Bab 2
Bagian 1
"Tunggu sebentar."
Renjou mengangkat tangannya, seolah menahan lawan bicaranya di ujung telepon yang jelas-jelas tidak bisa melihatnya.
"Bercanda, kan?"
“Ngapain juga aku repot-repot nelepon cuma buat bercanda?"
Lawan bicaranya di telepon—Mio—tertawa riang.
"Kamu beneran udah dapet pacar baru?"
Renjou mendesaknya, sama sekali tidak menyembunyikan nada menegur dalam suaranya.
Padahal belum sampai dua minggu sejak ia melaporkan perselingkuhan Fuuto kepada gadis itu. Wajah menangis dan suara sengau Mio saat itu masih teringat jelas di benaknya.
"Kan udah aku bilang gitu. Ayolah, mumpung aku udah bisa move on berkat cinta yang baru, kasih selamat kek."
"...Pacarmu yang sekarang, apa tipenya sama kayak Machida Fuuto?"
"Hmm, ada miripnya sih, tapi ada bedanya juga. Ini pertama kalinya aku pacaran sama cowok umur dua puluhan, jadi agak ragu juga bisa jalan lancar atau nggak."
Dua puluhan, Renjou mengulangi kata itu seolah sedang mengunyah maknanya.
"...Boleh ceritain lebih detail, nggak?"
"Nggak, nggak, aman, kok. Aku nggak dibayar atau apa, murni pacaran bebas. Grooming? Atau semacamnya juga bukan, jadi tenang aja. Lagian, dia itu kakak kelas alumni SMA Hoshino, lho. Terus setidaknya, dia udah janji nggak bakal selingkuh."
"...Pokoknya, hati-hati, ya."
Nada bicaranya jadi terdengar seperti orang yang melepas kepergian seseorang untuk perjalanan jauh.
"Kalau ada yang kerasa aneh, langsung kabari aku."
"Bisa diandalkan bangeeet."
"Jangan ditanggapin sambil lalu, dong."
"Eh, ngomong-ngomong," nada suaranya turun satu tingkat. "Renjou-san, ini sama sekali nggak ada hubungannya, sih..."
Renjou menunggu kelanjutan ucapan Mio, tapi hanya keheningan yang menyusul.
"Ada apa?"
"...Nggak jadi, deh, bukan apa-apa. Titip salam buat Koishi-san, ya."
Sambungan telepon terputus. Renjou merasa lemas hingga tanpa sadar menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Dia kedengaran biasa-biasa aja, kan?"
Koishi, yang sedang membaca buku di meja kerjanya, berucap dengan nada penuh kemenangan. Ia pasti mendengar hampir seluruh isi percakapan Renjou dengan Mio. Saat Renjou tadi bilang mau menelepon Mio karena khawatir dengan keadaannya, Koishi hanya mendengus meremehkan.
"Pas di akhir sih dia kayak mau ngomong sesuatu, tapi secara keseluruhan dia emang kedengaran udah move on, sih."
"Ada lho tipe orang yang nggak pernah absen punya pacar. Aku udah nebak Mio itu tipe yang kayak gitu."
"...Menurutku, kalau seseorang mencintai pasangannya dengan setulus hati, dia nggak bakal bisa dapet pacar baru cuma dalam dua minggu setelah putus."
"Kata-katamu kelewat cringe sampai rasanya gigiku melayang nembus stratosfer, deh."
Renjou kehilangan selera untuk mengobrol lebih jauh dengan Koishi, dan langsung merebahkan tubuhnya.
"Klien berikutnya datang jam sembilan belas, kan? Aku mau tidur siang tiga puluh menit, ya."
Sejak kemarin hingga saat ini, Renjou baru saja menyelesaikan investigasi perselingkuhan sendirian. Berbeda dengan investigasi berdua, ia tidak bisa istirahat sama sekali. Ditambah lagi, karena ia benar-benar tidak boleh ketahuan, tenaga dan sarafnya terkuras jauh lebih banyak. Ia sangat ingin tidur sebelum sesi wawancara jam tujuh malam nanti.
Namun, Koishi sama sekali tidak memedulikan rasa lelah dan kantuk Renjou.
"Tidur siangnya tunda dulu. Ini ada pengumuman penting yang berkaitan dengan masa depan kantor kita."
"Nanti saja."
Setiap kali Koishi mulai bicara dengan pembukaan seperti ini, belum pernah sekalipun hal itu benar-benar merupakan hal penting.
"Lihat ini. Tadi siang aku minta tolong Hina-chan buat nge-print-in."
Koishi menyodorkan sebuah foto yang dicetak penuh di atas kertas ukuran A3. Renjou menerimanya sambil menahan sekuat tenaga hasratnya untuk segera tidur meski hanya sedetik lebih cepat. Ia menyimpulkan bahwa kalau ia mengabaikannya sekarang, pada akhirnya waktu tidur siangnya malah akan semakin terkuras.
Foto itu sepertinya adalah tangkapan layar dari YouTube. Di sebuah monitor besar, berjejer bentuk-bentuk geometris dan deretan huruf. Di sudut kanan atas terdapat ikon bertuliskan "Edisi Soal", dan di bagian bawah terdapat kalimat panjang yang dimasukkan sebagai teks berjalan. Ia bisa langsung menebak kalau itu adalah layar soal teka-teki misteri, tapi ia tidak bisa membaca informasi lebih dari itu.
"Apaan nih?"
"Itu screenshot dari videonya Aizawa Mami Channel, jelas banget kan dari kelihatannya."
"Sekalipun kau bilang 'jelas banget'..." Renjou mengutarakan pertanyaan wajarnya dengan bingung.
"Terus ini maksudnya apa?"
"Soal teka-teki remeh-temeh ini sih biarin aja, yang penting tuh di sini."
Koishi menunjuk ke arah ruang kosong di teks soal tersebut.
"Nggak ada tulisan apa-apa, lho."
"Lihat baik-baik. Ada pantulannya, kan. Kayaknya ini pantulan tembok di belakangnya, deh."
Karena latar belakangnya hitam pekat, memang benar terlihat ada sesuatu yang terpantul samar-samar.
"Kelihatan nggak, ada beberapa lembar foto, terus di bawah atau di sampingnya ada deretan tulisan kayak memo gitu? Ini tuh tembok bergaya film 'The Usual Suspects' atau 'Memento', tahu!"
"Apaan lagi tuh?"
"Ya ampun. Nonton kek sesekali film yang nggak ada unsur romance-nya. Pokoknya, ini tuh kemungkinan besar bukti kalau Aizawa lagi ngerjain suatu kasus misteri. Dia menyusun informasinya di tembok ini, terus melakukan deduksi sambil memandanginya, dia ngerjainnya pakai gaya yang keren begitu, tahu."
"Paling-paling cuma pajangan interior doang, kan?"
Renjou berucap dengan volume suara yang nyaris seperti orang mengigau. Ia berniat langsung tertidur dan membiarkan percakapan itu memudar begitu saja.
"Kan aku udah pernah bilang, kantornya Aizawa itu di Kota Fukuoka. Fakta bahwa ada klien yang datang ke Aizawa berarti ada kasus misteri yang beneran eksis di Fukuoka, kan. Terus kenapa mereka malah bawa kasusnya ke Aizawa dan bukan ke kantor kita? Ini nih yang jadi masalah!"
"Cerita itu pengin kudengar pakai kepala yang jernih, jadi aku mau tidur bentar."
Renjou memakai penutup mata anti-tembus cahaya yang dilengkapi pelindung hidung, lalu merebahkan diri. Namun sedetik kemudian, penutup mata itu langsung direnggut paksa oleh Koishi yang melompat ke atas sofa. Wajah Koishi berada begitu dekat dengannya, membuat Renjou tanpa sadar berteriak.
"Tolong, deh, biarin aku tidur bentar aja!"
"Ini bukan waktunya buat tidur! Kasus misteri yang sangat, sangat berharga udah direbut lagi sama Aizawa, tahu. Rasanya isi perutku mendidih saking emosinya sampai mau tumpah ruah!"
"Kenapa kau bisa se-emosi ini cuma gara-gara pantulan tembok di layar monitor, sih?"
Renjou mencoba mendorong Koishi agar jatuh dari sofa supaya ia bisa kembali tidur, tapi tanpa diduga Koishi bertahan dengan sangat gigih, membuat kekesalan Renjou makin menumpuk. Di tengah pergulatan mereka, terdengar suara pintu kantor terbuka.
"Ngapain kalian?"
Tegur Hinami dengan suara dan tatapan mata yang dingin. Sepertinya ia baru saja pulang berbelanja, menenteng kantong plastik dari minimarket dan toko swalayan.
"Bermesraan di tempat kerja, kayaknya seru banget, ya. Kalau aku ganggu, aku balik lagi, nih?"
"Salah pahamnya kejauhan," sahut Renjou dengan cepat. "Koishi-san yang lagi gangguin tidur siangku."
Seolah sama sekali tidak memedulikan frasa 'bermesraan dengan Renjou', Koishi dengan santainya kembali duduk di tepi sofa dan mengayun-ayunkan kakinya.
"Padahal aku udah bilang kalau ini pembicaraan penting, eh Renjou-kun malah mau molor."
"Lagi bahas soal kasus pembunuhan ruang terkunci yang nggak kunjung datang itu lagi? Koi-chan, dari dulu aku udah mikir gini, sih... tolong bedain dikit dong mana yang realita dan mana yang fiksi."
"Nggak, nggak, kunci buat menikmati hidup itu ada pada gimana caranya kita ngebawa unsur fiksi ke dalam realita, tahu."
"Eh, ngeri juga tuh pemikiran." Hinami tertawa riang sambil mengibaskan bulu matanya yang lentik. "Kalau bawaan fiksinya ke arah positif kayak nonton 'Idol Kakumei Zenzen'ya' terus mutusin pengin jadi idol sih kedengarannya keren, ya."
Itu adalah judul anime idol beberapa tahun lalu yang bahkan diketahui oleh Renjou, orang yang sama sekali tidak punya waktu luang untuk bersantai menonton anime selama beberapa tahun terakhir. Koishi sepertinya juga tahu, ia memanyunkan bibirnya dan berkata,
"Ya kalau itu sih pasti keren-keren aja, tapi..."
"Lagian, kasus pembunuhan di ruang terkunci itu mending nggak usah kejadian sama sekali, tahu."
"Justru hal yang mending nggak usah kejadian tapi ternyata beneran terjadi itu namanya misteri, tahu."
"Oh, jadi pesanan ini juga karena udah memprediksi hal itu?"
Hinami menepuk kardus di tangannya dan menunjukkannya. Sepertinya barang itu dikirimkan ke kantor. Koishi langsung menerjang, merebut kardus itu, dan membukanya.
"Apaan tuh?"
"Coba aja lihat, nih."
Koishi mengangkat sudut bibirnya dan dengan bangga memamerkan isinya: borgol kunci ganda dan stun gun yang bertuliskan "Untuk Pertahanan Diri" dalam huruf besar. Kalau diperhatikan baik-baik, di kedua barang tersebut terdapat ukiran bertuliskan "Detective Koishi".
"Aku minta tolong Hina-chan buat bikin versi kustomnya."
"Buat apa?"
Selain pertanyaan singkat itu, tak ada kata lain yang terlintas di benak Renjou.
"Kalau ada kasus misteri yang masuk, bisa aja kan ujung-ujungnya kita harus konfrontasi langsung sama pelakunya. Makanya, punya senjata buat jaga-jaga itu pilihan terbaik."
"Semua permintaan yang berpotensi bikin kita harus pakai barang berbahaya kayak gini bakal kutolak mentah-mentah."
Saat Renjou menepisnya sambil lalu, Koishi menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Nggak bakal ditolak, malah bakal ku-buru. Aku bakal mastiin barang-barang ini bisa beraksi."
"Koi-chan, aku ngerti sih kalau kamu kagum sama hal macam itu, tapi ya..."
Hinami duduk di kursinya, meminum es kopi yang sepertinya ia beli untuk dirinya sendiri, lalu menoleh ke arah Koishi. Ia mulai bercerita dengan suaranya yang serak-serak basah.
"Waktu kalian nerima permintaanku buat nyelidikin perselingkuhan dan ngasih hasil yang mantap, aku seneng banget, lho. Mentalku udah bener-bener hancur gara-gara terus-terusan curiga 'apa aku diselingkuhin, ya?', makanya aku ngerasa terselamatkan waktu kalian bener-bener ngasih kejelasan hitam di atas putih lewat penyelidikan itu."
Setengah tahun yang lalu, kedatangan Hinami untuk meminta penyelidikan perselingkuhan pacarnya adalah awal mula pertemuannya dengan Renjou dan Koishi. Hinami mencurigai pacarnya berselingkuh dengan perempuan lain dan mendatangi kantor mereka. Berkat penyelidikan Koishi dan Renjou, mereka berhasil memotret pacarnya saat masuk ke hotel, dan pada akhirnya Hinami bisa memutuskan hubungan dengan pacarnya itu secara tegas.
"Hari ini ada klien yang mau datang, kan? Dengerin ceritanya baik-baik, ya. Datang jam segini, kemungkinan besar dia baru pulang kerja, kan? Ngorbanin waktu dan uang buat nyelesaiin masalah keluarga di tengah rasa capek habis kerja itu pasti berat banget, lho. Buat kita pihak kantor detektif, ini mungkin cuma satu dari ratusan kasus yang ditangani, tapi buat pihak klien, cuma kita satu-satunya harapan mereka buat minta tolong. Terus Ren-kun, tidur siang sih boleh-boleh aja, tapi visual-mu sekarang bener-bener hancur, jadi tolong cuci muka dan rapiin rambut sama bajumu sebelum wawancara, ya."
"Bener-bener gyaru yang punya prinsip hidup yang kuat, ya. Aku sampai kehabisan kata-kata, deh." Koishi menghela napas seolah benar-benar kagum dari lubuk hatinya.
Berkat Hinami, perdebatan tak berguna dengan Koishi akhirnya menguap begitu saja. Renjou pun diam-diam mencoba memakai kembali penutup matanya—namun saat itulah, terdengar suara pintu kantor terbuka dengan kencang.
"Permisiii! Koishi-chan ada?"
Bersamaan dengan suara berat yang sepertinya keluar dari dasar perut dan sama sekali tidak terdengar seperti volume percakapan sehari-hari, seorang pria melangkah masuk dengan santainya. Renjou melepas penutup matanya dan berkata sambil menunjukkan wajah muak.
"Ngapain kau ke sini, Kataya-san?"
"Aku kepikiran akhir-akhir ini jarang ke sini, makanya aku main. Aku juga pengin lihat wajah Koishi-chan."
Wajahnya ceria, sangat cocok dengan suaranya yang menggelegar. Penampilannya kasual—mengenakan setelan jersey berbahan velour yang halus dan topi berlogo asing di kepalanya—tapi karena punggungnya tegak lurus dan gerak-geriknya tangkas, ia sama sekali tidak terlihat seperti orang berantakan.
"Tolong berhenti manggil pakai akhiran '-chan', rasanya bikin punggungku merinding."
Koishi berucap dengan wajah yang terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka. Tanpa memedulikan maksud dari ekspresi Koishi tersebut, Kataya malah tertawa dan membalas dengan lantang, "Kalian juga boleh kok manggil aku pakai '-chan'."
Saat itulah, pandangan Kataya tertuju pada Hinami. Ia terang-terangan membelalakkan mata dan menatap gadis itu lekat-lekat selama beberapa saat. Ditatap seperti itu, Hinami mengerjapkan matanya dengan raut kebingungan yang kentara. Tepat saat Renjou hendak membuka mulut, Kataya memiringkan kepalanya dan bertanya,
"Gyaru yang menawan di sebelah sini siapa? Bukannya selama ini kalian cuma beroperasi berdua, Koishi-chan dan Renjou-chan?"
"Dia Koizumi Hinami-san, udah kerja paruh waktu sebagai staf administrasi di sini sejak sekitar setengah tahun yang lalu," Jawab Renjou dengan nada kaku layaknya sedang mengurus urusan bisnis.
"Koizumi Hinami, Hinami, ya... 'Anak burung yang belum dewasa', nama yang bagus banget dan punya banyak potensi buat berkembang!"
"Etto... Ini siapa, ya? Suaranya gede banget kayak anak klub bisbol yang habis dimarahin pelatihnya, deh."
Hinami menatap Koishi dengan wajah bingung, tapi Koishi sendiri juga sedang mengernyitkan dahi.
"Ini Kataya-san, om-om tetangga sebelah."
Menanggapi perkenalan Renjou yang asal-asalan itu, Kataya membalas dengan volume suara yang seolah-olah sedang berbicara dengan orang di balik gunung,
"Siapa yang om-om, woi?! Umurku cuma beda setahun dari Koishi-chan, tahu. Kalau umur dua puluh delapan aja udah dikatain om-om, berarti empat tahun lagi Renjou-chan juga bakal jadi om-om. Lagian ya, kata 'om-om' itu kadang bisa jadi panggilan merendahkan tergantung situasinya, jadi jangan dipakai sembarangan. Karena kedengarannya pop dan gampang bikin ketawa, orang-orang jadi sering pakai kata itu dengan santai, tapi di balik itu terselip niat meremehkan atribut golongan tertentu, tahu!"
"Bantahan dengan suara super gede dan jumlah karakter huruf yang super banyak." Renjou yang mulai merasa malas, menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf, aku ngomong gitu tanpa mikir panjang, nggak nyangka bakal dibalas dengan sekuat tenaga kayak barusan."
"Terus om-om tetangga ini ada urusan apa ke sini? Bukannya mau ngajuin permintaan, kan?"
Hinami melontarkan pertanyaan yang sangat masuk akal.
Kataya bergumam, "Mau gimana lagi, terpaksa aku keluarin pedang pusaka warisan keluarga, deh," lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jersey-nya dan mengangkatnya. Mulut Hinami ternganga lebar.
"Eh, detektif polisi?!"
Di tangan Kataya, tergenggam sebuah lencana buku saku kepolisian.
"Aku ini petugas polisi yang ditugaskan di Departemen Keamanan Publik, Divisi Pencegahan Kejahatan. Koizumi-chan, kalau kamu jadi korban KDRT atau semacamnya, hubungi aku kapan aja, ya."
Kataya melemparkan kedipan mata yang canggung ke arah Hinami. Koishi lantas membalas dengan nada menginterogasi,
"Terus, hari ini ada angin apa? Bawa oleh-oleh buat kita, nggak? Misalnya dokumen kasus sulit yang bikin Divisi Reserse angkat tangan, atau surat ancaman pembunuhan yang dikirim ke markas kepolisian prefektur, gitu?"
"Tuntutanmu ngeri banget, deh. Ampun. Hari ini aku lagi lepas dinas, tadi lagi nemenin orang tuaku belanja ke Nishijin, makanya mumpung di dekat sini aku mampir bentar. Nggak bawa apa-apa, lho."
Kataya menyatukan kedua tangannya dan memasang ekspresi memelas.
"Akting minta maafnya doang yang jago. Aktor yang nyebelin, ya."
Mendengar sindiran Koishi, Hinami menatap Kataya dengan curiga.
"Kataya-san ini mantan anggota klub teater," jelas Renjou.
"Aaa, pantas aja," gumam Hinami dengan nuansa tersirat yang berarti, pantas aja suaranya gede banget.
"Sejauh yang aku tahu sih ini pertama kalinya dalam sejarah, lho. Ada polisi yang berasal dari klub budaya."
"Pas kuliah aku ikut klub rugbi."
Kataya memamerkan otot lengan bisepnya, tapi sejujurnya otot itu sama sekali tidak terlihat punya volume tenaga yang besar. Sepertinya dia tidak bermain di posisi yang membutuhkan kekuatan fisik murni.
"Kataya-san mau mantan klub apa kek terserah, tapi kita ini lagi kerja. Bisa tolong silakan pulang sekarang?"
Renjou mengusir Kataya dengan alasan yang sangat valid.
"Dilihat dari mana pun kamu tadi mau tidur, kan."
"Tidur siang juga sebagian dari pekerjaan detektif."
"Ya udahlah, Renjou-chan lanjut tidur siang aja nggak apa-apa. Aku mau ngobrol sama Koishi-chan dan Koizumi-chan."
Sambil menguap bosan, Koishi berkata, "Kalau gitu, tolong ceritain soal kasus kejahatan berat yang lagi hot di daerah sini selama lima menit, habis itu silakan pulang."
"Kamu lagi nyoba mecahin rekor seberapa kejam kamu bisa ngeperlakuin aku, ya?"
Kataya menunjukkan wajah sedih yang terlalu didramatisir, namun ia terlihat sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
"Aku nggak tahu ini masuk kategori kejahatan berat atau bukan, tapi ada tempat prostitusi yang ngepekerjain anak di bawah umur."
"Uwah," Koishi mengeluarkan suara muak.
"Sekarang kami lagi ngehajar (menggerebek) seluruh cabang mereka."
"Parah banget. Yang beli sama yang nyuruh jualan, semuanya najis," umpat Hinami seolah meludah.
"Mukamu sekarang kayak orang yang ngarepin cokelat manis, tapi ternyata yang dimakan itu cokelat dengan kakao sembilan puluh persen, lho."
"Maksain ngeluarin kepribadian lewat perumpamaan aneh gitu cringe banget, deh,"
Hinami berkata dengan wajah yang masih pahit.
"Lagian, anak-anak perempuan yang kerja di tempat kayak gitu diurusin dengan benar, nggak? Biasanya kan akarnya karena masalah gede kayak orang tua yang nggak jalanin perannya, jadinya mereka terpaksa nyari duit buat biaya hidup, kan?"
"Anak laki-laki, lho." Kataya mengatakannya dengan nada datar, seolah ia hanya sedang memberitahukan ramalan cuaca besok.
Hinami membelalakkan matanya yang memang sudah besar menjadi semakin lebar.
"Ya, penangkapannya sih dilakuin ke tempat yang nyediain buat laki-laki maupun perempuan. Tapi yang dipekerjain di bawah umur itu, anak laki-laki SMA. Di tempat prostitusi panggilan, gitu."
Renjou juga terlambat satu ketukan untuk memahami jawaban Kataya. Alasan keterlambatan itu bukanlah karena kurang tidur atau kelelahan.
"...Jujur, aku kaget," gumam Hinami.
"Eh, kaget kenapa?"
"Sama diriku sendiri, ternyata aku punya prasangka kayak gitu. Secara nggak sadar aku nganggap kalau yang ngelakuin prostitusi itu pasti anak perempuan. Asli, aku nyesel banget."
Hinami, yang tumben-tumbenan merasa sangat terpukul, mengatakannya dengan suara lirih yang sangat kontras dengan volume suara Kataya.
"Jujur aja, aku juga ngira yang dibahas itu anak perempuan."
Renjou ikut mengakuinya sebagai bentuk dukungan. Di satu sisi, secara fakta jumlah anak perempuan di bawah umur yang terlibat prostitusi kemungkinan memang lebih banyak. Terlepas dari benar atau salahnya prasangka itu, ia merasa pemikiran tersebut tidaklah terlalu melenceng dari pandangan umum masyarakat.
Namun, Hinami tampaknya benar-benar muak pada stereotip di dalam dirinya sendiri. "Kayaknya pas mau tidur nanti aku bakal kepikiran ini terus nyesel lagi, deh," keluh Hinami sambil menghela napas.
"Sampai se-kena mental itu?" "Soalnya, prasangka sama asal nge-hakim-in (stereotyping) itu hal yang paling kubenci di dunia ini."
Hinami hanya mengatakan hal itu, lalu menundukkan wajahnya dan menghela napas panjang. Tentu saja, bisa dibayangkan dengan penampilannya yang sangat gyaru itu, dia pasti sering menjadi sasaran prasangka buruk dari orang-orang.
"Yah, nggak perlu dibilang lagi sih, cowok kek cewek kek, prostitusi anak di bawah umur itu wajib dicegah. Anak SMA tuh mendingan numbuhin tunas-tunas cinta ke teman sekelasnya aja udah cukup."
Kataya mendadak memasang raut wajah serius.
"Satu-satunya hal yang bisa kulakuin cuma masangin borgol ke keparat-keparat yang mancing, ngejebak, dan ngehasut anak-anak di bawah umur—yang masih ngumpulin EXP kehidupan dan sering nggak bisa bikin keputusan yang benar—buat ngejual tubuh mereka."
Nada bicaranya mengalir lancar, menunjukkan dengan jelas bahwa ini adalah keyakinan yang telah mengakar kuat di dalam hatinya.
"Kataya-san ini, jangan-jangan sebenarnya orang baik, ya?"
Tanpa sadar Renjou menanyakan hal itu kepada Koishi.
"Di dunia ini nggak ada yang namanya orang baik, yang ada cuma orang yang punya sisi baik dan sisi buruk aja."
Koishi menjawabnya tanpa emosi. Sepertinya dia sama sekali tidak tertarik atau terkesan dengan seluruh rangkaian percakapan barusan. Hal itu membuat Renjou refleks mendebatnya.
"Lagaknya ngomong kayak quotes bijak, padahal ya orang yang sisi baiknya lebih banyak itu ujung-ujungnya disebut 'orang baik', kan."
"Aku benci argumen logis~"
Tepat setelah itu, Kataya menggaruk kepalanya lalu berjalan mendekati meja Hinami.
"Ngomong-ngomong, Koizumi-chan... eh, Hinami-chan. Habis ini mau nemenin aku minum, nggak?"
Setelah sempat melongo, Hinami mengerutkan wajahnya kuat-kuat sampai rasanya seluruh bagian wajahnya tertarik ke tengah.
"Hah. Nggak mau, lah. Biarpun aku lagi nggak ada acara, aku nggak bakal mau pergi ke mana-mana sama cowok yang baru pertama kali ketemu. Terus, kalangpun kita akrab, aku nggak mau masuk ke tempat makan bareng cowok yang pakai jersey."
"Halah, baju apa aja mah bebas kali. Habis ini Koishi-chan dan Renjou-chan kan masih ada kerjaan, mumpung kita udah kebetulan ketemu di sini, lah."
"Biarpun ongkos taksi pulangnya dibayarin, aku tetep nggak mau."
"Eh, jangan salah paham dulu. Aku bukannya lagi ngincar Hinami-chan atau apa, lho. Pas ngobrol tadi, aku murni mikir kayaknya bakal seru kalau ngobrol sama kamu. Aku tahu kedai yang punya Kobore Ikura Don yang tumpahannya gila-gilaan, yuk ke sana. Emang mahal sih, tapi enak banget, lho."
"Aku benci ikura (telur ikan salmon), tahu. Tiap kali ngelihatnya aku selalu mikir itu kan cuma air laut bentuk bulat—"
"Nih, lihat, kayak gini. Instagramable banget, lho."
Kataya mendekat ke sisi Hinami dan menunjukkan layar HP-nya. Hinami menatap lekat-lekat layar tersebut.
"Tumpahannya, gila banget, kan?"
Butuh waktu yang lumayan lama sampai akhirnya Hinami memberikan jawaban.
"...Gila, ya."
"Iya, kan? Bikin ngiler, kan? Yuk, berangkat."
Hinami melipat tangannya, ragu-ragu cukup lama, lalu mengangkat wajahnya.
"Boleh, asal kamu juga beliin sarapan buat besok pagi di minimarket."
"...Eh. Beneran mau pergi. Sehebat apa sih ikura don itu sampai-sampai..."
Setengah tahun sejak Hinami bergabung, mereka baru pernah pergi minum bersama sekali saat pesta penyambutan. Koishi dan Renjou sesekali mengajaknya, tapi karena semuanya sangat sibuk, jadwal mereka jarang cocok. Jujur saja, Renjou berdecak kagum melihat kemampuan komunikasi Kataya yang berhasil mengajak Hinami keluar begitu saja.
"Kalau sama Renjou-chan, kapan-kapan kita pergi berdua aja ke kedai ochazuke. Kita ngobrol dari hati ke hati, yuk."
"Jangan nyoba nyari tempat yang murah."
"Yee, lagian aku nggak niat nraktir Renjou-chan."
Tepat saat Renjou hendak membalas, matanya menangkap jam dinding di belakang Kataya. Waktu menunjukkan kurang dari sepuluh menit menuju pukul sembilan belas. Renjou buru-buru menarik penutup mata dari dahinya dan berdiri.
"Kataya-san, kliennya udah mau datang, tolong pulang sekarang, ya."
"Kalau gitu Hinami-chan, aku tunggu di minimarket seberang, ya. Nyusul sepuluh menit lagi."
Setelah meninggalkan pesan itu, Kataya keluar dari ruangan dengan gaya sok keren.
"Eh, Hina-chan beneran mau pergi? Nggak usah maksain diri, lho. Kita nggak ada hubungan bisnis atau apa sama dia, jadi ditolak mentah-mentah aja juga oke."
"Emangnya gimana ceritanya kalian bisa kenal?"
"Dulu, waktu aku masih kerja jadi detektif sendirian, aku lagi ngebuntutin om-om bernama Mononobe buat investigasi perselingkuhan. Terus pas lagi dibuntutin, dia malah berantem sama selingkuhannya. Soal modal buat buka Hobby Shop atau apalah gitu. Berantemnya lumayan heboh sampai pukul-pukulan. Biarpun lagi investigasi, aku nggak bisa cuma diam nonton aja. Kebetulan ada polisi yang lagi patroli di dekat situ, jadi aku jelasin situasinya dan minta tolong buat dilerai."
"Polisi itu, Kataya yang barusan, ya."
"Begitulah."
Renjou juga sudah beberapa kali mendengar cerita itu. Katanya Mononobe dan selingkuhannya ribut soal masalah uang, dan kalau dibiarkan saja situasinya begitu panas sampai-sampai mereka bisa saling tusuk. Renjou selalu berpikir syukurlah kejadiannya tidak berujung sampai ada korban berdarah.
"Habis itu aku sempat dimintai keterangan, dan entah kenapa dia lumayan berterima kasih karena respons awalku dibilang tanggap. Terus pas aku kasih tahu kalau aku ini detektif, dia jadi kadang-kadang main ke kantor. Aku udah bilang ke dia, 'Kalau ada kasus bahaya lempar aja ke aku,' eh tapi sampai sekarang dia belum pernah ngasih kerjaan ke aku sekalipun."
Renjou juga sudah beberapa kali bertemu dengannya, tapi ia sangat tahu bahwa Koishi sama sekali tidak berniat memiliki hubungan lebih dari sekadar "kenalan polisi" dengan Kataya.
"Itu sih, tujuan dia yang sebenarnya kan..."
Tepat saat Hinami hendak mengatakan sesuatu, suara interkom berbunyi. Tepat pukul sembilan belas. Padahal di pintu masuk sudah dipasang papan bertuliskan "Buka - Silakan Masuk", tapi sepertinya tamu ini dengan penuh etika memberi tahu kedatangannya terlebih dahulu.
"Salam kenal. Saya orang yang sudah membuat reservasi."
Saat dipersilakan masuk ke ruang kerja, pria itu berbicara dengan nada tegas, seolah sadar untuk melafalkan setiap suku kata dengan sempurna. Penampilannya pun sama rapinya dengan gaya bicaranya, membuat Renjou tanpa sadar menegakkan punggungnya. Di tengah cuaca yang masih menyisakan hawa panas ini, ia mengenakan setelan jas three-piece lengkap dengan sepatu pantofel kulit dan saputangan saku yang terselip rapi.
"Saya ingin meminta penyelidikan perselingkuhan istri saya."
Di ujung tatapan matanya yang terkesan kaku itu, terdapat Renjou yang penampilannya seperti berteriak "baru begadang semalaman", Hinami yang penampilannya jelas-jelas seorang gyaru, dan Koishi yang seketika kehilangan nyawa di wajahnya begitu mendengar kata "investigasi perselingkuhan".
Renjou buru-buru merapikan rambut dengan sela-sela jarinya, lalu mengalihkan otaknya ke mode konsultan.
"Maaf karena tempat ini agak berantakan. Jika ini soal penyelidikan perselingkuhan, serahkan saja pada kami. Pertama-tama, izinkan kami mendengarkan cerita Anda. Etto..."
"Nama saya Higure Sairo."
Perkenalan yang sangat sopan. Namun, tatapan Sairo menyapu seluruh ruang kerja dengan sedikit curiga.
"Maaf, tapi hal yang ingin saya konsultasikan... tentu saja ini masalah yang sangat pribadi. Saya akan sangat berterima kasih jika pihak yang mendengarnya bisa dibatasi seminimal mungkin. Siapa di sini yang merupakan detektifnya?"
Rasanya kesan pertama Sairo terhadap kantor ini langsung merosot tajam.
"Saya Renjou, konsultan sekaligus penyelidik. Dan ini Koishi, perwakilan sekaligus penyelidik utama. Kami berdua yang akan menangani praktik penyelidikannya."
Tanpa sadar Renjou memberikan salam perkenalan yang lebih kaku dari biasanya.
"Lalu nona yang di sebelah sana...?"
Niat di balik pertanyaan Sairo sangat mudah dipahami—Kalau gyaru ini adalah detektif, emangnya gyaru se-mencolok ini bisa ngelakuin pengintaian dan pembuntutan?
"Aku ini staf administrasi~. Biarpun penampilanku begini, aku jago Excel, lho. Bisa ngegabungin fungsi OFFSET sama MATCH juga~."
Menanggapi sapaan ceria nan pop dari Hinami itu, pria tersebut sama sekali tidak menggerakkan alisnya, hanya menundukkan kepala seolah itu adalah sebuah kewajiban resmi. Gema dari keceriaan Hinami terasa seperti mengambang ditinggalkan begitu saja di dalam ruangan.
"Saya minta agar isi konsultasi ini dirahasiakan dari staf administrasi."
Ucapan yang tenang, namun memiliki daya paksa. Renjou tahu pria itu tidak memiliki niat buruk, tapi tetap saja itu adalah ucapan yang mengandung sifat menyerang.
Saat Renjou melirik ke arah Hinami, mata mereka bertemu. Hinami memberikan senyum kecil dan kontak mata yang seolah berkata, "Aku udah biasa diginiin, kok".
"Karena kami berdua yang akan mendengarkan detail ceritanya, kami akan mengantar Anda ke ruang wawancara di dalam. Setiap orang yang datang ke kantor detektif pasti membawa masalah yang tidak ingin diketahui orang lain. Terlebih lagi, ini juga sudah diatur dalam Undang-Undang Bisnis Detektif, jadi kami sangat menjaga kerahasiaan. Data yang dititipkan maupun laporan yang kami buat juga dijaga ketat agar tidak bisa diakses oleh siapa pun selain kami berdua. Anda tidak perlu khawatir."
Renjou menjelaskannya dengan sangat sopan agar bisa menyampaikan kesan bahwa ini adalah kantor detektif yang "profesional dan layak". Bagi Sairo, kesan "profesional dan layak" itu sepertinya adalah hal yang paling penting dari apa pun.
Sairo sepertinya cukup puas. Begitu mereka pindah ke ruang wawancara dan duduk di kursi, ia langsung menundukkan kepala dan berkata, "Maaf atas sikap saya yang kurang sopan tadi. Mohon dimaafkan."
"Keamanan di sini itu mantap banget, lho, jadi kalau Anda lagi pusing gara-gara misteri pembunuhan di ruang terkunci yang nggak bisa dipecahkan, jangan ragu buat konsultasi, ya."
Karena sejak kalimat pertamanya Koishi sudah melontarkan hal yang tidak perlu, Renjou nyaris saja berdecak sebal. Namun, Sairo tampaknya menganggap itu sebagai lelucon khas Koishi, sehingga ia sama sekali tidak terlihat tersinggung.
"Hal yang ingin saya percayakan pada kalian, seperti yang saya sebutkan tadi, adalah penyelidikan perselingkuhan istri saya."
"Udah kuduga~" sahut Koishi sambil terang-terangan melemaskan tubuhnya. Renjou pun menambahkan ucapannya seperti biasa.
"Itu adalah bidang keahlian kami."
"Begitulah yang saya dengar. Kalau soal penyelidikan perselingkuhan, di sinilah tempatnya. Namun, ada satu hal yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu... Saya dan istri saya tidak memiliki hubungan pernikahan secara hukum. Dia adalah, istilahnya, istri tanpa ikatan hukum resmi."
Bagian 2
Renjou sedikit terkejut, namun ia mengangguk dengan sikap seolah berkata, "Ini masalah yang sudah biasa kami tangani, kok."
Sairo menatap Renjou dan Koishi bergantian. Sebuah tatapan yang sarat akan makna.
"Saya ingin menyampaikannya di awal, saya mencintai istri saya—Aika. Saya menganggapnya sebagai eksistensi yang lebih dari sekadar keluarga. Hanya karena ini penyelidikan terhadap pasangan yang tidak terikat pernikahan resmi, saya tidak sudi jika kalian bekerja setengah hati atau memperlakukan kami berbeda dari klien lainnya."
Ditegaskan dengan sangat gamblang seperti itu, Renjou tanpa sadar menahan napas. Tubuhnya menegang merasakan tekanan yang dipancarkan Sairo. Hubungan pernikahan tanpa status hukum sepertinya adalah hal yang sangat sensitif baginya.
"Sejujurnya, saya mungkin tipe klien yang agak merepotkan. Kalau kalian merasa sebaiknya saya pulang saja, silakan katakan."
"Nggak apa-apa, kok. Aku ini seratus juta kali lipat lebih merepotkan dari Anda."
Dengan gaya bicara santai yang sama sekali tidak pas dengan suasananya, Koishi menimpali dengan balasan yang sama sekali tidak terdengar 'nggak apa-apa'. Namun, Renjou tanpa sadar ikut mengiyakannya. "Orang ini satu triliun kali lipat lebih merepotkan dari Anda, jadi tolong jangan dipikirkan."
Atmosfer mengancam yang menyelimuti Sairo perlahan mulai terseret masuk ke dalam pace atmosfer Koishi.
"Lagian dari awal aku udah muak sama semua kasus percintaan. Buntutin orang, ngintai, motret, sampai bikin draf laporan, aku bener-bener nggak niat ngerjain semuanya."
"Itu... ucapan yang sangat buruk. Setidaknya itu bukan hal yang pantas diucapkan di depan klien," ucap Sairo dengan ekspresi tidak suka. "Kenapa Anda menjadi detektif?"
"Ya soalnya, aku jago banget sampai ke tahap yang nggak wajar, sih."
Koishi menyeringai dan menjawabnya.
"Aku sama sekali nggak ngerasain kepuasan atau kebanggaan waktu ngerjain kasus percintaan. Tapi sedihnya, aku punya bakat di bidang ini. Makanya kalau aku dimintai tolong, aku bakal kerja keras setara dengan bayarannya dan ngasih hasil yang memuaskan. Simpel, kan? Karena itulah,"
Sambil menggaruk sisi hidungnya dengan gaya yang benar-benar tidak tertarik, Koishi melanjutkan, "Mau kalian punya ikatan pernikahan resmi atau nggak, aku bener-bener nggak peduli. Mau ada surat nikah kek, nggak ada kek, aku sama-sama nggak tertarik sama semua jenis hubungan romantis. Jadi pertama-tama, tolong ceritakan detail permintaan Anda."
Entah kenapa ekspresi Sairo sedikit melunak, dan Renjou tidak melewatkan hal itu. Senyuman tipis itu meleleh dan menghilang, kembali menjadi wajah yang kaku, namun jelas atmosfer yang dipancarkan pria itu telah berubah.
"Sebelum masuk ke konsultasi spesifik... Saya akan menggunakan sebutan 'Istri' sebisa mungkin."
Lagi bahas apa, sih? pikir Renjou, tapi ia tetap mempertahankan ekspresi serius dan mengangguk, mempersilakan Sairo melanjutkan.
"Belum menyerahkan surat pendaftaran pernikahan tapi memanggil dengan sebutan 'Istri', mungkin terdengar janggal. Belakangan ini juga banyak perdebatan yang menganggap kata-kata seperti Istri, Nyonya, atau Nyonya Rumah itu tidak pantas karena seolah memaksakan peran gender tertentu. Tapi, saya justru ingin menggunakan kosakata itu. Sebutan bahasa asing seperti Partner atau Wife rasanya berbeda. Bagi saya, Aika adalah Istri saya."
"Begitu, ya." Pokoknya Renjou menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak berniat menyangkalnya. "Kalau begitu, apakah tidak masalah jika kami juga tidak mengubah panggilan dan tetap memanggilnya Nyonya (Okusama)?"
Walaupun pas lagi ngebuntutin nanti bakal kupanggil 'Target Pembuntutan' seenaknya, sih, pikirnya sambil bertanya.
"Ya. Silakan gunakan panggilan itu."
"Apakah Aika-san juga menginginkan panggilan itu?"
Koishi bertanya dengan suara setengah hati.
"Ya, malah sebenarnya ini adalah keinginan istri saya. Di hari kami meresmikan hubungan kami yang sekarang ini, dia bilang, 'Tergantung situasinya, tapi sebisa mungkin panggil aku dengan sebutan Istri, Nyonya, Nyonya Rumah, atau pokoknya panggilan yang tipikal kayak gitu.'"
"Kalau begitu kan nggak ada masalah sama sekali. Masalah antar suami-istri itu, selama nggak melanggar hukum, semuanya murni urusan mereka berdua, kan."
Pertanyaan Koishi menyadarkan Renjou bahwa sudut pandang "bagaimana perasaan sang istri sendiri" sempat luput dari kepalanya. Selalu tertinggal satu langkah di belakang Koishi dalam hal-hal mendasar seperti ini rasanya cukup membuat frustrasi.
"Kalau begitu, apakah Sairo-san juga dipanggil dengan sebutan Master (Shujin) atau Tuan/Suami (Danna)?"
"Saya tidak terbiasa dengan sebutan 'Shujin' jadi saya menolaknya dengan tegas... Istri saya menggunakan sebutan 'Otto' (Suami)."
Pokoknya, Renjou mulai paham bahwa pria ini adalah orang yang sangat peduli pada banyak hal mendetail, mulai dari penggunaan kosakata hingga pendiriannya soal kerahasiaan. Selama ini Renjou sudah mewawancarai berbagai macam klien, tapi untuk tipe seperti Sairo, hal terpenting adalah bagaimana meminimalisasi jumlah kesalahan dari pihak agensi.
Menahan keinginannya untuk segera masuk ke topik utama, Renjou memutuskan untuk mencari tahu di mana letak 'sisik terbalik' pria ini agar tidak memicu kemarahannya kelak.
"Kalau ada hal lain yang mengganggu Anda, tolong sampaikan dari awal. Misalnya, 'Kalau kerja melayani klien harusnya pakai jas', atau AC-nya terlalu dingin atau kurang dingin, atau mungkin Anda merasa tidak tenang karena kantor kami berantakan."
"Tidak, tidak ada yang khusus. Saya mungkin terlihat seperti manusia yang kaku dan terlalu teliti... tapi prinsip saya adalah, saya hanya ingin menjaga tutur kata dan penampilan saya tetap rapi demi menghilangkan segala celah kecacatan dari diri saya sendiri. Saya cuma tidak ingin kehilangan nilai di hal-hal yang tidak perlu. Saya tidak pernah memaksakannya pada orang lain."
"Begitu, ya."
Dari setiap gerak-gerik dan ucapannya, Renjou bisa merasakan tingginya harga diri pria itu, membuatnya kembali meneguhkan tekad. Demi mengambil alih kendali percakapan, ia berdeham sebelum bertanya.
"Kalau begitu, bisa kita mulai mendengarkan detail spesifik dari masalah Anda?"
"Tolong bantuannya. Pertama-tama... karena kalian akan melakukan pembuntutan, saya pikir kalian akan membutuhkan foto wajahnya, jadi saya sudah menyiapkannya."
Setelah berkata demikian, Sairo mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya, lalu mengeluarkan selembar foto ukuran L dengan hati-hati. Sambil melirik seolah mencoba menakar reaksi mereka, ia meletakkannya perlahan di atas meja.
"Ini istri saya. Agak memalukan karena ini foto berdua, sih."
Di foto itu, tampak potret setengah badan Sairo dan seorang wanita yang tampaknya adalah istrinya. Sepertinya itu adalah foto selfie yang diambil di jalan hutan pinus pemecah angin yang mengarah ke pantai pasir, dengan hamparan warna biru yang membentang di balik terowongan pepohonan.
Sementara Renjou masih memilah-milah kata, Koishi bertepuk tangan dan berkata, "Fotonya menghadap depan sambil tersenyum, jadi fitur wajahnya gampang dikenali. Foto yang bagus, bakal sangat membantu buat identifikasi nanti."
Melihat seberapa cepat Koishi bereaksi, Renjou merasakan kekaguman yang aneh, menyadari bahwa atasannya ini memang bukan orang sembarangan. Nyatanya, reaksi Koishi itu adalah jawaban yang tepat. Untuk pertama kalinya, ekspresi kaku Sairo runtuh sepenuhnya. Seolah-olah jarum meternya berbalik ke arah yang berlawanan, atmosfernya seketika menjadi jauh lebih lembut. Sairo bergumam sambil tersenyum.
"Mungkin yang dikatakan Mio-san itu memang benar."
Melihat Renjou dan Koishi memasang wajah terkejut, Sairo menambahkan penjelasannya.
"Tempo hari dia mengajukan permintaan ke kalian, kan? Sebenarnya alasan saya datang ke sini hari ini adalah karena saya direkomendasikan olehnya."
"Oh, rupanya Anda temannya Mio?"
Mendengar ucapan Koishi, Sairo kembali tertawa.
"Betul. Laki-laki umur tiga puluh sembilan tahun berteman dengan anak SMA mungkin terdengar aneh... tapi saya dan Mio-san berada di klub Mölkky daerah yang sama."
"Nah, kan, klub Mölkky," reaksi Koishi.
Itu adalah klub yang pernah diceritakan Mio sebelumnya.
"Malam sebelum kemarin kebetulan ada kumpul klub, dan pas saya tidak sengaja keceplosan lagi nyari kantor detektif, Mio-san bilang dia juga baru saja selesai diselidiki sama kalian. Jadinya saya dengar banyak cerita dari dia."
Dengan nada senang, Koishi berkata, "Kalau Anda ini kenalannya Mio, aku bakal kasih diskon rujukan biar harganya lebih murah, deh. Yah, tapi tergantung detail permintaannya juga, sih."
Lagi-lagi orang ini nawarin diskon yang nggak pernah ada di sistem seenak jidatnya... pikir Renjou jengah, tapi ia kembali menatap lurus ke arah Sairo.
"Apakah ada sesuatu yang memicu Anda mencurigai istri Anda?"
Menanggapi pertanyaan Renjou, raut wajah Sairo kembali menegang. Ia melipat tangannya di depan dada, menandakan bahwa mereka akhirnya masuk ke topik utama.
"Sebagai pengantar, dasar utama yang membuat saya mencurigai istri saya adalah... intuisi. Bisa juga disebut indra keenam. Tentu saja ada pemicu-pemicu kecil lainnya, tapi lebih dari apa pun, saya sangat memercayai insting saya terhadap istri saya."
"Intuisi itu penting, lho. Deduksi macam apa pun pasti selalu dimulai dari sebuah hipotesis yang bernama intuisi. Apalagi, sepertinya intuisi Sairo-san ini bakal tepat sasaran," Koishi tersenyum.
"Tapi, memercayai istri Anda jauh lebih penting daripada sekadar intuisi," sela Renjou cepat.
Renjou selalu mengambil pendirian yang condong pada harapan: "Belum tentu dia bersalah". Dalam investigasi perselingkuhan apa pun, ia selalu berharap kesimpulannya hanyalah sebuah salah paham belaka. Tentu saja, begitu penyelidikan dimulai, ia akan bergerak dengan mencurigai target sepenuhnya, tapi saat berbicara dengan klien, ia selalu berusaha menyingkirkan premis bahwa target pasti berselingkuh.
"Apakah ada perilaku atau ucapan spesifik yang membuat Anda merasa curiga?"
Mungkin karena sudah menduga pertanyaan itu, Sairo menjawab tanpa mengubah ekspresinya.
"Kalau bicara soal fakta spesifik, masalahnya ada pada iPhone-nya."
"Maksudnya?"
"Dia jadi tidak pernah menggunakan fitur FaceID."
Itu adalah fitur untuk membuka kunci layar menggunakan pemindai wajah.
"Awalnya, dia memakainya. Tapi entah karena dia ganti model HP bulan lalu, sepertinya dia cuma buka kunci pakai kode sandi. Saya sih sengaja tidak ngebahas soal itu kepadanya."
"Untuk jaga-jaga, bukannya dia ganti ke model HP yang nggak punya fitur FaceID, kan?"
Mendengar pertanyaan Renjou, Sairo mengangguk.
"Ya. Dia pakai model terbaru. Tentu saja fitur FaceID itu ada, dan saat proses pergantian model atau 'setup' awal, sistem pasti menyuruhnya mengatur fitur itu. Kenyataan bahwa dia dengan sengaja mengabaikannya dan membiarkan fitur itu tidak aktif, menurut saya sangat mencurigakan."
"Ngomong-ngomong, selama ini Anda pernah ngecek HP istri Anda?"
Koishi bertanya tanpa basa-basi. Sairo memasang wajah seolah menolak keras ide tersebut.
"Kepikiran buat ngecek aja saya tidak pernah. Saya merasa sudah sangat memahami istri saya luar dan dalam tanpa harus melihat isi HP-nya."
"Begitu, ya. Terus di tengah ritme kehidupan kalian berdua, apakah ada waktu-waktu di mana 'kalau mau selingkuh di jam segini pasti bisa', gitu?"
Koishi mengajukan pertanyaan lagi.
"Sejujurnya, waktu seperti itu ada banyak. Di hari kerja, jam kerja saya dan istri saya kadang berbeda, ditambah lagi tempat kerja istri saya ada di Kota Kasuga. Terus terang saja, kalau istri saya yang dapat shift pagi melakukan sesuatu di Kasuga sepulang kerja, saya tidak akan bisa memantaunya. Di hari Sabtu-Minggu juga saya sering meninggalkan rumah untuk ikut simposium, kelompok studi, atau seminar, jadi di waktu-waktu itu istri saya bisa bebas bergerak."
"Oh, begitu. Ngomong-ngomong, apa pekerjaan Nyonya Aika?"
"Dia bekerja sebagai guru TK/pengasuh anak."
Renjou tersenyum lembut dan menimpali,
"Aku nanya hal yang agak klise, sih... Nyonya pasti sangat suka anak-anak, ya."
"Ya. Dari dulu, kalau ketemu anak kecil di taman, dia bakal ikut main dan langsung akrab di tempat. Beda sama saya yang nggak terlalu jago ngurusin anak kecil, kami benar-benar bertolak belakang."
Karena Sairo memutus kalimatnya di situ, sedikit keheningan turun menyelimuti ruangan. Tiba-tiba Sairo mengangkat wajahnya seolah baru menyadari sesuatu.
"Ah, tentu saja kami tidak berencana punya anak. Hal itu sudah pasti, kami memiliki pendapat yang sama soal itu. Istri saya juga sudah menyerah untuk punya anak sejak tahap yang sangat awal. Kami tidak pernah meributkan soal mau atau tidak mau punya anak."
"Ah, maaf. Maksudku bukan begitu..."
Renjou berucap sambil menggaruk area sekitar alisnya. Saat merasa canggung, ia selalu punya kebiasaan menyentuh area mata untuk menyembunyikan pandangannya.
"Ngomong-ngomong, pekerjaan Sairo-san adalah...?"
"Saya bekerja sebagai dokter di dekat Stasiun Meinohama. Bedah Saraf. Saya belum ngasih kartu nama, ya."
Setelah berkata begitu, Sairo mengeluarkan tempat kartu nama dari kulit dari saku dadanya. Karena Renjou tidak pernah membawa kartu nama, ia buru-buru kembali ke ruang kerja untuk mengambilnya, membawa sekalian milik Koishi, lalu saling bertukar kartu.
Di kartu nama Sairo, tertulis nama klinik "Klinik Bedah Saraf Higure".
"Karena tadi Anda nyebut kata simposium sama kelompok studi, aku udah nebak kalau Anda ini dokter."
Koishi berucap dengan rasa bangga yang tidak perlu.
"Untuk memastikan saja, tujuan investigasi Sairo-san ini untuk ngumpulin bukti perselingkuhan, kan?"
Mendengar pertanyaan Renjou, Sairo menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja... saya bukan butuh bukti untuk dibawa ke pengadilan. Kalau istri saya memang berselingkuh, saya cuma ingin tahu fakta itu saja."
"Walaupun pernikahan tanpa ikatan hukum, dalam beberapa kasus Anda tetap bisa nuntut uang kompensasi perselingkuhan (isharyou), lho?"
Koishi menyela dengan santai. Sairo mengerjapkan matanya sekali, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya sangat berterima kasih atas kepedulian Anda."
"Nggak usah berlebihan gitu, lah."
"Seandainya istri saya memang berselingkuh pun, saya tidak berniat membawanya ke pengadilan, jadi tidak apa-apa. Membayangkan saya dan istri berdiri di meja hijau saja saya tidak sudi. Bukan pakai hukum negara, saya akan 'membereskannya' pakai aturan saya sendiri."
Nada bicaranya terdengar seperti sebuah ancaman. Apakah ia harus memberitahu Sairo bahwa gugatan cerai pada dasarnya berjalan secara tertulis, dan lagipula sebagian besar kasus adalah perceraian atas kesepakatan bersama sehingga jarang sampai ke pengadilan? Atau apakah menunjukkan ketidaktahuannya itu hanya akan memancing amarah dari harga dirinya? Atau jangan-jangan hal itu malah benar-benar melenceng dari konteks dan hanya membuang-buang waktu?
Berbagai macam pemikiran berputar di kepala Renjou, hingga pada akhirnya ia memilih untuk diam.
"Kalau sampai ada kasus pembunuhan sih aku jelas mau memecahkannya, tapi kalau skenarionya Sairo-san menusuk istri Anda sendiri, aku sih ogah, lho."
Tepat saat Renjou menatap tajam dengan sorot mata yang seolah berkata, 'Lancang banget, sih', Sairo menyemburkan tawanya di saat yang bersamaan.
"Saya tidak akan menusuknya, kok. Saya cuma akan mengajaknya bicara baik-baik dan melanjutkan hubungan kami berdua. Hubungan kami ini bukanlah sesuatu yang bisa hancur cuma gara-gara perselingkuhan."
Senyum pertama yang diperlihatkan Sairo. Sambil memendam rasa frustrasi karena lagi-lagi Koishi yang berhasil memancing senyuman itu, Renjou melanjutkan pembicaraan.
"Kalau begitu, mari kita mulai menyusun rencana penyelidikan dan merampungkan draf kontraknya—"
"Untuk isi kontrak, cukup cantumkan soal kewajiban menjaga kerahasiaan saja, tidak apa-apa. Untuk biayanya, selama tidak terlalu melenceng jauh dari harga pasaran, saya akan bayar sesuai harga yang kalian minta. Rencana penyelidikannya pun, tolong buat simpel saja dengan gaya 'Terus lakukan sampai kalian berhasil menemukan sesuatu'."
"Wow, dermawan banget."
Menanggapi reaksi Koishi yang terlewat santai, Renjou mengerutkan kening.
"Biaya penyelidikan detektif itu bertambah berdasarkan hitungan per jam kerja... Tergantung situasinya, biayanya bisa membengkak jadi jumlah yang sangat fantastis, lho?"
Renjou benar-benar teladan seorang konsultan yang peduli pada pelanggannya. Namun, Sairo menggelengkan kepala.
"Biaya tidak jadi masalah bagi saya. Tolong selidiki secara menyeluruh."
"Menurutku Anda juga butuh timing untuk memutuskan kapan Nyonya dinyatakan 'bersih'. Proposisi negatif itu nggak bisa dibuktikan, jadi Anda harus nentuin batas akhirnya di suatu titik."
Saat Koishi menyela dengan ucapan itu, Sairo tertawa kecil,
"Saya tidak akan pernah melewatkan kejanggalan sekecil apa pun dari istri saya. Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Saya yakin kalau kalian menyelidiki dengan gigih, kalian pasti akan menemukan sesuatu."
Pernyataan yang penuh percaya diri. Klien yang sangat keras kepala, tapi anehnya ada bagian dari dirinya yang bisa dimaklumi. Tipe orang ini pasti tidak pernah menghadapi rintangan atau kesulitan yang berarti di sepanjang hidupnya—kecuali dalam urusan cinta.
Setelah itu, mereka melakukan penyesuaian jadwal yang mendetail dan mencatat pola kegiatan Aika, hingga waktu menunjukkan hampir pukul delapan malam.
"Kami sudah menanyakan semua hal yang ingin kami tanyakan... karena kami selalu meminta semua klien untuk mengisinya, tolong isi formulir profil ini, ya."
Renjou menyerahkan selembar formulir profil yang dijepit di clipboard, tempat klien menuliskan kontak, alamat, dan lain-lain. Sairo tampak ragu sejenak sebelum akhirnya membuka mulut.
"Tadi ada staf administrasi yang penampilannya sangat mencolok di kantor depan... Saya ingin memastikannya sekali lagi. Informasi pribadi yang saya tulis di sini, dokumen yang saya berikan, serta foto-foto hasil penyelidikan nantinya, benar-benar dikelola dengan ketat, kan? Saya tahu ini pertanyaan yang kurang ajar, tapi... saya benar-benar tidak ingin fakta bahwa saya sedang menyelidiki perselingkuhan istri saya ini sampai diketahui orang lain."
"Anda tidak perlu khawatir. Di ruangan depan tadi, sama sekali tidak ada informasi klien kami. Tidak ada seorang pun selain saya dan Koishi yang bisa mengakses informasi rahasia tersebut."
Lebih tepatnya, data laporannya ada di dalam PC Renjou, dan draf laporan tulisan tangan terselip berantakan di dalam kabinet Koishi. Namun, PC itu dikunci dengan kata sandi, dan kabinetnya juga selalu digembok. Menjelaskannya sampai sejauh itu hanya akan membuang-buang waktu, jadi Renjou mengabaikannya.
"Foto dan formulir profil yang Anda titipkan akan kami simpan di dalam brankas di ruangan belakang selama masa penyelidikan, dan akan kami kembalikan setelah penyelidikan selesai."
"Tolong, pastikan jangan sampai ada kebocoran informasi sama sekali."
"Soal itu, Anda bisa memercayainya pada kami."
Renjou mengatakannya dengan tegas. Ia merasa, ketegasan adalah hal yang paling penting di saat seperti ini.
Sairo sepertinya cukup bisa menerimanya. Ia segera mengisi formulir tersebut dengan cepat dan menyerahkannya. Koishi menerimanya dan melirik isiannya sekilas.
"Ulang tahun Anda, sebentar lagi, ya."
Koishi berkata dengan santai. Saat Renjou melihatnya, ulang tahun pria itu memang jatuh pada akhir bulan ini.
"Di usia segini, saya sudah tidak bisa menemukan makna khusus pada hari ulang tahun. Yah, berhubung tahun ini saya akan berumur empat puluh, tentu saja terasa sedikit spesial, sih."
"Kalau begitu, setidaknya kita harus menyelesaikan kasus ini sebelum ulang tahun Anda, ya," ujar Renjou.
Sairo lalu menyahut seolah baru teringat sesuatu.
"Ulang tahun saya dan istri saya cuma beda sehari. Saya tanggal 23 Oktober, dan istri saya tanggal 24."
"Hee... langka juga, ya." Renjou berucap sambil mencoba membayangkan makna di balik hal tersebut. "Bagaimanapun juga, kami akan melakukan yang terbaik agar Anda bisa merayakan ulang tahun yang bahagia."
Wawancara pun selesai, dan Sairo langsung membubuhkan cap stempelnya pada surat kontrak di tempat sebelum pulang. Ia hanya memindai kartu nama Koishi dan Renjou menggunakan aplikasi manajemen kartu nama, lalu meninggalkannya begitu saja di atas meja. Memang banyak klien yang tidak membawa pulang kartu nama detektif demi menjaga kerahasiaan.
"Dia bener-bener peduli banget soal kerahasiaan, ya."
Saat kembali ke ruang kerja, Renjou mengutarakan kesannya sambil menyimpan surat kontrak ke dalam map.
"Itu tandanya dia bener-bener nggak mau ketahuan, kan."
"Tapi tetep aja, sikapnya yang curiga banget sama Hinami-san itu agak di luar dugaan, atau lebih tepatnya bikin kesel, sih. Emang bener ya, orang pintar kayak dokter itu punya prasangka kuat kalau gyaru pasti kelakuannya buruk."
Saat Renjou mengeluh seperti itu, Koishi menyeringai dan membalas, "Ucapan Renjou-kun barusan itu juga ngandung prasangka kalau 'dokter itu pintar' dan prasangka kalau 'orang pintar punya prasangka kuat terhadap gyaru', lho~."
"Aku ngerti sih perasaanmu, lagian sikap dia yang ngeremehin Hina-chan itu malah jatuhnya lucu buatku," tambah Koishi.
Bagian 3
Hari pertama penyelidikan.
Tempat kerja Aika adalah sebuah taman kanak-kanak kecil yang berada di lantai satu sebuah gedung apartemen. Tidak ada halaman bermain, dan pintu masuknya hanya ada satu. Beruntung di seberangnya ada kafe yang memiliki area teras, sehingga beban pengintaian kami menjadi cukup ringan. Kalau tempat ini tidak ada, kami pasti sudah sangat kerepotan. Demi menyamar sebagai pekerja kantoran yang sedang rapat, kami berdua mengenakan jas, dan Renjou membuka laptopnya. Untuk mengurangi frekuensi pergi ke toilet, kami menahan diri agar tidak terlalu banyak minum sambil terus berdiam di sana.
Sejak pukul lima belas, Renjou dan Koishi terus mengawasi sosok anak-anak TK yang mulai pulang satu per satu. Menurut Sairo, saat mendapat shift pagi Aika akan bekerja sampai sekitar pukul enam belas, dan saat shift malam ia baru selesai setelah lewat pukul sembilan belas.
"Waktu kita ngebuntutin orang di depan TK beberapa waktu lalu, itu repot banget, ya."
Sambil melihat seorang anak TK yang berlari melepaskan diri dari pegangan orang tuanya, Renjou teringat pada permintaan klien di masa lalu.
"Emang waktu itu ada kejadian apa?"
"Eh, kau nggak ingat? Ada kan ibu-ibu yang selingkuh sepulang dari ngejemput anaknya di TK."
"Oh, kayaknya emang ada, deh."
"Waktu ngebuntutin dia, aku sempat deg-degan banget dan ngira kita beneran bakal gagal, lho."
"Eh, emangnya ada apaan?"
Koishi memiringkan kepalanya bingung.
"Waktu Koishi-san ngebuntutin dari jarak yang lumayan dekat, anaknya jatuh parah sampai hidung dan lututnya ngeluarin darah banyak banget, kan? Lukanya lumayan parah sampai-sampai bakal kelihatan nggak wajar kalau kita nggak nolongin, makanya Koishi-san terpaksa ngelakuin kontak sama mereka..."
"Eh, sori, aku bener-bener nggak ingat. Aku pernah ngelakuin kontak sama target pembuntutan? Padahal itu kejadian yang kayaknya mustahil buat dilupain, sih..."
Melihat ekspresi Koishi yang tampaknya benar-benar tidak ingat, Renjou menyadari kesalahannya sendiri.
"...Mungkin aku salah ingat kali, ya. Yah, lagian kali ini target kita bukan wali murid, jadi urusan anak-anak nggak ada hubungannya, sih. Kayaknya dia udah mau keluar."
Setelah lewat pukul delapan belas, jumlah orang tua yang datang menjemput berkurang drastis, dan pada pukul sembilan belas sebagian besar lampu di dalam TK sudah dimatikan. Siklus kehidupan di fasilitas yang tak dikenal ini perlahan meresap ke dalam tubuh mereka dengan sendirinya. Renjou lumayan menyukai sensasi ini.
Renjou berhasil menangkap sosok Aika yang keluar dari gedung TK pada pukul 19:10. Karena wajahnya terlihat jelas dari depan, tidak mungkin salah orang. Berbeda dengan kesan yang didapat dari Sairo, Aika memancarkan aura yang santai dengan rambut cokelat terang sebahu. Pakaiannya mengutamakan fungsionalitas, berupa kaus oblong dan celana jersey.
Sepertinya Aika mendapat giliran mengunci pintu, ia terlihat sibuk menyelesaikan prosedur penguncian di depan gerbang.
"Kalau dia baru pulang jam segini, ujung-ujungnya baru sampai rumah jam sembilan-an malam, ya. Waktu tempuh perjalanannya pakai kereta ekspres aja lebih dari satu jam, bukannya itu udah setara sama jam commuting pegawai kantoran di Tokyo, ya."
Rute pulang Aika dari sini adalah berjalan kaki beberapa menit untuk naik kereta jalur lokal dari Stasiun Kasugabaru, lalu transit ke jalur kereta bawah tanah Bandara di Stasiun Tenjin.
"Pasti berat banget padahal berangkat paginya juga cepat. Yah, mungkin dia emang pengin jaga jarak dari tempat kerja, kali. Biarpun ngebuntutinnya capek, tapi ini pertama kalinya kita ngebuntutin di area sini, jadi mari kita nikmatin aja seolah-olah lagi liburan."
"Tolong jangan dinikmatin, kerja yang bener sana—Oh, dia udah selesai ngunci gerbang. Ayo gerak."
Setelah memasang earphone di telinganya, Aika mulai berjalan ke arah stasiun. Renjou membuntutinya dari belakang, sementara Koishi memberikan support dari seberang jalan. Formasi seperti biasanya.
Renjou bertanya lewat interkom.
"Ngomong-ngomong, panah Aika-san arahnya ke mana?"
"Cuma ada satu panah yang menjulur ke arah barat laut. Yang nancap ke dia juga ada satu dari arah barat laut."
Barat laut adalah arah letak rumah sakit Sairo di Meinohama.
Mata Koishi bisa melihat perasaan cinta. Perasaan cinta yang menjulur dari dada dan menancap ke dada dalam wujud panah berwarna merah. Jika ada dua atau lebih panah yang menjulur dari dada target pembuntutan, kemungkinan besar target tersebut berselingkuh.
Meski begitu, keberadaan perselingkuhan tidak bisa divonis hanya dari panah tersebut. Biarpun ada dua panah, bisa saja target hanya memendam perasaan cinta secara diam-diam tanpa melakukan tindakan apa pun. Sebaliknya, meski panahnya hanya ada satu, bisa saja target melakukan kontak seksual tanpa adanya perasaan cinta. Perasaan cinta bukanlah syarat mutlak maupun syarat cukup untuk terjadinya perselingkuhan.
Tanpa mampir ke mana-mana, Aika tiba di Stasiun Kasugabaru, berganti kereta, lalu turun di stasiun terdekat dari rumahnya. Selain saat berpindah kereta, ia terus-menerus melihat HP-nya tanpa menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.
Tepat setelah keluar dari stasiun, Aika mampir ke minimarket. Untuk berjaga-jaga Renjou ikut masuk ke dalam toko dan mengecek barang apa saja yang dibelinya.
"Satu botol air karbonasi, dua es krim, dua onigiri, baterai—"
Sambil merendahkan suaranya, Renjou melapor ke Koishi lewat telepon. Saat ia sedang mengawasi dengan santai dan berpikir bahwa ini hanyalah belanjaan biasa, Aika membungkuk untuk mengambil sesuatu dan melemparnya ke dasar keranjang belanja.
"Satu kotak kondom."
Koishi bergumam, "Hoo."
"Coba perhatiin apa dia biarin barang itu di dalam kantong plastik yang sama atau nggak. Kalau buat selingkuh, mungkin habis keluar toko bakal dia pindahin ke saku atau ransel."
"Dimengerti. Sejauh ini dia masih masukin ke kantong plastik belanjaan yang sama."
Bahkan setelah keluar dari minimarket, Aika terus memakai earphone-nya. Setelah menyimpang dari jalan raya dan memasuki kawasan perumahan yang agak gelap, ia berjalan dengan langkah mantap, sama sekali tidak terlihat waspada terhadap jalanan malam. Kotak kondom itu tidak dikeluarkan dan dibiarkan begitu saja di dalam kantong plastik belanjaan. Dari kejauhan, Renjou bisa melihat samar-samar bentuk sudut kotak yang menonjol dari kantong tersebut.
Aika terus berjalan selama sekitar sepuluh menit dan tiba di rumahnya. Sesuai dengan alamat yang diberitahukan oleh Sairo.
Tempat Aika tiba adalah sebuah rumah berlantai dua yang berdiri sendiri (detached house). Tipe rumah yang dilengkapi dengan garasi di lantai satu. Mungkin karena malas mengeluarkan kunci, Aika membunyikan bel pintu. Sairo, yang mengenakan pakaian sweatshirt, segera keluar dan mempersilakan Aika masuk. Sairo mengambil alih kantong belanjaan minimarket yang tampak berat itu dari tangan Aika dengan gerakan yang sangat natural.
Pintu segera ditutup, menandakan bahwa pengintaian hari ini telah berakhir.
"Koishi-san," Renjou bertanya dengan suara pelan. "Gimana?"
"Panahnya saling mengarah ke satu sama lain. Masing-masing satu panah, ya."
Dari dada Sairo ke dada Aika, dan dari dada Aika ke dada Sairo. Keduanya saling mencintai, dan tidak ada perasaan cinta yang diarahkan kepada orang lain—fakta itu sudah dipastikan tanpa keraguan.
"Ngomong-ngomong, aku yakin banget ngawasin dia tanpa ngalihin pandangan sama sekali, dan dia sama sekali nggak mindahin kotak kondom itu, lho."
"Iya, sih. Buat jaga-jaga nanti aku bakal mastiin hal ini ke Sairo... tapi yah, karena Sairo tadi langsung nerima kantong belanjaannya, kondom itu pasti buat dipakai berdua. Nggak ada hubungannya sama selingkuh."
Hari pertama berakhir tanpa hasil—malahan, penyelidikan ini hanya berakhir dengan menegaskan bahwa tidak ada masalah seperti sexless di antara pasangan keluarga Higure tersebut.
Hari kedua, ketiga, dan keempat, pengintaian dan pembuntutan terus dilanjutkan, tapi tidak ada satu pun hasil yang bisa disebut sebagai temuan berarti. Setiap hari, Aika terkadang mampir ke minimarket, supermarket, toko obat, atau berbelanja di Kaldi di mal bawah tanah Tenjin, tapi setelah itu ia selalu pulang lurus ke rumah tanpa menemui siapa pun.
"Jangan-jangan ini emang beneran bersih, ya? Entah kenapa, dua orang itu... rasanya di antara pasangan itu nggak ada masalah apa-apa, dan malah ngasih kesan kalau nggak ada seorang pun yang bisa nyelip di antara mereka."
Hari kelima pengintaian. Karena akan sangat mencurigakan jika mereka terus-terusan duduk di kursi teras setiap hari, kali ini mereka memutuskan untuk duduk di kursi dekat jendela di dalam kafe. Mengingat hari ini adalah Sabtu sore, pengunjung kafe juga lebih ramai dari biasanya.
"Dari hari kedua aja aku udah bosan banget sama pengintaian ini, tahu. Karena Aika ini terlalu anteng, aku malah jadi ngarep kalau ini tuh jenis ketenangan sebelum badai, dan ini cuma build-up sebelum dia beneran terseret ke dalam kasus pembunuhan."
"Tolong hentikan harapan yang nggak etis dan nggak ada gunanya itu."
Bahkan teguran untuk Koishi itu pun tidak memiliki tenaga. Renjou, yang merasa dirinya jauh lebih penyabar daripada Koishi, juga mulai kehabisan energi mental secara perlahan.
"Si Aizawa itu kan kelihatannya lagi ngerjain kasus yang beneran serius, sementara aku malah harus duduk di kursi keras selama tiga jam tiap hari sambil bikin perutku kembung minum soda elderflower dan ngawasin bocil-bocil pulang TK cuma demi kasus cinta-cintaan kayak gini. Jadi biarin dong aku ngarep hal yang nggak etis dikit."
"Hebat juga kau bisa ngomong kalimat sebanyak itu dalam satu tarikan napas. Lagian tolong jangan banyak minum biar nggak bentar-bentar ke toilet, deh."
Karena merasa malas untuk menanggapi semua kekonyolan Koishi, Renjou hanya membalas seadanya.
"Yah, habis pembuntutan hari ini selesai, besok kita udah pasti libur. Semangat, ya."
Besok adalah hari Minggu, hari libur bagi Sairo maupun Aika. Karena mereka berdua akan pergi keluar bersama, tidak perlu ada penyelidikan di hari itu. Sairo meminta mereka untuk melanjutkannya lagi pada hari Senin.
"Bener juga, libur yang udah lama dinanti-nanti."
"Mau main sama Momo-shi?"
Pertanyaan Koishi membuat pikiran Renjou berhenti sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia punya jadwal untuk besok, lalu menyadari bahwa besok adalah hari libur total tanpa satu pun jadwal acara.
"Nggak, pokoknya aku cuma mau tidur."
"Lho, nggak ada acara? Kalau gitu bantuin aku masang rak buku di kantor sama masukin buku-bukunya, dong. Kalau sendirian kayaknya nggak bakal kelar dalam sehari, deh."
"Kenapa juga hari liburku harus hancur gara-gara ngurusin rak buku di tempat kerja, sih. Lagian, jumlah buku yang nggak bakal kelar diurusin dalam sehari itu, emangnya mau bawa seberapa banyak, hah?"
"Kapasitas koleksi bukuku itu kan udah bisa ditebak kira-kira seberapa banyak, lho. Aku punya buku sebanyak toko buku bekas bau jamur yang ada di belakang kantor kita itu, tahu."
"Gila banget."
Renjou benar-benar takjub dari lubuk hatinya.
"Waktu aku masih fresh graduate dan kerja kantoran, aku masih nyimpen buku-bukuku di rumah dengan rapi, tapi pas mutusin buat kerja mandiri buka kantor detektif, otomatis aku ngerasa waswas sama kondisi keuanganku dan pengin nekan biaya hidup bulanan, kan? Makanya aku nyoba nyari rumah yang luas dan murah, tapi nggak nemu-nemu, jadinya dengan nangis-nangis aku terpaksa pindah ke rumah yang sempit dan murah, deh."
"Cuma di bagian situ doang kau anehnya bisa mikir logis dan main aman, ya."
"Terus, pas pindahan aku mutusin buat nitipin sebagian besar bukuku di rumah adik perempuanku. Rumahnya nggak terlalu jauh juga, sih. Lagian aku nggak bisa ngandelin rumah orang tuaku, kan."
Renjou juga pernah dengar kalau Koishi punya adik perempuan. Seingatnya, adiknya bekerja sebagai pegawai kantoran di distrik sebelah.
"Kakak yang nyusahin banget, ya."
"Terus, ya... kemarin lusa, kayaknya lantai rumah adikku jebol."
Renjou menatap wajah Koishi tanpa kata.
"Nggak, maksudku, adikku itu tipe orang yang lebih mentingin luas dan jarak ke stasiun daripada umur bangunan atau kebersihan rumah. Dia tinggal di apartemen kayu yang lumayan tua. Tentu aja aku udah nyuruh dia buat naruh bukunya nyebar, tapi yah... kayaknya lantainya nggak sanggup nahan berat dari kebijaksanaan dan gairah yang dimiliki buku-bukuku itu, deh..."
Mendengar berita mengejutkan yang mendadak muncul dari obrolan santai itu, Renjou tidak tahu harus bereaksi seperti apa, jadi ia hanya berucap, "Uwah."
"Eh, terus adikmu sekarang gimana?"
"Paman pemilik apartemennya ngamuk ke adikku, terus adikku ngamuk ke aku. Satu-satunya yang bisa ngentiin efek domino amarah yang sia-sia ini ya cuma aku doang."
"Dilihat dari sudut pandang mana pun, kau lho yang jatuhin kartu domino pertamanya."
Mengabaikan teguran Renjou, Koishi malah berargumen dengan penuh semangat.
"Aku udah berusaha nenangin dia sih, tapi gila aja kalau aku terus-terusan nitipin bukuku di rumahnya, jadi ya mau nggak mau aku harus naruh semuanya di kantor. Karena situasinya begini, yah, mau gimana lagi, kan."
Di wajah Koishi yang menjulurkan lidahnya sambil berkata "Teehee", sama sekali tidak terlihat secercah pun rasa bersalah, baik kepada Renjou maupun kepada adiknya.
"Tolong cari kata 'Introspeksi' di kamus sebelum besok, terus ukir semua penjelasan artinya di pipimu pakai tato. Ditulis terbalik kayak pantulan cermin biar kau bisa baca sendiri."
Renjou mengatakannya setengah serius.
"Nggak, tapi adikku juga ada salahnya, tahu. Mentang-mentang lantainya jebol, dia ngumpulin semua koleksi buku kesayanganku dan ngejual semuanya di Mercari seharga seribu yen doang, makanya aku buru-buru nyuruh dia take-down dagangannya. Seribu yen, lho? Mulai dari seri kenangan yang ngebentuk masa kecilku kayak 'Yumemizu Kiyoshiro' atau 'Pasukan Detektif McGurk', terus seri buku anak-anak karya Anthony Horowitz yang malah kubaca ulang pas udah dewasa, buku edisi asli terbaru dari seri 'Wani-machi' karya Jana DeLeon yang lagi kusuka akhir-akhir ini, dan yang paling penting manga favoritku nomor satu sedunia, 'Utsubora'—semuanya mau dijual! Kehidupanku nyaris dijual seharga seribu yen doang, tahu?!"
"Itu mah murni senjata makan tuan gara-gara ulahmu sendiri, kan."
Menghadapi tatapan dingin Renjou, Koishi mendadak mengubah nadanya menjadi tenang.
"Yah, namanya juga hubungan darah, beda sama cinta atau pernikahan yang bisa diputus gitu aja, ini nggak bakal bisa terputus, tahu."
"Kalau gitu, tolong jangan nitipin buku seukuran isi toko buku bekas ke dia, dong."
"Karma buruk sang kakak itu karma adiknya juga, tahu."
"Kakak macam apa itu. Lagian, emangnya buku sebanyak itu muat ditaruh di kantor ini?"
"Tentu aja kalau semuanya nggak bakal muat, tapi aku udah mesen rak buku raksasa model tempel dinding, jadi kayaknya muat lumayan banyak, deh. Kalau di kantor detektif ada deretan novel misteri dari segala zaman dan penjuru dunia, pasti kelihatan keren, kan? Anggap aja ini pengeluaran yang diperlukan. Malahan, ini nunjukin kebaikan hatiku yang sudi nyediain barang pribadi buat dekorasi interior kantor, tahu."
Dihadapkan pada ketidakmaluan yang begitu telanjang ini, Renjou malah merasa sedikit lega saking takjubnya.
"Eh ngomong-ngomong, kamu udah baca 'Mouryou no Hako' yang kurekomendasiin waktu itu belum? Ngebaca buku yang direkomendasiin orang lain itu langkah terbaik dalam berkomunikasi, lho."
"Siapa juga yang lagi ngomongin komunikasi. Yah... aku emang belum baca, sih."
"Ya ampun, percuma aja deh direkomendasiin. Kalau gitu, karya yang paling pengin kurekomendasiin sekarang itu ya 'Utsubora'. Kalau manga harusnya kamu bisa baca, kan. Ini bukan urusan pinjam-meminjam lagi, tapi kuanggap sebagai tugas bacaan wajib, deh."
"Kalau gitu, tolong baca juga manga shoujo rekomendasiku. Aku bakal milih judul yang tetap seru biarpun kau nggak tertarik sama kisah percintaan—"
Tepat pada saat itu, sosok Aika yang keluar dari gedung TK tertangkap oleh matanya. Tanpa sadar ia menoleh ke arah Koishi.
"Koishi-san, itu."
Seolah memahami apa yang ingin dikatakan Renjou, Koishi bergumam, "Akhirnya dia mulai gerak juga, ya," lalu bangkit berdiri.
Aika tidak mengenakan kaus oblong dan jersey seperti biasanya, melainkan blus french sleeve dan celana flare. Tidak terlihat seperti sedang berdandan habis-habisan untuk pergi kencan, tapi tetap saja gayanya jelas berbeda dari penampilan jersey kesehariannya. Rasanya sulit membayangkan dia mengurus anak-anak TK dengan pakaian seperti itu, jadi kemungkinan besar dia berganti pakaian di dalam TK.
"Tapi, rasanya dandanannya kurang niat kalau tujuannya buat nemuin selingkuhan, deh."
"Setidaknya, dia nggak bakal langsung pulang ke rumah, kan. Ayo gerak."
Hari ini dia pasti mendapat shift pagi. Waktu masih menunjukkan pukul setengah lima sore. Kalau dia berbohong dan bilang dapat shift malam, tidak akan terlihat mencurigakan meskipun dia baru pulang jam delapan-an malam. Masih ada banyak waktu baginya untuk menemui selingkuhannya setelah ini.
Karena mereka sudah membayar, keduanya segera keluar dari kafe dan membuntuti Aika. Rutenya berjalan kaki ke Stasiun Kasugabaru dan naik kereta jalur lokal masih sama seperti biasanya, begitu pula dengan kebiasaannya menonton video memakai earphone.
Namun, stasiun kereta bawah tanah tempatnya turun kali ini berbeda dari biasanya.
Aika turun di stasiun yang letaknya tiga stasiun sebelum stasiun rumahnya. Setelah melewati gerbang tiket, ia berhenti sejenak untuk melihat HP-nya, lalu berjalan menuju arah Pintu Keluar Nomor 6 di sisi timur. Sambil merasa terkejut karena Aika turun di stasiun ini, Renjou memusatkan perhatiannya pada punggung Aika yang terus berjalan ke arah timur.
Panggilan suara yang tajam dari Koishi yang membuntuti dari jarak yang agak jauh tiba-tiba masuk tepat saat Aika keluar dari Pintu Keluar 6 dan berjalan ke arah timur.
"Renjou-kun, si Kelinci biar aku yang awasin, kamu lari sekarang!"
Tumben sekali Koishi memberikan perintah dengan suara melengking panik.
"Tiba-tiba ada apa, nih?"
Sambil merasa kebingungan dengan hawa yang tidak biasa ini, Renjou balas bertanya seraya memusatkan kesadaran ke seluruh tubuhnya agar bisa langsung berlari kapan saja.
"Ada banyak kemungkinan alasan kenapa dia datang ke sini, tapi tujuannya udah pasti nggak salah lagi. Buat jaga-jaga aku bakal terus ngebuntutin dia buat ngantisipasi kalau-kalau dia punya tujuan lain, tapi..."
Aika berjalan ke arah tenggara di pertigaan sebelah timur stasiun. Renjou pun memahami maksud Koishi.
"Jangan-jangan—si Kelinci, lagi jalan menuju Kantor Detektif Koishi?"
Bagian 4
"Salam kenal, nama saya Higure Aika."
Sambil merasakan keringat baru yang merembes di punggung dan dahi yang baru saja ia seka, Renjou menyambut wanita yang punggungnya baru saja ia buntuti beberapa saat lalu secara tatap muka.
"Salam kenal. Aku Renjou dari Kantor Detektif Koishi. Silakan duduk."
Karena hari ini Hinami sedang tidak ada giliran masuk, hanya ada Renjou dan Aika di kantor. Sambil memasang senyum buatan, Renjou mengamati ekspresi Aika.
Wajahnya persis seperti di foto yang ditunjukkan Sairo. Begitu berhadapan langsung, rasanya sangat canggung dan sulit untuk menatap matanya.
"Aku pulang—Eh, ada klien ya?"
Koishi masuk ke kantor dengan gaya seolah-olah dia baru saja keluar sebentar untuk belanja. Jika tahu itu hanya akting, rasanya terlihat sangat dibuat-buat, namun Aika tidak tampak curiga sama sekali. Dengan wajah tidak enak hati, ia berkata,
"Maaf, saya datang tanpa reservasi. Nama saya Higure Aika."
"Wah, ada tamu. Kalau gitu mumpung di sini aku ikut masuk juga, deh. Aku Koishi, perwakilan di sini. Aku menunggu teka-teki pembunuhan yang tidak masuk akal darimu."
"Tolong diam sebentar."
Interaksi rutin mereka kali ini terasa sedikit lebih cepat dari biasanya. Renjou pun mengantar Aika yang tampak bingung dengan kelakuan Koishi menuju ruang wawancara.
"Sebagai referensi yang selalu kami tanyakan pada semua orang, dari mana Anda mengetahui tentang kantor ini?"
Renjou langsung masuk ke inti masalah. Tanggapan mereka akan berubah 180 derajat tergantung apakah alasan Aika memilih kantor ini adalah karena kebetulan melihat situs web atau ulasan, atau karena dia tahu ini adalah kantor detektif yang disewa oleh Higure Sairo. Apakah Aika sadar kalau Sairo sedang menyelidikinya?
"Saya ingin meminta penyelidikan perselingkuhan suami saya, jadi saya mencari kantor detektif yang kuat dalam investigasi semacam itu di daerah Sawara atau Nishi. Pas lagi melihat-lihat Instagram di jam istirahat siang, video Reels kantor ini lewat di beranda. Kebetulan hari ini saya dapat shift pagi, jadi saya pikir mau coba mampir langsung saja ke sini."
"Ah, dari Instagram ya. Itu staf administrasi gyaru kami yang mengelolanya."
Akun Kantor Detektif Koishi yang pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Hinami memang dibuat dengan sangat niat, mulai dari gambar hingga video Reels yang mendapatkan interaksi (engagement) yang cukup lumayan. Videonya sering viral hingga ditonton puluhan ribu kali, dan ada cukup banyak klien yang berkonsultasi lewat DM, jadi alasan Aika datang karena Instagram terdengar sangat natural.
"Kalian ahli dalam penyelidikan perselingkuhan, kan?"
"Ahli sampai ke tahap yang tidak wajar, lho," jawab Koishi sambil tersenyum manis.
"Syukurlah kalau begitu."
Aika balas tersenyum manis. Berbeda dengan gaya bicara Sairo yang sangat kaku dan formal, wanita ini memiliki aura yang lembut. Namun, kesopanan mereka berdua tetaplah sama.
"Apakah ada sesuatu yang memicu Anda mencurigai suami Anda?"
Renjou bertanya dengan ramah, layaknya seorang konsultan yang baik.
"Sepertinya dia punya rencana untuk pergi keluar dengan seorang wanita."
Aika mengatakannya dengan ekspresi serius, namun terdengar sangat yakin.
"Saya sudah menentukan hari yang ingin diselidiki. Empat hari lagi... hari Rabu. Saya sudah memastikan di HP suami saya kalau dia punya janji bertemu dengan seseorang yang akun dan nama penggunanya tidak saya kenali."
Renjou dan Koishi saling bertukar pandang. Aika melihat isi HP Sairo. Mengingat Aika adalah pasangannya, bukan hal aneh jika dia bisa membuka kunci HP-nya dengan mudah.
Masalahnya adalah, sejauh mana Aika melihat isi HP Sairo? Apakah dia bisa sampai pada fakta bahwa Sairo telah menyewa jasa Kantor Detektif Koishi?
Sesuai permintaan Sairo, semua korespondensi termasuk laporan langsung penyelidikan dikirimkan ke alamat email pekerjaan Sairo. Mereka tidak menggunakan aplikasi pesan singkat sama sekali. Mereka juga tidak pernah menelepon, jadi otomatis tidak ada riwayat panggilan. Sairo pernah bilang kalau email pekerjaannya hanya bisa diakses lewat PC kantor, jadi seharusnya tidak ada unsur di HP Sairo yang bisa menghubungkannya ke Kantor Detektif Koishi.
Terlebih lagi, Aika sekarang dengan jujur mengakui kalau dia melihat isi HP Sairo. Jika dia datang ke sini karena tahu Sairo sudah menyewa Renjou dan kawan-kawan, dia tidak perlu repot-repot memberitahu fakta bahwa dia mengintip HP suaminya.
Memang ada kemungkinan kalau itu semua hanyalah gertakan (bluff), tapi bagaimanapun juga, posisi yang harus mereka ambil sudah jelas.
—Jangan sampai Aika menyadari kalau Sairo juga telah meminta mereka untuk menyelidikinya.
"Hati-hati ya, mengintip HP suami itu bisa dianggap pelanggaran privasi. Itu bisa berisiko merugikan Anda di pengadilan nanti."
Mendengar ucapan Koishi, Aika mengerjapkan matanya. Koishi memiringkan kepalanya sedikit dengan wajah seolah bertanya, 'Apa aku baru saja mengatakan hal yang aneh?'.
"Ah. Pengadilan ya... maksudnya seperti mediasi perceraian, kan. Maaf, saya terlambat menjelaskannya... tapi secara hukum kami tidak terikat pernikahan resmi. Saya ini, istilahnya, istri tanpa ikatan hukum."
Aika menggaruk kepalanya dengan wajah yang tampak sedikit malu. Pasti di mata Koishi, terlihat panah yang menjulur dari dada wanita itu ke arah barat sedang bergoyang.
"Meskipun dalam hubungan tanpa ikatan hukum resmi, tetap ada kemungkinan tuntutan ganti rugi (isharyou) dikabulkan. Jika begitu, prosedurnya adalah mengumpulkan bukti-bukti yang sah untuk pengadilan—"
"Ah, soal ganti rugi dan semacamnya juga tidak apa-apa. Hubungan kami bukan yang seperti itu," Aika menyela dengan tegas. "Hanya saja, kalau aku sedang diselingkuhi, aku ingin tahu faktanya."
Nada bicaranya sangat mirip dengan Sairo.
"Aku dan suamiku mulai menjalin hubungan seperti itu sejak kira-kira duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, kami sudah tahu segalanya tentang satu sama lain selama bertahun-tahun. Tapi kalau sekarang dia mulai menyembunyikan sesuatu dariku, rasanya seolah seluruh masa lalu kami selama ini jadi diingkari, kan?"
Renjou memahami nuansa yang ingin disampaikan Aika, namun jika dipandang dari sudut pandang orang yang baru pertama kali bertemu, penjelasan itu terdengar mengambang dan sulit ditangkap intinya. Renjou mengangguk samar dan melanjutkan pembicaraan.
"Saya sangat memahami perasaan Anda. Saya terima permintaan ini dengan premis bahwa tujuannya bukan untuk pengadilan, melainkan murni agar Nyonya Aika bisa memahami situasinya."
"Terima kasih banyak. Kalau begitu langsung saja... Penyelidikan untuk hari Rabu nanti waktunya sudah ditentukan. Sepertinya sekitar jam sepuluh pagi dia mau pergi belanja ke Tenjin. Dia bilang ke aku kalau hari itu dia kerja seperti biasa, tapi harusnya dia mengambil cuti. Aku ingin kalian bergerak dari pagi, apa bisa?"
"Tunggu sebentar, saya cek jadwal dulu, ya."
Renjou mengoperasikan laptopnya dengan wajah tenang, namun otaknya berputar keras. Ia harus menyaring jawaban "Mulai hari Senin jadwal kami sudah penuh untuk menyelidiki Anda sendiri" melalui filter profesionalismenya.
"Hari Rabu kami sudah ada jadwal penyelidikan dari sore sampai malam... Jika suami Anda pergi belanja di Tenjin mulai jam sepuluh pagi... waktu yang bisa kami gunakan untuk menyelidikinya hanya sekitar tiga sampai empat jam saja. Berdasarkan pengalaman, jika suami Anda memang berselingkuh, agak sulit untuk sampai mengidentifikasi alamat selingkuhannya dalam waktu sesingkat itu."
"Ah, begitu ya,"
Aika berkata dengan suara yang sedikit pecah karena terkejut. Renjou menambahkan penjelasannya.
"Tentu saja kami akan berusaha semaksimal mungkin, dan kami akan melaporkan situasinya secara berkala selama penyelidikan berlangsung. Hanya saja, kantor kami dijalankan oleh dua orang penyelidik. Jika terjadi bentrokan jadwal, kami harus memprioritaskan permintaan yang masuk lebih awal..."
"Saya mengerti. Tidak apa-apa. Untuk hari Rabu, saya tetap minta penyelidikannya sampai batas waktu sebelum kalian mengerjakan permintaan yang sebelumnya saja."
Aika setuju dengan mudah, seolah sudah memutuskan untuk menyewa jasa mereka bahkan sebelum datang ke sini. Aika kemudian menatap Renjou dengan pandangan menyelidik dan bertanya.
"Ngomong-ngomong, kalau setelah itu aku ingin minta penyelidikan tambahan, apa bisa? Spesifiknya... bukan cuma hari Rabu saja, tapi bagaimana kalau selama satu minggu penuh mulai besok? Ada kemungkinan dia bergerak selain hari Rabu juga."
Mata Aika tampak jernih saat menatap lurus ke arah Renjou.
"Tetap saja, jika bentrok dengan proyek lain, kami mungkin perlu merundingkan kembali jadwalnya."
"Begitu, ya. Kalau saat ini kondisinya bagaimana?"
Renjou merasa wanita ini bertanya dengan sangat agresif, namun ia tetap bersikap seolah sedang mengecek jadwal sebelum menjawab.
"Ah... saat ini, seluruh jadwal sore sampai malam kami sudah penuh dengan penyelidikan lain. Tergantung lokasinya, sama seperti hari Rabu, kami mungkin bisa bergerak dari pagi sampai lewat tengah hari sedikit, tapi..."
"Begitu ya. Hari-hari lain suamiku juga bekerja, jadi kalau dia bergerak pasti di malam hari... sepertinya sulit, ya. Baiklah, untuk sementara tolong selidiki yang hari Rabu saja. Anu, saya tunjukkan foto wajah suamiku, ya."
Pelan dan tampak ragu, Aika mengoperasikan ponselnya lalu menunjukkan layarnya. Foto yang terpampang di sana adalah foto yang benar-benar sama dengan yang ditunjukkan oleh Sairo. Foto mereka berdua di dalam terowongan hutan pelindung pantai.
"Namanya, Higure Sairo."
Renjou merasa sulit untuk bereaksi, namun ia mencoba meniru respons Koishi saat ditunjukkan foto ini oleh Sairo tempo hari, lalu membalas dengan netral.
"Fotonya menghadap depan sambil tersenyum, jadi fitur wajahnya gampang dikenali. Foto yang bagus, bakal sangat membantu buat identifikasi nanti."
Wajah Aika sempat menunjukkan sedikit rasa terkejut, sebelum akhirnya ia tersenyum.
Penyelidikan atas permintaan Sairo pada hari Senin dan Selasa berakhir tanpa hasil seperti biasanya.
Dan hari Rabu—hari yang berat dimulai. Rencananya, mereka akan menyelidiki permintaan Aika di pagi hari, lalu setelah selesai, langsung beralih kembali menyelidiki permintaan Sairo. Hari itu diawali dengan pengintaian di depan kediaman keluarga Higure.
Renjou dan Koishi berpencar di sisi barat dan timur rumah tersebut. Mereka melakukan pengintaian dengan mengawasi rekaman kamera yang dipasang di pagar pembatas jalan di seberang rumah Higure. Meski musim panas masih menyisakan hawa gerah, embusan angin pukul tujuh pagi itu terasa sejuk. Renjou merasa aneh karena akhirnya bisa merasakan kesegaran di luar ruangan setelah sekian lama.
'Renjou-kun.'
Suara Koishi terdengar lewat sambungan telepon dengan nada malas, seolah ia baru bangun tidur.
'Aku ngantuk banget, boleh nggak aku mencet bel rumah itu terus lari?'
"Silakan saja."
'Aku benci ditanggepin asal-asalan gitu~'
"Koishi-san, kita harus hemat energi kalau mau bertahan sampai hari ini berakhir."
Menurut keterangan Aika, Sairo biasanya berangkat kerja lewat pukul tujuh pagi. Karena Aika mendapat shift malam, ia baru keluar rumah lewat pukul sebelas. Secara otomatis, waktu mulai pengintaian Renjou dan Koishi harus sebelum pukul tujuh. Setelah berdiskusi dengan Aika dan mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakteraturan jadwal, diputuskan untuk mulai mengintai sejak pukul enam tiga puluh. Dari sini, mereka akan mengintai dan membuntuti Sairo, lalu sorenya berganti mengintai dan membuntuti Aika. Benar-benar satu hari penuh dihabiskan untuk mengawasi keluarga Higure.
Terlebih lagi, setelah melihat email dari Sairo tadi malam, Koishi dan Renjou merasa putus asa.
《Besok setelah pulang kerja, Aika rencananya akan pergi minum dengan teman SMA-nya. Kemungkinan besar akan ada pergerakan. Mohon bantuannya.》
Selama ini, penyelidikan selesai cukup cepat karena mereka hanya perlu memastikan Aika pulang ke rumah dari taman kanak-kanak. Namun, khusus hari ini, sepertinya tidak akan semudah itu.
"Harusnya kita tolak saja ya. Selain karena fisik yang berat... ini kan bisa dibilang konflik kepentingan. Secara etika profesi, apa yang kita lakukan ini sebenarnya dilarang, kan?"
'Kita kan bukan pengacara. Detektif nggak punya aturan sekaku itu. Aku sebagai perwakilan yang mutusin.'
Koishi membalas dengan suara mengantuk, namun tetap terdengar tegas.
"Tapi tetap saja... secara praktis, kita sudah dikenal oleh Sairo-san maupun Aika-san, jadi penyelidikan ini tingkat kesulitannya tinggi dan berbahaya. Sudah lama ya kita nggak dandan seniat ini buat menyamar."
Baik saat membuntuti Sairo maupun Aika, mereka melakukannya dalam kondisi wajah mereka sudah dikenali oleh target. Membuntuti orang yang dikenal itu tingkat kesulitannya melonjak drastis secara mengerikan. Sebagai bentuk penyamaran minimal, Renjou dan Koishi sama-sama menggunakan wig dan kacamata untuk mengubah kesan wajah mereka.
'Lagian, penampilan Renjou-kun itu emang dasarnya nggak cocok buat buntutin orang, sih. Tapi ya mau gimana lagi, kita nggak mungkin kan bilang: "Maaf nggak bisa, soalnya suami Anda juga nyewa kami,"' ucap Koishi sok masuk akal.
"Tetap saja... harusnya waktu itu kita biarkan saja kantor kosong, atau terus-terusan pura-pura nggak ada orang pas Aika-san datang, mungkin itu lebih baik."
'Kantor detektif macam apa itu? Nggak, justru di kasus ini aku emang pengin kontak sama Higure Aika, jadi malah terbantu dia datang sendiri.'
"Kenapa memangnya?"
'Tugas detektif itu menyimpulkan seluruh kebenaran lewat deduksi, tapi bukan berarti harus menyampaikan seluruh kebenaran itu... begitu kata detektif hebat di suatu novel.'
Renjou terdiam, meresapi kata-kata Koishi. Cara bicaranya terdengar seolah itu adalah sebuah kutipan bijak.
"...Maksudnya bagaimana?"
'Sejak Sairo nunjukin foto itu, aku udah bingung gimana harus ngelaporinnya kalau seandainya Aika beneran selingkuh.'
Suara Koishi terdengar pelan, tumben sekali ia terdengar rendah hati.
"Ada apa denganmu? Yah, aku sedikit paham sih apa yang ingin kau katakan."
'Aku sih nggak peduli soal perselingkuhan atau asmara secara umum. Tapi untuk permintaan kali ini, aku pengin lebih berhati-hati. Bagaimanapun, aku harus tahu seluruh kebenarannya dulu, kan?'
Renjou memutuskan untuk menyetujui ucapan Koishi demi mengakhiri debat kusir mereka. Sudah hampir waktunya Sairo keluar rumah.
"Pokoknya, karena sudah terlanjur basah, ayo kita tuntaskan. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun. Pastikan jangan sampai draf laporannya tertukar."
'Nggak bakal masalah selama Renjou-kun teliti pas nulis salinan rapinya, kan?'
Biasanya, Koishi akan menulis draf kasar laporan dengan tangan, lalu Renjou yang akan mengetik salinan rapinya untuk diserahkan kepada klien.
"Tolong, deh, kapan kau mau belajar pakai PC atau HP sendiri?"
'Asli, nggak bisa. Otakku nolak mentah-mentah. Kamu salah besar kalau ngira semua orang bisa pakai alat digital.'
"Alat digital... istilahnya kuno banget. Kelihatan banget kalau kau emang beneran gaptek—"
Renjou menghentikan kalimatnya dan menatap tajam ke layar monitor. Sairo baru saja keluar.
'Ke arah utara, menuju stasiun. Aku bakal ambil kameranya. Renjou-kun, tolong kasih laporan pandangan mata yang mendetail ke Aika, ya.'
"Dimengerti."
Sairo melewati rumah sakit miliknya sendiri dan masuk ke Stasiun Subway Meinohama. Padahal seharusnya ia berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.
"Sesuai dugaan Nyonya Aika, ya."
Sairo turun di Stasiun Tenjin, lalu masuk ke satu-satunya kafe di mal bawah tanah yang sudah buka sepagi itu. Ia duduk di meja untuk dua orang dan mulai membaca buku.
Koishi berjaga di dalam kafe sementara Renjou di pintu masuk. Mereka bergantian mengintai hingga pukul sepuluh tepat, saat seorang wanita tiba-tiba duduk di hadapan Sairo. Rambut hitam bergelombang, mengenakan blus dan celana dengan warna yang tenang. Setelah bertukar kata dengan Sairo, keduanya keluar dari kafe. Sepertinya mereka sudah punya tujuan yang pasti. Di saat itulah Renjou, yang sedang bertugas di dalam, memotret keduanya menggunakan kamera tersembunyi yang terpasang di kotak pensilnya.
"Foto sudah didapat," lapor Renjou dengan suara pelan lewat telepon.
'Oke. Nggak ada panah yang menjulur dari wanita itu. Panah Sairo juga masih cuma ke Aika. Aku bakal buntutin. Laporannya, ya.'
"Siap."
Renjou menunggu selang satu ketukan sebelum keluar kafe, mengikuti Koishi yang sedang membuntuti mereka dari jarak yang lebih jauh lagi. Sairo dan wanita itu berjalan ke arah selatan mal bawah tanah, lalu masuk ke sebuah departemen store (toserba) yang terhubung langsung di sana.
'Ada balasan dari Aika?' tanya Koishi. Jarang sekali dia peduli pada reaksi klien saat sedang membuntuti.
"Belum ada. Tapi fotonya sudah kukirim—ah, barusan centang biru."
'Kabari kalau ada balasan. Mereka lagi naik eskalator. Aku bakal kasih tahu kalau sudah sampai di lantainya—'
"Ada balasan."
Renjou menghentikan kalimatnya sejenak. Ia memelototi layar iPhone-nya sendiri sebelum memberikan laporan singkat pada Koishi.
"Anu... wanita ini sepertinya sepupu Sairo-san."
Koishi terdiam. Hanya suara embusan napas yang terdengar sebelum ia menyahut,
'...Kalau gitu, penyelidikan ini statusnya gimana? Lanjut?'
"Aku sedang menanyakannya. Pokoknya, tolong jangan sampai kehilangan jejak mereka dulu."
'Definisi perselingkuhan sih tergantung klien... tapi yah, sepupu kan emang boleh menikah, sih.'
Beberapa saat kemudian, balasan dari Aika masuk: 《Untuk jaga-jaga, tolong lanjutkan penyelidikannya. Tidak perlu sampai mengidentifikasi alamatnya.》
Pada akhirnya, Sairo mengelilingi toserba untuk belanja bersama sepupunya yang bernama Kana, lalu makan siang bersama di sana sebelum akhirnya berpisah. Meski tidak bisa mendekat cukup dekat untuk menguping pembicaraan, dari kejauhan terlihat bahwa atmosfer di antara mereka tidak lebih dari sekadar hubungan kerabat biasa.
Setelah berpisah, Sairo naik kereta bawah tanah kembali ke Meinohama dan masuk ke rumah sakitnya. Jadwal praktiknya dimulai pukul dua siang, jadi sepertinya ia berangkat tepat waktu untuk itu. Koishi dan Renjou kembali ke Tenjin, menghabiskan waktu makan siang hanya dua belas menit di Yoshinoya, lalu pindah ke Stasiun Kasugabaru untuk mulai mengintai di kafe seberang taman kanak-kanak seperti biasa.
"Aika bilang dia lihat HP Sairo, kan? Masa dia nggak sadar kalau orang yang kontakan sama Sairo itu sepupunya sendiri? Pas wawancara kemarin dia bilang akun dan nama penggunanya nggak dia kenali, kan."
Sambil menyeruput Elderflower Cordial Soda yang selalu dipesannya, Koishi terus menumpahkan keluh kesahnya.
"Tadi ada pesan masuk. Katanya sepupunya baru saja ganti model HP dan bikin akun baru. Karena ikon dan nama penggunanya berubah, Nyonya Aika jadi nggak ngenalin."
"Selama laporan pandangan mata tadi, dia selalu balas?"
"Selalu balas dalam waktu kurang dari lima menit, kok."
"Oke. Renjou-kun, hari ini bakal panjang, kita gantian tidur siang—eh, tidur sore aja kalau gitu."
"Hah? Di sini?"
Renjou sama sekali tidak punya pemikiran untuk tidur di kafe.
"Kayak anak SMA aja, telungkup di meja terus tidur, kan bisa."
"Nggak mau, ah. Ngapain juga di kafe. Lagian, apa iya malam ini bakal selarut itu? Nyonya Aika kan sudah tiga puluh sembilan tahun. Teman SMA-nya juga pasti seumuran. Kecuali kalau ada anak muda umur dua puluhan yang energik, harusnya jam sepuluh malam juga sudah bubar, kan?"
Namun—Renjou baru menyadari betapa naif perkiraannya itu saat ia terdampar di sebuah tempat karaoke pada pukul satu dini hari. Aika bersama empat orang temannya berpindah dari kedai minum di Tenjin-minami, mampir ke shooting bar, lalu berakhir di sesi ketiga kencan buta mereka di tempat karaoke.
Renjou dan Koishi mengerahkan segala macam alat penyamaran untuk mengubah kesan penampilan mereka sambil terus mengintai di setiap lokasi, namun tidak ada sosok lain yang muncul selain keempat teman wanitanya itu. Renjou terus mengirimkan foto dan penjelasan situasi kepada Sairo secara berkala, namun pesan terakhir yang ia terima hanyalah: 《Ternyata karena setiap hari bertarung dengan anak-anak usia tiga tahun, staminanya luar biasa, ya.》 Entah itu pujian atau apa, Renjou tidak paham.
Sama sekali tidak ada bau perselingkuhan. Karena penyelidikan yang terus-menerus membuahkan hasil nihil ini, Renjou mulai berpikir bahwa Aika bisa dinyatakan "bersih".
Saat Aika akhirnya naik taksi untuk pulang ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Hari yang panjang akhirnya selesai juga, ya."
"Kayaknya dia minum alkohol sebanyak isi kolam renang umum, deh."
"Nggak, kok. Dari tempat kedua dan seterusnya dia cuma minum soft drink."
Taksi yang mereka gunakan untuk membuntuti Aika sudah dilepas beberapa puluh meter sebelum sampai di kediaman Higure. Jadi, Renjou berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi baru.
Besok sore ada jadwal penyelidikan lagi, jadi pagi ini aku harus tidur buat memulihkan tenaga. Katanya berendam air hangat bagus buat pemulihan, jadi nanti suhunya kuatur ke 44 derajat saja— Sambil menyusun rencana setelah sampai di rumah, Renjou menghentikan taksi yang sedang melintas.
Itulah sebabnya, saat Koishi berkata kepada supir taksi, "Ke arah Nishijin," firasat buruk seketika menjalar ke seluruh tubuh Renjou seperti rasa merinding.
"Eh, Koishi-san, kau kan tinggal di Distrik Minami? Mau balik ke kantor?"
"Waktu Aika berangkat kerja kalau dapat shift pagi itu jam enam lewat sedikit, kan?"
"Tolong jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang sama sekali nggak nyambung."
"Nyambung, kok," ucap Koishi dengan senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan rasa lelah. "Besok pagi, aku mau menyelidiki Aika atas kemauanku sendiri. Karena kita harus mengintai rumah Higure dari pagi buta, tidur di kantor bakal bikin waktu tidur kita lebih lama daripada pulang ke rumah."
"Nggak, kau ngomong apa, sih. Maaf, Pak Supir—"
Koishi membekap mulut Renjou dengan tangannya.
"Aku juga pengin tidur besok pagi, tapi ini kan kerjaan. Kalau aku bilang mau kerjain, ya kerjain."
"Bergerak tanpa izin begini malah bakal bikin Sairo-san marah, lho."
"Selama kita nggak nagih biaya tambahannya, dia nggak bakal komplain, kan."
Koishi mengatakannya dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan. Taksi itu pun melaju membelah malam menuju kantor mereka di Nishijin.
Keesokan harinya, Kamis pagi pukul lima tiga puluh.
Pada akhirnya, sesuai desakan Koishi, Renjou dan Koishi hanya tidur selama satu setengah jam di kantor, lalu mulai mengintai kediaman Higure sejak pagi buta. Rasanya Renjou mulai linglung, tidak tahu lagi sedang mengerjakan permintaan siapa untuk penyelidikan yang mana.
Justru karena itulah, saat Aika—yang seharusnya berangkat kerja seperti biasa—tidak turun di Stasiun Tenjin melainkan di Stasiun Nakasu-Kawabata, Renjou dibuat terkejut sekaligus takjub secara bersamaan.
Gerakan yang bukan rute komuter—kemungkinan besar dia basah (selingkuh).
"Kau sudah menduga dia bakal bergerak pagi ini?"
Renjou bertanya tanpa sadar lewat interkom.
'Yah, begitulah. Ngomong-ngomong, dari sini kita harus lebih hati-hati lagi. Dia pasti bakal lebih waspada dari biasanya.'
Begitu sampai di permukaan jalan, Aika berjalan menyusuri Jalan Nakasu Chuo ke arah selatan sambil sesekali melirik keadaan sekeliling. Itu adalah kawasan hiburan malam terbesar di Kyushu, dipenuhi gedung-gedung tua yang menampung kedai makan, pusat informasi hiburan dewasa, hingga bar-bar kecil. Jika malam tiba, tempat ini akan hiruk-pikuk oleh suara mabuk orang-orang, namun di jam segini, suasananya sepi. Hanya terlihat tumpukan sampah yang berserakan dan bekas muntahan yang tampaknya disebarkan sejak tengah malam tadi.
Aika berjalan tanpa ragu di tengah kawasan Nakasu pagi itu, lalu dengan langkah cepat memasuki sebuah apartemen tua yang berdiri tepat di sebelah kedai gyoza.
'Riverside Kawabata, ya. Oh, kamarnya kelihatan. Lantai tiga paling kanan, kamar sudut. Fotonya sudah dapat.'
Laporan masuk dari Koishi yang membuntuti dari belakang Renjou. Dari sudut pandangnya, sepertinya ia bisa melihat hingga momen Aika masuk ke dalam kamar tersebut.
"...Mau kita konfirmasi ke Sairo-san, apa ada kenalan Nyonya Aika yang tinggal di apartemen ini?"
'Jangan. Kita intai dulu saja. Ayo pindah cari posisi yang enak buat mengawasi lantai tiga. Jangan hubungi Sairo dulu, ya. Berdasarkan firasatku... atau lebih tepatnya pengetahuan teorisku,' ucap Koishi dengan suara datar, 'si Kelinci bakal keluar sendirian dalam waktu sekitar sembilan puluh atau seratus dua puluh menit lagi. Mau taruhan?'
Bagian 5
Atas usulan Koishi, diputuskan untuk memanggil Aika pada hari itu juga. Koishi mengatakan bahwa ia sendiri yang akan memberikan laporan lisan kepada Aika, sehingga ia tidak membuat draf laporan tertulis. Meski merasa waswas, Renjou menuruti instruksi Koishi dan memanggil Aika ke kantor. Ia sempat mengira Aika tidak akan bisa datang karena dipanggil mendadak, namun Aika bersedia datang setelah jam kerjanya selesai.
"Padahal kalau cuma laporan hasil penyelidikan, lewat email atau telepon saja tidak apa-apa..."
Sekitar pukul delapan belas, Aika muncul dengan kaus oblong dan celana jersey seperti biasanya. Ia tampak gelisah, matanya melirik ke sekeliling kantor dengan cemas saat Renjou mengantarnya ke ruang wawancara.
"Maaf karena memanggil Anda secara mendadak. Anda baru saja seles—"
"Baiklah. Mari kita langsung masuk ke inti masalahnya."
Memotong ucapan Renjou, Koishi menyodorkan sebuah laporan ke hadapan Aika. Aika mengulurkan tangan untuk mengambilnya—lalu tangannya terhenti.
"Eh, ini...?"
Itu adalah laporan dengan Aika sebagai targetnya, laporan yang dibuat untuk diserahkan kepada Sairo.
"Mari kita lewati basa-basi yang melelahkan. Silakan buka sampai halaman enam."
Koishi memberi intrusi dengan nada malas.
Rona kecemasan di wajah Aika seketika memudar, berganti dengan ekspresi orang yang sudah siap menerima nasib. Seolah-olah dia telah memahami segalanya.
"Ini... sudah diserahkan kepada suamiku, ya?"
Laporan itu belum diserahkan, namun Koishi tidak menjawabnya. Ia mulai berbicara untuk menunjukkan bahwa kendali ada di tangannya.
"Foto ini—kamar di apartemen ini, adalah gerai prostitusi khusus wanita, kan?"
Renjou tanpa sadar menatap wajah Aika. Rambut cokelatnya yang bagian akarnya mulai tampak hitam, berbeda dengan rambut hitam Sairo yang tertata rapi—tampak bergoyang saat Aika menundukkan kepala dan memegangnya erat.
Seolah-olah sudah menyerah, Aika mendongakkan wajahnya dan menatap langit-langit.
"...Ternyata tadi pagi kalian juga menyelidikiku, ya."
"Sengaja, lho."
Koishi menekankan kata "sengaja" tersebut.
"Deduksi—yah, mungkin nggak sampai tahap itu, tapi biarlah kusebut deduksi. Aku bakal jelasin urutan tindakanmu, kalau ada yang salah silakan interupsi. Pertama, aku nggak paham soal kepekaan perasaan macam itu jadi bahasaku bakal agak kasar—intinya, kamu benar-benar ingin pergi ke tempat prostitusi wanita."
"Tolong bahasanya diperhalus dikit, dong," sela Renjou dari samping, namun Aika sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan pilihan kata. Dengan wajah yang hampir menangis, ia hanya menjawab, "Benar."
"Karena ini pengalaman pertamamu di tempat prostitusi, wajar kalau kamu merasa takut dan ingin melakukan riset mendalam. Tapi—kalau suamimu melihat HP-mu dan menemukan riwayat pencarian itu, tamatlah riwayatmu. Tentu kamu bisa menghapus riwayatnya, tapi selalu ada risiko terjadi kesalahan atau lupa menghapus. Bagimu, Sairo-san adalah sosok yang hubungannya tidak boleh terputus, jadi kamu tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun ketahuan melihat riwayat itu. Itulah sebabnya, kamu memanfaatkan momen ganti model HP untuk tidak mengaktifkan FaceID, supaya suamimu tidak bisa mengintip isi HP-mu."
"Urutannya terbalik," ucap Aika dengan ekspresi sangat serius dan nada datar.
"...Ganti HP itu benar-benar kebetulan. Atau lebih tepatnya—sebelum itu, kemungkinan suamiku melihat isi HP-ku justru menjadi rem terakhir bagiku. Tapi saat ganti HP dan melewati pengaturan FaceID, aku malah berpikir, 'Ah, pakai HP ini apa pun yang kulakukan nggak bakal ketahuan, ya'."
"Begitu, ya," Koishi mengangguk. Seolah ingin menunjukkan bahwa perbedaan urutan itu tidak terlalu berpengaruh pada inti masalahnya.
"Yah, intinya kamu menjaga ketat HP-mu supaya nggak bisa diintip, lalu mulai jadi pelanggan tetap di tempat prostitusi itu."
"Aku tidak sampai jadi 'pelanggan tetap'. Termasuk tadi pagi, aku baru pergi empat kali. Di kali keempat ini tujuanku sudah tercapai, jadi aku tidak akan pernah pergi ke sana lagi."
Renjou merasa sedikit rikuh karena Aika bisa membicarakan masalah ranjang dengan begitu santainya, namun Koishi tampak tidak peduli.
"Begitu ya. Aku sama sekali tidak paham soal kadar gairah seksual atau siklusnya, jadi maafkan kalau pemahamanku hanya sebatas teori buku saja. Yah, intinya kamu mulai pergi ke tempat prostitusi. Meski tidak ada perasaan cinta, ini jelas bisa disebut pengkhianatan terhadap Sairo-san. Walaupun tidak mengintip ponsel pun, Sairo-san memahami kamu lebih baik daripada siapa pun, jadi dia pasti menyadari perubahan sekecil apa pun. Sairo-san pun menyewa Kantor Detektif Koishi untuk menyelidiki perselingkuhan, dan kamu yang diam-diam mengintip ponsel Sairo-san, menyadari fakta itu."
"Tunggu sebentar," Renjou menyela Koishi untuk melontarkan pertanyaan.
"Atas instruksi Sairo-san, kami sama sekali tidak menggunakan telepon atau aplikasi pesan singkat dengan beliau. Kami hanya berkomunikasi lewat alamat email pekerjaannya. Bahkan jika Nyonya mengintip ponsel pribadinya, seharusnya tidak mungkin ada titik temu antara Sairo-san dengan kantor kami yang ketahuan."
Koishi memasang wajah seolah berkata 'terima kasih atas pertanyaan yang bagus', lalu menjawab dengan gaya sok bosan.
"Sairo-san juga sempat lengah. Dia mendaftarkan kartu namaku dan kartu nama Renjou-kun ke aplikasi manajemen kartu nama."
Aika bertepuk tangan pelan, seolah memuji kecerdikan mereka. Suara tepukan tangan tunggal itu bergema hampa di ruang yang sempit tersebut.
"Suamiku itu tipe orang yang tidak tenang kalau segala sesuatunya tidak disimpan di cloud. Bahkan saat membuka klinik, dia sudah siap rugi demi menerapkan sistem rekam medis elektronik. Sepertinya karena kebiasaan, dia langsung mendaftarkan kartu nama yang kalian berikan."
Punggung Renjou terasa dingin saat menyadari bahwa Aika tidak hanya mengawasi aplikasi pesan atau media sosial saja, tapi bahkan sampai memantau aplikasi manajemen kartu nama suaminya.
Koishi melanjutkan penjelasannya tanpa terganggu.
"Begitu menemukan kartu nama kantor detektif, kamu menyadari bahwa Sairo-san sedang menyelidikimu. Karena Sairo-san punya dana yang melimpah, kamu tidak bisa menebak sampai kapan penyelidikan itu akan berlangsung. Namun, kamu tetap tidak bisa menahan keinginan untuk pergi ke tempat prostitusi—maka dari itu, kamu memutuskan untuk ikut menyewa jasa Kantor Detektif Koishi. Bukan murni untuk meminta penyelidikan, tapi untuk menyelidiki jadwal penyelidikan kami sendiri."
Aika tampak menciutkan bahunya karena merasa bersalah. Sepertinya ia lebih merasa terbebani karena telah membohongi mereka daripada karena fakta bahwa ia pergi ke tempat prostitusi.
"Dengan meminta penyelidikan sendiri, kamu jadi tahu gambaran kasar seberapa penuh jadwal kami—dan jadwal penyelidikan seperti apa yang kami susun. Kenyataannya, saat Renjou-kun memberi tahu bahwa 'jadwal dari sore sampai malam setiap hari sudah penuh', kamu jadi paham bahwa kamu sedang dibuntuti sejak jam pulang kerja sampai tiba di rumah, kan?"
Aika menunjukkan jawaban 'ya' lewat kebungkamannya atas pertanyaan Koishi.
"Setelah mengantongi gambaran jadwal penyelidikan, kamu pun bimbang. Kamu ingin pergi ke tempat prostitusi, tapi karena dibuntuti sejak sore, kamu tidak bisa pergi di malam hari—maka solusinya, kamu memutuskan untuk pergi di pagi hari."
Aika menghela napas panjang sambil mengangkat kedua tangannya. "Hebat sekali ya." pujinya.
"Dari sini ada bagian yang sedikit melibatkan imajinasiku, tapi fakta bahwa kemarin kamu baru pulang jam tiga pagi, tujuannya juga untuk menguras tenaga aku dan Renjou-kun, kan?"
Saat Koishi mendesaknya dengan nada yang agak tajam, Aika memasang wajah paling menyesal yang ia tunjukkan hari itu.
"Aku cuma ingin menghilangkan rasa cemas, sekecil apa pun kemungkinannya. Teman-temanku sebenarnya bingung mau pulang atau lanjut ke tempat ketiga, tapi aku sedikit memaksa mereka untuk terus ikut berkeliling. Kupikir, tidak mungkin kalian bakal lanjut membuntutiku lagi di pagi hari setelah sebelumnya sudah membuntutiku sampai jam tiga pagi."
"Yah, ini kan pekerjaan. Kami tidak akan bekerja setengah hati hanya karena merasa mengantuk atau lelah."
"Profesionalisme dan stamina yang luar biasa, ya."
"Nyonya Aika pun pasti tidak akan bekerja setengah hati saat mengurus anak-anak hanya karena malam sebelumnya minum-minum terlalu banyak, kan? Itu sama saja."
Seolah menjadi isyarat berakhirnya sesi tersebut, Koishi memperbaiki posisi duduknya dengan menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung ke kursi. Aika hanya terdiam, matanya tertuju pada laporan di depannya.
"Kenapa... kenapa Anda sampai pergi ke tempat prostitusi?"
Sepanjang penyelidikan, Renjou terus terngiang-ngiang ucapan Koishi— “Panahnya saling mengarah ke satu sama lain. Masing-masing satu panah, ya.”
Ia akhirnya menumpahkan rasa sesak yang terus menyelimuti dadanya sejak mengetahui perbuatan Aika.
"Bukankah Anda menyukai Sairo-san? Bukankah Anda mencintainya? Terlepas dari status pernikahan siri atau apa pun—tentu saja, aku yakin ada banyak kesulitan yang Anda hadapi, dan kami hanya bicara sembarangan tanpa tahu keadaan yang sebenarnya—tapi kenapa Anda mengkhianati orang yang ingin Anda ajak menua bersama?"
"Bagian itu aku juga nggak paham. Bukannya Anda dan Sairo-san sedang dalam kondisi sexless, kan? Kenapa harus repot-repot bayar buat melakukan itu?"
Pertanyaan Koishi benar-benar minim empati. Renjou hendak menegurnya, namun ia mendadak teringat sosok Aika yang membeli kondom di minimarket tempo hari.
Aika sempat terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mulai berbicara dengan perlahan.
"Pengalaman seksualku dengan pria... hanya dengan Sairo saja."
Kata-kata itu terucap dengan penuh tekad, seolah ia baru saja melompat dari tepi jurang.
"Tiga puluh sembilan tahun... sebentar lagi empat puluh tahun. Selama empat puluh tahun aku hidup, semua ciuman, pelukan, dan segala bentuk skinship lainnya, semuanya hanya dengan Sairo. Aku belum pernah sekalipun menyentuh pria lain. Bukankah itu... aneh?"
"Anu, itu... biarpun Anda mendadak jujur begitu..."
Renjou membalas dengan terbata-bata menanggapi pengakuan Aika yang sudah membuang jauh-jauh rasa sungkan.
"Pertama kali itu musim gugur saat kelas dua SMP. Sejak itu, terus berlanjut. Tentu saja, itu bukan karena dipaksa, atau karena Sairo yang egois, bukan begitu. Kami berdua benar-benar memiliki perasaan yang sama. Tapi, bayangkan seorang wanita yang selama dua puluh enam tahun sejak musim gugur kelas dua SMP, hanya berhubungan seks dengan Higure Sairo saja. Apa Anda bisa bilang ini tidak aneh?"
"...Yah, karena itu masalah yang sangat pribadi dan sensitif, aku tidak bisa berkomentar, sih."
"Nggak aneh, kok."
Koishi menyahut dengan nada biasa saja, namun suaranya terdengar sangat mantap.
"Bagiku, saat seseorang sedang jatuh cinta, kalian semua itu aneh, nggak masuk akal, dan nggak normal. Kamu maupun Sairo, sama saja dengan orang lain. Kalau semuanya aneh, berarti semuanya normal."
Koishi tampak merasa lucu dengan ucapannya sendiri lalu tertawa cekikikan.
Entah Aika merasa teryakinkan atau tidak, ia terus bercerita seolah bendungan perasaannya telah jebol.
"Benar juga. Normal atau tidak itu kan tergantung masing-masing orang. Hanya saja... dengan logika itu, bagiku, tetap berada dalam kondisi hanya mengenal Sairo adalah hal yang aneh. Sebenarnya, menikah dengan pasangan pertama dan menghabiskan sisa hidup bersama adalah ideal bagiku. Tapi, karena pasangannya adalah Sairo... aku jadi tidak bisa menerima diriku yang hanya tahu tentang dirinya saja. Rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal di masa remaja yang terus mengganjal di sudut kepala, perasaan yang tidak bisa diapa-apakan."
"Dan karena itu, Anda tiba-tiba terpikir untuk pergi ke tempat prostitusi?"
"Aku berkonsultasi dengan teman di klub Mölkky yang sama. Karena kami di klub yang sama, tentu saja dia tahu soal Sairo dan hubungan kami berdua. Setelah aku menceritakan semuanya, dia memberikan pilihan, 'Bagaimana kalau coba pergi ke tempat prostitusi saja?'. Dia bilang, kalau aku merasa tertekan karena kurang pengalaman, ya tinggal cari pengalaman saja."
"Rasanya jawaban itu agak terlalu jauh lompatannya, ya..."
Renjou menyela dengan ragu.
"Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi aku sadar bahwa meminta bantuan tenaga profesional adalah cara terbaik agar tidak menjadi pengkhianatan terhadap Sairo. Jika ada transaksi uang, berarti tidak akan ada perasaan cinta yang terlibat di dalamnya. Aku hanya ingin berhenti menjadi wanita usia empat puluhan yang cuma tahu soal Sairo saja."
"Tapi, Anda kan datang sampai empat kali. Bukankah itu berarti Anda mulai terobsesi dan ingin terus datang ke sana?"
Koishi menusuk tepat di titik yang ingin ditanyakan Renjou, namun tak sanggup ia utarakan karena terlalu ragu. Koishi melakukannya tanpa ragu sedikit pun.
"Sampai kunjungan ketiga, itu murni hanya persiapan. Biar bagaimanapun mereka itu profesional, ada peraturan toko juga, dan laki-laki kan punya batasan fisiologis, jadi rasanya sulit kalau langsung dilakukan di kunjungan pertama."
Renjou mendadak panik karena merasa kehilangan konteks pembicaraan selama beberapa putaran dialog. Ia tidak bisa menangkap maksud dari ucapan Aika. Kepalanya dipenuhi pertanyaan: Lagi bahas apa, sih ini? Koishi pun hanya terdiam membisu.
Keheningan sempat membekukan ruangan selama beberapa saat, sampai akhirnya Koishi menatap mata Aika dan membuka mulut.
"Anda bilang tadi sudah mencapai tujuan Anda. Berarti, aku bisa menganggap Anda benar-benar tidak berniat pergi ke sana lagi, kan?"
"Iya. Kontak pribadinya pun sempat kami tukar, tapi sudah kuhapus."
Koishi mengacak-acak rambutnya sendiri sambil menggumamkan "Aaaah—" seperti orang mengigau, lalu menegakkan punggungnya.
"Kalau aku melakukan ini, sebenarnya bisnisku bisa rugi, sih. Tapi, yah, dalam kasus kalian, sepertinya kalian akan terus bersama selamanya, dan aku ingin membantu agar hal itu terwujud—jadi, akan kuberi kalian pilihan."
"Hah?"
Aika, yang tampaknya belum bisa menangkap makna sebenarnya dari ucapan Koishi, mengeluarkan suara kebingungan.
"Laporan ini belum kuserahkan kepada Sairo-san. Aku punya pilihan untuk merobek dan membuangnya di sini sekarang juga. Tapi, Sairo-san sudah pasti menyadari kalau Anda menyembunyikan sesuatu. Dia tidak akan puas kalau aku cuma melapor, 'Hasilnya nihil'."
—Saya tidak akan pernah melewatkan kejanggalan sekecil apa pun dari istri saya. Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Saya yakin kalau kalian menyelidiki dengan gigih, kalian pasti akan menemukan sesuatu.
Renjou teringat kembali kata-kata Sairo waktu itu. Aika pun mengangguk, seolah membenarkan ucapan Koishi.
"...Sairo itu tipe orang yang kalau sudah sekali saja punya keraguan, dia akan terus kepikiran sampai dia benar-benar merasa puas dari lubuk hatinya."
"Pasti begitu. Makanya, tolong turuti kata-kataku. Bersiaplah, karena mungkin minggu ini Anda tidak akan bisa tidur."
Koishi menjelaskan tugas yang harus dilakukan Aika. Meski wajahnya sedikit memucat, pada akhirnya Aika menyatakan, "Saya akan berusaha."
Setelah menyelesaikan detail rencana mereka, tepat saat Aika hendak beranjak dari kursinya, Koishi memberitahukan hasil penyelidikan dengan santai.
"Ngomong-ngomong, ini laporan untuk permintaan Anda—Sairo dan sepupunya itu bersih. Foto-fotonya bakal kukirim menyusul. Hubungan mereka murni cuma antar kerabat. Biarpun itu cuma permintaan formalitas, Anda tetap penasaran, kan?"
Aika sempat melongo sejenak, namun tak lama kemudian ia tersenyum.
"Semuanya ketahuan, ya. Anda benar-benar detektif hebat."
"Kalau ada kasus pembunuhan di ruang terkunci, langsung panggil aku, ya."
"Padahal kalau cuma laporan hasil penyelidikan, lewat email atau telepon saja tidak apa-apa."
Sairo berucap demikian sambil duduk di sofa. Mendengar kalimat yang persis sama dengan yang diucapkan Aika sebelumnya, Renjou merasakan betapa lamanya waktu yang telah mereka lalui bersama. Saat Renjou menyuguhkan teh, Sairo langsung meraihnya dan meminumnya seteguk. Jarak dari stasiun ke kantor memang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Meski sudah pertengahan Oktober, hawa panas masih terasa sisa-sisanya. Berjalan kaki sepuluh menit saja sudah cukup membuat tenggorokan kering. Seperti biasa, ia mengenakan setelan jas three-piece dengan sangat rapi, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ikut kegerahan.
"Maaf sudah merepotkan Anda untuk datang ke sini. Laporannya akan disampaikan langsung oleh Koishi."
"Ya, jadi, ini adalah laporannya."
Laporan yang telah diketik rapi dan dijilid oleh Renjou kini berpindah ke tangan Sairo. Saat Sairo hendak segera membuka lembarannya, Koishi mengangkat tangan untuk menahannya.
"Begitu Anda mendengar laporan ini, Anda mungkin akan menyesal. Ada informasi di dunia ini yang lebih baik tetap tidak diketahui agar hidup bisa dijalani dengan lebih menyenangkan, lho."
"Tiba-tiba bicara apa? Saya tidak suka gaya bicara yang berbelit-belit begitu."
Ekspresi Sairo seketika mendung.
"Ada pilihan untuk menunggu satu minggu lagi sebelum membaca laporan ini, bagaimana menurut Anda? Sebagai orang yang sudah berpengalaman mengejar berbagai kasus asmara, saya sangat menyarankan untuk membiarkannya mengendap dulu."
Koishi menyeringai lebar, namun kontras dengan itu, ekspresi Sairo justru semakin menajam dan terlihat geram.
"Seharusnya saya sudah mengatakannya di awal. Bagi saya, ini adalah permintaan yang sangat pribadi dan krusial. Gaya bercanda seperti itu... terus terang saja, sangat tidak menyenangkan."
Tanpa melunturkan senyumnya, Koishi bergumam "Maaf" sambil mengangkat tangan di depan wajahnya, lalu masuk ke penjelasan dengan sangat lancar.
"Kalau begitu, mari saya jelaskan dengan tempo cepat... Anda bisa langsung melompat ke halaman enam. Halaman kedua hanya berisi rangkuman data penyelidikan, dan halaman tiga sampai lima merangkum aktivitas pulang kerja harian Nyonya yang sama sekali tidak perlu disembunyikan... Singkatnya, itu laporan hari-hari di mana kami tidak menemukan apa pun."
Tanpa menunggu kata-kata Koishi selesai, Sairo membalik halaman—dan matanya langsung terpaku pada foto besar yang dimuat di halaman enam. Foto momen saat Aika memasuki sebuah unit apartemen, dan momen saat ia keluar dari sana.
"Itu apartemen bernama Maison Haruyoshi. Apakah Anda mengenal tempat itu?"
Entah suara Koishi sampai ke telinganya atau tidak, Sairo terus menatap foto itu seolah ingin menembusnya.
"Ya, tentu saja Anda tidak tahu. Itu wajar saja. Karena bagaimanapun, apartemen itu adalah tempat di mana Nyonya—"
Tepat saat Sairo mendongak dan menatap Koishi, Koishi menyambung kalimatnya.
"—pergi untuk mengikuti kursus pembuatan video."
Sairo menyipitkan mata, tampak seperti orang yang baru saja kehilangan momentum karena serangannya meleset.
"Maksudnya?"
"After Effects? Premiere? ...Pokoknya, sepertinya dia pergi ke sana untuk belajar cara menggunakan perangkat lunak, teknik penyuntingan video, desain... hal-hal semacam itu."
Koishi mengulurkan tangan ke laporan di depan Sairo, lalu membuka halaman yang memuat cetakan akun bernama "Video Creator NANASE". Di halaman profilnya tertulis kalimat: 《Membuka kursus pembuatan video di area Tenjin dan Hakata. Karena saya perempuan, kursus ini khusus untuk wanita. Jangan ragu untuk bergabung!》.
"Sebagai percobaan, Renjou-kun mencoba mendaftar dengan berpura-pura menjadi wanita. Awalnya ada sesi tanya jawab lewat panggilan video tentang jenis video apa yang ingin dibuat dan perangkat lunak apa yang digunakan, lalu berlanjut ke sesi kursus yang sebenarnya. Peserta bisa memilih antara remote atau tatap muka, dan jika memilih tatap muka, alamat inilah yang akan diberikan."
Di halaman berikutnya, alamat Maison Haruyoshi tertera dengan sangat jelas, lengkap hingga nomor unit kamarnya.
Mengabaikan Sairo yang masih terpaku tak percaya, Koishi terus melanjutkan penjelasannya dengan gencar.
"Kalau diingat-ingat lagi, di halaman tiga yang tadi kita lewati juga ada petunjuknya. Video yang dilihat Nyonya di ponselnya saat kereta pulang kerja—kalau kita perhatikan baik-baik pantulan layarnya di jendela, itu terlihat seperti tampilan timeline penyuntingan video. Rupanya dia sedang belajar mengedit video."
Karena pantulannya sangat samar, jujur saja hampir mustahil untuk dipastikan dengan mata telanjang. Renjou merasa ngeri sendiri melihat betapa nekatnya Koishi memaksakan argumen itu.
"Video... kenapa tiba-tiba melakukan hal itu? Setahuku, istriku tidak punya hobi seperti..."
"Bagian itu juga sempat membuatku bingung. Tentu saja, bisa jadi dia tiba-tiba ingin jadi YouTuber, atau ingin membuat video klip musik. Tapi, setelah aku berkonsultasi dengan Hina-chan—staf di kantor kami yang paling paham soal hati wanita—aku akhirnya menyadarinya. Sebuah alasan yang lebih simpel sekaligus masuk akal. Anda bisa menebaknya?"
"Apa itu?"
Nada suara Sairo terdengar kasar, seolah ada suara batin yang berteriak: Cepat katakan!
"Yah, mau bagaimana lagi," ucap Koishi sambil menempelkan telunjuk di depan bibir, melakukan gerakan yang dibuat-buat agar terlihat imut secara aneh. "Ulang tahun Anda, bukankah minggu depan?"
Ulang tahun ke-40—perayaan hari besar Sairo yang sudah di depan mata.
"Aku sendiri tidak punya pasangan atau kekasih, dan tidak punya pengalaman memberikan sesuatu kepada orang tercinta, jadi aku tidak paham... Tapi menurut Hina-chan yang punya pengalaman asmara paling banyak di kantor kami, katanya ada orang yang memberikan hadiah berupa album berisi kumpulan foto kenangan berdua, atau video yang merangkum memori kebersamaan mereka. Alasan kenapa Nyonya tiba-tiba mulai membuat video—pilihannya cuma satu."
Sairo menatap Koishi dan Renjou bergantian, seolah sedang mencari reaksi apa yang seharusnya ia tunjukkan.
"Karena itulah, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal yang tidak sopan dan merusak suasana dengan membongkar kejutan yang sudah disiapkan susah payah ini... Tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Laporan penyelidikan harus tetap disampaikan sebagaimana mestinya, dan aku sudah melakukannya dengan tuntas. Sekian."
Koishi menghela napas, berakting seolah baru saja menyelesaikan tugas berat. Seketika itu juga, keheningan menyelimuti ruangan.
"...Jadi, begitu rupanya."
Wajahnya kini benar-benar layak digambarkan dengan kata "sumringah". Raut kaku Sairo runtuh, dan air mata mulai mengalir di pipinya yang dihiasi senyuman. Sairo segera menutupi wajahnya dengan tangan kanan, menyembunyikan kedua matanya.
"Aika... maafkan aku karena sudah mencurigaimu."
Suaranya terdengar seperti seorang remaja laki-laki. Renjou tanpa sadar hampir memegang dadanya sendiri karena terharu.
Mereka menunggu beberapa saat hingga Sairo tenang. Sairo menyeka air matanya, dan meski wajahnya mulai kembali ke ekspresi kaku yang biasa, suaranya terdengar berkali-kali lipat lebih lembut saat ia memberikan kata-kata apresiasi.
"Terima kasih atas penyelidikan jangka panjang ini. Biayanya akan saya transfer dalam satu atau dua hari ke depan."
Mendadak, ekspresi Koishi berubah mendung secara sengaja.
"Ah, soal itu—sebenarnya untuk kali ini, kami tidak bisa menerima pembayarannya."
"...Apa alasannya?"
"Tadi aku bilang kalau aku berkonsultasi dengan Hina-chan, kan? Hina-chan adalah staf administrasi, dia bukan pihak yang seharusnya diajak bicara terkait informasi penyelidikan Sairo-san. Ini adalah pelanggaran kewajiban menjaga kerahasiaan (confidentiality) dari pihak kami. Tentu saja aku tidak menyebutkan nama Nyonya Aika maupun nama Anda—tapi sesuai kontrak, ini adalah kelalaian kami, sehingga permintaan ini dianggap batal."
Debat kusir mengenai "mau membayar" dan "tidak bisa menerima" itu berlangsung hingga sepuluh putaran, namun akhirnya Sairo menyerah. Keputusannya: seluruh biaya penyelidikan tidak perlu dibayar.
"Apa tidak apa-apa begini? Seluruh jerih payah kita selama dua minggu terakhir jadi dianggap tidak ada, lho. Belum lagi biaya pengerjaan kilat untuk membuat akun palsu itu. Kita rugi besar, kan?"
Renjou bertanya sambil menatap sosok Sairo dari jendela yang sedang berjalan menuju stasiun.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku ini detektif yang buka kantor karena ingin melakukan deduksi. Aku benar-benar tidak tertarik dan tidak punya semangat untuk kasus asmara, tapi... bagaimanapun aku ini profesional yang dibayar untuk itu."
Koishi menghela napas panjang sekali.
"Aku tidak bisa menerima uang dari laporan yang berisi kebohongan."
Renjou ikut menghela napas, namun ia tersenyum.
"Koishi-san memang punya sisi yang seperti itu, ya."
"Sisi yang bagaimana?"
"Sisi di mana kau mencoba bergaya keren di saat-saat yang aneh."
Setelah menyahut bahwa dirinya bukan "mencoba bergaya keren" melainkan "memang keren", Koishi mengeluarkan ponsel lipat dari sakunya.
"Hampir saja lupa. Mumpung lagi bahas soal 'bergaya keren', aku berniat melakukan sedikit pembersihan dunia sebagai penutup."
"? Apa maksudmu?"
Tanpa menjawab, Koishi mulai menelepon.
"Apa sekarang bisa bicara? Ada sedikit bocoran... tidak, lewat telepon saja cukup. Tidak perlu sampai datang ke sini."
Namun, di luar dugaan, lawan bicaranya—Kataya—muncul di kantor lima belas menit kemudian. Ia mengenakan setelan jersey berbahan velour yang mirip dengan tempo hari, hanya saja kali ini berwarna biru dongker.
"Sudah kubilang tidak perlu datang, dan kalaupun datang, ini terlalu cepat," ucap Koishi dengan suara jengah.
"Soal kecepatan gerak, aku tidak akan kalah dari siapa pun!"
Setelah berseru dengan suara keras seperti biasa, ia menambahkan.
"Yah, kebetulan aku sedang menemani orang tuaku belanja di dekat sini."
"Lagi? Kenapa belanja orang tua harus di Nishijin?"
Nishijin adalah kawasan pelajar, bukan area di mana orang sengaja datang untuk berbelanja. Renjou tidak tahu di mana Kataya tinggal, tapi jika ingin belanja, lebih wajar jika pergi ke Tenjin atau Hakata.
"Ya karena rumah orang tuaku di Nishijin. Ada toko langganan mereka di sini. Toko spesialis alat bantu dengar."
"Alat bantu dengar," Renjou mengulang kata yang diucapkan Kataya.
"Bukan belanja sih, lebih ke perawatan. Orang tuaku pendengarannya buruk sejak aku masih kecil. Makanya, secara alami aku punya kebiasaan bicara dengan suara keras."
Renjou bergumam, "Begitu rupanya." Ia merasa dirinya sangat dangkal karena selama ini hanya menganggap Kataya sebagai orang yang berisik.
"Kukira suaramu keras karena kamu ikut klub teater," ucap Koishi ketus.
"Secara logika, justru kebalikannya. Karena suaraku keras, aku diajak masuk klub teater... Eh, tapi volume suaraku itu tidak penting, kan? Cepat kasih tahu kenapa kamu memanggilku ke sini."
"Maaf mengganggu di hari liburmu," ucap Koishi singkat, seolah hanya ingin menyampaikan intinya saja.
"Ada gerai prostitusi khusus wanita yang melakukan layanan hubungan seksual ilegal, tolong segera digerebek."
Wajah Kataya membeku dengan senyum yang masih tersisa separuh.
"Yah, bukan berarti mereka langsung melakukannya di kunjungan pertama. Sepertinya pelanggan harus datang empat kali baru mereka mau melayani, jadi aku tidak tahu seberapa sering hal itu terjadi. Lokasinya di sebuah unit di apartemen Riverside Kawabata. Karena ini menyangkut privasi, jangan selidiki soal pelanggannya. Dah."
Begitu selesai bicara, Koishi seolah menunjukkan bahwa tidak ada lagi yang perlu dibahas. Ia memutar tubuh Kataya dan memaksanya keluar dari kantor.
Koishi kemudian menjatuhkan diri ke sofa seolah baterainya baru saja habis, lalu berbaring telentang dengan kaki terbuka lebar. Sebelum Koishi benar-benar terlelap, Renjou menepuk bahunya untuk menahannya.
"……Tujuan Nyonya Aika itu, jangan-jangan..."
Ucapan Aika beberapa saat lalu kembali terngiang di telinga Renjou.
——Sampai kunjungan ketiga, itu murni hanya persiapan. Biar bagaimanapun mereka itu profesional, ada peraturan toko juga, dan laki-laki kan punya batasan fisiologis, jadi rasanya sulit kalau langsung dilakukan di kunjungan pertama.
"Eh, kamu nggak paham dari percakapan tadi? Kalau tujuannya Aika itu 'ingin tahu laki-laki lain', nggak bakal ada artinya kalau nggak dilakukan sampai tuntas, kan?"
"……Jadi maksudmu, dia sengaja datang berkali-kali demi hal itu?" Meski orangnya tidak ada di sini, nada bicara Renjou berubah jadi menghujat. "Apa seserius itu ya, sampai dia begitu ingin melakukannya dengan pria lain?"
"Jangan tanya aku, itu pemikiran yang berada di kutub berlawanan denganku."
"Benar juga, sih."
Renjou merasakan rasa bersalah yang lebih kuat atas laporan palsu kepada Sairo, membuat dadanya terasa sesak. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar pikirannya bisa berganti suasana.
"Kataya-san benar-benar gercep, ya. Dipanggil langsung datang dalam lima belas menit. Kurang kerjaan banget dia."
"Dia itu bakal pakai alasan sekecil apa pun buat datang menemuiku. Harusnya tadi aku kirim email saja, bukan telepon."
"Kenapa ya dia pengin banget ketemu Koishi-san? Padahal nggak ada untungnya sama sekali."
"Soalnya dia suka padaku."
Renjou sontak memelototi wajah Koishi.
"Mungkin cinta pandangan pertama, sejak pertama kali kami bertemu. Dia bolak-balik mampir ke kantor tanpa alasan jelas ya karena ingin bertemu denganku."
"……Kau nggak ngerasa malu sedikit pun ngomong begitu?"
Renjou sengaja menggunakan nada bicara yang dibuat-buat agar kegoncangan hatinya tidak bocor lewat suaranya.
"Buat apa malu, aku kan cuma bicara berdasarkan fakta."
Koishi berkata dengan nada bosan.
Bagi Koishi, perasaan cinta dari orang lain hanyalah sebuah data profil, setara dengan asal daerah atau usia.
Karena baginya, perasaan itu terlihat jelas dalam bentuk panah.
"Kau nggak mau membalas perasaannya?"
"Maksudmu?"
"Sekarang kan cuma kenalan, tapi kalau jadi pacar, mungkin dia bakal lebih sering bagi-bagi info kasus sulit yang kau incar itu, kan?"
Koishi mendadak bangkit berdiri. Matanya menyipit tidak senang, menatap wajah Renjou lekat-lekat.
"Kamu serius ngomong begitu? Rasanya aku mau muntah."
"Sampai mau muntah segala?"
"Kalau orang lain yang main cinta-cintaan, aku nggak peduli—tapi bagiku, nggak ada yang lebih menjijikkan daripada perasaan cinta yang diarahkan kepadaku. Aku cuma menoleransi Kataya karena dia satu-satunya koneksiku dengan polisi, tapi aslinya aku pengin dia nggak usah dekat-dekat kantorku. Tiap kali melihat panahnya, rasanya aku mual."
Nada bicaranya sangat tajam, menunjukkan bahwa ia benar-benar merasakan jijik yang amat sangat. Renjou berusaha menjawab seceria mungkin, mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Koishi-san, kau benar-benar anti-asmara banget, ya."
"Dunia saja yang terlalu nge-fans sama asmara."
Koishi kembali berbaring di sofa, meletakkan kedua tangan di belakang kepala dengan posisi yang sangat santai. Sikapnya seolah menunjukkan bahwa kata-kata yang akan ia ucapkan bukanlah sebuah argumen, melainkan sekadar gumaman isi kepala.
"Sama halnya dengan manga shoujo kesukaanmu, novel, drama, film, musik, acara varietas, bahkan obrolan orang mabuk di kedai minum atau topik pembicaraan anak SMA di penginapan saat karyawisata... semuanya berpusat pada orang-orang yang gila asmara, kan? Semuanya selalu berandalkan premis asmara. Aku sama sekali tidak paham soal hal-hal begitu. Bagiku, perasaan cinta itu sama saja dengan motif atau niat membunuh yang diungkapkan pelaku dalam monolog di adegan terakhir novel misteri. Aku sering melihatnya, tapi perasaan itu tidak akan pernah muncul dari dalam diriku sendiri."
"Tapi, kau justru sangat ahli menangani kasus percintaan, ya."
"Justru karena itulah, aku ahli dalam kasus percintaan. Karena seumur hidup aku tidak akan pernah jatuh cinta, aku bisa menjadikannya pekerjaan sebagai urusan orang lain."
"Tentu saja, keunggulan utamanya karena aku punya mata ini, sih," gumamnya pelan sebelum akhirnya Koishi memakai penutup matanya dan memunggungi Renjou untuk mulai tidur. Renjou ingin melontarkan candaan seperti, "Sana pulang kalau mau tidur," tapi kata-kata itu tidak sanggup keluar dari mulutnya.
💔
Sudah berapa tahun ya aku tidak berurusan dengan anak-anak—sosok ×× itu merasakan sensasi aneh saat menatap sosok guru TK yang tergeletak di bawah kakinya.
Ia bahkan merasa takjub, berpikir bagaimana bisa ada orang yang sanggup menjalani profesi yang harus menangani makhluk-makhluk tak terkendali seperti itu. Guru TK adalah profesi yang sama sekali tidak pernah bersinggungan dengannya.
Lagipula, target kali ini benar-benar merepotkan. Rasanya menyiksa harus repot-repot menyamar sebagai orang tua murid yang datang berkunjung untuk melihat-lihat fasilitas TK demi memburu targetnya. Saat ia berpura-pura menjadi orang tua yang sangat peduli pada pendidikan dan menanyakan detail jumlah staf berdasarkan kategori usia, tatapan para staf di sana terasa sangat dingin.
Demi menebus segala kerepotan itu, ia melanjutkan pekerjaannya dengan teliti tanpa ada satu pun celah. Wanita yang begitu tulus, yang sampai pergi mengikuti kursus pembuatan video demi merayakan ulang tahun suaminya. Seolah ingin membentuk wujud hati wanita itu, ia menggerakkan bilah pisaunya ke arah dada sang wanita dengan gerakan yang membentuk pola hati. Wanita itu meronta dengan seluruh tenaga untuk meloloskan diri, namun kekuatannya tidak cukup besar untuk melepaskan jeratan lakban yang mengikatnya.
Sambil menatap darah yang menetes di dada korbannya, ia mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman suara yang telah dimodifikasi menjadi suara robot.
『Kalau berani lapor polisi, tusukan berikutnya akan dua kali lebih dalam.』
Tubuh wanita itu tersentak hebat. Agar terdengar dengan jelas, ia mendekatkan ponselnya ke telinga sang wanita, lalu memutar rekaman suara berikutnya.
『Sesali saja dirimu yang sudah melakukan hal bodoh seperti berselingkuh.』