Konosuba Yorimichi Jilid 4 Bab 3

Yorimichi 4 Bab 3 ini bercerita tentang Vanir sang Iblis Besar dalam dilema pemanggilan karena Nama Aslinya sudah tersebar luas dikalangan masyarakat.
Ilustrasi Siluet Vanir dari Konosuba Yorimichi 4 Bab 3 Sedia Vanir Dingin
Konosuba Yorimichi 4 - Sedia Vanir Dingin

Bab 3: Sedia Vanir Dingin

Bagian 1

Sambil menatap ke luar jendela, aku bergumam entah kepada siapa.

"Sepertinya hari ini si Onee-san pengintip itu tidak datang, ya."

Entah sejak kapan, seorang penguntit mulai muncul di sekitarku.

Dia adalah seorang wanita dengan tatapan mata sanpaku yang mengingatkan pada seekor kucing, mengenakan tudung hitam yang seragam dengan rekan Assassin-nya....

"Padahal Dark Stalker itu seharusnya kelas Advanced yang langka.... Tapi menguntit Kazuma seperti itu, kurasa Onee-san itu memang benar-benar kurang kerjaan. Lagipula, kau kan sering terlibat masalah dan selalu memulai hal-hal aneh, jadi melihatmu itu tidak membosankan."

"Oi, tunggu dulu. Berhenti membicarakan orang seolah aku ini hewan langka. Bisa saja dia itu cuma penggemar beratku, kan?"

Teknik Lurking (Menyamar) wanita itu sangat tinggi.

Di musim panas begini, dia sangat mencolok karena memakai tudung hitam. Namun, saat kupikir dia tiba-tiba menghilang, sebuah objek seni yang sangat detail mendadak muncul di tempat itu.

Kemampuan penyamarannya sehebat trik pesta milik Aqua; sebuah teknik Lurking yang begitu memukau sampai-sampai orang yang melihat momen perubahannya spontan meletakkan uang tip di sana.

Jika aku tiba-tiba menoleh ke belakang dan melihat sebuah objek seni yang diberi uang tip, kemungkinan besar itu adalah si Onee-san.

"Anak itu sering mentraktirku minum, lho. Mungkin dia pikir aksi penguntitannya nggak ketahuan, jadi kalaupun kita menemukannya, pura-pura tidak tahu saja."

Yah, orang itu biasanya hanya muncul saat aku sedang bersama seseorang. Lagipula, kalau suasana antara aku dan Megumin mulai terasa romantis, dia akan tahu diri dan menghilang. Jadi, terserah dia saja mau melakukan apa.

Saat ini waktu baru saja melewati tengah hari.

Bahkan jika Onee-san itu muncul, berdasarkan profesinya, waktu aktivitasnya pasti baru dimulai nanti sore atau malam.

"Tapi belakangan ini, selain si Onee-san pengintip yang memang pengecualian itu, bukankah jumlah orang aneh di kota ini semakin bertambah? Bukan aneh sih, lebih ke arah banyak orang yang tidak tahu akal sehat..."

Megumin tiba-tiba mengatakan hal itu, padahal kaulah orang terakhir yang boleh bicara begitu.

Lagipula, dimulai dari Megumin sebagai pelopornya, party kami adalah kelompok yang paling jauh dari kata "akal sehat umum".

"Itu karena mereka pengungsi atau petualang dari kota lain. Aku bisa langsung tahu karena saat aku memamerkan trik pestaku, mereka bakal kaget dan mengucek mata berkali-kali. Kota-kota di garis depan itu sangat berbahaya dan nggak ada waktu buat bersantai, jadi mereka pasti jarang melihat trik pesta. Mereka menatap trikku dengan wajah yang seolah tidak bisa memahaminya sama sekali"

"Hmm.... Kalau dipikir-pikir, tempo hari juga ada orang yang menoleh dua kali saat melihat Vanir sedang mengantar barang. Dia itu berbadan besar dan tetap memakai tuksedo meski di musim panas, jadi memang mencolok. Bagi penduduk Axel ini pemandangan biasa, tapi bagi yang tidak terbiasa, pasti terlihat aneh."

"Selain itu, ada juga yang menunjuk-nunjuk kawah yang kubuat di sana-sini sambil berbisik-bisik. Aku memang cukup percaya diri dengan karyaku, tapi apakah nilai artistiknya setinggi itu sampai mereka seheboh itu...?"

Sambil mengelus-elus Chomusuke yang ada di pangkuannya, Megumin memiringkan kepala heran.

"Padahal di kota garis depan, kawah bekas ledakan seharusnya bukan hal yang aneh, tapi kenapa ya...? Penduduk dari luar kota itu memang unik-unik, ya..."

Kota Axel adalah zona aman di mana para petualang pemula bisa berburu katak dengan santai layaknya sedang piknik. 

Berada di sini sebentar saja pasti bisa menyembuhkan hati orang-orang yang jiwanya terguncang karena tinggal di zona bahaya.

Tepat pada saat itulah...

Terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru bersamaan dengan denting lonceng di pintu masuk.

"Permisii! Permisii! Apa Megumin ada di dalam!?"

Terdengar suara panggilan Yunyun, salah satu dari sedikit orang waras di antara kerumunan orang aneh di Axel.

 

──Darkness menghentikan Aqua yang dengan antusias hendak menyajikan teh... maksudku, air putih, lalu ia meletakkan secangkir teh beneran di depan Yunyun.

"A-ah, terima kasih banyak..."

"Iya, minumlah ini dulu dan tenangkan dirimu. Tidak biasanya Yunyun yang selalu mengirim surat pemberitahuan sebelum ke sini, tiba-tiba datang berkunjung tanpa kabar?"

Yunyun meniup-niup tehnya agar dingin sambil mengalihkan pandangannya dengan gelisah.

"I-itu.... Maafkan orang sepertiku yang tiba-tiba datang berkunjung.... Maaf karena membawa masalah lagi ke sini.... Maafkan Klan Penyihir Merah..."

"A-ah! T-tidak kok, kami tetap menyambutmu meski tanpa surat pemberitahuan! Lagipula, kau boleh saja main ke sini dengan lebih santai!"

"Jangan begitu, Darkness. Anak ini memang pembawaannya selalu ragu-ragu, gelisah, dan cengeng, sampai-aslinya bikin aku gatal ingin merundungnya. Tapi, hak istimewa buat menindas Yunyun itu cuma milikku sebagai rivalnya, tahu."

"Tunggu sebentar, jadi selama ini kau menganggapku begitu!?"

"T-tida...! Aku tidak bermaksud merundungmu...!"

Megumin mulai menyindir Darkness dengan tajam, tapi karena itu pemandangan sehari-hari, aku tidak peduli. Lebih dari itu, ada hal menarik yang diucapkan Yunyun barusan.

"Tadi kau bilang 'maaf karena membawa masalah lagi'. Terus, 'maafkan Klan Penyihir Merah'. Kali ini Megumin berbuat apa lagi?"

"Kenapa setiap kali ada masalah kau selalu menganggap itu ada hubungannya denganku! ...Yunyun, bagaimana? Seingatku belakangan ini aku cuma punya sedikit perasaan bersalah. Kalaupun aku terlibat, paling cuma dua atau tiga puluh persen saja, kan?"

Jadi kau sadar kalau kau memang punya andil, ya.

"Ah, bukan! Kali ini anehnya Megumin tidak ada hubungannya sama sekali!"

"Apa maksudmu dengan 'anehnya'!? Kalau aku tidak terlibat, sebaiknya berhenti mengandalkan pria ini! Semuanya terlalu gampang memanfaatkan Kazuma sebagai alat bantu yang praktis. Hubungan yang setara itu adalah saling mengandalkan. Yang boleh mengandalkan orang ini cuma anggota party kami yang sudah berbagi duka dan suka bersama!"

"Me-Megumin.... Eh tunggu bentar, aku hampir saja merasa terharu, tapi seingatku jarang sekali aku mengandalkan kalian. Rasanya rasio 'saling mengandalkan' di antara kita tidak seimbang?"

Mendengar keraguan yang aku lontarkan itu, Darkness duduk di sampingku dan menyodorkan secangkir teh tanpa berkata apa-apa.

Rasanya menyebalkan melihatnya mencoba menyogokku dengan hal semacam ini, tapi merasakan kehangatan tubuh Darkness yang duduk merapat di sebelahku membuatku berpikir, yah, sudahlah, kami kan sudah lama bersama...

"Seperti yang kau lihat, pria ini sangat gampangan. Hanya dengan sedikit didekati saja, dia langsung luluh begini. Kalau aku memang tidak terlibat, silakan pulang saja."

"T-tunggu! Tadi aku bilang Megumin memang tidak terlibat secara langsung, tapi... kalau bicara soal lingkup klan Penyihir Merah, tidak bisa dibilang tidak ada hubungannya juga..."

Yunyun menggumam dengan ragu sambil menatapku ragu-ragu.

"Kau masih saja tidak tegas ya! Apa orang-orang desa berbuat ulah lagi? Entah itu mencoba mengakhiri musim panas dengan sihir sampai membuat Roh Agung marah, atau pergi beramai-ramai menembakkan sihir ke Kastel Raja Iblis dengan dalih 'piknik'... kalau cuma cerita remeh begitu, aku tidak mau dengar, lho."

Apa itu tadi masuk kategori "cerita remeh"? Rasanya itu masalah yang cukup gawat.

──Lalu, kepada Megumin yang sedang mengedikkan bahu dengan santai, Yunyun pun angkat bicara dengan nada serius.

"Rahasia soal pemberian nama Vanir-san secara sepihak untuk menara pandang di Desa Pneyihir Merah... sudah ketahuan."

"Bagaimana kalau kita pergi berkelana bersama untuk sementara waktu? Kurasa pergi ke luar negeri juga pilihan yang bagus. Benar, karena sekarang sedang musim panas, ayo kita pergi ke negara yang sejuk."

Melihat Megumin yang sudah bersiap-siap ingin mengemas barang, Yunyun buru-buru berseru:

"Tunggu, Megumin! Aku dititipi surat dari Vanir-san untukmu!"

Melihat Megumin yang bersikeras menolak menerima surat yang disodorkan itu, Yunyun menghela napas dan mulai membacakannya.

"Pada saat si Gadis Penyendiri membacakan ini, sang penyihir 'sekali-tembak' yang menjalani hidup konyol seperti kembang api pasti sedang menolak menerima surat ini dan berniat melarikan diri."

Ilustrasi Hitam Putih Megumin dan Yunyun di Konosuba Yorimichi 4 Bab 3
Megumin yang mencoba kabur

Megumin yang baru saja mau melangkah ke kamar untuk mengambil barang, langsung terhenti.

"Di dunia ini, ada makhluk bernama Chironomidae yang akan langsung mati tak lama setelah menjadi dewasa. Tidakkah dirimu merasa itu sangat mirip dengan pandangan hidupmu yang fana dan gampang lenyap hanya dengan sekali tiup? Dalam surat ini, Diriku akan memanggilmu Gadis Chironomidae. Oh, dan tolong turunkan tinju itu karena gadis yang satu ini hanyalah pembawa pesan. ──Megumin, berhenti menatapku dengan curiga! Di sini beneran tertulis begitu!"

Setelah Megumin menurunkan tinjunya, Yunyun lanjut membacakan surat itu.

"Nah, Gadis Chironomidae dan Gadis Penyendiri. Mengenai nama diriku yang dicatut secara sepihak untuk menara pandang di Desa Penyihir Merah, diriku paham bahwa kalian tidak terlibat langsung. Namun saat ini, berkat ulah klan Penyihir Merah, sedang terjadi sedikit masalah yang merepotkan."

"Tuh kan, ujung-ujungnya pasti menyalahkan kita lagi! Kazuma, ayo abaikan saja dan lanjut berkemas. Firasatku bilang bakal gawat kalau kita terus mendengarkan ini."

Rasanya aku ingin sekali menerima tawaran Megumin barusan.

Dia bilang ingin pergi ke negara yang sejuk, tapi bagaimana kalau ke kota di pesisir pantai saja? Aku tidak akan muluk-muluk minta kolam renang, tapi bukankah itu kesempatan emas untuk melihat para onee-san cantik berbaju renang?

"Ngomong-ngomong, jika dirimu mengabaikan situasi saat ini dan nekat berkelana, dikhawatirkan akan terjadi bencana besar yang mengguncang dunia. Jika kau tidak keberatan, silakan saja pergi ke negara sejuk atau kota pesisir mana pun yang dirimu suka. Namun, diramalkan akan ada musibah es di negara sejuk, dan musibah Kraken di kota pesisir, jadi ada baiknya kau berhati-hati."

Aku menjulurkan satu tangan ke depan.

"Yunyun, berikan surat itu padaku."

"Begitulah yang akan dikatakan si Bocah, jadi berikanlah surat kedua padanya."

Yunyun mengatakannya dengan wajah penuh rasa bersalah sambil menyodorkan sepucuk surat lagi.

Rasanya kesal sekali dipermainkan dalam telapak tangan Vanir seperti ini sampai-sampai aku ingin membuang suratnya tanpa membacanya, tapi kata-kata "bencana besar yang mengguncang dunia" tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dengan sedikit ketegangan, aku membuka surat itu agar yang lain juga bisa ikut membaca.

 

『ZONK』

 

Aku melemparkan surat itu jauh-mencampakkannya begitu saja. Yunyun memalingkan wajah dariku dan melanjutkan dengan suara gemetar.

"Emosi negatifnya lezat sekali.... Megumin, berhenti! Aku kan cuma membacakan suratnya saja!"

Darkness berusaha mati-matian menahan Megumin yang hendak menyerjang Yunyun. Sambil hampir menangis, Yunyun memaksakan diri membacakan lanjutannya.

"Cukup sudah bercandanya, mari kita kembali ke topik utama. ──Ada sebuah ritual yang disebut Pemanggilan Iblis (Demon Summoning). Ritual ini pada dasarnya dilakukan untuk memberikan bayaran kepada iblis yang dipanggil agar mereka mengabulkan permintaan kita. Dan untuk melakukan ritual ini, seseorang harus mengetahui detail mengenai iblis tersebut. Nama, asal-usul, nama samaran, hingga legenda. Semakin dalam dirimu mengenal targetnya, semakin kecil risiko dalam memanggil iblis tersebut."

...Artinya, kalau aku tahu detail tentang Vanir, aku juga bisa melakukan Pemanggilan Iblis? Aku bisa menggunakan iblis yang merupakan kumpulan cheat itu sesuka hatiku. Bukankah itu berarti hampir semua permintaanku bisa terkabul?

"Pria ini sedang memasang wajah yang mencurigakan. Kurasa kita nggak boleh membiarkan dia mendengarkan lebih jauh lagi" 

"Sekadar mengingatkan ya, Pemanggilan Iblis itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Kalau cuma iblis kelas rendah, orang biasa pun bisa memanggilnya. Tapi kalau iblis kelas atas, apalagi iblis agung sekelas Vanir, dia hanya bisa dipanggil menggunakan magic item sekelas Divine Relic, atau oleh penyihir agung yang melampaui akal sehat manusia, atau Devil Summoner yang sangat andal."

Apa-apaan itu Devil Summoner, benar-benar memancing jiwa chuunibyou-ku yang sudah lama terpendam saja.

Seolah menyadari sesuatu dari ekspresi wajahku, Megumin menghela napas sambil mulai menjelaskan.

"Devil Summoner adalah Advanced Job khusus yang sangat jarang ditemui. Mereka memiliki keteguhan hati yang bahkan tidak takut pada Dewa maupun Iblis, serta mentalitas dingin yang tega menjual orang tua maupun saudara demi bertahan hidup. Selain itu, ini adalah kelas yang sangat amat langka, karena tidak akan muncul jika seseorang tidak memiliki mana yang melimpah dan bakat sihir yang luar biasa."

Sial, lagi-lagi bakat jadi penghalang! Kenapa sampai ke dunia lain pun bakat bawaan lahir masih saja menentukan jalan hidup seseorang? Apakah impian sederhana seperti punya kolam renang di samping rumah tidak akan pernah terkabul──

"Jangan berkecil hati, Kazuma. Kelas yang disebut pengendali iblis atau Devil Summoner itu tidak akan muncul kecuali seseorang benar-benar kehilangan hati nuraninya. Jika ada orang terdekatku yang menjadi Devil Summoner, aku pasti akan langsung jatuh lemas berlutut. ...Meski Kazuma sering bicara sinis, aku tahu kalau kau sebenarnya orang yang sangat baik."

"A-apaan sih, memujiku tiba-tiba begitu tidak akan memberimu keuntungan apa-apa. Aku cuma merasa sebutan Devil Summoner itu terdengar keren saja, bukannya aku benar-benar ingin jadi seperti itu."

Tapi seingatku, dulu ada orang terdekat yang pernah dibilang punya bakat jadi pengendali iblis, kan?

...Benar, Komekko, adiknya Megumin. Waktu anak itu datang ke kota Axel, kakak Succubus pernah bilang kalau anak ini punya bakat tinggi sebagai pengendali iblis atau semacamnya.... Ah, tidak mungkin Komekko yang semanis malaikat itu bisa mengambil kelas sejahat itu.

Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak mungkin, lebih baik rapikan situasi sekarang.

"Singkatnya, Klan Penyihir Merah malah mencari keuntungan dengan menjual informasi pribadi Vanir. Akibatnya, ambang batas untuk memanggil Vanir terus menurun drastis, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika para Devil Summoner mengetahuinya. ...Begitu ya, jadi ini yang dimaksud dengan bencana besar yang mengguncang dunia."

Aku mengangguk sekali, lalu berkata dengan tegas kepada dua orang di depanku.

"Klan Penyihir Merah katanya punya kecerdasan tinggi, tapi sebenarnya apa kalian ini lebih bodoh dari Goblin?"

"Aku ingin membantah, tapi aku benar-benar tidak punya kata-kata untuk membalasnya."

"Hiks... hiks.... Padahal aku... tidak seperti yang lain, aku cuma ingin hidup normal saja..."

Yunyun akhirnya mulai menangis, tapi dia tetap dengan tegar mengikuti barisan kalimat di surat itu dengan matanya.

"Ada kabar buruk di sini. Saat ini, kelompok pemuja iblis, alias para Satanis, sedang menuju ke kota ini."

...Kalau diingat-ingat, saat aku membantu Darkness dulu, aku pernah mendengar kabar burung soal itu. Kepada Yunyun yang membacakan surat sambil gemetar kecil, aku melontarkan satu kalimat.

"Gawat, dong."

"Sangat gawat. Seberapa gawatnya? Jika diriku dipanggil melalui prosedur resmi dan mereka memohon kehancuran dunia, maka diriku akan menjadi musuh umat manusia."

Ini bukan lagi level gawat, tapi sudah level gawat kuadrat.

Meski surat ini terasa seolah-olah kita sedang berdialog langsung dengan Vanir, entah kenapa mata Megumin malah berbinar-binar.

"Jadi maksud Vanir begini, kan? Saat dia dipanggil oleh para Satanis dan menjadi musuh umat manusia, dia ingin kita menghentikannya dengan tangan kita sendiri...!"

Oh, ini adegan yang sering ada di manga atau anime itu ya, tipe 'hentikan aku sebelum aku bukan menjadi diriku lagi'.

Normalnya, ini bakal jadi perkembangan cerita yang serius dan penuh kesedihan.

Tapi, yah──

"Memang bakal merepotkan kalau Vanir jadi musuh, tapi kita kan sudah pernah mengalahkannya sekali dulu. Lagipula cadangan nyawamu masih banyak, kan? Permintaan pada iblis itu pasti tidak ada yang bener, jadi relakanlah satu nyawamu hilang kali ini. Begitu kau dikalahkan sekali, kontraknya bakal ter-reset, kan?"

Aku sendiri sadar kata-kataku ini cukup kejam, tapi dengan begitu situasi terburuk bisa dihindari. Seingatku waktu dia masih menjabat jadi Jenderal Pasukan Raja Iblis dulu, kontraknya juga terputus karena dia kalah sekali.

──Lalu, seolah menjawab kata-kataku yang optimis itu, Yunyun yang wajahnya sudah pucat pasi membacakan suratnya dengan suara gemetar.

"Ada satu lagi kabar buruk. Perlu kuberitahukan bahwa diriku bisa berhenti menjadi Jenderal Pasukan Raja Iblis karena si Raja Iblis itu pelit soal bayaran, dan membuat kontrak dengan isi: 'Menjabat sebagai Jenderal sampai kehilangan satu nyawa'. Namun untuk saat ini, nyawa cadangan diriku sudah terlalu banyak sampai tidak terhitung lagi."

Dunia benar-benar dalam keadaan gawat.

 

Bagian 2

Dewi berandalan kita baru saja menggerebek toko sihir di pinggiran kota.

"『Sacred Exorcism』──!"

"Dinding Pelindung Rongsokan!"

"Aaaaaakh, produk barunyaaa──!"

Sihir Aqua yang dirapal tepat saat bertemu langsung menghanguskan barang dagangan yang diangkat oleh Vanir.

Di tengah jeritan Wiz, Vanir yang berhasil lolos dari maut berkat Dinding Pelindung Rongsokan itu berteriak murka.

"Apa yang lu lakukan di saat darurat begini! diriku tidak punya waktu untuk meladenimu sekarang, pulang sana!"

Begitu Yunyun selesai membacakan surat Vanir, Aqua langsung melesat keluar rumah sambil berteriak, "Aku pergi menyelamatkan dunia sebentar!".

Aku meyakinkannya bahwa urusan di sini biar aku yang urus, sementara Megumin dan dua lainnya kuminta untuk mencari keberadaan para Satanis.

"Justru karena sedang darurat itulah aku ke mari. Sepertinya kau sedang dalam masalah besar, ya."

"Umu, seharusnya iblis agung sekelas diriku tidak bisa dipanggil sembarangan, tapi karena nama asli dan riwayat hidupku sudah tersebar luas, jika informasi pribadiku bocor lebih jauh lagi, ada kemungkinan Devil Summoner berbakat bisa memanggilku secara tidak sengaja..."

Vanir mengatakannya dengan suara berat dan serius, tapi kau ini kan iblis agung, jangan mau dipanggil semudah memesan layanan antar makanan, dong.

"Di antara iblis-iblis yang haus perang, memang ada yang sengaja menyebarkan informasi tentang diri mereka sendiri karena ingin dipanggil ke dunia fana untuk bertarung. Namun, jika kekuatanku disalahgunakan, itu bisa memberikan dampak besar bagi dunia. Siapa sangka, namaku malah dipakai untuk nama menara pandang, benar-benar di luar dugaan."

"Kalau tidak salah, aku pernah dengar kalau peramal itu tidak bisa meramal apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Ternyata ada juga hal yang tidak bisa kau lihat, ya."

Namun──

"Kalau kau sadar keberadaanmu itu berbahaya jika dipanggil, harusnya kelola informasimu dengan benar. Di negaraku, bahkan seorang NEET pun berhati-hati agar alamat rumahnya tidak terlacak."

 

"Diriku yang seorang iblis agung... ternyata lebih rendah dari NEET..."

 

Vanir yang biasanya bersikap santai menggumam pelan, sepertinya dia sangat shock sampai berdiri mematung dengan tatapan kosong.

Melihat pemandangan langka itu, Aqua langsung menunjuk-nunjuknya seolah tidak mau melewatkan kesempatan emas.

"Ahahahaha! Lihat ini, Kazuma! Lihat iblis yang biasanya sok hebat bilang bisa melihat segalanya, tapi sekarang malah depresi karena rahasianya mau dibongkar! Pfftt, pukusukusu—! Lucu banget, ini sih lucu kebangetan! Ahahahaha! Ahahahahahaha!"

Mungkin karena perbedaan drastis dari sikap biasanya, Aqua sampai memegangi perutnya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Wiz, yang tadi menangis sesenggukan karena barang dagangannya hangus, sepertinya juga mulai tertular. Dia menahan tawa sekuat tenaga sampai wajahnya memerah dan tubuhnya gemetaran.

Dalam situasi seperti itu, tentu saja aku──

"Pfft—! Berhenti, Aqua! Lihat, Vanir sampai gemetaran kecil begitu! Ahahaha! Ahahahaha! Gyahahaha!"

"Ahahaha! Ahahahaha! Lihat Kazuma, dia bergetar pulu-pulu! Mungkin ini pertanda akan ada gempa bumi! Kita harus minta diramal sama Tuan Iblis yang Melihat Segalanya ini! Ahahahaha!"

Memang benar, perilaku sehari-hari itu sangat penting.

Sebab kalau kau sering memprovokasi orang lewat surat dan kerjanya cuma menyesap emosi negatif, kau pasti akan kena batunya seperti ini.

"Rasanya diriku ingin dipanggil dengan imbalan murah saja, lalu menghancurkan dunia sekalian..." gumam Vanir putus asa.

"T-tidak boleh, Vanir-san! Jangan berputus asa begitu! Kalian berdua juga, ini kan sedang dalam keadaan darurat, jangan mengejeknya begitu!"

Begitu Vanir menggumam dengan nada putus asa, Wiz membuang sesuatu yang dipegangnya dan mulai menenangkan rekan kerjanya itu.

──Aqua, yang baru saja berhenti tertawa terpingkal-pingkal, memungut sisa arang yang dibuang Wiz dengan tatapan penasaran.

"Ngomong-ngomong, sebenarnya produk baru apa sih yang sampai jadi arang begini? Bisa hangus terbakar oleh sihir pengusir setan yang bahkan nggak punya daya serang fisik... aku cuma bisa membayangkan kalau ini pastilah benda yang sangat terkutuk."

"Ah, itu ya!? Dengarkan aku, Aqua-sama! Ini adalah produk yang kubuat sambil begadang demi mengejar peluang bisnis saat ini!"

Produk baru yang sudah jadi arang itu sepertinya adalah sebuah buku. Sulit dibaca karena sudah hangus, tapi aku masih bisa menangkap judulnya sedikit demi sedikit──

"……『Penjelasan Tuntas Iblis yang Melihat Segalanya ~Catatan Harian Vanir-san~』"

"NUAAAAAAAAAARGH!"

"AAAAAAAAAAAAARGH!"

Ternyata itu adalah buku panduan strategi (walkthrough) tentang Vanir.

Melihat pengkhianatan Wiz yang tak terduga itu, Vanir merebut sisa arang tersebut dan merobeknya habis-habisan sambil melangkah mundur dengan tatapan tak percaya.

"Seberapa pun sulitnya kondisi keuangan kita, Diriku benar-benar tidak menyangka lu akan membuat produk baru seperti ini. Memang benar-benar seorang Lich, biarpun sudah busuk, secara fisik dirimu memang tidak punya darah maupun air mata, jadi kurasa ini hal yang wajar saja bagi kaummu..."

"T-tunggu dulu, Vanir-san! Memang benar aku ini undead, tapi tolong jangan bicara seolah-olah aku ini makhluk yang tidak punya hati nurani!"

Kurasa menyebut undead sebagai makhluk yang tidak punya hati nurani itu sudah tepat, sih. Tapi Wiz malah mengeluarkan buku baru lagi yang masih mulus dan belum hangus terbakar.

"Dan sekarang, tolong ingat-ingat lagi siapa aku sebenarnya. Sosok Lich Sang Raja Undead ini hanyalah kedok semata. Fufu, apa hal yang paling kukuasai?"

Wiz menunjukkan buku itu dengan bangga, sambil bertanya dengan wajah penuh harap.

"Menciptakan hutang, kan?"

"Bukan, tapi menarik pelanggan pria dengan tubuh seksimu itu."

"Kalian ini bicara apa sih, tentu saja menyajikan teh dan camilan enak."

"Berdagang, tahu! Pekerjaan utamaku adalah pedagang, aku ini pemilik Toko Sihir Wiz! Kazuma-san, kau akan ku ceramahi nanti!"

Biarpun diancam bakal diceramahi, aku tetap merasa Wiz itu salah pilih profesi.

"Di dalam buku ini tertulis detail informasi tentang Vanir-san. Kapan, di mana, dan dari siapa dia menyantap emosi negatif. Mulai dari catatan pertarungannya melawan gagak di tempat sampah, sampai urusan pergaulan dengan tetangga sekitar. ……Semuanya terangkum dalam satu buku ini!"

Saat Wiz memeluk buku itu seolah sedang mendekap harta karun berharga, aku bertanya pelan kepada Vanir.

"Oi, bagaimana menurutmu? Apa isi buku yang sesepele ini bisa berpengaruh pada Pemanggilan Iblis?"

"Ingin rasanya diriku bilang kalau isi sesepele itu tidak akan jadi masalah, tapi diriku tidak bisa memastikannya sebelum membaca isinya sendiri.... Wiz, berikan buku itu padaku."

Sepertinya Wiz tidak terima dibilang bukunya sepele dan tidak berguna. Sambil tetap memeluk bukunya, ia menggembungkan pipinya dengan kesal.

"Satu buku harganya satu juta Eris."

"Kau memanfaatkan situasi, dasar pemilik toko serakah! Jangan merajuk dan berikan padaku! Karena itu adalah informasi pribadiku, diriku punya hak untuk memeriksanya sebelum diterbitkan!"

Vanir menjulurkan tangannya, tapi Wiz malah menyembunyikan buku itu di balik punggungnya sambil melangkah mundur.

"……Fu, ufufu, aku tahu kok. Kalau menyangkut kepentingan publik, membongkar informasi pribadi itu diperbolehkan. Lagipula, aku diberitahu langsung oleh jurnalis profesional di bidangnya!"

"Jurnalis yang dirimu maksud itu baru saja ditangkap kemarin karena menulis artikel tentang bangsawan."

Meski sempat gentar sejenak karena komentar dingin itu, Wiz yang kali ini entah kenapa sedang merasa di atas angin malah tersenyum menantang.

"Vanir-san, coba pikirkan baik-baik. Sekarang ini, apa hubungan antara aku dan Vanir-san?"

"Hubungan di mana diriku bekerja paruh waktu di tempat lain untuk mencari uang, lalu uangnya dihabiskan oleh pemilik toko parasit sepertimu?"

"Jadi selama ini kau menganggapku begitu!? Kita ini partner yang mengejar impian yang sama, rekan bisnis yang berharga! Lagipula, kita ini terikat kontrak! Kontrak! Bukankah sudah ada kontrak yang terjalin antara aku dan Vanir-san!"

Aku juga mengira Wiz itu cuma parasitnya Vanir, tapi sepertinya orangnya sendiri merasa sangat tidak puas dengan label itu.

"Sebenarnya aku sudah menyelidiki tentang iblis. Terutama seluk-beluk soal kontrak secara mendalam. Ya, supaya suatu hari nanti aku bisa membuat Vanir-san terkejut!"

"Tiap kali kau mengeluarkan produk baru, diriku sudah sering terkejut sampai jantungan……"

"Dan! Hasil penyelidikanku menunjukkan bahwa pihak iblis hanya bisa menjalin kontrak dengan satu orang saja! Artinya, selama kontrak denganku belum terpenuhi, tak peduli berapa kali pun para Satanis mencoba memanggil Vanir-san, itu tidak akan ada gunanya!"

Setelah selesai menjelaskan, Wiz memamerkan buku panduan strategi Vanir itu dengan wajah paling jemawa yang pernah kulihat.

"Yah, itu memang benar, sih…… Hmm, jadi diriku saja yang terlalu khawatir?"

"Hebat, Wiz! Jadi kau yakin kalau informasi ini nggak bakal disalahgunakan, makanya kau berniat menjual iblis ini demi meraup untung besar!"

"Begitulah, Aqua-sama! Eh, tapi kalau dibilang 'menjual Vanir-san', rasanya kedengarannya agak kurang enak ya……"

Aku menepuk pundak Vanir yang berdiri mematung dengan tatapan kosong.

"Menyokong rekan yang hobi bikin utang itu memang berat, ya. Aku paham perasaanmu."

