Bab 1: Kehidupan Sehari-hari
Bagian 1
Andai saja dia adalah orang yang bisa menceritakan masa lalunya dengan tawa, mungkin aku tidak akan bisa memaafkannya.
— Mau bertemu dengannya?
— Aku tak punya muka untuk menemuinya.
Melihat wajahnya yang tampak penuh beban saat dia mengatakan itu sambil mengangkat bahu, aku tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Sejak awal, salah besar jika aku, sebagai orang luar, berpikir bisa ikut campur sedikit saja dalam urusan mereka. Apalagi, ini masalah keluarga…
Sejak kami bertemu hingga berpisah, dia tak pernah menyebut namanya. Dia bahkan memintaku melupakan pertemuan ini. Ibaratnya, kami hanyalah dua musafir yang kebetulan berpapasan di ujung dunia yang jauh, ditakdirkan untuk berpisah dan membelakangi satu sama lain lima menit kemudian. Dia menginginkan hubungan seperti itu, dan suasananya sama sekali tidak memungkinkan aku untuk menanyakan namanya.
Meskipun begitu, aku tahu.
Dia adalah ayah dari Kirigiri Kyoko.
Pria yang meninggalkan keluarga Kirigiri dan putrinya enam tahun lalu. Pria yang menolak menjadi detektif, meski lahir dari garis keturunan detektif turun-temurun. Dan saat ini, dia adalah seorang guru di Akademi Kibougamine.
Aku mengingat kembali percakapan yang kami lakukan selama perjalanan mobil menuju asrama.
“Tidak banyak orang yang bisa mengelabui Kirigiri Kyoko.”
Sambil mengemudi, dia menyipitkan mata yang sangat mirip dengan mata Kirigiri Kyoko. Setelan jas yang rapi, dasi yang sedikit dilonggarkan, dan kerah baju yang sengaja tidak dikancing sempurna seolah mencerminkan sifatnya.
“Tapi bukan berarti aku tidak punya ide.”
Dia berkata, lurus menatap ke depan.
Mobil terus melaju di jalanan biasa dengan kecepatan normal. Keberadaan kami melebur ke dalam pemandangan sehari-hari tanpa ada sedikit pun kejanggalan.
“Shinsen Mikado—”
Saat aku menyebut nama itu, dia hanya mengarahkan matanya ke arahku di kursi penumpang.
Namun, dia segera menatap lurus ke depan lagi.
“Benar, ‘kan? Tolong beritahu aku. Sebenarnya, hubungan apa yang dimiliki keluarga Kirigiri dengan Shinsen Mikado?”
“Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik tidak kau ketahui. Kebenaran tidak selalu menyelamatkan seseorang.” Dia berkata, dan langsung melanjutkan, “Meskipun… sepertinya kalimat klise seperti itu tidak akan bisa lagi menghentikanmu. Matamu mengatakan itu. Aku tak terlalu menyukainya, sih.”
“Tolong beritahu aku.”
Ketika aku mengulang perkataanku, dia menghela napas dengan gusar.
“Sebelum itu, aku ingin kau ceritakan tentang dirimu. Termasuk bagaimana kau bisa mendatangi rumah besar itu. Aku akan memutuskan apakah aku harus memberitahumu atau tidak, setelah itu.”
“Baiklah”.
Aku menceritakan semua urusan sejak pertemuanku dengan Kirigiri Kyoko hingga saat aku menemukan mayat kakek Kirigiri. Pertemuan kami di kasus pembunuhan ‘Observatorium Sirius.’ Pertemuanku dengan Shinsen Mikado di kasus ‘Hotel Norman’s.’ Bahwa kami masih berada di tengah perjuangan melawan Komite Penyelamat Korban Kejahatan, yang diketuai oleh Shinsen Mikado. Dan bagaimana aku menuju rumah itu untuk memastikan sebuah fakta mengenai kakek Kirigiri.
Di rumah itu, aku harus menghadapi kenyataan terburuk. ‘Kakek’ Kirigiri ternyata sudah dibunuh dan dikubur di taman beberapa bulan lalu. Itu berarti, saat aku dan Kirigiri bertemu, ‘Kakek’ itu sudah tiada.
Lalu, siapakah ‘Kakek’ yang selama ini diperkenalkan Kirigiri padaku…
“Aku tahu dari Kirigiri-chan bahwa kakeknya adalah seorang detektif. Aku bahkan pernah bertemu dengannya. Tapi tiba-tiba—aku merasa ada sesuatu yang salah. Seolah-olah ‘Kakek’ yang ada di benakku dan ‘Kakek’ yang disebutkan Kirigiri-chan adalah dua orang yang berbeda. Jika kupikir-pikir lagi, memang ada banyak kejanggalan. Seharusnya ‘Kakek’ tidak menyetujui adopsi nomor DSC, tapi dia mendaftarkan Kirigiri-chan ke Perpustakaan Detektif. Dan ‘Kakek’ yang seharusnya belum kembali ke Jepang justru ada di rumah itu… Aku seharusnya lebih memikirkan semua kontradiksi itu.”
Aku merasa ingin menangis karena kebodohanku sendiri. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat di atas pahaku, berusaha menahan gejolak emosi.
“Kirigiri-chan… dia memang jarang membicarakan dirinya sendiri, dan bahkan cenderung menghindari topik tentang keluarganya. Tapi aku yakin, dia sama sekali tidak berniat menipuku. Mungkin, aku saja yang salah memahami…”
“Itu kebiasaan buruknya. Dia selalu berasumsi bahwa orang lain ‘mengerti’ hal yang sama seperti dirinya,” kata pria itu sambil mengernyitkan dahi.
Kirigiri Kyoko pastilah sudah cerdas sejak lama. Dunia yang ia lihat dan dunia yang aku lihat, laju waktu, bahkan pemandangan yang tertangkap mata, pasti berbeda. Karena itulah kami sering salah paham.
Entah bagaimana dunia ini terlihat di matanya. Itu adalah dunia yang tak mungkin bisa kulihat sebagai orang biasa.
Meski begitu, aku merasa dia telah berusaha keras, bahkan dengan aktif, untuk menunjukkan dunianya kepadaku. Kalau tidak, dia pasti tidak akan mempertemukanku dengan ‘Kakek’.
Apa yang ia tunjukkan kepadaku, sedikit malu-malu, tapi tetap ingin kunikmati, mungkin adalah kehidupan sehari-hari yang ia dambakan. Atau, bisa jadi itu adalah ‘non-rutinitas’ baginya, mengingat menjadi detektif adalah hal yang rutin baginya.
Namun—bahkan hal itu sudah lebih dulu direkayasa oleh Shinsen.
Dan aku, gagal menyadarinya.
“Kesimpulannya… ada dua kakek. Tapi itu sama sekali bukan hal yang aneh, karena pada umumnya, setiap orang punya dua kakek. Kakek dari pihak ayah dan kakek dari pihak ibu. ‘Kakek’ dari keluarga Kirigiri, yang berdarah detektif, adalah kakek dari pihak ayah, ‘kan? Sementara ‘Kakek’ yang memiliki rumah di atas bukit dan menyambut kepulangan Kirigiri Kyoko adalah kakek dari pihak ibu. Jika kuingat-ingat, Kirigiri-chan selalu membedakan keduanya, tetapi karena aku terlalu fokus pada kakek detektif, aku terus mencampuradukkan mereka.”
“Mau bagaimana lagi. Dia kurang menjelaskan dengan baik” ujar pria yang mengemudi itu, terdengar simpatik.
“Kirigiri-chan bilang, dia tinggal di luar negeri selama kurang lebih lima tahun. Ia baru kembali sekitar dua setengah bulan yang lalu—artinya, selama itu, ia belum pernah bertemu dengan kakek dari pihak ibunya. Jadi, bahkan Kirigiri-chan mungkin tidak menyadari bahwa ‘Kakek’ telah digantikan oleh orang lain. Faktanya, aku rasa ia juga tidak menyadari penyamaran Shinsen saat Natal.”
Terlebih lagi, Shinsen adalah Variationist Detective yang ahli dalam pemalsuan dan penyamaran. Jika korbannya adalah orang awam, ia pasti menguasai teknik agar penyamarannya tidak diketahui, bahkan oleh anggota keluarga. Karena korbannya kali ini adalah Kirigiri Kyoko, logikanya adalah kekosongan waktu lima tahun itulah yang dimanfaatkan.
“Aku menyesal tidak bertanya lebih banyak saat itu. Peringatan tentang Shinsen melalui telepon pada Hari Tahun Baru itu pasti berasal dari kakek pihak ayah, yaitu Kirigiri Fuhito sendiri.”
Peringatan dari kakeknya itu sia-sia, kami tetap bertemu dengan Shinsen Mikado. Mungkin itu bukan kebetulan, melainkan sesuatu yang telah direncanakan sejak awal.
Rencana Shinsen sudah dimulai sebelum Kirigiri Kyoko kembali ke Jepang. Entah apa tujuannya, dia menyusup ke rumah itu dengan menyamar sebagai kakek pihak ibu. Kemungkinan besar ‘para pelayan’ juga adalah anak buahnya.
“Awalnya hanya kesalahpahaman dariku. Tapi saat aku melihat gelagat aneh Kirigiri-chan, aku mulai berpikir pasti ada sesuatu yang lebih dari itu yang terjadi di rumah itu. Aku menuju ke sana untuk mengungkapkannya. Setelah itu… seperti yang Anda tahu.”
Ketika aku menyelinap ke rumah, ‘pelayan’ muncul dan menyerangku. Dia, pria yang sekarang duduk di kursi pengemudi, adalah yang menyelamatkanku.
“Yang terkubur di taman adalah ‘Kakek’ pihak ibu yang asli, kan? Aku rasa Kirigiri-chan baru menyadari hal itu setelah kembali ke rumah pasca insiden Hotel Norman. Mungkin dia sudah samar-samar menyadari kejanggalan pada ‘Kakek’ sebelumnya, tapi baru setelah mengetahui keberadaan Shinsen Mikado, ia menjadi yakin dan menemukan mayat yang terkubur di taman rumah.”
Satu-satunya kerabat yang bisa diandalkan, ‘Kakek’, ternyata palsu, dan yang asli telah dibunuh. Hatiku terasa sakit memikirkan perasaan Kirigiri ketika dia sampai pada kebenaran itu. Detektif keluarga Kirigiri diajarkan untuk memprioritaskan pekerjaan detektif di atas kematian keluarga. Namun, apakah Kirigiri Kyoko bisa tetap tenang tanpa terguncang?
“Setelah itu, dia menghilang. Mungkin ia memprioritaskan untuk mengamankan dirinya sendiri terlebih dahulu. Tapi beberapa hari kemudian, dia kembali kepadaku. Karena dia menyadari kemungkinan bahaya yang mengancamku. Sebenarnya, aku rasa dia bisa saja meninggalkanku begitu saja. Dia juga punya pilihan untuk langsung menemui Fuhito-san di luar negeri. Namun, dia tetap…”
“Dia pasti sudah mengambil keputusan untuk melawan” kata pria di kursi pengemudi itu, dan untuk pertama kalinya, ekspresinya sedikit melunak. “Kau tidak perlu khawatir. Dia adalah detektif keluarga Kirigiri.”
“Tapi… dia masih seorang gadis berusia tiga belas tahun,” kataku, nadaku tanpa sadar terdengar seperti menyalahkan.
Aku tahu aku tak punya hak untuk menyalahkannya. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya. Jika saja dia, sebagai seorang ayah, menyambut kepulangan Kirigiri Kyoko, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Atau jika saja dia tidak meninggalkan rumah, atau jika saja dia meneruskan profesi detektif… Aku tahu bahwa semua hipotesis ini tidak akan mengubah apa pun, tapi…
“—Sudah tiga belas tahun, ya,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada diri sendiri. “Jalan yang dia pilih sejak kecil adalah jalan penuh kekejaman, tempat pembunuhan dan pengkhianatan menjadi hal yang lumrah. Saat dia mulai menempuh jalan itu, dia pasti sudah siap mental bahwa dia tidak akan bisa berbagi dan dimengerti oleh siapa pun di masa depan. Meskipun begitu—”
Dia mengucapkan sesuatu, namun berhenti di tengah jalan.
Wajahnya tampak seperti baru sadar bahwa dia telah berbicara terlalu banyak hal yang tidak perlu.
“Bagaimanapun, aku rasa kesalahpahamanmu tentang kakeknya itu justru membawa hasil yang baik. Jika kau menyadari keanehan di rumah itu lebih awal, kau mungkin sudah disingkirkan.”
“Disingkirkan…”
“Selain itu, berkatmu, aku juga bisa mendapatkan gambaran kasar tentang apa yang terjadi di rumah itu. Terima kasih.” Dia mengucapkan terima kasih dengan santai, lalu melanjutkan. “Sesuai dugaanmu, yang terkubur di taman adalah kakek pihak ibu Kirigiri Kyoko. Namanya Uzuchi Touhachirou. Dia adalah pria tua yang cerdas dan cemerlang, yang memegang sabuk atau tingkatan di delapan seni bela diri: karate, kendo, judo, kyudo, aikido, iaido, naginata, ditambah kaligrafi. Dan dia juga merupakan pendukung yang baik bagi keluarga Kirigiri.”
Pria yang kutemui saat Natal itu memang mengucapkan kata-kata yang berbau ajaran keluarga Kirigiri. Itu pasti penyamaran Shinsen, tapi bisa jadi Uzuchi yang asli juga sering mengucapkan hal serupa. Setidaknya, Kirigiri Kyoko tampaknya tidak mencurigai perkataan atau tindakannya.
Aku membayangkan—mungkin Uzuchi yang masih hidup memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap keluarga Kirigiri. Mungkin ekspektasinya terhadap cucunya juga tinggi. Bisa jadi dia melihat masa depan Kirigiri Kyoko sebagai puncak pencapaian dari praktik delapan jalannya.
Seni bela diri yang dimiliki Kirigiri Kyoko mungkin berasal dari Uzuchi. Gerakan yang ditunjukkan oleh Shinsen yang menyamar pastilah meniru gaya Uzuchi. Pria yang mengemudi ini juga tampaknya mampu menggunakan teknik serupa, mungkin dia juga pernah dilatih bela diri saat masih menjadi detektif magang di masa lalu.
“Mari kita bahas tentang Shinsen Mikado” katanya tiba-tiba.
Mobil sudah mendekati asramaku.
Tidak banyak waktu tersisa.
“Siapa dia—secara singkat, dia adalah pria seperti lubang hitam. Jika Kirigiri Kyoko adalah bintang kelas satu, Shinsen Mikado adalah bintang kegelapan yang bahkan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, bahkan lebih parah, dia mampu membelokkan cahaya di sekitarnya.”
Bintang kegelapan—
Entitas yang kami hadapi ini terlalu besar, gelap, dan sulit dipahami.
“Kapan dan di mana dia lahir… jawabannya sungguh biasa, tidak ada yang istimewa untuk diceritakan. Dia lahir sebagai putra ketiga dari keluarga biasa di sudut negara ini, pada suatu hari di musim dingin. Kau bahkan bisa menemukan catatan itu dengan mudah. Tentu saja, itu pun bisa jadi adalah hasil rekayasa penyamarannya. Jadi, aku peringatkan, mencoba mengetahui lebih jauh hanya akan berakhir sia-sia.”
“Sejak kapan Shinsen mulai aktif sebagai detektif?”
“Berdasarkan catatan resmi yang tersisa, dia setidaknya sudah terlibat dan berkontribusi dalam penyelesaian kasus sejak usia sepuluh tahun.”
Memang, orang yang berada di puncak dunia seperti mereka pasti sudah menunjukkan bakatnya sejak usia muda. Sama seperti atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade, mungkin bakat detektif juga muncul sejak masa kanak-kanak.
Bagiku, mereka terlihat seperti manusia super, tapi Kirigiri Kyoko juga sudah bekerja dengan kakeknya pada usia itu, dan Mikagami Rei telah mencapai kelas Triple-Zero pada usia sembilan tahun. Itu adalah cerita yang terlalu jauh di atas awan.
“Meskipun demikian, dibandingkan dengan detektif-detektif besar lainnya, dia termasuk yang sederhana dan tidak menonjol. Mungkin para detektif yang disebut 'detektif besar' itulah yang tidak wajar. Dia hanyalah manusia yang sangat biasa dan sangat patuh pada aturan. Bahkan, dia terlalu terpaku pada kebenaran. Dalam arti baik, dia serius. Dalam arti buruk, dia adalah orang yang tidak fleksibel. Seorang detektif pasti akan berhadapan langsung dengan sisi kotor manusia dan ketidakadilan dunia, tapi dia tidak bisa memejamkan mata atau membelakangi hal-hal itu.”
Aku bisa memahami perasaan itu sampai batas tertentu. Aku sendiri memiliki kecenderungan seperti itu.
Namun, aku tidak berniat memahaminya sepenuhnya. Aku tidak mau. Bagaimana mungkin aku bisa memahami perasaan bos terakhir dari kelompok kriminal?
“Dalam proses pekerjaannya sebagai detektif, perkenalannya dengan detektif bernama Kirigiri Fuhito bukanlah kebetulan, melainkan keniscayaan. Lambat laun, mereka mulai bekerja sama.”
“Apakah Kirigiri Fuhito dan Shinsen Mikado adalah rekan?”
“Benar. Mereka adalah rekan, sahabat, dan juga guru dan murid.”
Perpaduan antara ace detektif muda dan detektif ternama yang berpengalaman.
Dari kesan verbalnya saja, seolah-olah tidak ada musuh di dunia ini yang bisa mengalahkan mereka.
Namun, pada akhirnya tim itu bubar, dan kini cucu dari salah satunya menjadi detektif, sementara yang lain berdiri sebagai musuhnya.
Sungguh nasib yang tragis.
“Saat Perpustakaan Detektif didirikan lima belas tahun yang lalu, Fuhito-san dan Shinsen sama-sama terdaftar sebagai anggota pendiri, ‘kan? Namun, kudengar Fuhito-san tidak mendaftarkan dirinya ke Perpustakaan Detektif dan menentang adopsi nomor DSC. Mungkinkah hal itu yang menjadi pemicu mereka berpisah?”
“Tidak, bukan itu. Itu hanya masalah sepele. Alasan mereka berdua mulai mengambil jalan yang berbeda adalah—”
Mobil itu sudah memasuki jalanan yang kukenal.
Tinggal lurus sedikit lagi, dan asramaku akan terlihat.
Pria di kursi pengemudi itu mengatupkan bibirnya erat-erat, seolah sulit untuk mengatakannya.
Aku mendesaknya dengan tergesa-gesa.
“Apa pemicunya?”
“Mungkin, Kirigiri Kyoko.”
“……Hah?”
“Keluarga Kirigiri turun-temurun mewariskan profesi detektif kepada keturunan mereka. Namun, lima belas tahun yang lalu, Kirigiri Fuhito tidak memiliki pewaris. Sebab, meskipun dia punya seorang putra, pria itu menolak ‘karma’ profesi detektif dan meninggalkan rumah.”
“Aku sudah mendengar cerita itu dari Kirigiri-chan.”
“Kalau begitu, situasinya jelas, bukan? Intinya, Kirigiri Fuhito membutuhkan penerus. Oleh karena itu, ia menjadikan pemuda berbakat itu sebagai rekan, dengan asumsi bahwa dia akan mewarisi nama itu di masa depan.”
“Shinsen Mikado… mewarisi nama Kirigiri?”
“Ya. Kirigiri Fuhito mengakui bahwa Shinsen memiliki bakat yang pantas untuk meneruskan nama tersebut. Jarang, tapi memang ada kasus di mana murid detektif terkenal atau orang yang mewarisi wasiatnya mengambil alih nama itu.”
“Tapi… pada akhirnya Shinsen mengambil jalan yang berbeda, ya.”
“Benar. Shinsen tidak pernah mewarisi nama Kirigiri. Karena kelahiran Kirigiri Kyoko menyebabkan darah Kirigiri yang diutamakan. Aku tidak tahu apakah karena hal itu atau tidak… setelahnya, Shinsen Mikado menghilang dari hadapan Kirigiri Fuhito. Apa yang terjadi di antara mereka, hanya mereka berdua yang tahu.”
Apakah dia terobsesi dengan keluarga Kirigiri karena nama yang seharusnya ia warisi direbut oleh Kirigiri Kyoko?
Mungkinkah tujuannya… adalah merebut nama Kirigiri?
Apakah demi hal semacam itu, dia sampai harus memimpin organisasi kriminal besar, membunuh banyak orang, dan menyudutkan Kirigiri-chan? Bagiku, yang lahir dari keluarga biasa, hal itu terlihat sangat konyol.
Apa arti ‘Kirigiri’ bagi mereka?
Apa arti ‘Detektif’ bagi mereka?
Rasanya seperti kutukan.
Kirigiri Kyoko pernah berkata bahwa hidup dan menjadi detektif adalah hal yang sama. Sekarang, aku sedikit mengerti artinya. Itu mungkin adalah kutukan yang terukir dalam darahnya, terlepas dari kehendaknya.
Tanpa kusadari, mobil telah berhenti di pinggir jalan.
Di luar jendela, sekolahku terlihat. Tepat di depan gerbang. Asramaku berada di balik gerbang itu.
Pria di kursi pengemudi itu menunggu aku membuka pintu sendiri dan keluar dari mobil.
Namun, aku mendesaknya lagi.
“Apa Anda pernah melihat wajah asli Shinsen Mikado?”
Saat kutanyakan itu, dia menggelengkan kepala tanpa suara.
Apakah dia pernah bertemu langsung dengan Shinsen?
Kirigiri Fuhito dan Shinsen adalah rekan sebelum Kirigiri Kyoko lahir, jadi tidak mengherankan jika dia, yang saat itu sudah meninggalkan rumah, tidak pernah bertemu Shinsen. Jadi, apakah dia menyelidiki Shinsen sendiri, atau—
“Ayo, pergilah.”
Dia mendesakku.
Aku menarik kembali tangan yang sudah terulur ke pintu.
“Bolehkah aku bertanya untuk terakhir kalinya?”
“Apa itu?”
“Anda bukan Shinsen Mikado, kan?”
Mustahil, pikirku, tapi—
Shinsen bisa melakukan apa saja. Lagipula, jika pria di kursi pengemudi ini benar-benar ayah Kirigiri Kyoko, bukankah kemunculannya di rumah itu, pada waktu itu, terlalu sempurna? Mungkinkah dia adalah Shinsen Mikado yang menyamar sebagai ayah Kirigiri Kyoko? Semua cerita yang ia sampaikan sejauh ini juga bisa diceritakan dari sudut pandang Shinsen. Mungkin ada kebohongan yang disisipkan.
Pria di kursi pengemudi itu mengangkat bahu sambil menatap lurus ke depan, seolah mencari kata-kata yang tepat.
“Maaf jika aku membuatmu salah paham,” katanya, menyunggingkan senyum pahit di bibirnya. “Siapa pun aku, aku akan membiarkanmu pulang sekarang. Apakah jawaban itu tidak cukup?”
“Apa yang Anda lakukan di rumah itu?”
“Aku tidak perlu menjawab.”
“Tidak. Jawablah. Tergantung pada jawaban Anda, aku akan menahan Anda di sini sekarang juga. Jika Anda Shinsen—ini adalah kesempatan untuk mengakhiri permainan ini.”
Aku mendorong kacamataku, bersiap siaga.
Meskipun begitu, aku tidak membawa senjata apa pun. Entah dia Shinsen atau ayah Kirigiri, jika dia menyerangku dengan serius, aku pasti akan dilumpuhkan dalam sekejap. Satu-satunya keuntunganku adalah fakta bahwa kami berada di jalan raya yang terlihat oleh banyak orang.
Pria di kursi pengemudi itu berpikir sejenak, menaruh kedua lengannya di atas kemudi, dan menatap jari-jari yang bertaut.
Akhirnya, dia menggelengkan kepalanya sedikit, seolah berkata, “Baiklah, baiklah.”
“Aku memang tidak punya tempat untuk kembali sejak awal, tapi sekarang aku bahkan tidak dijamin memiliki kebebasan untuk kembali. Pekerjaanku cukup ketat, kau tahu… setiap kali aku naik jabatan, latar belakangku akan diselidiki dengan lebih ketat. Meskipun tidak begitu, latar belakang keluargaku juga agak khusus, sehingga citraku tidak baik di mata dewan…”
Dia bergumam pada dirinya sendiri, sambil menyelinapkan tangan ke bagian dalam jasnya.
Aku menahan napas.
Apakah dia akan mengeluarkan senjata?
Tanganku tanpa sadar terulur ke tuas pintu.
“Mungkin kau bisa memahami situasinya dengan ini?”
Seketika, apa yang ia perlihatkan sekelebat di balik dadanya adalah—
Sebuah foto.
Di tengah foto itu, Kirigiri Kyoko tersenyum. Dia terlihat jauh lebih muda, dengan senyum polos yang murni, sedang diangkat di kedua sisi oleh seorang pria yang terlihat seperti ayahnya.
Aku belum pernah melihatnya memasang ekspresi sangat percaya kepada siapa pun seperti itu.
“Manisnya…”
Saat aku mencoba mengintip foto itu lebih dekat, dia segera menyembunyikannya.
“Mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Ke depannya, aku akan menuju ke tempat semacam itu. Jadi, aku hanya ingin mengambil kenang-kenangan sebelum itu—hanya itu saja.”
Dia berbicara sambil terus menatap lurus ke depan jalan, tidak berusaha menatap mataku.
Aku mencuri pandang ke binder yang terselip di saku samping pintu. Di sana tertera lambang sekolah Akademi Kibougamine. Sebuah akademi istimewa yang diakui pemerintah. Ayah Kirigiri Kyoko bekerja sebagai guru di sana. Sebagai sekolah yang melahirkan banyak tokoh penting, penanganan kerahasiaannya pasti sangat ketat.
Dia pun pasti memendam semacam tekad dan berjalan di jalannya sendiri. Aku tidak tahu apakah hal itu adalah sesuatu yang harus ia lakukan, bahkan harus berpisah dari keluarganya. Namun, setidaknya aku berhenti mencurigainya. Setelah ditunjukkan foto seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk keraguan.
“Maafkan aku karena sudah lancang menyelidiki Anda,” kataku sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
Setelah itu, aku membuka pintu dengan patuh dan keluar dari mobil.
Sebelum menutup pintu, aku berbicara ke dalam mobil.
“Um… aku tahu ini permintaan yang tidak masuk akal, tapi… bisakah Anda membantu kami? Jika Anda tidak membenci keluarga Kirigiri, dan tidak membenci dia…”
“Itu tidak mungkin,” dia menjawab tanpa ragu. “—Atau lebih tepatnya, aku tidak punya peran untuk ikut campur. Dia lebih unggul sebagai detektif.”
“Anda tidak menentang Kirigiri-chan untuk terus menjadi detektif?”
“Tentu saja,” dia menjawab, dan untuk pertama kalinya, ia menoleh ke arahku. “Dia punya bakat, dan dia punya tempat di keluarga Kirigiri. Itu sudah cukup baik. Sebaliknya, saat dia kehilangan tempatnya itulah, kekuatanku mungkin akan berguna.”
“Tapi… yang bisa menyelamatkan dia sekarang adalah…”
“Ada kau, bukan?” Dia tersenyum lembut. “Aku senang dia memiliki teman sepertimu. Tetaplah di sisinya mulai sekarang.”
Mendengar kata-kata itu, aku merasa terbalaskan.
Aku sering merasa muak dengan ketidakmampuanku dan merasa tidak berguna baginya.
Apakah orang sepertiku, boleh berada di sisinya?
Aku menundukkan kepala sekali lagi, berusaha menyembunyikan air mata yang hampir tumpah.
“Aku akan menangani masalah keluarga Uzuchi. Aku akan melaporkannya ke polisi, tapi jika Shinsen terlibat, kita tidak bisa berharap banyak dari penyelidikan yang layak. Lalu… maaf karena harus memperingatkanmu, tapi pertemuan kita harus dirahasiakan dari siapa pun. Termasuk dia. Mengerti?”
“Aku mengerti.”
Aku menutup pintu dan menjauh dari mobil.
Tanpa ucapan perpisahan atau isyarat apa pun, mobil itu kembali bergabung dengan iring-iringan kendaraan.
Mungkin aku tidak akan pernah bertemu pria itu lagi.
Itu adalah perpisahan yang memberikan kesan seperti itu.
Menurut cerita yang kudengar dari Kirigiri Kyoko, dia adalah pria yang payah, melarikan diri dari rumah dan menelantarkan satu-satunya putrinya. Namun, setelah bertemu langsung dengannya, kesan itu jauh berubah. Di balik ekspresi filosofis yang tampak serius dan berakal, tersirat sisi manusiawi yang lembut dan ramah. Memang, orang sepertinya mungkin tidak cocok menjadi detektif keluarga Kirigiri.
Mungkin karena ia lahir di dunia yang menuntut bakat namun tidak diakui dan 'kehilangan tempatnya,' Akademi Kibougamine menjadi tempat kerja yang patut ia abdikan seluruh hidupnya. Sebab, sekolah itu adalah institusi untuk mendidik anak-anak berbakat, sekaligus ‘tempat bernaung’ mereka—
Namun, terlepas dari alasan orang dewasa apa pun, sikapnya yang masih mencoba menjaga jarak dari Kirigiri Kyoko dalam situasi seperti ini memberiku rasa frustrasi yang mendidih. Apakah jurang di antara mereka sedalam itu? Atau, apakah ia sengaja tidak ikut campur karena menaruh kepercayaan mutlak pada Kirigiri Kyoko sebagai seorang detektif?
Sebanyak apa pun bakat yang ia miliki sebagai detektif, fisiknya masih belum matang, dan hatinya pun masih muda.
Akankah tiba hari di mana ia terbalaskan—ia yang berjuang sendirian melawan kutukan dan kebanggaan nama Kirigiri?
Bagian 2
“—Yui Onee-sama?”
Kirigiri menoleh dan menatapku.
Kami berada di kamar asrama.
Dia duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya dengan jari.
“Ah, ya?” Aku tersadar. “Ada apa, Kirigiri-chan?”
“Sisi yang satunya juga.”
Dia merengek, meminta agar rambutnya dikepang dua.
Aku mengepang rambutnya sesuai permintaannya.
“Yui onee-sama, matamu merah,” katanya, tanpa menoleh ke belakang. “Apa kau lelah?”
“Enggak, enggak, aku baik-baik saja.” Aku menyeka mataku dan mengepang rambut Kirigiri dengan hati-hati. “Lebih dari itu, Kirigiri-chan, apa kau sudah cukup istirahat?”
“Ya, cukup.”
Meskipun terlihat memaksakan diri, suaranya terdengar jauh lebih bersemangat.
Di punggungnya yang kecil itu, ia memikul kematian kerabatnya dan penyesalan para korban kejahatan. Bisakah aku sedikit saja menjadi kekuatannya?
“Omong-omong, Yui Onee-sama, kau pergi ke mana?”
“Ah… itu… aku sedang mencari informasi, mencari informasi!”
“Mencari apa?”
“Tentang Shinsen,” jawabku, mencoba mengelak. “Aku berpikir, karena dia pernah menjadi detektif kelas Triple-Zero, mungkin namanya pernah muncul di artikel kasus… Jadi, aku mencarinya di internet.”
“Hasilnya?”
“Ya… ada beberapa rumor tentang anggota pendiri Perpustakaan Detektif. Katanya ada detektif muda yang menyelesaikan kasus sejak usia sepuluh tahun di antara anggota itu… entah benar atau tidak… mungkin itu Shinsen…”
Aku mencari kata-kata, tergagap-gagap. Jika aku bicara lebih banyak, aku khawatir akan keceplosan tentang percakapan di mobil tadi.
“Tidak banyak membantu, ya,” kata Kirigiri, mengernyitkan dahi sambil melirik ke arahku.
Tingkahnya itu sangat mirip dengan pria tadi.
“Maaf…” Aku selesai mengepang dan mengikat rambutnya dengan pita. “Sudah selesai.”
“Terima kasih,” ujar Kirigiri, menyentuh rambutnya dengan gembira.
“Sama-sama, Nona. Jadi, kita mau bagaimana sekarang? Kita punya sedikit waktu luang, tapi kita tidak bisa bersantai. Kita masih punya lima surat tantangan lagi.”
Dua puluh empat jam telah berlalu sejak 'Tantangan Hitam: Duel Noir' kali ini dimulai.
Sisa waktu: 144 jam.
'Tantangan Hitam' adalah permainan kriminal yang dilancarkan oleh Komite Penyelamat Korban Kejahatan. Pelaku kriminal menggunakan trik yang disediakan oleh Komite untuk membunuh semua target dalam batas waktu 168 jam, dan jika mereka tidak terungkap oleh detektif, mereka menang. Sebaliknya, kami para detektif menang jika berhasil mengungkap pelakunya.
Surat tantangan kali ini diberikan langsung kepadaku oleh Ryuuzouji Gekka, seorang detektif kelas Triple-Zero dan juga eksekutif Komite Penyelamat Korban Kejahatan.
Total ada dua belas surat tantangan.
Ini mungkin adalah selera khas Ryuuzouji, yang dijuluki jenius Paralel Thinking & Multi-Task.
Jika kami berhasil menyelesaikan semuanya dalam batas waktu, Ryuuzouji Gekka akan mengakui kekalahannya dan keluar dari Komite Penyelamat Korban Kejahatan. Meskipun aku tidak akan mendapat penalti jika gagal, nyawa banyak orang dipertaruhkan, jadi aku tidak bisa lengah.
Aku tidak mengerti mengapa Ryuuzouji Gekka, yang dihormati oleh banyak detektif dan polisi, memilih aku sebagai lawan tantangannya. Mungkin untuk memancing Kirigiri Kyoko yang sedang bersembunyi, atau untuk mengungkap identitas Triple-Zero lainnya, Mikagami Rei. Mungkin juga ada alasan lain. Aku yakin jawabannya tidak tunggal, melainkan tumpang tindih, berpotongan, dan berjalan paralel. Itulah cara Ryuuzouji Gekka.
Untungnya, satu kasus berhasil kami pecahkan kemarin berkat bantuan Kirigiri. Secara bersamaan, Licorne, alias Mikagami Rei, yang menjadi rekan kerja kami, dengan cepat menyelesaikan lima kasus sekaligus.
Dengan demikian, setengah dari dua belas kasus telah diselesaikan.
Sisa enam.
Lima di antaranya menjadi tanggung jawabku dan Kirigiri, dan satu sisanya sudah sedang diinvestigasi oleh Lico.
Aku menyusun kelima surat tantangan yang belum terpecahkan.
“Kalau dilihat begini, kasus-kasus dengan biaya di bawah 100 juta yen jadi terlihat lucu, ya. Padahal pasti tidak mudah juga.”
Semakin tinggi biaya yang tercantum pada surat tantangan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan kasusnya.
Kasus yang terselesaikan kemarin memiliki biaya 151 juta yen. Sejujurnya, itu bukan level yang bisa kuselesaikan sendirian. Namun, Kirigiri berhasil menyelesaikannya hanya dalam semalam. Pada akhirnya, aku tetap harus mengandalkan otak Kirigiri.
“Sejauh yang kupikirkan, Ryuuzouji-san jelas salah menilai kemampuanku.”
“Begitukah?” kata Kirigiri acuh tak acuh.
“Bagaimana tidak? Hampir semua kasus yang terselesaikan itu berkat Kirigiri-chan… Sejak awal, detektif kelas Triple-Zero dan aku, tidak bisa dibandingkan.”
'Tantangan Hitam' kali ini memiliki nuansa kuat sebagai perang proksi yang dilakukan oleh detektif kelas Triple-Zero. Seolah-olah para pelaku kejahatan di setiap kasus, bahkan aku yang berperan sebagai detektif, hanyalah warga sipil yang terseret dan dimanfaatkan dalam perang ini.
“Itu tidak benar. Aku ikut berjuang karena Onee-sama tidak menyerah untuk bertarung. Jika Ryuuzouji Gekka menghormati Yui Onee-sama, aku rasa itu karena hal seperti itu.”
—Saat ini, bahkan untuk melarikan diri pun butuh keberanian.
Kata-kata itu kutelan kembali.
Aku tidak boleh terus-menerus mengeluh. Kirigiri berada dalam kesulitan yang jauh lebih besar daripada aku. Aku harus berjuang demi dia. Melindungi dia dari orang-orang yang mencoba menyakitinya. Itu pasti sesuatu yang bisa kulakukan.
“Kau benar, mari kita terus melangkah maju, sedikit demi sedikit.”
“Itu baru Yui Onee-sama.”
“Nah, surat tantangan mana yang akan kita ambil selanjutnya?”
Aku mengambil kelima surat tantangan yang belum terpecahkan, membandingkannya.
Haruskah kami mulai dengan kasus berbiaya rendah, atau kasus yang lokasinya lebih dekat—
“Sebelum itu, ada tempat yang harus kita datangi.”
“Eh? Ke mana?”
Aku tidak bisa memikirkan tempat yang dimaksud.
Kirigiri berdiri dan meraih gagang pintu kamar.
Dia mengenakan seragam sekolahnya seperti biasa. Dia sudah siap sepenuhnya.
“Tunggu, tunggu!” Aku buru-buru menyandang ranselku. “Kita mau ke mana? Hei?”
Kami keluar dari asrama dan mencegat taksi di depan sekolah.
Atas desakan Kirigiri, aku naik ke kursi belakang.
“Ke Stasiun Mayura,” kata Kirigiri kepada pengemudi.
Stasiun Mayura. Itu adalah lokasi perebutan Mikagami Rei yang terjadi kemarin sore. Beberapa orang tewas di sana. Investigasi di TKP pasti masih berlangsung. Kalau bisa, aku tidak mau mendekatinya. Untuk apa kami pergi ke tempat seperti itu?
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi aku tetap diam sampai kami tiba di stasiun. Jika Kirigiri bersikeras pergi meskipun waktunya sempit, pasti ada artinya.
Kami turun dari taksi di stasiun.
Tempat itu masih ramai seperti biasa. Pasangan muda yang tampak sedang berkencan belanja dan para karyawan bersetelan jas berlalu lalang dengan tergesa-gesa. Peristiwa mengerikan yang terjadi di department store stasiun seolah sudah bertahun-tahun berlalu. Sepertinya tidak ada petugas investigasi kasus yang terlihat. Aku menarik napas lega.
Kirigiri menarik tanganku dan menuntunku ke tempat yang kukenal.
Monumen berbentuk salju mulai terlihat.
Itu adalah tempat yang sering digunakan untuk bertemu. Beberapa orang berdiri melamun di tengah angin dingin, dan yang lain tampak berbicara di ponsel.
Di antara mereka, ada seseorang yang kukenal.
Dia adalah pria dengan gaya rambut regent dan kemeja Aloha, jongkok di depan monumen. Mungkin karena auranya yang unik, kerumunan orang membentuk lingkaran untuk menghindarinya.
“Oi! Detektif cilik!”
Saat melihat kami, dia berdiri dan melambaikan tangan sambil berteriak lantang.
Hajiki Yaki DSC NOMOR '666'
Perhatian orang-orang di sekitar pun tertuju pada kami.
“T-tunggu sebentar… ada apa ini? Kenapa kamu ada di sini?”
“Ada apa apanya? Kalian yang memanggilku, kan? Kalian butuh bantuan, bukan?” Yaki menyeringai dan menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. “Kalau gitu, serahkan saja padaku!”
Dia adalah salah satu detektif yang dikumpulkan di lokasi kasus 'Rumah Hantu Takeda', salah satu dari dua belas ‘Tantangan Hitam’. Dia terlibat dalam kasus itu, baik sebagai salah satu saksi maupun sebagai salah satu tersangka.
“Aku yang memanggilnya,”
Kirigiri mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan mengembalikannya kepadaku. Itu adalah ponsel pinjaman dari Ryuuzouji Gekka. Rupanya, dia menggunakannya untuk menghubungi Yaki. Sejak kapan dia tahu nomornya?
“Kalian sedang kesulitan karena diincar oleh orang-orang jahat, ya? Tenang aja, karena aku udah datang, kalian nggak perlu khawatir lagi. Preman mana yang kalian hadapi?”
“Kami memang sedang kesulitan, tapi…”
“Satu kolaborator tambahan lebih baik,” kata Kirigiri dengan ekspresi dinginnya yang biasa, sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. “Kami sangat mengandalkan Lico untuk informasi di luar jangkauan kami. Untuk mengatasinya, kami butuh lebih banyak tenaga. Bukan berarti aku tidak memercayainya, lho. Aku juga sudah menghubungi Mizuiyama-san dan Yadorigi-san.”
“Oh, benar! Jika mereka adalah orang-orang yang terseret sebagai tersangka di kasus sebelumnya, kita tidak perlu curiga bahwa mereka adalah anggota Komite Penyelamat Korban Kejahatan, ya!”
“Ini masih lebih baik daripada memilih detektif asing yang tidak kita kenal di Perpustakaan Detektif.”
“Tapi…” Aku berbisik pelan ke telinga Kirigiri. “Dia bukan Shinsen, kan?”
“Oi, oi, kalian, kenapa kalian berbisik-bisik?” Yaki, tampak curiga, menyela di antara kami. “Apa maksudmu aku bukan 'segar' (shinsen)? Kelihatannya begini-begini, aku masih dua puluh delapan tahun, tahu? Levelku masih bisa pacaran sama anak SMA tanpa terlihat janggal!”
Aku hanya mengabaikan kata-katanya sambil menyipitkan mata, mengamati Yaki. Sepertinya dia tidak memakai topeng penyamaran. Postur tubuhnya juga tampak wajar. Shinsen Mikado yang kukenal terlihat sedikit lebih atletis secara keseluruhan.
“—Jadi, apa yang harus kulakukan?”
“Kita bicarakan itu setelah semua orang berkumpul.”
“Sudah melewati waktu janji, tahu.”
“Kita tunggu sepuluh menit lagi. Jika tidak ada yang datang, kita pergi.”
Kirigiri memunggungi monumen, berdiri mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Aku meniru dia dan berdiri di sampingnya. Yaki berjongkok di tempatnya, mulai mempermainkan rokok yang belum dinyalakan di bibirnya.
Bahkan hanya dalam sepuluh menit, orang-orang yang bertemu di sekitar kami silih berganti. Rasanya seolah hanya aku dan Kirigiri yang tertinggal dari aliran waktu. Alangkah indahnya jika itu benar—
Pada akhirnya, setelah sepuluh menit berlalu, tidak ada lagi yang datang.
“Mungkin mereka takut?” Yaki berdiri sambil memutar-mutar rokoknya dengan jari-jari yang cekatan. “Yah, serahkan saja padaku. Jangan khawatir, aku akan membereskannya sendirian.”
“Kirigiri-chan, bagaimana?”
“Sejak awal aku tidak berharap semua orang akan datang. Tentu saja, mereka pasti waspada setelah kejadian kemarin. Kita tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Ayo pergi.”
“Kita cari cafe saja dulu. Brrr, dingin sekali, dingin!” kata Yaki sambil membungkukkan punggungnya. Aku ingin mengomentari pakaiannya, yang harusnya ia ubah, tapi aku menahannya.
Kami berjalan menuju gedung stasiun.
Saat itu, klakson mobil terdengar dari belakang. Ketika kami menoleh, sebuah mobil mewah berwarna abu-abu berhenti di jalan di seberang monumen.
Jendela kursi pengemudi diturunkan, dan wajah yang kukenal muncul di sana.
Seorang pria bersetelan jas dengan wajah blasteran Eropa dan kacamata hitam pekat. Itu, jika aku tidak salah…
Salvador Yadogi Fukuro DSC NOMOR '752'
“Maaf membuat kalian menunggu. Jalannya agak macet.”
Ketika kami mendekat, dia sedikit menundukkan kepalanya dari kursi kemudi kiri. Ada sedikit aksen asing dalam ucapannya, meskipun Bahasa Jepangnya lancar.
“Cih, buat apa janjian di stasiun kalau datangnya pakai mobil? Meremehkan, ya!”
Yaki maju mendekat sambil melotot.
Namun, Yadorigi hanya memiringkan kepala sedikit dengan senyum tenang, mengabaikan Yaki.
“Kalian mau menuju ke mana? Kalau boleh, biar aku antarkan.”
“Ke mana pun asal kita bisa bicara rahasia,” kata Kirigiri sambil menyingkirkan rambut yang jatuh ke pipinya.
“Kalau begitu, mari kita bicara di mobil saja. Sambil drive. Silakan, naiklah.”
Kirigiri tanpa ragu membuka pintu kursi belakang dan masuk. Aku pun hendak ikut masuk.
“Tunggu sebentar!”
Suara seorang wanita dari jalanan menghentikanku.
Seorang wanita mungil berkebaya datang, menerobos kerumunan. Dia memiliki gaya rambut bob seperti boneka Jepang dan memakai kacamata. Anehnya, di tangan kanannya ada teropong.
“Aku juga akan bergabung”
Mizuiyama Sachi DSC NOMOR '527'
“Kamu datang!”
Aku senang dan menyambutnya dengan senyum. Dia juga salah satu detektif yang kami kenal dari kasus Rumah Hantu Takeda. Dengan begini, semua orang sudah berkumpul.
Namun, ekspresi Mizuiyama sama sekali tidak tenang. Malah, dia terlihat marah.
“Terima kasih untuk semalam,” katanya dengan nada sinis sambil menundukkan kepala. “Meskipun aku segera dibebaskan setelah mendapat penjelasan dari detektif kepolisian, aku tidak akan pernah melupakan penghinaan karena diperlakukan sebagai pelaku. Meskipun demi menangkap pelaku sebenarnya, menunjuk aku seperti itu…”
Di kasus sebelumnya, dia dijebak menjadi pelaku oleh rencana pelaku yang sebenarnya. Kirigiri berani mengambil risiko dengan memanfaatkan rencana itu dan menunjuk Mizuiyama sebagai pelakunya. Pasti ia merasa hidupnya di ujung tanduk.
“Tenanglah, jangan marah begitu. Kalau bukan karena Kirigiri-san, mungkin kamu benar-benar sudah ditangkap sebagai pelaku, lho,” kata Yadorigi sambil tersenyum menenangkan. “Lagipula, wajah cantikmu jadi rusak kalau terus-terusan memasang muka seram begitu. Silakan, kursi penumpang depan kosong. Naiklah.”
“Aku hanya akan mendengarkan pembicaraan.” kata Mizuiyama, wajahnya memerah, dan dengan patuh naik ke kursi penumpang depan. Anehnya, dia melepas zori (sandal tradisional) dan duduk berlutut (seiza) di kursi.
Aku dan Yaki pun ikut masuk.
Mobil mulai bergerak.
Dengan lima detektif di dalamnya, mobil itu bergabung ke dalam iring-iringan di jalan utama.
“Sialan, kirain cuma aku yang datang. Kalian itu udah dewasa, harusnya kalian menepati waktu berkumpul, dong!”
Yaki berkata, menjulurkan tubuhnya dari kursi belakang.
“Aku sudah berada di sini jauh sebelum kau datang.”
“Hah?”
“Aku bersembunyi sambil mengamati situasi” kata Mizuiyama sambil menunjukkan teropongnya. “Aku sudah muak terlibat dalam kasus tanpa tahu apa-apa, apalagi dipanggil secara sepihak.”
“Dasar orang yang penuh curigaan.” komentar Yaki.
“Justru, setelah kejadian semalam, bagaimana kalian bisa menunjukkan diri tanpa rasa waspada? Seandainya hanya kau yang datang, aku tadinya berencana langsung pulang. Tapi karena Yadorigi-san juga ada…”
Mungkin memiliki detektif dengan tingkat kewaspadaan setinggi itu justru bisa menenangkan.
Mobil itu memasuki jalanan yang terlihat deretan pohon di taman.
“Sebaiknya kita putar musik saja dulu,” ujar Yadorigi.
Yadorigi menyalakan car stereo. Terdengar alunan musik klasik yang familier.
“Oh, itu Stravinsky, ya” Mizuiyama bereaksi.
“Kamu tahu?”
“Ya, aku sangat suka lagu itu.”
“Aku juga sangat menyukai balet awalnya. Jika aku tidak menjadi detektif, aku mungkin akan menjadi penari balet. Sebagai detektif, spesialisasiku memang seni lukis, tapi aku sama sekali tidak punya bakat melukis.”
Yadorigi berkata sambil tersenyum ramah, sambil mendorong kacamata hitamnya. Memang, dia terlalu ramping dan berpostur seperti model dengan tangan dan kaki yang panjang—terlalu berharga untuk hanya menjadi seorang detektif. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya menjadi detektif, tapi dia mendapatkan peringkat '2' di DSC, yang berarti dia adalah orang yang sangat kompeten.
“Mizuiyama-san, spesialisasimu adalah arsitektur, benar?” tanya Yadorigi.
“Ya. Profesi utamaku adalah arsitek kelas satu. Awalnya aku mulai menjadi detektif karena kebetulan, tapi sekarang permintaan untuk itu menjadi lebih banyak.”
“Tak berlebihan jika dikatakan bahwa arsitektur dan kejahatan memiliki hubungan yang erat, ya. Ngomong-ngomong, aku dengar ada bangunan menarik di arah laut dari sini. Mau kita kunjungi sekarang?”
“Oh, kalau begitu, lain kali saja, berdua…”
“Oi, oi!” Yaki menyela pembicaraan mereka. “Jangan menciptakan suasana seperti kencan buta hanya berdua, dong!”
“Apakah Yaki-san mau ikut?” Yadorigi melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. “Tolong ajari aku tentang judi demi ilmu pengetahuan. Itu spesialisasimu, kan?”
“Kau tertarik sama judi? Jangan coba-coba deh, orang seenaknya sepertimu cuma bakal jadi korban dan akhirnya menangis.”
“Benarkah begitu?”
“Jelas! Apa kau meremehkan dunia judi? Entah kau itu anak yang tumbuh besar di rumah kaca, main balet atau basket, kau nggak bakal mengerti. Sensasi berjalan di atas tali tipis, di mana satu langkah selanjutnya bisa membakar habis nyawamu. Lagian, judi itu…”
Pada akhirnya, Yaki pun tanpa sadar terseret ke dalam tempo bicara Yadorigi.
“Um… boleh aku melanjutkan pembicaraan?” Aku akhirnya angkat bicara. “Kirigiri-chan, bisakah kau jelaskan sekarang?”
Kirigiri mengangguk, lalu mulai menjelaskan alasan dia mengumpulkan para detektif.
Dia berbicara tentang Komite Penyelamat Korban Kejahatan, dua belas ‘Tantangan Hitam’ dari Ryuuzouji Gekka, dan perlunya kolaborator untuk menyelesaikan lima kasus tersisa dalam batas waktu yang sempit.
“—Jadi, begitulah. Kami mohon bantuan kalian,” kataku sambil menundukkan kepala.
Musik klasik yang mengalun dari stereo kini mencapai klimaksnya. Sejalan dengan itu, suasana di dalam mobil pun semakin tegang.
“Organisasi kriminal Komite apalah-itu, gawat juga ya… Ini udah beda kelas sama preman jalanan. Dan seriusan, Ryuuzouji Gekka itu petinggi organisasi?” kata Yaki, wajahnya menegang. “Tapi bukannya kalian kemarin beraksi sebagai penyidik yang dikirim oleh Ryuuzouji?”
“Sepertinya Ryuuzouji-san punya koneksi di kepolisian… Dia yang mengatur agar penyelidikan kami berjalan lancar,” jawabku.
“Itu namanya 'mengirim garam kepada musuh,' kan?”
“Mereka menyebutnya 'adil', sepertinya.”
“Apanya yang adil? Itu sama sekali enggak fair!”
“Tapi… kalau dia mempersulit lebih dari ini, kasus yang bisa dipecahkan pun tidak akan terpecahkan, lho.”
“Bukan itu maksudku. Permainan ini terlalu merugikan si pelaku, tahu enggak.”
“Eh…”
Aku tidak pernah memikirkannya.
“Pihak detektif boleh memanggil rekan sebanyak apa pun, kan? Dan peringkatnya tanpa batas. Bahkan kalau kasus yang dipilih pelaku peringkatnya rendah, detektif dengan peringkat nol pun bisa datang. Kalau pihak detektif bergerak secara terorganisir, 'Tantangan Hitam' ini bahkan tidak akan jadi pertandingan. Ini one-side game.”
“Tapi… sepertinya pelaku bisa memilih tempat kejadian dan trik yang digunakan sendiri. Jadi, kurasa mereka bisa mengatur agar detektif tidak bisa merespons secara terorganisir. Kalau aku jadi pelakunya, aku akan melakukan itu.”
Inilah alasan mengapa tempat kejadian seperti 'Observatorium Sirius' dan 'Hotel Norman's' dipilih sebagai lingkaran tertutup. Situasi yang ideal adalah ketika bahkan polisi pun tidak bisa ikut campur, apalagi detektif.
“Biasanya mungkin begitu. Tapi bagaimana dengan para pelaku di dua belas surat tantangan yang disiapkan Ryuuzouji kali ini? Ryuuzouji pasti sudah mengantisipasi pergerakan banyak detektif. Dia juga sudah memperhitungkan kemungkinan detektif Triple-Zero lainnya ikut campur, kan?”
Dipikir-pikir, memang benar—terutama para pelaku yang tertangkap Lico sebelum sempat melancarkan kejahatan. Mereka berniat berhadapan dengan detektif peringkat '7', tapi justru ditangkap oleh Number '000' terkuat yang muncul entah dari mana.
“Menurutku, ini tidak unfair sama sekali.”
Ujar Yadorigi.
Dia merapikan letak kacamata hitamnya, dengan ekspresi tetap tenang.
“Pelaku ‘Tantangan Hitam’ adalah para kriminal yang menyimpang dari jalan yang benar demi membalas dendam, kan? Mereka sudah keluar dari aturan masyarakat manusia, jadi mempertanyakan keadilannya tentu saja tidak relevan.”
“Aku setuju dengan pendapatmu bahwa nggak ada gunanya bersimpati pada orang yang masuk ke kasino ilegal lalu ribut soal kecurangan… tapi karena ada aturan di balik layar, baru sebuah permainan bisa berjalan, dong. Kenapa ada sampai dua belas penantang di game yang sebegitu merugikannya ini? Bagian itu yang aku tak mengerti…”
“Lagipula, benarkah ada yang namanya ‘Tantangan Hitam’?” tanya Mizuiyama. “Aku masih tidak percaya kalau 'Count Armchair' itu adalah seorang kriminal.”
“Kasus kemarin juga merupakan salah satu dari ‘Tantangan Hitam’. Sebagai pihak yang terlibat, Kamu pasti tahu keanehan kasus itu.” Aku mengeluarkan surat tantangan dari ranselku. “Ini surat tantangannya. Pelaku melakukan pembunuhan persis seperti yang tertulis di sini. Kurasa menjadikan Mizuiyama-san sebagai pelaku juga sudah sesuai rencana.”
“Melihat hal seperti ini saja tidak bisa menjadi dasar penilaian apa pun,” jawab Mizuiyama.
Dia memang sangat berhati-hati.
Jika aku berada di posisinya, aku mungkin akan setengah percaya, setengah tidak. Faktanya, sampai sekarang pun aku masih merasa mengambang dalam perasaan yang tidak nyata, seolah sedang mengalami mimpi buruk yang konyol. Tanpa Kirigiri Kyoko sebagai penunjuk jalan, aku bahkan tidak akan bisa berjalan lurus.
Lawan yang kami hadapi bukanlah orang biasa. Seharusnya, mereka adalah orang yang patut dihormati. Itulah mengapa akan sulit untuk meyakinkan Mizuiyama dan yang lainnya.
“Kirigiri-chan, sebaiknya kita batalkan saja,” kataku sambil mencengkeram lengannya. “Mari kita lakukan apa yang kita bisa sendirian. Waktu sangat berharga.”
“Oi, oi, aku enggak bilang enggak mau kerja sama, kok. Hanya saja, dibilang soal Ryuuzouji dan Komite, aku enggak bisa langsung terima begitu aja…” kata Yaki sambil merapikan rambut regent-nya.
“Aku menolak untuk bekerja sama,” kata Mizuiyama dengan tegas. “Terlepas dari keberadaan organisasi kriminal, kasus pembunuhan bukan spesialisasiku.”
Wajar jika aku ditolak.
Aku sudah siap menghadapi pertempuran ini sendirian.
“Um… Tuan Yadorigi, maukah kamu membantu kami?”
Aku bertanya dengan ragu-ragu kepada kursi pengemudi.
“Sebelum menjawabnya—ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada Kirigiri-san dan kalian semua.”
Yadorigi mengangkat wajahnya, seolah mengintip melalui kaca spion. Karena dia memakai kacamata hitam, aku tidak tahu ke mana tatapannya tertuju.
“Apa?”
“Apakah kalian tahu detektif bernama Uozumi Taehime?”
“—Eh.”
Aku tanpa sadar berseru.
Uozumi Taehime adalah detektif yang tewas dalam insiden 'Hotel Norman'. Aku tidak menyangka akan mendengar namanya di tempat seperti ini.
“Rupanya kalian mengenalnya,” Yadorigi melanjutkan tanpa mengubah ekspresi tenangnya. “Kalau tidak keberatan, tolong ceritakan apa yang terjadi padanya.”
Kirigiri dengan tenang menceritakan tragedi yang menimpa Uozumi.
Selama mendengarkan cerita itu, Yadorigi terus mengemudi tanpa terlihat gusar sedikit pun. Satu-satunya perubahan adalah mobil yang berhenti karena lampu merah membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari biasanya untuk kembali melaju.
“Baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku.” kata Yadorigi singkat setelah selesai mendengarkan.
“Um… apa kamu mengenal Uozumi-san?” tanyaku.
“Aku serahkan pada imajinasimu,” Yadorigi tersenyum ramah melalui spion. “Bagaimanapun, aku telah memutuskan untuk bekerja sama sepenuhnya dengan Kirigiri-san dan kalian semua. Siapa pun lawannya.”
“Eh, benarkah? Ah, terima kasih banyak!”
Aku tidak tahu apa alasannya, tapi bertambahnya anggota tim adalah hal yang baik. Yadorigi memiliki peringkat detektif yang tinggi, dan yang terpenting, dia mudah didekati. Meskipun banyak detektif adalah orang aneh, dia mungkin bisa disebut oasis di antara mereka.
“Dasar orang aneh yang seenaknya sendiri, serius deh,” kata Yaki dengan nada tercengang. “Bisakah kau jelasin juga pada kami yang ditinggal dalam kebingungan ini?”
“Pertama, benar bahwa Ryuuzouji Gekka adalah eksekutif dari organisasi yang disebut Komite Penyelamat Korban Kejahatan. Dan benar juga bahwa organisasi tersebut sedang mengadakan permainan dengan menunjuk orang-orang yang menyimpan dendam sebagai penantang.”
“Hah? Dari mana kau tahu hal seperti itu?”
“Dan benar bahwa Kirigiri-san dan yang lain sedang berperang melawan Komite.”
“Makanya, kenapa kau bisa bilang gitu!”
“Ada beberapa hal yang menggangguku di kasus kemarin, jadi sebenarnya, pagi ini aku mengunjungi pelaku kasus Rumah Hantu Takeda.”
“A-apa?”
“Aku mendengar langsung penjelasannya dari pelaku. Di sana dia juga memberitahuku tentang Komite dan aturan permainannya. Penjelasan itu tidak bertentangan dengan apa yang baru saja aku dengar dari Kirigiri-san dan yang lain.”
“Hah? Kenapa kau nggak bilang dari awal sih, sialan!”
Yaki membungkuk dari kursi belakang dan berteriak.
Tepat sekali! Apakah dia sengaja menyembunyikan kartu di tangannya dan mencoba melihat respons kami?
“Bagaimana kamu bisa mengunjunginya?” ujar Mizuiyama tampak terkejut.
“Aku berhasil mendapatkan izin dengan ditemani pengacara. Aku baru saja mengetahui keberadaan organisasi kriminal misterius ini karena suatu hal, dan aku diam-diam menyelidikinya. Aku menyadari bahwa kasus kemarin mungkin terkait dengan itu, jadi aku memutuskan untuk menemui pelakunya. Ternyata, dugaanku benar.”
“‘Tantangan Hitam’ benar-benar ada, ya…” kata Mizuiyama, tenggelam lebih dalam ke kursinya.
“Tapi, bukankah pelaku kemarin kalah dalam permainan? Bukannya dia akan dibunuh kalau kalah?”
“Tepatnya, jika dia tidak bisa membayar biaya yang dia pinjam dari Komite,” jawabku atas pertanyaan Yagidan, meskipun tiba-tiba aku merasa ragu. “Yadorigi-san, apakah dia baik-baik saja? Biasanya, dia seharusnya sudah dilenyapkan oleh Komite.”
“Untuk kasus kali ini, sepertinya Ryuuzouji Gekka menanggung semua biaya untuk kedua belas kasus secara khusus. Setelah ditangkap, utusan dari Komite datang dan memberitahu hal itu. Artinya, biayanya sudah terbayar. Meskipun kalah, Komite tidak akan menagihnya. Jadi, mereka tidak akan dilenyapkan. Tentu saja, mereka tetap akan menerima hukuman hukum jika tertangkap.”
“Gitu, ya… Jadi, itu cara mereka untuk meniadakan kerugian dari tantangan. Kalau gitu, ceritanya beda. Aku bisa menghancurkan para pelaku tanpa ragu.”
Yaki berkata sambil melipat tangan. Rupanya, dia pun menganggap hal itu 'adil' dengan caranya sendiri.
“Bukankah itu tidak bisa disebut 'adil' jika penantang sendiri tidak mengetahui fakta itu?” sela Mizuiyama.
“Tidak, kalau mereka tahu, justru itu tidak akan jadi permainan. Mereka bisa bebas memilih dan mengeluarkan biaya, dan kasusnya akan jadi mengerikan. Penyesuaian biaya juga pasti menjadi inti dari permainan ini.”
“…Mungkin memang begitu, tapi aku khawatir kau malah berpikir seperti bandar judi.”
“Kalau sudah lama berkecimpung di dunia judi, ya begini jadinya” Yaki berkata sambil tersenyum kecut.
Meskipun begitu, aku tidak menyangka Ryuuzouji akan menanggung biaya para pelaku.
Para pelaku yang tertangkap Lico dalam upaya yang gagal sepertinya ditahan di 'benteng' Ryuuzouji. Mungkin itu juga merupakan pertimbangan dari Ryuuzouji. Mereka akan ditahan sebagai bentuk 'pengunduran diri' sampai permainan berakhir. Tentu saja, Lico juga bertindak dengan memahami hal itu.
“Jika pembicaraan sudah selesai, mari kita lanjutkan ke langkah berikutnya, oke? Jika kalian tidak ingin berpartisipasi dalam penyelidikan, mari kita berpisah di sini.”
Kirigiri berkata dengan nada dingin.
“Bagaimana dengan Mizuiyama?” tanya Yaki.
Mizuiyama mengerang sejenak dengan wajah bingung, lalu membuka mulutnya dengan berat.
“Aku menarik kembali pernyataanku sebelumnya. Aku bersedia bekerja sama. Secara pribadi, aku juga ingin membersihkan nama dari aib yang hampir membuatku menjadi pelaku. Meskipun aku tidak yakin apakah kekuatanku bisa berguna.”
“Terima kasih banyak,” kataku sambil menundukkan kepala. “Satu kawan saja sudah sangat membantu.”
Dengan demikian, mobil yang membawa para detektif yang tadinya terpisah ini melaju bersama dalam angin dingin, bersatu.
Aku merasakan kepercayaan diri yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Jika kami bekerja sama, pasti tidak ada yang tidak bisa kami lakukan.
Kami akan berjuang dan menyelesaikan kasus ini lagi!
“—Baiklah, aku akan jelaskan.”
Kirigiri melanjutkan pembicaraan dengan nada bisnis.
Dia memang sangat tenang. Perbedaan suhu emosi antara aku dan dia sangat jelas.
“Dari 6 kasus yang tersisa, satu sudah ditangani detektif lain, jadi kita sisihkan. Sisanya ada lima kasus. Kebetulan di sini ada lima orang, jadi aku ingin membagi tugas satu kasus per orang. Apakah kalian setuju?”
“Membagi tugas sih, boleh aja. Tapi sebelum itu, tentuin pemimpin tim dulu, dong?” kata Yaki. “Nama tim biar aku yang pikirin.”
“Bagaimana kalau ‘Tim Phoenix’?” Yadorigi ikut bicara. “Kebetulan musik Stravinsky ‘Burung Phoenix’ sedang diputar…”
“Hei, aku bilang nama tim biar aku yang putuskan!”
“Tolong pilih nama yang lebih manis. Kalau bisa bernuansa Jepang,” sela Mizuiyama.
“Oi, aku bilang tentuin pemimpinnya dulu! Enggak ada yang mau mengajukan diri, ya? Baiklah, terpaksa, aku saja yang jadi pemimpin?”
“Baiklah,” kata Kirigiri. “Mari kita lanjutkan. Setelah pembagian kasus diputuskan, kalian akan pergi ke lokasi untuk investigasi. Tujuannya adalah pengumpulan informasi. Namun, sangat dilarang untuk terlibat terlalu dalam. Yang kita butuhkan adalah informasi akurat, bukan prestasi.”
“Maksudmu jangan menangkap pelakunya?”
“Ya, bisa dibilang begitu. Dalam ‘Tantangan Hitam,’ orang yang tidak bersalah pun bisa terbunuh. Karena itu, aku ingin kalian berhati-hati sepenuhnya.”
“Oi, kalian semua, dengar! Berhati-hatilah sepenuhnya!” Yaki mengulanginya lagi dengan sengaja.
“Berhati-hatilah terutama jika kasus belum terjadi. Tujuan utama pelaku adalah melaksanakan pembunuhan sesuai rencana. Jika rencana mereka terganggu, mereka mungkin akan menyerang tanpa pandang bulu. Lawan kita bisa melakukan kejahatan sebanyak apa pun selama durasi ‘Tantangan Hitam,’ dan semuanya akan dianggap tidak pernah terjadi asalkan mereka berhasil menyelesaikan permainan.”
“Meskipun kita tahu rencana kejahatan sebelumnya, apakah kau menyuruh kami untuk berpura-pura tidak melihat?” tanya Yadorigi.
“Ya. Dalam kasus itu, panggil Yui Onee-sama.”
“A-aku?”
“Yui Onee-sama, sebagai detektif utama, tidak akan diserang oleh pelaku. Dia adalah sekutu paling kuat yang kita miliki di sini.”
“Itu hanya berdasarkan aturannya saja,” kataku, sedikit mencibir pada diri sendiri.
“Selain itu, terlepas dari hasil penyelidikan, kalian harus menghubungi Yui onee-sama setiap hari pada pukul dua belas siang. Gunakan saja nomor ponsel Ryuuzouji Gekka. Mungkin disadap, tapi jangan dipedulikan.”
“Kalau semua menghubungi barengan, nanti malah sibuk. Begini aja, aku pukul dua belas siang, si Seenaknya Sendiri lima belas menit setelahnya, Mizuiyama lima belas menit setelah itu, dan si Detektif Cilik lima belas menit setelahnya. Sepakat?”
Masing-masing mengangguk.
“Baik, kalau begitu kita tentukan pembagian tugas.”
“Ayo, tentukan pembagiannya, bre!”
“Aku akan menangani kasus dengan biaya tertinggi” kata Kirigiri, mengambil surat tantangan ‘Lembaga Pengembangan Kemampuan Anak Kembar’. Dia tampaknya berniat menantang kasus ultimate closed-room. Memang Kirigiri-chan sekali!
“Kalau begitu, aku akan ambil kasus yang paling jauh,” ujar Yadorigi. “Aku percaya diri dengan mobilitasku. Karena pekerjaanku, aku sering berkeliling dunia, tidak hanya di dalam negeri.”
“Padahal tadi datangnya telat”
Lokasi terjauh dari sini adalah ‘Akademi Karihobana’. Namun, sekolah bernama ‘Akademi Karihobana’ itu konon tidak ada. Hanya ada rumor bahwa sebuah sekolah tua yang terbengkalai dan menjadi tempat seram disebut seperti itu.
Tugas Yadorigi diputuskan: ‘Akademi Kareobana’.
“Sisa tiga, bagaimana?” Yaki mengibaskan surat tantangan yang tersisa.
“Kau sebaiknya ambil yang biayanya tinggi saja, kan?” Yaki ikut berkomentar. “Dalam hal melawan Komite, kalian lebih berpengalaman, kan?”
“Eh, tapi…” Aku ragu. “Aku harus menyelidiki sendirian?”
Mampukah aku berjuang tanpa Kirigiri?
—Tidak, aku harus berjuang.
Aku tidak boleh terlalu bergantung padanya. Aku juga harus menunjukkan bahwa aku bisa menyelesaikan kasus.
“Baiklah. Kalau begitu, aku ambil ‘Akademi Putri Libra’.”
“Tempat yang cocok untuk anak SMA sepertimu.”
“Kalau begitu, aku…”
Yang tersisa adalah ‘BAR’ berbiaya 76 juta yen, dan ‘Museum Alat Penyiksaan Eropa Abad Pertengahan’ berbiaya 140 juta yen. Ada perbedaan biaya hampir dua kali lipat.
“Aku ambil yang Museum.”
“Oi, kau mau memberiku yang paling murah, ya!”
“…Kalau begitu, mau bertukar?”
“Enggak, kalau kau setuju, ya sudah.”
“Aku pernah mengunjungi museum itu sekali. Sesuai namanya, mereka memamerkan alat-alat yang digunakan untuk penyiksaan sepanjang sejarah,” kata Mizuiyama sambil meletakkan tangan di mulutnya. “Tapi setahu aku, museum itu seharusnya sudah ditutup beberapa tahun lalu…”
“Gedung yang ditutup dan dibeli untuk dijadikan lokasi kasus adalah cara kerja Komite,” kataku.
“Sisa satu, ya. Kalau begitu, aku, si pemimpin, akan menangani kasus ‘BAR’.”
Pembagian tugas pun diputuskan:
‘BAR Goodbye’ Yaki Hajiki
‘Museum Alat Penyiksaan Eropa Abad Pertengahan’ Mizuiyama Sachi
‘Akademi Kareobana’ Salvador Yadorigi Fukuro
‘Akademi Putri Libra’ Samidare Yui
‘Institut Pengembangan Kemampuan Anak Kembar’ Kirigiri Kyoko
“Sekali lagi kukatakan, yang kuinginkan adalah informasi. Aku tidak berharap kalian sampai menangkap pelaku.”
Kirigiri menegaskan.
“Oke, oke, aku ngerti,” kata Yaki, tampak kesal. “Tapi, informasi macam apa yang spesifik kau butuhin?”
“Terutama mengenai kondisi di lokasi. Informasi yang tidak bisa didapatkan dari artikel surat kabar atau pernyataan polisi adalah hal yang akan menentukan kasus. Misalnya, sampah kecil yang tergeletak di tempat kejadian, bau yang tidak biasa, kondisi cuaca, kondisi geografis, dan berbagai hal lainnya. Selain itu, profil orang-orang yang terlibat dalam kasus itu juga penting. Khususnya, aku ingin kalian mencari tahu tanggal lahir para pihak yang terlibat.”
“Tanggal lahir? Apa hubungannya sama kasus?”
“Detailnya akan kujelaskan nanti. Jika kita semua bisa bertemu lagi dengan selamat.”
“Jangan bicara hal yang nggak mengenakkan gitu!” Yaki berkata sambil tertawa keras, namun mobil menjadi sunyi senyap seolah tersiram air. Aku yakin bukan hanya aku yang mendengar langkah kaki Malaikat Maut dalam keheningan itu.
“Kita hampir sampai di stasiun.”
Mendengar kata Yadorogi, kami tersadar dan melihat ke luar jendela. Mobil itu tanpa disadari sudah kembali ke tempat pertemuan di stasiun.
Mobil itu diparkir di sebelah monumen salju.
“Terakhir,” kata Kirigiri. “Mengenai biaya, aku yang akan menanggung tagihannya.”
“Aku tidak akan mengambil uangmu,” kata Yaki sambil meludah dan membuka pintu mobil. “Sebagai gantinya, panggil aku Pemimpin.”
Ketika aku mengangguk, Yaki memasang jempolnya tanpa menoleh, lalu menghilang ke dalam keramaian di depan stasiun.
“Aku akan meminta imbalan yang sesuai jika ada hasil,” kata Mizuiyama sambil turun dari mobil. “Aku akan mengirimkan detail alamat pengiriman kuitansi nanti.”
Dia melangkah ke trotoar, menoleh ke belakang, membungkuk memberi hormat, lalu masuk ke dalam stasiun.
“Kalau mau, biar aku antar sampai rumah,” kata Yadorigi dari kursi pengemudi.
“Tidak, tujuanku berikutnya adalah lokasi kasus. Aku bisa pergi sendiri,” jawab Kirigiri.
“Tentu saja. Mari kita saling berjuang.”
Aku dan Kirigiri turun dari mobil.
Yadorigi melambaikan tangan dengan ringan, lalu menjalankan mobilnya, dan menghilang di ujung jalan.
Kini, aku kembali berdua saja dengan Kirigiri.
Kami melewati gerbang tiket stasiun dan menuju peron.
Tujuan kami berdua berlawanan, dengan kereta menuju atas dan bawah. Menurut papan informasi elektronik, kereta yang akan dinaiki Kirigiri akan tiba lebih cepat.
“Kita berpisah di sini untuk sementara?” tanyaku.
Kirigiri mengangguk.
Aku merasa cemas berpisah dari Kirigiri. Ada kekhawatiran apakah aku bisa menghadapi kasus sendirian, tapi lebih dari itu, aku takut jika kami berpisah di sini, kami tidak akan bertemu lagi untuk sementara waktu.
“Meskipun kau adalah detektif utama, Yui Onee-sama, kau tidak boleh terlalu jauh mengejar pelaku. Prioritasmu adalah mengumpulkan informasi dan membawanya kembali dengan selamat.”
“Aku tahu.”
“Lalu, aku akan memberitahumu ini sebelumnya, hanya untukmu, berhati-hatilah terhadap Libra. Ada kemungkinan dia adalah pelakunya.”
“Eh? Pelaku?”
“Ya. Jika dugaanku tidak salah, zodiak pelaku ‘Akademi Putri Libra’ adalah Libra. Cek tanggal lahir semua pihak yang terlibat, dan konfirmasi zodiak mereka.”
“A-apa maksudnya? Bagaimana kau bisa tahu hal seperti itu?”
“Itu adalah aturan permainan Ryuuzouji Gekka.”
Saat itu, kereta yang akan dinaiki Kirigiri memasuki peron. Rambutnya terangkat sedikit dan suaranya tersamar oleh deru kereta.
Pintu terbuka, dan penumpang yang turun mengalir seperti sungai di sekitar kami.
“Aku akan jelaskan nanti.”
Kirigiri berkata begitu sambil bersiap naik kereta.
Secara naluriah, aku ingin memeluknya erat-erat dan memutuskan untuk tidak melepaskannya—
Namun, aku hanya melakukan itu selama tiga detik, lalu aku melepaskannya dan melihat pintu tertutup di depanku. Aku tahu betul apa yang seharusnya kuutamakan saat ini.
Kereta mulai bergerak.
Kirigiri menatapku melalui jendela dengan wajah bingung sampai sosoknya menghilang.
Sisa waktu: 142 jam.
Kami telah melibatkan tiga detektif lain seperti Yaki, Mizuiyama, dan Yadorigi. Dalam masalah ini. Apakah ini adalah keputusan yang tepat?
Dengan rasa cemas di hati, aku naik kereta, menuju lokasi kasus berikutnya yang tertera di surat tantangan.





