Cerita Pendek Bonus E-Book
『Chronica sedang Berlatih』
Sembari duduk di tepi dudukan meriam di atas geladak Gandharva, aku menurunkan kembali ujung rok terusan (one-piece) yang sempat kusingkap ke atas. Setelah mengencangkan kembali holster (sarung pistol) di paha, aku memasukkan pistol ke dalamnya.
Di bagian samping rok itu terdapat belahan khusus, sebuah struktur yang sengaja dirancang agar aku bisa mencabut senjata dengan satu tangan tanpa harus bersusah payah menyingkap kainnya terlebih dahulu.
Saat aku memintanya kepada Linus, dia tidak hanya memisahkan pistol itu untukku, melainkan juga merombak ulang pakaian ini.
"Benar-benar, kalau urusan kayak gini dia sangat bisa diandalkan, ya. ……Mungkin lain kali aku harus memintanya membuatkan boneka rajut untukku."
Bagaimanapun juga, mengenai alasanku memutuskan untuk membawa senjata api seperti ini…… bukanlah demi melindungi diriku sendiri. Lagipula, aku kan abadi.
Namun, Linus berbeda. Meskipun tubuhnya kini sedikit lebih tangguh daripada manusia biasa akibat efek transfer memori milik , kenyataannya hanya sebatas itu saja. Karena itulah, hal yang ingin kulindungi dengan pistol ini bukanlah nyawaku, melainkan──
Aku mencoba meniru gerakan seorang penembak jitu kawakan, mencabut senjata dengan gerakan cepat. Namun, karena bagian gagangnya terlalu besar untuk ukuran tanganku, pistol itu hampir saja tergelincir jatuh dengan canggung. Tepat pada saat itulah……
"Ara~, Chronica?"
Sosok yang melangkah dengan terhuyung-huyung di hadapanku ternyata adalah Patricia yang tampaknya sedang didera mabuk laut.
Begitu mendapati sebilah pistol berada di tanganku, ia menyipitkan matanya seolah sedang menegur sesuatu yang dianggapnya teramat tidak serasi.
"Sungguh tidak elok dipandang, ya. Seorang Gadis muda kok membawa-bawa senjata api."
"Bukan urusanmu. ……Menghadapi para ksatria, benda ini mungkin cuma dianggap seperti pistol mainan, tapi setidaknya lebih baik daripada tidak ada sama sekali."
"Bukan, bukan itu maksudku! Biarpun engkau adalah Sel Kanker, engkau tetaplah seorang bangsawan. Terlebih lagi, jika engkau mengaku sebagai seorang gadis yang sedang jatuh cinta──berani-beraninya engkau mengandalkan hal lembek seperti butiran peluru!"
"Bicara omong kosong apa sih…… Lagipula, ini bukan soal jatuh cinta tahu! Lagian, tunggu sebentar! A-Aku sama sekali nggak bakat buat hal-hal semacam itu──!!"
Menyadari apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu, aku buru-buru mencoba menolaknya terlebih dahulu.
Namun, mana mungkin seorang Patricia sudi mendengarkan perkataan orang lain?
"Seni Menembak semacam itu hanyalah jurus pemanis yang tak berguna!! Hal yang benar-benar harus diandalkan oleh seorang bangsawan sejati tidak lain adalah kepalan tangannya sendiri! Karena itu, demi solidaritas sesama rival cinta, aku akan melatihmu dengan sangat keras, jadi bersyukurlah!"
Dan begitulah awal mulanya.
"──Ayo, one-two, one-two. Gunakan langkah kaki yang lebih ringan, alirkan pusat gravitasimu dengan mulus, lalu salurkan seluruh kekuatan tepat pada detik hantaman…… Hei! Posisi membungkuk macam apa itu! Anak anjing yang baru lahir pun punya semangat yang lebih baik daripada itu, tahu! Lagipula, cara menggenggam tanganmu saja sudah──Aakh! Astaga! Apa engkau benar-benar menganggap dirimu seorang bangsawan?!"
"Hah, hah. Makanya, kubilang…… aku ini berbeda…… hah, hah…… Struktur tubuhku tidak sama dengan keturunan langsung Bangsawan Agung sepertimu…… hah, hah."
Selama kurang lebih satu jam, di bawah terik matahari yang menyengat di atas geladak besi hitam, aku terpaksa menjadikan Patricia sebagai instruktur demi menjalani latihan Noble Cross, sebuah tradisi bela diri jarak dekat warisan kaum bangsawan.
Butiran keringat menetes deras dari daguku. Kepalan tanganku terasa mati rasa seolah-olah telah meleleh sepenuhnya.
Sekujur tubuhku terasa begitu lengket karena peluh, hingga membuatku berhalusinasi apakah ragaku ini sebenarnya telah bertransformasi menjadi zat cair.
Dan ketika aku akhirnya benar-benar tidak bisa melangkah satu jengkal pun, wanita itu menyodorkan sebotol air minum kepadaku lalu berkata.
"……Mengenaskan sekali, ya. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, karena Faktor Darah Mulia (Regalia) milikmu tidak bisa dialirkan ke tangan atau kaki, melatihnya secara membabi buta pun tidak ada gunanya, kan? Terlebih lagi, engkau sama sekali tidak punya bakat bertarung dengan tinju. Baiklah, berhentilah untuk sekarang."
Akhirnya selesai juga. Tepat pada saat aku mulai mengendurkan keteganganku secara refleks──
Plak! Sebuah tepukan kencang mendarat telak di pantatku.
"Hyan!"
"Aku tidak bilang engkau boleh bersantai, lho, Lady. Jagalah agar pinggulmu tetap kencang setiap saat. ……Terlepas dari itu, Chronica, tinjumu memang hancur lebur, tapi ritme dan langkah kakimu cukup anggun. Bagaimana kalau mulai sekarang kita murni melakukan latihan dansa?"
"E-Eh……? Maaf, tapi aku benar-benar sudah di batas kemampuanku."
"Justru karena itulah Desuwa~. Membiarkan otot-ototmu tetap kaku juga buruk bagi kulit, tahu. Ini latihan ringan sebagai ganti pendinginan. Aku yang akan memandumu."
Bahkan sebelum aku sempat menyeka seluruh keringat dengan handuk yang diberikan, Patricia sudah menarik tanganku.
Begitu saja aku terbawa oleh langkah kakinya, dan mulai berdansa dengan langkah terhuyung-huyung.
Namun, saat aku mencoba menyelaraskan diri dengan gerakan kaki dan panduan tangannya, perlahan-lahan gerakanku menjadi semakin mulus. Entah bagaimana, aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan ritme yang dibawakan oleh Patricia.
Ketika hal itu terjadi, entah mengapa secara alami aku merasa agak senang. Dari lubuk ragaku yang kelelahan setengah mati, rasanya seberkas energi baru mulai bergejolak kembali.
"Ara, Chronica. Tampaknya engkau masih sanggup melanjutkannya, Desuwa ne~."
"Tidak, aku sudah lemas bagai ranting pohon kering, tahu. Tapi, apakah kelihatan kayak gitu?"
"Ya. Karena engkau yang sekarang…… memiliki senyuman yang teramat indah, Desuwa yo~."
Benar, aku tengah tersenyum.
──Dengan raga yang terus-menerus kehilangan memori ini, aku mungkin tidak akan pernah bisa menguasai keahlian apa pun.
Namun, bagi kenangan berharga yang teramat enggan kulupakan ini, aku merasa semua itu pasti memiliki sebuah arti yang teramat mendalam.