"Tak disangka hari di mana diriku akan dikasihani olehmu benar-benar datang. Bahkan diriku pun tidak bisa melihat masa depan ini."

Setelah dihibur olehku, Vanir entah kenapa tampak sangat syok, tapi dia kemudian meletakkan tangan di dagu dan mulai berpikir keras.

"Sebenarnya, meskipun itu iblis yang sudah terikat kontrak, ada cara untuk memutus kontrak tersebut secara paksa dan membuat kontrak baru... tapi diriku ini adalah Iblis Agung. Tak peduli seberapa besar bayaran yang ditawarkan, diriku tidak akan pernah memutus kontrak dengan pemilik toko rongsokan ini."

"Padahal dulu Vanir-san pernah bilang lebih baik kena denda penalti daripada harus melanjutkan kontrak denganku, lalu kau hampir mencampakkanku..."

Dengan senyum penuh percaya diri, Vanir membuat deklarasi kepada Wiz.

"Wahai pemilik toko perdagangan manusia layaknya pedagang budak, ini memang sebuah peluang bisnis. Bahkan jika diriku dipanggil, tidak akan ada masalah selama diriku dengan tegas mengatakan tidak! Mari kita jual buku konyol tulisanmu ini kepada para Satanis dengan harga selangit dan meraup untung besar!"

"Tolong berhenti memanggilku pemilik toko perdagangan manusia, kedengarannya jahat sekali! Dan jangan sebut produk baru yang kutulis dengan susah payah ini sebagai buku konyol!"

Melihat sosoknya yang begitu percaya diri malah membuatku punya firasat buruk. 

Orang ini punya kebiasaan terlalu mengandalkan kemampuan penglihatannya. Buktinya, dia tidak bisa menghentikan hobi foya-foya Wiz, dan dia baru tahu kalau namanya dicatut untuk menara pandang belakangan ini.

Yah, tapi karena Iblis Agung yang kelihatannya paling paham soal seluk-beluk kontrak bilang tidak masalah, harusnya semuanya akan baik-baik saja.

 

──Tepat di saat aku sedang berpikir optimis itulah...

Pintu toko terbuka, dan Megumin serta Darkness yang seharusnya pergi mengintai pun muncul.

"Eh? Bukannya kalian tadi pergi bertiga? Ke mana Yunyun?"

Menjawab pertanyaanku, Megumin langsung angkat bicara.

"Entah apa yang merasuki pikirannya, begitu melihat para Satanis, Yunyun berteriak: 'Vanir-san adalah teman pertama yang kupunya di kota ini! Aku tidak akan menyerahkannya pada kalian!', lalu dia menggerebek markas mereka sendirian dan berakhir ditangkap."

Aku dan Vanir saling pandang, terdiam seribu bahasa.

...Ini beneran nggak bakal ada masalah, kan?

 

Bagian 3

Keesokan harinya.

Saat aku sedang tidur siang telentang di sofa, terdengar suara tangisan yang sudah sangat akrab di telingaku.

"Kazuma-saaan! Anak-anakku ditangkap secara tidak adil! Aku ingin mengeluarkan mereka dari penjara, tapi aku tidak bisa memikirkan cara apa pun, jadi tolonglah aku!"

Mengabaikan Aqua yang datang merengek, aku tetap asyik mengelus-elus Chomusuke yang nangkring di atas dadaku.

"Maksudmu 'anak-anakku' itu para pengikut ajaran Axis, ya? Kalau lawannya adalah otoritas negara, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kebetulan di sana ada pengikut Axis (gadungan) yang punya kekuasaan, minta tolong saja padanya."

"Oi, apa yang kau maksud dengan pengikut Axis yang punya kekuasaan itu adalah aku!? Aku tidak akan pernah membuang imanku kepada Eris-sama, tahu!"

Seorang penganut baru (gadungan) yang masih memboikot tugasnya sebagai penguasa wilayah, malah melontarkan pembelaan yang payah begitu.

"Bahkan bagi Darkness yang penganut baru pun, kali ini tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya mereka memprovokasi para Satanis dan penganut Eris agar saling bertarung. Alhasil, kedua belah pihak melayangkan protes, dan mereka malah mengamuk di tengah kota karena emosi."

"Benar-benar tidak ada benarnya ya. Jangan keluarkan mereka dari sel, wahai penganut baru."

"Kalian berdua, berhenti memanggilku penganut baru! ...Tapi, ini alur yang buruk. Dasar utama Priest ajaran Eris itu semuanya orang-orang yang punya akal sehat, tapi mereka sangat kejam terhadap iblis. Dalam hal itu, mereka bahkan lebih parah daripada penganut Axis."

Yah, soalnya dewi utamanya, Eris-sama, memang tipe dewi yang "mutlak harus membunuh iblis", sih.

Saat aku masih berbaring di sofa sambil memijat wajah Chomusuke, terdengar suara tangisan yang tak biasa dari pintu depan.

"Asisten-kun! Para penganut Eris ditangkap secara tidak adil! Aku ingin mengeluarkan mereka dari penjara, tapi aku tidak bisa memikirkan cara apa pun, jadi tolong bantu aku!"

Di hadapan Chris yang datang merengek, aku pun bangun sambil menggendong Chomusuke.

Jika merangkum penjelasan Chris yang berantakan, sepertinya para penganut Eris yang terprovokasi oleh penganut Axis juga ikut menggerebek markas para Satanis dan akhirnya tertangkap.

"Kurasa pemuka agama di dunia ini sudah tidak ada yang beres lagi, ya."

"Apa-apaan kau tiba-tiba bilang begitu! Jangan berani-berani menjelek-jelekkan anak-anakku! Lawannya kan Satanis jahat, jadi sudah pasti anak-anakku yang benar!"

"Benar, kau jahat sekali tiba-tiba bilang begitu, Asisten-kun! ...Ah! Hei Darkness, keluarkan para penganut Eris di penjara itu atas nama sesama rekan seagama! Sebagai penganut Eris yang taat, menurutku menyerang Satanis itu adalah perbuatan yang benar!"

Sangat disayangkan, yang sedang meracau kacau di depanku ini adalah para dewi yang mewakili dunia. Jadi tolong maafkan aku jika aku mulai menyerah pada banyak hal.

"E-anu, itu.... Seberapa pun mereka itu Satanis, menyerang orang yang belum melakukan apa-apa itu menurutku perbuatan buruk. Eris-sama juga pasti tidak akan memaafkannya."

"Memaafkan, kok! Pasti dimaafkan banget! Lagipula lawannya Satanis, lho? Ke mana perginya rasa keadilanmu, Darkness! Apa kau masih penganut Eris yang taat!?"

──Nah, ada kabar buruk buat Chris di sini.

Aqua, yang merupakan penyebab semua ini, berkata dengan wajah tanpa dosa sedikit pun.

"Maaf ya Chris, tapi Darkness yang sekarang bukan lagi Darkness yang kau kenal. Meskipun cuma sampai ayahnya kembali, tapi dia sudah jadi penganut Axis!"

"HAAA—!? HA... HAAAA—!?!?!?!??!?!!?!?!?!?!??!?!?"

"T-tidaaaak! Itu salah, Chris! Aku tidak pindah agama! Aku cuma sedikit tergerak oleh doktrin ajaran Axis! Aku cuma sedikit menunda tugas sebagai perwakilan penguasa wilayah...!"

Mendengar fakta mengejutkan itu, Chris langsung ambruk lemas di depanku.

"Bos, aku tahu kau syok, tapi wajahmu jadi tidak layak dilihat untuk ukuran seorang gadis."

"Aku sudah tidak bisa memercayai apa pun lagi..."

Ilustrasi Hitam Putih Chris di Konosuba Yorimichi 4 Bab 3
Chris yang Shock

Aku meletakkan Chomusuke yang tadi kupeluk ke atas kepala Chris yang jiwanya baru saja terguncang.

Berharap agar hati yang hancur itu bisa sedikit terobati oleh keimutan Chomusuke. 

Dan juga, supaya pemandangan menyedihkan ini setidaknya terlihat sedikit lebih damai untuk dipandang.

"……Tapi kalau dipikir tenang-tenang, nggak mungkin lah Darkness mengkhianatiku! Darkness itu kan orangnya serius, dia cuma lagi kecapekan saja, ya kan? Kalau begitu wajar saja kalau dia butuh istirahat. ……Oke, aku menyerah soal memaksa penggunaan kekuasaan. Tapi, kau mau kan membantuku untuk urusan lainnya?"

Sambil memeluk erat Chomusuke yang ada di kepalanya, Chris memohon dengan sangat. 

Di dalam pelukan Chris, Chomusuke yang biasanya tidak mau akrab dengan siapa pun selain aku dan Megumin, mulai meronta-ronta seolah berteriak, "Lepaskan aku, keparat!"

"Tentu saja. Tidak mungkin aku menolak permintaan Chris, kan?"

"Darkness…… Benar juga ya, aku tadi sempat panik, tapi kita kan sahabat karib! Jadi begini, aku ingin menyelidiki kenapa para Satanis itu datang ke kota ini."

Kenapa-kenapanya sih, sudah jelas karena……

"Semuanya, tenang dan dengarkan baik-baik ya. Feeling-ku mengatakan…… di suatu tempat di kota ini, mungkin ada iblis yang sedang bersembunyi."

Jangankan iblis, Lich pun tinggal di sini.

Di tengah keheningan semua orang yang memilih bungkam, sudut mulut Darkness sedikit berkedut.

"Chris. Anu, sepertinya kau masih kacau karena para penganut Eris ditangkap. Untuk hari ini, sebaiknya kau istirahatlah yang tenang."

Chris tampak syok seolah merasa dikhianati lagi saat Darkness menepuk pundaknya sambil memasang senyum kaku.

"Kenapa sih—! Ini beneran, kemungkinan besar pasti ada iblis di sini! Darkness dasar keras kepala! Otot pengkhianat! Aku sudah tidak bisa memercayai siapa pun lagi! Aku akan mencari penganut yang sejati!"

"T-tunggu dulu Chris, kau mau ke mana! Lagipula aku tidak mengkhianatimu…… Dan lagi, berhenti memanggil orang 'otot'!"

"Aakh! Jangan bawa pergi Chomusuke! Dasar penculik kucing—!"

Setelah melontarkan kata-kata perpisahan, Chris melesat keluar dari rumah besar kami, disusul oleh Darkness dan Megumin yang mengejarnya. Tinggallah kami berdua yang tersisa, saling pandang tanpa tahu harus berbuat apa.

"Chris itu serius banget ya. Dia lebih cocok jadi pemuka agama daripada jadi pencuri. Kapan-kapan, aku berencana menjadikannya Anggota Kehormatan Ajaran Axis secara rahasia."

"Dia bakal nangis bombay, jadi jangan pernah lakukan itu."

 

──Karena setelah ditunggu cukup lama tidak ada yang kembali, aku dan Aqua yang sudah mati gaya akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota demi melihat-lihat seperti apa para "Satanis" itu.

"Kazuma-san, Kazuma-san, di sana ada Satanis lagi berkeliaran. Menurutku, kita harus menyelamatkan anak-anakku yang dikurung di penjara dan melepaskan mereka ke kota sekarang juga."

"Jangan menunjuk-nunjuk orang sembarangan, itu paman sesama rekan pengangguran (hikikomori). Dia pakai tudung karena tidak kuat kena sinar matahari yang tidak biasa dia rasakan. Kulitnya pucat karena dia cuma keluar malam-malam. Ngomong-ngomong, menurutku biarpun para Satanis itu sudah pergi dari kota, para penganut Axis sebaiknya tetap dikurung saja."

Sambil berjalan dengan pipi yang ditarik-tarik oleh Aqua, aku berpapasan dengan seorang Onee-san yang sudah sangat kukenal.

"Halo! Hari ini cuacanya bagus ya. Menurut ramalan cuaca Vanir, cuaca cerah akan terus berlanjut sampai kawanan Belalang Tentara datang nanti."

"Ah, pelanggan setia... dan, A-Aqua-sama, halo juga! Wah, s-seperti yang diharapkan dari Vanir-sama ya! Selagi masih cerah begini, aku harus menyiapkan tindakan pencegahan belalang di toko untuk berjaga-jaga!" 

Onee-san itu adalah salah satu Succubus dari toko yang biasa kukunjungi. 

Sambil gemetaran karena diintimidasi oleh tatapan tajam Aqua yang melotot dari bawah bak preman, si Succubus mencoba berbasa-basi meski tampak sangat ketakutan.

"Kau tahu kan kalau Succubus-san ini bukan orang jahat. Sudah pernah kubilang, kalau kau mencelakai mereka, para petualang pria bakal membuat hidupmu menderita." 

"Karena aku ini setidaknya bagian dari bangsa iblis, aku jadi bingung apakah disebut 'bukan orang jahat' itu sebuah pujian atau bukan.... Anu, apa pelanggan setia dan Aqua-sama sedang jalan-jalan?" 

Succubus itu bertanya dengan senyum yang dipaksakan sambil tetap gemetar.

"Bukan jalan-jalan, tapi pengintaian. Katanya ada Satanis yang datang ke kota ini. Orang yang memuja makhluk sepert iblis, hama yang kerjanya menyesap emosi negatif manusia, mana mungkin orang waras. Sebagai Dewi, aku pergi untuk mengawasi supaya mereka tidak berbuat macam-macam."

"Kami cuma sedang menganggur dan ingin pergi mengejek para Satanis itu. Apa Succubus-san sedang belanja stok?"

Si Succubus yang barusan disebut hama oleh Aqua tampak sedikit tersinggung, senyumnya pun menjadi kaku.

"Iya, karena secara formal toko kami itu adalah sebuah kafe. Jadi aku datang membeli bahan makanan selagi matahari masih tinggi dan terang. Soalnya..."

Setelah menoleh ke sana-kemari dengan waspada, dia mengecilkan suaranya.

"Belakangan ini, sepertinya ada pria-pria yang tidak pernah kulihat sebelumnya mulai mengendus-endus di sekitar toko kami, mungkin karena mereka penasaran. Meski toko kami berada di bawah perlindungan Vanir-sama, tapi aku merasa tidak enak jika harus merepotkan Beliau terus..."

"Hah?"

"Suaramu menakutkan, Kazuma-san. Kalau kau tidak mau aku menangis, tolong berhenti mendadak pasang nada bicara galak begitu".

Bukan bermaksud menakuti si Succubus, tapi nada suaraku memang otomatis menurun karena kesal.

"Mau bagaimana lagi. Munculnya pelanggan penguntit di toko Succubus-san itu bukan cuma sekadar masalah besar, istilah 'gawat' saja rasanya masih terlalu lembut untuk menggambarkan situasinya."

"T-tidak, belum pasti kalau mereka itu penguntit..."

Dia bilang begitu, tapi ini kan toko yang isinya cuma pelayan-pelayan cantik dan seksi.

Bahkan aku saja punya penggemar semacam Onee-san penguntit, jadi aneh rasanya kalau tidak ada penguntit yang mengincar para Succubus-san.

"Ngomong-ngomong, aku dengar belakangan ini banyak petualang berandalan yang mengungsi dari kota garis depan. Orang-orang semacam itu pasti tidak tahu toko Succubus-san itu tempat apa. Kalau Succubus-san minta tolong sekali saja pada para petualang langganan, mereka pasti dengan senang hati membereskan orang-orang itu.... Atau begini saja, bagaimana kalau kau coba memikat orang-orang yang berkeliaran itu untuk jadi pelanggan?"

"Wah, seperti dugaan dari pelanggan setia! Benar juga ya, kalau dipikir-pikir, mau itu penguntit atau orang mencurigakan, mereka tetaplah laki-laki! Malah mereka itu ibarat kamonegi yang datang sendiri menghampiri kita!"

Aku dan Succubus-san saling melakukan high-five dengan penuh semangat.

"Sekadar peringatan saja, kalau kalian menyedap energi mereka sampai mengancam nyawa, aku bakal melenyapkan toko kalian beserta isinya." 

Mendengar kata-kata Aqua yang seperti guyuran air es itu, Succubus-san langsung terdiam kaku.

"K-kalau begitu, pelanggan setia, Aqua-sama. Karena aku masih di tengah belanja, aku permisi dulu. Aku akan memakai saran dari pelanggan setia. Biasanya kami hanya memberikan layanan mimpi dan tidak pernah memikat pelanggan secara fisik langsung di jalan.... Tapi sesekali, aku akan menunjukkan keseriusan seorang Succubus!"

"Aku juga mau dong merasakan dipikat begitu."

Aku benar-benar penasaran seperti apa godaan serius seorang Succubus yang menggunakan fisiknya. Aku terus melambaikan tangan berkali-kali melepas kepergian Succubus-san yang membungkuk pamit.

"Aku yang pintar ini sudah belajar sesuatu. Mulai sekarang, kalau Kazuma memarahiku, aku tinggal kabur dan sembunyi di toko anak-anak itu saja, kan?"

"Kalau kau sampai berani menginjakkan kaki ke toko itu, kau bakal dikira datang untuk membasmi iblis dan bakal diusir paksa oleh para pelanggan tetap, tahu?"

 

Bagian 4

Malam harinya.

"Ngomong-ngomong, Chris pergi berkelana untuk mencari imannya kembali. Dia mengirim surat yang isinya bilang dia baru akan pulang kalau aku sudah kembali menjadi penganut Eris. Sudah kubilang berkali-kali, seingatku aku tidak pernah pindah agama..."

Selesai makan malam, Darkness memberitahu kami seolah baru teringat sesuatu. 

Sepertinya Chris merajuk karena Darkness mulai terpengaruh ajaran Axis.

Darkness menceritakannya seperti obrolan biasa, tapi Chris juga bisa dibilang salah satu korban dari keributan para Satanis ini. 

Rasanya tidak aneh jika selanjutnya salah satu dari kami yang akan menjadi korban....

 

──Tidak, kalau dipikir-pikir, yang jadi korban di sini adalah para Satanis. Mereka terus-terusan diserang secara tidak adil padahal belum melakukan apa-apa, dan sekarang malah dituduh macam-macam.

"Apa-apaan ini.... Kalau Chris yang sudah jadi Anggota Kehormatan Ajaran Axis pun sampai jadi korban, tidak ada pilihan lain selain mengobarkan Perang Suci. Makanya Kazuma, buatkan strategi yang mantap buat mengusir para Satanis itu!"

"Ogah, aku tidak mau terlibat dalam keributan konyol begini."

Lagipula, sebenarnya aku sendiri tidak paham apa salah para Satanis itu. 

Kalau bicara khusus di kota ini saja, iblis itu sudah biasa buka toko atau sekadar jalan-jalan santai di sekitar sini. 

Malah aku dengar ada wilayah di mana iblis diberi gelar kebangsawanan dan menjabat jadi penguasa setempat.

"Apakah mereka benar-benar datang ke sini untuk berbuat jahat? Sebenarnya di antara Klan Penyihir Merah pun banyak yang menjadi Satanis. Kami dan iblis itu bisa dibilang punya kecocokan yang lumayan. Lagi pula, nama klan kami saja mengandung huruf kanji 'Iblis' (Ma), dan Klan Penyihir Merah sudah menjadi pengikut kegelapan sejak zaman kuno.".

Sejak kapan kalian jadi pengikut kegelapan? Bukannya Klan Penyihir Merah itu baru saja "diciptakan" belum lama ini?

"Megumin mulai ngomong ngawur lagi ya. Sini, biar aku si cantik ini yang memberitahumu soal iblis.... Adu duh duh duh! Ampun Megumin, aku minta maaf sudah memanggilmu ngawur! Aku menyesal, jadi lepaskan pipiku!"

Aqua meringis sambil mengelus pipinya yang baru saja ditarik Megumin.

"Dengar ya? Kejadian buruk di dunia ini, hampir semuanya itu gara-gara Raja Iblis dan anak buahnya. Lihat, mangkuk teh favoritku ini ada sedikit retakan, kan? Ini juga sudah pasti ulah iblis. Karena mereka memuja eksistensi sejahat itu, mereka pasti sedang merencanakan hal buruk!"

Mangkukmu retak itu karena Darkness salah menakar tenaga pas sedang mengambilkanmu nasi, tahu.

Di saat Darkness tampak gelisah dan sulit mengakui hal itu, aku menghabiskan tehku lalu berdiri.

"Aku akan pergi melihat situasi sebentar. Kalau bicara soal Satanis, aktivitas utama mereka pasti di malam hari. Untuk pengintaian malam, lebih baik aku pergi sendiri karena aku punya skill Lurking dan Farsight."

"Tadi katanya tidak mau, tapi ujung-ujungnya kau tetap membantu juga ya, Kazuma-san!" 

Suasana hati Aqua langsung membaik, dan dia berkata dengan suara riang.

"Meski kurasa tidak akan terjadi apa-apa di tengah kota... tapi Kazuma, berhati-hatilah, ya?" 

"Karena sudah berkali-kali diserang, sepertinya para Satanis itu sering berpindah-pindah markas. Meskipun kau bilang mau mengintai, apa kau tahu di mana mereka berada?" 

Menghadapi kecemasan mereka berdua, aku memasang senyum penuh percaya diri.

