![]() |
| Saranami Vol 1 Bab 4 - Kencan |
Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 4 - Kencan Pertama yang Terus Tergelincir
Dan akhirnya, hari Sabtu di masa Golden Week pun tiba.
"Yo, maaf ya sudah menunggu."
"A-aku nggak nunggu, kok!"
Di stasiun terdekat yang biasa kami gunakan untuk berangkat sekolah.
Pukul 10 pagi di akhir pekan, waktu yang jauh lebih siang dari jam keberangkatan biasanya.
Aku dan dia berhasil menuntaskan misi "janji temu" untuk kencan ini di lokasi tersebut tanpa hambatan berarti.
"Ngomong-ngomong, kita kan tetanggaan, harusnya berangkat bareng saja dari rumah tadi. Kenapa malah repot-repot janjian di stasiun?"
"Itu... anu... kalau berangkat bareng, nanti malah digosipkan keluarga, kan malu..."
"Uwah, tingkat kasih sayangmu rendah banget!"
"Beneran malu, tahu!"
Bukan, alasan malu itu memang ada benarnya, tapi daya tarik utama dari sebuah kencan itu kan ada pada momen janjiannya!
Datang 39 menit lebih awal. Berdiri menunggu dengan jantung berdebar. Merasa sadar diri dengan tatapan orang-orang yang lewat. Berkali-kali menatap jarum jam yang rasanya tidak mau bergerak. Sampai akhirnya mulai merasa waswas sendiri, curiga apakah dia benar-benar akan datang atau tidak.
Namun, begitu dia muncul tepat waktu sambil melambaikan tangan dan menyapa "Yo", seketika itu juga rasa bahagia meluap, seolah semua emosi yang campur aduk tadi terbayar lunas.
...Yah, sebenarnya kalau cepat-cepat hubungi lewat medsos, aku tidak akan merasa se-gelisah itu (kecuali kalau cuma di-read doang, sih). Tapi hari ini, aku berniat menikmati setiap jengkal perasaan ini.
"Ya sudah, ayo berangkat, Hikari. Taman bermainnya sudah buka, kan?"
"I-iya...!"
Lagipula medsos-ku... sekarang lagi agak "macet"...
『Sudah nembak?』
『Baru juga naik kereta, tahu!?』
...Begitulah, kencan pertamaku ini sudah berada di bawah pengawasan grup chat beranggotakan empat orang seperti biasa.
『Tapi ya Hikari, kok kamu malah milih taman bermain kecil begitu, sih?』
『Iya nih, Hikarin. Kalau mau ke taman bermain, di Chiba kan ada yang jauh lebih gede.』
『A-ah, di sana pasti ramai banget, kok.』
Bahkan sebelum sempat mengobrol satu-dua patah kata dengan Yuu, pesan-pesan dari ketiga gadis berisik itu sudah masuk bertubi-tubi sampai-sampai kencanku terasa terganggu. Benar-benar "tembakan bantuan" yang malah merepotkan...
『Lagipula, hari ini harus di tempat itu, nggak boleh tempat lain.』
『Oh, tempat berharga buat Hikari dan dia, ya?』
『He-eh.』
『Okelah, kalau begitu, semangat ya.』
『Makasih, Aya-chan.』
Yah, di antara mereka semua, cuma Aya-chan yang paling dewasa. Dia menunjukkan respons yang "sedikit lebih tenang" dibandingkan Haru dan Yuki.
Tapi pada akhirnya, aku tetap saja tidak bisa mengabaikan tumpukan pesan perhatian yang merepotkan itu.
『Terus, Hikari. Begitu sampai di taman bermain, kalian mau naik apa duluan?』
『Nanti aku kasih tahu situasi pernyataan cinta yang paling pas buat tiap wahana, deh~』
『I-itu... aku tanya Taa-kun dulu, ya.』
"A-anu, Taa-kun."
"Hm? Apa?"
"Begitu sampai di sana nanti..."
『...Katanya dia mau makan siang dulu.』
『Padahal belum juga masuk!?』
『Katanya dia lapar karena tadi belum sarapan.』
『Duh, Hikarin! Pacar kamu itu nggak ada kesadaran kalau ini kencan, ya?』
『I-itu kan karena! Aku nggak bilang kalau ini kencan! Aku cuma bilang mau pergi main saja.』
『...Dan dia percaya gitu aja?』
『Hei Hikari, bukannya itu tandanya nggak ada harapan ya?』
『Nggak gitu, kok!』
"Hei Hikari, dari tadi kamu kirim pesan sama siapa, sih?"
"I-itu... sama Ibu. Dia berisik banget tanya mau ke mana, terus nyuruh jangan pulang telat."
"Ahaha, sama kayak di rumahku. Sampai kapan pun kita tetap dianggap anak kecil, ya."
"I-iya, ya~"
"Ah, kalau gitu biar aku saja yang bilang ke Bibi? Lewat telepon."
"Bi-bilang apa...?"
"Bilang kalau hari ini kamu pergi bareng aku, jadi nggak usah khawatir sama sekali."
"E-eh, nggak usah! Nggak perlu sampai segitunya!"
『Heh Hikari, kasih HP-mu ke dia. Biar aku omelin "jangan bercanda" sekalian.』
『Sudah kubilang nggak usah!』
Duh, disuruh "oper HP-nya" baik di dunia nyata sekaligus si Haru di dunia maya, aku harus gimana coba menghubungkannya...
Lagipula, 『Karena pergi bareng aku, jadi nggak usah khawatir,』 ya? Begitu ya, Taa-kun...
『Dah lah, ribet. Sekarang mending kalian ke resto keluarga terus nembak aja.』
『Aya-chan, jangan nyerah sama aku dong...』
『Tapi Hikari, cowok itu peka-nya nol besar. Kalau nggak ngomong blak-blakan nggak bakal jalan, kan?』
『Tenang saja! Aku punya strategi jitu buat membalikkan keadaan!』
『Strategi apaan?』
"A-anu, Taa-kun."
"Apa?"
"Tadi... kamu bilang lapar, kan?"
"Ah, iya, maaf. Sebelum main, temani aku makan di kedai depan stasiun dulu, ya."
"Se-sebenarnya...!"
『Kamu bawa bekal buatan sendiri?』
『I-iya! Aku bangun jam 5 pagi tadi buat bikin!』
Ya, inilah dia, Strategi Rahasia Nomor Satu-ku. ...Yah, meski dibilang rahasia, sebenarnya ini taktik klasik dan paling umum dalam sebuah kencan. Tapi yang namanya taktik umum itu tetap bertahan sampai sekarang karena memang terbukti ampuh, kan?
Rencananya, setelah puas bermain dan jarak di antara kami semakin terkikis, aku baru akan membukanya perlahan di kursi teras taman bermain sambil bilang, 『Tadaaa~!』.
Memang sih, urutannya jadi agak berantakan, tapi usahaku dan perasaanku untuk kencan ini pasti akan tersampaikan padanya...
『Kencan pertama bawa bekal buatan sendiri? Bukannya itu kemanisan—maksudku, "berat" banget?』
『Eh?』
『Hmm~ levelnya mungkin setara sama ngasih rajutan syal sendiri, ya~』
『Sa-sampai segitunya!?』
『Ya kalau sudah jadian sih oke-oke saja, sih~』
『Tapi kan Hikarin sama sekali nggak dianggap cewek sama dia~. Aku cuma bisa melihat masa depan di mana dia bakal ilfeel berat~』
『Eeeh...』
『Nggak apa-apa, itu khas Hikari banget dan lucu, kok. Apalagi bagian dia yang agak nggak napak tanah sama realita itu~』
『Eeeehhh...』
Usahaku, dan segala rasa yang "berat"—eh, maksudku perasaan yang kucurahkan untuk kencan ini, pasti akan sampai padanya....
"............"
"......Kenapa, Hikari? Kok malah bengong?"
"......Taa-kun."
"O-oh...?"
"Ke resto keluarga... yuk..."
Kencan kami berdua, bahkan sebelum benar-benar dimulai, sudah penuh dengan rintangan....
※ ※ ※
Hari istimewa yang sudah berantakan bahkan sebelum dimulai....
"Nah, akhirnya sampai juga."
"I-iya, ya...."
Setelah sempat berdebat di dalam kereta, ditambah lagi menghabiskan waktu di resto keluarga, kami akhirnya sampai.
Saat kami menginjakkan kaki di taman bermain yang sudah ramai karena hari sudah lewat tengah hari, rasa lelah yang melebihi jatah satu hari sudah membebani tubuhku—akibat rasa tegang, panik, dan penyesalan yang datang silih berganti.
"Jadi, mau naik apa duluan? Hikari, ada tempat yang ingin kamu datangi?"
"Hmm, enaknya apa ya...."
『Gimana kalau nempel-nempel di Rumah Hantu?』
『Pernyataan cinta di Komidi Putar dong!』
...Dan di saat itu pula, saran-saran yang "manjur" (?) mulai bertebaran lagi, seolah-olah mereka bisa mendengar percakapan kami di sini.
『Kalau soal tempat klasik buat nembak sih, bianglala nggak ada lawan.』
『Tapi kalau itu kan harus nunggu sampai sore dulu.』
『Bener banget! Kan pas sama namanya Yuu-kun dan Hikarin, latar belakangnya harus "Matahari Terbenam" (Yuuhi) dong~!』
『Yuu? Eh? Bukannya namanya Taa-kun? Pacarnya Hikari itu.』
『Aya! Dari tadi kamu dengerin nggak sih!』
『Aya-chin sebenarnya nggak tertarik sama sekali ya sama urusan asmaranya Hikarin?』
"......Notifikasimu ramai banget, nggak apa-apa kalau nggak dilihat?"
"......Sudahlah, biarkan saja."
Tapi, tubuhku sudah tidak punya sisa tenaga lagi untuk terus merasa terombang-ambing oleh... maksudku, mengikuti saran dari mereka.
"Kalau gitu, kita naik roller coaster dulu, yuk! Taa-kun."
Aku mematikan daya ponselku, lalu menyimpannya rapat-dalam dompet kecilku.
Sekarang, entah itu berakibat baik atau buruk, tidak akan ada lagi bantuan. Aku harus membuka jalan dengan kekuatanku sendiri.
...Tidak, sebenarnya dari awal memang seharusnya begini, kan?
"Kalau dilihat lagi sekarang, wahana ini kelihatan cupu banget ya~"
"......Harusnya kamu nggak ngomong gitu sebelum kita naik."
Sebuah roller coaster di taman bermain lokal yang biasa saja; tanjakannya tidak curam, ketinggiannya pun tidak seberapa.
Sebagian besar orang yang mengantre adalah keluarga yang membawa anak kecil. Remaja seumuran kami bisa dihitung dengan jari.
"Padahal waktu SD dulu, kita berdua sudah ketakutan duluan sebelum naik karena mikir bakal seseram apa..."
"Eh? Memangnya aku pernah naik ini bareng kamu? Aku nggak ingat, tuh..."
"Enggak, kita memang belum pernah naik, kok."
"Hah? Tapi barusan kamu bilang..."
"Soalnya Taa-kun... waktu itu nggak lolos batas tinggi badan..."
"Ah..."
Pertama dan terakhir kalinya aku pergi ke taman bermain ini bersamanya adalah saat kami masih kelas rendah di SD.
Alasannya, selain karena tempat ini memang ditujukan untuk anak-anak... faktor besarnya adalah karena satu-satunya kenangan di sini bagi kami berdua tidaklah begitu indah atau berkilau.
Waktu itu, aku sangat bersemangat menanti pengalaman pertama naik roller coaster. Sedangkan dia, meski berada di situasi yang sama persis denganku, sudah hampir menangis ketakutan.
Tapi, tepat sebelum naik, petugas menghentikan kami...
"......Oalah, iya benar. Cuma aku doang yang nggak boleh naik!"
"Waktu itu aku memang lebih tinggi dari kamu, sih."
"Eh? Tapi, terlepas dari aku yang nggak bisa, bukannya kamu tetap naik... ya?"
"Ingat nggak? Ibuku bilang nggak adil kalau cuma aku yang bersenang-senang sementara Taa-kun nggak bisa naik..."
"Ah~ aku ingat, aku ingat! Terus kamu malah berantem hebat sama Bibi..."
"Suasananya jadi kacau balau, deh~"
"Kenangan yang kamu ingat buruk-buruk banget ya, Hikari..."
Ya, baginya mungkin ini memang kenangan buruk.
Kenyataan bahwa gara-gara dia, seluruh keluarga tidak jadi naik roller coaster.
Dan fakta bahwa hal itu menjadi pemicu rusaknya waktu menyenangkan bersama keluarga.
Makanya...
"Kali ini, kita anggap sebagai ajang balas dendam!"
"......Boleh juga."
"Sesuai dugaan, ternyata nggak ada tegang-tegangnya ya!"
"Asli, gara-gara bulan lalu aku ke Fuji-Q bareng teman-teman, perbandingannya jadi jomplang banget~"
"......Aku juga mendingan ke Fuji-Q kalau gitu."
"Ahaha, sori-sori~"
Saling mengejek begini rasanya menyenangkan sekali.
"Eh, selanjutnya kita ke Rumah Hantu, yuk?"
"Ngomong-ngomong, dulu Taa-kun nangis kejer lho di sana~"
"Berisik! Kamu juga... enggak, itu karena kamu jalan duluan terus ninggalin aku sendirian, makanya aku nangis..."
"Eh?"
Hal-hal yang ada dalam ingatan kami yang dulunya terasa menakutkan, luar biasa, atau terlihat dewasa...
Mencela hal-hal yang bagi kami sekarang terasa tanggung, cupu, dan kekanak-kanakan itu rasanya seru bukan main.
"Ternyata nggak seram sama sekali!"
"Tadi di tengah-tengah malah pengin ketawa, ya!"
"Eh, gimana kalau kita naik semua wahana yang pernah kita naiki dulu? Terus kita buktiin seberapa jauh wahana itu nggak sesuai ekspektasi kita sekarang."
"Selera kamu buruk banget ya, Taa-kun..."
Inilah kencan yang hanya bisa kami lakukan... kencan yang tidak akan bisa terjadi tanpa adanya kenangan-kenangan "tanggung" itu. Kencan milik kami berdua saja.
"Wah, ternyata lebih seru dari dugaan, ya."
"Nggak tahu deh, rasanya cara kita menikmati ini agak salah arah, tapi ya sudahlah~"
Waktu yang terasa seperti mimpi itu berlalu dalam sekejap bagiku.
Meski atraksi di taman bermain kecil ini tidak banyak, kalau dijelajahi hampir semuanya, waktu tetap saja berjalan...
Tanpa sadar, matahari yang mulai condong ke barat... seolah memberitahukan batas waktuku.
"Hei, Taa-kun, terakhir..."
Tanpa perlu diberi tahu pun, aku sudah memutuskan.
Penutupnya haruslah di dalam bianglala yang disinari cahaya senja.
Di dalam ruang privat berdua saja di tengah keramaian ini, aku akan menjalankan misi terakhir: pernyataan cinta...
"Ah, sebelum itu, ini."
Tapi dia, entah karena peka dengan suasana atau justru malah tidak bisa membaca situasi sama sekali...
"Medali...?"
"Iya, medali kenang-kenangan taman bermain ini."
Dia menyodorkan sebuah medali murah dengan ilustrasi taman bermain dan ukiran tanggal di atasnya kepadaku.
"Ini... maksudnya?"
"Buat hari ini... bukan, buat ganti yang waktu itu."
"Eh?"
"Waktu itu, maaf ya? Padahal aku yang ngilangin..."
"Ah..."
Pertama dan terakhir kalinya aku pergi ke taman bermain ini bersamanya adalah saat kami masih di kelas SD.
Meski ada banyak kejadian, kami tetap menikmatinya dengan cara kami sendiri, dan di akhir kunjungan, orang tua kami membelikan medali ini untuk kami berdua.
Namun, tepat saat sudah berada di luar gerbang keluar, dia tiba-tiba bilang kalau medalinya hilang. Mau kembali masuk untuk membeli pun, kami sudah terlanjur keluar, jadi harus membayar tiket masuk lagi kalau ingin kembali.
Akhirnya, orang tua kami membujuknya untuk menyerah saja. Dan saat itulah, dia mulai merengek dan menangis... Ah benar, waktu itu aku mengatakannya.
『Punya aku buat kamu saja. Aku nggak butuh barang ginian, kok.』
"Kamu... masih ingat...?"
"Aku baru ingat tadi. Setelah datang ke sini lagi dan puas main seharian."
"Ugh...!"
Aku ini, benar-benar bodoh...
Mau dibilang "berat", "murahan", "memalukan", atau "basi"... Justru kata "basi" itulah yang paling tepat sekarang...
Bukankah hubungan kami berdua itu sebenarnya sudah jauh melampaui batasan hal-hal semacam itu...?
"Aakh! Gawat, aku lupa!"
"Apa? Kenapa, Hikari?"
"Aku bawa bekal yang aku bikin sendiri hari ini! Aku benar-benar lupa!"
"Hah!? Dasar bodoh! Kenapa nggak bilang dari tadi soal hal sepenting itu!"
"Hei Taa-kun, sekarang kamu lapar, kan? Kita kan sudah main lama banget."
"Ya jelaslah! Ayo cepat makan sebelum keburu basi!"
Shirasaka Hikari, 16 tahun...
Aku tidak jadi menyatakan cinta.
Tapi, aku malah jadi makin, makin, dan jaaaauh lebih menyukainya lagi.

