Detektif Koishi Tidak Jatuh Cinta: Bab 4

Baca Bab 4 Tantei Koishi wa Koishinai: kilas balik ke SMA Hoshino, hubungan para karakter, dan petunjuk awal dari misteri kelam yang kini terulang.

Bab 4

Bagian 1

Email ketiga itu tiba di kotak masuk Aizawa kemarin.

Sama seperti sebelumnya, email itu melampirkan foto close-up wajah, foto keseluruhan luka berbentuk hati retak yang terukir di dada, serta foto seluruh tubuh korban yang terbaring di atas ranjang dalam balutan pakaian tidur hotel. Isi pesannya pun masih sama, hanya berisi satu kalimat—“Kalau lapor, akan aku cungkil dengan bentuk ini.”

Email pertama—seorang siswa SMA laki-laki dengan dada yang ditusuk membentuk pola hati retak.

Email kedua—seorang wanita yang ditusuk dengan pola hati retak di dadanya.

Jika korban-korban sebelumnya adalah orang yang sama sekali tidak dikenalnya, Aizawa mengenali wajah orang di email ketiga ini.

Korban tersebut adalah seorang idol.

Saat Aizawa buru-buru mencarinya di internet, ia menemukan kabar bahwa idol tersebut telah mengumumkan hiatus beberapa hari yang lalu. Thumbnail artikel tersebut memajang foto promosi sang idol. Senyumannya tampak begitu cerah.

Aizawa hampir saja meninju monitornya tanpa sadar. Perasaan tak berdaya karena tidak bisa melakukan apa-apa terasa membakar dirinya.

—Apa aku salah mengambil keputusan?

—Apa seharusnya aku lapor ke polisi?

—Atau setidaknya, menceritakan semuanya dan berkonsultasi dengannya?

Kata-kata yang menyalahkan diri sendiri terus bermunculan di benaknya silih berganti.

Namun, hanya bergelut dengan pikiran sendiri tidak akan mengubah keadaan. Untuk mencegah munculnya korban keempat, ia harus melakukan apa pun yang ia bisa.

Sebagai orang yang familier dengan luka berbentuk hati retak itu.

Sebagai orang yang mengetahui insiden sepuluh tahun lalu itu.

Karena itulah, meskipun pihak seberang sempat enggan, Aizawa tetap bersikeras membuat janji temu untuk menggali informasi.

Sambil terayun di dalam kereta yang melaju menuju Distrik Timur, Aizawa mencoba mengingat kembali insiden sepuluh tahun lalu itu sedetail mungkin.

 

*

 

Sepuluh tahun yang lalu—Jumat, 30 Oktober 2015.

Sepulang sekolah, Aizawa pergi ke SMA tempat kakak perempuannya bersekolah untuk mengantarkan ponsel atas instruksi sang kakak. Ia masuk lewat gerbang belakang di sisi selatan, langsung menaiki tangga di sisi timur gedung selatan tanpa melepas sepatunya, dan melangkah menuju koridor penghubung di lantai tiga. Di sanalah sang kakak biasanya mendirikan kuda-kuda lukis dan melukis dengan cat minyak, padahal ia bukan anggota klub seni.

Aizawa sudah sangat sering berkunjung ke SMA kakaknya, setidaknya lebih sering daripada tempat les privat yang dipaksakan ibunya, sehingga ia bisa sampai di sana tanpa tersesat.

"Kei, makasih ya. Wah, pas banget jam setengah tujuh malam."

Saat Kei Aizawa menyerahkan ponsel itu, sang kakak, Kanade, menerimanya dengan nada yang seolah berkata, "Kerja bagus."

"Jangan sering-sering menyuruh adikmu datang ke sekolahmu, dong."

"Kamu juga nggak mau langsung pulang ke rumah, kan? Aku mau melukis sebentar lagi, habis ini kita pergi ke famires, yuk. Tadi di jam olahraga keenam aku lari lumayan banyak, jadi lapar banget nih."

"Lari ketahanan? Bukannya biasanya disuruh pas musim dingin, ya?"

"Bukan, katanya karena ada sisa waktu jadi dibebaskan, terus satu kelas main kejar-kejaran ala Tousouchuu. Syaratnya, anak cowok nggak boleh mengayunkan lengan pas lari."

Syukurlah kalau kakak menikmati kehidupan SMA-nya, pikir Aizawa. Bagi mereka berdua yang selalu terjebak dalam kondisi "perang dingin" setiap kali pulang ke rumah, apakah waktu di sekolah terasa menyenangkan atau tidak adalah masalah hidup dan mati.

"Ke famires, aku boleh anggap kamu yang traktir, kan?"

"Tergantung pesananmu."

SMA Hoshino, tempat Kanade bersekolah, adalah sekolah unggulan yang sangat mementingkan jumlah siswanya yang masuk ke Universitas Tokyo, Universitas Kyoto, dan Universitas Kyushu lebih dari apa pun. Peraturan sekolahnya pun cukup ketat. Rupanya tadi pagi ada pemeriksaan barang bawaan yang terbilang langka di zaman sekarang. Karena Kanade sangat membutuhkan ponselnya sepulang sekolah, ia membuat siasat dengan menitipkannya pada sang adik, Aizawa, dan menyuruhnya mengantarkannya ke sekolah sore ini.

Meski sudah akhir Oktober, cuacanya masih di tahap di mana frekuensi orang mengeluh "Panas, ya" dalam seminggu baru saja tersusul oleh ucapan "Sudah mulai sejuk, ya". Hawa dingin belum terlalu terasa. Segelintir siswa yang terlihat berlalu lalang pun semuanya mengenakan seragam transisi.

Di sebelah Kanade yang sedang asyik menghadap kanvas, Kei menghabiskan waktu dengan melanjutkan bacaan novel yang dibawanya, Kasus Pembunuhan ○○○○○○○○, tanpa peduli pada penerangan yang mulai meremang.

Semakin banyak ruang kelas yang lampunya sudah dipadamkan, dan sepertinya sebagian besar siswa sudah pulang. Kanade sempat mengeluh padanya bahwa gara-gara gerakan "Manakin" yang baru-baru ini diterapkan sekolah, setiap hari Jumat di akhir bulan, semua kegiatan klub diliburkan dan diganti dengan tugas khusus agar siswa fokus belajar. Karena Kanade melukis sebagai aktivitas pribadi dan bukan kegiatan klub, ia rupanya masih diberi kelonggaran.

Lagipula, ini bukan jam di mana orang-orang biasanya melewati koridor penghubung di lantai tiga, sehingga hampir tidak ada siswa yang lewat di depan mereka. Karena itulah, ketika dua orang siswi menyapa Kanade, Aizawa cukup terkejut menyadari masih ada murid yang tersisa di sekolah.

"Lho, ada Kanade-chan." "Kerja bagus..."

Siswi yang pertama berambut pendek, dengan sorot mata dan suara lantang yang memancarkan ketegasan. Sebaliknya, siswi yang satu lagi memiliki rambut panjang yang tebal dengan poni menutupi separuh matanya, serta suara lirih yang jelas-jelas terdengar tidak bersemangat.

"Eh, ada Harukaze-chan dan Teruya-chan. Kalian berdua baru mau pulang?"

Kanade meletakkan paletnya dan membalas sapaan mereka.

"Si Teruya ini dipanggil sama Ichigo. Entah kenapa disuruh ke ruang persiapan perpustakaan, jam tujuh malam pula, telat banget kan. Mau putus kali, ya."

Siswi bersuara dan bermata besar itu berbicara tanpa tedeng aling-aling. Siswi yang dipanggil Teruya itu menggeleng kecil, lalu membalas singkat, "Kayaknya sih nggak gitu." Pikirannya seakan melayang entah ke mana, dan suaranya begitu lemah sampai-sampai siapa pun yang mendengarnya akan merasa khawatir.

"Memang benar tadi Ichigo-kun lewat sini. Harukaze-chan, kamu menemaninya menunggu, ya?"

"Begitulah. Yah, lagipula biasanya kami juga ngobrol sampai jam segini, sih."

Harukaze, ya? Marga yang bagus, mengingatkannya pada seri novel misteri Harukaze Combi Otegarachou, pikirnya sembarangan. Tepat saat itu, Aizawa menyadari bahwa mereka berdua sedang menatapnya.

"Kamu siapa...? Seragamnya beda sama seragam SMA kita, kan?"

"Ini adik bodohku. Namanya Aizawa Kei. Barusan kusuruh menyelundupkan ponsel."

Mata mereka berdua serempak membulat.

"Hah, bukan kakakmu?"

"Tinggi banget... Berapa sentimeter tinggimu?"

Harukaze dan Teruya menunjukkan reaksi yang sudah tak terhitung kalinya kuterima.

"Tinggiku selalu kubilang 180 sentimeter, tapi sebenarnya 179 sentimeter. Aku kelas dua SMP."

"Tinggi banget, ya."

"Badannya memang tinggi, larinya cepat, ototnya juga kekar, tapi dia nggak ikut klub apa-apa dan kerjaannya cuma baca novel misteri."

Harukaze mengangguk kagum seolah berkata "Heeh," namun sepertinya ketertarikannya hanya sampai di situ. Sementara itu, Teruya tetap membisu, tampak tidak berniat membuka mulut sejak awal.

"Kira-kira Ichigo-kun memanggilmu ada urusan apa, ya?"

Saat Kanade melempar topik, Harukaze membuat gerakan tangan seolah sedang memasang taruhan cip di meja kasino.

"Aku tetap mempertaruhkan semuanya buat kemungkinan mereka mau putus."

"Harukaze-chan, kamu sebenarnya cuma kesepian karena Teruya-chan direbut oleh Ichigo-kun, kan?"

"Sejujurnya, iya." Tanpa ragu sedikit pun, Harukaze mengiyakan sambil menatap tajam ke arah sahabatnya yang berdiri tepat di sebelahnya. "Aku berharap banget kalian cepat putus."

Nada bicaranya yang berbahaya itu tanpa sadar membuat wajahku menegang. Aku sama sekali tidak ingin tahu soal intrik percintaan anak SMA yang rumit. Kerumitan di dalam rumahku sendiri saja sudah lebih dari cukup untuk kuurus.

Mungkin karena menyadari isi hatiku, Kanade pun memberikan penjelasan.

"Ichigo-kun dan Teruya-chan itu sebenarnya tidak saling suka, lho. Ichigo-kun menyatakan cinta pada Teruya-chan karena batsu game (hukuman permainan)."

"Ugh, parah banget." Aizawa memamerkan ekspresi jijik yang terang-terangan.

"Dia nggak sengaja menargetkan Teruya-chan, kok. Mereka pilih targetnya pakai undian amidakuji. Anak cowok di kelasku itu anehnya sangat disiplin kalau urusan melaksanakan batsu game."

"...Mungkin sedikit lebih mending daripada sengaja ditargetkan, tapi tetap saja itu parah."

"Tapi, Teruya-chan sudah tahu soal itu, dan tetap mau mencoba pacaran dengannya, kan?"

Mendengar ucapan Kanade, Aizawa menatap Teruya dengan ekspresi tidak percaya. Teruya membalas tatapannya dengan nada rendah, seolah sedang membela diri.

"Soalnya aku pengin coba punya pacar sekali saja. Yah, tapi... ini sudah tiga bulan, dan sejauh ini aku merasa nggak ada gunanya juga meski sudah mencoba pengalaman itu."

"Aku biasanya suka dengan tindakan yang menantang, tapi khusus untuk pilihan Teruya kali ini, menurutku itu tindakan yang sangat bodoh dan bikin aku kesal. Setidaknya dia harusnya cerita dulu padaku."

Harukaze memajukan bibirnya. Teruya hanya mengangguk pelan dengan wajah tanpa ekspresi.

"Apa Ichigo-san sendiri sebenarnya orang yang baik?"

Saat Aizawa Kei bertanya, Harukaze memiringkan kepalanya.

"Gimana menurutmu, Kanade-chan? Aku beda kelas jadi nggak terlalu mengenalnya."

"Aku juga nggak tahu karena nggak begitu tertarik. Kesanku dia cuma anak klub teater yang rambutnya keriting alami (tenpa). Yah, kurasa dia lumayan populer karena wajahnya, tapi kesannya dia selalu sepaket sama adiknya."

Tiba-tiba, sesosok bayangan baru muncul. Dari arah berlawanan dengan tempat Kei Aizawa naik, tepatnya dari arah gedung selatan, seorang wanita yang tampak seperti guru berjalan mendekat dengan langkah cepat.

"Lho, kamu bukan murid sekolah ini, kan?"

Dia bertanya sambil menatap lurus ke arah Aizawa Kei. Wajahnya bisa dibilang tampak awet muda, tapi ada aura veteran yang menunjukkan bahwa usianya mungkin sekitar empat puluhan. Bahkan di tengah keremangan, kilau kulit dan gaya rambut ikalnya menunjukkan dedikasi yang tinggi pada kecantikan. Walaupun mereka berada di luar ruangan, aroma manis yang menguar dari tubuhnya seolah langsung mendominasi suasana.

"Ini adikku, Kei. Aku memintanya membawakan alat lukisku yang tertinggal."

Kanade menunjuk kain yang menutupi kuda-kuda dan pisau palet di tangannya sambil tersenyum. Untuk menghindari rentetan pertanyaan yang merepotkan, Kanade segera memperkenalkannya sebagai Yukimura-sensei, guru mata pelajaran seni sekaligus pembina klub seni.

"Oh, adiknya Aizawa Kanade, ya. Sebenarnya nggak baik kalau ada anak dari luar sekolah di jam segini..."

"Aku akan segera pulang," jawabku singkat.

"Yukimura-sensei sendiri sedang apa? Hari ini kan klub seni libur," tanya Harukaze. Yukimura-sensei menjawab tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

"Manekin anatominya hilang, jadi aku baru saja pergi mencarinya ke ruang seni."

"Eh, yang ukurannya besar itu, kan? Memangnya barang sebesar itu bisa hilang?" Harukaze membelalakkan matanya. "Setiap kali berpapasan dengan Sensei pas lagi bawa barang itu, jujur saja aku agak takut, lho."

"Iya. Padahal sampai kelas pagi tadi aku masih membawanya, tapi tahu-tahu hilang. Aku baru saja mengecek ruang seni, tapi tetap nggak ada. Kalau kalian menemukannya, tolong beri tahu aku, ya."

"Tanpa disuruh pun, kalau kami melihatnya di sekitar sini pasti bakal langsung kami bawa ke tempat Yukimura-sensei, kok."

Tepat saat itu, Teruya mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.

"Apa Sensei melihat Ichigo-kun di ruang persiapan perpustakaan?"

"Lantai tiga? Aku memang lewat dari tangga sampai ke koridor penghubung, tapi aku nggak melihat sampai ke dalam kelasnya."

"Begitu ya, terima kasih. Kalau aku menemukan manekinnya, nanti kuberi tahu."

Setelah berkata demikian, Teruya berjalan menuju gedung utara untuk memenuhi janji temunya di jam tujuh malam. Ruang persiapan perpustakaan sepertinya berada di lantai tiga gedung kelas khusus—sebuah bangunan yang bentuknya memanjang seperti menara—yang kini berada lurus di arah pandangan Aizawa Kei dan yang lainnya. Gedung itu hanyalah semacam bangunan tambahan yang terhubung dengan gedung utara melalui koridor pendek, yang kira-kira panjangnya hanya butuh dua langkah lebar.

Setelah Teruya pergi, Yukimura-sensei dan Kanade mulai membicarakan soal lukisan, jadi Aizawa Kei kembali menundukkan pandangannya ke buku di tangannya. Saat ia melirik sekilas, tampak Harukaze menatap ke arah perginya Teruya dengan raut cemas. Mereka pasti sangat dekat, batinnya sambil membalik halaman. Kebetulan ceritanya baru masuk ke bagian deduksi, dan karena penasaran dengan kelanjutannya, ia membaca deretan huruf itu dengan rakus.

Namun, tangannya yang sedang membaca segera terhenti.

Tiba-tiba, terdengar jeritan melengking. Jeritan yang membuat tubuh seketika menegang, sebuah teriakan yang terhubung langsung dengan emosi mendalam—bukan sekadar kaget karena melihat serangga atau kejatuhan barang.

"Teruya!"

Harukaze, yang sepertinya bisa mengenali si pemilik jeritan, berlari lebih dulu. Aizawa Kei, Kanade, dan Yukimura-sensei bergegas menyusulnya berlari menuju gedung utara. Mereka langsung berbelok ke kanan, melewati koridor penghubung yang pendek, dan masuk ke gedung kelas khusus.

Lorong di gedung kelas khusus itu pendek, dengan perpustakaan di ujung jalan dan ruang persiapan perpustakaan di sebelah kanan. Lampu perpustakaan sudah dipadamkan dan pintunya tertutup rapat, tapi pintu ruang persiapan perpustakaan tampak terbuka. Mereka berempat masuk hampir bersamaan.

"—Ichigo-kun!"

Teriakan Kanade memberikan ilusi seolah-olah suara itu terdengar dari tempat yang jauh.

Pemandangan pertama yang tertangkap oleh mata Aizawa Kei adalah sosok seorang siswa laki-laki—Ichigo—yang terbaring di atas meja-meja yang disatukan. Darah menetes dari dada Ichigo yang terkapar, menciptakan corak merah kehitaman yang kental membasahi bagian dada kemeja putih dan kaus dalam beigenya. Di sebelahnya, Teruya terduduk gemetar seolah kakinya benar-benar lemas tak bertenaga.

Sebelum sempat berpikir, Aizawa Kei sudah berlari menghampiri Ichigo.

"Kamu tidak apa-apa?!"

Seandainya pemuda itu tidak baik-baik saja, dan seandainya panggilan itu tidak mendapat jawaban, Aizawa Kei tidak tahu apakah orang-orang yang ada di ruangan itu mampu membalikkan keadaan. Namun, hanya pertanyaan itulah yang terlintas di benaknya saat ini.

Tepat saat ia hendak mengguncang bahu Ichigo untuk terus memanggilnya, mata Ichigo tiba-tiba terbuka lebar. Ia menumpukan lengan kanannya ke meja untuk mencoba bangkit, tapi wajahnya langsung berkerut menahan sakit.

"...Sakit."

Mengetahui pemuda itu masih bernapas, Aizawa Kei mengelus dada lega. Namun, bagi Ichigo sendiri, situasi ini jelas bukan sesuatu yang bisa membuatnya lega. Begitu melihat tubuh bagian atasnya sendiri, ia mengeluarkan jeritan tertahan. Brak, mejanya terguling.

"Apa-apaan... ini. S-sakit."

"Pokoknya, kita harus hentikan pendarahannya dulu."

"...Siapa kamu?"

Selain karena luka di dadanya, Ichigo sepertinya kebingungan melihat seorang pria jangkung yang tak dikenalnya berada tepat di depannya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dengan wajah melongo.

"Dia adikku. Sekarang hal itu nggak penting, lukamu harus segera diobati," ucap Kanade dengan cepat.

"...Adiknya Aizawa, tolong ambilkan handuk di tasku."

Aizawa Kei memungut tas sekolah yang tergeletak di dekatnya, mengeluarkan handuk wajah berwarna hitam dari dalam, lalu menyerahkannya kepada Ichigo. Ichigo sendiri yang kemudian menekankan handuk itu ke dadanya.

"...Awalnya aku kaget pas lihat, tapi sepertinya lukanya nggak terlalu dalam."

Begitu berkata demikian, Ichigo menyingkirkan handuknya, dan Kei Aizawa nyaris memalingkan wajah karena tak sanggup melihatnya. Di belakang mereka, Teruya mengeluarkan pekikan tertahan yang terdengar seperti tarikan napas pendek, "Hii!"

Bukan hanya karena darah yang merembes telah tersapu, menyingkap betapa mengerikannya wujud luka itu—bukan cuma itu alasannya.

Luka yang terukir di dadanya berbentuk hati, dengan garis retakan layaknya kilatan petir yang membelah tepat di tengahnya.

Teruya seketika ambruk di tempat, seolah seluruh tenaganya baru saja dicabut. Harukaze yang berada di dekatnya buru-buru menopang tubuh gadis itu. Kanade pun bermaksud mendekat untuk membantu, tapi tepat pada saat itu, terdengar jeritan dari Yukimura-sensei.

"...Apa-apaan, ini."

Yukimura-sensei bergumam entah kepada siapa. Punggung Yukimura-sensei menutupi pandangan sehingga Kei tidak bisa melihat apa yang ada di depannya, tapi ketika sang guru memungut, menggendong, dan membalikkan benda itu ke arah mereka, Kei tanpa sadar ikut memekik tertahan.

Benda yang kini berada di pelukan kedua lengan sang guru adalah sebuah manekin anatomi seukuran anak TK. Wajahnya rata tak berfitur selayaknya manekin biasa, sementara lengan dan kakinya menjulur lunglai dari batang tubuh kayu tersebut.

Manekin anatomi milik Yukimura-sensei—di bagian dadanya, terukir sebuah tanda berbentuk hati retak yang tampak seperti dipahat paksa menggunakan pisau ukir, dengan tepian yang sengaja diwarnai menggunakan tinta merah.

Meskipun sebenarnya tidak ada adegan spesifik seperti itu di dalam ceritanya, Kei Aizawa seketika langsung teringat pada novel misteri Ningyoukan no Satsujin.





Bagian 2

Kanade dan Aizawa Kei segera mengeluarkan ponsel untuk memanggil polisi, tapi Ichigo sendirilah yang menghentikan mereka.

"Tunggu, jangan lapor polisi. Aku nggak mau orang tuaku tahu. Aku nggak bisa memperlihatkan luka seperti ini pada mereka."

Hubungan seperti apa yang dimiliki Ichigo dengan orang tuanya bukanlah hal yang diketahui Aizawa Kei, tapi dia paham betul bahwa orang tua punya pengaruh besar terhadap prinsip tindakan seorang remaja. Kalau dia sendiri yang mendapat luka seperti ini—dia juga pasti tak ingin orang tuanya tahu.

"Serius deh, rasanya ini nggak sesakit yang kalian kira. Malah tes flu yang hidungnya dicolok pakai cotton bud itu jauh lebih bikin nggak nyaman. Kayaknya sih bakal berbekas. Kalau badanku digerakkan memang sakit. Tapi, daripada mikirin fisikku... rasa merinding karena nggak tahu siapa pelakunya ini jauh lebih mendominasi."

Seolah merespons keluhan itu, Yukimura-sensei mengangkat wajahnya. Dengan ekspresi penuh tekad yang menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa mengucapkan hal-hal yang sulit dikatakan, ia bersuara,

"Ngomong-ngomong, bukannya pelakunya jelas-jelas Teruya-san?"

Mata Teruya membelalak lebar. Ia sempat pingsan sesaat, dan meskipun sekarang sudah sadar, wajahnya tampak pucat pasi.

"Aku...?"

"Maaf, ya. Teruya-san pergi ke ruang persiapan perpustakaan, dan beberapa saat kemudian terdengar jeritan. Bukankah artinya kamu menusuk Ichigo-kun dalam rentang waktu itu?"

"...Bukan!"

Teruya membantahnya dengan suara lemah, namun keras dan sarat akan kemarahan terhadap tuduhan yang tak masuk akal itu.

"Nggak mungkin aku melakukan hal seperti itu."

Penolakan kuat yang menunjukkan bahwa dari lubuk hatinya ia tidak bisa menerima tuduhan itu, terpancar dari setiap kata-katanya.

"Ada sedikit jeda waktu dari saat kamu menuju ruang persiapan sampai kamu menjerit, kan?"

"Aku cuma sempat ragu sebentar mau masuk atau nggak. Soalnya aku nggak tahu kenapa Ichigo-kun memanggilku ke sini."

Entah yakin atau tidak dengan jawaban itu, Yukimura-sensei bergumam pelan lalu menoleh ke arah Kanade.

"Aizawa-san, kamu sedari tadi melukis di koridor penghubung, kan? Apa kamu melihat ada orang lain yang pergi ke gedung kelas khusus?"

"Aku nggak lihat siapa-siapa," jawab Kanade dengan santai saat ditanya. "Kalau ada orang yang menyeberang dari gedung utara ke gedung kelas khusus, aku pasti sadar. Waktu lagi ngobrol bareng Harukaze-san dan Yukimura-sensei pun, koridor penghubung menuju gedung kelas khusus itu tetap ada di jarak pandangku. Jadi aku yakin banget nggak ada orang lain yang lewat selain Ichigo-kun dan Teruya-san. Tapi ya, pastinya aku nggak bisa melihat sampai ke bagian belakang gedung. Kalau ada yang masuk lewat jendela lantai satu atau semacamnya, aku nggak bakal tahu, sih."

"Kalau itu, nggak mungkin, sih."

Ucap Ichigo dengan nada berat. Ia tampak frustrasi karena kata-katanya sendiri justru akan memperkuat kecurigaan terhadap Teruya.

"Aku sudah mengunci semua pintu dan jendela di lantai satu dan dua supaya tidak ada yang mengganggu. Waktu itu, aku juga memastikan tidak ada orang yang tersisa di sana."

Katanya, lantai satu adalah ruang seni dan lantai dua adalah ruang komputer, yang masing-masing hanya bisa dimasuki dengan melewati koridor penghubung dari gedung utara. Ichigo telah mengunci pintu menuju koridor penghubung di lantai satu dan dua, beserta seluruh jendelanya, lalu kembali ke ruang persiapan perpustakaan di lantai tiga untuk menunggu Teruya.

"Tunggu sebentar," Harukaze mengangkat tangannya. "Kenapa kamu ngelakuin itu? Rasanya itu tindakan yang aneh banget."

Sangat kentara kalau Harukaze ingin menyingkirkan kecurigaan dari Teruya dengan mengalihkan panah tuduhan itu ke arah lain.

"Apa aku harus mengatakannya?"

Ichigo bertanya dengan wajah masam. Tidak ada yang menjawab, tetapi atmosfer di ruangan itu telah menjawab pertanyaannya.

Seolah menyerah, Ichigo menjawab dengan raut wajah enggan.

"...Karena aku mau menyatakan cinta."

"Hah?" tuntut Harukaze dengan nada sinis. "Sama siapa?"

"Aku manggil Teruya ke sini karena aku berniat menyatakan cinta padanya."

"Lho, bukannya kalian sudah pacaran?" tanya Yukimura-sensei dengan terkejut. Mendengar pertanyaan itu, justru Ichigo yang membelalakkan matanya karena kaget.

"Sensei tahu?"

"Yang namanya guru itu, setidaknya pasti paham soal urusan asmara murid-muridnya, tahu."

Lalu Yukimura-sensei menepukkan tangannya sekali—prok—untuk memusatkan perhatian semua orang kepadanya.

"Pokoknya, berdasarkan cerita barusan, yang paling mencurigakan tetap Teruya-san—apa ada sanggahan?"

Seakan tertekan oleh atmosfer yang mulai menetapkan dirinya sebagai pelaku, Teruya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

"Tunggu sebentar!"

Aizawa Kei tanpa sadar meninggikan suaranya. Sejak tadi ia diam saja karena ia adalah satu-satunya orang asing di sekolah itu sekaligus yang paling muda di ruangan tersebut, tetapi kali ini ia benar-benar tidak bisa membiarkannya.

"Kurasa kita tidak bisa bilang kalau Teruya-san adalah pelakunya."

Perhatian yang sebelumnya tertuju pada Yukimura-sensei dan Teruya seketika bergeser kepada Aizawa Kei. Ditatap oleh beberapa pasang mata yang usianya lebih tua, mendadak Aizawa Kei merasa malu.

Saat ia masih tergagap, Kanade tersenyum usil sambil mengacungkan telunjuknya.

"Anak ini sering banget baca novel misteri, jadi siapa tahu dia benar-benar bisa menebak pelakunya lho."

"Novel misteri, ya..." Yukimura-sensei menghela napas seolah kehabisan kata-kata.

"Eh, jangan remehkan dia, lho. Dia pernah menyelesaikan kasus pencurian yang terjadi di acara kumpul keluarga kami. Kasusnya rumit banget, tahu."

Kanade seenaknya saja melebih-lebihkan cerita—padahal Kei hanya menebak letak dompet yang terselip. Meskipun Aizawa Kei merasakan ketegangan yang tidak menyenangkan mulai menyudutkannya, di sisi lain ia menyadari bahwa perasaannya mulai membara karena antusias.

"Boleh juga, kelihatannya dia bisa diandalkan."

Harukaze setuju dengan nada bicara yang seolah mengatakan bahwa ia tidak peduli siapa pun itu asalkan bisa berada di pihak Teruya.

"Kalau begitu, Tuan Detektif Hebat, kenapa kamu berpikir kalau pelakunya bukan Teruya-san?"

Karena Yukimura-sensei bertanya dengan nada suara yang tetap terdengar lembut, Aizawa Kei memutuskan untuk membalasnya secara langsung.

"Karena manekin ini."

Ia menunjuk manekin anatomi dengan gambar hati tergambar di dadanya.

"Teruya-san datang dengan tangan kosong. Seandainya dia bisa menyembunyikan pisau untuk menusuk Ichigo-san di balik bajunya, dia tetap tidak mungkin bisa membawa masuk manekin ini. Walaupun tujuannya sama sekali tidak jelas, melihat gambar hati yang tergambar di sana, manekin ini jelas sengaja ditinggalkan oleh si pelaku."

Yukimura-sensei menggumamkan, "Ah." Sepertinya ia hampir sepenuhnya teryakinkan oleh penjelasan itu.

"Bisa saja kan dia sudah menyembunyikannya dari awal, lalu baru mengeluarkannya setelah menusuk Ichigo-kun?"

Kanade sengaja melontarkan sanggahan. Sebuah pertanyaan umpan yang mudah untuk dipatahkan.

Namun, sebelum Aizawa Kei sempat menjawab, Ichigo sudah memotong untuk menjawabnya terlebih dahulu.

"Itu nggak mungkin. Aku sudah mengecek seluruh gedung kelas khusus ini, tapi nggak ada manekin sama sekali. Di gedung ini juga nggak ada toilet, jadi aku berani bilang kalau aku benar-benar sudah mengecek setiap sudutnya."

Kalau begitu—kemungkinan yang bisa dipikirkan tidaklah banyak.

"Rasanya jadi seperti kasus pembunuhan ruang terkunci (locked-room murder), ya," gumam Aizawa Kei, lalu melangkah maju ke hadapan Ichigo. Ia menatap luka yang sedang ditekan menggunakan handuk itu.

"Pasti sakit, ya."

"...Yah, nggak sesakit kelihatannya, sih."

"Ichigo-san, kalau kamu masih bisa menahan rasa sakit sebelum lukamu diobati..."

Aizawa Kei melirik wajah Ichigo. Ichigo sama sekali tidak terlihat marah, melainkan hanya tampak kebingungan.

"Tolong beri aku waktu tiga puluh menit. Kalau setelah itu aku tidak bisa memecahkan apa-apa, kurasa kita memang harus melapor ke polisi."

Dan dengan begitu, aksi detektif pertama dalam hidup Aizawa Kei pun dimulai.

"Mari kita susun kronologi waktunya."

Sambil merasa bingung mengapa dirinya yang paling muda di sana malah bermain-main layaknya seorang detektif, Aizawa Kei berbicara. Padahal, ia selalu berpikir bahwa detektif yang melakukan deduksi itu hanya ada di dalam novel misteri.

Namun—meski tertutupi oleh kebingungannya, tak bisa dimungkiri ada sebagian dari hatinya yang merasa antusias. Lagipula, korbannya masih hidup. Ini mungkin adalah kasus yang paling sempurna baginya untuk mencoba bertindak layaknya detektif di dalam novel misteri.

Aizawa Kei mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ichigo untuk memastikan situasi saat ia ditusuk, tapi Ichigo hampir tidak mengingat apa-apa. Setelah mengunci semua pintu di lantai satu dan dua, ia masuk ke ruang persiapan perpustakaan. Tak lama setelah itu, ia tiba-tiba kehilangan kesadaran, dan baru terbangun saat mendengar jeritan Teruya.

"Saat kamu masuk ke ruang persiapan perpustakaan, manekin ini tidak ada, kan?"

"Ah, nggak ada. Kalau ada, pasti aku merasa ngeri dan pindah tempat."

"Ngomong-ngomong, boleh aku tahu apa yang kamu lakukan sebelum datang ke ruang persiapan perpustakaan?"

"...Ponselku ketahuan saat pemeriksaan barang bawaan hari ini, jadi aku diceramahi oleh Yukimura-sensei."

"Sekolah kami melarang bawa ponsel, dan aturannya, kalau ketahuan, barangnya nggak bakal dikembalikan sebelum diceramahi selama satu jam di ruang guru," 

Kanade memberikan penjelasan. Aku sempat berpikir betapa tidak efisiennya aturan itu, tapi karena tidak ada gunanya melenceng dari topik, aku memilih diam.

"Aku benar-benar melihat jam, jadi harusnya tidak salah. Mulai jam 17:10, dan aku menceramahinya tanpa henti sampai 18:10. Malah kayaknya sedikit lewat, sekitar jam 18:15."

Yukimura-sensei juga membenarkan cerita Ichigo.

Katanya, butuh waktu setidaknya tiga menit untuk berjalan cepat dari ruang guru ke ruang persiapan perpustakaan. Mengingat setelah itu Ichigo mengunci pintu dan segalanya, berarti aksi penusukan terjadi setelah pukul 18:20. Jendela waktunya menjadi sangat sempit.

"Boleh aku mendengarkan cerita kalian mulai dari Teruya-san? Tolong satu per satu, ya. Sementara itu, yang lain tolong tunggu di sini."

Tepat ketika Aizawa Kei mengatakan itu dan hendak keluar, Ichigo menepuk bahunya dan dengan cepat menyelipkan sesuatu seperti selembar kertas ke dalam genggamannya.

"Kertas ini tahu-tahu ada di dalam sakuku. Nanti tolong lihat sendirian, ya."

Mendengar bisikan itu, Aizawa Kei untuk sementara memasukkan secarik kertas itu ke dalam sakunya.

Aizawa Kei bersama Teruya menyeberangi koridor penghubung yang pendek menuju gedung utara, lalu masuk ke ruang kelas terdekat. Ruang kelas yang kosong di malam hari—apalagi di SMA tempat ia sendiri tidak bersekolah—memberikan campuran rasa asing dan gelisah.

"Ano... terima kasih ya untuk yang tadi. Padahal aku harusnya bisa membantah sendiri, tapi suaraku nggak mau keluar. Kalau kita merasa sangat tertekan, ternyata nggak ada satu pun kata yang muncul di kepala, ya."

Suaranya yang sejak awal memang tak bertenaga kini terdengar semakin lemah karena kelelahan. Namun, mungkin karena ia sudah membuka hatinya pada Aizawa Kei, Teruya berbicara sambil menatap lurus ke mata anak itu.

"Saat mencurigai orang lain, seberapa banyak pun kita memikirkannya, itu nggak akan pernah jadi berlebihan, kok."

Setelah melontarkan prinsip pribadinya sambil tersenyum tipis, Aizawa Kei mulai masuk ke topik utama.

"Apa Ichigo-san memanggilmu untuk datang jam 19:00?"

"Iya, dia bilang minta aku datang sekitar jam 19:00. Makanya, aku ngobrol sama Harukaze di ruang persiapan tata boga buat menghabiskan waktu."

"Ruang kelasmu sendiri... ah, atau lebih tepatnya, boleh aku tahu pembagian kelas kalian semua?"

"Aku dan Ichigo-kun ada di kelas 2-B, sama dengan Aizawa-san. Kalau Harukaze di kelas 2-H, soalnya dia masuk jurusan IPA."

Aku sudah diberi tahu soal tata letak ruang kelas oleh Kanade. Semua ruang kelas anak kelas dua ada di gedung utara.

"Ruang persiapan tata boga kan ada di gedung selatan, ya? Jadi kalian sengaja pindah ke sana buat ngobrol?"

"Iya. Soalnya itu ruangan yang nggak pernah dipakai, jadi aku dan Harukaze sering menggunakannya buat ngobrol sepulang sekolah. Aku nggak punya teman selain Harukaze, jadi kalau ada anak lain di sekitarku, aku nggak bisa ngobrol dengan bebas."

Meski berkata begitu, entah kenapa ekspresi Teruya tampak sedikit menegang setiap kali ia menyebut nama Harukaze.

"Apa Ichigo-san juga tahu kalau kalian selalu ada di ruang persiapan tata boga tiap pulang sekolah?"

"Dia tahu, kok. Lagipula, waktuku bersama Harukaze jauh lebih banyak daripada bersama Ichigo-kun."

"Tapi, Ichigo-san memanggilmu ke sini karena dia berniat nembak kamu ulang, kan? Bukankah itu berarti hubungan kalian berdua semakin dekat, atau setidaknya mulai ada rasa?"

Teruya menurunkan suaranya yang sejak awal memang sudah pelan hingga setengah oktaf lebih rendah, lalu bergumam.

"Itu bohong."

"Maksudnya?"

"...Soalnya, Ichigo-kun itu sebenarnya menyukai Harukaze. Aku juga heran kenapa dia harus berbohong sampai bilang ingin nembak aku ulang."

Teruya mengucapkannya dengan santai. Sama sekali tidak terdengar seperti nada bercanda. Tidak ada emosi cemburu atau iri hati sedikit pun; benar-benar murni seolah ia hanya sedang membeberkan sebuah fakta. Aizawa Kei benar-benar terkejut hingga tanpa sadar melontarkan, "Eh?"

Kei sempat diam beberapa detik untuk memancing Teruya agar mau bercerita lebih banyak, tapi sepertinya gadis itu tak berniat melanjutkan obrolannya.

Kei mencatatnya di dalam kepala untuk ditanyakan nanti jika diperlukan, lalu mengalihkan pembicaraan.

"Ngomong-ngomong—apa Ichigo-san punya adik kembar?"

Teruya mendongak dengan ekspresi sedikit terkejut. 

"Ada, lho. Kok kamu bisa tahu?"

"Soalnya bahkan guru pun memanggilnya pakai nama depan, jadi aku mikir mungkin alasannya karena itu. Terus, tadi aku lihat buku Koroshi no Soukyokusen tertumpuk di ruang persiapan perpustakaan, jadi aku langsung kepikiran soal itu."

"Soukyokusen...? Apa itu?"

"Itu novel misteri yang pakai trik anak kembar," jelas Kei Aizawa singkat.

"Oh. Maaf ya, aku cuma baca sastra murni..."

"Nggak apa-apa kok, itu nggak terlalu berhubungan sama kasus utamanya. Ichigo-san dan adiknya itu kembar identik?"

"Kembar identik. Nama adiknya Nito, anak kelas 2-C. Mereka benar-benar mirip banget, kalau mereka berdiri sebelahan pasti kamu bakal kaget."

Tak disangka, ternyata dia benar-benar punya saudara kembar. Kalau begitu, hipotesis yang disusun Kei Aizawa harus sedikit diubah.

"Kalau begitu," pancing Aizawa Kei dengan sengaja, membalut suaranya agar terdengar sesantai mungkin. "Apa mungkin orang yang sekarang terbaring terluka di ruang persiapan perpustakaan itu sebenarnya adalah Nito-san?"

"Nggak mungkin."

Teruya menggelengkan kepalanya.

"Itu Ichigo-kun, kok. Aku bisa membedakan mereka."

"Apa ada tahi lalat atau ciri khas tertentu untuk membedakan mereka?"

"Sepertinya memang nggak ada perbedaan fisik sama sekali. Suaranya juga persis sama. Dulu pernah sekali beberapa anak kelas B dan C kumpul buat main tebak-tebakan itu Ichigo-kun atau Nito-kun, dan setelah sepuluh kali percobaan, tingkat kebenarannya persis lima puluh persen. Katanya pas SMP atau kapan gitu, mereka juga pernah berhasil menipu orang tua mereka."

"Tapi, Teruya-san bisa membedakannya, kan?"

Apakah bisa ditebak dari gerak-gerik atau auranya? pikir Aizawa Kei.

"Dulu, Nito-kun pernah pura-pura jadi Ichigo-kun dan datang ke tempat janjian kencan kami, tapi aku langsung sadar dan memarahinya habis-habisan. Aku bilang, nggak ada untungnya menguji atau menipu orang lain."

"Bisa membedakannya itu hebat, lho. Padahal fisiknya sama sekali nggak beda, kan? Apa semacam auranya yang berbeda?"

"Yah, pada dasarnya aura mereka berdua sehari-harinya memang agak berbeda, sih. Kalau aku merasa lebih gampang ngobrol sama Nito-kun."

Karena waktunya terbatas, Aizawa Kei beralih ke pertanyaan terakhir.

"Apa kamu tahu sesuatu soal tindakan mengukir luka berbentuk hati retak di dada?"

Mendengar pertanyaan Aizawa Kei, ekspresi Teruya membeku. Seolah waktu telah berhenti, wajahnya tidak menunjukkan pergerakan sedikit pun.

Itu saja sudah cukup menjadi semacam jawaban atas pertanyaan tersebut.

Aizawa Kei menghabiskan waktunya yang terbatas untuk menunggu wajah Teruya kembali bergerak. Beberapa saat kemudian, seolah terdorong keluar oleh keheningan yang panjang, Teruya akhirnya bersuara.

"Bulan lalu, ibuku... melakukan itu pada ayahku."

Suasananya sama sekali tidak memungkinkan untuk menambah pertanyaan lagi. Aizawa Kei memilih diam dan menyerahkan semuanya pada Teruya.

Setelah jeda sejenak, Teruya kembali membuka mulutnya.

"Padahal, ini adalah hal yang cuma pernah kuceritakan pada Harukaze, lho."

 

Sembari menunggu Teruya memanggil orang berikutnya, Aizawa Kei melakukan pencarian di ponselnya dengan mengubah-ubah beberapa kata kunci. Tepat ketika pintu terbuka dengan bunyi berderak, sebuah suara bernada teguran yang terkesan bercanda melayang ke arahnya.

"Kalau kamu itu murid sekolah ini, ponsel itu pasti sudah kusita sekarang."

Orang kedua yang diinterogasi, Yukimura, duduk di kursi tepat di depan Aizawa Kei. Pemandangan seorang guru yang duduk di kursi belajar siswa terlihat agak tidak seimbang dan terasa janggal.

"Aku akan menemanimu, jadi tanyakan saja apa pun yang kamu mau."

"Sejujurnya, aku terkejut Sensei mau mempercayakan hal ini padaku."

"Dulu, saat aku melaporkan masalah yang terjadi di depan mataku ke wali kelas tanpa menelitinya baik-baik, wali kelas itu mengambil tindakan yang sangat kaku, sampai-sampai berujung membuat semua orang menderita. Karena ini kasus penyerangan, tidak peduli apa yang Ichigo-kun katakan, pada akhirnya aku tetap akan melapor. Tapi, aku cuma mau memastikan untuk memahami fakta-faktanya sendiri dengan baik terlebih dahulu."

Nada bicaranya di akhir kalimat ditekankan seolah berkata, Kamu mengerti, kan?

Menurutku, Yukimura-sensei bisa dibilang cantik. Ia tipe guru yang pasti populer di kalangan siswa laki-laki, dan bisa diterima dengan baik oleh siswi perempuan dengan perasaan campuran antara rasa iri dan hormat. Tentu saja, penilaian siswa terhadap guru bisa dengan mudah berbalik hanya karena hal-hal sepele seperti cara mengajar yang membingungkan atau terlalu cerewet menceramahi hal kecil, tapi entah kenapa, aku merasa Yukimura-sensei pasti sangat disukai oleh murid-muridnya, dan mungkin ada murid yang menyimpan perasaan lebih dari sekadar kekaguman padanya.

Namun—Aizawa Kei dengan sadar menyadari bahwa ia kurang menyukai guru ini. Entah apa alasannya. Sikapnya yang gegabah dan secara sepihak menyimpulkan Teruya sebagai pelaku memang mengganggu, tapi lebih dari itu, ada semacam penolakan secara naluriah di mana berhadapan dengan guru ini saja rasanya sangat menguras energi.

"Kalau kebenarannya sudah terungkap, aku akan menjelaskannya di depan kalian semua."

Untuk menjaga ritme percakapan tetap berada dalam kendalinya, Aizawa Kei memutuskan untuk melempar pertanyaan tajam sebagai pembuka.

"Yukimura-sensei, apa Sensei punya pacar?"

Ia sudah memastikan tidak ada cincin di jari manis tangan kiri guru itu, tapi ia tidak tahu apakah guru itu punya kekasih atau tidak.

"Eh... apa itu ada hubungannya dengan kasus ini? Atau jangan-jangan, itu pertanyaan pribadi dari Kei-kun?"

"Karena lukanya berbentuk hati." Untuk menegaskan bahwa pertanyaannya sama sekali bukan alasan yang kedua, Kei Aizawa menjawab sedatar mungkin.

"Pelakunya bukan sekadar menusuk, melainkan sengaja mengukir luka berbentuk hati yang retak. Bukankah wajar kalau kita berpikir ada pesan terselubung di balik tindakan itu?"

"Makanya kamu menanyakan soal pacar? Lagipula, sejak awal aku sama sekali tidak punya waktu untuk menusuknya, lho."

"Hanya untuk berjaga-jaga."

"...Nggak ada. Sudah beberapa tahun ini aku nggak punya pacar."

Menyadari atmosfer yang berubah dan merasa sulit untuk menggali lebih jauh, Aizawa Kei mengganti pertanyaannya.

"Apa Yukimura-sensei bisa membedakan antara Ichigo-san dan Nito-san?"

Yukimura-sensei memasang wajah kebingungan.

"Teruya-san yang cerita soal si kembar itu?"

"Aku yang bertanya padanya," jawab Aizawa Kei singkat, menegaskan bahwa dialah yang sedang mengajukan pertanyaan di sini. "Kira-kira berapa persen tingkat keakuratan Sensei dalam membedakan mereka?"

"Sebagai wali kelas Nito-kun sekaligus guru mata pelajaran Ichigo-kun, aku sih penginnya bilang seratus persen... tapi kalau cuma dari penampilan luar, akurasinya persis lima puluh persen. Intinya cuma tebak-tebakan. Nggak ada satu pun orang di sekolah ini yang bisa membedakan mereka berdua, lho."

Rupanya, si kembar itu memang sangat mirip. Saat itulah, Yukimura-sensei mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Sebenarnya ya, aku juga sempat memikirkan kemungkinan itu sebentar. Jangan-jangan si kembar itu berniat bikin ulah lagi, dan Nito-kun ikut campur di dalamnya. Tapi ternyata nggak begitu."

"Maksudnya?"

"Nito-kun itu sering melakukan live streaming, dan sepertinya hari ini sepulang sekolah dia terus-terusan melakukan live streaming dari rumahnya."

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu memegangnya secara horizontal agar kami berdua bisa melihat layarnya. Saat Aizawa Kei sedikit mencondongkan tubuh ke depan untuk mengintip ponsel itu, aroma manis menyentuh rongga hidungnya.

Di layar, tertera judul siaran "【Nito】Birthday 2015☆". Tampak video seorang siswa SMA laki-laki yang memakai kacamata hitam berbentuk kue dengan lilin menyala di atas dahinya, sedang membicarakan sesuatu dengan ekspresi santai.

Wajah itu—benar-benar persis Ichigo, sampai-sampai Aizawa Kei hampir kelepasan bicara, "Lho, bukannya barusan kita lagi bareng?"

"Apa ini?"

"Kamu tahu TwitCasting? Itu lho, layanan live streaming. Nito-kun itu aktif di internet, dan dia lumayan populer. Anak SMA zaman sekarang memang hebat, ya."

Memang benar, angka yang sepertinya menunjukkan jumlah penonton berada di awal empat digit (ribuan), dan komentar-komentarnya pun mengalir deras.

"Nito-kun hbd" "Hari ini suaranya juga ikebo" "Ayo makan Seventeen Ice buat ngerayain umur tujuh belas" "Apa resolusi umur tujuh belasmu?"

Saat Yukimura-sensei menaikkan volumenya, suara Nito yang sedang berbicara perlahan mulai terdengar jelas.

『...emang spesial, ya. Nggak, aku nggak beli Seventeen Ice, tahu. Di dekat rumahku nggak ada mesin penjual otomatisnya. Mesin es krim itu kan bukan sesuatu yang sengaja kita niatin buat dibeli, tapi justru karena kebetulan ada pas kita lagi keluar makanya kita jadi mendadak pengin beli, kan. Tapi, yah, umur tujuh belas itu emang spesial. Orang sering bilang 'Tujuh belas tahun selamanya', itu karena umur segitu adalah masa yang paling pengin diabadikan selamanya, kan. Risa Wataya saja jadi novelis di umur tujuh belas tahun, jadi tahun ini aku juga bakal beneran serius beraktivitas. Bisa dibilang ini ulang tahun paling penting, kan. Yah, meski ulang tahunku sebenarnya kemarin, sih. Hari Kamis aku ada urusan jadi nggak bisa live streaming—』

Sambil sesekali merespons komentar, ia terus meracau sendirian dengan obrolan santai yang sangat khas.

"Durasi siarannya satu jam tiga puluh menit... karena dia mulai dari jam 17:30, berarti dia live terus sampai jam 19:00. Latar belakang ini, dilihat dari mana pun pasti rumahnya, kan?"

Hiasan rantai kertas yang sepertinya dibuat dari origami dan spanduk huruf bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY!" tampak menggantung dari rel gorden. Setidaknya, pemandangan itu jelas bukan di dalam sekolah ini.

"Ngomong-ngomong, letak rumah Ichigo-san dan Nito-san itu di mana...?"

"Di daerah Momochi, kira-kira sepuluh menit kalau naik sepeda."

Aizawa Kei memandangi siaran itu sejenak. Tanpa ada klimaks pembicaraan apa pun, Nito terus berbicara panjang lebar sendirian tanpa henti.

"Ngomong-ngomong, aku punya pertanyaan polos nih... aktivitas live streaming kayak gini, secara aturan sekolah dibolehkan, nggak? Kelihatannya dia juga dapat penghasilan dari sini."

"Jelas melanggar, dong. Katanya dulu juga pernah ada satu anak yang live streaming dari kamar mandi di situs kayak gini, terus nasibnya tragis karena diskors dan rekomendasi masuk universitas jalur khususnya dicabut."

Mendengar cara bicaranya yang terlalu blak-blakan, Aizawa Kei tanpa sadar memajukan tubuhnya dan bertanya.

"Apa Yukimura-sensei tidak melaporkan soal live streaming Nito-san ke pihak sekolah?"

"Karena aku menemukan siaran ini di luar jam kerjaku. Berhubung Kei-kun bukan murid di sini, aku jujur saja deh, aku ini bukan tipe orang yang terlalu berdedikasi pada pekerjaan, lho."

Rahasia, ya, ucapnya sambil tertawa. Ekspresinya terlihat sangat memikat.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan detail lainnya, sesi interogasi dengan Yukimura pun selesai.

Setelah Yukimura keluar dari ruang kelas, Aizawa Kei kembali menatap secarik kertas yang diberikan Ichigo kepadanya—sebuah foto yang dicetak di atas kertas fotokopi.

Di foto tersebut, tampak sosok Yukimura yang sedang keluar dari sebuah love hotel. Pasangannya di foto itu wajahnya dicoret sehingga tidak bisa dikenali—tapi dari posturnya, sosok itu jelas terlihat seperti murid SMA.

Orang ketiga, Harukaze, masuk ke dalam kelas. Ia melangkah masuk dengan santai dan duduk dengan kaki terbuka lebar, memancarkan kesan berani dan bebas.

"Kamu kelihatannya dekat banget, ya, sama Teruya-san."

Pertanyaan ini mungkin tidak ada hubungannya dengan insiden penusukan, tapi Aizawa Kei sudah penasaran sejak tadi. Harukaze sepertinya menangkap nuansa tersirat dari ucapan Kei.

"Apa kami kelihatan kayak dua orang yang nggak cocok temenan?"

"Aku cuma mikir kalau tipe kalian berdua itu beda."

Setidaknya, Kei tidak bisa membayangkan sosok Harukaze sedang anteng membaca karya sastra murni.

"Kebetulan kami satu komite, dan pas ngobrol di sana, kami menemukan satu kesamaan besar. Itulah awal mulanya."

"Kesamaan besar...?"

"Hubungan orang tua kami sama-sama hancur lebur." Harukaze menyeringai. "Keluargaku sekarang lagi di tengah-tengah proses cerai."

"Eh." Aizawa Kei bahkan sampai lupa kalau dia sedang berperan sebagai detektif, dan tanpa sadar membalas, "Keluargaku juga."

"Eh, serius? Ini sih namanya Era Hebat Perceraian." Harukaze tertawa terbahak-bahak sambil menepuk tangan. Sepertinya ia sudah bertekad untuk selalu menertawakan hal itu setiap kali kata 'cerai' disebut.

"Makanya, kami jadi akrab karena sering ngobrolin hal-hal relatable soal pertengkaran di rumah."

"Kayak ngerasa capek karena selalu dituntut buat milih mau memihak siapa, atau ngerasa capek karena harus jadi konselor dadakan buat orang tua, gitu-gitu, kan?"

"...Boleh juga tuh, Adiknya Aizawa. Kapan-kapan kita ngobrol bareng, yuk."

Meskipun Kei merasa sesi mengobrol yang pesimis semacam itu agak suram, jauh di lubuk hatinya ia merasa sedikit senang karena mendapatkan simpati yang tak terduga.

"Gimana kalau kita ajak kakakku juga, terus ngobrol di famires?"

"Good idea."

Cara bicaranya terdengar bercanda, sengaja melafalkannya dengan ejaan katakana yang kaku tanpa logat Inggris yang benar. Frasa itu entah kenapa terus terngiang di telinga.