"Tenang saja. Aku punya firasat ke mana mereka akan pergi──"

 

"──Selamat datang~! Saat ini kami sedang ada promo member baru, jadi harganya lebih murah dari biasanya~! ...Ah! Bukankah ini Pelanggan Setia, halo yang tadi siang!"

Aku sudah sampai di lokasi yang kurasa akan didatangi para Satanis, Kediaman Iblis.

Kalian mungkin akan protes dan bilang, "Bukannya ini cuma toko Succubus?", tapi aku tidak berbohong sedikit pun.

"Succubus-san, halo yang tadi siang. Bagaimana kondisi tokonya?"

"Itu dia, aku sudah mencoba memikat para petualang pria yang berkeliaran itu tanpa membongkar identitas asli kami, tapi.... Mereka malah curiga dan bilang hal-hal seperti, 'Melihat level gadis-gadis di sini, tidak mungkin harganya semurah ini!', atau 'Bohong, ini sih merusak harga pasar!', sampai 'Aku dengar di kota ini tidak ada toko begituan!'. Padahal kami tidak jago bertarung, jadi kurasa level kami tidak setinggi itu..."

Begitu ya, mereka mengira ini penipuan tarif atau jebakan honey trap.

"Mungkin mereka salah paham soal maksud kata 'level'. Maksud mereka, standar kecantikan Succubus-san itu terlalu tinggi, jadi tidak masuk akal kalau harganya semurah ini."

"Aduh, Pelanggan Setia jago banget ya kalau merayu! Karena para pendatang baru itu malah waspada, bagaimana kalau Pelanggan Setia saja yang mampir? Malam ini masih ada slot reservasi yang kosong, lho!"

Sambil berkata begitu, Succubus-san memeluk lenganku dan menempelkan sesuatu yang terasa sangat lembut.

Para petualang yang baru pulang dari garis depan itu menolak rayuan seperti ini? Mental baja mereka benar-benar keterlaluan.

"Kalau begitu, aku ingin meminta agar Kakak saja yang muncul di mimpiku malam ini. Eh, apa ini termasuk pelecehan seksual?"

"Tidak kok, bagi kami ini adalah candaan Succubus yang sudah klasik."

Aku dan Succubus-san pun masuk ke dalam toko dengan akrab sambil bercanda ria.

 

──Satu jam kemudian.

"Terima kasih atas reservasinya~! Kalau begitu, pastikan malam ini tidur lebih awal, ya!"

"Siap, aku akan segera cari penginapan seperti biasa, lalu mandi bersih dan menunggumu."

Setelah selesai mengisi formulir survei, aku pun diantar keluar oleh Succubus-san.

"Ahaha, karena ini di dalam mimpi, tidak perlu mandi bersih-bersih segala, lho?"

"Tidak bisa begitu, ini namanya etiket seorang pria sejati."

Setelah tertawa bersama sejenak, aku pun meninggalkan Kediaman Iblis itu dengan perasaan riang gembira.

...Tapi, bagaimana ya soal masalah para petualang garis depan itu? 

Berbeda dengan petualang Axel yang tertib, mereka itu benar-benar tipe orang kasar yang liar. 

Kalau mereka tidak bisa meluapkan hasrat di toko Succubus, cepat atau lambat mereka pasti akan berbuat ulah.

"Apa sebaiknya kutangkap saja salah satu dari mereka dan kujelaskan sistem 'Dewa' di toko itu? Kalau mereka tahu alasan kenapa harganya bisa miring, mereka pasti tidak akan waspada lagi. Tapi, apa boleh aku memberitahukannya sembarangan padahal aku tidak tahu mereka orang macam apa..."

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu yang krusial.

 

"Kalau pelanggannya bertambah, nanti aku jadi susah reservasi!"

 

Hampir saja. Benar-benar untung aku tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Ya, soal keamanan kota, biarlah Pak Polisi yang menjaganya.

Setelah memutuskan untuk berhenti berpikir keras, aku melangkah menuju gang yang sepi. 

Aku sengaja menjadikan penginapan di gang terpencil yang jarang dilewati orang sebagai langganan, agar para Succubus-san yang sedang bekerja tidak mudah ketahuan.

Sepertinya banyak petualang yang punya pikiran sama denganku. Meski bukan penginapan kelas atas, tempat ini selalu ramai pengunjung. 

Sampai-sampai pemilik penginapannya sendiri heran, kenapa penginapan sekuno ini bisa laku keras....

Aku berniat menyewa kamar di penginapan incaranku itu, namun saat berbelok di gang──

"Kami memohon dan memanggilmu! Kami memohon dan memanggilmu! Wahai Iblis, jawablah seruan kami!"

Sontak aku mengaktifkan skill Lurking dan menyembunyikan keberadaanku di dalam kegelapan.

Tepat di depanku, beberapa pria berkerudung sedang melakukan ritual yang mencurigakan. 

Kenapa juga aku harus menemukan mereka di saat seperti ini? Keberuntunganku ini sebenarnya bagus atau buruk sih, aku benar-benar tidak paham.

Lagipula, meski tempat ini sepi, lakukanlah di hutan atau ruang bawah tanah sana. 

Petualang lain juga sering lewat sini. Apa yang akan kalian lakukan kalau yang menemukan kalian bukan aku?

"Gagal lagi...! Kenapa? Kenapa dia tidak menjawab seruan kita!?"

"Padahal dia pasti ada di kota ini, tapi apa yang kurang untuk memanggilnya!? Sial, apa kita harus mengumpulkan informasi lebih banyak lagi..."

Woi, aku ini mau tidur buat melihat mimpi seksi dan memulihkan diri, berhenti bicara hal-hal yang sok bermakna begitu....

"Demi tujuan luhur kita, kita tidak bisa lagi pilih-pilih cara. Bagaimanapun caranya, kita harus mengumpulkan informasi tentang Beliau!"

"Benar. Jika orang-orang tahu apa keinginan kita, pasti akan ada yang bersimpati. Ayo berangkat──!"

Apaan sih "tujuan luhur"? Kalau yang kalian maksud "Beliau" itu Vanir, sekarang dia paling lagi kerja paruh waktu di Guild Petualang. 

Aku tidak mau dengar urusan berbahaya begini. Tak akan ada yang bersimpati pada keinginan kalian....

Ah sial, tapi karena sudah terlanjur tahu, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Lagipula, aku punya firasat kalau dibiarkan, aku bakal kena sial di level yang belum pernah ada sebelumnya.

Si Vanir itu bilang semuanya bakal baik-baik saja, tapi aku lebih memercayai instingku sendiri, insting yang sudah terasah tajam gara-gara keseringan mengalami nasib buruk.

Satanis sialan, tidak bisa dimaafkan! Ternyata kalian memang hama pengganggu seperti yang dibilang orang-orang──!

 

(──Permisiii...)

Bersamaan dengan bisikan yang sopan itu, jendela yang kuncinya sudah dibuka pun mengayun pelan. 

Di bawah cahaya bulan yang terang benderang karena langit yang cerah tanpa awan, Succubus-san menyelinap masuk ke dalam kamar.

"Sudah kutunggu-tunggu, Succubus-san. Selamat malam."

"Hah!?"

Sepertinya dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat jawaban. 

Terdengar suara Succubus-san yang terperanjat sambil menahan napas karena terkejut.

"Pelanggan Setia, jangan bangun dong! Padahal aku sudah berniat memberikan mimpi yang jauh lebih spesial dari biasanya!"

"Serius!? Aduh maaf, aku bakal tidur sekarang juga... Tidak, bukan itu. Sebenarnya, ini berat banget buat kukatakan, tapi sekarang bukan waktunya buat melihat mimpi seksi."

Mendengar keluhanku yang penuh penyesalan itu, wajah Succubus-san memucat, bahkan di bawah remang cahaya bulan pun terlihat jelas.

"Pelanggan Setia merasa ini bukan waktunya melihat mimpi seksi!? Ada apa? Apa ada buronan kelas kakap yang datang lagi!? Atau dunia mau kiamat!?"

TN Yomi Novel: wkwk sasuga kazuma

"Kemungkinan dunia kiamat sih ada, tapi biar kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi──"

 

Begitu aku menjelaskan situasinya dari awal, Succubus-san langsung melotot sampai bagian putih matanya kelihatan, lalu mulai gemetaran sambil mulutnya berbusa.

 

"Ba... ba-ba-ba, memanggil Vanir-sama!? Beraninya mereka mencoba memanggil Vanir-sama!? Apa para Satanis itu sudah tidak waras!?"

"Kata Vanir sih, biarpun dia terpanggil, dia nggak bakal mau menyetujui kontraknya jadi tidak masalah."

Aku mencoba menenangkannya, tapi sepertinya perkataanku malah memberikan efek sebaliknya bagi Succubus-san.

"MANA MUNGKIN NGGAK MASALAH, BODOHHHHHH! Vanir-sama! Dipanggil! Oleh Satanis antah-berantah yang baru muncul! Benar-benar keterlaluan!"

Succubus-san yang kondisinya sudah mengenaskan itu berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. 

Aku mengeluarkan segenggam tanah dari kantongku dan menyodorkannya padanya.

"Ini, segenggam tanah yang merupakan bagian tubuh Vanir. Waktu itu aku memungutnya saat Aqua dan Vanir sedang berantem dan menyimpannya buat jaga-jaga."

"Terima kasih banyak, terima kasih banyak, terima kasih banyak! Ini akan kujadikan harta karun keluarga, tapi ini tidak sopan lho! Lain kali tolong kembalikan langsung pada Vanir-sama, ya!"

Sepertinya potongan tubuh Vanir yang kusimpan buat jaga-jaga, siapa tahu bisa dipakai transaksi kalau bertemu Satanis, sudah cukup untuk mengembalikan kesadaran Succubus-san.

"Vanir-san sendiri sepertinya menganggap ini urusan orang lain, dan aku sempat berpikir mungkin aku saja yang terlalu cemas. Tapi karena aku punya firasat yang sangat buruk, makanya aku memberitahumu, Succubus-san."

"Keputusan Pelanggan Setia sangatlah tepat. Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi bencana besar." 

Succubus-san dengan wajah serius sembari mengelus-elus serpihan tubuh Vanir ke pipinya. Ia menatapku lekat-lekat dan melanjutkan.

"Ini gawat. Yang paling gawat adalah ketidakpedulian Vanir-sama sendiri terhadap fakta bahwa Beliau akan dipanggil. Para Satanis itu jantan, kan? Kalau sampai ada betina yang mencoba memanggil Vanir-sama, aku bersumpah akan menghabisi mereka meski harus siap dilenyapkan oleh Aqua-sama sekalipun."

"Yang ada di sana tadi sepertinya semuanya laki-laki, sih.... Tapi memangnya kenapa kalau yang memanggilnya perempuan? Maksudku, bukankah iblis kelas atas seperti Vanir itu pada dasarnya tidak punya jenis kelamin?"

