Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 2 - Seratus Kisah Cinta
Kejadiannya pada suatu pagi di awal April, saat sinar matahari terasa hangat namun belum begitu menyengat...
"Ah, Taa-kun, selamat pagi~"
"Hikari? Tumben, kamu masih sepagi ini."
Pemandangan itu terjadi di stasiun terdekat kami… stasiun milikku, Shirasaka Hikari, dan teman masa kecilku, Taa-kun.
Di peron nomor satu yang mulai dipadati orang-orang saat jam sibuk pagi hari, tepatnya di depan gerbong nomor tiga pintu kedua, aku menemukan sosok teman masa kecilku itu.
"Enak saja, kamu sendiri juga naik kereta jam segini, kan~"
"Tapi kan rumahmu jauh lebih dekat. Harusnya kamu masih bisa santai-santai meski telat 30 menit juga."
Dia benar. Seharusnya aku tidak perlu naik kereta sepagi ini.
Soalnya, sekolahku hanya berjarak dua stasiun dari sini, cuma 5 menit naik kereta ditambah 5 menit jalan kaki.
Sementara dia harus menempuh lebih dari 10 stasiun, lalu masih harus mendaki tanjakan terjal selama 15 menit menuju sekolahnya yang berada di daerah pelosok... maksudku, sekolah yang dikelilingi alam yang asri.
Makanya, biasanya jam kami berangkat dari rumah itu berbeda jauh. Tapi terkadang... ah, tidak, biasanya seminggu sekali pasti ada hari di mana kami "kebetulan" bertemu di stasiun seperti ini.
"Sebenarnya pagi ini ada kuis, jadi aku sudah janji mau pinjam catatan teman sebelum bel masuk, nih~"
"Waktu SMP padahal kamu nggak belajar pun nilainya selalu teratas, sekarang kamu sudah mulai malas, ya."
"Berisik."
Oke, soal kuis itu tentu saja bohong, maafkan aku.
Lagipula, akulah si penyusup yang sebenarnya sudah sampai di stasiun sejak 15 menit lalu, bersembunyi di balik pilar sampai melihatnya melewati gerbang karcis, lalu dengan lihai memutar ke belakangnya untuk menyapa.
Eh? Apa kamu mau bilang, 『Ngapain repot-repot nunggu di stasiun, kan bisa sapa pas keluar rumah atau jemput saja sekalian ke rumahnya, kan tetanggaan?』
Yah, perkataanmu memang masuk akal, sih... Tapi kalau aku melakukan itu, perasaanku bisa-bisa langsung ketahuan, dong?
Selama ini kami terbiasa bersikap biasa saja tanpa ada baper-baperan, kalau tiba-tiba atmosfer di antara kami jadi canggung dan aku jadi tidak bisa main ke rumahnya lagi dengan santai, siapa yang mau tanggung jawab? Aku nggak mau, ya!
Tapi di sisi lain, aku juga tidak mau berhenti melakukan kebohongan ini.
Habisnya, kalau tidak bisa bertemu dan mengobrol dengan cowok yang kusukai di awal hari, itu bakal sangat memengaruhi mood-ku sepanjang hari, tahu!
Jadi, tolong maklumi saja siasat seminggu sekali ini.
...Yah, meski begitu, aku sudah mulai kehabisan bahan alasan.
Sejak naik ke kelas dua, hampir setiap minggu aku terus berbohong soal tugas piketlah, latihan festival olahraga-lah. Padahal kalau dipikir-pikir, aku juga ogah sekolah di tempat yang kegiatan siswanya begitu sering menyita waktu pagi yang berharga... Eh, bukan itu maksudku.
Tadi aku mau ngomong apa, ya? ...Ah, sudahlah.
"Masih saja ramai ya~"
"Yah, namanya juga jam sibuk~."
Di dalam gerbong pada pagi hari di hari kerja, suasananya seperti biasa; penuh sesak.
Di tengah situasi itu, meski terombang-ambing oleh gelombang penumpang, aku mengambil posisi favoritku... gerbong nomor tiga, bersandar di sisi kanan pintu kedua dari depan.
Dengan begini, punggungku tidak akan tersentuh orang lain, dan di depanku...
"Duh, Taa-kun, berhenti mainan ponselnya, dong. Sempit tahu~"
"Eeeh? Tapi aku belum ambil login bonus..."
Dia berdiri tepat di hadapanku, seolah sedang melindungiku dari desakan penumpang lain.
...Iya, iya, aku akui ini memang agak bumbu imajinasi.
Tapi karena posisi ini adalah tempat yang biasa dia ambil, kalau aku merebutnya duluan, dia terpaksa harus berdiri tepat di depan mataku.
Nah, lihat kan? Dari sudut pandang orang luar, jadilah pemandangan 『seorang cowok pemberani yang mencoba melindungi pacar tercintanya dari tangan-tangan jahil cowok lain』.
Bahkan meski dia hanya menganggapku teman masa kecil biasa, dia bukan tipe orang yang akan menjaga jarak atau membelakangi teman masa kecil yang baru saja menyapanya dan naik ke gerbong yang sama. Lagipula, tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu.
Karena itulah, aku memanfaatkan kebaikannya (atau lebih tepatnya, ketidakpekaannya) untuk mendapatkan posisi jarak dekat yang bahkan sampai bisa merasakan embusan napas satu sama lain.
"......Hmm~"
"Kenapa, Hikari?"
"Aku cuma merasa nggak ada yang berubah drastis dari wajah Taa-kun."
"Apa itu harus banget dipastikan sekarang?"
Wajah yang terlihat agak mengantuk, wajah yang di setiap jenjang kelas biasanya punya penilaian rata-rata antara peringkat 'atas-menengah' sampai 'bawah-atas'.
Bukan tipe yang populer luar biasa, tapi selalu ada satu atau dua orang penggemar rahasia di kelasnya.
Meski aku mendongak menatap wajah cowok yang paling kusukai ini dari jarak sedekat ini, aku tetap tidak bisa menemukan perbedaan antara dia yang sekarang dengan dia yang beberapa bulan lalu, saat perasaanku belum sedalam ini.
"Ah, tapi sepertinya kamu makin tinggi, ya?"
"Hehe, naik lima senti dalam setahun terakhir, lho."
Memang benar, sudut pandangku saat mendongak sekarang sudah berubah. Leherku jadi sedikit lebih cepat pegal dibanding dulu.
Tapi selain itu, wajahnya masih tetap sama, wajah yang sudah kulihat selama 10 tahun sampai rasanya bosan.
Namun, kenapa ya? Kenapa sekarang aku jadi bisa terus-menerus menatapnya tanpa henti?
Tidak membosankan, tapi juga tidak membuatku tenang.
Ada campuran sedikit rasa tegang, sedikit kegembiraan, dan sedikit rasa lega; sebuah pemandangan yang jadi alarm bangun pagi paling ampuh.
Dan juga...
"Sudah sampai, lho. Stasiunmu, Hikari."
"......Iya."
Dan juga, sebuah pemandangan yang terasa tidak cukup jika hanya dinikmati selama dua stasiun.
"Berangkat dulu ya~"
"Oke, sampai ketemu di rumah nanti~"
Waktu bonus di pagi hari yang kudapatkan dengan segala perhitungan dan rencana matang itu, hari ini pun berakhir tepat dalam 5 menit.
Dia melambaikan tangannya seperti biasa.
Dan aku pun membalasnya dengan cara yang “secara lahiriah” terlihat biasa saja.
"Kalau begitu... dadah."
Lalu bersamaan dengan bel keberangkatan, pintu kereta dan pintu peron menutup, menciptakan sekat ganda di antara kami berdua.
Disusul suara klakson, deru mesin kereta, dan gesekan rel yang menjauh, sosoknya pun menghilang dari pandanganku.
...Yah, kalau dari sudut pandang dia sih, begitu pintu tertutup, tatapannya sudah tidak lagi tertuju ke sini, melainkan langsung balik ke ponselnya.
Tapi, sampai di sini saja aku sudah merasa aman. Secara fisik, selama dia tidak bisa melihatku, aku tidak perlu khawatir lagi.
"Haaaaaaaaaaaaaaah~"
Sekarang, aku bisa memasang wajah tidak puas sepuasnya.
Aku bisa mengembuskan napas tanda kecewa.
Aku bisa mengekspresikan seluruh tubuhku kalau aku merasa kesepian, ingin mengobrol lebih banyak lagi, dan tidak sabar menunggu sampai nanti malam.
Tanpa kusadari, sudah ada antrean orang di belakangku yang sedang berdiri mematung di peron.
Aku bergeser sedikit ke samping, berputar balik, lalu mulai melangkah menuju gerbang keluar.
Nah, sekarang saatnya bangun dari mimpi dan kembali ke realitas... walau tidak sedramatis itu juga, sih.
Ini adalah awal dari waktu yang tidak kelabu sama sekali, waktu yang lumayan menyenangkan.
Hari baru saja dimulai, dan masih banyak hal yang harus kulakukan.
Mengobrol tidak jelas dengan teman-teman, belajar dengan serius, dan melewati berbagai pengalaman lainnya.
Lalu, semua kejadian menyenangkan itu akan kutumpahkan padanya saat dia pulang sekolah nanti.
Seperti biasa, aku akan bercerita padanya dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa, mengobrolkan hari-hari yang biasa saja secara perlahan.
Sambil membaca manga. Sambil mengutak-atik ponsel. Sambil berkumpul di meja makan. Sambil menonton TV.
Di depan pintu rumah. Di pinggir jalan. Di depan pintu rumahku.
Lalu, aku akan gemetaran karena harus berpisah di penghujung hari—sebuah rasa yang jauh lebih menyesakkan daripada rasa kesepianku saat ini.
Sambil menghabiskan sepanjang malam untuk memikirkan, "Gimana ya caranya menyapa dia besok?"
※ ※ ※
"......Begitulah ceritanya!"
"Hmm......"
"Oalah~ syukur deh kalau gitu~"
"......Lho?"
Kejadian ini, di waktu yang sebenarnya, terjadi pada malam akhir pekan di pengujung April, tepat sebelum Golden Week dimulai. Waktu di mana pikiran semua orang sedang benar-benar rileks.
Kisah tentang teman masa kecilku yang menyesakkan sekaligus memalukan ini baru saja selesai kupaparkan di dalam sebuah boks karaoke, tempat aku dan ketiga temanku mampir saat pulang sekolah.
Bagi manusia, tempat itu bisa dibilang lingkungan yang sangat mendukung untuk membongkar rahasia; sebuah ruang tertutup yang penuh dengan euforia.
......Seharusnya begitu. Tapi kok, respons teman-temanku ini hambar banget, ya?
"Anu, ya, Hikarin? Kami tuh sebenarnya nggak lagi nyari episode bagus yang dalem atau menyentuh kayak gitu, lho~"
"Kan Yuki sendiri yang bilang supaya aku ceritain semuanya tanpa sisa! Duh!"
Gadis tipe "Kamu kenapa? Sini cerita sama aku" yang menyembunyikan sifat asli liciknya di balik nada bicara manis ini adalah Hirai Yuki.
Dia selalu bereaksi berlebihan pada urusan asmara orang lain, dan setiap kali melihat celah, dia akan langsung mencoba memaksa mereka buka mulut. Bagi diriku yang sekarang, dia adalah musuh bebuyutan.
Lagipula, pertemuan tidak jelas bertajuk 『Seratus Kisah Cinta Hikarin (Tanpa Pergantian Pembicara)』 ini pun rencananya dia. Biasanya, rasa maluku tidak serendah itu sampai mau setuju ikut acara jahat begini.
......Tapi, kesalahan terbesarku adalah waktu kami bertengkar kecil akhir tahun lalu. Aku dimaafkan dengan syarat harus 『menuruti satu permintaan apa pun』, dan inilah hasilnya.
