Detektif Koishi Tidak Jatuh Cinta: Bab 5

bab 5 Tantei Koishi, mengungkap masa lalu Renjo dan hubungannya dengan Koishi. Dari perceraian keluarga hingga misteri hilangnya ingatan.

Bab 5

Bagian 1

Perceraian orang tua Aizawa akhirnya resmi diputuskan pada bulan Maret saat ia duduk di kelas 3 SMP. Bersamaan dengan kelulusannya dari SMP, Aizawa pun "lulus" dari nama marga Aizawa dan berganti menjadi Renjo.

Ibunya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di wilayah Kanto. Sang kakak, Kanade, yang tidak mau pindah sekolah, tetap tinggal di kota ini bersama ayah mereka. Sementara itu, Renjo mengikuti ujian masuk SMA di Tokyo dan ikut bersama ibunya.

Setelah lulus dari universitas yang cukup ternama, di saat teman-teman seangkatannya sibuk melamar kerja di perusahaan konsultan, keuangan asing, perusahaan dagang, hingga menjadi PNS pusat, Renjo tanpa ragu memilih profesi detektif sebagai jalan hidupnya. Bagi Renjo, pengalaman saat detektif membantu mengumpulkan bukti perselingkuhan ayahnya sewaktu ia SMP adalah sebuah momen di mana ia merasa benar-benar "diselamatkan oleh seseorang".

Renjo bergabung dengan agen detektif ternama dan mulai bekerja sebagai penyelidik di cabang Fukuoka. Gaji awalnya, bahkan termasuk komisi, tergolong sangat rendah, dan jam kerjanya bisa dibilang tidak terbatas. Meski begitu, Renjo merasa puas bisa membantu klien dengan menyelidiki dan melaporkan bukti perselingkuhan—atau terkadang melaporkan bahwa tidak ada perselingkuhan yang terjadi.

Pertemuannya kembali dengan Teruya—atau sekarang Koishi—terjadi saat ia sedang menjalankan tugas rutin penyelidikan perselingkuhan, tepatnya saat ia tengah melakukan pembuntutan.

"Kamu juga lagi membuntuti orang?"

Renjo baru saja selesai memotret target pria yang masuk ke hotel bersama selingkuhannya. Saat ia tengah bersiap menyalakan kamera untuk terus merekam hingga mereka berdua keluar, tiba-tiba seseorang menyapanya.

Agar rekaman tidak terhenti, Renjo menekan lengannya ke samping tubuh untuk menjaga posisi kamera tetap stabil, lalu hanya menolehkan lehernya ke arah suara tersebut. Namun, ia nyaris saja menjatuhkan peralatan kameranya karena terkejut.

"Nggak usah kaget begitu. Aku cuma rekan seprofesi, kok."

Sebuah kartu nama disodorkan padanya. Di sana tertulis nama yang asing bagi telinganya: "Kantor Detektif Koishi - Direktur: Soi Koishi". Renjo merasa bingung, pandangannya beralih bolak-balik antara kartu nama itu dan wajah sang wanita.

Wanita yang berdiri di hadapannya adalah Teruya, gadis yang dulu ia temui di SMA kakaknya.

Poni rambutnya yang dulu terlihat berantakan kini dipotong rapi secara horizontal, dan matanya yang kini tidak tersembunyi oleh apa pun tampak bersinar. Dialek Hakata-nya pun sudah hilang. Suasananya benar-benar sudah berubah drastis dibandingkan dulu.

Bagi Renjo yang payah dalam mengingat wajah pun, ia mustahil melupakan wajah Teruya. Sebab, itu adalah wajah seseorang yang pernah ia lukai dengan sangat dalam karena ia terlalu sombong dan gegabah memamerkan deduksinya.

"Istrinya, selingkuhan nomor satu, dan selingkuhan nomor dua. Totalnya pria ini main tiga kaki, kan. Tebakanku, kamu disewa oleh salah satu selingkuhan pria itu, kan? Kalau aku, aku disewa oleh istrinya."

Detektif yang mengaku bernama Koishi itu tampak tidak menyadari siapa Renjo sebenarnya. Ia mengangguk-angguk sendiri seolah sudah paham situasinya. Aura bicaranya yang dulu bergumam kini telah lenyap, berganti dengan suara yang lugas dan penuh percaya diri pada setiap kata yang diucapkannya. Waktu benar-benar telah mengubah seseorang.

Renjo memberanikan diri untuk bertanya.

"Anu, apa kamu ingat aku? Sekitar delapan atau sembilan tahun lalu, insiden itu..."

Wajah Koishi seketika berubah penuh curiga, ia mendekap tubuhnya sendiri seolah sedang merinding.

"Apa ini, modus? Kamu mau mengembangkan obrolan dari situ lalu ujung-ujungnya minta nomor telepon?"

Renjo mendadak panik karena disalahpahami ke arah yang tidak terduga.

"Aku bukan laki-laki genit seperti itu. Bagiku, cinta itu sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa direncanakan. Apa kamu benar-benar tidak ingat? Itu lho, kita pernah bersama saat insiden luka berbentuk hati—"

Renjo mengira dengan menyebutkan kata kunci sespesifik itu, Koishi akan bereaksi. Namun, Koishi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengenalnya dan justru memiringkan kepala.

"Apa itu? Kamu salah orang kali?"

Kepercayaan diri Renjo terhadap ingatannya sendiri mulai goyah. Apa aku baru saja melakukan kesalahan memalukan karena salah orang? batinnya. Mengingat marganya pun berbeda, ia berpikir mungkin saja ini hanya kemiripan wajah, jadi ia memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh.

"Tapi, boleh juga nyalimu. Meskipun diajak bicara begini, kameramu sama sekali tidak goyang."

"Itu sudah sewajarnya, kan ini pekerjaanku."

"Hei, kamu... mau tidak kerja di kantorku?"

Tanpa perubahan ekspresi atau nada suara sedikit pun, Koishi mengatakannya dengan begitu santai.

"Entah kenapa, indra keenamku sedang bergejolak. Ayo kerja bareng. Aku yang akan menangani kasus-kasus pembunuhan, jadi aku ingin kamu yang pegang semua urusan asmara begini. Keluar saja dari agensimu yang sekarang itu besok, ya."

Begitulah reuni antara Koishi dan Renjo terjadi. Meski bagi Koishi, itu mungkin tidak terasa seperti sebuah reuni.

 

"Ah, Teruya-chan memang sudah ganti marga. Sekarang jadi Koishi-chan."

Dalam perjalanan kembali ke kantor setelah menyelesaikan pembuntutan dan mengidentifikasi alamat selingkuhan target, Renjo menelepon kakaknya, Kanade. Hanya Kanade satu-satunya orang yang bisa ia tanyai soal Teruya dengan santai.

"Jadi mereka cerai, ya."

Tiba-tiba ia teringat ucapan Harukaze saat insiden dulu, bahwa alasan dia dan Teruya menjadi akrab adalah karena orang tua mereka sama-sama tidak harmonis.

"Iya. Seingatku mereka cerai lebih awal dari orang tua kita, marganya sudah ganti pas masih SMA."

Kanade, yang kini bekerja di perusahaan periklanan di wilayah Kansai, masih tetap menggunakan marga Aizawa. Ini adalah percakapan pertama mereka sejak pertemuan terakhir di rumah kakek-nenek dari pihak ayah saat malam tahun baru lalu.

"Kalau begitu, berarti yang tadi itu memang Teruya-san. Apa dia murni lupa padaku, ya? Tapi tetap saja, meskipun aku mengungkit soal insiden itu, ekspresi wajahnya yang seolah bertanya 'apa itu?' benar-benar aneh..."

Saat Renjo menceritakan ringkasan pertemuannya dengan Koishi saat sedang mengintai, Kanade terdengar merasa tidak enak.

"Ah—nggak, begini. Itu tuh, sebenarnya ceritanya agak rumit."

"Apa sih, nggak usah pakai rahasia-rahasiaan segala."

"Karena kalau panggil pakai marga bakal membingungkan, aku panggil pakai nama depan saja ya... Soi-chan itu, dia kehilangan ingatan soal insiden itu."

Renjo terdiam, mencoba mencerna kata-kata Kanade. Namun, kalimat itu bukanlah sesuatu yang bisa ditelan begitu saja dalam waktu singkat.

"Maksudnya bagaimana?"

"Soi-chan tidak ingat soal insiden itu. Seluruh rangkaian kejadian saat Ichigo-kun memakai riasan luka dan mencoba bertukar tempat dengan Nito-kun—dia sama sekali tidak ingat. Jadi, wajar-wajar saja kalau dia tidak ingat padamu."

"Apa? Maksudnya amnesia?" Istilah itu sering muncul di komik atau drama, tapi saat diucapkan di dunia nyata, rasanya sangat asing. "Dia bukan lupa seluruh masa SMA-nya, tapi cuma lupa soal insiden itu saja? Mana mungkin ada hal seperti itu?"

"Bukan cuma soal insiden itu saja, sepertinya setelah itu dia sering kehilangan ingatan berkali-kali. Bahkan kepada Harukaze-chan, sahabatnya yang setiap hari selalu bersama, setelah hari kejadian itu Soi-chan bersikap formal seperti baru pertama kali kenal. Yah, gara-gara itu juga sih aku jadi punya celah buat bisa akrab dengannya."

"Kakak... dulu akrab dengan Teruya-san—maksudku, Koishi-san?"

"Cuma di bagian akhir saja. Kami sekelas di kelas dua dan tiga. Makanya aku tahu soal ingatannya itu."

Menurut Kanade, setelah insiden tersebut, Koishi mulai memperlakukan Ichigo, Nito, dan Harukaze—semua orang yang terlibat dalam insiden—seperti orang asing yang baru ditemui.

"Awalnya kukira dia cuma bercanda. Atau mungkin dia lagi pura-pura lupa buat main-main. Tapi, rasanya bukan seperti itu. Semakin sering berinteraksi, keyakinanku semakin kuat—ah, anak ini benar-benar lupa."

Nada bicara Kanade terdengar seperti sedang bernostalgia, seolah bayangan ruang kelas sepulang sekolah sedang terproyeksi di depan matanya.

"Dia bisa bicara normal dengan Kakak?"

"Iya, entah kenapa kalau denganku dia ingat seperti biasa. Padahal Harukaze-chan itu sangat akrab dengannya sampai setiap hari mengobrol berdua sepulang sekolah, tapi dia benar-benar diperlakukan seperti orang asing."

"Pernah bicara soal insiden itu dengan Teruya-san?"

"Pernah. Pertama kali mau bicara saja, aku sampai sangat berhati-hati mengeluarkan topiknya. Tapi... dia benar-benar tidak ingat. Waktu aku bilang kalau adikku mengkhawatirkan Teruya-chan, dia malah pasang muka sangat curiga. Dia bilang, 'Kenapa aku dikhawatirkan oleh orang yang bahkan belum pernah kutemui?'"

Renjo ingin protes karena kakaknya membicarakan hal yang tidak perlu, tapi ia tidak ingin pembicaraan ini melantur. Ia menunggu kelanjutan cerita Kanade.

"Waktu aku bilang kalau adikku itulah yang menyelesaikan kasus si kembar, dia sama sekali tidak paham, obrolannya tidak nyambung sama sekali."

"Ingatan soal insiden itu hilang begitu saja secara total... apa hal seperti itu mungkin terjadi?"

"Tapi nyatanya memang bisa terjadi, kok," ujar Kanade.

"Contohnya begini, ingat tidak Ibu dulu sering bilang? Sambil melihat foto di album, dia bilang, 'Masa-masa waktu Ayah setiap malam pergi minum urusan kerja, sementara Ibu harus mengurus Kanade yang umur tiga tahun dan Kei yang masih bayi sendirian setiap hari... saking sibuknya sampai Ibu tidak punya ingatannya sama sekali'."

"Ah, dia memang sering bilang begitu. Aku selalu bingung harus bereaksi bagaimana setiap dia cerita."

"Aku juga punya pengalaman serupa. Ingatanku di bulan pertama saat baru lulus dan ditempatkan di divisi yang sekarang, itu hilang total. Kata teman seangkatanku, setiap hari... tanpa bercanda, setiap hari aku diajak pergi minum, dipaksa memperkenalkan diri, dan disuruh cerita pengalaman lucu. Tapi karena aku benar-benar tidak ingat, aku bahkan tidak bisa ikut mengobrol saat mereka bilang, 'Dulu masa-masa itu berat banget ya'. Mirip seperti itulah kejadiannya."

Kanade memberi jeda sejenak, lalu menambahkan, "Aku bicara begini karena kamu adikku sendiri, tapi..."

"Aku rasa, Soi-chan benar-benar berusaha melupakan semua ingatan yang menyakitkan dengan sungguh-sungguh."

"Tapi, tidak mungkin kan orang bisa melupakan ingatan buruk semudah dan senyaman itu?"

Pertanyaan itu spontan terlontar dari mulut Renjo. Ia tidak bisa langsung menerima penjelasan itu begitu saja.

"Sepertinya memang ada penyakit yang membuat orang melupakan trauma. Misalnya, anak yang mengalami kekerasan tiba-tiba lupa total ingatan tentang orang tuanya. Yah, bukan berarti Soi-chan sudah didiagnosis seperti itu, sih. Tapi, itu bukan hal yang mustahil terjadi."

Meski belum sepenuhnya yakin, Renjo mulai memahami situasi yang dihadapi Koishi saat ini.

Dia benar-benar sudah melupakan insiden itu.

Jika memang benar Koishi "menghapus ingatan yang menyakitkan", maka hal berikutnya yang membuat Renjo penasaran adalah...

"Secara spesifik, seberapa besar tingkat stres yang harus dialami sampai dia melupakan suatu kejadian?"

Renjo bertanya seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"Maksudku, yang namanya stres atau trauma itu kan ada levelnya. Ada level patah hati karena ditolak cinta pertama, ada juga level melihat orang dibunuh di depan mata. Di mana ambang batasnya? Kalau dia kehilangan ingatan cuma gara-gara dimarahi atasan, dia tidak akan bisa menjalani kehidupan sehari-hari, kan?"

"Setelah jadi pekerja kantoran, aku pernah sekali minum bareng Soi-chan. Selain soal insiden itu, ada beberapa hal lain yang membuat obrolan kami tidak nyambung. Misalnya, soal ceritaku yang jatuh tercebur ke kolam berlumpur. Pikirkan saja, kejadian semacam itu tidak mungkin bisa dilupakan, tapi dia lupa."

"Padahal kejadian itu tingkat kesulitannya tinggi sekali untuk dilupakan."

Cerita tentang Kanade yang melompat ke kolam di halaman sekolah demi menangkap kertas tugas yang terbang ditiup angin masih sering diceritakan oleh kerabat setiap kali mereka berkumpul. Renjo ingat pernah diperlihatkan foto kakaknya yang basah kuyup dengan aliran darah di wajah karena kepalanya terbentur.

"Terus, dulu ada cowok yang agak mirip penguntit (stalker). Cowok itu benar-benar melupakan akal sehat; dia membaca habis semua buku yang dibaca Soi-chan, mengajak diskusi soal kesan bukunya, bahkan sampai mencegat di depan rumah setiap hari Sabtu dan Minggu. Normalnya, itu adalah tipe orang brengsek yang sangat menakutkan sampai mustahil untuk dilupakan, tapi dia benar-benar lupa soal cowok itu."

"...Nasib asmaranya buruk sekali."

Setelah Renjo bergumam seperti itu, Kanade mengembuskan napas panjang lalu menyahut pelan.

"Kurasa, pemicunya adalah Darah dan Cinta."

Suaranya terdengar berat.

"Dua elemen itu sangat cocok dengan apa yang terjadi di insiden dulu, kan? Kalau cuma luka gores kecil mungkin dia tidak apa-apa, tapi kalau melihat darah dalam jumlah banyak—seperti saat aku jatuh ke kolam—stresnya akan melewati ambang batas. Soal cinta... mungkin perasaan romantis yang ditujukan padanya sudah menjadi trauma tersendiri. Makanya orang-orang sejahat si penguntit itu langsung dihapus dari ingatannya. Sepertinya dia tidak melupakan semua orang yang pernah menyatakan cinta padanya, sih."

Namun, seolah baru teringat sesuatu, Kanade menambahkan.

"Ah, tapi aku masih tidak mengerti kenapa dia sampai memutus hubungan dengan Harukaze-chan. Padahal mereka tidak bertengkar sampai berdarah-darah atau semacamnya, kan?"

"Mungkin ada faktor lain... tapi setidaknya, sekarang aku paham."

Renjo merenungkan kembali kata-kata yang diucapkan Koishi padanya.

 

—Hei, kamu... mau tidak kerja di kantorku?

—Aku yang akan menangani kasus-kasus pembunuhan, jadi aku ingin kamu yang pegang semua urusan asmara begini.

Dari cara bicara Koishi, entah apa yang memicunya, ia jelas-jelas sangat terobsesi ingin menjadi detektif yang memecahkan kasus pembunuhan seperti di novel-novel misteri. Tentu saja, kasus pembunuhan atau kasus kriminal berat semacam itu tidak terjadi setiap hari, dan sebagai pemilik kantor detektif, Koishi pasti sangat memahaminya.

Namun—bagaimana jika benar-benar ada klien yang datang membawa kasus kriminal yang membutuhkan deduksi?

Meski bukan pembunuhan, kemungkinan adanya kasus penguntitan atau pencurian yang tidak digubris polisi masuk ke kantor detektif itu tidaklah nol. Kasus yang awalnya kecil bisa saja berkembang menjadi penganiayaan atau bahkan pembunuhan. Jika itu terjadi, Koishi akan terjun menyelesaikannya—lalu melihat pertumpahan darah dan menerima beban mental yang sangat berat hingga ia kehilangan ingatannya lagi.

Jika hal itu sampai terjadi, maka sebagian tanggung jawabnya ada pada dirinya—orang yang sepuluh tahun lalu tidak memastikan Teruya sudah pulang dan justru memamerkan deduksinya dengan bangga.

"Kak, aku sudah putuskan. Aku akan pindah kerja. Aku akan ganti agensi."

Begitu keputusan dibuat, semuanya bergerak cepat.

Keesokan harinya, Renjo langsung mengajukan surat pengunduran diri ke agensi detektif tempatnya bekerja saat itu, lalu menelepon Koishi.

Fakta bahwa Koishi tidak bisa menggunakan ponsel pintar (smartphone) maupun PC memang merepotkan, tapi justru menguntungkan bagi Renjo. Ia mengatur agar reservasi klien dilakukan melalui email, sehingga Renjo bisa menjadi pintu masuk utama bagi semua pesan yang masuk. Tentu saja, sebagian besar permintaan adalah penyelidikan perselingkuhan atau perilaku, namun kemungkinan adanya permintaan yang berisiko pertumpahan darah tetap ada. Jika sampai ada permintaan kasus "deduksi" semacam itu, Renjo akan langsung mencegat dan memusnahkannya sebelum sempat dilihat oleh Koishi.

Hanya saja, ia tidak bisa mengabaikan begitu saja permintaan yang masuk. Ia butuh identitas detektif lain sebagai wadah penampung. Maka, Renjo mendirikan "Kantor Detektif Aizawa" secara virtual, lengkap dengan saluran YouTube dan berbagai media sosial. Tujuannya hanya satu: mengalihkan semua permintaan berbahaya yang masuk ke Koishi, lalu menyelesaikannya sendiri di sana.

 

*

 

"Bukannya 'kebetulan sekali'. Benaran, kenapa kamu ada di sini, Renjo-kun?"

Renjo sama sekali tidak membayangkan akan bertemu Koishi di rumah Nito. Ia memutar otak sekuat tenaga, mencari alasan apa yang bisa ia berikan agar Koishi bisa menerima keberadaannya di sana.

"Koishi-san sendiri, kenapa ada di rumah Nito-san?"

Renjo melempar balik pertanyaannya. Ia harus mengulur waktu untuk mengarang cerita sementara mendengarkan penjelasan Koishi.

"Kamu ada yang mau ditanyakan, kan? Sampai bela-belain minta janji temu lewat surat segala. Kenapa nggak lewat LINE saja sih, kalau tanya ke orang lain pasti bakal tahu nomor grup kita dulu."

Untungnya, Nito ikut menimpali, menciptakan suasana yang memaksa Koishi untuk menjawab.

"Aku tidak bisa pakai smartphone."

"Eh, apa kamu semiskin itu?"

Nito memasang wajah melongo. Tampaknya ia mengira "tidak bisa pakai smartphone" itu karena alasan ekonomi.

"Bukan alasan finansial. Tapi masalah teknis."

"Kenapa? Dulu kamu sering diajari cara flick input sama Harukaze atau Ichigo, kan?"

Kali ini ganti Koishi yang melongo. Nito segera menyadari sesuatu, ia tidak mengejar lebih jauh dan mempersilakan Koishi duduk di kotatsu.

Namun, Koishi terpaku di depan pintu ruang tamu dan bertanya sambil tetap berdiri.

"Apa ini dikirim ke kantorku?"

Koishi menunjukkan sesuatu yang tampak seperti amplop kepada Nito, namun Nito mengerutkan kening.

"Mana kutahu. Aku bahkan nggak tahu apa pekerjaan kantormu atau di mana lokasinya."

Koishi terdiam sejenak sambil menatap Nito lekat-lekat, lalu seolah sudah menyimpulkan sendiri, ia mengangguk.

Renjo mengira percakapan akan berkembang dari sana, namun Koishi justru menunjukkan ekspresi ragu yang tidak biasa dan bergumam, "Kayaknya, aku pulang saja deh."

Nito tampak terkejut, namun ia tidak mengucapkan kata-kata untuk menahannya. Malah, ada semacam rasa lega yang tersirat karena Koishi pergi secepat itu.

Renjo berpikir, mengundang orang yang pernah coba kau tipu sepuluh tahun lalu ke dalam rumahmu pastilah momen yang penuh ketegangan. Apalagi jika orang itu adalah sosok yang dulu sangat kau cintai—sampai rela menusuk dada sendiri demi bertukar tempat dengan kakakmu.

"Aku juga pulang," ucap Renjo sambil menyusul Koishi. Nito mungkin penasaran dengan hubungan antara Renjo dan Koishi, namun sepertinya harga dirinya mencegahnya untuk bertanya langsung.

"Teruya."

Tepat saat pintu depan terbuka, suara Nito melayang dari belakang. Koishi menoleh.

"Namaku Koishi."

"Ya sudah, Koishi."

Nito berkata sambil menatap layar ponselnya—bukan karena ada sesuatu yang harus ia lihat, tapi lebih karena ia butuh tempat untuk membuang pandangannya.

"Menurutmu, sekarang pun, apa kamu masih bisa membedakan antara aku dan Ichigo?"

Koishi memasang wajah bingung dan balik bertanya, "Ichigo itu siapa?"

Nito menggelengkan kepala seolah itu bukan apa-apa. "Sudahlah, cepat pulang sana," ucapnya sambil mengibaskan tangan.

 

Setelah mulai bekerja di bawah arahan Koishi, dan selang beberapa waktu kemudian diberitahu tentang mata Koishi yang bisa "melihat perasaan cinta", Renjo merasa sangat masuk akal.

Itu karena ia akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaannya: mengapa dulu hanya Teruya yang bisa membedakan Ichigo dan Nito.

Ichigo tidak menaruh perasaan cinta pada Koishi, sedangkan hanya Nito yang mencintai Koishi—karena itulah, Koishi bisa dengan mudah mengenali bahwa orang yang memiliki panah menjulur dari dadanya adalah Nito.

Setelah keluar dari rumah Nito, Renjo dan Koishi berjalan kaki menyusuri jalan menuju halte bus dalam keheningan.

Koishi yang pertama kali membuka suara.

"Jadi?"

Renjo terus melangkah sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, seolah-olah rasa dingin dari angin laut adalah hal utama yang ia khawatirkan saat ini.

"Kenapa Renjo-kun bisa ada di rumah orang itu?"

Tanpa terlihat panik, Renjo membuka mulutnya perlahan dengan sikap seolah berkata, karena kita sudah telanjur bertemu di sini, mau tidak mau aku harus mengatakannya.

"Aku teringat kalau dulu Nito-san pernah berkolaborasi dengan channel Aizawa. Jadi, aku datang untuk memintanya memberi tahu identitas asli Aizawa. Aku bisa bertemu Nito-san karena ada kenalan yang sama yang memperkenalkanku padanya."

Koishi menatap Renjo dengan tatapan curiga.

"Kenapa kamu sampai segitunya menyelidiki soal Aizawa? Bukannya tadi kamu bilang hari ini libur hari Minggu setelah sekian lama karena mau kencan sama Momo-shi?"

Renjo terdiam sejenak dan terus berjalan. Akhirnya, seolah tidak tahan karena Koishi terus menyikut bahunya, ia berkata:

"Soal kencan itu... sebenarnya bohong."

Lagipula, sosok pacar bernama Momo itu sendiri adalah fiktif. Renjo mengarangnya agar lebih mudah mencari alasan saat ia butuh libur untuk syuting atau mengedit video saluran Aizawa miliknya.

"Kenapa harus bohong segala?"

Renjo memasang wajah seolah berat untuk mengatakannya, lalu memberikan pengantar, "Sebenarnya ini agak memalukan untuk diucapkan, tapi..."

"Bukankah sebentar lagi hari peringatan pembukaan kantor detektif kita? Aku ingin memberikan hadiah yang berkesan untuk Koishi-san, jadi aku mencoba menyelidiki identitas asli Aizawa."

Aku menuturkan kebohongan yang baru kurangkai dalam beberapa menit ini dengan penuh percaya diri.

Koishi menghentikan langkahnya, lalu menyilangkan tangan di depan dada.

"Aku jadi agak terharu. Renjo-kun, ternyata kamu punya sisi romantis yang nggak terduga, ya. Apa aku perlu naikkan gajimu?"

"Kita mana punya anggaran untuk itu."

"Terus, apa kamu berhasil tahu identitas asli Aizawa?"

Sambil mengesampingkan rasa bersalah dan canggung ke sudut hatiku, aku menjawab,

"Tidak, sepertinya Nito-san juga hanya pernah bicara urusan formal lewat panggilan suara saat kolaborasi besar-besaran dulu. Dia nggak tahu identitas aslinya. Katanya mereka bahkan belum pernah bertemu secara luring. Jadi, kedatanganku sia-sia."

"Yah, sayang banget."

Koishi sengaja menunduk dan berakting kecewa. Aku jadi membayangkan, reaksi seperti apa yang akan ia berikan jika aku jujur bahwa akulah Aizawa? Apakah ia akan marah karena aku merahasiakannya begitu lama, atau ia akan merasa kecewa? Apa pun itu, kurasa tidak akan berakhir baik.

Aku menggumamkan kata maaf pelan, lalu segera mengalihkan pembicaraan dengan bertanya.

"Koishi-san sendiri, kenapa tadi datang ke tempat Nito-san? Dan lagi, kenapa tadi langsung pulang begitu sampai? Apa nggak apa-apa?"

Aku menoleh ke arah Koishi, dan saat itulah aku baru menyadari bahwa wajahnya tampak sangat pucat. Kulitnya yang memang cerah kini terlihat pasi dan tidak sehat.

"Tunggu, Koishi-san, kau nggak apa-apa? Perlu kupanggilkan taksi?"

"Tidak apa-apa. Ayo cepat naik bus dan pergi ke stasiun. Aku ingin pergi ke tempat yang ramai."

Koishi terus berjalan, jadi aku pun mengikutinya dari belakang.

Saat halte bus mulai terlihat dan pejalan kaki mulai ramai, Koishi akhirnya membuka suara.

"Orang itu, sepertinya teman seangkatanku saat SMA."

"Tapi aku tidak terlalu ingat sih," ucapnya sambil tertawa kecil, lalu ia menunduk menatap dadanya sendiri.

"Sebelum pintu depan terbuka, tidak ada panah yang menjulur ke arahku. Tapi begitu aku masuk dan mata kami bertemu, panah itu tiba-tiba muncul seketika. Rasanya kakiku sampai mau lemas."

Bagi Koishi yang bisa melihat keberadaan perasaan cinta dalam bentuk panah visual, emosi tersebut terasa seperti busur yang sudah ditarik kencang. Rasanya seperti ada anak panah yang siap dilepaskan kapan saja dan ditodongkan tepat ke arah dadanya.

"Jadi itu alasan kenapa kamu langsung ingin pulang begitu sampai?"

"Jujur saja, sekarang pun aku masih merasa mual. Memang sih, diarahkan panah cinta itu hal yang biasa bagiku, tapi kalau muncul mendadak tepat saat kami bertemu... itu rasanya menjijikkan sekali. Maksudku, aku benar-benar nggak ingat dia, dan kurasa kami nggak pernah sekelas, tapi entah kenapa aku merasa sangat mual. Indra keenamku terus-menerus memberikan sinyal bahaya."

Rasanya, ini pertama kalinya Renjo melihat Koishi menunjukkan sisi lemahnya.

Sambil terus berjalan, Renjo mengutarakan hipotesis yang sudah lama mengendap di kepalanya.

"Koishi-san, jangan-jangan 'mata' mu itu hanya bisa melihat perasaan cinta yang memang disadari oleh pemiliknya saja?"

"Maksudmu?"

"Ini cuma pendapat pribadiku, sih, tapi momen paling mendebarkan di manga shoujo adalah saat sang tokoh utama atau pasangannya menyadari perasaan cinta mereka sendiri. Dari sudut pandang orang luar, sudah jelas banget kalau mereka saling suka, tapi orangnya sendiri malah nggak sadar. Lalu, dipicu oleh suatu kejadian—biasanya rasa cemburu saat melihat orang itu akrab dengan orang lain, atau saat mereka mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan—tiba-tiba mereka sadar, wajahnya memerah, dan bumm! Itulah perkembangan cerita paling seru. Intinya, dalam urusan asmara, menyadari atau tidaknya perasaan itu adalah poin yang sangat penting."

"Duh, kamu bicara seolah-olah komik itu sumber literatur yang valid saja."

Komentar pedas yang sudah biasa Renjo dengar.

"Yah, tapi masuk akal juga, kan?"

Renjo mencoba menyelami apa yang mungkin berkecamuk di dalam benak Nito.

Reuni setelah sepuluh tahun dengan gadis yang dulu benar-benar ia cintai. Tentu saja, seiring berjalannya waktu, perasaan cinta di masa SMA seharusnya sudah terkubur di dasar ingatan, tertutup oleh lapisan memori masa kuliah dan dunia kerja. Namun, begitu melihat sosok itu lagi setelah sepuluh tahun, seluruh lapisan emosi itu hancur berantakan, dan perasaan cinta yang sudah menjadi fosil pun bangkit kembali—bukan hal yang mustahil jika proses psikologis seperti itu terjadi di dalam diri Nito.

"Anggaplah begitu, lalu kenapa?"

"Mungkin kamu merasa jijik dan mual karena tiba-tiba ditembak oleh panah itu, tapi kalau sudut pandangnya sedikit diperjelas seperti ini, bukankah rasa mualnya jadi sedikit berkurang?"

"Ah, jadi kamu sedang mencoba menghiburku, ya?"

Suara Koishi terdengar sedikit lebih ceria, meski hanya satu nada.

"Renjo-kun, jangan-jangan kamu ini sebenarnya orang baik?"

"Di dunia ini tidak ada yang namanya 'orang baik', yang ada hanyalah sisi baik dan sisi buruk manusia."

Renjo membalas dengan meniru nada bicara Koishi yang biasanya.

"Uwah, nyebelin banget."

Meski berkata begitu, Koishi tersenyum. Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memberikan pengantar. "Kalau begitu, aku punya pertanyaan untuk Renjo-kun yang 'baik hati' ini."

"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, kan?"

Seketika, langkah Renjo pun ikut terhenti.

"Eh, ya tentu saja ada banyak. Rahasia yang kusimpan jauh lebih banyak daripada hal yang kuungkapkan."

"Bukan itu maksudku. Rahasia soal pekerjaan. Kalau kamu mau jujur sekarang, aku janji nggak bakal terlalu marah."

Nada bicaranya terdengar seperti sedang bercanda, tapi matanya tidak ikut tersenyum.

Renjo menekan rasa gejolak di pangkal tenggorokannya, lalu membalas dengan seringai ringan, mencoba bersikap sealami mungkin.

"Kamu sengaja memancingku begitu supaya aku membocorkan rahasia yang bahkan nggak kamu ketahui, kan? Nggak apa-apa kalau mau marah, jadi silakan katakan saja poin keberatannya, Koishi-san."

"Ada klien yang permintaannya nggak kamu laporkan padaku, kan?"

Tanpa basa-basi lagi. Sebuah interogasi yang langsung menusuk ke inti masalah.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Renjo baru menyadari satu fakta—selama ini ia sering melihat Koishi kesal atau mengeluh, tapi ia belum pernah melihat Koishi benar-benar marah dengan serius seperti sekarang.




Bagian 2

Butuh waktu lima puluh menit dari stasiun terdekat rumah Nito bagi Renjo dan Koishi untuk sampai kembali ke kantor. Selama perjalanan itu, Koishi terus terdiam, membuat suasana terasa sangat menyesakkan bagi Renjo.

Kantor sedang kosong saat mereka tiba. Tanpa sepatah kata pun, Koishi mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. Sekali lihat saja sudah jelas kalau amplop itu dibuka paksa dengan tangan, bukan menggunakan pisau pembuka surat.

"Ini sampai ke kantor."

Koishi memperlihatkan bagian belakang amplop itu, seolah ingin memamerkannya. Itu pasti amplop yang tadi ia tunjukkan pada Nito. Di bagian pengirim, tertera nama Amamiya Nito beserta alamat lengkapnya, termasuk nama apartemen tadi, yang dicetak di atas kertas stiker.

"Apa ini surat dari Nito-san?"

"Awalnya aku pikir begitu, makanya aku datang menemuinya untuk bertanya langsung. Tapi melihat reaksinya tadi, sepertinya Amamiya Nito nggak ada hubungannya. Kalau dipikir-pikir, siapa pun bisa memalsukan nama pengirim sesuka hati mereka, kan?"

"Apa isinya?"

Koishi membalikkan amplop itu di atas telapak tangannya dan mengeluarkan isinya. Apa yang keluar dari sana adalah separuh sesuai dugaan Renjo, dan separuhnya lagi di luar perkiraan.

Ekspresi pahit dan penuh penderitaan dari seorang siswa SMA laki-laki.

Wajah menangis seorang wanita paruh baya.

Wajah seorang wanita muda yang terdistorsi karena rasa sakit.

Selain itu, ada beberapa lembar foto lain dari ketiga orang tersebut. Isinya sama dengan gambar yang diterima Renjo melalui email, termasuk foto yang memperlihatkan luka berbentuk hati yang retak. Renjo tanpa sadar membelalakkan mata dan menatap wajah Koishi.

Koishi tampak tenang-tenang saja meski melihat luka berbentuk hati tersebut. Renjo tiba-tiba teringat saat Koishi membuntuti ayah Mio masuk ke bioskop.

—Kalau tidak tahan melihat adegan gore, mana bisa menonton film misteri.

Artinya, selama itu bukan benda asli di depan matanya, melihat darah tidak akan membuatnya pingsan atau kehilangan ingatan.

"Lihat bagian belakangnya."

Sesuai instruksi, Renjo membalikkan foto-foto itu. Di bagian tengah, tertera tulisan kaku dengan font Gothic: Isinya sama dengan yang telah dikirimkan melalui surat elektronik. Terlebih lagi, di pojok bawah ada kalimat kecil tertulis: Jika melapor,

Kalimat itu terputus di sana. Fakta bahwa kelanjutan dari kata "jika melapor," tidak dituliskan justru memberikan kesan ancaman yang jauh lebih kuat.

"Di sini tertulis kalau isinya sudah dikirim lewat email. Foto tiga orang yang ditusuk dadanya dengan luka hati retak yang jelas-jelas merupakan tindakan kriminal ini... Apa Renjo-kun, sebagai penanggung jawab urusan email, tahu sesuatu tentang ini?"

Nada bicaranya yang tenang justru menunjukkan kemarahan Koishi yang sangat jelas.

"Maafkan aku."

Renjo langsung mengambil keputusan. Jika ia terus mengulur waktu, masalah ini hanya akan merembet dan semakin membara.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa selain melalui email, kiriman itu juga sampai dalam bentuk fisik melalui pos. Ini adalah kesalahan fatal Renjo.

"Aku sempat berpikir kalau aku bisa menyelesaikannya sendirian. Itu adalah kesombonganku."

Mungkin karena pengakuan jujur dan permintaan maaf Renjo yang di luar dugaan, Koishi sempat terdiam sejenak, kehilangan kata-kata.

"Kenapa kamu mencoba menyelesaikannya sendiri? Apa kamu mau mendahuluiku, membuatku takjub sekaligus malu, lalu membalas dendam atas kekesalanmu sehari-hari padaku?"

"Benar."

Renjo sengaja mengangguk dengan lugas. Koishi langsung tampak lemas dan bahunya merosot.

"Malah diiyakan lagi. Harusnya di bagian ini kamu berusaha keras mencari alasan, tahu!"

"Kalau cari alasan, kesannya cuma bakal jadi pecundang saja."

"Sikap sok kerenmu itu justru yang pecundang! Aku ini nggak bisa pakai PC atau ponsel, jadi satu-satunya cara bagiku untuk tahu ada permintaan lewat email adalah dari laporanmu. Kamu itu adalah 'tali nyawaku'. Kalau kamu mengkhianatiku di bagian itu, aku nggak bakal bisa memercayaimu lagi. Itu sama saja dengan tindakan menendang tongkat pemandu tunanetra!"

Renjo ditegur dengan alasan yang sangat masuk akal hingga ia tanpa sadar mengalihkan pandangan dari wajah Koishi. Bagi Koishi, mengeluh pada Renjo adalah makanan sehari-hari, tapi ini adalah kali pertama ia benar-benar memberikan teguran keras.

"...Sekali lagi, aku minta maaf."

"Kalau tahu itu tindakan yang harus dimaafkan, jangan dilakukan dari awal!"

Koishi berjinjit, lalu mendaratkan sentilan dahi—tipe yang menggunakan dua tangan—ke dahi Renjo. Renjo spontan mengerang pelan.

"Tolong hentikan kekerasan yang terkesan 'ceria' ini."

"Beraninya kamu melawanku, dasar anak nakal. Kalau kamu melakukannya lagi, aku akan memberimu hukuman yang benar-benar mengerikan. Aku bakal menutup matamu, menyuruhmu memilih satu buku secara acak dari koleksiku, lalu menyiksamu dengan metode pembunuhan yang terinspirasi dari buku itu!"

Meski mengancam sampai sejauh itu, Koishi kemudian bergumam, "Ya sudahlah. Aku sudah nggak mood untuk marah lagi," dan ekspresinya tiba-tiba berubah serius. Wajah seorang detektif.

Koishi tidak lagi mengungkit kesalahan Renjo. Ia menempelkan foto-foto wajah para korban di papan tulis putih. Renjo pun mulai menjelaskan isi dari masing-masing email kepada Koishi.

  • Seorang anak laki-laki SMA.
  • Seorang wanita paruh baya.
  • Seorang gadis muda.

"Pertama-tama... apa maksud orang ini mengirimkan foto-foto begini ke kantor kita? Apa ini semacam peringatan kalau target berikutnya adalah aku?"

"Kalau memang begitu, kurasa dia akan menuliskan pesan yang menyatakan hal itu secara eksplisit..."

"Kalau begitu, apa ini tantangan? Semacam, 'coba tebak siapa pelakunya'?"

"...Rasanya mustahil menebak pelakunya hanya dengan informasi sesedikit ini."

Sejauh ini, tidak ada laporan berita mengenai kasus penusukan di daerah sekitar sini. Kemungkinan besar, para korban juga diancam agar tidak melapor ke polisi.

"Benar juga. Apa pun itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah... mencari tahu siapa sebenarnya ketiga orang ini. Kalau tidak, kita nggak bisa memulai apa pun."

"Aku setuju."

Renjo pun mengangguk mantap.

"Setidaknya aku tahu siapa korban ketiga. Dia anggota grup idola, kan?"

"Itu pun aku tahu karena membacanya di halaman Wikipedia yang kamu cetak tempo hari... Tapi dua orang lainnya sepertinya warga sipil biasa, dan aku sama sekali tidak paham apa kesamaan di antara mereka bertiga. Karena motif pelakunya tidak terbaca sama sekali, aku pun tidak bisa memprediksi siapa korban berikutnya—"

Kata-kata Koishi terhenti di sana. Saat Renjo mengangkat wajahnya, ia melihat Koishi sedang menatap lekat-lekat tumpukan novel misteri dan komik yang menggunung di hadapannya.

Baru saja Renjo hendak bertanya ada apa, Koishi tiba-tiba menarik tiga buku dari tumpukan itu dan memandanginya dengan saksama.

"Ada apa dengan ketiga buku itu?"

"Intuisi," jawab Koishi singkat. "Baru saja, ketiga buku ini memberiku sebuah intuisi."

Nada bicaranya terdengar melengking dan cepat. Koishi memejamkan matanya, seolah berusaha menekan rasa kegembiraan yang meluap. Ia menempelkan tangannya ke pipi, terus menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri. Melihat pemandangan janggal itu, Renjo hanya bisa terpaku bingung.

Koishi membuka matanya.

"Sepertinya aku sudah tahu."

"Anu... tahu soal apa?"

"Aku tahu siapa pelakunya."

Mata Koishi tidak sedang tertawa.

Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sedang bercanda, tapi juga bukan senyum kemenangan seorang detektif hebat yang baru saja menyusun kepingan teka-teki terakhir. Sebaliknya, ia tampak bimbang, seolah-olah sedang menghadapi dilema tentang apa yang harus ia lakukan.

"Eh, itu, maksudmu pelaku..."

"Iya, pelaku yang menyerang ketiga orang ini."

"Hah?" Renjo butuh waktu lebih lama untuk bisa menerima ucapan itu. "Itu... maaf, tapi rasanya agak sulit dipercaya secepat itu."

"Aku memang belum tahu apa motifnya, tapi pelakunya sudah pasti cuma satu orang."

Sebuah pernyataan yang sangat tegas.

"Eh, tunggu dulu. Memangnya apa yang kamu jadikan petunjuk sampai bisa menyimpulkan begitu?"

Meski terperangah, Renjo melontarkan pertanyaan yang paling masuk akal. Namun, Koishi sepertinya tidak mendengarkan suara Renjo sama sekali.

"Aku butuh bukti penguat. Renjo-kun... kirimkan foto korban pertama, anak laki-laki itu, ke Mio. Bagian lukanya nggak usah, cukup wajahnya saja."

"Hah?"

"Anak itu memakai lencana sekolah Hoshino, kan?"

Mendengar itu, Renjo kembali memperhatikan foto tersebut. Di bagian kerah baju sang korban, memang terlihat lencana sekolah berbentuk bintang (☆) yang terpotong sudutnya.

"Kalau intuisiku benar, Mio pasti sangat mengenal anak itu. Cepatlah. Kirim foto wajahnya saja, dan tanya apa dia mengenalnya atau tidak."

Setelah memberikan instruksi itu, Koishi berjalan ke arah ruang pertemuan sambil mengeluarkan ponsel lipatnya dan mulai menelepon. Aku bisa mendengar dia bicara dengan nada yang jauh lebih sopan dari biasanya—nada bicara yang ia gunakan khusus untuk urusan luar—tapi aku tidak bisa menangkap jelas apa isi percakapannya.

Beberapa menit kemudian, Koishi selesai menelepon dan kembali ke ruang kerja. Ia mengulas senyum tipis yang seolah-olah bertuliskan "aku dapat hasil besar".

"Tadi telepon ke mana?"

"Cuma mau tahu sedikit soal komposisi usia di penitipan anak di Kasuga."

Penitipan anak di Kasuga... Hanya ada satu orang yang terlintas di pikiranku saat mendengar nama itu.

"Maksudmu, Aika-san?"

"Ya, siapa lagi. Terus, balasan dari Mio belum ada?"

Aplikasi pesan di ponselku masih terbuka, tapi belum ada balasan yang masuk.

"Belum ada—ah, sudah dibaca (read)."

Tepat setelah aku mengatakannya, sebuah notifikasi getar muncul bersamaan dengan pesan dari Mio.

Jawaban atas pertanyaanku, "Apa kamu kenal orang ini?"

Dia mantan pacarku.

Lalu, setelah jeda singkat yang terasa ragu, muncul satu kalimat tambahan.

Apa ini ada hubungannya dengan kabar kalau mantan pacarku itu ditusuk?






Bagian 3

"Eh, kamu nggak mau memberitahuku?"

Menebak pelaku hanya dari tiga foto korban dan isi email—aku sama sekali tidak bisa membayangkan logika macam apa yang memungkinkan hal yang setara dengan puncak kemampuan detektif kursi goyang itu. Namun, pernyataan tegas Koishi dipenuhi bukan hanya oleh rasa percaya diri, melainkan keyakinan mutlak.

Koishi benar-benar sudah tahu siapa pelakunya.

Tapi, pada dasarnya insiden penusukan dengan luka berbentuk hati ini pasti ada hubungannya dengan insiden sepuluh tahun lalu. Entah deduksi macam apa yang Koishi buat, tapi selama ingatannya tentang hari itu sepuluh tahun lalu belum kembali, mustahil ada jawaban yang sempurna.

Lagipula, di tengah situasi di mana identitas para korbannya saja belum diketahui, petunjuk apa yang ia pakai untuk berdeduksi—

Koishi duduk di kursinya, membaca buku cetak yang ia ambil dari tumpukan buku. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ia akan mulai menjelaskan.

"Kalau kamu sudah tahu pelakunya, kita harus cepat bertindak."

"Yah, tunggu sebentar. Sebentar lagi panggungnya akan siap."

"Kebetulan, sih," Koishi tertawa, dan di saat yang sama, ponsel lipatnya berdering. Ia mengangkat telepon itu. Entah apakah lawannya bukan orang dari urusan pekerjaan, ia melakukan percakapan yang isinya tidak terlalu dipahami oleh Renjo selama beberapa saat, lalu meletakkan ponselnya.

Seolah tidak terjadi apa-apa, ia bergumam, "Sebelum masuk ke babak penyelesaian, paling enak membaca novel yang babak penyelesaiannya panjang," lalu ia kembali menundukkan pandangannya pada buku Meitantei no Ikenie di tangannya dan mulai membaca dalam diam.

Dengan perasaan masih mengganjal, Renjo duduk di sofa dan memikirkan isi deduksi Koishi—dan sekitar sepuluh menit berlalu tanpa ia bisa memikirkan satu hal pun, pintu ruang kerja terbuka.

Hinami, dengan pakaian mencoloknya yang biasa, masuk ke ruangan dengan wajah heran.

"Lho, bukannya hari ini kalian berdua libur?"

"Baiklah—"

Kata sambung yang sering digunakan detektif saat mulai berdeduksi—suara yang berbeda dari biasanya, membawa semacam ketegangan di udara.

Renjo, tanpa tahu deduksi tentang apa dan ditujukan kepada siapa yang akan dimulai, hanya berdiri begitu saja tanpa arti.

"Aku beritahu dulu, aku belum tahu soal motifnya (Whydunit). Aku murni hanya akan mengungkap pelakunya (Whodunit), jadi aku ingin pelaku yang kutunjuk nanti segera mengakui motif dan rincian langkah kejahatannya."

Cara bicaranya terdengar seperti sedang bercanda, tapi mata Koishi sama sekali tidak tertawa.

"Tunggu, tiba-tiba ngomongin apa, sih? Mau main detektif novel misteri lagi—"

Hinami tertawa seolah terheran-heran, tapi Koishi tidak mengendurkan ekspresi tegangnya, dan seakan ingin menunjukkan bahwa dialah sang penutur cerita di tempat ini, ia memotong pertanyaan Hinami.

"Insiden pertama terjadi di bulan Oktober."

Nada bicaranya yang perlahan dan terbata-bata—sangat berbeda dari Koishi yang biasanya—memenuhi ruangan itu dengan ketegangan. Senyum perlahan luntur dari wajah Hinami.

"Seorang siswa laki-laki dari SMA Hoshino ditusuk. Renjo-kun, fotonya."

Karena namanya dipanggil dengan sangat natural, Renjo terlambat satu ketukan untuk menyadari bahwa itu adalah sebuah instruksi. Renjo buru-buru menunjuk foto yang baru saja ia tempel di papan tulis putih.

"Insiden kedua juga terjadi di bulan Oktober. Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun, juga ditorehkan luka berbentuk hati retak yang sama di dadanya. Selanjutnya, insiden ketiga kemungkinan di bulan November. Seorang gadis idola muda, lagi-lagi ditorehkan luka berbentuk hati yang sama di dadanya."

"Apa-apaan ini... Maksudnya, mereka ditusuk? Gila, kan? Polisinya bagaimana?"

Menghadapi rentetan pertanyaan Hinami, Koishi menggelengkan kepalanya.

"Belum ada laporan ke polisi. Kemungkinan besar para korban diancam oleh pelaku agar tidak melapor. Foto-foto ini dikirim ke kantor kita lewat email dan pos, dan di sana juga tercantum larangan untuk melapor. Karena ini bukan kasus pembunuhan, mayat mereka tidak akan ditemukan, dan selama korban sendiri tidak melapor, kasus ini tidak akan terbongkar."

Pada titik itu, Koishi menepuk tangannya—plok—lalu menatap Renjo dan Hinami bergantian.

Seolah ingin mengatakan, Mulai dari sini adalah acara utamanya.

"Biar kuingatkan lagi, mari kita susun ulang detail kasusnya. Korban pertama adalah siswa laki-laki SMA Hoshino, korban kedua wanita berusia sekitar empat puluh tahun, dan korban ketiga anggota grup idola. Sekilas, tiga orang yang sepertinya sama sekali tidak memiliki hubungan ini dijadikan target kejahatan. Tentu saja, aku sempat mempertimbangkan kemungkinan kalau pelakunya punya fetish mendapat kepuasan dari menusuk orang, tidak peduli siapa targetnya, dan terus mengulangi kejahatannya secara acak. Aku pikir itu jauh lebih masuk akal. Tapi, aku menyadarinya. Ada satu kesamaan dari ketiga orang ini yang tidak bisa disadari oleh polisi maupun para korban. Sebuah kesamaan yang tidak bisa diabaikan."

"Gaya bicaramu itu apa, sih," Hinami tertawa. "Bikin penasaran aja."

"Habisnya, kalau tidak dibikin penasaran, deduksi ini terlalu sederhana sampai-sampai bisa selesai diceritakan dalam waktu kurang dari tiga menit."

Di sana Koishi sedikit mengendurkan wajahnya seolah tersenyum kecut, namun tak lama kemudian ekspresinya kembali mengeras.

"Ngomong-ngomong, Renjo-kun juga sebenarnya bisa menyadarinya kalau mau. Kamu tahu apa kesamaan tiga orang ini?"

"Eh? Nggak, aku agak... nggak paham, sih."

Saat Renjo menjawab dengan jujur, Koishi menggumamkan, "Sudah kuduga," dengan nada yang terdengar memiliki makna tersembunyi.

"Kalau begitu, aku beri petunjuk. Belakangan ini, ada tiga permintaan klien yang paling berkesan, kan. Permintaan yang lebih membekas di ingatan daripada sekadar penyelidikan perselingkuhan biasa. Kalau yang ini, bisa sebutkan?"

"...Kalau soal itu, yah."

Tanpa ragu, Renjo menyebutkannya satu per satu sambil menghitung dengan jarinya.

"Penyelidikan kelakuan pacarnya Mio-chan, penyelidikan perselingkuhan istrinya Sairo-san, lalu kasus surat ancaman Kimizuka-san."

Ketiga permintaan itu benar-benar berbeda dari kasus biasa yang hanya sekadar menggerebek lokasi perselingkuhan. Selain tiga kasus tersebut, semuanya hanya permintaan standar seperti memergoki perselingkuhan atau mencari alamat selingkuhan, dan kasus-kasus itu semuanya ditangani oleh Renjo sendirian.

"Benar, kan. Tiga orang itu, tiga kasus itu."

Plok, plok, Koishi kembali menepuk tangannya. Suara ringan itu seolah melayang di udara.

"Dengan menggunakan benang merah itu, apa kamu tidak bisa melihatnya? Kesamaan dari para korban di insiden ini."

Renjo tidak bisa membaca maksud Koishi dan semakin bingung. Apa sebenarnya yang ingin Koishi katakan?

Apa cuma aku yang tertinggal? pikirnya sambil menatap Hinami, tapi Hinami pun tampak melongo. Tak ada satu pun dari mereka yang bisa mengikuti alur pembicaraan Koishi.

Koishi menunggu sejenak, seolah sedang mencicipi keheningan di ruangan itu, lalu memberikan pengantar, "Kalau begitu, aku akan mengatakannya dengan jelas," dan mulai bicara.

"Pacar Mio, istri siri Sairo, dan istri Kimizuka. Target penyelidikan yang permintaannya kita terima dan selidiki, merekalah yang ditusuk. Itulah jawabannya."

Keheningan turun menyelimuti ruangan. Hinami mengerutkan kening dengan ekspresi cemas—sementara Renjo hanya bisa terbengong-bengong.

"Bagaimana, Renjo-kun?"

Meski pembicaraan diarahkan padanya, Renjo tidak tahu apa yang diharapkan darinya.

"Meskipun kau tanya 'bagaimana'. Memangnya apa yang ingin kau sampaikan?"

"Perlu kuulang lagi? Pacar Mio, istri siri Sairo, dan istri Kimizuka. Target yang permintaannya kita terima dan selidiki, merekalah yang ditusuk."

"Bukan, bukannya aku tidak dengar, jadi meskipun kamu ulang, aku tetap tidak mengerti."

"Habisnya, maknanya persis seperti yang kuucapkan," Koishi mengangkat bahunya.

"Kalau begitu, mari kuganti dengan kalimat yang lebih mudah dipahami. Target yang kita selidiki: pacarnya Mio adalah korban pertama. Istri siri Sairo adalah korban kedua. Dan, istri Kimizuka adalah korban ketiga. Kalau sudah dijelaskan sejelas ini, kamu paham, kan?"

"Sudah kubilang, aku tidak mengerti."

Renjo bahkan mulai merasa kesal, dan tanpa sadar nada suaranya meninggi.

"Habisnya, itu sama sekali tidak benar."

"Kalau begitu, coba sebutkan satu per satu dengan jelas, bagian mana yang sama sekali tidak benar?"

Niat Koishi untuk memancingnya memang terlihat, tapi kesimpulan apa yang menanti di ujung pancingan itu sama sekali tidak terbaca olehnya. Namun, melihat gelagat ini—Koishi bisa melihatnya.

Renjo memutuskan untuk mengikuti pancingan tersebut.

"Orang yang ada di foto ini bukan pacarnya Mio-chan, bukan istri sirinya Sairo-san, dan bukan juga istrinya Kimizuka-san, kan?"

Gata! Terdengar suara seperti ada sesuatu yang terjatuh. Suara yang seolah menunjukkan keguncangan seseorang.

Mengabaikan suara itu, Koishi menimpali,

"Benar, kan. Aku dan Renjo-kun turun langsung untuk membuntuti, makanya kita tahu hal itu. Tapi, misalnya begini... bagaimana kalau ada seseorang yang memahami isi penyelidikan kita hanya berdasarkan dokumen di atas kertas saja?"

Mendengar pertanyaan Koishi, tubuh Renjo menegang kaku.

"Mau kupersempit agar lebih mudah dipahami? Tiga orang target penyelidikan—Fuuto Machida, Aika Higure, dan Vanilla Kato. Bagaimana kalau ada seseorang yang mengimajinasikan sosok mereka setelah diam-diam mengintip dokumen tertentu?"

Sengatan listrik seakan menyambar di dalam kepala Renjo. Kata "salah paham" muncul di benaknya, merangkai kata-kata Koishi yang sebelumnya tak masuk akal menjadi satu kesatuan. Seandainya seseorang hanya mendengar garis besar dari ketiga permintaan itu, sosok target seperti apa yang akan mereka bayangkan?

"——Jadi, begitu maksudmu?"

"Akhirnya kamu paham juga. Ya, dari semua anggota di kantor ini, aku dan Renjo-kun terjun langsung dalam penyelidikan, jadi pelakunya bukan kita. Kalau dipikir-pikir, satu-satunya orang yang bisa melakukan kesalahpahaman konyol seperti ini cuma kamu, kan."

Koishi menatap gadis itu dengan tatapan dingin. "Padahal biasanya aku bakal lebih bersemangat, sambil menunjuk dan meneriakkan kalimat khas detektif," gerutu Koishi sebelum melanjutkan ucapannya.

"Tapi kalau pelakunya orang yang kukenal, mood-ku langsung hilang——Hinami Koizumi-san. Kamu pelakunya, kan."

"Aku sama sekali nggak paham maksudmu."

Hinami menjawab dengan wajah tanpa ekspresi. "Sudah kuduga responsmu bakal begitu," Koishi tertawa kecil.

"Begitu kantor detektif menerima permintaan, kita harus menyerahkan laporan hasil penyelidikan kepada klien. Bukti-bukti seperti foto target saat keluar rumah, foto saat masuk ke hotel, foto saat keluar dari hotel, sampai foto detik-detik saat selingkuhannya masuk ke rumah target, semuanya disertakan. Kita merangkum apa saja yang dilakukan target dan selingkuhannya agar klien bisa mengkonfrontasi pasangannya atau menggunakannya sebagai bukti di pengadilan. Tentu saja Kantor Detektif Koishi juga membuat laporan seperti itu, tapi karena aku tidak bisa memakai PC, aku membuat draf tulisan tangan, lalu Renjo-kun yang akan mengetiknya dengan rapi. Kamu juga tahu soal itu, kan?"

"Terus kenapa?"

Kalau dipikir-pikir, Renjo baru menyadari satu fakta—selama ini ia belum pernah melihat Hinami tampil tanpa ekspresi seperti itu.

Justru karena itulah, wajah datar dan suaranya yang tanpa intonasi itu terasa sangat tidak wajar.

"Bisnis semacam ini memegang informasi klien yang sangat sensitif, jadi aku selalu memastikan keamanan kita sangat ketat. Laporan yang sudah diketik rapi oleh Renjo-kun baru dicetak sesaat sebelum diserahkan kepada klien. Datanya pun tersimpan aman di dalam PC yang dilindungi kata sandi, jadi tidak ada yang bisa melihatnya sembarangan."

"Tapi, draf laporan tulis tanganku kusimpan di dalam kabinetku. Memang ada kuncinya, sih... tapi jujur saja, kalian berdua yang selalu ada di kantor pasti tahu di mana aku biasa menyimpan kunci itu, kan."

"Makanya aku tanya, terus kenapa?"

"Artinya, orang yang bisa melakukan hal itulah pelakunya."

Suara Koishi mulai sedikit memanas.

"Entah apa niatmu, tapi sepertinya si pelaku sengaja mengincar orang-orang yang menjadi target penyelidikan kita. Makanya kamu mengintip draf laporanku, lalu bermodalkan informasi dari sana, kamu mencari target dan menyerangnya. Di situlah tragedi ini terjadi."

"Makanya, nggak usah bertele-tele pakai kalimat ambigu begitu. Kalau ada yang mau kamu sampaikan, katakan saja langsung."

"Pacar Mio yang kita selidiki itu, bukan anak SMA."

Koishi berkata perlahan, seolah ingin memastikan ekspresi Hinami.

"Pacar Mio adalah Machida Fuuto—guru kepala angkatan yang berusia empat puluh delapan tahun."

Setelah jeda sejenak, wajah tanpa ekspresi Hinami runtuh. Mulut dan matanya terbuka lebar hingga batas maksimal, dan suara melengking "Haa?!" bergema di dalam kantor.

Reaksi itu bisa dibilang sama artinya dengan sebuah pengakuan.

"Di draf tulisan tanganku, aku tidak menuliskan nama spesifik dari target penyelidikan. Semuanya memakai nama sandi—aku hanya menulisnya sebagai 'Target Penyelidikan Kelinci'. Makanya, kamu nggak bisa mengidentifikasi mereka dari namanya."

"Aku juga menulis memo percakapan selama penyelidikan di dalam draf itu. Soal klub bisbol, pemandangan saat mereka pulang sekolah bersama, atau saat mereka patungan bayar makan di restoran keluarga... Kamu membaca deskripsi-deskripsi semacam itu, lalu berasumsi sendiri kalau 'pacar Mio adalah murid dari SMA yang sama'."

Meski bibirnya bergetar hebat, Hinami tetap mendengarkan penuturan Koishi. Kemungkinan besar—sambil berdoa semoga ada yang salah dari penuturan tersebut.

Namun, penuturan Koishi mengalir lancar tanpa hambatan.

"Mio sepertinya hanya bisa menyukai pria yang lebih tua. Dia pernah pacaran sekali dengan anak laki-laki teman sekelasnya yang seumuran, tapi katanya dia merasa tidak puas dan langsung putus."

"...Tunggu, itu aneh banget, kan. Guru kepala angkatan umur 48 tahun? Itu kriminal, tahu. Kalau melihat orang macam itu dan siswi SMA pulang bareng, harusnya kalian lapor polisi, dong."

Hinami tidak lagi berusaha menutupi sikap aslinya, ia mengatakan hal itu dengan nada seolah meludahkannya.

"Soal itu kami juga cukup dilema... Tapi Mio sudah berusia delapan belas tahun, jadi secara hukum dia sudah dewasa. Menurut pengakuannya sendiri, hubungan mereka itu platonik dan tidak pernah lebih dari sekadar ciuman, orang tuanya juga tahu soal hubungannya dengan Fuuto, jadi kami menilai kalau kami tidak punya hak untuk ikut campur. Meski begitu, aku dan Renjo-kun sudah beberapa kali memastikannya langsung pada Mio, apakah dia mendapat ancaman atau sedang di-grooming."

Renjo kembali teringat pada pemandangan saat ia membuntuti mereka. Kencan di mana Mio menunggu tugas Machida Fuuto selesai—termasuk menjadi pembina klub bisbol, latihan wawancara untuk ujian masuk jalur rekomendasi, dan mengoreksi tugas—lalu mereka berdua pulang bersama dan mampir ke restoran keluarga. Dalam suara Mio saat memanggil nama Fuuto, tidak ada celah sedikit pun untuk memikirkan kata-kata seperti papa-katsu atau prostitusi; suara itu tanpa keraguan sedikit pun dipenuhi oleh perasaan cinta yang tulus terhadap Machida Fuuto.

"Pokoknya, mengesampingkan soal benar atau salah secara moral, faktanya pacar Mio adalah guru kepala angkatan. Tapi, kamu kemungkinan besar mencari tahu soal 'anak laki-laki yang pernah pacaran dengan Mio', dan akhirnya menemukan siswa laki-laki dari klub bisbol yang dulu pernah pacaran sebentar dengan Mio... Manzange-kun. Kamu salah paham dan mengira siswa laki-laki inilah yang menjadi target penyelidikan kita, lalu menyerangnya. Benar, kan?"

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, wajah Hinami berkerut dan ia bergumam dengan suara serak, "Lalu, bagaimana dengan pengasuh anak itu..."

"Ya, mari kita pindah ke kasus kedua. Kasus di mana Higure Sairo meminta kita menyelidiki perselingkuhan istri sirinya. Wanita yang dadanya kamu lukai itu memang berusia sekitar 40-an, umurnya juga tidak jauh beda dengan istri siri Sairo. Tapi ini juga salah paham. Target penyelidikan yang Sairo minta adalah wanita bernama Higure Aika."

"...Higure Aika?"

Hinami mengulanginya seolah ingin memastikan bunyi nama tersebut.

"Itu kan—"

"Benar. Higure Aika adalah adik kembar Sairo."

Hinami membuka mulutnya lebar-lebar, jelas-jelas kehabisan kata-kata.

"Aku baru sadar, kalau huruf pertama dari nama Sairo dan Aika digabungkan, jadinya 'Saiai' (Cinta Terbesar). Mungkin orang tua mereka menyadarinya dan memberikan nama itu dengan penuh makna."

Koishi bertanya seolah itu murni sebuah pencerahan, tapi wajah Hinami menunjukkan ketidakpercayaan mutlak.

"Nggak, itu aneh banget, kan—"

"Tidak ada yang aneh, kan."

Koishi tiba-tiba mengencangkan ekspresinya dan berkata seolah sedang menghakimi.

"Mereka berdua memang menjalin hubungan asmara, tapi di saat yang sama juga memiliki ikatan darah. Karena mereka saudara kembar, mereka tidak bisa menikah. Makanya aku menggunakan istilah istri siri. Sesederhana itu."

Hinami menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Jatuh cinta sesama saudara kandung itu mana mungkin ada. Itu aneh."

"Bagi dirimu, mungkin memang begitu."

"Ini bukan masalah pandanganku saja, kan. Kalau kita bikin survei di jalanan, aku pasti menang telak seratus persen."

"Kalau dari sudut pandangku, tindakan jatuh cinta itu sendiri sudah 'mana mungkin ada'. Aku justru nggak paham dengan jalan pikiranmu."

Dengan satu kalimat itu, Koishi tampaknya menganggap semua bantahan Hinami telah dipatahkan, lalu mengembalikan topik pembicaraan pada deduksinya.

"Dari draf laporanku yang menyebutkan 'hubungan asmara mereka dimulai sejak SMP', kamu pasti tahu kalau usianya seumuran dengan Higure Sairo. Tadi aku sudah menelepon Aika dan bertanya padanya, ternyata selain Aika, pengasuh yang berusia akhir tiga puluhan di tempat penitipan anak itu cuma ada satu orang lagi. Penitipan anak yang kecil, ya. Dari dua orang itu, kamu mencoret Aika karena dia adalah adik kembarnya, lalu menyimpulkan bahwa satu orang yang tersisa itulah istri siri Sairo, target penyelidikannya, lalu kamu menyerangnya. Benar, kan?"

Wajar saja kalau sampai salah paham. Karena mereka kembar laki-laki dan perempuan, pastilah mereka kembar dizigotik. Namun selain gaya rambut, wajah Sairo dan Aika sangat mirip. Hidung yang mancung, kelopak mata ganda yang lebar, serta alis yang tebal dan tegas—siapa pun yang melihat sekilas pasti langsung tahu kalau mereka kembar.

Hinami pernah bertemu dan berbicara dengan Sairo. Saat melihat wajah Aika, dia pasti langsung tahu kalau wanita itu adalah saudara kembar Sairo.

"Dari bagian soal Face ID, masa kamu nggak sadar? Kalau semirip itu, ponsel yang dipasangi Face ID bisa dibuka kuncinya sesuka hati, lho."

Alasan Aika tidak mengatur Face ID dan membiarkannya tidak aktif adalah karena Sairo bisa dengan mudah menembus sistem pengenalan wajah tersebut.

"Tapi, Higure Sairo bilang... ulang tahun istrinya beda sehari dengannya..."

"Ah, aku menulis itu juga, ya. Di memo itu ada kata pengantar 'sangat langka', kan? Waktu itu proses persalinannya pas melewati tengah malam, jadi kakak beradik itu punya ulang tahun yang beda satu hari. Probabilitas yang luar biasa, kan? Padahal satu hari itu ada 1440 menit, tapi ulang tahun mereka bisa terpisah tepat saat melewati jam nol."

"...Apa-apaan itu."

Warna perlahan memudar dari wajah Hinami. Tanpa memedulikan Hinami sedikit pun, Koishi terus berbicara dengan temponya sendiri.

"Terakhir, yang ketiga. Karena Kimizuka menerima surat ancaman, dia meminta kita untuk membuntuti dan mengawasi kencannya bersama sang istri. Di tengah jalan, istrinya diculik, jadi aku juga menuliskan kronologi kejadian itu di dalam draf laporan..."

"Istri Kimizuka itu kan idola bernama Vanilla, kan. Saat ini, idola selevel yang namanya masuk Wikipedia dan punya nama panggung itu cuma Vanilla Kato."

"Apa kamu nggak mencari tahu dari mana asal usul nama panggung Vanilla Kato-san itu?"

Hinami menyipitkan matanya, seolah tertusuk tepat di titik butanya.

"Nggak, itu kan sesederhana... dia mengambil namanya dari anime kesukaannya, kan. Di Wiki juga tertulis begitu."

Rupanya, Hinami sudah mengetahui asal usul nama tersebut. Koishi mengangguk,

"Benar. Sepertinya dia mengambil nama panggung itu dari tokoh utama anime Idol Kakumei Zen'zen'ya (Dua Malam Sebelum Revolusi Idola). Bahkan aku yang biasanya cuma menonton anime adaptasi novel misteri saja, sampai menonton anime itu sampai habis. Anime Haken (anime paling populer di musimnya), ya namanya? Ya wajar saja kalau ada idola muda yang mengaguminya sampai memakai nama itu sebagai nama panggung."

"Terus apa hubungannya dengan insiden ini?"

Hinami mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seolah ingin menegaskan bahwa dia tidak akan terkejut lagi dengan apa pun yang keluar selanjutnya.

Melihat sikapnya, Koishi mengangkat bahu dan berkata.

"Pasangan hidup Kimizuka itu bukan idola dengan nama panggung Vanilla Kato."

"Hah?"

"Istri Kimizuka adalah tokoh utama Idol Kakumei Zen'zen'ya, Vanilla Kato."

Hah? Alis Hinami berkerut. Alih-alih terkejut, ia terlihat seperti tidak bisa mencerna sama sekali apa maksud ucapan Koishi.

"Kalau mau lebih akurat, bisa dibilang dia adalah boneka (doll) Vanilla Kato."

"...Apaan sih, itu pasti bercanda, kan?" 

Hinami berucap dengan suara rendah yang bergetar.

"Bercanda apanya?"

Koishi menatap wajah Hinami dan balik bertanya.

"Boneka dijadikan istri... Aku tahu sih kadang ada tren lelucon macam itu, tapi..."

"Ini bukan sekadar tren atau meme. Kimizuka benar-benar sungguh-sungguh jatuh cinta pada Vanilla Kato-chan. Dia bahkan sudah menyerahkan surat pendaftaran pernikahan. Aku juga baru tahu, tapi ternyata ada layanan yang memfasilitasi pendaftaran pernikahan dengan karakter fiksi seperti itu."

"Jijik banget," Hinami meludahkan kata-kata tajam itu tanpa menyembunyikan rasa jijiknya. "Eh, tunggu dulu. Kalau begitu, waktu kalian membuntuti kencan Kimizuka itu..."

"Kimizuka masuk ke restoran Italia yang terkenal dengan daging goreng tepung ala Milan bersama Vanilla-chan, memesan porsi untuk dua orang, dan menghabiskan waktu bersama. Aku dan Renjo-kun membuntuti mereka dari belakang, berjaga-jaga kalau ada orang mencurigakan yang mendekat."

"Biar kuceritakan juga soal penculikannya, ya," lanjut Koishi.

"Awal mula hubungan mereka, Kimizuka berkenalan dengan pencipta Vanilla-chan, seorang pembuat figur bernama Monobe, lalu dia mewariskan boneka itu padanya. Boneka itu adalah karya tunggal yang dibuat dengan mencurahkan seluruh kemampuan terbaik sang pengrajin. Tapi, Monobe mengetahui kalau Kimizuka sempat gelagapan saat diinterogasi polisi waktu sedang jalan-jalan membawa Vanilla. Jadi, dia merasa kalau boneka itu memang tidak seharusnya dititipkan pada orang seperti Kimizuka."

Itulah alasan kenapa Kimizuka tidak meminta bantuan polisi meskipun boneka kesayangannya direbut. Ada trauma karena dicurigai dan diejek saat diinterogasi polisi gara-gara terlihat berjalan sambil mengobrol dengan boneka. Dan yang terpenting—karena dia tahu pelakunya adalah Monobe. Saat melihat kata "mengambil kembali" di surat ancaman itu, Kimizuka sudah tahu betul siapa pelakunya.

"Lokasi syuting atau tempat yang jadi model di anime kan sering disebut 'Tanah Suci'. Nah, batu yang menancap di tanggul Sungai Hoshino itu adalah Tanah Suci bagi Vanilla. Di dalam animenya, batu itu muncul persis seperti aslinya.

Sepertinya Monobe sudah menebak kalau Kimizuka dan Vanilla akan datang ke sana tepat di hari ulang tahun Vanilla, jadi dia sudah menyergap mereka. Lalu, saat Kimizuka meletakkan Vanilla di atas batu itu dan lengah karena mau mengambil foto, Monobe merebut Vanilla dan kabur."

"Yang benar saja. Itu kan... bukan penculikan. Itu namanya pencurian barang. Kenapa kamu malah pakai kata 'penculikan'? Penggunaan bahasanya salah, kan."

Hinami menggetarkan suaranya, seolah emosinya sudah tidak tertahankan lagi.

"Hal semacam itu, aku sama sekali nggak bisa terima. Nggak masuk akal, apa-apaan sih soal boneka itu. Ah, aku tahu. Jangan-jangan semuanya sengaja mau menipu Koi-chan, kan? Kayak semacam konten YouTuber gitu. Konten semacam, 'Apa jadinya kalau kita pura-pura jadi pasangan yang nggak normal terus minta tolong detektif swasta buat menyelidiki perselingkuhan'. Bener, kan? Tebakanku masuk akal, kan? Kalau begitu ceritanya baru nyambung—"

Hinami nyerocos dengan semangat seolah baru saja memikirkan ide yang sangat brilian, namun Koishi memotong rentetan kepanikan itu dengan sangat tegas.

"Tapi, aku bisa tahu."

Koishi menunjuk sudut matanya dengan ujung jarinya.

"Karena aku melihatnya dengan jelas. Panah perasaan cinta yang menjulur dari Mio ke Fuuto Machida, dari Masato Higure ke Aika Higure, dan dari Kimizuka ke Vanilla Kato."

Di mata Koishi, perasaan cinta itu terlihat nyata.

Tidak peduli pasangan macam apa pun mereka.

"Aku nggak tertarik dengan standar hubungan asmara klien, dan aku menerima ucapan mereka apa adanya. Kalau Mio bilang pria itu pacarnya, meskipun dia om-om guru kepala angkatan, dia tetaplah pacarnya. Kalau Sairo ingin memanggil Aika sebagai istri, bukan adik, maka aku juga akan memanggilnya Nyonya. Kalau Kimizuka memperlakukan Vanilla sebagai istri, maka aku juga mengakuinya sebagai istri. Susunan kalimat di laporanku pun sepenuhnya menyesuaikan dengan sudut pandang klien. Bagi Kimizuka, tindakan Monobe itu bukanlah pencurian barang, melainkan penculikan. Makanya, aku menuliskan kata penculikan di laporanku."

"Tentu saja, kalau dokumen itu mau dipakai buat bukti pengadilan, aku bakal ngasih penjelasan tambahan biar nggak ada kesalahpahaman. Tapi, ketiga orang ini meminta penyelidikan bukan untuk pengadilan, melainkan demi kepuasan batin dan keamanan mereka sendiri."

Hinami Koizumi sudah menyerah untuk menutupi atau berpura-pura tidak tahu. Ia hanya menutupi wajah dengan kedua tangannya dan tertunduk.

"Nggak bisa ditarik lagi, kan. Menusuk orang gara-gara salah paham."

Satu kalimat Koishi yang terasa bagai pukulan telak. Hinami menggoyangkan tubuhnya sambil mengerang tertahan.

"'Anak SMA nggak mungkin jatuh cinta pada guru berumur 48 tahun', 'Saudara kembar nggak mungkin pacaran, dan meski tinggal bareng nggak akan disebut nikah siri', 'Nggak mungkin jatuh cinta sama boneka karakter anime dan memanggilnya istri'—setiap penilainmu itu, kalau dilihat sebagai tebakan, mungkin memang masuk akal. Bicara soal probabilitas, setidaknya lebih dari 90% siswi SMA cuma pacaran dengan cowok yang beda usianya maksimal lima tahun. Lebih dari 90% anak kembar nggak menganggap saudara kembarnya sebagai objek romantis, dan orang yang menganggap boneka sebagai istri jelas jauh lebih sedikit ketimbang orang yang menganggap manusia betulan sebagai istri.

Tapi, menilai dan menghakimi orang lain berdasarkan probabilitas macam itu, bukankah itu yang namanya prasangka? Aku memang nggak punya hak buat menyuruhmu berubah atau introspeksi diri, tapi setidaknya kamu harus sadar kalau pandanganmu itu nggak objektif—terutama kamu, yang selalu kesal karena sering dipandang rendah dengan prasangka murahan cuma gara-gara penampilan gyaru-mu."

"Apaan nih, bagian nyeramahin si pelaku?"

Dengan sikap putus asa yang sembrono, Hinami menyunggingkan senyum tipis.

"Benar. Dengarkan ceramahku baik-baik. Gara-gara prasangkamu itu, kamu membuat kesalahpahaman bodoh dan menghancurkan fisik, mental, serta kehidupan tiga orang yang sama sekali nggak ada hubungannya—ini jelas-jelas sebuah dosa. Kalau kamu punya motif yang bisa meringankan hukumanmu, coba katakan."

Saat itulah, Renjo menyadari bahwa sejak tadi Koishi sama sekali belum memanggil Hinami dengan panggilan akrab "Hina-chan". Di balik penggunaan kata ganti "kamu" yang terdengar dingin itu, memancarkan emosi yang bertolak belakang dengan nada bicaranya yang santai.

Koishi benar-benar sedang menghakimi Hinami secara gamblang.

Aura kemarahan Koishi membuat siapa pun yang berdiri di depannya pasti ingin mundur. Kemarahan tulus yang dipancarkan oleh orang yang biasanya terlihat cuek, sukses membekukan suasana di ruangan itu.

"Aku sama sekali nggak tahu apa motifmu. Makanya aku sengaja membeberkan deduksiku biar bisa mendengarnya secepat mungkin dari mulutmu."

Renjo merasa seolah-olah ia menahan napas sejak tadi, lalu ia menarik napas dalam-dalam.

Hinami mencuri baca draf laporan buatan Koishi, salah mengira identitas target penyelidikan, lalu menyerang mereka—reaksi Hinami membuktikan bahwa deduksi itu tepat sasaran.

Namun—seperti yang Koishi katakan, motifnya masih belum diketahui.

Kenapa dia mengincar target penyelidikan Kantor Detektif Koishi?

Dan yang lebih penting lagi—kenapa dia memilih metode penusukan dengan luka berbentuk hati yang retak?

Berbanding terbalik dengan kelancaran deduksi Koishi, Renjo merasa kecemasan yang tak berwujud semakin kuat menyelimuti dirinya. Karena Koishi tidak mengingat kejadian sepuluh tahun lalu, tentu saja ia tidak menganggapnya sebagai sebuah misteri.

Namun, Renjo tetap tidak bisa berpikir bahwa insiden sepuluh tahun lalu itu tidak ada hubungannya.

Hinami mengembuskan napas dalam-dalam, seolah mengeluarkan seluruh udara dari dalam paru-parunya.

"Oke. Aku akan ceritakan semuanya," ucapnya dengan wajah seperti mau menangis. "Kepada orang-orang yang sudah kutusuk, aku akan meminta maaf dengan tulus. Aku benar-benar minta maaf. Dari lubuk hatiku terdalam."

"Minta maaf pun tidak akan dimaafkan, tahu. Terlebih lagi, seandainya kamu nggak salah orang pun—Fuuto Machida, Aika Higure, dan boneka Vanilla Kato, tidak ada alasan yang membenarkanmu untuk menusuk mereka, kan."

Mendengar teguran yang terlalu benar itu, Hinami berkata dengan suara tertahan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"Mengesampingkan soal boneka... baik Fuuto Machida maupun Aika Higure, mereka itu sampah yang berselingkuh padahal sudah punya pasangan, kan. Kalau orang-orang seperti itu, jangankan dibunuh, setidaknya ditusuk sedikit nggak apa-apa, kan. Begitu pikirku. Demi eksperimenku."

Kata 'eksperimen' terdengar sangat mengganjal di telinga.

"Eksperimen apa?"

Koishi melontarkan pertanyaan yang menusuk tepat ke inti motifnya.

Hinami menarik napas perlahan. Seolah telah membulatkan tekadnya.

"Eksperimen... untuk mengembalikan ingatanmu."

Renjo menahan napas. Oksigen terasa menipis.

—Hinami, tahu soal ingatan Koishi?

"Mungkin kamu cuma menganggapku sebagai staf paruh waktu yang dipekerjakan setengah tahun lalu... tapi sebenarnya, kamu sudah mengenalku sejak lama, kan."

"Nggak, aku tidak kenal tuh?"

Koishi menjawab dengan nada yang benar-benar keheranan. Berbanding terbalik dengan suara Koishi yang terdengar seolah ini bukan urusannya, jantung Renjo berdegup semakin kencang.

—Siapa, orang ini?

"Coba tebak, siapa aku?"

Kata Whodunit tanpa makna tiba-tiba terlintas di benak Renjo. Sebuah proposisi yang mempertanyakan "siapa".

"Ya Hinami Koizumi, kan. Memangnya aku harus jawab apa lagi."

"Margaku sekarang memang Koizumi, tapi sampai SMA dulu berbeda. Soalnya, orang tuaku bercerai—sama sepertimu, Koi-chan."

"Apa nih, kamu mau menyuruhku menebak margamu sebelum orang tuamu cerai?" Sikap santai mulai memudar dari wajah Koishi. Berganti dengan aura mengerikan yang tak kasat mata.

Hinami menyunggingkan senyum yang mencela diri sendiri, lalu memberi pengantar, "Yah, meskipun aku sebutkan jawabannya, kurasa kamu nggak akan ngeh, sih." Seolah ia sedang melindungi sesuatu di dalam dirinya.

"Harukaze."

Arus listrik menyambar di dalam otak Renjo.

Hinami mengerutkan wajahnya yang tertutup riasan tebal.

"Puisi 'Harukaze Amaneshi' itu ya, mau dibaca berapa kali pun aku tetap nggak bisa memahaminya, tahu."

Merasakan aura tak terduga yang dipancarkan Hinami, Koishi tampak goyah dan mundur selangkah.

"Daripada kamu yang sekarang, yang cuma baca novel misteri melulu... menurutku Teruya yang dulu, yang sering membaca kalimat-kalimat yang nggak jelas maknanya itu, jauh lebih baik, lho."







Bagian 4

"Soi Teruya."

Kata-kata meluncur dari mulut Hinami, bagai bendungan yang jebol.

"Kelas 1-F, 2-B, dan 3-B di SMA Hoshino. Jurusan IPS, klub pulang ke rumah. Makan siang selalu di kantin atau koperasi, karena orang tua tidak pernah membuatkan bekal. Selalu saja membaca buku pinjaman dari perpustakaan, karena jangankan ponsel, menonton TV saja tidak dibolehkan orang tua, dan tidak punya uang saku. Biarpun begitu kelemahanmu ada di pelajaran Bahasa Jepang, karena bawaannya ingin berantem terus sama penulisnya. Sering pura-pura sakit demi bolos pelajaran olahraga, karena kamu membencinya. Tidak akrab dengan cowok maupun cewek, tapi sebenarnya diam-diam ingin bisa berteman akrab, karena sebelumnya jarang berinteraksi dalam dengan orang lain. Kadang-kadang tanganmu kotor kehitaman, karena sepedamu sudah butut dan rantainya sering lepas, jadi ada noda oli yang tidak mau hilang walau sudah dicuci. Sering merasa sebal kalau makan di berbagai restoran, terutama kedai ramen dan tonkatsu, karena kamu benci kubis dan daun bawang."

Rentetan kata-kata itu semakin lama semakin memanas. Dengan momentum seperti ini, sepertinya ia bisa terus-menerus menjabarkan tentang sosok gadis di depannya sampai kapan pun.

Dengan mulut setengah terbuka, Koishi hanya bisa menatap Hinami dengan tatapan kosong.

"Teruya, asal tahu saja."

Mendengar ketidakwajaran Hinami memanggil Koishi dengan marga itu, Renjo merasa janggal, seolah-olah ia tiba-tiba dilemparkan ke tengah pesta sekelompok orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun di sisi lain, entah bagaimana, panggilan itu terasa jauh lebih familier dibandingkan saat Hinami memanggilnya "Koi-chan".

Hinami sama sekali tidak melirik ke arah Renjo, ia hanya menatap lurus ke arah Koishi.

"Kamu sudah lupa, kan. Sejak hari insiden itu."

"Insiden itu, maksudmu..."

Koishi mengulangi kata-kata Hinami dengan susah payah, wajahnya menunjukkan ketidakpahaman mutlak.

"Kamu nggak ingat, kan. Karena kamu sudah melupakan semua hal tentang hari itu."

Koishi terdiam seribu bahasa.

"Karena adrenalin atau kortisol memerintahkan hipokampus untuk 'Ingat ini!', normalnya stres akut itu bekerja untuk memperkuat ingatan. Tapi, sejak insiden luka hati retak sepuluh tahun lalu itu... otakmu—otak Teruya—pasti sudah memutuskan untuk melindungimu dengan cara melupakan segalanya."

Kata-kata asing itu meluncur melewati telinga Renjo begitu saja. Ia sama sekali tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Hinami.

"Melupakan sesuatu demi melindungi diri sendiri sih nggak apa-apa. Yah, nggak apa-apa juga sih, kalau memang tubuhmu bereaksi seperti itu, mau bagaimana lagi. Kalau itu bisa melindungi hati Teruya, aku sangat menyambutnya. Tapi,"

Hinami mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Bukan untuk memukul, melainkan untuk menahan diri agar tidak memukul.

"Kenapa, kamu sampai melupakanku juga?"

Ekspresi wajahnya yang berusaha menahan dan menelan semua emosi yang meluap itu, menusuk dada Renjo dalam-dalam.

"Mulai dari hari setelah insiden itu, kamu benar-benar... bukan sekadar mengabaikan atau menyerangku, tapi kamu sungguh-sungguh menyapaku seolah kita baru pertama kali bertemu, seolah aku ini murid pindahan. Semua orang di sekitar kita sampai kaget. Padahal kita selalu berdua ke mana-mana. Tapi dengan Kanade-chan kamu bicara biasa saja, malah jadi lebih akrab dari sebelumnya."

"Bukan cuma itu... karena orang tuamu tidak memberikannya padamu, kamu bahkan melupakan cara memakai PC dan smartphone yang kupinjamkan dan kuajarkan padamu. Setelah itu, aku mendengar kebenaran soal insiden luka hati itu dari Kanade-chan... Kalau kamu melupakan Ichigo dan Nito, serta melupakan seluruh rentetan insiden itu, itu masih masuk akal. Tapi, kenapa aku juga ikut dilupakan dan disamakan dengan mereka? Asal kamu tahu saja ya, aku ini dulu menyukaimu, tahu?"

"Bukan sekadar rasa persahabatan, tapi benar-benar perasaan cinta," tambah Hinami dengan tegas.

Seolah sudah mengeluarkan semua yang tertahan di dadanya, Hinami menatap Koishi sambil bernapas dengan bahu yang naik-turun.

"Lalu," Renjo bersuara, berusaha keras mencari celah di tengah percakapan itu. "Lalu, kenapa hal itu bisa berujung pada kejahatan ini?"

Seolah-olah saat ini hanya dirinyalah yang bisa mengemban peran untuk berbicara dengan Hinami, Renjo memutar tubuhnya menghadap Hinami dan menuntut jawaban.

"Anggaplah salah target itu sebuah kecelakaan... tapi dari awal, kenapa kamu berpikir untuk menyerang target penyelidikan kami? Ceritamu barusan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejahatan ini, kan."

"Sudah kubilang, kan. Ini eksperimen."

Hinami menjawabnya dengan enteng. Wajahnya seolah mengatakan bahwa hal itu sangat mudah untuk dijelaskan.

"Lagi pula, di umur dua puluh tujuh ini aku bukanlah tipe orang yang gagal move on dari cinta masa SMA. Setelah sempat berpacaran dengan beberapa wanita lain lalu putus, perasaanku pada Teruya cuma tinggal kenangan belaka. Hanya saja, aku tetap tidak bisa menerimanya. Apakah hubungan kita sebegitu lemahnya sampai-sampai bisa dilupakan semudah itu?"

Suaranya begitu lirih hingga membuat siapa pun yang mendengarnya ikut merinding.

"Hanya pertanyaan itulah yang terus membekas di dalam hatiku. Setelah lulus program pascasarjana, tanpa memikirkan rencana hidup atau apa pun, aku lanjut ke program doktoral murni untuk melanjutkan penelitianku—lalu kebetulan, apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat menemukan nama Kantor Detektif Koishi? Aku datang mencoba meminta penyelidikan sambil berpikir 'mana mungkin itu dia', dan kamu nggak akan paham betapa terkejutnya aku saat melihat Teruya benar-benar muncul di hadapanku. Ah, aku yakin ini adalah takdir. Aku langsung memutuskan saat itu juga untuk mendekatimu sebagai pekerja paruh waktu dan mencari petunjuk untuk memecahkan pertanyaan itu."

Ingatan saat mewawancarai Hinami kembali muncul samar-samar di benak Renjo. 'Gaji per jamnya murah juga tidak apa-apa, yang penting aku tidak bisa bekerja di tempat selain ini', antusiasme yang kalau dipikir-pikir lagi, terasa terlalu berat dan tidak wajar untuk ditujukan pada sebuah kantor detektif biasa.

"Menurut hipotesisku, ingatan Teruya sebenarnya masih tersimpan baik di dalam otaknya. Hanya saja, dia tidak bisa memanggilnya kembali. Karena itu, dengan memberikan semacam stimulasi, aku yakin dia akan bisa mengakses kembali ingatan yang ada di sana."

"Tapi, karena Teruya pada akhirnya akan melupakannya lagi kalau diberi stimulasi yang terlalu kuat, itu tidak akan ada artinya. Makanya, aku berpikir untuk menggunakan target penyelidikan sebagai stimulasi. Teruya tidak akan pernah melupakan orang yang pernah dia buntuti, kan? Walaupun dia selalu bilang ingin menangani kasus pembunuhan atau semacamnya, pada akhirnya dia tipe orang yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaan yang sudah dia terima. Saat membuntuti, dia mempertajam konsentrasinya agar tidak melewatkan satu pun gerak-gerik target, makanya ingatan itu bisa tertanam kuat. Jadi, bagaimana kalau aku menusuk target yang pastinya tidak akan dilupakan oleh Teruya, dengan cara tusukan yang paling memicu traumanya, lalu memperlihatkan 'pemandangan' itu padanya? Berawal dari pemikiran itulah, aku memulai rencana eksperimen ini. Ada orang yang ditusuk—kalau ini jadi kasus yang butuh deduksi, Teruya pasti akan menghadapinya dengan sungguh-sungguh."

"Itu gila."

Renjo bersuara dengan nada yang hampir melengking.

"Hanya demi memberikan stimulasi pada Koishi-san... dan bahkan tanpa ada jaminan kalau ingatan Koishi-san akan kembali, kamu menyerang tiga orang... Persiapan kejahatanmu ini juga memakan banyak waktu dan tenaga, ini murni tindak penganiayaan keji."

"Justru karena tidak ada jaminan, makanya disebut eksperimen, kan."

Hinami memiringkan kepalanya seolah bertanya, Apa sih yang kamu bicarakan?

"Aku tidak butuh pengertian darimu. Lagipula, aku sudah terbiasa tidak dipahami orang lain."

Hinami melanjutkan monolognya dengan nada putus asa, seakan ia sudah tidak peduli lagi pada apa pun.

"Ah, ngomong-ngomong, alasanku memakai nama Nito sebagai pengirim di amplop itu karena kupikir kalau begitu, Teruya mungkin akan pergi menemui Nito. Hanya dengan bertemu Nito saja, kemungkinan dia mengingat kejadian hari itu tidaklah nol. Terus, alasanku mengirim gambar lewat email adalah supaya kalian mengira pelakunya adalah 'orang yang menganggap Soi Koishi bisa melihat email lewat ponsel atau PC'. Walaupun ternyata itu tidak terlalu berarti, sih—"

Sampai di sana, kata-kata Hinami tertahan, namun dengan momentum seolah ingin meluapkan semuanya sekaligus, ia melanjutkan.

"Padahal kupikir itu guddo aidea, lho."

Cara bicaranya terdengar main-main, sengaja melafalkannya dengan kaku seolah sedang mengeja kata bahasa Inggris.

Gatari, terdengar suara sesuatu terjatuh. Tumpukan buku yang ada di atas meja Koishi runtuh seperti longsoran salju.

Koishi memegangi kepalanya sambil terhuyung—lalu berjongkok meringkuk menahan sakit.

 

***

 

—Mata ini, sepertinya diberikan oleh Tuhan kepadaku dengan maksud "belajarlah dengan melihat cinta".

Saat Soi Koishi masih menyandang nama Soi Teruya, dengan kata lain saat kedua orang tuanya masih terikat ikatan pernikahan. Ia terus-menerus memikirkan tentang panah yang tiba-tiba muncul di jarak pandangnya.

—Tuhan itu pada dasarnya pasti seorang penganut paham romansa.

Ia mulai bisa melihat panah cinta saat duduk di bangku kelas dua SMP. Itu adalah masa-masa di mana ia melahap literatur murni yang utamanya bertema seksualitas, meminjam tumpukan buku sosiologi dan biologi dari perpustakaan, serta menonton habis-habisan acara varietas dan siaran radio yang bertema cinta maupun perselingkuhan.

Masa-masa di mana ia menimbun pengetahuan teoretis.

Pemicu yang membuatnya mulai rakus akan pengetahuan tentang asmara—hal yang sebelumnya sama sekali tidak menarik minatnya—sangatlah sederhana: karena ayahnya berselingkuh. Itu adalah perselingkuhan pertama dari lima kejadian yang nantinya akan terungkap.

Pada masa itu, ia juga masih memiliki pandangan bahwa suami istri adalah sepasang manusia yang saling mencintai, dan anak adalah wujud nyata dari kristalisasi cinta tersebut. Bahkan, ia menganggap pemikiran itu sebagai norma yang wajar. Tentu saja ia tahu tentang eksistensi dari tindakan perselingkuhan, tapi ia sama sekali tidak pernah menyangka kalau hal itu akan menimpa keluarganya sendiri.

Saat perselingkuhan itu terungkap, wajar saja ibunya menyalahkan sang ayah, tapi mereka tidak sampai berujung pada perceraian. Memang ada alasan bahwa ibunya tidak memiliki kekuatan finansial dan kemampuan untuk menghidupi dua anak seorang diri, namun pada dasarnya, ia rasa ibunya masih mencintai dan ingin memercayai ayahnya. Manusia hanya memercayai apa yang ingin mereka percayai.

Suasana keluarga yang sebelumnya baik dan hangat, seketika berubah menjadi canggung, kaku, dan membeku. Bagaikan aliran sungai yang mengalir dengan penuh ketakutan di sepanjang tanggul yang akan jebol jika hujan deras turun sekali saja.

—Kalau ayah jatuh cinta lagi pada wanita lain, keluarga ini akan hancur.

—Kalau ibu berhenti mencintai ayah, keluarga ini akan hancur.

Satu-satunya hal yang bisa ia andalkan untuk memahami perasaan cinta hanyalah pengetahuan dari pihak luar. Melalui observasi dan literatur, ia mengumpulkan pengetahuan teoretis tentang asmara. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Mengenai fenomena "cinta" yang tidak pernah tumbuh di dalam dirinya sendiri, ia terus mengumpulkan berbagai pengalaman dan kisah, mencoba memahami dari luar bingkai mengenai bagaimana asmara dipandang secara umum.

Oleh karena itu, ketika ia mulai bisa melihat wujud panah perasaan cinta pada masa-masa itu, alih-alih merasa terkejut atau takut pada fenomena tersebut, perasaan yang pertama kali menyapanya adalah, "Syukurlah, ini sangat membantu". Ia terus-menerus mengawasi dada ayahnya, meningkatkan kewaspadaan setiap kali melihat panah baru, dan berusaha sekuat tenaga merawat kondisi mental ibunya.

Meski begitu, pada perselingkuhan yang kelima, tanggul pertahanan ibunya runtuh sepenuhnya. Emosi yang meluap ruah membutakan pandangan sang ibu, membuatnya kehilangan kewarasan dalam menilai sesuatu—dan mendorongnya pada tindakan menusuk sang ayah.

Ia tidak terlalu ingat dengan kejadian saat itu. Ia juga tidak tahu lewat cara apa masalah itu akhirnya diselesaikan. Hanya saja, sebuah pemikiran obsesif mengakar kuat di dalam hatinya: perasaan cinta adalah emosi terburuk yang mendorong manusia melakukan tindakan keji yang tidak terkendali.

Jujur saja, ingatannya seputar masa SMA sangatlah samar. Rasanya ada satu kejadian yang sangat sensasional, dan rasanya sejak saat itulah koleksi novel misterinya mulai bertambah. Ia juga merasa fenomena di mana obrolannya dengan teman-teman tiba-tiba tidak nyambung mulai sering terjadi, namun otaknya selalu menolak untuk menggali lebih dalam berbagai kejanggalan tersebut.

Namun.

—Guddo aidea.

Pada bunyi yang entah kenapa terasa begitu familier di telinga itu—nada yang terdengar seperti bercanda dengan sengaja menghilangkan pelafalan huruf "i" kecil (aidea)—sebuah inti ingatan bahwa 'sesuatu telah terjadi tepat setelah ia mendengar bunyi itu di masa lalu' mulai meluap dan tumpah ruah dari dasar otaknya yang paling dalam—

 

***

 

"Harukaze."

Koishi membuka matanya dan berdiri. Renjo tanpa sadar terlonjak kaget. Keringat dingin mengucur di dahi Koishi. Namun, wajahnya terlihat sangat lega.

"'Harukaze Amaneshi', aku sudah lama sekali tidak membacanya. Waktu itu, kamu—Harukaze, memperlihatkannya dari Aozora Bunko di smartphone-mu, kan."

"Teruya," Hinami memanggil nama itu.

Tidak ada ekspresi apa pun di wajah Koishi. Itu bukanlah pertanda ia tidak merasakan apa-apa, melainkan layaknya berbagai warna cat yang dicampur hingga berubah menjadi hitam legam—terlalu banyak jenis emosi yang bergejolak menjadi satu hingga akhirnya ia kehilangan ekspresi.

"Aku sudah ingat."

Wajah Hinami berkerut. Sama seperti Koishi, ia memasang wajah seperti ingin menangis, seolah tidak bisa mencerna perasaan yang campur aduk di dalam dirinya.

"Dulu aku sama sekali nggak paham dengan tren orang-orang yang mengultuskan masa remaja atau masa SMA, tapi sekarang aku sedikit mengerti. Rasanya aku justru baru menyadarinya setelah waktu berlalu. Pemandangan di ruang persiapan tata boga tempat aku mengobrolkan hal-hal sepele dengan Harukaze itu... betapa pun aku menginginkannya sekarang, aku pasti nggak akan bisa mendapatkannya lagi."

Koishi menggaruk ujung hidungnya seolah merasa malu karena telah berbicara panjang lebar terbawa suasana, lalu menambahkan kata-katanya.

"Lagian, penampilanmu terlalu gyaru, tahu. Padahal dulu kamu sama sekali nggak kayak gitu."

Hinami menatap Koishi. Dengan pandangan yang tidak fokus, seolah ia sedang melihat sosok Teruya semasa SMA berdiri di belakang Koishi yang ada di depannya saat ini.

"Teruya... benarkah? Kamu benar-benar... mengingatku—"

"Itu karena kamu menciumku."

Alis dan sudut bibir Koishi bergerak perlahan. Kelembutan menghilang dari wajahnya, berganti dengan ekspresi penuh kepahitan.

"Itulah alasannya kenapa aku jadi nggak sanggup lagi berteman dengan Harukaze. Kamu mengabaikan keinginanku dan menciumku, kan?"

Selama sedetik, Renjo gagal menangkap makna kata-kata tersebut. Ia merenungkannya di dalam kepala, seolah menelusuri maknanya. Entah ia mau atau tidak, bayangan kejadian itu muncul di benaknya.

Kepala Hinami tertunduk lemas, seolah kehilangan tenaga untuk menopangnya.

"Ada kalanya kita ngobrol di ruang persiapan tata boga, lalu aku tertidur, kan. Malam sebelumnya orang tuaku histeris sampai aku nggak bisa tidur, makanya aku minta izin buat tidur dulu sebelum pulang ke rumah. Waktu itu, kamu langsung setuju, dan aku tidur di atas kursi-kursi keras yang dijajarkan di ruang persiapan tata boga. Kurasa, aku langsung terlelap. Soalnya aku benar-benar mengantuk, apalagi hari itu ada pelajaran olahraga yang bikin capek. Tapi, mau bagaimana pun, aku tidak mungkin bisa tidur nyenyak di atas kursi keras itu. Makanya, aku langsung sadar dengan apa yang kamu lakukan. Lagipula, itu adalah kejadian pertama seumur hidupku.

Di saat yang sama sekali nggak terduga, ada embusan napas dan hawa kehadiran wajah seseorang yang mendekat... Perasaan saat tubuhmu benar-benar membeku sampai nggak bisa bergerak sama sekali, orang yang melakukannya pasti nggak akan paham, kan."

"Teruya, aku—"

"Cuma dengan mengingatnya kembali sekarang, hatiku rasanya membatu."

Koishi berkata dengan nada datar.

Seolah ia sama sekali tidak berniat mendengarkan alasan apa pun lagi darinya.

Keheningan berlanjut, jenis keheningan yang terasa semakin berat seiring berjalannya waktu.

Di tengah udara yang tegang itu, Renjo terus mengeraskan tubuhnya sampai-sampai ia merasa pusing.

"Gitu, ya... waktu itu, kamu belum tidur rupanya."

Suara ceria yang dipaksakan itu menggema dengan hampa.

"Itu pas hari kejadian itu, kan."

"Makanya, kejadian apa yang kamu maksud...?"

Koishi mengerutkan kening heran. Meskipun ingatan tentang Hinami sudah kembali, ia masih belum mengingat insiden sepuluh tahun yang lalu.

Kalau ia mengingatnya, ia pasti juga akan sadar kalau Renjo adalah Aizawa. Tanpa tahu apakah ia harus merasa lega atau tidak, Renjo hanya menahan napas, menatap tajam pandangan kedua orang itu yang saling beradu.

"...Nggak apa-apa. Ahh, padahal aku sampai menusuk dada orang biar kamu bisa mengingatku. Padahal tanpa perlu melakukan hal seperti itu pun, cuma dengan ngobrol begini saja kamu udah ingat. Lagian, alasan kamu melupakanku—ternyata cuma karma dari perbuatanku sendiri."

Hinami terkulai lemas, jatuh terduduk di tempatnya.

"Harusnya aku nggak ngelakuin ini. Sialan."

Sebuah keluh kesah yang diembuskan seolah mengeluarkan seluruh udara dari dasar paru-parunya. Di titik itu, seakan sudah menceritakan semuanya, mereka berdua terdiam.

Saat itulah, Renjo merasakan kecemasan yang tak terlukiskan mulai menyebar di dalam dadanya.

Otaknya sempat berhenti berpikir karena kewalahan menerima terlalu banyak informasi—tapi, apa kasus ini akan selesai begitu saja dengan menyerahkan Hinami ke polisi?

Mio, dan perbedaan usia.

Sairo, dan anak kembar.

Kimizuka, dan boneka.

Saat mencoba kembali berfokus hanya pada tiga kata kunci ini—ada terlalu banyak kecocokan dengan insiden sepuluh tahun lalu. Fakta bahwa Nito memiliki hubungan dengan Yukimura, guru yang berusia empat puluhan. Saudara kembar, Ichigo dan Nito. Boneka yang tergeletak di ruang persiapan perpustakaan.

Lagi pula, kata kunci "perbedaan usia", "anak kembar", dan "boneka" ini sangat bergantung pada orang-orang yang datang meminta bantuan ke Kantor Detektif Koishi. Ini bukanlah elemen yang bisa dikendalikan oleh Hinami.

Tapi, kalau disebut kebetulan, ini terlalu persis dengan insiden sepuluh tahun lalu—

Di saat itulah, ponsel Renjo bergetar. Sarafnya yang sudah menegang bereaksi terlampau peka. Secara refleks ia mengambil ponselnya, dan notifikasi pesan dari Mio muncul di layar. Ia segera membukanya.

Manzange-kun curhat ke aku kalau dadanya ditusuk. Dia bilang jangan kasih tahu siapa-siapa, tapi aku cerita ke pacarku. Habisnya, pacarku yang sekarang ini cowok paling muda kedua yang pernah pacaran sama aku, tapi dia bisa diandalkan, sih—

Melihat pesan yang menyusul setelahnya, Renjo tidak memercayai matanya.

Dan di saat yang sama, ia merasa semuanya telah terhubung.

"Hinami-san, jangan-jangan—"

Namun, Renjo tidak sempat menyelesaikan pertanyaannya. Di telinga Hinami, pertanyaan Renjo sudah tidak terdengar lagi.

"Aku sudah mengirim tiga surat, dan pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan kalau luka berbentuk hati sekalipun, kalau cuma lewat foto tidak ada artinya."

Hinami, dengan sikap sealami seolah sedang mengeluarkan tas makeup, berkata,

"Jadi, kupikir pada akhirnya aku harus memperlihatkan wujud aslinya, makanya aku sudah menyiapkan luka untuk diriku sendiri."

Ia mengayunkan pisau yang baru saja ia keluarkan dari tasnya ke arah dadanya sendiri. Gerakan yang terlalu natural, bagaikan membawa cangkir ke mulut. Jeritan Koishi terdengar terlambat satu ketukan. Terlambat satu ketukan lagi, Renjo mendengar raungan menyembur dari mulutnya sendiri seolah itu adalah suara orang lain. Bersamaan dengan suara teriakan itu, pintu ruang kerja terbuka dengan paksa seolah ditendang, dan sebuah bayangan hitam menerobos masuk.

Pisau yang diayunkan Hinami, sebelum sempat merobek serat blus dan pakaian dalamnya untuk mengekspos dadanya, terpental oleh hantaman tubuh si penerobos yang mengerahkan seluruh berat badannya.

Seolah menutupi erangan Hinami yang ditindih dengan kasar ke lantai, suara yang membacakan waktu dengan datar terdengar tumpang tindih dengan bunyi borgol yang dikunci.

"...Penyelamatan yang luar biasa."

Koishi berkata demikian, seolah melemparkan kata-kata itu ke dalam keheningan.

"Aku memang datang untuk mendengar pujian itu."

Kataya yang mengenakan setelan jas tersenyum memamerkan gigi putihnya. Akibat berontakan Hinami yang mencoba melawan saat diborgol, sebuah smartphone yang layarnya menampilkan tulisan 'Koishi-chan - Sedang dalam panggilan' jatuh dari saku belakang celana Kataya.

 

***

 

Setelah mendampingi penyerahan Hinami dan melewati proses interogasi yang memakan waktu sangat panjang, waktu sudah menunjukkan lewat pukul dua puluh dua saat mereka kembali ke kantor. Keluar dari kantor polisi, mereka tidak punya selera untuk mampir ke tempat makan, jadi saat Renjo mengusulkan, "Mau kembali ke kantor dulu?", Koishi tidak memberikan penolakan. Mereka berdua pun kembali ke kantor dengan kesadaran yang setengah mengawang akibat kelelahan.

Begitu tiba di kantor, mungkin karena ketegangannya sudah mereda, Koishi langsung merebahkan diri di sofa. Renjo pun duduk di kursinya, menyandarkan seluruh berat badannya ke sandaran. Otot-otot di sekujur tubuhnya terasa kaku dan menegang.

Selama beberapa saat, keheningan yang memberikan tekanan pada siapa pun yang akan bersuara pertama kali terus berlanjut. Namun kemudian, bersamaan dengan sebuah embusan napas panjang, Koishi bergumam.

"Memang benar sih, cerita soal ibuku yang menorehkan luka berbentuk hati retak di dada ayahku... cuma pernah kuceritakan pada Harukaze... pada Hina-chan saja."

"Eh?" Karena merasa apa pun yang diucapkannya hanya akan membongkar rahasianya, Renjo hanya bisa melontarkan kata seru itu dan kembali terdiam. Seolah didorong oleh keheningan, Koishi mulai berbicara perlahan.

"Ibuku, karena kelewat marah dengan perselingkuhan ayahku, dia menusuk ayah. Makanya Hina-chan pasti berpikir kalau luka berbentuk hati itu bakal jadi stimulasi terbesar buatku."

Koishi mengangguk pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.

Sebenarnya bukan cuma itu, alasan Hinami pasti juga didasari oleh insiden sepuluh tahun lalu, tapi sepertinya Koishi masih benar-benar melupakan hal yang berkaitan dengan satu dekade silam itu. Termasuk tentang Renjo—tentang sosok Aizawa.

"Untuk sekarang, mari kita berhenti berpikir keras."

Setelah bimbang, Renjo memilih kata-kata itu untuk mengalihkan pembicaraan.

"Perut kita sudah lapar, kan. Apa hari ini kita langsung pulang saja?"

"Eh, kalau begitu ceritanya, bukannya lebih baik tadi kita tidak usah kembali ke kantor dan langsung pulang ke rumah saja? Setidaknya kita bisa mampir ke restoran keluarga dulu, atau beli sesuatu di minimarket."

Mendengar argumen masuk akal dari Koishi, Renjo mengangkat bahunya.

"Tapi, kita butuh jeda sebentar untuk bernapas, kan? Kalau saat ini harus langsung sendirian di rumah, rasanya bakal memikirkan macam-macam sampai tidak bisa tidur."

"Apaan sih." Koishi seketika menegakkan tubuhnya. "Itu terdengar seolah kamu bilang, 'aku masih pengen berduaan lebih lama sama kamu', tahu?"

Biasanya, Renjo akan membalas dengan ringan seperti, "Itu cuma kekhawatiran berlebihanmu," atau "Tolong jangan salah paham." Namun kali ini, tekad Renjo sudah bulat. Terdengar bunyi decit saat ia menarik kursinya dan berdiri.

"Kupikir hari ini kamu sudah terlalu lelah karena banyak hal yang terjadi, jadi besok saja."

Sebisa mungkin, dengan suara yang tulus—dan menyiratkan nada yang manis.

"Besok, ada hal yang ingin kusampaikan padamu. Bisakah kamu datang ke kantor jam sembilan pagi?"

"Eh, apaan nih. Jangan-jangan, akhirnya kamu mau menyatakan cinta?"

"Benar."

Tanpa terpancing oleh nada bicara Koishi yang bercanda, Renjo menjawab dengan ekspresi yang sangat serius.

"Izinkan aku membuat pengakuan."




Bagian 5

Waktu yang ditentukan untuk Koishi semakin dekat. Pukul sembilan pagi, hampir satu jam lebih awal dari waktu Koishi biasanya tiba di kantor. Sambil berpikir apakah ada orang yang menyatakan cinta sepagi ini, Renjo menepuk pipinya—plak—seolah ingin meneguhkan hatinya. Karena ia memakai baju kebesaran yang biasanya tidak pernah ia pakai, ujung lengannya bergoyang melambai.

Saat itulah, interkom berbunyi. Deg, jantungnya berdegup lebih kencang. Prediksinya, kemungkinan orang itu datang atau tidak adalah lima puluh banding lima puluh. Renjo menekan tombol jawab pada interkom dan berkata singkat, "Pintunya tidak dikunci."

Pintu depan terbuka, terdengar langkah kaki menyusuri lorong, lalu pintu ruang kerja terbuka.

"Yo, kemarin benar-benar hari yang berat ya, Renjo-chan."

Yang muncul adalah Kataya. Ia tidak memakai pakaian olahraga seperti biasanya, melainkan tampil rapi dengan kemeja dan jaket. Kesan penampilannya yang biasanya selalu terlihat santai dan malas terlalu kuat, sehingga hanya dengan memakai jaket saja ia sudah terlihat sangat menawan.

Sambil melihat-lihat sekeliling ruang kerja, Kataya duduk dengan mantap di sofa tepat di seberang Renjo. Seolah menunjukkan niatnya bahwa ia akan diam di sana untuk waktu yang lama.

"Lho, Koishi-chan nggak ada? Kebetulan kemarin aku habis dengar macam-macam di 'kantor' polisi, jadi aku datang buat ngasih tahu. Kalian penasaran kan, soal tersangka Hinami?"

"Baiklah."

Berbanding terbalik dengan Kataya yang berbicara dengan nada riang, Renjo menimpali dengan nada suara yang sebisa mungkin dibuat datar tanpa intonasi.

"Pertama-tama, biar kuberitahu, Koishi-san tidak akan datang."

Ekspresi ceria Kataya langsung membeku.

"Koishi-san itu, kalau tidak ada kasus, selalu datang kerja sesuka hati seperti jam kerja bos. Paling cepat jam sepuluh, dan rata-rata baru datang ke kantor jam sebelas. Kataya-san juga tahu, kan. Dulu pernah sekali kamu datang pagi-pagi dan ngedumel karena cuma ada aku di sini. Terus... ngapain kamu datang jam segini?"

Senyum Kataya runtuh. Tatapan matanya yang seolah sedang menilai, menusuk tajam ke arah Renjo.

"Kamu mendengar apa yang kukatakan pada Koishi-san kemarin, kan?"

Tak mau kalah, tanpa menatap tajam maupun gentar, Renjo menyatakan hal itu dengan datar.

"Kamu datang untuk mengganggu karena mengira aku akan menyatakan cinta pada Koishi-san, kan? Karena, Kataya-san menyukai Koishi-san."

"Eh, apaan nih. Renjo-chan mau nembak? Ke Koishi-chan?"

Reaksi yang sangat dibuat-buat. Terlihat jelas kalau dia tidak berniat untuk benar-benar pura-pura bodoh. Renjo memberikan pengantar, "Aku sudah mengirim pesan singkat ke Koishi-san untuk membatalkan janji hari ini," lalu mulai berbicara.

"Kemarin aku tiba-tiba ingat, pernah ada kalanya Kataya-san mengucapkan frasa 'Love Takenoko'. Waktu itu aku mengabaikannya, tapi tetap terasa janggal. Karena itu frasa yang cuma diucapkan Koishi-san."

"Itu kan cuma berarti aku dan Koishi-chan punya kepekaan metafora yang sama."

"Alat penyadapnya sudah kutemukan. Tipe yang disamarkan jadi kabel ekstensi stopkontak di bawah meja. Dilihat dari tumpukan debunya, itu bukan benda yang baru dipasang beberapa hari terakhir. Setengah tahun, atau mungkin setahun... kamu sudah menyadap kami cukup lama, kan."

Kataya tersenyum menyeringai.

"Terus, dengan menjebak dan memanggilku ke sini, apa maumu?"

"Ada pertanyaan," Renjo menatap Kataya lurus-lurus. "Aku menyuruhmu datang ke sini untuk melontarkan pertanyaan di tempat yang tidak ada Koishi-san."

"Pertanyaan macam apa pun akan kujawab. Mau seratus pertanyaan pun kuterima."

"Waktu itu juga, kamu menyadapnya, kan? Sekalian merekam diam-diam juga."

Ekspresi seketika lenyap dari wajah Kataya. Dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyembunyikan fakta kalau semua senyumannya selama ini hanyalah buatan semata.

"Bicara apa ini?"

Kali ini Kataya memasang wajah dan suara tanpa emosi.

"Sepuluh tahun lalu, yang memanipulasi Ichigo-san dan Nito-san, lalu yang kali ini memanipulasi Hinami-san—Kataya-san, itu dirimu, kan?"

Mengucapkan kalimat layaknya detektif itu, Renjo merasakan ketakutan yang membuat bulu kuduk merinding. Ia paling takut kalau ini akan menjadi tindakan yang hanya melukai seseorang, sama seperti sepuluh tahun lalu.

Karena itulah, ia menyiapkan panggung tanpa kehadiran Koishi.

"Memanipulasi gimana, mereka bukan boneka kok. Ups, kalau nyebut boneka jadi makin ribet, ya."

Senyum kecut yang terdengar sengaja dibuat-buat dan tak bertenaga. Melihat Renjo tidak bereaksi, Kataya mengangkat bahu dengan santai.

"Yah, aku dengarkan dulu deh."

"Pertama, premis besarnya—aku tahu kalau Kataya-san menyimpan perasaan cinta pada Koishi-san. Aku akan melanjutkannya dengan premis itu."

Dasar dari argumen itu sebenarnya adalah 'mata' Koishi, tapi agar tidak dicecar macam-macam, Renjo memperkuat dorongan bicaranya.

"Kataya-san, kamu alumni SMA Hoshino, kan. Katanya waktu SMA kamu ikut klub teater—kamu jago special makeup, kan?"

Alis Kataya sedikit terangkat.

"Karena ini juga mengandung banyak tebakanku, kuharap kamu mendengarkan garis besarnya saja... Kemungkinan alurnya begini, kan?

Pertama, kamu dicurhati oleh Nito-san, yang saat itu adalah adik kelasmu, bahwa dia menyukai Teruya-san—Koishi-san. Lalu, agar Koishi-san dan Nito-san tidak akan pernah bisa bersatu, kamu mengusulkan rencana bertukar posisi yang paling rendah dan terburuk itu. Kamu membisikkan hal semacam, 'Torehkan luka bentuk hati retak di dada sebagai bukti pertukaran. Teruya pernah baca novel di mana tokoh utamanya menyatakan cinta pakai cara begitu, jadi perasaanmu pasti bakal tersampaikan'."

.Lagipula, Nito-san dan Ichigo-san yang percaya begitu saja juga tidak waras, sih.

"Kamu tahu kalau 'luka berbentuk hati retak di dada' adalah eksistensi yang paling dibenci oleh Koishi-san. Alasannya—karena kamu selalu menguping obrolan Koishi-san dan Hinami-san di ruang persiapan tata boga. Makanya, cerita yang seharusnya hanya diceritakan Koishi-san kepada Hinami-san—fakta bahwa ibu Koishi-san menorehkan luka hati retak pada ayahnya, kamu mengetahuinya. Mungkin saat itu kamu tidak memakai alat penyadap, melainkan sekadar menguping dari lorong."

"Hoo."

Kataya menyelipkan tanggapan ringan yang tidak ada unsur keseriusannya sama sekali.

"Pada akhirnya, tujuanmu tercapai. Gara-gara insiden itu, alih-alih pada Nito-san, Koishi-san justru jadi punya keengganan pada perasaan cinta itu sendiri. Koishi-san jadi tidak akan pernah menjadi kekasih siapa pun."

"Pemikiranmu menarik juga, ya."

"Sama sekali tidak ada yang menarik."

Sambil berbicara, rasa tidak nyaman layaknya air yang dipaksa masuk ke dalam hidung, menggores-gores dadanya dengan kasar.

Orang yang telah menorehkan luka dalam di hati Koishi, kini ada di depan matanya.

Hanya dengan fakta itu saja, kondisinya sama sekali tidak bisa dibilang tenang untuk membeberkan deduksi dengan santai.

"Perbedaan usia, anak kembar, boneka—adanya tiga elemen yang tumpang tindih dengan insiden itu, tidak mungkin cuma kebetulan. Saat aku sedang memikirkan bahwa pasti ada pihak dari sepuluh tahun lalu yang terlibat, pesan ini datang, dan tiba-tiba aku mendapat pencerahan."

Renjo mengeluarkan iPhone-nya, lalu membacakan dengan suara lantang isi pesan yang ia tukar dengan Mio kemarin, tanpa melewatkan satu kata pun.

"'Manzange-kun curhat ke aku kalau dadanya ditusuk. Dia bilang jangan kasih tahu siapa-siapa, tapi aku cerita ke pacarku. Habisnya, pacarku yang sekarang ini cowok paling muda kedua yang pernah pacaran sama aku, tapi dia bisa diandalkan, sih... pacarku itu polisi di Divisi Keamanan Kehidupan.'"

"Oi, oi, polisi yang pacaran sama anak SMA itu hukumannya nggak bakal cuma pemecatan lho."

Kataya melontarkan candaan ringan. Renjo tahu kalau dia sengaja melakukannya, dan rasanya jengkel karena seolah sedang dipancing, tapi karena tidak ada pilihan selain membalasnya, ia pun melakukannya.

"Kenapa kamu bisa berpikir kalau itu pesan dari anak SMA? Aku tidak pernah bilang satu patah kata pun kalau itu pesan dari anak SMA, lho."

"Wah, aku kena skakmat nih, Pak Detektif."

Dengan lagak bercanda, Kataya mengangkat kedua tangannya.

Renjo tidak terpancing oleh sandiwara murahan itu, dan terus berbicara dengan datar.

"Isi permintaan Mio-chan, isi permintaan Toru-san—ayah Mio-chan—juga isi laporan dari kami, semuanya bisa didengar oleh Kataya-san. Karena kamu tahu kalau Fuuto Machida berselingkuh, kamu bisa menebak kalau Mio-chan pasti sudah putus dengannya. Mengikuti firasat bahwa sesuatu mungkin akan terjadi, kamu masuk ke klub Mölkky tempat Mio-chan bergabung."

Fiuu, Kataya bersiul pelan.

"Tepat pada saat itu, insiden pertama terjadi—Hinami-san menusuk mantan pacar Mio-chan, Manzange-kun. Mio-chan dicurhati olehnya, dan pada saat itu kebetulan dia berkonsultasi pada polisi yang baru bergabung dengan klub, yaitu Kataya-san. Kataya-san pasti sangat terkejut—luka berbentuk hati retak, tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan insiden sepuluh tahun lalu itu. Merasa ada sesuatu, demi mendapatkan informasi yang lebih detail, kamu mendekati Mio-chan yang baru saja putus dari pacarnya, memanfaatkan celah di hatinya, lalu kalian mulai berpacaran."

"Oh, sesuai dugaan, kalau urusan asmara sih memang keahlianmu, ya."

Tanggapan yang seolah mengejek.

"Masih bisa bersikap santai begitu? Biarpun kamu sudah dewasa, pacaran dengan anak SMA, setidaknya bagi seorang polisi adalah tindakan yang bisa dijatuhi sanksi indisipliner."

"Bener juga. Yah, memang sih, beda dengan Fuuto Machida, aku sudah melakukannya, jadi pandangan orang pasti bakal buruk."

Saat itu Renjo mengangkat wajahnya. Perutnya mual, itu adalah kata-kata yang tidak ingin ia dengar ulang, tetapi ia mengerahkan tekadnya dan bertanya dengan tegas.

"Kamu berhubungan intim dengannya?"

"Buat bikin orang buka hati, pada akhirnya saling pamer kulit (berhubungan fisik) sekali itu cara yang paling cepat. Jangan salah paham, ya, hatiku nggak tertuju ke bocah kayak dia, orang yang ada di pikiranku cuma satu. Mau ngapa-ngapain sama bocah SMA kek, diriku nggak bakal kotor. Anak SMA yang cuma bisa bergairah sama om-om tua karena mendambakan sosok figur ayah, buatku dia cuma sebongkah protein berwarna krem."

Mendengar cara bicara yang terang-terangan menunjukkan keburukan itu, Renjo justru menjadi tenang. Agar tidak kehilangan ritmenya, ia menarik napas dalam-dalam.

"Ungkapan yang bikin nggak habis pikir... tapi soal benar atau salahnya ucapanmu itu, sekarang tidak akan kubahas. Aku akan lanjut ke insiden kedua. Yang merekomendasikan Kantor Detektif Koishi pada Sairo-san adalah Mio-chan... tapi yang menasihati Mio-chan itu Kataya-san, kan? Mengatakan hal seperti, 'Mungkin Aika-san sering ke tempat hiburan malam khusus wanita, mending minta tolong ke tempat yang bisa nyelesaiin dengan rapi, kalau Koishi-chan sih aman', dan semacamnya. Sekalipun itu Mio-chan, kupikir agak susah dipercaya kalau dia sampai punya pengetahuan soal tempat hiburan malam wanita untuk bisa membaca gerak-gerik Aika-san."

"Hentikan deh tiruanmu yang setengah-setengah itu."

Renjo kembali menarik napas dalam-dalam.

"Selanjutnya, tentang hubunganmu dengan Hinami-san. Kamu datang ke tempat kami bertepatan dengan momen permintaan Masato-san, dan di sanalah kamu pertama kali bertemu Hinami-san, lalu menyadari bahwa dia adalah Hinami Harukaze. Aku cuma pernah bertemu Harukaze-san di masa SMA selama beberapa jam, lagipula pada dasarnya aku payah mengingat wajah orang, jadi meskipun melihat Hinami-san dengan riasan gyaru, aku tidak sadar kalau dia adalah Harukaze-san yang waktu itu—tapi Kataya-san, kamu menyadarinya, kan. Setidaknya Hinami-san tidak terlihat menyadari kehadiranmu, jadi Kataya-san secara sepihak yang mengingat wajahnya."

"Jangan ngomong seolah aku ini penguntit (stalker), dong."

Kataya menggelengkan kepala seolah merasa tersinggung.

"Kamu yang mengetahui apa yang terjadi antara Koishi-san dan Hinami-san di masa SMA, secara garis besar memahami tujuan Hinami-san—yaitu mencoba memberikan stimulasi kuat menggunakan target pengintaian untuk mengembalikan ingatan Koishi-san. Dari situ, kamu menilai bisa memanfaatkannya, dan mulai berusaha menempatkan Hinami-san di bawah kendalimu."

"Jangan ngomong hal mengerikan dengan santai begitu, dong. Menempatkan orang di bawah kendali itu nggak bisa dilakuin segampang itu, lho."

"Tentu saja, aku tidak bilang itu hal yang mudah... tapi selama ada bahan untuk memeras, aku yakin itu sangat mungkin.

Saat tepat sebelum Masato-san datang untuk meminta penyelidikan, kamu mengajak Hinami-san yang baru pertama kali kamu temui untuk pergi minum, kan—foto yang kamu perlihatkan padanya saat itu bukanlah foto kobore ikura don seperti yang kamu bilang, melainkan foto Hinami-san yang sedang mencium Koishi-san yang tertidur, kan?"

Wajah Hinami saat itu kembali terbayang di benakku. Kalau dipikir-pikir lagi, dilihat dari sudut pandang mana pun, itu sama sekali bukan wajah orang yang sedang ditunjukkan foto makanan.

"Sepuluh tahun yang lalu di hari itu, kamu diam-diam memotret momen saat Hinami-san mencium Koishi-san yang sedang tertidur, kan?"

Aku teringat kesaksian Hinami Harukaze, di hari insiden sepuluh tahun yang lalu.

—Kalau dipikir-pikir, waktu kita lagi ngobrol di ruang persiapan tata boga, rasanya ada bunyi jepretan kamera dari arah lorong, deh.

"Setelah memerasnya dengan foto ciuman itu, kamu jadi bisa mengendalikan tindakan Hinami-san. Kemungkinan besar, berkat pemerasan ini, kamu jadi lebih mudah mendapatkan informasi dari kantor kami, dan bahkan berhasil memaksanya untuk melakukan kejahatan selanjutnya."

"Hoo, hoo. Maksudnya?"

"Pada dasarnya, Hinami-san sendiri memiliki rasa bersalah karena telah menusuk orang, dan dia memaksa dirinya untuk membenarkan tindakan itu dengan logika 'orang yang berselingkuh tidak punya hak untuk protes meskipun ditusuk'. Tapi, khusus untuk kasus terakhir antara Kimizuka-san dan Vanilla-san, target pengintaiannya sama sekali tidak berselingkuh. Demi memastikan dia tetap menusuk target tersebut, ancaman dan manipulasi dari pihakmu sangatlah diperlukan."

"Yah, boneka kan memang tidak bisa selingkuh."

"Mari kita bahas kasus ketiga dari awal. Pertama, pada dasarnya Kimizuka-san adalah adik kelas Kataya-san, dan kamu juga kenal dengan Monobe-san, kan. Surat ancaman itu, yang menulisnya adalah Kataya-san, kan? Sejak awal, aku sudah merasa agak aneh kalau Monobe-san mengirimkan surat ancaman. Tidak ada tuntutan apa pun yang tertulis di sana. Kalau memang niatnya ingin menculik, harusnya dia langsung melakukannya diam-diam. Surat itu pastilah siasat Kataya-san untuk menjebak agar Kimizuka-san datang meminta penyelidikan ke Kantor Detektif Koishi."

"Ngomong apa sih, Renjo-chan. Kenyataannya Monobe memang benar-benar datang untuk menculik, kan."

Kataya mengatakan itu sambil mengangkat bahunya. Renjo menggelengkan kepala.

"Monobe-san juga, kamu manipulasi agar dia bertindak seperti itu, kan? Dari awal, kamu memang sudah kenal dengan Monobe-san. Kamu memberikan informasi seperti, 'Kimizuka memperlakukan Vanilla dengan sembarangan', atau 'saat diinterogasi polisi dia sama sekali tidak bisa bersikap tegas membela Vanilla', informasi-informasi semacam itu kamu tanamkan agar dia memiliki kesan buruk terhadap Kimizuka-san. Aku sempat bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang memberitahu Monobe-san soal keadaan Kimizuka-san saat diinterogasi polisi... tapi kalau Kataya-san yang memberitahunya, semuanya jadi masuk akal. Rencana di malam sebelum ulang tahun Vanilla-chan pun, mungkin kamu juga yang memberikan informasi dengan tingkat detail yang tinggi, seperti 'Katanya dia mau memotret di atas batu itu, lho'."

"Memangnya orang bakal langsung bertindak cuma karena itu?"

"Kalau Monobe-san langsung mengambil tindakan gara-gara hasutan itu, itu adalah skenario terbaik. Tapi seandainya dia tidak bertindak pun, permintaan dari Kimizuka-san sudah disepakati, jadi aku dan Koishi-san tetap akan membuntuti Kimizuka-san dan Vanilla-chan lalu membuat laporannya. Selama draf laporan yang bisa membuat Hinami-san salah paham itu dibuat, tidak akan ada masalah bagi Kataya-san."

Aku selesai menceritakan semuanya. Tenggorokanku terasa sangat kering, tapi entah kenapa meminum air saat ini rasanya sama saja dengan menunjukkan celah pada lawan, jadi aku menghindarinya.

Prok, prok, prok, Kataya bertepuk tangan perlahan.

"Ada detail-detail kecil yang pengen aku ralat sih, tapi garis besarnya udah pas banget. Hebat juga, Renjo-chan ternyata punya bakat jadi detektif, ya."

Melihat Kataya yang mengakuinya dengan begitu mudah, Renjo merasakan firasat buruk yang tidak diketahui asalnya.

"Untuk apa kamu melakukan semua ini?"

Renjo menuntut jawaban, seolah ingin memastikan sumber dari rasa mual tersebut.

"Lah, bukannya detektif itu harusnya berdeduksi sampai ke motif-motifnya sekalian? Coba perdengarkan deduksimu itu, Renjo-chan."

Kataya menggerakkan jarinya, seolah memanggil untuk mendekat.

"Tepat sebelum Hinami-san datang—tepat sebelum Koishi-san mulai berdeduksi, Koishi-san mendapat panggilan telepon. Itu Kataya-san, kan? Kamu menyadap percakapan kami, menyadari kalau Koishi-san sudah mengetahui kebenaran di balik insiden penusukan itu, lalu kamu menelepon dengan alasan seperti, 'Aku mau mampir ke kantor nih, ada orang nggak? Jangan pura-pura nggak ada, lho', kan? Kamu melakukannya karena kamu sudah memprediksi kalau akan terjadi semacam masalah."

Bagi Koishi sendiri, reaksi seperti apa yang akan diberikan Hinami saat ia membeberkan deduksinya adalah hal yang tidak bisa ditebak. Jadi, kemungkinan ia membiarkan sambungan telepon itu tetap terhubung dengan pemikiran bahwa akan sangat membantu jika ada polisi seperti Kataya yang bersiaga.

Alhasil, Kataya memantau kondisi di dalam kantor melalui telepon, menerobos masuk di waktu yang paling tepat, dan berhasil melumpuhkan Hinami.

"Menyelamatkan Koishi-san dengan gagah berani, lalu menjadi pahlawan bagi Koishi-san... Apa kamu ingin mewujudkan hal yang terasa seperti khayalan anak SMP macam itu?"

Renjo melemparkan pertanyaan itu dengan memasukkan sebanyak mungkin agresivitas. Kata-kata yang tajam, entah itu benar atau salah, akan memancing lawan bicara untuk angkat suara.

"Sesuatu yang cuma sebatas khayalan saat masih SMP, tapi bisa diwujudkan menjadi kenyataan... itulah yang namanya orang dewasa, tahu."

"Itu definisi orang dewasa yang tidak kuketahui."

Mengabaikan balasan Renjo, Kataya menyandarkan berat badannya pada sandaran sofa dan menengadah menatap langit-langit.

"Aku ini ya, waktu kelas dua SMA, di pertunjukan penyambutan murid baru klub teater, aku pertama kali dipercaya jadi penanggung jawab naskah. Karena anggotanya sedikit, aku juga merangkap jadi aktor dan penata artistik. Jujur saja, hasilnya kacau balau. Cuma cerita romansa biasa, semacam Romeo dan Juliet yang diganti latar anak SMA."

"Apa hubungannya?"

"Dengarkan dulu. Angkatan di atasku sempat masuk tingkat nasional, harusnya level mereka tinggi, tapi kalau naskahnya buruk, mau sekeras apa pun aktornya berusaha, hati penonton nggak bakal bisa direbut. Karena aku sendiri tampil sebagai aktor, aku bisa ngerasain banget kalau penonton sama sekali nggak masuk ke dunia yang kami buat. Tapi, justru karena itulah, di antara para penonton itu, tiba-tiba wajah Koishi-chan tertangkap oleh mataku; dia menatap dengan intens seolah-olah mau menghafal seluruh naskahku. Di atas panggung, kebetulan aku dapet peran yang ada adegan nangisnya... tapi itu bukan akting lagi, aku beneran nangis dibuatnya.

Setelah acara selesai, mungkin dia dengar dari seseorang kalau aku yang nulis naskahnya, Koishi-chan datang menemuiku buat tanya-tanya. Dia tanya apa maksudku nulis dialog itu, dan kami bicara banyak hal. Pembicaraannya melantur ke mana-mana, kami jadi semangat bahas soal penulis favorit, sampai prediksi pemenang Penghargaan Akutagawa atau Penghargaan Kishida. Sadar-sadar, mataku sudah nggak bisa lepas lagi dari Koishi-chan."

Tuturan Kataya terdengar sangat lancar dan mengalir, seolah ia sanggup terus bicara tanpa henti.

"Kalau cuma dengar bagian itu, kedengarannya seperti awal mula jatuh cinta yang biasa terjadi."

"Kenyataannya memang begitu. Bagiku, ya. Waktu musim panas kelas dua aku nembak dia, tapi ditolak mentah-mentah. Setelah itu kami nggak pernah ngobrol sepatah kata pun, bahkan waktu ketemu lagi setelah aku jadi polisi, dia bener-bener sudah lupa sama aku. Yah, lagian angkatan kami beda, dan Koishi-chan itu populer banget. Mungkin dia cuma anggap aku bagian dari kerumunan orang nggak penting yang numpang lewat. Tapi, bagiku beda."

Sebelum Renjo sempat bertanya apanya yang beda, Kataya mencondongkan tubuhnya ke depan dan berujar dengan tegas tanpa rasa malu sedikit pun.

"Hidupku nggak bakal dimulai sebelum aku bisa bikin Soi Koishi menoleh padaku.

Kemarin, si pelaku penusukan berantai itu bilang hal semacam, 'Bukan tipe orang yang masih narik-narik urusan cinta masa SMA di umur dua puluh tujuh', kan? Bukankah itu kata-kata yang menyedihkan? Mau itu cinta dari kapan pun, kalau perasaannya sungguhan, harusnya makin lama waktu berlalu, perasaan itu bakal meresap makin dalam sampai ke akar hati, kan. Kalau itu perasaan yang gampang dijadiin kenangan doang, itu namanya bukan cinta, tapi cuma iseng. Aku ini..."

Kataya menjeda kalimatnya. Seolah sebuah doa untuk memperkuat kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.

"Aku hidup demi Koishi-chan."

"Luar biasa, pernyataan yang saking beraninya sampai bikin aku yang dengar jadi malu sendiri."

"Mau diejek pun, aku nggak ngerasa malu sedikit pun. Aku bakal kerahin seluruh jiwa ragaku buat bikin Koishi-chan menoleh, aku nggak bakal izinin Koishi-chan jadi milik orang lain—dan aku bakal kasih pembalasan setimpal buat perempuan yang sudah berani maksa merebut bibir Koishi-chan."

Mendengar kemarahan mendalam yang tak terduga dalam kalimat terakhir itu, Renjo spontan menatap mata Kataya.

"Jadi maksudmu, balas dendam pada Hinami-san juga salah satu motifnya?"

Tak mau kalah, Kataya membalas dengan tatapan mata yang tajam menghunjam ke arah Renjo.

"Bagiku, kalau perempuan itu tinggal di tempat yang nggak ada kaitan apa pun sama Koishi-chan dan hidup tanpa pernah berpapasan lagi, aku nggak bakal peduli. Tapi, waktu bulan Oktober itu, saat aku melihat Hinami bekerja di ruang yang sama dengan Koishi-chan... seketika 'keadilan' di dalam diriku tersulut. Kenapa dia harus berhubungan lagi sama Koishi-chan? Makanya aku berpikir, aku terus berpikir. Apa cara terbaik untuk memberinya pembalasan setimpal.

Menusuk orang lain karena salah paham, lalu diputus hubungannya oleh Koishi-chan sebagai sosok yang nggak sudi ditemui lagi—inilah cara yang menurutku bakal kasih luka paling besar buat dia. Lagipula kebetulan dia sudah menusuk satu orang karena salah paham, kan. Karena apa yang dia lakukan dan cara pembalasan yang ingin kuberikan klop banget, ya ini harus diwujudkan, dong?"

Kataya bertanya seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya.

"Tidak, kalaupun memang begitu..."

Renjo mencari-cari kata yang tepat. Ia ingin setidaknya memberi gambaran pada sosok di depannya yang berada di luar jangkauan logikanya ini.

"Anggaplah kamu memang mengincar balas dendam pada Hinami-san... tapi tetap saja, tidak ada gunanya melibatkan elemen dari sepuluh tahun lalu, kan. Kasus pertama Fuuto Machida mungkin cuma kebetulan... tapi klien dengan elemen anak kembar dan boneka, itu kamu yang siapkan dengan sengaja, kan? Untuk apa kamu melakukan hal semacam itu?"

Kataya membuka kelopak matanya sedikit lebih lebar, menatap wajah Renjo dengan tatapan mata yang seolah sedang menilai harga sesuatu.

"Begitu ya, kamu nggak paham? Padahal aku sedikit berharap padamu."

"Berharap apa, kenapa bisa..."

Mana mungkin aku paham—Renjo hampir mengatakannya, tapi ia berhenti.

Kataya mengarahkan senyum lesu yang tampak kecewa ke arahnya.

"Kamulah orangnya."

Tiba-tiba, suara Kataya dihinggapi emosi yang belum pernah ada sebelumnya. Kata ganti 'kamu' yang ia gunakan mengandung permusuhan yang meluap-luap.

"Orang yang paling aku waspadai adalah kamu."

"Apa maksudmu?"

"Sudah kubilang, kan, aku hidup demi Koishi-chan. Perempuan yang maksa merebut bibirnya jelas sudah lewat, tapi aku bener-bener nggak bakal izinin laki-laki atau perempuan lain terikat hubungan asmara sama Koishi-chan. Karena itu sama saja dengan penyangkalan terhadap keberadaanku."

"Tolong hentikan," Renjo untuk pertama kalinya hari ini mengutarakan apa yang ia pikirkan dengan jujur. "Sama sekali tidak ada alasan bagimu untuk mewaspadaiku."

Kataya, mungkin untuk meningkatkan kredibilitas kata-katanya, berbisik dengan suara yang sangat rendah hingga batas minimal.

"Alasan kenapa Koishi-chan jadi sangat mendalami misteri adalah karena deduksimu dalam insiden sepuluh tahun lalu itu. Koishi-chan mungkin melupakan ingatan tentang insiden itu demi perlindungan diri... tapi deduksimu untuk melindungi Koishi-chan saat itu begitu berkesan sampai bisa mengalahkan kekuatan lupa itu sendiri."

"Mana mungkin begitu," Renjo menggelengkan kepala dengan bingung. "Itu cuma karena dia baru menyadari kehebatan misteri saat masih SMA saja."

Kataya menyipitkan mata dan berkata dengan suara rendah.

"Aku juga sudah dengar kronologi gimana kamu bisa mulai bekerja di kantor Koishi-chan ini. Kamu cuma orang yang kebetulan ada di lokasi saat pengintaian, tapi dia sampai menyuruhmu keluar dari perusahaan detektif lamamu dan menarikmu ke sini, kan. Normalnya, apa ada orang yang bakal melakukan hal semacam itu? Apa alasan dia sampai ingin memasukkanmu ke kantornya sendiri meski harus mengambil risiko berselisih dengan perusahaan detektif lain?"

Aku mencoba menyanggah—tapi kata-kata tidak kunjung keluar. Aku tidak berniat membenarkan klaim Kataya, tapi argumen balasan yang efektif tidak bisa langsung terpikirkan.

Entah bagaimana Kataya mengartikan kebungkamanku, ia justru semakin bersemangat dan mengeraskan suaranya.

"Renjo-chan, gimana kalau kamu keluar saja dari kantor ini?"

Kataya berujar dengan dagu terangkat, seolah merendahkan Renjo. Secara refleks, Renjo membalas dengan kata-kata apa adanya, tanpa strategi apa pun.

"Kenapa aku harus menuruti perintahmu?"

"Channel Mami Aizawa, itu kamu, kan, Renjo-chan?"

Glek, napas Renjo tercekat. Kataya mengangguk perlahan dengan wajah penuh kemenangan.

"Ah, nggak usah disembunyiin. Waktu Koishi-chan lagi nggak ada, aku denger dengan jelas kok waktu Renjo-chan teleponan sama klien sebagai Aizawa. Permintaan yang masuk ke email Koishi-chan, kalau ada yang kelihatan berbahaya dan berisiko pertumpahan darah, kamu lempar ke Kantor Detektif Aizawa, kan? Kamu pura-pura jadi Koishi-chan di email, bilang kalau jadwalnya nggak cocok jadi kamu ngenalin perusahaan detektif rekanan, atau semacamnya."

Renjo tidak punya kata-kata untuk membalas.

Semuanya fakta—itu adalah hal yang selama ini dilakukan oleh Renjo.

"Tentu saja, sembilan puluh sembilan persen permintaannya cuma penyelidikan perselingkuhan biasa, dan jumlah permintaan yang kamu lempar sendiri mungkin sedikit... tapi faktanya, kamu secara sepihak menerima sebagian permintaan untuk Koishi-chan sebagai Aizawa. Apa pun alasannya, itu jelas-jelas tindakan pengkhianatan (breach of trust), kan?"

Aku benci argumen logis, frasa yang berkali-kali diucapkan Koishi padaku mendadak terngiang kembali.

Tudingan Kataya, secara isi, semuanya adalah argumen yang logis.

Kataya pun pasti menyadari hal itu. Seolah ia sangat menikmati menyudutkan Renjo dengan kata-kata, ia melanjutkan dengan lantang.

"Daripada ini dibongkar dan bikin Koishi-chan kecewa, bakal lebih baik buat Renjo-chan kalau kamu keluar dengan alasan pindah kerja atas kemauan sendiri, kan. Maaf saja, tapi tolong silakan mundur dari panggung kehidupan aku dan Koishi-chan."

Mundur dari panggung—kata-kata itu terasa seperti bilah pedang yang ditodongkan. Renjo menahan napas.

—Entah kenapa, indra keenamku lagi bergejolak nih. Ayo kerja bareng aku.

Wajah Koishi saat mengajaknya bekerja bersama terlintas di benak. Senyum yang bersinar, yang sama sekali tidak membayangkan kemungkinan akan ditolak.

"Aku..."

Kataya mendesak Renjo yang tengah tertegun. Ia menempelkan telunjuknya di dagu Renjo, seolah bisa memaksa kepala itu mengangguk kapan saja, sambil mengangkat sudut bibirnya dan berkata,

"Nggak perlu bingung. Ini kan pertanyaan dengan satu pilihan jawaban. Tinggal tulis selembar surat pengunduran diri—"

Tiba-tiba, ucapan lancar Kataya terhenti seketika. Matanya terbelalak, menatap tajam ke arah belakang Renjo, bukan ke arah Renjo lagi.

Renjo refleks menoleh—dan berteriak hingga terjatuh dari kursinya.

"Kenapa... sejak kapan..."

Di depan meja kerja, Koishi berdiri di sana.

"Dari awal."

Pakaiannya masih sama dengan yang kemarin dan rambutnya tampak berantakan, menunjukkan dengan jelas bahwa dia menginap di sini. Dengan mata yang guratan pembuluh darah merahnya terlihat jelas, ia mengarahkan tatapan dingin yang seolah sanggup membekukan seluruh jarak pandangnya ke arah Kataya.

Renjo diserang rasa panik karena merasa harus mengatakan sesuatu, sekaligus kebingungan tentang apa yang harus diucapkan di saat yang sama. Ia hanya bisa mematung dengan mulut ternganga.

—Aku gagal lagi.

Sama seperti sepuluh tahun lalu, deduksinya didengar oleh orang yang seharusnya tidak mendengar. Ia kembali melakukan kesalahan fatal yang seharusnya mati-matian dihindari.

Rasanya seolah seluruh darah di tubuhnya menguap. Saat tubuh Renjo limbung tanpa sadar, Koishi yang sudah melangkah mendekat menyandarkan tangannya ke punggung Renjo, seolah hendak menopang tubuh besar itu.

"Soal Renjo-kun, nanti aku bakal dengerin penjelasannya panjang lebar."

Nada suaranya tertahan, tidak terasa dingin namun juga tidak hangat. Mata Koishi tetap tertuju pada Kataya.

Kataya pun membeku, tidak jauh berbeda dengan kondisi Renjo. Ia berusaha mengeluarkan suara serak, seolah memastikan perlahan cara untuk bicara kembali.

"Koishi-chan, soal omongan tadi itu..."

"Jangan bicara."

Koishi menggelengkan kepala, seolah merasa membuang-buang kata pun tidak ada gunanya.

"Aku nggak akan pernah lagi bicara sama orang yang mengancam detektif berhargaku."

Suara yang tajam, memiliki kekuatan untuk menguasai keadaan.

Tapi—Renjo menyadari bahwa akhir kalimat itu sedikit bergetar. Tangan yang bersandar di punggung Renjo pun gemetar.

Sambil menahan perasaan sesak yang seolah ingin mencabik dadanya, Renjo melangkah maju satu tapak. Memosisikan dirinya agar tubuh Koishi tersembunyi dari pandangan Kataya.

Ia harus melindungi Koishi—hanya dengan tekad itu, ia berhadapan dengan Kataya.

Saat ini, di tempat ini, orang yang paling terancam adalah Koishi. Di tengah situasi yang mungkin belum sepenuhnya ia cerna, ia mendadak dihadapkan pada delusi sehebat ini—kebencian yang bersumber dari obsesi cinta terhadap dirinya sendiri.

Namun Demikian, Koishi—memutuskan untuk menampakkan diri. Padahal pasti ada waktu lain untuk muncul, atau ia bisa saja memilih untuk tetap bersembunyi dan memantau keadaan sampai akhir.

Meski begitu, Koishi memutuskan untuk menampakkan diri demi melindungi Renjo.

"Mari kita pergi ke kantor polisi."

Renjo mengerahkan seluruh sarafnya agar tidak melewatkan satu pun gerak-gerik Kataya. Ia mengangkat kedua tangan, menunjukkan bahwa ia tidak memiliki niat untuk melawan.

"Silakan menyerahkan diri. Kalau kamu memang sungguh-sungguh memikirkan Koishi-san... tebuslah semua dosamu."

Kataya berdiri mematung dengan kedua lengan terkulai lemas dan wajah yang tampak kehilangan semangat. Sosoknya tampak tenang, dengan aura seolah telah merelakan segalanya.

"Kalau memikirkan Koishi-chan… ya. Benar juga."

Tepat saat Renjo mengira Kataya menyerah, Kataya merundukkan tubuhnya rendah-rendah, lalu tiba-tiba melesat menerjang ke arah Renjo secepat kilat. Rasa nyeri tumpul menghantam perut Renjo.

"Koishi-chan, aku bakal bikin kamu lupain semua kejadian barusan!"

Kataya berteriak. Mata Koishi terbelalak, terpaku pada bilah tajam yang ada di tangan Kataya.

Pisau buah yang digenggam Kataya telah menancap tepat di bagian perut Renjo.

Renjo menangkap pemandangan itu dari sudut matanya. Pandangannya terfokus pada satu titik—tangan Kataya. Kedua tangan Kataya sedang mengerahkan tenaga pada pisau buah yang baru saja ia tancapkan. Dengan presisi tinggi, Renjo mengarahkan borgol double-lock yang ia ambil dari saku belakang celananya ke titik tersebut, mengunci tangan lawan, lalu memasang kuda-kuda kaki sambil menarik rantainya sekuat tenaga. Kataya jatuh tersungkur dengan keras. Di saat yang sama, pisau yang menancap pada buku Mouryou no Hako—yang sudah diselipkan Renjo di balik perutnya—terjatuh sambil merobek kemeja gombrangnya.

Bilah pisau itu sama sekali tidak menyentuh kulit Renjo.

"Syukurlah dia nggak mengincar paha atau bagian lainnya. Yah, aku memang sudah memasang posisi supaya dia mudah mengincar perut, sih—"

Kata-kata itu ditujukan untuk Koishi, tapi justru Kataya yang merespons.

"Kamu... bakal aku bikin perhitungan nanti—"

Mengabaikan teriakan melengking yang berdenging di telinga, Renjo mengambil tongkat kejut listrik (stun rod) pertahanan diri yang sudah terisi penuh dayanya di atas meja tamu, lalu dengan sigap menempelkannya ke leher Kataya. Ukiran bertuliskan "Detective Koishi" pada alat itu berkilat redup dengan gagah.

Dengan erangan pendek, Kataya jatuh pingsan, dan keheningan menyelimuti ruangan. Tatapan mata Koishi menghunjam ke arah perut Renjo, seolah ingin melubanginya dengan pandangan itu.

Untuk saat ini, Renjo mengucapkan hal yang paling perlu disampaikan.

"Nggak ada darah yang mengalir. Karena aku sudah membacanya (memprediksi kejadiannya)."

Ia menepuk pelan buku tebal yang tadi tertusuk pisau.

Koishi terdiam dengan bibir yang gemetar. Ada jenis ketakutan yang muncul bersamaan dengan rasa lega. Rasa takut yang merembes perlahan, membuat sekujur tubuh mulai menyadari ancaman nyata yang baru saja mereka hadapi.

Sambil mengatur napas, Renjo memilih kata-kata demi hal yang paling mendesak saat ini.

Kata-kata konkret untuk menenangkan Koishi.

"Sebagai jaga-jaga, percakapanku dengan Kataya-san tadi sudah kurekam."

Koishi mengangkat wajahnya.

"Tadi dia sempat menyinggung hubungannya dengan Mio-chan... aku akan menyerahkan rekaman ini pada Toru-san agar dia mendengarnya. Pasti berat, tapi tetap saja... dia harus tahu siapa orang yang sudah berbuat jahat pada Mio-chan."

Teringat kata-kata ayah Mio—“Siapa pun yang berani menyakiti putriku secara tidak adil, akan kuhabisi dengan cara apa pun.”

Renjo berkata sambil berusaha menunjukkan sikap santai.

"Kita minta dia mengubur orang ini dengan buldoser di salah satu tanah miliknya saja."

Koishi tertegun sejenak, menatap Renjo. Poni rambut Koishi bergoyang pelan.

Setelah jeda satu ketukan, Koishi dan Renjo tiba-tiba tertawa bersamaan.

"Renjo-kun."

Sambil tertawa, Koishi mencengkeram ujung kemeja Renjo.

"Ada banyak hal yang ingin kukatakan, dan aku yakin Renjo-kun juga sedang memikirkan banyak hal, tapi..."

Dengan tatapan mata yang tajam dan kuat, Koishi menatap mata Renjo dan berkata,

"Kamu tidak perlu keluar dari kantorku."

Ditatap dengan begitu tulus, Renjo memalingkan wajahnya. Namun, seolah tidak membiarkannya kabur, Koishi menggerakkan tubuhnya agar Renjo tidak bisa memutuskan kontak mata mereka.

Renjo menghela napas panjang yang dibuat-buat. Sekarang, tanpa perlu dipaksa pun, suasana santai yang biasa sudah kembali di antara mereka.

"Kamu berniat memanfaatkan rasa bersalahku buat mempekerjakanku bagai budak, kan? Kayak benar-benar menyuruhku menangani semua kasus asmara, di level itu?"

Koishi terkekeh pelan.

"Renjo-kun, kamu memang detektif hebat, ya."

« Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya »

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar