Front Barat 1
【1 April, Sore】
Aku berniat menjadikan buku harian ini sebagai barang peninggalanku.
Meski aku merasa bersalah kepada Bapak Kepala Panti yang telah memberikan kata-kata hangatnya, aku sama sekali tidak merasa akan bisa bertahan hidup di medan perang ini.
Bagi siapa pun yang menemukan buku harian ini setelah kematianku, aku akan sangat berterima kasih jika kamu sudi menyampaikannya kepada Kepala Panti Asuhan Noel, Bapak Isaac Fen. Kumohon, kabulkanlah permintaan sederhana dari orang yang telah tiada ini.
Selain itu, karena aku berencana menumpahkan segala penderitaan dan emosi yang tak lagi sanggup kupendam ke dalam buku ini, aku akan sangat menghargai jika Anda tidak memperlihatkannya kepada terlalu banyak orang.
...Baiklah. Ini mungkin terdengar tiba-tiba, tapi apakah kamu tahu genre permainan yang disebut FPS? Sepertinya itu adalah istilah yang belum pernah kamu dengar.
Entah mimpi atau nyata, aku memiliki ingatan dari kehidupan masa laluku. Ingatan tentang dunia di masa depan yang jauh, dunia dengan peradaban maju yang damai.
FPS adalah sebutan umum untuk First-Person Shooter, permainan tembak-menembak sudut pandang orang pertama yang populer di dunia masa depan itu. Temanya sebagian besar adalah peperangan, sebuah permainan di mana kita bertempur menggunakan senjata api di dunia virtual.
Sudut pandang orang pertama itu sebenarnya sangat sulit.
Tergantung perlengkapan yang dipakai, jarak pandang bisa menjadi buruk, sering kali membuat mual karena pusing melihat layar, dan yang terpenting, kita tidak bisa bereaksi jika musuh menyelinap ke titik buta.
Karena itulah, hal-hal tidak masuk akal seperti mati mendadak padahal hanya sedang berlari biasa sudah menjadi bumbu harian.
Namun, justru di situlah letak keseruannya; ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil menyergap titik buta lawan dan menghabisi mereka secara "curang".
Dalam permainan FPS seperti itu, aku adalah Dewa.
Kemampuan deteksi yang luar biasa, kemampuan membidik atau Aim yang tak masuk akal, refleks spontan dalam baku tembak, dan yang terpenting, kemampuan membaca pikiran lawan untuk menyerang dari belakang.
Berbekal semua kemampuan level tinggi itu, aku berhasil menjadi juara dunia dalam sebuah gim Battle Royale.
Setelah itu, aku bahkan mendapatkan sponsor dari perusahaan dan menjadi pemain profesional (pro-gamer).
Di Jepang yang damai, aku hanyalah seorang pecandu gim. Namun, selama aku memegang senjata dan bertempur di dunia peperangan, aku tidak terkalahkan.
Yah, itu kalau di dunia dua dimensi, sih.
Perang dalam gim hanyalah sebuah permainan.
Begitu pertempuran usai, kita bisa saling melempar ejekan konyol dengan orang yang baru saja kita tembak, lalu tertawa bersama.
"────Hyaaa!"
"Gueh!"
Namun, dalam perang yang nyata...
Prajurit yang lehernya ditusuk akan memuntahkan buih dan percikan darah hitam pekat dari hidung serta mulutnya, lalu ia tak akan pernah bisa bicara lagi selamanya.
"Woi, bocah! Jangan melamun, kita serbu!"
"Eh, ah, siap!"
Komandan Peleton—seorang pria muda yang usianya hampir tak berbeda dengan diriku di kehidupan sebelumnya—baru saja menusuk mati prajurit yang menyerang kami.
Ia kemudian meneriakkan perintah untuk membakar semangat pasukan di sekelilingnya, lalu merangsek maju dengan gagah berani ke wilayah musuh. Karena tugasku adalah mengikutinya, aku hanya bisa berlari mengekor di belakang punggung sang Komandan.
"Kita akan menduduki area perbukitan ini. Ikuti aku!!"
Di tengah raungan amarah dan jeritan ajal yang bersahut-sahutan, serta aroma busuk kotoran manusia dan daging busuk yang menyengat, aku berlari sambil menginjak sesuatu yang basah dan lembek—entah apa itu.
Hari ini, saat pertama kalinya aku terjun ke dalam perang, seluruh tubuhku menjadi lengket oleh cairan tubuh dan lemak seseorang, sementara kakiku terus dipaksa mendaki bukit yang dulunya adalah wilayah musuh.
58 meter. Itulah jarak yang berhasil kami rebut dalam perang hari ini.
Sebuah jarak yang kami tempuh dengan maju-mundur berulang kali, sebuah kemajuan yang menjadikan nyawa begitu banyak orang sebagai batu pijakannya.
Sekitar 800 orang. Itulah jumlah korban jiwa dari rekan-rekan seperjuanganku hari ini.
Demi memajukan garis depan sejauh 58 meter, 800 orang harus tewas.
Nyawa manusia telah dikonversi menjadi satuan jarak.
Jarak adalah wilayah kekuasaan. Dengan kata lain, hari ini perbatasan negara kami telah bertambah maju sejauh 58 meter.
"Hahahahaha! Kemenangan besar, ya kan, Bocah?"
"……Selamat, Komandan Peleton. Ini semua berkat keberanian dan kepemimpinan Anda."
"Beruntung sekali kau masuk ke bawah komandoku, Garback, di pertempuran pertamamu ini. Aku akan memanfaatkanmu sampai mati dengan sangat efisien, jadi tenang saja dan matilah dengan leluasa!"
Per hari ini, aku ditugaskan sebagai prajurit medis di garis depan yang berbatasan dengan negara tetangga ini—Front Barat.
Ha, hahahaha.
"Dengan nyawamu, aku akan merebut setidaknya 1 meter lagi!"
"Demi negara, saya siap menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya."
"Tenang saja. Kalau kau mati, aku pasti akan menyampaikan kisah kepahlawananmu kepada keluargamu."
Ah. ini gila.
【1 April, Malam】
Izinkan aku memperkenalkan diri sekali lagi.
Namaku Touri Noel. Touri adalah namaku, dan Noel adalah nama belakangku.
Di kehidupan sebelumnya, aku tinggal di Jepang dan menjadi pecandu gim FPS.
Di kehidupan sekarang, jenis kelaminku berubah; aku terlahir sebagai seorang gadis.
Sebagai informasi, Touri adalah nama yang diberikan oleh Kepala Panti Asuhan, sedangkan Noel diambil dari lokasi panti asuhan tersebut.
Katanya, orang tuaku tewas terkena tembakan meriam saat terjebak dalam perang.
Namun, di tengah desa yang mulai dilahap api, ada seorang penduduk desa yang kebetulan menemukanku masih hidup, lalu membawaku lari hingga ke Noel.
Karena aku akhirnya dibesarkan di Panti Asuhan Noel, aku menyandang nama belakang Noel.
Akan tetapi, kehidupan di Panti Asuhan Noel jauh dari kata makmur.
Perang membuat jumlah yatim piatu sepertiku terus bertambah, sehingga kondisi keuangan panti menjadi sangat sulit.
Kami hanya bisa menyambung hidup dengan menanam gandum dan sayuran, memetik daun dandelion yang menjadi komoditas lokal, serta mengandalkan donasi yang terkumpul.
Melihat kondisi finansial yang seperti itu, aku pun dinasihati untuk mulai bekerja setelah aku menginjak usia 15 tahun dan dianggap dewasa.
"Kamu... memiliki bakat sihir pemulihan."
"Eh, benarkah?"
"Tentu. Kalau diasah, bakatmu pasti akan bersinar. Apa kamu tidak berminat untuk mendaftar menjadi sukarelawan militer?"
Setiap warga negara Austin yang telah dewasa wajib menjalani pemeriksaan wajib militer.
Meski begitu, kaum perempuan sangat jarang direkrut, dan aku pun seharusnya tidak punya urusan dengan dinas militer. Namun...
"Meski tidak mendaftar pun, jika kamu memiliki bakat sihir pemulihan, cepat atau lambat kamu akan dipanggil juga. Akan lebih banyak keuntungan yang kau dapatkan jika kau maju sebagai sukarelawan atas kemauan sendiri."
"……"
"Gaji sukarelawan itu tinggi, dan panti asuhan juga akan mendapatkan dana subsidi."
Entah ini keberuntungan atau kemalangan, tampaknya aku memiliki bakat sihir pemulihan yang langka.
Tanpa banyak pilihan yang tersisa, aku akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke militer.
"Bapak Kepala Panti, terima kasih atas segalanya selama ini."
"……Touri, jangan memaksakan diri. Kalau kau terluka, jangan sungkan untuk segera pulang, ya?"
Namun jujur saja, aku tidak terlalu keberatan menjadi sukarelawan.
Berdasarkan pencapaianku dalam gim di kehidupan sebelumnya, aku punya kepercayaan diri bahwa aku bisa menjadi prajurit yang hebat.
Lagipula, berbeda dengan kehidupanku yang dulu, di negara ini tidak ada yang tahu kapan nyawa seseorang akan melayang.
Kalau begitu...
"Jika perang sudah berakhir nanti, aku akan kembali ke sini lagi."
"Touri……"
"Bapak Isaac, tolong jaga kesehatan."
Setiap prajurit yang gugur akan mendapatkan 'Uang Santunan Duka', dan uang tersebut akan diserahkan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Jika aku menetapkan Bapak Isaac sebagai penerima santunan tersebut, aku tetap bisa berkontribusi bagi panti asuhan bahkan jika aku mati di medan perang.
Aku berutang budi sangat besar pada Panti Asuhan Noel.
Jika nyawaku memang bisa hilang kapan saja, aku ingin menggunakannya demi kepentingan panti.
Sebagai catatan, tahun ini ada dua orang dari panti asuhan yang mendaftar ke militer. Aku, dan seorang bocah nakal bernama Bernie Noel.
Bernie seumur denganku. Dia adalah teman masa kecil yang sering bermain bersamaku sejak kami masih kecil.
Bernie pernah bilang, meski kami dikirim ke garis depan, dia pasti akan datang menemuiku.
Memiliki seseorang yang kukenal saat harus pergi ke medan perang benar-benar memberiku kekuatan.
Namun...
Bernie yang malang itu kabarnya tewas terpanggang setelah terjebak dalam sihir pengeboman musuh pada serangan tadi.
Karena kami menyandang nama belakang Noel yang sama, aku dianggap sebagai anggota keluarga Bernie dan diizinkan untuk melihat jasadnya.
Dia yang baru kemarin mengobrol denganku sambil tersenyum, kini tewas dengan wajah penuh penderitaan, tubuh yang membengkak hebat, dan mata yang terbelalak lebar.
Kematian satu-satunya kenalanku di militer, teman masa kecilku sendiri, terasa sangat menyakitkan.
Katakan padaku kalau ini semua bohong.
【2 April, Pagi】
"Kemarin itu bencana, ya, tiba-tiba langsung terjun ke pertempuran sungguhan. Karena kemarin sudah habis-habisan, harusnya pihak musuh pun akan mengambil napas hari ini."
"……Ya."
Keesokan harinya setelah tiba-tiba dikerahkan ke medan perang.
Tanpa sempat meratapi kematian Bernie, aku dipanggil oleh Komandan Peleton Garback untuk menerima orientasi.
"Baiklah. Kudengar kau bisa menggunakan sihir pemulihan, kan? Untuk sementara, kau berada di belakang punggungku dan—"
"Saya tidak bisa."
"……Hah?"
Di saat itulah aku menyadari bahwa Komandan Peleton telah melakukan kesalahpahaman besar.
Memang benar bakat sihir pemulihanku telah ditemukan, tapi aku belum mempelajari cara menggunakannya sama sekali.
Aku hanya diberitahu untuk 'belajar langsung di tempat', lalu dikirim ke garis depan tanpa pelatihan apa pun.
"……Lalu, apa yang bisa kau lakukan, gadis kecil?"
"Tidak ada yang bisa saya lakukan."
"Kalau begitu, untuk apa kau datang ke sini?"
Aku datang bukan karena kemauanku sendiri.
Aku dikirim ke neraka ini tanpa diberikan pilihan lain.
Yah, kalau aku mengatakan itu, aku pasti akan dipukul, jadi lebih baik diam saja.
"Meskipun belum bisa apa-apa, saya berniat untuk tetap berkontribusi pada negara."
"Cih! Sok hebat sekali pola pikirmu, gadis kecil. Kau ini songong juga, ya!"
"……Ugh!!"
Ujung-ujungnya aku dipukul juga.
"Saat ini kau tidak lebih dari pengganggu, serangga sampah, parasit yang cuma tahu cara menghabiskan jatah makanan. Aku akan mengenalkanmu pada medis senior, jadi cepat kuasai tekniknya, Sialan!"
"Terima kasih banyak."
Dunia yang kejam. Apa memang begini realitas peperangan yang sebenarnya?
Karena dunia ini memiliki elemen fantasi yang cukup kental, kupikir perang di sini akan terasa lebih bersahabat dan penuh kebersamaan.
Sesuatu seperti sihir pahlawan yang menggelegar atau semburan napas naga yang dahsyat.
"Sekarang, ikuti aku. Jangan injak mayat-mayat itu, sudah mulai berbelatung."
"……Saya akan berhati-hati."
Ternyata, pahlawan atau semacamnya itu tidak ada. Sama seperti di kehidupan sebelumnya, perang hanyalah urusan manusia membantai manusia dalam kubangan darah.
Rupanya di dunia fantasi sekalipun, perang tetaplah sesuatu yang penuh lumpur dan kotor.
"Jadi, kau prajurit baru yang ditempatkan di unit Garback, ya? Turut berdukacita."
"……"
Tempat Komandan Peleton membawaku untuk "belajar" ternyata dipimpin oleh seorang kakak perempuan berseragam militer yang tampak ramah. Dia adalah wanita cantik berdada bidang dengan tahi lalat manis di bawah matanya.
"Namaku Gale. Pangkatku Letnan Medis, aku mengepalai Departemen Medis ini."
"Salam kenal. Nama saya Prajurit Dua Medis, Touri."
"Senang bertemu denganmu."
Saat aku membalas perkenalannya dengan sikap hormat, Letnan Gale membalas dengan senyuman. Sebuah senyuman indah yang membuatku nyaris mengembuskan napas kagum.
"Si bodoh itu... ehem. Maksudku, dia itu cuma punya pikiran buat menyerbu saja, jadi pasti repot sekali harus berurusan dengannya, kan?"
"Tidak, saya baru saja tiba, jadi... begitulah."
"Ah, begitu ya. Nanti kau juga bakal paham sendiri."
Letnan Gale, sang pemilik paras rupawan itu, melirik tajam ke arah punggung Komandan Garback yang baru saja pergi setelah "melemparkan" tugas mendidikku kepadanya. Ia mulai mengeluhkan pria itu dengan ekspresi wajah yang tampak gusar.
"Garback itu memang hebat kalau jadi prajurit penyerbu. Baginya, euforia membantai musuh jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematian. Dia bisa merangsek maju ke garis pertahanan lawan tanpa gentar, dan karena keberaniannya itu, hasil tempurnya pun sangat luar biasa."
Dengan raut wajah yang muram, dia mulai meluapkan kekesalannya tentangnya.
"Tapi, dia juga terkenal karena suka menjadikan bawahannya sebagai perisai. Kalau dia merasa posisinya terlalu maju, dia tidak akan ragu membuang bawahannya seperti memutus ekor cicak, lalu melarikan diri lebih dulu."
"……"
"Dan dia melakukannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Si brengsek Garback itu sepertinya berpikir kalau anak buahnya yang mati, kerugiannya jauh lebih kecil daripada kalau dia sendiri yang mati."
Aku bingung harus merespons apa saat tiba-tiba disuguhi gunjingan tentang atasan sendiri. Namun, Gale terus saja bicara.
"Tapi sekadar mengingatkan, meski perintahnya bodoh sekalipun, perintah atasan adalah mutlak. Garback tidak akan segan-segan menghukum siapa pun yang melanggar perintah."
"Saya mengerti."
"Kalau kau dieksekusi karena membangkang perintah, kabarnya uang santunan untuk keluargamu juga tidak akan cair. Jadi kalau memang harus mati, lebih baik mati saja sesuai perintah si bodoh itu."
Kalau mengikuti logika itu, sepertinya kematianku sudah terjamin di depan mata.
Awalnya kupikir dengan datang ke medan perang, aku bisa memanfaatkan keahlian FPS yang kupelajari di kehidupan sebelumnya... Tapi ternyata, setiap gerak-gerik prajurit sepenuhnya bergantung pada perintah atasan. Hampir tidak ada kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri, ya.
"Yah, sebisa mungkin bertahan hidup-lah. Mohon bantuannya mulai sekarang."
Mendengar penjelasan Letnan Gale, sepertinya aku benar-benar tertimpa sial karena mendapatkan jenis atasan yang paling buruk.
Peperangan di dalam gim terasa begitu menyenangkan, tapi perang yang nyata benar-benar seperti neraka.
Aku baru menyadari bahwa karena adanya bumbu-bumbu fantasi di dunia ini, aku menjadi sedikit terlalu optimis. Ah, sekarang aku benar-benar benci pada diriku sendiri yang telah mendaftar menjadi prajurit. Aku menyesal, seharusnya aku tidak perlu memedulikan keuangan panti asuhan dan melarikan diri saja tanpa peduli rasa malu atau apa kata orang.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Karena sudah terlanjur menginjakkan kaki di neraka ini, tidak ada pilihan lain. Yang bisa kulakukan hanyalah meronta sekuat tenaga demi bertahan hidup walau hanya sehari lebih lama.
【3 April, Malam】
"Anu, 【Heal】! Apakah seperti ini?"
"Wah, kau hebat juga, ya."
Sudah tiga hari berlalu sejak aku ditempatkan di Front Barat, dan untungnya tidak ada pertempuran besar selain di hari pertama.
Selama waktu senggang itu, aku bersama beberapa prajurit baru lainnya menerima instruksi dari Kepala Medis Gale.
"Selamat, sekarang kau sudah resmi menjadi seorang prajurit medis."
"Terima kasih banyak."
Materi yang disampaikan Ibu Ketua sangat mudah dimengerti, sehingga kami semua, para medis pemula akhirnya bisa menggunakan sihir pemulihan.
Dan kabarnya, selama seseorang bisa mengeluarkan sihir pemulihan dalam bentuk apa pun, dia akan diakui sebagai prajurit medis.
Bahkan jika sihir pemulihanku saat ini hanyalah sihir gadungan yang efeknya cuma bisa menyembuhkan luka lecet ringan.
"Ada sekitar beberapa puluh prajurit medis yang bertugas di garis depan ini. Dengan kata lain, di garis depan yang seluas ini, hanya ada segelintir prajurit yang bisa menggunakan sihir pemulihan."
"Ya."
"Kalian berlima adalah aset tempur yang sangat berharga. Bekerjalah dengan baik, ya."
Ternyata jumlah prajurit medis baru angkatan ini hanya 5 orang, termasuk diriku. Padahal di garis depan ini, ada hampir 100.000 prajurit Austin yang dikerahkan.
Artinya, rasio prajurit medis hanya sekitar 0,04 hingga 0,05 persen dari total seluruh prajurit. Pengguna sihir pemulihan benar-benar sangat langka.
"Touri, kapasitas mana milikmu sedikit lebih banyak dari yang lain. Jadi, jika kau berusaha keras, sepertinya kau bisa merapal sihir pemulihan sekitar 2 kali."
"2 kali, ya?"
Wah, kapasitas Homi-ku rupanya cuma cukup untuk 2 kali pakai. Untuk ukuran profesi spesialis sihir, bukannya itu agak kurang mengenaskan?
TN Yomi Novel: Homi (ホ○ミ): Ini adalah referensi ke mantra penyembuh tingkat dasar dari seri gim Dragon Quest. Di sini protagonis menggunakan istilah gim untuk mengomentari kemampuannya sendiri.
Padahal Letnan Gale yang sedang memberi kuliah di depanku ini sudah merapal sihir pemulihan 4 atau 5 kali selama kelas berlangsung.
"Iya, untuk ukuran pemula, itu angka yang luar biasa."
"Untuk ukuran pemula..."
"Mana itu bisa dilatih. Kalau kau bertahan hidup dan terus mengumpulkan pengalaman, jumlah pemakaiannya akan bertambah sedikit demi sedikit. Kalau kau sudah bisa merapalnya lebih dari 10 kali, kau akan dianggap sebagai perapal ahli dan bisa dipindahtugaskan ke unit garis belakang."
Begitu ya, intinya karena levelku masih rendah, makanya jatah pakainya sedikit. Dan kalau jumlah manaku bertambah, hadiahnya adalah dipindah ke tempat yang aman.
...Bukannya itu terbalik, ya?
"Anu, mohon maaf sebelumnya. Bukankah lebih efisien jika kami, para pengguna sihir pemulihan, mengumpulkan pengalaman di garis belakang sampai jatah pemakaian kami bertambah, baru kemudian dikirim ke garis depan...?"
"Kita tidak punya waktu, tempat, maupun fasilitas untuk mendidik prajurit medis pelan-pelan di belakang. Negara ini sudah di ambang kehancuran, sampai-sampai harus mengirim gadis yang bahkan belum layak disebut prajurit ke garis depan secepat ini."
Aku ingin protes, kalau memang pengguna sihir pemulihan itu aset berharga, harusnya dijaga baik-baik, dong. Tapi sepertinya mereka memang sudah tidak punya kemewahan itu.
Perang sudah berkecamuk lebih dari 10 tahun. Prajurit dan instruktur yang hebat pasti sudah tewas lebih dulu. Itulah kenapa kebijakan bodoh semacam ini bisa lolos begitu saja.
"Ah, benar juga. Touri, aku akan mengajarkanmu sihir 【Shield】 juga."
"【Shield】?"
"Iya. Kalau kau harus mengikuti si Garback itu, kau harus punya cara untuk melindungi diri dalam sekejap. Sebenarnya ini sihir untuk prajurit lapis baja Tanker tapi banyak juga prajurit medis yang mempelajarinya."
"Anak-anak yang tertarik, mendekatlah ke Touri." Letnan Gale berdehem kecil setelah berkata demikian.
Sihir itu... aku sangat tertarik. Bukankah itu akan berpengaruh langsung pada tingkat keselamatanku?
"【Shield】 ini memungkinkanmu untuk membentangkan sebuah penghalang mana."
"Penghalang, ya?"
"Sihir ini bisa menahan serangan sihir tingkat rendah atau objek yang dilemparkan. Tapi, ia tidak bisa menahan sihir pengeboman atau peluru senapan."
Di depan telapak tangan Ibu Ketua Medis, muncul sebuah papan serupa kaca berwarna ungu muda. Saat aku mencoba menyentuhnya, benda itu terasa cukup kokoh, persis seperti papan solid.
"Dalam situasi kritis, hal ini bisa menyelamatkan nyawa. Bukan hanya nyawamu sendiri, tapi juga nyawa rekan-rekanmu."
"Ooh..."
"Bagi Touri, ini adalah keahlian wajib. Tapi bagi kalian yang lain, jika tertarik, silakan ikut berlatih."
Benar, ini sepertinya akan sangat berguna. Aku ingat ada skill serupa di gim pada kehidupan sebelumnya. Bedanya, di sana perisainya bisa menahan apa saja, termasuk peluru.
Saran dari tenaga medis veteran seperti ini sungguh sangat berharga. Aku harus benar-benar menguasai teknik yang diajarkan demi bersiap menghadapi perintah gila Garback.
【4 April, Pagi】
"Sampai kapan kalian mau tidur, dasar belatung-belatung busuk!!"
Hari keempat sejak penempatanku di Front Barat.
"Peleton ini baru saja menerima tugas untuk operasi invasi ke wilayah musuh! Segera bersiap!"
"Siap, laksanakan!"
Pagi buta saat matahari bahkan belum menampakkan diri, aku terbangun oleh teriakan murka Komandan Peleton Garback.
Meski otakku belum sepenuhnya sinkron karena baru bangun tidur, tampaknya kami harus segera berangkat sekarang juga.
Ugh... seluruh tubuhku sakit karena tidur di atas tanah. Aku merindukan tempat tidur di panti asuhan.
"Komandan Garback... eh, sekarang banget, nih?"
"BODOH! Berani-beraninya kau membantah perintah!"
Aku segera berganti pakaian dan mulai memeriksa perlengkapan, sementara salah satu rekan sesama prajurit baru... kalau tidak salah namanya Salsa, kena pukul karena banyak bicara.
Ah, kenapa sih dia sengaja sekali menginjak ranjau?
"Maksud saya... bukannya mendadak begini, tapi setidaknya kalau diberitahu lebih awal..."
TN Yomi Novel: Menginjak Ranjau (地雷を踏む - Jirai wo fumu): Sebuah idiom yang berarti melakukan atau mengatakan sesuatu yang memancing reaksi buruk atau kemarahan orang lain. Dalam konteks ini, Salsa sengaja memancing emosi Garback.
"Kau ini... jangan-jangan mata-mata, ya?! Apa urusannya aku harus menjelaskan operasi militer sepenting ini kepada orang sepertimu!"
"Ma-maaf! Ampun, jangan pukul saya lagi!"
Benar sekali. Sebagai prajurit kasta rendah, mana mungkin kami diberikan penjelasan soal rencana operasi atau kapan waktu penyerangan.
Perintah untuk menyerbu akan selalu turun mendadak seperti ini.
"Unit Infanteri Kelas Satu Maryu, tiga personel, siap!"
"Unit Pengintai Allen, dua personel, siap!"
"Prajurit Dua Medis Touri, siap!"
"Sa-Salsa, Prajurit Dua! Siap!"
"Bagus."
Peleton Garback ini merupakan unit beranggotakan 10 orang dengan Sersan Garback sebagai komandannya.
Namun, jumlah kami tidak sampai 10 sekarang karena tiga orang tewas dalam pertempuran 4 hari yang lalu. Setelahnya, atas pengajuan Komandan Peleton, Salsa direkrut sebagai tenaga tambahan, sehingga total kami sekarang ada 8 orang.
Sebagai informasi, Salsa ini adalah rekrutan baru yang baru tiba di garis depan 4 hari lalu. Dengan kata lain, dia adalah rekan seangkatanku.
"Unit Maryu, maju lebih dulu! Unit Allen, siaga di sampingku. Touri dan Salsa, kalian tepat di belakangku!"
"Siap, Komandan Peleton!"
Para prajurit berwajah garang itu menjawab lantang seruan Sersan Garback. Karena selama 3 hari ini aku terus mengikuti pelatihan di bawah Letnan Gale, aku bahkan belum sempat menyapa anggota Peleton Garback yang lain.
Rasanya sungguh menggelisahkan, harus melakukan aksi tim yang mempertaruhkan nyawa bersama orang-orang yang hampir tidak pernah kuajak bicara.
Namun, mungkin ada baiknya aku tidak terlalu akrab dengan mereka.
Mengingat kemungkinan semua orang yang ada di sini bisa menyambut malam nanti dalam keadaan hidup... sangatlah kecil.
【4 April, Sore】
"Oho, benar-benar hebat Korps Artileri Sihir itu. Kurasa pekerjaan kita hampir tidak tersisa lagi, ya?"
Serangan hari ini dimulai dengan tembakan meriam jarak jauh oleh unit Artileri Sihir.
Selama beberapa jam, mereka membakar habis parit-parit pertahanan dan barikade karung pasir yang telah dibangun musuh.
Ini adalah taktik umum di dunia ini; melakukan tembakan persiapan dengan sihir pengeboman untuk menghabisi tentara musuh sebelum infanteri melakukan serbuan.
Katanya, semakin lama waktu yang dihabiskan untuk tembakan persiapan ini, semakin berkurang jumlah musuh. Dengan begitu, wilayah bisa direbut dengan kerugian personel yang seminimal mungkin.
"Luar biasa, ya."
"Meski menyebalkan, tapi bintang utama dalam perang itu mereka. Dibandingkan kita yang mati-matian menyerbu dan memenggal leher musuh, satu tembakan artileri sihir yang mereka lepaskan sambil bersembunyi di kejauhan jauh lebih efektif menghancurkan lawan."
"Kalau begitu, kenapa kita tidak melakukannya setiap hari saja?"
"Tentu saja karena mereka butuh batu mana dalam jumlah besar untuk merapal sihir berskala besar seperti itu. Kalau setiap hari menembak, anggaran negara tidak akan pernah cukup."
Selain itu, Komandan Peleton melanjutkan penjelasannya.
"Jika musuh membaca serangan kita dan mengosongkan posisi yang akan ditembak, kita akan rugi besar. Kita tidak bisa melakukannya jika tidak ada bukti kuat bahwa musuh benar-benar ada di posisi tersebut."
"Begitu, ya. Saya mengerti."
"Bagus. 5 menit lagi setelah pengeboman berakhir, kita menyerbu. Target taktis peleton ini adalah maju sampai pinggiran sungai. Jika memungkinkan, bekerja sama dengan unit lain untuk mengamankan area sungai."
Setelah menyatakan hal itu, Komandan Peleton menyeringai ganas dan mencabut bayonet yang terselip di pinggangnya.
"Ayo, mari kita mulai pembantaiannya. Kita ubah para penjajah berhati busuk itu menjadi kotoran anjing liar."
Bersamaan dengan kata-kata itu, Peleton Garback menerjang maju ke arah garis pertahanan musuh.
Hasilnya... berantakan.
"Komandan Peleton! Tiba-tiba api berkobar entah dari mana—!"
"Sialan!"
Yang kami temukan di ujung serbuan itu hanyalah garis pertahanan musuh yang telah hangus dan kosong melompong—tak ada satu pun mayat tergeletak di sana.
Melihat pemandangan itu, Komandan Peleton sempat memasang wajah sangsi, namun begitu mendengar jeritan rekan-rekan dari arah sekitar, ia langsung meneriakkan perintah mundur dengan panik.
"Mundur! Sebentar lagi tempat ini akan dihujani tembakan artileri terpusat! Sial, rencana kita terbaca! Apa saja kerjaan orang-orang di Departemen Staf itu?!"
"To-tolong, aku mati! Aku bakal mati terpanggang!"
"Salsa, mati saja kau di sana kalau mau! Dasar lamban!"
Salsa, sang Prajurit Dua, tampak berguling-guling kesakitan setelah terlahap api yang tiba-tiba berkobar dari permukaan tanah yang terlihat kosong. Itu pasti jebakan yang disebut lingkaran sihir tipe pasang.
Semacam ranjau sihir yang akan membuat siapa pun yang menginjaknya langsung terpanggang.
Melihat jebakan yang sudah disiapkan sedemikian rupa, sepertinya serangan hari ini memang benar-benar sudah bocor ke pihak musuh.
"Terus berguling dengan kuat di tanah! Aku akan menimbunmu dengan tanah untuk memadamkan apinya!"
"A-ah, panas! Cepat, cepat!"
"Hup!"
Karena aku tidak bisa membiarkan teman seangkatanku begitu saja, aku membantunya memadamkan api dengan menaburkan tanah ke sekujur tubuhnya.
Setelah itu, aku mencoba mengajaknya lari menyusul rombongan Komandan yang sudah lebih dulu mundur.
"Ka-kakiku...!!"
"……Dimengerti. Tunggu sebentar."
Namun, Salsa tak mampu berdiri dan kembali tersungkur di tempat.
Begitu kulihat, kakinya sudah membengkak hebat dipenuhi luka lepuh; kondisinya mustahil untuk dipakai berjalan.
"……【Heal】. ……【Heal】."
"Ah... hhh... ah..."
"Aku merapalnya 2 kali sekaligus. Meski sihirku masih amatir, setidaknya ini sedikit lebih baik, kan?"
Sihir pemulihan yang efeknya tak lebih dari sekadar mantra penenang.
Setelah merapalnya berulang kali, bengkak pada kaki Salsa sedikit menyusut.
Luka itu masih tergolong parah, namun jatah sihirku memang hanya cukup untuk dua kali pemakaian berturut-turut.
"Kalau dengan ini kau masih tidak bisa lari, maaf, aku terpaksa harus meninggalkanmu, Salsa."
"U-ugh..."
"Aku tidak punya cukup tenaga untuk menggendongmu sambil berlari."
"Paham! Aku lari, aku akan lari! Jadi tolong, jangan tinggalkan aku!"
Dengan kaki yang pastinya masih didera rasa sakit luar biasa, Salsa memaksakan diri berdiri dan mulai berlari lagi.
Setelah memastikan hal itu, aku pun kembali memacu langkah untuk mundur secepat mungkin.
Tampaknya serangan sihir pengeboman dari musuh telah dimulai; ledakan memekakkan telinga dan jerit ajal bersahut-sapa di mana-mana.
"Hah, hah, hah! Ini... kita bisa mati, beneran!"
"Ya, sekarang tinggal berharap pada Tuhan. Berdoalah semoga pengebomannya tidak mengarah ke kita."
Kami terus berlari.
Sambil mengejar para senior yang sudah jauh di depan, kami terus memacu tungkai di bawah bayang-bayang ketakutan akan ledakan yang menggelegar.
Di sekeliling kami, kobaran api dan dentuman yang diduga serangan musuh meletus membabi buta. Jika terkena telak, tamatlah riwayat kami.
"……Hah, hah!"
Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang punya fisik kuat.
Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah pecandu gim yang kurang gerak, dan di kehidupan sekarang, aku adalah si kutu buku yang hobi mendekam di perpustakaan panti asuhan.
Sudah berapa lama aku berlari?
Aku hanya bisa terus bergerak berkat adrenalin yang terpompa hebat karena ancaman maut. Jika ini situasi normal, aku pasti sudah pingsan karena kelelahan sejak tadi.
"Aku tidak mau mati, tidak mau mati! Aku belum membalas budi apa pun pada Ibu!"
"Kalau kau masih punya tenaga untuk berteriak sekencang itu, mending pakai buat lari."
Salsa ternyata lebih kuat dari dugaanku. Meski kakinya terasa sakit bukan main, dia masih punya cukup tenaga untuk berlari sambil menjerit-jerit.
Sementara aku, setiap kali menarik napas, hanya rasa darah yang memenuhi kerongkonganku.
"Uwaaaaaaaaaaaaaaa!"
Berlari sejauh ratusan meter di samping Salsa yang berisik setengah mati.
Sangat beruntung, aku dan Salsa berhasil mundur hingga ke posisi paling belakang pasukan kami tanpa terkena satu pun serangan sihir pengeboman secara langsung.
Di sini, serangan musuh seharusnya sudah tidak bisa menjangkau lagi.
"……"
"Lho? Hei! Touri!?"
Begitu sampai di garis finis, aku tidak ingat apa-apa lagi. Dari apa yang kudengar, sepertinya aku jatuh pingsan, dan Salsa-lah yang membawaku hingga ke fasilitas medis.
【5 April, Sore】
"Dasar kau GOBLOK!!"
Setelah sadar, aku dipanggil menghadap Komandan Peleton. Yang menungguku di sana adalah sebuah tinju mentah sebagai bentuk hukuman.
"Kenapa kau menggunakan sihir pemulihan tanpa izin dariku?! Kenapa kau tidak mematuhi perintah mundurnya dan malah menyelamatkan Salsa?!"
"Mohon maaf."
Sepertinya tindakanku menyelamatkan Salsa yang menyebabkan keterlambatan saat mundur dianggap sebagai pelanggaran perintah.
Aku tidak bermaksud begitu, tapi dalam situasi ini, sepertinya lebih baik aku tidak banyak bicara.
"Kau merasa kasihan karena dia teman seangkatanmu, hah?! Apa kau sadar berapa banyak orang yang kau repotkan karena tindakanmu itu?!"
"……Saya tidak tahu."
"Oh, begitu. Biar kuberitahu. Itu cuma kebetulan! Kebetulan saja aku dan kau bisa kembali dengan selamat tanpa terkena serangan musuh. Kita sangat beruntung, ya kan?!"
"Ya, kami sangat beruntung."
Begitu aku menjawab, sebuah hantaman tumpul menghujam perutku. Sepertinya Komandan baru saja memukul ulu hatiku.
"────Kh!"
"Ini cuma perumpamaan. Seandainya aku sial dan terkena serangan artileri, lalu saat itu kau baru lewat karena terlambat mundur..."
"Ya... yaa..."
"Pada saat itu, kau! Apa kau masih punya sisa mana untuk menyelamatkanku?!"
Pukulan bertubi-tubi mendarat di pipiku, kiri dan kanan.
Sebagai pungkasan, dengan wajah yang menyiratkan rasa muak yang mendalam, Komandan Peleton menendangku sekuat tenaga hingga aku terpental.
"Itulah yang kau lakukan. Demi menyelamatkan rekrutan baru yang derajatnya lebih rendah dari belatung itu, kau telah mempertaruhkan nyawaku dalam bahaya!"
"Mohon maaf."
"Penggunaan sihir pemulihan wajib mendapatkan izin atasan! Menggunakan sihir tanpa persetujuanku adalah pelanggaran yang tak bisa dimaafkan!"
"Saya minta maaf."
"Ingat ini, pada dasarnya sihir pemulihanmu tidak akan pernah digunakan untuk siapa pun selain aku! Kau pikir untuk apa aku bersusah payah meminta tambahan tenaga medis?! Itu agar aku bisa merangsek lebih dalam ke garis pertahanan musuh dan mengakhiri perang ini!"
Tindakan kekerasan sang Komandan Peleton sungguh brutal. Saking hebatnya, seragam militerku sampai robek, memperlihatkan bagian samping perut yang membengkak kemerahan. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga aku nyaris tak sanggup mengeluarkan suara untuk menyahut.
"Ini hukumanmu. Hari ini, kau dilarang makan siang. Lalu, berdirilah dengan sikap tegak sempurna di depan tendaku sampai matahari terbenam."
"……Siap."
Itulah hukuman yang dijatuhkan kepadaku.
Selewat tengah hari, saat langit mulai merona kemerahan.
Salsa menghampiriku yang masih berdiri mematung dengan wajah penuh lebam.
"Maaf... Maafkan aku."
"Ini kelalaianku sendiri. Kau tidak perlu merasa bersalah."
Jujur saja, menurutku hukuman fisik yang diberikan Garback sudah kelewatan. Memukuli bawahan sampai ke tingkat yang bisa mengganggu pertempuran besok dan seterusnya benar-benar tindakan yang tidak efisien.
Namun, kalau dipikir-pikir, meminta izin atasan sebelum menggunakan sihir pemulihan memang sudah sewajarnya.
Aku memang bersalah karena melalaikan konfirmasi tersebut dan bertindak gegabah sendirian.
"Tapi kalau kau tidak menolongku, aku pasti sudah..."
"Kau pasti sudah mati, karena ditinggalkan begitu saja oleh Komandan. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah atas hukuman yang kuterima, tapi tolong pastikan kau merasa berutang budi karena aku telah menyelamatkan nyawamu."
"T-tentu saja!"
Salsa menatapku dengan tatapan seolah-olah sedang melihat seorang dewi.
Ini mungkin sedikit gawat.
"Kalau kau merasa berutang budi, kebetulan aku sangat lapar, jadi bisakah kau membagi sedikit jatah makan malammu nanti?"
"……O-oh, tentu."
"Dengan begitu, kita impas."
"Murah sekali untuk harga sebuah nyawa..."
Sejujurnya, aku tidak berniat untuk menjadi terlalu akrab dengannya.
Ya, karena kemungkinan besar orang ini akan segera mati.
Meskipun kami belum lama bertugas bersama, dia tampak sangat ceroboh dan tidak bisa membaca situasi. Dia sama sekali tidak terlihat seperti prajurit unggulan yang mampu bertahan hidup sampai perang usai. Dan aku adalah tipe orang yang akan merasa sangat terpukul jika seseorang yang dekat denganku tewas.
Daripada terluka nantinya, lebih baik tidak usah akrab dari awal. Aku tidak butuh kasih sayang.
"Ya sudahlah, tidak makan siang memang pasti bikin lapar. Baiklah."
"Terima kasih. Kalau begitu, silakan pergi. Aku harus tetap berdiri tegak sampai matahari terbenam."
"Oke. Aku juga baru saja dipanggil Komandan Peleton. Sampai nanti."
Salsa memberi hormat kepadaku sebelum melangkah masuk ke dalam tenda Komandan.
Kurasa menjaga jarak seperti ini sudah cukup bagi seorang rekan seperjuangan.
Tidak terlalu akrab, tapi juga tidak bermusuhan.
Bekerja sama saat bertempur, namun tidak banyak bicara dalam urusan pribadi.
Meski mungkin hanya untuk waktu singkat, sepertinya aku bisa berhubungan baik dengan Salsa.
"Dasar kau tolol, bloon, sampah masyarakat! Mati saja kau, bangsat!! Kalau kau begitu ingin membuang nyawa yang sudah susah payah kupungut itu, biar aku sendiri yang membereskannya sekarang juga!!!"
"Maafkan saya, maafkan saya, saya meny—"
Beberapa menit kemudian.
Ia dihajar lebih parah dariku, lalu dipaksa berdiri mematung di depan tenda.
"……"
"……"
Wajah Salsa bengkak di sana-sini dan mulai mengeluarkan darah. Cairan hitam kental menetes pelan dari hidungnya, sementara lengan kanannya... sepertinya patah.
Ini sudah benar-benar melewati batas "pendidikan". Kurasa meski diobati dengan sihir pemulihan sekalipun, Salsa tidak akan sanggup ikut bertempur selama beberapa hari ke depan. Benar-benar tidak efisien, dari sudut pandang mana pun.
"Sial... sakit sekali..."
"Anu, apa lagi yang kau perbuat, Prajurit Dua Salsa?"
"Aku lupa ikut briefing siang tadi..."
"Hah."
Yah, pria ini memang keterlaluan juga, sih.
Mungkin Komandan Peleton merasa kalau tidak dipukul sekeras ini, si bebal ini tidak akan pernah kapok.
"Hei, ini benar-benar sakit luar biasa. Touri, anu... bisa tidak, secara diam-diam begitu... kau pakai sihir pemulihanmu untukku?"
TN Yomi Novel: Prajurit Dua (二等兵 - Nitouhei): Pangkat terendah dalam militer, sering kali menjadi sasaran empuk perundungan atau disiplin keras di lingkungan militer lama.
"Alasan saya dihukum adalah karena menggunakan sihir tanpa izin. Kalau saya kembali menggunakan sihir tanpa izin saat sedang menjalani hukuman, Komandan Peleton pasti akan mencekik saya sampai mati."
"……Benar juga, ya."
Apa pria ini benar-benar merenungi kesalahannya? Apa dia berniat melemparkanku kembali ke dalam badai hukuman fisik?
Lagipula, kalaupun aku boleh menggunakan sihir, aku akan menggunakannya untuk diriku sendiri dulu. Aku juga terluka parah, tahu.
"Terus... maaf, Touri. Aku juga dilarang makan malam..."
"……"
【7 April, Pagi】
Hari ini genap satu minggu sejak aku ditempatkan di Front Barat.
Beruntung, aku masih bernapas dan belum mati hingga detik ini.
Meski ada banyak sumber masalah, seperti rekan yang tidak bisa diandalkan dan atasan yang gemar main tangan, aku akan tetap berjuang hari ini demi panti asuhan di kampung halaman.
Kemarin, aku mendapat penjelasan dari senior di Departemen Medis mengenai situasi perang saat ini. Front Barat tempatku berada adalah garis depan dari "Perang Timur-Barat" yang telah berlangsung selama 10 tahun antara negaraku, "Austin", melawan musuh kami, "Federasi Sabbath".
Katanya, pada awal perang, kedua pihak saling jual beli serangan di sepanjang Sungai Tar yang menjadi perbatasan negara.
Namun, perlahan-lahan garis pertahanan kami terdesak, dan saat ini seluruh wilayah aliran Sungai Tar berada di bawah pendudukan musuh.
Wajar saja. Perbedaan kekuatan saat ini sangat mencolok; total pasukan kami berjumlah 100.000 orang, sementara estimasi kekuatan musuh mencapai 180.000 orang. Tentu saja kami tidak akan menang.
Meski begitu, militer Austin tidak menyerah dan terus mengincar kesempatan untuk merebut kembali Sungai Tar. Jadi, operasi penyerangan 4 hari yang lalu itu memang bertujuan untuk merebut kembali sungai tersebut.
Namun, entah rencana itu bocor atau memang sudah terbaca oleh musuh, posisi lawan yang kami serbu ternyata sudah kosong melompong. Tembakan dari Unit Artileri Sihir kami pun berakhir sia-sia.
Bukannya menang, unit-unit infanteri seperti Peleton Garback yang melakukan serbuan justru menderita kerugian besar dan kocar-kacir saat mundur.
Akibatnya, posisi pertahanan serta perbekalan yang kami tinggalkan malah direbut oleh musuh, dan garis depan terpaksa mundur lebih dari 100 meter.
Sungai Tar pun terasa semakin menjauh.
Saat ini, kami sedang dalam proses membangun parit pertahanan baru secepat mungkin dengan garis mundur tersebut sebagai porosnya.
Parit itu sangat krusial. Katanya, setelah garis depan bergeser seperti ini, para prajurit infanteri akan menghabiskan sepanjang hari dengan sekop di tangan untuk menggali lubang.
1 bagian untuk pertempuran yang mempertaruhkan nyawa, 9 bagian sisanya untuk kerja bakti teknik sipil yang juga mempertaruhkan nyawa. Begitulah rutinitas harian prajurit garis depan.
"Waktunya bangun. Segera bersiap-siap."
"Uuuh... Touri, ya? Selamat pagi."
Pagi hari bagi prajurit rendahan datang sangat cepat.
Pukul 5:00 pagi, saat langit mulai memutih, diadakan pengarahan rutin peleton. Karena itu, kami harus sudah bangun sebelum jam tersebut, memeriksa perlengkapan, dan bersiap agar bisa dikerahkan kapan saja.
Karena tidak ada benda praktis seperti alarm, mereka yang hobi kesiangan harus dibangunkan oleh rekan atau penjaga piket.
Aku sendiri, mungkin karena stres, jadi sering tidur ayam; aku akan langsung terbangun begitu suasana sekitar mulai bising, jadi aku tidak kesulitan untuk bangun pagi.
"Saya sudah selesai bersiap. Kalau Salsa terlambat, saya juga akan terkena tanggung jawab renteng, jadi tolong segera selesaikan persiapanmu."
"Pa-paham."
Apakah hari ini ada penugasan tempur atau tidak, semuanya diberitahukan saat pengarahan.
Ada kasus di mana kami langsung dikerahkan sesaat setelah menampakkan muka di pengarahan, jadi terlambat adalah hal yang haram.
Dan sebagai bawahan kelas teri, tempat tidurku adalah di dalam parit pertahanan yang terus-menerus diguncang suara ledakan artileri.
Asrama Departemen Medis sebenarnya terletak di garis belakang, tetapi karena aku adalah anggota Peleton Garback, aku diwajibkan tidur di garis depan.
Sebagai komandan peleton, Garback mendapatkan fasilitas tenda pribadi, namun prajurit rendahan tidak memiliki kemewahan seperti itu.
Di dalam lubang panjang yang kami gali, laki-laki maupun perempuan tidur berderet, bercampur aduk layaknya ikan pindang.
"Cepat sekali kau berganti pakaian, Touri."
"Kalau tidak berganti di pagi buta, aku akan ditonton banyak orang, kan?"
Karena ini adalah parit perlindungan di garis paling depan, tidak ada yang namanya pertimbangan khusus bagi perempuan.
Aku dipaksa berganti pakaian di tengah kerumunan laki-laki, dan tempat untuk buang air pun digunakan bersama.
Kudengar selentingan kabar bahwa prajurit perempuan terkadang diraba-raba atau bahkan diserang saat sedang tidur. Namun, tindakan pemerkosaan tentu saja merupakan pelanggaran berat terhadap hukum militer; jika dilaporkan ke atasan, pelakunya akan dijatuhi hukuman yang sangat berat.
Bahkan jika dilakukan atas dasar suka sama suka pun, seorang prajurit perempuan yang hamil akan dianggap melakukan kejahatan berat karena harus meninggalkan garis depan.
"Prajurit Dua Medis Touri, siap."
"Prajurit Dua Salsa, siap."
"Bagus, kita mulai pengarahannya."
Sersan Garback memang arogan dan penuh kekerasan, tetapi katanya ia sangat disiplin terhadap hukum militer.
Karena itu, Letnan Gale pernah berpesan bahwa jika aku mengalami pelecehan, Garback pasti akan menjatuhkan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu.
Sersan Garback adalah tipe orang yang tega membunuh bawahannya sendiri jika itu sesuai dengan peraturan militer.
Mungkin berkat hal itu, sejauh ini aku belum pernah menerima perlakuan yang mengarah pada pelecehan seksual dari anggota Peleton Garback lainnya.
"Memberikan perintah kepada Prajurit Dua Medis Touri. Hari ini kau akan bertugas di bawah komando Letnan Medis Gale."
"Dimengerti. Mengulangi perintah: saya akan bertugas di bawah komando Letnan Medis Gale selama dua puluh empat jam ke depan, terhitung dari sekarang hingga pukul lima pagi esok hari."
"Bagus."
Tugas hari ini adalah membantu Letnan Gale.
Biasanya, para petugas medis mendirikan rumah sakit lapangan menggunakan tenda militer di titik paling belakang garis depan—sebuah pangkalan di area yang tidak terjangkau oleh tembakan musuh untuk menangani prajurit yang terluka.
Sebagian besar prajurit medis bekerja di sana. Prajurit medis yang tergabung dalam peleton infanteri sepertiku pun, jika sedang tidak ada pertempuran, akan dikerahkan untuk membantu di rumah sakit lapangan.
Pekerjaan ini menjadi sarana pelatihan bagiku sebagai tenaga medis. Selain itu, karena lokasinya berada di titik paling belakang, tempat ini sangat aman. Letnan Gale dan staf medis lainnya juga sangat ramah, jadi ini adalah tempat terbaik. Bisa terbebas dari kerja fisik yang luar biasa berat seperti menggali lubang parit bisa dibilang adalah hak istimewa korps medis.
Di sebelahku, Salsa berbisik mengeluh, "Gali lubang lagi hari ini, ya..."
Selain itu, ada satu hal yang baru kusadari akhir-akhir ini. Komandan Garback diizinkan menginap di tenda di garis belakang yang aman... ternyata karena dia adalah salah satu 'kartu as' di front ini.
Awalnya aku merasa aneh, mengapa dia begitu diistimewakan sampai bisa mendapatkan tambahan tenaga medis dan memiliki tenda pribadi.
Ternyata, itu semua adalah hak yang ia peroleh berkat prestasi tempurnya sendiri.
"Itulah sebabnya tidak ada yang berani menegur sikapnya yang sewenang-wenang. Begitu dia bilang 'kalau punya keluhan, lampaui dulu hasil tempurku', semua orang langsung terbungkam."
"Kalau begitu, bagaimana ya mengatakannya. Memiliki atasan langsung yang kompeten sebenarnya cukup membesarkan hati."
"Dia itu cuma bodoh saja. Dia terus-menerus melakukan serbuan yang meremehkan nyawanya sendiri maupun nyawa kawan-kawannya, dan kebetulan saja selalu beruntung bisa selamat."
"Sambil menjadikan kawan-kawannya sebagai umpan dan membiarkan mereka mati." lanjut Letnan Gale dengan wajah muak.
"Prestasi dari bawahan yang tewas pun semuanya jatuh ke tangan Garback. Dia meraih prestasi dengan mengulang serbuan gegabah, dan jika situasi berubah genting, dia akan mengorbankan anak buahnya demi menyelamatkan diri sendiri. Sebagai prajurit penyerbu dia mungkin hebat, tapi sebagai komandan, dia adalah yang terburuk."
"Anu... Kepala Medis Gale, sebaiknya Anda tidak bicara begitu..."
"Ah, benar juga. Maafkan aku."
Karena sepertinya dia akan terus menggunjingkan Garback jika dibiarkan, aku pun menegurnya dengan halus.
Memang aku sendiri tidak punya kesan baik terhadap Garback, tapi menurutku kurang pantas bagi seorang Kepala Medis menyebarkan keburukan prajurit lain kepada bawahannya sendiri.
"Aku tidak bisa menahan diri kalau sudah menyangkut Garback. Perasaanku selalu campur aduk... karena dia adalah orang yang membunuh adikku."
"……"
"Sampai sekarang aku masih mengingatnya. Hari saat dia menyerahkan dog tag adikku dan mengabarkan kematiannya. Dengan santainya, Garback tersenyum padaku dan berkata, 'Berkat adikmu, wilayah kita maju 20 meter'."
"Itu... anu..."
"Belakangan aku baru tahu kalau itu hanyalah upaya untuk menutupi kesalahannya sendiri. Peleton Garback yang sedang tinggi hati menyerbu terlalu jauh, lalu mereka mundur dan meninggalkan adikku sendirian di sana."
Saat menceritakan hal itu, wajah Letnan Gale benar-benar menyerupai topeng Hannya.
"Waktu menerima permintaan untuk mengirimkan prajurit medis ke peletonnya, aku menentang habis-habisan... tapi petinggi militer tetap menyetujuinya. Aku minta maaf karena kau harus mendapatkan 'undian sial' ini."
"Tidak apa-apa. Tugas prajurit adalah mematuhi perintah."
"Benar. Kalau ada yang bisa kubantu, aku akan melakukannya. Berjuanglah, ya."
Begitu ya, ternyata latar belakang itulah yang membuat Kepala Medis Gale begitu kritis terhadap Garback. Tentu saja, aku pun tidak mau mati hanya untuk menambal kesalahan konyol Komandan Peleton.
Namun, jika melihat situasi sekarang, sepertinya Prajurit Dua Salsa memiliki prioritas lebih tinggi sebagai kandidat tumbal daripada aku. Mana mungkin mereka membuang pengguna sihir pemulihan yang langka begitu saja sebagai umpan, kan?
Jadi, selama dia masih hidup, bisa dibilang aku masih aman.
Semangat ya, Salsa.
【7 April, Sore】
Hari ini aku menghabiskan waktu seharian bertugas sebagai tenaga medis di rumah sakit lapangan.
Meski begitu, sebagai rekrutan baru, aku belum bisa dibilang berguna sebagai tenaga tempur yang sesungguhnya.
Karena itu, aku bersama rekan medis seangkatan lainnya menerima bimbingan dari senior sambil membantu pekerjaan mereka.
"Pengerahan manamu masih payah! Harusnya begini, wuuush lalu pyarrr gitu, lho!"
"Senior, mohon maaf, tapi bisakah Anda menjelaskannya dengan sedikit lebih konkret?"
"Makanya, kau harus set pose mantap begini, kan?!"
Setelah menerima bimbingan dari berbagai senior, aku baru menyadari betapa luar biasa mudahnya penjelasan Kepala Medis Gale tempo hari.
Ternyata, menjelaskan kiat-kiat sihir pemulihan secara teoretis adalah hal yang sangat sulit.
Sebagian besar senior hanya bisa memberikan saran yang agak abstrak.
Namun, hampir semua senior mengatakan hal yang sama:
"Sihir pemulihan itu baru bisa dipahami kalau kau sudah sering mempraktikkannya."
Sepertinya prinsipnya adalah learning by doing.
Di rumah sakit lapangan, permintaan akan sihir pemulihan tidak pernah habis.
Aku ditugaskan menangani prajurit dengan luka yang relatif ringan sebagai bahan latihan.
Meski baru seminggu mulai belajar sihir, aku merasa efeknya sudah lebih kuat dibandingkan saat pertama kali mencobanya.
Tampaknya benar bahwa sihir akan meningkat seiring bertambahnya pengalaman.
Rasanya menyenangkan bisa merasakan peningkatan skill seperti ini. Andai saja aku bisa terus begini tanpa perlu melakukan operasi invasi.
【8 April, Pagi】
"Kita akan merebut kembali posisi pertahanan yang dirampas tempo hari. Peleton Garback, berangkat!"
Keesokan harinya, perintah pengerahan kembali turun untuk kami.
Memang benar, selama berada di garis depan, menjalani hari-hari yang damai hanyalah sebuah mimpi belaka.
"Diasumsikan musuh belum selesai membangun pertahanan baru mereka. Saat ini mereka pasti sedang terburu-buru merapikan logistik dan memperkuat parit. Kita akan membombardir tempat itu, lalu kita akan menyerbu dan melumpuhkan mereka."
"Siap, laksanakan!"
Rencananya masih sama seperti sebelumnya: unit Artileri Sihir akan melakukan pengeboman, lalu kami akan menyerbu untuk mengamankan lokasi.
...Kegagalan tempo hari melintas di benakku, membuatku sedikit cemas.
"Prajurit Dua Salsa, Prajurit Dua Medis Touri. Kalian berdua, tetap di belakangku kali ini!"
"Siap, Komandan Peleton!"
"Jika kalian melakukan pelanggaran perintah lagi, aku akan langsung menembak mati kalian di tempat. Persiapkan mental kalian dan laksanakan tugas!"
"Kami mengerti."
Komandan memberikan peringatan keras kepadaku karena kesalahan yang kuperbuat sebelumnya.
Jika aku dieksekusi karena melanggar perintah, uang jatah untuk panti asuhan tidak akan cair.
...Rasanya sangat depresi, tapi jika perintah berbahaya diturunkan pun, aku harus patuh tanpa melawan dan mati dengan tenang.
"Baiklah, ayo berangkat! Akan kutunjukkan pada kalian seperti apa serbuan gaya Garback!"
Meskipun kami akan segera berangkat bertempur, Komandan malah tersenyum lebar. Ekspresinya menunjukkan seolah ia sangat senang karena bisa membantai orang.
Orang ini sepertinya lebih menikmati gairah membunuh musuh daripada merasa takut akan kematian.
"Jadikan sampah-sampah asing itu daging cincang berlapis lumpur kotor!"
...Apakah semua manusia akan berubah jadi seperti ini jika terlalu lama berada di medan perang?
Ujung dari peperangan ini masih belum terlihat sama sekali.
Kabarnya, sudah sepuluh tahun negaraku terus-menerus mengulang permainan perebutan wilayah di garis depan ini.
Aku mendengar cerita ini dari seorang senior prajurit medis.
Katanya, dulu area di sekitar Sungai Tar adalah hamparan padang rumput yang subur dengan tanah cokelat yang gembur.
Namun sekarang, sebagian besar tempat ini telah berubah menjadi tanah hitam.
Alasannya sederhana.
Warna tanah akan menjadi hitam jika kadar zat besinya meningkat.
Artinya, tanah di tempat ini terus-menerus disirami darah hingga warnanya berubah.
"……"
Hari ini pun, aku menginjak tanah hitam pekat itu sambil berlari melintasi dataran yang dihujani peluru.
Tanah ini, benda yang sedang kuinjak sekarang, mungkin dulunya adalah bagian dari anggota keluarga berharga milik seseorang.
Zat besi yang dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri ini kembali ditebarkan di sini hari ini.
Di medan perang ini, bisa tetap hidup saja sudah merupakan keberuntungan yang luar biasa.
Aku tidak mau mati. Aku tidak mau menjadi sekadar zat besi yang membasahi tanah di tempat suram ini.
Hanya dengan tekad bulat itulah, aku mati-matian mengejar punggung Komandan Peleton.
【8 April, Sore】
"SERBUUUUUU!!!!!"
Setelah pengeboman oleh Unit Artileri Sihir berlangsung selama sekitar 5 jam, Komandan Garback akhirnya meneriakkan perintah serbu.
Aku sendiri tidak menerima instruksi untuk menyerang musuh.
Aku hanya diperintahkan untuk melompat keluar dari parit segera setelah aba-aba dimulai, lalu berlari sekuat tenaga melintasi dataran yang dihujani peluru menuju parit musuh.
"Touri, jangan menjauh dari belakangku! Salsa, lindungi Touri bahkan jika kau harus menukar nyawamu!"
"Siap."
"Siap, Komandan!"
Tampaknya Komandan sama sekali tidak berharap banyak pada kekuatan tempurku maupun Salsa.
Aku dianggap sebagai sekadar alat pemulih, sementara Salsa dianggap sebagai dinding daging yang bertugas melindungiku.
Salsa sendiri sepertinya menyadari hal itu sampai tingkat tertentu, namun...
"Mengulangi perintah! Saya akan melindungi Prajurit Dua Medis Touri bahkan jika harus bertaruh nyawa!"
"Semangat yang bagus! Karena sudah kau katakan, pastikan kau melaksanakannya!"
Entah kenapa, aku merasa Salsa sangat bersemangat. Kenapa moralnya bisa setinggi itu padahal diperlakukan sebagai bidak yang bisa dibuang kapan saja? Yah, kalau dia bersemangat mengawalku, tentu itu lebih baik bagiku.
Lagipula, dari cara bicara Komandan barusan, sudah jelas bahwa nyawa Prajurit Dua Salsa jauh lebih murah dibandingkan nyawaku.
Aku sedikit merasa lega.
Operasi penyerangan hari ini tampaknya membuahkan hasil.
Berbeda dengan 3 hari lalu, mayat-mayat musuh yang hangus terbakar bergelimpangan di mana-mana. Bau daging manusia yang terpanggang dan aroma besi yang menyengat langsung menusuk rongga hidungku.
"Gahahaha! Sepertinya musuh tidak menyangka kita akan menyerang lagi dalam waktu sesingkat ini. Kirim hama-hama yang masih hidup itu ke neraka!"
Sambil tertawa terbahak-bahak, Komandan Peleton Garback merangsek masuk ke jantung pertahanan lawan.
Di tengah medan perang yang bising oleh suara tembakan dari segala arah, ledakan, dan cipratan darah, ia tampak begitu bersenang-senang, layaknya ikan yang baru menemukan air.
"...Cepat sekali gerakannya."
"Ayo tambah kecepatanmu, Salsa, supaya kita tidak tertinggal oleh Komandan."
Sersan Garback terus menerjang maju, lebih depan daripada siapa pun.
Meskipun kami sudah berlari sekuat tenaga, punggungnya terasa semakin jauh menjauh.
"CHESTOOOOO!! Jadilah karat di pedangku, keparat!"
TN Yomi Novel: Chesto (チェストォォォ): Seruan perang (battle cry) tradisional yang sering dikaitkan dengan praktisi bela diri pedang dari wilayah Satsuma (Jepang kuno).
Aku yang dipaksa mengikutinya hanya bisa menjerit dalam hati, 'Tolong hentikan serbuan ceroboh ini!'
Sang Komandan Peleton meninggalkan bantuan dari unit sekitar dan melompat sendirian ke arah hujan peluru.
Keberaniannya yang terus merangsek maju sendirian itu benar-benar terlihat seperti orang yang punya keinginan bunuh diri.
Namun anehnya, justru di belakang Komandan, orang yang seharusnya berada di posisi paling berbahaya karena menjadi ujung tombak, tampaknya merupakan zona paling aman di medan perang ini.
"Kenapa dia tidak kena peluru sama sekali!"
"……Dia menebasnya. Peluru-peluru itu."
Benar juga, aku sampai lupa. Karena peperangan ini terasa begitu kumuh dan realistis, hal itu sempat luput dari kepalaku: dunia ini adalah dunia fantasi pedang dan sihir.
Komandan Peleton itu seorang pendekar pedang. Dan bukan sembarang pendekar, tapi seorang veteran yang sanggup menebas peluru senapan.
"Kenapa dia yang lari sambil menebas peluru bisa lebih cepat daripada kita?!"
"Mana aku ta-huu...!"
Pertempuran sang Komandan Peleton hanya bisa digambarkan dengan satu kata: mengerikan.
Ia melompat ke parit tempat musuh bersembunyi, lalu melumpuhkan mereka sambil menebarkan cipratan darah ke mana-mana.
Aku dan Salsa hanyalah pengikut yang mengekor di belakangnya seperti tahi lalat.
Itu pun, kami baru bisa menyusul karena sesekali Sersan Garback berhenti sejenak untuk memenggal leher musuh.
"Woi, bocah-bocah ingusan! Jangan sampai ketinggalan! Kalau tidak mau mati, jangan menjauh dari belakangku!"
"Si-siap, laksanakan!"
Aku tidak pernah menyangka akan melihat langsung seorang manusia biasa menebas peluru dengan pedang di dunia nyata.
Selama ini aku menganggap Garback sebagai atasan yang paling buruk karena sifatnya yang kasar dan arogan, tapi...
Kepala Medis Gale yang begitu membencinya saja harus mengakui bahwa pria itu adalah seorang prajurit penyerbu yang unggul. Bagaimanapun juga, Sersan Garback adalah seorang 'Ace'.
"Komandan Peleton! Anda maju terlalu jauh! Jika lebih dari ini, kita tidak akan bisa berkoordinasi dengan unit lain!"
"Hah? Lagi-lagi mereka tertinggal? Payah sekali."
Namun, kebiasaan buruknya benar-benar persis seperti yang sering diceritakan Kepala Medis Gale.
Dia sepertinya sangat menikmati sensasi menyerbu hingga jika dibiarkan, dia akan terus merangsek maju sendirian tanpa memedulikan sekelilingnya.
Saat aku menoleh ke belakang, pasukan kawan ternyata masih terlibat pertempuran di titik yang jaraknya puluhan meter dari posisi kami.
Situasi kami benar-benar sudah terlalu menonjol ke depan.
"Hah... hah... Ko-komandan Peleton. Saya... menyarankan agar kita... memprioritaskan pengamanan titik ini... daripada terus... merangsek maju."
"……Tsk, ya sudahlah. Kalian juga sudah kepayahan, mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti sejenak."
Peleton kami jelas-lagi berada di ambang isolasi.
Menyadari hal itu, Komandan Peleton sempat memasang wajah tidak senang karena merasa momentumnya terganggu, namun ia menghela napas dan akhirnya menghentikan pergerakan.
"Woi, kalian semua berkumpul! Peleton kita akan menjadikan parit ini sebagai basis, kita akan melindungi pergerakan pasukan sekutu dari sini."
"Siap, dimengerti!"
Hampir bersamaan dengan perintah berkumpul itu, anggota peleton lainnya muncul di sekitar kami.
Berbeda denganku dan Salsa yang bermandikan keringat, para senior tampak masih memiliki tenaga cadangan.
Rupanya mereka berhasil mengimbangi kecepatan Komandan sambil tetap bertempur dengan sigap.
Seperti yang diharapkan dari para prajurit kawakan.
"Komandan Peleton, mohon maaf, ada laporan."
"Apa? Katakan."
"Prajurit Satu Infanteri Gray dari unit saya mengalami luka tembak di bagian paha. Ada risiko kematian jika pendarahannya berlanjut. Kami meminta bantuan medis."
Mendengar itu, aku melirik dan melihat seorang prajurit muda yang bahunya sedang dipapah, wajahnya meringis menahan sakit yang luar biasa.
Komandan Peleton bergumam pelan sambil berpikir sejenak, lalu ia berbalik menatapku.
"Hmm. Touri, kau bisa menggunakan sihir pemulihan 2 kali, kan?"
"Ya."
"Bagus. Berikan pertolongan pertama pada Gray, dan aku izinkan kau menggunakan sihir pemulihan maksimal 1 kali jika memang perlu."
"Dimengerti. Prajurit Satu Infanteri Gray, tolong perlihatkan bagian yang terluka."
Ooh, akhirnya aku mendapatkan tugas yang benar-benar layak disebut sebagai pekerjaan tenaga medis.
Meski aku sudah lelah luar biasa sampai berdiri saja rasanya berat, pengobatan di garis depan seperti inilah alasan keberadaanku di sini.
Aku harus memompa semangat dan melakukannya dengan teliti.
"Baik, sisanya amankan area sekitar! Lindungi Touri dan Gray sambil bantu pergerakan peleton lain!"
"Si-siap, Komandan!"
Meski begitu, ternyata Komandan Garback mau memberikan izin penggunaan sihir pemulihan untuk bawahannya, ya.
Padahal dia bilang hanya boleh digunakan untuknya, ternyata dia tipe yang cukup fleksibel. Mungkin karena dia merasa pertempuran hari ini sudah hampir usai.
"Ada gumpalan darah di dalam paha Anda. Saya akan mengeluarkan darahnya, ini akan sedikit sakit."
"……Ugh! Terima kasih, Touri-chan. Kapan-kapan ayo kencan denganku."
"Ekstraksi gumpalan darah terkonfirmasi. Saya akan merapal sihir pemulihan sekarang. 【Heal】."
"Berikan reaksi sedikit dong kalau diajak bicara—"
Prajurit Satu Gray yang sedang kuobati ini ternyata pria yang cukup bermulut manis.
Meskipun ini pertama kalinya kami bicara tatap muka, dia sudah bersikap sangat akrab. Kencan di tengah medan perang? Memangnya dia mau mengajakku ke mana?
Namun, di balik sikapnya yang genit itu, ia memiliki fisik yang sangat terlatih. Sepertinya dia memang seorang veteran.
"Pengobatan selesai. Saya berikan cairan rehidrasi oral, tolong segera diminum. Jika Anda mendapati adanya darah dalam urine atau gejala serupa dalam 24 jam ke depan, segera lapor pada saya atau tenaga medis lainnya."
TN Yomi Novel: Cairan Rehidrasi Oral (経口補液 - Keikou Hoeki): Larutan untuk mengganti cairan dan elektrolit tubuh yang hilang, sangat penting bagi pasien trauma atau pendarahan.
"Oke, kerja bagus. ……Mm, aduh duh."
"Mohon maaf, kemampuan saya belum cukup untuk menyembuhkannya secara total."
"Tidak, tidak apa-apa. Bisa menghentikan pendarahannya saja sudah lebih dari cukup. Jujur saja, tadi aku sempat mengira bakal mati."
Aku mendisinfeksi paha Gray yang sudah dikeluarkan darah kotornya, menutup lukanya dengan sihir, lalu melapisinya dengan perban sebagai perlindungan.
Melihat raut wajah Gray, sepertinya dia kehilangan cukup banyak darah, jadi aku juga memberinya air minum.
"Proses penghentian pendarahan berhasil. Selama tidak tertembak lagi, saya jamin nyawa Anda aman, Prajurit Satu Gray."
"Begitu ya. Kalau begitu, aku bakal lebih berhati-hati."
"Sudah selesai? Kalau begitu, Gray, bergabunglah membantu unit sekutu. Touri, tetaplah bersembunyi di dalam parit!"
Setelah itu, aku mendekam di dalam parit sesuai instruksi Komandan.
Lagipula, aku tidak membawa senjata; ransel perlengkapanku hanya berisi obat-obatan dan peralatan medis, jadi sejak awal aku memang tidak bisa ikut bertempur.
"Peleton Garback, terima kasih atas serbuan pembukanya!"
"Kalian lambat sekali, dasar payah!"
Untungnya, pasukan sekutu segera menyusul dan kami berhasil melakukan penggabungan unit serta mengamankan parit musuh.
Sersan Garback sendiri tetap menempel pada dinding parit, terus waspada mengawasi situasi sekitar.
"Pertempuran selesai! Seluruh personel, lakukan pergantian dengan unit belakang dan pertahankan titik ini!"
Tak lama kemudian, peleton lain datang untuk mengambil alih garis depan, dan pertempuran hari ini pun resmi berakhir.
Hari ini, kami berhasil memajukan garis depan sejauh 31 meter.
Meski belum sepenuhnya merebut kembali wilayah yang hilang pada penyerangan sebelumnya, setidaknya ini bisa dibilang aksi balasan yang setimpal.
"Gahahaha, kemenangan besar! Korban peleton kita hari ini hanya 1 orang, sementara jarak yang ditempuh 31 meter! Sudah lama sekali tidak ada kemajuan seefisien ini."
Sersan Garback tertawa terbahak-bahak, tampak sangat puas.
"Sayang sekali peleton lain tidak bisa maju lebih cepat, padahal kita bisa merebut kembali semua kekalahan kemarin. Ah, andai saja aku ada 10 orang..."
...Setelah pertempuran usai, mendengar kata-kata Komandan Peleton, aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Dan saat itulah aku menyadarinya. Anggota Peleton Garback hanya tinggal 7 orang. Seseorang telah menghilang.
"Komandan, sebaiknya kita lakukan 'itu' sebagai formalitas."
"Oh, benar juga. Ehem—nyawa Pengintai Rendle telah menjadi fondasi kemenangan kita. Jarak 31 meter yang kita capai adalah kristalisasi dari nyawa Rendle!"
"……"
"Semuanya, berikan hormat kepada Pengintai Rendle yang pemberani!"
Selama beberapa detik, kami memberikan penghormatan kepada Pengintai Rendle yang jasadnya entah terbaring di mana.
Kudengar dia adalah rekrutan baru yang belum genap setahun berada di garis depan. Saking gigihnya ia berusaha mengimbangi serbuan Komandan, ia lalai mewaspadai sekeliling dan kepalanya tertembak telak oleh musuh yang berada tepat di hadapannya.
"Baiklah, ayo kita pulang dan minum-minum! Nanti kuambilkan lagi bir dari gudang sebagai hadiah untuk kalian!"
"Terima kasih, Komandan Peleton!"
"Gahaha! Kalian harus bersyukur!"
Namun, tak ada satu pun orang di tempat ini yang terlihat meratapi kematian Rendle.
Garback tertawa riang, dan wajah anggota peleton lainnya pun tampak cerah.
"Salsa, Touri. Kalian berdua juga berhasil bertahan hidup meski hanya sekelas belatung. Secara khusus, aku izinkan kalian ikut bergabung."
"……Suatu kehormatan bagi kami. Terima kasih atas pertimbangan Anda."
"Sebagai gantinya, siapkan hiburan yang menarik, ya!"
Seseorang baru saja tewas, tapi mengapa mereka bisa begitu ceria?
...Ah, benar juga. Ini adalah medan perang. Kematian manusia bukanlah sesuatu yang langka di sini.
"……Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali, Touri."
"Tidak ada masalah. Justru kau, Salsa, kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Seperti apa rupa Pengintai Rendle tadi? Bagaimana kepribadiannya?
Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Seharusnya, kematian orang asing tidak ada hubungannya denganku.
Namun, rasa mual yang terus mendesak keluar dari ulu hatiku ini, apa sebenarnya?
"Hei, Touri. Kenapa... kenapa mereka semua tertawa?"
"Mungkin karena target taktis pertempuran hari ini sudah tercapai."
"Begitu ya. Benar juga."
Aku harus bertahan. Rutinitas harian yang berdampingan dengan maut inilah yang disebut 'medan perang', tempat kami menjejakkan kaki.
Pengintai Rendle memang tewas, tetapi pengorbanannya telah memberikan keuntungan nyata bagi negara kami.
Karena itu, aku pun harus tertawa.
"Oi, anak-anak baru! Jangan melamun! Kita akan menyerahkan titik ini ke peleton penerus lalu mundur!"
"Si-siap, Senior!"
"Oh, ternyata wajah kalian muram juga. Semua rekrutan baru pasti begitu kalau ada rekan yang mati. Jangan diambil hati."
Sambil sekuat tenaga menahan rasa mual, Prajurit Satu Gray yang tadi kuobati menghampiriku dengan raut khawatir.
Sepertinya karena melamun, aku hampir saja tertinggal dari peleton. Aku harus lebih mawas diri.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Prajurit Satu Gray. Saya akan segera memulai proses mundur."
"Ya, ya. Ternyata Touri-chan yang biasanya pasif begini bisa pasang wajah kayak gitu juga, ya. Benar-benar pretty."
"Saya merasa malu atas ketidakdewasaan saya ini."
Sialnya, sepertinya aku ketahuan kalau sedang sangat terpukul atas kematian rekan sendiri.
Ternyata perasaanku cukup mudah terbaca lewat wajah, ya? Jangan-jangan ekspresi seperti ini pun bisa jadi sasaran "pendidikan" Komandan nanti.
"Aku malah iri kau bisa memasang ekspresi begitu. Kami sih, sudah lama menyerah soal hal itu."
"Anu... Apa memang kematian rekan itu sudah jadi rutinitas harian bagi Anda, Senior Gray?"
"Yah, begitulah. Namanya juga prajurit penyerbu di garis depan, kematian dalam tugas itu sudah jadi santapan sehari-hari. Aku pun nggak punya jaminan bakal masih hidup besok."
Wajah Senior Gray tidak menyiratkan kemarahan, melainkan empati.
Tatapannya penuh belas kasih, mirip seperti seorang orang tua yang sedang menenangkan anaknya yang menangis karena mimpi buruk.
"Tapi coba kalian pikirkan. Menurut kalian, di mana garis finis dari perang ini?"
"Garis finis...?"
"Iya, garis finis."
Ia menyunggingkan senyum lelah sambil mengedikkan bahu, lalu melanjutkan bicaranya.
"Sudah 10 tahun kita bertempur di sini. Seperti tarik tambang, kita mendorong dan menarik garis depan tanpa henti, terus-menerus."
"……Saya sungguh menaruh hormat atas perjuangan para senior selama ini."
"Sudahlah, nggak usah bicara begitu. Sekarang coba kalian beri tahu aku, bagaimana caranya agar perang ini bisa berakhir?"
"Coba pikirkan juga dari posisi mereka di seberang sana," tambah Prajurit Satu Gray sambil melemparkan pertanyaan itu kepadaku dan Salsa.
"Saat ini kita memang agak terdesak, tapi pihak kita masih bisa bertarung. Kalau mereka mengerahkan seluruh pemuda yang tersisa di dalam negeri untuk wajib militer, kita masih bisa bertahan 10 tahun lagi."
"……"
"Pihak musuh pun pasti sama, mereka masih punya banyak cadangan pasukan yang bisa dikirim."
Apa yang dikatakannya mungkin benar. Karena aku memiliki kecocokan dengan sihir pemulihan, aku hampir tidak bisa menolak wajib militer, tetapi sebagian besar teman-teman panti asuhanku pergi bekerja di sektor sipil, bukan militer.
Bahkan Barney, satu-satunya orang yang masuk militer bersamaku, statusnya adalah sukarelawan, bukan wajib militer.
Dengan kata lain, sumber daya manusia yang bisa direkrut masih tersedia di tanah air.
Meski untuk saat ini mereka belum dimobilisasi demi menjaga roda ekonomi negara tetap berjalan.
"Dengar, yang namanya perang parit itu, pihak bertahan selalu punya keunggulan absolut. Mereka yang mendekam di dalam parit tinggal menembaki pihak yang menyerbu. Dalam skema ini, sekeras apa pun kau mencoba, kerugian di pihak penyerang pasti akan selalu lebih besar."
"Itu... memang masuk akal, sih."
"Dan meski unit artileri sihir sudah bekerja keras, mustahil membantai habis seluruh prajurit di dalam parit hanya dengan pengeboman. Musuh juga menggunakan 【Shield】 atau sihir antiserangan udara untuk bertahan di tengah hujan artileri, lalu bersiap membalas kita yang datang menyerbu."
Benar kata Senior Gray. Jika bertarung secara normal, pihak yang bertahan di parit memiliki keunggulan luar biasa dalam baku tembak.
Itulah sebabnya artileri sihir butuh waktu lama untuk membombardir mereka terlebih dahulu.
"Perang ini akan berlanjut 10 tahun lagi. Di tempat di mana tidak ada jaminan kau masih hidup besok, menurutmu apa seorang prajurit penyerbu bisa bertahan selama 10 tahun?"
"Itu... kita hanya bisa berdoa pada Tuhan atau berusaha mati-matian..."
"Mustahil. Kita akan mati di sini, itu sudah takdir yang pasti."
Itulah maksudnya 'menyerah'.
Senior Gray tersenyum getir sambil mengatakan hal itu.
"Kematian adalah garis finisnya. Itu adalah cara Tuhan membebaskan kita, seolah Dia berkata: 'Kau sudah berjuang dengan baik sejauh ini, sekarang kau boleh beristirahat'."
"……Tidak mungkin. Contohnya, jika kita berhasil menembus pertahanan musuh dan menjatuhkan ibu kota mereka—"
"Mustahil. Bentuk peperangan sudah berubah. Berbeda dengan zaman dulu saat kavaleri masih berjaya, sekarang senjata api dan bubuk mesiu sudah tersebar di seluruh dunia. Hasilnya, perang parit seperti inilah yang menjadi tren utama."
"……"
"Perang parit itu tidak ada ujungnya. Kalaupun kalah dan dipaksa mundur, kau tinggal menggali lubang baru dan menodongkan senapan, maka jadilah posisi pertahanan yang kokoh. Itulah sebabnya invasi kilat sampai ke ibu kota musuh seperti zaman dulu sudah tidak mungkin lagi dilakukan."
Sampai di sini kau paham, kan? Seolah ingin menegaskan hal itu, Gray melanjutkan bicaranya.
"Mereka yang mati adalah mereka yang sudah mencapai garis finis. Mereka adalah orang-orang beruntung yang bisa lebih dulu lolos dari neraka ini. Rendle pun pasti sekarang sedang berpesta pora dengan kawan-kawan seperjuangan yang sudah lewat lebih dulu di sana."
"Jadi... itu adalah cara pandang Anda terhadap hidup dan mati, Senior Gray?"
"Kalau tidak berpikir begitu, mana kuat jadi prajurit penyerbu. Bagi kami, kematian adalah sebuah penyelamatan. Sebuah hak yang diberikan oleh Tuhan."
"……Ugh. Ta-tapi, aku masih belum mau mati!"
"Tentu saja. Untuk bisa sampai ke tahap pasrah seperti itu, kau dan Touri-chan masih sangat kurang pengalaman. Tapi ya, hari itu pasti akan datang."
Prajurit Satu Gray menepuk kepala Salsa dengan pelan.
"Lama-kelamaan, kau akan mulai merasa iri pada mereka yang sudah bisa mati."
Ia menutup pembicaraan dengan kalimat itu.
Setelah ditegur karena sempat termangu mendengar perkataan Senior Gray, aku dan Salsa berjalan beriringan menuju tenda Komandan.
"Iri pada orang yang sudah mati? Aku tidak paham maksudnya."
"Saya setuju, Prajurit Dua Salsa."
Setelah kembali ke pangkalan, kabarnya hari ini Komandan Peleton Garback akan mengadakan pesta minum-minum (?).
Menurut Senior Gray, Komandan yang sedang mabuk tingkat keparnoan dan kesewenang-wenangannya akan meningkat 50%, jadi kami tidak boleh terlambat.
"Aku tidak mau mati. Aku tidak mau berakhir di tempat sepi seperti ini, menjadi potongan daging yang dikerubungi belatung dan tergeletak seperti sampah."
"Saya pun tidak sudi."
"Tapi... kalau terlalu lama di medan perang, apa aku juga bakal punya pikiran seperti itu? Apa aku juga bakal mulai mencari penyelamatan dalam kematian?"
"Entahlah. Bukankah itu tergantung pada prinsip hidup dan mati Anda sendiri?"
Salsa sepertinya merenungkan dalam-dalam perkataan Senior Gray tadi. Memang benar, wajah senior yang menceramahi kami tadi tampak begitu tenang, saking tenangnya hingga terasa tidak normal.
"Prajurit Satu Gray mungkin... orang yang terlalu baik."
"Baik?"
Dari kata-katanya tadi, aku merasa seolah bisa mengintip sedikit sisi kepribadian aslinya.
Senior Gray itu, aslinya pasti orang yang sangat lembut.
"Apanya yang 'baik' dari mencari penyelamatan dalam kematian?"
"Yah, ada kemungkinan itu hanyalah cara untuk mengalihkan rasa takutnya sendiri terhadap kematian, sih."
Mati adalah penyelamatan.
Jika dia benar-benar memercayai pemikiran menyimpang itu, seharusnya Senior Gray sudah bunuh diri sejak lama.
Meski berkata begitu pada kami, dia pasti sangat takut mati.
Tapi lebih dari itu...
"Memangnya ada alasan lain?"
"Senior Gray... mungkin dia tidak akan bisa tetap waras jika tidak memercayai bahwa kawan-kawannya yang gugur telah 'diselamatkan' di alam sana."
Aku tidak bisa menepis pemikiran itu dari benakku.
【8 April, Malam】
"Nomor satu, Salsa! Siap telanjang dan menari, Pak!"
"Enyah kau, bodoh!"
Medan perang adalah neraka.
Untuk beradaptasi dengan lingkungan yang kejam ini, seseorang tidak akan bisa tetap waras.
Hal yang sama berlaku bahkan saat sedang minum-minum.
"Siapa yang bakal senang lihat laki-laki telanjang! Kubunuh kau, Salsa!"
"Ma-maaf! Mohon maaf!"
"Anak baru memang tidak bisa diandalkan dalam hal apa pun, ya."
Garis depan masih riuh oleh hiruk-pikuk meski matahari telah terbenam, merayakan kemenangan telak yang sudah lama tidak dirasakan.
Komandan Peleton Garback yang muncul paling akhir tampak menjinjing botol minuman keras dan berbagai kudapan—barang yang sangat langka di medan tempur.
Dalam militer Austin, unit penyerbu akan diberikan jatah libur pada malam hari setelah serangan mereka berhasil.
Sudah menjadi tradisi untuk menggunakan waktu libur itu dengan mengadakan pesta pora yang gaduh.
"Tidak ada alkohol untuk orang yang membosankan. Masuk ke lubangmu sana kalau tidak mau lubang pantatmu disumpal peluru!"
"Siap, maaf, Komandan!"
Peleton Garback tidak terkecuali. Sang Komandan tampak sedang dalam suasana hati yang sangat bagus setelah menenggak sebotol miras pekat di awal acara.
Kemudian, aku dan Salsa dipaksa untuk "segera melakukan sesuatu yang lucu". Salsa yang panik malah mencoba menari telanjang, yang berakhir dengan dirinya dipukul hingga tersungkur.
Ternyata lawakan telanjang juga eksis di dunia ini, ya.
"Masih baru saja sudah tidak bisa melawak dengan benar! Kau meremehkanku, hah?!"
"Mohon maaf sebesar-besarnya."
Mengerikannya, paksaan untuk melakukan hiburan pesta ini tampaknya dianggap sebagai perintah resmi atasan.
Jika aku menolak, aku bisa dieksekusi karena sudah 2 kali melanggar perintah.
Aku benar-benar tidak sudi dihukum mati hanya karena perintah konyol begini. Kuharap ini cuma bercanda.
"Ahahaha. Kau mungkin merasa ini tuntutan yang keterlaluan, tapi ini tradisi di banyak peleton, bukan cuma di unit kita saja, lho."
"Yah, meskipun Komandan kita ini memang sedikit lebih ketat soal urusan melawak."
"Kalau kalian sampai membuat suasana hatiku buruk, akan kuhajar kalian sampai babak belur lalu kukubur hidup-hidup."
Memang benar, kudengar menghidupkan suasana pesta adalah tugas bagi para rekrutan baru. Di kehidupan sebelumnya pun begitu.
Masalahnya, sepanjang hidupku yang dulu maupun sekarang, aku tidak pernah punya pengalaman ikut acara minum-minum seperti ini.
...Nah, dalam situasi ini, apa yang harus kulakukan?
"Heh, apa yang kau lihat sambil melamun begitu, gadis kecil?"
"Anu, itu... Berdasarkan ucapan Anda tadi, apakah itu berarti saya juga harus melepas pakaian saya dan menari...?"
Kalau Salsa sampai sukses melawak dengan tarian telanjang, target berikutnya pasti aku, yang notabene adalah seorang perempuan.
Jika disuruh memilih antara ditembak mati atau menari telanjang, tentu aku akan memilih menari, tapi jujur saja aku ingin menghindarinya sebisa mungkin.
Salsa ini benar-benar harus lebih pintar membaca situasi.
"Tidak butuh, dasar bocah cebol kerempeng! Memangnya ada orang bodoh yang senang melihat tubuh anak kecil? Kubunuh kau!"
"Mohon maaf sebesar-besarnya."
Mendengar bentakan Komandan, aku sedikit merasa lega.
Karena dia membentak dengan maksud 'laki-laki jangan telanjang', aku sempat mengira dialah yang akan memaksaku melakukan hal serupa.
Tapi melihat omongannya, sepertinya aku akan lolos dari permintaan aneh-aneh.
"Tapi ya, kalau memang kau tidak punya bakat apa-apa, aku maafkan khusus untukmu, Touri. Tapi Salsa, kau harus lakukan sesuatu yang lucu!"
"……Karena saya ingin menghindari tarian telanjang, jika Anda tidak keberatan dengan kemampuan saya yang seadanya, bolehkah saya mempersembahkan satu penampilan?"
"Oho, apa itu, gadis kecil? Kau punya sesuatu?"
Hiburan yang bisa dilakukan di tempat tanpa properti apa pun seperti ini sangatlah terbatas.
Untungnya, aku punya satu keahlian yang diajarkan para biarawati di panti asuhan dulu. Aku akan mencoba melewati situasi ini dengan itu.
'Kon-kon, ini aku si Rubah. Wan-wan, ini aku si Anjing.'
"Ooh, ventriloquisme ya? Lumayan juga."
TN Yomi Novel: Ventriloquisme (腹話術 - Fukuwajutsu): Seni berbicara tanpa menggerakkan bibir, biasanya menggunakan boneka sebagai lawan bicara. Touri menggunakan jari-jarinya sebagai pengganti karena keterbatasan alat.
'Kon-kon, wan-wan.'
Aku membentuk jari-jariku menjadi rupa anjing dan rubah, menggerakkannya sambil menirukan suara mereka tanpa menggerakkan bibir sedikit pun.
Rasanya sangat nostalgia; aku sering bermain seperti ini dengan anak-anak di panti asuhan.
Seharusnya ini dilakukan dengan boneka, tapi karena tidak ada apa pun di tangan, aku menggunakan jari sebagai penggantinya.
"Hee, terampil juga ya. Suaranya berubah, dan mulutnya benar-benar tidak bergerak."
"Touri-chan yang menirukan suara binatang itu manis sekali, menurutku ini patut diapresiasi, Komandan."
'Wan-wan, kalau begitu aku akan menyanyikan satu lagu, wan!'
"Heh, kau bahkan bisa bernyanyi dengan cara seperti itu?"
Aku memang cukup percaya diri dengan keahlian yang satu ini.
Bahkan sebelum mendaftar militer, aku sempat berpikir serius untuk mencari nafkah sebagai seniman jalanan dengan kemampuan ventriloquisme ini.
‘Pancar-kan ca-ha-ya (ca-ha-yaaa~), Wahai tanah airku (ta-nah a-ir-kuuu~)’
"Eh, suaranya terdengar ganda!"
‘Gagah berani tiada banding (ti-a-da ban-ding~), Di bawah perlindungan Sang Leluhur (per-lin-dun-gan-nyaaa~)’
"Tunggu, Touri-chan mulai bernyanyi paduan suara sendirian!"
"Hebat! Bocah ini bisa bernyanyi harmonisasi dengan ventriloquisme! Gahahahahaha!"
Masih dengan teknik suara perut, aku menyanyikan lagu mars militer Austin yang terkenal. Aku membedakan warna suara dan melakukan round singing (bernyanyi bersahut-sahutan) sendirian.
Berkat latihan keras di panti asuhan, aku akhirnya mampu mengubah warna suara dan bernyanyi dengan dua suara secara bersamaan.
Di panti dulu, aku sampai mendapat julukan "Touri si Ventriloquist" dan selalu mendapat tepuk tangan meriah.
"Sekian penampilan dari saya. Mohon maaf atas segala kekurangannya."
"Oho, kerja bagus! Nih imbalan buatmu. Karena kau masih bocah, kuberi cokelat saja, bukan minuman keras!"
"Saya sangat tersanjung atas penilaian Anda yang luar biasa, Komandan Peleton."
"Aku selalu memberikan penilaian objektif bagi mereka yang kompeten, Gahahahahaha!"
Untungnya, aku berhasil menjaga suasana hati Komandan agar tidak memburuk. Malahan, dia tertawa terpingkal-pingkal sambil mengusap kepalaku dengan riang.
Ah, syukurlah. Pepatah bahwa "keahlian akan menyelamatkan diri" ternyata benar adanya.
"Touri... kau mengkhianatiku, ssu..."
"Pengkhianatan apa maksud Anda?"
Salsa menatapku dengan mata penuh dendam saat aku sedang asyik mengunyah cokelat.
Kalau mau jujur, akulah yang merasa dikhianati karena hampir dipaksa menari telanjang gara-gara ulahmu tadi.
"Nah, Salsa. Sekarang giliranmu, mau buat apa?"
"…… Anu, pertama-tama saya lepas baju dulu, lalu—"
"Berhenti terobsesi dengan lawakan telanjang, atau kubunuh kau!"
Setelah itu, karena terus-menerus mengatakan hal bodoh, Salsa dijatuhi hukuman fisik berupa "100 kali push-up, 100 kali squat, 100 kali sit-up... dst". Dia akhirnya tumbang di tengah acara minum-minum karena kelelahan.
Katanya, di medan perang, sudah menjadi tradisi untuk membuat anak baru "tumbang" bukan dengan alkohol yang berharga, melainkan dengan menguras tenaga fisik mereka.
Jika aku tidak memiliki bakat apa pun dan menolak tarian telanjang, aku pasti akan berakhir dengan nasib yang sama.
"……"
"Komandan. Saya mohon izin untuk memberikan pijatan pada Salsa agar dia bisa bergerak besok."
"Lakukan sesukamu."
Kalau dibiarkan, besok dia pasti tidak akan bisa bergerak karena nyeri otot.
Sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesehatan peleton, setidaknya aku akan memberikan pijatan dan kompres pendingin untuk Salsa.
Bagaimanapun juga, dia adalah perisai daging berhargaku.
【9 April, Dini Hari】
"Bangun, Prajurit Dua Salsa."
"A-ada apa sih tengah malam begini..."
Tengah malam, bahkan sebelum matahari terbit.
Aku terbangun karena suasana di sekitar mendadak gaduh dengan suara langkah dan bisikan.
"Hoam... Selamat malam, Senior. Maaf, apakah ada misi?"
"Geh, Touri-chan juga ikut bangun."
"……?"
Saat mengangkat kepala, aku melihat beberapa anggota peleton, termasuk Senior Gray, sedang membangunkan Salsa yang masih tampak mengantuk.
Saat itu adalah jam-jam sunyi di tengah malam. Api unggun di dalam parit sudah padam, dan para prajurit seharusnya sedang terlelap.
"Prajurit Dua Medis Touri, sudah bangun. Mohon instruksinya."
"Ah... itu..."
Aku langsung melompat bangun, mengira ada yang terluka atau ada perintah operasi malam hari…
Namun, Senior Gray dan para senior lainnya entah mengapa malah memasang wajah "gawat, ketahuan".
Kalau dipikir-pikir, tadi mereka tidak membangunkanku.
Apakah ini misi rahasia yang hanya ditujukan untuk Prajurit Dua Salsa?
"Eh, apa ada serangan malam atau semacamnya? Apa saya harus segera memeriksa perlengkapan?"
"Ah—nggak, bukan gitu. Ini bukan tugas resmi kok."
"Lalu, ada keperluan apa?"
"……Aduhh. Anu, itu, Prajurit Satu Gray. Coba kau jelaskan."
"Kok malah dilempar ke aku?! ……Yah, begini."
Melihat para senior yang tampak agak kebingungan saat aku menanyakan keperluan mereka, aku mulai merasa ada yang aneh.
Suasananya sama sekali tidak terasa seperti persiapan operasi militer. Pelan-pelan, aku mulai bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Yah, Komandan kita kan suka sekali merundung anak baru. Kami pikir Salsa pasti stres berat, jadi kami mau mengajaknya 'buang stres' sedikit."
"Cuma aku saja? Touri juga kan, lumayan..."
"Aduh, peka sedikit kenapa sih, Salsa. Kau itu pria, ya kan? Pasti ada sesuatu yang 'tertumpuk' di dalam sana, kan?"
"……Ah."
Mendengar sampai di situ, wajah Salsa langsung berubah seolah mendapat pencerahan.
Ternyata benar soal itu, ya? Semacam solidaritas antar sesama pria.
"O-ooh, aku paham maksudnya. Anu, kalau begitu..."
"……"
Suasana mendadak menjadi sangat canggung bagiku.
Mengganggu atau menyentuh prajurit wanita adalah pelanggaran disiplin militer. Namun, kudengar jika seseorang terus-menerus mempertaruhkan nyawa, insting mereka akan menegang dan gairah seksualnya akan meningkat pesat.
Mereka pasti butuh pelampiasan yang cukup. Mungkin mereka punya koleksi foto atau buku porno yang disembunyikan di suatu tempat.
"……Saya tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan, tapi jika tidak ada urusan denganku, izinkan saya kembali tidur."
"O-oh, oke. Maaf ya, Touri."
"Jangan sampai bangun kesiangan besok ya, Salsa."
Aduh, kacau. Karena aku terbangun, suasananya jadi sangat tidak enak.
Lebih baik aku berpura-pura tidak menyadari apa pun dan kembali tidur saja.
"Hmm. Karena kau sudah telanjur bangun, sekalian saja... Touri-chan mau ikut juga?"
"Uhuk?!"
Padahal aku sudah bersiap untuk kembali memejamkan mata, tapi ucapan Senior Gray sukses membuatku tersedak ludah sendiri.
Apa-apaan orang ini? Apa yang dia pikirkan?
"Tu-tunggu, Senior?"
"Yah, habisnya kau sudah kepalang tahu. Apa kau tidak tertarik mengintip 'dunia orang dewasa' sedikit?"
Senior Gray benar-benar mengajakku dengan ekspresi wajah tanpa dosa.
Mengajak seorang gadis untuk menonton—entah itu buku porno atau apa—apa yang sebenarnya ada di otak pria ini? Yang ada malah suasana akan jadi sangat canggung, kan!
"Ti-tidak, saya rasa saya akan melewatinya sa—"
"Gadis-gadis dari unit medis lain juga banyak yang datang untuk 'menjajakan diri', lho. Lumayan buat cari uang saku."
Prajurit medis menjajakan diri.
Mendengar kalimat itu, aku refleks berbalik dan melompat bangun.
"A-apa maksud perkataan Anda tadi, Prajurit Satu Gray?!"
"Yah, di medan perang kan hampir tidak ada perempuan. Gadis-gadis dari kota terdekat memang rutin datang untuk menjual diri, tapi di antara mereka, ada juga prajurit medis atau mekanik wanita yang ikut bergabung dalam prostitusi dan—"
"Tu-tunggu sebentar! Bagaimana dengan peraturan militer?! Setahu saya, itu adalah pelanggaran berat!"
"Ah, soal itu. Yang dilarang itu cuma tindakan yang bisa bikin hamil. Selama tidak pakai 'lubang'—misalnya pakai mulut atau tangan—itu dianggap legal. Oh, hubungan sesama pria juga legal, lho."
"Sesama pria?!"
Sepertinya dugaanku terlalu naif.
Aku pikir mereka paling hanya akan berkumpul di tengah malam untuk melihat-lihat buku porno.
Ternyata, orang-orang ini berencana melakukan sesuatu yang jauh lebih mesum dari itu.
"Komandan Peleton Garback juga menutup mata soal beli-seks ini. Meski waktu terakhir kali aku mengajaknya, aku malah kena pukul sih."
"Ada rumor juga kalau Gale, Kepala Medis kita yang sekarang, dulu pas masih muda sering ikut 'jualan' juga, lho."
"Maksudmu si seksi itu? Wah, gila. Aku iri banget sama orang-orang zaman dulu."
"……"
Ah, aku tidak mau dengar lagi.
Rumor semacam itu tentang Kepala Medis yang sangat kuhormati. Aku bahkan tidak sudi memercayainya.
Memang benar, Gale sangat cantik, tapi kalau rumor itu benar, aku akan merasa sangat syok.
"Ah—Senior, sepertinya Touri merasa terganggu, jadi sebaiknya hentikan pembicaraan ini sampai di sini saja."
"Yah, benar juga, ini memang bukan topik yang pantas untuk dibicarakan dengan gadis. Maaf ya, sudah bicara yang aneh-aneh."
"Ti-tidak... Hanya saja, saya akan sangat terbantu jika Anda tidak melemparkan topik seperti itu kepada saya lagi di masa depan."
"Dia masih di bawah umur, Senior. Touri masih 15 tahun, lho. Tolong tunggu sedikit lagi sebelum mengajak bicara soal 'urusan bawah'.".
Salsa rupanya cukup peka dan pasang badan untukku. Good job.
Aku dengar laki-laki akan menjadi vulgar jika sudah terbiasa dengan kehidupan militer, tapi apa memang mereka bisa kehilangan tenggang rasa sampai separah ini?
Normalnya, meskipun mulutmu robek sekalipun, kau tidak akan mengajak seorang perempuan untuk "ikut prostitusi".
"Maaf, maaf. Soalnya Touri-chan selalu tanpa ekspresi, jadi aku pikir suasananya bakal berakhir dengan kau bilang 'nggak masalah bagiku' atau semacamnya."
"Sebenarnya Anda menganggap saya ini orang yang seperti apa...?"
Aku menjadi tidak berekspresi karena stres di medan perang yang membuatku sulit tersenyum.
Saat masih tinggal di panti asuhan, aku orang yang sering tersenyum normal.
"Nah, Senior, ayo berangkat, berangkat! Touri, kau istirahatlah saja dengan tenang."
"Baik, kalau begitu saya terima tawaran Anda."
"Baiklah! Ayo kita 'gas' sepuasnya setelah sekian lama!"
"Ayo bersenang-senang!"
"Ahaha, ha..."
Aku hanya bisa menatap nanar punggung para senior yang berjalan dengan tawa mesum mereka (bersama Salsa yang tersenyum kaku).
Salsa. Kumohon, jangan sampai terpengaruh oleh para senior aneh itu dan ikut-ikutan kehilangan tenggang rasa.
Jika aku sampai dipaksa mendengar lelucon cabul dari satu-satunya teman seangkatan setiap hari, aku pasti akan benar-benar jatuh sakit secara mental.
"……Hoam."
Sambil merasa sedikit kesal karena waktu tidurku terbuang sia-sia, aku kembali membiarkan diriku terlelap dalam kantuk yang dalam.
Ah, hari ini pun, tanah terasa begitu dingin.
【9 April, Pagi】
"Hiks... hiks... Aku sudah tidak bisa menikah lagi..."
"……"
Keesokan paginya.
Saat aku terbangun, Salsa yang rupanya sudah bangun lebih dulu sedang menangis dengan mata bengkak kemerahan.
Sambil memegangi pantatnya.
TN Yomi Novel: awakoawkoakwo bet
"……Anu. Para Senior, apa yang kalian lakukan pada Salsa?"
"A-ahahaha. Semalam, si Gray itu menipu Salsa. Dia menyuruhnya merangsek masuk ke tenda sodomi dalam keadaan telanjang bulat."
"Kami pikir dia bakal segera keluar, tapi ternyata dia malah tertangkap basah, dan akhirnya jadi begitu……"
"Jangan diingatkan lagi!!"
……. Ah, begitu ya.
"Tidak apa-apa, Prajurit Dua Salsa. Saya tidak akan pernah memandang rendah atau berprasangka buruk pada Anda, apa pun yang Anda lakukan kemarin."
"Touri, tatapanmu kenapa jadi sangat lembut begitu?! Tidak, aku masih mempertahankan garis pertahanan terakhirku, tahu!"
Pantas saja sejak tadi Salsa terus-menerus memegangi pantatnya.
Kudengar di militer memang banyak yang memiliki orientasi seperti itu, dan pemuda seperti dia pasti jadi primadona di sana.
"Sudahlah, cerialah sedikit, Salsa. Oke? Nanti aku traktir deh sebagai gantinya."
"Semalam kami memang terlalu kelewatan bercandanya. Maaf, ya."
"Aku tidak akan pernah memercayai para senior lagi!"
Demikianlah pesta kemenangan pertama kami sejak tiba di medan perang berakhir dengan luka batin yang mendalam bagi Salsa.
Di malam kemenangan besar seperti kemarin, sepertinya para prajurit sering pergi mencari hiburan malam untuk melepas stres.
Katanya, banyak prajurit yang bertahan hidup hanya demi hiburan singkat semacam itu.
"……Ngomong-ngomong Salsa, dengan berapa orang Anda melakukan... hubungan itu?"
"Tidak dengan siapa pun! Cuma diraba-raba! Kesucianku masih terjaga sampai titik darah penghabisan!"
Sambil berkaca-kaca, ia terus bersikeras menegaskan kesuciannya dengan nada bicara yang menggebu-gebu.
Bagiku, sebenarnya aku malah akan merasa tenang jika kejadian ini membuat Salsa jadi 'terbangun' dan mulai menyukai laki-laki.
"Tubuhku masih suci, tahu!"
"……Iya, iya. Saya mengerti, itu pasti sangat berat bagi Anda."
"Kenapa tatapanmu masih tetap lembut begitu, sih?!"
Benar-benar, medan perang adalah pusaran kegilaan. Itulah realitas yang kupahami hari ini.
【11 April, Dini Hari】
"……Hujan."
"Woi, hujan turun!"
Dalam medan pertempuran, perubahan cuaca adalah hal yang sangat krusial.
"Oi, aku sudah ambil lembaran katunnya! Semuanya kumpul!"
"Ayo kita buat atap~"
Misalnya, hujan. Seharusnya itu adalah berkah bagi tanaman pangan, dan bagi kami yang belum bisa mengamankan akses sungai, ini adalah kesempatan berharga untuk mengisi ulang persediaan air minum. Namun...
"Apa kita nggak punya payung atau jas hujan?"
"Nanti kalau kau sudah naik pangkat, kau bakal dapat, Anak Baru."
Bagi para infanteri di garis terdepan, hujan adalah... musuh yang paling tangguh.
"Hatchiii!!"
Bahkan sebelum fajar menyingsing, peleton kami yang sedang terlelap di dalam parit terbangun karena tetesan dingin yang mulai terasa di kulit. Hujan turun.
"Oi Salsa, paku ujung kain di sudut seberang sana!"
"Si-siap!"
Begitu hujan turun, setiap peleton akan mengambil selembar kain katun lebar yang sudah dijatahkan.
Kain itu kemudian dibentangkan di atas parit untuk dijadikan atap darurat.
Kami, para infanteri, akan meringkuk di bawah atap itu untuk menunggu hujan reda.
"Poin pentingnya adalah membuat atapnya miring. Kau tahu kenapa, Salsa?"
"Anu, supaya airnya tidak mengendap...?"
"Benar sekali. Kalau kau membuatnya mendatar, air akan menetes dari bagian tengah. Kau harus memastikan ada bagian terendah agar airnya mengalir dan membuat sistem drainase yang benar."
TN Yomi Novel: Kasihan Salsa dirundung terus wkwk
Bagi infanteri, hujan pada dasarnya membawa segala bentuk kerugian.
Pertama, hujan lebat membuat tanah menjadi lumpur yang lengket, sehingga sangat sulit untuk merangsek maju.
Selain itu, senjata berbasis mesiu seperti senapan menjadi lebih rentan mengalami malfungsi.
Memang benar, senapan yang dibagikan kepada infanteri diklaim memiliki fitur waterproof total, tapi... katanya jika digunakan terus-menerus di bawah guyuran hujan, probabilitas senapan itu macet karena lembap cukup tinggi.
"Sisi baiknya, kondisi musuh juga sama. Karena itulah, operasi tempur di tengah hujan sangat tidak direkomendasikan."
"Berarti, hari ini tidak ada penyerangan?"
"Tidak juga. Meski senapan tidak bisa dipakai, senjata yang tidak mengandalkan bubuk mesiu—seperti busur panah atau pedang—tetap bisa digunakan di tengah hujan. Granat tangan spesifikasi tahan air juga sudah dikembangkan. Jadi, bukan tidak mungkin ada operasi serangan fajar yang sengaja memanfaatkan hujan sebagai kedok."
"Tapi ujung-ujungnya, jarak tembak busur akan turun, bidikan jadi kacau, dan semuanya jadi licin, jadi tidak stabil. Makanya ada pepatah, lebih baik jangan bertempur saat hujan."
Karena alasan-alasan itulah, pertempuran jarang terjadi di hari hujan.
Pihak penyerang akan kesulitan menempuh jarak dan sulit menggunakan mesiu, yang membuat pihak bertahan menjadi jauh lebih diuntungkan.
Artinya, kemungkinan besar hari ini aku akan ditugaskan di rumah sakit lapangan.
"Kalau begitu, aku berharap hujan turun selamanya saja."
"……Kau bodoh ya? Sekarang cuacanya masih hangat jadi kau belum paham, tapi bagi kita, hujan adalah musuh yang paling buruk."
Kelakar Salsa dibalas dengan gerutuan para senior yang memasang wajah seolah baru saja menelan empedu. Jujur saja, aku pun tadi sempat berpikiran sama seperti Salsa, berharap hujan tidak berhenti.
"Musuh paling buruk? Apa lebih berbahaya daripada tentara musuh yang mendekam di parit dan menembaki kita?"
"Iya. Kalau mereka sih, tinggal minta Komandan menyerbu dan semua beres. Tapi kalau hujan, nggak ada yang bisa kita lakukan."
Senior itu berkata bahwa ia lebih takut pada hujan daripada musuh yang menodongkan senapan.
Awalnya aku mengira itu hanya lelucon, tapi wajah senior itu terlihat sangat serius.
"Aku dulu ditempatkan di unit pertahanan sebelum dipindahkan ke sini."
"Unit pertahanan, ya?"
"Benar. Orang-orang yang sekarang sedang mendekam di parit paling depan, berjaga sambil menggigil kedinginan, itulah mereka."
Prajurit paruh baya yang memasang raut wajah sangat tidak senang itu bernama Allen, seorang pengintai. Ia menceritakan pengalamannya kepada aku dan Salsa.
"Hujan telah merenggut lima kawan seperjuanganku dan 3 jari kakiku."
"Oleh... hujan?"
Unit pertahanan memiliki tugas yang sangat menjemukan sekaligus mengerikan: 'mendekam di parit terdepan dan hanya menunggu musuh datang'.
Sebagai unit penyerbu, tugas kami adalah maju saat pertempuran, menghabisi musuh di parit depan, dan mengamankan titik tersebut.
Sebaliknya, unit pertahanan bertugas menetap di sana untuk mencegat unit penyerbu musuh.
Karena peran yang berbeda, perlengkapan dan komposisi divisinya pun sangat kontras.
Infanteri unit penyerbu mendapatkan prioritas pasokan senjata api. Mereka terdiri dari pengintai yang menyelidiki parit musuh, serta prajurit pelempar granat (Grenadier) yang bisa menekan pertahanan musuh dari jarak jauh—singkatnya, divisi dengan daya gempur dan kontrol area yang tinggi.
Mereka biasanya berpangkalan di area belakang agar bisa bergerak fleksibel, baik untuk menyerang maupun menjadi unit gerilya saat lini pertahanan kawan jebol.
Umumnya, hampir semua unit penyerbu memiliki prajurit pelempar granat. Mereka bertugas melemparkan bahan peledak kecil atau menembakkannya dengan pelontar khusus ke arah parit musuh. Ini adalah divisi yang sangat mematikan karena bisa membunuh musuh di dalam parit dari jarak aman secara efisien.
Dulu, Peleton Garback juga memiliki prajurit pelempar granat. Namun, kabarnya pernah terjadi tragedi di mana seorang pelempar granat pemula salah memperkirakan kecepatan gerak Komandan Garback. Dia malah melemparkan granat ke parit musuh tepat setelah sang Komandan merangsek masuk ke sana.
Sejak saat itu, Garback tidak pernah lagi memasukkan divisi pelempar granat ke dalam unitnya. Mengenai apa yang terjadi pada prajurit baru itu... semua orang bungkam dan menolak memberitahuku.
Di sisi lain, prajurit infanteri dari unit pertahanan mendapatkan prioritas dalam pembagian alat pelindung. Komposisi unitnya terdiri dari divisi khusus pertahanan basis, seperti prajurit lapis baja yang mampu merapal 【Shield】, tenaga medis untuk pengobatan di garis depan, serta zeni tempur yang bertugas memasang kawat berduri.
Unit pertahanan memiliki tingkat kematian yang (sedikit lebih rendah daripada unit penyerbu), dan karena peran pengobatan di garis depan sangat krusial di sana, tenaga medis sering kali ditempatkan di unit tersebut.
Meski begitu, tingkat kekejaman tugas unit pertahanan berada di level tertinggi. Itu adalah unit neraka di mana mereka harus terus waspada menghadapi serangan mendadak musuh sambil gemetar ketakutan karena tidak tahu kapan artileri akan menghujani mereka.
Mungkin karena bebannya yang berat, jatah libur mereka lebih banyak daripada prajurit penyerbu. Di garis depan ini, unit pertahanan kabarnya mendapatkan hari istirahat setiap tiga hari sekali.
Pada hari istirahat, apa pun yang mereka lakukan tidak akan dipermasalahkan selama tidak melanggar hukum militer. Bermain kartu dengan kawan, pergi "jajan" wanita, semuanya boleh. Pasokan barang hiburan pun diprioritaskan untuk mereka.
"Yah, meskipun sudah diistimewakan kayak gitu, persentase prajurit yang menjadi gila tetap paling tinggi di unit pertahanan."
"……Saya bisa membayangkannya."
Unit penyerbu setidaknya punya waktu untuk menyiapkan mental sebelum merangsek maju.
Selain itu, jika tidak ada instruksi saat brifing, kami bisa merasa tenang karena tahu tidak akan ada pertempuran.
Namun, unit pertahanan tidak memiliki kemewahan itu. Begitu mereka masuk tugas, mereka harus menahan napas dan terus gemetar ketakutan di garis depan menghadapi hujan artileri sampai waktu pergantian sif tiba.
Katanya, stres yang dialami melampaui imajinasi, hingga tidak jarang prajurit yang kehilangan kewarasan dan harus dipulangkan ke pangkalan belakang.
"Saat sedang tugas jaga itulah, hujan menjadi mimpi buruk yang sesungguhnya. Kau nggak bisa meninggalkan garis depan hanya buat mengambil kain penutup; kalau hujan turun, kau harus rela terpapar langsung. Cairan bau dari kakus mengalir keluar, membuat tanah becek dan tergenang limbah kotor."
"Uwah……"
"Gara-gara itu, penyakit menular menyebar luas. Prajurit yang sakit perut bakal mengeluarkan diare yang alirannya melewati kaki-kaki kita. Padahal jari kaki sudah mati rasa karena kedinginan, tapi karena kondisinya terlalu menjijikkan, kita bahkan tidak bisa mengelapnya."
"……"
"Di unitku dulu, disentri menyebar hebat. Kawan-kawanku mati bergelimpangan karena dehidrasi. Mati karena diare itu tragis, lho. Kau bakal terkubur dalam kotoranmu sendiri sampai tidak bisa bergerak lagi."
"Ugh……"
TN Yomi Novel: Disentri / 血下痢 (Chigeri): Secara harfiah berarti "diare berdarah", gejala utama disentri yang merupakan pembunuh nomor satu di perang parit sebelum adanya antibiotik dan sanitasi yang layak.
"Pas musim dingin, suhu bakal jadi sangat dingin sampai-sampai jari kakimu mati rasa dan busuk (nekrosis). Sepatu bot sekalipun nggak ada gunanya, karena begitu permukaan air naik, air limbah yang campur sama diare bakal masuk ke dalam sepatu."
Sepertinya itu kenangan yang sangat ingin dia lupakan. Senior Allen mengakhiri ceritanya dengan wajah yang tampak mual.
Ternyata sanitasi di parit lini terdepan benar-benar mengerikan. Aku merasa sangat bersyukur tidak ditempatkan di unit pertahanan.
"Prajurit penyerbu itu masih untung. Meski tingkat kematiannya tinggi, setidaknya kita bisa berlindung dari hujan di tempat yang punya atap begini."
"Benar juga... kita beruntung banget."
"Yah, kalau saja Komandan nggak egois, sebenarnya Touri-chan bisa tidur nyenyak di tenda rumah sakit lapangan.”
"Lagipula, tenaga medis itu kan aslinya bukan unit tempur. Baru kali ini aku dengar ada tenaga medis yang dimasukkan ke unit penyerbu."
Ah, dugaanku benar.
Memang aneh kalau dipikir-pikir, seorang tenaga medis malah disuruh lari-larian di garis paling depan.
"Ngomong-ngomong, kenapa Komandan minta dikirimi tenaga medis?"
"Katanya waktu kemarin Komandan kena serangan artileri dan terpaksa mundur karena luka-luka, dia marah-marah ke atasan. Dia bilang: 'Kalau saja ada tenaga medis di garis depan, aku masih bisa terus maju!'"
"Udah kena bom begitu dia masih berniat maju juga?!"
Tolonglah, Komandan, kalau sudah kena bom ya sebaiknya mundur saja dengan tenang.
"Sebentar lagi masuk musim hujan. Pasti intensitas penyerangan kita maupun musuh bakal berkurang."
"Semoga saja begitu."
"Makanya, selagi sempat, pelajari apa yang bisa kalian pelajari, Anak Baru. Salsa, sebentar lagi perlindungan dari Komandan mungkin nggak bakal ada lagi."
"Si-siap!"
"Yah, pertama-tama, belajar cara lari dengan posisi rendah. Kalau kau masih lari sambil angkat kepala tinggi-tinggi kayak kemarin, kau bakal mati dalam sekejap."
Demikianlah kami, yang terbangun paksa oleh hujan dini hari, menghabiskan sisa malam sambil mendengarkan kisah-kisah pengalaman pahit para senior.
Ini adalah kesempatan langka bagiku untuk mendengarkan cerita pengalaman dari senior infanteri secara mendalam, dan rasanya cukup menyegarkan.
"Kurangi area targetmu. Dengan menundukkan kepala dan membungkukkan pinggang saat berlari, luas area tubuhmu yang bisa terkena peluru akan berkurang sekitar 10 hingga 20 persen dibanding berlari biasa. Ini adalah teknik untuk meningkatkan peluang hidupmu sendiri, jadi tanamkan itu baik-baik di pikiranmu."
"Begini... ya, Senior?"
"Benar. Memang lebih lambat dari lari biasa dan membebani pinggang, tapi lebih baik kau membiasakan diri dengan posisi condong ke depan itu. Apalagi kalau kau berniat terus menjadi prajurit penyerbu."
Kami benar-benar masih anak bawang. Banyak hal yang tidak kami ketahui tentang hukum rimba maupun teknik bertahan hidup di medan perang.
"Sudah hampir waktunya pengarahan. Ayo, kita menuju depan tenda Komandan."
"Siap, terima kasih banyak atas bimbingannya!"
"Sangat bermanfaat, terima kasih."
Mungkin dengan cara inilah, sedikit demi sedikit, kami yang tadinya hanya 'anak bawang' mulai ditempa menjadi seorang 'prajurit'.
【11 April, Pagi】
"Touri, hari ini kau ke rumah sakit lapangan. Ikuti instruksi Kepala Medis Gale sampai besok."
"Dimengerti."
Di dalam parit yang diguyur hujan deras, Komandan Garback memberikan perintah itu padaku.
Sepertinya hari ini tidak ada rencana penyerangan.
"Sisanya, tugas menggali parit. Hati-hati, pijakan sangat buruk karena hujan."
"Siap, Pak!"
Salsa menjawab dengan suara lantang sambil menggigil kedinginan terkena guyuran air.
Para infanteri itu sebentar lagi harus terus mencangkul, membuang tanah dan lumpur di tengah hujan ini.
Dengan staminaku, dipaksa melakukan kerja bakti fisik seharian pasti akan membuatku mati seketika.
...Aku benar-benar bersyukur menjadi tenaga medis.
"Kalau begitu, bubar. Semuanya menuju pos masing-masing—"
Tepat setelah aku menghela napas lega di tengah dinginnya air hujan yang menetes, tiba-tiba...
—ZUSHIN!—
Sebuah dentuman besar yang terasa seperti ledakan mengguncang bumi, bergema hingga ke parit tempat kami berada.
"……! Serangan musuh! Semuanya dalam posisi tempur!"
"Siap!"
Di tengah hujan, kami bergegas melompat ke dalam parit.
Aku menempelkan punggungku ke dinding parit sambil menahan napas. Lumpur yang becek terasa lengket dan basah meresap ke pakaianku.
"Allen, apa yang kau lihat?"
"Lapor. Terlihat beberapa kepulan asap ledakan di parit sekutu, sekitar 500 meter ke arah utara dari titik ini. Diduga ini adalah serangan dari unit artileri sihir musuh."
"Baik, aku akan meminta instruksi dari atasan. Perintah sebelumnya dibatalkan, semua anggota tetap siaga!"
Senior Allen, sang pengintai, melongokkan kepalanya dari parit dan melaporkan situasi sekitar menggunakan teropong pengintai.
...Serangan musuh.
Katanya hujan akan menurunkan daya gempur sehingga musuh jarang menyerang, tapi...
"Instruksi dari atasan. Peleton ini akan bergerak ke utara untuk mencegat musuh."
"Si-siap, dimengerti."
"Begitu tiba di lokasi, kita akan bergerak di bawah komando Mayor Renvel."
Mayor Renvel adalah perwira yang bertanggung jawab atas komando wilayah sepanjang puluhan kilometer, mulai dari bagian tengah hingga utara garis depan yang membentang hampir 100 km ini.
Beliau adalah atasan langsung Komandan Garback, seorang veteran di atas veteran yang sudah memegang komando militer bahkan sebelum perang pecah.
Kali ini kami akan bertarung di bawah arahan sang jenderal ternama tersebut... tapi karena semua instruksi tetap turun melalui Komandan Garback, pada akhirnya rasanya akan sama saja seperti biasanya.
"Kalian boleh senang, para keparat itu datang bermain untuk jadi daging cincang!"
Wajah Komandan tampak sangat gembira, matanya yang ganas menatap tajam ke arah utara.
Dia pasti merasa sangat puas karena bisa membunuh musuh meski tanpa perintah penyerangan resmi.
"Senior pembohong! Katanya musuh jarang datang kalau sedang hujan!"
"Yah, ternyata mereka datang juga ya~"
Di arah utara tempat kami menuju, dentuman ledakan beruntun terus menggema.
Musuh pasti sedang membombardir parit-parit tempat tentara Austin bersembunyi.
"Untuk mengikis jumlah unit pertahanan di parit, mereka akan melakukan pengeboman besar-besaran selama beberapa jam. Selama itu, kita bergerak ke utara untuk memperkuat lini belakang sekutu."
"Siap."
"Kerapatan artilerinya lumayan juga. Kemungkinan besar parit garis terdepan terpaksa harus ditinggalkan, tapi kita tidak akan membiarkan mereka menembus lebih jauh dari itu."
Taktik ini disebut Bombardir Persiapan, sebuah strategi di mana sihir artileri dihujankan selama berjam-jam ke titik yang akan diserang. Tanpa ini, pihak penyerang tidak akan punya peluang menang melawan unit pertahanan yang masih utuh. Jadi, dalam peperangan modern, bombardir persiapan dianggap wajib sebelum melancarkan ofensif.
Namun, bombardir persiapan juga punya kelemahan: ia memberi tahu musuh di mana serangan akan dilakukan. Selama pengeboman berlangsung, pihak bertahan punya waktu untuk menumpuk pasukan cadangan di lini belakang mereka.
Dengan begitu, meskipun unit pertahanan di lini pertama musnah total akibat pengeboman, mustahil bagi musuh untuk bisa menerobos seluruh garis pertahanan sekaligus.
Inilah alasan mengapa garis depan tetap mengalami kebuntuan selama hampir sepuluh tahun.
"Instruksi dari Mayor. Kita akan membangun jaring pertahanan di parit lapis ketiga."
"Dimengerti."
Pada dasarnya, parit dibangun dalam beberapa lapis. Jika parit lapis pertama berhasil dikuasai musuh, kita akan mencegat mereka di parit lapis kedua. Jika serangan lawan bisa dipukul mundur di parit lapis pertama, itu adalah kemenangan mutlak. Namun jika lapis kedua sampai direbut, rasanya seperti hasil imbang yang menyakitkan.
Karena bantuan dari unit sekitar akan datang selama pengeboman persiapan berlangsung, sangat jarang parit lapis ketiga sampai berhasil direbut musuh.
"Kalau orang-orang di unit pertahanan bekerja dengan benar, seharusnya kita tidak perlu turun tangan."
"Tapi akhir-akhir ini musuh menyerbu dengan jumlah yang luar biasa. Mungkin saja lapis kedua bakal jebol lagi."
"Padahal kita sudah susah payah merebut wilayah itu..."
Dalam pembentukan jaring pertahanan ini, peran tenaga medis sejujurnya... hampir tidak ada.
Lagipula, jika ada yang terluka di parit lapis ketiga yang dekat dengan garis belakang, mereka tinggal dibawa langsung ke rumah sakit lapangan.
Di sana mereka akan mendapatkan perawatan yang jauh lebih akurat daripada yang bisa kuberikan sebagai pemula.
Aku bahkan merasa keberadaanku di sini hanya akan memenuhi tempat dan menjadi penghalang.
"Touri, tugasmu adalah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan dan mengobatiku jika terjadi 'sesuatu' padaku. Kalau tidak ada apa-apa, meringkuk saja di dalam lubang dan gemetarlah sesukamu."
"……Baik, Komandan Peleton."
Dilihat dari cara bicara Komandan, statusku memang benar-benar "kenapa-aku-dibawa-ke-sini".
Jika harus mencari arti keberadaanku, mungkin aku hanyalah sebuah sekring pengaman untuk sedikit menurunkan kemungkinan tewasnya Komandan Garback.
"Unit penyerbu musuh mulai bergerak maju!"
Beberapa jam kemudian.
Setelah serangan artileri sihir berakhir, musuh mulai melancarkan serbuan.
Dari apa yang dilihat Senior Allen melalui teropong pengintai, terlihat jelas bahwa kepadatan pasukan penyerbu musuh jauh lebih besar dibandingkan pasukan pihak kami.
‘Karena mereka punya jumlah pasukan yang berlimpah’ rupanya itulah yang dimaksud oleh para senior.
"Ah... Parit lapis pertama sudah ditembus."
"……Cih."
Belum ada 1 jam sejak musuh memulai serbuan, laporan bahwa lini terdepan telah jebol sudah masuk.
Itu artinya, para prajurit yang mendekam di parit tersebut telah tewas atau menjadi tawanan perang.
"Sialan, setidaknya bertahanlah sedikit lebih lama. Mereka pikir apa hasil dari serbuan maut kami sebelumnya?!"
"……"
Sama sekali tidak ada raut kekhawatiran terhadap nyawa prajurit unit pertahanan di wajah Komandan Garback.
Malahan, dia berdecak kesal dan melontarkan keluhan.
"Parit lapis kedua sepertinya juga akan segera ditembus. Komandan, harap bersiap."
"Apa?! Cih, terlalu cepat untuk ukuran serangan di tengah hujan. Apa unit pertahanan kita cuma diisi oleh pengecut?!"
"……Sepertinya unit musuh yang ada tepat di depan kita memiliki tingkat kemahiran yang sangat tinggi. Mereka merangsek maju dengan kecepatan luar biasa dibanding unit musuh lainnya."
Mendengar laporan Allen bahwa musuh di depan mereka bergerak sangat agresif, alis Komandan Garback berkedut.
Wajah tidak senangnya seketika berubah; bibirnya menyeringai lebar, membentuk senyum yang menyeramkan.
"Oho? Bagaimana ciri-ciri komandannya?"
"Seorang pengguna tombak pendek berambut pirang panjang yang merangsek maju sambil diselimuti petir."
"Oh, bagus kalau begitu. Itu adalah kepala sang jenderal!"
"Gahaha!" Komandan tertawa riang, wajahnya tampak sangat bersemangat saat ia merampas teropong pengintai dari tangan Allen.
Setelah memastikan wajah musuh dengan matanya sendiri, seringainya semakin lebar.
"Tak salah lagi. Itu si Kamikiri, si Tombak Petir."
"Kamikiri... ya?"
"Dia itu Ace musuh. Sial benar nasibnya, sengaja merangsek masuk ke titik pertahanan tempat aku bersembunyi."
Mata Komandan Garback bergerak dengan ganas.
Ace. Itu artinya, orang tersebut adalah sosok yang setara dengan 'Komandan Garback' di pihak musuh.
"Justru karena sedang hujan, sihir petirnya jadi jauh lebih efektif, ya."
"Dia cepat saat menyerang, tapi juga sangat cepat dalam mengambil keputusan untuk mundur. Kalau kita tidak melumpuhkan mobilitasnya... Aku ingin kakinya diincar."
"Serahkan padaku."
"Bagus. Tarik dia mendekat. Aku akan beri aba-aba, dan begitu aku melompat keluar, tembak kakinya tepat saat itu juga. Di sela-sela celah itu, aku akan memenggal kepalanya."
Pencapaian besar, kepala sang jenderal. Komandan Garback terlihat sangat tidak sabar dan kegirangan. Suasana hatinya yang buruk tadi seolah menguap begitu saja.
Sebaliknya bagiku, mendengar bahwa musuh yang memimpin penyerangan adalah seorang Ace membuatku merasa sangat lelah.
"Hari ini keberuntungan berpihak padaku!"
Komandan Peleton yang merasa senang karena musuh yang datang membunuhnya adalah orang kuat, benar-benar sudah gila.
"Touri, keluarkan kepalamu sedikit dari parit dan jangan pernah lepaskan pandanganmu dari punggungku. Jika terjadi sesuatu padaku, jangan ragu untuk langsung menggunakan sihir pemulihan. Allen, waspadai sekitar, dan jika aku terluka, segera lompat keluar untuk menyelamatkanku. Maryu, kau—dalam kondisi itu, terjang si Kamikiri untuk mengulur waktu!"
“"Dimengerti!"”
"Sisanya, lawan musuh lainnya dari dalam parit. Jangan biarkan satu orang pun menginjakkan kaki ke dalam sini!"
Atas instruksi Komandan, aku terpaksa menjulurkan kepala sedikit dari parit.
Jika aku seorang pengintai, aku akan memiliki periskop yang bisa memanjang ke atas, tapi peralatan itu tidak dijatahkan untukku.
Aku merasa sangat tidak aman; apakah kepalaku yang terekspos ini tidak akan ditembak?
"Tenang saja, tidak akan ada peluru yang bisa terbang melewati punggungku."
"Baik, saya percayakan pada Anda."
Sejujurnya aku takut, tapi perintah Komandan itu mutlak.
Ada kenyataan pahit bahwa lebih baik mati saat menjalankan perintah daripada mati ditembak karena melanggar perintah.
"Komandan! Musuh akan segera merangsek masuk ke parit ini!"
"Bagussss! Sambut mereka, siapkan senjata!"
Bersamaan dengan aba-aba itu, Komandan Garback melesat naik menerjang keluar parit dengan penuh tenaga.
Sepertinya debu tanah yang terlempar oleh tendangannya masuk ke mulut Salsa, karena dia terlihat meringis sambil meludah-ludah.
"……Ooh."
Sesuai instruksi, aku mengeluarkan kepalaku dari parit dan mengamati punggung Komandan.
Komandan Peleton Garback sedang berlari lurus dengan posisi condong ke depan, menerjang tepat ke arah jenderal musuh.
"————!"
Si 'Iblis Tombak Petir' Kamikiri, pengguna tombak pendek berambut pirang panjang itu, sedang menebas kawat berduri dengan tombak kebanggaannya seolah itu hanyalah benang tipis.
Kawat berduri adalah penghalang berupa pagar kawat berduri yang tajam. Seharusnya, orang harus memutar jauh atau meledakkannya dengan granat untuk bisa lewat.
Fakta bahwa dia bisa menebasnya dalam sekali ayun sudah membuktikan bahwa jenderal musuh ini sama tidak normalnya dengan Komandan kami...
"Mati kau, demi prestasikuuu!"
Tanpa suara.
Bilah pedang Komandan Garback yang basah kuyup oleh tetesan hujan menusuk tepat ke arah perut bawah Kamikiri.
Percikan darah menari di medan perang, dan raungan kesakitan yang berat menggelegar di tengah hujan.
"————AAARGH!!"
Si Ace musuh tampak terguncang oleh serangan mendadak itu dan mencoba melompat mundur jauh ke belakang.
Tak ingin melepaskan celah itu, Komandan Garback melangkah maju dan mengayunkan pedang militernya tinggi-tinggi, tapi—
"Cih."
Seketika itu juga, arus listrik bertegangan tinggi yang sanggup menguapkan air hujan menyelimuti sekujur tubuh Kamikiri.
Cahayanya begitu menyilaukan hingga membuatku yang melihat dari kejauhan refleks terjengking, penglihatanku memutih total.
"Beraninya serangga sepertimu bersikap lancang!"
Apakah itu sihir petir yang dilepaskan musuh tadi?
Aku sempat panik, mengira Komandan Garback sudah gosong terkena ledakan sedahsyat itu...
Namun, entah bagaimana, di jarak sedekat itu dia berhasil menghindarinya dengan sempurna.
"Sekarang! Bantu Komandan!"
"Tembak!!"
Beberapa detik setelah Komandan menghindar dan menjaga jarak, percikan darah muncul dari paha kanan jenderal musuh.
Sepertinya seseorang berhasil menembak kaki Kamikiri sesuai instruksi.
"Kena, bajingan!!"
"Kerja bagus, Gray!"
Namun musuh juga bukan lawan sembarangan. Meski kakinya tertembak, Kamikiri langsung berbalik dan mundur dengan kecepatan penuh, berlari sekuat tenaga meninggalkan area tersebut.
Padahal perut si 'Iblis Tombak Petir' Kamikiri sudah dikoyak oleh pedang Komandan dan tubuhnya seharusnya sudah babak belur.
"Oi, mau lari ke mana kau, serangga?! Kalian semua, tembak terus! Habisi dia di sini!"
Setelah berteriak begitu, Komandan Garback melesat mengejar si pengguna tombak pendek berambut pirang itu.
Musuh memang cepat, tapi hentakan kaki Komandan benar-benar secepat kilat.
Rasanya dia akan sanggup menyusul dan memenggal kepala musuh itu.
──Ya, rasanya "bisa", tapi…
Deg. Sudut mataku menangkap sesuatu yang mengusik insting.
Jauh di depan Komandan Peleton Garback yang sedang bersiap mengayunkan pedangnya, aku melihat seseorang meluncurkan sesuatu dengan senapan ke arah atas.
Berkat pengalamanku bermain game FPS, aku punya kebiasaan untuk tidak hanya fokus pada musuh di depan, tapi juga melirik hal-hal kecil di pinggiran pandangan.
Apalagi jika hal itu berkaitan langsung dengan Life Bar-ku.
...Unit Pelempar Granat (Grenadier).
Detik ini juga, seorang pelempar granat musuh pasti baru saja melontarkan sesuatu tepat ke arah parit tempat kami bersembunyi.
"Ah────!!"
Aku menjadi satu-satunya orang di peleton yang menyadari hal itu, dan seketika itu juga aku jatuh dalam kepanikan sunyi.
Benda yang ditembakkan musuh itu akan jatuh ke parit kami dalam waktu kurang dari satu detik.
Jika itu terjadi, semuanya akan ma—
"Ada apa Touri, kau tertembak?!"
"……【Shield】!"
Secara refleks, aku merapal sihir pertahanan ke arah benda jatuh itu.
Ini adalah tindakan tanpa perintah, tapi aku tidak punya waktu sedetik pun untuk meminta izin pada Komandan.
"Hah? Hei, Touri?!"
"TIARAP!!"
Saat itu, aku benar-benar kehilangan kesadaran diri karena panik.
Itulah sebabnya, jika aku menoleh ke belakang sekarang, tindakan yang kuambil hanya bisa kusebut sebagai tindakan yang sangat bodoh.
Entah apa yang merasuki pikiranku, aku justru membentuk sihir 【Shield】—yang kekuatannya tak lebih dari selembar kaca tipis—tepat ke arah peluru meriam yang meluncur itu.
"Ada granat meluncur—!"
Seandainya benda yang jatuh itu adalah tipe 'sumbu sentuh'—jenis yang meledak begitu menerima benturan—aku pasti sudah hangus menjadi arang.
Namun untungnya, granat yang dilemparkan ke arah kami tampaknya bukan tipe pemicu benturan, melainkan tipe sumbu waktu yang meledak setelah durasi tertentu.
"Geh, granat?!"
"Tiarap!!"
Belakangan aku baru tahu kalau granat tangan biasanya bertipe pemicu benturan, sedangkan granat yang ditembakkan dengan pelontar khusus sering kali menggunakan sumbu waktu.
Alasannya agar tidak terjadi ledakan prematur akibat guncangan saat ditembakkan dari moncong senjata.
"Terpental...!"
Granat yang melesat itu menghancurkan 【Shield】-ku dengan dampaknya, lalu bergulir jatuh.
Benda itu mengeluarkan suara mendesis pelan yang mengerikan, lalu berhenti tepat beberapa meter dari posisiku.
Kemungkinan besar, aku masih berada dalam radius ledakan. Jika dibiarkan begini, luka parah sudah tidak bisa dihindari lagi.
"Kumohon, sempatlah... 【Shield】!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, sekali lagi aku merapal sihir 【Shield】.
Sebuah penghalang berwarna biru pucat terbentang, menyekat antara granat yang bergulir itu dengan anggota peleton lainnya.
Meskipun aku tahu 【Shield】 rapuh ini takkan sanggup menahan gelombang ledakan dari jarak sedekat itu, aku merasa ini jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.
"Touri-chan, itu berbahaya!!"
Tepat setelah aku menyelesaikan 【Shield】, seseorang mendorongku hingga jatuh. Sepertinya itu Salsa yang berada di sampingku.
Aku terhempas ke lantai parit yang penuh lumpur, lalu Salsa menindih tubuhku untuk melindungi.
Sesaat kemudian, bunyi ledakan yang sanggup memecahkan gendang telinga mengguncang segalanya. Pandanganku seketika menjadi gelap gulita, tertutup oleh tanah yang beterbangan.
"……Hah?"
Saat aku tersadar, udara yang kuhirup terasa panas membakar, dan seluruh tubuhku mulai berdenyut nyeri akibat guncangan hebat yang baru saja terjadi.
Beberapa detik kemudian, barulah aku dan Salsa menyadari bahwa kami baru saja tertelan kobaran api.
"Dasar keparat tak berguna!!"
Di tengah denging telinga yang hebat dan rasa pening yang membuat kesadaranku nyaris hilang, samar-samar aku mendengar teriakan murka Komandan Garback dari kejauhan.
"Jangan kabur, sampah! Bodoh!!"
Perlahan aku membuka mata. Aku tergeletak telentang di tepi parit dengan tubuh berlumuran lumpur.
Hujan yang terasa dingin menusuk mulai mengguyur, membawa rasa perih yang tajam seperti tusukan jarum.
"Kau masih hidup, Prajurit Dua Touri?!"
"Hei, sadarlah!"
Sepertinya gelombang ledakan tadi melontarkanku hingga terpental beberapa meter.
Untungnya, tanah yang becek karena hujan menjadi bantalan yang meredam benturan, sehingga aku bisa lolos dari luka fatal.
Namun... aku merasakan sensasi terbakar yang luar biasa menyakitkan di kedua kakiku.
"Luka bakarnya parah, dia tidak akan bisa berdiri lagi. Hei, kau masih sadar?"
"I-iya... Anu, apa yang terjadi pada saya...?"
"Kakimu bengkak kemerahan, tapi selain itu tidak ada luka serius yang lain. Kau belum akan mati, jadi kuatkan kesadaranmu."
Perlahan, pemandangan di sekitarku mulai terlihat jelas. Aku bisa merasakan lumpur dan ingus masuk ke dalam mulutku, membuatku tersedak tanpa sengaja.
"Sialan!! Dia kabur, si pengecut itu!"
Saat aku sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku, Komandan Garback kembali ke parit dengan wajah yang memerah karena amarah yang meluap-luap.
Tampaknya, beliau gagal menghabisi Ace musuh tersebut.
"Lagipula, kerugian kita lumayan besar, kan? Para pecundang yang terluka, segera mundur! Mundur sekarang juga!"
"Ah, ugh..."
Atas perintah Komandan tersebut...
"Ayo, lemaskan badanmu, Touri-chan. Tidak apa-apa, biar aku yang menggendongmu."
"Terima kasih... banyak..."
Aku yang digendong oleh Senior Gray, yang kondisinya nyaris tanpa luka, akhirnya bisa melihat situasi di sekelilingku.
Peleton Garback benar-benar dalam keadaan hancur lebur. Ada yang limbung dengan luka bakar hebat di sisi kiri tubuhnya, ada pula yang masih tergeletak di dasar parit sambil kejang-kejang.
"Tu-tunggu... sebentar. Orang itu... dia butuh pengobatan—"
Di antara para korban ledakan, prajurit yang terkapar dan mengalami konvulsi di dalam parit tampak dalam kondisi paling kritis.
Punggungnya hangus menghitam, tubuhnya gemetar dalam gerakan-gerakan kecil yang pendek, dan napasnya mulai terdengar berat serta memburu.
"Kalau tidak diobati sekarang, dia akan—"
"……Ah. Dia sudah terlambat, Touri-chan."
Meski aku memohon, Senior Gray tetap melangkah pergi sambil terus menggendongku.
Belum terlambat! Selama dia masih bernapas, masih ada harapan untuk hidup. Kalau diberikan pertolongan pertama yang tepat, dia masih bisa—
"Senior Allen, tolong tunjukkan wajah orang itu padanya."
"……Ya."
Lalu dengan perlahan, Senior Allen membalikkan wajah prajurit yang telentang itu ke arahku. Ia sengaja mengangkat tubuh orang itu agar aku bisa melihatnya dengan jelas.
"————Salsa-kun?"
Prajurit itu adalah Salsa.
Saat ledakan tadi, Salsalah yang mendorongku hingga jatuh untuk melindungiku, membuatnya terpapar gelombang ledakan dari jarak yang sangat dekat.
"……Serpihan granat membuat separuh wajahnya hilang. Tidak mungkin bisa selamat."
"Biarkan dia beristirahat. Bocah ini sudah berjuang dengan baik."
Wajah Salsa... retakan besar menganga mulai dari mata kanan hingga ke bagian belakang kepalanya. Saat Allen mengangkat tubuhnya, gumpalan cairan otak yang merah kehitaman tumpah dan jatuh ke tanah dengan suara menjijikkan.
"……Sal……sa……"
Dalam keadaan terpaku, bahkan sebelum aku sempat selesai memanggil namanya, tubuh Salsa tersentak hebat satu kali, lalu tidak pernah bergerak lagi.
【12 April, Pagi】
Setelah mengalami luka bakar di kedua kaki pada pertempuran semalam, aku dievakuasi ke rumah sakit lapangan.
Gale berlari menghampiriku dengan wajah pucat pasi, dan aku segera mendapatkan perawatan.
Sebenarnya aku bukan pasien gawat darurat, tapi karena aku pengguna sihir pemulihan, prioritas perawatanku menjadi tinggi.
Di saat para korban luka ringan membentuk antrean panjang, aku sudah dialokasikan ke sebuah tempat tidur dan bisa segera terlelap.
……Di atas ranjang rumah sakit lapangan yang sesak oleh aroma kematian dan rintihan kesakitan pasca-pertempuran.
Prajurit Dua Salsa tewas dalam tugas hanya 10 hari setelah tiba di Front Barat.
Dia baru berusia 18 tahun, katanya dia baru saja lulus dari sekolah menengah.
Pemuda bernama Salsa yang seharusnya memiliki mimpi dan harapan akan masa depan itu, kini telah tiada setelah melindungiku yang bertindak ceroboh.
Masa depannya yang seharusnya bersinar, tumpah dan lenyap begitu saja di kubangan lumpur di tengah hujan.
Namun, tragedi semacam itu adalah hal yang lumrah di Front Barat ini.
Konon dalam satu kali bentrokan, hampir 1.000 orang dari kedua belah pihak kehilangan nyawa, dan mayoritas dari mereka yang tewas adalah prajurit baru yang belum lama ditempatkan. Katanya, jika seorang prajurit baru dimasukkan ke unit penyerbu, 80% dari mereka akan tewas dalam waktu kurang dari 6 bulan.
Hanya 20% prajurit penyerbu unggulan yang berhasil selamatlah yang berhak mendapatkan "hak istimewa" untuk terus menjalani hari-hari bak neraka di dalam parit.
Sejujurnya, aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih bahagia.
Pemuda bernama Salsa itu bukanlah seseorang yang bisa kusebut sebagai teman dekat.
Hubungan kami dangkal; kami bahkan tidak pernah mengobrol dengan akrab.
Bernie Noel, teman dari panti asuhan yang sama dan tewas di hari pertama, jauh lebih dekat denganku.
Aku sudah tahu bahwa Salsa yang ceroboh dan dungu itu tidak akan mungkin bertahan hidup di medan perang ini.
Karena itulah, aku sengaja membangun dinding di hatiku agar tidak terlalu dekat dengannya.
────Tapi, kenapa ya?
Bahkan setelah tidur semalaman, bayangan wajah Salsa yang hancur sebelah itu tetap melekat di kepalaku dan tak mau pergi.
Sosoknya yang tanpa ekspresi saat cairan otaknya tumpah dan tubuhnya kejang-kejang terus membekas di balik kelopak mataku.
Jika aku lengah sedikit saja, rasanya aku ingin berteriak dan menangis kencang.
Seandainya Salsa tidak mendorong dan melindungiku, akulah yang akan kehilangan separuh wajah.
Aku tidak pernah menyangka bahwa bertahan hidup dengan bayaran nyawa orang lain akan terasa sesakit ini.
Sepertinya, aku jauh lebih lemah daripada yang kukira.
"Kakimu sepertinya sudah sembuh, Medis Touri."
Sehari setelah bertahan hidup dari pertempuran sengit itu, aku hanya bisa terduduk diam menatap hampa ke arah kekosongan.
Sampai Komandan yang berwajah menyeramkan itu menegurku, mataku yang layu bak ikan mati terus menatap bayang-bayang Salsa yang melayang di udara.
"……Komandan Peleton Garback."
"Ada hal yang harus kuinterogasi darimu. Segera menghadap ke tendaku."
Komandan memerintahkanku tanpa basa-basi sambil berdiri di depan ranjang rumah sakitku.
Gurat wajah Garback yang menatapku tampak dilingkupi kemarahan, hingga bibirnya gemetar menahan emosi.
Mengenai alasannya marah, aku punya beberapa dugaan yang terlintas di pikiran.
"Siap, dimengerti."
"Tunggu dulu! Pak Tentara, gadis itu masih butuh istirahat……"
"Diam, ini perintah atasan."
Jujur saja, entah mengapa saat itu aku justru merasa bersyukur jika ada yang memarahiku.
Rasanya, jika saja aku bisa melakukan sesuatu dengan sedikit lebih baik, mungkin Salsa tidak perlu mati. Ya, aku yakin pasti begitu.
"Ayo berdiri, jalan Touri."
"……Baik."
Dengan perasaan yang setengah melayang seperti hantu, aku berdiri mengikuti instruksinya.
Di atas kedua kaki yang luka bakarnya telah disembuhkan dengan saksama oleh Nona Gale, aku melangkah mengikuti punggung sang Komandan.
"Dengar Touri, aku paling benci orang yang tidak punya kemampuan untuk belajar di dunia ini."
"……Baik, Komandan."
Begitu aku melangkah masuk ke dalam tenda Komandan, saat itu juga sebuah hantaman keras menghujam pipiku.
Aku jatuh tersungkur ke tanah dengan darah yang menyembur dari hidung.
"Baru beberapa hari yang lalu. Apa yang kukatakan harus kau lakukan saat kau hendak menggunakan sihir?"
"Meminta... izin kepada Komandan."
Benar dugaan aku, yang menungguku di tenda Komandan adalah cacian kasar dan kekerasan fisik.
Komandan Garback mencengkeram kerah bajuku, mengangkatku, lalu membantingku kembali ke tanah.
Napasku tercekat karena benturan itu, dan aku mendengar suara tumpul dari sesuatu yang retak di tumit kananku.
Penggunaan sihir 【Shield】 tanpa izin. Itulah alasan aku dihukum kali ini.
"Kau ingat, tapi kenapa kau melanggarnya?"
"Karena... saya tidak kompeten."
Sesaat setelah jawaban itu, tinju keras Komandan menghujam wajah, dada, dan perutku bertubi-tubi.
Ini adalah penganiayaan yang jauh lebih brutal dibandingkan saat aku menggunakan sihir pemulihan pada Salsa atas keputusan sendiri waktu itu.
"Hei, bukankah aku sudah bilang? Apa yang akan kulakukan jika kau mengulangi pelanggaran perintah untuk kedua kalinya?"
"……Anda bilang... akan mengeksekusi saya."
"Rupanya otakmu masih cukup berfungsi untuk mengingat instruksi berhargaku. Kalau begitu, artinya kau memang sengaja melawan perintahku atas kemauanmu sendiri."
"Saya... tidak punya pembelaan apa pun."
"Mati saja kau, bocah sialan!!"
Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Aku hanya sadar bahwa aku sedang dihajar habis-habisan dengan sangat kejam.
Kalau begini terus, aku bisa mati. Aku akan mati dipukuli sampai mati oleh Komandan Garback.
Meski instingku memahami hal itu, aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan, bahkan tidak punya keberanian untuk memohon ampun.
"Mati, mati, mati, dasar tidak berguna! Kalau kau begitu benci mendengar perintahku, akan kupastikan kau mati di misi berikutnya supaya kau tidak perlu mendengar perintah siapa pun lagi!"
Tanpa kusadari, kepalan tangan Komandan sudah merembeskan darah, dan lantai tenda telah berubah menjadi merah pekat oleh darah yang kumuntahkan.
Aku hanya bisa merangkak dengan kedua tangan dan lutut, tetap diam membisu sementara pukulan terus menghujam tubuhku.
"Pengganti sepertimu itu ada banyak, tahu!"
Penganiayaan itu terus berlanjut sampai seluruh tubuhku terasa hancur lebur seperti shiokara yang layu.
Tangan, kaki, dan semua bagian tubuh yang terlihat kini penuh dengan memar. Aku memuntahkan darah berkali-kali, dan tulang-tulang di sekujur tubuhku terasa berderak serta membengkak.
"Hari ini, kau tidak boleh makan seharian. Lalu, berdirilah di depan tendaku dengan posisi tegak sempurna. Jangan sampai goyah."
"……Siap, dimengerti."
"Jangan berani-berani mengobati dirimu sendiri. Mati saja di sana, sampah."
Menerima perintah itu, aku pun bangkit dengan sempoyongan.
Sambil menyeret kakiku yang patah, aku berdiri di luar tenda sesuai instruksi, seperti yang diperintahkan kepadaku.
"Kau dihajar habis-habisan ya, Medis Dua Touri."
"……"
"Astaga, Komandan memang... Aku tahu dia sedang kesal, tapi ini sudah keterlaluan."
Setelah 'bimbingan' Komandan yang berlangsung hampir 1 jam itu berakhir, sosok yang menungguku saat aku berdiri mematung di luar adalah Senior Allen, sang pengintai.
Dia menatap tubuhku yang sudah seperti kain rombeng dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"……Anu, Senior."
"Ada apa, Touri?"
"Itu... wajah Senior, kenapa bisa sampai begitu?"
Melihat wajah Senior Allen, aku sontak terperanjat.
Bagaimana tidak?
"Ah, ini? Aku juga baru saja dihajar habis-habisan. Sakit banget ya, ampun deh."
"……"
Senior Allen ternyata menderita luka yang tak kalah hebatnya dariku.
Dan sepertinya, dia dipukuli lebih dulu serta sudah berdiri di sana dalam waktu yang cukup lama.
"Maaf jika saya tidak sopan, tapi... apakah Senior juga melakukan pelanggaran perintah atau semacamnya?"
"Nggak, tuh. Aku nggak melakukan apa-apa."
"Kalau begitu, apakah Senior menyinggung perasaan Komandan?"
"Yah, kalau itu sih sudah pasti."
Saat itu, aku benar-benar merasa kekerasan yang dilakukan Komandan Garback sudah di luar batas.
Senior Allen, yang sedang dihukum berdiri itu, menderita luka berat yang seharusnya membuatnya terbaring di rumah sakit lapangan.
Tak peduli seberapa buruk suasana hati Komandan, melakukan kekerasan hingga taraf ini benar-benar tidak efisien.
"……Aku memang pantas dipukuli. Lagipula, aku tidak melakukan apa-apa saat itu."
"Eh?"
"Menjaga area sekitar setelah Komandan menyerbu adalah tugasku sebagai pengintai. Orang yang seharusnya menyadari adanya granat itu adalah aku."
Senior Allen menggigit bibirnya dengan ekspresi menyesal. Setetes darah kecil mengalir jatuh dari dagunya.
"Kalau saja aku menyadari pelempar granat itu lebih awal, aku bisa mengatasinya dengan sihir atau setidaknya memandu evakuasi. Tapi, aku baru sadar ada granat tepat di saat kau merapal sihir pertahanan."
"……Tembakannya dari jarak yang sangat jauh. Mungkin saja posisi Senior saat itu sedang berada di titik buta."
"Meskipun begitu, seharusnya aku bisa merasakannya lewat suara. Aku terlalu fokus pada duel antara Komandan Garback dan si Kamikiri, sampai-sampai aku mengabaikan pengawasan di sekeliling."
"……"
"Lalu, aku malah melewatkan granat musuh yang bahkan bisa disadari oleh anak bawang seperti Touri, dan itu membuat seluruh unit terancam. Komandan membentakku, bertanya kenapa veteran sepertiku tidak sadar, dan beginilah akhirnya."
Senior Allen kemudian mengajariku apa yang seharusnya kulakukan saat itu.
Ternyata, jika menyadari ada granat yang ditembakkan, tindakan yang benar adalah menunjukkan titik jatuhnya dan memberikan instruksi evakuasi.
Granat tipe sumbu waktu memiliki jeda beberapa detik sebelum meledak setelah mendarat. Karena radius ledakan yang mematikan adalah sekitar 4 hingga 5 meter, peluang untuk selamat tidaklah mustahil asalkan kita segera lari menjauh dari titik jatuh dan tiarap.
"……Benar kata Komandan. Karena kecerobohanku, seorang prajurit baru yang punya masa depan menjanjikan harus mati."
"I-itu... itu tidak benar. Salsa-kun tewas karena melindungiku. Itu karena aku terlambat tiarap."
"Mengawasi sekeliling itu bukan tugas tenaga medis, itu bukan kesalahanmu. Lagipula, aku merasa sangat payah karena harus membiarkan gadis 15 tahun yang baru 10 hari bertugas mengatakan hal seperti itu."
Setiap kata yang diucapkan Senior Allen merembeskan penyesalan yang tak terlukiskan.
Apakah cairan yang mengalir di pipinya saat ini adalah keringat dingin karena rasa sakit yang luar biasa, ataukah air mata?
"Kalau saja aku becus, Salsa tidak akan mati dan kau tidak perlu dihajar sampai babak belur begini. Touri, kalau kau mau membenci Komandan, bencilah aku sebagai gantinya."
"……Aku tidak merasa benci kepada siapa pun."
"Orang itu memang egois, kasar, dan punya kepribadian yang rusak, tapi tanggung jawab atas kejadian ini murni ada padaku. Wajar saja kalau Komandan mengamuk, meski mungkin dia kelewatan saat memberimu 'bimbingan' karena terbawa emosi."
Setelah mengatakan itu, Senior Allen meminta maaf dengan suara kecil.
Dia benar-benar merasa bahwa seluruh tanggung jawab atas tragedi ini ada di pundaknya.
"Tegakkan kepalamu, Touri. Kau mungkin memang melanggar perintah, tapi kalau kau tidak segera mengubah lintasan granat itu, jumlah korban pasti akan lebih banyak. Itu adalah tembakan granat yang tepat sasaran; kalau kau diam saja, separuh dari peleton ini mungkin sudah mati."
"……Benarkah, Senior?"
"Sudah pasti. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat perisaimu memantulkan granat itu. Pelanggaran perintahmu jelas-jelas telah menyelamatkan nyawa orang lain."
Untuk pertama kalinya, Senior Allen tersenyum lembut ke arahku.
"Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri."
Itulah yang dia ucapkan.
"……Matahari sudah terbenam, ya. Baiklah Allen, kau kuizinkan mendapat perawatan."
"Terima kasih."
Pada akhirnya, seharian itu aku dan Senior Allen terus berdiri tegak tanpa makan maupun minum.
Kakiku yang patah membengkak merah kehitaman, dan tumitku yang hancur terus berdenyut kesakitan.
Senior Allen, yang berdiri seharian penuh, akhirnya mendapatkan izin untuk mengobati lukanya setelah hari mulai gelap.
"Tapi Touri, kau belum boleh. Setelah ini, aku sendiri yang akan menghajarmu habis-habisan."
"……Terima kasih, Pak."
"Ko-Komandan?!"
Sepertinya aku masih belum dimaafkan. Apakah dua kali pelanggaran perintah itu benar-benar membuat amarahnya tak terbendung?
"Ka-kalau Anda ingin melakukan sesuatu lagi, lakukan saja padaku! Tanggung jawab atas kejadian ini ada padaku!"
"Berisik, Allen! Mau kubunuh, hah?! Ayo Touri, ikut aku."
Aku menyeret kakiku yang kaku, melangkah sempoyongan mengikuti Komandan.
Aku melakukannya karena itu adalah perintah.
"Komandan! Tunggu sebentar!"
"Diam! Kau cepat pergi berobat sana untuk persiapan besok!"
Senior Allen bahkan sampai terjatuh saat mencoba mengejarku.
Namun, sepertinya tubuhnya memang sudah tidak bisa diajak kompromi; dia tersungkur dan tidak bisa bangkit lagi.
Mengabaikan Senior Allen, Komandan berjalan selama beberapa menit menjauh dari tenda ke arah belakang, lalu memerintahkanku untuk berdiri tegak sempurna di sana.
"Nah, saatnya bimbingan, bocah tengik."
Komandan memungut sebuah kerikil yang tergeletak sembarangan di dekat kakinya.
"Hup!!"
"……Ugh!!"
Dia melemparkannya ke arahku dengan sekuat tenaga. Batu itu menghantam pinggangku, merobek kulit dan meninggalkan luka yang menganga.
"Jangan menghindar. Ini adalah bagian dari bimbingan."
"……Baik."
Padahal tubuhku sudah hancur lebur, tapi dia masih saja menambah siksaan fisik ini.
Mungkin Komandan Garback memang benar-benar berniat membunuhku.
Apakah ini bentuk eksekusi atas pelanggaran perintahku?
"Hei, Touri. Kenapa kau sampai bisa merapal sihir Shield? Belajar dari siapa?"
"Itu... karena Kepala Medis Gale menginstruksikan saya untuk menguasainya."
"Ah. Begitu, pantas saja."
Komandan Garback kembali memungut kerikil dengan wajah gusar.
Sepertinya, aku akan dilempari batu lagi.
"Lalu? Apa gunanya sihir sampah seperti itu?"
"Itu, anu, sebagai pertahanan..."
"Yang kutanya itu, apa gunanya membuang-buang mana untuk sihir ringkih begitu? Baiklah, kalau begitu."
Tatapannya berubah menjadi buas, seolah-olah sedang berhadapan dengan musuh, lalu dia berkata:
"Aku beri izin penggunaan sihir 【Shield】. Coba tunjukkan 'pertahanan' yang kau banggakan itu!"
"!"
Bersamaan dengan kata-kata itu, Komandan melemparkan batu sekuat tenaga ke arahku.
"【Shield】!! ……Agh!"
"Oi, ada apa? Katanya mau bertahan, hah?"
────Sihir perisaiku masih jauh dari kata sempurna. Aku belum bisa memastikan kekerasan dan ketebalan yang cukup seperti milik Kepala Medis Gale.
Kerikil yang dilempar Komandan menembus perisaiku dan menghantam tepat di kakiku yang patah.
"Kenapa? Coba tangkis! Pakai teknik pertahanan yang kau banggakan itu!"
"Shi—【Shield】! Akh!"
"Semuanya kena, dasar sampah tidak berguna! Mana ada orang bodoh yang mau membuang-buang mana untuk teknik sampah seperti itu!!"
Tak peduli berapa kali pun aku merapal perisai, tak satu pun batu yang dilemparkan Komandan berhasil kutangkis.
"Sudah paham seberapa tidak bergunanya dirimu sekarang, hah?!"
Tanpa diizinkan menghindar, sebuah batu sebesar kepalan tangan menghantam tepat di ulu hatiku, membuatku tersungkur ke tanah.
Rasa asam naik ke tenggorokan, dan mulutku penuh dengan muntahan yang bercampur darah serta ingus.
Ah, sekarang aku mulai mengerti apa yang dikatakan Senior Gray.
Memang benar, lebih baik mati saja daripada begini.
"I-iya... saya... memang tidak berguna..."
"Dasar payah, kenapa malah tidur! Cepat bangun, lalu pasang 【Shield】-mu!!"
Sepertinya sejak aku diseret ke medan perang ini, kemalanganku sudah digariskan.
Jika aku dibunuh di sini sekarang, mungkin itu bukan hal yang buruk—
"Pertahanan miring. 【Shield】 itu harusnya dipasang miring, dasar bodoh!"
Akhirnya, Komandan berhenti melemparkan batu.
Ia membentangkan sebuah 【Shield】 besar berbentuk segitiga di depannya agar aku bisa melihatnya dengan jelas.
"……Eh?"
"Kepala Medis Gale mungkin ahli dalam urusan medis, tapi soal cara bertempur di garis depan, dia itu amatir. Kalau kau bisa pakai 【Shield】, kenapa kau tidak datang berguru padaku?"
Komandan Garback terus mempertahankan 【Shield】-nya dalam diam, seolah ingin memamerkan bentuk perisai yang sudutnya meruncing ke depan seperti huruf 'V' itu.
"Coba bentuk seperti ini, Touri."
"A-ah, anu, itu... Shi—【Shield】!"
"Salah! Masih belum benar."
Buat perisai yang meruncing.
Meskipun diminta tiba-tiba begitu, aku tidak bisa membayangkannya dengan baik dan berujung gagal.
Perisai yang terbentuk di depanku tetaplah papan datar seperti biasanya.
"Selagi kau belum terbiasa, bayangkan seolah kau sedang menjulurkan papan dari ujung telapak tanganmu."
"Dari... ujung telapak tangan."
"Lalu, gunakan telapak tanganmu untuk membentuk pola 【Shield】 yang kau inginkan."
Komandan Garback berkata demikian sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke arah luar, membentuk pola segitiga untuk ditunjukkan kepadaku.
Aku pun mencoba menirunya, membentuk sihir 【Shield】 tepat di depan telapak tanganku.
"Shi—【Shield】! ……Ah!"
"Benar. Begitu saja sudah cukup."
Dengan cara itu, aku pun bisa melakukannya seperti Komandan—sebuah 【Shield】 berbentuk segitiga terbentuk, meski masih sangat tipis.
……Begitu rupanya, bentuk ini adalah...
"Hup!"
Tanpa memberi jeda, Komandan melemparkan kerikil ke arahku. Sama seperti sebelumnya, itu adalah lemparan yang sangat serius.
Namun, begitu batu itu menghantam 【Shield】 yang terbentuk miring tersebut—
Meskipun 【Shield】-ku tetap hancur berkeping-keping, batu itu terpental dan meluncur ke arah lain yang tak terduga.
"Paham sekarang? Serangan musuh itu harusnya dibelokkan, bukan dihadapi secara frontal."
"……"
"Seandainya kau bisa membentuk 【Shield】 dengan pertahanan miring ini saat menghadapi ledakan tadi, beberapa serpihannya pasti akan meleset, dan situasi kerugian kita akan jauh berbeda."
Dengan nada bicara yang keras, Komandan Garback mengatakan hal itu.
Bahwa jika saja aku menguasai teknik ini, kerugian unit kami bisa dikurangi.
"Kalau begitu, Salsa-kun..."
"Kalau beruntung, dia pasti selamat."
Seketika kepalaku terasa pening dan duniaku seolah berputar.
Ternyata sesederhana ini. Hanya dengan sedikit bimbingan ringan dari Komandan, 【Shield】-ku bisa menjadi jauh lebih kokoh.
Seandainya saja aku menguasai teknik mengeluarkan perisai miring ini lebih awal, Salsa yang baik hati itu pasti akan──.
"Andai saja sejak awal kau meminta izin untuk menggunakan 【Shield】 dalam kondisi darurat, aku tentu akan mengajarkan teknik ini kepadamu."
"……"
"Sekarang kau paham alasan kenapa kau harus menerima bimbingan sampai babak belur begini?"
Rasanya pandanganku menjadi gelap gulita.
Benar, akulah yang selama ini lalai.
Hanya karena merasa masih dalam tahap belajar di bawah bimbingan Kepala Medis Gale, aku tidak membagikan informasi mengenai sihir 【Shield】 kepada Komandan.
Akibatnya, dia—
"Bimbingan selesai. Aku beri izin kau mendapat perawatan di rumah sakit lapangan."
"Ba-ba-baik……"
"Lalu ke depannya, hanya dalam keadaan darurat, aku izinkan kau menggunakan sihir 【Shield】 sampai dua kali. Di saat kritis, mana mungkin kau punya waktu untuk minta izin padaku."
Aku memang pantas dipukuli.
Meski sebelumnya sudah diajari betapa pentingnya perintah atasan, aku justru mengabaikannya dan malah merenggut nyawa rekan seangkatanku sendiri.
"……Tak ada kesempatan berikutnya, Touri."
Setelah berkata demikian, Garback kembali ke tendanya sendirian.
"To-Touri-chan?!"
Aku kembali ke rumah sakit lapangan dengan langkah gontai sambil menahan rasa mual yang hebat.
Perpaduan antara rasa sakit di sekujur tubuh dan beratnya dosa yang kulakukan membuatku merasa nyaris gila.
"……Garback keparat itu!! Apa yang dia pikirkan sampai berbuat begini pada prajurit gadis yang terluka parah!"
Aku sudah tidak sanggup memikirkan apa pun lagi. Di tengah lengkingan suara Kepala Medis Gale yang murka—yang terdengar seperti nyanyian pengantar tidur bagiku.
"Kesabaranku sudah habis! Aku akan melayangkan protes resmi sebagai Kepala Medis! Baru saja diobati tapi langsung dibuat luka parah lagi, apa dia sudah tidak punya hati?!"
Perlahan, aku pun melepaskan kesadaranku.
【13 April】
Keesokan harinya.
Setelah terlelap karena hancur oleh rasa tanggung jawab atas kelalaian yang kuperbuat, aku terbangun di ranjang rumah sakit lapangan.
Di sampingku, Senior Allen dari peleton yang sama sedang dibaringkan.
"……Kau sudah bangun ya, Touri-chan."
Saat aku mengangkat wajah, sebuah suara lembut menyapaku.
Saat aku menoleh, Kepala Medis Gale yang cantik dengan tahi lalat di bawah matanya sedang duduk tersenyum di meja kerjanya.
"Selamat pagi, Touri-chan. Syukurlah kau baik-baik saja. Aku lega kau bisa selamat melewati 'neraka' kemarin."
"Iya, Kepala Medis. Selamat pagi."
Sepertinya Gale-san sangat mengkhawatirkanku hingga menyempatkan diri datang melihat kondisiku.
Luka-luka di tubuhku sudah sembuh total tanpa bekas. Mungkin saja Gale-san sendiri yang turun tangan mengobatiku.
"Karena kau sudah bangun, bisakah kau segera berganti pakaian? Begini, jumlah pasien luka-luka saat ini benar-benar di luar kendali."
"Di luar kendali?"
"Ya, benar-benar kacau."
Kudengar, pertempuran pertahanan kemarin memakan banyak korban.
Pihak kita kehilangan 1.000 nyawa, dan jika digabung dengan korban luka-luka, jumlahnya mencapai sekitar 3.000 orang. Tampaknya musuh benar-benar mengerahkan kekuatan penuh dalam serangan kemarin.
"Maaf karena harus memintamu bekerja tepat setelah kau pulih, tapi kami benar-benar kekurangan tenaga. Aku sudah mendapat izin dari Garback, jadi hari ini tolong bantu aku dalam pengobatan."
"Siap, dimengerti. Terhitung mulai saat ini hingga pukul 5 pagi esok hari, saya berada di bawah komando Kepala Medis Gale."
"Terima kasih ya. ... Sebenarnya aku ingin kau membantu sejak tadi malam, tapi gara-gara si bodoh itu melampiaskan amarahnya padamu..."
Sesaat, ekspresi Kepala Medis Gale berubah menjadi sangat mengerikan.
Tugas tenaga medis saat pasien membeludak seperti ini akan menjadi sangat sibuk.
Aku merasa tidak enak karena sempat tertidur lelap dengan santainya di tengah situasi genting begini; aku pasti sudah menyulitkan yang lain.
Aku harus segera meminta maaf kepada rekan-rekan nanti.
"Andai saja Garback tidak ada, beban kerja kita pasti akan berkurang drastis. ... Haaah."
"Mohon maaf karena ketidakmampuan saya telah merepotkan Anda."
"Touri-chan, ini bukan salahmu. Kau anak yang rajin dan pekerja keras. Lagipula, aku sudah dengar alasan Garback menghajarmu, itu gara-gara sihir 【Shield】 yang kuajarkan, kan? ... Maafkan aku, ya."
"Sama sekali tidak, ini sepenuhnya karena kelalaian saya dalam melapor. Saya menyadari bahwa bimbingan yang diberikan Komandan kemarin adalah hal yang sangat wajar."
"Hmm.... Benar-benar, sifat rajinmu ini terlalu berharga untuk dibiarkan di unit penyerbu," gumam Kepala Medis Gale dengan ekspresi rumit setelah mendengar jawabanku.
Ada apa sebenarnya?
"Aku tidak akan menutup-nutupinya darimu, jadi akan kukatakan sekarang. Sebenarnya kemarin aku sudah mengajukan permohonan kepada atasan untuk menarikmu kembali ke unit medisku."
"Apakah itu karena... saya dianggap tidak mampu mengemban tugas di lini depan?"
"Bukan. Aku mengirim seorang tenaga medis ke bawah komando Garback dengan syarat ketat bahwa dia harus 'melindungi nyawa tenaga medis tersebut apa pun yang terjadi'. Tapi kenyataannya? Kau datang dengan luka bakar hebat, lalu dihajar sampai luka parah olehnya sendiri. Dia melanggar janji."
"……Begitu rupanya."
"Unit medis kita sudah kekurangan orang, jadi aku akan memastikan Touri-chan kembali ke sini."
Tenaga medis di rumah sakit lapangan memang mengalami kekurangan kronis.
Saat ranjang penuh, jumlah penggunaan sihir pemulihan tidak akan pernah cukup. Itulah sebabnya, meski buruk bagi kesehatan, jika mana kami habis, kami terpaksa meminum obat rahasia (elixir) dan terus merapal sihir sampai jiwa dan raga kami terkuras habis.
Ini adalah kerja paksa tingkat tinggi yang bahkan bisa membuat perusahaan "hitam" di kehidupan lampauku pucat pasi.
"Aku tidak tahu apakah permohonan ini akan langsung dikabulkan, tapi... aku akan meyakinkan mereka bahwa satu tenaga medis tambahan bisa menyelamatkan nyawa jauh lebih banyak prajurit."
Gale-san di hadapanku ini pun memiliki lingkaran hitam yang sangat jelas di bawah matanya. Kemungkinan besar dia habis begadang semalaman. Jumlah tenaga medis hanya puluhan, dan dalam sihir pemulihan, jumlah orang adalah segalanya. Bahkan pemula sepertiku adalah aset tenaga kerja yang sangat besar. Mereka pasti akan sangat rugi jika aku mati konyol.
"Nah, kalau sudah sadar sepenuhnya, pergilah cuci muka. Sebentar lagi kunjungan pasien di bangsal D akan dimulai, kau harus ikut."
"Siap, dimengerti."
Yah, mengenai bagaimana aku akan ditugaskan, aku hanya perlu mengikuti keputusan atasan.
Namun, kesalahan yang menyebabkan kematian Salsa kemarin tetaplah berakar dari kelalaianku sendiri.
Wajar saja jika pada akhirnya muncul keputusan bahwa menempatkan gadis ceroboh sepertiku untuk mengabdi di unit medis belakang jauh lebih bermanfaat daripada mengirimku ke garis depan.
"……Dan juga, jangan terlalu membebani pikiranmu, ya. Kau mengigau parah semalam, kau tahu."
"Saya akan berhati-hati."
Tepat sebelum aku meninggalkan meja kerja, Kepala Medis memberiku peringatan kecil. Seperti yang kuduga, Gale-san memang sangat teliti mengamati orang.
Sejujurnya, aku masih sangat terpukul atas apa yang terjadi pada Salsa-kun.
Namun, demi para pasien yang sedang menderita saat ini, aku harus segera mengganti suasana hatiku.
Tidak akan ada pembelaan bagi seorang tenaga medis yang sudah tidur cukup namun melakukan malapraktik hanya karena kurang konsentrasi.
"Touri-chan, kapasitas manamu ternyata bertambah lebih banyak dari dugaanku."
"……Benarkah?"
Aku yang mulai bekerja sejak kunjungan pagi di Bangsal D, diberitahu oleh seorang senior sesama tenaga medis.
"Touri-chan, usiamu 15 tahun, kan?"
"Benar, Senior."
"Begitu ya, memang lagi masa pertumbuhan, sih. Dengan kecepatan perkembangan seperti ini, kurasa tahun depan kau sudah bisa jadi pilar utama di sini."
"Mana mungkin. Tidak mungkin saya bisa mengejar Senior hanya dalam waktu setahun."
"Yah, soalnya tahun depan aku sudah tidak ada di sini."
Senior ini adalah tipe orang yang—istilahnya—sangat kompeten. Dia adalah seorang Healer yang dulunya meneliti ilmu medis di universitas, lalu dikirim ke garis depan karena wajib militer.
Pengetahuan dan sihir pemulihannya sangat luar biasa; meski berstatus prajurit wajib militer, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Bangsal.
"Tahun depan masa tugasku selesai dan aku akan kembali ke universitas. Kalau kau bisa bertahan hidup, mau tidak masuk ke universitas tempatku belajar?"
"Universitas, ya?"
"Iya. Kalau kau belajar dengan sungguh-sungguh di sana dan menguasai sihir pemulihan, kau tidak akan kesulitan mencari makan bahkan setelah perang berakhir nanti."
"Terima kasih atas ajakannya. Saya pasti akan mempertimbangkannya."
Jika bisa pulang dengan selamat. Kalimat itu terucap dari mulut sang Senior.
Para tenaga medis yang bertugas di rumah sakit lapangan pada dasarnya hampir tidak pernah mati. Sebab, rumah sakit yang terletak di baris paling belakang medan tempur jarang sekali terkena dampak kerusakan perang.
"Kemungkinan saya untuk bertahan hidup memang tidak terlalu tinggi, sih."
"……Yah, kalau kasusmu memang beda. Aku turut prihatin."
Oleh karena itu. Selain aku, si tenaga medis 'nyentrik' yang tergabung dalam unit penyerbu, angka kematian tenaga medis sebenarnya sangat rendah. Kecuali jika mereka ditempatkan di unit pertahanan garis depan, mereka jarang sekali gugus.
Para sukarelawan bisa pindah ke tugas belakang jika sudah mengumpulkan cukup prestasi, sementara para wajib militer bisa pulang ke kampung halaman jika berhasil bertahan selama tiga tahun masa tugas.
Meski katanya, ada saja orang aneh yang memang ingin terus menjadi tenaga medis di garis depan.
"Aku berharap kita cepat kalah saja. Daripada sibuk membereskan kekacauan akibat aksi saling bunuh di garis depan, mengembangkan ilmu kedokteran lewat penelitian jauh lebih bermanfaat bagi semua orang."
"Senior, bukankah berbahaya jika kata-kata itu terdengar oleh atasan?"
"Tidak masalah, itu isi hatiku yang jujur."
Sebab itulah, pada dasarnya orang-orang di unit medis memiliki kesadaran yang rendah sebagai militer. Kebanyakan dari mereka menganggap diri sebagai warga sipil yang dipaksa bekerja di zona berbahaya.
"Menyuruh kami mengobati luka orang-orang yang pergi membunuh orang lain... itu benar-benar penghinaan bagi seorang Penyembuh."
Itulah sebabnya aku merasa nilai-nilai yang mereka pegang masih sangat dekat dengan masyarakat umum.
Mereka adalah orang-orang dengan akal sehat yang belum diracuni oleh perang.
"Coba lihat ke luar tenda rumah sakit sebentar. Lihat para tentara yang sedang menggali lubang itu."
"Iya, sepertinya hari ini pun mereka sedang menggali parit."
Di tengah percakapan, Senior menunjuk ke arah luar.
Di sana, para prajurit berkumpul membawa sekop dan menggali lubang besar.
Itu adalah pemandangan yang lazim di garis depan.
"Bukan, untuk apa menggali parit di belakang rumah sakit lapangan begini? Itu lubang kubur."
"Kuburan?"
"Iya, makam bagi orang-orang beruntung yang mayatnya berhasil dipungut. Mereka yang mati di zona pertempuran sengit hanya akan membusuk di udara terbuka. Jadi, mereka yang bisa dikubur atau dikremasi adalah orang-orang yang beruntung."
Kalau dipikir-pikir, lubang yang mereka gali memang terlalu bulat untuk disebut parit pertahanan.
Selain itu, di sekeliling lubang tersebut terlihat beberapa prajurit yang sedang meneteskan air mata atau memberikan doa dalam diam.
Pemandangan itu memastikan bahwa yang sedang terjadi memang sebuah prosesi pemakaman.
"Pagi tadi, aku melihat salah satu pasien yang kutangani dilemparkan ke sana. Dia prajurit yang dibawa ke sini dalam kondisi pergelangan tangan putus sambil menangis meraung-raung."
"……"
"Aku merasa tindakanku sudah sempurna; aku melakukan operasi dengan saksama agar tangannya bisa digerakkan lagi seperti semula. Dia bahkan tersenyum lebar sambil berterima kasih padaku. 3 hari kemudian, dia tewas di medan tempur dan berakhir di dalam lubang itu."
"Itu... mungkin memang dia sedang tidak beruntung."
"Keberuntungan? Jangan salah paham. Itu adalah nyawa yang tidak perlu hilang seandainya negara ini mau berucap satu kata saja: 'Kami menyerah' atau 'Mari hentikan ini'. Bocah itu dibunuh oleh negaranya sendiri."
Senior berkata demikian sembari menatap jauh ke arah mayat-mayat yang dilemparkan ke dalam lubang.
"Aku berdoa agar kau tidak menjadi salah satu dari tumpukan mayat yang kian menggunung setiap harinya," gumamnya.
"……Ah."
Dan saat itulah, aku...
"Maaf Senior, bolehkah saya meminta waktu istirahat sebentar?"
"Hm? Oh, tentu. Manamu juga pasti sudah habis, kan. Pergilah menyegarkan diri sebentar."
"Terima kasih banyak."
Di dekat lubang kubur yang baru digali itu, aku melihat seseorang yang kukenal.
"Kalau begitu, saya permisi sebentar."
Orang tersebut adalah Senior Allen.
Sang pengintai yang kemarin menerima 'bimbingan' keras dari Komandan Garback dan harus dirawat di rumah sakit lapangan.
Karena dia sepertinya sudah bisa bergerak kembali, aku memutuskan untuk menyapanya.
"……Senior Allen."
"Oh, Touri ya."
Benar-benar hasil kerja unit medis yang luar biasa; sebagian besar luka yang diderita Senior Allen akibat penganiayaan kemarin tampak sudah sembuh total.
Ternyata dia memegang sekop; dia baru saja ikut membantu menggali lubang kubur tersebut.
"Bagaimana kondisi tubuh Senior? Apa sudah membaik?"
"Ya, terima kasih. Aku juga lega melihatmu tampak lebih bersemangat dari yang kukira, Touri."
Senior Allen menatapku sambil tersenyum lembut. Melihat kondisinya, sepertinya besok dia sudah bisa kembali bertugas tanpa masalah.
"……Touri, kau datang di waktu yang tepat. Anak itu pun tidak bisa kita biarkan begitu saja."
"Waktu yang tepat?"
"Ya. Bagi kita yang jarang punya hari libur, kesempatan untuk bisa melepas kepergian rekan seperjuangan seperti ini tidaklah banyak."
Sambil berkata demikian, Senior Allen mengarahkan pandanganku ke tumpukan mayat yang sedang dibaringkan melalui tatapannya.
Di sana, tergeletak sosok itu...
"Salsa-kun……"
"Ya, dia akan segera dikremasi."
Wajah itu menyembul dari tumpukan mayat yang disusun seadanya. Itu adalah Salsa-kun, rekan seangkatanku.
"……"
Aku merasakan detak jantungku berpacu lebih cepat.
Kulitnya pucat pasi dengan cara yang mengerikan, wajahnya hangus memerah kehitaman, dan selembar kain diikatkan di kepalanya untuk menutupi bagian yang hancur.
……Aku ingat.
Aku ingat saat pesta perayaan beberapa waktu lalu, Salsa-kun mencoba melakukan tarian telanjang yang konyol.
Kepribadiannya yang bodoh namun terasa hangat itu, sejujurnya, bukanlah sesuatu yang kubenci.
"Oh iya, Touri. Aku punya cerita kenangan yang bagus tentang Salsa."
"Untukku? Senior Allen?"
"Ya. Yah, sebenarnya bukan cerita yang luar biasa, sih."
Tak lama kemudian, semua jenazah yang telah dikumpulkan mulai dimasukkan ke dalam lubang. Orang-orang mulai menaburkan bunga dan rumput liar yang tumbuh di sekitar sana sebagai penghormatan.
Lalu, seorang prajurit dengan pakaian menyerupai pendeta maju ke depan, mulai merapalkan doa-doa untuk ketenangan arwah mereka.
"Beberapa waktu lalu, saat kami pergi keluar untuk mencari hiburan wanita, dia bicara padaku. Anak itu... dia sangat kepikiran tentang fakta bahwa kau telah menyelamatkan nyawanya."
"Salsa-kun... memikirkanku?"
"Ya. Dia bilang, meski nyawanya sudah kau selamatkan, dia bahkan tidak sempat berbagi jatah makan malam denganmu. Katanya dia berutang besar padamu."
Mendengar kata-kata Senior Allen, aku teringat sesuatu.
Saat aku menyelamatkan nyawanya melalui pelanggaran perintah pertamaku, dia melewatkan sesi pengarahan dan dihukum tidak boleh makan malam, sehingga pada akhirnya dia memang tidak pernah sempat membalas budiku.
"Salsa itu pernah sesumbar begini... 'Pokoknya, kali ini aku yang akan melindungi Touri-chan, apa pun yang terjadi. Lalu, aku akan bilang padanya: utangku sudah lunas ya!'"
"……Jadi, karena itu dia melakukan aksi berbahaya seperti kemarin?"
Ah, aku sama sekali tidak menyadari kalau Salsa-kun memikirkan hal semacam itu.
Kalau diingat kembali, saat dia menerima perintah untuk menjadi tameng hidupku, dia tampak luar biasa bersemangat.
Jangan-jangan, karena dia terlalu bertekad untuk melindungiku, dia malah—
"Dia benar-benar menepati janjinya. Aku angkat topi dan menaruh hormat pada bocah ingusan ini."
"Hanya karena... alasan seperti itu..."
Apakah dia benar-benar kehilangan nyawanya hanya demi alasan sesederhana itu?
"……Ayo, kita lakukan mengheningkan cipta."
Tak lama kemudian, prajurit yang bertindak sebagai pendeta itu merapalkan mantra, dan kobaran api mulai melahap seisi lubang.
Bau lembap dari lemak yang terbakar mulai menyerbak ke sekeliling.
Namun, tak ada satu pun prajurit yang berniat meninggalkan tempat itu.
Mayat adalah sarang kuman dan mikroorganisme.
Dibandingkan langsung menguburnya, membakar jenazah sejauh mungkin dianggap lebih baik.
Akan tetapi, karena bahan bakar adalah barang berharga, mereka tidak bisa menyiramkannya ke mayat-mayat itu.
Bermodalkan lemak tubuh manusia dan pakaian yang melekat sebagai bahan bakarnya, jenazah-jenazah itu pun mulai terbakar perlahan.
"────"
Salsa-kun perlahan mulai ditelan api.
Kulitnya meleleh, meneteskan cairan hitam pekat, terbakar oleh api yang tenang seperti nyala lilin.
Sosok Salsa-kun yang diselimuti api sama sekali tidak terlihat damai.
Akibat suhu panas, mulutnya menganga, tangannya menekuk kaku, dan punggungnya meringkuk, menampilkan gurat wajah penuh penderitaan di saat-saat terakhirnya.
"……"
"Benar, begitu saja sudah cukup, Touri."
Begitu air mata mulai jatuh, pertahananku benar-benar runtuh.
Tak peduli seberapa keras aku berusaha menahannya, isak tangisku pecah dan tak bisa berhenti.
"Jangan dipendam. Jangan sok kuat dan berpura-pura jadi orang dewasa hanya karena kau merasa harus begitu."
"……"
"Lebih baik dikeluarkan semuanya sekarang agar kau bisa lebih cepat bangkit. ...Jadi, menangis adalah hal yang tepat."
Aku sudah tidak sanggup lagi melihat sosok Salsa-kun yang perlahan habis dilalap api.
Hatiku sangat lemah. Aku tidak menyangka bahwa aku adalah manusia yang begitu rapuh.
"────ugh...!"
Aku berlutut dengan kedua kaki, menutupi wajah dengan telapak tangan, dan mencoba menelan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
Air mata jatuh berderai tanpa henti. Butiran yang menetes itu memantulkan cahaya api yang menari-nari.
"Heningkan cipta untuk para rekan seperjuangan yang pemberani."
Dan di sana, dengan sangat menyedihkan, aku menangis sejadi-jadinya.
【16 April】
4 hari telah berlalu sejak kepergian Salsa-kun. Selama itu, aku tidak kembali ke garis depan melainkan terus bekerja di unit medis.
Karena musuh melancarkan serangan hampir setiap hari, rumah sakit lapangan berubah menjadi kancah pertempuran kedua, sebuah "medan perang" medis yang mengerikan.
Bahkan untuk satu orang pemula sepertiku, tidak ada waktu untuk berleha-leha.
Sepertinya Kepala Medis Gale telah bernegosiasi dengan Komandan agar aku tetap di sini sementara waktu.
Meski dipaksa bekerja hampir tanpa tidur, aku merasa ini jauh lebih baik karena tidak ada bahaya yang mengancam nyawa.
"Aaah... kerasa banget efeknya."
"Aku hidup cuma demi botol ini!"
Para senior tenaga medis sesekali mengeluarkan botol obat berwarna biru dari saku mereka dan meminumnya. Saat aku bertanya itu obat apa, mereka memberi tahu bahwa itu adalah Mana Potion.
Ya. Di dunia ini, layaknya kisah fantasi, terdapat 'obat rahasia pemulih mana'. Hebatnya lagi, jika meminum obat ini, rasa kantuk dan lelah seolah sirna; mereka bisa terus bekerja dengan penuh energi meski harus begadang berhari-hari.
……Aku juga sempat mencoba mencicipi ramuan rahasia itu. Memang benar, itu adalah obat ajaib yang membuat mata seketika melotot segar dan putaran otak menjadi lebih cepat.
Para senior tenaga medis meminum ramuan itu berkali-kali, lalu lanjut bekerja sambil tertawa cekikikan dengan tatapan mata yang sudah keruh dan kosong.
Katanya, meski efeknya sangat kuat, ramuan ini buruk bagi tubuh dan memiliki sifat adiktif yang tinggi, sehingga tidak boleh diminum lebih dari satu botol per hari.
Namun, di atas meja Gale-san, orang yang memberitahuku aturan itu, tergeletak lima botol kosong yang bergulingan.
……Melihat standar kehidupan lampauku, obat ini pasti bakal berurusan dengan hukum, jadi aku memutuskan untuk tidak menanyakan bahan-bahannya.
"Touri-chan. ……Maaf, tapi hari ini Garback memintamu kembali ke unit."
"Siap, dimengerti."
Setelah melewati hari-hari penuh kerja paksa itu, akhirnya aku dipanggil kembali oleh Komandan Garback dari garis depan.
Mengingat situasi masih sangat sibuk tapi aku sudah dipanggil pulang, apakah itu artinya hari ini akan ada serangan besar?
Aku belum tidur sama sekali selama 4 hari terakhir, dan kondisiku sangat buruk, tapi... kalau sudah perintah, mau bagaimana lagi.
"Maafkan aku ya, ini karena aku tidak punya cukup kekuasaan untuk menahanmu di sini,"
"Tidak, anu. Saya tidak punya keluhan apa pun terhadap tugas yang diberikan kepada saya."
Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Langit masih gelap dan para prajurit masih terlelap dalam napas yang teratur.
Setelah memberi hormat perpisahan kepada Kepala Medis Gale, aku berlari kencang menuju tenda Komandan Garback.
Aku harus bergegas; jika tidak sampai sebelum waktu kumpul pukul lima, aku pasti akan menerima hukuman fisik lagi.
"Medis Dua Touri, melapor."
"Huh, akhirnya datang juga kau, bocah dungu. Menikmati masa-masa santai di unit belakang? Cepat pasang niat bertempurmu lagi."
"Siap, Komandan."
Untungnya aku sampai tepat waktu. Komandan seperti biasa sedang bersandar di dinding parit. Anggota peleton lainnya sudah berkumpul semua, termasuk Senior Allen yang tampak sudah pulih total dan kembali ke kondisinya yang semula.
"Dengarkan perintah. Para infanteri lanjut menggali lubang, Touri ikut aku. Akan kuhajar kau dengan latihan keras."
"Siap, Komandan."
Aku sudah bersiap-siap untuk kemungkinan adanya serangan hari ini, namun ternyata Komandan malah memerintahkan para infanteri untuk menggali lubang.
Melihat ke sekeliling pada unit lain pun, aku tidak merasakan ketegangan atmosfer yang biasa muncul sebelum keberangkatan ke medan tempur.
Mengingat dia berkata akan "menghajarku dengan latihan", apakah ini kelanjutan dari kuliah sihir 【Shield】 sebelumnya?
Atau mungkin aku akan dimarahi lagi atas sesuatu dan hukuman fisik sudah menantiku?
Meski rasa takut tak tertahankan, aku harus tetap patuh pada perintah tanpa membantah.
"Hmph. Lalu Touri, kau belum sempat bertatap muka dengan anggota tambahan, kan. Berikan salam."
"Siap, dimengerti."
Didorong oleh Komandan Garback, aku mengedarkan pandangan ke seluruh anggota peleton dan mendapati beberapa wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Sepertinya selama aku berada di unit medis, pengisian personel baru telah dilakukan.
"Saya Touri Noel, Medis Dua. Prajurit baru yang baru bertugas sekitar 2 minggu lalu. Mohon bimbingan dan kerja samanya, Senior sekalian."
Dari yang kulihat, ada tiga wajah baru. Dan mereka sangat muda... semuanya tampak seumuran dengan Salsa-kun, atau bahkan mungkin lebih muda.
"……Naridome, Infanteri Dua."
"Aku Rodry, Infanteri Dua. ……Ternyata benar seperti kata orang, kau ini kurus kerempeng ya."
Dari pendatang baru tersebut, dua di antaranya adalah Infanteri Dua.
Pangkat yang sama dengan Salsa-kun.
Mungkin saja mereka adalah rekan seangkatan yang dikirim ke garis depan di waktu yang sama denganku.
"……"
"Ah? Apa yang kau lihat, cebol?"
Orang yang mengaku bernama Naridome segera mengalihkan pandangannya, sementara Rodry menatapku dengan sorot mata tajam yang tampak muak.
Kesanku adalah yang satu pendiam dan tidak ramah, sementara yang satunya lagi kasar bicaranya.
"Saya Kopral Verdi. Di peleton ini, saya mengemban wewenang komando kedua setelah Sersan Garback. Kecabangan saya adalah pengintai. Saya rasa saya punya cukup pengetahuan, jadi jika ada yang tidak kau pahami, jangan ragu untuk bertanya."
Dan terakhir, Kopral Verdi yang memperkenalkan diri tampak seperti orang yang sangat normal, setidaknya jika dibandingkan dengan anggota lainnya.
Mungkin dia lulusan akademi militer? Mengingat penampilannya yang masih muda, pangkatnya tergolong tinggi.
Kopral adalah satu tingkat di bawah Sersan. Di peleton ini, tidak ada orang yang pangkatnya lebih tinggi darinya selain Komandan Garback.
Aku harus memastikan untuk selalu menggunakan bahasa formal kepada Kopral Verdi.
"Sudah selesai? Kalau begitu, Touri, ikut aku."
"Siap, Komandan."
Lagi pula, mereka semua adalah orang asing bagiku.
Aku harus berhati-hati agar tidak menjadi terlalu akrab. Jika aku membiarkan perasaan kasih sayang tumbuh secara aneh, aku akan terluka lagi seperti saat Salsa-kun pergi.
Kali ini, aku harus benar-benar menjaga jarak emosional dan membina mentalitas yang sanggup berkata "bukan urusanku" tak peduli siapa pun yang mati.
"10 putaran lagi, keluarkan suaramu yang lantang!"
Tugas yang diberikan Komandan kepadaku adalah lari. Bukan lari biasa, melainkan lari jarak jauh dengan perlengkapan tempur lengkap di punggungku.
"Satu, dua. Satu, dua."
"Suaramu terlalu kecil! Apa kau sedang mendesah menggoda, dasar jalang?!"
"Satu, dua! Satu, dua!!"
"Bagus, teriakkan suaramu!"
Apa-apaan ini? Bukankah ini latihan dasar infanteri?
Tentu saja, aku memahami pentingnya pelatihan dasar seperti ini.
Aku tahu usaha ini akan sangat berpengaruh pada tingkat kelangsungan hidupku nantinya.
Namun, aku adalah seorang tenaga medis. Bahkan saat aku sedang berlatih seperti ini, di garis belakang ada para senior yang sedang berjuang keras mengobati pasien.
Sejujurnya, meninggalkan bantuan itu demi berlari hanya membuatku merasa bersalah.
"10 putaran selesai!"
"Bagus, lanjut ke latihan pertahanan. Izinkan penggunaan sihir 【Shield】 sampai 2 kali!"
"Siap, Komandan!"
Begitu kuota lariku selesai, tanpa memberi napas sedikit pun, Sersan Garback mulai melemparkan banyak batu ke arahku.
Seketika, aku memosisikan telapak tanganku ke arah luar sesuai dengan apa yang diajarkan. Karena beliau sudah bersusah payah melatihku, aku harus menunjukkan perkembangan, sekecil apa pun itu.
"【Shield】!"
Aku berhasil membentuk perisai berbentuk huruf 'V' seperti yang dipelajari tempo hari. Batu yang dilempar Komandan terpental oleh perisai itu; alih-alih menghantam telak, batu-batu itu hanya menyerempet bagian tepi tubuhku.
"Kecepatan aktivasinya bagus, tapi sudutnya masih payah! Bentuk perisaimu sampai membentuk sudut siku-siku!"
"Siap, Komandan!!"
Sambil terus mengoreksi, Komandan melemparkan batu satu demi satu dengan ritme yang stabil.
Aku mencoba membentuk perisai sambil menyesuaikan sudutnya agar sebisa mungkin mendekati sudut siku-siku sesuai instruksinya.
Hasilnya, lemparan batu berikutnya tidak ada satu pun yang menyerempetku.
"Bagus, sekarang lari lagi! Jangan menyerah dulu, ini baru pemanasan!"
"Siap, Komandan."
"Selagi kau lari, aku akan melempar batu secara mendadak. Jika itu terjadi, gunakan 【Shield】 untuk bertahan. Jangan lengah mengawasi sekeliling bahkan saat sedang berlari!"
"Siap, Komandan!"
Hanya saja, meski aku merasa sungkan mengatakannya karena sedang dilatih, tapi... latihan seperti ini seharusnya dilakukan sebelum kami dikirim ke garis depan...
"Staminamu terlalu payah, kau memperlambat kecepatan gerak unit ini. Kau tidak lebih dari sekadar ulat yang lamban."
"Ya... mohon... maaf... Pak."
"Bahkan pada hari-hari kau bertugas di unit medis, kau harus menyelesaikan kuota lari dari latihan tadi. Jika ada waktu luang, mintalah orang-orang di sekitarmu untuk melemparkan batu padamu. Jika kau berlatih di waktu istirahat, tidak akan ada yang memprotesmu."
Latihan fisik tepat setelah begadang semalaman benar-benar menyiksa bagi tubuhku yang masih belum matang ini.
Pada akhirnya, aku bahkan tidak sanggup berdiri; otot-otot di sekujur tubuhku menjerit dan gemetaran.
Jika dibiarkan, besok aku pasti tidak akan bisa bergerak karena nyeri otot. Aku harus melakukan peregangan setelah ini.
"Baiklah, mulai besok kau boleh kembali ke tugas medis. Jangan sampai malas-malasan."
"Si-siap, terima kasih... banyak, Pak."
"Dalam beberapa minggu, setidaknya kau harus sudah berevolusi dari ulat menjadi semut. Kalau tidak, kubunuh kau."
Dari sela-sela ucapannya selama latihan, aku mulai menangkap maksud sebenarnya. Komandan sepertinya sangat tidak suka karena kecepatanku yang lamban sempat menghambat pergerakan unit.
2 minggu yang lalu, aku hanyalah seorang gadis 15 tahun yang hidup santai di panti asuhan.
Tentu saja, staminaku sangat memprihatinkan. Komandan Garback ingin memaksaku membangun ketahanan fisik, tetapi karena Gale-san terus-menerus memintaku membantu di unit medis, dia tidak punya kesempatan.
Tampaknya, Komandan yang frustrasi akhirnya mengambil kesimpulan: "Kalau begitu, berlatihlah di sela-sela tugas medismu," dan langsung membebankan menu latihan mandiri kepadaku.
"……Aku akan memanggilmu lagi untuk memeriksa hasil latihanmu. Berani-beraninya kau malas, akan kuhajar kau sampai bentuk wajahmu tidak bisa dikenali."
Sepertinya, mulai sekarang aku sudah tidak punya lagi waktu untuk beristirahat di sela-sela kesibukan unit medis yang padat.
Aku sadar stamina dasar itu penting selama bertugas di garis depan. Tapi, apakah tubuhku ini sanggup bertahan?
"Ah, apa-apaan kau, Cebol. Matamu sudah seperti ikan mati saja."
"……Ha-halo. Anu, Prajurit Dua... Rodry-dono."
"Baru lari begitu saja sudah sekarat. Memalukan sekali."
Setelah menyelesaikan latihan dengan Komandan Garback, aku benar-benar berada dalam kondisi kelelahan yang luar biasa.
Tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan kondisiku lebih akurat daripada itu.
Ini mungkin pertama kalinya aku menghabiskan seluruh tenaga dan semangatku sampai titik nol, termasuk jika menjumlahkannya dengan kehidupanku yang sebelumnya.
"Saya... permisi... duluan."
"Cuih."
Namun, setelah ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku akan mendapatkan waktu tidur yang cukup.
Sebab, Komandan Garback memerintahkanku untuk baru melapor ke rumah sakit lapangan besok pagi pukul 5. Artinya, hanya untuk malam ini, aku boleh tidur nyenyak.
Maafkan aku, para Senior medis yang masih bekerja keras saat ini, tapi izinkan aku beristirahat malam ini saja.
Jika tidak, aku benar-benar bisa mati.
"Touri-chan, selamat istirahat~"
"Selamat... istirahat... Senior Gray..."
"Kau kelihatan habis total ya. Memang Sersan Garback kalau melatih orang nggak kira-kira."
Senior Gray yang berada di dekat Prajurit Dua Rodry mengirimkan tatapan simpatik kepadaku.
Ya, latihan fisik tepat setelah begadang semalaman benar-benar menyiksa. Aku bahkan merasa tidak sanggup lagi menggerakkan satu jari pun.
"Meski sedikit lebih awal, saya... akan mengambil waktu istirahat."
"Ho-oh, tidurlah lebih cepat. Ada satu prajurit baru juga yang sudah istirahat duluan."
Saat aku melirik ke arah parit, prajurit baru yang pendiam itu sudah berbaring.
Kalau tidak salah, dia yang bernama Naridome.
"……Kenapa... harus begini... ……Aku... ……"
Dia meringkuk menghadap dinding parit, terus-menerus menggumamkan sesuatu.
Bahkan saat aku mencoba memberi salam tadi, dia mengabaikanku sepenuhnya.
"……Anu, Naridome-san itu... kenapa?"
"Ah, prajurit baru yang ketakutan memang sering jadi seperti itu. Biarkan saja," jelas Senior Gray dengan tawa kering, seolah sudah paham apa yang ingin kutanyakan.
Suasananya mirip dengan pasien di rumah sakit lapangan yang kehilangan akal sehat dan mengamuk tempo hari.
Karena agak menakutkan, aku akan tidur menjauh darinya.
"Kalau begitu saya permisi, Senior Gray."
"Ya, selamat tidur, Touri-chan."
Aku menyandarkan tubuhku di ceruk kecil parit, di ujung yang berlawanan dengan Naridome.
"……"
Dan setelah itu, aku benar-benar tertidur pulas seperti lumpur.
"……"
────Di sana, sebuah pemandangan yang kurindukan terbentang luas.
Itu adalah pemandangan di tanah kosong sebelah panti asuhan, saat aku sedang kejar-kejaran dengan teman-teman masa kecilku.
Di dalam lingkaran orang-orang yang bermain dengan ceria itu, aku juga bisa melihat sosok Barney.
Ini adalah keseharianku, hingga baru setengah bulan yang lalu.
Tertawa bersama teman-teman panti asuhan, bermain di lapangan yang aman... semua itu dulunya adalah hal yang "wajar".
Namun, baru sekarang aku menyadari bahwa itu adalah 'kedamaian' yang bisa kunikmati hanya karena para prajurit di garis depan mempertaruhkan nyawa untuk menahan musuh.
Aku ingin pulang ke tempat itu.
Aku ingin melarikan diri dari perang ini, membuang segalanya, dan kembali ke panti asuhan itu.
Lalu, meminum sup hangat buatan Ibu Pengasuh dan tidur di tempat tidur yang empuk.
『Itu nggak boleh dong, Touri.』
Namun kemudian, wajah mati Salsa-kun terlintas di benakku.
Sosok Salsa-kun yang meringkuk kesakitan, diselimuti api dan menghitam hangus, muncul dalam flashback, dan suaranya bergema di telingaku.
Hanya dengan melihat wajahnya yang hancur sebelah itu, dadaku terasa sesak dan jantungku berpacu kencang.
Dia mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku, menyelamatkanku.
Namun, karena sihir 【Shield】-ku yang tidak sempurna, dia harus kehilangan nyawanya.
Kematian Salsa-kun adalah kesalahanku. Karena itu, aku tidak boleh meninggalkannya.
Aku tidak boleh pulang sendirian sementara dia dibaringkan di tempat yang sepi ini.
Aku harus berjuang, bahkan untuk bagian Salsa-kun juga.
『Nggak adil kalau cuma kamu sendirian yang mau tenang.』
"────ugh!"
Karena itu, Salsa-kun... setidaknya di dalam mimpi.
Biarkan aku, setidaknya selama istirahat yang singkat ini, memimpikan panti asuhan yang menyenangkan dan hangat.
Setelah terbangun nanti, mulai besok pagi, aku pasti akan berjuang mati-matian lagi.
Jadi, tolong jangan marah. Jangan lakukan hal menakutkan seperti mencengkeram kerah bajuku. Kumohon, tolong────
"……Hah!"
"kh!?"
Aku tersentak bangun karena perasaan ganjil yang luar biasa.
Salsa-kun yang baik hati itu tidak mungkin mencengkeram kerah bajuku dan marah padaku. Itu mustahil.
Salsa-kun yang aku kenal adalah orang yang sopan dan tenang. Kejadian di mimpi itu terasa terlalu salah.
"Heh? E-eh……?"
"Cih."
Seketika aku tersadar: jika Salsa tidak mungkin melakukannya, berarti di dunia nyata memang ada seseorang yang sedang mencengkeram kerah bajuku.
Begitu aku membuka mata, di hadapanku ada wajah seorang pria dengan mata yang merah menyala karena amarah dan nafsu.
"Apa yang──── mmpgh!"
"Berisik, diam kau."
Begitu dia menyadari aku terbangun, dia langsung membekap mulutku dan mencekik leherku.
"Lawan sedikit saja, kubunuh kau. Diam."
...Di dalam kegelapan, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Tapi aku bisa menebak, salah satu anggota peleton menyerangku saat aku sedang terlelap.
Tangan pria itu sudah menyelinap ke balik seragam militerku, menjamah kulit telanjangku.
"……"
Aku terlalu ceroboh. Aku tidak menyangka bisa tertidur begitu lelap sampai tidak menyadari hal ini lebih awal.
Biasanya, aku akan terbangun begitu ada yang menyentuhku, tapi sepertinya kelelahan hari ini benar-benar menguras kewaspadaanku.
Jika aku diam saja... kalau aku tidak melawan, aku bisa dituduh melanggar peraturan militer tentang perzinahan.
Dan lebih buruk lagi, ada kemungkinan aku akan dibunuh untuk menghilangkan bukti pemerkosaan.
"……A-aduh!? Eh, eh, ada apa?!"
"Apa……"
Aku tidak berteriak. Jika aku berteriak, dia mungkin akan langsung menghabisi nyawaku.
Maka, aku merentangkan kakiku dan alih-alih menendang pria yang menindihku, aku menendang siapa pun yang tidur di sebelahku sekuat tenaga. Aku perlu meminta bantuan tanpa menimbulkan keributan yang bisa memicu maut.
Aku mengayunkan kaki yang masih bebas bergerak, menendang orang di sampingku berulang kali agar dia bangun.
"Anu…… Touri-chan? Eh, tunggu, apa yang sedang terjadi?!"
Dilihat dari suaranya, yang tidur di sebelahku adalah Senior Gray.
Setelah beberapa kali tendangan keras dariku, Senior Gray akhirnya menyadari situasi yang tidak beres.
"Woi, kau! Siapa kau, sebutkan unitmu!"
"……Sialan, sudahlah, cih……"
Karena Senior Gray sudah menodongkan moncong senapannya, orang itu melepaskan cengkeramannya di tenggorokanku dengan wajah tidak puas.
Tak lama kemudian, anggota peleton yang lain terbangun. Sinar senter pun diarahkan ke sosok itu.
“────Naridome, kau!”
TN Yomi Novel: diam-diam menghanyutkan bjir
Sosok yang tersorot cahaya adalah dia.
Prajurit baru yang sejak sebelum tidur terus menggumamkan sesuatu dengan aura yang tidak stabil────Prajurit Dua Naridome.
“Jangan bergerak, Naridome. Touri-chan, ke sini.”
“Terima kasih banyak.”
Di bawah moncong senapan Senior Gray, Naridome mendecitkan lidah sambil mengangkat kedua tangannya.
Aku segera merangkak di tanah, meloloskan diri dari bawah pria cabul itu.
Begitu aku berdiri, aku baru menyadari betapa berantakannya pakaianku.
Kemejaku sudah tersingkap sampai ke leher, bahkan celana dan pakaian dalamku pun sudah melorot.
Seberapa lelap aku tertidur sampai tidak menyadari hal sejauh ini?
“Jelaskan apa yang kau lakukan, Prajurit Dua Naridome!”
“……Selalu begini, sudahlah. ……Apa salahnya, di saat terakhir... aku merasakan sedikit kesenangan……”
“Woi, jawab yang benar!”
Sambil merapikan pakaianku yang berantakan, aku bergeser ke belakang Senior Gray.
Aku benar-benar tidak menyangka akan dipandang dengan nafsu seperti itu…… aku sangat lengah.
“Tenanglah, Prajurit Satu Gray. Ini masih malam, kau akan mengganggu unit lain.”
“Ah, Kopral Verdi.”
“Untuk saat ini, biar saya sebagai atasan yang menangani ini. Prajurit Satu Gray, tolong lindungi Touri-san.”
“……Dimengerti.”
Kopral Verdi, pendatang baru yang tampak paling waras itu, maju untuk menenangkan Senior Gray yang nyaris meledak amarahnya dan mengambil alih situasi.
Senior Gray memberi tatapan tajam terakhir pada Naridome sebelum melangkah mundur satu langkah untuk melindungiku.
“Sekarang, aku bertanya sekali lagi. Naridome-kun, apa yang sedang kau lakukan tadi?”
“……Bukan apa-apa.”
Melakukan pelecehan terhadap prajurit wanita di garis depan adalah pelanggaran berat. Jika terbukti melakukan pemerkosaan, hukuman mati sangat mungkin dijatuhkan.
Tindakan yang dilakukan Prajurit Dua Naridome kepadaku adalah kejahatan serius yang membuatnya pantas dihukum tembak.
"Naridome-kun. Jika kau terus bungkam, aku terpaksa harus menahanmu."
"Ah... iya, iya, aku melakukannya... Aku sedang horny, jadi... aku menyentuh tubuh gadis itu..."
"Kau paham bahwa itu melanggar peraturan militer, bukan?"
"……Selama tidak dilakukan sampai 'selesai', tidak masalah, kan? Kopral pun kalau sedang hari libur juga pergi membeli wanita, kan……"
"Prostitusi tidak melanggar peraturan militer. Saat ini, aku sedang menginterogasimu terkait tindakan asusila terhadap seorang prajurit wanita."
"Cih…… padahal cuma menyentuh saja……"
Prajurit Dua Naridome—pria yang menyerangku—menjawab cecaran pertanyaan Kopral Verdi tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Namun, anehnya, tidak ada rasa gelisah sama sekali di matanya.
"Ah, benar juga. Aku itu sebenarnya diajak oleh gadis itu……"
"Apa?"
"Apa yang terjadi barusan itu atas persetujuan bersama, ya. Kalau begitu, aku bebas dari hukuman, kan? Aduh…… siapa tadi namamu, Medis-chan?"
Yang terpancar di mata Naridome adalah sebuah kepasrahan yang kelam.
Dia telah kalah oleh ketakutan di medan perang, menyerah untuk bertahan hidup, dan menjadikanku sebagai "hadiah perpisahan" dalam perjalanannya menuju neraka.
"Medis-chan, kemarin sore kau mengajakku, kan? Mengajakku melakukan hal mesum bersama."
"Fakta semacam itu tidak pernah ada."
"Tidak, tidak, kau mengajakku. Ah, jadi maksudmu kau sedang menjebakku? Kau membuatku bergairah lalu membiarkanku menyerangmu, tapi begitu ketahuan kau malah pura-pura tidak tahu. Kau benar-benar orang yang menjijikkan."
"Prajurit Dua Naridome. Aku sendiri yang memastikan bahwa dia langsung tidur setelah kembali dari latihan. Laporan palsu bisa membuatmu dieksekusi!"
"Cih……"
Wajah Naridome saat mencoba berkelit itu sudah tidak tampak waras lagi.
Dia terus menebar kebencian kepadaku karena telah menolak persetubuhan itu, sembari menyunggingkan senyum yang menjijikkan.
Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang tertangkap basah melakukan kejahatan dan sedang membela diri.
"Begitulah kesaksian dari Prajurit Satu Gray. Naridome-kun, apakah kau baru saja memberikan laporan palsu kepada atasan?"
"……Padahal sampai kemarin dia asyik bermain santai di unit belakang yang aman. ……Baru disentuh sedikit oleh kami yang sudah berjuang mati-matian saja, lagaknya sudah seperti korban paling menderita."
"Jadi tidak ada pembelaan? Kalau begitu, aku akan menahanmu dan kita tunggu keputusan Komandan besok pagi."
"Ah... aku bakal mati. Gara-gara kau, aku bakal dibunuh."
Saat Kopral Verdi hendak memborgol tangan dan kakinya, dia tidak melawan. Dia hanya terus menghujamku dengan tatapan penuh dendam.
……Kurasa aku tidak pantas menerima tatapan seperti itu.
"Padahal kalau kau mau bekerja sama mencocokkan cerita, aku tidak akan mati. Ah, sialan... Hei, bagaimana rasanya menjadi tenaga medis tapi malah membunuh orang?"
"Jangan didengarkan, Touri-chan. Dia sudah tidak waras."
"Lagipula, perempuan yang berani maju ke garis depan tapi menolak 'dijahili' itu kan aneh... Sebenarnya, tidak ada gunanya menaruh perempuan di garis depan kalau bukan untuk hiburan kami, kan……"
Dia terus melontarkan kata-kata penuh kebencian itu kepadaku sebagai bentuk pelampiasan.
Namun, jika aku mengikuti kebohongannya, justru aku yang akan dihukum karena tuduhan menggoda pria, jadi aku tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Dasar pembunuh…… kalau saja kau mengerti maksudku, hal seperti ini tidak akan terjadi……"
"Woi Naridome, bajingan! Kalau kau bicara satu kata lagi, akan kutembak kau di tempat!"
"Lho──? Mengeksekusi orang tanpa konfirmasi atasan... Komandan Regu Allen? Itu namanya melanggar peraturan militer lhooo……?"
"Touri-chan, jangan dipikirkan. ……Tenang saja, kau tidak salah apa pun."
"Baik, terima kasih banyak, Senior Gray."
Senior Gray maupun Senior Allen melindungi dan membelaku dengan sangat sensitif.
Mungkin mereka khawatir aku akan merasa sangat trauma atau sakit hati karena kejadian ini.
Namun, pada saat itu, aku justru merasa sangat hampa.
Sebelumnya, Kepala Medis Gale pernah memberitahuku bahwa "pelecehan seksual terhadap prajurit wanita sangat sering terjadi di garis depan," jadi aku sudah menyiapkan mental.
Karena di kehidupan sebelumnya aku adalah seorang laki-laki, disentuh seperti itu memang menjijikkan, tapi bukan berarti aku tidak bisa memahami dorongan tersebut.
Terhadap pria bernama Naridome ini pun, alih-alih benci, aku justru merasa kasihan padanya.
"……Dasar pembunuh."
"……"
Bahkan kutukan yang ia lontarkan hanya terasa seperti kualat yang ia undang sendiri.
Tak peduli seberapa besar dendam yang ia tumpahkan, kata-katanya tidak ada yang merasuk ke dalam hatiku.
"Kalau aku mati, aku akan mendendam padamu……! Aku akan jadi arwah penasaran dan mengutukmu seumur hidup, dasar pembunuh!"
"Bodoh. Di garis depan, pembunuh adalah orang yang paling hebat, tahu."
"────ugh!"
Meski sudah ditahan oleh Kopral Verdi dan ditodong moncong senapan, ia tetap memuntahkan makian kepadaku.
Namun, ia langsung terbungkam saat sebuah tangan raksasa tiba-tiba muncul dari kegelapan dan mencengkeram wajahnya.
……Ah.
"Jadi si bodoh ini yang berani mengganggu tidur nyenyakku?"
"Ko-Komandan……"
"Ah, benar-benar tidak tertolong lagi."
Sudah bisa ditebak, itu adalah Sersan Garback.
Tampaknya ia terbangun karena keributan percobaan pemerkosaan ini; sang Komandan turun ke parit dengan suara yang terdengar sangat tidak bersahabat.
"Se-selamat pagi, Komandan."
"Ini masih tengah malam, tahu."
"A-anu, itu, anu. Kalau begitu Komandan, izinkan saya melaporkan situasi saat ini."
"Tak perlu, aku sudah dengar."
Senior Gray yang mencoba melapor dengan gemetar langsung terdiam setelah dibentak.
Ah, gawat. Itu adalah mata seorang pembunuh. Hatiku yang tadinya hampa seketika mendingin dengan cepat.
Mata Prajurit Dua Naridome saat menindih dan mengancamku tadi memang menakutkan, tapi mata Komandan Garback yang baru bangun tidur ini 100 kali lipat lebih mengerikan.
"Oi, Naridome."
"Sakit... sakit... Tolong lepas... wajahku..."
"Sebutkan pesan terakhirmu sekarang. Dalam 10 detik, aku akan memenggal lehermu."
"Hieee!?"
Dan tanpa ragu sedikit pun, Komandan menghunus pedangnya.
Ah, beliau sungguh-sungguh. Di unit pimpinan Garback yang sangat ketat aturan militer ini, melakukan hal semacam itu tentu saja berujung pada eksekusi.
"Tidak mau! Jangan bercanda! Mana pengadilan militernya────"
"Jadi itu pesan terakhirmu. Akan kusampaikan kata demi kata tanpa meleset sedikit pun kepada keluargamu."
"Sialan, kau monster pembunuh...!!"
Sersan Garback tetap mencengkeramnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menodongkan pedang tepat ke arah tenggorokan Naridome.
Sebentar lagi, leher pria itu akan terputus. Namun, aku sama sekali tidak merasakan simpati padanya.
"Akan kutambahkan catatan pada surat kematianmu: 'Orang ini datang ke garis depan hanya untuk menyusahkan rekan seperjuangan, tidak memberi keuntungan apa pun bagi negara, dan mati terbunuh dengan sia-sia'."
"Hentikan────"
Karena aku tidak ingin melihat saat-saat nyawa seseorang direnggut, aku memalingkan wajah dalam diam.
Aku tidak yakin dia adalah orang jahat sejak awal. Pasti tempat inilah yang telah merusak kepribadiannya.
Seandainya pertemuanku dengannya terjadi di kehidupan sehari-hari yang normal, bukan di medan perang seperti ini... entah akan jadi seperti apa hubungan kami nantinya.
"Tu-tunggu sebentar, Komandan. Dalam situasi perang saat ini, rasanya sangat disayangkan jika kita mengurangi nyawa prajurit secara sia-sia."
"Hah?"
Di saat seluruh anggota peleton hanya bisa terpaku menonton tanpa berani menghentikan sang Sersan, ada seseorang yang entah didorong rasa keadilan atau sekadar nekat, berani menyela tindakan Komandan.
"Kopral Verdi, kau mengatakan sesuatu?"
"Maksud saya, Komandan, bukankah tidak perlu sampai membunuhnya? Kejadian ini berakhir sebelum terjadi hal yang lebih jauh, dan dia pun sedang dalam kondisi terdesak secara mental."
"Aku tidak peduli. Peraturan tetaplah peraturan, dan dalam kasus ini, eksekusi adalah tindakan yang paling tepat."
Kopral Verdi—atasan baru yang baru saja masuk ke peleton ini, ternyata punya nyali juga.
"Tetapi, meskipun ada niat melanggar peraturan militer, jika tindakan tersebut berakhir sebagai percobaan saja, atasan langsung memiliki wewenang untuk meringankan hukuman."
"Kenapa aku harus meringankan hukumannya?"
"Karena jumlah prajurit di garis depan sudah tidak mencukupi. Daripada membunuhnya di sini, mendidik dan membimbingnya kembali akan jauh lebih menguntungkan bagi militer."
"Rekan yang beracun itu jauh lebih berbahaya daripada musuh."
……Dia bilang "percobaan", tapi sejujurnya, aku sudah diraba di banyak bagian. Lihat saja betapa berantakannya pakaianku. Di sekitar dadaku juga terasa... lengket dan menjijikkan.
"Sersan, Anda terlalu meremehkan nyawa bawahan Anda. Ini baru pelanggaran pertamanya, jadi berikanlah bimbingan yang tepat dan—"
"Aku tidak sudi memercayakan punggungku pada orang yang mengambil tindakan yang merugikan rekannya sendiri. Ada kemungkinan dia akan menembakku dari belakang."
"Hanya karena seorang pria sekali saja kalah oleh nafsu, apa masalahnya? Jika Anda benar-benar berniat memenggal kepalanya sekarang juga────"
Kopral Verdi membalas dengan nada bicara yang kasar, menantang Garback habis-habisan.
Sejujurnya, aku tidak mengerti dari mana dia mendapatkan keberanian sebesar itu.
Aku saja, hanya ditatap oleh Komandan Garback yang sedang bermasalah begini, sudah merasa tulang punggungku membeku.
"Akan kulaporkan detail kejadian ini kepada Paman."
"……"
Mendengar kata-kata Kopral Verdi, gerakan Komandan langsung terhenti.
……Melaporkan kepada Paman?
"Yang Mulia Renvel sangat mengkhawatirkan kekurangan pasukan saat ini."
"Lalu?"
"Saya sudah sering mendengar rumor tentang Anda, Sersan. Baik yang bagus, maupun yang buruk."
Kata-kata itu sepertinya berbobot sangat berat bagi Garback, hingga ia terdiam kaku sesaat.
Kemudian, ia melepaskan cengkeramannya dari wajah Naridome dan berbalik menatap Kopral Verdi dengan wajah tanpa ekspresi.
"Jika rumor yang buruk itu... yaitu tindakan terus-menerus yang terlalu meremehkan nyawa bawahan terbukti benar, maka penilaian terhadap Anda harus ditinjau kembali secara proporsional."
"Hmph, jadi kau ini semacam anjing penjaga, ya? Memuakkan."
"Mengeksekusi bawahan yang secara hukum militer bisa diringankan hukumannya adalah bentuk pengabaian nyawa. Segera ubah keputusan Anda."
Perkataan Kopral Verdi sudah benar-benar melewati batas posisinya sebagai bawahan.
Ia melontarkan kata-kata yang nyaris terdengar seperti perintah langsung kepada Garback.
"……Kau sudah bicara sejauh itu. Pastikan kau sendiri yang bertanggung jawab mendidiknya dengan benar."
"Tentu saja."
"Begitu si brengsek ini berulah lagi, kau juga akan menerima hukuman yang sama sebagai bentuk tanggung jawab atasan. Paham, Verdi?"
"……Ya."
Suara Sersan saat itu begitu dingin hingga membuat bulu kuduk berdiri.
Namun, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, sang Komandan berbalik dan kembali ke tendanya.
"Fuuh... Nah, sekarang waktunya kita bicara empat mata, Naridome-kun."
Kesimpulannya, dia────berhasil menghentikan amukan Komandan Garback.
【17 April, Pagi】
"Pamanku bernama Renvel, beliau adalah komandan tertinggi di Front ini."
Pagi hari setelah kejadian yang membekukan darah itu, kami mendengarkan latar belakang Kopral Verdi dan akhirnya memahami alasan mengapa Komandan Garback memilih mundur tadi malam.
"Prestasi Sersan Garback memang luar biasa, namun di saat yang sama, rumor gelap tentang dirinya yang membuang-buang nyawa bawahan tidak pernah berhenti terdengar."
"E-eh, anu, yah... begitulah."
"Masalahnya, tidak ada prajurit di posisi yang sanggup melaporkan apakah rumor itu benar atau tidak. Karena itulah, atas permintaan seseorang, aku datang ke sini untuk menyelidiki detailnya."
Kopral Verdi ternyata baru saja lulus dari akademi militer dan baru ditugaskan ke garis depan bulan ini.
Jika hanya melihat waktu bergabungnya, dia bisa dibilang satu angkatan denganku.
"Dalam waktu setengah tahun, pangkatku akan melampaui Sersan Garback. Pihak sana pun pasti tidak akan bisa lagi bersikap keras."
Kopral Verdi menjalani dinas di garis depan ini hanya sebagai salah satu syarat dalam prosesnya menjadi perwira staf.
Katanya, setelah berpengalaman selama 6 bulan di sini, dia akan naik pangkat dan menunjukkan kemampuannya sebagai komandan.
"Ke depannya, jika ada instruksi atau hukuman dari Sersan yang jelas-jelas tidak masuk akal, silakan konsultasikan kepadaku. Bergantung pada situasinya, aku bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadanya."
"……Itu sangat membantu, tapi—"
"Naridome-kun, ikut aku sebentar. Hari ini, aku akan memberikan bimbingan yang serius kepadamu."
Melihat Kopral Verdi yang membusungkan dada dengan bangga, para senior hanya bisa menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Sejujurnya, aku pun merasakan hal yang sama.
Jika ditanya apakah pemuda yang tampak kurang meyakinkan di depan kami ini sanggup menjinakkan Sersan Garback yang mengerikan itu……
Kurasa mustahil, bukan?
"Anu, Kopral? Yah, baiklah... mari kita bersikap moderat"
“...? Apa”
Lagipula, aku tidak bisa melepaskan firasat bahwa Komandan hanya mundur sejenak di tempat itu, dan pembalasan yang mengerikan di luar imajinasi pasti akan menimpa Kopral Verdi.
Jika Naridome melakukan kesalahan yang sama, aku yakin Komandan tidak akan ragu melakukan eksekusi mati terhadap Kopral Verdi juga dengan alasan tanggung jawab komando.
"Prajurit Medis Dua Touri, tolong maafkan dia juga, ya. Kejadian kemarin itu ibaratnya 'bom waktu umum' yang dimiliki oleh semua laki-laki."
"……H-hah?"
"Mulai sekarang kita adalah rekan yang berjuang bersama, kita adalah keluarga. Jangan membenci atau menjauhinya, tetaplah menjalin hubungan yang baik dengannya."
Tanpa menyadari tatapan penuh arti dari para senior, Kopral Verdi menasihatiku dengan wajah tersenyum ramah.
Benarkah kata-kata seperti itu pantas diucapkan kepada korban percobaan pemerkosaan?
……Lagipula, jangankan kepada Prajurit Dua Naridome, aku memang tidak berniat untuk akrab dengan siapa pun di sini.
"Kalau begitu, mari kita menuju sesi taklimat. Kita tidak boleh terlambat."
Awalnya aku mengira Kopral Verdi adalah orang yang paling waras di sini.
Namun, sepertinya dia pun memiliki sisi kepribadian yang... agak unik.
"……Senior Gray, soal yang kemarin itu, saya minta maaf karena sudah menendang Anda. Dan, terima kasih banyak karena sudah menolongku."
"Hm? Oh, tidak apa-apa. Lagipula, kau pasti takut sekali, kan?"
Dan setelah itu:
"Tidak, saya tidak merasa takut. Begitu mendengar suara Senior, saya merasa sangat tenang."
"Oh, benarkah? ……Hm. Jangan-jangan, ini artinya aku sedang diajak oleh Touri-chan untuk────"
"Kalau kejadiannya berturut-turut setiap hari, kurasa Kopral Verdi pun tidak akan bisa melindungimu lagi. Jadi, tolong jaga dirimu baik-baik, Senior."
"Ba-baiklah..."
Aku memastikan untuk menyampaikan rasa terima kasihku kepada Senior Gray dengan benar.
Meski aku tidak berniat menjalin keakraban dengan anggota peleton, tata krama tetaplah hal yang krusial.
【17 April, Siang】
Setelah pengarahan selesai, Komandan Garback memerintahkanku untuk kembali ke rumah sakit lapangan.
Pagi ini, raut wajah Komandan benar-benar tidak bersahabat; tatapan matanya yang tajam seolah ingin menembak mati Naridome dan Kopral Verdi.
"Terjadi serangan besar-besaran lagi di garis depan bagian selatan."
"……"
Begitu tiba di rumah sakit lapangan, yang menantiku adalah pemandangan mengerikan: jumlah pasien yang membeludak hingga meluap dari tempat tidur yang tersedia.
Seingatku tidak ada pertempuran besar di sekitar sini kemarin... namun kudengar mereka dipindahkan dari sektor selatan.
"Maaf mendadak, Touri-chan. Sesi pemeriksaan sudah dimulai, segera menuju ke bangsal D sekarang juga."
"Siap, dimengerti."
Garis depan pertempuran yang membentang hampir 100 kilometer ini terbagi menjadi Angkatan Utara, Angkatan Selatan, dan Angkatan Pusat.
Unit medis pun masing-masing telah mendirikan rumah sakit lapangan di garis belakang setiap angkatan.
Seharusnya, korban luka dari Angkatan Selatan menjadi tanggung jawab medis sektor selatan... namun sepertinya situasinya sudah di luar kendali.
"Kami sendiri bukannya sedang santai, tapi kondisi di Selatan sepertinya jauh lebih parah."
Unit medis pun masing-masing telah mendirikan rumah sakit lapangan di garis belakang setiap angkatan.
Seharusnya, korban luka dari Angkatan Selatan menjadi tanggung jawab medis sektor selatan... namun sepertinya situasinya sudah di luar kendali.
"Kami sendiri bukannya sedang santai, tapi kondisi di Selatan sepertinya jauh lebih parah.”
Markas Medis Pusat tempatku bernaung adalah yang terbesar dalam hal skala. Karena itulah, jika korban luka di sektor Selatan atau Utara sudah meluap, mereka akan dievakuasi ke sini.
"Akhir-akhir ini, aku merasa serangan musuh semakin mengganas. ……Touri-chan, tolong berhati-hatilah."
"Ya, terima kasih."
Kudengar tadi malam di garis depan sektor selatan terjadi serangan besar yang menelan banyak korban jiwa.
Akibatnya, tentara kita menderita kerugian besar dan terpaksa memundurkan garis pertahanan sekitar beberapa puluh meter.
"Touri-chan, berjuanglah sedikit lagi untuk bertahan hidup, ya."
"……? Baik, saya akan berusaha semaksimal mungkin."
Perebutan wilayah yang mempertaruhkan nyawa manusia tak terhitung jumlahnya sebagai chip taruhan.
Bagaimana bisa para petinggi militer begitu meremehkan nyawa orang?
Mengorbankan 1.000 nyawa hanya untuk mendapatkan jarak yang jika ditempuh dengan berlari hanya butuh 20 langkah... itu benar-benar tidak waras.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Kepala Medis Gale."
"Ya, sebentar lagi semuanya akan selesai."
Sambil memikirkan hal itu, aku memantapkan hati untuk setidaknya menyelamatkan sebanyak mungkin pasien di depanku.
Namun tepat saat itu, aku mendengar suara menyeramkan dari belakangku, terdengar seperti sebuah kutukan.
"Sebentar lagi, segala tindakan keji iblis itu akan terungkap……"
"……Eh?"
Mendengar kata-kata janggal itu, aku spontan menoleh. Namun, Gale-san hanya berdiri di sana dengan senyum ramah yang biasanya.
Tertekan oleh senyumannya yang seolah tak mengizinkan pertanyaan lebih lanjut, aku pun terpaksa menuju pos tugasku tanpa sempat menanyakan apa pun.
"……Begitulah kejadian yang saya alami."
Rumah sakit lapangan, meski berada di wilayah perang, memiliki populasi wanita yang tergolong tinggi.
Perbandingan medis pria dan wanita hampir seimbang, bahkan jumlah perawat wanita jauh lebih banyak daripada pria.
"Ugh, gila ya. Parah banget."
"Yah, sudah ketebak sih. Orang-orang di garis depan itu menganggap kita perempuan cuma sebagai mangsa."
Di sela-sela waktu senggang, aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan para senior medis dan perawat wanita.
Topiknya tentu saja: bagaimana cara menghadapi pelecehan seksual dari pria di unit sendiri.
"Kalau cuma disentuh, mungkin aku masih bisa menahannya. Tapi kalau sampai dibunuh, aku tidak mau. Tadi malam, nyawaku hampir melayang."
"Jujur saja, aku disentuh sedikit pun ogah. Orang-orang garis depan itu baunya minta ampun."
"Aaah, menjijikkan."
"Apa tidak ada solusi untuk masalah ini?"
Mendengar ceritaku semalam, para senior alih-alih terkejut, mereka justru bereaksi seolah berkata, 'Ah, itu sudah biasa terjadi.' Sepertinya, mereka pun sudah kenyang dengan pengalaman serupa.
"Begini ya, paling aman itu kau cari pacar di dalam peletonmu. Pacar yang punya posisi, kalau bisa."
"……Pacar, ya?"
"Kenapa tidak coba merayu komandanmu saja? Kalau kau jadi 'wanita simpanan' atasan, mereka pasti akan berpikir dua kali sebelum menyentuhmu."
"Duh, tapi aku malas kalau punya pacar tentara penyerbu. Mereka kan cepat mati."
"Justru karena itu, tidak akan ada masalah berkepanjangan kan kalau mereka mati?"
"……"
...Saran itu memang masuk akal, tapi aku merasa enggan untuk mencari pacar.
Mengingat jenis kelaminku di kehidupan sebelumnya, aku belum bisa memandang pria dengan cara seperti itu.
Memang benar, jika aku menjadikan Komandan Garback sebagai pacar(?), sepertinya tidak akan ada yang berani menyerangku.
Tapi membayangkan pria kasar itu jadi kekasih... sama sekali tidak terbayang. Malah, aku ngeri duluan.
Lalu, Kopral Verdi... dia memang tidak terlihat akan main fisik, tapi dia agak "begitu".
"Lagipula, meskipun dia punya pacar, prajurit baru yang mentalnya sudah rusak tidak akan peduli dan tetap menyerang, kan?"
"Benar juga. Kalau diserang saat tidur oleh orang yang sudah putus asa begitu, tidak ada gunanya punya pacar. Kenapa tidak lapor ke atasan saja supaya orang itu dijauhkan?"
"Atau, meski harus berjalan sedikit lebih jauh, kau bisa minta izin agar tempat tidurmu dipindahkan ke rumah sakit lapangan saja, Touri-chan."
"Masalahnya, apakah Komandan akan mengizinkannya? Itu dia."
Tidur di rumah sakit lapangan? Rasanya mustahil diizinkan.
Jika tiba-tiba terjadi pertempuran defensif, entah berapa lama waktu yang terbuang hanya untuk aku berlari ke posisi unitku jika aku tidur di sini.
"Lagian, tempat tidur di rumah sakit pun belum tentu aman. Aku pernah diserang pasien saat sedang tidur."
"……Eh?"
"Digerayangi saat pemeriksaan itu sudah jadi makanan sehari-hari. Mereka sengaja menempelkan tangan ke dada dengan alasan medis, padahal sudah jelas niatnya apa. Benar-benar transparan."
"Yah, karena mereka toh bakal mati, kadang aku membiarkannya saja... tapi tetap saja rasanya menjijikkan."
Tampaknya para senior sudah sangat terbiasa dengan perilaku pelecehan dari para prajurit.
Anehnya, aku sendiri belum pernah mengalami hal separah itu sampai semalam.
"Ya iyalah. Dengan usia Touri-chan, paling hanya orang dengan selera 'khusus' yang berani menyentuhmu."
"Kau memang manis, tapi fisikmu tidak terlalu memicu gairah seksual mereka."
"Tipe yang lebih cocok dijadikan anak atau adik. Apalagi kau penurut."
"Ha-hah..."
...Ternyata selama ini aku jarang dilecehkan karena penampilanku yang "menyelamatkan".
Sudahlah usiaku baru 15 tahun, batas usia minimum untuk wajib militer, sejak dulu aku memang selalu terlihat lebih muda dari umur asliku.
Dengan tubuh yang mungkin masih bisa dikira anak SD yang bongsor, wajar jika para prajurit merasa ragu untuk macam-macam.
Namun, jika beberapa tahun lagi tubuhku tumbuh dewasa, apakah aku juga akan menerima perlakuan yang sama?
"Pokoknya, waspadalah pada pria lolicon yang menyerangmu semalam. Orang seperti itu pasti akan mengulanginya lagi."
"Untuk sementara, tidurlah di samping orang yang sekiranya bisa melindungimu."
"Baik, saya mengerti."
Orang yang bisa melindungiku.
...Di benakku terlintas wajah Senior Gray yang agak genit, atau Senior Allen yang sudah veteran dan pembawaannya tenang.
Kedepannya, aku akan meminta izin pada salah satu dari mereka untuk tidur di samping mereka.
"Yah, tenang saja. Paling buruk kalau kau sampai hamil, menurut aturan militer kau bakal dikirim ke garis belakang sebelum mencapai bulan tua."
"……"
"Jadi, kalau sudah tidak ada jalan keluar, tidak melawan pun bisa jadi salah satu pilihan."
Kalau dipikir-pikir, memang benar prajurit wanita yang hamil akan dipindahkan ke unit belakang.
Karena populasi negara ini sedang menyusut, wanita hamil diperlakukan dengan sangat istimewa.
"Apakah sebelumnya ada orang yang seperti itu?"
"Ada. Tapi dia keguguran karena kelelahan bekerja di unit medis, lalu bunuh diri karena syok."
"……"
Yah, dengan kondisi kerja seberat ini, keguguran memang sangat mungkin terjadi.
Aku baru saja mendengar cerita yang sangat tidak menyenangkan.
"Ngomong-ngomong Touri-chan, apa kau punya pacar di kampung halaman?"
"Sudah punya pengalaman?"
"Ah, tidak. Saya belum..."
"Orang-orang di garis depan sepertinya memang akan menghadapi hari di mana mereka benar-benar diserang. Kalau belum punya pengalaman, lebih baik cari orang baik dan 'buang' saja pengalaman pertamamu dulu."
"Kalau di lingkungan medis, rekomendasi dariku sih si Kepala Bagian. Keluarganya kaya raya!"
Dan tanpa mendapatkan informasi yang benar-benar berguna, para senior pun beralih ke gibah soal asmara.
Ini adalah garis depan peperangan; barang hobi atau barang mewah hampir tidak pernah dipasok.
Oleh karena itu, sepertinya hiburan satu-satunya bagi para wanita di unit medis hanyalah topik-topik semacam itu.
"Sebenarnya, ada dunia dewasa yang bisa menghasilkan banyak uang juga, lho... Tapi mungkin bagi Touri-chan masih se-di-kit terlalu dini, ya?"
"Hei, jangan ajak dia ke sana. Kau pikir berapa usia gadis ini?"
"……"
Akhirnya, aku menyadari bahwa rumor yang dikatakan Senior Gray tentang "petugas medis yang menjual diri" tampaknya benar adanya.
Orang ini... sepertinya dia juga melakukannya.
"Kalau tertarik, nanti kukenalkan pada orang yang kelihatannya aman, ya~"
Sepertinya aku salah memilih orang untuk berkonsultasi.
Aku benar-benar berpikir begitu dari lubuk hatiku yang terdalam.
Lalu, mungkin sekitar waktu senja pada hari itu...
"Laporan segera! Terjadi serangan musuh di garis depan! Seluruh personel, segera masuk ke posisi siaga!"
"……"
Sirine peringatan menggema di seluruh penjuru rumah sakit lapangan.
Entah harus kusebut ini serangan bertubi-tubi yang tak membiarkan kami bernapas atau apa, tapi sepertinya negara musuh kembali melancarkan ofensif hari ini.
"Lagi?! Tempat tidur saja sudah tidak ada yang tersisa, tahu!"
Kepala Medis Gale berteriak frustrasi. Bagaimana pun juga, intensitas serangan belakangan ini benar-benar tidak wajar.
Mungkinkah pihak musuh sudah mulai habis kesabaran dan berniat merangsek maju sekaligus untuk mengakhiri semuanya?
"Prajurit Dua Medis Touri! Komandan Garback memerintahkanmu untuk segera kembali ke unit!"
"Siap, dimengerti."
Karena sudah berubah menjadi pertempuran defensif, aku dipanggil kembali ke garis depan.
Ternyata, selama ini aku bisa tetap bekerja di rumah sakit saat ada serangan hanyalah berkat negosiasi Nona Gale; bukan berarti bekerja di rumah sakit memberiku hak istimewa untuk absen dari pertempuran.
"Touri-chan, jangan panik. Periksa perlengkapanmu dengan teliti sebelum berangkat. Lagipula, beberapa jam ke depan biasanya hanya akan ada baku tembak meriam saja."
"Baik, Kepala Medis Gale."
Saat itu, suara ledakan sudah mulai bergemuruh dari garis depan yang jauh. Entah ini hal yang patut disyukuri atau tidak, tapi aku punya cukup waktu hingga serangan artileri ini mereda.
Waktu yang lebih dari cukup bagi diriku yang berada di rumah sakit untuk berlari menuju garis depan.
"……"
Serangan musuh perlahan-lahan mulai meningkat intensitasnya.
Mungkinkah musuh juga merasa terdesak?
Mungkin mereka memaksakan serangan ini untuk mengakhiri perang yang tak kunjung usai ini.
Jika memang begitu... mungkinkah sebentar lagi akan terjadi sesuatu seperti 'menggeser garis depan ke titik yang disepakati lalu melakukan gencatan senjata'?