"Yah, topik menyedihkan kayak gitu memang jadi gerbang awal pertemanan kami, tapi Teruya sendiri aslinya anak yang lumayan seru, kok. Kesan pertama orang-orang ke Teruya biasanya cuma ngira dia anak yang suram dan suka murung, padahal aslinya dia lumayan aneh. Tadi juga, pas lagi asyik ngobrol berdua di ruang persiapan tata boga, tiba-tiba dia bilang ngantuk terus nyusun kursi buat tidur."

Dari setiap ucapannya, rasa sayang Harukaze yang begitu kuat terhadap Teruya sangat terasa.

"Tipe yang seperti itu, ya."

"Sebenarnya dia pengin lebih berani keluar dari cangkangnya, tapi dia nggak terlalu pandai bergaul di kelas. Dia sama sekali nggak pernah membaur dengan anak-anak kelas, tapi anehnya dia malah pacaran sama Ichigo, makanya anak-anak lain makin bingung gimana harus bersikap ke dia."

Saat itu, Harukaze seolah baru teringat sesuatu. Ia hampir membuka mulutnya, namun kemudian mengembalikan ekspresinya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Eh, ada apa? Walaupun kelihatannya nggak berhubungan sama insiden ini, aku bakal sangat berterima kasih kalau kamu mau memberitahuku."

"...Nggak, ngomong-ngomong, pas kami lagi ngobrol di ruang persiapan tata boga, kayaknya ada suara shutter kamera dari arah lorong. Pas aku menoleh, yang kedengaran cuma suara langkah kaki orang berlari cepat, jadi aku nggak tahu siapa yang ada di sana..."

Harukaze menjelaskannya dengan nada yang terdengar ragu-ragu.

"Maksudnya, mungkin ada orang mencurigakan? Sekitar jam berapa?"

Aizawa Kei tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke depan. Kalau di sini tiba-tiba muncul kemungkinan adanya pelaku dari luar, situasinya bakal jadi sangat rumit.

Sejauh ini, di dalam deduksi Aizawa Kei, sama sekali tidak ada keberadaan pelaku eksternal.

"Hmm, aku nggak ingat pasti, tapi mungkin sekitar jam 17:00. Yah, bisa saja itu cuma murid biasa, sih... tapi kalau orang itu pelakunya, rasanya aku pengin menyita ponselnya terus menghancurkannya berkeping-keping."

Mungkin ini nggak ada hubungannya dengan insiden ini, putus Aizawa Kei dalam hati, lalu memutuskan untuk mengubah topik.

"Akan kuingat. Ngomong-ngomong, apa Harukaze-san punya hubungan yang buruk dengan Ichigo-san?"

"Aku? Nggak juga, bukannya buruk, kami cuma jarang banget ngobrol. Kami juga belum pernah sekelas. Kesanku ke dia cuma anak klub teater yang suaranya keras."

"Ichigo-san itu posisinya (di sekolah) seperti apa, sih?"

"Nggak tahu deh. Yah, buat ukuran anak klub budaya, dia lumayan tipe yang bisa ngobrol sama siapa saja, kan? Kalau ditanya dia itu ekstrovert atau introvert, dia itu ekstrovert banget. Klub teater memang bukan klub yang terlalu populer, tapi kayaknya klub teater SMA kita sering maju ke tingkat nasional, deh."

Aku nggak terlalu tahu detailnya sih, ucap Harukaze dengan nada tak tertarik.

"Terakhir, ini pertanyaan yang sama yang aku ajukan ke Yukimura-sensei—Harukaze-san, apa kamu punya pacar?"

Tepat saat pertanyaan itu dilontarkan, jarak yang sudah menyempit sepanjang obrolan tadi seolah berbalik dan menjauh. Harukaze kembali memasang wajah serius.

"Apa-apaan pertanyaan itu. Nggak punya."

"Kapan terakhir kali punya?"

"Belum pernah punya. ...Oi. Jangan pasang wajah terkejut gitu, dong. Kayaknya untuk sementara waktu ini aku nggak bakal punya pacar, deh. Lagian, kenapa kamu nanya begitu?"

Aizawa Kei memberikan penjelasan soal motif bentuk hati yang sama seperti yang ia sampaikan kepada Yukimura-sensei, menegaskan bahwa pertanyaannya bukan sekadar rasa ingin tahu, lalu mengakhiri sesi interogasi itu. Ia memutuskan untuk tidak menyinggung cerita tentang kedua orang tua Teruya yang ia dengar dari gadis itu.



Bagian 3

"Ini cuma deduksi dari apa yang bisa kulihat selama tiga puluh menit, jadi tolong maafkan kalau ada celah kecil."

Deduksi Aizawa Kei dimulai dengan kata pengantar yang terdengar agak menyedihkan.

"Itu tergantung seberapa besar celahnya, sih," ucap Aizawa Kanade.

"Bukan cuma celah, aku juga belum tahu motifnya. Lagipula, aku mungkin cuma bakal jadi orang yang ngomongin hal-hal nggak peka... tapi setidaknya, kita nggak perlu melapor ke sekolah atau polisi."

Untuk memberikan kesan meyakinkan, Aizawa Kei mulai menulis catatan kronologi di papan tulis putih.

  • Sekitar 17:10... Di ruang guru lantai satu gedung selatan, Yukimura-sensei mulai menceramahi Ichigo.
  • Sekitar 18:15... Ceramah Yukimura-sensei selesai, Ichigo pergi. Memastikan semua kunci di gedung kelas khusus.
  • Sekitar 18:30... Ichigo masuk ke ruang persiapan perpustakaan, lalu pingsan.
  • Sekitar 18:40... Harukaze dan Teruya muncul di koridor penghubung. Ngobrol dengan Kanade dan Kei.
  • Sekitar 18:45... Yukimura-sensei datang dari ruang seni ke koridor penghubung. Ngobrol dengan Kanade, Kei, Harukaze, dan Teruya.
  • Sekitar 18:50... Teruya menuju ruang persiapan perpustakaan. Sempat ragu-ragu sebentar di depan ruangan.
  • Sekitar 18:55... Mendengar jeritan Teruya, Kanade, Kei, Harukaze, dan Yukimura-sensei berlari ke ruang persiapan perpustakaan.

"Maaf kalau aku tidak pakai gelar kehormatan di tulisan ini. Kalau kalian melihat kronologi ini, kalian pasti sadar kalau waktu untuk melakukan penusukan itu sangat terbatas."

"Cuma dua puluh lima menit, antara jam 18:30 sampai 18:55."

Aizawa Kei mengangguk membenarkan sahutan Aizawa Kanade.

"Terlebih lagi, lantai satu dan dua sudah dikunci, jadi kemungkinan pelaku dari luar itu nol. Pintu masuk lantai tiga terus diawasi olehku dan kakakku, dan selama itu cuma Teruya-san yang masuk. Teruya-san juga datang dengan tangan kosong, jadi dia tidak mungkin bawa masuk manekin ini. Kalau dipikir-pikir, situasinya mirip seperti pembunuhan di ruang terkunci. Tapi, kali ini bukan pembunuhan, melainkan penyerangan—Ichigo-san masih hidup. Beda dengan kasus pembunuhan, Ichigo-san yang jadi korban masih bisa bergerak setelah ditusuk, dan dia juga bisa menyembunyikan fakta bahwa dia sudah ditusuk."

Aizawa Kei memasukkan tangan kirinya ke dalam saku, menggenggam erat foto Yukimura-sensei di love hotel. Ia ragu apakah harus mengeluarkannya atau tidak, lalu mengurungkan niatnya.

"Misalnya, ada kemungkinan seperti ini: Yukimura-sensei menusuk Ichigo-san saat menceramahinya selama satu jam, lalu mengancamnya dengan bilang, 'Pergi ke gedung kelas khusus, kunci semuanya, lalu tiduran di ruang persiapan perpustakaan. Ada manekin di sana, tapi abaikan saja.' Kemungkinan seperti itu, bukan berarti tidak ada."

Di satu sisi Ichigo tampak mencondongkan tubuhnya ke depan, namun di sisi lain Yukimura-sensei hanya mengernyitkan dahi dan merespons, "Hah?" Itu bukan kemarahan karena dituduh sebagai pelaku, melainkan sekadar tanda tanya hampa karena merasa tebakan itu terlalu melenceng dan konyol.

"Nggak, nggak mungkin kan dia jalan-jalan sambil menyembunyikan luka separah ini." 

"Iya, seperti katamu. Aku cuma menyebutkannya sebagai kemungkinan saja, trik ini terlalu mustahil."

Kalau bicara normal, deduksi ini bakal selesai dalam dua menit. Jadi, sambil memperbanyak porsi bicara dan menyortir fakta dengan akurat, aku menceritakannya perlahan-lahan. Untuk ajang pamer deduksi, "gaya khas" itu penting.

"Saat terjadi pembunuhan di ruang terkunci, hal pertama yang harus dicurigai adalah—bunuh diri. Pola di mana korban adalah pelakunya."

Semua orang menahan napas. Pasti ada yang sudah paham hanya dengan mendengar ucapan ini. Tanpa banyak jeda dramatis, Aizawa Kei melontarkannya dengan lugas.

"Pelakunya adalah kamu sendiri, kan, Ichigo-san?"

Tatapan semua orang beralih pada Ichigo yang sedang menekan dadanya dengan handuk.

"Apa maksudmu? Kamu bilang aku menusuk dadaku sendiri?"

"Benar."

Ichigo mencoba mengintimidasi dengan suara mengancam, tapi karena sudah menduganya, Aizawa Kei sama sekali tidak goyah. Lagipula, tinggi badan Ichigo hampir sepuluh sentimeter lebih pendek dari Aizawa Kei, jadi ia bukan lawan yang akan membuat Kei merasa terancam hanya karena dipelototi sedikit.

"Semuanya, kurasa kalian terlalu terpaku pada efek kejut di awal sehingga jalan pikiran kalian jadi menyempit. Dipikir dari sudut pandang mana pun, masuk ke tempat yang cuma bisa diakses lewat koridor penghubung lantai tiga, membawa masuk manekin ini, membuat Ichigo-san pingsan, lalu mengukir luka berbentuk hati—serangkaian proses ini mustahil dilakukan cuma dalam waktu dua puluh lima menit. Kalau begitu, orang yang paling mencurigakan adalah korban itu sendiri. Begitulah menurutku."

"Maksudmu nggak masuk akal."

Ichigo meninggikan suaranya. Dia sepertinya memutuskan untuk mengamuk demi mematahkan semangat lawannya, tapi Aizawa Kei mengabaikannya dan terus berbicara.

"Tadi aku sudah memastikannya sendiri, lantai satu dan dua memang dikunci, dan nggak ada orang yang bersembunyi. Kurasa bagian itu bukan kebohongan. Tapi," Aizawa Kei menunjuk manekin yang tergeletak di lantai. "Keberadaan manekin ini akan sangat aneh kalau kita nggak menganggapnya sudah ada di ruang persiapan perpustakaan ini sejak awal. Meskipun kesaksian Ichigo-san seratus persen benar... dipikir bagaimanapun juga, nggak ada waktu bagi siapa pun untuk membawanya masuk. Fakta bahwa manekin itu sudah ada di ruang persiapan sejak awal membuktikan kalau kesaksian Ichigo-san adalah kebohongan."

Aizawa Kei lalu berdehem. Ia merasa kalau ia bicara lebih banyak lagi, ia mungkin akan membongkar hal-hal yang tidak perlu.

Demi mengakhiri pertunjukan deduksi tanpa isi ini, ia berjalan perlahan mendekati Ichigo.

"Maaf, aku sudah bicara panjang lebar tanpa guna, tapi aku nggak berniat adu mulut lebih jauh dari ini. Ichigo-san—boleh aku lihat lukamu?"

"Buat apa?! Ini darahnya baru aja berhen—"

Tanpa membiarkannya membantah, Aizawa Kei merampas handuk itu dari tangan Ichigo. Dari segi kekuatan fisik, Aizawa Kei menang telak. Sepertinya itu adalah gerakan yang tidak terduga bagi Ichigo, sehingga handuk itu bisa direbut dengan mudah. Luka berbentuk hati yang retak pun kembali terekspos.

Luka di dada kiri itu, diusap perlahan oleh tangan kiri Aizawa Kei.

Teruya menjerit. Terdengar suara orang-orang lain menahan napas.

Dan bersamaan dengan itu—Ichigo mengembuskan napas tanda menyerah. Bukannya erangan kesakitan.

Aizawa Kei mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan noda tipis yang menempel di sana agar semua orang bisa melihatnya.

"Luka ini cuma riasan efek khusus."

Semua mata tertuju pada warna merah dan krem bertekstur aneh yang menempel di tangan kirinya—tekstur yang jelas berbeda dari darah sungguhan.

"Tadi aku sempat mencari tahu sekilas di internet. Katanya, tanpa perlu pakai bahan mahal pun, luka seperti ini bisa dibuat pakai bahan murah yang dijual bebas di pasaran, seperti tisu, lem kelopak mata ganda, dan lip gloss. Kudengar klub teater SMA ini punya level nasional, jadi kubayangkan mungkin ada staf di balik layar yang jago membuat riasan semacam itu. Luka buatannya disiapkan lebih dulu, lalu terakhir tinggal melumuri tubuh dan baju dengan darah palsu, kan?"

"Lagipula, sejak awal aku merasa aneh karena sama sekali tidak ada bau darah dari tubuh Ichigo-san," gumamnya, mulai menutup deduksinya.

"Entah ini cuma keisengan belaka, atau semacam variasi kostum Halloween, sejujurnya aku tidak terlalu paham soal bagian motifnya (Whydunit)—tapi apa pun itu, kurasa tindakan ini benar-benar tidak pantas. Tidak ada orang yang merasa senang saat diperlihatkan luka seperti ini."

Terutama, kalau luka itu punya bentuk yang persis sama dengan luka yang ditorehkan ibunya sendiri kepada sang ayah—gumaman itu hanya disimpannya dalam hati Aizawa Kei.

"Meskipun aku sadar ini terdengar lancang karena diucapkan oleh seorang anak SMP,"

Aku ini kebanyakan basa-basi, ya, pikirnya, tapi karena ini adalah hal yang benar-benar ingin ia sampaikan, ia menatap lurus ke mata pemuda itu dan mengucapkannya dengan tegas.

"Tolong jangan pernah melakukan kebodohan seperti ini lagi."

Semua orang menahan napas, seolah ragu untuk berbicara. Seakan-akan tidak ada yang tahu apa kalimat yang tepat untuk diucapkan di situasi ini. Ichigo tetap tertunduk tanpa bergerak sedikit pun.

Di luar dugaan, yang memecah keheningan itu adalah Teruya.

Setelah mengembuskan napas panjang yang seolah mampu memenuhi seluruh ruangan kelas, ia bergumam, "Syukurlah..."

"Ternyata lukanya cuma riasan, ya."

Saking leganya, itu adalah suara paling ceria yang kudengar dari Teruya hari ini.

"Kamu hebat banget, Kei-kun. Sudah seperti detektif sungguhan."

"Ah, nggak, ini sama sekali bukan hal yang hebat, kok. Cuma gertak sambal saja," balas Aizawa Kei, lalu mengatupkan mulutnya rapat-rapat agar tidak terus dipuji.

Teruya tiba-tiba mengubah ekspresinya. Ia menatap Ichigo dengan tajam dan berkata dengan nada menusuk, "Jangan pernah lakuin lelucon bodoh kayak gini lagi, ya."

Pada akhirnya, mereka membubarkan diri tanpa menggali masalah itu lebih dalam lagi di sana. Harukaze dan Teruya pergi ke kelas mereka untuk mengambil barang-barang, sementara Yukimura-sensei kembali ke ruang guru di gedung selatan. Ichigo beralasan ingin menenangkan pikiran sebentar dan berdiri bersandar di pagar koridor penghubung.

Saat berpapasan dengan Ichigo, Aizawa Kei berbisik di telinganya.

"Aku sudah tahu semuanya, jadi tolong bawa Nito-san kembali ke sini sepuluh menit lagi."

"Pastikan jangan sampai ketahuan orang lain," tegasnya. Itu adalah hal yang paling penting.




Bagian 4

Di koridor penghubung pendek yang menyambungkan gedung utara dan gedung kelas khusus, selain Aizawa Kei, terdapat Ichigo, Aizawa Kanade, dan Nito yang baru saja dipanggil. Mereka berempat telah berkumpul.

"Maaf atas deduksiku yang terdengar konyol tadi."

"Sebenarnya apa sih maumu? Tahu-tahu Nito-kun juga sudah ada di sini." 

Aizawa Kanade mengerutkan kening dengan ekspresi malas. Kepada sang kakak, Aizawa Kei hanya berpesan agar Kanade menemaninya sebentar. Kei butuh pendengar, sekaligus sosok yang nantinya bisa membantu menenangkan Teruya dan teman-temannya yang lain.

"Menurutku, misi seorang detektif adalah mendeduksi semua kebenaran, bukan sekadar menyampaikan semua kebenaran itu. Pasti ada kasus di mana menyampaikan kebenaran apa adanya bukanlah pilihan terbaik. Makanya, deduksiku tadi banyak banget yang kupotong. Karena terlalu banyak yang dipotong, isinya jadi sangat dangkal sampai aku sendiri merasa tersiksa saat menjelaskannya. Karena itu, tolong biarkan aku memastikannya dengan benar."

Ini berbeda dengan deduksi yang ia pamerkan belasan menit lalu, yang cuma bertujuan untuk meredakan suasana—ini adalah momen konfrontasi langsung dengan pelaku. Ia akan menggunakan kata hubung yang sering dipakai oleh detektif favoritnya—demi memberanikan dirinya sendiri.

"Nah,"

Aizawa Kei menoleh ke arah Ichigo dan Nito. Saat kembali melihat mereka berdua berdiri berdampingan, wajah mereka begitu identik sampai-sampai sejenak ia mengira matanya salah lihat. Karena kemejanya sudah robek, Ichigo memakai jaket olahraga sekolah, sementara Nito memakai seragamnya. Mereka bisa dibedakan dari pakaiannya, tapi dari wajah saja, tidak ada perbedaan sedikit pun yang bisa ditemukan. Baju olahraga Ichigo sedikit berbau keringat, mungkin karena habis dipakai di jam pelajaran hari ini.

"Nito-san, terima kasih sudah mau datang. Aku adiknya Aizawa Kanade, Kei. Tadi sempat heboh karena ada luka di dada Ichigo-san, tapi aku sudah bilang ke semua orang yang ada di sana kalau lukanya bukan sungguhan, melainkan cuma riasan."

"Aku sudah dengar dari Ichigo, kok."

Dengan suara yang sama persis seperti Ichigo, Nito menyahut. Suaranya terdengar tidak senang, namun daripada dibilang kesal, ia lebih terdengar seperti tidak tahu harus menggunakan nada bicara seperti apa.

"Terus, kenapa kamu manggil aku ke sini?"

"Karena aku pengin kalian mendengarkan deduksiku."

Aizawa Kei memutuskan untuk melewati penjelasan premis-premis kecil dan langsung melanjutkan pembicaraannya.

"Aku yakin banget luka Ichigo-san itu cuma riasan, tapi itu saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. Di sana tadi, aku memang memaksakan teori itu memanfaatkan suasana... tapi yang jadi pertanyaan, kapan Ichigo-san merias lukanya?"

"Tadi aku juga sempat menonton video orang bikin riasan luka khusus di internet, dan kelihatannya prosesnya lumayan repot. Untuk membuat luka di dada Ichigo-san itu, kalaupun dikerjakan dengan sangat cekatan, kayaknya bakal butuh waktu sekitar satu jam. Tapi, Ichigo-san diceramahi oleh Yukimura-sensei di ruang guru sampai jam 18:15. Kalau mempertimbangkan waktu berpindah tempat sampai proses merias selesai, jelas waktunya tidak bakal keburu sampai akhirnya dia ditemukan jam tujuh malam."

"Bukannya dia meriasnya dari rumah?" 

Menanggapi sanggahan sang kakak, Aizawa Kei menggelengkan kepala.

"Kakak dan Ichigo satu kelas, kan. Tadi siang ada pelajaran olahraga, bukan? Katanya satu kelas main kejar-kejaran ala Tousouchuu."

Kanade bergumam pelan, baru menyadarinya.

"Pakai baju olahraga putih, mana nggak pakai kaus dalam lagi, luka semencolok ini pasti tembus pandang. Mungkin saja bisa disembunyikan pakai sesuatu yang terlihat wajar dan nggak gampang ketahuan menempel di badan, misalnya koyo. Tapi kalau begitu, pas koyonya dilepas, sebagian riasannya pasti bakal ikut terkelupas."

"Benar juga, ya. Sekarang saja masih kelihatan tembus pandang."

Kanade menyorotkan lampu ponselnya ke dada Ichigo. Di bawah cahaya redup memang sulit terlihat, tapi saat disorot cahaya, garis merah samar tampak menembus dari balik baju olahraga Ichigo. "Hentikan, ah," tolak Ichigo pelan.

"Artinya, riasan luka di dada Ichigo baru dibuat setelah jam pulang sekolah. Kalau begitu, Ichigo benar-benar tidak punya waktu untuk membuat riasan luka tersebut. Fakta bahwa luka itu adalah riasan tidak mungkin salah, sehingga muncullah kontradiksi. Satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah: Ichigo yang sedang diceramahi Yukimura-sensei di ruang guru dan Ichigo yang berada di ruang persiapan perpustakaan adalah dua orang yang berbeda."

"Oi, oi," sela Nito dengan nada tidak puas.

"Cuma gara-gara ada adik kembar identik di sini, kamu langsung mikir 'Ini dia pelakunya!', begitu? Tapi ya, aku—"

"Pulang ke rumah di jam segitu dan melakukan live streaming ulang tahun, kan?" Aizawa Kei menggelengkan kepalanya. "Itu tidak bisa dijadikan alibi."

"Kenapa nggak bisa? Coba tonton isinya. Dilihat dari mana pun, jelas banget aku lagi siaran dari rumah."

"Kamu cuma memutar video yang sudah direkam sebelumnya, kan?" jawab Aizawa Kei singkat dan padat.

"Kalau kamu lumayan mahir pakai software streaming, memutar video yang sudah dibuat sebelumnya itu hal yang gampang."

"Aku beneran ngerespons komentar, lho. Tonton saja arsip videonya kalau nggak percaya."

Menanggapi protes Nito, Aizawa Kei kembali menggeleng.

"Ichigo yang sedang dirias tinggal mengirimkan komentar sambil menyesuaikan timing berdasarkan isi video yang sudah dibuat sebelumnya. Kalau dia tahu kamu bakal membicarakan soal Seventeen Ice di menit kelima belas, dia tinggal mengirimkan komentar soal Seventeen Ice di menit keempat belas lewat tiga puluh detik. Dengan begitu, kamu bakal terlihat seolah-olah sedang merespons komentar tersebut secara langsung. Tentu saja butuh beberapa akun berbeda supaya nggak dicurigai, tapi urusan semacam itu gampang diatur, kan?"

Satu-satunya cara memecahkan kontradiksi ini hanyalah melalui persekongkolan si kembar. Namun, persekongkolan itu dibantah oleh siaran langsung tersebut—kalau begitu, cara paling mudah adalah mulai dengan meragukan siaran langsung itu sendiri.

"Kalau siarannya adalah rekaman, alibi Nito-san jadi hilang. Kalau kita menganggap bahwa salah satu dari Ichigo-san dan Nito-san sedang diceramahi Yukimura-sensei, sementara yang satunya lagi sedang dirias, maka tidak akan ada kontradiksi lagi."

Artinya, mereka menggunakan trik saudara kembar yang sangat sederhana sampai-sampai bakal bikin ilfeel (kehilangan minat) kalau muncul di novel misteri. Trik ini benar-benar mengabaikan Sepuluh Perintah Knox dan Dua Puluh Aturan Van Dine, tapi toh ini bukan karya fiksi yang dibuat untuk menghibur seseorang.

Nito tidak membantah lagi. Lagipula, fakta bahwa dia bisa tiba di sini hanya dalam waktu sepuluh menit sejak dipanggil, itu sama saja dengan pengakuan bersalah, jadi percuma saja melawan.

Sambil menikmati sensasi dari kata-katanya yang mengalir deras bagai tancap gas, Aizawa Kei melanjutkan.

"Kesimpulannya, pergerakan kalian berdua yang ada di pikiranku adalah seperti ini.

Pertama, Sebagai permulaan, agar ruang perpustakaan, ruang komputer, dan ruang seni di gedung kelas khusus tidak digunakan, kalian mengeksekusinya di hari gerakan 'Manakin' saat semua kegiatan klub libur. Ichigo-san sengaja menaruh ponselnya di tempat yang gampang kelihatan di dalam tas supaya ketahuan saat pemeriksaan barang bawaan.

Sepulang sekolah, Ichigo-san langsung mulai dirias di toilet sisi timur gedung utara, atau di suatu tempat dekat ruang persiapan perpustakaan. Sambil mengirim komentar ke siaran Nito-san, dia meminta bantuan seorang kolaborator untuk membuat riasan luka. Untuk ponsel yang dipakai komentar, dia tinggal pinjam punya si kolaborator.

Setelah riasannya selesai, dia pindah ke gedung kelas khusus, mengunci pintu sambil memastikan tidak ada orang yang tersisa di kelas-kelas. Begitu sampai di ruang persiapan perpustakaan, sebagai sentuhan akhir dia merobek kemejanya dan melumuri tubuhnya dengan darah palsu, lalu menunggu Teruya-san datang.

Di sisi lain, Nito-san menyamar jadi Ichigo-san untuk diceramahi Yukimura-sensei di ruang guru, dan begitu selesai, dia pindah ke tempat yang tidak terlihat orang lalu bersembunyi."

Tenggorokannya mulai terasa kering karena terlalu banyak bicara, tapi ia tetap melanjutkan ucapannya.

"Setelah itu, Teruya-san yang sudah dipanggil sebelumnya akan menemukan Ichigo-san. Kemungkinannya dia akan menjerit, atau setidaknya pergi mencari bantuan. Kebetulan banget, di koridor penghubung antar gedung setiap hari selalu ada Aizawa Kanade yang lagi melukis cat minyak, jadi kalian sudah memperhitungkan bakal dapat dua saksi mata atau lebih untuk melihat luka itu, kan?"

Benar, kan? Seolah melempar pertanyaan itu, ia merentangkan kedua tangannya ke depan, mengambil pose layaknya sedang berpidato. Aizawa Kei benar-benar sedang larut dalam suasana, sampai-sampai ia tidak merasa malu sedikit pun melakukan gerakan teatrikal semacam itu.

"Yah, kalau urutan kejadiannya sih aku lumayan paham," Aizawa Kanade bertanya sambil memegangi pelipisnya, seolah berusaha keras mencerna rentetan informasi itu. "Tapi, emangnya apa sih tujuan mereka sampai repot-repot ngelakuin semua ini?"

"Tepat. Di sinilah muncul masalah motif. Kenapa Ichigo-san dan Nito-san sampai repot-repot membuat alibi buat Nito-san dan memalsukan penusukan ini? Aku sudah memikirkannya dari berbagai sudut, dan pada akhirnya, satu-satunya jawaban yang kutemukan adalah: agar Ichigo-san dan Nito-san bisa bertukar tempat."

"Maksudnya gimana?"

Aizawa Kanade mengerutkan kening. Aizawa Kei berbicara perlahan untuk menjelaskannya sejelas mungkin.

"Kali ini, aku memang menunjuk bahwa 'luka berbentuk hati itu adalah luka palsu yang dibuat dengan riasan', tapi kalau menurut rencana awal, luka itu seharusnya diakui sebagai luka sungguhan oleh semua orang yang ada di sana tadi. Itu akan menegaskan fakta bahwa Ichigo-san dilukai tepat pada saat Nito-san sedang tidak ada di tempat, dan mulai dari sekarang pemahamannya akan menjadi 'orang yang dadanya terluka adalah Ichigo-san'."

"Yah, itu memang benar, sih." Aizawa Kanade mengangguk, seolah menunjukkan bahwa ia bisa memahami sejauh itu.

"Lalu di titik itu, kalau Ichigo-san menghapus riasan luka di dadanya, dan Nito-san menorehkan luka berbentuk hati yang sungguhan di dadanya sendiri—maka Ichigo-san bisa menjalani kehidupan sekolah sebagai Nito-san, dan Nito-san sebagai Ichigo-san. Tentu saja, meskipun kalian tidak akan memamerkan bagian dada setiap saat—kalau muncul situasi di mana kalian harus membuktikannya, kalian bisa menunjukkan luka itu sebagai buktinya."

Karena ini adalah bagian paling penting, Aizawa Kei mengambil napas sejenak, sengaja memberi jeda. Menghirup keheningan itu dalam-dalam, lalu mulai melanjutkan ucapannya.

"Dalam hal ini, sudah jelas kepada siapa kalian berdua ingin memamerkan luka itu. Lagipula, selain satu orang tertentu itu, sejak awal tidak ada yang bisa membedakan Ichigo-san dan Nito-san dengan pasti. Tanpa perlu melukai diri pun, kalian bisa menipu siapa pun sepuasnya selain satu orang itu, tidak akan ada yang menyadari pertukaran kalian berdua. Kudengar kalian bahkan bisa menipu orang tua kalian. Kalau cuma teman atau guru, tanpa perlu melakukan hal merepotkan begini, kalian bisa bertukar tempat sesuka hati."

Wajah Ichigo dan Nito berkerut. Seakan ingin menusuk tepat di kerutan wajah mereka, Aizawa Kei membeberkan kesimpulannya.

"Kalian berdua melakukan semua ini agar bisa bertukar tempat tanpa ketahuan oleh Teruya-san, kan?"

Mereka berdua terdiam membisu. Tanpa memedulikan hal itu, Aizawa Kei melanjutkan penjelasannya.

"Entah kenapa Teruya-san bisa membedakan kalian berdua dengan sempurna. Aku dengar, waktu Nito-san pernah datang ke tempat janjian kencan dengan Ichigo-san untuk menipunya, dia langsung menyadarinya dalam sekejap. Demi bisa menipu Teruya-san dengan pasti, kalian sampai repot-repot melakukan hal serumit ini, kan.

Lalu, kenapa kalian ingin mengelabui mata Teruya-san? Dari sini akan banyak mengandung dugaanku—tapi sebenarnya yang menyukai Teruya-san itu adalah Nito-san, kan?"

Keheningan yang secara gamblang menunjukkan pembenaran.

"Waktu Nito-san mencoba bertukar tempat dengan Ichigo-san dan pergi kencan, mungkin awalnya kalian bilang itu cuma keisengan, tapi sebenarnya... Nito-san murni cuma pengin kencan dengan Teruya-san, kan?"

Pertukaran saat itu memang ketahuan berkat ketajaman mata Teruya, tapi seandainya tidak ketahuan, bukankah dia berniat untuk terus menghabiskan waktu bersama gadis itu sebagai Ichigo?

"Bagi Ichigo-san sendiri, Teruya-san itu sejak awal cuma pacar dari hasil batsu game, jadi dia tidak punya perasaan cinta padanya. Dia tidak peduli kalau bertukar tempat dengan Nito-san, dan membiarkan Nito-san melakukan apa pun dengan Teruya-san sambil berpura-pura menjadi Ichigo-san. Sebaliknya, dengan menyamar menjadi Nito-san, dia bisa menyatakan cinta tanpa beban apa pun kepada gadis yang benar-benar disukainya—Harukaze-san, sebagai sosok Nito-san."

 

Ichigo dan Nito menunjukkan reaksi yang sama persis—mengembuskan napas seolah menyerah.

"Kenapa kamu bisa tahu sejauh itu soal urusan asmara kami?"

Aizawa Kei membalas singkat, "Karena Teruya-san menyadarinya," lalu melanjutkan ucapannya. Ia kini tiba di bagian tersulit dalam membeberkan deduksi ini.

"Lalu, ada satu hal lagi—Nito-san punya alasan tersendiri kenapa dia ingin memiliki luka di dada ini."

Kei mengamati ekspresi Nito untuk menimbang apakah ia boleh membicarakan kelanjutannya. Saat itulah, untuk pertama kalinya, Nito menunjukkan ekspresi yang berbeda dari sang kakak.

Bibirnya yang gemetar terkatup rapat, seolah ia tahu perutnya akan segera ditinju sehingga ia menegangkan seluruh tubuhnya untuk bertahan dari hantaman itu.

Melihat wajah itu, Aizawa Kei menjadi ragu untuk bicara. Hanya karena ini adalah sebuah deduksi, dan hanya karena lawan bicaranya adalah sang pelaku, bukan berarti ia berhak menyentuh luka batin seseorang dengan tangan kosong.

Namun, Nito mengangkat wajahnya.

"Katakan saja." Nito tidak mengubah ekspresinya. "Aku tidak keberatan kamu mengatakannya."

Keheningan turun menyelimuti mereka. Aizawa Kei merasa bahwa memecah keheningan itu adalah tugasnya yang sedang menjabarkan deduksi.

"Kalau begitu, aku akan melanjutkannya sampai akhir."

Aizawa Kei kembali memasukkan gigi persnelingnya. Mengembalikan otaknya ke kondisi yang bersemangat.

"Tadi Ichigo-san menitipkan foto ini kepadaku. Foto Yukimura-sensei yang sedang keluar dari hotel—wajah orang di sebelahnya memang dicoret hitam, tapi ini, orang yang berfoto bersamanya ini adalah Nito-san, kan?"

Di sebelahnya, Aizawa Kanade menahan napas. Aizawa Kei memijakkan kedua kakinya kuat-kuat di lantai, lalu berkata.

"Nito-san, kamu menjadi korban pelecehan seksual oleh Yukimura-sensei, kan?"

Kei sengaja memilih kosakatanya dengan hati-hati. Sebisa mungkin ia berusaha agar tidak terdengar aneh karena mencoba menutup-nutupi, namun juga tidak sembarangan mengorek luka tersebut.

"Mungkin dia mengancam akan melaporkan aktivitas live streaming itu ke pihak sekolah. Apalagi kudengar dulu pernah ada murid yang sampai diskors dan rekomendasi masuk universitas jalur khususnya dicabut gara-gara hal serupa."

"Aku... pernah dengar rumor kalau ada yang melihat salah satu dari si kembar dan seorang wanita yang mirip Yukimura-sensei keluar dari hotel di daerah Imaizumi," ucap Kanade Aizawa dengan ragu-ragu. "Kukira itu cuma rumor palsu."

"Ternyata ada yang lihat, ya," ujar Nito sambil tertawa sinis untuk menertawakan dirinya sendiri. "Memalukan sekali."

"Luka yang diukir di manekin anatomi milik Yukimura-sensei itu sebenarnya bermaksud sebagai peringatan, kan? Seharusnya foto ini diletakkan di atas manekin itu dan ditemukan di tempat kejadian tadi. Menurutku, tujuannya adalah untuk membuat Yukimura-sensei berpikir bahwa ada orang yang tahu soal pelecehan seksual itu lewat foto dan luka pada manekin tersebut, lalu memaksanya untuk berhenti. Kalau pelecehan dari Yukimura-sensei tidak dihentikan, setelah kalian bertukar tempat nanti, Ichigo-san yang akan jadi korbannya. Sayangnya, nasib kalian sedang buruk. Yukimura-sensei menemukan foto itu lebih dulu dan menyembunyikannya. Karena tidak ada pilihan lain, Ichigo-san akhirnya menyerahkan foto cadangan yang sudah dicetak itu kepadaku."

"Padahal aku menyerahkannya sambil berdoa semoga kamu bakal mengarahkan kecurigaannya ke Yukimura sebagai pelakunya. Mengesampingkan urusan kronologi waktu, setidaknya dari segi motif dan kesan yang ditimbulkan."

Ichigo tersenyum masam tanpa tenaga.

"Alasan kenapa aku tidak mengeluarkan foto ini saat deduksi pertama tadi adalah karena aku tidak tahu apakah aku boleh mengeluarkannya di tempat yang tidak ada orang dewasa lain. ...Hubungan seksual paksa akibat ancaman, sudah tidak perlu diragukan lagi, adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan. Lagipula Nito-san masih di bawah umur, jadi gurumu itu tidak bisa mengelak lagi. Karena itulah, kamu harus angkat bicara dengan cara yang pastinya akan melindungi Nito-san. Aku juga akan membantumu. Yah, meskipun bantuanku mungkin tidak berarti banyak... tapi ada orang dewasa tempatku berkonsultasi soal perceraian orang tuaku juga, jadi..."

"Aku nggak nyangka orang pertama yang peduli sampai sejauh itu padaku adalah anak SMP yang baru pertama kali kutemui."

Nito tertawa.

"Siapa pun tempatku cerita, mereka cuma bilang, 'Bisa main sama Yukimura-sensei itu kan hadiah', 'Nikmati saja', atau 'Itu kan untung di kamu'."

Yang terakhir itu dibilang oleh anak perempuan, tambah Nito.

"Saat aku disuruh menjilat selangkangannya, meskipun harusnya nggak kupikirin, aku tetap aja kepikiran. Kalau seandainya suatu saat nanti aku berhasil kabur dari Yukimura, apa aku bisa dengan percaya diri nembak Teruya? Kalaupun aku bisa pacaran sama Teruya, saat menghabiskan waktu bersamanya, bukankah aku bakal teringat momen menjijikkan ini dan merasa pengin mati saja—"

"Cukup sampai di situ saja."

Tidak perlu membuka lebih jauh luka batin itu lagi. Itu hanya akan membuat lukanya menyebar semakin dalam.

Ichigo, yang sedari tadi terdiam, akhirnya membuka mulutnya.

"Buktinya, nggak ada, kan. Semua itu, cuma sebatas kemungkinan... Bisa saja aku cuma iseng bikin riasan luka, dan Nito cuma sekadar membantuku, kan."

Itu sudah tidak terdengar seperti bantahan, melainkan lebih seperti bantuan agar Aizawa Kei bisa menyelesaikan ceritanya sampai akhir.

"Nito-san, tolong perlihatkan dadamu," Aizawa Kei mengarahkan pandangannya ke dada Nito.

"Karena tujuan kalian adalah bertukar tempat, bentuk lukanya harus benar-benar sama sampai tidak bisa dibedakan. Kalau bentuk riasan luka yang ditunjukkan di sini berbeda dengan luka asli di dada Nito-san, rencananya bakal gagal. Kalau begitu, daripada menorehkan luka asli untuk menyamai riasan, jauh lebih pasti kalau kalian membuat riasan yang disesuaikan dengan luka aslinya. Dada Nito-san seharusnya sudah ditorehkan luka asli sejak tadi malam."

Mendengar ucapan Aizawa Kei, Nito dengan santai melepas dan membuang kemeja beserta kaus dalamnya sekaligus. "Hii!" Aizawa Kanade memekik tertahan.

Bentuk hati yang sama persis dengan luka yang terukir di dada Ichigo yang mereka lihat puluhan menit lalu. Karena tidak ada darah palsu, garis luka yang telah mengeras merah kehitaman dan mulai menjadi keropeng itu terlihat dengan sangat jelas. Fakta bahwa luka ini asli dan ditorehkan oleh dirinya sendiri, membuat realitas yang sinting ini semakin menonjol.

Itu pada dasarnya adalah sebuah pengakuan. Meski banyak bagian yang mengandalkan tebakan, Aizawa Kei mengelus dada lega karena deduksinya tidak meleset.

Rasa tegang karena harus membeberkan deduksi di hadapan para siswa SMA itu sirna, dan aku mengembuskan napas lega. Karena tujuanku memang bukan untuk menghakimi, aku tidak berniat melakukan apa pun lagi. Sisanya, aku tinggal menghabiskan waktu di restoran keluarga bersama Kanade sebelum pulang. Mungkin hari ini aku boleh sedikit manja dengan memesan menu yang agak mahal—begitulah, saat aku sedang asyik melamunkan hal santai seperti itu...

Gata! Terdengar sebuah suara. Suara itu tidak berasal dari salah satu dari kami berempat. Kami berempat serentak menoleh ke arah sumber suara, ke pintu masuk koridor penghubung dari gedung utara—dan menyadari ada sosok yang berdiri di balik bayangannya.

"Kenapa... kalian tega melakukan hal itu...?"

"Teruya," Ichigo berseru kaget. "Kamu belum pulang?"

Namun, orang yang paling terkejut di tempat itu, sekaligus mengutuk kecerobohannya sendiri, adalah Aizawa Kei. Punggungnya terasa membeku, dan jantungnya mulai berdegup kencang tak terkendali.

—Padahal aku sengaja membeberkan deduksi asal-asalan tadi agar dia tidak perlu mendengar ini, lalu menyuruh mereka bubar.

Fakta bahwa pacarnya berniat bertukar tempat dengan orang lain, meski itu kembarannya sendiri. Fakta bahwa untuk tujuan itu, mereka menggunakan bentuk luka yang sama persis dengan yang ditorehkan ibunya kepada ayahnya.

Hal semacam itu, dipikirkan bagaimanapun, adalah sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui.

Benar saja, wajah Teruya tampak jauh lebih kelam dibandingkan ekspresi apa pun yang ia tunjukkan selama satu jam terakhir ini.

"Cuma demi asmara, kalian bertukar tempat... itu artinya kalian membuang semua hal lainnya? Teman, pelajaran, klub, semuanya..."

"Iya, benar."

Entah bagaimana Nito menangkap maksud perkataan Teruya, ia menjawab dengan tegas tanpa ragu. Seolah-olah ia yakin bahwa momen ini akan menjadi salah satu adegan puncak dalam kompilasi sorotan masa mudanya.

"Karena aku... memang menyukai Teruya."

"Diam."

Udara serasa membeku. Suara Teruya benar-benar berbeda dari cara bicaranya yang bergumam sebelumnya; suaranya membawa ketajaman yang jelas-jelas bermaksud menusuk lawan bicaranya.

"Kalian sudah gila. Kalian si kembar, Yukimura... bahkan Harukaze juga. Apa cinta memang bisa bikin orang jadi segila itu? Pasti ada batasnya, kan, soal hal yang tidak boleh dilakukan sebagai manusia."

Seolah menyiramkan air es ke wajah Nito yang tampak tegang, Teruya terus mencecar.

"Kenapa... kenapa harus bentuk hati?"

Keheningan setelah pertanyaan itu membuat kulit terasa perih.

"Kalau cuma riasan, aku masih bisa menganggap itu kebetulan. Tapi kalau sampai menorehkan luka asli, itu jelas-jelas ada maknanya, kan?"

"Bukan, apa maksudmu—"

"Siapa yang memberitahu kalian? Tentang bentuk luka yang ibuku torehkan pada ayahku."

Wajah Ichigo dan Nito membeku. Seolah-olah mereka sama sekali tidak tahu-menahu tentang fakta tersebut. Itu tidak terlihat seperti akting, tapi Teruya tampaknya tidak punya ruang untuk membaca ekspresi mereka. Suaranya bergetar, seolah-olah perasaannya langsung diubah menjadi suara.

"Aku tidak tahu apakah kalian cuma ingin memberikan kesan yang kuat soal lukanya, atau kalian memang berniat merundungku, tapi—"

"Tunggu dulu, Teruya—"

Nito melangkah satu langkah ke depan. Kebetulan sekali, cahaya dari kelas mengenai dadanya, menyinari luka itu dengan sangat jelas.

Begitu melihat luka itu secara langsung, Teruya menjerit, lalu jatuh terduduk lemas—

 

*

 

Sejak kejadian itu, Aizawa Kei berhenti membaca novel misteri. Bukannya novel-novel yang ia baca selama ini atau para detektif yang ia kagumi telah kehilangan kilaunya. Hanya saja—rasa malu dan jijik terhadap dirinya sendiri, yang dulu begitu antusias membongkar teka-teki dan dengan jumawa memamerkan deduksinya, selalu saja bangkit kembali.

Jika bisa, ia tidak ingin mengingat lagi kejadian sepuluh tahun lalu itu. Ia ingin menyegelnya di dasar kesadaran, tanpa pernah menggalinya kembali.

Namun, sekarang setelah muncul seseorang yang menorehkan luka berbentuk hati retak yang sama persis seperti saat itu, ia tidak punya pilihan selain mengingatnya.

Di hadapannya, terpampang foto tiga orang korban.

Aizawa Kei selalu merasa terganjal oleh fakta bahwa masih ada misteri yang tersisa dari kejadian hari itu.

  • Siapa orang yang membantu Ichigo dan Nito?
  • Kenapa Ichigo dan Nito membuat luka itu berbentuk hati?
  • Siapa sosok mencurigakan yang dibicarakan Harukaze?
  • Dan—bagaimana cara Teruya membedakan Ichigo dan Nito?

Mengenai misteri yang terakhir, dia sudah tahu jawabannya. Itu adalah hal yang tidak berkaitan dengan inti masalah.

Namun, tiga misteri sisanya mungkin saja memiliki keterkaitan dengan kasus yang terjadi saat ini. Untuk mendapatkan petunjuk guna memecahkan misteri yang terbengkalai ini—cara terbaik adalah menanyakannya langsung kepada pihak yang terlibat.

Aizawa Kei berjalan beberapa saat dari halte bus, melewati deretan apartemen baru yang terbentang di lahan reklamasi. Angin laut terasa dingin, seolah-olah di tempat ini musim dingin telah tiba lebih awal.

Ia menengadah menatap gedung apartemen mewah yang berdiri tepat di hadapannya, lalu bergumam, "Wah, dia sukses sekali, ya." Area lobi utamanya saja tampak dua kali lebih luas dan tinggi dibandingkan rumah Kei sendiri. Sambil menunggu waktu perjanjian tiba, ia menekan interkom.

"Ya?" suara dari balik interkom menyahut.

"Ini Aizawa, yang sudah membuat janji untuk jam dua siang."

"Ah. Masuk saja, pintu unitnya juga akan kubuka."

Terdengar suara tombol ditekan, dan pintu auto-lock pun terbuka. Ia naik hingga lantai empat belas, lalu menuju unit nomor 1402. Di depan pintu masuk, diletakkan sebuah meja kecil bertuliskan "Untuk UberEats". Sepertinya penghuninya adalah pengguna setia layanan antar makanan.

Saat ia membuka pintu, terlihat sebuah kantong sampah penuh botol plastik dan satu kantong penuh kaleng bekas. Kotak-kotak sepatu kets bertumpuk di atas rak sepatu. Aroma bangunan baru langsung menyergap wajah Aizawa Kei.

"Sudah sepuluh tahun ya kita tidak bertemu langsung, Nito-san."

"Kau jauh lebih tinggi dari ingatanku. Apa dulu setinggi ini?"

"Tinggi badanku bertambah lima senti bahkan setelah masuk SMA."

Nito mengenakan hoodie dan celana sweatpants—pakaian yang rasanya tidak pantas untuk menyambut tamu. Dilihat dari panjang janggutnya, jelas sekali kalau dia jarang keluar rumah.

"Terima kasih atas kolaborasi live streaming-nya kemarin. Maaf sudah menyita waktumu."

Memanfaatkan pengalamannya selama ini, Nito sekarang aktif sebagai streamer profesional. Karena siaran kolaborasi kemarin dilakukan secara daring, ini adalah pertama kalinya mereka bertatap muka sejak insiden itu.

"Aku ada tamu lagi jam setengah tiga, jadi cuma sampai situ, ya. Setelah itu aku juga mau siaran."

"Jadwalmu padat sekali. Bukannya mulai besok kamu mau pergi liburan?"

"Ya. Makanya semua rencana kupadatkan hari ini."

Meskipun hanya waktu singkat selama tiga puluh menit, adalah sebuah keberuntungan janji temu mendadak ini bisa diterima. Aku harus pulang membawa petunjuk dari sini—Aizawa Kei mencengkeram ujung jaketnya seolah sedang mempertegas tekadnya.

Di ruang tamu, padahal baru bulan November, tapi meja penghangat (kotatsu) sudah dikeluarkan. Karena Nito duduk tanpa suara, Kei pun mengikuti.

"Aku tidak akan menyuguhkan teh. Langsung saja ke intinya."

Kei memang berniat begitu. Dia datang bukan untuk bernostalgia. Lagipula, tidak ada kenangan lama yang cukup hangat untuk dibicarakan.

"Aku datang untuk menanyakan soal insiden sepuluh tahun lalu."

"Sudah kuduga, tapi kenapa baru sekarang?"

Kei bimbang, apakah dia harus memberitahu Nito bahwa ada korban baru dengan luka berbentuk hati. Jika dia mengatakannya sekarang dan melihat reaksinya, itu bisa saja membantu—tapi jika ternyata Nito pelakunya, Nito mungkin akan curiga kalau Kei sedang melakukan penyelidikan. Meski sebenarnya, kedatangan Kei ke sini saja sudah pasti mengundang kecurigaan.

"Dulu, Ichigo-san dan Nito-san mencoba bertukar tempat. Pertukaran itu butuh kolaborator untuk bagian riasan dan pengiriman komentar di TwitCasting... Siapa orang itu?"

"Kenapa baru sekarang..." Nito jelas menunjukkan wajah tidak suka, tapi setelah melihat ekspresi Kei, dia menjawab dengan santai.

"Kakak kelas di klubnya Ichigo. Aku lupa namanya. Lagipula, sejak awal kami memang berkonsultasi dengan orang itu."

Kei hampir saja melewatkan jawaban itu dengan ucapan "oh, begitu", tapi ia tiba-tiba tersentak dan mengangkat wajahnya. Bukankah pria ini baru saja membocorkan informasi yang sangat penting?

"Konsultasi, maksudmu—mungkinkah soal membuat luka berbentuk hati yang retak itu juga saran dari orang tersebut?"

"Dia yang memberitahu kami. Katanya, di buku yang sedang dibaca Teruya, ada cerita tentang seseorang yang menyatakan cinta dengan membuat tato hati retak di dadanya, dan sepertinya Teruya benar-benar mengagumi cerita itu. Padahal ternyata itu bohong besar."

"Biasanya orang bakal sadar kalau itu bohong, kan," Nito tertawa masam.

"Tolong beri tahu aku nama orang itu dan kontak yang bisa dihubungi. Kalau kamu benar-benar tidak ingat, biarkan aku bertanya pada Ichigo-san—"

Belum sempat Aizawa menyelesaikan kalimatnya, suara interkom bergema di seluruh ruangan.

"Sial, apa dia sudah sampai? Nggak punya etika banget..."

Nito bangkit berdiri dan berjalan menghampiri interkom.

"Siapa?"

"Orang yang kamu kenal juga kok."

Begitu Nito menekan tombol jawab, suara pengunjung itu terdengar sampai ke telinga Aizawa dengan volume yang cukup jelas.

『Ah, anu... ini Teruya. Maaf, aku sampai lebih awal.』

Nito menekan tombol pembuka kunci, lalu seperti yang ia katakan pada Aizawa sebelumnya, ia memberi tahu bahwa pintu depan sudah tidak dikunci.

Aizawa menunggu sampai sambungan interkom terputus, lalu segera menghujani Nito dengan pertanyaan.

"Kenapa? Kenapa dia bisa ada di sini...?"

Mungkin karena ekspresi Aizawa yang tampak sangat terdesak, Nito sedikit gentar dan mundur selangkah.

"Mana aku tahu. Katanya ada yang mau dia tanyakan. Aku sampai kaget dia sengaja mengirim nomor telepon lewat surat tulisan tangan."

Dia... akan datang ke sini?

Rasa frustrasi Aizawa semakin menjadi-jadi. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai merembes dari dahi dan ketiaknya.

Memikirkan apa yang harus ia sampaikan pada Nito, atau mengapa Teruya datang ke sini—mengingat waktu yang tersisa sangat sedikit, Renjo menyampaikan hal yang paling krusial.

"Tolong, jangan bicarakan apa pun soal insiden sepuluh tahun lalu di depannya."

Mungkin, karena dia sudah menghapus hal itu dari ingatannya, tambahnya dalam hati.

Nito tampak heran, tapi sepertinya dia sendiri memang tidak berniat membicarakannya. "Iya, aku mengerti," jawabnya acuh tak acuh. Di saat yang sama, tanpa suara interkom lagi, pintu depan unit apartemen tiba-tiba terbuka.

Nito berdiri dan berjalan ke lorong untuk menyambutnya.

"Lama tidak bertemu, Teruya."

"Meski aku yang menyebutkan nama itu tadi, tapi rasanya aneh dipanggil dengan marga itu setelah sekian lama."

Detak jantung Aizawa berdegup begitu kencang sampai ia merasa suaranya bisa terdengar keluar dari mulutnya. Aizawa bahkan tidak tahu harus mengambil posisi seperti apa; sambil mendengarkan percakapan di lorong, ia hanya bisa menegang, terjebak dalam posisi setengah berlutut yang canggung antara berdiri atau duduk.

"Sekarang namaku Koishi. Soi Koishi. Perpaduan marga dan nama depanku terdengar kacau, kan?"

"Eh, apa jangan-jangan kamu sudah menikah? Selamat, ya."

Mendengar ucapan Nito yang santai, suara Teruya—yang kini bernama Koishi—berubah menjadi nada yang getir.

"Bukan, orang tuaku cerai."

"...Ah, benar juga, ya."

"Oh, kamu sepertinya sudah tahu? Maaf. Aku nggak terlalu ingat tentangmu. Aku tahu kita teman seangkatan, tapi jujur aku nggak tahu apakah cara bicaraku ini sudah benar atau belum—"

Koishi, yang baru saja melewati lorong dan masuk ke ruang tamu, seketika membelalakkan matanya.

"Kenapa kamu ada di sini, Renjo-kun?"

Aizawa—Renjo yang kini menggunakan identitas itu—tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya, ia hanya bisa berucap pelan, "Kebetulan sekali, ya."

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar