau panggil dia 'Si Suram', tapi kok hari ini panggilannya 'Gadis Suram'?
"Umu, karena si suram di sana sepertinya sudah mengungkap kalau dia betina padamu, maka aku pun mengganti panggilannya. Lagipula, emosi negatif dari orang level tinggi yang serius itu rasanya renyah-renyah licin, sangat lezat sampai diriku tidak bisa berhenti. Apalagi tipe muttsuri yang sok keren bilang sudah membuang identitas kewanitaannya tapi diam-diam melirik iri pada pasangan yang mesra, itu rasanya paling juara."
Oi, ada apa? Apa itu beneran? Kau pura-pura cool tapi aslinya mesum ya? Kau beneran sering ngintip-ngintip? Gimana, jangan gemeteran gitu dong, jawab. Kau... jangan-jangan lagi nangis ya?
"Selain itu, alasan diriku memanggil kalian bukan sekadar untuk mencicipi emosi negatif saja. Diriku punya barang rekomendasi untuk profesi Thief, jadi diriku akan menawarkan satu pada kalian."
Oh, ini Magic Scroll 'kan? Ini barang yang lagi tren belakangan ini, yang isinya sihir Flash itu, 'kan?
Scroll itu barang mahal, lho. Dari mana kau dapat stok sebanyak ini? Bukannya Magic Scroll itu harusnya dikelola ketat sama Asosiasi Penyihir?
"Ini adalah produk buatan tangan dari pemilik toko kami, sang pujangga yang baru-baru ini hobi menulis. Karena ini tercipta sebagai ganti dari waktu tidur si pemilik toko, maka modalnya nol. Dan ingat, ini bukan Scroll, melainkan Kembang Api Kilat. Kalau disebut Scroll, nanti urusan hak patennya bakal berisik."
Berarti ini barang selundupan tanpa izin dong. Kalau sebelum pensiun dulu, aku pasti bakal sujud-sujud pingin punya Kembang Api Kilat ini, tapi sekarang aku 'kan hidup damai....
Lagipula Vanir-san, dari tadi pisau itu masih menancap di tubuh utamamu lho, apa tidak apa-apa?
"Benda sepele begini tidak akan bisa menggores topeng Diriku. Biarkan saja, pisau yang menancap ini lama-lama akan terurai, kembali ke tanah, dan menjadi asupan zat besi bagi tumbuh-tumbuhan. Lalu burung-burung akan mulai berkumpul di sana, dan tak lama kemudian, sebuah kekaisaran agung bangsa burung akan berdiri..."
Kalau memang tidak apa-apa, cabut dong pisaunya, ngeri tahu lihatnya. Aku tidak peduli soal cerita megah itu, tapi sejak Vanir-san buka jasa konsultasi, lapak informasiku jadi sepi pembeli, nih.
Konsultasi sih boleh saja, tapi tolong jangan obral informasi murah dong?
Uang pensiun dari negara itu kecil, tahu. Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa berburu monster di sini buat cari uang jajan tambahan.
"Mau bagaimana lagi, wahai Gadis Penguntit. Kami juga punya alasan kenapa harus mencari uang. Diriku, sama seperti kalian, dilarang ikut campur dalam perburuan kroco di sekitar sini."
Yah, soalnya ini 'kan kota petualang pemula. Kalau iblis agung atau petarung kelas kakap kayak kita berburu serius, katak-katak raksasa itu bisa punah dalam sekejap. Terus, berhenti panggil aku Gadis Penguntit.
"Pada dasarnya bisnis itu memang penuh persaingan. Jika pelangganmu beralih ke jasa konsultasi Diriku, itu artinya toko kami memiliki kelebihan informasi dibanding informan sepertimu. Pahamilah fakta kejam ini, dan diramalkan akan lebih baik jika dirimu ganti profesi. Asahlah teknik penguntitan alamimu itu, maka kau akan menjadi Kamonegi Hunter yang namanya tersohor di seluruh dunia, wahai Gadis Penguntit."
TN Yomi Novel: [1] Kamonegi Hunter: Plesetan dari peribahasa Jepang "Kamo ga negi wo shotte kuru" (Bebek datang memikul daun bawang), yang artinya mangsa yang datang sendiri membawa bumbunya (sangat menguntungkan/mudah ditipu). Vanir mengejek kemampuan menguntit si dark stalker yang hanya cocok untuk memburu target yang gampang.
O-ogah ah jadi Kamonegi Hunter. Namanya norak banget, lagipula aku suka kota ini.
Lagipula, Vanir-san pasti tahu 'kan siapa kami sebenarnya?
Tapi kau berani-beraninya bilang punya informasi lebih banyak dariku.
Aku ini memegang informasi penting tentang Vanir-san, lho. Terus, berhenti panggil aku Gadis Penguntit.
"Berani sekali kau memprovokasi diriku, dasar Gadis Penguntit! Kepercayaan diri yang luar biasa di hadapan Iblis yang Melihat Segalanya, wahai Gadis Penguntit! Jika kau sesumbar begitu, coba biarkan diriku dengar apa 'informasi penting' yang kau maksud itu, wahai Gadis Penguntit!"
Kan sudah kubilang berhenti panggil aku Gadis Penguntit!
──Nama asli Vanir-san itu... Vanirmild, ya?
L-lo, kok... Tiba-tiba suasananya jadi seram begini.
Curang banget nggak sih mengintimidasi pakai aura mengancam begitu? Bagi Vanir-san, iblis agung yang sudah hidup abadi, aku ini cuma bayi yang baru lahir, lho. Masa kau bersikap tidak dewasa begini sama bayi?
"Itu karena kau baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak lucu, wahai informan. Nama asli seorang iblis adalah hal yang mutlak diperlukan jika ingin memanggil iblis spesifik melalui ritual. Semakin detail seseorang mengetahui tentang iblis tersebut, semakin kecil risiko saat memanggilnya. Iblis tipe petarung yang memang ingin dipanggil ke dunia fana untuk mengamuk mungkin akan menyebutkan namanya sendiri. Tapi normalnya, nama asli itu dirahasiakan rapat-rapat. Wahai petarung kuat yang kekuatannya sulit ditembus bahkan oleh penglihatanku, aku akui dan puji kemampuan pengumpulan informasimu. Di mana sebenarnya kau mendapatkan informasi itu...?"
"Bukan di mana-mana, tapi nama Vanir-san itu dipakai seenaknya buat nama menara pandang di Desa Penyihir Merah, tahu."
“!?!??!!??!!?!???!?!?!?”
Sudah begitu, dikasih julukan 'Menara Pandang yang Melihat Segalanya' lagi, benar-benar jadi objek wisata.
Terus ya, di perpustakaan Desa Penyihir Merah juga ada buku yang judulnya seri 【 Duke of Hell 】,
"Dasar ras pencari sensasi konyol! Entah si gadis penyendiri atau si gadis ledakan, terserah, di mana kalian?! Kalian sudah benar-benar melanggar hak privasi orang keterlaluan!"
……Yah. Dia benar-benar langsung melesat keluar dari Guild.
Nah, lihat 'kan? Aku sudah membalaskan dendammu pada Vanir-san yang selalu mengejekmu itu.
Bukannya aku mau pamrih atau apa, tapi gara-gara kemarin makan Yakiniku terus mentraktir Aqua-san, sekarang aku bokek berat. Bisa minta tolong traktir makan nggak?
Oh, boleh beneran? Ternyata kau baik juga ya kalau ditanya begitu.
Mbak, pesan semua yang ada di menu ini dari ujung ke uju—nggak, bercanda kok, cuma bercanda.
Selain makan, karena sudah malam, boleh sekalian pesan minuman keras juga?
Eh, boleh? Ada apa denganmu hari ini? Dermawan sekali.
Padahal kita sama-sama hidup dari uang pensiun, kenapa uangmu bisa sisa banyak begitu?
Karena jarang jajan? Oalah, kau memang bukan tipe yang suka oshi-katsu sih ya.
Aku? Tentu saja aku melakukan oshi-katsu.
Yah, sebenarnya bukan oshi-katsu yang gimana-gimana sih, aku cuma sering kasih berbagai alasan buat mentraktir Aqua-san yang kelihatan pengin minum tapi uangnya nggak ada sampai-sampai gigit jari begitu.
Sebenarnya, entah karena stat keberuntunganku yang tinggi atau apa, aku sering banget nemu uang receh jatuh. Tapi ya tetap saja aku miskin.
Aku belum bisa membalas budi pada Aqua-san karena sudah menumbuhkan lenganku lagi. Biarpun cuma buat kepuasan pribadi, aku ingin membalasnya sedikit demi sedikit.
Tapi yang ada malah sebaliknya, aku sering diselamatkan lagi olehnya, jadi utang budiku malah makin nambah.
Kemarin saja, lengan dan tulang rusukku yang dipatahkan monster antah-berantah itu disembuhkan olehnya.
Iya, monster yang kumaksud itu kau!
Hah? Apa? Kau pikir kau menang karena kejadian itu? Aku ini tipe pengintai, tahu! Aku nggak jago kalau harus berantem hadap-hadapan. Aku ini tipe yang pakai trik kotor sama kayak Kazuma-san.
Apa-apaan tuh tampang sok tenangmu itu. Dasar monster betina sialan yang bisa ngeremes jantung Goblin pakai tangan kosong, jangan kepedean ya!
Ya iyalah kau itu monster, mau dipanggil apa lagi coba.
Sekalian saja, mulai hari ini aku tambahin atribut muttsuri yang suka curi-curi pandang ke Kazuma-san buatmu.
Hah? Kau nggak curi-curi pandang ke Kazuma-san?
Cuma melirik curi-curi pandang ke arah pasangan saja, ya? Berarti ucapan Vanir-san tadi memang benar, dong.
Soal jenis kelaminmu sampai urusan perasaanmu itu, padahal kita sudah lama kenal tapi rasanya tiba-tiba banyak hal yang tidak kuketahui, aku jadi shock sendiri, tahu.
──Oi, baru juga diomongin, Kazuma-san dan Aqua-san sudah datang tuh. Karena sudah malam, sepertinya mereka baru selesai makan malam dan datang ke sini untuk minum-minum.
...Memang sih kau tidak melirik-lirik lagi, tapi kau malah memelototi Kazuma-san habis-habisan, tahu!
Anak itu punya skill Enemy Detection, jadi hati-hati, ya?
Kalau cuma sekadar mengawasi sih tidak apa-apa, tapi kalau tercampur sedikit saja rasa haus darah, dia bakal langsung sadar.
Duh, mulutmu bilang paham tapi matamu itu terlalu lapar, lho. Kalau Megumin ada di sini, kau bisa diledakkan sampai terbang!
Oh, jadi kau merasa penasaran karena dua orang lainnya tidak ada hari ini?
Megumin 'kan keracunan hati mentah, jadi dia masih harus istirahat total.
Terus, Lalatina-chan yang kemarin ikut makan Reba-sashi merasa bertanggung jawab secara sepihak dan akhirnya ikut menemani Megumin. Ya, sekalian buat menceramahi Kazuma-san gara-gara dikerjai nonton drama horor kemarin juga, sih.
Lalu, karena Aqua-san merasa sudah berjasa mengobati Megumin, dia merengek minta pergi minum malam ini, dan akhirnya Kazuma-san terpaksa menemaninya. Ya, kira-kira begitu situasinya.
Kenapa aku bisa menebak sampai sejauh itu?
Ya jelas karena aku khawatir pada Megumin, jadi aku sempat mampir melihat keadaannya sebelum ke sini.
Kau juga jangan ikut-ikutan memanggilku "Gadis Penguntit"! Dasar "Gadis Suram Muttsuri".
...Benar juga ya, biarpun panggilannya agak kurang ajar, dipanggil "Gadis" oleh Vanir-san rasanya agak sedikit bikin senang, ya? Yah, lagian kita 'kan memang masih muda, jadi panggilan "Gadis" itu masih cocok. Masih cocok, 'kan?
Iya, masih cocok kok. Mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu "Perempuan Monster", tapi "Gadis Monster" saja.
Berhenti memanggilmu monster sama sekali?
Kalau begitu berhenti menggoda Kazuma-san dengan matamu itu, baru nanti kupanggil "Gadis Suram" dengan benar.
Kau ini mengaku-ngaku tim "Kazuma-san jangan jadian sama siapa pun", tapi sebenarnya diam-diam kau punya keinginan terpendam buat masuk ke celah itu, 'kan? ...Jangan bohong, mataku sebagai mantan agen intelijen tidak bisa dikelabui, tahu!
Oho, apa-apaan nih?
Kalau kau sampai marah-marah begitu, berarti tebakanku tepat sasaran, dong! Bagian wajahmu yang tidak tertutup topeng itu jadi merah banget, lho!
Boleh juga, kalau mau ribut akan kuladeni! Ayo keluar sekarang, dasar Gadis Monster Suram Muttsuri! Akan kubayar lunas utang kekalahanku semalam!
