Bab 4: Harga Diri dan Keseriusan Petualang Senior
Bagian 1
Suatu hari di waktu senja.
Di saat Aqua dan yang lainnya sedang asyik bermain permainan kartu di ruang tengah setelah selesai makan malam lebih awal, aku bergumam sambil menatap ke luar jendela yang terbuka lebar, membelakangi mereka semua.
"──Aku ingin berpetualang."
Mungkin embusan angin sejuk dari jendela menyapu gumaman kecilku, hingga kata-kata penuh harap itu tidak sampai ke telinga siapa pun....
"Siapa yang menahan kartu 10 Wajik! Kalau begini terus aku tidak punya kartu lagi buat dikeluarkan!"
"Apa kau sendiri tidak punya 4 Sekop atau 10 Hati, Aqua!? Mari kita bertukar syarat, kalau kau mengeluarkan salah satunya, aku akan mengeluarkan 10 Wajik!"
"Sekarang giliranku ya. 4 Hati."
Dari bingkai jendela yang kubekukan dengan Freeze, angin sejuk kembali berembus seolah ingin mendinginkan suasana gaduh yang penuh semangat itu.
"Aku tidak punya angka 4 maupun 10. Jangan meremehkan buruknya keberuntunganku saat mengambil kartu. Karena tidak ada yang bisa dikeluarkan, aku pass."
"B-begitu ya.... Karena aku jadi merasa agak kasihan padamu, ini 10 Wajik."
"Giliranku. 3 Hati."
Bagi tiga orang yang sedang asyik bermain Sevens itu, gumaman pelan saja tidak akan sampai. Kali ini, aku menyampaikannya dengan suara yang lebih lantang agar mereka semua mendengar.
"Aku ingin berpetualang!"
"Yaaaay, aku bisa mengeluarkan 11 Wajik! ……Siapa saja, tolong keluarkan 12 Wajik. Atau boleh juga 10 Sekop atau 11 Keriting."
"Apa kartu di tanganmu cuma angka-angka besar saja, Aqua? Nih, 11 Keriting……"
"2 Hati."
Aku menyentakkan satu tanganku.
"『Wind Breath』!"
"Waaaaaaaakh! Apa-apaan yang kau lakukan—!"
Aqua berteriak histeris karena kartu-kartu yang sudah disusun rapi berhamburan terkena angin, sementara Darkness dan Megumin mendekap erat kartu di tangan mereka agar tidak ikut terbang.
![]() |
| Aqua-samaaaaaaa |
"Habisnya, tidak ada yang mau mendengarkan suaraku yang tulus ini. Kalau aku dikucilkan sendirian dan bahkan kata-kataku tidak didengar, tidak ada pilihan lain selain menggunakan kekuatan fisik."
"Itu kan karena kalau kau ikut main, kau bakal menang sendirian! Dasar Cheat-NEET!"
"Kali ini aku setuju dengan Aqua. Kalau Kazuma ikut main Sevens, kau pasti bakal memonopoli semua kartu di sekitar angka tujuh, kan?"
"Lagipula permainan Concentration pun tidak akan jadi pertandingan yang adil kalau ada kau. Itu kan permainan daya ingat, bukan permainan menebak semua kartu cuma modal keberuntungan saja!"
Tega-teganya mereka bicara begitu setelah mengucilkanku.
"Iya, iya, maaf ya kalau aku terlalu jago. Aku memang jago, aku memang kuat. Apa tidak ada ya yang bisa mengalahkanku? Maaf banget ya kalau aku selalu ngerusak permainan."
"Beraninya orang ini mengatakan itu setelah mengacaukan tempat ini. Ayo kita hajar dia sama-sama!"
"Anu, tapi... kurasa cuma Megumin, yang kalau sudah mau kalah langsung membalikkan papan permainan, yang tidak punya hak untuk menyalahkan Kazuma..."
Aqua, yang sedang sibuk mengumpulkan kartu-kartu yang berantakan, akhirnya angkat bicara.
"Jadi dari tadi kamu itu komat-kamit apa sih? Karena aku nggak mau diganggu lagi, sini aku dengerin. Coba ulangi lagi."
"Aku bilang, aku ingin berpetualang! Kita ini petualang, sesekali aku ingin keluar rumah!"
Mendengar teriakan dari lubuk hatiku itu, mereka bertiga langsung terdiam seribu bahasa.
"Ingin berpetualang... itu maksudnya kau mau ambil quest pembasmian monster karena butuh uang, kan? Kau apakan uang sebanyak itu! Perempuan ya! Kau habiskan buat mabuk-mabukan dan perempuan, kan! Kalau judi sih karena kau pasti menang, jadi pelakunya pasti cuma alkohol dan perempuan!"
Tiba-tiba saja dia jadi kasar begini.
"Kalau alkohol mungkin saja, tapi kalau dihabiskan untuk perempuan, itu sepertinya masuk akal. Lagipula, dia kan punya 'catatan kriminal' menghabiskan seluruh hartanya demi seorang perempuan..."
Darkness, kenapa kau malah pasang muka malu-malu yang seolah tidak keberatan begitu? Iya, aku memang pernah menghabiskan seluruh hartaku buat melunasi utangmu.
...Lalu, Megumin tanpa sepatah kata pun menyodorkan dompetnya ke arahku.
Apalagi dia memasang wajah penuh pengertian seolah-olah ingin bilang, "Pakai saja ini, aku tidak akan tanya alasannya..."
"Tunggu dulu kalian! Dengarkan dulu baru protes! Aku tidak bangkrut, hartaku masih ada! Bukan itu maksudku, aku cuma ingin sesekali melakukan petualangan yang benar-benar terasa seperti petualangan—!"
──Pemicunya adalah sebuah buku.
Di dalam kamar yang sejuk karena dikelilingi es, ditemani camilan dan jus yang kubeli, aku membaca buku sambil berguling-guling di tempat tidur.
Saat aku sedang menikmati hari-hari ala sultan seperti itu, aku menyadari ada sebuah buku yang tidak ingat pernah kubeli berjajar di rak bukuku.
Judul bukunya sangat lugas: 『Benar Sekali, Ayo Berpetualang!』.
Awalnya aku mengira buku itu adalah sindiran untukku yang tidak mau pergi berpetualang. Tapi kalau dipikir-pikir, mereka bertiga tidak akan melakukan cara memutar seperti itu, mereka pasti akan langsung merengek sambil menangis, mengancam, atau setidaknya mencoba merayuku.
Karena tidak ada bacaan lain, entah kenapa aku mengambil buku itu dan mulai membalik halamannya──
Megumin mengambil buku yang kuletakkan di atas meja dengan wajah sangsi.
"Jangan katakan kalau baru sekarang kau mulai mendambakan petualangan ke wilayah antah-berantah? Itu adalah fase yang dilalui semua orang, tapi biasanya sudah diselesaikan sebagai ritual pendewasaan saat masih kanak-kanak. Bahkan anak-anak di tetangga sebelah sudah lulus dari main 'petualangan-petualangan' dan sekarang sedang tekun mengoleksi serangga. Mereka menggali larva kutu loncat dan mengubahnya jadi exp."
"Anak-anak di kota ini terlalu liar, ya. Bukannya koleksi serangga itu maksudnya memelihara serangga yang ditangkap atau mengadu serangga itu dengan milik teman?"
Yah, lupakan soal urusan serangga di dunia ini, yang jelas aku ingin berpetualang.
Kata 'Petualang' di sini memiliki tiga makna.
Pertama adalah kelas yang kupilih, yaitu kelas dasar 'Adventurer'.
Orang-orang yang tidak punya perasaan sering menghina kelas ini sebagai kelas terlemah tanpa bonus status apa pun. Padahal, ini adalah kelas asal-usul dari semua pekerjaan yang mampu mempelajari skill apa pun; sebuah kelas serba bisa yang jika dikuasai hingga puncaknya, bisa menjadi yang terkuat.
Makna kedua adalah sebutan umum bagi mereka yang tergabung dalam Guild Petualang. Mungkin ada sebutan lain seperti pemburu atau tentara bayaran, tapi karena merujuk pada 'Adventurer' sebagai kelas pertama yang diciptakan oleh para Dewa, orang-orang memanggil kami dengan sebutan itu.
Hal ini juga memperkuat teoriku bahwa Petualang-lah yang sebenarnya terkuat.
Karena ini adalah kelas orisinal dan titik awal, sudah pasti ini yang paling hebat.
Dan makna terakhir adalah makna harfiahnya.
Penjelajah yang melangkahkan kaki ke tanah yang belum terjamah dan mengejar misteri dunia.
Jika orang yang punya keberanian disebut Pahlawan (Hero), maka orang yang melakukan petualangan adalah Petualang (Adventurer).
"Karena itulah, sebagai satu-satunya pemilik kelas serba bisa 'Adventurer' yang tersisa di kota ini, aku ingin melakukan petualangan yang sesungguhnya. Meski begitu, bukan berarti aku ingin berburu monster. Aku sudah muak dengan katak."
Benar sekali, hal yang dibutuhkan seorang petualang bukan hanya kekuatan semata.
Alasan kenapa seorang Petualang bisa mempelajari segala jenis skill adalah agar mereka bisa menjelajah hingga ke ujung dunia dan mampu menghadapi situasi apa pun.
Ini adalah kelas yang diberkati oleh harapan para Dewa agar kita bisa mengatasi segala rintangan──
Melihatku yang berbicara panjang lebar dengan penuh semangat, Megumin dan Darkness menatapku seolah sedang melihat anak yang menyedihkan.
"Ternyata sumber dari teori 'Petualang adalah yang terkuat' yang akhir-akhir ini tiba-tiba muncul itu adalah Kazuma, ya. Biarpun seorang Petualang menaikkan levelnya, pertumbuhan statusnya kan tidak jauh berbeda dengan orang biasa. Mungkin kau merasa terikat dengan kelas pertamamu, tapi kerugian karena tidak mendapatkan bonus status apa pun itu sangat besar?"
"Hmm. Ngomong-ngomong, level Kazuma sekarang berapa? Sebagai Petualang, kau sudah mengumpulkan cukup banyak pengalaman. Menurutku tidak ada salahnya mulai mempertimbangkan untuk pindah kelas (Class Change)."
"……………………"
Ke arah punggungku yang terdiam membisu, Aqua berseru dengan suara lembut.
"Biarpun level dan statusmu sudah naik, pilihan kelas baru yang bisa kau ambil masih belum muncul juga, ya. Nggak apa-apa, Kazuma, setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing..."
Mendengar ucapan itu, mereka berdua berkata dengan panik,
"B-benar juga, apa kata Aqua benar! Ini yang namanya menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat! Malah, kalau dipikir-pikir, fakta bahwa kau bisa mengalahkan musuh-musuh kuat dengan kelas yang tidak punya bonus apa pun itu sangat luar biasa!"
"Iya, sebagian besar petualang di dunia ini juga tidak bisa mendapatkan Advanced Job tidak peduli seberapa tinggi level mereka! Di Guild Petualang sering ada perdebatan tentang kelas mana yang terkuat, nanti aku akan memberikan satu suara untuk kelas Petualang!"
Aku membalikkan badan, menatap garang mereka bertiga yang malah bersikap lembut padaku, lalu berseru.
"Berisik! Kalian yang punya Advanced Job malah berkerumun sok menghiburku! Ingat ya, kata-kata manis itu terkadang bisa melukai perasaan orang lain! Lihat saja nanti, aku akan melakukan petualangan besar tanpa kalian!"
Bersamaan dengan kata-kata perpisahan itu, aku berlari menuju jalanan malam──
Bagian 2
Meski aku kabur dari rumah karena terluka oleh kata-kata orang-orang berkelas Advanced Job yang tidak punya hati itu, aku langsung kebingungan hanya dalam waktu lima menit.
"Sudah sok-sokan ngomong besar dan kabur, tapi aku malah meninggalkan perlengkapan paling dasarku. Tapi, kalau mau pulang ke rumah buat mengambilnya rasanya memalukan..."
Kalau aku pulang dengan kepala tertunduk sekarang, mereka pasti akan menatapku dengan mata penuh kelembutan.
Lalu mereka akan mengeluarkan camilan enak dan arak, kemudian memanjakanku dengan alasan 'khusus malam ini saja'.
…………Apa aku pulang saja, ya.
Lagipula, meski aku bilang ingin berpetualang, sejujurnya aku cuma terpengaruh oleh buku itu. Aku tidak tahu harus pergi berpetualang ke mana.
Lagian, memangnya masih ada wilayah di dunia ini yang belum terjamah dan belum pernah dijelajahi?
──Aku benar-benar mulai kehilangan tujuan, tapi rasanya kesal kalau pulang begitu saja. Mending aku menginap di luar saja...
Benar juga, mending aku pergi reservasi ke toko itu saja sekarang, jam segini harusnya masih sempat!
Selama seminggu terakhir, para Succubus-san dikerahkan habis-habisan untuk mencari Vanir yang kabur dari rumah. Selama proses membawa si iblis itu pulang, layanan Succubus ditutup dan menyebabkan kekacauan luar biasa.
Benar-benar tipikal Iblis Agung, biarpun menyebalkan, dia sukses melakukan aksi balas dendam yang paling kutakuti.
Biasanya kalau aku mencoba menginap di luar, Megumin pasti bakal mencurigai sesuatu. Tapi sekarang, aku bisa menginap di luar dengan bangga, bahkan kalau mau menginap beberapa hari berturut-turut pun bisa!
Setelah sekian lama dipuasakan gara-gara Vanir kabur, aku jadi tidak sabar merasakan layanan Succubus lagi. Rasanya sangat bersemangat!
Sebenarnya, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu penuh saat insiden Satanis waktu itu, aku mendapatkan Kartu VIP yang memberikan prioritas reservasi dan layanan khusus.
Ya, mari lakukan itu. Persetan soal petualangan, aku lebih ingin mencoba memakai Kartu VIP-ku!
"Yo, Nii-chan, kelihatannya suasana hatimu sedang bagus sekali. Mau pergi ke mana malam-malam begini?"
Sebuah suara yang sangat akrab menyapa punggungku saat aku hendak menghilang di kegelapan kota malam dengan riang.
Begitu menoleh mendengar kalimat ala preman itu, berdirilah Dust, yang memang seorang preman tulen. Padahal si brengsek ini pasti tahu persis aku mau ke mana.
Aku pun berpura-pura ketakutan dan mulai melakukan sandiwara kecil mengikuti alur suasananya.
"A-apa maumu? Tidak ada hubungannya denganmu aku mau pergi ke mana. Apa kau tidak sadar jam segini masih banyak orang lewat? Aku sedang buru-buru, boleh aku pergi sekarang?"
Jika kalimat tadi diterjemahkan, maksudnya adalah:
(Karena masih banyak manusia berseliweran, masih terlalu pagi bagi para Succubus-san untuk mulai bekerja. Tapi kalau buru-buru, sepertinya masih sempat untuk reservasi, jadi aku pergi duluan ya.)
Begitulah.
"Oi, oi, jangan dingin begitu dong. Jalan sendirian di tempat seperti ini pasti kesepian, kan? Biar aku yang baik hati ini menemanimu, ayo!"
Dust yang ikut melakukan sandiwara, kalimatnya bermakna:
(Eeeh, kalau begitu aku ikut juga—! aku Ikut bersamamu—!)
Begitu maksudnya.
"T-tolong lepaskan aku.... Seperti yang kau lihat, aku kabur dari rumah hanya dengan pakaian yang melekat di badan, jadi aku tidak punya banyak uang. Tidak ada untungnya mengikutiku..."
(Karena pergi mendadak, uangku tidak seberapa, jadi aku tidak bisa mentraktirmu. Kalau tidak keberatan, ayo saja kalau mau ikut.)
"Heheh, jangan khawatir, aku tidak akan memalak petualang pemula sepertimu! Ayo, jangan banyak protes dan cepat jalan!"
(Tenang, aku tidak minta ditraktir! Ayo, berangkat, berangkat!)
Tepat saat kami berdua sedang asyik bersandiwara menuju toko tersebut....
"Tunggu dulu."
Saat aku menoleh ke arah suara di samping kami, terlihat seorang gadis berambut merah yang sepertinya sesama petualang sedang duduk di bangku sambil mengisap rokok dalam-dalam.
Usianya tampak tak jauh berbeda dariku, atau melihat tubuhnya yang pendek, dia mungkin lebih muda.
Lagipula, gaya merokoknya sama sekali tidak terlihat luwes, seolah dia belum terbiasa melakukannya....
Gadis berambut merah itu menyandang pedang yang tampak sering digunakan di pinggangnya, dan mengenakan pelindung tubuh ringan yang penuh dengan bekas luka kecil. Aku menduga dia adalah petarung lini depan.
"……Maaf. Karena hari ini aku sudah memutuskan mengambil paket 'dimanjakan oleh para Onee-san tipe penyembuh', bolehkah aku menaruh namamu di kolom survei untuk hari lain saja?"
"……Eh, kau tiba-tiba bicara apa sih? Kau lagi diganggu preman itu dan sedang kesulitan, kan?"
Sambil berkata begitu, si gadis berdiri dan mematikan puntung rokoknya dengan jemari di depan mata kami seolah sedang pamer kekuatan.
Di dunia ini, memang tidak ada batasan usia untuk merokok.
Tapi tetap saja, karena dia terlihat seumuran denganku, gaya merokoknya malah tampak seperti anak kecil yang sedang sok dewasa dan tidak terlihat keren sama sekali.
"Yah, memang sih aku sedang 'diganggu'…… Tapi, apa itu tidak panas?"
"Hmph, kalau sudah selevel aku, hal sepele begini tidak akan terasa apa-apa lagi. Bagi petualang yang baru kembali dari garis depan, ini bukan masalah besar."
Hebat juga petualang dari garis depan.
Kalau diingat-ingat, Darkness juga pernah jadi juara lomba menahan rasa sakit, kan?
Kupikir dia cuma masokis kelas berat saja, tapi mungkin petualang level tinggi memang bisa kebal terhadap rasa panas.
"Daripada itu…… Hei kau, mau dibawa ke mana anak itu?"
“"Eh!?"”
Pertanyaan si gadis sukses membuat kami berdua bertingkah mencurigakan.
"Membawa anak laki-laki yang kelihatan lemah begitu, alasannya paling mau memalak uang sakunya di gang sepi, kan? Kalau bukan, coba katakan mau pergi ke mana!"
“"I-itu……"”
Aku dan Dust mulai berkeringat dingin dan melangkah mundur karena diinterogasi oleh si pendatang baru ini.
Situasi ini gawat, mana mungkin kami bisa memberitahu petualang perempuan ke mana tujuan kami yang sebenarnya.
"……Ke-kenapa kau yang lagi dipalak malah ikut panik? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?"
Sebenarnya isi kepalaku cuma hal-hal mesum saja, tapi gadis ini sepertinya tidak sadar kalau aku dan Dust itu berteman.
Kalau begitu, aku harus melanjutkan sandiwara kecil tadi!
"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi jangan berurusan dengan pria ini! Namanya Dust. Sesuai namanya, dia petualang sampah sekelas preman yang bakal 'memangsa' siapa saja, baik itu laki-laki atau perempuan!"
"Ooi!?"
"Laki-laki atau perempuan!? Eh!? Laki-laki atau perempuan!?"
Gadis itu, entah kenapa, malah tertarik pada bagian yang sangat spesifik, bukannya pada nama atau kepribadian buruk Dust.
Di sisi lain, Dust sepertinya langsung menangkap niatku dengan tepat.
"He, heheh, ya benar sekali. Kalau kau berniat cari masalah denganku, mending urungkan saja. Soalnya, di belakangku ada putra sulung bangsawan yang menyokongku, tahu? Pria itu tergila-gila padaku dan..."
"Jadi benar-benar tidak pandang bulu! Bagian 'putra sulung bangsawan' itu terdengar sangat realistis! Kata 'di belakangku' itu maksudnya sokongan kan!? Bukan arti yang lain, kan!? ……Ah! Ka-kalau begitu, alasanmu mau membawa anak ini ke gang gelap juga untuk...!"
Sudah kuduga, gadis ini punya minat ke arah yang aneh.
"Bukan begitu, bagian yang kau komentari itu salah tahu! Sial, gara-gara kau berisik begini orang-orang bisa datang! Kalau begini terus situasinya gawat, hari ini kulepaskan kau──!"
"Tunggu dulu, ceritakan lebih detail! Kalau takut orang datang, kita bisa pindah tempat kok!"
"Kenapa kau malah mau memperlebar topik itu! Sialan, awas kau ya!"
Setelah diganggu oleh petualang aneh, Dust melontarkan kalimat ancaman klasik lalu kabur begitu saja──
"──Kau terus menatap gang tempat dia kabur tadi, apa kau takut dia bakal balik lagi? Tenang saja, jangan khawatir. Aku akan menemanimu sampai ke tempat yang ramai orang."
Tidak, aku cuma ingin mengejar Dust dan segera pergi ke toko itu.
Sial, aku tidak mungkin menuju ke toko itu dalam kondisi seperti ini. Sepertinya hari ini aku harus menyerah...
"Kau beruntung ya. Kalau aku tidak ada di sini tadi, sesuatu yang mengerikan pasti sudah terjadi padamu. Bersyukurlah padaku seumur hidup."
Sudah hiburan malamku dirusak, entah kenapa aku malah harus berutang budi padanya.
Gadis yang merasa telah menyelamatkanku itu menatap gang tempat Dust menghilang dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, lalu kembali menyelipkan rokok di mulutnya.
Ia mengeluarkan pemantik yang sangat familier dari sakunya, lalu menyalakan api.
Saat aku memperhatikannya lagi, usianya memang tidak jauh berbeda dariku.
Meski begitu, jika dia petualang yang baru kembali dari garis depan, berarti jam terbangnya lebih tinggi dariku dan dia adalah seniorku.
Sejujurnya, rasa hormatku pada senior yang satu ini sudah minus sejak awal gara-gara dia mengganggu kesenanganku. Tapi, karena dia memang berniat menolong, setidaknya aku harus berterima kasih.
"Anu, terima kasih ya, aku jadi tertolong karenanya."
"Di Axel yang isinya cuma petualang kroco, tampangmu memang kelihatan yang paling lemah, ya. Tapi kenapa bicaranya santai begitu sama senpai? Kalau memang berterima kasih, bicaralah yang sopan padaku."
…………
"Senpai. Maaf ya, tapi aksi mematikan api rokok dengan jari tadi keren banget. Boleh minta tolong tunjukkan sekali lagi?"
"Eh? Anu... yah, um. Boleh saja sih..."
──Sepuluh menit kemudian.
"Uhuk! Uhuk, uhuk! Su-sudah cukup? Bukannya aku merasa berat mengisap lagi atau merasa panas, ya. Tapi lihat, rokoknya tinggal sedikit..."
"Sebagai kouhai, sudah sewajarnya aku jadi pesuruh senpai, kan? Aku akan belikan rokok baru. Jadi, tolong habiskan sisa yang ada sekarang."
Saat aku mendesaknya dengan wajah penuh harap, Senior entah kenapa malah mengisap rokoknya perlahan dengan mata berkaca-kaca.
Mungkin karena sudah berkali-kali mematikan api dengan jari, jempol dan telunjuk kanannya jadi memerah.
"Kalau panas, mau kupakai sihir Freeze?"
"Ti-tidak panas kok, tidak perlu. ...Hei, apa orang-orang di sekitarmu tidak pernah bilang kalau sifatmu itu buruk?"
Petualang di kota Axel tidak akan memberikan ejekan seringan itu.
Mereka biasanya memanggilku Kasuma, Kuzuma, atau Gesuma, pokoknya sebutan yang jauh lebih parah dari itu.
"Seingatku tidak pernah."
"Tatapan matamu jernih dan indah sekali... sepertinya kau tidak sedang berbohong, ya..."
Bisik Senior itu.
"Waduh, aku tidak punya waktu buat melakukan hal seperti ini. Begini ya, karena aku sudah menolongmu, berikan aku imbalan sebagai tanda terima kasih."
Ia menatapku dengan seringai menantang, lalu membuang rokoknya yang masih menyala dan menginjaknya hingga padam.
"Gara-gara Senpai ikut campur, aku jadi tidak bisa reservasi toko, dan sejujurnya aku cuma dapat masalah saja sih, tapi baiklah."
"Begitu ya. Yah, imbalannya bukan hal besar, kok... Eh, apa katamu tadi? Cuma dapat masalah?"
Senior menatapku dengan wajah kaget, sementara aku menyahut santai.
"Cuma jujur sedikit saja. Daripada itu, Senpai, rokoknya masih sisa?"
Senior mengabaikan perkataanku dan segera menyimpan kotak rokoknya.
"A-ah, iya, um... Aku Angie. Angie Si Pedang Merah, Angie si Rune Knight—yah, aku dipanggil dengan banyak nama, tapi anggap saja aku ini semacam koordinator para petualang yang baru kembali dari garis depan."
Angie berdeham, mencoba mengatur napas dan kembali memasang seringai menantangnya.
"Karena aku bakal menetap di kota ini untuk sementara, aku ingin kau mengantarku ke Guild Petualang."
"Siap, Senpai. Kebetulan di jalan menuju Guild ada toko rokok, jadi pas sekali."
Entah mengapa, senyum yang sebelumnya menghiasi wajah petualang senior Angie menghilang.
"Hei, kau. Apa kau sedang mempermainkanku? Atau... apa kau diam-diam menaruh dendam padaku?"
"Tidak ada, tuh."
Entah kenapa, dia malah menatapku seolah-olah sedang melihat orang yang sangat mencurigakan──
Bagian 3
Dalam perjalanan menuju Guild Petualang, aku menumpahkan keluh kesahku pada Angie.
Bukan keluhan soal gagal ke toko Succubus.
Melainkan keluh kesah tentang bagaimana aku belum pernah merasakan petualangan yang sesungguhnya sejak menjadi petualang.
"Begitulah ceritanya, aku ingin melakukan petualangan yang benar-benar terasa seperti petualangan. Senpai juga pasti paham kan kalau pernah berlatih di kota Axel waktu masih pemula dulu? Kalau bicara soal Quest Pembasmian, dari hari ke hari isinya cuma katak melulu. Belum lagi invasi kubis yang saking konyolnya sampai bikin IQ-ku terasa turun. Di sini, kata 'petualangan' itu sudah seperti barang hilang yang tidak jelas rimbanya!"
"……Ah, maaf ya? Soalnya aku ini jenius dan sejak awal sudah memegang Advanced Job, lagipula aku tidak berniat membentuk party dengan kroco-kroco, jadi aku langsung melewati kota Axel begitu saja. Makanya aku sampai tidak tahu di mana lokasi Guild di kota ini."
"……"
"Jadi aku tidak bisa bersimpati padamu.... Tapi begini ya, kecuali untuk orang-orang spesial sepertiku, Axel itu kan kota dasar yang dilalui semua orang. Selama kau tidak benar-benar 'tanpa bakat', dalam waktu kurang dari tiga bulan harusnya kau sudah bisa pindah ke kota lain, kan?"
"…………"
"Tanah di sekitar sini memang sudah dijelajahi semua, tapi semakin kau mendekati garis depan Pasukan Raja Iblis, wilayah yang belum terjamah akan semakin banyak. Makhluk spesies baru, dungeon yang belum ditemukan, sampai reruntuhan kuno yang misterius! Semua itu tidak akan lari kemana-mana, jadi kalau kau tidak terburu-buru dan menjalani masa dasar dengan benar, petualangan yang mendebarkan pasti menantimu. Kau pasti baru sebentar kan menekuni pekerjaan ini? Meski rasanya agak aneh diucapkan olehku yang melompati banyak hal, tapi kau tidak boleh meremehkan dasar-dasar!"
Angie yang berjalan di sampingku terus menasihatiku seolah-olah sedang menceramahi junior yang tersesat, tapi....
"Aku sudah hampir setahun menjadi petualang. Jangankan meremehkan dasar-dasar, sampai sekarang pun kelas pekerjaanku masih tetap kelas dasar 'Petualang'."
Seketika itu juga, Angie yang tadinya sibuk menceramahiku langsung menghentikan langkahnya.
"A-apa!? Kau terus-terusan jadi kelas terlemah!? Eh, tunggu sebentar!? Kau sudah jadi kelas terlemah selama hampir setahun!? Tunggu, tunggu, ahahahahaha! Kelas kroco terlemah sok-sokan bilang ingin berpetualang!? Aduh, tunggu dulu! Ahahahahaha!"
Berisik amat "tunggu-tunggu"-nya, apa kau ini alien dari planet "Tunggu"? Bakal ku-Steal baru tahu rasa kau.
──Tidak, aku-nya yang harus tunggu sebentar.
Sepertinya dugaanku benar kalau dia ini cuma anak ingusan yang sok dewasa. Senior Mesugaki bernama Angie ini terus-terusan memprovokasiku, padahal kalau tidak salah kelas Rune Knight itu termasuk Advanced Job.
Sejujurnya, meski secara formal aku sudah ditolong, gara-gara dia aku gagal ke toko, belum lagi omongannya yang pedas dari tadi. Rasanya aku ingin memberinya sedikit pelajaran.
Tapi kalau aku pakai Steal untuk membuatnya kapok sekarang, bisa gawat kalau dia malah mengamuk dan mengirimku ke hadapan Eris-sama.
Namun, kalau cuma diam saja saat dihina terus, stresku bisa makin menumpuk. Saat sedang bimbang begitu, aku menemukan toko yang pas di tengah jalan.
"Senpai, di sana ada toko rokok. Sesuai janji, aku akan belikan rokok baru. Tenang saja, biar aku yang traktir."
"Eh... r-rokok tidak usah deh. Kasihan juga kalau harus ditraktir oleh si Kelas Terlemah-kun yang penghasilannya sedikit."
Anak ini benar-benar tidak berhenti memprovokasi ya. Padahal Kelas Terlemah-kun ini mungkin punya uang lebih banyak darimu.
Lagipula, kau itu pasti aslinya tidak merokok, kan? Cuma ditiup-tiup saja tanpa dimasukkan ke paru-paru.
"Tidak apa-apa, Senpai. Aku ini cukup kaya sampai sanggup menjalani gaya hidup pengangguran selamanya. Senpai sepertinya suka rokok yang keras, ya? Aku akan belikan yang paling 'mantap'."
"Ja-jangan...! Ak-aku sudah menentukan jumlah batang dan merek yang kuhisap dalam sehari. Begini lho, kalau terlalu banyak merokok, monster bisa menyadari keberadaan kita dari baunya. Veteran itu harus memperhatikan hal-hal seperti itu."
Sepertinya Senior Mesugaki ini sudah tidak mau menyentuh rokok lagi hari ini, sampai-sampai mulai bicara sok profesional begitu.
TN Yomi Novel: Mesugaki adalah karakter gadis muda yang sombong dan suka mengejek, yang menjadi populer dalam tropes anime/komik.
"Kalau begitu, nanti di bar Guild yang akan kita tuju, aku akan mentraktirmu minuman keras yang paling 'mantap', Mesugaki-Senpai. Aku tahu, semakin tinggi level dan ketahanan terhadap racunnya, semakin kuat juga dia minum alkohol. Teman Tanker-ku yang mengajarinya!"
"A-alkohol ya.... Tapi, rasanya tidak enak kalau ditraktir junior.... Eh, barusan kau memanggilku apa?"
Ternyata kata ganti orang pertamanya aslinya adalah "Watashi", ya? Wajah Angie mendadak jadi serius.
"Aku memanggilmu Angie-senpai. Memangnya tidak boleh panggil nama?"
"Bukan, kau pasti panggil pakai sebutan lain! Tadi kau bicara kasar padaku, kan!"
Sambil memandu Angie yang terus meracau, akhirnya gedung Guild Petualang mulai terlihat.
"Angie-paisen, kalau terus meracau seperti bocah nakal begitu, nanti orang-orang akan melihatmu dengan tatapan aneh. Nah, itu dia Guild Petualang Axel."
"Tuh kan, barusan kau bilang bocah nakal! Lagipula, berhenti panggil aku 'Paisen'! Hei kau, memangnya umurmu berapa? Aku ini sudah tujuh belas tahun!"
Ternyata seumuran denganku.
Bergantung pada bulan ulang tahunnya, ada kemungkinan aku malah lebih muda darinya. Kalau begini, elemen yang bisa dia pakai untuk menindas dan sok senior padaku bakal bertambah lagi.
"Dalam dunia petualang, umur itu tidak ada hubungannya. Sekalipun aku lebih tua dari Angie-senpai, kalau aku pendatang baru, aku akan tetap menaruh hormat pada senpai. Itulah norma di industri ini."
"Itu sih cuma alasan buat menghindar! Aku tanya umurmu!"
Aku mengabaikan gerutu Angie dan berdiri di depan pintu Guild Petualang.
"Yah, ini gedungnya.... Tapi kalau boleh jujur, sejauh ini aku belum dengar reputasi bagus soal petualang yang baru balik dari garis depan. Termasuk Senpai juga sih, tapi kenapa kalian semua hobi banget berlagak jadi orang nakal?"
"Kami tidak sedang berlagak, ini memang sifat asli kami. Wajar saja kan kalau petualang yang pekerjaannya kasar juga bertingkah kasar?"
Dia mendengus sombong, padahal tadi merokok saja tidak becus.
"Teman-temanku yang ikut mengungsi ke sini juga begitu. Begitu sampai di kota aman yang isinya cuma monster kroco, mereka merasa bebas dan mulai cari hiburan. Lagipula, kota di garis depan itu memang menghasilkan banyak uang, tapi di sana nyawa bisa melayang kapan saja."
Kalau dipikir-pikir, aku memang belum pernah melihat para petualang senior yang mengungsi itu melawan katak.
Karena petualang kuat sepertinya tidak kekurangan uang, seperti kata Angie, mereka mungkin cuma ingin bersantai di kota ini.
"Pantas saja aku jarang melihat rombongan garis depan di Guild. Tapi kalau begitu, untuk apa Senpai pergi ke Guild? Di Axel kan tidak bisa menghasilkan banyak uang?"
"Kan tadi sudah kubilang, aku ini koordinator mereka. Jadi begini, anak-anak buah yang mengikutiku kabarnya sering ditantang berkelahi oleh petualang pemula dari Klan Penyihir Merah."
Aku tahu itu. Waktu aku membantu tugas administrasi Darkness, aku sempat melihat laporan pengaduan soal itu.
"Makanya, anak buahku berniat melakukan serangan balasan dan sedang mencari pelakunya. Kalau petualang kan biasanya tinggal di penginapan, kan? Tapi anehnya, dicari di penginapan mana pun tidak ketemu."
Aku tahu itu juga. Pelakunya tinggal di rumah besar bersamaku, jadi dicari di penginapan sampai kiamat pun tidak akan ketemu.
"Padahal Klan Penyihir Merah yang tinggal di Axel itu pasti masih pemula, kan? Aku tahu ras mereka memang mengerikan, tapi aku tidak bisa membiarkan mereka meremehkan kami. Sehebat apa pun status Klan Penyihir Merah, tidak mungkin level rendah bisa menang melawan level tinggi. Dia pasti pakai sihir curang saat berkelahi."
Angie menggigit kuku jempolnya dengan kesal. Padahal pelaku yang dia cari itu sudah sering melakukan last hit pada monster-monster bos, jadi kemungkinan levelnya malah lebih tinggi dari siapa pun di sini.
"Bego banget kalau ada orang yang keasyikan main-main di kota terus malah kena hajar balik, itu sih salah sendiri. Tapi ya, pakai sihir dalam perkelahian itu sudah keterlaluan. Sebagai senpai, aku harus mengajarinya cara berkelahi dan tata krama yang benar. Lagipula..."
Sambil memasang senyum sadis di bibirnya, ia seolah menunjukkan alasan yang sebenarnya.
"Kalau dibiarkan, aku sebagai koordinator mereka bakal ikut diremehkan. Aku akan cari gara-gara dengan gerombolan yang nongkrong di Guild, biar mereka tahu kalau senpai yang tangguh sudah datang."
Si penyihir gila itu dibilang level rendah lah, dibilang pasti pakai sihir saat berantem lah... pokoknya dari awal dia sudah salah paham soal banyak hal.
"Yakin mau masuk? Kuberi tahu ya, gerombolan yang nongkrong jam segini itu isinya orang-orang 'mantap' semua. Lagipula, teman-teman Angie-senpai hampir tidak pernah ambil kerjaan di kota ini, jadi kurasa Senpai tidak bakal punya sekutu di dalam Guild."
"Orang 'mantap' di kota Axel itu seberapa hebat sih? Lagipula dari dulu aku ini petualang solo, menghadapi para pemula mah sendirian juga cukup. Kau pikir aku ini siapa? Aku ini Rune Knight pemegang Advanced Job, Angie si Pedang Merah!"
Setelah mendapatkan kepastian dari Angie yang penuh percaya diri itu, aku pun menyahut,
"Pedang Merah itu julukan yang disesuaikan dengan warna rambut Senpai, kan? Dari tadi aku mikir, namanya itu terlalu simpel atau malah bisa dibilang... norak nggak sih?"
"No-norak...!? Hei, aku tidak bisa membiarkan ucapan itu lewat begitu saja! Sepertinya kau meremehkanku ya, biar kau dulu yang kuberi pelaja—!"
Tanpa memedulikan ocehan Angie lebih jauh, aku langsung membuka pintu Guild Petualang.
Bagian 4
Begitu pintu terbuka, hawa panas yang tidak kalah dari teriknya malam musim panas berembus keluar dari dalam Guild.
Guild Petualang di malam hari menunjukkan wajah yang berbeda; tipe pengunjungnya pun berubah total dibandingkan siang hari.
"Selamat datang di Guild pada jam segini! Mau minum? Mau makan? Atau mau diriku? Kalau mau diriku, sekarang diriku lagi sibuk kerja paruh waktu, jadi silakan datang lagi nanti!"
Tepat di depan pintu yang terbuka, berdirilah seorang pegawai paruh waktu bertubuh besar dengan topeng dan celemek yang sedang berkacak pinggang.
"I-iya, aku pulang saja kalau begitu..."
Angie menutup kembali pintu Guild yang baru terbuka itu dengan perlahan.
Melihat Angie yang langsung ingin pulang karena terintimidasi oleh pegawai paruh waktu yang eksentrik itu, aku pun segera melancarkan protes.
"Mau pulang buat apa, Mesugaki-senpai? Katanya mau memberi pelajaran pada petualang pemula."
"Kau panggil aku Mesugaki-senpai lagi, ya! Kali ini aku dengar dengan sangat jelas!"
Angie, meski masih dalam keadaan emosi, membuka pintu Guild kembali lalu mendongak menatap Vanir yang jangkung itu dengan tatapan tajam.
"Se-selamat malam! Hari ini aku datang untuk minum di bar Guild sekaligus melihat-lihat situasi!"
Antara ingin gertak sambal atau memang sopan, ucapan Angie itu dijawab Vanir dengan bungkukan hormat yang sangat formal.
"Selamat malam! Selamat datang, Pelanggan-sama. Untuk dua orang, apakah meja konter tidak keberatan?"
"I-iya, tidak apa-apa..."
Vanir tidak mengejekku seperti biasanya saat melihatku. Ia membimbing kami ke kursi dengan sangat natural.
Sepertinya Iblis Agung yang sangat perhitungan soal uang ini benar-benar bekerja serius selama jam kerja paruh waktunya.
Setelah duduk di konter, Angie menutupi mulutnya dengan buku menu lalu berbisik padaku.
"Hei. Itu... pelayan barunya... apa-apaan itu? Aku pernah melihatnya di papan pengumuman buronan. Dia itu harusnya buronan kelas kakap, kan?"
"Sekarang dia cuma pegawai paruh waktu biasa. Sampai kemarin dia sempat merajuk dan kabur dari rumah, tapi gara-gara dia meninggalkan toko terlalu lama, pemilik tokonya malah berbuat ulah dan bikin rugi besar. Sepertinya dia kerja sampingan di bar Guild ini buat menutup kerugian itu."
Wiz, yang sudah menyebabkan kerugian besar itu, kabarnya sekarang sedang dikurung Vanir di ruang bawah tanah toko. Dia dipaksa membuat kembang api jenis Sparklers sambil menangis tanpa istirahat siang dan malam.
"Kau ini bicara apa sih? Aku tidak paham satu pun perkataanmu."
"Ah, benar juga, kan Senpai bilang dulu melompati kota Axel. Jadi wajar kalau tidak paham maksudku. Biarpun penampilannya begitu, dia bakal melayani pelanggan dengan baik. Jadi, ayo kita pesan minuman yang mahal saja."
Sambil melirik-lirik Vanir dengan cemas, Angie membuka menu.
"Apa boleh memanggil makhluk itu 'pelayan'? Tapi, minuman mahal ya.... Aku mau koktail yang bergaya saja. Ninja-ere, Jin-soniku? Pairu-doraiba, Oddo-ai.... Hei Kouhai, kau duluan yang pesan. Sudah jadi tugas senpai untuk mentraktir kouhai-nya, tahu. Aku pesan yang sama denganmu saja."
Dia berlagak senior dan sok dewasa, tapi sepertinya dia sama sekali tidak paham soal jenis minuman keras.
"Boleh nih? Senpai yang payah minum sepertinya tidak punya banyak uang."
"Siapa yang kau panggil senpai payah minum, hah? Bakal kuhajar kau. Aku ini kuat minum. Lagipula di garis depan itu penghasilannya besar. Sudah, cepat pesan saja, perintah senpai itu mutlak!"
Karena dia bilang mau mentraktir, aku pun mengangkat tangan dengan riang gembira.
"Oi, pesan satu botol Don Perignon ke sini!"
"Perignon!? Eh, tu-tunggu sebentar! Bahkan aku yang tidak tahu soal miras pun pernah dengar nama itu!"
"Baik, satu Perignon segera meluncur~! Silakan gelasnya, Pelanggan-sama!"
Begitu aku memesan sampanye kelas atas, Vanir yang sedang dalam suasana hati sangat bagus langsung melesat kemari sambil membawa gelas.
"Ah, ah……! Anu……!"
Belum sempat Angie menghentikannya, Vanir menggunakan pisau khusus yang disebut Champagne Saber dan dengan lihai menebas leher botol hingga terlepas.
Sorak-sorai langsung pecah di dalam Guild melihat minuman mewah yang jarang ada itu dibuka dengan atraksi yang begitu mencolok.
"Ah…. Ti-tidak apa-apa kok……"
Angie yang tadinya hendak mengatakan sesuatu, mendadak mengecilkan suaranya dan terdiam.
Seiring dengan dituangkannya Perignon ke dalam gelas, cahaya di mata Angie perlahan memudar. Kenapa dia ini?
"Angie-senpai, terima kasih traktirannya. Aku senang sekali karena belum pernah minum Perignon sebelumnya."
"Be-begitu ya…. Ini juga pertama kalinya aku minum ini, jadi nikmati dan minumlah baik-baik ya……"
Kami dentingkan gelas pelan, lalu mulai menikmati aroma minuman yang baru dituang itu.
Angie, yang sepertinya memang tidak terbiasa minum, sesekali melirik gerak-gerikku lalu menirunya.
"Aroma fruity-nya benar-benar terasa seperti Perignon berkelas, ya."
"Be-benar. Inilah aroma orang dewasa yang punya banyak uang. Katanya Perignon itu mahal karena bahan bakunya dipilih dari jenis anggur liar yang paling kuat saja."
Muncul juga akhirnya, istilah bodoh khas dunia lain.
Sekarang bukan saatnya memikirkan anggur liar atau 'yang paling kuat', persetan dengan informasi sampah itu, mari kita nikmati saja minuman mewah ini.
Kami pun memiringkan gelas kami──
"……Ternyata minuman mewah itu rasanya asam ya."
"Namanya juga petualang pemula, tidak heran kalau kau tidak paham rasa ini. Pernah dengar pepatah 'hidup itu ada asam dan manisnya', kan? Perignon itu memang seharusnya asam."
Itu artinya kau juga merasa ini asam, kan!?
"Sepertinya Perignon masih terlalu dini buatku. Sisa botolnya tolong Senpai habiskan saja semuanya."
"Eh!? Yang asam begini harus kuhabiskan sendirian!?"
Karena kupikir lebih baik memesan sesuatu yang rasanya dia pahami, aku pun kembali memanggil pelayan.
"Oi, pesan 'yang biasa' satu, dinginkan sampai nyes!"
"I-itu Cu-curang! Habiskan ini dulu baru pesan yang lain! Aku tidak akan memaafkanmu kalau minuman semahal ini sampai tersisa! Kalau begitu, aku juga pesan yang manis!"
"Pesanan segera tiba!"
Tepat saat kami selesai mengucap pesanan, Vanir yang sedari tadi bersiaga di belakang kami langsung meletakkan minuman lalu pergi begitu saja.
Cepat sekali, bukannya harusnya bilang "pesanan akan segera kami bawakan"?
"……Aku memang berniat memesan ini, tapi kenapa keluarnya cepat sekali?"
"Soal pegawai paruh waktu yang satu itu, kalau dipikirkan terlalu dalam, Kau akan kalah, Senpai. ……Puaah! Memang 'yang biasa' ini yang paling mantap!"
"K-kau ini, padahal umur kita sepertinya tidak beda jauh, tapi kelakuanmu mirip paman-paman ya. ……Ah, manis dan enak."
Sementara aku menenggak gelas birku, Angie menyesap koktailnya sedikit demi sedikit sambil tersenyum.
Saat aku menoleh ke arah dapur karena ingin camilan, tatapanku langsung bertemu dengan Vanir yang sudah memegang piring berisi makanan, berdiri menunggu pesanan kami.
Jangan memprediksi barang yang mau dipesan. Ya, meski tertolong juga sih karena cepat disajikan.
Aku memberinya isyarat untuk membawakannya, dan camilan itu pun langsung diletakkan di hadapan kami.
"Senpai, setelah ini mau memberi pelajaran pada orang-orang Guild, kan? Kalau begitu, aku mau ke toilet sebentar sebelumnya."
"Satu lagi makanan yang baru mau kupesan datang duluan…… E-eh, iya. Benar juga, aku jadi ingat tujuanku datang ke sini."
Angie, yang menatap hidangan itu dengan ekspresi rumit, kembali memasang seringai menantang seolah sudah mengumpulkan tekadnya lagi──
──Saat aku kembali dari toilet, Angie yang matanya berkaca-kaca sedang duduk berlutut (seiza) di atas kursinya.
"Lagi ngapain, Senpai Mata-Berkaca-kaca? Baru kutinggal sebentar, kenapa situasinya jadi selucu ini?"
"A-aku juga tidak tahu…… Tiba-tiba ada Onee-san seram dengan tatapan tajam mendatangiku dan bilang, 'Minuman mahal itu, jangan bilang mau kau bebankan ke anak laki-laki kouhai-mu? Tentu saja sang senpai bakal menghabiskannya sendiri, kan?'……"
Melihat ke atas meja konter, botol Perignon yang tadi ada di sana sudah menghilang.
Saat aku menoleh ke sudut Guild, Onee-san Penguntit itu sedang membagi-bagikan Perignon bersama para petualang veteran lainnya dengan wajah gembira.
Para petualang veteran itu mengangkat gelas mereka ke arah Senpai Korban-Palak dan bersorak kegirangan, "Makasih traktirannyaaa!"
Dengan senyum dipaksakan, senior itu hanya membalas dengan melambaikan tangannya lemas ke arah mereka.
"Jadi kau menyerahkan Perignon yang tidak bisa kau minum itu sebagai upeti supaya dibiarkan pergi, ya. Bagaimana dengan rencanamu untuk memberi pelajaran pada orang-orang di sini? Malah kau yang diberi pelajaran, kan."
"Itu karena rasanya tidak cocok di lidahku, makanya aku berbaik hati memberikannya pada mereka! Hmph, ternyata orang-orang yang tinggal di kota ini lumayan juga, ya."
Senpai Sok-Tangguh yang katanya selalu bekerja solo ini, tampaknya merasa lega karena jumlah orang di pihaknya bertambah dengan kedatanganku, lalu melepaskan posisi duduk seiza-nya dari atas kursi.
"Oh, jadi mau ke sana sekarang? Orang-orang yang ada di meja itu kebanyakan pemegang Advanced Job level tinggi, jadi berjuanglah."
"……S-siapa juga yang bilang mau memberi pelajaran lewat kekerasan? Kalau petualang itu, ya harus memberi pelajaran lewat hasil pencapaian! Ngomong-ngomong, kau tadi bilang padaku, kan? Kalau kau mau pergi berpetualang. Kalau begitu, akan kubawa kau. Ya, ke petualangan yang sesungguhnya!"
Setelah berkata demikian, Senpai Pecundang itu kembali menyesap koktail manisnya sedikit demi sedikit.
Bagian 5
Keesokan harinya.
Melihat punggungku yang sudah selesai bersiap untuk petualangan, Megumin berkata dengan nada kagum.
"Kupikir setelah pulang larut malam kemarin kau bakal berubah pikiran begitu bangun tidur, tapi ternyata kau sudah mengenakan perlengkapan tempur lengkap padahal hari baru saja berganti. Baiklah! Kalau memang sebegitu inginnya kau pergi berpetualang, aku akan menemanimu!"
Menyusul semangat Megumin, Darkness pun ikut angkat bicara.
"Yah, aku dan Megumin pada dasarnya memang tim yang suka berpetualang. Mumpung Kazuma belum bosan, bagaimana kalau kita ke Guild untuk mengambil quest?"
Menanggapi antusiasme mereka berdua, aku mendengus pelan.
"Yang akan kutuju sekarang bukanlah perburuan katak yang rasanya seperti piknik biasa, melainkan petualangan yang sesungguhnya. Jadi hari ini, aku tidak bisa menjaga kalian."
Aku pun segera diberi "pelajaran" oleh mereka berdua.
"Aduuuh! Jangan ganggu petualanganku! Aqua, hentikan dua orang tidak masuk akal ini!"
"Ogah. Itu kan salahmu sendiri karena bicara yang nggak-nggak. Jangan libatkan aku, ya."
Aqua menepis permintaanku dengan kata-kata dingin sambil tetap bermalas-malasan di atas sofa.
"Lagipula, memangnya kau bisa pergi berpetualang sendirian? Tanpa adanya umpan, Kazuma bahkan nggak bakal bisa menang melawan katak sekalipun, kan? Sini, mending kemari dan minum bersamaku. Kita bermalas-malasan saja sampai sore, lalu pesta di Guild. Uang kan masih ada, nggak perlu memaksakan diri begitu."
Aku hampir saja terhasut oleh kata-kata Aqua yang sudah seperti manusia ampas tingkat dewa, tapi kalau aku kembali ke gaya hidup seperti biasanya, petualangan ini tidak akan pernah dimulai.
Sambil tetap dalam posisi tersungkur ditekan ke lantai, aku memasukkan satu tanganku ke dalam saku baju.
"Hati-hati, Kazuma sepertinya mau melakukan sesuatu!"
"Apa? Kau mau pakai skill Steal? Sayang sekali, di sini tidak ada siapa-siapa selain kita! Jadi, sekalipun kau membuatku telanjang bulat... sekalipun kau melakukannya... uuuh..."
Darkness bergumam penuh dilema sambil tetap menindih punggungku yang sedang mereka ringkus.
Sambil wajahku masih tertekan ke lantai, aku membuka benda yang kutarik keluar tadi dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala.
"『Flash』!"
"””!?””"
Benda yang kuangkat di atas belakang kepalaku itu adalah gulungan sihir (Magic Scroll) yang berisi sihir Flash.
Gulungan sihir adalah barang sekali pakai yang bisa mengeluarkan sihir yang tersegel di dalamnya hanya dengan membukanya dan merapal kata kuncinya.
Sebenarnya barang ini harganya sangat mahal, ditambah lagi kekuatannya tidak sebanding dengan sihir asli dari penyihir profesional, sehingga kegunaannya agak nanggung. Namun, belakangan ini gulungan sihir Flash sedang beredar luas dengan harga miring, gara-gara itu bermain-main menggunakan gulungan ini sedang populer di kalangan petualang, dan aku tentu saja ikut membelinya.
Mungkin karena mereka tidak menyangka aku bakal menggunakan barang semacam itu, ketiga gadis itu langsung menutupi wajah dengan kedua tangan mereka sambil menjerit akibat kilatan sihir yang dilepaskan secara mendadak.
"Waaaaaaaaa, mataku—! Matakuuu—!"
"U-uh, dasar kau pengecut licik seperti biasanya! Ah! Curang kau Kazuma, ke mana kau lari!"
Begitu kedua tangan Darkness terlepas, aku segera merangkak keluar dari bawahnya.
"Cih! Darkness, jangan mengandalkan penglihatanmu, pertajam mata hatimu! Benar, inilah saatnya membangkitkan mata ketiga... Di situ!"
Megumin, yang merasa mata ketiganya sudah bangkit, melemparkan Chomusuke yang ada di dekat kakinya. Mungkin karena sudah terbiasa dengan perlakuan kasar dari pemiliknya yang kejam, Chomusuke yang dilempar itu memutar tubuhnya di udara dengan lincah.
"Waaaaaaaaaaaa—! Sakit, sakit, kepalaku dicakar-cakar! Siapa pun tolong aku!"
Chomusuke menempel pada Aqua yang tidak bisa melihat, lalu mulai mencakar dan menggigiti kepalanya.
"Kurang ajar! Tidak puas setelah merampas penglihatan kami, apa yang kau lakukan pada Aqua!"
Aku tidak melakukan apa-apa. Kalian sendiri yang bikin ribut bertiga.
"Aqua, buka 'Mata Tak Ternoda' yang selalu kau bicarakan itu! Lalu, temukan posisi Kazuma yang sudah berbuat jahat padamu!"
"Biar kau bilang begitu, aku yakin yang sedang mencakar-cakarku sekarang ini bukan Kazuma!"
"Hah...! Kita yang kehilangan penglihatan sekarang tidak tahu siapa yang sedang melakukan apa pada siapa! Kazuma, ingat kalau sekarang ini masih siang bolong! Berani-beraninya kau melakukan 'permainan' seperti ini di jam begini...!"
Aku membenarkan posisi tas barangku, lalu meninggalkan rumah sambil membiarkan mereka bertiga terus membuat keributan──
Baigan 6
"Ka-kau…… Beraninya kau menampakkan muka tanpa rasa bersalah begitu……"
Begitu aku membuka pintu Guild Petualang, aku langsung disambut oleh Angie yang wajahnya pucat pasi dan tampak terkulai lemas.
"Selamat pagi, Senpai. Terima kasih atas traktirannya semalam."
Tadi malam, gara-gara meladeni Angie yang terus berlagak kuat minum dan mengaku sanggup menenggak lebih banyak lagi, kami akhirnya minum sampai larut, dan tentu saja, dia yang mentraktir.
"Begini ya…… Kenapa aku malah berakhir harus mentraktir semua orang di Guild?"
Termasuk aku, seluruh petualang Axel yang ada di tempat itu ditraktir.
"Bukannya Angie-senpai sendiri yang bilang, kalau sudah jadi tugas senpai untuk mentraktir kouhai-nya? Itu salah Senpai sendiri karena sok senpai dan berlagak padahal tidak punya uang. Kalau mau membusungkan sesuatu, busungkan dada saja, meski sepertinya Senpai tidak punya dada untuk dibusungkan."
"Tapi tetap saja tidak masuk akal kalau semua orang tiba-tiba teriak, 'Makasih traktirannya, Angie-senpai!' begitu! Padahal jelas-jelas banyak yang jauh lebih veteran dariku di sana! Petualang di kota ini benar-benar tidak punya rasa sungkan atau harga diri—"
Angie mendadak menghentikan bicaranya.
"Tunggu, apa katamu tadi? Padahal tidak punya uang? Terus setelah itu apa?"
Melihat wajah Angie yang mendadak serius, aku pun menyampaikan rasa terima kasihku dengan jujur.
"Aku bilang, biarpun tidak punya uang tapi tetap mau mentraktir, memang Senpai yang baru kembali dari garis depan itu luar biasa sekali."
"Pembohong! Kau pasti bicara kasar lagi, kan! Aku sudah curiga sejak kita bertemu kemarin, kau itu sama sekali tidak punya rasa terima kasih! Kau sedang meremehkanku, ya!?"
Aku mengabaikan protes Angie dan melangkah menuju papan pengumuman Quest.
Kalau dipikir-pikir, sudah berapa lama ya sejak terakhir kali aku datang melihat papan ini?
Apalagi belakangan ini staf Guild merasa malas menempelkan kertas untuk Quest perburuan katak yang sifatnya permanen, jadi mereka cuma mewajibkan pengecekan Kartu Petualang saja.
"Kita akan selesaikan quest yang sulit dicapai oleh pemula. Kalau mau pamer kehebatan orang dari garis depan, lebih baik quest tingkat kesulitan tinggi tapi imbalannya besar. Tapi, apa ada permintaan yang pas seperti itu ya……"
Angie sedang memandangi deretan kertas permintaan dengan imbalan tinggi yang rasanya agak berat untuk ukuran petualang pemula. Demi merasakan pengalaman petualangan yang sesungguhnya, aku pun mencari satu yang paling terasa pas.
"Senpai Tukang Pamer, bagaimana kalau yang ini? Misi mengambil 'Helios Brom', bunga matahari yang tumbuh di kepala Mountain Coatl. Katanya itu burung yang jarang terlihat karena terbang melintasi benua, tapi belakangan ini ada laporan penampakan di sebelah utara kota Axel. Kurasa cocok buat Senpai yang hobi pamer kekuatan."
"Mountain Coatl itu kan burung buas yang gedenya minta ampun, sampai-sampai sering dikira gunung berjalan! Kalau aku sendiri sih tidak masalah, tapi kalau harus membawa Petualang Kroco sepertimu, tingkat kesulitannya jadi terlalu tinggi. Cari quest yang agak aman sedikit."
Padahal mengambil bunga yang tumbuh di atas makhluk raksasa seukuran gunung itu terdengar sangat berjiwa petualang dan keren.
"Jangan-jangan yang kau maksud Petualang Kroco itu aku? Begini-begini, aku ini pria yang bisa diandalkan di saat genting."
"Kalau kau tidak memanggilku dengan sebutan aneh seperti Senpai Tukang Pamer, aku pasti akan memanggilmu dengan lebih layak. Coatl itu saking besarnya dan agak lamban, dia tidak akan sadar kalau kita cuma memanjat punggungnya. Tapi kalau bunga di kepalanya dicuri, dia bakal mengamuk habis-habisan dan mengejar kita. Kalau sampai ketahuan, bakal berat buatku melarikan diri sambil membawamu."
Peringkat Senior Tukang Pamer turun satu level di dalam hatiku.
"Kalau mencuri bunga terlalu sulit, bagaimana kalau yang ini? Menangkap 'Fairy Butterfly' yang bersarang di punggung Mountain Coatl. Katanya itu kupu-kupu yang cantik dan fantastis, bukankah terasa sangat puitis dan berjiwa petualang?"
"Jauhi hal-hal yang berbau Mountain Coatl! Semua individu mereka itu monster berbahaya yang kepalanya dihargai buronan sangat tinggi! Sudah kubilang cari yang lebih aman!"
Peringkat Senior Pengecut turun dua level di dalam hatiku.
"Kalau begitu mau berburu katak saja? Kalau itu sih, selagi Senpai jadi umpan untuk dimakan, aku bisa menghabisinya."
"Masa berburu katak! Aku masih sanggup melawan yang lebih kuat dari itu! Terus, kenapa kau menganggap aku ini otomatis jadi umpan! ……Ah, ini! Yang ini saja!"
Sambil melancarkan protes bertubi-tubi, Angie menunjuk ke selembar kertas di papan pengumuman.
"『Permintaan Pengumpulan Tontokonium yang Terasa Pas』. Apa-apaan apanya yang 'terasa pas', apa mereka sedang bercanda?"
Aku refleks melancarkan protes mendengar nama bodoh khas dunia lain itu.
"A-apa sih tiba-tiba, kenapa kau marah-marah!? Tontokonium itu bijih mineral yang populer di kalangan kolektor, tahu. Kalau kita berhasil mengumpulkan jumlah yang diminta, sisanya boleh kita ambil sesuka hati! Imbalannya juga luar biasa, katanya kita bakal dapat Beragimite yang terasa pas!"
Sambil menunjuk kertas permintaan itu, Senior Tontoko ini mulai bicara seperti Aqua.
"Makanya, 'terasa pas' itu maksudnya apa? Bisa berhenti tidak pakai istilah yang bikin IQ turun begitu?"
"Itu kan cuma menyebutkan ciri khas batunya, kenapa kamu galak sekali sih!? Tapi, tidak disangka quest semenguntungkan ini dibiarkan begitu saja, benar-benar kota pemula ya. Yah, memang butuh kemampuan tertentu untuk mengambilnya, mungkin itu alasannya kenapa dibiarkan lama."
Sambil berkata begitu, Angie dengan riang mencabut kertas permintaan tersebut.
"Kurasa orang-orang cuma tidak paham apa maksud dari 'Tontoko yang terasa pas'. Terus, soal Beragimite itu, mungkin mereka cuma merasa tidak butuh barang semacam itu."
"Itu karena mereka tidak paham kualitas dan nilai sebuah batu, makanya mereka selamanya jadi pemula. Sudahlah, kita ambil quest ini. Lokasi Tontokonium itu ada di puncak gunung. Kau ingin berpetualang, kan? Pemandangan dari puncak gunung setelah menyelesaikan pekerjaan itu yang terbaik, tahu!"
Begitu ya, setidaknya dia mempertimbangkan keinginanku untuk berpetualang.
"Baiklah, Beragima-senpai. Kalau pemandangannya benar-benar luar biasa, semua hadiah batu kerikil itu akan kuberikan padamu."
"Ka-kau tahu tidak berapa nilai Beragimite yang terasa pas? Count Sutton yang terkenal sebagai kolektor batu bahkan menyatakan kalau nilainya mungkin melebihi Coronatite yang legendaris—"
Aku menutup telinga rapat-rapat, enggan memasukkan lebih banyak istilah bodoh ke dalam kepalaku.