"Intinya begini, Hikari. Kami tuh butuh stimulasi. Kami berharap ada episode di level kamu akhirnya nembak dia secara frontal, atau malah kalian melompati semua proses itu dan kamu dipojokkan sama dia, atau semacamnya."
"......Bisa nggak kata-katanya agak disaring sedikit, Haru?"
Nah, yang ini, gadis tipe 『Atletis dengan Komentar Kejam』 yang bicaranya kasar meski tanpa niat jahat, adalah Ichigaya Haruhi. Panggilannya "Haru".
Dulu, waktu aku memanggilnya dengan nama aslinya, Haruhi, dia langsung marah dan bilang, 『Kalau panggil pakai nama itu lagi, kita putus teman』. Jadi, aku harus berhati-hati saat memanggilnya. Padahal itu nama yang bagus, ya. Apa sih yang nggak dia suka?
"Oke, kalau gitu lanjut ke cerita berikutnya~ ayo lanjut~"
"Kali ini, tolong dong episode yang nggak mengkhianati ekspektasi kami. Entah yang bikin dada berdebar-debar, atau episode panas yang bikin bagian tubuh lain kegatalan."
"Eeeh? Duh, aku kan juga malu tahu menceritakannya~!"
※ ※ ※
Kali ini, kejadiannya sekitar seminggu setelah cerita sebelumnya...
Di sebuah pagi yang damai, dengan suhu udara siang dan malam yang terasa pas, benar-benar perwujudan nyata dari pepatah "Tidur di musim semi membuat kita lupa waktu fajar"...
"Ta-Taa-kun... Ayo bangun?"
"Nnggh... sebentar..."
Lokasinya: Kamar sang teman masa kecil.
Waktunya: Sedikit lewat jam tujuh pagi di hari kerja.
“Kalau kamu nggak bangun, kamu akan telat lho”
“Lima menit lagi… sedikit lagi…”
Artinya, saat itu aku adalah 'gadis yang datang untuk membangunkan teman masa kecilnya yang kesiangan'—kasta manusia yang terpilih oleh Tuhan.
Eh, biar kuceritakan apa yang terjadi sekitar 10 menit sebelum momen itu, ya?
Hari itu, tepat saat aku hendak berangkat sekolah, Ibu menitipkan sesuatu padaku. 『Ini, tolong bawakan ke sebelah』 katanya, memberiku makanan untuk dibagikan.
Dengan langkah yang (setidaknya di permukaan) terlihat ogah-ogahan, aku membukakan pintu depan rumah sebelah. Di lorong, Bibi—ibunya Taa-kun—sedang berada di tengah-tengah aksi berteriak ke arah lantai dua, 『Hei! Mau tidur sampai kapan, sih!?』
Bibi yang sedang dikepung kesibukan pagi yang kacau balau itu langsung melihatku. 『Kebetulan sekali ada Hikari-chan! Anak itu nggak bangun-bangun! Tolong bangunkan dia, ya!』 Tanpa ba-bi-bu, beliau melemparkan tugas berat itu padaku dan langsung melipir kembali ke dapur.
Kalau dipikir secara logis, itu adalah permintaan yang cukup tidak masuk akal. Tapi, mana mungkin aku bisa menolak permintaan 『Ibu kedua-ku』 yang sudah menjamuku makan malam lebih dari separuh hari dalam seminggu?
Begitulah ceritanya sampai akhirnya aku berdiri mematung di depan tempat tidurnya, menatap dia yang sedang tidur nyenyak, seperti yang kukatakan tadi.
"..................!! Fuwaaaaah!?"
Tunggu, sebentar, ini nggak apa-apa!? Ini kan adegan ranjang!?
Oke, meski itu cuma salah paham, tapi ini kan situasi klasik heroine teman masa kecil di bishoujo game!?
Biasanya, teman masa kecil yang melakukan hal begini itu sudah punya flag yang tegak berdiri, tahu! Entah biasanya mereka bersikap dingin, atau malah menganggap si cowok sebagai adik, kasusnya bisa beda-beda, tapi satu hal yang pasti: mereka itu sangat mencintai si tokoh utama!
......Iya, poin itu memang sama. Aku nggak bisa membantah.
"Na-na-nah, sekarang..."
Gemetar karena takut sekarang pun tidak akan menyelesaikan masalah.
Pokoknya, ini adalah permintaan tulus dari Bibi sebelah rumah yang sangat berjasa padaku, jadi aku harus melakukannya dengan benar, lancar, dan sempurna.
Ya, mari kita pinggirkan dulu pertanyaan seperti, 『Apa Bibi itu punya kekuatan super sampai bisa membaca keinginan terpendam orang lain?』
O-oke, kalau begitu... mari kita tunjukkan cara membangunkan dia dengan benar, lancar, dan sempurna!
『Eii! Bangun gaaaak!?』
『Uwah!? Dingin!』
『Lihat, cuacanya cerah banget, lho! Cepetan bang-uuuuun!』
『He-hentikan! Hikari! Balikin selimutkuuuu!』
"......Hmm."
Bukan. Bukan begitu.
Itu sih gaya 'teman masa kecil tipe pengurus' yang ada di cerita-cerita.
Datang membangunkan sudah jadi makanan sehari-hari. Bahkan sampai membuatkan sarapan, berangkat ke sekolah yang sama, dan meski tidak diucapkan, sebenarnya dia sangat mencintai sang protagonis...
Iya, kalau kasusku, semuanya tidak cocok kecuali bagian yang terakhir.
Jadi, aku tidak bisa menyerang dengan situasi ini.
Alih-alih kedinginan karena selimutnya ditarik, dia pasti bakal kena flu karena syok melihat perbedaan drastis dengan diriku yang biasanya.
Kalau begitu... gimana kalau yang ini...?
『Hei, bangun dong? Taa-kun.』
『Zzz... zzz...』
『Kalau nggak bangun...』
『Nngh...?』
『...Bakal aku cium, lho?』
"Fuaaaaakh...!?"
Aku malah mengeluarkan suara aneh dan keringat dingin!?
Nggak boleh, ini nggak boleh. Dialog begini terlalu memalukan untuk diucapkan. Harusnya aku langsung bertindak tanpa suara saja... eh, bukan itu maksudnya!
Lagipula, itu kan gaya 'teman masa kecil tipe yang sudah jadian'!
Yang sudah lama ditembak, Dia adalah seorang gadis yang sudah menerima pernyataan cinta, yang hubungannya secara resmi diakui di seluruh sekolah, yang menghabiskan sepanjang hari bersama protagonis, dan yang terus-menerus melontarkan omong kosong yang merupakan campuran pertengkaran sepasang kekasih dan rayuan, seperti 『Hei, berhenti menempel padaku!』 『Tapi...!』, yang mengganggu semua orang di sekitarnya, dan tentu saja, dia sangat tergila-gila pada protagonis.
......Iya, lagi-lagi kecuali bagian terakhir, nggak ada yang cocok!
Ini gawat. Aku memang tidak boleh berpikir berdasarkan situasi fiktif duluan.
Seharusnya aku mendefinisikan dulu, sebenarnya 『tipe teman masa kecil yang seperti apa』 aku ini? Baru setelah itu aku menyusun rencana serangan.
...Tapi kalau dipikir-pikir, 『tipe teman masa kecil-ku』 ini apa, ya?
Belum jadian, boro-boro berangkat bareng, sekolah saja beda. Tidak dianggap sebagai cewek olehnya, tapi di sisi lain, tidak ditolak juga.
Kalau dipaksakan, mungkin tipeku ini, Teman Masa Kecil Angin Lalu. Kedengarannya agak menyedihkan, tapi sebutan itu memang yang paling cocok.
Ngomong-ngomong, sebenarnya aku sangat menyukai teman masa kecilku ini. Ya, bagian itu tidak akan goyah.
Kalau di posisi seperti itu, berarti...
『Zzzzz...』
『Nngh, nngh...?』
『Zzz... zzz...』
『Lho, Hikari...?』
『Hng? Ah, Taa-kun, selamat pagi~』
『Heh, kamu malah tidur di kasurku lagi...』
『Habisnya, pas aku mau bangunin, Taa-kun tidurnya kelihatan nyenyak banget, sih.』
"U-um... kalau ini sih..."
Meski rasanya agak sedikit error dalam hal batasan jarak (sedikit?), yah, kurasa ini yang paling masuk akal.
Tapi kalau begini, hal yang lebih penting daripada percakapan adalah bagaimana caranya aku masuk ke situasi awal itu.
Masalahnya, untuk bisa menyelinap ke tempat tidurnya, pertama-tama aku harus mengangkat selimutnya dan mengamankan ruang untukku masuk.
Kalau begitu, otomatis ada risiko dia terbangun karena kedinginan akibat udara luar yang masuk lewat celah selimut.
“Huaaa... lho? Hikari, ngapain kamu di sini?”
“Ah, maaf Taa-kun, aku lagi mikir sebentar, jadi jangan ajak ngomong dulu.”
Satu-satunya cara menghindari itu hanyalah dengan kecepatan.
Begitu selimut diangkat, tubuhku harus meluncur masuk lebih cepat daripada udara yang menyelinap.
Lalu, suhu tubuhku harus menetralisir udara dingin itu agar dia tidak merasakan perubahan suhu.
...Tapi, kalau saking terburu-burunya aku malah terlalu menempel padanya, jantungku tidak akan kuat.
Suhu tubuhku harus tersampaikan, tapi detak jantung dan embusan napasku jangan sampai ketahuan. Takaran jarak yang super tipis itu sangatlah krusial.
“Hei Hikari, aku mau ganti baju, jadi tetaplah menghadap ke sana, ya~”
“Kan sudah dibilang jangan ajak ngomong.”
Ah, tapi di kesempatan emas yang hanya sekali seumur hidup ini, apa boleh aku terlalu peduli pada hal-hal kecil seperti kecepatan atau jarak?
Bukankah hal terpenting sekarang adalah membuat Taa-kun menyadari keberadaanku?
Bukankah kecelakaan kecil pun, jika diingat-ingat nanti, akan menjadi sebuah event kenangan yang konyol tapi berharga?
Oke, aku sudah putuskan...
Ayo hadapi saja apa pun yang terjadi. Aku akan menerjang sekuat tenaga.
Akan kuangkat selimutnya tinggi-tinggi, lalu aku akan menyelinap masuk ke kasurnya dengan mantap. Kalau dia sampai terbangun, aku tinggal pura-pura tidur nyenyak saja untuk menutupinya!
"......Jadi, dari tadi kamu ngapain, sih?"
"Hm, aku lagi simulasi berbagai macam situasi di dalam kepala supaya bisa menghadapi segala kondisi..."
"He~ repot juga ya. Kalau gitu aku turun dulu mau sarapan."
Sip, simulasi selesai!
Ayo kita praktik—
Lalu aku...
Menghabiskan waktu cukup lama setelah itu, berguling-guling sendirian di atas tempat tidur yang sudah kosong karena menahan malu yang luar biasa.
※ ※ ※
"G-gimana...?"
"......Sori, aku jadi ilfeel."
"......Asli, parah banget."
"Heii, kok gitu!?"
Setelah trik 'mengadang di stasiun' tadi kurang mendapat sambutan, aku pun mengeluarkan kartu as berupa "cerita paling relatable tentang teman masa kecil" yang kupunya. Tapi, reaksi para audiens justru jutaan kali lebih datar dan melongo dari yang kubayangkan.
"Gimana ya, Hikarin... Kayaknya kami nggak sejahat itu sampai bisa menikmati fantasi delusional kamu yang miris banget ini~"
"Bukannya kami minta stimulasi yang begini... Eh, serius, kamu sampai segitunya? Kayaknya ini terlalu 'nonjok' deh, maksudku..."
"Kalian berdua jahat banget, sih!?"
Apa-apaan ini? Aku sudah dipaksa membongkar rahasia dan dipermalukan, tapi sekarang mereka malah ilfeel dan mempermalukan aku dua kali lipat!?
"Makanya Hikarin, nggak ada apa cerita yang hubungannya beneran maju gitu? Mau yang polos atau yang 'nggak bener' juga terserah, deh."
"Bener tuh, Hikari. Pertemuan ini sudah berjalan empat bulan. Kamu harusnya sudah... yah, aku nggak minta sampai ciuman atau lebih sih, tapi minimal janji kencan atau apa gitu, pasti ada kan!"
"Justru karena nggak ada, makanya aku lari ke cerita khayalan begini!"
"Tuh kan, kamu sendiri ngaku kalau itu pelarian..."
"Aduh, denyut nadinya makin lemah, nih..."
Yuki dan Haru gantian menguliti harga diriku habis-habisan sedari tadi.
Asli, ini sudah bisa dibilang level pelecehan dalam obrolan asmara (koi-bana harassment), tahu!
"......Kalian berdua, kayaknya itu keterlaluan, deh?"
"Ah..."
"Eh...?"
"Aya-chan...?"
Tiba-tiba...
Orang keempat yang duduk tepat di depanku “posisi paling jauh” dan sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara untuk pertama kalinya.
"Yuki, Haru, Hikari kan sudah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya buat cerita, jangan kalian injak-injak gitu, dong. Kan kalian sendiri yang maksa dia cerita?"
"E-eh, anu..."
"Ah, nggak, maksudku..."
"Aya-chan..."
Ya, dia adalah Aya-chan... Sudou Ayami.
Meskipun ekspresinya sedikit kelam, tatapannya agak tajam, dan cara bicaranya terkadang menusuk, tapi sebenarnya dia gadis yang baik dan penuh perhatian.
Yuki maupun Haru selalu memperlakukanku seperti remah-remah, tapi mereka sepertinya sangat segan terhadap Aya-chan. Padahal kalau denganku, mereka tetap saja memperlakukanku seperti remah-remah.
"Iya, padahal Hikari sudah susah payah cerita soal... fantasi... platonis... itu... pffft."
"......Aya-chan?"
Tepat saat aku hendak menatap Aya-chan dengan tatapan penuh rasa terima kasih dan haru karena sudah membelaku...
"Pffft... buhahaha!"
"Bentar...?"
"S-sori, nggak tahan... pffft... ku-ku-ku... Ahahahaha! Apaan sih situasi misterius begitu! Kamu tuh kayak anak SMP cowok tahu, Hikari!"
"Uwaaaaa~! Itu ucapan paling kasar sejauh ini~!"
Di depan mataku, dia menyemburkan cola yang sedang diminumnya dan tertawa terbahak-bahak.
Heii! Terus tampang 'pahlawan kesiapan' tadi itu buat apa!
Shirasaka Hikari, 16 tahun...
Ya ampun, apa teman-temanku semuanya memang nggak ada yang beres?
......Yah, berkat insiden super tidak sopan itu, hukuman "Seratus Kisah Cinta" yang dibebankan padaku akhirnya resmi dibubarkan.
Setelah itu, sebagai tanda permintaan maaf, ketiga temanku dijatuhi hukuman baru: antara harus menceritakan kisah cinta mereka sendiri atau minta maaf dengan sungguh-sungguh padaku.
Lalu Yuki dan Haru, setelah puas memprovokasi orang lain, malah tega-teganya sampai bersujud (dogeza) demi minta maaf.
Waktu aku memaki balik, 『Kalian nggak punya satu atau dua cerita cinta pun, hah!?』, mereka malah merengek sambil bilang, 『Kami nggak punya kata-kata untuk membantah~!』. Apa itu membuat perasaanku lega? Ya tidak mungkin lah, dasar kalian jagoan kandang!
Dan hanya Aya-chan yang bilang, 『Kalau begitu kan Hikari jadi rugi sendiri』, lalu dia menjadi satu-satunya yang menceritakan kisah cintanya (atau lebih tepatnya, sejarah petualangan cintanya).
Kami bertiga, termasuk aku, langsung ilfeel berat.
......Berbeda denganku, ceritanya kali ini benar-benar terasa terlalu vulgar dan nyata.
