Bab 1
Bagian 1
"Cinta itu sembilan puluh persen tentang mere exposure effect."
Di kursi penumpang, Koishi menutup buku setebal batu bata dengan suara pelan dan langsung melontarkan pernyataan itu. Renjou bahkan tak punya sisa tenaga untuk merespons, jadi seperti biasa, ia mengabaikannya. Sambil menahan sekuat tenaga godaan untuk segera menghentikan mobil, merebahkan sandaran kursi sepenuhnya, dan tertidur pulas, pemuda itu terus mengendalikan kemudi.
Sinar matahari pagi yang baru terbit menyinari jalanan kota, memantulkan cahaya berkilauan pada sepatu kets anak-anak SMA yang berangkat sekolah serta sepeda ibu-anak yang tengah menuju TK. Bagi mereka, ini adalah awal hari. Namun bagi Renjou, ini adalah waktu di mana satu kasus akhirnya ditutup.
"Hei, jangan pura-pura nggak dengar, dong."
Koishi mencubit daun telinga Renjou. Terkejut oleh sensasi hangat dari tangan Koishi, Renjou refleks menepisnya dengan memalingkan wajahnya kuat-kuat.
"Aku benar-benar murni mengabaikanmu, kok."
"Yah, kalau dengar sih nggak apa-apa. Kulanjutin, ya."
Apanya yang nggak apa-apa, belum sempat Renjou menyelak, Koishi sudah nyerocos sendirian dengan lancar.
"Intinya efek paparan berulang itu, makin sering kita berinteraksi, makin gampang rasa suka atau keakraban itu tumbuh. Sebagian besar romansa di dunia ini ya begini ini. Kayak lagu tema anime, makin sering dicekoki telinga kita, lama-lama bakal makin suka, kan? Terus, alasan kenapa mobil kampanye selalu meneriakkan nama kandidat berkali-kali pas pemilihan gubernur, itu karena ada efek yang bikin orang lebih pengin milih mereka dibanding orang yang namanya sama sekali nggak pernah didengar. Sama persis. Ujung-ujungnya, cinta itu—sesuatu yang otomatis muncul buat orang yang paling dekat dan paling sering berinteraksi sama kita."
"Mana ada yang kayak begitu."
Renjou melontarkan bantahan seminimal mungkin tanpa membuang banyak tenaga.
"Bisa banget, lah," Koishi cemberut.
"Selama lebih dari dua puluh tahun sejak aku kenal dunia sampai hari ini, tidak, bahkan dua puluh tujuh tahun kalau dihitung dari sebelum aku sadar lingkungan, aku udah ngelihat orang jatuh cinta jauh lebih banyak daripada jumlah udang karang di Sungai Muromi. Di antara dua orang yang udah lama dan sering berinteraksi, panah-panah cinta pasti bakal tumbuh bermunculan kayak rebung sehabis hujan. Udah pasti begitu hukumnya."
"Nggak, Koishi-san salah."
Niat awalnya sih cuma mau merespons seadanya demi menghemat energi, tapi tiba-tiba muncul dorongan di dada Renjou untuk menuntaskan perdebatan langganan ini sampai akar-akarnya di sini.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Setelah menengok ke kanan dan kiri, Renjou menginjak pedal gas perlahan.
"Selama dua puluhan tahun sejak aku kenal dunia sampai hari ini, aku sudah baca shoujo manga lebih banyak dari jumlah bulu mata Koishi-san. Mulai dari majalah 'Ciao' sampai 'BetsuMa' yang sering dibeli kakak perempuanku, semua jenis karya sudah kubaca. Tapi, cinta itu nggak tumbuh semudah 'air mendidih kalau dipanaskan sampai seratus derajat' hanya karena sering berinteraksi dalam waktu lama, tahu. heroine pasti selalu punya pemicu dramatis yang bikin benih-benih cinta itu tumbuh."
"Ya elah, masa manga dijadiin patokan," Koishi mendengus dingin. "Renjou-kun ini memang aneh, ya."
"Siapa yang ngomong ke siapa, coba?"
"Habisnya, bisa-bisanya kamu nggak kehilangan harapan sama cinta setelah kerja ginian, itu kan aneh banget. Normalnya, kalau udah ngefotoin orang keluar-masuk love hotel sebanyak ini, orang nggak bakal sanggup lagi baca shoujo manga."
"Kasus kali ini targetnya bersih, kan?"
"Tumben-tumbenan, ya. Padahal selain kasus yang ini, semua kerjaan kita tahun ini targetnya kotor semua."
Kantor Detektif Koishi, tempat Renjou bernaung, adalah sebuah biro detektif berskala kecil yang terdiri dari Koishi sebagai pimpinan (merangkap penyelidik), Renjou sebagai konsultan (merangkap penyelidik), dan seorang pekerja paruh waktu di bagian administrasi. Lebih dari sembilan puluh persen permintaan klien yang masuk adalah investigasi perselingkuhan. Karena hanya Koishi dan Renjou yang bisa turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan, mau tak mau Renjou harus terus-menerus memotret pertemuan rahasia di love hotel sampai muak, serta menyaksikan langsung para klien yang menangis histeris atau saking marahnya sampai menggertakkan gigi saat mendengarkan laporan hasil investigasi.
Namun, bagi Renjou, semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Aku nggak bakal selingkuh atau main serong, dan aku juga nggak bakal pacaran sama orang yang suka selingkuh."
"Semua klien kita juga pastinya nggak pernah mikir, 'ah, orang ini kayaknya bakal selingkuh,' lho."
"Nggak masalah. Aku yang bakal membasmi konsep perselingkuhan dari muka bumi ini."
Dari sudut matanya, Renjou bisa melihat Koishi sedang memasang wajah jelek dengan menarik seluruh otot wajahnya ke tengah, membuatnya merasa jengkel. Karena malas menanggapi, Renjou mengabaikannya, dan Koishi pun kembali menenggelamkan diri pada bukunya seolah tak terjadi apa-apa.
"Hebat juga, sehabis begadang mengintai semalaman masih bisa baca buku setebal itu. Pasti ngantuk, kan."
"Novel yang nggak bikin ngantuk walau dibaca itu namanya misteri," ucap Koishi dengan nada bangga.
Bukan berarti kau harus membanggakan hal itu, tapi karena malas berdebat, ia memilih bungkam.
"Ngomong-ngomong Renjou-kun, kamu beneran nggak pernah mau baca buku rekomendasiku, ya. Padahal aku udah susah-susah milih buku yang gampang dibaca buat pemula, atau buku-buku yang dijamin bakal bikin kamu melongo. Nih, yang ini juga seru banget, baca deh, 'Mouryou no Hako'."
"Apanya yang gampang dibaca buat pemula, coba?" Renjou nyaris keceplosan membalas, Itu kan buku kedua dari sebuah seri, tapi ia menahannya. Sebagai gantinya, ia memutuskan untuk mengomentari fisik buku itu. "Bentuknya aja sudah kayak kubus begitu. Itu mah yang namanya buku senjata tumpul, kan."
TN Yomi Novel: Buku Senjata Tumpul (Donkibon / 鈍器本): Istilah slang di kalangan pembaca Jepang untuk menyebut buku novel yang saking tebal dan beratnya
"Aku agak kurang suka lho sama sebutan 'buku senjata tumpul' itu," keluh Koishi sambil mengelus buku bunkobon miliknya.
"Kalau cuma mau heboh soal seberapa tebal fisik bukunya doang, mending sana sekalian baca 'Kamus Besar Bahasa Jepang' atau ensiklopedia Britannica. Yang penting itu adalah, cerita yang menurutku menarik ini dijilid dalam volume yang memuaskan. Justru karena ini adalah bongkahan tulisan panjang yang seru makanya aku merekomendasikannya."
"Tetap aja, ketebalan segitu sudah pasti bukan buat pemula, kan."
Karena merasa malas, Renjou memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Terus, memangnya kenapa kalau sembilan puluh persen cinta itu berasal dari efek paparan berulang?"
Mendengar pertanyaan Renjou, Koishi menepukkan kedua tangannya. Plok.
"Renjou-kun, gimana kalau kamu berhenti kerja dari kantor kita selama sekitar setengah tahun?"
"Hah?"
Tanpa sadar Renjou nyaris menolehkan kepalanya ke arah Koishi, tapi dengan susah payah ia menahan diri untuk tetap menatap lurus ke depan.
"Aku sudah kerja sekeras ini dan ngasih hasil, kenapa aku malah disuruh berhenti? Apalagi kasus-kasus belakangan ini, kebanyakan kan aku sendiri yang nyelidikin."
"Aku juga mikir, kenapa ya aku baru nyadar sekarang... Kita ini udah ngabisin waktu berdua di dalam minivan sempit ini selama lima hari?"
Memang benar, selama lima hari ini Renjou dan Koishi melakukan pengintaian dan pembuntutan demi mengambil foto bukti untuk pengadilan serta melacak alamat selingkuhan target. Hasilnya nihil, tidak ada gelagat perselingkuhan yang terlihat, dan mereka harus menyampaikan kesimpulan kepada klien bahwa itu semua hanya salah paham.
"Terus, apanya yang gawat dari hal itu?"
"Kita ini kan udah ngumpulin poin mere exposure effect banyak banget, tahu?"
Tepat saat mereka mendekati persimpangan, lampu lalu lintas berubah merah. Renjou menginjak rem perlahan hingga mobil berhenti, lalu menoleh ke arah atasannya di kursi penumpang—dengan kening berkerut.
Koishi ikut menoleh ke arah Renjou, sengaja memiringkan kepalanya dengan gaya dibuat-buat. Padahal pakai hair dryer saja dia malas dan sepertinya jarang merawat diri, tapi rambut hitamnya yang luar biasa mulus meluncur lembut menutupi pipi, dan poninya yang dipotong rata jatuh lurus membingkai keningnya.
Seandainya saja sifatnya bisa selurus poninya itu, alangkah baiknya.
Renjou menghela napas tanpa repot-repot menyembunyikannya. Hembusan napas di hari kelima pengintaian ini terasa sumpek, bercampur dengan hawa panas yang aneh dan sisa bahan aktif obat kumur, membuat Renjou rasanya ingin menghela napas sekali lagi.
"Sebenarnya apa sih yang mau kau sampaikan?"
Renjou menatap Koishi dengan pandangan kesal, tapi Koishi sama sekali tidak mempedulikannya.
"Makanya, sembilan puluh persen cinta itu kan dari mere exposure effect. Kalau dibiarin begini terus, Renjou-kun bisa-bisa jatuh cinta padaku, kan. Kita harus sedia penawarnya. Enaknya ngapain, ya?"
"Tolong, deh, ampun."
Renjou berucap tanpa menyembunyikan sedikit pun rasa muaknya. Mana mungkin dia menaruh perasaan cinta pada Koishi. Mustahil.
"Kalau urusan cinta, aku ini tipe yang tertarik sama inner beauty alias kepribadian, jadi sungguh, aku nggak bakal kenapa-kenapa."
"Eh, logikanya nggak nyambung, deh?" Koishi menempelkan telunjuk di dagunya, seolah-olah benar-benar merasa heran. "Malah makin bahaya, dong. Nanti rebung-rebung cintanya makin bermunculan."
"Tolong cari kata 'Introspeksi diri' di kamus, terus baca keras-keras sepuluh kali."
Renjou masih ingin melayangkan protes yang lebih keras, tapi mobil mereka keburu tiba di area parkir kantor. Begitu memarkirkan mobil di tempat terbuka dan mematikan mesin, Renjou langsung mengeluarkan iPhone-nya untuk mengecek notifikasi. Ia memang merasakan getaran ponsel saat menyetir tadi.
"Huft, makasih ya udah nyetir. Pokoknya sekarang kita tidur siang yang nyenyak dulu."
"Siang ini jam satu setengah ada janji temu klien baru, jadi tolong bangun dalam satu jam, ya."
Renjou menyodorkan layar iPhone yang menampilkan notifikasi email permintaan klien ke hadapan Koishi. Koishi terang-terangan memasang wajah masam dan memalingkan muka.
"Renjou-kun, kuserahkan padamu, ya. Kupercayakan semuanya secara penuh padamu. Tolong, ya."
"Kan aku baru aja disuruh resign."
"Uwah, kata-katamu nyebelin," ucap Koishi sambil menyeringai nakal. "Kalau gitu, anggap aja jadi relawan. Temenin aku wawancara klien terus lanjutin penyelidikannya, ya."
"Kalaupun aku setuju, jika ujung-ujungnya kita nyelidikin bareng, apa gunanya aku disuruh resign?"
"Aku paling benci argumen logis."
Tempat parkir terbuka itu berjarak beberapa meter dari kantor. Keduanya berjalan gontai menuju gedung sambil membuang sisa tenaga mereka yang tinggal sedikit untuk berdebat.
Kantor Detektif Koishi menempati lantai dua sebuah gedung serbaguna, sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari Stasiun Kereta Bawah Tanah Nishijin milik pemerintah kota Fukuoka. Melewati lorong pendek dan masuk ke ruang kerja, terdapat satu set perabotan ruang tamu berupa sofa dan meja rendah, lalu di bagian dalamnya terdapat tiga meja kerja yang berjejer. Semuanya adalah perabotan usang pemberian kenalan Koishi. Bahkan meja kerja Renjou yang diletakkan di dekat jendela, salah satu kakinya sudah patah. Patahan itu hanya direkatkan dengan lem dan selotip lakban sebagai penopang seadanya. Di lantai, kabel-kabel listrik yang terpasang asal-asalan tampak saling berbelit dan berdebu.
Koishi menghempaskan diri ke sofa, sementara Renjou duduk di sofa seberangnya. Gerakan mereka lumayan heboh, namun Hinami yang sedang mengetik di keyboard dengan suara berderak di meja paling kanan tidak bereaksi sama sekali. Ia malah terus mengoceh sendirian, "Ngabisin duit buat beli buku mulu, emangnya mau buka bisnis book cafe apa gimana," atau "Wah, Reels kali ini reach akun barunya banyak banget."
"Hinami-san, kami kembali."
Karena tidak ada pilihan lain, Renjou pun berdiri, berjalan menghampiri Hinami, dan melambaikan tangan di depannya.
"Eh, sudah balik, ya. Selamat datang," sapa gadis itu seraya melepas AirPods yang dipakainya.
"Kamu sama sekali nggak nyadar kita balik, ya."
"Noise cancelling di AirPods-ku sama tingkat fokusku kan emang gila. Eh, tapi muka kalian berdua sudah kayak mayat hidup saja, deh. Sumpah, ngakak."
Hinami adalah pekerja paruh waktu di bagian administrasi kantor ini. Mata dan mulutnya besar, hidungnya juga mancung; semua fitur wajahnya sangat menonjol. Bulu mata dan kukunya dihias secara maksimal, ditambah riasan yang menonjolkan namidabukuro semakin mempertajam penampilannya yang mencolok. Sebenarnya wajahnya terlalu 'berat' untuk dilihat sehabis pulang pengintaian, tapi tekanan dari riasan menor itu dinetralkan oleh senyum lembut dengan sudut mata yang menurun, secara aneh memberikan kesan yang menyegarkan.
TN Yomi Novel: Namidabukuro (涙袋): Tonjolan kecil lemak di bawah mata (di Korea Selatan sering disebut aegyo sal). Dalam tren makeup Jepang, menonjolkan namidabukuro dipercaya dapat membuat mata terlihat lebih besar, imut, dan ramah.
"Hinami-san, hari ini memangnya ada jadwal masuk, ya?" Seingat Renjou, gadis itu tidak ada jadwal shift hari ini.
"Hari ini aku libur sekolah, jadi kupikir mending ngerjain nota-nota dulu aja."
Karena Hinami adalah pegawai paruh waktu, jam kerjanya tidak menentu, namun dialah yang menangani seluruh urusan back-office dan pengelolaan media sosial kantor ini.
"Ah, Ren-kun. Sori nih pas muka kalian lagi kayak mayat, tapi tadi ada DM masuk ke Instagram soal request klien. Sudah aku arahin buat ngisi form, jadi kayaknya email-nya udah masuk, kan?"
Entah itu lewat Instagram atau situs web, semua permintaan klien secara online telah diatur agar langsung masuk ke kotak masuk email Renjou.
Karena berkaitan dengan privasi klien, Hinami tidak memiliki hak akses untuk membaca email tersebut. Sementara itu, Koishi sedari awal memang tidak bisa menggunakan PC maupun smartphone, jadi mengurus hal-hal semacam itu sudah menjadi tugas Renjou.
"Sudah masuk, kok. Aku sudah setuju buat janjian jam satu siang."
"Palingan juga kasus percintaan lagi, kan?"
Koishi bertanya dengan suara yang sama sekali tidak menaruh harapan.
"...Ah, tapi yang ini agak langka, lho."
"Hm? Apanya?"
Renjou merasa melihat daun telinga Koishi sedikit berkedut.
"Kliennya, sepertinya anak SMA."
"Eh," Koishi berseru dengan nada penuh semangat. "Kalau anak SMA, mustahil minta investigasi perselingkuhan, kan. Jangan-jangan ini—akhirnya, kasus yang selama ini ku idam-idamkan...?"
Mata Koishi berbinar-binar. Sebelum Renjou sempat mengatakan apa pun, ia sudah melompat bangun dari posisinya yang sedari tadi meleleh di atas sofa, lalu memasang kuda-kuda dengan kedua tangan mengepal layaknya orang yang siap bertinju.
"Kasus misteri akhirnya datang juga, kan?!"
Karena sudah biasa, Renjou tidak terlalu menanggapi tingkahnya.
"Ah, aku baru sadar pas baca ulang email-nya... di pesan klien tertulis, 'Hanya satu detektif saja yang boleh ikut dalam wawancara'."
"Eh, kok gitu?"
"Entahlah... Mungkin dia cuma mau membatasi teman curhatnya. Bisa jadi ini bukan tipe masalah yang bisa diceritakan ke sembarang orang."
"Itu dia! Ini beneran, jangan-jangan ini kasus yang minta kita memecahkan misteri pembunuhan di ruang terkunci? Kalau begitu biar aku yang wawancara! Nggak harus ruang terkunci juga nggak apa-apa, pembunuhan berantai yang meniru lagu anak-anak, atau kasus pembunuhan di mana pisau si pelaku tiba-tiba lenyap juga boleh. Paling mentok, kalau dia berencana main ke vila di pulau terpencil yang nggak ada sinyal dan minta kita nemenin, aku juga bakal maafin!"
"Dari sudut pandang mana coba kau memberi maaf itu?"
"Habisnya, aku udah muak banget sama kasus-kasus percintaan soal siapa selingkuh sama siapa, siapa pacaran sama siapa, siapa tidur sama siapa! Bukannya cuma muak, dari awal aku emang nggak minat, sih. Aku bikin kantor detektif ini bukan buat jadi detektif yang kerjanya mantengin pintu masuk love hotel terus ngelaporin mereka main di ranjang atau nggak. Tiap hari kerjaannya cuma nguntitin pantat om-om atau tante-tante... Aku tuh butuh yang lebih misterius! Detektif itu baru keren kalau ada misteri yang menarik, kan? Di kasus perselingkuhan mana ada misterinya. Lagian kalau mereka sampai dicurigai dan diselidiki detektif, sembilan puluh persen targetnya itu udah pasti kotor. Udah pasti ada rebung cinta terlarang yang tumbuh di sana!"
"Koishi-san, setop."
Renjou berniat menghentikannya dengan nada yang cukup tegas, tapi ia kalah oleh semangat menggebu-gebu Koishi.
"Ngga~k, aku nggak mau berhenti. Gara-gara lima hari ngintai buat nyari bukti bersih-kotor perselingkuhan, rasanya otakku jadi agak bodoh, deh. Mulai sekarang, semua penyelidikan perselingkuhan kuserahkan ke Renjou-kun. Aku cuma mau ngerjain kasus misteri yang saking menariknya sampai-sampai bikin tanganku gatal pengin merogoh isi otakku sendiri. Permintaan anak SMA ini, aku berani taruhan. Aku all-in pakai seluruh karir detektifku! Kulihat-lihat, ini bukan kasus perselingkuhan, tapi pasti kasus sulit yang butuh keahlian deduksi tingkat tinggi—"
Tepat pada saat itu, Koishi sepertinya menyadari arah pandangan Renjou.
Diiringi suara decitan kecil yang entah kenapa terdengar penuh rasa bersalah, pintu yang terhubung ke lorong terbuka. Di sana, berdirilah seorang gadis yang menggenggam kenop pintu dengan sangat hati-hati, seolah-olah mengira pintu itu bakal meledak kalau dia sampai membuat suara.
"Ehm... Sebenarnya saya sangat sungkan mengatakannya," ucap gadis itu dengan suara yang nyaris menghilang. "Saya datang... karena ingin meminta penyelidikan perselingkuhan untuk ayah saya...."
Begitu gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Koishi langsung jatuh merosot ke sofa seolah-olah tulang punggungnya baru saja dicabut. Renjou dengan sigap langsung mencengkeram kedua ketiak Koishi dan mendudukkannya kembali ke posisi semula.
Bagian 2
Untuk sementara waktu, Renjou memutuskan untuk ikut serta dalam wawancara bersama Koishi, sambil menanyakan alasan mengapa klien tersebut meminta hanya ditangani oleh satu pewawancara. Tentu saja, ia tak bisa membiarkan Koishi yang kondisinya sedang mabuk kepayang akan "kasus misteri"—menanganinya sendirian.
"Ehm, sa-saya Satou Mio. Siswi kelas tiga SMA. Karena saya lahir di bulan April, umur saya delapan belas tahun."
Rambutnya diikat rapi menjadi satu di belakang, gaya rambut teladan yang pasti akan lolos dengan mudah meskipun ada razia kedisiplinan yang ketat. Fitur wajahnya yang paling berkesan adalah tahi lalat air mata di bawah mata kirinya dan deretan giginya yang putih rata. Ia sama sekali tidak memakai riasan dan postur tubuhnya agak membungkuk. Pandangannya bergerak gelisah bolak-balik antara Renjou dan Koishi. Kerah seragam jumper skirt yang dikenakannya disematkan lencana sekolah berbentuk bintang (☆), menandakan bahwa ia adalah siswi SMA Hoshino, sebuah SMA negeri di sekitar sini.
"Anu... Sebenarnya saya sudah mencari tahu sebelumnya," ucap Mio seolah menginginkan kepastian bahwa dirinya tidak salah tempat. "Ini... kantor detektif yang ahli dalam penyelidikan perselingkuhan, kan?"
Meski nada bicara gadis itu agak terbata-bata, Renjou menjawab dengan senyum ramah untuk menunjukkan bahwa ia tidak mempermasalahkannya.
"Terima kasih sudah repot-repot mencari tahu. Benar, kami adalah detektif yang ahli dalam penyelidikan perselingkuhan."
"Sebenarnya kami juga ahli memecahkan kasus sulit yang bikin polisi pusing, sih. Kayaknya aku harus nyuruh biar ditulis begitu juga di Instagram, deh."
Renjou mengabaikan ocehan Koishi dengan bergumam pelan, "Kita nggak punya rekam jejak kayak gitu," lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mata Mio. Lebih tepatnya, sedikit di atas matanya, di sekitar pangkal alis. Menilai dari gelagat Mio, Renjou menyimpulkan bahwa gadis itu mungkin tidak terlalu nyaman jika diajak bicara sambil ditatap matanya secara langsung.
"Boleh tahu alasan kenapa Mio-chan menulis 'wawancara hanya dengan satu orang saja' di formulir permintaan?"
Renjou sempat berpikir apakah memanggil klien dengan akhiran '-chan' secara tiba-tiba itu tidak sopan. Namun, ia merasa pendekatan ini akan terasa lebih pas daripada memperlakukannya secara kaku layaknya orang dewasa. Ia pun mengamati reaksi gadis itu. Mio tampaknya tidak menunjukkan rasa tidak nyaman terhadap panggilan tersebut, melainkan lebih terlihat bingung memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
"Itu, um...." Ia terbata-bata, seolah butuh tekad yang kuat untuk mengucapkannya. Di saat Renjou bimbang apakah harus mendesaknya atau menunggunya, Mio mengangkat wajahnya dengan penuh tekad.
"Saya tidak punya uang."
"Hoo." Koishi menopang dagu dengan tangannya. Renjou merasa reaksi itu sangat tidak pantas, tapi Mio sepertinya tidak punya kelonggaran untuk memedulikan tanggapan Koishi dan langsung melanjutkan ucapannya.
"Saya tahu kalau menyewa detektif itu pasti butuh uang... tapi tabungan saya pasti tidak cukup. Supaya bisa sedikit menekan biaya tenaga kerja detektifnya... saya pikir lebih baik meminta satu orang saja."
"Begitu, ya."
Biaya penyelidikan detektif itu sangat bervariasi, dan kadang angkanya tidak bisa dipastikan sebelum ada estimasi. Meski begitu, gadis ini pasti sudah mencari tahu dan langsung paham bahwa biayanya dihitung berdasarkan jumlah penyelidik yang turun tangan serta durasi waktu, dan nominalnya jelas bukan sesuatu yang bisa dibayar dengan mudah hanya menggunakan uang saku anak SMA.
"Saya sempat kerja paruh waktu sampai kelas dua, ditambah tabungan dari otoshidama dan hadiah-hadiah syukuran lainnya... Entah bagaimana, saya bisa mengeluarkan sampai lima puluh ribu yen."
Suaranya pelan dan terdengar agak gugup, tapi pelafalannya sangat tegas. Jelas sekali kalau dia datang ke tempat ini dengan tekad yang kuat.
"Ya ampun. Kalau begitu, kamu harus ngulang kelas dua SMA sekitar sepuluh kali lagi buat kerja paruh waktu, ya."
Koishi nyeletuk sambil menyeringai, seakan kalimat itu baru saja terlintas di kepalanya. Tanpa sadar Renjou langsung membekap mulut Koishi dengan tangannya.
"Tolong diam sebentar."
Walaupun tahu atasannya itu memang tidak punya akal sehat, Renjou tidak menyangka Koishi punya niat buruk sampai tega meledek anak SMA seperti itu. Renjou sedikit syok. Ia mengabaikan Koishi yang meronta-ronta "mhh-mhh" mencoba mengatakan sesuatu dari balik bekapan tangannya, lalu kembali menatap Mio.
"Aku mengerti situasimu. Wawancara ini gratis, kok, jadi biarkan kami berdua mendengarkan ceritamu dulu. Soal biaya penyelidikan, itu bisa berubah tergantung detail kasusnya, dan kalau kita akali caranya, mungkin biayanya bisa ditekan. Untuk sekarang, boleh kami tahu alasan kenapa kamu mencurigai ayahmu berselingkuh?"
Sambil berkata begitu, Renjou sebenarnya sangat sadar akan batasan penyelidikan dengan dana lima puluh ribu yen. Batas maksimalnya paling-paling hanya setengah hari kerja untuk satu penyelidik. Terlepas dari nada bicara dan timing yang tidak pas, ucapan Koishi tadi sebenarnya tidak meleset.
Meski begitu, mendengarkan cerita klien dan mencari tahu apakah ada jalan keluarnya adalah tugas Renjou. Malah, rasanya ia ingin tetap melakukan penyelidikan ini meskipun kantor mereka harus sedikit merugi. Bagi Renjou, anak SMA yang sedang pusing memikirkan perselingkuhan orang tuanya adalah eksistensi yang paling ingin ia bantu.
"Aku ikut klub Mölkky di luar sekolah, tapi—"
Baru satu kalimat Mio berbicara, Koishi langsung menyemburkan tawa.
Saat Renjou menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh kecaman, Koishi langsung menciutkan lehernya.
“Eh, sori. Ini pembicaraan serius, aku ngerti, kok. Cuma baris pertamanya bener-bener di luar dugaan."
"Mölkky itu... yang lempar-lemparan balok kayu itu, kan?"
"Iya, benar. Permainan yang mirip gabungan bowling sama darts... istilahnya, olahraga minoritas. Sebenarnya bukan cuma Mölkky, tapi klub yang mainin berbagai macam olahraga minor... yah, tapi detail itu nggak terlalu penting, sih. Intinya, teman di klub itu memberitahuku kalau dia melihat ayahku sedang jalan bareng cewek muda di Tenjin."
Mio mengeluarkan iPhone dari tas sekolahnya, mengutak-atiknya sebentar, lalu menyodorkannya ke depan. Renjou mengucapkan, "Permisi," sebelum menerimanya.
"Ini difoto dari samping sih, tapi ini memang ayahku. Perempuannya cuma kelihatan dari belakang... tapi yang pasti, itu bukan ibuku."
Di layar, tampak foto dua orang: seorang pria berjas yang terlihat berusia akhir empat puluhan hingga awal lima puluhan, berjalan berdampingan dengan seorang wanita berambut cokelat yang menjuntai hingga sebatas tulang belikat.
Koishi mendekatkan wajahnya ke tangan Renjou untuk mengamati layar iPhone itu lekat-lekat. Mio pun menambahkan penjelasannya.
"Teman klubku kebetulan melihat mereka pas lagi jalan di pusat perbelanjaan bawah tanah Tenjin, dan dia refleks memotretnya. Temanku ini kebetulan lumayan ingat wajah ayahku soalnya dulu Ayah sesekali pernah menjemputku. Padahal wajah ayahku itu biasa-biasa saja dan nyaris nggak ada ciri khasnya, lho."
"Ngomong-ngomong, foto ini diambil kapan?"
"Dua minggu lalu, hari Rabu. Katanya sih sekitar jam tujuh malam lewat."
Jawaban yang cepat. Terlihat jelas dari kecepatannya merespons bahwa ia sudah menyusun dan merapikan informasinya dengan baik sebelum datang untuk berkonsultasi.
"Hari itu, ayahmu...?"
"Dia pulang sekitar jam dua pagi. Alasannya karena ada acara minum-minum sama orang kantor. Hari itu aku niatnya mau begadang buat belajar mati-matian, jadi aku masih bangun. Tapi anehnya, buat orang yang habis minum-minum sampai jam dua pagi, dia nggak kelihatan mabuk sama sekali. Pas melihatku masih melek, dia malah kaget setengah mati."
Kalau dilihat dari situasinya saja, target sudah sangat condong ke arah kotor. Meski begitu, Renjou berusaha mengontrol pikirannya agar tak terlalu dikuasai prasangka. Perselingkuhan ini belum bisa dipastikan.
Butuh alasan dan bukti yang kuat untuk mencurigai seseorang, itulah prinsip hidup Renjou. Yah, walaupun prinsip itu rasanya selalu hampir patah tiap kali ia harus merekam video adegan perselingkuhan di lapangan.
"Temanku juga sepertinya sempat bingung karena takut melukaiku, tapi pada akhirnya dia merasa tidak bisa membiarkannya begitu saja, makanya dia mengirimkan foto itu. Keluargaku memang tidak punya uang, tapi hubungan kami yang sangat rukun adalah kebanggaanku. Teman-teman di sekolah banyak yang suka menjelek-jelekkan ayah mereka bareng ibu mereka biar makin kompak, tapi aku sama sekali tidak seperti itu. Ayah dan aku, Ayah dan Ibu, dan tentu saja Ibu dan aku, kami semua adalah keluarga yang saling memercayai."
Seiring ceritanya mengalir, nada suaranya perlahan mulai diwarnai emosi yang menggebu.
"Berarti, kamu belum membicarakan hal ini sama ibumu, ya?"
Mio mengangguk kecil.
"Kalau perselingkuhannya sudah terbukti, barulah aku akan membicarakannya dengan Ibu. Kalau ternyata ini cuma salah paham, aku tidak mau membuat Ibu merasa tidak nyaman dan cemas. Pokoknya, untuk saat ini, aku sendiri yang ingin mengetahui kebenarannya."
Meski nada suaranya terdengar cemas dan muram, ucapannya sangat tegas.
"Pasti berat ya, memendam semuanya sendirian."
Renjou mengangguk seolah bersimpati, memvalidasi perasaannya. Kenyataannya, ia memang sangat mengerti perasaan itu.
"Se-sejujurnya, aku sampai sama sekali nggak bisa menelan makanan. Rasanya seolah-olah lambungku menutup pintunya rapat-rapat... makanya, aku ingin segera mendapat kejelasan, hitam atau putih. Kali ini, aku juga tidak butuh bukti perselingkuhan yang bisa dipakai di pengadilan. Bagiku, kalau Ayah sudah berjalan sambil bergandengan tangan dengan perempuan selain Ibu, pada titik itu dia sudah berselingkuh."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Mio berdiri dan membungkukkan badannya dalam-dalam. Sebuah postur membungkuk yang begitu rapi sampai-sampai rasanya pantas dijadikan contoh.
"To-tolong bantu aku. Aku sudah tahu kapan kemungkinan Ayah akan bertindak lagi, yaitu Jumat malam minggu ini. Bisakah satu orang detektif saja yang bergerak selama beberapa jam di hari Jumat malam itu untuk menyelidikinya? Untuk sisa biayanya yang kurang, aku akan bekerja paruh waktu dan melunasinya setelah ujian masuk selesai dan saya diterima di universitas."
"Tunggu, angkat kepalamu. Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu kalau hari itu mencurigakan?"
"Hari itu, Ayah bilang dia bakal pulang telat karena jadi panitia acara minum-minum divisinya. Pas aku tanya di mana tempatnya, dia bilang di izakaya bernama 'Kissui' di daerah Tenjin-minami. Tapi, waktu aku menelepon tempatnya dengan pura-pura mau mengubah reservasi, mereka bilang, 'Kami tidak menerima reservasi atas nama Bapak Satou.' Dari situ aku sadar, ah, dia bohong."
"...Tindakanmu lumayan nekat juga, ya."
Renjou menahan diri agar tak sampai keceplosan bilang, Tidak sesuai dengan penampilanmu.
"Entah kenapa, pas Ayah ngasih tahu jadwal minum-minumnya, instingku kayak langsung bereaksi. Aku jadi ingin memastikannya. A-aku tahu kalau ini perbuatan yang nggak baik, sih."
Renjou bimbang. Mio yang sekilas terlihat introvert sampai bertindak seaktif itu, membuktikan betapa kuat kecurigaannya terhadap perselingkuhan sang ayah. Kalau bisa, Renjou sungguh ingin membantunya.
Demi menolong orang-orang seperti inilah, Renjou memutuskan menjadi detektif.
Namun, masalah realitanya—kalau mereka berdua yang turun tangan, uang lima puluh ribu yen tidak akan cukup.
Di saat Renjou sedang pusing berpikir sambil berusaha menyembunyikannya dari ekspresi wajahnya, Koishi mengembalikan iPhone yang sedari tadi dipegangnya kepada Mio dan bertanya.
"Boleh lihat beberapa foto ayahmu yang lain, nggak? Punya foto keluarga, kan?"
"Ba-baik...."
Mio mengutak-atik iPhone-nya sejenak, lalu menyerahkannya kepada Koishi.
TN Yomi Novel: btw di raw nya ditulis iPhone, keknya emang disoponsori wkwk
"Ini album foto waktu kami pergi berkemah dua bulan lalu. Ayah bilang itu liburan terakhir sebelum aku sibuk persiapan ujian. Silakan di-swipe saja."
"Renjou-kun, lakuin gih," Koishi menunjuk Renjou dengan dagunya.
Karena tak ada pilihan lain, Renjou menerima iPhone itu dari Koishi, lalu menggeser fotonya satu per satu untuk memeriksanya bersama-sama. Sepertinya ini adalah album di dalam aplikasi berbagi foto. Hampir semuanya adalah foto yang menampilkan Ayah, Ibu, dan Mio. Sisanya adalah beberapa foto sendirian, foto berdua suami-istri, atau foto berdua ibu dan anak.
Ayah Mio, persis seperti yang gadis itu katakan, memiliki wajah yang tidak terlalu meninggalkan kesan. Gaya rambutnya terlihat seperti sekadar dipotong sebatas bagian yang memanjang saja, kulitnya pucat, kelopak matanya monolid dengan ukuran mata yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil, serta hidung yang tidak mancung tapi juga tidak pesek. Tidak ada ciri khas yang mudah dikenali seperti kumis atau kacamata; keberadaan wajahnya bahkan kalah menonjol dibandingkan hijaunya pemandangan alam di latar belakang. Ibunya memakai kacamata hitam sehingga fitur wajahnya tidak terlihat, tapi garis hidungnya yang mancung lurus sangat mirip dengan Mio.
Setelah selesai melihat foto-foto itu, Koishi mengangkat wajahnya.
"Oke, ngerti. Lima puluh ribu yen nggak apa-apa, anggap saja itu harga diskon pelajar. Jumat minggu ini, dari malam sampai ayahmu pulang ke rumah, kami berdua akan menyelidikinya."
"Eh, bolehkah?"
Tanpa sadar Renjou menoleh menatap Koishi. Biasanya, perempuan itu pasti akan menyuruhnya menolak kasus percintaan yang tidak menghasilkan banyak uang seperti ini. Namun, saat ini Koishi malah menyeringai jahil.
"Kalau cuma sehari, kuanggap sebagai servis khusus, deh."
"...Terima kasih banyak." Wajah Mio langsung semringah. "Berarti, kalian berdua yang akan menanganinya, kan?"
"Soalnya di kantor ini, penyelidiknya cuma aku dan Renjou-kun, sih. Ah, tapi ada peringatan, nih."
Koishi mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
"Sejujurnya, kemungkinan kita pulang dengan tangan kosong itu lumayan besar, lho. Jadi tolong pahami itu, ya. Soal reservasi izakaya itu, bisa aja dia pakai nama rekan kerjanya yang lain, atau pakai nama perusahaan. Kalaupun ternyata ayahmu cuma sekadar ikut acara minum-minum biasa terus pulang, uangmu nggak bisa dikembalikan, ya. Soalnya kami tetap bekerja dan menghabiskan waktu."
"Aku mengerti. Tidak apa-apa."
"Serius, deh, investigasi perselingkuhan itu kalau lagi zonk, ya bener-bener zonk sampai ke akar-akarnya. Penyelidikan yang kami kerjain sampai pagi tadi aja nggak membuahkan hasil, kok. Rekor tertinggiku itu pernah menyelidiki suami orang selama tiga puluh hari berturut-turut, dan selama tiga puluh hari itu nggak ada satu pun gerak-gerik yang mencurigakan."
"Ah, yang itu memang benar-benar neraka, ya."
Itu adalah penyelidikan atas permintaan seorang wanita yang mencurigai suaminya berselingkuh, terjadi saat Renjou baru saja bergabung dengan kantor ini. Biaya penyelidikannya tidak terbatas; klien itu memberikan permintaan gila agar mereka terus menyelidiki sampai mendapatkan bukti. Namun, selama tiga puluh hari berturut-turut, si target hanya melakukan rutinitas biasa seperti makan malam bisnis dan main golf tanpa ada pergerakan lain. Kesimpulannya, target itu bersih. Renjou masih ingat betul bagaimana setelah hari kedua puluh berlalu, ia sampai kehilangan arah—tidak tahu lagi sedang berada di mana dan melakukan apa—hingga harus melakukan pengintaian dalam keadaan linglung.
"Pa-pasti Ayah akan bergerak di hari Jumat nanti. Ini memang cuma insting sebagai anak perempuan, sih."
"Insting itu salah satu bahan penting yang tak terpisahkan dalam deduksi seorang detektif hebat, lho. Lagipula, semua deduksi itu berawal dari hipotesis yang bernama insting."
"Koishi-san, pekerjaan kita ini nggak ada hubungannya sama deduksi."
"Tergantung cara pandangmu, semua pekerjaan di dunia ini adalah pemecahan misteri, dan semuanya adalah deduksi, tahu."
"Kita nggak butuh omongan semacam itu sekarang."
Renjou berusaha keras menutupi ucapan sembarangan Koishi dengan menegurnya cukup keras, tapi bayang-bayang kecemasan tetap tersirat di wajah Mio.
"Anu... sebenarnya, kalian berdua lebih ingin menangani kasus yang lebih mencolok, atau kasus yang lebih serius, kan...?"
Sebuah pertanyaan penuh rasa sungkan yang sama sekali tidak perlu ditanyakan oleh seorang klien, seolah-olah menyiratkan: Kalian sebenarnya tidak mau mengerjakan investigasi perselingkuhan, kan?
Koishi menghela napas panjang, fuu, lalu kembali menyandarkan tubuhnya dalam-dalam ke kursi.
"Yah, aku ini detektif yang selalu mengerjakan pekerjaannya dengan benar apa pun jenis permintaannya, kok. Tenang saja."
"...Padahal sebenarnya Anda tidak ingin melakukan investigasi perselingkuhan?"
Saat Mio menanyakan hal itu dengan suara ragu-ragu, Koishi menempelkan punggung tangannya ke dahi seolah sedang pusing tujuh keliling.
"Benar, aku sama sekali nggak mau."
"Koishi-san."
Mengabaikan Renjou yang mencoba menghentikannya, Koishi berseru dengan nada meratap.
"Tapi sayangnya, aku tuh jago banget sampai rasanya mau mati kalau urusan investigasi perselingkuhan."
Setelah itu, mereka mencatat informasi dasar seperti alamat keluarga Satou, tempat kerja sang ayah, hingga pola kegiatannya, dan sesi wawancara pun selesai. Biasanya mereka akan langsung meminta klien mengecap stempel pada surat perjanjian di tempat, namun atas instruksi Koishi, mereka akan mengirimkannya lewat email dan memintanya dikembalikan dengan tanda tangan elektronik.
"Kenapa kau nggak langsung minta tanda tangan tadi?"
"Soalnya aku pengin dia membacanya baik-baik. Lagian, kayaknya isinya mending dikustomisasi sedikit, deh. Hina-chan masih ada, nggak, ya?"
"Kayaknya sih masih... Memangnya bagian mana yang mau diubah?"
“Ada poin yang mau aku tambahin. Nanti aku kasih memo instruksinya ke Hina-chan, deh."
Karena Koishi tidak bisa menggunakan PC, segala macam revisi dokumen hanya bisa dilakukan oleh Renjou atau Hinami. Karena surat perjanjian tidak memuat informasi privat seperti detail permintaan klien, tugas ini diserahkan kepada Hinami.
"Kau tumben-tumbenan aktif banget. Padahal biasanya kalau dapet kasus percintaan, kau sama sekali nggak niat. Malahan kau sering terang-terangan nunjukin rasa malas itu di depan klien."
"Renjou-kun, dari nadamu, kayaknya kamu nggak nyadar, ya?"
Koishi menengadah dan menatap Renjou lekat-lekat dari bawah. Ditatap lurus oleh sepasang pupil hitam besar yang seolah sedang memprovokasinya itu, Renjou merasakan kebingungan dan kekesalan muncul secara bersamaan.
"Nyadar apa?"
"Yah, ingatan Renjou-kun kan emang payah."
"Lagi bahas apa, sih? Lagipula, aku nggak mau dikatain soal ingatan sama Koishi-san, ya."
Setelah mengatakan itu, Renjou tanpa sadar menutup mulutnya.
Namun, Koishi sepertinya tidak terlalu memedulikannya. Ia malah terkekeh geli, "Fufu," lalu membentuk kepala rubah menggunakan tiga jarinya dan menggerak-gerakkannya seperti sedang mencaplok sesuatu dengan suasana hati yang sangat bagus.
"Kasus yang satu ini, lumayan bikin seleraku tergugah."
"Memangnya kau mencium bau-bau pembunuhan di ruang terkunci?"
Menanggapi sarkasme Renjou, Koishi mengangkat bahunya.
"Boro-boro pembunuhan ruang terkunci, kasus yang melanggar hukum pidana saja nggak bakal terjadi, kok. Ini cuma investigasi perselingkuhan satu hari doang."
"Ya pastilah."
"Cuma," Koishi menarik sudut bibirnya. "Tetap aja, aku mencium bau yang lebih menyenangkan daripada kasus percintaan biasa. Aku bakal ngerjain ini sambil nganggap ini sebagai kasus 'Misteri Sehari-hari'."
"Sebenarnya apa sih yang mau kau katakan?"
Saat Renjou mendesaknya dengan pertanyaan itu, Koishi melipat kedua lengannya.
"Soalnya, anak itu pembohong. Aku bakal bersenang-senang mendeduksi misteri tentang kenapa dia sampai berbohong kayak gitu."
Bagian 3
"Target pembuntutan keluar dari pintu belakang. Dia berjalan lurus ke arah utara, menuju stasiun."
"Roger. Aku lari ke sana."
Begitu ia menyatakan hal itu, terdengar hembusan napas Koishi dari earphone Bluetooth. Berlari cepat adalah gerakan dasar seorang detektif.
Tempat kerja ayah Mio, Satou Toru, adalah sebuah perusahaan real estat yang kantor pusatnya berjarak sekitar seratus meter di sebelah selatan Stasiun Tenjin-minami. Gedung milik perusahaan itu berdinding kaca, dengan dua pintu keluar: pintu utama dan pintu belakang. Pembagian tugasnya, Koishi mengawasi pintu utama dan Renjou di pintu belakang. Setelah satu jam mengintai, tepat pada pukul 18.30, Tooru keluar dari gedung. Ia berjalan ke utara menyusuri jalan utama dengan langkah tanpa ragu.
"Dilihat dari arahnya, sepertinya dia tidak menuju Kissui, ya."
Izakaya Kissui yang katanya menjadi tempat acara minum-minum itu berada di arah selatan kantor. Mengingat Tooru berjalan ke arah yang benar-benar berlawanan, rasanya sulit menganggap dia cuma mampir sebentar untuk berbelanja.
"Bener juga. Oh, kelinci terlihat. Aku akan lewat jalan besar, ya."
"Dimengerti. Kalau gelagatnya begini, apa mungkin dia langsung kotor, ya?"
"Entahlah—Hah? Nggak, nggak butuh. Aku nggak berniat beli rumah, nggak punya uang juga. Ah elah, iya, iya."
Tiba-tiba nada bicara Koishi berubah. Ada masalah? Renjou menegang. "Ada apa?"
"Sori, aku dicegat orang bagi-bagi brosur. Tipe yang kalau ditolak malah makin ribet."
"Ah, di sudut persimpangan itu, kan? Aku juga dikasih tisu saku sebelum mulai ngintai tadi. Semangatnya luar biasa banget, lho."
—Kakak, bukannya ini saat yang tepat buat mikirin beli rumah sendiri? Nggak apa-apa kalau belum kepikiran, pokoknya terima aja brosur ini dulu. Kalau Kakak nggak mau nerima, aku nggak bisa pulang hari ini, lho. Anggap aja lagi nolong orang.
"Apa aku kelihatan kayak wanita karir elit atau pekerja kantoran mapan yang siap beli rumah kapan aja, ya?"
"Pakaianmu kan nggak mencerminkan itu sama sekali. Ya, kalangpun Koishi-san pakai setelan jas rapi, tetap saja nggak bakal kelihatan kayak wanita karir elit atau pekerja kantoran."
Koishi mengenakan summer knit tipis yang dibalut kardigan, celana wide-leg, dan sneakers hitam—gaya busana office casual yang masih bisa diterima di perusahaan dengan budaya kerja yang agak santai. Dia juga memakai kacamata bundar, membuat penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Sepertinya dia sengaja menyesuaikan diri agar bisa berbaur dengan para pekerja kantoran, tapi karena barang bawaannya banyak, dia tetap harus memakai ransel. Paduan busana yang diatur dengan takaran yang cukup pas.
Renjou sendiri mengenakan kaus putih dan kardigan biru dongker, gaya kasual yang sekilas masih terlihat seperti pekerja kantoran bergaya santai. Atas instruksi Koishi, ia memakai masker sebagai penyamaran, tapi rasanya sesak dan mengganggu.
"Lagian, ngapain juga kita harus repot-repot pakai kacamata dan masker segala? Kita kan bukan detektif di manga."
Pada dasarnya, pakaian seorang detektif dituntut untuk "bisa membaur dengan pemandangan kota". Selama mengenakan pakaian yang netral dan tidak mencolok, tidak perlu repot-repot menyamar untuk menyembunyikan wajah.
"Ra-ha-si-a dong~"
"Males banget. Dengar atasan yang lebih tua ngomong pakai nada sok imut begitu, rasanya aku nggak sanggup."
"Eeeh, padahal aku cuma bercanda dikit, mulutmu pedas banget, sih? Suka ngatain gitu jangan-jangan malah tanda kamu nyembunyiin perasaan sukamu, ya. Bikin aku waspada aja."
"Siapa juga yang punya prinsip tindakan kayak anak SD—ah, kelinci masuk ke Solaria."
Stasiun Tenjin adalah salah satu stasiun terbesar di Fukuoka, tempat berbagai fasilitas komersial saling terhubung. Setelah menyeberang memotong Taman Kego, Tooru masuk ke Solaria Plaza dan melangkah cepat menuju eskalator. Gelagatnya bukan seperti orang yang sedang jalan-jalan menghabiskan waktu, melainkan seperti orang yang memiliki tujuan pasti.
"Aku naik eskalator, ya. Renjou-kun lewat tangga aja."
"...Dimengerti. Pas turun nanti, gantian Koishi-san yang lewat tangga, lho, ya."
Sambil melirik Koishi yang menaiki eskalator dengan jarak belasan anak tangga dari Tooru, Renjou berlari kecil menuju tangga.
Isi percakapan antardetektif banyak mengandung kata-kata yang bisa menimbulkan masalah jika didengar oleh orang di sekitar, jadi sebagian besar agensi detektif biasanya sudah menetapkan beberapa kata sandi. Banyak perusahaan yang menggunakan bahasa gaul rahasia yang biasa dipakai polisi, tapi Koishi bersikeras menggunakan istilah orisinal ciptaannya sendiri.
Memanggil target pembuntutan dengan sebutan "Kelinci" (Usagi), menurut penjelasan Koishi berasal dari pemikiran: "Binatang buas yang diburu, plus simbol nafsu birahi, pas banget, kan?" Selama penyelidikan, Koishi dan Renjou juga saling memanggil dengan nama "Yamada" dan "Ueda", yang rupanya diambil dari nama karakter drama misteri kesukaan Koishi. Sementara itu, untuk selingkuhan target, dipanggil "Kucing" (Neko) yang mengandung makna terselubung sebagai pencuri.
"Dia naik tanpa jalan, cuma diam berdiri, jadi kayaknya nggak buru-buru. Palingan mau ke bioskop di lantai tujuh atau area restoran di lantai enam dan tujuh. Semangat larinya, ya."
Milih pakai sneakers emang keputusan yang tepat, pikir Renjou sambil berlari menaiki tangga. Untungnya tidak ada pengunjung umum yang menggunakan tangga ini, jadi ia bisa berlari sekuat tenaga dan menginjak anak tangga tanpa perlu sungkan.
"Lantai tujuh. Kayaknya beneran bioskop, deh. Di sebelah timur. Aku jaga jarak dikit buat waspada kalau-kalau dia lagi janjian. Kalau gelagatnya mau nonton film, aku yang bakal masuk. Di sebelah eskalator ada bangku kosong, Renjou-kun tunggu di situ aja. Kalau ada waktu luang, kirimin pesan real-time ke Mio."
"Dimengerti."
Renjou selesai menaiki tangga, lalu berjalan menuju bangku yang diinstruksikan sambil sedikit mengatur napasnya. Posisi bangku itu pas berada di balik bayangan eskalator, tapi tetap bisa memantau pintu masuk kompleks bioskop secara langsung. Meskipun ini Jumat malam, mungkin karena libur musim panas sudah usai dan jajaran film yang sedang tayang tidak terlalu menarik, pengunjung di sana tidak begitu ramai.
"Dilihat dari jam mulainya, kayaknya dia mau nonton 'Senjou no Mute' (Bisu di Medan Perang). Aku beli tiket terus masuk, ya."
"Dimengerti. Aku bakal mantau apa ada perempuan yang mencurigakan lewat atau nggak."
"Kelinci lagi beli hotdog, tuh. Kelihatannya cuma porsi buat satu orang."
"Aku paling benci sama orang yang makan hotdog di dalam bioskop."
"Kan emang dijual di menu kiosnya, ya nggak apa-apa, dong."
Sambil tetap terhubung lewat telepon, Renjou mengirimkan pesan laporan situasi kepada Mio. Demi klien yang mengkhawatirkan keberhasilan penyelidikan, Renjou dan tim sebisa mungkin selalu melaporkan situasi secara real-time.
Begitu ia mengirim pesan kepada Mio bahwa Toru tidak pergi ke izakaya melainkan datang ke bioskop sendirian, pesan itu langsung berstatus dibaca. Tidak sampai sepuluh detik, sebuah balasan masuk:
《 Nonton sendirian? Ayah emang suka film, sih, tapi ini benar-benar nggak masuk akal. 》
Renjou hanya membalas, 《 Nanti aku kabari lagi kalau ada pergerakan, pas lagi ada waktu luang. 》 lalu kembali ke tugasnya mengawasi area bioskop dengan memasang wajah seolah sedang menunggu teman.
Tak lama kemudian, pesan dari Koishi masuk.
《 Tebakan benar, Studio 5 Senjou no Mute. Penonton sepi. Ada penonton mencurigakan. Aku dapet duduk tujuh baris di belakang Kelinci. Lanjut ngintai di sini. 》
Syukurlah, sepertinya Toru dan Koishi berhasil masuk ke studio yang sama. Jadwal tayang "Senjou no Mute" adalah tepat pukul sembilan belas, lima menit dari sekarang. Saat ini mungkin mereka masih memutar trailer.
Namun, kalimat ada penonton mencurigakan itu mengganggu pikirannya. Kalau Toru janjian bertemu selingkuhannya di dalam studio, Koishi pasti akan menulisnya secara gamblang.
Dengan perasaan yang masih mengganjal, dua jam yang berat karena hanya dihabiskan untuk menunggu pun berlalu, hingga para penonton yang sudah selesai menonton mulai berhamburan keluar dari bioskop. Sebuah pesan dari Koishi kembali masuk: 《 Kelinci keluar studio terus ke toilet. Kalau udah keluar, buntutin, ya. 》
Saat Renjou mengubah posisi berdirinya dan menunggu, tiga menit kemudian Toru keluar dari kompleks bioskop. Melihat lift yang penuh sesak, ia melangkah menuju eskalator. Renjou membiarkan beberapa pengunjung masuk sebagai jarak pembatas sebelum ikut naik ke eskalator.
"Gimana hasilnya?"
Saat ia bertanya lewat telepon, Koishi membalas dengan nada yang kelewat santai.
"Yaa~ sampai pertengahan sih kerasa banget aura film perang yang penuh trik, lumayan seru dan layak tonton, lho. Adegan pas dia ngorbanin lengan kirinya demi nyelamatin bawahan itu, daya tariknya boleh juga."
"Eh, yang itu," Renjou refleks bertanya. "Darahnya muncrat ke mana-mana, kan?"
"Ya iyalah, di dalam lengan manusia kan mengalir yang namanya pembuluh darah."
"Koishi-san... Kau nggak apa-apa?"
"Kalau nggak tahan sama adegan sadis (gore), ya nggak bakal bisa nonton film misteri, dong. Cuma, pas bagian akhir malah dimasukin elemen romance, bikin mood-ku langsung anjlok. Ujung-ujungnya cuma film live-action pasaran yang dibikin demi cuan massal. Not for me, deh."
"Bukan, maksudku aku lagi nggak nanyain review filmnya. Si Kelinci gimana?"
"Ternyata dia tipe orang yang nonton end credit sampai habis, lho."
"Aku nggak nanyain gaya nontonnya, ya."
"Ya soalnya beneran nggak ada yang bisa disampein, sih. Dia bener-bener cuma sendirian makan hotdog sambil nonton. Kursi di sebelah, depan, dan belakangnya juga kosong. Ngomong-ngomong,"
Tiba-tiba, nada suara Koishi berubah.
"Habis ini, mungkin aku bakal mencar dari rute di suatu tempat, tapi nggak usah peduliin aku dan lanjutin aja pembuntutannya. Intinya Renjou-kun, kalau aku kasih instruksi, ikuti persis seperti yang kubilang."
"Hah, ngomong apa, sih? Lagian, tolong pakai kata sandinya yang benar, dong."
Meski merasa curiga karena Koishi tidak menggunakan kata sandi dan malah memberikan instruksi aneh, mengatakan hal-hal yang tidak bisa dimengerti memang sudah menjadi kebiasaan atasannya itu. Jadi, Renjou memutuskan untuk tidak mendesaknya lebih jauh. Sebagai gantinya, ia menanyakan tentang satu kalimat janggal di pesan sebelumnya.
"Soal 'penonton mencurigakan' di pesan tadi, itu maksudnya apa?"
Agar fokusnya tidak sepenuhnya tersita oleh percakapan, Renjou menajamkan pandangannya pada Toru di bawah sana. Target itu tidak melangkah turun, melainkan hanya berdiri tenang mengikuti laju eskalator.
"Aaah. Tadi ada sepasang muda-mudi, kelihatannya sih pasangan seumuran anak SMA."
"Terus, apanya yang mencurigakan dari itu?"
"Mereka duduk kepisah. Satu di barisan paling belakang, satu lagi di barisan paling depan banget."
Koishi mengatakannya dengan nada seolah sedang menceritakan punchline dari sebuah kisah horor.
"...Bukannya mereka cuma pengin nonton film ini sendirian, terus kebetulan aja jadwalnya bentrok di hari yang sama?"
Renjou tidak repot-repot bertanya, Kalau begitu dari mana kau tahu mereka pacaran? Bagi Koishi, ia bisa langsung tahu bahwa sepasang manusia sedang dimabuk cinta hanya dengan melihat rona wajah dan gelagat mereka.
"Hei, hei, jalan pikiranmu berhenti sampai di situ doang, Renjou-kun. Aku juga nulis kalau 'penonton sepi', kan? Saking sepinya sampai bikin sedih, lho. Penontonnya bahkan nggak nyampe dua puluh orang."
"...Maksudnya, padahal mereka bisa milih tempat duduk mana pun yang bagus, tapi salah satu dari mereka sengaja milih duduk di barisan paling depan, gitu?"
"Yaps, betul banget. Padahal lehernya pasti bakal pegal minta ampun, lho."
Memang sih, itu aneh dan mencurigakan. Namun, Renjou sama sekali tidak mengerti apa hubungannya hal itu dengan perselingkuhan Tooru.
Sambil terus mengobrol dengan suara berbisik, Toru akhirnya tiba di lantai satu dan langsung berjalan melalui pintu barat. Begitu melangkah keluar dari gedung ber-AC, hawa panas bulan September langsung menyelimuti tubuh Renjou dengan pengap.
Toru berjalan cepat menembus hawa panas itu, lalu masuk ke sebuah drugstore di sudut persimpangan tempat Jalan Nishi-dori dan Jalan Kokutai-doro bertemu.
"Kelinci masuk ke Drug Eleven di Nishi-dori. Aku juga masuk—eh. Dia lagi ngobrol sama perempuan. Terjadi kontak."
Renjou memastikan Toru dan perempuan itu berjalan beriringan menuju lorong "Perlengkapan Mandi". Ia segera menyelinap masuk melalui lorong "Perlengkapan Mencuci" di sebelahnya, berjalan ke ujung paling belakang, lalu mengintip diam-diam. Di sana, terlihat Toru sedang mengobrol sambil tertawa bersama perempuan itu.
Perempuan—atau lebih tepatnya gadis—itu, jelas jauh lebih muda dari Tooru. Dilihat dari rambutnya yang dicat cokelat kemerahan dan ujungnya yang di-rol rapi, sepertinya dia bukan anak SMA, melainkan di kisaran akhir belasan hingga awal dua puluhan tahun.
Meski Tooru dan gadis itu tidak terang-terangan bergandengan tangan, mereka memancarkan keintiman yang tidak akan pernah ada jika hubungan mereka sebatas atasan-bawahan atau guru-murid. Jarak berdiri dan ekspresi wajah mereka terlihat begitu luwes, sebuah sikap tanpa sungkan yang hanya bisa muncul dari rasa aman bahwa pihak lain tidak akan pernah membenci mereka.
—Apa dia benar-benar berselingkuh? Dengan gadis yang umurnya tak jauh beda dengan putri kandungnya sendiri.
Renjou bisa merasakan suhu di dalam otaknya melonjak drastis, tapi hal itu justru membuatnya dipaksa menjadi sangat tenang. Saat ini dia sedang bekerja, bukan waktunya untuk membiarkan emosi pribadinya berkobar.
Ia mendinginkan amarah yang membara di dadanya dengan mengalihkan fokus pada investigasi. Renjou mengarahkan kamera video yang disembunyikan di balik lengannya yang terlipat, menyesuaikan posisinya agar seluruh tubuh kedua orang itu masuk ke dalam frame. Ia menajamkan telinganya, tapi tidak bisa mendengar isi percakapan mereka.
Sepertinya Toru dan gadis itu sudah memutuskan barang yang ingin dibeli. Toru mengambil produk bath bomb berukuran besar yang sepertinya cukup untuk pemakaian dua bulan, lalu melangkah menuju kasir. Sambil memastikan keadaan sekitar untuk berjaga-jaga, Renjou membuntuti mereka dari belakang.
"Sepertinya mereka mau bayar ke kasir."
Renjou memutuskan bahwa mengawasi pintu masuk adalah pilihan yang lebih pasti, ia pun berpindah ke dekat area itu. Namun, di sinilah ia melakukan kesalahan besar—ia tanpa sengaja menabrak seorang pelanggan wanita yang sedang menunduk memilih pasta gigi.
Keringat dingin seketika mengalir deras di kulitnya. Terlibat masalah dengan warga sipil biasa saat sedang membuntuti target adalah kesalahan fatal yang sangat memalukan bagi seorang detektif. Lawan tabrakannya ternyata adalah seorang gyaru dengan penampilan yang sedikit lebih kalem dibandingkan Hinami. Renjou sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika urusannya jadi panjang, tapi untungnya gyaru itu bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
Sambil mengelus dada lega, Renjou tiba di sudut minuman berenergi di sebelah pintu masuk. Sambil berpura-pura menjadi pelanggan yang sedang membandingkan label komposisi antarproduk, ia melirik area kasir dari sudut matanya. Di depan Tooru dan gadis itu, ada pelanggan dengan keranjang belanja penuh yang sedang sibuk membayar.
"Koishi-san, masih tersambung, kan?" Sejak tadi Koishi tidak memberikan reaksi apa pun terhadap laporan Renjou, bahkan tidak melaporkan posisinya sendiri.
"Tersambung, dong~"
"Sekarang kau di mana? Habis ini ada kemungkinan mereka pergi ke hotel atau ke rumah perempuan ini, jadi aku mau memastikan posisinya."
Sambil menahan kesal mendengar nada suara atasannya yang kelewat santai itu, Renjou bertanya dengan suara tertahan.
"Renjou-kun,"
"Makanya, pakai kata sandinya dong—"
"Habis ini, kalau Kelinci dan selingkuhannya selesai bayar dan keluar, bergeraklah sesuai perintahku."
Saat itu, dari sudut matanya terlihat Toru dan pasangannya sudah selesai membayar. Mereka berjalan ke arah pintu masuk tempat Renjou berada. Renjou cepat-cepat berjongkok dan menundukkan wajahnya ke arah deretan minuman di rak bawah. Dari suara langkah kaki dan obrolan mereka, ia tahu kalau keduanya telah keluar dari toko.
Tepat saat Renjou menunda satu ketukan dan hendak berdiri untuk menyusul mereka, instruksi dari Koishi melesat lewat panggilan telepon.
"Jangan keluar dulu."
Nada suaranya berisi cegahan yang sangat kuat. Renjou pun menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Jalanan lagi ramai, kita bisa kehilangan jejak."
"Udah, turuti aja. Jangan bergerak sampai aku ngasih aba-aba 'Go'."
Suara Koishi terdengar agak kegirangan, dan itu justru memanaskan amarah Renjou. Rasa panik karena jaraknya dengan Toru semakin menjauh perlahan berubah menjadi rasa frustrasi.
Setelah berlalu tiga menit penuh, Koishi akhirnya memberikan instruksi.
"Oke. Keluar toko, langsung belok kanan, berhenti di sudut."
Kelakuan macam apa itu, pikir Renjou nyaris melayangkan protes sambil melangkah keluar dari toko, ketika Koishi tiba-tiba melemparkan instruksi tambahan.
"Terus, sapa dan tahan gyaru yang keluar tepat setelahmu."
Mendengar perintah tak terduga itu, otak Renjou nyaris berhenti berpikir sejenak. Namun, tubuhnya telanjur bergerak sesuai instruksi Koishi. Ia menyapa gyaru berambut pirang yang baru saja keluar dari toko tepat di belakangnya. "Permisi."
Gyaru itu tersentak kaget dan menoleh ke arahnya. Padahal Renjou sudah memanggilnya, tapi ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa setelah ini. Tanpa sadar, ia malah melontarkan kalimat konyol, "Menurutmu... cinta itu cuma sebatas efek paparan berulang, nggak?" Seolah-olah kata-kata itu dikirim secara otomatis dari sudut terdalam otaknya langsung ke tenggorokannya.
Si gyaru mematung mendengar sapaan tiba-tiba itu. Sambil menunduk, ia mencoba pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ya iyalah, orang tiba-tiba nanya kalimat nggak jelas gitu pasti bikin takut, pikir Renjou. Meski begitu, demi menyelesaikan perintah Koishi, ia merentangkan tangan menghadang jalan gadis itu agar ia mau berhenti.
Saat itulah, Renjou akhirnya bisa melihat wajah si gyaru dengan saksama. Terlambat satu ketukan, ia mengeluarkan suara bodoh.
"Eh? Jangan-jangan—"
"Nah, kerja bagus."
Tiba-tiba saja Koishi muncul dari belakang si gyaru. Dengan gerakan yang seolah menindih, ia merangkul bahu gyaru itu dan tersenyum lebar.
"Sekarang, coba ceritain ke kita semuanya, wahai Klien Terhormat."
Tahi lalat air mata di bawah mata kirinya yang kini dihiasi softlens berwarna tampak begitu mencolok. Penampilan sebelum dan sesudahnya benar-benar berbanding terbalik, sama sekali tak terbayangkan dari gaya rambutnya yang sebelumnya dijamin bakal lolos razia kedisiplinan paling ketat sekalipun.
Tanpa terbata-bata sedikit pun, Mio berkata dengan santai, "Sialan. Pembuntutan gagaaaaal," seraya menjulurkan lidahnya.
"Nah. Berarti mulai dari sini, ini adalah waktunya Sang Detektif Hebat beraksi."
Koishi mengucapkan itu sambil menopang dagu dengan postur tubuh yang santai dan lemas.
Di kursi booth sebuah restoran keluarga di sebelah Taman Kego, Renjou duduk berdampingan dengan Koishi, berhadapan dengan tiga orang anak SMA.
"Jujur aja, sejak kapan kalian sadar?"
Mio yang duduk di bagian paling dalam memiringkan kepalanya sambil meminum Sprite dari drink bar tanpa terlihat merasa bersalah sedikit pun. Ia sudah melepas wig pirangnya dan kembali berambut hitam, tapi aura gugup dan cemas saat ia datang ke kantor detektif dulu telah menguap tak bersisa. Ia kini menyandarkan seluruh berat badannya dengan sembarangan ke sandaran sofa.
"Ya iyalah, kami ini kan detektif hebat. Dari awal mula banget aku udah curiga."
Koishi mengangkat sudut bibirnya, menyeringai.
"Nggak masuk akal, deh. Kan nggak ada timing yang pas buat curiga." Mio memanyunkan bibirnya.
"Tentu saja semua itu bisa kutebak berkat kemampuan observasiku yang nggak bakal melewatkan perubahan diameter pori-pori kulit sekalipun, ditambah kemampuan deduksi yang bisa menarik sepuluh kebenaran dari satu petunjuk. Soal keluarga Satou yang nggak punya uang lah, soal ayahnya yang dicurigai selingkuh lah, bau kebohonganmu itu udah menyengat banget selevel Surströmming, tahu."
"Kata-katanya nyebelin banget," Mio mengerutkan kening.
"Khusus buat klien yang nyebelin, dong," Koishi tersenyum. "Bercanda, deng. Yah, aku lumayan terhibur sih, jadi rasanya lumayan puas. Tapi kayaknya Renjou-kun lagi marah, tuh."
Sambil berkata begitu, Koishi memiringkan kepalanya dan menoleh ke arah Renjou. Renjou berusaha keras memasang ekspresi netral, tapi ia sendiri tidak tahu apakah usahanya itu berhasil atau tidak.
"Pertama-tama, tolong jelaskan semuanya."
Koishi mengangguk, lalu mengembalikan pandangannya pada Mio.
"Yah, aku juga masih kurang paham sih soal motif paling dasarmu, Mio... tapi aku tahu apa yang pengin kamu lakuin. Kalian membuntuti kami yang sedang membuntuti ayahmu, kan?"
Koishi menatap dua anak SMA yang duduk di sebelah Mio.
"Dalam bentuk tim yang terdiri dari beberapa orang, termasuk dua temanmu ini, kan."
Anak perempuan itu bernama Nagisa, dan yang laki-laki bernama Yuuma. Katanya mereka adalah teman sekelas Mio. Keduanya sepertinya berpacaran. Mereka bertiga adalah trio sahabat karib yang sering ke mana-mana bersama.
Ditatap langsung oleh Koishi, Nagisa dan Yuuma langsung memalingkan wajah dengan canggung.
"Berarti dua orang ini, 'penonton mencurigakan' di bioskop tadi?"
"Yap. Padahal studionya sepi dan bisa bebas milih kursi mana aja, tapi mereka sengaja milih duduk di kursi paling jelek di barisan paling depan di sebelah pintu masuk studio. Terus selain itu, perempuan yang tadi milih bath bomb bareng Toru di drugstore, sama si cowok pembagi brosur itu juga komplotan kalian, kan."
"Cowok pembagi brosur?!"
Mendengar kata yang tak terduga itu, Renjou tanpa sadar berseru lantang.
"Renjou-kun, tisu saku yang kamu dapat bareng brosur tadi, masih kamu simpan?"
Mendengar pertanyaan itu, Renjou mengeluarkan bungkus tisu saku yang ia simpan di dalam jaketnya. Saat itulah, ia menyadari adanya benjolan yang tidak wajar.
"Ini... earphone wireless?"
"Itu AirPods, kan? Aku pernah dengar dari Hina-chan, itu jenis yang punya fitur pelacakan lokasi kalau hilang. Kamu pakai alat itu buat memantau lokasiku dan Renjou-kun, kan?"
Renjou tercengang, menatap bergantian ke arah Koishi dan Mio.
Kenyataan bahwa Renjou dan Koishi yang sedang membuntuti Toru ternyata juga sedang dibuntuti oleh kelompok Mio, membuat kepalanya berputar. Perasaan tidak menyenangkan di mana hal-hal yang berkaitan dengan dirinya berjalan di luar kendalinya.
"Soalnya kalau masukin alat pelacak GPS rasanya udah kayak tindakan kriminal banget dan aku nggak bakal bisa ngeles, tapi kalau AirPods, aku mikirnya masih bisa dimaafkan dengan alasan 'nggak sengaja terselip'."
Mio menjulurkan lidahnya dengan jahil.
"Kalau aku udah nyadar pas di bioskop tadi, jadi sori aja, udah kubuang ke tempat sampah di toilet gedung stasiun."
"Nggak apa-apa, kok. Kalau emang butuh, tinggal beli lagi."
Nada bicara Mio sama sekali tidak terdengar seperti sengaja ingin terlihat jahat, melainkan murni sekadar mengatakan apa yang terlintas di kepalanya.
"Nggak kelihatan kayak anak SMA yang datang ke kantorku sambil menggenggam tabungan lima puluh ribu yen pas-pasan, yaa,"
Koishi berucap dengan nada menggoda. Renjou merasa hanya dirinya sendirilah yang tertinggal dari pembicaraan ini.
"Kamu pengin ngetes apakah kami ini detektif yang bisa diandalkan?" tanya Koishi sambil menopang dagu. "Sengaja melakukan pembuntutan ganda, dan bahkan sampai berani mendekat masuk ke drugstore yang sama. Yang kepikiran di kepalaku, kamu ngelakuin itu cuma buat menguji kemampuan pembuntutan kami. Atau pilihan tebakan keduaku, jangan-jangan Mio ini YouTuber yang lagi bikin konten 'Membuktikan Kemampuan Asli Detektif Swasta'."
"Hebat, beneran kayak detektif andal," ucap Mio dengan polosnya. "Tebakannya tepat sasaran. Aku bakal repot kalau ternyata kemampuan kalian rendah banget sampai gampang ketahuan pas lagi ngebuntutin, jadi aku minta izin buat memastikannya."
"Repot, maksudnya?"
"Ayah berencana menyewa Koishi-san dan tim untuk menyelidiki latar belakang kelakuan pacarku."
Oh, begitu, Koishi mengangguk seolah sudah memahami segalanya.
"Pacarku, namanya Fuuto-kun. Walaupun sifatnya tukang curigaan banget, tapi dia paling benci kalau dicurigai orang lain. Pernah sekali aku nginterogasi dia jangan-jangan dia selingkuh, gara-gara dia ngobrol akrab berduaan sama cewek lain. Habis itu dia marah dan nggak mau ngomong sama aku selama tiga hari. Saking bencinya dia dicurigai, kalau sampai ketahuan Ayah nyewa detektif buat nyelidikin dia, dia bisa-bisa bakal ngehajar aku habis-habisan."
"Dari mana kamu tahu kalau Toru-san bakal ngajuin permintaan ke Kantor Detektif Koishi?"
Menanggapi pertanyaan Koishi, Mio mengangkat bahunya dan menjawab dengan santai, "Soalnya di daftar To-Do List di HP Ayah ada tulisan 'Reservasi Kantor Detektif Koishi'."
"...Aku nggak bakal nanya kenapa kamu bisa tahu isi To-Do List di dalam HP ayahmu."
"Hebat ya, bisa baca situasi," Mio tertawa.
"Makanya, aku mutusin buat minta Kantor Detektif Koishi membuntuti Ayah. Kalau sampai pembuntutan kalian ketahuan sama Ayah, Ayah kan otomatis bakal sadar kalau kemampuan Koishi-san dan tim itu rendah. Kalaupun nggak ketahuan, ya udah nggak masalah, Koishi-san juga tetap dapet duit, jadi semuanya sama-sama untung. Ah, tentu aja setelah penyelidikannya selesai aku niat ngasih tahu yang sebenarnya dan bayar sesuai tarif resmi ditambah uang kompensasi gangguan, lho."
"Kelakuanmu nyebelin banget, deh," Yuuma tertawa pelan.
"Masa, sih? Ya, pokoknya begitulah. Aku mengamati dari dekat gimana kalian pas lagi ngebuntutin, cuma buat mastiin, 'Kalau mereka nyelidikin seteliti ini, kayaknya nggak bakal ketahuan sama Fuuto-kun'. Tapi ya, bagaimanapun aku ini kan amatiran soal nguntit. Kalau aku sampai ketahuan sama Ayah atau kalian berdua, kan rencananya malah hancur berantakan. Makanya aku nyewa beberapa orang buat nyelipin AirPods ke saku kalian berdua, biar aku bisa pegang kendali soal pelacakan lokasinya."
Mendengar kalimat "menyewa orang" keluar dari mulut seorang anak SMA adalah pengalaman yang benar-benar baru bagi Renjou.
"Selama pegang info lokasi, nggak perlu khawatir kehilangan jejak, kan. Terus, sengaja ngasih kesan cewek suram yang miskin, muram, dan pemalu pas wawancara, biar pas pembuntutan bisa pakai penampilan yang bertolak belakang buat mencegah ketahuan. Niat banget usahamu, ya," Ucap Koishi seolah merasa kagum.
"Lumayan bagus, kan, akting suram-ku? Aslinya aku ini tipe yang bisa komunikasi lancar sama teman seumuran maupun orang dewasa, jadi inilah sifat asliku. Walaupun aku bukan gyaru, sih."
"Oh, gitu ya. Terus pura-pura cuma punya uang lima puluh ribu yen itu..."
"Kalau aku dianggap anak SMA kere, kalian pasti nggak bakal mimpi sekalipun kalau aku bakal pakai strategi yang ngeluarin uang buat nyewa orang kayak gini, kan."
Koishi tersenyum kecut, tapi wajah Renjou tetap datar tanpa ekspresi.
"Aku bener-bener pengin ngetes skenario pembuntutan di bioskop. Soalnya Fuuto-kun suka banget nonton film, jadi kemungkinan ada skenario di mana dia pergi ke bioskop pas lagi dibuntutin kalian berdua. Makanya, aku ngerekomendasiin film ke Ayah. Biasanya Ayah bakal nonton film rekomendasiku maksimal dalam tiga hari, jadi kemungkinannya dia bakal pergi pas akhir pekan. Kebetulan Ayah lagi bebas karena jarang-jarang nggak ada jadwal makan malam bisnis. Dan ternyata, dia beneran pergi sesuai rencana. Cuma, kalau aku yang masuk sampai ke dalam bioskop, pasti bakal ketahuan Ayah dan Koishi-san, makanya aku minta tolong mereka berdua buat ngecek pergerakannya selama penayangan."
"Begitulah ceritanya."
“Anak ini, kalau udah mulai berulah nggak ada remnya, sih."
Nagisa dan Yuuma menyahut tanpa terlihat bersalah sedikit pun.
"Perempuan muda yang bareng Tooru-san di drugstore itu, kakak perempuanmu, Mio?"
"Oh, sampai sejauh itu bisa ketebak, ya."
Mio bertepuk tangan seolah benar-benar terkesan.
"Membangun atmosfer seakrab itu nggak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang sama sekali nggak ada hubungan darah, kan. Lagian ngasih kesan 'keluarga tiga orang' pas wawancara juga bagian dari persiapan, makanya kamu sengaja milih buat nunjukin album yang cuma ada foto bertiga. Kalau ngasih kesan anak tunggal, kita nggak bakal kepikiran kalau kamu ternyata punya kakak perempuan."
Perkataan Mio saat wawancara tiba-tiba terngiang kembali di benak Renjou.
—Ayah dan aku, Ayah dan Ibu, dan tentu saja Ibu dan aku, kami semua adalah keluarga yang saling memercayai.
Dia tidak berbohong. Hanya saja, dia dengan sengaja tidak menyebutkan eksistensi kakaknya.
"Betul. Yang kutunjukin pas wawancara itu foto pas kami pergi kemah bertiga. Kakakku kerja di Tokyo, jadi dia nggak bisa ikut. Hubungan kami akrab, kok, makanya pas aku ceritain situasinya kali ini, dia gampang banget diajak kerja sama. Kebetulan mulai hari ini Kakak lagi mudik selama tiga hari, jadi aku nyuruh dia ketemuan sama Ayah terus beli bath bomb atau apalah bareng."
"Kalau di situ dia beli kondom, kami pasti beneran tertipu. Kalau dilihat dari sisi itu, akting selingkuhnya masih kurang matang, ya" ucap Koishi sambil mendengus meremehkan.
Mio langsung tertawa ngakak menepisnya, "Mana ada anak perempuan yang beli kondom di depan bapaknya sendiri, sih!" lalu menepuk tangannya sekali. Seolah menandakan seluruh penjelasannya telah selesai.
"Yah, kira-kira begitulah hal yang pengin aku lakuin. Aku kalah total. Kalian lumayan hebat juga, ya. Aku masih kepikiran kalian bisa nyelesaiin penyelidikan tanpa ketahuan sama Ayah, tapi aku sama sekali nggak nyangka kalau pembuntutan dari pihakku juga bakal ketahuan. Hei, Renjou-san,"
Di sanalah Mio untuk pertama kalinya melemparkan topik kepada Renjou.
"Dari tadi Anda diam terus, tolong ngomong sesuatu, kek. Mumpung atasan Anda, Koishi-san, udah ngebongkar seluruh rencanaku, harusnya Anda ngeramein suasananya dong—"
"Syukurlah...."
Mio belum selesai bicara saat Renjou tanpa sadar menghela napas lega.
Suasana di meja itu terhenti. Tatapan semua orang tertuju pada Renjou.
"...Eh, apanya yang syukurlah?" tanya Mio dengan wajah heran.
"Nggak, maksudku... berarti Toru-san nggak beneran selingkuh, kan... Orang yang beli bath bomb bareng dia itu kakakmu, kan? Terus cerita soal teman klub Mölkky yang lihat ayahmu bareng perempuan muda itu juga bohong, kan?"
"Yah, singkatnya sih, iya, itu bohong."
"Syukurlah kalau begitu."
Renjou kembali menghela napas lega yang sama untuk kedua kalinya. Ia merasa ketegangan menguap dari tubuhnya.
Mio menatap Renjou seakan sedang melihat makhluk asing yang tak bisa dipahami. Yuuma yang duduk di sebelahnya juga mengernyitkan dahi.
"Apanya yang syukurlah, coba? Jujur aja, ini harusnya momen di mana Anda bisa marah besar, lho."
Renjou mengawali ucapannya dengan berkata, "Kalian tentu saja belum pernah mengalaminya, tapi..."
"Kalian tahu nggak betapa beratnya hatiku pas ngelihat Toru-san bareng perempuan yang jelas-jelas masih belasan atau dua puluhan tahun?"
Renjou merasa dirinya menyedihkan karena mengutarakan hal ini kepada anak-anak, tapi saking leganya, ia tak bisa menghentikan mulutnya yang berbicara.
"Aku terus-terusan mikir... 'gimana caraku ngelaporin ini ke Mio-chan?' Bagaimanapun juga Mio-chan pasti bakal terluka, tapi aku terus memikirkan gimana caranya biar dia nggak terlalu terluka. Cuma itu yang ada di kepalaku. Waktu Koishi-san mulai bicara tadi, aku takut banget mikirin gimana akhir ceritanya sampai aku nggak berani menyelak."
Di tengah suasana yang mendadak hening itu, ucapan Mio terdengar dengan jelas.
"Wah, gila. Renjou-san baik banget, aku bisa-bisa naksir nih."
"Jangan ngomong gitu sama orang dewasa," tegur Renjou, lalu meminum sisa teh Oolong-nya sedikit dan kembali terdiam.
"Dulu waktu SMP atau SMA gitu, orang tua Renjou-kun cerai gara-gara ayahnya ketahuan selingkuh sama perempuan yang masih muda banget."
Koishi berucap dengan suara berbisik—entah apa gunanya berbisik padahal orang yang dibicarakan ada tepat di sebelahnya, tapi setidaknya terlihat ada niat darinya untuk menjaga perasaan.
"Aaaah..." Nagisa dan Yuuma bergumam paham, sementara Mio mengangguk dan berkata, "Selingkuh itu emang nggak boleh banget, ya."
"Keluarga Nagisa-chan juga cerai karena selingkuh, kan?"
Saat Mio melempar topik itu pada Nagisa, Nagisa menghela napas. Bukan karena pertanyaan Mio, melainkan seolah rasa muaknya terhadap orang tuanya kembali muncul.
"Keluargaku cerai bukan karena selingkuh, tapi karena kecanduan judi ayahku udah kelewat parah. Puncak yang bikin cerai itu waktu dia bolos ngejemput aku sepulang karya wisata sekolah cuma gara-gara dia lagi dapet 'reach' yang bagus pas main Pachinko."
"Parah banget."
Entah karena wajah Renjou terlihat sangat jijik mendengarnya, Nagisa melambaikan tangannya mencoba menenangkan situasi.
"Yah, tapi habis itu kayaknya dia menang gila-gilaan di judi balap perahu, jadi sampai sekarang uang tunjangan anak nggak pernah nunggak, kok."
"Yang namanya Manshu itu, ya."
"Ayahku sampai repot-repot nelepon aku sambil kegirangan dan teriak, 'Ini insiden Manshu!'"
Mio dan Nagisa tertawa cekikikan.
"Terus," Koishi memecah suasana dengan meletakkan gelasnya di atas meja. Seolah menegaskan bahwa tujuan mereka berkumpul di sini adalah untuk membahas hal ini.
"Ujian buat kami udah selesai, kan. Jadi, setelah ini apa yang kamu mau, Mio?"
"Kalau nanti ayahku ngirimin permintaan buat nyelidikin kelakuan pacarku, tolong selidikin dengan hati-hati biar sama sekali nggak ketahuan sama Fuuto-kun."
Dengan tegas, Mio memastikannya.
“Aku nggak nyuruh kalian sampai nolak permintaan dari Ayah, kok."
"Ya iyalah, aku nggak mungkin merampas pekerjaan detektif secara sepihak. Lagian, kalau aku bener-bener mau menghentikan permintaan penyelidikan itu, harusnya aku mintanya ke Ayah, bukan ke Koishi-san atau Renjou-san, kan."
"Cara berpikirmu soal itu lumayan logis, ya. Lagian dari awal, kenapa juga ayahmu sampai mau minta penyelidikan latar belakang pacar putrinya segala?"
Menanggapi pertanyaan Koishi, Mio menjawab dengan nada yang terdengar agak senang.
"Soalnya, aku bilang kalau aku pacaran sama Fuuto-kun dengan niat mau menikah."
Pernyataan itu cukup menohok sampai-sampai membuat suasana di meja itu mendadak hening.
"Eh, bukannya itu terlalu cepat?"
Renjou tanpa sadar melontarkan pemikiran jujurnya.
"Nggak cepet, kok. Umurku udah delapan belas, udah cukup umur buat nikah. Keluargaku itu agak unik, lho. Hari gini mereka masih aja nyaranin perjodohan (omiai), coba bayangin, bisa dipercaya nggak, tuh?"
"Wow." "Jadi orang kaya itu repot, ya."
"Bagi aku yang sekarang, cinta yang serius itu langsung berhubungan lurus sama pernikahan. Kalau aku lengah dikit aja, aku bisa-bisa dinikahin paksa sama cowok anak mami nggak jelas yang katanya calon pengusaha muda atau apalah. Biar bisa terus bareng Fuuto-kun, aku harus nunjukin keseriusanku ke Ayah."
Sambil menatap bagian kerah baju Mio, Koishi berkata, "Bener-bener lagi dimabuk cinta, ya."
"Aku serius, lho."
Nagisa dan Yuuma saling berpandangan, Koishi kembali melirik ke arah dada Mio, sementara Renjou yang merasa canggung menghabiskan sisa teh Oolong-nya dalam satu tegukan.
"Begitu, ya. Kalau dari sudut pandang ayahmu, pendiriannya paling-paling, 'Kalau diselidiki terus ketemu boroknya, aku bisa bikin Mio nyerah. Lumayan untung,' gitu kali, ya."
"Kayaknya sih gitu. Ah, ngomong-ngomong, tolong lakukan penyelidikannya dengan sungguh-sungguh, ya. Fuuto-kun nggak mungkin ngelakuin perbuatan out yang melanggar batas, tapi seandainya... dari satu banding sejuta, semiliar, atau setriliun kemungkinan itu benar-benar ada, aku pengin tahu dan bener-bener mau ngamuk ke dia."
"Nyali yang besar."
Pola pikir Mio yang terlalu jauh berbeda dari dirinya malah membuat Renjou mulai merasa tertarik. Bisa berinteraksi dengan tipe orang yang tak akan pernah bersinggungan dengannya jika ia hanya menjalani kehidupan biasa, adalah salah satu daya tarik dari pekerjaan ini.
"Aku jadi penasaran cowok kayak apa yang sampai bikin Mio segila ini. Yah, tapi mending aku nggak usah lihat fotonya sekarang, deh. Kalau ayahmu datang bawa permintaan dan nunjukin fotonya, bakal repot kalau aku harus pura-pura baru pertama kali lihat."
"Nggak, aku pengin Koishi-san dan Renjou-san melihatnya. Orang yang aku suka."
Setelah berkata begitu, Mio menarik casing smartphone model selempang miliknya, mengetuk layarnya beberapa kali, lalu menyodorkannya ke arah mereka.
"Ini pacarku, Fuuto-kun."
Di balik kacamata dengan bingkai perak yang hanya ada di bagian atasnya, terdapat tatapan mata tajam yang memberikan kesan garang meskipun ia sedang tersenyum. Rambut bagian sampingnya dicukur rapi, dengan bagian atas yang dipotong pendek rata. Tubuhnya kekar berotot layaknya olahragawan, dan di foto itu, terlihat adegan di mana Mio sedang memeluk lengannya yang tebal.
Karena kebiasaan, Renjou mempertahankan ekspresi netralnya, dan entah bagaimana berhasil melontarkan kalimat, "Wajah yang gampang diingat, ya." Jika ia harus memberikan komentar tentang foto target pembuntutan, ia selalu memastikan untuk tidak mengatakan apa pun selain "gampang diingat".
Koishi sepertinya memperhatikan hal lain dan bergumam, "Aah, baju kasual, ya." Memang benar, selain wajahnya yang garang, pakaiannya juga memberikan dampak yang sama kuatnya. Kausnya memiliki sablon bergambar naga yang seakan sedang berenang dari ujung kedua lengan menuju ke arah bahu, dan celana jeans-nya dihiasi sulaman ikan Koi.
"Soal selera fashion-nya, sejujurnya aku juga punya beberapa hal yang pengin dikomplain, sih. Aku sadar gaya pakaiannya itu... cukup unik. Tapi, hal kayak gitu cuma masalah sepele. Aku jatuh cinta sama batang pohon dari Fuuto-kun, jadi soal dahan dan daunnya sih aku nggak peduli. Asyik banget kalau bareng dia, dan dia itu bisa diandalkan. Terus, ngelihat dia pas lagi main bisbol... bikin hatiku langsung berdebar-debar."
"Hee. Tipe yang atletis rupanya."
"Iya. Yah, tapi nyebutin poin-poinnya satu per satu kayak gini aja nggak bakal bisa nyampein perasaanku seutuhnya, kan. Soalnya cinta itu pertarungan habis-habisan antar manusia."
Frasa-frasa yang tidak akrab di telinga bermunculan begitu saja.
"Aku ini nggak pernah jatuh cinta, jadi aku nggak ngerti hal-hal halus semacam itu, sih," ucap Koishi sambil mengangkat bahu. "Tapi keseriusan Mio udah tersampaikan, kok. Aku bakal ngebuntutin tanpa ketahuan."
Mio menatap Koishi lekat-lekat, seolah sedang mencoba menakar sesuatu. Koishi pun memiringkan kepalanya. "Ada yang kurang pas?"
"Apakah Koishi-san... mendukung hubunganku dengan Fuuto-kun?"
Mio yang sedari tadi terus mengobrol dengan riang, untuk pertama kalinya mengubah ekspresinya menjadi terlihat begitu rapuh.
Koishi mengangkat bahu.
"Aku nggak berniat mendukung atau menghalangi, kok. Aku cuma ngerjain pekerjaan yang diminta."
"Apa nggak apa-apa kalau aku jatuh cinta sama Fuuto-kun?"
Mio menunjukkan wajah yang sengaja dibuat-buat agar terlihat cemas. Walau terkesan sedang bercanda, tapi di balik sorot matanya, terlihat jelas kalau dia benar-benar menginginkan jawaban. Dari situ, tampak bayangan nyata mengenai perlakuan dan sikap orang-orang di sekitarnya terhadap hubungan mereka selama ini. Renjou pun, seandainya dia adalah teman atau orang tua Mio, pasti sudah menentangnya habis-habisan.
Sambil memainkan sedotan di gelasnya tanpa minat, Koishi menjawab, "Siapa pun boleh jatuh cinta sama siapa aja, kok."
Mio mengangkat wajahnya.
"Maksud kata 'boleh' itu, aku nggak peduli. Selama kamu nggak melanggar hukum, toh jatuh cinta itu nggak butuh izin dari siapa-siapa, kan."
Ekspresi tegang di wajah Mio seketika meleleh. Hampir seolah-olah ia akan menangis saat itu juga.
"Koishi-san, aku bener-bener respect, deh. Beneran orang dewasa yang pengertian. Tolong pastikan penyelidikannya nanti nggak ketahuan sama sekali, ya."
Tiba-tiba, Koishi menyipitkan matanya tajam, merendahkan suaranya seolah mengubah total alur pembicaraan yang mengharukan tadi.
"Itu urusan lain. Nanti tagihan tarif resmi berdasarkan kontrak bakal kukirim, jadi tolong ditransfer, ya. Biaya tiket bioskop sama minuman di sini juga bakal kumasukin sebagai pengeluaran tambahan."
"Nggak keren banget, deh," gerutu Renjou, namun Koishi mengabaikannya dan terus menatap Mio lekat-lekat.
"Oke banget."
Mio tertawa. Sama sekali tak terlihat kekhawatiran soal pembayaran di wajahnya.
Karena waktu sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh malam, Renjou menyuruh Mio dan kedua temannya pulang, menyisakan dirinya dan Koishi berdua di restoran keluarga. Renjou berpindah tempat duduk, berhadapan langsung dengan Koishi.
"Tumben banget kau negesin soal tagihan. Biasanya kau sama sekali nggak peduli soal omzet dan nyerahin semuanya ke Hinami-san."
"Aku pengin punya rak buku di kantor, tahu," Koishi menyeringai. Renjou mendadak merasa merinding dan mengerutkan kening.
"...Maksudnya?"
"Ya, buat narik datangnya kasus-kasus misteri, kayaknya harus mulai dari penampilannya dulu, kan. Aku pengin mewujudkan rencana buat merombak seluruh dinding ruang kerja jadi rak buku, terus masukin semua koleksi novel misteriku ke sana. Aku nggak tahu pasti sebelum nanya ke Hina-chan sih, tapi mungkin kantor kita sekarang nggak punya kelebihan budget buat beli rak buku, jadi aku pengin meraup untung besar di sini."
"Sekalipun kau bilang meraup untung besar, jumlahnya nggak bakal seberapa, kan."
Walaupun Mio bilang bakal membayar tarif resmi, toh mereka cuma bekerja berdua selama beberapa jam. Pendapatannya pasti sangat terbatas.
"Nggak, aku bakal narik dua juta yen."
Renjou membelalakkan matanya. Dia berharap itu cuma lelucon, tapi wajah Koishi sangat serius.
"...Pakai rumus apaan, tuh?"
"Lho? Kamu nggak ngerti kenapa aku nyuruh ngubah isi surat kontraknya tadi? Di kontrak sama Mio, aku nambahin pasal larangan. 'Dilarang dengan sengaja memberikan informasi palsu'. Kalau batas itu sih emang udah ada di kontrak biasa, tapi aku nyuruh Hina-chan buat nambahin pasal soal 'Denda Pelanggaran Kontrak'. Cap stempel elektronik Mio juga udah ada di sana. Mio udah cukup umur, jadi dia nggak butuh persetujuan dari wali hukumnya lagi."
"...Bukannya itu terlalu licik? Targetmu itu anak SMA, lho."
"Mau lawan kita itu anak SMA kek, yang namanya bisnis, kalau udah diremehin ya tamat. Ya, aku juga nggak bakal narik uang segini gede dari anak SMA biasa, tapi kalau Mio, dia pasti bisa bayar. Lagian, dia pasti mikir kalau keadaan terburuk terjadi dia masih bisa ngebayarnya, makanya dia berani tanda tangan kontrak itu."
Sambil menahan kepalanya yang terasa pusing, Renjou mendesaknya dengan pertanyaan.
"Kenapa kau bisa menyadari kebohongan Mio-chan sejak wawancara?"
Biasanya, Koishi tidak pernah ikut campur soal isi kontrak.
"Tentu saja itu berkat kemampuan observasiku yang tak melewatkan perubahan diameter pori-pori kulit, dan kemampuan deduksi yang menarik sepuluh kebenaran dari satu petunjuk. Dari saat Mio pertama kali buka mulut, aku udah tahu kalau dia nggak miskin. Susunan giginya rapi banget, jadi aku yakin dia pasti pernah dipasangi kawat gigi pas kecil."
"Alasannya lemah banget. Kau nggak mungkin bisa sepercaya diri itu cuma modal alasan sepele gitu, kan."
"Yah, lagian mikir aja, orang yang kerja di kantor daerah Tenjin-minami masa selingkuhnya di mall bawah tanah Tenjin, kan."
"...Kalau dipikir-pikir, emang jaraknya terlalu dekat, sih."
Meski begitu, bukan berarti tindakan seperti itu mustahil terjadi.
"Dari nada bicara Koishi-san, kau sangat yakin dengan kemampuan bayar Mio-chan. Pasti ada sesuatu yang lebih pasti daripada sekadar observasi atau deduksi, kan?"
Koishi menjulurkan lidahnya seolah berkata, ketahuan, ya.
"Ayah Mio, Satou Toru. Pas ngelihat fotonya, kamu nggak ingat sesuatu?"
"Ingat apa?"
"Tadi kita sempat ngebahas kasus dengan biaya tak terbatas dan hasil zonk selama tiga puluh hari berturut-turut, kan? Target penyelidikan waktu itu, ya Toru."
Mendengar hal itu, dua titik samar di kepala Renjou perlahan terhubung.
"Kalau dipikir-pikir, wajahnya emang mirip... oh iya, nama klien waktu itu juga Satou-san, ya."
Berarti klien waktu itu adalah ibu Mio. Di foto yang ditunjukkan Mio, ibunya memakai kacamata hitam, jadi ia sama sekali tidak menyadarinya.
"Waktu itu kita ngebuntutin dia tiga puluh hari berturut-turut, dan hasilnya bersih, kan."
"Iya."
"Ini tebakanku aja sih, kayaknya istrinya ngasih tahu Toru kalau suaminya itu udah diselidiki selama tiga puluh hari. Bagi Tooru, dibuntutin selama tiga puluh hari tanpa ketahuan sedikit pun pasti bikin dia mikir, 'Wah, detektif ini hebat banget,' dan itu membekas di ingatannya. Makanya kali ini dia berniat ngajukan permintaan ke kantor kita."
Renjou benar-benar berdecak kagum menyadari Koishi sudah membaca alur sejauh itu. Di saat yang sama, ia teringat pada profil Toru.
"Tunggu sebentar, Toru-san itu kan... direktur perusahaan."
"Direktur perusahaan bernilai seratus miliar yen. Perusahaan itu dijalankan oleh keluarga, dan mereka salah satu dari sepuluh keluarga terkaya di daerah ini. Kalau sampai bikin mereka marah pasti ngeri banget, bisa-bisa kita dikubur pakai buldoser di tanah milik mereka."
"Cara pandangmu soal orang kaya itu kasar dan aneh banget."
Renjou menepis ucapan sembarangan Koishi, tapi dalam hatinya ia setuju. Dengan nada bicara Mio yang begitu santai tadi, gadis itu pasti punya uang yang bisa dipakai sesuka hati dalam jumlah yang lebih dari cukup. Pantas saja dia bisa membuang AirPods begitu saja, dan denda dua juta yen pun tak akan jadi masalah baginya. Renjou menghela napas.
"Tapi hebat juga Koishi-san masih ingat. Jujur aja wajah Toru-san itu nggak ada ciri khasnya, dan aku nggak mungkin bisa terus-terusan mengingat wajah orang yang pernah ku-selidiki."
Renjou selalu berusaha melupakan target penyelidikan sebisa mungkin setelah tugasnya selesai. Ingatan itu hanya akan mengganggu saat harus mengingat target berikutnya, dan tak ada untungnya juga mempertahankan ingatan semacam itu.
Namun, seolah menertawakan Renjou, Koishi menimpali.
"Kan aku udah sering bilang, aku nggak pernah lupa sama target yang pernah kubuntuti. Tiap kali nyelidikin, aku selalu membakar ingatan itu dalam-dalam ke otakku, jadi walaupun pengin lupa, aku nggak bisa melupakannya."
Koishi menghabiskan gelas Sprite ketiganya, lalu mengeluh, "Selama ini aku udah ngebuntutin ratusan orang, jadi aku sering banget tanpa sengaja papasan sama mereka di jalan. Bikin muak aja."
"Koishi-san ini, biarpun sering ngeluh, anehnya kau punya tingkat profesionalisme yang tinggi, ya."
"Kerja itu kan emang sistem di mana kita ngelakuin hal yang nggak kita suka dengan sekuat tenaga demi dapat bayaran."
"Pernyataan yang menyedihkan."
"Aah, walau tadi aku sempet ngelakuin hal yang mirip-mirip deduksi misteri, tapi habis ini ujung-ujungnya cuma ngintai dan ngebuntutin kayak biasa, kan. Kapan ya aku bisa dapet kasus misteri yang sesungguhnya?" keluh Koishi.
Seperti biasa, Renjou mematahkan harapannya dengan berkata, "Nggak bakal mungkin."
Bagian 4
"Gimana ceritanya Machida Fuuto dan Mio-chan bisa pacaran, ya?"
Di kamar sudut lantai dua sebuah apartemen yang letaknya berseberangan diagonal dengan gerbang utama SMA Hoshino. Sambil mengawasi pemandangan di luar jendela menggunakan teropong binokular, Renjou mengajak Koishi mengobrol.
Hari Senin, tiga hari usai insiden pembuntutan ganda oleh Mio, Toru datang ke Kantor Detektif Koishi untuk mengajukan permintaan. Sesuai dengan apa yang diceritakan Mio, permintaannya adalah penyelidikan latar belakang pacar sang putri. Masa penyelidikannya untuk sementara ditetapkan selama dua minggu. Jika dalam kurun waktu tersebut mereka berhasil mendapatkan bukti kelakuan buruk, maka penyelidikan akan dihentikan. Namun jika tidak ada, kontraknya akan diperpanjang dua minggu lagi.
Sesuai dugaan Koishi, Toru ternyata memang sudah diberi tahu oleh istrinya bahwa ia pernah dibuntuti oleh Koishi dan Renjou selama tiga puluh hari penuh. Tampaknya sejak saat itu, Toru telah memutuskan jika suatu saat ia butuh menyewa jasa detektif, ia akan memilih Kantor Detektif Koishi.
Kamar apartemen ini kabarnya adalah salah satu properti yang dikelola oleh perusahaan Toru. Mengintai di sekitar fasilitas pendidikan itu sangat berisiko dilaporkan oleh warga, ditambah lagi patroli polisi juga sering lewat sehingga tingkat kesulitannya tinggi. Namun, begitu Renjou menyampaikan hal itu, Toru langsung menyiapkan kamar ini untuk mereka.
Meski ini adalah apartemen tipe 2LDK kosong tanpa perabotan maupun barang elektronik, Tooru dengan berbaik hati membawakan kulkas mini, pendingin ruangan portabel, dan kipas angin tanpa baling-baling. Walau sudah pertengahan bulan September, hawa panas ekstrem khas musim panas masih terus berlanjut, jadi fasilitas ini sangat disyukuri. Ini adalah pertama kalinya Renjou mendapat fasilitas penyelidikan semewah ini.
"Apaan, mentang-mentang target pembuntutannya belum bakal keluar, kamu jadi pengin ngobrol, ya?"
Koishi berkata dengan nada bosan.
Rabu pukul empat sore. Ini adalah hari pertama pengintaian, waktu di mana para siswa yang pulang sekolah mulai terlihat bermunculan satu per satu. Namun, kudengar Fuuto juga mengikuti kegiatan klub sekolah dan kelas tambahan, jadi sepertinya ia lebih sering pulang larut malam.
"Aku kepikiran, lho. Kalau nggak ada pemicu dramatis—misalnya Mio diselamatin pas nyaris tertabrak, atau ditolongin pas lagi diganggu preman—kayaknya agak mustahil mereka berdua bisa jadian."
"Kemarin, buat mastiin aja, aku neken nelepon dan nanya gimana awal mula mereka jadian. Katanya sih, Fuuto sering nemenin Mio belajar buat persiapan ujian masuk jalur rekomendasi sepulang sekolah, terus ya mengalir gitu aja, katanya."
"Uwah, tipe yang begitu, ya," Renjou memasang wajah masam.
"Ini bener-bener mere exposure effect. Katanya mereka nyaris nggak pernah berinteraksi sampai kelas dua, dan baru pas kelas tiga mereka sering ngabisin waktu bareng terus jatuh cinta. Pola yang klasik banget. Kalau semua cinta butuh pemicu dramatis, dunia ini pasti bakal jauh lebih dramatis dari sekarang, kan."
"Kok kayaknya mood-mu lagi buruk, ya?"
Koishi terus merengut sejak pengintaian ini dimulai.
"Permintaan Mio kemarin sih lumayan seru soalnya kita bisa main adu taktik dikit, tapi permintaannya Tooru ini kan cuma kasus percintaan biasa. Disuruh semangat juga mustahil, lah."
"Selama kita bisa ngasih hasil, biarpun kau nggak semangat juga nggak masalah, sih."
"Renjou-kun, aku bakal ngasih bonus deh, jadi tolong bener-bener serius nyariin kasus misteri buat sekali aja."
"Ujung-ujungnya lari ke situ lagi?" Helaan napas. Teropong di tangan Renjou sedikit bergetar.
"Kasus pembunuhan dan detektif itu kan dramatis banget. Nggak ada apa-apanya dibandingin sama kasus cinta-cintaan."
"Kenyataannya, ranah yang ditangani detektif itu adalah perselisihan perdata. Kasus pidana kayak pembunuhan itu normalnya diselesaikan oleh polisi. Detektif yang ngeluarin deduksi dramatis buat nyudutin pelaku kejahatan itu nggak ada di dunia nyata, tahu."
"Jangan nyamain akhiran kalimatmu terus-terusan gitu, deh. Bikin muak tahu. Lagian, aku udah dengar itu seratus kali. Udah bosan dengarnya. Aku benci argumen logis~"
"Aku juga sudah bosan ngomongnya, jadi tolong jangan paksa aku ngulangin itu lagi."
Renjou berucap tanpa menyembunyikan rasa muaknya. Namun, Koishi masih bersikeras tak mau kalah.
"Kamu selalu ngomong seolah-olah lagi ngingetin aku gitu, tapi kenyataannya kasus pembunuhan atau kasus yang punya elemen pemecahan teka-teki aneh itu beneran eksis, kan—Buktinya, ada klien yang ngajuin permintaan ke tempat Aizawa, tuh."
Aizawa—Setiap kali menyebut nama itu, mood Koishi akan anjlok satu tingkat. Bagaimanapun juga, orang itu berhasil mewujudkan apa yang selama ini ingin dilakukan oleh Koishi dengan sempurna.
Aizawa Mami adalah seseorang yang aktif dengan gelar "Influencer Spesialis Pemecahan Misteri", sebuah gelar yang seolah bisa diklaim oleh siapa saja yang mengakuinya duluan.
Jumlah subscriber kanal "Detektif Bertopeng - Aizawa Mami Channel" miliknya mencapai hampir delapan ratus ribu orang, sebuah pencapaian yang mustahil diraih tanpa kualitas konten dan intensitas aktivitas yang memadai.
Konten videonya berpusat pada pemecahan misteri. Terkadang ada episode yang membahas kuis logika umum atau permainan berpikir lateral (lateral thinking), tapi salah satu seri terpopulernya adalah seri "Laporan Aktivitas Detektif Dunia Nyata". Itu adalah video yang mengulas kasus-kasus dari klien yang masuk ke pihak Aizawa. Meski jumlahnya tidak banyak, ada beberapa video tentang kasus-kasus yang mengandung misteri tak terpecahkan—bukan sekadar investigasi perselingkuhan atau penyelidikan latar belakang—dan Koishi selalu merasa sangat geram setiap kali menonton video tersebut.
"Coba aja permintaan-permintaan itu masuknya ke kantor kita, pasti bakal bagus banget. Dari yang kulihat di videonya, dia itu kan detektif yang beroperasi di Fukuoka juga. Ini sih namanya jelas-jelas rebutan lahan klien. Alasan kenapa aku cuma dapet investigasi percintaan yang ngebosenin kayak gini, semua ini salahnya Aizawa."
"Kalau kau sekesal itu, ngomong langsung aja ke Aizawa sendiri sana."
"Udah, kok. Aku nyuruh Hina-chan buat ninggalin komentar hater banyak banget ke dia. Tapi tiap kali dikirim, selalu langsung di-hide sama dia."
"Itu bukan kelakuan yang pantas dilakuin sama orang dewasa umur dua puluh tujuh tahun yang udah terjun ke masyarakat, jadi tolong hentikan. Beneran, deh."
Tak lama kemudian, Renjou menemukan wajah yang dikenalnya di antara sekelompok siswa yang keluar dari gerbang sekolah.
"Mio-chan keluar. Ada Nagisa-chan dan Yuuma-kun juga. Mereka pulang bertiga, ya."
Minggu lalu di restoran keluarga, Mio bercerita bahwa mereka bertiga sering berkumpul di rumah Nagisa—yang ibunya sering pulang telat karena pekerjaan sehingga ia sering makan malam sendirian—untuk bermain game atau makan bersama.
"Lho, bukannya Mio bilang mau kencan habis ini?"
Mio sebelumnya memberi tahu, "Di hari pertama penyelidikan, aku mungkin bakal pulang bareng Fuuto-kun." Dari sudut pandang anak SMA, pulang sekolah bersama sudah termasuk kencan yang layak.
"Karena pulangnya si Kelinci telat, dia pasti mau bunuh waktu di rumah Nagisa-chan dulu."
"Hah, mampir ke rumah teman dulu buat bunuh waktu, baru habis itu pulang bareng? Ribet banget, sih."
"Itulah yang namanya masa muda buat mereka berdua."
"Yah, kalau sebatas teori sih aku juga ngerti, tapi menghabiskan waktu cuma demi bisa pulang bareng itu bener-bener nggak habis pikir."
"Lagipula, hubungan mereka kan rahasia. Katanya yang tahu selain mereka berdua cuma Nagisa-chan dan Yuuma-kun, kan. Kalau mereka nggak mulai jalan bareng dari tempat yang agak jauh dari sekolah, bisa-bisa ketahuan murid lain atau guru, kan?"
"Tapi kok mereka nggak masalah kalau kita yang lihat?"
Saat ditanya apakah tidak apa-apa jika kencan mereka dibuntuti, Mio menjawab dengan lancar.
—Aku dan Fuuto-kun menjalin cinta yang murni. Sampai kami lulus SMA, nggak bakal ada adegan ciuman atau hal yang lebih dari itu. Bergandengan tangan sih masih oke, tapi itu batas maksimalnya. Makanya, nggak ada adegan memalukan sama sekali biarpun dilihat oleh Koishi-san atau Renjou-san.
"Jelas beda lah rasanya dilihat oleh orang asing kayak kita, dibanding dilihat sama teman sekelas atau guru."
"Detail perasaan kayak gitu beneran nggak kumengerti, deh. Kalau Renjou-kun, gimana perasaanmu kalau kencanmu sama Momo-shi kubuntuti?"
Renjou sempat bingung sejenak, tidak paham siapa yang dimaksud dengan 'Momo-shi', tapi begitu sadar bahwa itu adalah nama pacarnya sendiri, ia langsung mengerutkan kening. Sambil menggerutu "Ngapain juga kau manggil dia pakai akhiran '-shi' ?", ia membalas,
"Yang pasti, aku bakal nyari cara buat menuntutmu yang kemungkinan menangnya tinggi."
"Emangnya kamu ngelakuin hal-hal yang bikin malu kalau sampai dilihat orang, ya?"
"Pada dasarnya, orang itu nggak mau dilihat kenalannya pas lagi pacaran, tahu."
Karena target pembuntutan mereka murni hanya Fuuto, selama sekitar dua jam berikutnya, mereka terus mengawasi gerbang sekolah secara bergantian. Fuuto akhirnya keluar saat waktu mendekati pukul delapan malam. Begitu dia keluar, Renjou langsung melompat dari kamar apartemen itu, disusul oleh Koishi yang mengikuti selang satu ketukan.
Fuuto bepergian dengan berjalan kaki. Biasanya dia naik sepeda, tapi karena ada ramalan cuaca buruk, sepertinya dia memutuskan untuk jalan kaki. Untungnya hujan tidak turun, jadi mereka bisa membuntutinya dalam kondisi yang ideal.
Karena dia berjalan sambil melihat HP, langkah Fuuto agak pelan. Bagian yang diam-diam paling merepotkan dari membuntuti adalah keharusan untuk menyesuaikan langkah dengan ritme target. Cepat sedikit saja dari target, jarak mereka akan langsung menyusut. Berjalan mengikuti ritme orang lain itu ternyata memicu stres yang jauh lebih besar dari bayangan.
Fuuto terus berjalan ke selatan dengan langkah santai selama sekitar sepuluh menit, menyeberangi jalan raya, lalu masuk sedikit lebih jauh ke arah area perbukitan dan tiba di depan gerbang Kuil Chiharu. Sepertinya Mio sudah keluar dari rumah Nagisa dan menunggunya di sini. Gadis itu sempat mondar-mandir naik-turun tangga batu sendirian, tapi begitu melihat sosok Fuuto, wajahnya langsung semringah dan ia berlari menghampirinya. Fuuto memutar lehernya dengan cepat untuk mengawasi keadaan sekitar, lalu setelah merasa aman dari pandangan orang lain, ia balas tersenyum. Keduanya pun berjalan sambil bergandengan tangan.
"Buat jaga-jaga aku mau nanya, panah dari dada si Kelinci ke Mio-chan..."
"Sudah dipastikan. Tentu aja panah dari Mio juga menjulur ke dia. Mereka benar-benar saling mencintai, ya."
Setidaknya Renjou bisa bernapas lega karena tahu bahwa Mio tidak diancam atau dipegang kelemahannya sehingga dipaksa menjadi pacar Fuuto.
Mata Koishi bisa melihat perasaan cinta.
Lebih tepatnya, ia bisa melihat panah merah yang menjulur dari dada orang yang sedang jatuh cinta, menuju ke dada orang yang dicintainya. Dari semua manusia yang masuk ke dalam jarak pandang Koishi, mereka yang sedang mencintai seseorang akan memiliki benang merah yang menjulur dari dadanya, dan mereka yang sedang dicintai seseorang akan terlihat memiliki panah merah yang menancap di dadanya.
Tentu saja, mata itu sangat berguna untuk investigasi perselingkuhan.
Kedua orang itu masuk ke restoran keluarga terdekat yang berstruktur lantai satu sebagai tempat parkir dan lantai dua sebagai restorannya. Setelah menunggu satu tarikan napas, Renjou ikut masuk ke dalam, sementara Koishi berjaga di luar.
Fuuto dan Mio mengambil posisi di meja kedua dari belakang di dekat jendela. Setelah mendapat arahan "Silakan duduk di meja mana saja" dari pelayan, Renjou berjalan ke meja paling ujung dan duduk membelakangi Fuuto.
Untuk ukuran restoran keluarga di atas jam delapan malam, pelanggannya tergolong sepi, dengan tingkat kursi kosong sekitar empat puluh persen. Karena suasananya tidak terlalu ramai, percakapan Fuuto dan Mio masih bisa terdengar dengan susah payah. Karena Tooru juga meminta laporan isi percakapan mereka, Renjou menyalakan alat perekamnya untuk berjaga-jaga.
"Tadi aku lumayan banyak makan camilan di rumah Nagisa-chan, jadi rasa laparku agak nanggung, nih. Fuuto lapar, kan?"
Mio memanggil nama secara langsung tanpa sebutan formal, ditambah lagi logat Hakata yang sama sekali tidak keluar saat ia berbicara sopan sebelumnya kini mengalir lancar. Sudah sewajarnya sih, wajah yang ditunjukkan kepada detektif tentu berbeda dengan wajah yang ditunjukkan kepada pacar.
Fuuto juga membalas dengan logat Hakata yang kental.
"Memang habis ngemil seberapa banyak?"
"Katanya sih ibunya Nagisa-chan hari ini kebagian shift malam, jadi Nagisa-chan sama Yuu-kun masak Taco Rice porsi besar terus dimakan bareng. Kalau cuma aku doang yang nggak makan kan canggung, jadinya aku ngemil biskuit Pucca banyak banget di sebelah mereka. Makanya, kayaknya perutku udah nggak muat kalau makan berat, deh."
"Kalau aku pesan Doria porsi a la carte saja. Restoran keluarga itu harga nasinya dipisah, menyebalkan sekali. Harusnya dibikin satu set menu aja sekalian kayak di warung makan biasa. Gara-gara males sama sistem itu, ujung-ujungnya aku selalu milih Doria atau Omurice. Padahal kalau habis latihan klub, porsi segitu sama sekali nggak bikin kenyang, sih."
Renjou agak ragu apakah keluhan relatable semacam itu bisa dipahami oleh Mio yang notabene merupakan anak konglomerat super kaya. Namun, bahkan setelah selesai memesan pun, obrolan mereka terus berlanjut tanpa jeda.
"Sabtu-Minggu minggu depannya lagi, mau liburan bareng, nggak? Aku pengin ke festival musik, nih. Yang di daerah Shikoku itu."
"Wah, kalau liburan ke luar kota sih bahaya, kali. Nanti pandangan ayahmu ke aku makin jelek, lagi."
"Tenang aja, nanti aku yang bujuk, kok."
"Lagian ya, minggu pertama Oktober itu kan pas banget sama periode ujian tengah semester. Kayaknya agak berat. Kalau tempatnya agak dekatan sih nggak apa-apa."
"Yaaaah, mau gimana lagi, deh. Tapi ini musim gugur terakhir di masa SMA lho, ayo kita bikin kenangan bareng."
"Perasaan pas musim semi sama musim panas kemarin kamu juga bilang 'terakhir di SMA'."
"Ya iyalah. Kalau mau dibikin lebih detail lagi, aku juga bisa bilang 'Bulan Oktober terakhir di masa SMA', lho."
"Heh, kalau gitu caranya jadinya tiap bulan, tahu."
"Kan aku emang pengin bikin kenangan tiap bulan. Soalnya, aku suka banget sama kamu."
Tak lama kemudian, pesanan Mio dan Fuuto tiba. Mengingat tuntutan pekerjaannya, Renjou sudah tak terhitung lagi berapa kali menyaksikan momen makan antara laki-laki dan perempuan. Ketika mulai makan, perhatian dan tangan biasanya akan terfokus pada hidangan, sehingga banyak pasangan yang terjebak dalam keheningan selama beberapa menit setelah makanan dihidangkan. Namun, dua remaja ini terus mengobrol tanpa henti sambil menikmati hidangan mereka. Sepertinya frekuensi mereka benar-benar sangat cocok.
"Latihan klubnya berat, ya?"
"Dulu sih aku ngejalaninnya dengan penuh semangat, tapi akhir-akhir ini kadang aku mikir, 'ngapain aku ngelakuin semua ini?'. Ngorbanin hari Sabtu-Minggu buat tanding ke luar kota, disuruh latihan fungo sama mukul bola lambung di tengah cuaca panas yang gila-gilaan, sambil terus mikir 'apa sih maknanya dari satu pukulan bola ini?'. Kalau udah gitu, rasanya aku mending pergi ke game center buat main Jubeat. Aku tahu sih mikir kayak gitu tuh payah banget, tapi—"
"Kamu udah hebat, kok. Nggak apa-apa, aku ini orang yang paling ngerti sekeras apa Fuuto berjuang, lho."
"Aku pengin anak-anak klub yang lain juga ngerti hal itu—tapi kayaknya itu terlalu ngarep, ya. Makasih, Mio."
"Obrolan mereka bener-bener kedengaran kayak dua orang yang hatinya saling terhubung, ya."
Koishi, yang ikut menguping lewat telepon, mengutarakan kesan pribadinya. Karena tidak mungkin membalas dengan suara, Renjou menepuk earphone-nya sekali. Tuk. Tepuk sekali berarti "ya/setuju", tepuk tiga kali berarti "tidak", begitu aturan sandi mereka.
Bahkan setelah selesai makan pun, Fuuto dan Mio masih melanjutkan obrolan dengan ritme yang sama untuk beberapa saat. Saat mereka akhirnya bangkit dari kursi, waktu sudah berlalu hampir satu jam sejak piring mereka kosong.
"Ya udah, yuk cabut. Mau aku yang bayarin, nggak?"
"Nggak, nggak usah. Bayar masing-masing saja."
Begitulah percakapan yang terjadi tepat saat mereka bangkit dari tempat duduk.
"—Eh?" Meski sudah berusaha mengecilkan suaranya, Renjou tanpa sadar tetap melontarkan nada kaget. "Tadi aku sempat mikir jangan-jangan aku salah dengar. Mio-chan yang nawarin buat nraktir, tapi si Kelinci malah minta bayar masing-masing (split bill), kan? Bukan sebaliknya, kan?"
"Aku juga agak kaget sih pas dengarnya, tapi bener, kok."
"Bayar masing-masing, ya... Nggak asyik banget, deh."
"Yah, soal bayar-membayar itu kan murni tergantung dinamika hubungan mereka berdua."
"Nggak gitu juga. Bagaimanapun juga, dengan gampangnya minta bayar masing-masing tanpa mikir dua kali itu agak—"
Sementara Renjou masih menggerutu dan merasa syok, Mio dan Fuuto sudah mulai membayar tagihan mereka. Mereka membayar porsi makanannya masing-masing.
Saat Fuuto dan Mio selesai membayar dan keluar dari restoran, Renjou segera bangkit dari kursinya. Ia membayar dengan cepat dan keluar, lalu melihat mereka berdua masih berada di bawah tangga. Terdengar suara mereka sedang mengobrol.
"Hari ini masih ada waktu, kan? Jalan-jalan di sekitar Sungai Muromi, yuk."
"Sori, nggak bisa. Hari ini aku harus cepat pulang. Soalnya ini hari peringatan kematian ibuku."
Renjou pura-pura mengikat tali sepatu, berjongkok dan bersembunyi di tengah tangga.
"Aku harus beli bir Orion kesukaannya buat dipersembahkan di altar. Maaf, ya. Nanti kita main lagi."
Renjou tidak bisa melihat ekspresi apa yang sedang ditunjukkan Mio, tapi ia bisa merasakan ketegangan muncul di antara mereka berdua.
Di saat Renjou sedang ragu apakah ia harus turun dan mengintip ekspresi mereka sejenak—tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang nyaring (plok!), membuatnya tersentak kaget.
"Ibunya Fuuto!"
Volume suara Mio begitu besar sampai-sampai rasanya bisa terdengar oleh seluruh penduduk Distrik Sawara.
"Terima kasih banyak sudah melahirkan Fuuto!"
Sebuah teriakan keras yang saking tiba-tibanya sampai bisa dibilang sebagai kelakuan eksentrik. Fuuto, yang tampak kewalahan, hanya bisa berucap, "Woi, dilihatin orang, tuh."
"Tenang aja, nggak ada siapa-siapa, kok. Nggak, tiba-tiba aku ngerasa pengin berterima kasih aja. Berkat ibumu yang berjuang, Fuuto yang sekarang bisa ada di sini, kan. Aku pengin banget ketemu, deh."
"...Aku juga pengin ngenalin kamu ke ibu."
Fuuto berucap dengan nada sendu.
"Ada apa ini," gumam Koishi terdengar dari earphone.
"Namanya juga masa muda, kan," balas Renjou pelan. "Masa muda itu, dikit-dikit pasti teriak, tahu."
Fuuto mengantar Mio sampai ke jalan besar, lalu berjalan terus ke arah barat. Koishi dan Renjou mengatur jarak dan membuntutinya dari belakang.
"Mulai dari sini masuk ke bagian intinya, mari kita berjuang. Walau dia jalan kaki, kita juga harus waspada kalau dia tiba-tiba naik taksi."
"Entah kenapa rasanya aku jauh lebih capek dari biasanya. Padahal baru hari pertama, udah kayak gini aja."
"Apa dia cuma mau pulang ke rumah? Mio-chan juga bilang dia belum pernah ke rumah si Kelinci, jadi dia nggak tahu alamat pastinya—"
Setelah berjalan ke arah barat beberapa saat, Fuuto berbelok ke kiri. Sambil mengecek HP-nya beberapa kali, ia masuk ke sebuah gang sempit. Gelagatnya bukan seperti orang yang berjalan sambil melihat media sosial atau berita. Gerakannya lebih terlihat seperti sedang berbalas pesan dengan seseorang.
"Koishi-san, di depan sana kan—"
Seorang detektif selalu bergerak sambil memprediksi tujuan target pembuntutannya. Karena geografi area ini sudah terhapal di luar kepala, mereka bisa memprediksinya dengan tingkat akurasi yang lumayan tinggi. Masalahnya, jalan di depan sana adalah deretan love hotel yang sudah berkali-kali mereka masuki saat melakukan pembuntutan.
Tolong, jangan ke sana, pikir Renjou seolah berdoa.
Sayangnya, doa Renjou tidak terkabul. Di ujung langkah Fuuto, terlihat sosok seorang perempuan. Perempuan yang sedang merokok di depan minimarket itu menyadari kedatangan Fuuto dan tersenyum lebar. Fuuto pun menghampirinya dengan langkah tanpa ragu.
"...Selingkuh sepulang kencan sehabis sekolah, kayaknya ini baru pertama kalinya kita nemuin kasus begini, ya?" gumam Renjou.
"Ngomong-ngomong, panahnya cuma mengarah ke Mio."
Koishi berbicara dengan suara datar tanpa emosi. Cara bicara yang asal-asalan, menunjukkan bahwa Koishi tidak memiliki konsep 'harapan akan kesetiaan pada pasangan' seperti yang selalu diharapkan oleh Renjou.
"Yang ini cuma main-main kali, ya. Karena Mio cuma ngebolehin pegangan tangan, mungkin perempuan ini cuma jadi pelampiasan nafsu birahinya yang menumpuk. Tapi ya... aku sama sekali nggak nyangka kalau lawannya adalah wanita dewasa yang umurnya lebih dari dua kali lipat umur Mio."
Persis seperti perkataan Koishi, wanita itu tampak berusia sekitar lima puluhan. Sambil merasa muak, Renjou menyiapkan kameranya, bersiaga mengamati ke hotel mana kedua orang itu akan masuk.
Setelah saling bertukar sapa dan tertawa bersama, Fuuto dan wanita itu melangkah masuk dan menghilang ke dalam sebuah bangunan yang penampilannya sangat mencerminkan love hotel pinggiran kota. Bangunan itu diterangi oleh lampu neon bertuliskan "HOTEL BOMB" yang menyala berdampingan dengan papan reklame bertuliskan "Istirahat 90 Menit 2.480 Yen".
"Aku bisa ngambil gambarnya, jadi aku bakal motret dari jarak jauh sama close-up sekalian, ya. Haaah, ujung-ujungnya aku cuma ngambil foto orang keluar-masuk love hotel kayak biasanya, ya."
Sambil mendengarkan gerutuan Koishi, Renjou mengirimkan pesan singkat kepada Toru, memberitahukan bahwa Fuuto telah masuk ke hotel bersama seorang perempuan. Balasan dari kliennya itu langsung datang dengan cepat.
《Dokumennya cukup berupa foto saja tidak apa-apa. Bolehkah saya berkunjung untuk mendengarkan laporannya besok? Bersama Mio.》
Disusul dengan satu pesan lagi.
《Menurut saya, semakin cepat dia tahu, lukanya tidak akan terlalu dalam.》
Terakhir, setelah jeda sejenak, satu pesan lagi masuk.
《Manusia yang memberikan penderitaan tak beralasan pada putri saya, akan saya bereskan tanpa pandang bulu menggunakan cara apa pun.》
Membayangkan "cara" macam apa yang dimiliki oleh seorang direktur utama dari perusahaan bernilai seratus miliar yen, Renjou merasakan hawa dingin menjalari punggungnya.
Bagian 5
Mio yang datang ke kantor dibawa oleh Toru, pada awalnya memasang ekspresi tenang dan berakting "salam kenal", tapi begitu melihat wajah Renjou, ekspresinya langsung menegang.
Setelah mengarahkan mereka ke ruang wawancara, Renjou dan Koishi duduk berdampingan berhadapan dengan ayah dan anak keluarga Satou. Renjou memulai tanpa basa-basi.
"Aku akan bicara blak-blakan. Machida Fuuto-san, terbukti berselingkuh."
Ia meletakkan beberapa lembar foto yang sudah dicetak ke atas meja. Foto Fuuto dan seorang wanita masuk ke love hotel. Foto mereka saat keluar. Adegan ciuman di gang belakang saat mereka berpisah. Tangan pria itu yang melingkar di bokong wanita tersebut.
Foto-foto bukti yang berbicara lantang itu, diraih oleh Mio dengan tangan yang gemetar hebat.
"Ini...."
Mendengar suara Mio yang begitu lirih, Renjou nyaris memalingkan wajahnya. Namun, Koishi menatap Mio lurus-lurus dan menyampaikan faktanya.
"Itu foto yang diambil tadi malam."
Reaksi terguncang dari Mio sudah bisa diprediksi. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Mio selanjutnya, benar-benar tidak bisa diprediksi sama sekali.
"Ini kan... ibunya Nagisa-chan."
Tubuh Renjou mematung, tapi demi harga diri sebagai seorang profesional, ia menahan diri agar ekspresinya tidak berubah. Koishi juga tidak berkomentar apa-apa, hanya mengawasi Mio yang sedang menggenggam erat foto-foto itu. Tooru, entah apakah dia sudah menyadarinya sejak menerima foto laporan kilat dari Renjou sebelumnya, hanya mengangguk dalam diam.
Kesunyian yang berat turun menyelimuti mereka.
Toru tetap tanpa ekspresi dan tanpa kata. Perhatian utamanya sepertinya hanya tertuju pada satu hal: seberapa dalam putrinya terluka. Ia terus mengawasi keadaan putrinya dari sudut matanya.
Dari mulut Mio, terdengar sebuah suara. Belum bisa disebut sebagai ucapan, hanya suara yang tak membentuk kata. Menyusul suara itu, Mio mengangkat tangannya ke arah mata, namun berhenti seolah ragu-ragu. Seakan takut jika ia mengusap matanya, itu sama saja dengan mengakui bahwa dirinya sedang menangis.
Sosok Mio yang menceritakan tentang Fuuto di restoran keluarga pada hari insiden pembuntutan ganda itu kembali terbayang di benak Renjou. Kilau di wajah gadis itu saat membicarakan pacarnya dengan penuh kasih sayang waktu itu, kini seolah berubah menjadi bilah pedang yang menusuk tembus dada Mio. Dada Renjou ikut terasa sesak.
Tentu saja, reaksi klien yang mengetahui perselingkuhan pacar atau pasangannya sudah sering ia lihat sampai muak. Namun setiap kali melihat pemandangan itu, tanpa pernah bosan, Renjou selalu merasakan sakit yang nyata di dadanya.
Karena rasanya seperti melihat dirinya di masa lalu, dan juga ibunya.
Meski begitu, hal yang harus dilakukan seorang detektif di saat seperti ini bukanlah mengenang masa lalunya sendiri.
Melainkan bercanda, biarpun jadinya garing. Mencegah suasana menjadi terlalu serius.
Bagaikan mencoba mengalirkan angin ke dalam udara yang menyesakkan, Renjou bergumam, "Haaah."
"Siapa sangka Machida Fuuto-san ternyata suka tante-tante, bahkan kami sang master kasus percintaan pun tak bisa memprediksi hal itu."
Hening.
Pft, Mio menyemburkan tawa. Air matanya berguncang jatuh.
"Iya juga, ya, berarti dia emang suka tante-tante, ya." Mio tertawa, "Hahahaha." Sebuah suara tawa yang diwarnai kepedihan.
Koishi pasti memiliki pemikiran yang sama dengan Renjou. Ia tertawa terbahak-bahak dengan suara yang tidak elegan.
"Cinta itu kan sebatas efek paparan berulang, jadi habis ini bergaullah sama macam-macam orang. Kalau ujian masuk udah selesai, kehidupan kampusmu bakal dimulai. Kalaupun gagal, kehidupan ronin-mu yang bakal dimulai. Nanti di sana, tinggal cari aja cowok lain yang paling sering interaksi sama kamu."
"Tunggu bentar, Koishi-san. Tolong hentikan omongan yang serba brengsek itu."
Renjou menatap Koishi dengan pandangan tak percaya.
"Apa, sih? Kalau mau nyangkal, kasih solusi alternatif, dong. Kasih tahu aku kata-kata alternatif apa yang pas diucapin ke anak SMA yang pacarnya direbut sama ibu sahabatnya sendiri."
"Kenapa malah ngejabarin seluruh situasi Mio-chan terang-terangan gitu, sih?! Tolong pelajari lagi konsep kepekaan perasaan (delicacy), mending kau ikut kelas upacara minum teh aja, sana!"
"Emangnya kamu pikir upacara minum teh itu apaan?"
Mio mengangkat tangannya, seolah memberi isyarat agar mereka berhenti.
"Tunggu bentar, ini bukan perdebatan yang pantas dilakuin di depan klien, kan."
Mio tertawa. Air mata yang mengalir tanpa diusap itu menciptakan jejak basah di pipinya.
"Entahlah, tapi aku ngerasa yang dibutuhkan Mio saat ini ya obrolan bodoh kayak gini."
Mendengar kata-kata Koishi, Mio menyipitkan matanya dengan lembut.
"Bener-bener Detektif Hebat, ya."
💔
Sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali menyentuh tubuh seorang anak SMA? Rasanya tak ingat. Apalagi anak laki-laki SMA, ini mungkin yang pertama kalinya seumur hidup.
Melakukan kontak dengan target anak SMA lumayan merepotkan.
Untungnya, SMA Hoshino adalah almamaterku, ditambah lagi guru mata pelajaran saat aku masih bersekolah dulu kebetulan masih mengajar di sana. Rentetan keberuntungan itu membuatku bisa menyusup ke dalam sekolah tanpa dicurigai. Melacak target dari sana dan membawanya ke tempat yang luput dari pandangan orang ini adalah pekerjaan yang melelahkan, tapi ini adalah prosedur yang diperlukan.
×× melepaskan kancing kemeja target di depannya satu per satu. Untuk kaus dalam berwarna krem yang dikenakannya, ia mencubit ujung atas kerah V-neck kaus tersebut, menyelipkan bilah pisau ke sana, dan mengirisnya ke bawah.
Dada yang bidang, namun dengan kulit yang masih kencang khas anak muda. Mengingat ia bermain bisbol, saat disentuh, terasa seolah ada tolakan dari ototnya yang padat. Sebuah tubuh yang ditempa oleh latihan klub setiap hari. Karena menyentuhnya bukanlah sesuatu yang menyenangkan, ×× segera mengeluarkan pisau lipat serbaguna dari sakunya agar bisa cepat-cepat menyelesaikannya. Sebagai percobaan, saat ia menempelkan pisau itu ke dada target, target itu langsung meronta dan mengepakkan tubuhnya dengan lebih kuat.
—Maaf ya, bisa tolong diam? Nanti aku gagal, lho.
Ia nyaris melontarkan kalimat itu, dan tanpa sadar langsung membekap mulutnya sendiri. Tangannya terhalang oleh balaclava yang menutupi wajahnya, sehingga tak bisa menyentuh bibirnya. Padahal ia harus menyembunyikan wajah dan suaranya, tapi karena perasaannya yang terburu-buru, ia nyaris saja melakukan kesalahan.
Sambil membayangkan sebuah simbol di dalam kepalanya, ×× menancapkan bilah pisau itu ke dada laki-laki yang meronta-ronta dan berteriak tertahan di balik lakban yang membungkam mulutnya.
Ia tidak akan membunuhnya. Kalau sampai membunuh, konsistensi di dalam dirinya sendiri akan hancur. Ia memegang teguh filosofi dan kesadaran akan tujuannya yang kuat di dalam otaknya.
—Orang yang berani-beraninya selingkuh, harusnya sudah siap mental buat ditusuk, kan?
Sambil merapalkan kalimat itu di dalam hati, ia menggeser bilah pisaunya. Menetralkan rasa takut dan rasa bersalah, lalu memantapkan tekadnya.
×× mengukir simbol hati yang retak di dada kiri laki-laki itu—menggunakan pisau sebagai pengganti pena.
Demi mencapai tujuan, ini bukan saatnya untuk pilih-pilih cara.