TS Eiseihei-san no Senjou Nikki Jilid 1: Musim Panas 1938 -1

TS Eiseihei-san no Senjou Nikki Bab 1 ini berkisah tentang seorang pemuda jauh dimasa depan, yang menemukan buku catatan Touri Noel.
Ilustrasi TS Medic's Battlefield Diary Jilid 1 Bab 1

Musim Panas 1938 – Bagian 1

Sisa-sisa luka dari Perang Dunia masih membekas di sana-sini.

Tepat di puncak musim panas, aku melakukan perjalanan ke Austin, sebuah kota pinggiran di sepanjang perbatasan negara.

Tempat itu seolah merangkum semua sisi terbaik dari pedesaan; tak ada kebisingan kota yang menjemukan, pun tak ada asap pabrik yang menutupi langit. Udaranya jernih, anggur lokalnya terasa nikmat, dan penduduknya begitu ramah serta penuh semangat. Benar-benar kota yang menyenangkan.

Aku mengunjungi kota ini untuk berwisata memanfaatkan cuti panjangku.

Konon, pada Perang Dunia yang lalu, kota ini merupakan medan tempur yang paling sengit. Jika melangkah sedikit saja keluar dari batas kota, kabarnya kita masih bisa menemukan selongsong peluru yang berserakan di mana-mana.

Di era yang telah damai ini, aku ingin merasakan langsung sisa-sisa dari Perang Dunia yang telah menelan begitu banyak korban itu.

"Ah, kalau bekas medan perangnya, kau tinggal lurus saja mengikuti jalan ini."

"Terima kasih."

Mengikuti arahan warga lokal, aku melangkahkan kaki menuju dataran yang pernah menjadi panggung perang tersebut. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit menyusuri trotoar yang terawat, medan perang yang kucari pun mulai terlihat.

...Di tempat itu, atmosfernya jelas berbeda.

Di tengah ilalang yang tumbuh jarang-jarang, batang-batang kayu yang lapuk mencuat kaku seolah menusuk langit. Tanah hitam yang tampak padat terinjak-injak itu terbongkar berantakan di sana-sini, persis seperti bekas galian tahi lalat tanah.

Padahal seharusnya tanah di sekitar sini berwarna kekuningan karena mengandung belerang, tapi entah mengapa, hanya di bekas medan perang ini tanahnya berwarna hitam pekat yang mengerikan. Seolah-olah ada niat jahat dari sejarah yang tersirat di sana, mengisyaratkan tragedi hebat yang pernah terjadi.

"Jadi, ini sisa-sisa parit perlindungannya?"

Meski merasa terintimidasi oleh atmosfer unik di sana, aku mencoba melangkah masuk ke dalam gumpalan-gumpalan tanah hitam yang terbongkar itu. Di dalam lubang yang disebut parit perlindungan ini, kabarnya dulu ada begitu banyak prajurit yang bersembunyi.

Jika diperhatikan baik-baik, pada kayu yang tertancap di tanah, masih tertinggal bekas cetakan sepatu bot militer. Mungkin itu jejak seseorang yang menumpu kakinya dengan kuat saat bersiap menyambut serangan musuh.

Dadaku berdesir melihat jejak kaki itu. Aku merasa seolah bisa merasakan embusan napas dari para arwah pahlawan yang gugur di medan perang ini.

"...Baiklah."

Katanya, hingga saat ini pun, jika kau menggali tanah di sekitar sini, tulang belulang atau barang peninggalan mereka masih bisa ditemukan.

Ada lebih dari sepuluh ribu prajurit yang dinyatakan hilang di medan perang ini, dan hingga kini, belum semua tulang belulang maupun barang peninggalan mereka ditemukan.

Aku mulai menggali tanah di sekitarku dengan sekop yang telah kusiapkan.

Jika seseorang menemukan barang peninggalan di bekas medan perang, mereka wajib melaporkannya ke polisi. Dan biasanya, orang-orang yang menyerahkan barang-barang tersebut ke kantor polisi adalah para penggila sejarah yang "kurang kerjaan" sepertiku.

Kota pedesaan yang miskin ini tidak memiliki sumber dana untuk melakukan pemulihan barang-barang peninggalan para pahlawan. Akibatnya, pengumpulan artefak-artefak ini justru bergerak maju berkat bantuan para kolektor yang terpikat oleh romantisme medan perang; mereka yang ingin merasai langsung napas kehidupan para prajurit di masa lalu.

"Hmm, aku mengenai sesuatu."

Sebagai salah satu dari orang "kurang kerjaan" itu, aku sengaja membawa sekop berat ini ke bekas medan perang sebagai bentuk sukarela untuk membantu pemulihan artefak.

Kira-kira, apa yang terkubur di bawah tanah hitam ini? Dan perasaan macam apa yang terpatri pada benda yang terpendam di sana?

Sambil mengatur napas yang mulai memburu karena antusias, aku mulai tenggelam dalam aktivitas penggalian itu.

"……Ugh."

Setelah menggali bekas parit selama beberapa jam, tepat di tengah hari saat aku mulai terpikir untuk makan siang, ujung sekopku merasakan sebuah ganjalan.

Dengan terburu-buru, aku menggali tanah itu menggunakan tangan kosong. Tak lama, muncul sesuatu dari kulit yang berkilau hitam. Itu barang peninggalan.

Aku bisa merasakan detak jantungku kian cepat.

Dari situ, aku mulai menggali area di sekitar benda tersebut sedikit demi sedikit dengan penuh kehati-hatian. Barang ini nantinya akan dikembalikan kepada keluarga mendiang. Jika aku tidak menggalinya dengan kondisi sebersih mungkin, rasanya tidak sopan kepada pemilik aslinya.

Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam, aku berhasil mengangkat benda hitam berkilau itu tanpa kerusakan sedikit pun.

"Sebuah buku catatan."

Kulit hitam yang mengilap itu ternyata adalah sampul sebuah buku catatan. Meskipun kualitas kertasnya sudah sangat tua, kondisinya tampak terjaga dengan baik berkat perlindungan sampul kulit tersebut.

……Tak salah lagi, ini pasti berasal dari masa perang.

"……"

Aku menelan ludah, lalu perlahan-lahan membuka sampulnya dengan sangat hati-hati.

Terdengar suara perepet yang meresahkan, namun buku catatan itu berhasil terbuka tanpa robek sedikit pun.

Bisa terbaca. Buku itu adalah sebuah buku harian, ditulis dalam bahasa Austin yang rapi dan sangat mudah dibaca.

Beberapa lembar foto yang telah berubah warna dimakan usia terselip di dalamnya, terlipat dengan sangat hati-hati.

Aku merasa seolah baru saja bertatapan langsung dengan seorang gadis bermata datar tanpa ekspresi di dalam foto tersebut.

Deg. Aku bisa merasakan detak jantungku berpacu kencang.

Di dalam buku ini, sudah pasti terukir jejak langkah seseorang yang pernah menerjang maut di medan perang. Segala hal yang ingin kulihat, segala hal yang ingin kuketahui, semuanya ada di sini.

Seolah lupa daratan, aku langsung terduduk di tempat itu juga. Di bawah sengatan terik matahari, aku membuka halaman pertama.

Seketika, sebaris kalimat yang tertulis di balik sampul buku itu langsung menyita seluruh perhatianku.

 

Untuk Touri Noel yang tersayang. Kami tidak meminta banyak hal, jadi tolong, pulanglah dengan selamat.

— Kepala Panti Asuhan Noel, Isaac Fen.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar