Victoria of Many Faces Jilid 2 Cerita Bonus 3

Edward selalu bersikap sopan dan santun kepadanya. Setiap kali mereka bertemu di sebuah pesta malam, Edward memperlakukannya dengan penuh hormat.

Tefuda ga Oome no Victoria 2 - Kehidupan Sehari-hari Blythe Asher

Edward Asher, suami Blythe, bukan hanya menjabat sebagai kepala Departemen Pemeliharaan Institusi, tetapi juga memimpin dua departemen lainnya di kastel. Tidak perlu diragukan lagi bahwa ia adalah pria yang sangat sibuk.

Namun, sesibuk apa pun Edward, ia selalu bersikap tenang. Sejak mereka menikah, Blythe belum pernah sekalipun melihat suaminya kehilangan kendali atas emosinya.

 

Sebelum mereka menikah, beberapa nona muda sering mengeluh tentang betapa tenangnya Edward, karena sulit untuk mengetahui apa yang sedang ia pikirkan. Namun tidak bagi Blythe. Edward selalu bersikap sopan dan santun kepadanya. Setiap kali mereka bertemu di sebuah pesta malam, Edward memperlakukannya dengan penuh hormat.

Ketika Edward melamarnya, Blythe sempat bertanya, “Mengapa Anda tertarik pada saya?”

“Karaktermu, terutama. Dan fakta bahwa kau tumbuh di keluarga yang bahagia dengan orang tua yang saling menyayangi.”

Blythe merasa aneh bagaimana Edward bisa tahu begitu banyak tentang keluarganya. Ayahnya selalu bersikap mendominasi terhadap ibunya di depan umum, dan ibunya jarang bersosialisasi. Satu-satunya orang yang tahu betapa rukunnya orang tuanya hanyalah segelintir pelayan, Blythe, dan saudara perempuannya. Jadi, bagaimana Edward bisa tahu?

 

Menjelang pernikahan mereka, Edward mengaku kepada Blythe bahwa ia memiliki bekas luka di punggungnya. Saat pertama kali melihatnya, Blythe terdiam seribu bahasa karena betapa parahnya bekas luka tersebut.

“Ayahku dikendalikan oleh emosinya. Bekas luka itu berasal dari saat beliau memukulku dengan cambuk kuda,” jelas Edward dengan tenang.

Namun Blythe justru menangis tersedu-sedu, dikuasai rasa simpati yang mendalam terhadap anak laki-laki yang pernah terluka itu, dan akhirnya Edward-lah yang justru menenangkannya.

Blythe tumbuh besar dengan limpahan kasih sayang dari orang tua yang memiliki pernikahan bahagia, jadi bersikap dengan cara yang sama datang secara alami baginya.

Ia mencerminkan cara orang tuanya memperlakukan satu sama lain tanpa ia sadari, menawarkan tindakan-tindakan kecil penuh kebaikan kepada Edward dan merawat ibu mertuanya. Edward selalu memastikan untuk berterima kasih kepadanya dan memberikan pujian.

“Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu,” katanya. Blythe bahkan sudah tidak bisa menghitung berapa kali Edward mengucapkan hal itu.

Dan setiap kali ia mendengarnya, Blythe akan berpikir, Akulah yang beruntung.

Blythe dan Edward memiliki seorang putri tunggal.

Awalnya, Blythe mengira mereka akan mencari menantu laki-laki untuk diadopsi ke dalam keluarga demi mengamankan pewaris gelar. Namun, Edward tidak menginginkan hal itu. Ia berkata bahwa ia telah memilih keluarga yang cocok untuk putri mereka—keluarga yang damai dengan pernikahan yang kokoh.

Sudah menjadi tradisi di keluarga Asher untuk memiliki setidaknya dua anak agar salah satunya bisa meneruskan nama Asher. Beruntung, putri mereka dikaruniai tiga anak—dua putra dan satu putri—sehingga tidak ada kekhawatiran garis keturunan mereka akan terputus.

 

Suatu hari, saat Blythe sedang bepergian dengan kereta kudanya, ia melihat seorang wanita yang tampak familier di pinggir jalan. Wanita itu adalah pelayan yang pernah mengabdi pada salah satu temannya. Sayangnya, teman tersebut telah meninggal dunia karena influenza, dan suaminya pun baru saja wafat karena penyakit jantung. Blythe ingat betul ia mengirimkan bunga duka cita saat itu.

“Hentikan keretanya dan bawa wanita itu ke sini,” pintanya kepada kusir.

Benar saja, itu adalah pelayan dari kediaman mendiang temannya.

“Oh, Nyonya Blythe! Sudah lama sekali. Saya Bertha.”

“Bertha, apa yang kau lakukan belakangan ini? Apakah kau baru saja dari agensi penyalur tenaga kerja itu?”

“Sejujurnya, setelah tuan besar meninggal dan putra sulungnya menjadi kepala keluarga yang baru, dia memberhentikan sebagian besar pelayan lama, termasuk saya.”

“Astaga! Padahal kau sudah mengabdi di keluarga itu begitu lama!”

“Benar, Nyonya. Saya adalah kepala pelayan di sana.”

Blythe berpikir sejenak lalu berkata, “Mungkin aku bisa membantumu. Di mana kau tinggal sekarang? Di hotel? Aku punya beberapa ide. Tetaplah di sana untuk saat ini, dan aku akan menghubungimu lagi.”

“Terima kasih, Nyonya Blythe, tapi mengapa Anda begitu baik kepada saya?”

“Kau adalah pelayan kesayangan mendiang sahabatku. Dia pasti akan memarahiku saat kami bertemu lagi di taman para dewa jika aku menelantarkanmu,” ujar Blythe dengan senyum lembut.

Bertha sangat bersyukur dan berterima kasih berulang kali.

 

Blythe menceritakan situasi tersebut kepada Edward kemudian. “Aku ingin mencarikannya posisi yang bagus di suatu tempat,” katanya.

“Itu sempurna! Dia bisa bekerja di kediaman baru Jeffrey.”

“Benarkah? Tapi kau bahkan belum pernah bertemu Bertha.”

Edward memberinya senyum tenang yang biasa. “Aku memercayai penilaianmu. Jika kau ingin membantunya, maka aku merasa aman menyerahkan tanggung jawab rumah tangga adikku kepadanya.”

Blythe merasa bersyukur sekaligus bingung dengan kepercayaan besar yang diberikan Edward kepadanya.

 

Meskipun Edward sangat sibuk dan mereka jarang memiliki waktu berdua, Blythe merasa sangat senang telah menikah dengannya. Edward menghormatinya sebagai pribadi dan memperlakukannya dengan perhatian penuh.

Dan begitulah awal mula Bertha dipekerjakan sebagai pelayan di keluarga Victoria.

Bertha bekerja dengan tekun di pekerjaan barunya, hingga suatu hari, penyusup membobol rumah tersebut, dan ia secara tidak sengaja menemukan rahasia majikan barunya yang tak terduga...

Tapi, itu adalah cerita untuk lain waktu.

« Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya »

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar