Prolog
Hanya ada satu hal yang pasti di dunia ini.
Yaitu kebajikan.
Dia mengajarkanku bahwa kebajikan berarti mereka yang telah berusaha akan mendapatkan imbalan yang setimpal.
Kerja keras dan upaya harus dinilai secara adil, dan seseorang harus menerima upah yang layak atas hal itu.
Dia mengajarkanku bahwa dunia yang tidak berjalan seperti itu adalah dunia yang salah.
Dan mereka yang mengabaikan usaha orang lain harus menerima hukuman.
Karena itulah, dia mengajarkanku bahwa ayah dan ibuku memang sudah sepantasnya mati.
Sebagai satu-satunya yang selamat, dia mengajarkanku bahwa aku harus menebus dosa-dosa yang telah diperbuat oleh ibu dan ayahku.
Oleh sebab itu, mataku kehilangan cahayanya.
"Menikahlah denganku, maka kau akan bahagia."
Dia mengatakannya padaku, bahwa itulah bentuk dari kebajikan dan kebenaran.
Dalam beberapa hari ke depan, usiaku akan genap delapan belas tahun.
Lalu, di bawah bimbingan kebajikan dan sesuai dengan nalar yang benar, aku akan menikah dengannya.
Maka dari itu, hari ini pun dunia masih berjalan normal. Inilah masyarakat yang baik, tempat segala usaha membuahkan hasil.
Sebab itulah, di pagi hari yang cerah ini, sambil mendengarkan kicauan burung yang riang, merasakan hembusan angin laut yang segar, dan hangatnya sinar mentari yang menyelimuti tubuh, aku berdoa dengan hati yang tanpa keraguan sedikit pun.
Ah.
"Andai saja segalanya musnah."
...Kalau dipikir-pikir, permintaanku ini terasa sangat dangkal, kasar, dan kekanak-kanakan.
Mungkin karena itulah—meski bukan itu alasan utamanya—doa kecil yang selalu kugumamkan di dalam hati agar tidak terdengar oleh para pelayan ini tidak pernah terkabul sekali pun.
Sampai saat ini. Ya, setidaknya sampai detik ini.
Suatu hari, tiba-tiba saja suasana di gerbang utama menjadi gaduh.
Saat aku bertanya ada apa kepada seseorang yang langkah kakinya terdengar seperti seorang perwira militer yang kebetulan lewat, dia menjawab.
"Ada penyusup dari penduduk setempat. Ini berbahaya, jadi Miko—maksud saya, Yang Mulia Duta Besar—mohon segera kembali ke kamar Anda."
"Tidak. Terima kasih atas perhatiannya, tapi saya menolak."
Aku mengatakannya dengan tenang, lalu menyambung perkataanku seolah ingin membungkam bantahannya.
"Menentukan nasib para penyusup itu juga termasuk dalam tugas saya. Saya akan melihat dan memutuskannya secara langsung. Ikutlah, saya percayakan pengawalan ini pada kalian."
Begitulah, dengan dikawal oleh beberapa orang penjaga, aku melangkah menuju gerbang utama.
Ah, jika boleh berharap, wahai penyusup yang belum kutemui. Aku tidak tahu apa tujuanmu kemari atau takdir apa yang membawamu ke tempat ini, tapi kumohon.
Demi aku yang ada di sini, maukah kau menghancurkan dunia ini? Dunia yang begitu benar dan penuh kebajikan, namun di saat bersamaan terasa sangat salah dan menjijikkan.
Namun, jika hal itu pun tidak sanggup kau lakukan, apa boleh buat. Setidaknya, jadilah pengalih perhatian untuk menghibur diriku, orang yang paling bahagia sekaligus paling malang di dunia ini.
Untuk tujuan itu, aku bahkan tidak keberatan menyeretmu ke neraka.
Sambil terus melangkah, aku memendam keputusasaan di dalam dada. Perasaan yang terlalu acuh untuk disebut sebagai harapan, seolah aku hanya sedang melampiaskan kekesalan pada keadaan.
Dan di sanalah, aku bertemu dengan mereka berdua.