Bab 3
Bagian 0
Aizawa menyeret video yang baru saja selesai ia ekspor ke layar unggah YouTube, lalu mengikuti prosedur untuk jadwal penayangan. Ia mengatur waktu unggah untuk lusa, tanggal 25 Oktober pukul 11.00, menempelkan draf deskripsi video, dan mengganti tiga baris pertama khusus untuk video kali ini. Ini adalah pekerjaan yang sudah biasa ia lakukan, namun ia tetap berhati-hati agar tidak ada kesalahan.
Belakangan ini ia sangat sibuk, sehingga sama sekali tidak bisa mengunggah video wawancara klien atau video bertema observasi lapangan. Video kali ini pun hanya video sederhana berisi beberapa soal teka-teki bertema narrative trick. Untuk sementara, ia terpaksa sekadar "mengulur waktu" dengan konten-konten ringan yang tidak memerlukan proses syuting.
Setelah selesai mengatur unggahan, secara refleks Aizawa beralih memeriksa emailnya. Ia membalas dengan ritme yang teratur email-email yang masuk ke alamat kerja Kantor Detektif Aizawa maupun alamat kanal YouTube Mami Aizawa, atau membiarkannya tetap tidak terbaca. Sebagian besar permintaan ia tolak dengan sopan, jadi ia cukup menempelkan pesan templat saja.
Aizawa menarik napas dalam-dalam sejenak, lalu beralih ke alamat email yang ketiga. Setiap kali membuka alamat ini, ia selalu menahan napas.
Saat melihat kolom subjek yang kosong pada email paling atas, Aizawa tersentak.
Email kedua telah datang.
Tanpa bisa mengembuskan napas yang tertahan, dengan tubuh yang menegang, ia membuka email tersebut.
Isi email itu hanya satu kalimat—“Kalau lapor, akan aku cungkil dengan bentuk ini.”
Saat membuka pratinjau foto pertama yang dilampirkan, terlihat foto seorang wanita yang dadanya telah ditusuk. Itu bukan sekadar luka tusuk biasa. Di bagian dada kiri, terdapat luka kasar berwarna merah kehitaman yang dibuat menyerupai lambang hati.
Ada tiga foto yang terlampir. Foto seluruh tubuh dari depan, foto wajah wanita itu yang menangis dengan hidung memerah, dan foto seluruh tubuh tampak depan saat ia mengenakan kaus oblong dan celana jersey. Di foto ketiga, wanita itu belum menangis; ia menatap tajam ke arah kamera dengan wajah kaku. Sepertinya, itu adalah foto pertama yang diambil. Sebelum pisau itu menghunjam tubuhnya.
Aizawa menahan rasa mual yang muncul, lalu mengalihkan pandangannya ke kumpulan foto dan catatan yang tertempel langsung di dinding. Di sana, tiga lembar foto yang terlampir dalam email pertama tertempel sembarangan, lengkap dengan catatan berisi poin-poin yang mencurigakan serta hipotesis yang ia susun untuk setiap foto. Saat sedang berpikir, ia ingin bisa melihat seluruh informasi dalam satu pandangan mata.
Email pertama tiba pada tanggal 4 Oktober. Ia ingat sempat memekik dan menutup mulutnya saat membuka lampiran email tersebut. Tanpa subjek, dengan satu kalimat pesan yang sama, terlampir foto seorang siswa SMA laki-laki yang diberi luka berbentuk hati retak di dada kirinya.
Dilihat dari fotonya, meski lukanya tampak menyakitkan, kedalamannya tidak sampai merenggut nyawa. Ini bukan kasus pembunuhan, melainkan kasus penganiayaan.
Aizawa mengembuskan napas berat. Sejak mulai beraktivitas sebagai detektif, ia memang pernah menangani kasus yang bersinggungan dengan kriminalitas, namun baru kali ini ia menghadapi sesuatu yang secara jelas melukai orang lain seperti ini. Ia merasa terbebani, berpikir apakah tugas ini terlalu berat baginya.
Padahal, ia sudah tidak ingin melakukan deduksi lagi untuk kedua kalinya.
Namun—luka yang mengandung pesan dalam bentuk hati retak itu mencengkeram jantung Aizawa dengan kuat.
Modus yang sangat mirip dengan kasus yang pernah dihadapi Aizawa di masa lalu.
Sambil memegangi kepalanya, Aizawa meneruskan email tersebut ke alamat pribadinya, lalu menghapusnya.
Bagian 1
Sabtu terakhir di bulan Oktober. Saat Renjou tiba di kantor seperti biasa, ia mendapati Koishi sedang menopang dagu sambil memandangi sebuah album tebal.
"Album kelulusan? kau sengaja membawanya ke sini?"
"Koleksi buku yang kutitipkan di rumah adikku dikirim balik ke sini, lho. Album ini terselip di antaranya."
Koishi menunjuk ke arah koridor di belakang ruang kerja yang menuju ke gudang. Ada tumpukan kardus dalam jumlah yang mengerikan, berjejer memenuhi lantai. Pasti semuanya berisi buku yang padat merayap.
"Ini... tolong masukkan sendiri ke rak bukunya, ya?"
"Tentu saja aku sendiri yang bakal mengaturnya sesuai klasifikasi. Malahan, jangan sentuh buku-bukuku, ya."
Renjou memperkirakan butuh waktu lima tahun sampai semua kardus itu kosong.
"Jadi, karena albumnya ketemu, kau melihat-lihatnya karena merasa rindu?"
"Karena cuma bikin sempit, aku berniat melihatnya sekilas lalu memulangkannya ke rumah adikku."
"Nggak ada orang yang melihat album kelulusan kayak lagi baca dokumen edaran kantor gitu, lho. Tolong sedikit lebih bernostalgia."
"Masa SMA-ku nggak ada kenangan indahnya sama sekali, tahu. Bukannya nggak ada yang indah, sih, tapi emang dasarnya nggak punya kenangan."
"Sedih banget, sih. Coba perlihatkan foto Koishi-san ke aku."
Koishi dengan santai membuka halaman kelasnya dan memperlihatkannya.
"Koishi-san, tatapan matamu tajam banget, sih. Apa kau lagi ngajak berantem fotografernya?"
"Itu masa-masa paling suram dalam sejarah hidupku, tahu. Waktu itu rasanya aku kayak lagi ngajak berantem seluruh dunia," Koishi tertawa kecut.
"Kalau dilihat-lihat lagi, padahal belum lewat sepuluh tahun, tapi banyak banget teman sekelas yang bener-bener nggak kuingat wajahnya."
"Eh, kalau teman sekelas tolong diingat, dong. Kalau anak kelas lain sih masih mending."
Saat itulah, Renjou melirik lambang sekolah berbentuk bintang (☆) yang tertera di sampul album tersebut.
"Lho, Koishi-san ternyata lulusan SMA Hoshino, ya? Berarti sama dengan Mio-chan. Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Emangnya kalau bilang mau ngapain? Aku bener-bener nggak bisa ngomongin hal-hal khas anak SMA Hoshino sama sekali, lho."
Tiba-tiba, Koishi melihat jam dan ekspresi wajahnya berubah.
"Uwah, sudah jam segini. Renjou-kun, buka YouTube!"
"Kenapa tiba-tiba?"
"Video Aizawa bakal diunggah jam sebelas!"
"Kau penggemar beratnya, ya."
"Aku ini anti-nya!"
Renjou membuka YouTube di iPad kantor. Mungkin karena ia selalu menontonnya atas perintah Koishi, thumbnail video Aizawa langsung muncul di posisi terbaik di kiri atas layar beranda. Saat ia mengetuknya, hitung mundur yang biasanya muncul di penayangan perdana tinggal menyisakan lima belas detik lagi.
"Setidaknya belajarlah cara nonton YouTube pakai iPad sendiri. Aku kan nggak nyuruh kau menang olimpiade pemrograman, kalau dicoba pasti bisa, kan."
"Aduh, aku juga pengin sih ngilangin kesenjangan digital ini, tapi ya gimana, secara fisiologis otakku nolak, lho."
"Apa karena aku dan Hinami-san terlalu memanjakanmu, ya..."
Tepat saat itu, hitung mundur berakhir dan video dimulai.
『Halo, ini Aizawa dari Aizawa Channel. Baiklah, baiklah.』
Salam pembuka dengan nada tinggi yang khas dari suara yang diproses secara digital. Koishi mengerucutkan bibirnya. Ia selalu bilang kalau kalimat pembuka yang khas itu—kata penghubung yang biasa digunakan detektif terkenal saat memulai deduksi—sangat menyebalkan. Namun, sepertinya ia tetap tidak pernah melewatkan satu video pun.
『Video kali ini bertema "Kuis Teka-Teki Narrative Trick". Mungkin ada asisten yang bilang akhir-akhir ini isinya kuis melulu, tapi jujur aja Aizawa lagi sibuk banget sampai rasanya dunia berputar nih.』
"Panggilan 'asisten' buat penontonnya itu juga bikin kesel, ya."
"YouTuber yang nentuin nama panggilan buat penggemarnya itu hal yang lumrah dilakukan semua orang, kan."
『Kali ini aku sudah menyusun beberapa soal yang khusus fokus ke narrative trick, jadi silakan coba pecahkan. Biasanya aku ingin merekomendasikan novel misteri yang berhubungan dengan soalnya, tapi berhubung ini narrative trick, aku nggak mungkin bilang "ini novel bertema narrative trick!", jadi hari ini nggak ada rekomendasi buku dulu, ya~』
Setelah obrolan santai selama beberapa puluh detik, konten utama dari video kali ini—yaitu sebuah soal teka-teki—muncul di layar.
Q:
Di sebuah gang sempit di sebuah kota, seorang pria tewas setelah ditusuk di bagian perut.
Pelakunya adalah A, seorang karyawan kantoran. Hal yang menjadi bukti kunci adalah kesaksian beberapa warga sekitar yang melihat A mengayunkan pisau sambil mengenakan setelan jas. A tidak membantah tuduhan tersebut; proses dari dakwaan hingga persidangan berjalan lancar, dan ia divonis hukuman sepuluh tahun penjara.
Namun, hanya beberapa hari setelah mulai menjalani masa hukuman, A sudah berada di luar penjara. Padahal ia tidak melarikan diri, dan tidak ada fakta baru yang mengungkap bahwa ia korban salah tangkap—
『Nah! Jadi, ini dia pertanyaan pertama! Coba pikirkan, kenapa A bisa berada di luar penjara padahal dia sudah divonis sepuluh tahun penjara!』
Di bagian bawah layar muncul teks keterangan: "※ Bagian jawaban dimulai pada menit 04:00". Sampai waktu itu tiba, teks soal akan terus ditampilkan sebagai waktu berpikir.
"Koishi-san tahu jawabannya?"
Menanggapi pertanyaan Renjou, Koishi memasang wajah bosan.
"Setidaknya aku punya jawaban yang memenuhi syarat soal itu, sih."
"Terus?"
"Aku malas dengar kuis sepele begini dari Aizawa, mending dia cerita soal kasus nyata saja. Nanti aku suruh Hina-chan tulis komentar di videonya, ah."
Padahal Koishi sendiri yang tadi minta diputarkan video terbaru Aizawa, tapi sekarang si empunya malah sudah kehilangan minat. Matanya kini tertuju pada sebuah buku saku berjudul Satoshi no Sokkyokusen (The Hyberbola of Murder).
"Eh, padahal sudah susah-susah diputar, kau malah nggak nonton?"
"Episode kuis itu zonk, tahu."
"Buku itu kan koleksimu sendiri. Sudah pernah baca, masa mau dibaca ulang lagi?"
"Ini soal si kembar, lho. Sejak awal penulisnya sudah bilang kalau dia bakal pakai trik kembar. Entah kenapa aku jadi pengin baca ulang. Renjou-kun, kamu mending baca Utsubora dulu daripada ini."
"Aku bakal baca kalau Koishi-san mau baca Strobe Edge, atau kalau aku sudah putus sama Momo dan jadi pengangguran banyak acara."
Ucap Renjou asal sambil lalu tanpa mau memeras otak. Namun, karena ia mendadak memunculkan elemen baru, ia malah memberikan celah bagi Koishi untuk menyerangnya.
"Menurut pengetahuan teorisku, yang namanya friends with benefits (FWB) itu buat diputus hubungan badannya, bukan diputusin kayak pacaran."
"Pertama-tama, tolong jangan sebut pacarku sebagai FWB."
"Pacar yang nggak dikasih perasaan cinta itu namanya FWB, kan?"
Mata Koishi bisa melihat perasaan cinta. Saat ini, ia mungkin sedang melihat dada Renjou yang tidak memancarkan panah ke arah mana pun.
"……Matamu itu benar-benar melanggar privasi orang, ya?"
"Sama saja dengan matamu yang bisa melihat wajahku, kan. Aku juga aslinya nggak sudi melihat perasaan cinta orang, tapi aku nggak mungkin mencongkel bola mataku sendiri dan membuangnya, kan?"
"Benar juga, sih."
"Ada masalah dan efek sampingnya juga kalau bisa melihat begini. Misalnya, 'asistenku' ini bersikeras bilang punya pacar padahal nggak jatuh cinta sama sekali, jadi aku merasa agak risih karena tahu dia ternyata tipe orang yang suka cari FWB."
"Aku ini bawahan, bukan asisten. Tolong jangan pakai istilah novel misteri karena kita cuma menangani kasus asmara. Lagipula," Renjou menekankan intonasi bicaranya. "Ada banyak jenis cinta, dan mungkin ada jenis cinta yang tidak bisa dilihat oleh mata Koishi-san."
"Dua puluh tujuh tahun aku melihat dunia, nggak pernah ada tuh yang kayak begitu."
"Tadi aku mendadak terpikir, bukankah Koishi-san tidak akan sadar kalau memang ada perasaan cinta yang tidak terlihat? Itu kan namanya Pembuktian Iblis, atau lebih tepatnya, 'proposisi negatif tidak bisa dibuktikan', kan?"
Sambil berbicara, pikiran Renjou terus berputar. Ia tahu betul bahwa kemampuan Koishi melihat perasaan cinta telah terbukti berkali-kali dalam pekerjaan mereka. Namun, apakah benar Koishi bisa melihat seluruh perasaan cinta tanpa terkecuali?
"Kelihatan, kok. Lagian hampir semua pejalan kaki di luar sana punya panah yang menjulur dari dada mereka."
"Bukankah itu berarti pandanganmu penuh sesak dengan panah?"
"Iya. Tapi tentu saja aku nggak melihat panah seluruh umat manusia, ya? Rasanya seperti... kalau ada orang yang memancarkan panah atau orang yang tertancap panah masuk ke jarak pandangku, baru kelihatan. Makanya aku benci banget tempat ramai."
"……Maaf, jadi melantur. Intinya, kemampuan Koishi-san melihat perasaan cinta itu adalah syarat cukup, tapi bukan syarat mutlak—"
Sebelum Renjou sempat menyelesaikan keraguannya, Hinami si staf administrasi datang bertugas.
"Met pagi semua~. Apa nih, lagi nonton video? Masih jam kerja, lho?"
Hari ini pun ia masih merias wajah dan tubuhnya dengan berbagai pernak-pernik mencolok yang memperkuat kesan gyaru-nya. Jika Renjou berpapasan dengan Hinami tanpa riasan di pinggir jalan, ia pasti tidak akan mengenalinya.
"Kasih tahu, Hinami. Kalau bosnya malah malas-malasan nonton video begini, moral stafnya bisa turun."
"Apaan sih, kan lagi nggak ada klien, jadi bukan malas-malasan. Bukannya ini hal bagus? Kalau nggak ada klien yang minta penyelidikan perselingkuhan, itu tandanya jumlah orang yang bersedih berkurang. Sebagai detektif yang mengharapkan perdamaian di kota ini, tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini."
Koishi merentangkan kedua tangannya dengan gaya yang dibuat-buat.
"Benar juga, sih."
"Seandainya saja perselingkuhan hilang dari muka bumi, terus semua permintaan yang masuk berubah jadi kasus pembunuhan ruang terkunci. Terus kasusnya meledak di mana-mana dan semuanya diserahin ke aku."
TN Yomi Novel: kayak Misshitsu Ougon Jidai no Satsujin yang ku TL tuh wkwk
"Itu sama sekali nggak terdengar seperti ucapan detektif yang mengharapkan perdamaian kota."
"Bener banget."
Hinami setuju dengan teguran Renjou. Namun Koishi tidak gentar.
"Ya sudah, nggak harus pembunuhan juga nggak apa-apa. Setidaknya kasih aku surat ancaman atau kode rahasia, aku ingin melakukan deduksi untuk hal semacam itu. Padahal aku jadi detektif buat ngerjain yang begitu. Tapi kasus-kasus kayak gitu malah masuk ke detektif YouTuber yang kasih kuis receh begini, sementara ke tempatku nggak ada sama sekali. Nggak adil banget."
"Apaan nih? Alasan pembunuh ada di luar penjara padahal masih masa hukuman?"
Hinami melirik tablet di atas meja. Layar yang dihentikan sementara itu masih menampilkan soal teka-teki sebelumnya.
"Koishi-san itu penggemar berat YouTuber ini, lho."
"Hah?! Aku ini anti-Aizawa dengan antusiasme terbesar di dunia, tahu!"
Koishi langsung menyambar penjelasan Renjou tanpa jeda.
"Padahal nonton videonya dari awal banget, bahkan keluar duit buat langganan membership-nya. Itu sih namanya penggemar berat."
"Itu kan biar aku bisa nonton semuanya terus kasih kritik!"
"Itu namanya efek paparan berulang (mere-exposure effect) yang kau bilang dulu, kan? Karena nonton terus, lama-lama jadi suka. Kau juga menikmati pecahin teka-tekinya, kan?"
"Nggak menikmati! Pokoknya aku cuma mau merebut semua kasus deduksi di kota ini yang dikerjakan orang itu!"
Seolah mendengar keluhan Koishi, pintu depan terbuka dengan entakan kuat, seolah perampok pun bakal melakukannya dengan lebih sopan.
"Koishi-chan, ada?"
"Nggak ada."
"……Pura-pura nggak ada orang itu cuma berlaku sebelum orangnya masuk ke ruangan."
Kataya berucap sambil berakting menangis secara berlebihan. Tampaknya dia sedang libur, karena dia mengenakan setelan jersey yang mirip dengan kunjungannya yang lalu.
Sambil melirik soal yang terpampang di tablet, Kataya menghempaskan bokongnya di sofa tamu.
"Apaan nih, kuis detektif? Boleh juga, kelihatannya kalian lagi senggang."
"Kataya-san tahu jawabannya?"
Saat Renjou bertanya begitu, Kataya membacakan soalnya keras-keras, lalu dengan suara lantang yang khas dan nada jemawa, ia berseru:
"Tentu saja aku tahu, aku ini detektif polisi! Biarpun hari ini libur, otakku selalu dalam mode polisi. Ngomong-ngomong, Hinami-chan tahu jawaban soal ini?"
"Nggak minat ngerjain."
Hinami menjawab dengan datar. Sejak Kataya masuk, bukan hanya Koishi, tapi aura Hinami juga terlihat turun drastis.
"Yah, mungkin buat gyaru ini agak kemahalan ya soalnya. Mau gimana lagi."
"Dih, sok akrab banget, apaan sih orang ini."
"Aku ini lulusan universitas, lho. Otakku pasti muter lebih cepet daripada Hinami-chan yang gyaru begini."
Seketika, udara di ruangan itu terasa membeku. Ketiga orang selain Kataya saling bertukar pandang.
"Eh, kenapa suasananya jadi begini? Kan cuma bercanda, nggak usah marah gitu, dong."
"Bukannya marah, sih……" Hinami menopang dagu, tampak ragu melanjutkan kalimatnya dengan wajah jengah.
"Hinami-san itu akademisi yang lagi riset neurosains di program doktoral, lho. Dia itu intelek."
Renjou mewakili untuk memberitahu, karena Hinami sendiri pasti merasa sungkan mengatakannya. Begitu Renjou menyebutkan nama universitasnya, Kataya mengeluarkan suara aneh dan melangkah mundur satu tapak.
"Bohong, kan?"
"Kebalikannya, aku malah pengin nanya kenapa kamu mikir itu bohong."
Hinami mengangkat bahu. Tampaknya ia sudah terbiasa dengan reaksi seperti itu.
"Ya habisnya, jujur aja, nggak bakal ada orang yang pertama kali lihat Hinami-chan terus mikir, 'Oh, dia pasti lagi riset di universitas'."
Itu memang benar. Renjou pun ingat betapa bingungnya dia saat pertama kali diberitahu fakta itu; ia mengira itu hanya candaan yang tidak lucu.
"Waktu itu kalian berdua pergi makan Kobore Ikura-don bersama, kan? Apa kalian nggak ngobrol soal itu?"
"Nggak. Hari itu Hinami-chan nggak ngomong sepatah kata pun selain pas pesen makanan ke pelayan."
"……Gara-gara pekerjaan ini aku sudah lihat banyak adegan kencan, tapi baru kali ini aku dengar ada yang kencan sambil bungkam total."
Seolah ingin menebus kurangnya percakapan hari itu, Kataya mendekati Hinami dan terus mengajaknya bicara.
"Riset soal apaan?"
"Memori," jawab Hinami singkat dan malas.
"Jawaban satu kata doang itu tandanya penolakan buat ngobrol, lho. Kenapa kepikiran riset soal memori?"
Renjou dalam hati berpikir bahwa itu memang tanda penolakan, tapi karena Kataya terus menatap Hinami sambil mengangguk seolah mendesak, akhirnya Hinami membuka mulut dengan ekspresi masygul.
"Orang tuaku cerai karena perselingkuhan, jadi aku ingin menemukan cara untuk mencegah perselingkuhan."
"Terus kenapa larinya ke riset memori, bukannya riset sabuk kesucian atau apa gitu?"
"Najis," Hinami mengernyitkan wajah seolah baru saja meminum jus sayuran yang pahit.
"Menurutku, selingkuh itu semacam amnesia, tahu."
"Eh. Serius nggak paham. Maksudnya gimana?" Kataya menaikkan sebelah alisnya.
"Sepasang kekasih itu jadi kekasih karena mereka saling mencintai, kan? Meski begitu, alasan kenapa seseorang bisa mengkhianati dan melakukan hal yang pasti bakal bikin pasangannya sedih, menurutku itu karena di momen spesifik tersebut, mereka kehilangan memori tentang pasangannya. Gara-gara tubuh orang di depannya, atau proses atmosfer yang jadi makin intim, memori soal pasangannya terhapus sementara, terus mereka langsung menerjang ke selingkuhannya."
"Hipotesis yang menarik juga.”
Kataya memuji dengan tulus.
"Makanya, aku mikir kalau aku riset soal memori, mungkin aku bisa memusnahkan perselingkuhan dari muka bumi ini. Itu cuma pemicunya, sih. Riset aslinya nggak se-fansi atau se-fazi itu, kok. Tesis magisterku sudah dimuat di jurnal ilmiah, dan sekarang aku lagi banting tulang ngerjain disertasi doktor. Jadi jangan remehkan aku, ya."
Hinami mengakhiri penjelasannya dengan nada bicara yang tegas, seolah sedang mematri prinsip hidupnya. Renjou tidak terkejut karena sudah pernah mendengar cerita ini bersama Koishi saat sesi wawancara kerja, namun ia selalu merasa kagum melihat seseorang yang begitu bersemangat membicarakan impiannya. Apalagi, keinginan untuk memusnahkan perselingkuhan adalah visi yang sama dengan Renjou, sehingga ia merasa punya ikatan batin dengan Hinami.
"Ah, pas banget, kan? Ada kemiripan antara fakta kalau Hinami-chan ternyata mahasiswa S3 sama jawaban dari soal kuis ini."
"Maksudnya?"
Hinami mengernyitkan dahi.
"Maksudnya, ini jenis soal yang memanfaatkan 'prasangka' semacam itu."
Kataya mengalihkan pandangan ke tablet. Di layar, teks soal masih terpampang jelas.
"Yah, pola untuk bisa keluar dari penjara secara legal itu terbatas, jadi ini bukan soal yang terlalu sulit, tapi—"
"A adalah ibu hamil, cuma itu kan jawabannya."
Koishi berkata dengan nada bosan. Kataya langsung berpose berlebihan seolah-olah dia baru saja tersandung dan jatuh.
"Woi, jangan dijawab duluan!" Kataya cembert karena tidak puas.
"Nggak usah sok misterius gitu, soalnya nggak sekeren itu kok. Dari awal kan sudah dibilang kalau ini kuis narrative trick. Kalau soal menjebak pembaca lewat narasi, ada banyak banget novel misteri dengan trik yang jauh lebih menarik. Tapi aku nggak bisa sebut judulnya karena di konteks ini bakal jadi spoiler."
Di sampingnya, Hinami yang tampaknya baru saja paham setelah jeda satu ketukan, mengeluarkan suara kekaguman.
"Eh, gitu ya? Jadi si A ini perempuan, dia membunuh pria itu saat sedang hamil, terus dia dapat penangguhan penahanan untuk melahirkan?"
"Wah, masuk akal juga."
Renjou ikut menimpali dengan nada menyesal karena tidak terpikirkan sebelumnya.
"Kalau mau melahirkan, mau nggak mau harus dipindahkan ke rumah sakit bersalin. Dulu sih katanya tetap dipakaikan borgol, tapi belakangan ini sudah tidak lagi"
Jelas Kataya dengan lancar. Pengetahuan khas seorang polisi.
"Penyebutan 'karyawan kantor' dan 'setelan jas' bikin kita secara nggak sadar membayangkan sosok salaryman laki-laki, makanya kemungkinan kalau dia ibu hamil jadi sulit terpikirkan. Yah, kalau cuma soal keluar penjara sih ada pola lain kayak narapidananya mati atau dipanggil jadi saksi sidang, tapi niat si pembuat soal pasti ingin menipu kita pakai prasangka itu, kan."
Koishi menambahkan penjelasan, yang disambut dengan tepuk tangan ringan dari Hinami.
"Hebat banget, aku beneran ngebayangin laki-laki tadi."
"Prasangka itu, intinya cuma perhitungan probabilitas di bawah alam sadar, kan?"
Ucap Koishi seolah bicara pada diri sendiri.
"Kalau disebut 'karyawan kantor pakai jas', otak kita bakal membayangkan sosok karyawan yang persentasenya paling tinggi yang pernah kita temui atau lihat sepanjang hidup. Itu lebih efisien, karena kita nggak punya energi buat mempertimbangkan semua kemungkinan lain satu per satu. Tapi kalau itu sudah keterlaluan, jadinya disebut penghakiman sepihak atau bias."
Kataya menangkap celah saat pembicaraan terhenti sejenak, ia mengangkat tangan dan mulai bicara.
"Ngomong-ngomong soal bias, Renjou-chan. Menurutmu hari ini aku datang buat apa?"
"Ya karena lagi senggang terus mau gangguin Koishi-san, kan?"
Kataya menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan sambil berucap, "Ck ck ck."
"Itu yang namanya prasangka. Kau langsung mikir kalau aku main ke sini = mau bikin gangguan nggak berguna. Nggak baik, lho, punya pikiran begitu."
"Bukannya memang benar?"
Saat Renjou bertanya dengan nada malas, Kataya tersenyum bangga.
"Aku bawa kerjaan buat kalian. Boleh banget lho kalian berharap banyak!"
Tepat saat ia membual begitu, pintu terbuka dengan entakan yang tidak kalah kuatnya dengan saat Kataya masuk tadi.
"Pak Detektif, tolong bantu saya!"
Seorang klien masuk dengan keceriaan yang seolah-olah tidak mencerminkan kalau dia sedang butuh bantuan.
Rambut pendek yang dicat cokelat terang, kulit kecokelatan yang terbakar matahari. Di atas tank top hitamnya, ia mengenakan kemeja putih tanpa dikancing satu pun, dan dari celana pendeknya terlihat kaki dengan bulu yang tipis. Padahal Oktober hampir berakhir, tapi dia sendiri yang tampak seperti sedang melawan pergantian musim. Ia menggendong ransel Montbell berukuran raksasa yang tampak seberat tabung oksigen dengan santai, memancarkan stamina yang meluap-luap.
"Nama saya Kimizuka Taiga. Umur dua puluh enam tahun. Saya datang atas rekomendasi Kataya-san. Mohon bantuannya!"
Renjou mengamati gerak-gerik pria itu. Salam yang lantang, anggukan takzim dengan senyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi. Tipe atletis ya, pikir Renjou. Kataya segera memberikan konfirmasi.
"Dia ini junior klub ragbi waktu aku masih kuliah dulu. Tolong dengerin ceritanya, ya."
"Saya Renjou. Terima kasih sudah datang. Mari kita bicarakan detailnya di ruang wawancara."
"Siap. Pak Detektif, entah kenapa aku ngerasa kita punya aura yang mirip!"
Renjou menahan diri agar tidak membalas "tolong jangan samakan aku denganmu", lalu mengantar Kimizuka ke ruang wawancara.
"Biasanya, Kataya-san harus menunggu di ruangan terpisah, tapi..."
Renjou melirik Kimizuka. Kimizuka pun menggeleng.
"Ah, nggak apa-apa. Lagipula dari awal aku sudah konsul ke Kataya-san. Aku mau dia ikut dengerin."
Atas persetujuan Kimizuka, mereka berempat—termasuk Kataya—masuk ke ruang wawancara.
"Sekali lagi, saya Renjou, konsultan sekaligus penyelidik dari Kantor Detektif Koishi. Dan ini Koishi, perwakilan sekaligus penyelidik kami."
"Renjou-san, Koishi-san. O-na-syas!"
Cara dia mengucapkan "Yoroshiku onegaishimasu" (mohon bantuannya) terdengar seolah kalimat itu baru saja digilas mesin press hingga gepeng.
"Oke, langsung aja ya. Begini, biarpun kelihatannya begini, aku ini sudah menikah. Tapi belakangan soal istriku—"
"Iya, iya, penyelidikan perselingkuhan lagi kan, paham~," gumam Koishi. Renjou sontak membekap mulut bosnya itu. Biarpun ini kenalan Kataya, klien tetaplah klien yang harus dilayani dengan serius.
Namun, sorot mata Koishi seketika berubah saat Kimizuka melanjutkan dengan ekspresi suram, "Aku dapet surat ancaman."
"Surat ancaman!" pekik Koishi pelan. "Serius?"
"Aku juga sesekali bisa bawain kerjaan bagus, kan?"
Kataya memamerkan wajah sombong yang amat sangat.
"Ini suratnya..."
Kimizuka mengeluarkan selembar kertas dari saku ransel raksasanya.
Kato Vanilla adalah milikku. Sebelum bulan ini berakhir, aku akan mengambilnya kembali dari sisimu.
Satu baris kalimat dengan huruf Mincho putih kecil di atas latar belakang hitam. Kesederhanaan itu justru memancarkan tekad kuat dari si pembuatnya. Saat Koishi membalik kertas itu, tertera empat huruf: DILARANG LAPOR.
Renjou merasakan otot-otot di sekujur tubuhnya menegang. Kertas itu dipenuhi aura jahat dan niat kriminal yang membuat kewaspadaannya meningkat tajam.
"Vanilla itu nama istriku."
"Vanilla-chan," Koishi mengulang nama yang tidak biasa itu seolah sedang meresapinya. "Rasanya aku pernah dengar nama itu."
"Jadi ingat Sugar Sugar Rune, ya. Ada anak perempuan bernama Vanilla di sana," timpal Renjou mencoba mencairkan ketegangan dengan referensi manga shoujo, tapi Koishi tidak paham.
"Garis besarnya sih sederhana, tapi surat ancaman ini terasa sangat mendesak. 'Sebelum bulan ini berakhir', katanya."
Bulan Oktober tinggal menyisakan enam hari lagi. Seperti kata Koishi, batas waktunya sudah sangat dekat. Sebuah peringatan bahwa dalam enam hari ke depan, sesuatu yang buruk akan menimpa Vanilla.
"Gimana cara kamu nerima ini? Lewat pos?"
"Kemarin lusa sore pas aku pulang ke rumah, surat ini sudah ada di kotak pos."
"Ada cap posnya?"
"Nggak ada. Sepertinya langsung dimasukkan ke kotak pos rumahku."
Kimizuka menjawab dengan lancar.
"Tulisannya memang dilarang lapor polisi, tapi tetap saja... bukannya sebaiknya lapor polisi?"
Renjou berkata sambil menatap Kataya. Ia harus tahu alasan kenapa klien ini malah lari ke detektif swasta.
Kimizuka meringis. "Nah, itu dia masalahnya."
"Aku bener-bener nggak sreg sama polisi. Dulu aku pernah kena pemeriksaan rutin di jalan, padahal aku nggak salah apa-apa tapi mereka nanya-nanyanya nyebelin banget. Sejak itu aku nggak percaya polisi. Lagian kalau lapor, aku ngerasa pelakunya bakal langsung tahu."
"Terus, kamu percaya sama orang ini?"
Koishi menunjuk Kataya dengan dagunya.
"Kataya-san sudah banyak membantuku bahkan sebelum dia jadi polisi, jadi dia itu pengecualian. Makanya, yang aku hubungi pertama kali bukan nomor darurat 110, tapi Kataya-san. Aku nanya ke dia harus gimana."
Kataya mengangguk.
"Masalahnya, sulit bagi polisi untuk bergerak hanya dengan bukti segini. Paling-paling yang bisa dilakukan cuma memperketat patroli, atau kalau mau lebih jauh ya pasang kamera pengawas. Kalaupun si pelaku benar-benar merencanakan tindakan kriminal, polisi punya keterbatasan. Karena itu, kupikir lebih pasti kalau aku minta bantuan detektif hebat kepercayaanku untuk membuntuti dan mengintai secara total, supaya bisa menangkap momen krusialnya."
Mendengar bualan Kataya, Renjou hampir saja berdiri dari kursinya. Ia menahan diri dan mencoba menyampaikan argumen yang logis dan masuk akal.
"Tunggu sebentar. Kami ini detektif, bukan polisi atau bodyguard. Kami tidak punya fungsi dan hak seperti polisi. Kita tidak tahu seberapa serius ancaman dalam surat ini, tapi... kami tidak bisa menerima permintaan ini."
"Kenapa, Renjou-kun? Kamu ciut ya?"
Koishi berkata dengan nada mengejek. Renjou merasa jengkel. Ia tahu kalau ia memperlihatkan kejengkelannya, Koishi akan semakin menjadi-jadi. Jadi, ia menjawab dengan wajah datar.
"Aku hanya menolak secara objektif."
Kataya sama sekali tidak mempedulikan perasaan Renjou.
Dengan nada yang sangat santai, ia berkata.
"Nggak ada yang bahaya, kok. Cuma membuntuti pasangan Kimizuka dan memastikan nggak ada orang mencurigakan di sekitar mereka. Misal ada orang mencurigakan pun, Koishi-chan dan Renjou-chan tinggal lapor ke aku, itu sudah cukup. Nggak perlu menangkap orangnya. Tentu kalau kalian bisa sampai tahu wajah dan alamat rumahnya itu bakal sangat membantu, tapi itu bukan keharusan."
Cara bicaranya yang ringan menunjukkan bahwa ia benar-benar menganggap ini bukan masalah besar.
"Kenapa nggak Kataya-san saja yang membuntuti?"
"Renjou-chan, jangan remehkan kesibukan polisi muda. Hari libur yang sedikit pun bisa langsung dipanggil kalau ada kejadian. Aku nggak punya waktu buat nempel terus sama Kimizuka, dan aku juga nggak bisa terima bayaran. Kalau kalian detektif, bisa terima uang dan menjadikannya sebagai pekerjaan resmi, kan? Nggak ada masalah."
"Tapi, biarpun kau bilang begitu..."
"Cukup pengintaian dan pembuntutan saja. Itu kan bidang kalian sebagai detektif? Aku nggak minta kalian buat meringkus pelaku kalau ada apa-apa. Cukup awasi Kimizuka dengan ketat, dan kalau terjadi sesuatu, hubungi aku. Cuma itu, jadi nggak akan ada bahaya, kan Renjou-chan? Anak ini, biarpun wajahnya ceria dan kelihatan nggak mikir apa-apa begini, aslinya dia cemas setiap hari."
Setelah Kataya bicara panjang lebar dengan nada serius dan membawa-bawa perasaan klien, Renjou jadi kehilangan cara untuk menolak. Ia mencoba mencari cara agar klien ini diarahkan ke kantor lain, tapi sebelum ia sempat menjawab, Koishi sudah mendahuluinya dengan tegas.
"Kami terima. Aku perwakilannya yang bilang begitu, jadi nggak ada masalah."
"Koishi-san, terima kasih banyak!"
Kimizuka berseri dengan wajah yang langsung berseri-seri.
Renjou akhirnya pasrah, menyadari bahwa ia tidak bisa mundur lagi. Tanpa mempedulikan kegelisahan Renjou, Koishi mulai melanjutkan pembicaraan.
"Kalau begitu, langsung saja... Kalau kami mau membuntuti, pertama-tama kami harus tahu penampilan targetnya. Tolong perlihatkan fotonya."
Seketika, ekspresi Kimizuka kembali mendung. Di wajah cerianya yang biasanya memancarkan semangat, untuk pertama kalinya muncul keraguan.
Menyadari hal itu, Kataya menepuk punggung Kimizuka dengan lembut.
"Sudah kubilang kan, Koishi-chan itu aman. Dia orang yang bisa dipercaya. Nggak perlu takut. Kalau soal kepribadian Renjou-chan aku nggak terlalu tahu, sih, tapi dia juga oke lah."
"Apa maksudmu?" protes Renjou, tapi Kimizuka seolah tidak mendengar perdebatan itu. Ia memejamkan mata dan mengerutkan dahi.
"Bisa janji nggak, kalau kalian benar-benar nggak akan ketawa dan nggak bakal bilang ke siapa-pun soal ini?"
Kimizuka bertanya sambil menatap Koishi dan Renjou bergantian.
Renjou segera mengangguk.
"Kami menjaga kerahasiaan informasi pribadi dengan sangat ketat."
"Termasuk nggak membocorkannya lewat pillow talk ke pacarmu, lho ya?"
"Nggak, mana mungkin aku..."
Selagi Renjou terbata-bata, Koishi menyela.
"Kalau ada alasan kenapa kamu nggak mau memperlihatkannya, itu nggak apa-apa. Tapi kalau kami nggak tahu, kami juga nggak bisa menjalankan tugas ini. Kalau kami sudah menerima kontraknya, tentu kami nggak akan bicara pada siapa pun. Nggak ke keluarga, teman, bahkan ke Hinami-chan yang staf di sini pun nggak akan. Saat aku berdiskusi dengan Renjou-kun pun, kami akan memilih tempat yang tidak ada orang lain."
Ketegasan Koishi memiliki kekuatan yang mampu menarik lawan bicaranya. Seolah sudah membulatkan tekad, Kimizuka mengeluarkan ponselnya.
"Tunggu sebentar, aku cari foto yang paling cakep dulu. Tapi sebenarnya di semua foto dia cakep banget, sih."
"Tidak perlu yang paling cakep, tolong foto yang fitur wajahnya terlihat jelas saja,"
Renjou berkata dengan nada serius. Karena sudah diputuskan untuk menerima tugas ini, ia harus memasukkan informasi dengan benar ke dalam kepalanya agar misi bisa terlaksana.
Setelah beberapa saat, Kimizuka menyodorkan ponselnya. "Untuk sementara, yang ini saja."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan.
"Anu, ini kalau tidak salah..."
Renjou berusaha mencari kata-kata yang tepat. Ia merasa panik karena kegugupannya pasti terpancar jelas. Untuk mengisi kekosongan itu, Koishi menyela dengan suara yang sama sekali tidak goyah. "Jadi gadis ini yang namanya Kato Vanilla-chan, ya. Aku pun tahu soal dia," ucapnya. Di saat-saat seperti ini, Renjou merasa memang tidak bisa menandingi ketenangan atasannya itu.
"Cakep, kan?"
Kimizuka menyeringai lebar hingga pipinya tampak seolah meleleh saking senangnya.
"Dia adalah Kato Vanilla-chan, center dari grup idol 'Buff Girls'. Warna anggotanya adalah putih."
Pantas saja dia ragu untuk mengatakannya. Renjou hanya bisa bergumam pendek, "Begitu rupanya."
Koishi pun tampak bersiaga, menyadari bahwa ini adalah pola kasus yang baru pertama kali mereka hadapi. Tingkat popularitas idol tersebut berada pada level di mana bahkan Koishi yang sama sekali tidak punya minat pada hiburan selain novel misteri pun mengetahuinya.
"Kami memang tidak mengumumkannya ke publik, tapi kami sudah resmi mendaftarkan pernikahan."
Kimizuka berkata dengan bangga.
Bagian 2
"Kasus ini berbahaya. Seharusnya kita tidak menerimanya dari awal."
Renjou menumpahkan keluh kesahnya kepada Koishi yang berada di seberang jalan melalui interkom. Tentu saja, matanya tidak sedetik pun beralih dari sosok Kimizuka yang berjalan sepuluh meter di depannya, serta memantau situasi di sekeliling pria itu.
Tujuan mereka adalah membuntuti Kimizuka guna mengidentifikasi siapa sosok yang mengancam pasangan tersebut. Berbeda dengan penyelidikan perselingkuhan biasa, tingkat kesulitan pembuntutan kali ini sangat rendah karena mereka tidak perlu takut ketahuan oleh Kimizuka. Malahan, mereka sudah diberi tahu lokasi tujuannya, dan jika sampai kehilangan jejak, mereka tinggal menghubungi Kimizuka untuk menanyakan posisinya.
Namun, masalahnya bukan sekadar mengawasi Kimizuka. Mereka harus mencari dengan mata elang apakah sosok pengirim surat ancaman itu ada di peron kereta, di sudut jalan, atau mungkin di dalam restoran. Sebagai tindakan pencegahan, Renjou juga membawa peralatan kamera seperti biasa.
"Berbahaya, berbahaya... Kok tumben kamu jadi sangat berhati-hati? Ada apa, sejak kapan kamu jadi penakut begitu?" suara Koishi terdengar malas menanggapi lewat interkom.
Sambil menahan kejengkelannya, Renjou membalas, "Menyelidiki siapa pengirim surat ancaman... apa ini benar-benar pekerjaan detektif?"
Ia menjaga volumenya tetap rendah, dan sebisa mungkin menghindari kata "surat ancaman" agar tidak memancing kecurigaan orang sekitar.
"Begitu kita menerima permintaannya, ya itu sudah jadi tugas detektif, kan?"
"Surat itu mungkin cuma iseng, tapi ada kemungkinan pelakunya benar-benar orang gila, kan? Kalau sampai ketahuan kita membuntuti Kimizuka-san, bukan nggak mungkin dia bakal balik menyerang kita. Ini bisa jadi masalah yang sangat serius."
"Kalau kamu terus-terusan berpikir pakai logika 'waspada kemungkinan terburuk' begitu, seumur hidup kamu nggak bakal bisa ngerjain kasus deduksi."
"...Bisa saja pengirim surat itu tiba-tiba menusuk kita."
Renjou berusaha memprotes dengan serius, namun suara Koishi malah terdengar makin santai.
"Kalau sampai Renjou-kun ditusuk, nanti biar aku yang lakukan deduksi dan menangkap pelakunya buatmu."
"Sudah telat kalau aku sudah ditusuk! Dan bisa saja Koishi-san sendiri yang ditusuk!"
Mendengar itu, Koishi menyahut dengan nada seolah baru saja menyadari sesuatu.
"Hah... jangan-jangan, kamu cemburu ya karena aku langsung menerima permintaan yang dilempar oleh Kataya? Aduh, maaf ya. Pacaran sesama kantor bakal langsung kupecat saat itu juga."
"Kataya-san mungkin saja cemburu padaku, tapi aku nggak bakal pernah cemburu pada Kataya-san!" tegas Renjou.
Ia merasa jengah sekaligus panik karena tidak sudi disalahpahami seperti itu.
"Terserah Koishi-san mau jadi apa, tapi aku ini lemah. Kalau situasinya berubah jadi kekerasan, aku bakal langsung kabur, ya."
"Lho, kenapa? Gimana pun juga, bagian urusan lapangan yang kasar-kasar itu kan tugas Renjou-kun."
"Aku ini konsultan sekaligus penyelidik, urusan otot bukan bidangku. Biarpun aku laki-laki, aku nggak berdaya melawan orang yang bawa senjata tajam."
Koishi bergumam bahwa menjadi laki-laki atau bukan itu tidak ada hubungannya, lalu melanjutkan.
"Yah, jaga dirimu baik-baik saja. Renjou-kun boleh kabur kalau merasa terancam. Pokoknya, kita selesaikan tugas ini dengan benar, temukan pengirim suratnya, lalu beri dia pelajaran. Kimizuka sangat mengandalkan kita, lho."
Karena Koishi mendadak bicara dengan nada yang cukup bijak, Renjou merasa ada yang aneh, lalu bertanya.
"Apa kau jadi semangat begini karena ini bukan kasus asmara?"
Koishi bergumam "Eeeh..." dengan nada bimbang.
"Surat ancamannya memang ada, tapi rasanya nggak terlalu penuh misteri. Jujur saja, aku nggak begitu berapi-api. Sepertinya aku baru sadar kalau aku lebih suka tipe misteri 'Closed Circle', di mana petunjuknya sudah terkumpul di awal lalu kita tinggal memikirkannya, daripada tipe penyelidikan lapangan yang harus cari petunjuk sambil jalan. Misteri surat ancaman ini kan jenis yang harus diselesaikan dengan gerak fisik."
"Semua misteri di dunia nyata memang begitu."
Renjou mengangkat bahu. Ini adalah perdebatan yang entah sudah berapa kali mereka lakukan.
"Kenapa kau jadi makin pemilih, sih? Bilangnya ingin kasus selain asmara, tapi begitu dapat kasusnya, kau malah mengeluh."
"Keinginan manusia itu memang nggak ada habisnya. Tapi untuk sekarang, aku justru lebih penasaran dengan motivasi Renjou-kun yang ngotot ingin menolak permintaan ini—"
Baru saja aku hendak bertanya apa maksudnya, Kimizuka sudah tiba di tujuannya. Sebuah restoran Italia yang terkenal dengan Milano-fu Katsuretsu (Kotlet ala Milan). Koishi dan aku akhirnya bergabung dan menghentikan langkah. Rencananya, setelah ini Koishi dan aku juga akan masuk ke restoran yang sama dan duduk di kursi yang dekat dengan Kimizuka. Reservasi sudah kami lakukan sebelumnya.
Selang satu ketukan, kami masuk ke restoran dan menyebutkan nama pemesan. Restoran itu memiliki skala menengah dengan beberapa kursi konter dan meja, serta satu ruangan privat di bagian paling dalam. Kami sudah berdiskusi dengan Kimizuka sebelumnya; Kimizuka akan menggunakan ruang privat itu, sementara Koishi dan aku menempati meja yang paling dekat dengan ruangan tersebut.
"Yah, meski kurasa kecil kemungkinan pelakunya bakal melakukan sesuatu di dalam restoran ini... tapi bagaimanapun, aku juga ingin melihatnya secara langsung."
Sambil mengucapkan itu, Koishi melirik ke arah bagian dalam restoran.
Saat aku menoleh, seorang pelayan kebetulan sedang menyajikan minuman. Dari sudut posisiku, keadaan di dalam tidak terlihat, tapi dari kursi Koishi—
"Sudah kelihatan? Dari dada Kimizuka-san, apakah panahnya—"
Koishi mengangguk.
"Kelihatan jelas banget. Tertancap kuat di dada Vanilla-chan."
Kimizuka benar-benar mencintai Vanilla—fakta itu kini sudah terkonfirmasi.
"Ngomong-ngomong, kalau dari Vanilla-chan...?"
"Enggak ada," ucap Koishi dengan ekspresi yang sedikit sendu. "Yah, mau bagaimana lagi. Mengingat siapa lawannya. Kimizuka pun sepertinya tidak keberatan dengan hal itu, kan?"
Koishi dan aku memesan minuman non-alkohol tanpa soda serta beberapa hidangan ringan secara a la carte. Mengingat Kimizuka dan istrinya mungkin akan makan besar, sebenarnya kami juga bisa saja memesan lengkap dari makanan pembuka hingga hidangan utama, tapi kami menahannya demi berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat. Seorang detektif yang sedang bertugas harus selalu menjaga kondisi tubuh agar bisa melakukan lari cepat sekuat tenaga kapan pun dibutuhkan.
Di tengah makan, aku izin pergi ke toilet. Saat melewati depan ruang privat, kebetulan pelayan sedang mengambil pesanan di sana. Aku memanfaatkan celah pintu yang terbuka selebar tubuh pelayan itu untuk melirik ke dalam ruangan dengan sekuat tenaga.
Di hadapan Kimizuka—terdapat sosok Kato Vanilla. Ia mengenakan pakaian kasual yang santai, berbeda dengan kostum idol yang biasa ia kenakan. Oh, ternyata dia pakai baju biasa juga, ya, pikirku dengan kesan yang agak bodoh.
Vanilla menatap Kimizuka dengan mata yang jernih tanpa keraguan. Di dalam gelas di depan Vanilla, tertuang penuh minuman berkarbonasi yang tampak seperti sampanye.
Aku terus berjalan melewati mereka, menyelesaikan urusan di toilet, lalu kembali ke meja dengan perlahan. Saat kembali, pintu ruangan privat sudah tertutup sehingga aku tidak bisa melihat ke dalam, tapi aku bisa mendengar Kimizuka sedang menceritakan bagian akhir dari sebuah lelucon dengan nada yang sangat gembira.
"Termasuk hari ini, bulan Oktober tinggal sisa tiga hari lagi," keluh Renjo. "Apa mungkin itu memang cuma iseng, ya?"
Hari ini Hinami sedang libur, jadi hanya ada Koishi dan Renjo di kantor. Karena Kimizuka tidak berencana keluar rumah pagi ini, kami memutuskan untuk bersiaga di kantor.
Saat Renjo sedang memeriksa kembali jadwal Kimizuka untuk tiga hari terakhir ini, pintu kantor terbuka.
"Lho, Mio-chan."
Mendengar suara Renjo, Koishi ikut mendongak. Di ambang pintu ruang kerja berdiri Sato Mio, siswi SMA yang menyewa jasa kami bulan lalu.
"Halo. Aku datang mau main nih."
Karena masih mengenakan seragam, sepertinya dia baru saja pulang sekolah. Sejak kasus investigasi perilaku pacarnya yang berujung pada pengungkapan perselingkuhan itu, Mio sesekali mampir ke kantor untuk mengobrol dengan Koishi atau meminjam buku.
"Terima kasih ya soal urusan Sairo-san dan yang lainnya kemarin. Sepertinya kalian berhasil menyelesaikannya dengan cara yang bagus."
"Ah, ngomong-ngomong itu memang referensi dari Mio, ya."
"Aku sudah yakin kalau Nyonya Aika pasti pergi ke tempat prostitusi khusus wanita (Onna-fu). Sairo-san pun menyadari hal itu dan bersikeras ingin menyewa detektif karena merasa ada yang tidak beres. Jadi, aku pikir lebih baik mereka datang ke tempat Koishi-san saja, sambil berdoa semoga terjadi semacam reaksi kimia yang unik di sana."
"Sebaiknya anak SMA jangan terlalu sering menyebut istilah 'prostitusi khusus wanita'... Ngomong-ngomong Mio-chan, kamu sudah tahu soal perselingkuhan Aika-san?"
Sambil bertanya, di dalam kepala Renjou terjadi pergulatan antara akal sehat yang bilang tidak pantas membahas masalah prostitusi dengan anak SMA, dan kenyataan bahwa Mio sendiri yang mengucapkannya. Renjou tidak berani menatap mata Mio, sementara gadis itu melanjutkan dengan lancar:
"Sejak suatu waktu, dia jadi rajin banget urus alis dan kuku, tapi di sisi lain dia malah sibuk cari cara buat berhemat. Kalau cuma punya selingkuhan biasa, harusnya dia nggak bakal kesulitan uang. Makanya aku mikir dia pasti terjerat host atau onna-fu. Mengingat kepribadian dan latar belakang Aika-san, rasanya lebih masuk akal kalau dia menemukan cara baru buat memuaskan gairah seksualnya daripada sekadar mencari drama cinta ala host."
Mendengar kata-kata vulgar yang meluncur begitu saja, Renjou benar-benar merasa ciut. Namun, Koishi justru menghela napas kagum, seolah merasa takjub dalam hati.
"Belum sempurna, tapi tebakanmu kena. Mio, kamu mungkin punya bakat jadi detektif. Khusus bagian kasus asmara, sih. Mau kerja di sini setelah lulus? Kamu yang pegang kasus asmara, aku yang pegang kasus deduksi murni."
Mio tertawa sambil menggeleng.
"Ini bukan hasil pemikiranku sendiri, kok. Malah hampir semuanya cuma hasil denger-denger doang. Lagipula aku harus mewarisi perusahaan keluarga, jadi rasanya nggak bakal diizinin kalau kerja di kantor detektif."
"Punya keluarga kaya memang merepotkan, ya," komentar Koishi.
"Keluargamu seketat itu, tapi kenapa dulu dibolehkan pacaran sama orang itu?" tanya Renjou, teringat wajah Fuuto—mantan kekasih Mio yang ternyata berselingkuh dengan ibu dari teman Mio sendiri.
"Kalau cuma pacaran, orang tuaku nggak bakal protes. Tapi kalau sudah urusan menikah, ceritanya bakal beda. Makanya waktu itu aku minta tolong diselidiki."
"Kami tunggu ya permintaan penyelidikan untuk pacarmu yang sekarang." ujar Renjou bercanda. Mio pun tertawa.
"Pacarku yang sekarang belum terpikir sampai ke tahap menikah, sih. Kadang aku malah mikir, 'Dia beneran suka aku nggak, ya?'"
"Maksudmu orang yang umur dua puluhan itu, kan? Serius, kalau ada apa-apa langsung bilang, ya. Kalau ada kejanggalan sekecil apa pun, entah itu ke aku, Koishi-san, orang tuamu, atau temanmu, pokoknya harus cerita. Jangan dipendam dan diputuskan sendiri."
"Renjou-san berlebihan, ah. Tenang saja, teman-teman di klub Mölkky, bahkan Sairo-san dan yang lainnya juga tahu kalau kami pacaran. Kalau aku cuma di-grooming atau dimanfaatkan buat duit, mereka pasti langsung sadar."
Mendengar Mio mengucapkan kata "grooming" dengan begitu santainya, Renjou merasakan sensasi dingin yang tidak enak menjalar di punggungnya.
"Ngomong-ngomong, Mio, sebelum Fuuto, apa kamu pernah punya pacar? Waktu SMP atau awal SMA gitu?"
"Pernah, kok. Pas musim semi kelas satu SMA, ada cowok sekelas yang nembak, jadi ya sudah aku terima saja. Tapi cuma bertahan dua bulan. Nama marganya aneh banget, 'Yamashita', dia anak klub bisbol. Tapi kami beneran nggak nyambung. Rasanya ada yang kurang saja."
Mio berbicara dengan tatapan menerawang. Koishi memiringkan kepalanya.
"Kalau nggak nyambung, kok bisa tahan sampai dua bulan? Menurut pengetahuan teoriku, anak SMA itu bisa saja putus bahkan sebelum lewat sebulan."
Mio menjulurkan lidahnya seolah-olah baru saja ketahuan melakukan kenakalan.
"Yah... itu karena aku mikir mau bertahan sampai hari ulang tahun saja. Bukannya aku gila barang, tapi lebih ke buat pengalaman pribadi. Itu kan pacar SMA pertamaku, jadi aku penasaran hadiah apa yang bakal dia kasih."
"Luar biasa. Kamu kayak karyawan yang bertahan di perusahaan sampai hari bonus turun sebelum akhirnya resign," komentar Renjou.
"Emangnya hari ulang tahun di antara anak SMA itu sepenting itu sampai harus dirayakan segitunya?"
"Ya iyalah. Begitu mulai pacaran, hal pertama yang diputusin itu panggilan sayang, terus hal kedua yang ditanya itu hari ulang tahun. Urutan siapa yang ulang tahun duluan itu penting banget. Kalau kamu yang 'giliran pertama', tekanannya bakal kerasa banget, tahu."
Mata Koishi seketika berbinar tajam. Bukan karena isi cerita Mio, melainkan seolah ia baru saja mendapatkan semacam ilham atau kaitan logika dari sana.
Setelah mengobrol santai sekitar sepuluh menit lagi, Mio meminjam beberapa buku pilihan Koishi dari tumpukan di belakang mejanya—Hokobune, GOTH, dan Rokunin no Usotsuki na Daigakusei—lalu pamit pulang. Rak buku barunya sebenarnya sudah tiba dan terpasang di sepanjang dinding sejak minggu lalu, tapi Koishi sudah menghabiskan lebih dari seminggu hanya untuk memikirkan urutan penyusunan yang ideal.
"Tiga buku yang dipinjam Mio itu adalah buku-buku paten yang kusebut sebagai gateway mystery. Kalau sudah dikembalikan, kamu harus baca ya."
"Duh, jangan pakai istilah gateway, kesannya kayak barang terlarang saja."
"Ayo kita jadi pecandu misteri bersama!"
Koishi menjulurkan lidahnya.
"Kalau begitu, Koishi-san juga harus baca manga shoujo gateway. Ada karya seperti Beauty Pop atau Gakuen Alice yang punya daya tarik kuat selain elemen romansanya."
"Memangnya ada trik ruang terkunci atau alibi di sana?"
"Permintaanmu itu mustahil, tahu."
"Yah, terlepas dari itu..."
Tiba-tiba, nada suara Koishi berubah drastis menjadi berat, meninggalkan suasana obrolan santai tadi.
"Renjou-kun, tolong cari tahu hari ulang tahun Vanilla. Cek di situs resminya atau apa pun."
"Ulang tahun? ...Ah, sepertinya tanggal tiga puluh satu Oktober. Lusa."
Seketika Renjou tersentak.
"Kalau pelakunya merasa hari ulang tahun Vanilla punya arti khusus... ada kemungkinan besar dia bakal beraksi di tanggal tiga puluh satu?"
Koishi mengangguk. Renjou kembali mengingat kalimat dalam surat ancaman itu.
“Kato Vanilla adalah milikku. Sebelum bulan ini berakhir, aku akan mengambilnya kembali dari sisimu.”
Mungkin saja itu cuma kalimat asal yang ditulis untuk memicu ketakutan tanpa makna apa pun, jadi ia tidak tahu apakah menganalisis isi kalimat itu secara serius adalah pendekatan yang benar. Namun, faktanya saat ini mereka hanya punya dua kalimat itu sebagai petunjuk.
Jika dipaksa membaca niat pelaku dari tulisan tersebut—dari ungkapan "milikku", jelas bahwa si pelaku memiliki obsesi yang sangat kuat terhadap Vanilla. Jangan-jangan, dia adalah penggemar Vanilla yang lebih fanatik daripada Kimizuka sendiri.
Jika benar begitu, tidak mungkin dia mengabaikan momen seperti ulang tahun Vanilla.
"Benar. Atau mungkin, sehari sebelumnya. Melakukan sesuatu di malam ulang tahun—misalnya, menculiknya agar bisa merayakan ulang tahun bersama. Secara teori, itu sangat mungkin terjadi."
Selama beberapa hari membuntuti dan tidak terjadi apa-apa, jujur saja fokus Renjou mulai sedikit mengendur. Namun, begitu sebuah tanggal mulai memiliki makna, ini bukan waktunya lagi untuk bersantai.
"Tentu saja, berbahaya kalau kita menyimpulkan jadwalnya secara sepihak—tapi di sisa waktu ini, mari kita lebih memperketat pembuntutan. Lalu, yang membuatku penasaran adalah... Kimizuka."
"Maksudnya?"
"Kimizuka pasti yang paling tahu kalau ulang tahun Vanilla sudah dekat. Kenapa dia tidak memberitahu kita soal itu?"
"Mungkin... dia tidak ingin kita punya prasangka tertentu, atau dia ingin kita terus waspada sampai tanggal tiga puluh satu nanti tanpa lengah?"
Koishi tidak tampak teryakinkan. Ia memegang dagunya dan terdiam cukup lama.
"Aku mau baca seluruh artikel Wikipedia tentang Vanilla. Renjou-kun, tolong cetakkan."
Mendengar perintah Koishi, Renjou menjawab dengan nada bercanda, "Besok aku bakal membuntuti sambil melilitkan majalah atau sesuatu di perutku buat jaga-jaga, ya," sambil menyalakan mesin pencetak.
Kamis, tiga puluh Oktober—malam sebelum ulang tahun Vanilla.
Renjou dan Koishi sedang menunggu kabar dari Kimizuka di dalam mobil yang mereka parkir di depan rumah Kimizuka di Higashi-ku. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, dan udara malam mulai menyusup ke dalam mobil. Dalam beberapa hari terakhir, hawa musim gugur yang menusuk mulai terasa kuat.
Rumah Kimizuka berada di area Higashi-ku yang kurang populer karena akses transportasi dan tingkat keamanannya yang rendah.
"Kimizuka-san ternyata hidup cukup sederhana ya, atau mungkin dia memang menekan biaya sewa rumah."
"Mungkin pengeluarannya buat sang kekasih memang butuh banyak biaya, ya bagaimanapun juga."
Koishi mengatakan hal itu sambil asyik mengunyah permen jeli buah. Di tangan kirinya, ia memegang lembaran cetak Wikipedia tentang Vanilla.
"Koishi-san, bagaimana menurutmu tentang hubungan seperti itu?"
Aku bertanya sekadar karena rasa penasaran kepada wanita yang tidak mengenal cinta ini.
"Hubungan seperti apa?"
"Maksudku, pasangan yang nggak biasa... itu... hubungan asmara atau pernikahan dengan idol seperti itu."
Bagi Renjo—yang tumbuh besar belajar tentang cinta lewat majalah Ciao sejak kelas satu SD—asmara Kimizuka adalah wilayah yang tidak terjamah. Sebaliknya, hal ini justru mengingatkannya pada seri bertema idol seperti Kirarin☆Revolution, tapi—
"Kan sudah sering kukatakan. Bagiku, tidak ada yang namanya cinta yang tidak biasa"
Koishi berkata sambil terus mengunyah permen jelinya, menimbulkan suara moca-moca yang hanya bisa dihasilkan jika seseorang memasukkan lima butir permen sekaligus ke dalam mulut.
"Dari mataku, pilihannya cuma ada panah atau nggak. Cuma nol atau satu. Karena itu, semua cinta yang memiliki panah adalah cinta yang biasa. Panah yang menjulur dari Kimizuka ke Vanilla pun sama aja dengan jutaan panah lain yang pernah kulihat."
Ucapan Koishi terdengar datar dan tenang, namun entah kenapa aku memutuskan untuk tidak mengejarnya lebih jauh.
Tepat saat itu, bunyi notifikasi bergema.
Aku segera memeriksa ponsel; sebuah pesan dari Kimizuka masuk: 「Aku keluar sekarang! Titip ya!」
"Ayo berangkat."
Pembuntutan hari ini dilakukan dengan berjalan kaki. Lokasi tujuan yang sudah diberitahukan sebelumnya berjarak sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari sini.
Kimizuka dan istrinya berjalan santai sambil menikmati angin malam musim gugur. Kimizuka sepertinya sengaja berganti pakaian; alih-alih baju rumah seperti sweatpants atau jersey, ia mengenakan setelan jaket dan celana formal, seolah-olah sangat bersemangat untuk pergi ke pusat kota malam itu. Di sisi lain, Vanilla menutupi wajahnya dengan topi, mungkin karena khawatir dengan pandangan sekitar. Meski begitu, karena hari sudah melewati pukul sebelas malam, suasana jalanan cukup sepi. Pasangan yang unik ini masuk ke dalam dunia mereka sendiri tanpa menarik perhatian orang lain.
Ternyata membuntuti jadi jauh lebih mudah kalau kita sudah tahu tujuannya— Aku merasakan kekaguman yang aneh sambil terus mengikuti Kimizuka. Namun, karena tingkat kesulitan pembuntutan menurun, aku mencurahkan seluruh energiku untuk mengawasi keadaan sekeliling. Mengingat hipotesis Koishi tentang hari ulang tahun, aku merasa sesuatu akan terjadi malam ini. Ulang tahun Vanilla tinggal kurang dari satu jam lagi.
Namun, bertolak belakang dengan firasatku, Kimizuka dan istrinya tampak sangat menikmati jalan-jalan malam mereka. Mereka menyeberangi jalan protokol, melewati kawasan hotel cinta (love hotel), lalu menyusuri gang sempit yang sunyi—hingga tanpa sadar mereka sampai di pertigaan jalan. Di hadapan kami terbentang tanggul sungai dengan fondasi balok bronjong yang disusun beberapa tingkat, diikuti lereng yang ditumbuhi rerumputan liar yang tinggi. Jika naik ke sana, pemandangan bantaran Sungai Hoshino akan terlihat sepenuhnya. Aku segera menyembunyikan diri di balik bayangan apartemen tua yang berdiri di sudut jalan.
Kimizuka dengan sigap mendaki tanggul itu. Bukannya lewat tangga, ia memilih jalur seperti jalan tikus di mana rumput-rumputnya sudah layu terinjak, lalu berhenti tepat satu langkah sebelum mencapai puncak. Di sana, terdapat sebuah mineral halus—berukuran di antara batu dan bongkahan karang—yang tertanam di lereng, tampak pas untuk diduduki satu orang.
Kimizuka mendudukkan Vanilla di atas batu itu dan berkata:
"Dulu setelah konser pertama, kamu menangis di sini, kan?"
Vanilla memang berasal dari kota ini. Sebagai idol lokal, konser pertamanya diadakan di acara gerai elektronik setempat. Karena terlalu gugup dan malu, ia melakukan banyak kesalahan dalam nyanyian maupun koreografinya, sehingga ia mengadakan "sidang evaluasi" sambil menangis sendirian di tanggul Sungai Hoshino ini—catatan itu ada di bagian awal artikel Wikipedia-nya, jadi aku masih mengingatnya dengan jelas.
"Ayo foto."
Sambil membiarkan Vanilla duduk di atas batu, Kimizuka turun kembali dari tanggul—setelah sebelumnya ia menoleh ke sekeliling beberapa kali untuk memastikan tidak ada orang. Aku pun ikut mengedarkan pandangan, khawatir jika ada seseorang yang mendekat, namun bantaran sungai menjelang tengah malam itu benar-benar sepi.
Kimizuka menurunkan ransel raksasa dari punggungnya, lalu mengeluarkan tripod dan mulai menyetelnya. Sebentar lagi tanggal akan berganti.
Ia ingin mengambil foto di tempat kenangan Vanilla tepat saat momen ulang tahunnya tiba.
'Renjou-kun, tingkatkan kewaspadaan.'
Suara pelan Koishi masuk lewat interkom. Demi keamanan, hari ini kami menggunakan sandi yang benar. Koishi berpura-pura menjadi "pejalan kaki yang berhenti karena ada telepon masuk" sambil berdiri di posisi yang bisa mengawasi Kimizuka dan Vanilla.
Tanpa diberitahu pun aku sudah tahu—sejak awal pembuntutan, tidak ada saat di mana Vanilla berada dalam kondisi tanpa pertahanan seperti sekarang.
Aku segera memeriksa pandangan dengan teliti namun hati-hati. Tidak ada bayangan orang di jalan sepanjang sungai yang membentang dari timur ke barat. Di atas tanggul pun tidak ada pejalan kaki. Pertigaan ini diapit oleh tempat parkir dan tanah kosong; satu-satunya bangunan yang bisa digunakan untuk bersembunyi hanyalah apartemen tua tempatku mendekam sekarang. Selama aku memperhatikan orang yang baru muncul, harusnya tidak ada masalah—begitulah pikirku.
Namun.
Tepat saat Kimizuka hampir selesai menyetel tripodnya.
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik semak belukar di tanggul, lalu dengan kasar menyambar tubuh Vanilla dan menariknya. Butuh satu detak jantung bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah lengan manusia, dan butuh satu detak lagi untuk menyadari bahwa lengan itu milik seseorang yang sejak tadi bersembunyi di dalam semak-semak tanggul.
Seluruh tubuhnya dibalut pakaian hitam yang seolah dirancang untuk menyatu dengan kegelapan malam, dan wajahnya ditutupi oleh masker penutup kepala (balaclava). Sosok yang muncul dari kegelapan dan rerumputan itu segera memanggul Vanilla, lalu tanpa ragu berlari kencang mendaki tanggul.
"Penculikan—!"
"Aku yang kejar! Koishi-san, hubungi bantuan!"
Teriakan murka Koishi yang seakan menggema sampai ke seberang sungai, seruan Renjou kepadanya, serta gerakan Renjou yang memacu otot-otot kakinya untuk menjejak bumi, semuanya terjadi di saat yang bersamaan.
Sosok itu—si penculik Vanilla—telah berhasil mendaki tanggul sepenuhnya dan langsung menghilang dari pandangan.
Sambil berlari melewati Taiga Kimizuka yang masih terpaku kaku karena syok, Renjou melesat menaiki tanggul dan segera memantau keadaan sekeliling. Di sebelah kiri, ia menangkap bayangan si penculik yang sedang menuruni lereng tanggul berumput rimbun dengan langkah yang tampak lamban dan kikuk. Renjou pun segera mengejarnya.
Dengan kecepatan seperti itu, aku pasti bisa menyusulnya. Sambil menyibak rerumputan dan memanfaatkan gaya gravitasi untuk menambah kecepatan larinya, tiba-tiba—sesuatu menjerat kaki Renjou. Ada sensasi tipis yang mengait di pergelangan kakinya sementara tubuh bagian atasnya terus melaju ke depan. Sebelum ia menyadarinya, Renjou sudah terjatuh dengan telak. Meski ia sempat menumpu dengan tangan agar wajahnya tidak menghantam tanah, tubuhnya terus berguling di lereng tanggul hingga terhempas ke area beton bantaran sungai. Kepalanya membentur bangku taman yang teronggok di sana, dan seketika pandangannya menjadi gelap gulita.
Di sudut kesadarannya yang kian menipis, entah kenapa Renjou justru teringat kembali percakapannya dengan Kimizuka di kantor tempo hari.
"Orang sepertiku bisa menikah dengan Vanilla, lucu banget, kan?"
Sesaat setelah penandatanganan kontrak dan permintaan resmi terjalin, Taiga mengucapkan hal itu dengan senyum yang sarat akan ejekan terhadap diri sendiri.
"Tidak, aku tidak berpikir itu lucu..."
"Nggak apa-apa, katakan saja sejujurnya. Aku pun kalau bicara dengan diriku sendiri versi tiga tahun lalu soal situasiku sekarang, pasti bakal kutertawakan habis-habisan. Sampai aku berhenti dari perusahaan sebelumnya, hidupku itu benar-benar sempurna, lho."
Renjou maupun Koishi hanya terdiam, membiarkan pria itu melanjutkan ceritanya. Karena Kataya langsung pulang setelah menjelaskan rincian tugas, hanya mereka bertiga yang ada di ruang wawancara.
"Gimana ya... aku selalu berpikir kalau aku ini hebat banget. Jadi ketua di festival olahraga SMA, masuk turnamen nasional rugbi, masuk Universitas Keio lewat jalur rekomendasi sekolah, terus kerja di perusahaan dagang (shousha)."
Kimizuka merentangkan kelima jarinya.
"Aku benar-benar merasa sudah jadi pemenang sejati. Aku bahkan sempat berpikir, kenapa orang-orang nggak hidup kayak aku saja sih? Seserius itu aku memikirkannya."
"Benar-benar tipe cowok populer yang aktif dan bersemangat, ya."
Renjou bergumam dengan senyum kecut. Kimizuka tidak merasa tersinggung dan justru mengangguk setuju.
"Benar. Makanya aku sempat membayangkan kalau aku bakal terus naik jabatan di perusahaan, menikah dengan gadis cantik yang kerja di bagian administrasi, terbang ke luar negeri, punya anak yang pintar bahasa asing karena besar di luar negeri—pokoknya aku pikir aku bakal terus menaiki tangga kesuksesan itu."
Lalu, seolah menyadari tatapan Renjou, Kimizika menambahkan:
"Oh, tentu saja aku punya pacar sejak SD sampai kuliah. Aku nggak ingat berapa jumlahnya... tapi ya, aku nggak asal pacaran dengan sembarang orang, kok. Masih bisa dihitung pakai jari dua tangan ditambah dikitlah. Makanya, aku nggak pernah menyangka kalau hidupku bakal berakhir menikah dengan Vanilla. Idol seperti dia kan biasanya jadi milik para otaku."
"Apa ada suatu titik balik?"
Renjou berucap pelan, berusaha menjaga alur cerita tanpa menginterupsinya.
"Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berada di posisi bawah. Setelah mulai bekerja."
Cara bicaranya terdengar lugas, seolah ia tidak lagi memiliki rasa takut untuk mengungkap masa lalunya.
"Sampai urusan cari kerja, aku jago dalam segala hal. Berusaha keras di klub ragbi supaya dapat rekomendasi sekolah, minta info dari senior soal mata kuliah yang gampang dapat nilai, atau ngobrol sama recruiter supaya mereka menyukaiku... aku bisa melakukan semua itu. Makanya, dari umur belasan sampai dua puluh dua tahun, aku benar-benar menjalani hidup tanpa beban. Aku menaiki tangga kesuksesan satu per satu sambil sangat menikmatinya, tapi ternyata tangga terakhir yang bertuliskan 'Cari Kerja' itu adalah tepi jurangku."
"Plotnya langsung berbelok tajam, ya," sela Koishi seolah ingin mencairkan suasana.
"Ujung-ujungnya, skill buat bertahan di sekolah dan skill buat kerja itu hal yang beda banget. Tentu saja ada orang yang selalu jadi atasan di masa sekolah, lalu pas masuk perusahaan kerjanya juga hebat—mungkin orang tipe begitu justru lebih banyak... tapi aku beda. Simpelnya, aku nggak bisa kerja. Kemampuanku kurang banget secara fundamental, sampai nggak bisa ditutupi pakai rasa sopan atau tenaga sekalipun. Akhirnya, pemicunya adalah acara minum-minum divisi sebulan setelah aku ditempatkan di sana.
Waktu itu, aku sudah dicap sebagai orang yang nggak bisa kerja di divisiku, bahkan orang dari divisi sebelah juga meremehkanku. Aku berpikir setidaknya harus meninggalkan kesan bagus di acara minum-minum itu. Tapi, di perusahaanku, cuma sekadar makan atau minum banyak itu belum dianggap apa-apa, itu hal yang terlalu biasa. Makanya, aku harus melakukan sesuatu yang berdampak besar. Detailnya akan aku lewati, tapi saat disuruh melakukan lelucon satu babak (ippatsu-gei), aku melakukannya dan gagal total. Yah, lelucon garing begitu kan hal yang lumrah, kan? Masalahnya, suasana saat itu bukan tipe yang bisa berakhir dengan kalimat 'biarpun garing tapi percobaannya bagus'. Saat aku cuma bisa diam mematung, seorang senior yang nggak tahan melihatku mendekat... dan tahu-tahu, rambutku dibakar."
Wajah Renjou dan Koishi seketika menjadi serius. Nada suara Taiga Kimizuka tidak berubah sedikit pun. Ia bahkan menambahkan penjelasan dengan tenang, "Hal begitu sering terjadi, lho. Walaupun biasanya lebih sering bulu kemaluan daripada rambut." Ia lalu melanjutkan.
"Kebetulan itu restoran yang jagoan menunya adalah hidangan laut segar, dan di dekat area duduk kami ada ikesu (kolam ikan hidup). Aku langsung lari dan terjun ke sana. Aku nggak sempat melihat sekitar jadi nggak tahu pastinya, tapi sepertinya semua orang tertawa. Foto selfie aku sama ikan sebelah (hirame) mungkin sampai sekarang masih ada di HP orang-orang kantor itu."
"Itu... pasti berat sekali, ya."
Renjou merasa komentarnya sendiri terdengar bodoh, tapi hanya itu yang bisa ia katakan.
"Aku nggak ingat gimana caranya bisa sampai rumah setelah itu. Tapi saat aku mandi dan melihat abu sisa pembakaran jatuh ke lantai kamar mandi bersama air hangat, lalu melihat ke cermin... aku melihat diriku dengan rambut berantakan sedang setengah menangis. Di situ, aku mendadak nggak bisa bergerak. Sejak hari berikutnya, aku nggak bisa lagi pergi ke kantor."
Renjou mencoba mencari cara untuk menarik kembali kata-katanya beberapa menit lalu soal "cowok populer yang aktif dan bersemangat", tapi tentu saja tidak ada cara untuk melakukannya.
"Lalu, aku sempat mengurung diri di rumah selama sekitar setengah tahun. Tapi suatu malam, aku tidak sengaja menyalakan televisi, dan dia langsung mencuri perhatianku—dia."
Ekspresi Kimizuka berubah, sorot matanya kini memancarkan rasa sayang yang mendalam.
"Vanilla itu nama panggung, lho. Dikasih sama produser yang metodenya sangat keras. Tahu artinya?"
"Karena baunya harum?"
Renjo sebenarnya sudah tahu jawabannya dari Wikipedia yang ia baca saat di kantor tadi, tapi Renjo sengaja berpura-pura tidak tahu. Ini caranya berkomunikasi dengan klien.
"Dalam permainan kartu, kartu yang tidak memiliki kemampuan khusus itu disebut 'Vanilla'. Seperti es krim vanila yang tidak pakai topping apa pun. Dia diberi nama itu karena kemampuan menyanyi dan dansanya biasa saja, dan dia tidak punya keahlian khusus. Sekilas, nama itu terdengar seperti ejekan, ya."
"Wah, jahat banget."
Koishi mengernyitkan wajah, tampak terkejut secara alami. Kimzuka tersenyum dan melanjutkan.
"Tapi, sebenarnya bukan begitu. Dengan memberi nama itu, sang produser sedang menciptakan 'pijakan' untuknya. Memberinya karakter 'bukan siapa-siapa' supaya dia bisa membangun cerita perjuangan dari nol. Tentu saja, berhasil atau tidaknya itu tergantung Vanilla sendiri—dan dia berhasil melakukannya. Vanilla yang tidak punya apa-apa ini terus berusaha, berusaha, dan berusaha. Dia menggali pesona dari dalam dirinya yang tadinya dianggap 'tanpa kemampuan', sampai akhirnya bisa mendaki ke posisi center. Dan aku adalah orang yang terpesona sekaligus termotivasi oleh cerita kesuksesannya itu."
Mata Kimizuka berbinar-binar, sangat kontras dengan saat dia menceritakan kepalanya yang dibakar tadi.
"Bagiku, Vanilla adalah penyelamat yang membangun kembali hidupku. Aku... benar-benar ingin melindunginya."
Senyum cerahnya kini terlihat sangat berbeda dari kesan pertamaku terhadapnya.
Kekuatan perasaan Kimzuka terhadap Vanilla—Renjo mungkin tidak bisa memahami perasaan itu seratus persen. Tapi...
Detektif macam apa aku ini kalau tidak bisa mengejar pelaku di depan mata?
"Tunggu!"
"Renjou-san!"
Renjou yang mendadak bangkit berdiri dengan sentakan kuat langsung melihat wajah Kimizuka yang setengah menangis di tengah kegelapan bantaran sungai malam itu.
"Lukamu... lagipula Koishi-san juga..."
Kimizuka mengalihkan pandangannya ke samping. Di sana, Koishi tergeletak di atas lantai beton.
Kesadaran Renjou yang tadinya samar seketika menjadi jernih kembali.
"Koishi-san?"
Renjou berlari sekuat tenaga dan merengkuh tubuh Koishi yang tumbang menyamping.
"Renjou-san, jangan banyak bergerak. Darahnya..."
Mendengar peringatan Kimizuka, Renjou segera mengeluarkan iPhone-nya dan menggunakan kamera depan sebagai cermin untuk memeriksa wajahnya sendiri.
Sebuah saputangan menempel asal-asalan di sisi kanan dahi, sementara separuh wajah kanan kotor oleh darah dan lumpur. Sensasi saat berguling menuruni tanggul dan akhirnya membentur sesuatu yang keras kembali terngiang di ingatan.
"Renjou-kun jatuh di bawah tanggul, aku dan Koishi-san langsung panik lari ke sini, terus coba hentikan pendarahannya. Tapi tiba-tiba—"
"Koishi-san pingsan?"
Sejauh yang bisa dilihat, tidak ada luka luar pada tubuh Koishi-san. Sambil menyeka darah di pipi, Renjo mulai memahami situasinya.
Kimizuka terus berbicara dengan nada yang tidak keruan, berusaha menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
"Pas lagi mengobati Renjou-kun, dia mendadak ambruk. Untung sempat kutahan, jadi kepalanya nggak sampai terbentur. Tapi dipanggil-panggil pun nggak bangun juga. Oh, ngomong-ngomong saputangan itu punya Koishi-san, ya. Bukan punyaku, jadi tenang saja..."
"Lupakan soal itu, di mana pelakunya?"
"Aku kehilangan jejaknya. Pas aku dan Koishi-san turun ke bawah, dia sudah setengah jalan menyeberangi stepping stones di sana. Dia kabur ke seberang sungai."
Bayangan sosok pelaku yang berlari menuruni tanggul dan menjauh terekam jelas di benakku. Mengingat dia sedang memanggul Vanilla, gerakannya tadi terasa tidak terlalu gesit.
"Renjou-kun, mau ke rumah sakit? Koishi-san juga..."
Reno bangkit berdiri dan mencoba menggerakkan tubuh sedikit. Tidak ada yang aneh. Tidak ada rasa mual, dan tidak ada darah yang keluar dari hidung atau telinga.
"Aku rasa ini cuma luka robek kecil, nggak perlu ke rumah sakit sekarang."
"Terus, Koishi-san...?"
"Nggak apa-apa," tegas Renjo. "Kejadian begini sudah beberapa kali terjadi. Sebentar lagi dia pasti sadar. Begitu dia bangun, kita bicarakan rencana selanjutnya."
"Sudah beberapa kali terjadi...?"
Tatapan Kimizuka tampak penuh kecemasan. Sambil menatap wajah mulus Koishi-san, Renjo menjawab.
"Perwakilan kantor kami... dia tidak sanggup melihat darah orang lain."
Seorang calon detektif hebat yang fobia darah—ironisnya, dia sendiri tidak menyadari hal itu.
Bagian 3
Koishi baru tersadar setelah Renjo terus memanggilnya selama beberapa menit. Begitu Renjo menjelaskan situasinya secara singkat, Koishi bergumam dengan nada kesal.
"Dia berhasil kabur, ya. Renjou-kun juga tahu-tahu terluka. Kita benar-benar kecolongan."
"Ada jebakan yang dipasang di jalur pelariannya."
Di tanggul tempat Renjo berlari mengejar si penculik, ternyata ada beberapa pasak yang dipatok di tanah, dan setiap pasak dihubungkan dengan sesuatu yang mirip benang pancing. Renjo terjungkal karena jebakan klasik yang tersembunyi oleh kegelapan malam dan rerumputan liar yang rimbun itu.
Tindakan si penculik benar-benar terencana. Dia sudah menduga kalau Kimizuka dan Vanilla Kato akan datang ke tempat itu tepat pukul dua belas malam saat hari ulang tahun tiba. Dia juga sudah membaca momen saat Taiga Kimizuka akan menjauh sejenak untuk mengambil foto, lalu bersembunyi di semak-semak itu. Dengan memasang jebakan di jalur pelarian yang sudah ditentukan untuk menghalangi pengejar, dia berhasil melarikan diri sampai ke seberang sungai.
"Renjou-kun, telepon Hinami. Suruh dia bawa mobil, kotak P3K, dan set peralatan keamanan. Kalau nggak salah, hari ini dia bilang sedang minum-minum di Nishijin. Dia bisa mampir ke kantor dulu."
"Mana bisa dia bawa mobil kalau sedang minum-minum kan?"
"Dia bilang minggu ini sedang minggu pantang alkohol, kok."
"Bukan itu masalahnya," Renjo menekan dahinya yang terasa sakit dan bicara dengan tegas. "Kenapa kita butuh mobil? Kita harus segera lapor polisi."
"Hah?" Koishi menatap Renjo lekat-lekat dengan ekspresi yang seolah membuatnya merasa kalau Renjo-lah yang baru saja mengatakan hal yang salah.
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Maksudku, tentu saja kita harus melapor, kan?"
Renjo mengabaikan wajah Kimizuka yang menegang dan terus bicara.
"Karena ini... ini kasus penculikan," Renjo melirik wajah Kimizuka sambil memilih kata-kata. "Ada kemungkinan penculik itu akan menghubungi Kimizuka dan meminta sesuatu. Entah itu uang tebusan atau apa, kita tidak tahu. Kita harus melapor ke polisi. Terlebih lagi jika memikirkan keselamatan Vanilla Kato."
"Kenapa, Renjou-kun? Tadi kamu mengejarnya sampai mempertaruhkan nyawa, tapi sekarang kok tiba-tiba begini?"
"Intinya, setidaknya ini sudah menjadi kasus kriminal. Ini sudah di luar wewenang detektif. Tadi aku mengejarnya secara refleks, tapi kalau dipikir lagi dengan tenang, mulai dari sini adalah tugas polisi. Untuk membawa kembali Vanilla Kato, kita harus—"
"Tolong jangan libatkan polisi."
Kimizuka yang sedari tadi diam tiba-tiba menyela dengan nada mendesak.
"Polisi tidak akan menangani masalah ini dengan serius... mereka tidak mungkin mau berusaha sungguh-sungguh demi aku dan Vanilla."
"Ini bukan cuma soal surat ancaman, tapi kejahatan nyata sudah terjadi. Mana mungkin polisi tidak akan menyelidikinya dengan benar?"
Renjo berniat menasihatinya dengan argumen yang sangat logis, namun Kimizuka menggelengkan kepalanya dengan wajah yang pucat pasi.
"Kan sudah kubilang, aku pernah kena pemeriksaan rutin dulu. Waktu itu, Vanilla juga ada bersamaku. Bagaimana perlakuan mereka saat itu... silakan bayangkan sendiri. Sampai sekarang aku masih berusaha keras melupakan tatapan mata mereka saat itu, tapi kenangan itu masih tersisa dengan jelas dan tidak bisa hilang."
Suaranya terdengar lemah, seolah hanya digerakkan oleh udara di dalam mulutnya. Bahkan di tengah keputusasaan karena kehilangan Vanilla, keinginan kuat untuk tidak melibatkan polisi tampaknya masih membara di dalam diri Kimizuka.
"Aku berniat untuk mengejarnya, karena ini sudah jadi pekerjaanku. Kalau klien tidak ingin melapor ke polisi, tentu aku akan mengikuti keinginannya. Apalagi lokasinya sudah ketahui, kan?"
Atas persetujuan Kimizuka sebelumnya, kami memang sudah memasang pelacak GPS di sepatu Vanilla Kato. Baru saja aku memastikan bahwa titik lokasinya sudah berhenti di suatu tempat.
"Bukankah lokasi ini yang harus kita beritahukan kepada polisi?"
Renjo berkata dengan nada kesal. Renjo tahu kalau Koishi mulai merasa terganggu, tapi ia tidak bisa membiarkan masalah ini berlanjut lebih jauh.
Kita tidak bisa membiarkan kasus ini diteruskan, karena ada risiko Koishi akan melihat darah lagi.
"Oke, kalau begitu begini saja. Kita pergi ke lokasi GPS ini sekarang dan cari tahu alamat si penculik. Begitu sampai di sana, baru kita bicarakan rencana selanjutnya. Aku sudah bilang ke Kataya supaya jangan tidur malam ini, jadi kalau kita benar-benar butuh bantuan, kita bisa pakai dia. Bagaimana? Dengan prosedur ini, tidak akan ada celah bagi Renjou-kun untuk terluka lagi, kan?"
"Ini bukan soal aku terluka atau tidak. Pelakunya itu orang gila yang sanggup tiarap di semak-semak buat menunggu mangsa, lho. Serius, kita bisa saja ditusuk!"
Renjou kemudian mengalihkan sasarannya kepada Kimizuka.
"Lagipula, Kimizuka-san. Kenapa Anda begitu anti pada polisi? Anda bilang 'polisi' secara umum, tapi tiap wilayah punya atmosfer yang beda. Aku tidak tahu Anda kena pemeriksaan rutin di daerah mana, tapi pasti bukan di sini, kan? Polisi yang memeriksa Anda saat itu mungkin kebetulan saja orang yang tidak punya empati. Kami akan jelaskan situasinya dengan benar, dan mereka pasti akan menyelidikinya sungguh-sungguh. Kataya-san juga pasti akan membantu. Di saat seperti ini, mengandalkan polisi adalah—"
"Aku yang bayar, kan?!"
Kimizuka berteriak kencang. Koishi dan Renjou sontak terdiam dan menatapnya.
"Tolong turuti kata-kataku! Bukankah itu tugas kalian sebagai detektif? Tidak ada polisi. Aku minta maaf karena sudah membuat Anda terluka, tapi soal ini aku tidak akan menyerah!"
Meledak—Koishi hanya menatap wajah Kimizuka tanpa menggerakkan otot wajah sedikit pun, meski telinganya terasa sakit karena teriakan dari pria yang berdiri tepat di sampingnya itu.
"Tolong turuti aku. Aku akan bayar. Cukup cari tahu di mana keberadaan Vanilla!"
Kimizuka menegaskan kata-katanya dengan nada kasar dan penuh tekad.
"Kita tidak akan ke polisi. Titik."
Tiga puluh menit kemudian, Hinami sampai dengan mobilnya di sebuah minimarket di pinggir Sungai Hoshino.
"Hinami-san, terima kasih banyak. Ini sangat membantu. Aku sudah panggilkan taksi, kamu pulang pakai itu saja ya."
Hinami memasang wajah yang sangat tidak puas.
"Sumpah ya, untung banget aku lagi minggu pantang alkohol jadi aku bisa datang ke sini. Padahal aku sudah rencana mau karaokean sampai pagi buat ngerayain ini..."
"Hinami-chan, maaf ya. Waktu yang kamu pakai ini bakal dihitung jam kerja, kok."
Koishi berkata sambil menangkupkan kedua tangan dan menunduk, meski rasa bersalahnya tidak terlalu terpancar.
"Ya iyalah, harus itu." balas Hinami sinis.
Ia tampak sangat sebal karena panggilannya yang mendadak, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah serius dan ia berbisik:
"Tapi serius, kalian nggak bakal lapor polisi? Ini gawat banget, lho. Penculikan, lho!"
Hinami melontarkan pertanyaan yang sangat masuk akal. Renjou hanya menjawab, "Ada alasan dari pihak klien." Hinami tidak bertanya lebih dalam lagi, lalu segera masuk ke taksi yang sudah menunggu dan pulang.
Renjou merasakan tubuhnya menegang saat masuk ke kursi penumpang depan, lalu menatap Kimizuka yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion. Koishi yang duduk di kursi pengemudi mulai menjalankan mobil, melaju mengikuti rute sesuai instruksi Renjou. Koishi sama sekali tidak terlihat waspada terhadap pria di belakang mereka.
—Mungkinkah... dia punya catatan kriminal?
Melihat sikap Kimizuka, keraguan itulah yang pertama kali muncul di benak Renjou.
Reaksi penolakan Kimizuka terhadap polisi jelas sangat tidak wajar. Alasan sekadar "benci polisi" tidak cukup untuk menjelaskannya. Renjou tidak bisa memikirkan alasan masuk akal kenapa pria itu enggan mengandalkan lembaga investigasi sekelas polisi, padahal Vanilla Kato yang begitu disayanginya baru saja direnggut darinya.
"Kita sudah sampai."
Mobil berhenti, seolah memotong paksa jalan pikiran Renjou. Saat melihat jam, waktu menunjukkan pukul dua dini hari—tanpa sadar, hampir tiga puluh menit berlalu sejak mereka mulai berkendara.
"Pasti di sini tempatnya."
Koishi menunjuk dengan dagunya ke arah sebuah apartemen dua lantai yang terletak di pinggir gang sempit tanpa marka jalan. Dinding apartemen itu terlihat begitu tipis, sampai-sampai suara mesin mobil ini mungkin bisa terdengar dari dalam.
Renjou menoleh ke arah Kimizuka. Awalnya, Renjou berasumsi pria itu akan menunjukkan ekspresi terkejut, atau mungkin memendam niat permusuhan terhadap sosok yang merenggut istri tercintanya. Namun, Renjou menyipitkan mata saat melihat Taiga Kimizuka justru menunduk sambil menghela napas.
—Gerak-gerik macam apa itu tadi?
"Jadi, apa rencanamu?"
Koishi bertanya singkat, dengan nada yang terasa menusuk.
"Tolong... jangan lapor polisi. Kumohon."
Koishi menghela napas lalu membalas,
"Kalian sudah menikah, kan? Kalau kamu nggak mau mengandalkan polisi, kamu sendiri yang harus bertindak."
"Memang benar begitu, tapi—"
"Sebenarnya, aku bisa saja memecahkan jendela apartemen itu sekarang, menerobos masuk, dan merebut Vanilla kembali dengan paksa."
"Itu ide buruk."
Renjou mengoreksi ucapan atasannya tanpa jeda sedetik pun. Dua kekhawatiran bercampur aduk di kepalanya: Itu tindakan kriminal, dan itu terlalu berbahaya!
"Duh, membosankan banget... Tapi yah, seandainya pun kita berhasil menerobos masuk, kalau misalnya ada gergaji yang menempel di lengan Vanilla dan dia dijadikan sandera, kita nggak akan bisa berbuat apa-apa. Coba katakan dengan jelas, kamu sebenarnya ingin merebut Vanilla kembali, atau tidak?"
Menatap lurus ke arah Kimizuka, Koishi menuntut jawaban.
"Aku—"
Taiga Kimizuka ragu-ragu. Lho, bukannya di situasi begini jawabannya cuma ada satu? pikir Renjou keheranan. Tepat ketika pikiran tentang "teori catatan kriminal" kembali berputar di kepalanya, Koishi malah tersenyum.
"Utarakan saja perasaanmu dengan jujur. Di mobil ini sekarang cuma ada kamu dan dua orang detektif."
Kimizuka yang masih terbata-bata kini mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan, seolah telah membulatkan tekad.
"Aku ingin... merebut Vanilla kembali."
Ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk.
"Karena Vanilla adalah... istriku."
"Oke." Koishi membalas dengan nada loyo, seolah dengan mudah menepis ucapan Kimizuka yang terdengar seperti deklarasi hidup dan mati itu.
"Kalau begitu, mari kita mulai."
Sebelum Renjou sempat bertanya apa maksudnya, Koishi menghela napas.
"Yang namanya tugas detektif itu, ujung-ujungnya cuma membuntuti dan mengintai, kan."
"Mengintai... mulai sekarang, di sini?"
"Kalau tebakanku benar, mereka berdua bakal bergerak sebelum fajar."
Dengan wajah masam, Koishi mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol panggilan. Nada sambung hanya terdengar samar sekali, lalu segera terhubung.
Sebelum lawan bicaranya bersuara, Koishi sudah mendahului.
"Alamatnya sudah kukirim. Kalau sudah bangun, cepat bawa lencana polisimu ke sini. Ah, ini bukan berarti aku ngutang budi, ya. Toh ini demi junior kesayanganmu itu."
Kriet, dengan suara berderit kecil mirip jeritan, pintu kamar di sudut lantai dua terbuka. Muncul seorang pria berbalut tuksedo, pakaian yang sangat tidak cocok dengan pemandangan apartemen tua ini. Usianya sekitar lima puluhan, dengan ciri khas janggut yang tercukur rapi dan kepala botak licin. Di punggungnya terdapat ransel raksasa yang seolah siap dipakai mendaki Gunung Everest. Ia menengadah ke arah matahari yang akan segera terbit, lalu tersenyum tipis.
Tangannya menggenggam erat tangan Vanilla.
Tuk, tuk, langkah kakinya menggema saat menuruni tangga. Ia berjalan dengan langkah ringan menuju jalan raya.
Di dalam mobil yang terparkir di arah berlawanan dari tujuan pria itu, tiba-tiba Koishi bergumam.
"Benar juga, rasanya aku pernah lihat dia."
Saat Renjou menoleh ke samping, Koishi sedang menyipitkan mata, menatap tajam pria tersebut. Saat itulah, dari belakang pria itu, seorang laki-laki berjas—Kataya—mendekat dengan langkah mantap. Ia bergerak persis seperti instruksi Koishi.
『Permisi sebentar.』
Dipanggil dari belakang, pria itu menghentikan langkahnya. Cengkeramannya pada tangan Vanilla terlihat semakin menguat.
『Tadi malam ada sedikit keributan di pinggir Sungai Hoshino. Apa Bapak kebetulan tahu sesuatu?』
『...Aku tidak tahu apa-apa.』
Pertukaran kata antara Kataya dan pria bernama Monobe itu mustahil bisa terdengar sampai ke telinga Renjou dan yang lainnya dari jarak beberapa meter, meskipun kawasan perumahan itu sangat sunyi menjelang fajar. Namun, berkat ponsel di saku dada Kataya, percakapan mereka terdengar jelas sampai ke dalam mobil.
"Nah," ujar Koishi dengan nada malas.
"Orang itu, kenalanmu, kan?"
Kimizuka dan Renjou menatap Koishi dengan terkejut.
"Karena kamu menghindari polisi dengan cara yang nggak wajar, awalnya aku sempat berpikir jangan-jangan kamu menyembunyikan ganja di rumah. Tapi setelah mengamatimu dari samping, aku akhirnya paham. Kamu sudah tahu siapa pelakunya, dan kamu merasa segan atau berutang budi padanya. Makanya kamu nggak mau kasus ini sampai ke tangan polisi, kan."
Renjou membelalakkan matanya terkejut. Koishi mengembuskan napas panjang. Dengan wajah tegang, Kimizuka bergumam, "Kok Koishi-san bisa tahu?"
"Pertama-tama, melihat dia menyergap dari semak-semak di tanggul itu, dia pasti sudah tahu kalau Vanilla akan datang ke tempat itu pada jam segitu—artinya, dia tahu betapa dalamnya ikatan emosional Vanilla dengan tempat tersebut. Makanya, penculiknya pasti penggemar fanatik, atau orang yang punya hubungan sangat dekat dengan Vanilla. Kalau kemungkinannya yang kedua, kemungkinan besar dia juga kenalanmu. Dengan pemikiran seperti itu, masuk akal kenapa kamu tidak mau kasus ini berakhir di tangan polisi. Kamu juga tahu pasti kalau orang itu tidak akan melukai Vanilla."
"Lalu, aku berpikir, orang macam apa yang mau menculiknya? Orang yang sangat mengenal Vanilla, kenalan Taiga Kimizuka, tidak memberikan kesan bahaya yang mengancam nyawa meskipun Vanilla diculik, orang yang membuatmu enggan melibatkan polisi, dan orang yang punya motif kuat—"
Koishi menunjuk dengan jarinya. Di balik jendela, terlihat punggung pria bertuksedo itu.
"Orang itu—sosok yang melahirkan nama Vanilla, kan?"
Mulut Kimizuka ternganga lebar.
"Tentu saja kamu nggak sampai hati menyerahkan orang seperti itu ke polisi sebagai penculik. Makanya, kamu mati-matian mencari cara untuk menyelesaikannya secara damai dan diam-diam. Benar, kan?"
Kimizuka terdiam sejenak, namun perlahan ekspresi lega dan kagum justru terlukis di wajahnya.
"Hebat banget, ya. Koishi-san sudah seperti detektif sungguhan."
Aku ini memang detektif sungguhan, tahu, gumam Koishi pelan, lalu melanjutkan penjelasannya.
"‘Ulang tahun ketiga belas, di mana dia menangis saat jam istirahat siang karena tidak bisa dapat pasangan di pelajaran olahraga pagi harinya. Sebelum fajar menyingsing, dia menyelinap keluar rumah hanya dengan membawa Walkman bekas ayahnya dan earphone berkabel, lalu duduk di bawah menara air kompleks perumahan Kouda 1-chome sambil mendengarkan playlist favoritnya sendirian. Di sana, menghadap matahari terbit, dia bersumpah 'Aku pasti akan jadi idol'’—katanya ini adalah 'Origin' atau titik awal Vanilla, kan."
Koishi melambai-lambaikan lembaran cetak Wikipedia di tangannya. Di lembar pertama, tertera tulisan "Episode Terkait Hari Ulang Tahun".
"Kejadian menonjol yang berhubungan dengan ulang tahunnya cuma ada dua: di tanggul Sungai Hoshino dan Origin ini. Makanya, aku sangat yakin pagi ini dia akan membawa Vanilla pergi ke kompleks Kouda 1-chome bersamanya."
Itulah alasan di balik pengintaian ini—Koishi sudah memiliki perhitungan akurat bahwa si penculik pasti akan bergerak membawa Vanilla sebelum fajar.
"Sesuai dugaan Koishi-san, orang itu—Monobe-san adalah sosok yang melahirkan nama Vanilla."
Ucap Kimizuka sambil menatap Monobe yang sedang diinterogasi oleh Kataya di luar sana. Renjou merasa sepertinya ia pernah mendengar marga itu di suatu tempat, namun ia memilih untuk tutup mulut.
"Awalnya Monobe-san juga merestui hubunganku. Tentu saja, dengan penampilanku yang seperti ini, pada awalnya beliau sangat waspada dan mengira aku cowok playboy yang main-main. Tapi aku bicara dengan sangat serius, dan memohon padanya. Tersampaikan padanya bahwa perasaanku bukan sekadar iseng atau setengah-setengah—"
Saat itulah, sebuah jeritan tajam yang seakan mampu membangunkan seluruh kawasan perumahan yang tertidur pulas bergema memecah keheningan pagi buta.
"Vanilla adalah harta karunku satu-satunya di dunia ini!"
Pria itu—Monobe, membentak Kataya dengan beringas, seolah siap berlari menembus malam membawa Vanilla dalam pelukannya detik itu juga.
"Awalnya aku memang terbawa suasana dan mengangguk setuju, tapi pada akhirnya jiwaku tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa mempercayakan Vanilla pada anak itu. Makanya—"
"Monobe-san!"
Tanpa sadar, Taiga Kimizuka sudah melompat keluar dari mobil. Ia berlari menghampiri pria itu dan Kataya.
"Vanilla sudah menikah denganku. Monobe-san juga yang menjadi saksinya, kan?"
Kimizuka mengeluarkan selembar kertas yang dilaminating dari ranselnya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan. Itu adalah surat pendaftaran pernikahannya dengan Vanilla.
"Makanya aku bilang aku akan menarik kembali persetujuan itu!"
Monobe memelototi Kimizuka dengan mata merah yang dipenuhi urat.
"Aku dengar, lho. Soal kejadian waktu kamu sedang bersama Vanilla dan kalian kena pemeriksaan polisi persis seperti yang kualami sekarang."
Wajah Kimizuka berkerut. Ekspresinya tampak pahit, seolah jantungnya baru saja tertusuk.
"Katanya kamu cuma bisa gagap kebingungan dan sama sekali tidak bisa melindungi Vanilla, ya. Aku jadi sadar kalau keputusanku selama ini salah. Aku tidak seharusnya menitipkan Vanilla padamu. Vanilla akan hidup bersamaku. Makanya, matahari terbit di hari yang penting ini pun, akan kulewati bersamanya—"
"Biarpun begitu, bukan berarti kamu berhak merebutnya, kan!"
Suaranya yang lantang dan tegas itu sepertinya memberikan kejutan yang cukup kuat, membuat wajah Monobe bergetar sementara matanya melotot tak percaya menatap Kimizuka.
"Aku sebenarnya tahu. Kalau Monobe-san diam-diam mulai berharap untuk bisa terus menahan Vanilla di sisimu selamanya."
Dari tangan Monobe yang masih terpaku kaget, Kimizuka mengambil tangan Vanilla dan menariknya ke sisinya. Dengan lembut, namun dengan cengkeraman yang mantap.
"Tunggu, aku masih—"
"Maaf mengganggu waktunya."
Koishi berlari kecil dari mobil dan langsung berdiri menghalangi Monobe. Terlambat satu ketukan, Renjou ikut menyusul dan mencoba berdiri di depan Koishi untuk melindunginya, namun Koishi malah menggesernya ke samping seolah menganggapnya mengganggu.
"A-ada apa lagi ini? Siapa kamu?"
Mengabaikan pertanyaan Monobe, Koishi menyodorkan selembar foto.
"Ini untukmu."
Koishi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum manis.
Namun, Monobe langsung bungkam. Ia terus menatap punggung Kimizuka dan Vanilla yang berjalan menjauh menuju arah Kouda 1-chome, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Bagian 4
Saat kami kembali ke kantor, waktu sudah menunjukkan lewat pukul sembilan pagi, jadi Renjo memutuskan pergi ke rumah sakit untuk berjaga-jaga. Lukanya tidak terlalu serius. Setelah perbannya diganti dan telapak tanganku disterilkan, ia kembali ke kantor dan mendapati Koishi sedang menulis draf laporan.
Tumpukan kertas yang ditulis dengan huruf acak-acakan seperti coretan asal, yang cukup untuk membuat siapa pun pusing hanya dengan melihatnya. Tulisannya saja sudah susah dibaca, ditambah lagi dengan kesan dan keluhan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan isi penyelidikan. Parahnya lagi, karena dia punya sisi serius yang aneh, dia tidak pernah menulis nama asli klien atau target penyelidikan, melainkan hanya "Tamu" atau "Kelinci". Sekilas melihatnya, tidak akan ada yang tahu ini laporan untuk kasus yang mana. Harus dicocokkan dengan tanggal dan isinya dulu.
"Kan sudah berkali-kali kubilang, tidak bisakah kau menulis dengan sedikit lebih memikirkan perasaan orang yang harus menyalin ulang tulisan ini?"
Koishi menghentikan tangannya dan menoleh ke arahku.
"Selamat datang kembali. Nggak ada yang aneh, kan?"
"Sudah diperiksa secara menyeluruh, dan nggak ada masalah. Tapi, lebih penting dari itu,"
Aku duduk di mejaku, tepat di sebelah meja Koishi. Mataku tertuju pada draf laporan yang sedang ditulisnya setengah jalan.
"Tolong jelaskan beberapa hal padaku."
"Apa pun itu."
"Fakta bahwa Monobe adalah penculiknya, itu bisa kuterima—tapi bagaimana caramu membungkam Monobe saat itu?"
Hanya dengan diperlihatkan sebuah foto, Monobe langsung mundur begitu saja. Pasti ada semacam kekuatan di balik foto yang ditunjukkan Koishi itu.
Koishi menjawab dengan nada bosan,
"Dulu, aku pernah membuntuti Mononobe. Sekitar tiga tahun yang lalu."
Ia menyodorkan sebuah amplop yang diambilnya dari dalam kabinet. Sepertinya amplop itu diambil dari berkas kasus lama.
"Aku sudah cerita beberapa kali, kan. Pria paruh baya yang jadi awal mula pertemuanku dengan Kataya, yang mulai bertengkar dengan selingkuhannya saat aku sedang membuntutinya."
"……Eh, orang itu, adalah dia?"
Itu terjadi sebelum aku bergabung dengan Kantor Detektif Koishi, tapi aku memang sudah beberapa kali mendengarnya.
"Aku ini nggak bakal pernah melupakan orang yang pernah kubuntuti, tahu. Wajah, postur tubuh, dan kebiasaan berjalannya, aku ingat semuanya. Yah, memang saat dia pakai topeng di pinggir sungai itu aku masih setengah ragu, tapi begitu dia keluar dari apartemen dan aku melihat wajahnya, aku jadi yakin."
Saat Renjo membuka amplop itu, di dalamnya memang ada foto Monobe. Foto two-shot dirinya yang sedang berjalan menyusuri jalanan malam bersama seorang wanita berambut cokelat yang terlihat jauh lebih muda darinya.
"Waktu itu istri Mononobe yang menyewaku. Aku mengintai dan membuntutinya, lalu dengan mudah berhasil mengambil foto perselingkuhan mereka. Perceraian pun sukses dilakukan. Tapi karena ada permintaan dari klien, aku juga sedikit menyelidiki apa yang terjadi pada Monobe setelah itu. Momen saat Kataya harus menghentikan pertengkarannya itu adalah cerita dari masa itu."
Koishi mengangkat bahu dan melanjutkan,
"Monobe sepertinya sangat tergila-gila pada selingkuhannya ini, sampai-sampai mereka berencana buka toko bersama."
"Wah, ini pasti pola di mana si wanita bawa kabur modal usahanya."
Tanpa perlu mendengar kelanjutannya sampai akhir pun, Renjo sudah bisa menebak arah ceritanya. Koishi membuat bentuk lingkaran dengan jari tangannya—tanda Bingo.
"Monobe berniat cerai dari istrinya dan menikahi selingkuhannya, tapi ternyata si selingkuhan cuma mengincar uangnya. Karena patah hati dan kehilangan kepercayaan pada wanita, Monobe jadi menganggap Vanilla-chan sebagai satu-satunya wanita yang bisa ia percaya. Dia mencurahkan seluruh hartanya buat Vanilla-chan, mulai dari borong semua jenis merchandise dan semacamnya. Dia mendukungnya dengan caranya sendiri. Ngomong-ngomong, aku pun tahu soal Vanilla ya waktu itu. Habisnya aku kan nggak nonton TV, nggak pakai PC atau HP, jadi nggak bisa langganan layanan streaming juga."
"Yaah... aku bingung mau komentar apa," balas Renjou.
Tiba-tiba ia tersadar. "Tapi, Koishi-san baru yakin kalau itu Mononobe kan pas dia keluar dari apartemen? Kapan kau sempat menyiapkan fotonya?"
"Entah ya. Kapan, ya?"
Koishi berpura-pura tidak tahu dengan wajah jenaka. Renjou memegang dagunya, berpikir sejenak, lalu mendongak.
"Ngomong-ngomong, panah Mononobe...?"
"Oh, otakmu masih encer ya meski habis begadang. Benar, baik dulu maupun sekarang, panahnya tertuju pada Vanilla."
Renjou merasakan lemas di sekujur tubuhnya.
"Jadi, kau sudah memprediksi? Karena ini soal Vanilla-chan, ada kemungkinan Monobe bakal muncul?"
"Tidak sampai yakin banget, sih. Tapi sejak awal, ada dua panah yang tertancap di tubuh Vanilla, jadi aku punya firasat. Makanya kupikir mungkin bakal berguna, jadi aku membongkar berkas lama dan selalu mengantongi foto rahasia yang sangat gawat—yang bahkan nggak kukeluarkan saat mediasi perceraian dulu. Ini namanya pandangan ke depan."
"……Begitu, ya."
Renjou terdiam sejenak. "Aku sudah nggak sanggup memproses ini semua, mau tidur dulu," ucapnya sambil merebahkan diri di sofa.
"Tunggu dulu sebelum tidur. Aku juga ada yang mau kutanya."
Koishi menunjuk tumpukan catatan draf laporan yang berantakan.
"Bagian yang paling penting, adegan penculikan Vanilla... aku benar-benar nggak bisa ingat. Bisa kasih tahu sekali lagi apa yang terjadi di pinggir tanggul sungai waktu itu?"
Renjou bangkit duduk dan melihat bagian yang ditunjuk Koishi. Bagian itu memang kosong. Dengan nada malas seolah minta jangan diganggu dulu, ia menjawab:
"Bagian itu biar aku saja yang tulis tambahannya, jadi nggak apa-apa dikosongkan dulu. Nanti kalau sudah selesai kucetak, tolong dicek ya."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya."
Koishi menuliskan beberapa hal tambahan dengan cepat, lalu menyimpan tumpukan kertas itu ke dalam laci meja yang terkunci sambil bersandar di kursi Aeron-nya.
"Hah... aku ingin kasus yang lebih menantang, bukannya drama keluarga begini."
"Tolong ampuni aku," gumam Renjou sebelum kembali ambruk ke sofa. Begitu berbaring, rasa lelah yang luar biasa—yang seolah baru keluar dari tempat persembunyiannya—langsung menguasai seluruh tubuh Renjou.
Saat terbangun, Koishi sudah tidak ada di ruang kerja.
"Ah, sudah bangun?"
Hinami, yang sepertinya sedang merapikan kuitansi di mejanya sendiri, mendongak dan menyapaku.
"Sudah jam dua siang, ya... Koishi-san ke mana?"
"Palingan sudah pulang. Pas aku sampai tadi, dia sudah nggak ada."
"Harusnya aku juga pulang dan tidur di rumah saja tadi."
"Semangat, ya. Sana cepat pulang."
Saat itu, Renjou menyadari bahwa kesempatan untuk berduaan dengan Hinami di kantor adalah momen yang sangat jarang. Ia pun melontarkan pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan.
"Hinami-san, kamu sedang riset tentang memori, kan?"
"Iya. Tapi sekarang lagi agak buntu, sih."
"Di drama atau manga kan sering ada tuh soal amnesia. Apa hal kayak gitu beneran ada?"
"Sejak aku riset ini, kayaknya sudah seratus kali aku ditanya begitu."
Hinami berucap sambil tertawa. Renjou bergumam minta maaf karena melontarkan pertanyaan yang terlalu klise.
"Amnesia itu memang ada nama medisnya, lho. Orang-orang biasanya suka bercanda bilang, 'Duh, gawat nih, aku kena amnesia,' kan?"
Renjou memutuskan untuk tidak berbelit-belit dan langsung menanyakan inti rasa penasarannya.
"Misalnya begini... apa mungkin seseorang kehilangan memori hanya karena melihat genangan darah yang banyak?"
Hinami menjawab dengan lancar, seolah ia benar-benar senang mendapatkan pertanyaan mengenai bidang keahliannya.
"Yah, mungkin saja. Penyebab amnesia itu bisa diklasifikasikan menjadi psikogenik, traumatis, atau karena pengaruh obat-obatan... tapi yang sering muncul di drama biasanya tipe psikogenik. Itu lho, yang dipicu oleh stres. Sangat mungkin kalau seseorang punya trauma karena insiden berdarah, lalu memori yang berkaitan dengan darah itu terhapus."
Renjou teringat kembali ucapan Koishi.
──Bagian yang paling penting, adegan penculikan Vanilla... aku benar-benar nggak bisa ingat..
"Detektif yang tidak bisa melihat darah, ya..."
Renjou bergumam dengan volume suara yang tidak sampai terdengar oleh Hinami.
💔
Mungkin karena sudah memasuki awal November, hawa dingin mulai menusuk kulit. Lingkungan yang sulit untuk terus-terusan mengintai begini, pikirnya jengah.
Yah, tidak ada salahnya jika berhenti sejenak setelah ini. Aku sudah menusuk dua orang dan mengambil risiko yang sepadan. Jika target ketiga ini tuntas, setidaknya sudah mencapai batas aman. Sisanya bisa dipikirkan nanti.
Hanya saja, target ketiga ini memang merepotkan. Kewaspadaan dan persiapannya berada di level yang berbeda dibandingkan target-target sebelumnya.
Menyebalkan, tapi wajar saja. Mengingat targetnya adalah—seorang idol.
×× kembali menatap rendah sosok wanita yang terbaring di atas tempat tidur. Wanita itu masih terlelap, sama sekali tidak menyadari bahwa tangan dan kakinya telah terikat.
Bahkan tanpa riasan panggung, kecantikannya terpancar jelas. Wajah yang menggoda dan coquettish, memiliki kekuatan untuk mencengkeram hati siapa pun yang melihatnya meski hanya lewat layar.
×× perlahan merobek pakaian tidur pemberian hotel yang dikenakan wanita itu. Menyingkap bagian dadanya yang tidak bisa dibilang berisi.
Orang sering bertanya, apakah aku merasa bergairah saat melihat tubuh wanita telanjang? Rasanya ingin tertawa. Tubuh telanjang siapa pun selain sosok yang kucintai sama sekali tidak ada harganya.
Hanya demi menuntaskan tujuannya, ×× meraih bilah pisau untuk mengukir luka di dada kiri wanita itu.