Detektif Koishi Tidak Jatuh Cinta: Prolog

Prolog Tantei Koishi menghadirkan kisah Teruya dan Harukaze, dua remaja dengan masalah keluarga rumit yang perlahan mengarah pada misteri tak terduga.

Prolog

"Aku nggak mau ganti nama keluarga, deh."

Di ruang persiapan Tata Boga sepulang sekolah, Teruya bergumam sambil duduk di atas meja, membiarkan kedua kakinya berayun-ayun santai. Tingkah laku yang pasti akan membuat teman-teman sekelasnya melotot kaget kalau melihatnya. Teruya hanya bisa bersikap urakan seperti ini di jam-jam begini saja.

"Sama, aku juga,"

Satu-satunya teman Teruya itu mengangguk setuju sambil menatap ke luar jendela.

"Tapi menurutku, Harukaze malah lebih kasihan. Soalnya, menurutku Harukaze itu nama keluarga yang puitis banget." 

"Apaan tuh, shijou? Lagi bahas ekonomi, ya?" 

TN Yomi Novel: Shijou: Dalam bahasa Jepang, kata Shijou (詩情) berarti "sentimen puitis". Namun, Harukaze salah mengiranya sebagai Shijou (市場) yang pelafalannya sama namun berarti "Pasar/Ekonomi".

"Bukan, bukan. Puisi dan sentimen emosi, jadinya puitis," ucap Teruya sambil tersenyum kecut. 

"Aku tuh idam-idamin nama keluarga yang puitis, lho. Harukaze itu nama yang ideal. Bikin aku teringat sama tulisan Mimei Ogawa, 'Harukaze Amaneshi'. Nah, kalau namaku, huruf 'Teru'-nya sih lumayan bagus kalau dilihat dari sudut pandang tertentu, tapi kalau salah kaprah, malah kepikiran 'Buri no Teriyaki' yang kesannya ibu-ibu rumah tangga banget."

Setelah Teruya merocos panjang lebar, Harukaze menanggapinya sambil tertawa.

"Lah, Buri no Teriyaki kan enak." 

"Aku belum pernah makan. Ibuku nggak bisa masak makanan yang langkahnya lebih dari tiga." 

"Ah, maaf."

Harukaze meminta maaf dengan nada yang pas, sekadar menjaga agar suasana tak berubah canggung. Harukaze tahu betul bagaimana kondisi keluarga Teruya.

Sebenarnya kondisinya cukup sederhana: kemampuan ibunya dalam mengurus rumah tangga sangat di bawah rata-rata, dan ayahnya berselingkuh dengan rekan kerjanya.

"Aku benar-benar nggak bisa ngebayangin harus hidup berdua doang sama Ibu. Yah, meskipun sekarang Ayah juga nyaris nggak pernah ada di rumah, sih."

Dia memang tak sudi bergantung pada ayah peselingkuh, tapi bertahan hidup hanya berdua dengan ibunya terasa jauh lebih berat. Teruya sudah merasa depresi duluan membayangkan kehidupan di mana ia harus belajar untuk ujian masuk universitas sambil terus-menerus menutupi kecerobohan sang ibu dalam mengurus rumah.

Bicara soal pekerjaan rumah mungkin masih mending. Masalah terbesarnya adalah dia harus bisa menghadapi mood swing ibunya yang tak menentu. Teruya harus selalu waspada dan tak boleh melewatkan gejolak sekecil apa pun, karena bisa jadi sifat agresif ibunya—yang selama ini diarahkan pada ayahnya—akan berbalik menyerang dirinya.

"...Kondisi ayahmu, kelihatannya baik-baik saja?" 

"Lukanya sendiri sih nggak terlalu dalam. Cuma mentalnya yang entah gimana. Dia nginap di hotel terus, dan cuma pulang ke rumah sesekali buat ambil barang pas Ibu lagi nggak ada."

Sang ibu, setelah mengetahui perselingkuhan kelima ayahnya, langsung menikam dada pria itu.

Bukan berarti menusuknya tepat di jantung. Daripada ditusuk, mungkin "diukir" adalah kata yang lebih tepat. Ibunya meninggalkan bekas luka berbentuk hati yang retak di dada ayahnya, mirip anak SD yang mengukir inisial nama di meja kayu kelas dengan pisau pahat. Entah disengaja atau tidak, tapi gara-gara itu, ayahnya tidak akan pernah bisa lagi bertelanjang dada di depan perempuan lain.

Secara mendasar, ayahnyalah yang bersalah karena berselingkuh. Jadi kalau ditanya harus memihak siapa, Teruya tentu berada di kubu ibunya. Namun, ia sudah sangat muak dengan keharusan untuk terus memikirkan siapa kawan dan siapa lawan di dalam rumahnya sendiri. Harukaze adalah satu-satunya orang yang bisa menampung seluruh rasa muak itu saat Teruya mengubahnya menjadi keluh kesah.

Sebab, Harukaze pun senasib sepenanggungan dengan Teruya.

"Teruya, rencananya ganti namamu mulai kapan, ya?"

"Bulan April pas kelas tiga, pas ajaran baru dimulai." 

"Sama kayak keluargaku, dong. Pengennya sih, kehidupan kita udah tenang sebelum ujian masuk universitas makin bikin pusing, ya."

Sinar matahari senja di luar jendela nyaris sepenuhnya memudar, melebur ke dalam kegelapan. Musim gugur memang selalu membuat hari lebih cepat gelap.

"Walau udah masuk bulan April, kupikir anak-anak sekelas sama guru bakal tetap manggil kita pakai nama keluarga yang sekarang... tapi pas udah masuk kuliah nanti, pastinya kita bakal dipanggil pakai nama keluarga yang baru, kan."

Ucap Harukaze, setengah mendesah.

"Mungkin. Bakal canggung banget pasti." 

"Eh. Gimana kalau kita tetap saling manggil pakai nama keluarga yang sekarang, walau kita udah lulus nanti?"

Teruya melihat wajah Harukaze yang tampak sedikit malu-malu, lalu tersenyum. Teruya dan Harukaze memang berbeda dengan gadis-gadis lain. Sekalipun mereka sudah begitu akrab—sampai-sampai selalu menghabiskan waktu dengan bersantai di ruang kelas kosong setiap pulang sekolah seperti ini—mereka tetap saling memanggil menggunakan nama keluarga. Mengubah panggilan menjadi nama depan di saat seperti ini rasanya sangat tidak cocok.

"Good adea."

Harukaze berucap dengan nada bercanda, sengaja tak melafalkan huruf "i" pada kata 'idea'. Itu adalah frasa konyol yang sering ia gunakan saat mengobrol dengan Teruya. Harukaze tertawa lepas.

Selama beberapa saat, mereka berdua mengobrol ngalor-ngidul. Namun, Teruya yang semalam kurang tidur, akhirnya menjejerkan beberapa kursi, membaringkan tubuhnya di sana, dan berkata, "Sori, aku tidur sebentar, ya." Mereka memang memiliki ikatan pertemanan yang sebebas itu.

"Karena aku ada janji ketemu sama Ichigo-kun, tolong bangunin aku di menit ke empat puluh lima, ya?" 

"Bakal diputusin, ya?"

Harukaze tertawa, seakan berharap tebakannya benar. "Entahlah," sahut Teruya pelan seraya memejamkan mata.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar