Konosuba Yorimichi Jilid 4 Bab 5

Chapter terkahir dari Konosuba Yorimichi 4, bercerita tentang Duke-sama yang membereskan kekacauan yang ditimbulkan warga Axel.
Ilustrasi Siluet Darkness dari Konosuba Yorimichi 4 Bab 4 Harga Diri dan Keseriusan Petualang Junior
Konosuba Yorimichi 4 - Harga Diri dan Keseriusan Petualang Junior

Bab 5: Harga Diri dan Keseriusan Petualang Junior

1

Lonceng berdentang di kota Axel.

Itu adalah suara lonceng yang sangat dinanti-nantikan oleh para penduduk kota.

Mereka yang sedang bekerja, maupun yang baru akan berangkat menjalankan quest

Mulai dari para hikikomori, ibu rumah tangga, anak-anak, hingga pemabuk yang sudah teler sejak siang hari, semuanya berlari menuju gerbang utama.

Para penduduk bersorak kegirangan dengan senyum mengembang di wajah mereka. 

Di antara mereka yang menyambut di depan gerbang utama, bahkan ada yang sampai berkaca-kaca.

 

──Ayah Darkness, sosok yang sangat dirindukan oleh penduduk Axel.

Duke Ignis Dustiness Ford telah kembali.

 

Membawa serta pasukan prajurit yang besar, Ignis yang telah menyelesaikan pertempurannya dan melepas zirah tempurnya itu melangkah melewati gerbang utama dengan santai namun penuh wibawa, memicu sorak-sorai yang riuh.

Disambut dengan tepuk tangan meriah dari para penduduk, Ignis yang mungkin tidak menyangka dirinya sebegitu dicintainya oleh rakyat tampak tersipu malu sambil membalas sorakan mereka dengan sedikit canggung.

"Ayahanda!"

Tanpa basa-basi, Darkness langsung melompat memeluk ayahnya yang baru pulang dari medan perang.

"Whoa!? Hahaha, ada apa Lalatina? Sebegitu khawatirkah kau pada Ayah?"

Mendapat sambutan dari putri kesayangannya yang memiliki kecenderungan father complex itu, wajah Ignis berseri-seri bahagia sambil balas memeluk Darkness dengan lembut.

"Tidak apa-apa. Sekarang setelah kutukan iblis itu dihilangkan, sebagai bangsawan kelas atas, tidak mungkin aku kalah dari Pasukan Raja Iblis. Sudahlah, semua orang sedang melihat. Ayah tahu kau kesepian, tapi sudah waktunya melepaskan tangan ini... tang-tanganmu...! Lalatina, lepaskan tanganmu, tulang di tubuhku mengeluarkan suara yang mengerikan...! Lalatina! Lalatina!!"

Dipeluk erat-erat dengan sekuat tenaga dan penuh luapan emosi, Ignis menjerit kesakitan.

Melihat wajah Ignis yang semakin pucat pasi, aku dan Megumin buru-buru menghentikan Darkness.

"Woi, lepaskan Duke, dasar Wanita Father Complex! Padahal dia sudah susah payah pulang dengan selamat, kalau dibiarkan begini dia malah jadi tidak selamat!"

"Darkness, ayahmu sudah berbusa dan gemetaran! Menjadi Father Slayer itu gawat urusannya!"

Darkness yang berhasil ditarik paksa itu menatap lekat-lekat ke arah Ignis dengan mata berkaca-kaca.

"Ayahanda, Lalatina melewati hari-hari tanpa bisa tidur di malam hari karena saking khawatirnya. Bisa melihat Ayahanda pulang dengan selamat seperti ini, tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini..."

Ignis, yang memang selalu lemah terhadap putrinya, padahal tulang punggungnya baru saja hampir patah, wajahnya langsung kembali berseri hanya dengan mendengar kata-kata itu.

"Be-begitu ya, meski keadaanku sekarang tidak bisa dibilang selamat.... Tapi Lalatina, kau bilang kau melewati hari-hari tanpa bisa tidur di malam hari, tapi wajahmu sama sekali tidak terlihat sedang stres..."

"Ayahanda! Aku harus meminta maaf pada Ayahanda. Padahal Ayahanda sudah menunjukku sebagai Pelaksana Tugas Lord, tapi aku gagal menjalankan tugas pengganti tersebut..."

Sambil memotong kata-kata keraguan ayahnya, Darkness mengadu dengan bercucuran air mata.

Ignis meletakkan tangannya di atas kepala putrinya yang tertunduk lesu seolah ingin menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Lalatina. Dari awal, Ayah hanya memberikan pendidikan sebagai seorang wanita bangsawan kepadamu. Sekalipun kau tiba-tiba diserahkan seluruh pekerjaan sebagai Lord dan tidak bisa menyelesaikannya, itu adalah tanggung jawabku. Lagipula, pendidikanmu sebagai seorang Lord baru saja dimulai."

Dia bilang hanya memberikan pendidikan sebagai wanita bangsawan, tapi yang bagian itu juga rasanya baru saja dimulai, kan? 

Aku tidak akan membiarkan dia bilang kalau pendidikan yang itu sudah selesai.

Mengabaikan isi hatiku dan orang-orang di sekitarnya, Ignis tersenyum dengan lembut.

"Selama Ayah tidak ada, kau sudah berjuang dengan baik. Sisanya serahkan saja pada Ayah. Meskipun begitu, sekarang Ayah benar-benar lelah setelah perjalanan panjang. Untuk hari ini, biarkan Ayah beristirahat dengan tenang, dan mulai bekerja keras besok. Fufu, setelah kita pulang ke rumah besar nanti, dengarkanlah kisah kepahlawanan Ayah. Sebagai gantinya, Ayah juga ingin mendengar sekeras apa Lalatina sudah berjuang."

Setelah berkata demikian, dia mengedipkan sebelah matanya dengan penuh canda.

 

"Maaf mengganggu momen kehangatan keluarga ini, tapi ada beberapa laporan mendesak. Bolehkah tolong dengarkan itu saja dulu?"

 

Sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal yang tidak peka seperti ini.

Ignis juga menyadari bahwa akulah yang mengganggu momen keluarga mereka. Tanpa menegur ketidaksopananku, dia hanya tersenyum kecut dan membalas,

"Umu, yah... Kalau kau yang mengatakannya, mari kita dengarkan. Selama aku tidak ada, apa kau berbuat ulah lagi? Begini-begini aku ini orang yang bahkan dijuluki sebagai tangan kanan kerajaan. Kurasa aku tidak akan terkejut dengan hal-hal seperti itu sekarang..."

Mendengar kata-kata yang seolah menjadi sebuah pertanda buruk itu, para penonton yang sedari tadi membuat keributan langsung terdiam seribu bahasa.

Menyadari sesuatu dari reaksi orang-orang di sekitarnya, Ignis menurunkan tangan yang tadi dia letakkan di atas kepala Darkness.

"Kita mulai dari yang kecil dulu. Yang pertama... Saat ini pasukan belalang sedang mendekati kota Axel. Katanya besok mereka akan langsung menghantam kota ini. Selain itu, dari arah yang berbeda, segerombolan Undead sedang menuju kemari."

Menggantikan Ignis yang ekspresinya tidak berubah, para prajurit yang dibawanya mulai berbisik-bisik gelisah.

"Pasukan belalang, ya. Kalau dipikir-pikir, memang sudah hampir memasuki musimnya. Kalau Undead berarti... Mengerti, aku akan segera mengatur persiapan untuk mencegat mereka."

Karena dia sempat melirik ke arah Aqua sejenak, sepertinya dia sudah menebak penyebab serangan Undead tersebut.

"Karena kota di garis depan telah diduduki, jumlah petualang yang mengungsi kemari bertambah, sehingga keamanan kota jadi kurang baik. Perkelahian antar petualang sudah jadi makanan sehari-hari, ditambah lagi permainan bodoh menggunakan gulungan sihir Flash sebagai kembang api sedang menjadi tren. Sekalipun polisi ingin menangkap mereka, sel tahanan sudah penuh sesak oleh para pengikut kultus Axis dan Eris."

"...Be-begitu ya, mengerti. Aku juga akan memikirkan cara untuk mengatasi masalah itu."

Wajah Ignis sedikit berkedut, tapi dia tetap menjawab dengan tenang.

"Berkat aksi seorang petualang pemberani tertentu, Mountain Coatl berhasil dikalahkan. Tapi sepertinya, Coatl itu membangun sebuah harem. Entah karena berniat membalas dendam untuk si jantan yang terbunuh, dua ekor yang sepertinya betina sedang mencari pelakunya dan berputar-putar di langit Axel. Karena ini cuma petualang yang melakukan petualangan, menurutku tidak ada hal buruk yang dilakukan, tapi kurasa lebih baik segera ditangani."

"Petualang tertentu itu maksudmu dirimu sendiri, kan? Lagipula, Mountain Coatl itu monster target pembasmian dengan nilai buronan tinggi yang terbang melintasi benua dan menyerang manusia atau kereta kuda jika melihatnya dari atas. Kalau dipikir ini adalah kesempatan untuk bisa menghabisi mereka, justru ini hal yang menguntungkan. ...Aku sudah terbiasa dengan masalah-masalah yang terjadi di Axel. Fufu, laporan tingkat segini tidak akan menggoyahkanku."

Kepada Ignis yang tersenyum kecut itu, aku yang merasa lega pun menyampaikan laporan terakhirku.

 

"Oh ya, satu lagi. Darkness sudah menjadi pengikut kultus Axis."

"Seret semua bajingan yang memojokkan putriku sampai sejauh itu ke hadapanku sekarang juga."

 

Semua orang, kecuali mereka yang berafiliasi dengan keluarga Dustiness, langsung lari kocar-kacir membubarkan diri layaknya anak laba-laba.

 

Bagian 2

Di depan kediaman Dustiness, orang-orang yang membuat masalah selama kepergian Ignis dikumpulkan.

Dipimpin oleh kelompok kami, terlihat juga sosok Cecily, sang pendeta kultus Axis yang menginisiasi provokasi terhadap kultus Eris, serta Vanir dan Yunyun.

Lalu di barisan terdepan para petualang kelompok garis depan, tampak Angie yang pucat pasi dan gemetaran hebat.

Selain itu, para pengikut kultus Eris dan Axis yang sempat dijebloskan ke sel tahanan, hingga para petualang kota Axel yang selama ini bertindak semaunya sendiri, hampir semuanya memancarkan aura suram layaknya sedang berada di rumah duka.

Ignis menatapku lalu berkata.

"Pertama-tama... Kudengar kau sudah menjadi asisten putriku selama aku tidak ada. Bisakah aku memintamu untuk terus menjadi asistenku mulai sekarang?"

"Saya laksanaken. Tolong biarkan saya melaksanakannya."

Dalam waktu sesingkat ini, dia pasti sudah memahami segala hal yang terjadi di kota Axel.

Ini pun situasinya sebenarnya sudah agak mendingan, karena dia sudah tahu kalau Darkness tidak benar-benar pindah agama menjadi penganut kultus Axis, melainkan cuma membolos kerja gara-gara terkesan oleh doktrin sesat mereka.

Meski begitu, di hadapan kemarahan yang tak lagi disembunyikan serta aura mengintimidasi dari seorang kepala keluarga Duke ini, tidak mungkin aku yang cuma rakyat jelata ini berani menolak.

Lagipula, kalau berani menolak di situasi begini, tatapan matanya seolah benar-benar akan mengeksekusi kami.

"Umu. Kalau begitu selanjutnya... Para petualang sekalian yang telah mengganggu ketertiban dan berbuat semaunya sendiri selama aku tidak ada."

""""""""Ya""""""""

Para petualang yang wajahnya tidak lagi pucat melainkan seputih kertas itu, menjawab serempak dengan harmoni yang indah.

"Pertama-tama, kalian yang disebut sebagai kelompok garis depan... Aku mengerti perasaan kalian yang ingin mencari pelampiasan karena telah melalui masa-masa berat di garis depan yang keras. Lagipula, aku juga baru saja pulang dari ekspedisi. Dan untuk para petualang kota Axel, aku juga paham perasaan tidak suka kalian saat melihat petualang senior yang tiba-tiba datang lalu bertingkah sok berkuasa. Tapi..."

Ignis memunculkan senyuman yang sangat ceria.

"Bisakah kuminta kalian membereskan dan menutupi kekacauan yang telah kalian perbuat? Tentu saja, keluarga kami yang akan membayar imbalannya. Karena baru pulang dari ekspedisi, kantongku sedang tebal, jadi akan kuberikan seluruh uang yang kuhasilkan. Kalau kalian berkontribusi besar, silakan nantikan imbalannya. Dengan kata lain, aku tidak tahu apa jadinya bagi mereka yang tidak berkontribusi. Hahahaha! Ini cuma lelucon bangsawan, tertawalah!"

""""""""Hahahahahaha""""""""

Entah sampai batas mana dia serius, Ignis tertawa dengan suasana hati yang terlihat bagus.

Mengikutinya, baik petualang asli Axel maupun yang baru kembali dari garis depan, seluruh petualang di tempat itu ikut tertawa patuh secara serempak.

Saat Ignis berhenti tertawa dan kembali memasang wajah serius, tawa hambar di tempat itu pun langsung berhenti seketika.

"Kalau begitu, mari kita minta semua orang yang ada di sini untuk mulai mengatasi kesulitan di kota Axel. Pertama-tama..."

 

──Tepat ketika semua orang mengira mereka akan dengan patuh masuk ke bawah komando Ignis, saat itulah hal itu terjadi.

 

Di tengah hampir semua orang yang sedang berlutut atau menundukkan kepala, Vanir berdiri tegak dengan percaya diri di tempatnya, lalu...

"Fuhahahahahaha! Ini pertama kalinya kita bertemu, oh Tuan yang paling banyak menderita di kota Axel, sekaligus orang kuat yang mampu bertahan hidup meski telah menerima kutukan dari seekor Iblis Agung tertentu! Namaku Vanir! Soal identitas Diriku ini, kurasa engkau sudah mengetahuinya dari putri dan juga bawahanmu!"

Sambil berkata demikian dengan gerak-gerik yang berlebihan, Vanir menunjukkan sosok berwibawa yang tidak kalah dari Ignis.

Kepada Ignis yang masih berwajah datar, Vanir menyeringai dan melanjutkan...

"Anak-anak bermasalah yang berbaris di sini memang pantas menerima akibatnya, jadi Diriku rasa mereka harus mematuhi perintahmu. Tapi diriku ini cuma sekadar menjual kembang api kilat, jadi untuk apa pun barang itu digunakan, rasanya tidak ada alasan bagi diriku untuk ikut memikul tanggung jawabnya. Yah, meski ada sedikit sekali perasaan kalau diriku mungkin berbuat kesalahan kecil, tapi begini-begini biarpun tempatnya berbeda, diriku ini juga menduduki posisi seorang Duke sepertimu. Jadi, untuk mematuhi perintahmu dengan begitu mudah..."

"Dengan otoritas sebagai seorang Duke, aku akan mengganti nama markas besar kultus Axis, Alcanretia. Nama barunya adalah Vanilmild. Mulai besok, nama tanah suci pengikut kultus Axis adalah Vanilmild."

Vanir terdiam.

Sepertinya membiarkan kota suci kultus Axis dinamai dengan namanya sendiri itu terlalu menyiksa bagi sang iblis.

"Tunggu sebentar! Aku nggak bakal membiarkan kota suci Alcanretia diberi nama aneh seperti itu! Kalau kau sampai melakukan hal itu—"

"Di Kerajaan Belzerg kita ini ada yang namanya bangsawan iblis. Karena nama kotanya akan diubah menjadi bernuansa iblis, mari kita serahkan wilayah itu untuk dipimpin olehnya."

Aqua terdiam.

Sepertinya membiarkan tanah sucinya sendiri dipimpin oleh sesosok iblis itu terlalu menyiksa baginya.

"Umu, sangat bagus. Apa ada orang lain yang berani bilang tidak bisa mematuhi perintahku?"

Tidak ada satu pun orang yang membuka mulut.

Ignis mengangguk puas sekali sambil bergumam, "Bagus", lalu mengarahkan pandangannya pada Cecily yang sedang meringkuk menyusutkan diri agar tidak mencolok.

"Pengumuman bagi pengikut kultus Axis dan Eris yang telah dibebaskan! Saat ini, segerombolan kawanan Undead sedang mendekati kota Axel. Kalian semua pergilah dan redakan ancaman ini. Dengan pencapaian tersebut, keributan kali ini akan dimaafkan. Ada keberatan?"

"Tidak ada. Kami akan pergi menghabisi para Undead itu."

Cecily beserta para pengikut kultus Axis dan Eris lainnya mengangguk-angguk kaku secara mekanis.

Ignis mengangguk puas melihat hal itu, lalu berseru.

"Selanjutnya, para petualang yang tadinya tinggal di kota garis depan!"

"H-hway!"

Sepertinya klaimnya sebagai koordinator para petualang yang kembali dari garis depan itu memang benar adanya. Senior Pucat yang berdiri paling depan itu mewakili kelompok garis depan dan mengeluarkan suara melengking.

"Bergembiralah. Kota tempat kalian tinggal sebelumnya telah kembali ke tangan umat manusia. Itulah alasan kenapa aku kembali dari ekspedisi. Jadi, kalian sudah tidak perlu lagi repot-repot membimbing petualang pemula di Axel. Kalian bisa kembali mencari uang di garis depan, menyenangkan bukan?"

"Menyenangkan..."

Senior Suara-Perut itu menjawab tanpa emosi sambil membuka-tutup mulutnya layaknya sebuah boneka kayu.

"Tapi, kudengar kalian juga sudah dibuat cukup menderita oleh para petualang Axel. Kalau dibiarkan begini, harga diri kalian sebagai senior akan hancur, kan. Oleh karena itu, akan kusiapkan panggung untuk memulihkan kehormatan kalian. Ini adalah kesempatan untuk memamerkan kehebatan kalian pada para junior. Menyenangkan, bukan?"

"Menye... m-menyenangkan..."

Senior Mata-Berkaca-kaca itu sempat hampir menyangkal sesaat, tapi langsung diberi "pelajaran" karena takluk oleh tekanan.

"Kuperintahkan kalian untuk membasmi Pasukan Belalang yang sedang menginvasi kota ini. Habisi mereka tanpa sisa. Tunjukkan tekad pantang menyerah dari mereka yang kembali dari garis depan. Bisa, kan?"

"Musta...! Bi... bisa..."

 

Sempat hampir bilang mustahil sejenak, Senior Takluk yang sudah sepenuhnya tunduk itu mengedarkan pandangannya dengan mata berkaca-kaca mencari pertolongan... dan entah kenapa matanya bertemu denganku.

Hentikan, biarpun kau menatapku dengan tatapan memelas seperti itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Melihat sosok Angie yang sepertinya akan menangis kapan saja, Ignis tertawa riang.

"Hahahaha, mana mungkin kusuruh kalian membasmi Pasukan Belalang sendirian! Tentu saja aku punya rencana!"

Mendengar kata-kata itu, Angie yang hampir menangis menghembuskan napas lega.

"B-benar juga, ya! Kukira kami benar-benar disuruh melakukannya sendirian..."

"Di kota Axel ini ada banyak katak yang bersarang. Gunakan mereka. Benturkan kawanan katak itu dengan kawanan belalang. Gunakan orang yang punya skill Decoy sebagai umpan untuk memancing katak-katak itu. Bagi yang tidak punya skill Decoy pun, gunakan tubuh kalian sebagai umpan untuk memancing mereka."

"Hiii..."

Di saat wajah para petualang kelompok garis depan berkedut ngeri, Angie akhirnya menangis.

Melihat suasana yang sudah benar-benar seperti rumah duka ini, sepertinya biarpun sudah melakukan sampai sejauh itu, melawan Pasukan Belalang tetaplah hal yang berat.

"Yunyun!"

"H-hah!? I-iya!"

Yunyun, yang berdiri sendirian menjaga jarak dari semua orang, dipanggil namanya.

"Apa kau bisa menggunakan sihir Control of Weather?"

"I-iya, aku sudah menguasai sihir tingkat lanjut. Ah! Hujan memang efektif melawan kawanan belalang!"

Karena Pasukan Belalang tidak bisa terbang jika sayapnya basah, kalau hujan turun mereka cuma akan jadi belalang biasa.

"Umu. Ikutlah dengan mereka dan bantulah. Lagipula, di antara sihir tingkat lanjut juga ada sihir area luas seperti Inferno dan Tornado. Sihir-sihir itu juga efektif melawan kawanan belalang. Dengan berpartisipasi membasmi Pasukan Belalang, dosamu akan dimaafkan."

"B-ba-baik! Terima kasih, aku berangkat!"

Dengan wajah berseri-seri, Yunyun melangkah mendekati kelompok garis depan.

Mungkin aku sedang menyaksikan momen keajaiban. 

Kalau dengan begini Yunyun menunjukkan kekuatannya, mungkin dia bahkan akan direkrut oleh party dari kelompok garis depan...

"...Jadi kau, ya? Anggota Klan Penyihir Merah yang suka menyerang petualang yang baru kembali dari garis depan itu. Sepertinya kau akan membantu membasmi belalang, tapi aku tidak akan berterima kasih. Aku akan melupakan soal serangan itu, jadi kita impas!"

"!?!?!??!!??!!?!? B-bu-bukan...! Aku tidak melakukan hal semacam itu, itu pasti bukan aku!"

Sepertinya dia tidak akan direkrut.

Mungkin karena sadar akan dirugikan jika harus berhadapan dengan banyak petualang sekaligus, pelaku sebenarnya yang berdiri di sebelahku menarik topinya dalam-dalam dengan kedua tangan, menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat.

Kehilangan minat pada Yunyun yang bersikeras bilang bukan dia pelakunya, entah kenapa Angie menatap tajam ke arahku.

"Lalu, Duke-sama... Bagaimana rencana Anda mengenai dua ekor Mountain Coatl yang menjadi masalah utamanya? Meski rasanya tidak mungkin, apa Anda bermaksud menyuruh para pemula di sana untuk melakukannya..."

"Tentu saja begitu, memangnya kenapa?"

Sudah kuduga, yang paling berat pasti kami yang disuruh membereskannya.

Tapi kelompok garis depan, termasuk Angie, sepertinya tidak bisa menerima hal itu.

"Duke-sama, Coatl itu musuh tangguh yang biasanya diburu oleh sekelompok petualang level tinggi secara bersamaan! Aku baru tahu kalau belakangan ini ada penyihir hebat pengguna Sihir Ledakan di kota ini! Tapi Coatl yang pejantannya dibunuh itu pasti sudah waspada, dan sekarang mereka sedang mencari pelakunya dari atas langit! Biarpun mereka itu junior kurang ajar yang suka cari gara-gara dan mengejek seniornya, tapi kalau disuruh menghadapi monster seperti itu..."

Entah karena ada emosi yang meluap, Angie meneteskan air mata di sudut matanya, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Melihat petualang garis depan lainnya juga memasang ekspresi serius, sepertinya pemikiran mereka semua sama.

 

──Waktu berpetualang bareng Angie tempo hari aku juga sempat mikir, tapi perbedaan persepsi bahaya antara kelompok garis depan dan petualang Axel itu terlalu ekstrem.

Di sini ini, biarpun disebut kota pemula, tapi petinggi Pasukan Raja Iblis, benteng bergerak (Mobile Fortress Destroyer), sampai roh agung bisa menyerang kapan saja dengan santainya.

Biarpun lumayan sering berturut-turut dikirim ke hadapan Eris-sama, yah, pada akhirnya semua orang hidup sehat walafiat kok.

 

──Saat aku memikirkan hal itu dengan santai menanggapi permohonan sedih Angie, Ignis membalas perkataannya.

"Tidak apa-apa, tidak masalah. Kalau mereka, pasti bisa menyelesaikan pembasmian Coatl tanpa ada satu pun yang gugur."

Kepada Angie yang menengadah dengan tatapan heran, Ignis menyeringai lebar lalu berkata.

"Menganggap petualang Axel sebagai pemula itu rasanya sudah seperti penipuan, soalnya."

 

Bagian 3

Untuk memburu para Undead nokturnal, para pendeta yang dipimpin oleh Cecily sudah berangkat sejak malam hari.

Dan saat ini.

Di langit Axel yang disinari mentari pagi yang menyilaukan, para Coatl sedang berputar-putar dengan perlahan.

Sambil menengadah menatap mereka dengan tatapan jengkel, kelompok garis depan yang dipimpin Angie berkumpul di depan gerbang untuk membasmi Pasukan Belalang.

"Dengar, ya? Kalau sudah begini kami juga akan menggunakan segala cara, entah itu pakai katak atau apa pun, kami akan membereskannya dengan cepat lalu pulang. Karena itu..."

Angie menatap lurus ke arah kami yang berkumpul untuk mengantarnya dengan wajah serius,

"Karena itu, jangan provokasi mereka sampai kami kembali, dan kalaupun diserang, kalian harus bertahan! Paham kan, Kouhai Kroco Sialan!"

Sambil memancarkan sedikit aura tragis, ia menyatakan hal itu secara sepihak lalu berangkat tanpa menoleh ke belakang lagi──

 

Yunyun menoleh dengan wajah penuh dendam ke arah sosok yang sedang mengendap-endap di sebelahku, lalu mengikuti barisan paling belakang kelompok garis depan dengan perasaan putus asa. 

Kosomin yang mengantar kepergiannya itu, menyibakkan topi yang tadinya dipakai dalam-dalam.

"Nah! Orang yang tidak jelas tadi mengatakan hal yang tidak jelas juga, tapi kalau diringkas, maksudnya adalah 'Jangan buru Coatl itu sampai kami kembali, karena itu mangsa senpai'. Dengan kata lain, orang-orang itu berniat merampas ketenaran dan uang hadiah dari pembasmian target besar ini!"

Kurasa mereka sama sekali tidak bermaksud begitu, tapi Megumin tidak bisa dihentikan.

Ia mengangkat tongkat kesayangannya ke arah langit, lalu berseru lantang seolah ingin suaranya mencapai angkasa.

"Jangan pikir kalian bisa terus meremehkan kami dari atas sana selamanya! Begitu kalian masuk ke dalam jarak tembak, akan kuukir nama Coatl baru di kolom pembasmian pada Kartu Petualangku! Ayo, sekaranglah saatnya memamerkan kekuatan petualang Axel!"

Mengabaikan peringatan Angie sepenuhnya, Megumin mulai memprovokasi Coatl dengan sekuat tenaga.

Dan kemudian──

"Ou, ayo beri pelajaran pada orang-orang yang berlagak sok senior dan bertingkah sombong itu!" 

"Beraninya meremehkan dari tempat tinggi, ayo seret mereka turun!" 

"Memang bukan target sebesar Kowloon Hydra, tapi ini buronan dengan nilai hadiah tinggi setelah sekian lama! Jangan biarkan lolos!"

Tanpa mempertimbangkan tekad dan aura tragis para senior sama sekali, para petualang Axel bukannya menghentikan Megumin, malah ikut memprovokasi Coatl tersebut.

Semuanya bicara dengan gagah berani, tapi apa mereka sudah memikirkan cara mengalahkannya saat Coatl itu turun nanti?

Tentu saja, tidak ada satu pun yang memikirkan hal itu. Petualang di kota ini memang cuma sebatas ini.

Aura tragis dan suasana serius dari kelompok garis depan telah sepenuhnya sirna, kini mereka tak lebih dari sekadar gerombolan berandal yang beringas.

 

"Semuanya, sepertinya kalian penuh dengan semangat, ya."

 

Sebuah suara berat yang penuh wibawa menyapa gerombolan berandal yang berkumpul itu. 

Saat menoleh ke arah pemilik suara tersebut, tampak sosok Ignis yang sudah mengenakan zirah tempur lengkap.

"Ayahanda! Jangan bilang Ayahanda berniat ikut berpartisipasi dalam pembasmian Coatl!?"

Mereka mungkin tidak menyangka kalau seorang Duke akan turun tangan langsung untuk membereskan kekacauan kami.

Mendengar suara Darkness yang mengenakan zirah berat khusus untuk melawan target besar, Ignis menyeringai lalu──

 

"Sesekali memperlihatkan punggung seorang ayah kepada putrinya itu hal yang bagus. Lagipula, menghadapi dua buronan berharga tinggi, aku tidak bermaksud lepas tanggung jawab dengan menyerahkan semuanya pada kalian."

Menanggapi kalimat yang bisa diandalkan itu, seseorang bersiul seolah menggoda. Menyusul hal itu, para petualang bersorak satu demi satu.

"Hidup Dustiness-sama! Hidup Dustiness-sama!" 

"Dustiness-sama! Dustiness-sama!" 

"Duke-sama, keren! Murahkan pajaknya dong!" 

"Bagus, Duke Bucin Anak! Memang pantas jadi ayah dari putri Father Complex!"

Disoraki sorak-sorai usil begitu, Ignis yang tampak tidak terlalu keberatan menyahut,

"Hei, yang barusan memanggilku Duke Bucin Anak, maju ke depan."

Tiba-tiba wajahnya menjadi serius dan dia membalas dengan suara pelan. 

Di saat semua orang memalingkan pandangan dari Ignis, seolah ingin bilang 'Kalian dikumpulkan di sini sebagai hukuman, jadi jangan terlalu besar kepala', dia menatap tajam para petualang sebagai peringatan, lalu berkata,

"Nah, Kazuma. Sebagai asisten, apa kau punya rencana untuk menyeret turun makhluk itu?"

Ignis bertanya dengan nada seolah mengujiku, dan sekaligus bermaksud menggoda.

"Yah, bukannya tidak ada..."

Dia pasti tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. 

Di tengah para petualang yang memalingkan wajah tadi tiba-tiba berseru kagum, "Ooh!", aku melanjutkan,

"Para petualang super bodoh di sini, kemungkinan besar semuanya membawa kembang api kilat (Flash). Mari kita jatuhkan makhluk itu pakai barang tersebut."

"Siapa yang kau panggil petualang super bodoh, kau sendiri juga salah satunya, kan!"

"Benar itu, Kazuma-san juga beli gulungan sihirnya, kan! Aku tahu, lho!" 

"Sekalipun pakai gulungan Flash di tempat seperti ini, tidak akan ada gunanya kalau makhluknya terbang setinggi itu! Dasar orang bodoh yang sok pintar, jangan panggil kami super bodoh!"

Aku mengarahkan sebelah tanganku pada gerombolan orang super bodoh yang terus menggonggong berisik itu.

"Berisik! Aku masih belum selesai menjelaskan, jadi dengarkan baik-baik. Yang berani bicara lagi bakal ku-Steal! Lagipula, aku sudah menghabiskan semua kembang api kilatku dan tidak beli lagi. Aku beda dengan kalian yang masih main-main dengan barang seperti itu layaknya anak kecil, jangan samakan denganku!"

(Hari ini dia banyak tingkah banget ya. Hajar yuk? Bikin babak belur anak ini?) 

(Bikin Kazuma-san babak belur itu tidak akan terlambat biarpun setelah kita mengalahkan Coatl. Setidaknya, kita harus korek info dulu bagaimana cara menjatuhkan makhluk yang lagi terbang itu.) 

(Kazuma memang bodoh tapi dia itu licik. Kita dengar dulu saja rencananya, baru kita hajar bareng-bareng.)

Bisikan kalian terdengar jelas olehku.

Alasan kenapa aku bersikap galak begini itu karena waktu jadi asisten Darkness, aku terus-terusan disuruh membereskan kekacauan kalian, tahu.

"Gulungan sihir tidak akan bisa digunakan kalau tidak dalam keadaan terbuka dan pemiliknya mengucapkan kata kuncinya. Karena itu, ayo kita lempar kembang api kilat itu ke arah kepala Coatl bersama-sama, lalu disusul dengan tembakan Snipe dari para pemanah. Kalau kita berhasil memanah putus tali pengikat gulungan itu, selanjutnya kita semua tinggal meneriakkan kata kuncinya. Begitu Coatl itu jatuh karena terkena Flash, tinggal dihabisi dengan satu serangan Sihir Ledakan."

Suasana di sekeliling langsung sunyi senyap.

"Banyak celahnya! Dilempar pun, tidak akan ada yang bisa mencapai langit setinggi itu!" 

"Yang bisa memanah tepat cuma di talinya saja dengan Snipe itu cuma kau si Bajingan Cheat Keberuntungan, bodoh!" 

"Lagipula Coatl-nya ada dua ekor! Megumin kan cuma ada satu ekor, atau jangan-jangan orang Klan Iblis Merah itu bisa membelah diri!? Kita butuh dua tembakan Sihir Ledakan!"

"Hei, tolong berhenti menghitungku dengan sebutan 'ekor'! Kalau tidak, satu tembakan Sihir Ledakan itu akan kugunakan di sini sekarang juga!"

Ke arah para petualang yang terus menggonggong berisik itu, aku mengulurkan sebelah tanganku.

"『Steal』! ...Cih, dompet ya! Baguslah kau dapat 'zonk'."

"Sama sekali bukan zonk, dan ini nggak bagus! Hei, kalian semua protes dong ke Kazuma, jangan tiba-tiba diam! Terus, kembalikan dompetku!"

Setelah melempar balik dompet yang kucuri, aku kembali melanjutkan penjelasanku pada para petualang yang langsung terdiam karena waspada terhadap Steal.

"Aku tahu kalau lemparan kalian yang lemah itu tidak akan sampai. Terus, berbeda denganku yang beruntung karena selalu berbuat baik setiap hari, aku juga tahu kalau keberuntungan kalian itu tidak tinggi."

(Hajar yuk, kita hajar sekarang juga. Semuanya, sudah siap untuk menyerang?) 

(Tunggu dulu, dia masih mau bilang sesuatu. Kita dengar dulu saja, setelah itu baru kita hajar habis-habisan.) 

(Kenapa orang kayak gini punya keberuntungan yang bagus sih. Mata Dewi Keberuntungan Eris-sama itu buta ya.)

Kan sudah kubilang, bisikan kalian itu terdengar jelas.

Tapi, kalau aku memprovokasi lebih dari ini, sepertinya mereka benar-benar akan menyerang balik. Jadi, aku memanggil Aqua.

"Aqua! Bisa tolong berikan sihir penguat untuk meningkatkan kekuatan lengan dan sihir berkat?"

"...Begitu ya, serahkan padaku! Akan kutunjukkan keseriusanku!"

Entah dia benar-benar paham maksudku atau tidak, Aqua menepuk dadanya dengan riang.

"Terus Vanir! ...Eh, soal satu tembakan Sihir Ledakan lagi, Wiz ke mana?"

Ini adalah krisis Axel. Karena Vanir juga menerima panggilan ke mari, kukira Wiz pasti juga akan ikut bersamanya.

"Umu, soal itu... Saat diriku sedang pergi, pemilik toko berutang yang membuat tumpukan utang itu kusuruh bekerja tanpa libur, dan akhirnya dia tidak bergerak lagi. Karena kembang api kilat laku keras di kalangan kalian, terlalu memforsirnya malah jadi bumerang. Diriku sudah buru-buru memberinya asupan nutrisi jadi dia akan segera bangkit kembali, tapi... Saat ini dia pasti sedang bertarung sengit dengan pendayung perahu Sungai Sanzu."

Bahkan di tempat seperti ini pun ada efek samping dari permainan bodoh para petualang. 

Orang-orang yang sampai tadi menyalahkanku sepertinya juga sadar diri, mereka semua terdiam seribu bahasa.

Di tengah suasana itu, Ignis yang mendengarkan dengan saksama seolah mengujiku, tiba-tiba tertawa.

"Fumu, mari kita coba saja. Kalau kita bisa mengalahkan setidaknya satu ekor Coatl dengan cara itu, kita sudah untung. ...Tenang saja, di sini ada dua Duke. Serahkan sisanya pada kami."

"Hoo, kau mengandalkan kekuatan diriku? Sebagai imbalan atas kesuksesan nanti, jadikan kembang api kilat toko kami secara resmi—"

"Barang itu akan kusuruh habiskan semuanya di sini, dan penjualannya akan dilarang mulai dari sekarang. Tadi malam, aku melihat keadaan kota dari balkon rumah, kelap-kelipnya menyilaukan dan sangat mengganggu! Kalau kau berhasil menyumbangkan tenaga, itu akan menebus dosamu yang menjual gulungan sihir ilegal! Sepakat!?"

Mungkin karena merasa tidak bisa ngotot lebih dari ini, Vanir mundur meski terlihat sedikit tidak puas.

──Saat menatap langit Axel, mungkin karena terpancing oleh keributan kami, para Coatl mengeluarkan pekikan nyaring.

Tiba-tiba, Darkness menarik-narik ujung mantelku.

"Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya ini adalah tugas administrasi yang harus kuselesaikan menggantikan Ayahanda. Aku memang payah kalau disuruh pakai otak, tapi kalau ada hal lain yang bisa kubantu, katakan saja."

Melihat sosok putrinya yang tulus dan tegar itu, ekspresi Ignis sedikit melembut. Meski pada akhirnya Darkness menelantarkan pekerjaannya, aku tahu dia berjuang sungguh-sungguh mengurus administrasi wilayah selama aku menjadi asistennya.

Dia bilang dia payah kalau disuruh pakai otak, tapi sebenarnya intuisinya lumayan tajam. 

Setelah diuji oleh Ignis tadi, aku, sebagai mantan asisten, membalas seolah memberinya ujian juga.

"Kalau semuanya berjalan lancar, kau lindungilah Megumin. Kau paham maksudnya, kan?"

"...Hmm, mengingat makhluk itu terbang di ketinggian seperti itu, apa artinya mereka juga memahami jarak tembak Sihir Ledakan? Coatl memiliki kecerdasan yang tinggi, jadi ada kemungkinan Megumin akan diincar oleh Coatl yang berhasil selamat. Begitu ya, serahkan padaku."

Pintar sekali. 

Melihat perkembangan putri kesayangannya yang berhasil menjawab dengan tepat, Ignis mengangguk senang, sebuah pemandangan yang bisa dimaklumi sebagai orang tua.

Saat aku mengedarkan pandangan ke wajah para petualang yang sudah sangat kukenal ini, mereka semua mengangguk serempak.

──Baiklah, ayo kita lakukan.

Aku mengirimkan isyarat ke arah Aqua──!






Bagian 4

"『Powered』 『Powered』 『Powered』 『Powered』 『Powered』 『Powered』 『Powered』 『Powered』!"

Aqua yang menarik napas panjang, masih dalam keadaan sangat bersemangat karena quest berskala besar ini, merapalkan sihir kepada semua petualang satu per satu tanpa terkecuali.

"『Blessing』 『Blessing』 『Blessing』 『Blessing』 『Blessing』 『Blessing』 『Blessing』 『Blessing』!"

Para petualang yang kini diselimuti cahaya redup mengambil gulungan sihir yang terikat rapat di tangan mereka.

"Peluncuran kembang api kilat, dimulai—!"

Bersamaan dengan aba-aba yang kuberikan, para petualang melemparkan gulungan sihir tersebut ke atas sekuat tenaga.

Berkat sihir pendukung dari Aqua, gulungan sihir yang dilemparkan ke udara itu mencapai ketinggian yang luar biasa.

Sebelum gulungan itu jatuh karena tarikan gravitasi, para pemanah termasuk aku melepaskan anak panah ke langit secara serentak.

"””””””『Snipe』!”””””””

Entah karena efek nilai keberuntunganku yang kelewat tinggi, anak panah yang kulepaskan malah menembus tepat mengenai bunga di kepala Coatl itu.

"Kazuma, cuma tembakanmu sendiri yang meleset! Kenapa malah kena bunganya!?"

"Bunga itu yang salah karena bisa jadi uang kalau dibawa ke Guild!"

"Kalian berdua, ini bukan saatnya berdebat! Lihat, gulungannya sudah terbuka!"

Saat Darkness menunjuk ke arah langit, para petualang berseru lantang.

"””””””『Flash』!”””””””

"PYAAAAAAAKH!"

Coatl yang kehilangan ketenangannya demi merebut kembali bunga di kepalanya yang kutembak itu, kini matanya terbakar oleh cahaya Flash.

Sayangnya, satu ekor Coatl lainnya sepertinya sudah waspada terhadap kami, sehingga ia berhasil menghindari efek kebutaan dari kilatan cahaya tersebut.

Coatl yang kehilangan penglihatannya itu mengepakkan sayap dengan terhuyung-huyung dan mulai turun, tetapi ketinggiannya saat ini sudah masuk ke dalam jangkauan tembak Megumin.

Megumin yang sudah selesai merapal mantranya mengarahkan tongkatnya pada Coatl yang jatuh tersebut.

"Sungguh disayangkan aku tidak bisa memamerkan kekuatanku pada orang-orang yang pergi membasmi belalang! Rasakan sihir agung khas Axel ini! 『Explosion』—!"

Sihir Ledakan berskala masif menghantam tepat di atas gerbang utama kota.

Berkat Coatl yang terhempas hancur tanpa sisa, para penduduk yang tadinya ketakutan akan serangan dari udara dan hanya berani menatap langit dari dalam rumah, kini melontarkan sorakan kegembiraan dan jeritan secara bersamaan.

Sepertinya, kaca jendela rumah-rumah di dekat gerbang utama ikut pecah akibat suara ledakan dan gelombang kejutnya.

Seolah ingin menyaingi suara gemuruh Sihir Ledakan tersebut, langit di kejauhan sana tiba-tiba diselimuti oleh awan hitam yang pekat.

Sepertinya pembasmian Pasukan Belalang di seberang sana juga sudah dimulai.

Berhasil dikalahkannya satu ekor Coatl membuat semangat para petualang membara.

Saat semua orang memusatkan perhatian pada satu ekor yang tersisa, tatapan Coatl itu mengarah pada Megumin yang telah kehabisan Mana dan jatuh tersungkur.

"『Decoy』—!!"

Tepat di detik Darkness yang berdiri menghadang di depan Megumin merapalkan skill-nya, arah pandangan dan niat membunuh Coatl itu langsung beralih.

"Darkness, aku memang berterima kasih karena kau menggunakan skill umpan itu, tapi bagaimana caramu melindungiku darinya!? Untuk menahan tubuh raksasa itu, kurasa bahkan untuk Darkness sekalipun itu bakal..."

Megumin yang tidak bisa bergerak menatap langit dengan raut wajah cemas, tapi...

Coatl yang telah mengunci targetnya itu, entah karena dia merasa kalau Megumin sudah tidak punya tembakan kedua, langsung menukik tajam seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Targetnya memang Darkness, tapi tentu saja di belakangnya ada Megumin juga──

"Tenang saja! Saat pertarungan melawan Kowloon Hydra waktu itu, aku punya rekam jejak berhasil melindungi Kazuma meski ditindih oleh sang Hydra! Ditambah lagi Megumin berlevel tinggi, dan aku juga berlevel tinggi. Tidak apa-apa, tidak masalah!"

"Masalahnya banyak, dasar macam apa yang tidak jelas itu! Ah, kau pernah bilang kalau kau menemukan 'dunia baru' saat melawan Hydra, kan! Jangan bilang, kau berniat mengulangi hal itu lagi di sini!"

Megumin sepertinya bakal terseret ke dalam permainan baru Darkness, tapi masalahnya mereka berdua sekarang sedang berada di depan gerbang utama kota Axel.

Dengan tingkat kekerasan dan kekuatan otot Darkness, dia mungkin bisa menahan Coatl yang kelihatannya lebih ringan dari Hydra itu, tapi tidak begitu halnya dengan gerbang atau dinding kota.

"Kazuma—! Darkness berniat menggunakan tubuhku untuk melakukan permainan tingkat tinggi! Darkness, aku minta maaf kalau selama ini aku sering menjahilimu, jadi kumohon kembalilah waras!"

Mengabaikan jeritan Megumin sepenuhnya, Darkness berdiri tegak menghadang.

"Dengan rekan di punggungku, aku tidak akan pernah tunduk! Aku tidak akan mundur selangkah pun dari sini!"

Sial, kukira petualang Axel itu sudah lumayan parah kelakuannya, tapi ternyata anggota party-ku sendiri masih jauh lebih sinting!

Karena tanggung jawab pengawasan anak seharusnya ada pada orang tuanya, aku pun menoleh ke arahnya──

 

"Aah...! Haruskah aku mengawasi sosok gagah berani putriku ini, atau haruskah aku menolongnya...! Kenapa orang sepertiku ini bisa-bisanya tidak membawa Kamera Sihir!"

Sialan, apanya yang tangan kanan kerajaan, mana mungkin ayah Darkness itu orang normal!

Para petualang di sekitarnya juga menyadari target Coatl tersebut dan mulai berkumpul di dekat gerbang untuk memberikan dukungan, tapi...

Coba ingat-ingat lagi alasan kenapa Coatl yang terkena Flash tadi kehilangan ketenangannya.

Sambil menengadah menatap Coatl yang sedang menukik tajam itu, aku mencerna kembali kata-kata yang diajarkan oleh seniorku.

 

『Kalau bunga di kepala Coatl dicuri, dia bakal marah besar dan terus mengejarmu, tahu.』

 

Tanpa ragu, aku melepaskan anak panah ke arah Coatl yang sedang menukik tajam menuju gerbang.

 

"『Snipe』, rasakan ini!"

"!?"

Nilai keberuntunganku yang tadinya cuma bikin ulah saat melawan Coatl pertama, kali ini bekerja dengan tepat sasaran.

Bidikanku tidak meleset dan berhasil menembus bunga di kepalanya. Coatl itu langsung terbang mengejar bunganya yang melayang jatuh ke bawah.

Dengan suara dentuman tanah yang berat, Coatl itu mendarat di area yang agak jauh dari gerbang utama. 

Di ujung paruh raksasanya, bunga yang dikejarnya itu kini telah tergigit──

 

"Jangan biarkan dia kabur ke udara! Semuanya, mulai serang pakai skill yang bisa menahannya di tanah! 『Bind』—!"

 

Sambil meneriakkan instruksi pada yang lain, aku melemparkan kawatku, meski dalam hati aku ragu apakah ini akan membuahkan hasil.

Melihat tindakanku, ada yang ikut menggunakan Bind untuk mencoba menjerat sayapnya. Ada yang membidik matanya dengan skill Snipe, ada pula yang mencoba melubangi selaput sayapnya. Masing-masing orang melakukan apa pun yang mereka bisa.

Kawat yang kulempar tidak cukup panjang untuk menjerat sayap raksasanya, dan skill Snipe milik yang lain pun tak mampu menembus selaput sayapnya yang keras.

Namun, serangan yang mengarah ke matanya sepertinya cukup efektif. Karena merasa terganggu, Coatl itu mengangkat kepalanya, bersiap untuk kembali terbang ke angkasa.

"Apa kau masih punya kawat baja itu?"

Mendengar suara dari arah sampingku itu, aku langsung melemparkan kawatku padanya bahkan sebelum sempat menjawab.

Tanpa sempat memastikan siapa orang yang kulempari kawat tadi, sebatang tombak tiba-tiba melesat dan menancap tepat di paha Coatl yang baru mau lepas landas itu.

"PIGYAAAAAAAAAAAAAAKH!"

Di ujung pandangan Coatl yang melotot dengan mata menyala penuh amarah itu, berdirilah sosok Ignis di sebelahku, masih dalam posisi usai melempar tombak.

Di antara gagang tombak yang menancap pada Coatl dan tangan kiri Ignis, terhubung kawat baja yang baru saja kuberikan padanya──

Sambil menggenggam erat kawat di tangannya, Ignis berlari ke arah gerbang dan berseru lantang.

"Siapa pun yang berhasil memotong putus sayap Coatl ini akan kuberi hadiah spesial! Semuanya, serbu!"

Setelah meneriaki yang lain, Ignis yang telah mencapai gerbang itu mencoba mengikatkan kawatnya ke gerbang, namun ia menyadari bahwa panjang kawat itu hanya kurang sedikit lagi untuk bisa diikatkan.

Pada gerbang kota Axel terdapat sebuah palang kayu penahan yang sangat besar.

Ignis mencengkeram palang itu kuat-kuat dengan tangan kanannya, lalu melilitkan kawat baja itu berkali-kali ke lengan kirinya──

"Selagi Duke-sama menahannya, cepat potong sayapnya—!"

Para petualang berhamburan menyerbu Coatl yang tak bisa terbang ke angkasa meski terus mencoba lepas landas itu.

Wajah Ignis memerah menahan beban tarikan itu. Namun, sekuat apa pun fisik seorang Duke berlevel tinggi, tetap saja ada batasnya.

Kalau terus begini, entah palang gerbangnya yang bakal hancur, kawatnya yang putus, atau justru tubuh Ignis yang menjadi penghubung di antara keduanyalah yang akan──!

"Aah, Ayahanda curang! Peran menahan beban seperti itu kan seharusnya bagianku!"

"Guggh...! A-apa jangan-jangan aku sudah salah mendidik putriku, ya..."

Baru sadar sekarang? Apa selama ini kau pikir caramu mendidiknya itu tidak salah?

Di tengah ratapan Ignis yang bercucuran keringat dingin mendengar perkataan tak terduga dari putri kesayangannya itu, sebuah suara penyelamat bergema.

"Biar kubantu sekarang juga, Duke-sama! Aku sangat menantikan hadiahnya, lho! Namaku adalah—"

Preman berambut pirang yang berseru gagah berani itu langsung terinjak oleh sang Coatl, tubuhnya amblas tertanam ke dalam tanah bahkan sebelum ia sempat memamerkan nama dan jasanya.

Aqua, yang dari tadi cuma luntang-lantung karena tidak ada kerjaan, mencari celah saat Coatl itu sedikit menjauh untuk menghampiri si preman yang terinjak tadi.

Melihat gelagatnya yang mulai merapal sihir setelah mengecek kondisi si mayat, sepertinya tingkat kerusakan tubuhnya masih dalam batas yang bisa dihidupkan kembali dengan sihir Resurrection.

Selama dia bisa dihidupkan lagi, kematian konyol dalam satu serangan (one-hit kill) preman itu tidak masuk hitungan.

Janji "tanpa ada satu pun yang gugur" yang dideklarasikan Ignis kepada Angie tadi masih tetap terjaga.

Para petualang yang mengerumuni Coatl melancarkan tebasan ke arah sayapnya bertubi-tubi, namun sesuai reputasinya sebagai monster buronan bernilai tinggi, sayap itu tidak bisa diputus semudah itu──

Megumin, yang tugasnya sudah selesai, menoleh ke arahku yang sedang merasa gemas dan jengkel sendiri.

"Kazuma tidak ikut bertarung?"

"Senjata dan kekuatan lenganku tidak akan mempan melukainya, tahu. Biarpun begitu, kalau tidak ada yang bisa memotong sayapnya──"

Entah kata-kataku barusan menjadi semacam flag atau bagaimana, tiba-tiba saja salah satu sayap raksasa itu tertebas putus dari pangkalnya, membuat sang Coatl menjerit kesakitan.

"PIGYAAAAAAAAAAAAAAKH!"

 

──Sosok yang berhasil memotong sebelah sayap monster itu adalah Darkness, dengan topeng Vanir menempel di wajahnya.

 

"Fuhahahahahahaha! Fuhahahahahahahaha! Menyenangkan! Sungguh sangat menyenangkan! Seorang gadis pengikut Eris yang taat, mendambakan kekuatan sesosok iblis demi menolong ayahnya! Wahai Duke yang sempat mempermalukan diriku ini, bergembiralah! Sesuai keinginanmu, diriku telah menorehkan pencapaian yang luar biasa, bukan! Nah, bagaimana rasanya melihat tubuh putri kesayanganmu diambil alih oleh iblis tepat di depan mata kepalamu sendiri!"

Darkness si father complex rupanya menyimpulkan bahwa Ignis yang tangguh sekalipun tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. Karena itu, ia benar-benar menjual tubuhnya pada iblis secara harfiah.

Ilustrasi Hitam Putih Darkness di Konosuba Yorimichi 4 Bab 5
Darkness x Vanir

Darkness telah dirasuki oleh Vanir.

Bagi Ignis yang sangat menyayangi putrinya, entah sebesar apa guncangan batin yang dirasakannya saat ini.

"A-apa... a-apa...! Putriku! Putriku, tubuhnya telah diambil alih oleh sesosok iblis!?"

"Benar sekali, Ayahanda! (Benar seka...) Namun aku ini adalah putri bangsawan, aku sudah lama membulatkan tekadku! (Tunggu, diriku cuma mau menggodamu demi meraup emosi negatif, karena pekerjaanku sudah selesai...) Dengan menggunakan kekuatan iblis terkutuk ini, sekaranglah saatnya demi rakyat, dan demi Ayahanda, aku akan membasmi Coatl ini— (Jangan bicara sembarangan, dasar bodoh! Jangan ambil alih kendalinya!)"

Vanir telah dirasuki oleh Darkness.

Bagi para Succubus yang sangat memuja Vanir, entah sebesar apa guncangan batin yang bakal mereka rasakan.

Sosok seperti ini sungguh tidak bisa diperlihatkan kepada para Succubus, bisa-bisa 'nyawa' mereka berkurang karenanya.

"Vanir! Kesepakatan bisnis kita tadi adalah meminjamkan kekuatanmu sampai aku bisa memotong sebelah sayapnya dengan imbalan uang, tapi aku akan menambahkan lima ribu Eris dari jumlah yang kutawarkan sebelumnya, jadi tolong kerja samanya sedikit lagi! (Terlalu murah!)"

Darkness yang secara sepihak memperbarui kesepakatan bisnis mereka, memanfaatkan spesifikasi fisiknya yang luar biasa dengan maksimal, lalu memotong sisa satu sayap dari Coatl yang sedang mengamuk itu.

Kemudian Darkness menahan topeng itu, seolah-olah masih belum mau membiarkannya pergi──

"(Diriku sudah cukup bekerja keras, mana sudi diriku terus berada di tubuh seperti ini! diriku mau pulang ke toko!) Tu-tunggu, sebentar lagi saja kan tidak apa-apa! Lagipula hubungan kita berdua kan lumayan dekat! Sewaktu kau meramal arah pergerakan Pasukan Belalang waktu itu, kau juga memaksaku mengatakan hal-hal memalukan di Guild, kan! (Itu kan karena diriku sedang memakan emosi negatifmu, jangan mengatakan hal yang memicu kesalahpahaman!)"

"Pemandangan macam apa yang sedang dipertontonkan kepadaku ini... Sebagai seorang Duke, dan sebagai seorang ayah, apa yang harus kulakukan..."

Melihat sosok putrinya yang dengan paksa mempekerjakan Iblis Agung yang terus memberontak itu, mental Ignis telah mencapai batasnya.

"Kondisi mental si Paman bahaya, ayo cepat selamatkan Vanir!"

"Jangan, ini lagi seru-serunya tahu, mari kita lihat saja perkembangannya sedikit lagi! Darkness juga sudah naik level sejak dia dirasuki terakhir kali, dia sudah jadi jauh lebih kuat sekarang!"

"Benar juga, aku jadi ingin melihat bagaimana Darkness mengambil alih kendali iblis itu secara sempurna!"

Bukan cuma Megumin dan Aqua, para petualang yang lain sepertinya juga memutuskan kalau mengurus baris belakang sebagai bala bantuan adalah pilihan yang jauh lebih aman setelah melihat aksi memukau dari Darkness yang dirasuki Vanir.

Begitu seorang petualang wanita berlari mendekat ke belakang Darkness,

"Lalatina-chan, tahan terus topeng Vanir-san seperti itu! Biar kuikat bagian belakang kepalanya pakai tali, sekalian kujadikan topeng beneran!"

"Ah, tolong ya! Iblis topeng ini, padahal biasanya galak tapi dia cuma melawan di saat-saat begini saja! (Hentikan, atau diriku akan mengutuk pantatmu agar mengeluarkan suara ledakan kentut saat kau sedang gugup!) Ada apa Vanir, mulutmu bilang hentikan tapi tubuhmu jujur, kan? Biarpun aku melawan, rasa sakitnya tidak datang, lho! (Jangan melontarkan kalimat cabul begitu, dasar makhluk mesum! Biarpun diriku memberimu rasa sakit, lu malah bakal menikmatinya!)"

Di tengah keributan itu, Vanir benar-benar berakhir terikat mati di wajah Darkness.

Melihat pemandangan itu, para petualang yang lain langsung berhamburan menyerbu Coatl yang sudah tak berdaya itu──

 

"Semua jasanya nanti diambil habis sama Darkness! Coatl yang nggak bisa terbang itu cuma monster berbadan gede doang! Kepung, kepung—!"

"Jangan sampai terinjak kayak si bodoh yang tadi! Ayo serbu—!"

"Kalau uang hadiahnya cair, aku mau makan Yakiniku sampai kenyang! Ayo kita keroyok bareng-bareng—!"

Coatl yang kehilangan sarana untuk kabur ke udara itu, dalam sekejap berhasil dibasmi oleh tangan para petualang yang dibutakan oleh keserakahan dan Darkness yang telah ternoda oleh kekuatan jahat──

 

5

"Pencapaian terbesar boleh buat Lalatina-chan dan Vanir-san, tapi urutan kedua pasti aku, tahu! Aku kan yang mengikat topeng Vanir-san supaya nggak bisa kabur!"

"Aku berhasil memotong putus ekor Coatl dan menekan jumlah kerusakannya! Duke Dustiness, jasaku juga besar, kan!"

"Tidak, kalau mau bicara begitu, jasa kami para Archer jauh lebih besar! Kalau kami tidak memanah putus tali kembang api kilatnya, Coatl itu dari awal nggak bakal jatuh—!"

Di sebelah Coatl yang sudah mulai dikuliti dan dibongkar itu, para petualang benar-benar mempertontonkan perselisihan adu pamer jasa yang sangat memalukan.

Sambil menatap kosong pemandangan absurd tersebut, Angie yang sekujur tubuhnya berlumuran lendir katak bergumam pelan.

"Apa-apaan ini..."

Sepertinya mereka benar-benar membasmi Pasukan Belalang tanpa mempedulikan penampilan maupun harga diri sedikit pun.

Kecuali Yunyun, semua petualang kelompok garis depan yang berangkat untuk mengalahkan Pasukan Belalang terlihat basah kuyup dan licin oleh lendir katak raksasa.

"Kerja bagus, Lendir-senpai. Biarpun kau baru datang sekarang, kau sudah tidak bisa ikut rapat perebutan jasa."

"Siapa juga yang bilang mau ikut hal macam itu! ...Eh, seriusan apa-apaan ini. Kalian sudah mengalahkan Coatl itu?"

Angie dan yang lainnya kembali ke kota setengah hari setelah kami berhasil mengalahkan Coatl tersebut.

Itu berarti, para petualang Axel di sini sudah menghabiskan waktu selama itu hanya untuk berdebat dengan memalukan.

"Akan kuberi pelajaran pada orang-orang ini, jadi tolong tunggu sebentar ya, Angie-senpai. ...Hei kalian, hentikan perdebatan memalukan ini! Jasa paling besar sudah pasti milikku yang merancang strateginya, kan!"

"Ngomong apa sih, padahal kau cuma bikin strategi yang penuh celah begitu!" 

"Lagipula kau juga gagal menembak kembang api kilatnya, kan!" 

"Benar itu, aku juga melihat tembakanmu yang meleset! Kelebihanmu kan cuma keberuntunganmu yang bagus itu! Kenapa malah bisa meleset, kalau keberuntunganmu dicabut kau itu nggak punya apa-apa lagi, tahu!"

Sesuai dengan status mereka sebagai pemula, sepertinya rata-rata stat Intelligence (Kecerdasan) petualang Axel memang rendah.

Untuk mematahkan argumen mereka sepenuhnya, aku menarik napas panjang lalu──

"Kalian ini memang benar-benar petualang super bodoh! Kalau bunga di kepalanya direbut, Coatl itu bakal marah besar dan mengejarmu! Dengan kata lain, tembakanku itu bukannya meleset, tapi tepat sasaran! Kalau dipikir-pikir lagi, asalkan aku memanah bunganya saja, mungkin kembang api kilat dan kalian semua malah tidak dibutuhkan sama sekali!"

"Berani-beraninya orang ini ngomong begitu, padahal sendirian saja dia kroco lemah yang nggak bisa apa-apa!" 

"Kita sudah mengalahkan Coatl-nya ini, nggak usah peduli lagi, hajar dia!" 

"Oh iya, kita kan janjian mau bikin babak belur orang ini! Buat yang perempuan jangan serang dari depan, nanti jadi mangsa skill Steal-nya!"

Para petualang yang enggan mengakui jasaku itu entah kenapa malah menggunakan kekerasan.

Aku langsung bersembunyi di punggung Angie.

"Aku ini dilindungi oleh Pedang Merah Angie-senpai! Senpai ini adalah pemegang Advanced Job, kroco macam kalian bakal disapu bersih olehnya!"

"Eh!? Tunggu dulu, aku nggak mau terseret ke dalam pertengkaran konyol macam ini!"

Di saat Angie yang sudah kelelahan dan penuh lendir itu kudorong maju secara paksa untuk menghadapi mereka, hanya Yunyun seorang yang masih terlihat tenang dan bertanya kepadaku.

"Anu... Aku tidak melihat sosok Vanir-san, apa dia sudah pulang ke tokonya?"

Iblis bertopeng yang akhirnya berhasil diselamatkan dari Darkness itu──

"Kalau si Topeng Aneh itu sih, dia bilang dia diikat secara paksa oleh wanita super mesum, ditambah lagi dinodai karena terus dijejali dengan emosi kotor. Setelah itu dia pulang dengan gontai sambil memancarkan aura melankolis." 

"Memangnya ada kejadian apa selama aku tidak ada!?"

Di ujung pandangan mata Aqua dan mataku, terlihat sosok Darkness dengan wajah berseri-seri penuh kepuasan.

──Tepat pada saat itulah.

"Yang terlihat di sana itu para pendeta yang pergi menyucikan Undead, ya. Bagus, bagus, dengan begini akhirnya semua masalah selesai sudah..."

Ignis, yang sejak tadi sama sekali tidak memedulikan perdebatan para petualang, menatap ke kejauhan dan mendeklarasikan hal itu.

"Mengenai jasa kalian kali ini... Siapa yang paling berjasa atau semacamnya, itu tidak penting. Kalian semua memang membuat masalah selama aku tidak ada, tapi pada akhirnya kalian telah melindungi kota ini dengan baik. Sebagai gantinya, semua pelanggaran yang kalian lakukan selama aku pergi akan dimaafkan sepenuhnya!"

Mendengar deklarasi yang sangat murah hati itu, para petualang langsung terdiam sunyi, lalu──

 

"Mana bisa begitu, Duke-sama! Tadi Anda bilang bakal kasih imbalan besar, kan!"

 

"Benar, benar, diktator! Padahal aku sudah mutusin mau makan Yakiniku pakai uang imbalan itu malam ini!"

 

"Terus ke mana perginya uang hasil ekspedisi yang Anda dapatkan itu—!"

Sorakan protes melayang dari para petualang yang dibutakan oleh keserakahan.

Ternyata petualang di kota ini selain kelompok kami juga sama parahnya, pikirku.

──Tiba-tiba, Ignis yang sejak tadi tersenyum langsung mengubah ekspresinya 180 derajat.

"...Dua puluh juta."

“””””””””?”””””””

Tidak paham apa maksud dari dua puluh juta itu, semua orang di tempat itu memiringkan kepala mereka bingung. Ignis pun kembali berbicara.

"Akibat Sihir Ledakan tadi, kaca jendela rumah-rumah yang berdiri di dekat gerbang kota hancur total. Estimasi kerugiannya adalah dua puluh juta. Lalu, kalau biaya perbaikan toko yang rusak akibat perkelahian kalian, biaya pengobatan, dan lain-lainnya ikut dihitung, jumlahnya hampir impas dengan uang hadiah pembasmian Mountain Coatl."

Suara protes dari para petualang yang merasa pernah berkelahi di tengah kota langsung lenyap seketika.

"Lalu mengenai Mountain Coatl itu, konon sekali mereka terbang ke angkasa, mereka tidak akan turun selama tiga hari. Tentu saja, itu berarti mereka juga terbang di malam hari... Katanya, alasan mereka sangat menjaga Helios Brom di kepalanya adalah untuk memastikan jarak pandang di tengah penglihatan malam mereka yang buruk. Dan saat malam tiba, mungkin karena mereka menjadikan bintang-bintang di langit sebagai penanda, mereka sepertinya akan menuju ke arah cahaya yang berkelap-kelip."

Seluruh petualang yang sadar pernah bermain-main dengan kembang api kilat (Flash) kompak membuang muka ke arah lain.

"Sudah paham kalian, dasar anak-anak bermasalah! Mau kuberi tahu alasan kenapa keluarga Dustiness yang berpangkat Duke ini aslinya lebih miskin dibandingkan wilayah lain!? Jangan buang muka kalian, dasar rakyat jelata! Mau kuterbangkan kalian satu per satu, hah!?"

Di saat para petualang menyusut ketakutan, mencoba membiarkan omelan Ignis berlalu begitu saja, Angie berbisik-bisik padaku.

"Jangan-jangan, kalian itu selalu begini, ya? Lagipula, aku kan sudah bilang jangan memprovokasi Coatl itu, dan bertahanlah kalau terjadi apa-apa. Kau dengar perkataanku dengan benar tidak, sih? Dari awal, kenapa kalian sampai bertarung dengan monster itu?"

"Tepat sedetik setelah mengantar kepergian Angie-senpai, seluruh petualang memprovokasi Coatl itu dan menjatuhkannya, tahu. Soalnya mereka pada mikir, 'kelompok garis depan pasti berniat merampas monster buronan berharga mahal yang menggiurkan itu'."

Ekspresi wajah Angie langsung berkedut kaku.

"Lagi pula, di kota Axel ini, serangan monster semacam itu bukanlah hal yang langka. Kami sudah mengalahkan dua petinggi Pasukan Raja Iblis yang datang ke kota ini, termasuk Vanir. Belum lagi, Mobile Fortress Destroyer juga sudah berhasil kami hancurkan. Oh ya, katanya Roh Agung Badai juga datang ke sini setiap tahun."

Ekspresi Angie langsung berubah ngeri dan merinding jijik.

Namun, Angie buru-buru menggelengkan kepalanya dengan panik, lalu menyangkal.

"Mana mungkin aku percaya hal macam itu! Pembasmian Coatl kali ini juga cuma kebetulan saja, kan!? Kalau itu memang benar, kalian saja sana yang pergi ke kota garis depan! Destroyer lah, membasmi petinggi Pasukan Raja Iblislah, hal semacam itu sudah pasti bohong──"

"Ucapan barusan tidak bisa kuabaikan begitu saja, ya."

Megumin, yang sejak tadi masih tengkurap di tanah namun diam-diam memperhatikan Angie yang sedang berbisik-bisik padaku, menggumam pelan sambil merangkak mendekat.

"Silakan lihat kolom pembasmian di Kartu Petualangku ini. Kartu luar biasa yang dipenuhi dengan deretan nama para petinggi Pasukan Raja Iblis yang telah kami kubur!"

Disodori kartu itu secara paksa tepat di depan matanya, Angie mengeluarkan suara cicitan kecil.

Begitu aku membagikan sedikit Mana milikku padanya menggunakan skill Drain Touch, Megumin langsung bangkit berdiri──

"Jadi, kau ini Mesugaki Senpai yang sudah menyeret Kazuma keluar untuk berpetualang, ya! Pria ini adalah orang yang sangat dibutuhkan di kota Axel. Dia adalah orang yang sangat berharga bagiku. Kalau kau berniat membawanya pergi, kau harus mengalahkanku, tukang kelahi nomor satu di Axel, terlebih dahulu!"

"Aku juga nggak sebegitunya mau dia ikut! Lagian, kenapa orang yang baru pertama kali ketemu juga manggil aku Mesugaki Senpai!? ...Eh? Tunggu sebentar, barusan kau bilang apa?"

Angie, yang tadinya ketakutan karena ancaman Megumin, bertanya balik seolah tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Disuruh mengulangi hal semacam ini berkali-kali, biarpun itu aku, rasanya sedikit memalukan..."

"Ngapain kau malah tersipu malu begitu, jangan pamer kemesraan di sini, bukan itu maksudku! Barusan, kau panggil cowok ini Kazuma, kan?"

Kalau dipikir-pikir, aku memang belum menyebutkan namaku, ya.

"Biar kuperkenalkan diri lagi. Aku adalah seorang petualang di kota Axel. Namaku Satou Kazuma."

"Jadi kau ini, si Pencuri Celana Dalam yang terkenal itu!? Kazuma si Iblis (Kichiku Kazuma), Kazuma si Sampah (Gesuma)!?"

Apa yang orang ini katakan, beneran kucuri nih celana dalamnya.

"Eh... Ja-jadi, itu beneran? Dilihat dari kolom pembasmian di Kartu Petualang tadi, apa benar di kota ini banyak monster buronan yang──"

"Yah, mereka lumayan sering datang, rasanya sudah seperti tradisi musiman."

Kelompok garis depan diam-diam menajamkan telinga, menguping pembicaraan kami dan Angie.

"Tapi yah, di kota ini ada orang yang sihir pemulihannya sangat luar biasa, jadi tak perlu khawatir. Kurasa ada orang yang terluka akibat pembasmian Pasukan Belalang tadi, bagaimana kalau minta disembuhkan olehnya? Lagipula, dia bahkan bisa menggunakan sihir Resurrection. Tadi saja baru ada satu orang yang hidup lagi berkat sihir itu."

"Resu...!?"

Dan, sang senior pemberani yang telah mengajakku berpetualang, meski sambil terus mengomel, itu pun...

"Yah, silakan bersantai-santai di sini. Kalau sudah terbiasa, kota ini lumayan bagus?"

"Mana sudi aku tinggal di kota macam ini! Aku mau pulang ke garis depan sekarang juga! Pulang ke kota paling depan! Bodoh, bodoh, Kouhai Bodoh! Berani-beraninya kalian pura-pura jadi kroco lemah, aku tertipu mentah-mentah! Rugi aku mengkhawatirkan kalian! Orang-orang di kota ini benar-benar Penipu Pemula, jangan bercanda!"

"Haa? Kalian sendiri yang seenaknya salah sangka mengira petualang Axel itu kroco lemah lalu pergi berburu dengan gaya sok keren, tapi malah pulang babak belur dihajar katak dan belalang. Perkataan senpai ini benar-benar beda dengan kenyataan, ya!"

"Nnah...! Barusan kau bilang apaaa!? Aku tidak akan memaafkanmu lagi, akan kutunjukkan siapa yang posisinya lebih di atas! Semuanya, ayo serang! Jangan remehkan petualang yang kembali dari garis depan!"

"Coba saja kalau berani! Padahal dari tadi sudah berlagak sok Senpai, tapi monster bos yang menggiurkan malah direbut, dasar Senpai Pecundang!"

Setelah memicu perkelahian besar yang melibatkan diriku, para petualang Axel, dan kelompok garis depan yang nyaris berakhir seri...

Mereka pun pulang menuju kota garis depan yang paling berbahaya itu sambil terus melontarkan sumpah serapah hingga akhir──

 

6

"Kami pulaaang—"

"Myaooong."

Saat Megumin mengucapkan salam kepulangan, Chomusuke yang bertugas menjaga rumah berlari menghampiri.

──Tepat saat itu, aku menyadari ada sepucuk surat yang menempel di punggung Chomusuke.

"Apaan ini? ...Sepertinya ada yang menyusup masuk selama kita pergi. Ini, surat untuk Darkness."

Begitu aku melepaskan surat tersebut, Chomusuke yang bulunya berdiri berantakan di sana-sini—mungkin karena si penyusup itu ikut mengelusnya habis-habisan saat menempelkan surat—mulai menjilati bulunya seolah merasa lega.

"...Sepertinya penyusup itu adalah Chris yang sedang pergi berkelana. Katanya, dia tidak bisa menemukan apa yang dia cari di tempat tujuannya."

Apa yang sebenarnya sedang dilakukan orang itu.

"Setelah berjalan mencari ke sana kemari, sepertinya dia menyadari bahwa pengikut Eris yang benar-benar taat justru berada di kota awal, yaitu Axel. ...Di dalamnya ada selembar surat pengampunan dosa tulisan tangan yang bertuliskan 'Aku mengampuni dosa Darkness'. Kalau dia sembarangan membuat barang semacam ini, dia bisa kena hukuman dari Eris-sama. Apa sebaiknya kucari Chris untuk kuomeli."

Sepertinya Chris masih menaruh kecurigaan kalau Darkness sudah pindah agama menjadi pengikut kultus Axis.

Megumin yang menggendong Chomusuke, sepertinya masih kekurangan Mana meski sudah mendapat pasokan dariku, menjatuhkan dirinya ke sofa dengan lemas.

"Yah, meskipun terjadi banyak hal, hari ini pun pada akhirnya menjadi petualangan besar. Wahai familiar-ku Chomusuke, dengarkanlah kisah kehebatan majikanmu ini."

Tengkurap di atas sofa, Megumin mengangkat Chomusuke dengan kedua tangannya tepat di depan wajahnya, sepertinya bersiap untuk menceritakan kejadian hari ini pada kucing itu.

"Semuanya pasti capek, aku mau merebus air untuk mandi. Lagipula perutku rasanya sedikit lapar. Masih terlalu awal untuk makan malam... Sambil menunggu air mandinya siap, kurasa aku mau mengganjal perut pakai teh dan camilan."

"Kalau begitu, waktu aku membantu pekerjaan Darkness, aku membawa pulang banyak camilan sebagai oleh-oleh, jadi aku akan mengambilnya, ya! Aku juga yang akan membuatkan tehnya!"

Aqua pergi dengan riang gembira untuk mengambil camilan, tapi Darkness membuntutinya dari belakang dengan panik.

"T-tidak, biar aku saja yang membuat tehnya. Nanti daun tehnya terbuang sia-sia."

"Itu maksudmu aku bakal mengubah tehnya jadi air putih panas, kan!"

Sambil mendengarkan perdebatan berisik itu, aku menuju ke kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air.

Setelahnya, berniat untuk bersantai sampai airnya mendidih, aku kembali ke ruang tengah, lalu menyadari bahwa porsi teh dan camilannya kelebihan satu orang.

"Oi, sebentar lagi kan waktunya makan malam, kalau kau makan dua porsi nanti kau tidak bisa makan. Mentang-mentang itu camilan mahal, kau terlalu menuruti hawa nafsumu. Mulai dari petualang di kota ini, kenapa semuanya serakah begini."

"Kau anggap aku ini apa, jumlah camilannya nggak salah! Kelihatannya dia senang karena bakal dapat pasokan cerita petualangan, makanya dari tadi Si Gadis Hantu sedang siaga telanjang bulat di depan teh dan camilan itu."

"Memang ada istilah 'siaga telanjang bulat', tapi tolong suruh dia berhenti beneran telanjang bulat cuma karena wujudnya tidak kelihatan! Aku jadi kepikiran terus dan tidak bisa konsentrasi ngobrol!"

Sungguh, aku ingin bicara baik-baik dengan hantu konyol ini sekali saja.

"Katanya, 'Kalau begitu aku akan pakai kaus kaki, ayo cepat, ayo cepat'. Baju atau kaus kaki hantu itu sebenarnya terbuat dari apa, ya. Kalau dipikir-pikir lagi, itu zat yang misterius, kan."

"Pakai kaus kakinya doang malah bikin tambah kepikiran, tolong hentikan! Ya ampun, mulai dari petualang, penduduk, sampai hantu di kota ini, benar-benar deh semuanya punya sifat yang 'luar biasa'..."

Lagipula, gara-gara berinteraksi dengan petualang dari kelompok garis depan, aku merasa keabnormalan kota ini jadi semakin menonjol.

Lama-lama aku mulai berpikir, jangan-jangan satu-satunya orang normal di kota ini cuma aku seorang.

Masih tengkurap di sofa, Megumin mulai berbicara kepada Chomusuke.

"Nah. Kalau begitu, dari mana ya sebaiknya kuceritakan padamu. Sebenarnya, saat Mountain Coatl itu hancur terhempas oleh kekuatanku, kemenangan kita sudah hampir bisa dipastikan. Pertama-tama, kita mulai dari bagian di mana Coatl itu ketakutan padaku, sehingga tidak punya pilihan lain selain terbang berputar-putar di langit Axel──"

"Tunggu dulu Megumin, yang paling berjasa kali ini itu seharusnya aku. Dari awal, kalau nggak ada sihir pendukungku, kembang api yang dilempar semuanya dan tembakan Snipe Kazuma-san yang lemah itu nggak bakal bisa sampai ke langit. Kalau begitu ceritanya, Coatl itu tidak akan turun, dan giliran Megumin tidak akan pernah tiba. Lihat, kan, dari sini saja sudah jelas kalau aku yang jasanya paling besar."

Di saat Aqua yang sedang mencomot camilan melayangkan protes pada Megumin, Darkness, yang mungkin sedang teringat akan aksinya hari ini, memunculkan ekspresi yang sedikit terpesona lalu berkata,

"Kalau mau bilang begitu, aku juga berkontribusi untuk kota ini. Demi rakyat, demi semuanya. Berkat diriku, seorang putri bangsawan, yang terlebih lagi adalah pengikut Eris yang taat, menyerahkan tubuh ini pada iblis yang mengerikan, kita berhasil membasmi Coatl itu. ──Tapi menodai diri dengan kekuatan kegelapan iblis itu, ditambah lagi dengan pujian dari semua orang, sepertinya aku tanpa sadar bakal ketagihan..."

"Jangan menodai dirimu dengan kekuatan kegelapan lagi. Kekuatan itu sangat berbahaya dalam artian yang berbeda. Aku baru pertama kali melihat Vanir sebegitu kuyu dan kelelahan seperti itu. Kalau dia sampai pergi mengembara lagi gara-gara pelecehan seksualmu itu, kau mau tanggung jawab?"

Tepat setelah aku memberikan peringatan keras pada Darkness, tiba-tiba Megumin berseru.

"Benar juga! Melihat Darkness kali ini aku jadi kepikiran, apa aku tidak bisa memanfaatkan kekuatan kegelapan Vanir juga? Ya begitulah, misalnya kalau aku mengambil alih topeng Vanir, Mana-ku bakal meningkat. Kalau nanti kita main ke tokonya, haruskah kurebut topengnya secara paksa? Kurasa kekuatan kegelapan itu justru paling cocok untukku."

"Anak ini kumat lagi, langsung melontarkan hal-hal bodoh cuma karena bereaksi terhadap kata 'kekuatan kegelapan'. Yang bisa menahan kekuatan jahat semacam itu cuma Darkness seorang. Kalau Megumin sampai memakai barang itu, tubuhmu bakal langsung diambil alih dan kau bakal disuruh melakukan hal-hal mesum dalam sekejap."

Vanir benar-benar jadi korban pencemaran nama baik yang parah, namun aku yang tiba-tiba teringat sesuatu mulai menancapkan sekuntum bunga ke dalam vas.

Itu adalah rampasan perang kali ini, bunga Helios Brom dari kepala Mountain Coatl.

Kalau dipikir-pikir, fakta bahwa Coatl akan mengejar jika bunga ini diambil, bisa kuketahui berkat Angie-senpai yang saat ini sudah pergi ke kota yang jauh.

Sebenarnya MVP kali ini mungkin tanpa disadari adalah orang itu, tapi karena dia pasti bakal sombong dan berlagak superior kalau kubilang langsung padanya, jadi aku diam saja.

"Kazuma melakukan hal yang langka, ya. Padahal kukira kau bakal langsung menjual bunga itu. Pada akhirnya, kali ini pun kau tidak menyerahkannya ke Guild dan malah membawanya pulang, ya."

"Yah, hitung-hitung ini kenang-kenangan dari petualangan, semacam trofi lah. Lagipula kita yang tidak ada hubungannya dengan Raja Iblis ini tidak akan pergi ke garis depan, kan? Setidaknya selama bunganya masih mekar, ini supaya aku tidak melupakan senpai itu."

Mendengar hal itu, Megumin tiba-tiba berseru, "Ah!".

"Kalau dipikir-pikir lagi, aku lupa mengajak Mesugaki Senpai berkelahi dan memenangkannya! Kalau aku tidak menang melawan koordinator mereka itu, ini belum bisa dibilang kemenangan mutlak, kan!"

"Kenapa kau sebegitunya memusuhi Mesugaki Senpai, waktu pertama kali bertemu saja kau sudah mengintimidasinya terus-terusan. Padahal kau itu Mesugaki orisinalnya, jadi harusnya kalian berdua bisa akur."

"Siapa yang Mesugaki orisinal, aku ini kan selalu jujur dan blak-blakan! Kalau aku sampai menunjukkan permusuhan terang-terangan begini, coba pikir ini salah siapa—!"

Sambil mendengarkan celotehan Megumin yang mulai ribut layaknya anak kecil.

Supaya senior yang sombong, keras kepala, dan selalu memaksakan diri tampil dewasa itu, tidak perlu lagi menjadi koordinator para petualang berandalan di kota garis depan yang berbahaya.

Dan supaya dia bisa bertingkah layaknya anak seusianya, di kota yang aman seperti Axel ini.

Sambil menuangkan air ke dalam vas menggunakan sihir, aku berdoa kecil, semoga suatu hari nanti, ada pahlawan super kuat pemilik cheat yang akan mengalahkan Raja Iblis untuk kita semua──

Ilustrasi Hitam Putih Kazuma & Megumin di Konosuba Yorimichi 4 Bab 5
Megumin yang cemburu ea
« Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya »

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar