![]() |
| Saranami Vol 1 Bab 5 - Galau |
Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 5 - Lembap, Galau, dan Kering Kerontang
"Apa-apaan itu kalimat, 'Tapi, aku malah jadi makin, makin, dan jaaaauh lebih menyukainya lagi' hah!?"
"Uwaaaa!?"
Setelah libur Golden Week usai... tepatnya beberapa hari kemudian, saat jam pelajaran olahraga.
Lari jarak jauh—cabang olahraga terburuk di mana semua murid sudah merasa depresi sebelum mulai, merasa di neraka saat menjalaninya, dan tidak berguna lagi setelah selesai. Aku dan Haru yang sudah lebih dulu bebas dari siksaan itu, sambil memperhatikan teman-teman lain yang belum mencapai garis finis, entah kenapa malah memulai sesi evaluasi kencan kemarin.
Tentu saja, pemicunya bukan datang dariku.
『Oke Hikari, kalau aku menang lari ini, kamu harus lapor jujur soal hasil kencan kemarin, ya?』
『Bukannya itu nggak ada untungnya buatku? Padahal aku sudah tahu kalau aku yang menang pun, cerita cintamu paling cuma segitu-gitu saja.』
『Jahat banget sih ngomongnyaaaa!』
Yah, begitulah, gara-gara terpancing adu mulut, aku malah meladeni tantangan dari kartu as lari jarak pendek klub atletik itu. Setelah adu kecepatan yang sengit, aku terpaksa menelan kekalahan dengan selisih waktu hanya satu detik.
...Yah, meski begitu, kami berdua tetap memimpin satu putaran penuh dibanding peringkat tiga ke bawah, sih.
"Habisnya gimana ya... sejak kencan kemarin, wajah Hikari itu kelihatan kayak orang yang sudah 'lepas beban'. Aku kira kamu sudah sukses nembak, terus terjadi 'macam-macam', makanya sekarang kamu jadi masuk mode bijak."
Aku memutuskan untuk tidak bertanya apa maksud dari bagian "macam-macam" itu...
"Yah, mungkin aku sedikit tercerahkan, atau bisa dibilang aku mulai paham sesuatu..."
"Paham apa?"
"Bahwa yang paling penting itu bukan perasaan dia, tapi perasaanku sendiri."
"Hikari..."
Alasanku malas—maksudku, sengaja bicara berbelit-belit saat diminta laporan detail oleh semuanya setelah kencan kemarin, ya karena itu.
Aku tidak ingin terlalu terombang-ambing oleh hasil yang ada di depan mata, atau terus merasa senang dan sedih hanya karena memikirkan bagaimana perasaannya terhadapku.
"Makanya, daripada gampang merengek atau minta disemangati kalian, aku merasa lebih baik menjalaninya pelan-pelan saja."
Lagipula, antara dia dan aku ada sejarah sepanjang itu. Meski sekarang perasaan kami belum bertaut. Meski dia sama sekali belum menganggapku lebih dari teman.
Lagipula, meski sudah bersama selama sepuluh tahun lebih, kami tidak pernah menjauh. Fakta bahwa kami berdua bahkan tidak punya niat untuk saling meninggalkan itu sebenarnya luar biasa, bukan?
Itu artinya, aku bisa terus memegang harapan ini selamanya...
"......Yah, mumpung kamu lagi 'sok tenang' begini, jangan kaget ya kalau tiba-tiba dia malah diam-diam jadian sama cewek lain~"
"N-nggak mungkin lah! Taa-kun itu sampai SMP nggak laku-laku amat, kok!"
"Tapi pikir deh, Hikari yang dulunya biasa saja sekarang sampai bisa suka setengah mati begini, bukannya itu berarti dia mulai memancarkan aura 'cowok populer' sejak masuk SMA?"
"I-itu mungkin cuma karena perubahan perasaanku saja, sih..."
※ ※ ※
Begitulah sumpah serapah—maksudku, kepercayaan diri yang kubanggakan hari itu. Namun, beberapa hari kemudian...
Di suatu sore yang biasa saja di penghujung Mei, saat senja mulai bersiap berubah menjadi malam yang juga biasa saja.
Kepercayaan diriku yang tak berdasar itu hancur berkeping-keping...
"Anu, Seki... kenapa tiba-tiba datang ke rumahku?"
"Habisnya... habisnya, Yuu-senpai... hiks."
Langkahku terhenti saat tinggal beberapa puluh langkah lagi mencapai rumah. Aku tidak sengaja memergoki interaksi manis (?) antara seorang pemuda dan gadis SMA di depan rumah tetanggaku, yang membuatku refleks bersembunyi di balik tiang listrik.
Tunggu, itu Taa-kun... dan bersamanya ada seorang gadis yang memakai seragam yang sama... artinya, teman satu sekolah. Gadis yang dia panggil "Seki" itu... memanggilnya "senpai", jadi kemungkinan besar dia kelas satu.
"Aduh, kalau hari ini agak... Gimana kalau kamu pulang saja?"
"Yaaah... masa nggak boleh mampir ke atas sebentar saja?"
Sambil sebisa mungkin meniadakan keberadaanku, aku mengintip dari balik tiang listrik. Cahaya lampu teras menyinari sosok adik kelas itu.
Ya ampun, badannya mungil banget! Mukanya juga kecil! Cara bicaranya... centil banget! Gimana ya bilangnya, dia tipe yang bakal disukai banyak cowok... tapi sekaligus tipe yang bakal dimusuhi banyak cewek (ini cuma pendapat pribadiku, ya).
"Maaf, Seki... di rumahku sebentar lagi jam makan malam..."
"Ka-kalau gitu, boleh nggak aku tunggu di kamarmu sampai selesai makan?"
"Eh...?"
Dan dia gigih banget! Padahal cara bicaranya lemah lembut seperti mau nangis, tapi dia sama sekali nggak ada niat buat pulang! Rasanya ada sesuatu yang—bukan, rasanya gadis ini benar-benar seperti "ranjau". Dan firasatku ini bukan cuma karena targetnya... maksudku, lawan bicaranya adalah Taa-kun, kan?
Aduh, kok bisa sih Taa-kun malah berurusan sama cewek yang kelihatan bermasalah begini!?
...Eh, tunggu. Bukannya baru beberapa jam yang lalu aku dengan sok bijak bilang, 『Yang paling penting itu bukan perasaan dia, tapi perasaanku sendiri』?
"Habisnya, belakangan ini Senpai nggak pernah balas pesanku lagi..."
"E-eh, itu... soalnya belakangan ini aku sibuk banget."
Hah? Apa? Cuma gara-gara nggak dibalas saja sampai nekat mendatangi rumahnya? Seram banget!
...Tapi sebentar. Aku juga sering, sih, teriak lewat jendela, 『Heii, kenapa pesannya cuma di-read doang!?』 sambil marah-marah.
"Terus... Senpai juga sudah nggak pernah ajak aku kencan lagi."
"Enggak, itu kan dulu Seki yang ajak duluan, terus cuma sekali..."
Apalagi ini!? Padahal baru kencan sekali, itu pun dia yang ajak, tapi gayanya sudah kayak pacar resmi!? Sampai mencari tahu alamat rumah dan stalking begini, asli seram banget!
...Aaaaaakh! Aku juga lagi melayang-layang gara-gara kencan yang cuma sekali itu!
Semua yang dilakukan cewek ini rasanya jadi bumerang yang menusukku satu per satu! Perih banget!
Iya sih, benar! Kalau nggak dibalas itu pasti rasanya galau banget! Sudah bela-belain kencan tapi responsnya dingin, pasti jadi kepikiran apa ada yang salah, kan!? Entah suka atau benci, pokoknya tolong dong perasaannya itu sedikit saja diungkapkan lewat kata-kata!
Dasar Cowok Tidak Peka itu emang bener-bener, deh! ...Tapi, kok aku malah jadi bersimpati sama cewek ini, sih!?
Asli, aku ingin kasih peringatan ke diriku yang versi beberapa jam yang lalu. 『Kamu nggak berubah ya, ternyata.』
"Dengar ya, Seki, rumahmu kan nggak searah ke sini? Kalau pulangnya kemalaman, orang tuamu pasti khawatir. Sini, aku antar sampai stasiun, terus kamu pulang ya..."
"Senpai~..."
Meski begitu, yang kelihatan paling kesulitan di sini jelas Taa-kun.
...Yah, walaupun aku juga ikut-ikutan bingung setengah mati, sih.
Gi-gimana ini, kalau begini terus aku nggak bisa pulang ke rumah. Be-benar, di saat seperti ini aku harus memberikan asis yang sempurna supaya dia bisa mengusir cewek itu...
『Hah? Apa-apaan sih ini, Yuu? Cewek ini siapa?』
『Eh...?』
『Hi-Hikari!?』
『Heh, berani banget ya kamu! Ngapain godain Yuu-ku, hah? Sini ikut aku sebentar!』
...Tapi, kalau begitu mah gawat!
Lagipula kenapa aku malah akting jadi cewek preman begitu?
Itu sih posisi karakter figuran yang bakal kalah telak.
"Kenapa Senpai tiba-tiba jadi dingin begini? Ini bukan Yuu-senpai yang biasa, tahu."
"Enggak... bukannya tiba-tiba juga, sih..."
Duh, benar-benar deh, Taa-kun masih saja orang yang nggak tegaan dan nggak pernah bisa kasih jawaban tegas!
Dari dulu juga begitu, dia cukup populer sampai setidaknya dapat satu atau dua cokelat honmei (cokelat tanda cinta) setiap Valentine (padahal waktu itu aku cuma kasih cokelat giri alias cokelat pertemanan, sih!).
Karena itulah, setahun atau dua tahun sekali, ada saja teman-temanku yang minta dikenalkan padanya (dulu aku sih santai saja mengenalkan mereka!).
Tapi, setiap kali berada di situasi seperti itu, dia selalu terlihat gelisah dan tidak nyaman. Ujung-ujungnya, dia memang mencoba "jalan" sebentar dengan mereka sebagai tahap perkenalan, tapi tidak pernah bertahan lama...
『Ngomong-ngomong Taa-kun, gimana kelanjutannya sama cewek itu?』
『Ah... anu...』
Dia selalu memasang wajah tidak enak hati dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Iya, dia sama sekali tidak berubah. Yang berubah itu justru aku.
Dulu, setiap kali dia mengulangi siklus "pendekatan lalu putus" itu, aku selalu merasa kesal dan berpikir, 『Yang tegas dong, dasar payah!』 Tapi sekarang, setelah tahu dia masih melakukan "pendekatan" semacam itu...
Hm, sebenarnya aku masih merasa 『Yang tegas dong, dasar payah!』, tapi maknanya bukan lagi 『Hargai dong perasaan cewek itu!』, melainkan 『Harusnya dari awal tolong ditolak dengan tegas!』.
...Rasanya agak rumit, tapi begitulah adanya.
"Makanya, anu... aku jadi berprasangka buruk."
"Prasangka soal apa?"
"Jangan-jangan... Senpai sudah punya orang baru yang disukai..."
"Eh?"
Eh?
"Makanya belakangan ini Senpai tiba-tiba jadi dingin..."
"Itu..."
Be-benarkah...?
Taa-kun punya orang baru... yang dia sukai...?
"Hiks... hiks..."
"............"
Bahkan sebelum mendengar jawabannya, gadis itu sudah mulai terisak.
Aduh, menurutku itu langkah yang buruk, lho. Apalagi saat hati lawan bicara sepertinya mulai menjauh.
...Tapi, kalau aku berada di situasi yang sama, apa aku juga bakal berpikiran macam-macam, lalu merasa putus asa dan menangis sesenggukan sendiri ya?
Duh, aku nggak mau begitu. Rasanya waktu SMP dulu aku bukan tipe cewek yang seperti itu. Harusnya aku dikenal lebih "berwibawa" seperti laki-laki.
"Itu... agak keliru..."
"Senpai...?"
"Aku memang punya orang yang kusukai."
Deg...
Deg...
"Tapi... bukan berarti aku baru menyukainya."
"...Eh?"
...Eh?
"Aku sudah mengenalnya jauh sebelum bertemu denganmu. Dan aku sudah menyukainya, jauh sebelum aku mengenalmu."
Tapi sekarang, aku malah benar-benar terombang-ambing oleh setiap gerak-gerik orang yang kusukai. Aku sampai mencuri dengar kata-kata yang bahkan tidak ditujukan padaku, dan jantungku berdebar tak keruan karena hal itu.
"Jadi, ayo pulang? Seki..."
"............ ugh."
"Maaf ya, sudah membuatmu merasa sedih karena banyak hal."
"Ueeee... hueeeen!"
Tunggu dulu, siapa orang yang sudah dia sukai sejak lama itu? Siapa orang yang sudah dia kenal dari dulu?
Siapa... orang yang dia sukai jauh sebelum ini...?
Beberapa menit berlalu. Aku masih terduduk lemas di balik bayangan tiang listrik, tidak sanggup untuk berdiri.
Dia sudah pergi. Bersama gadis itu.
Saat dia berjalan melewati tempat persembunyianku, rasanya jantungku mau copot.
Tapi, sensasi jantung yang seolah berhenti itu hanya terjadi sesaat.
Setelahnya, detaknya malah jadi berisik sekali sampai tidak bisa didiamkan.
Ternyata, cowok yang kucintai itu...
※ ※ ※
"Jadi kesimpulannya, 'dia punya orang yang sudah disukai sejak lama'?"
"Ya, ya... setidaknya, jauh sebelum dia bertemu gadis bernama 'Seki' itu..."
Aku memang manusia yang lemah.
Aku akan mengulanginya lagi, padahal belum genap sebulan sejak aku berkata dengan sok bijak bahwa 『Yang paling penting itu bukan perasaan dia, tapi perasaanku sendiri』.
Namun, hanya karena sekali saja melihat "medan perang" asmaranya—hanya karena mengetahui perasaan kuatnya (yang entah ditujukan untuk siapa)—pada akhirnya keinginan untuk bersandar pada seseorang jadi tidak terbendung lagi.
Makanya, akhirnya aku pun menyerah dan mencari sandaran.
Di ruang kelas saat jam istirahat makan siang.
Awalnya kami makan berempat, lalu saat ada celah di mana kami hanya tinggal berdua saja.
Aku bertanya pada sahabatku yang kemungkinan besar akan memberikan "jawaban yang paling kuinginkan"... Aya-chan.
"......Itu sih sudah pasti, kan?"
...Tuh, kan? Benar seperti dugaanku, dia menjawab sesuai harapanku.
"Tapi kan aku nggak tahu soal itu! Aku memang teman masa kecilnya, tapi sampai baru-baru ini aku sama sekali nggak peduli dengan urusan asmaranya!"
"Kalau gitu, coba tanya Haru atau Yuki. Mereka pasti bakal bilang hal yang sama."
"Tapi kalau cerita ke mereka berdua, ujung-ujungnya aku pasti bakal diledek habis-habisan..."
"Baru sadar ya sama hukum alam itu?"
Habisnya, dia jauh lebih berpengalaman soal cinta dibanding Haru dan Yuki. Dia bisa melihat hakikat dari sebuah hubungan manusia, dan yang paling penting, dia sangat lembut padaku.
...Yah, saat pertama kali kenal dulu dia memang cukup dingin, tapi sejak kami akrab, dia selalu memihakku seolah-olah ingin membayar lunas semua 'utang' masa lalu itu.
"Tenang saja. Orang yang dia sukai itu... sudah pasti kamu, Hikari."
"Aya-chan..."
"Aku berani menjaminnya."
Aku memang manusia yang lemah.
Padahal aku sudah mendapatkan jawaban yang kuinginkan dari sahabat yang paling kupercayai.
Namun, hanya dengan kata-kata itu saja, awan yang menyelimuti hatiku masih belum bisa tersingkirkan.
...Karena awan itu terasa sama tebalnya dengan gumpalan mendung yang kini memenuhi langit di musim penghujan.
※ ※ ※
"Uwah..."
Dan hebatnya lagi, cuaca seolah sengaja mengikuti suasana hatiku yang sedang suram ini.
Di perjalanan pulang, meski sudah terlihat jelas dari jendela kereta, langit yang tadinya hanya berwarna kelabu saat aku meninggalkan sekolah, kini mulai menjatuhkan tetesan air yang terasa hangat-hangat kuku namun cukup deras.
Tadi, atap kereta masih melindungiku dari rintik hujan itu.
Tapi sekarang, di sisa perjalanan beberapa menit dari stasiun terdekat menuju rumah, kondisiku yang tidak membawa payung ini pasti akan membuatku basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku terdiam di pintu keluar stasiun, mendongak menatap langit dan rintik hujan secara bersamaan.
Ada pilihan untuk mengandalkan kekuatan kaki dan staminaku untuk berlari, tapi tetap saja, sekeras apa pun aku berusaha, itu tidak akan mengurangi seberapa basah tubuhku nanti. Lagipula, seperti yang kukatakan tadi, aku sedang tidak punya energi untuk melakukan itu.
Ini semua karena hujan ini, dan juga...
『Aku memang punya orang yang kusukai.』
『Tapi... bukan berarti aku baru menyukainya.』
Ini semua gara-gara "pengakuan" yang tidak sengaja kudengar darinya beberapa hari yang lalu.
Kira-kira, siapa ya orang yang dia maksud itu... dan sudah sejak kapan dia menyukainya...
Kalau aku ini tipe teman masa kecil yang gampang kegeeran (padahal aku bukan tipe begitu, lho) atau tipe teman masa kecil yang kelewat percaya diri (sudah kubilang bukan!), mungkin aku bakal langsung berbinar-binar dan berpikir, 『Ja-jangan-jangan itu aku!?』
Tapi masalahnya, bagi tipe teman masa kecil yang kurang percaya diri dan agak melankolis nan negatif sepertiku (jangan bilang kalau menyebut diri sendiri begitu itu menyedihkan!), keterbukaan informasi seperti itu malah terasa seperti... 『Pilihan jawabannya jadi makin sempit ya...』
Sampai kemarin,
→ 『Dia suka padaku.』
『Dia suka orang lain selain aku.』
『Dia tidak punya orang yang disukai.』
Itu pilihannya ada tiga.
Tapi sekarang,
→ 『Dia suka padaku.』
『Dia suka orang lain selain aku.』
Bukankah pilihannya malah mengerucut jadi dua…
Memang sih, peluang sukses pernyataan cintaku naik dari 33 persen menjadi 50 persen, tapi peluang gagalnya juga ikut melonjak jadi 50 persen.
Maksudku, kalau dijelaskan lebih spesifik,
Peluang untuk『Beneran!? Dia juga suka aku? Mana ada keberuntungan seperti ini!?』 memang naik, tapi... Penghalang untuk 『Nggak boleh menyerah! Mulai sekarang pun, aku akan buat dia berpaling padaku!』 jadi terasa jauh lebih tinggi. Eh? Penjelasanku ribet ya? Maaf...
Tapi, tetap saja... kalau cuma bikin galau begini, mungkin lebih baik pilihan 『Dia tidak punya orang yang disukai』 itu tetap ada.
Mungkin lebih baik kalau celah untuk berjuang itu tetap tersisa...
Saat aku sedang memikirkan hal itu dan hendak kembali menatap langit... tiba-tiba, sebuah warna biru tua yang pekat menutupi pandanganku.
"Bisa-bisanya lupa bawa payung di tengah musim hujan begini..."
"Ugh, a... uwaa... Berisik, ah!"
Aku sempat gelagapan parah sebelum akhirnya bisa membalas dengan ketus, tapi ya sudahlah, abaikan saja. Sepertinya aku sudah mematung di depan stasiun selama lima menit. Mungkin dia pulang dengan kereta berikutnya, lalu kebetulan melihatku dan menyodorkan payung di atas kepalaku.
...Mana payungnya cuma satu lagi, dipakai barengan.
"Tapi ya sudahlah, untung kita pulangnya bareng. Kamu jadi nggak perlu repot-repot beli payung di minimarket."
"Nggak usah juga nggak apa-apa. Taa-kun nanti malah jadi basah, kan?"
Biasanya, aku pasti bakal bersorak kegirangan dalam hati sambil membatin, 『Mungkinkah keajaiban kayak gini beneran terjadi!?』 Tapi... entah kenapa, hari ini aku sedang tidak berminat.
"Tapi kalau hujannya sederas ini, pas sampai rumah nanti sepatumu bisa basah kuyup sampai ke dalam, lho."
"Tunggu sebentar lagi juga mungkin bakal reda atau paling nggak agak kecil hujannya~"
"......Kenapa? Ada kejadian apa di sekolah?"
"Biasanya juga kamu nggak pernah nanya-nanya~"
"Memangnya aku ini orang yang sedingin itu, ya?"
Duh, benar-benar deh, suasana hatiku ini berbanding lurus dengan cuaca.
Padahal aku baru saja mengalami kejadian dengan probabilitas 0,00001 persen (sebenarnya sih lebih besar sedikit dari itu), tapi aku malah menjawabnya dengan nada bicara yang seolah ingin menjauh darinya.
"Habisnya lihat deh, biasanya kalau aku mau cerita soal kejadian di sekolah, kamu cuma bakal bilang, 『Iya, iya, terserah kamu』 gitu, kan?"
"Apa sih? Hari ini kamu sensitif banget, ya."
"Iya, emang. Makanya mendingan jangan dekat-dekat aku hari ini."
"Eh, tunggu dulu~"
Begitu aku melangkah maju dengan ketus menerjang hujan... dia tampak sedikit panik, namun tetap sigap memastikan payungnya menaungi kepalaku saat aku terus berjalan.
...Alhasil, dia terpaksa berjalan tepat di sampingku.
"Nggak usah repot-repot begitu juga nggak apa-apa kok, Taa-kun."
"Ya nggak bisa gitu, dong... Nanti bisa gawat kalau kamu basah kuyup, kan?"
"Nggak apa-apa, mau sebasah apa pun ya itu salah hujannya. Taa-kun nggak perlu tanggung jawab sama sekali."
Aduh, payah, payah, payah... Diriku hari ini benar-benar jadi tipe cewek yang suka mengungkit-ungkit masalah. Cewek yang merepotkan.
Suasana hatiku benar-benar terseret oleh tingginya kelembapan udara hari ini...
"Yah, memang sih hujan itu menyebalkan."
"Beneran deh, harusnya bulan Juni itu dihapus saja dari kalender."
"Oalah, yang mau dihapus bukan musim hujannya, tapi bulan Juni-nya..."
"Habisnya kalau Juni dihapus, setahun jadi cuma 335 hari, tapi jumlah hari libur nasional nggak berkurang, kan? Mantap banget!"
Aku berjalan sedikit lebih cepat, seolah-olah sengaja ingin menjauh darinya yang berjalan di sisiku. Aku sengaja menginjak genangan air, membiarkan cipratannya berhamburan lebih dari yang seharusnya.
"Tapi bukannya dulu Hikari suka hujan, ya?"
"Masa~? Mungkin itu dulu banget kali ya~"
"Heh, kamu barusan merasa sudah setua apa, sih?"
"Biarin, wlee!"
Duh, payah banget deh. Hari ini benar-benar tidak tertolong. Obrolannya tidak nyambung, mukaku ditekuk terus, dan aku cuma bisa melontarkan sindiran tajam padanya.
"Ingat nggak, waktu SD dulu, kamu sering banget lari pulang ke rumah masih pakai seragam olahraga?"
"Heei, aku nggak se-tomboy itu tahu~"
Gawat, kalau begini terus, tidak akan baik buat kami berdua. Aku harus cepat sampai rumah, cepat mandi, dan cepat-cepat menenangkan diri.
"Lho, beneran begitu, kan? Kamu itu keren, jago olahraga, jago belajar juga."
"Sampai sekarang juga aku masih jago dua-duanya, wlee~"
"Iya. Makanya dulu aku selalu merasa nggak akan pernah bisa mengejarmu, Hikari."
"Oh, jadi maksudmu sekarang kamu sudah bisa mengejarku, nih~?"
Kayaknya hari ini aku nggak usah mampir ke rumah keluarga Takamura dulu, deh. Dengan muka cemberut begini, aku nggak cuma bakal merusak suasana dengan dia, tapi juga dengan ibunya—Bibi Takamura.
"Yah, setidaknya kalau lari jarak pendek, aku nggak bakal kalah lagi."
"Dih, kalau itu mah dari zaman SMP juga aku sudah kesalip!"
"Eh~? Masa, sih?"
Beneran deh, musim hujan yang bikin gerah sekaligus bikin hati berat begini memang tidak ada bagus-bagusnya. Walaupun musim panas nanti bakal panas terik, setidaknya itu lebih baik karena aku bisa lebih bersemangat.
"Apaan sih? Memangnya di matamu aku yang dulu itu sejenis gorila berotot apa!?"
"Bukan gorila, kok. Mungkin lebih mirip kijang atau kanguru."
"Maksudmu mungkin mau memuji, tapi perumpamaan itu sama sekali nggak bikin senang, tahu~!"
Makanya, aku ingin musim hujan ini cepat berakhir. Begitu musim panas tiba, aku pasti bisa tersenyum dengan benar lagi.
"Oh, gitu? Terus harusnya disamain sama hewan apa, dong...?"
"Lagian kenapa harus pakai perumpamaan hewan segala, sih! Ahahaha!"
Aku juga kan manusia, ada kalanya punya hari yang benar-benar galau maksimal seperti kemarin!
※ ※ ※
"...Tapi Hikarin, itu mah kamunya ketawa ngakak banget, tahu~"
"...Eh?"
Dan begitulah, pagi hari setelah hari yang "sangat suram" itu.
Di dalam kelas yang belum ada Haru (karena dia ikut latihan pagi) maupun Aya-chan (yang selalu datang mepet waktu bel), aku menceritakan kejadian kemarin dengan penuh keluhan kepada Yuki. Dan begitulah reaksinya.
Eh? Tadi dia bilang siapa yang ketawa? Eh?
"Beneran deh, makin cerita malah makin ketahuan belangnya. Cieee, si 'Cewek Komedi Romantis'~"
"Apa-apaan itu julukan!? Rasanya geli tapi menghina banget!"
Ah, tapi... begitu ya.
Kenapa juga cerita yang (aku yakini) makin dibahas makin bikin depresi itu, malah kuceritakan ke teman-temanku dengan semangat menggebu-gebu sejak pagi buta begini?
Itu artinya, anu... itu...
Galau yang sedang kupendam ini, meski kelihatannya menyakitkan, ternyata terasa menyenangkan.
Meski dadaku sesak, jantungku malah berdebar kencang. Rasanya campur aduk, tapi bikin penasaran.
"Tapi, ya begini juga sudah bagus, kan? Semua orang emang pengin lihat Hikarin yang panik kelabakan gara-gara urusan cinta begini~"
"Aku nggak mau dilihat! Malu-maluin tahu!"
Mungkin tanpa sadar aku sudah paham bahwa perasaan ini adalah sesuatu yang tak tergantikan.
"Pagi... Kenapa sih ribut-ribut dari pagi?"
"E-eh? Apanya yang nggak mau dilihat?"
Saat kami berdua sedang asyik heboh sendiri...
Dua orang yang punya "penciuman" tajam soal beginian—bukan, cuma kebetulan saja—Aya-chan dan Haru masuk ke kelas di waktu yang bersamaan.
"Ah, pas banget kalian datang~! Sini dengerin, masa Hikarin tadi bilang—"
"Tunggu, jangan langsung dibocorin begitu, dong!"
Akhirnya, formasi lengkap empat sekawan kami pun terbentuk. Haru yang memancing dengan terang-terangan, Yuki yang menjebak dengan kata-kata manis, Aya-chan yang menggoda dengan pengalamannya, dan aku yang bertugas sebagai bahan sekaligus sasaran empuknya.
Sebuah grup yang sama sekali tidak memberiku keuntungan... tapi bagaimanapun juga, tetap tak tergantikan.
Shirasaka Hikari, 16 tahun...
Dengan ini, secara resmi aku kembali ke status "cinta bertepuk sebelah tangan yang memalukan".
