Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 1 - Sebuah Pemicu Kecil, Remeh, tapi Sangat Berarti
Nah, seperti yang sudah kubilang di awal tadi, aku hanyalah siswi kelas dua SMA biasa yang sedang jatuh cinta pada teman masa kecilnya sendiri.
Tapi, pemicu yang membuatku menyukainya bukan karena hal-hal seperti janji pernikahan di masa kecil, atau karena sudah terbiasa bersama sejak lahir, atau karena sudah memendam perasaan selama bertahun-tahun—pokoknya bukan hal-hal yang biasanya jadi "makanan sehari-hari" di cerita tentang teman masa kecil.
Benar, aku baru mulai melihatnya sebagai seorang cowok itu sebenarnya belum lama ini.
Tepatnya setelah kami masuk SMA dan mulai bersekolah di tempat yang berbeda.
Padahal sebelumnya kami bertemu hampir setiap hari, tapi frekuensi itu mendadak berkurang jadi sekitar seminggu sekali.
Lalu, entah kenapa, setiap kali kami bertemu, dia jadi terasa seperti cowok yang benar-benar berbeda dari yang kukenal dulu.
Lho? Apa dari dulu pola pikirnya sedewasa ini, ya?
Hmm? Kok dia jadi terasa lebih bisa diandalkan daripada biasanya?
Eh, sebentar... sejak kapan dia jadi perhatian banget begini!?
Rasa-rasa asing seperti itu pun perlahan mulai menumpuk satu demi satu.
Dan momen yang mengubah segalanya menjadi perasaan "suka" yang pasti adalah saat malam pergantian tahun di kelas satu SMA... menuju hari pertama di tahun yang baru.
Pemicu itu terasa sangat biasa, remeh, dan terkesan asal-asalan. Namun bagiku, itu adalah sebuah pemicu yang sangat, sangat berarti…
※ ※ ※
"Ayah bodoh! Bodo amat, ah!"
Teriakan yang saking klisenya sampai membuat diriku sendiri pun merasa konyol, disusul suara benturan pintu depan yang kututup sekuat tenaga, menggema di lingkungan sekitar. Saat itu adalah waktu di mana orang-orang baru saja selesai menyantap mi toshikoshi soba, tepat saat acara Kohaku baru saja dimulai.
TN Yomi Novel: Kōhaku adalah acara musik malam tahun baru yang diproduksi NHK Jepang. Acara ini dilangsungkan setahun sekali pada malam 31 Desember, dan disiarkan secara langsung melalui televisi dan radio di Jepang, serta jaringan internasional NHK dan televisi kabel.
Meskipun saat itu adalah waktu di mana persentase keharmonisan keluarga biasanya mencapai titik tertinggi dalam setahun (menurutku, sih), tapi ada alasan kenapa aku sampai mengumpat pada keluargaku dan kabur dari rumah...
Yah, bukannya alasan itu nggak bisa diceritakan ke orang lain, sih.
Nggak dalam-dalam banget juga alasannya.
Ta-tapi pokoknya, ada berbagai kesalahpahaman dan percekcokan yang menumpuk, menjadikannya sebuah situasi yang cukup rumit!
『Coba deh ajak teman masa kecilmu itu buat pergi Ninen-mairi bareng~』
TN Yomi Novel: Ninen-mairi itu kunjungan kuil tahun baru
Awal mula kesialan ini adalah saat sore tadi, ketika aku sedang melakukan panggilan grup dengan teman-temanku untuk merayakan hitung mundur tahun baru (yang akhirnya malah gagal total).
Di sana, aku bertengkar cukup hebat dengan salah satu temanku, Hirai Yuki, dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari obrolan itu sendirian.
Padahal masalahnya sepele, tapi aku kesal pada Yuki yang terus-menerus mendesakku, dan aku juga kesal pada diriku sendiri yang malah jadi keras kepala gara-gara masalah sepele itu.
Duh, mereka bener-bener makin rese saja belakangan ini!
Padahal aku sudah bilang kalau aku nggak punya perasaan apa-apa!
Sudah kubilang juga kalau aku sama sekali nggak menganggap dia lebih dari teman!
...Apalagi menganggap dia sebagai cowok!
"Lho? Hikari...?"
"Uaa..."
Sial, aku memilih tempat yang salah buat menghentak-hentakkan kaki sendirian.
Harusnya aku jangan berhenti tepat setelah keluar dari rumah.
Habisnya, depan rumahku itu kan... ya depan rumah teman masa kecilku sendiri.
"...Kabur dari rumah?"
"Begitulah~"
Malahan, aku sedang sial karena berpapasan dengan teman masa kecilku ini—Takamura Yuu, atau biasa kupanggil Taa-kun—yang sedang menjinjing kantong kresek minimarket. Aku tidak bisa kabur begitu saja, tidak bisa berkelit soal alasanku keluyuran malam-malam, dan akhirnya aku malah membiarkan dia mengikutiku karena dia merasa khawatir.
Dan sekarang, di sebuah restoran keluarga yang berjarak lima menit jalan kaki dari rumah, kami berdua duduk berhadapan sambil menyantap parfait.
"...Kamu lagi ngapain sih, Taa-kun?"
"Yah, anggap saja lagi memastikan status keselamatanmu."
Maksudku, yang lagi asyik makan parfait itu kan cuma aku.
Sedangkan dia, dia malah sibuk mengeluarkan ponsel dan mulai memotretku yang lagi makan—sebuah tindakan yang benar-benar tidak sopan.
"Nanti kukirim ke Ibuku, ya. Biar dia bisa kasih tahu Ibumu kalau kamu baik-baik saja."
Setelah berhasil menangkap sosokku di kamera, meski aku sudah memasang wajah sangat masam sambil memalingkan muka, dia langsung mengutak-atik ponselnya, sepertinya benar-benar mengirim foto itu.
...Yah, karena kami sudah terbiasa melakukan hal seperti ini sejak kecil, aku paling cuma bisa cemberut tanpa benar-benar memprotesnya. Lagipula, aku memang nggak keberatan, sih.
"Biarin saja mereka khawatir. Ayah bener-bener keras kepala, nggak mau ngerti!"
"Kalau soal Om sih terserah, tapi Tante nggak salah apa-apa, kan?"
"T-tapi... Ibu juga salah karena nggak mencoba menghentikan Ayah!"
Yah, secara formalitas aku memang harus terus menggerutu begitu, mengingat suasana hatiku sekarang.
"Jadi, apa? Kamu berantem sama Om gara-gara masalah nilai?"
"Habisnya Ayah parah banget, tahu!? Hasil ujian akhir kan sudah keluar seminggu yang lalu. Tapi kenapa baru sekarang dia mulai cerewet dan bahas-bahas itu lagi!"
"Emangnya nilaimu sejelek itu? Pas ujian akhir kemarin?"
"Yah... peringkat 13. Ini pertama kalinya aku merosot sampai ke angka belasan."
"...Standar kita emang beda level ya dari dulu."
Karena bertepatan dengan malam tahun baru, suasana restoran lumayan ramai. Sayangnya, jumlah pelayan yang ada sepertinya tidak sanggup menangani banyaknya pengunjung, membuat situasi di dalam jadi agak kacau.
"Tapi kan, waktu SMP aku nggak pernah keluar dari tiga besar."
"Sekolahmu kan sekolah unggulan nomor satu di daerah sini... Masa peringkat sepuluh besar saja dimarahi?"
"Yah, sebenarnya bukan soal peringkatnya sih yang bikin dia marah~"
"Maksudnya?"
"Yah, pokoknya begitulah!"
Di tengah kebisingan ini, suara pelan tidak akan terdengar. Sedalam apa pun topik yang kami bicarakan, kami terpaksa harus sedikit berteriak agar suara kami sampai ke satu sama lain. Alhasil, sama sekali tidak ada kesan menyedihkan dalam obrolan ini.
Lagipula, penyebab pertengkaran kali ini memang tidak seserius itu.
Sembari menumpahkan keluh kesah padanya, aku mulai bisa melihat kembali masalahnya dengan kepala dingin.
Benar juga. Ayah sebenarnya tidak marah karena nilaiku merosot.
Masalahnya adalah ketika topik itu muncul, aku malah keceplosan bilang, "Habisnya aku sibuk bantu teman belajar, jadi mau gimana lagi!"
Aku sendiri tidak tahu pasti apa yang membuat nada bicara Ayah meninggi saat itu.
Entah karena dia menganggapku melempar tanggung jawab pada orang lain, atau mengira itu hanya alasan belaka, atau mungkin ada alasan lain yang berbeda.
Yang jelas, begitu kata-kata yang menjadikan temanku sebagai tameng itu keluar dari mulutku, aku sendiri langsung merasa goyah dan malah jadi ngamuk balik.
...Ya, sampai-sampai aku sendiri pun sadar kalau itu murni karena aku merasa bersalah.
"Pokoknya ini semua gara-gara Yuki ngomong yang nggak-nggak!"
"Yuki itu... teman dari geng berempatmu, kan?"
"Iya, si nenek lampir paling licik di grup."
"......Aku sih paham maksudmu, tapi mending jangan bilang begitu di depan orangnya, ya?"
"Bener-bener, deh! Selalu saja dia bahas urusan asmaraku... Eh, nggak jadi, mending kita stop bahas ini."
Niatku ingin mengalihkan pembicaraan demi menutupi rasa bersalahku, dengan mengganti target kekesalanku dari Ayah ke Yuki, malah nyaris membuatku menginjak ranjau darat.
Aku pun segera memutus topiknya.
...Benar juga, masalah "urusan asmara" yang satu ini melibatkan orang lain. Dan orang itu ada tepat di depan mataku sekarang.
"......Kenapa? Mukamu seram banget."
"......Aku cuma baru sadar sesuatu yang menyebalkan."
Kalau dipikir-pikir lagi, alasanku sampai bisa cekcok sama Ayah adalah karena aku habis bertengkar sama Yuki.
Lalu, aku bertengkar sama Yuki karena dia terus-menerus menginterogasiku soal hubunganku dengan Yuu, padahal "nggak ada apa-apa" di antara kami.
Bukankah itu berarti akar dari semua masalah ini adalah teman masa kecil yang sekarang ada tepat di depanku ini...?
Oalah, jadi begitu...
Ternyata yang salah atas semua yang terjadi hari ini adalah Taa-kun yang ada di depanku ini.
Lagipula, alasanku masih "kabur dari rumah" sampai detik ini juga karena dia sok khawatir dan malah mengejarku, kan?
Padahal dasarnya aku bukan tipe orang yang bisa marah lama-lama.
Aku ini tipe yang ceria, sampai-sampai teman-temanku sering mengejekku "si santai" atau "si jenius yang rada lemot".
Makanya, untuk pertengkaran kali ini pun, harusnya amarahku sudah reda hanya dengan keluar sebentar menghirup angin malam selama tiga puluh menit.
Setelah itu, begitu Ayah dan Ibu sudah kembali ke kamar masing-masing dari ruang tamu, aku seharusnya bisa menyelinap pulang ke kamarku sendiri...
Ya, mari kita putuskan kalau kejadian kali ini adalah kesalahan Taa-kun. Sudah fix.
Gara-gara berpapasan dengannya di luar, aku jadi masih berstatus kabur dari rumah. Benar, benar.
Dia yang salah. Taa-kun payah banget.
Duh, gawat juga ya aku belakangan ini, masa cowok kayak begini bisa bikin aku kepikiran?
Pikir lagi, Hikari. Tenang. Jangan terbawa suasana.
Aku sudah tahu semua kelebihan dan kekurangannya sampai ke akar-akarnya.
Dan selama bertahun-tahun ini, aku sama sekali nggak pernah naksir dia.
Sekolah kami pun beda.
Kami nggak bisa barengan setiap hari.
Kalau bertengkar, belum tentu bisa langsung baikan.
Dia ini mungkin bukan "aset" yang menjanjikan, lho...?
"Eh? Taa-kun~, peringkatmu 45 di ujian akhir!? Keren banget!"
"Yah, dipuji sama orang peringkat 13 sih rasanya gimana, ya... Lagipula sekolahku kan cuma SMA negeri kelas menengah."
"Tapi pas SMP dulu peringkatmu kan selalu tiga digit? Berarti kamu beneran berjuang ya pas masuk SMA."
"...Soalnya kalau fokus belajar, aku jadi nggak perlu mikirin hal-hal yang nggak penting."
"? Yah, dari dulu Taa-kun~ emang tipe yang bisa kalau mau usaha, sih."
"Enggak juga, kok."
Tapi ya... Satu-satunya cowok yang bisa diajak ngobrol tanpa bikin aku stres itu... cuma dia, sih.
Memang sih, aku akui sampel cowok yang kukenal itu sedikit banget!
"Ugh, dingin banget!"
"Ya iyalah, sudah jam sebelas lewat."
Mengeluarkan keluh kesah dari mulut, sekaligus menyemburkan racun dalam hati.
Waktu yang terasa bermakna sekaligus sia-sia itu pun berlalu dalam sekejap.
Begitu kami keluar dari restoran keluarga, udara dan pemandangan di depan kami sudah sedikit berubah dibandingkan saat kami masuk tadi.
Meski sudah memakai mantel tebal, dinginnya tengah malam tetap saja menusuk hingga ke tulang.
Namun, terlepas dari jam yang sudah selarut ini, ada gelombang kerumunan orang yang cukup banyak berjalan ke arah yang hampir sama.
Tercipta sebuah atmosfer yang ceria, ramai, dan seolah penuh dengan harapan yang dipancarkan oleh orang-orang itu.
Oalah, kalau jalan terus ke arah sana kan...
"Hei, Hikari... Kamu sudah bisa pulang sekarang, kan?"
Saat aku sedang melamunkan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian hari ini.
Dia yang mungkin salah paham melihat ekspresi melamun aku, malah mengungkit-ungkit masalah tadi lagi.
"Kalau kamu merasa canggung buat minta maaf, aku bakal bantu ikut menundukkan kepala, deh. Kalau kamu malas ketemu wajah mereka untuk sementara, kamu bisa habiskan waktu tahun baru di rumahku juga boleh. Orang tuaku pasti bakal menyambutmu dengan senang hati, kok."
Benar-benar, deh. Dia ini orangnya terlalu lurus, serius, dan nggak bisa baca situasi banget.
Padahal aku berharap dia bisa memberikan respons yang sedikit lebih peka.
Yah, tapi salah juga sih kalau aku mengharapkan hal itu dari teman masa kecil yang sudah kukenal selama sepuluh tahun ini.
Iya, aku adalah orang yang paling paham soal itu.
Taa-kun itu nggak peka!
Dia Payah dalam memahami perasaan cewek!
...Yah, kalau dia peka, dia nggak akan jadi orang kurang kerjaan yang mau-maunya menemani cewek yang bukan pacarnya di malam tahun baru begini, sih.
"Hei, Taa-kun."
"Sudah mau pulang?"
"Belakangan ini, suara dentang lonceng malam tahun baru hampir nggak kedengaran ya sampai ke rumah kita."
"...Hah?"
Karena itu, aku memutuskan untuk tidak usah peduli juga pada perasaannya.
"Katanya sih kalau bunyinya terlalu keras, bakal ada keluhan dari tetangga sekitar. Padahal menurutku, sesekali dalam setahun kita boleh lah merasakan suasana syahdu tanpa perlu pakai logika. Tapi sepertinya nggak semudah itu, ya."
"Anu, Hikari-san...?"
"...Maka dari itu, ayo kita pergi mencari suasana syahdu yang cuma ada setahun sekali itu!"
Aku menunjuk ke arah yang berlawanan dengan rumah kami...
Ke arah di mana gelombang orang-orang itu mengalir.
"Kita pergi Ninen-mairi, yuk?"
Anggap saja ini karena amarahku soal kejadian hari ini belum sepenuhnya reda, ya.
Kalau pulang sekarang, bisa-bisa pertengkarannya meledak lagi.
Bukan karena aku menelan mentah-mentah saran seseorang buat 'mencoba mengajak dia pergi Ninen-mairi', lho ya?
"......Konfirmasi status lagi?"
"Yah, masalahnya ini sudah ganti hari, sekalian ganti tahun juga, kan..."
Kami sampai di kuil lokal dan mengantre beberapa saat.
Begitu akhirnya sampai di depan aula pemujaan, aku melemparkan koin ke kotak derma dan membunyikan lonceng.
Tepat saat aku menepukkan tangan untuk mulai berdoa, kamera ponselnya kembali membidik wajahku—kali ini tepat dari depan.
...Yah, tapi karena aku sedang menutup mata saat berdoa, kurasa keluarganya tetap tidak akan tahu apakah suasana hatiku sudah membaik atau belum.
"Oke, sudah dibaca. Jadi, Hikari, kamu berdoa apa tadi?"
"Aku berdoa supaya kerontokan rambut Ayah makin parah."
"Duh, kalau itu sih..."
Setelah itu, kami pun menikmati kunjungan kuil pertama di awal tahun (Hatsumode) di kuil lokal yang ramainya tanggung ini sampai puas.
...Eh, bukan. Tujuanku ke sini bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk meredakan amarah.
Kami mengambil ramalan omikuji, merasa senang dan sedih bergantian melihat hasilnya, lalu mengikatnya di dahan pohon.
Kami menolak omiki dengan sopan, tapi tetap lahap menyantap cumi kering surume.
Padahal harusnya amarahku belum reda, tapi entah kenapa aku banyak tertawa.
Dia pun, yang harusnya sedang cemas dan kepikiran soal keadaanku, juga banyak tertawa.
"Hei, Taa-kun."
"Hm? Apa?"
"Rasanya sudah lama kita nggak ngobrol sebanyak ini sejak SMP, ya."
"Enggak, deh. Waktu SMP pun kurasa kita nggak pernah ngobrol sebanyak ini."
"Eeh, masa sih!? Nggak mungkin~!"
Hei, Taa-kun...
Rasanya kita jadi seperti sepasang kekasih, ya?
Memang sih, kata "seperti" itu berarti "kenyataannya tidak begitu".
Tetap saja, ini adalah kencan... bukan, perayaan spesial yang hanya bisa dilakukan setahun sekali.
Dan kamu... melakukannya bersamaku?
Benar-benar tidak apa-apa...?
"............"
"............"
Hiruk-pikuk itu pun mereda.
Ah, bukan begitu cara bilangnya.
Kamilah yang melangkah pergi menjauh dari keramaian itu.
Setelah meninggalkan kuil, kami berjalan perlahan, langkah demi langkah menyusuri jalan pulang ke rumah.
Sosok para pengunjung kuil yang tadi begitu ramai berlalu-lalang, kini perlahan menghilang dari pandangan. Tanpa disadari, di sekeliling kami kini hanya tinggal ada kami berdua.
"............"
"............"
Kami melewati jalan besar, memasuki kawasan pemukiman, dan menyusuri gang-gang yang sudah biasa kulewati saat berangkat sekolah.
Taa-kun sesekali mendongak menatap langit malam atau meniup napas ke tangannya yang kedinginan. Dia terlihat seolah tidak terlalu sadar ada seseorang di sampingnya, tapi dengan menyesuaikan kecepatan langkahnya denganku, dia seolah memberitahuku bahwa dia benar-benar sadar kalau aku ada di sana.
"Makasih ya, Taa-kun."
"Buat apa?"
"Itu, lho... soal Ninen-mairi tadi..."
"Waktu SD dulu, keluarga kita berdua sering banget pergi bareng-bareng, ya... Padahal waktu itu aku kayaknya setengah tidur, deh."
"......Iya."
Tanpa kusadari, misi "mustahil" yang dipaksakan temanku, buat pergi Ninen-mairi bareng dia, sudah tercapai.
Sebenarnya, aku berterima kasih bukan cuma soal itu saja.
Aku benar-benar bersyukur dia mau menghabiskan waktu awal tahun ini bersamaku. Apalagi di waktu seperti ini, waktu yang tidak biasa dan "tidak bisa dibilang" baik-baik saja...
Dia tetap berada di sampingku, menemani langkahku...
Dampaknya sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar rasa terima kasih.
Tapi, yah...
"Kalau begitu..."
"Ah, iya..."
Waktu yang terasa sangat menggelitik sekaligus sedikit membuat sesak ini pun harus berakhir saat kami tiba di depan rumah.
Papan nama bertuliskan 『Shirasaka』 dan 『Takamura』.
Dua rumah tipe kopel dengan denah yang hampir identik.
Di sinilah jarak kami yang tadinya kurang dari satu meter, merenggang menjadi lima meter.
Lalu tak lama lagi, dua buah pintu akan memisahkan kami berdua.
Yah, walau sebenarnya jaraknya tidak sampai sepuluh meter, sih.
"Selamat tahun baru, Taa-kun."
"Selamat tahun baru juga, Hikari."
Saat aku melihat ke arah rumah, lampu ruang tamu masih menyala.
Ternyata Ayah dan Ibu masih menungguku...
Meski aku bisa bersamanya sekitar satu jam lebih lama daripada Cinderella...
Tetap saja, sudah saatnya aku kembali ke realitas.
Aku tidak boleh berpikir kalau aku masih ingin bersamanya.
Besok pagi... ah, tidak, waktu makan siang nanti pun kami akan bertemu lagi untuk salam tahun baru.
Jeda yang cuma beberapa jam saja, masa aku nggak bisa tahan? Padahal sekarang kami sudah terbiasa tidak bertemu selama berhari-hari.
Tapi... tapi, ya...
Sama seperti saat-saat di mana aku merasa baik-baik saja meski lama tidak bertemu, ada juga saat-saat seperti sekarang, di mana aku merasa kami tidak boleh berpisah dulu...
"Hikari!"
"Eh?"
Saat pikiranku sedang berputar-putar tidak jelas begitu...
"Gimana kalau sekalian saja kita pergi lihat matahari terbit?"
"...Hah?"
Sosok Yuu yang belakangan ini sering membuatku berpikir, "Eh, sejak kapan dia jadi perhatian banget begini!?", benar-benar muncul di saat yang tepat.
Jadi, malam kami...
Ah, bukan, tahun baru kami sepertinya baru saja dimulai.
"Capek banget, ih~"
"Ya, namanya juga naik gunung."
"Orang semua, di mana-mana orang~"
"Yah, soalnya ini kan tempat terkenal."
Kami menaiki kereta yang hanya beroperasi tengah malam khusus hari ini. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kami akhirnya tiba di stasiun dekat gunung yang terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya.
Di sana, nyaliku nyaris menciut melihat lautan manusia yang punya tujuan sama. Sepanjang mendaki jalan setapak yang berisik dan sama sekali tidak ada suasana romantisnya itu, mulutku tidak berhenti menyemburkan napas lelah, rintihan, dan keluh kesah.
...Yah, meskipun aku tidak bisa menyembunyikan kalau nada bicaraku sebenarnya terdengar sangat bersemangat.
"Tapi ya, keluyuran tengah malam begini, kita benar-benar sudah jadi anak nakal, ya."
"Anak nakal nggak bakal kirim foto ke orang tua buat kasih tahu mereka lagi di mana."
"Ahaha, benar juga, sih."
Bahkan setelah membawa seorang cewek pergi sejauh ini di tengah malam, Taa-kun tetaplah Taa-kun.
Dia sempat-sempatnya mengirim foto pose damai (peace) milikku yang penuh keringat saat mendaki gunung kepada orang tuaku, lalu mendapatkan balasan 'Oke' dari Ibuku yang pesannya berbunyi, "Terima kasih banyak ya, Yuu-kun".
Dia benar-benar menjalankan perannya sebagai cowok sehat yang punya tingkat kepercayaan maksimal di mata orang tuaku.
"Nah, sekitar satu jam lagi matahari terbit, nih... Kira-kira sempat sampai puncak nggak, ya?"
"Kalau sampai nggak sempat, ini salah Taa-kun, ya!"
"Padahal yang bilang mau ke tempat yang paling terkenal itu kan kamu sendiri, Hikari."
Karena itulah, aku merasa sangat tenang dari lubuk hatiku yang terdalam... meski sebenarnya, mungkin aku tidak boleh merasa setenang ini.
Aku terus menatap punggungnya, mantap melangkah menuju puncak gunung.
"Uwaaaaa~!"
"Uwoooooo~!"
Dan, apakah kami berhasil sampai tepat saat matahari terbit atau tidak...
Yah, kurasa kalian bisa menyimpulkannya sendiri dari teriakan heboh kami tadi, kan?
"Hikari, coba berdiri di sebelah sana! Mau kufoto bareng sama mataharinya!"
"Nggak mungkin bisa, orangnya sebanyak ini~!"
Saat ini, kami benar-benar kayak turis udik yang norak.
Kami berubah menjadi sepasang remaja ceria yang seolah-olah memang sudah merencanakan kencan Ninen-mairi dan melihat matahari terbit ini dengan penuh semangat sejak jauh-jauh hari.
『Gimana kalau sekalian saja kita pergi lihat matahari terbit?』
『...Hah?』
『Habisnya, kalau kita pergi sejauh itu, kejadian hari ini kan hitungannya bukan kabur dari rumah lagi, tapi jalan-jalan jauh.』
『...Terus, emangnya kenapa?』
『Nggak, cuma itu saja.』
『............』
Beberapa jam yang lalu, dia melontarkan ajakan yang terdengar seperti alasan yang dipaksakan, mungkin tujuannya untuk mengurangi rasa bersalahku.
Aku sudah punya firasat kalau kata-katanya itu akan sangat menyentuh hatiku... tapi aku tidak menyangka akan sedalam ini.
"Wah~ hebat banget ya, gila, megah banget! Rasanya urusan manusia jadi kelihatan sepele banget kalau dibandingin ini~"
"Sudah, deh, nggak usah mulai..."
Sampai sekarang pun, Taa-kun masih terus mengkhawatirkanku.
Dia pasti berniat untuk tetap berada di sampingku sampai seluruh ganjalan di hatiku luruh sepenuhnya.
"Anu, Taa-kun."
"Iya."
Aku merasa senang. Dan aku pun bangga pada diriku sendiri karena bisa menyadari hal itu.
"Aku... salah memilih kata-kata..."
"Begitu ya..."
Tapi, ada juga sedikit rasa sesal yang tersisa.
"Harusnya, aku mengatakannya dengan jelas pada Ayah."
Habisnya, saat itu...
Perasaannya sudah mendesak ingin keluar.
"Kalau rasa senangku melihat sahabatku naik 50 peringkat... jauh lebih besar daripada rasa sesalku karena turun 5 peringkat...!"
Lebih dari rasa terima kasih, lebih dari rasa kagum...
Saat ini, hanya untuk saat ini, rasa penyesalan itu membuncah, lalu perlahan memudar dan menjadi murni.
"Itu... terdengar sangat mirip dengan dirimu, Hikari."
"H-hik... u-un... hiks..."
Meski suaraku jelas-jelas terdengar berbeda karena mulai terisak, dia tidak memudarkan senyumnya. Dia tetap menghadap ke arahku dan mendengarkan dengan saksama.
Rasanya memang sedikit memalukan, tapi tetap saja, aku merasa bahagia.
Benar... saat itu, aku benar-benar merasa bahagia.
Sahabatku, Aya-chan...
Dia punya alasan pribadi yang membuatnya sempat menjauh dari sekolah. Tapi setelah banyak hal terjadi, dia berjuang mati-matian untuk kembali ke tempat asalnya.
Lalu dengan ekspresi sarkastik seperti biasanya, dan dengan senyum yang sedikit malu-malu, dia berkata padaku:
『Wah, kayaknya semester tiga nanti aku bakal balap nilaimu, Hikari.』
Seandainya saat itu aku bisa menyampaikan perasaanku dengan jujur.
Pasti Ayah akan menanggapinya dengan senyuman.
Dan kalaupun tidak, Ibu pasti sudah mengomeli Ayah habis-habisan.
"Kamu bisa minta maaf pada Om?"
"Iya... hiks."
"Bisa juga minta maaf pada teman yang bertengkar denganmu di telepon tadi?"
"Tentu saja... hiks."
Yah, aku tidak punya pilihan selain meminta maaf sedalam-dalamnya.
Soalnya, aku sudah menyadarinya sekarang. Bahwa ternyata, merekalah yang benar...
Bahwa aku memang sangat mencintai teman masa kecilku ini.
Shirasaka Hikari, beberapa hari lagi akan genap 16 tahun...
Baru saja, aku sudah menemukan tujuan utamaku untuk tahun ini.