Setahuku, berbeda dengan iblis kelas rendah seperti Succubus, iblis kelas atas adalah eksistensi yang melampaui gender maupun bentuk fisik. 

Jadi, tidak seharusnya dia merasa cemburu pada wanita manusia, tapi....

"Bagi kami para Succubus yang mewakili iblis berwujud wanita, rasa kekalahannya akan luar biasa menyesakkan. Kalau dipanggil oleh jantan sih masih mending, tapi kalau Vanir-sama sampai dipanggil oleh betina antah-berantah...! Seluruh nyawa cadangan para Succubus akan lenyap seketika karena shock. Kalau itu sampai terjadi, layanan Succubus kami bisa gulung tikar!"

"Tenanglah, Succubus-san. Aku akan mencegah pemanggilan Vanir bagaimanapun caranya. Kalau toko itu sampai hilang, aku tidak tahu lagi untuk apa aku hidup di dunia ini."

Firasat burukku benar-benar tepat sasaran. Kalau toko itu lenyap, keamanan dan ketertiban di kota Axel pun pasti akan runtuh!

Seolah merasakan keseriusanku, Succubus-san menyelipkan serpihan tubuh Vanir ke belahan dadanya dengan takzim. Ia mengangguk berat dengan wajah yang amat serius.

"Aku akan menerbitkan Kartu VIP toko kami khusus untuk Pelanggan Setia. Nantikanlah mimpi yang luar biasa spektakuler."

"Rasanya sekarang aku sanggup mengalahkan Raja Iblis sekalipun. Serahkan sisanya padaku. Sebagai permulaan, aku harus mengamankan produk baru yang akan dijual oleh Wiz."

Mendengar kata-kataku yang gagah, Succubus-san menatapku seolah sedang melihat seorang pahlawan....

Namun tiba-tiba, ia tersadar dan memiringkan kepalanya dengan heran.

"Produk baru Wiz-san? Memangnya produk seperti apa itu?"

"Buku panduan strategi yang merangkum segala hal tentang Vanir. Kalau tidak salah judulnya 『Penjelasan Tuntas Iblis yang Melihat Segalanya ~Catatan Harian Vanir-san~』. Saat ini Wiz pasti sedang sibuk menulis tangan buku itu satu per satu untuk diproduksi massal."

──Pemandangan Succubus-san yang hancur seketika itu benar-benar terlalu mengenaskan untuk dilihat.




Bagian 5

Keesokan paginya.

Tanpa pulang ke rumah besar, aku langsung menuju toko sihir sebelum jam buka. Di sana, aku menjelaskan rentetan kejadian semalam kepada Vanir yang sedang menyapu toko.

"Sepertinya informasi soal produk baru itu terlalu merangsang baginya, Succubus-san sampai terlalu bersemangat dan kehilangan nyawa cadangannya. Padahal kau bilang bakal baik-baik saja, tapi nyatanya ini sama sekali tidak 'baik-baik' saja."

"Mendengar lu bicara begitu, diriku hanya bisa merasa bingung.... Kejadian di mana manusia memanggil Iblis Agung itu baru saja terjadi belum lama ini. Temanku yang bernama Maxwell salah satunya, sekarang dia sedang baik-baik saja di neraka. Jadi, ini bukan sesuatu yang perlu dirisaukan..."

Vanir memiringkan kepalanya seolah tidak mengerti, tapi nama iblis "Maxwell" itu rasanya pernah kudengar di Bumi.

Seingatku ada teori chuunibyou yang bilang kalau untuk membunuh Iblis Maxwell, kita harus menghapus ingatan si iblis, atau semacam itulah.

──Ah, pembicaraannya jadi melantur.

"Jangan malah santai begitu, urus itu antrean di depan! Benar-benar mengganggu jalan, apalagi ini masih pagi, jadi mencolok sekali."

"Tapi, mau bagaimana pun mereka itu pelanggan.... Lagipula, meski sudah kuberitahu kalau ikut mengantre pun belum tentu bisa dapat bukunya, mereka tetap tidak mau beranjak sedikit pun."

Di ujung pandanganku dan Vanir, terlihat para Succubus-san yang membawa uang sebanyak mungkin, sedang mengantre dengan mata yang tampak haus darah.

"Dulu waktu koleksi fotomu dijual, antreannya juga seheboh ini, kan. Sebenarnya ada apa? Memangnya kau sepopuler itu di kalangan iblis?"

Sangat menyebalkan untuk mengakuinya, tapi sama seperti kami para petualang pria yang lemah terhadap Succubus, para Succubus pun lemah terhadap Vanir.

Dan Vanir yang seperti itu sangat takut pada hobi foya-foya Wiz, sementara pemilik Aqua sang musuh bebuyutan Wiz adalah aku. Entah bagaimana, keseimbangan kekuatan yang sangat rumit ini bisa terbentuk.

"Diriku tidak berniat menyebut diri sendiri populer, tapi memang ada permintaan yang sangat mendesak agar koleksi foto itu dicetak ulang. Katanya, sering terjadi kasus di mana iblis yang berhasil mendapatkan koleksi foto diriku malah diancam oleh iblis kelas atas lainnya."

"Aku pernah melihat koleksi fotomu itu, tapi isinya cuma foto topeng di setiap halaman, aku benar-benar tidak paham. Apanya yang menarik bagi para iblis dari sisi belakang topengmu itu?"

Bahkan bagi para Succubus yang punya ketahanan tinggi terhadap hal-hal mesum sekalipun, koleksi foto Vanir konon terlalu merangsang sampai bisa mengurangi nyawa cadangan mereka.

Aku pernah melihatnya karena penasaran, tapi isinya cuma foto topeng yang tergeletak sendirian di tengah tempat tidur, atau topeng di atas meja; semuanya benar-benar sulit kupahami.

"Itu artinya masih terlalu dini bagi umat manusia yang baru lahir untuk memahaminya. Terlepas dari itu, kenapa para Satanis itu belum muncul juga? Kalau begini terus, bukunya bakal habis diborong oleh para Succubus."

Di saat Vanir mengerang gelisah sambil berjalan mondar-mandir di dalam toko, aku menunjuk ke arah antrean agar dia tetap tenang.

"Kau itu eksistensi yang berbahaya kalau sampai dipanggil, jadi masuk sana ke dalam toko. Terus, kenapa kau malah kelihatan agak bersemangat begitu? Succubus-san itu sedang mengantre demi memborong buku strateginya supaya kau tidak bisa dipanggil orang lain, tahu. Lihat deh, wajah para Succubus yang berbaris itu. Kau bisa merasakan tekad mereka untuk melindungimu, kan?"

"Di mata diriku, mereka cuma kelihatan seperti orang-orang yang dikuasai ketamakan dan ingin mendapatkan barang incarannya bagaimanapun caranya."

Tepat pada saat itulah....

"Aaaah! Ternyata kau ada di tempat seperti ini, ya!"

Dengan suara cempreng yang berisik sejak pagi buta, Aqua muncul di toko.

"Antrean apa-apaan ini? Aku mencarimu dari pagi tahu, gara-gara kau nggak pulang-pulang!"

"Semalam aku memergoki para Satanis yang gagal melakukan ritual pemanggilan iblis. Yah, setelah itu terjadi banyak hal..."

Aku merasa agak malu karena dia mengkhawatirkanku, jadi aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku senang kau mencariku, tapi di mana Megumin dan Darkness? Apa kalian bertiga berpencar untuk mencariku?"

Mungkin karena saking khawatirnya padaku, Aqua bahkan tidak sempat merapikan rambut bantalnya dan tidak berusaha menutupi wajahnya yang masih mengantuk──

"Kalau mereka berdua, setelah menyeret dan membangunkanku paksa, mereka langsung melesat keluar rumah. Gara-gara itu aku belum sempat sarapan."

"……Begitu ya. Aku tanya sekali lagi, kau benar-benar ke sini untuk mencariku, kan?"

Tanpa menjawab pertanyaanku, Aqua malah berteriak ke arah bagian dalam toko.

"Wiiiz! Aku lapar, bisa beri aku sesuatu untuk dimakan tidak?"

"Boleh saja, kebetulan aku baru mau membuat sarapan. Kazuma-san mau sekalian?"

"Anu, kalau begitu aku juga.... Oi Aqua, kau benar-benar mencariku kan? Jangan bilang kau ke sini cuma buat numpang makan."

 

──Tiba-tiba, suasana di luar toko menjadi riuh.

 

Para Succubus-san tampak gempar dan mulai heboh. Ya, para Satanis yang kulihat semalam akhirnya menampakkan diri──

Mendengar keributan itu, Vanir yang tidak bisa menahan rasa penasarannya pun melangkah keluar. Kami mengikutinya ke luar, dan di sana terlihat para Succubus-san yang sedang berkonfrontasi dengan para Satanis.

"Tolong mundur, Vanir-sama! Biar saya yang membereskan orang-orang kurang ajar ini sekarang juga!"

"Kalau kau mulai bicara hal-hal berbahaya begitu, bakal kuhajar pakai Sacred Highness Exorcism."

Mendengar ancaman Aqua, Succubus-san yang tadinya sudah pasang aksi rela mati langsung terdiam ciut.

Salah satu Satanis berlutut, suaranya bergetar saat ia menengadah ke langit.

"Ooooh, ooooh...! Ternyata Anda ada di tempat seperti ini...! Benar, rumor bahwa Anda ada di kota ini memang tidak salah!"

"Ketemu! Akhirnya ketemu juga! Sosok yang sungguh agung...! Bahkan jauh lebih mempesona daripada legenda yang kudengar!"

Melihat gelagat para Satanis yang sudah tidak normal itu, para Succubus-san maju ke depan demi melindungi Vanir yang ada di belakang mereka.

Di antara para Satanis, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata karena saking terharunya. Begitu ya, di mataku dia cuma kelihatan seperti bapak-bapak bertopeng yang pakai celemek, tapi bagi mereka, dia adalah Iblis Agung legendaris yang harus disembah.

Di hadapan para Satanis yang bersujud di tengah jalan itu, Vanir membelah kerumunan Succubus, lalu melangkah maju sambil tertawa terbahak-bahak.

"Fuhahaha! Fuhahahahah! Fuhahahahahaha! Belakangan ini penduduk kota benar-benar sudah meremehkanku sampai diriku hampir lupa, tapi benar, inilah sosok yang seharusnya!"

Vanir melemparkan celemeknya, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Bayangan tubuh besar sang Iblis Agung itu pun menyelimuti para Satanis yang sedang bersujud.

"Sungguh menyenangkan! Ah, sudah berapa lama ya sejak terakhir kali diriku bermandikan tatapan penuh kengerian dari manusia, bukannya tatapan pemujaan membosankan dari para iblis kelas rendah ini...!"

Vanir yang biasanya selalu bersikap santai, sepertinya menyimpan stres yang lumayan banyak gara-gara ulah si pemilik toko parasit itu. Sekarang, dia benar-benar terlihat sangat bersemangat.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Vanir melangkah maju satu demi satu ke arah para Satanis.

"Nah, apakah kalian menginginkan kekuatan terlarangku yang dibenci dunia karena saking dahsyatnya ini? Jika iya, tunjukkan bayaran yang bisa kalian berikan! Pujilah sejarah yang telah kulalui dan pencapaian yang telah kukumpulkan, lalu laksanakan ritual pemanggilannya! Serukan namaku bersama dengan permohonan kalian, wahai para Satanis!"

"Oi Aqua, Vanir mulai ngomong mirip Megumin begitu, apa tidak apa-apa!? Jangan-jangan dia lagi kegirangan karena akhirnya dapat jatah tampil sebagai Iblis Agung setelah sekian lama!?"

"Yah, begitulah.... Soal gaya bicaranya sih, aku ingin bilang kalau dia itu cuma tiruan Megumin alias 'Pachimin', tapi soal kekuatan terlarang yang dibenci dunia itu memang fakta, jadi sulit untuk memberinya nilai."

Siapa juga yang suruh kasih nilai!

Seiring dengan meningkatnya tensi Vanir, para Succubus di sekitarnya mulai memancarkan hawa membunuh. Kalau saja Aqua tidak ada di sini, mereka pasti sudah menerjang para Satanis itu sekarang juga.

Aku berseru memanggil Wiz yang sedang sibuk mempersiapkan pembukaan toko.

"Wiz! Vanir kelihatannya tipe yang bakal langsung setuju kontrak kalau disodori bayaran dalam jumlah besar, apa ini bakal baik-baik saja!? Kau beneran bisa menahan Vanir agar tetap di sini, kan!?"

"Eh!? T-tunggu sebentar, Vanir-san! Kau tidak akan mencampakkanku, kan!? Kau tidak mungkin meninggalkanku dan pergi ke majikan baru, kan!?"

Sambil mendekap erat produk baru berupa buku panduan strategi itu, Wiz melesat keluar dari toko.

Salah satu Satanis berteriak kencang.

"Bayaran yang bisa kami berikan? Bayaran, katamu!? Tentu saja, segalanya!"

Mendengar tawaran royal yang di luar dugaan itu, sudut bibir Vanir membentuk lengkungan senyum.

"Benar! Demi terkabulnya keinginan luhur kami, apa pun akan kami berikan! Ibuku yang statusnya ibu rumah tangga tapi malasnya minta ampun sampai-sampai cuma menyajikan lauk matang beli di pasar pun bakal kuserahkan!"

"Ayahku yang pemabuk dan pengangguran juga bakal kuberikan! Begitu besarnya keinginan yang ingin kami wujudkan!"

Para Satanis lainnya mulai bersahut-seruan, bahkan berniat menumbalkan keluarga tercinta mereka sendiri.... Nggak, tunggu, ini gawat, semangat Vanir jelas-jelas langsung anjlok drastis.

Lalu, salah satu Satanis menengadah menatap Vanir.

"Lagipula dari tadi, Anda ini sebenarnya siapa, sih? Berdiri di situ cuma bikin sosok Succubus-sama yang agung jadi tidak kelihatan, tahu."

……Suasana seketika menjadi sunyi senyap, termasuk para Succubus-san yang tadi sudah memancarkan hawa membunuh.

Entah kenapa, tatapan para Succubus-san kini tertuju padaku. Merasa didorong oleh rasa kewajiban yang misterius, aku pun bertanya pada pria itu.

"Bukannya kalian datang ke Axel untuk memanggil Iblis yang Melihat Segalanya? Datang jauh-jauh ke sini untuk memanggil Iblis Agung Vanir yang pernah menjabat Jenderal Pasukan Raja Iblis demi mengabulkan permohonan kalian. ……Dan hari ini kalian datang untuk membeli produk baru, kan……?"

Tatapanku tertuju pada buku yang didekap erat oleh Wiz. Namun, para Satanis itu bahkan tidak melirik buku tersebut, mereka malah memasang ekspresi melongo.

"Apaan sih, Iblis Melihat-Segala-Apa tadi itu? Kami tidak kenal iblis minor begitu. Yang kami kejar adalah Succubus-sama."

"Oi, jangan samakan kami semua! Faksi Iblis Kecil Lilim juga ada di sini!"

"Apa faksi Medusa itu dianggap sesat? Menurutku Medusa-san yang tidak berani menatap mata karena takut mengubah orang yang disukainya jadi batu itu punya daya tarik tersendiri, lho."

"Bukan iblis sih, tapi Vampir-san juga oke. Kalau bicara soal rupawan, Vampir-san juaranya. Yah, tapi kalau soal penampilan luar, memang tidak ada yang bisa mengalahkan Succubus-sama, sih."

Di tengah para Satanis yang mulai meracaukan selera masing-masing, aku berusaha tetap tenang sambil berkata...

"……Jadi maksudmu, tujuan kalian datang ke kota ini adalah untuk memanggil Succubus-san? Semalam aku tidak sengaja melihat kalian, bukannya kalian berteriak soal 'tujuan luhur' dan 'keinginan yang bakal memicu simpati' atau semacamnya?"

"Ah, jadi kau mendengarnya ya, keinginan luhur kami. Yah, begitulah. Kami ingin memanggil Succubus-sama.... Bukan lewat mimpi, tapi agar beliau mau melayani kami secara nyata..."

"Itu sungguh luhur... EH BUKAN, Succubus-san itu eksistensi paling agung di dunia ini karena mereka memberikan mimpi yang menyimpan kemungkinan tak terbatas, tahu! Ini sama saja dengan aturan 'dilarang menyentuh penari'. Itu pelanggaran tata krama yang berat!"

Aku yang sempat hampir setuju, langsung buru-buru memutar balik opiniku begitu menyadari tatapan tajam para Succubus-san. Para Satanis itu menatapku sambil berbisik, "Apa dia kawan?", "Apa dia sekutu?". 

Jangan asal menganggapku teman!

Maksudku, tenang. Aku harus tetap tenang. Kalau sampai ada satu saja pemicu di sini, aku pasti tidak akan kuat menahannya.

 

──Namun, harapan hampa itu sirna. Di tengah keheningan total seluruh iblis yang ada di sana, Aqua akhirnya mencapai batasnya.

 

"Pfftt—! Ahahahaha! Ahahahahahahahahaha! Padahal sudah koar-koar soal krisis dunia segala! Padahal sudah bilang hal-hal sok bermakna seperti 'Diriku dalam bahaya kalau informasi ini bocor'! Ha—! Ahuhuhu ahahahaha! Ternyata tujuan para Satanis ini cuma Succubus kelas rendah! Ahahahaha! Ahahahaha! Aduh sakiit perutku!"

Melihat Aqua yang sampai berguling-guling tertawa di tanah tanpa peduli bajunya kotor, aku dan Wiz pun langsung ambruk lemas.

"Buhahahaha! tidak kuat, ini lucu banget! Ahahahaha! Ahahahaha! Aku sudah tidak tahu lagi gimana caranya membereskan kekacauan ini! Ahahahaha!"

"Mmmph—! Mmmph—!!"

Aku dan Aqua tertawa terpingkal-pingkal sampai air mata keluar, sementara hanya Wiz yang berusaha mati-matian menahan tawa dengan menggigit lengannya sendiri agar tidak meledak.

Ilustrasi Hitam Putih Wiz dan Vanir di Konosuba Yorimichi 4 Bab 3
Situsasi Awkward Vanir

Melihat kondisi Wiz, Aqua sambil terengah-engah karena tertawa meletakkan tangan di pundaknya.

"W-Wiz, menyerah saja dan tertawalah! Jangan pikirkan soal nasib buruk yang mungkin menimpamu nanti, pikirkan saja cara menikmati tawa saat ini! Ahahahaha! M-mungkin hal selucu ini tidak akan terjadi dua kali dalam hidupmu! 'Apaan sih, Iblis Melihat-Segala-Apa tadi itu?', katanya! Pfft—!"

"MMMMMMMMMMMMMMMPH──!!"

Bahu Wiz dicengkeram dan digoyang-goyangkan oleh Aqua. Demi menahan tawa, Wiz bahkan sampai menancapkan kuku ke lengannya sendiri.

"Va, Vanir-sama! Itu... bukankah hasilnya malah bagus? Tidak mungkin eksistensi seperti Anda bisa dipanggil oleh manusia rendahan! Apalagi kami akan menghabiskan seluruh uang kami untuk memborong produk baru ini! Bisa dibilang, hari ini adalah acara penjualan langsung untuk layanan penggemar!"

"Be-benar, tolong berikan! Aku mau beli tiga eksemplar buku baru Vanir-sama!"

"Dengar ya, para Satanis yang bahkan tidak sanggup memanggil kami saja sudah lancang sekali berani memasukkan Vanir-sama ke dalam jarak pandang kalian, pergi sana!"

"Kalian jangan pernah datang ke toko sihir ini lagi! Dan sekalian, kalian dilarang masuk ke toko kami juga! Syuh, syuh!"

Melihat reaksi para Succubus, para Satanis itu akhirnya menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan fatal.

"T-tunggu sebentar, Succubus-sama! Tolong, tolonglah!"

"A-anu, Tuan... Hanir si Iblis Melihat-Segala-Apa tadi ya? Karena Anda bisa melihat segalanya, Anda pasti jago meramal, kan? Semalam waktu aku mabuk dan melepas baju, sepertinya aku kehilangan sebelah kaos kakiku.... Bisa minta tolong dicari?"

"Ah! Kalau begitu, aku minta tolong cari keberadaan Pero, hewan peliharaanku yang kabur dari rumah!"

"Kalau begitu, tolong cari keberadaan ibuku yang kabur bawa laki-laki lain!"

Satu per satu para Satanis itu meneriakkan permohonan mereka.

"──Pfffttt! Khhhkkk!"

Melihat pemandangan itu, Aqua sampai benar-benar kehilangan napas karena terlalu banyak tertawa. Sementara Wiz sudah tersungkur ke tanah, hanya bisa gemetaran hebat tanpa sanggup mengeluarkan suara sedikit pun.

Menatap Vanir yang sejak tadi mematung tak bergerak, seorang Succubus Loli, yang sepertinya benar-benar tidak punya niat buruk, memberikan semangat dengan senyum polosnya:

"Tenang saja, Vanir-sama! Orang-orang ini sepertinya tidak ada yang mengenal Vanir-sama! Dengan begini, Kau tidak perlu khawatir akan dipanggil oleh mereka, kan!"

 

Dan kemudian, Vanir pergi berkelana.

« Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya »

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar