Front Barat 2
【17 April, Sore】
Lokasi di mana Peleton Garback ditempatkan adalah titik di mana serangan paling sengit diperkirakan akan terjadi... tepat di depan garis tembak artileri musuh.
Di tengah suara tembakan yang menggema hanya puluhan meter di depan, aku berlari sambil merangkak di dalam parit yang dipenuhi kepulan debu tanah.
"Prajurit Dua Medis Touri Noel, melapor. Saya telah tiba."
"Lama sekali, hah?! Kubunuh kau!"
"Mohon maaf sebesar-besarnya."
Saat aku tiba, anggota peleton sudah menyelesaikan persiapan tempur mereka.
Seperti yang diharapkan dari unit elite, pergerakan mereka sangat cepat.
Meski begitu, aku sedikit terusik melihat memar besar di wajah kedua prajurit baru itu.
"Touri. Begitu aku terluka, segera obati. Selain itu, kau mendekam saja di lubang sana sambil gemetar."
"Dimengerti."
Sepertinya tugasku masih sama seperti sebelumnya; menjadi "kotak P3K berjalan" khusus untuk Komandan Garback.
Jika Komandan memutuskan untuk merangsek maju, aku pun harus ikut melongokkan kepala dari parit.
Kuharap tidak ada peluru atau granat yang terbang ke arahku.
……Ah, benar juga.
"Komandan, ada yang ingin saya laporkan."
"Apa?"
"Karena baru saja selesai bertugas di rumah sakit, Mana saya sudah terkuras. Berdasarkan sisa yang ada, saya hanya bisa menggunakan sihir penyembuhan 1 kali saja."
"……Cih, baiklah."
Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku kini menerapkan prinsip Horenso (Lapor, Hubungi, Konsultasi) secara rutin.
TN Yomi Novel:Horenso (ホウレンソウ): Singkatan dari Hokoku (Lapor), Lianraku (Hubungi), dan Sodan (Konsultasi). Ini adalah etika komunikasi dasar dalam dunia kerja (dan militer) Jepang agar informasi mengalir lancar.
Hal-hal mendetail seperti ini harus dilaporkan dengan benar. Aku benar-benar sudah kapok dibentak dan disiksa sebagai hukuman.
"Lain kali, sisakan cadangan Mana-mu."
"……Baik, saya akan berusaha semaksimal mungkin, Komandan."
Aku mencoba menjawab sekenanya, meski dalam hati aku tahu itu mustahil.
Selama bertugas di rumah sakit, aku dipaksa menggunakan sihir penyembuhan terus-menerus hingga Mana-ku benar-benar habis tak bersisa.
Sebenarnya saat ini pun Mana-ku sudah kering, tapi sepertinya menjelang serangan musuh dimulai nanti, aku bisa memulihkannya sedikit sampai setidaknya cukup untuk satu kali penggunaan.
"Selain itu, tampaknya kapasitas Mana saya sudah berkembang. Saat Mana penuh, saya kini bisa menggunakan sihir penyembuhan hingga 3 kali berturut-turut."
"Oh, begitu."
Setelah diberitahu oleh Kepala Bagian tempo hari, aku baru menyadari kalau jumlah penggunaan sihirku meningkat. Jadi, aku sekalian melaporkannya juga.
……Meski begitu, menggunakan sihir tiga kali berturut-turut bukanlah angka yang bisa dipamerkan. Rata-rata petugas medis pada umumnya bisa menggunakannya lima sampai enam kali.
Walaupun si Kepala Bagian sempat memujiku dan bilang kalau aku punya potensi karena angka itu cukup tinggi untuk ukuran pemula.
"Sudah selesai laporannya? Kalau begitu, segera masuk ke posisi."
"Dimengerti."
Yah, dengan begini tidak ada laporan yang terlewat, kan?
Harusnya sih tidak ada. Sekarang, sesuai instruksi Komandan, aku tinggal mendekam sambil gemetar ketakutan di dalam parit sampai beliau terluka.
"Musuh mulai merangsek maju!"
"Bagus. Semuanya, bersiap!"
Sekitar 1 jam setelah aku tiba di pos, baku tembak meriam terus berlanjut hingga akhirnya serangan infanteri musuh dimulai.
Meski rekan-rekan kami sudah berjuang mati-matian, parit lapis pertama dan kedua akhirnya berhasil ditembus.
Sepertinya karena tembakan meriam pembuka hari ini berlangsung cukup lama, unit pertahanan kami di depan sana hampir tidak ada yang selamat.
Musuh menyerbu ke arah parit lapis ketiga yang kami jaga tanpa menderita kerugian yang berarti.
"Tembak! Tembak terus! Biarkan mereka menyesal karena sudah berani menyerang parit yang dijaga peletonku!"
"Siap, Komandan!"
"Mati kalian semua!! Dasar iblis-iblis Sabbath!!"
Namun, mulai dari lapis ketiga ini, perlawanan dari pihak Austin semakin sengit. Karena parit lapis ketiga berada di luar jangkauan efektif artileri, unit-unit pertahanan yang masih utuh seperti kami masih bisa bertahan di sini.
Di hadapan badai peluru yang rapat, para prajurit Sabbath satu per satu bertumbangan ke tanah.
"Hya-hahaha!! Habisi semuanya!"
"Ingat, Rekrutan! Jangan berteriak kalau suara tembakan musuh saja tidak kedengaran!"
"Aduh!!"
Melihat musuh-musuh berjatuhan, Rodry, si rekrutan baru yang bermulut kotor berteriak kegirangan, tapi ia langsung dipukul oleh Komandan. Bodoh sekali dia.
Meski begitu, aku heran, mengapa musuh masih terus menyerbu sampai lapis ketiga padahal kerugian mereka terus bertambah?
Bukankah lebih efisien jika mereka berhenti menyerang setelah berhasil mengamankan dua lapis parit?
"Sabbath memang hebat, ya. Bisa membuang-buang nyawa prajurit semudah itu."
"Mungkin rumor kalau manusia bisa dipanen dari ladang di sana itu memang benar."
Selama beberapa puluh menit sejak pertempuran pecah, hanya suara rentetan tembakan yang terus membahana.
Meski sudah tak terhitung berapa banyak prajurit Sabbath yang kami tembak mati, tanda-tanda serangan mereka akan mereda sama sekali tidak terlihat.
Dengan menginjak mayat rekan mereka yang masih kejang-kejang, musuh terus merangsek maju menuju parit yang kami jaga meski harus membayar harga yang sangat mahal.
"Komandan! Parit di sebelah kanan sepertinya akan jatuh!"
"Cih! Malyu, Gray, jaga sisi kanan parit!"
Akhirnya, prajurit Sabbath berhasil menyusup ke parit di sebelah kanan kami.
Dalam perang parit, jatuhnya titik yang berseberangan adalah situasi yang sangat gawat.
Alasannya, ada kemungkinan musuh akan menyerang dari samping melalui lorong-lorong parit tersebut.
"Si Kamikiri (Lembing Petir) itu…… tidak ada ya."
Sersan Garback bergumam sambil menyapu pandangan ke medan perang dengan nada bosan, sementara Senior Gray dan yang lainnya merapat ke dinding parit dengan waspada.
Kenapa beliau terdengar kecewa?
"Titik sebelah sepertinya masih terlibat baku tembak sengit, belum ada tanda-tanda mereka bergerak ke arah sini!"
"Tetap waspada!"
Sambil sesekali melirik titik di sebelah kanan, Komandan terus menembak jatuh setiap musuh yang mendekat dengan akurasi seratus persen.
Kemampuan membidiknya luar biasa. Sepertinya Komandan Garback tidak hanya ahli pedang, tapi juga penembak jitu kelas wahid.
"Komandan, kalau dipikir-pikir, hari ini Anda menggunakan senapan seperti biasa, ya."
"Hah? Ya iyalah, bodoh. Kau pikir kenapa?"
"Anu, soal itu... saya hanya merasa sosok Komandan lebih identik dengan pedang."
Melihat Komandan Garback membidik dengan senapan terasa cukup segar bagiku.
Malah, sepertinya ini pertama kalinya aku melihat pemandangan tersebut.
"Keuntungan terbesar berada di parit adalah perang jarak jauh dengan senapan, tahu. Aku hanya mencabut pedang saat menyerbu untuk menangkis peluru."
"Terima kasih atas penjelasannya, Komandan. Lalu, mengapa sebelumnya Anda mencabut pedang saat berhadapan dengan ace musuh?"
"Karena lawannya si Kamikiri. Pada dasarnya, peluru tidak mempan melawan kelas ace."
Peluru tidak mempan melawan ace. Kalau dipikir-pikir, memang benar juga. Komandan Garback sendiri merangsek maju di tengah hujan peluru tanpa menderita luka sedikit pun.
"Jika kau menggunakan teknik pedang, perlengkapan, atau Shield, peluru semacam itu bisa ditangkis. Para ace yang bisa bertahan hidup lama di medan perang ini pasti punya semacam 'jawaban' untuk menghadapi tembakan senapan."
"……Begitu, ya."
"Begitu kau bisa menangani peluru sampai batas tertentu, kau akan berada di posisi di mana kau bisa hidup santai dan mewah di neraka ini. Kalian semua, asahlah kemampuan kalian!"
Komandan Garback berujar dengan nada bangga sembari melakukan reload dengan gerakan yang sangat mahir.
Meski beliau menyuruh kami mengasah kemampuan, kalau menangkis peluru semudah itu, orang-orang tidak akan mati dalam perang.
Lagipula, beliau mengatakannya seolah itu hal biasa, padahal 'menangkis peluru dengan pedang' sendiri sudah sangat tidak masuk akal.
Senior Allen yang sudah bertempur selama hampir 10 tahun saja bilang bahwa ia belum pernah melihat orang selain Komandan yang bisa melakukan hal itu.
"Komandan! Sepertinya titik di sebelah kanan sudah jatuh ke tangan musuh!"
"Kalau mereka menyerang, balas! Jika kau merasa tidak akan menang, menangislah padaku!"
Sambil duduk bersandar di dinding parit dan merasa takjub dengan kegilaan Komandan, aku mendengar suara panik Senior Gray.
Tampaknya, posisi di sebelah kanan kami benar-benar sudah dikuasai musuh.
Mulai sekarang kami harus waspada terhadap sisi kanan juga, namun tidak ada raut gelisah di wajah Komandan.
Hal ini dikarenakan parit sudah dirancang dengan berbagai strategi untuk menghadapi situasi seperti ini.
"Touri, kau bersembunyilah di titik buta!"
"Siap, Komandan!"
Pertama-tama, di dalam parit terdapat tumpukan karung pasir setinggi satu meter yang berfungsi sebagai penyekat antar titik pertahanan.
Selain itu, parit digali secara berkelok-kelok membentuk huruf S agar tidak ada pandangan langsung dari titik sebelah.
Jika musuh menyerang melalui jalur parit, berkat bentuk yang berkelok ini, pihak bertahan bisa melakukan 'corner camping'—bersembunyi di balik karung pasir sambil menunggu musuh muncul dari tikungan.
Parit benar-benar dirancang dengan perhitungan yang matang.
"Granat, akan saya lempar!"
"Diizinkan!"
Beberapa saat telah berlalu sejak titik kanan dikuasai, namun musuh belum menampakkan batang hidungnya.
Tampaknya unit musuh lebih memilih menuju titik di sisi berlawanan atau memprioritaskan pengamanan parit yang sudah mereka rebut.
Setelah memastikan hal itu, Senior Gray mencabut pin granat dan melemparkannya ke titik sebelah kanan.
"■■■!!?"
"Kena!"
Sepertinya musuh tidak bergerak dari tempatnya setelah mengamankan titik tersebut.
Entah karena mereka sedang mengobati banyaknya korban luka, atau karena fokus memberikan tembakan perlindungan untuk rekan mereka.
Apa pun alasannya, musuh tidak sempat bereaksi terhadap granat yang dilemparkan Senior Gray dan menderita kerugian besar.
"Luar biasa, Senior Gray."
"Itu karena kami sudah hafal posisi titik-titik pertahanan rekan sendiri. Meski tidak terlihat, kami bisa melemparkan granat dengan tepat."
Musuh yang baru pertama kali masuk tentu tidak mungkin memahami struktur parit tersebut.
Sebaliknya, kami sudah memahami posisi setiap titik pertahanan di kedua sisi kami. Jika mereka diam saja setelah merebut sebuah titik, mereka hanya akan menjadi sasaran empuk granat.
"Gah-hahahaha! Lihat, mereka melarikan diri! Tembaki punggung mereka!"
Mungkin karena terkejut dengan serangan granat tadi, unit musuh bergegas merangkak keluar dari parit dan mulai mundur.
Komandan dengan riang menembak punggung-punggung mereka yang terbuka.
Beginilah jadinya jika hanya satu unit yang merangsek maju sendirian mengamankan parit; mereka hanya akan berakhir tragis.
Dalam peperangan, membiarkan unit terisolasi di depan berarti maut. Penyerbuan yang membabi buta adalah tindakan paling bodoh di medan tempur.
"Itu akibatnya kalau menyerang tanpa tahu diri!"
Idealnya, untuk mengamankan sebuah parit, seseorang harus berkoordinasi dengan rekan dan melakukan penetrasi secara bersamaan di beberapa titik.
Dengan begitu, penyergapan titik pertahanan bisa dilakukan dengan aman dan kerugian minimal.
Sepatutnya memang begitu, tapi...
"Padahal ada orang di sini yang selalu menang meski melakukan hal bodoh yang sama”
"Apa kau bilang, Gray? Ada keluhan?"
"Tidak, sama sekali tidak ada, Sir!"
Si Monster—maksudku Komandan—yang berada tepat di sampingku ini adalah tipe yang akan menyapu bersih satu titik, lalu merangsek masuk melalui parit untuk membantai musuh satu per satu hingga ke titik berikutnya.
Setelah berada di posisi bertahan seperti sekarang, aku baru benar-benar menyadari betapa mengerikannya atasan kami ini.
Bayangkan saja dari sudut pandang musuh: seorang tentara penyerbu yang tetap merangsek maju meski ditembaki bertubi-tubi karena ia sanggup menangkis peluru, lalu menciptakan lautan darah hanya dengan sebilah pedang. Benar-benar mengerikan.
"Komandan! Musuh melancarkan serangan gelombang berikutnya!"
"Hah? Datang lagi?"
"Skalanya jauh lebih besar dari yang tadi!"
Setelah unit di titik kanan mundur, serangan musuh sempat terlihat gagal. Namun, setelah jeda sekitar 30 menit, mereka melanjutkan penyerbuan. Sepertinya musuh kali ini sudah mengoordinasikan waktu serangan mereka.
"Hmph, biarpun datang berkali-kali, akan kuhabisi semuanya"
Komandan menyeringai, lalu membidikkan senapannya dengan riang.
Kudengar jumlah musuh kali ini jauh lebih banyak. Apakah kami akan baik-baik saja?
"Titik kanan kembali jatuh ke tangan musuh!"
"Kalian fokus pada musuh di depan! Biarkan Malyu dan yang lainnya yang mengurus musuh dari sisi kanan!"
Titik di sebelah kanan yang unit pertahanannya sudah habis terbantai tadi memang jatuh dengan sangat mudah.
Senior Gray dan yang lainnya kembali merapat ke dinding parit untuk berjaga-jaga ke arah kanan.
"Sialan... dari mana saja datangnya bajingan-bajingan yang berkerumun sebanyak ini?"
"Berusaha keras sekali hanya untuk datang kemari dan mati."
Bahkan di saat aku sedang bersembunyi pun, jeritan kematian yang tak terhitung jumlahnya terus menyusup masuk melalui celah parit.
Senior Allen terus menembakkan senapannya dengan ekspresi wajah yang membeku. Aku yakin, di atas sana, pemandangan neraka sedang terhampar luas.
"Jumlah mereka benar-benar banyak... tidak normal."
"Sudah dibunuh sebanyak ini pun, mereka terus bermunculan seperti serangga."
Mengapa musuh terus merangsek maju meskipun harus membayar dengan pengorbanan sebesar ini?
Padahal setiap orang yang tertembak itu pasti memiliki kehidupannya masing-masing.
"Komandan Garback, gawat! Titik sebelah kiri telah disusupi musuh! Jika mereka berhasil mengamankannya, kita akan terjepit!"
"Apa katamu? Sialan, tidak ada satu pun yang bisa diandalkan!!"
Senior Allen meninggikan suaranya, sebuah hal yang jarang terjadi. Tampaknya titik di sebelah kiri juga mulai ditembus musuh.
Jika kedua titik di sisi kami jatuh, kami berada dalam situasi hidup dan mati.
Kami akan terkepung sepenuhnya, sebuah kondisi pertempuran yang sangat tidak menguntungkan.
"Cukup! Aku sendiri yang akan pergi memberikan bantuan ke titik kiri. Touri, kau tetap bersembunyi di pojokan!"
"Siap, dimengerti!"
"Kalian semua, tahan serangan dari depan! Jangan sampai posisi ini jatuh sebelum aku kembali, paham?!"
Sepertinya jatuhnya titik kiri adalah hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Komandan Garback mencabut pedangnya dan langsung melompat keluar dari parit.
"■■■!!?"
"Berisik! Mati saja kau!!"
Di tengah hujan peluru, Komandan menebas leher seorang prajurit musuh sambil lalu.
Kemudian, dengan posisi membungkuk seperti seekor binatang buas, ia berlari kencang menuju titik pertahanan sebelah.
"Syaaahhh!!"
Sambil meraung, Komandan mulai mencincang musuh-musuh yang menghalangi jalannya.
……Ternyata, Komandan memang jauh lebih kuat saat menggunakan pedang, ya.
"……O-oi, Senior Allen!"
"Aku tahu!"
Tiba-tiba dari sudut mataku, aku melihat musuh di depan melemparkan granat ke arah kami.
Aku segera memanggil Senior Allen, tetapi dia sudah bereaksi lebih dulu.
"Wind Cannon!"
Dengan sihir angin, ia mengempaskan granat itu menjauh.
Oh, jadi ini yang dia maksud sebelumnya tentang melakukan pertahanan udara menggunakan sihir.
"Mereka masih terus datang!"
"Apa orang-orang ini tidak punya rasa takut mati?!"
"■■■!!"
Bahkan setelah Komandan Garback melompat keluar, kami terus melakukan perlawanan sengit.
Namun, sepertinya lubang yang ditinggalkan oleh sang Komandan terlalu besar untuk ditutupi.
Perlahan tapi pasti, kami mulai terdesak oleh jumlah musuh yang membeludak hingga mereka hampir mencapai bibir parit.
"Apa yang kau lakukan?! Naridome, tembak!"
"……"
Setiap kali satu peluru ditembakkan, diperlukan mekanisme untuk mengeluarkan selongsong.
Musuh tidak melewatkan celah sekecil itu dan terus merangsek maju.
Itulah sebabnya kami harus mengisi ulang amunisi secepat mungkin dan menembak sebanyak mungkin, tapi...
"Jangan melamun! Cepat balas tembak!"
Prajurit Dua Naridome... rekrutan baru yang tempo hari menyerangku, tiba-tiba berhenti menembak.
Bahkan setelah menyelesaikan satu putaran tembakan, ia hanya berdiri terpaku di tempatnya dengan tatapan kosong.
Memanfaatkan celah itu, seorang prajurit Sabbath dengan luka parut di mata dan sebilah pedang militer di tangan berhasil menerobos hujan peluru dan berlari ke arah kami.
"Narido—"
"■■■!!!!"
Padahal dalam jarak sedekat itu ia pasti kena walau tanpa membidik, tapi Naridome tidak bergeming sedikit pun. Akhirnya, musuh itu menendang wajah Naridome dan berhasil menyusup masuk ke dalam parit. Naridome yang wajahnya terhantam tendangan jatuh tersungkur dengan kepala menghantam tanah.
Dan saat itulah, aku baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Hii..!"
Ada lubang menganga di dahi Prajurit Dua Naridome. Rupanya, tanpa kusadari, dia sudah tewas tertembak sejak tadi.
"■■■■■■!!!!"
Prajurit yang berhasil menyusup ke dalam parit itu adalah seorang pria paruh baya, kira-kira berusia 30 tahun.
Begitu mendarat, pria itu langsung mengangkat pedang militernya tinggi-tinggi ke posisi jodan. Tanpa memberi kesempatan untuk berteriak, ia menebas Kopral Verdi yang berada tepat di depannya.
"Hiiieee!?"
Kopral Verdi panik dan mencoba mengarahkan moncong senapannya, namun kilatan pedang pria itu jauh lebih cepat.
Lengan sang Kopral tertebas putus; darah segar memuncrat ke udara bersamaan dengan suara tumpul tulang yang patah.
Prajurit Sabbath itu memutar balik pedangnya yang kini berlumuran lemak dan darah, lalu merendahkan tubuhnya untuk mengambil satu langkah maju—
"Kopral, tiarap!"
"■■っ!?"
Tepat saat ia hendak melancarkan tebasan kedua, tembakan perlindungan dari Senior Allen menghujani posisinya.
Mau tidak mau, musuh itu membatalkan niatnya menghabisi Kopral Verdi dan melompat jauh ke samping.
Sambil menyebarkan cipratan darah di dinding parit dan meluncur bersama kepulan debu, sang 'pendekar pedang' itu berhenti tepat di hadapanku.
...Nah.
"Touri, lariiii!!!"
Mataku bertemu dengan mata 'musuh' itu.
Jarak kami hanya sekitar satu meter.
Benar-benar masuk dalam jangkauan tebasannya.
"■■■■■……っ"
Aku tidak mengerti bahasanya. Aku sama sekali tidak paham apa yang dia katakan.
Namun, ada satu hal yang tersampaikan dengan sangat jelas. Yaitu:
'■■■■■!'
Itulah niat membunuh dan dendam yang meluap-luap dari sepasang matanya.
...Aku hanyalah seorang gadis berusia 15 tahun. Bergantung pada situasinya, penampilanku bahkan bisa terlihat lebih muda dari umur asliku.
Meski begitu, tidak ada sedikit pun keraguan di mata prajurit musuh tersebut.
"■■."
"Ah—"
Entah itu anak-anak atau wanita, musuh tetaplah musuh yang harus dibunuh. Prajurit ini telah merangsek maju sampai ke sini dengan tekad bulat semacam itu.
Gerakan pedangnya terlalu cepat untuk diikuti oleh mataku.
Tahu-tahu, pedang militer itu sudah terangkat tinggi dalam posisi jodan, memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan dan menghalangi pandanganku.
Jika begini terus, aku akan mati. Nyawa yang telah diselamatkan oleh Salsa-kun akan terbuang sia-sia tanpa arti.
Aku tidak mau itu terjadi. Demi diriku sendiri, dan juga demi dia.
"【Shield】!"
Kurasa gerakanku saat itu benar-benar murni insting.
【Shield】 yang kubentuk dalam sekejap itu jauh, jauh lebih lancip dibandingkan yang diajarkan oleh Komandan Garback.
Sebuah 【Shield】 berbentuk segitiga sama kaki yang menyerupai ujung tombak tajam.
Aku membentuknya dengan sisa tenaga yang ada di tengah keputusasaan.
"■■■!?"
Mata pedang yang diayunkan itu menghantam permukaan 【Shield】 buatanku, lalu tergelincir dan meleset dengan sempurna.
Aku tidak sengaja melakukannya. Ini hanyalah tindakan yang didorong oleh intuisi bahwa 'kalau tidak begini, aku akan mati'.
Namun hasilnya, kurasa itu adalah penggunaan 【Shield】 yang sempurna untuk membelokkan arah serangan pedang musuh, persis seperti yang diajarkan oleh Komandan Peleton.
"……Mati kau!"
Keguncangan batin sang pendekar musuh terasa sangat nyata saat serangannya dalam jarak sedekat itu berhasil dihindari.
Namun, ada seseorang yang tidak melewatkan celah sekecil itu dan langsung merangsek maju.
Orang itu adalah...
"Mati! Mati! Mati kau!! Dasar keparat, iblis, manusia biadab! Kau sampah penghisap darah dan daging!"
Dia adalah Rodry, Prajurit Dua rekrutan baru yang bermulut kotor itu.
"■■■■!!"
"Bagaimana, hah?! Sakit?! Rasakan itu! Ini balasan karena kau sudah membunuh orang sesukamu! Ahahaha!"
Rodry melompat ke punggung prajurit musuh itu, lalu seketika menggorok lehernya. Cipratan darah hangat pria itu menyembur, membasahi seluruh wajahku.
"Ah-hyahyahyahya!!"
……Saat itu, sosok Rodry benar-benar berbeda dari kesan pertamaku padanya.
Ia tampak begitu lincah, beringas, dan dengan tawa yang terdengar gila, ia membanting prajurit Sabbath itu ke tanah.
Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang penting di dalam dirinya yang baru saja putus.
"Ah-hyah, ah-hyah, ah-hyah!!"
Ia menghujamkan pisau komandonya berkali-kali ke wajah musuh yang sudah terkapar di tanah.
Sejauh yang kulihat, prajurit Sabbath itu sudah tewas sejak serangan pertama. Meski begitu, Rodry terus menyerang jasad itu dengan penuh obsesi.
Pemandangan itu, alih-alih terasa melegakan, justru terlihat sangat mengerikan.
"Hei, tenanglah Rodry! Kalau sudah mati, segera kembali cegat musuh yang di depan!"
"……Hah? Cih, siap dimengerti!"
Begitu Senior Gray memanggilnya, Prajurit Dua Rodry langsung kembali ke temperamen asalnya.
Dengan wajah tanpa dosa, ia kembali berdiri di dinding parit dan melanjutkan tembakan.
Apa-apaan yang kulihat barusan?
"……Sial, harusnya kubuat dia lebih menderita lagi sebelum mati. Aku gagal."
Gumamannya yang pelan itu terasa sangat mengganggu di telingaku.
Meski agak merinding, kenyataannya dia telah menyelamatkan nyawaku. Aku harus berterima kasih padanya nanti.
Tapi jika boleh mengeluh sedikit, aku harap dia memikirkan arah semburan darahnya.
Sekarang seragam militerku jadi lengket dan basah oleh darah prajurit Sabbath ini.
"Aaagh! Tangan, tanganku!!"
"Kopral!"
Mendengar jeritan Kopral Verdi, aku tersadar dari lamunan. Aku teringat bahwa Kopral baru saja terluka parah.
Segera aku berlari menghampirinya untuk memeriksa luka tersebut.
Dilihat dari kondisinya, bagian yang tertebas hanya dari siku ke bawah. Potongannya pun tergolong rapi, jadi kurasa lengannya masih bisa disambung kembali jika segera diobati.
Aku akan meminta izin pengobatan begitu Komandan kembali nanti.
"Kopral Verdi, ambil lengan yang terputus itu lalu menepi ke dinding parit! Saya akan melakukan tindakan penghentian pendarahan!"
"U-ugh... B-baik, dimengerti!"
Tindakan medis di dalam parit harus dilakukan sambil membungkuk di dekat dinding depan.
Area tersebut merupakan titik buta dari serangan musuh, sehingga pengobatan bisa dilakukan dengan lebih aman.
"I-ini, sudah saya ambil!"
"Saya akan mencuci lukanya. Tidak ada waktu untuk memakai pereda nyeri, jadi tolong gigit bibir Anda erat-erat."
"I-iya. Kh—ugagagagaga... gwaaaa!!"
Setelah membilas luka dengan cairan salin, aku menempelkan kain kasa pada bagian yang terbuka, lalu mengikatnya kencang dengan tali untuk menghentikan aliran darah.
Tas ransel yang dibawa oleh petugas medis memang memiliki isi yang cukup lengkap.
Selain pisau bedah dan benang bedah, di dalamnya juga terdapat cairan salin hingga alat pembakar untuk menutup luka, demi menunjang tindakan darurat di garis depan.
Segalanya dijejalkan di sana agar seorang petugas medis bisa berfungsi layaknya unit medis berjalan.
"Tindakan penghentian pendarahan selesai. Dengan ini Anda tidak akan mati karena kehabisan darah, jadi tolong tunggu dengan tenang. Saya akan mengajukan permohonan pengobatan setelah Komandan Peleton kembali."
"Eh? Tu-tunggu sebentar, Kau tidak langsung menggunakan sihir penyembuhan?"
"Mohon maaf, saya tidak memiliki wewenang untuk menggunakan sihir penyembuhan atas keputusan sendiri. Saya butuh izin dari Komandan."
Aku mengatakan itu dengan tegas, lalu menyerahkan sisa cairan salin yang tadi kugunakan untuk mencuci luka. "Tolong minum ini," ucapku. Menjaga asupan cairan sangatlah krusial setelah kehilangan banyak darah.
"Ja-jadi, Prajurit Dua Medis Touri, aku memerintahkanmu untuk menggunakan sihir penyembuhan kepadaku!"
"Eh? Ah, anu..."
"Aku ingin segera kembali bertempur, jadi tolong obati aku sekarang juga!"
Mendengar perkataan Verdi-san, aku sempat merasa sedikit bingung. Kalau dipikir-pikir, Kopral Verdi memang memiliki pangkat yang lebih tinggi dariku dan dia adalah seorang pemimpin regu.
Jika begitu, apakah aku bisa menggunakan sihir penyembuhan atas perintahnya?
……Bisa, ya? Atau tidak?
"Cepat! Kalau kelamaan, lenganku tidak akan bisa tersambung lagi!"
"……"
Tidak, aku harus tetap tenang. Aku sama sekali tidak mau melakukan tindakan medis tanpa izin Komandan Garback lalu berakhir menerima 'bimbingan' lagi.
Masalahnya adalah hak komando. Ya, hak komando. Pertanyaannya: Apakah Kopral Verdi memiliki hak komando atas diriku?
Mari kita rapikan struktur komandonya dengan kepala dingin.
Komandan Garback, sebagai pemimpin peleton ini, memiliki hak komando atas seluruh bawahan.
Di bawah peleton ini, terdapat dua regu: 'Regu Pengintai Allen' dan 'Regu Infanteri Senior Verdi'.
Nah, Peleton Garback terbentuk dari kedua regu ini ditambah aku sebagai petugas medis.
Senior Allen dan Kopral Verdi selaku pemimpin regu masing-masing hanya memiliki hak komando atas anggota regu mereka sendiri.
Karena aku bukan seorang prajurit infanteri, aku tidak termasuk dalam regu mana pun. Posisiku adalah bawahan langsung di bawah komando Komandan Garback.
Artinya:
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Kopral Verdi. Menurut pemahaman saya, Anda tidak memiliki hak komando atas diri saya."
"Eh?"
"Jangan khawatir, Golden Time untuk menyambung kembali lengan yang putus masih tersedia selama beberapa jam. Waktunya masih sangat mencukupi."
TN Yomi Novel: Golden Time / Masa Emas (Gooruden Taimu - ゴールデンタイム): Istilah medis untuk periode waktu krusial setelah terjadinya trauma fisik, di mana kemungkinan keberhasilan penanganan medis masih sangat tinggi.
"Eh, tidak, tunggu dulu!"
Benar sekali. Tidak semua perwira dengan pangkat lebih tinggi bisa memerintahkanku untuk melakukan pengobatan.
Kalau hal semacam itu dibenarkan, maka Senior Gray yang berpangkat Prajurit Satu pun bisa memerintahku sesuka hatinya.
Namun, aku ingat saat Senior Gray terluka sebelumnya; ia meminta izin pengobatan kepada Komandan melalui Senior Malyu, yang merupakan pemimpin regu langsungnya.
Artinya, jika aku mengobati Kopral Verdi atas kemauanku sendiri, aku akan menghadapi tindak kekerasan yang brutal.
"Saya menyarankan agar Kopral Verdi mengangkat bagian lengan yang terputus dan tetap tenang. Jika tekanan darah Anda naik, ada kemungkinan pendarahan akan kembali terjadi dari penampang luka—"
"Tunggu dulu, lenganku ini putus, tahu?! Tanpa perlu konfirmasi ke Komandan Garback pun, izin pengobatan pasti akan diberikan! Bodoh sekali kalau kau menolak hanya karena masalah hak komando!"
"Ini tidak bodoh. Perintah adalah mutlak."
Kopral Verdi mengguncang bahuku dengan suara panik. Kepada pria yang berteriak dengan wajah pucat pasi itu, aku menyahut dengan nada dingin.
"Atau apakah Kopral Verdi memang ingin saya menerima siksaan lagi?"
"Eh?"
Aku sudah dua kali menerima 'bimbingan' keras karena melanggar perintah.
Hukuman fisiknya sama sekali tidak mengenal ampun.
Karena dia tahu lukanya bisa sembuh dengan sihir, dia akan terus menghajarku hingga seluruh tubuhku hancur seperti kain pel kotor.
"Perintah... adalah mutlak."
"……Eh? Touri-san?"
"Saya tidak mau. Sudah cukup. Saya tidak mau disiksa lagi. Mohon maaf, Kopral Verdi. Tolong tunggulah sampai Komandan kembali."
Jika aku melakukan kesalahan lagi, aku yakin siksaan yang kuterima akan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Bayangan wajah murka Komandan terlintas di benakku, membuat napas mulai memburu sedikit demi sedikit.
Jantungku berdegup kencang; aku pun jatuh berlutut sambil memegangi dada dengan mata terbelalak.
"Saya harap... Anda bisa mengerti..."
"……Maafkan aku, aku tadi hilang kendali. Kau benar, aku memang tidak memiliki hak komando atas dirimu."
"Terima kasih atas pengertiannya, Kopral."
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan sampai seperti itu. Aku sudah bicara yang tidak-tidak."
Wajahku pasti terlihat sangat pucat, karena Kopral Verdi malah berbalik mengkhawatirkanku.
Tampaknya, Komandan Garback benar-benar telah menanamkan trauma yang mendalam di benakku.
Membayangkan disiksa olehnya saja sudah cukup untuk membuat jantungku berdegup kencang dan keringat dingin bercucuran tanpa henti.
Aku benar-benar kehilangan keberanian untuk membangkang perkataannya sedikit pun.
Apakah ini juga bagian dari rencananya?
"Ah, lihat. Komandan sedang menuju kemari."
"Sepertinya bantuan di sebelah sana sudah selesai."
Selagi kami bicara, sosok mengerikan yang kami bicarakan itu pun kembali.
Sersan Garback menerobos medan perang di tengah desingan peluru, sambil menebas setiap prajurit musuh yang menghalangi jalannya.
Aku hanya bisa membatin kalau beliau jauh lebih menakutkan daripada musuh yang menyerangku tadi.
"Sepertinya serangan musuh sudah mereda. Baiklah, kau boleh mengobati Verdi sekarang."
"Terima kasih banyak."
Ternyata keputusanku untuk tidak sembarangan melakukan pengobatan adalah pilihan yang tepat. Saat aku menanyakan instruksi medis untuk Kopral Verdi, Komandan menjawab, "Tunggu sampai pertempuran usai."
Tampaknya Komandan Garback tidak berniat membiarkanku menggunakan sihir penyembuhan kepada bawahan lain sampai keamanan dirinya sendiri terjamin.
Kalau tadi aku ceroboh dan menuruti perintah Kopral Verdi, mungkin aku sudah dicekik sampai mati olehnya.
"【Heal】!"
"O-ooooh...?"
"Kopral, tolong jangan bergerak dulu. Saya akan memfiksasi posisinya dengan perban."
Dengan sisa Mana yang kupaksakan keluar, aku berhasil menyambung kembali lengan Kopral Verdi.
……Tapi rasanya efeknya sedikit lemah, mungkin karena jumlah Mana-ku memang sudah menipis.
Sepertinya ini akibat penggunaan 【Shield】 tadi.
"Komandan. Apa yang saya lakukan pada Kopral Verdi hanyalah tindakan darurat. Saya rasa dia tetap membutuhkan perawatan lanjutan di rumah sakit lapangan."
"Pasti begitu. Ya sudah, sana cepat bawa dia pergi untuk diobati."
Aku tidak begitu percaya diri dengan hasil penyambungan lenganku tadi, jadi aku memutuskan agar Kopral Verdi segera pergi ke rumah sakit lapangan.
Kira-kira bakal aman tidak, ya? Aku khawatir di tengah jalan nanti ikatannya lepas dan—plop—lengan dari siku ke bawah itu jatuh begitu saja.
Agar hal itu tidak terjadi, aku membalutnya dengan fiksasi yang sedikit lebih kencang.
"Ah—Komandan. Sebelum Verdi-san pergi, apa perlu kita melakukan itu?"
"……Tidak. Naridome tidak butuh penghormatan semacam itu."
Komandan melirik sekilas ke arah jasad Naridome yang terkapar dengan lubang peluru di dahinya, lalu berujar demikian.
Itu yang kumaksud adalah... hormat militer saat ada rekan yang gugur.
"Mati adalah risiko sejak awal. Rekrutan baru yang hilang kendali dan berputus asa tidak akan pernah bisa menjadi aset tempur."
Setelah itu, Komandan Garback memalingkan wajah dari jasad Naridome seolah hal itu sama sekali tidak menarik baginya.
"……Anu, Rodry-kun."
"Hah?"
Jasad Naridome akhirnya diputuskan untuk dibawa ke garis belakang oleh Rodry.
Membawa jasad rekan adalah tugas prajurit paling baru di unit tersebut.
"Terima kasih untuk hari ini."
"Eh, untuk apa?"
Hari ini nyawaku diselamatkan oleh Rodry, rekrutan baru bermulut kasar yang merupakan angkatanku ini.
Aku memanggilnya untuk mengucapkan terima kasih, tapi... ia justru menatapku dengan wajah heran.
"Anu, soal Anda yang membantu saya saat situasi sedang berbahaya tadi."
"Memangnya pernah ada kejadian begitu?"
"Itu lho, saat pendekar pedang musuh melompat masuk ke parit."
"Aaah... Iya juga, seingatku kau memang sedang diserang waktu itu."
Tampaknya, dia sama sekali tidak sadar kalau dia baru saja menyelamatkanku.
Saat itu, dia hanya—
"Aku cuma melihat ada musuh yang membelakangiku, jadi langsung saja kubantai."
"……"
Begitulah kenyatannya. Tampaknya dia sama sekali tidak peduli pada keselamatanku.
"Lagian kau ini, kenapa diam saja saat musuh ada tepat di depan matamu? Kau punya niat bertarung tidak, sih?"
"Saya adalah petugas medis, jadi saya tidak dibekali perlengkapan untuk menyerang."
"Lalu untuk apa lenganmu itu menempel di sana? Untuk apa gigimu itu ada kalau bukan untuk mengoyak lawan? Biarpun tidak punya senjata, kalau musuh ada di depan mata, normalnya kau harus berusaha membunuhnya, kan?"
Setelah berkata demikian, Rodry menunjukku dengan wajah merendahkan.
"Kau tahu, kaulah orang yang paling tidak berguna di medan perang hari ini. Tidak akan ada yang sudi bersusah payah menyelamatkan orang sepertimu."
"……"
"Aku membunuhnya karena ada musuh yang bisa dibunuh, itu saja. Jangan sok akrab denganku, menjijikkan. Kau mau aku mengasuhmu, hah?"
Ia mengucapkannya seolah sedang membuang sampah, lalu meludah sembarangan.
"Aku paling benci manusia yang lemah tapi pintar menjilat. Ya, orang sepertimu itu."
"……Haaa."
"Jangan pernah ajak aku bicara lagi, dasar bau."
Setelah melontarkan kata-kata terakhir itu, Rodry memalingkan muka dan berjalan pergi begitu saja, sambil menyeret jasad Prajurit Dua Naridome dengan kasar.
【17 April, Malam】
Setelah mendapat izin istirahat dari Komandan, aku membenamkan tubuhku di celah parit seperti biasa dan tertidur.
Sambil bersyukur karena bisa bertahan hidup hari ini, aku memejamkan mata di bawah langit malam.
Omong-omong, meski Naridome sudah tidak ada, untuk berjaga-jaga aku meminta izin kepada Senior Gray agar boleh tidur di sampingnya.
Senior Gray tampak senang entah karena apa, sementara Rodry menatapku seolah aku ini tumpukan sampah.
"Hoaahm~ Sial, besok aku ingin membunuh lebih banyak lagi."
"……"
Gumam pelan Rodry itu menggema di dalam parit yang sunyi di tengah malam.
Tampaknya, dia berada di sini bukan karena terpaksa berperang, melainkan karena memang memiliki niat membunuh yang nyata.
Aku tahu itu adalah sikap yang "benar" bagi seorang prajurit, tapi aku berharap dia berhenti menaruh rasa hina kepada diriku yang hanya bisa menyembuhkan ini.
Rasanya benar-benar tidak nyaman.
"……"
Setelah bertemu dengan berbagai macam orang, aku kembali teringat akan sosok dia.
Saat pertama kali bertemu, aku merasa dia tidak bisa diandalkan. Aku sempat menganggapnya sebagai rekan seangkatan yang ceroboh dan bodoh.
“Peserta nomor satu, Salsa, siap melepas baju dan menari!”
“Dia lebih muda dariku, Touri masih 15 tahun. Tolong tunggu sebentar lagi sebelum bicara soal hal-hal jorok, Senior.”
“Siap mengulang perintah! Saya akan melindungi Prajurit Dua Medis Touri meski harus bertaruh nyawa!”
Salsa-kun ternyata adalah rekan seangkatan yang terbaik, ya.
Dia ramah, sopan, dan tidak bermulut kasar. Jika saja dia masih hidup, betapa tertolongnya perasaanku saat ini.
Aku baru benar-benar menyadari betapa berharganya keberadaan Salsa-kun setelah kehilangan dirinya.
【18 April】
"Senior, aku juga mau granat atau sejenisnya, dong."
"Tidak tahu."
Pagi hari pun tiba setelah kami kembali melewati garis maut seperti biasanya.
Aku menyelesaikan pemeriksaan perlengkapan dan mulai bersiap untuk kembali ke rumah sakit.
"Kenapa aku tidak diberi jatah?"
"Hanya mereka yang berpangkat Prajurit Satu ke atas yang boleh menangani bahan peledak."
Meskipun belum ada instruksi resmi, kurasa hari ini aku akan bertugas di rumah sakit.
Mengingat besarnya kerugian dalam pertempuran defensif semalam, rumah sakit lapangan pasti sudah berubah menjadi medan tempur yang lain.
Besar kemungkinan Kepala Bagian Medis Gale sudah memerintahkan agar "Touri segera dikembalikan ke rumah sakit lapangan."
Dengan situasi kerugian sebesar ini, sulit membayangkan pihak kami akan melancarkan serangan balasan dalam waktu dekat.
"Bayangkan saja, kalau punya satu benda itu, berapa banyak musuh yang bisa kubom sampai mati?"
"Kau pikir berapa biaya untuk membuat satu granat? Mana mungkin kami menyediakannya sampai ke jatah rekrutan baru."
Tepat di sampingku, si gila perang Rodry sedang merengek kepada Senior Gray.
Sambil memasang telinga, aku menangkap kalau Rodry sangat menginginkan granat.
"Kalau mau sekali, bilang saja pada Komandan Peleton. Kenapa malah merengek padaku?"
"……Habisnya Senior punya 2, kan?"
"Itu cadanganku, tahu! Kalau aku ketahuan memberikan ini pada anak baru, kepalaku bisa dipenggal."
"Eeeh, curang. Aku juga ingin meledakkan orang sampai mati, nih."
Granat adalah senjata yang sangat mengerikan.
Gelombang kejutnya saja bisa mencapai radius empat sampai lima meter, ditambah serpihan logam berkecepatan tinggi yang beterbangan dan bisa melukai atau membunuh banyak orang dalam jangkauan ledaknya.
Aku sendiri pernah terkena gelombang kejutnya, dan Salsa-kun kehilangan nyawanya karena benda itu.
Bagi diriku yang mengalami itu semua, aku sangat berharap dia tidak mengatakan ingin "meledakkan orang sampai mati" dengan seringan itu.
"Ya sudah kalau tidak boleh. Aku akan negosiasi langsung saja dengan Komandan Peleton."
"……Kurasa lebih baik jangan lakukan itu juga? Unit kita pernah punya masalah gara-gara seorang Grenadier sebelumnya."
"Apa? Senior takut aku bakal mencuri semua prestasimu? Dasar pengecut" ejek Rodry sambil berdecit dan melenggang pergi.
Sama sekali bukan sikap yang sopan terhadap senior.
"Kau ini benar-benar nggak ada manis-manisnya, ya. Aku sudah memberimu peringatan, lho."
Biasanya orang akan marah diperlakukan begitu, tapi Senior Gray tetap tenang dan mengabaikannya.
Meski terlihat seperti pria genit, ternyata Senior Gray cukup dewasa juga.
"Oh?"
Saat aku sedang melamun memperhatikan percakapan mereka, mataku bertemu dengan mata Senior Gray.
"Ada apa, Touri-chan? Jangan-jangan kau jatuh cinta padaku? Aku bisa merasakan tatapan panasmu sejak pagi tadi."
"……Selain bagian yang itu, saya sangat menghormati Anda, Senior Gray."
Senior Gray membalas dengan senyum lebar sambil terus mengajakku bicara.
Jika tidak terlalu percaya diri, aku merasa Senior Gray cukup menyayangiku.
Kurasa itu bukan ketertarikan romantis antar lawan jenis, melainkan rasa suka antara senior kepada juniornya.
"Perempuan yang hebat itu secara insting bisa mengenali laki-laki yang hebat. Singkatnya, Touri-chan adalah perempuan yang hebat."
"Kalimat itu jurus maut Anda untuk merayu perempuan, kan? Senior Allen sudah membocorkan beberapa taktik Anda padaku."
"Waduh, gawat. Jadi kau sudah tahu?"
"Iya."
Mendengar jawabanku, Senior Gray tertawa terbahak-bahak untuk mengalihkan pembicaraan, lalu mengusap kepalaku.
Seandainya saja dia tidak punya kebiasaan seperti ini, aku pasti bisa menghormatinya tanpa keluhan sama sekali.
Tapi entahlah, mungkin sikap ringannya ini sengaja ia tunjukkan sebagai tameng diri.
"Touri! Sekarang juga, lari ke rumah sakit lapangan. Sprint!"
"Eh? Ba-baik!"
5 menit sebelum pengarahan dimulai, Komandan Garback yang sudah berada di lokasi berkumpul langsung memberikan perintah begitu melihatku.
"Hari ini kau ditempatkan di rumah sakit. Katanya di sana sedang sibuk luar biasa."
"Siap."
"Bergabunglah secepat mungkin. Ayo, jangan lelet, lari!"
Instruksi pertama yang kuterima pagi ini adalah "lari sampai ke rumah sakit".
Seperti dugaanku, hari ini aku bertugas di bagian medis, tapi...
"Sepertinya di sana kau tidak akan punya waktu untuk latihan fisik. Jadi, manfaatkan waktu pindah tugas ini untuk berlatih."
Rupanya Komandan ingin aku berlari sekalian berolahraga. Dia tampaknya bersikeras ingin mengubahku yang tidak punya stamina ini agar bisa berlari setara dengan prajurit infanteri.
"Dimengerti. Mulai saat ini, saya akan lari sekuat tenaga menuju rumah sakit lapangan. Setelah itu, saya akan berada di bawah komando Kepala Bagian Medis Gale."
"Bagus, berangkat!"
Huft, merepotkan sekali sejak pagi buta, tapi mari berjuang.
"Fuu... fuu... fuu... fuu..."
Sesuai instruksi, aku berlari sekuat tenaga menuju rumah sakit lapangan.
Meskipun mandi keringat, lari pagi ternyata terasa cukup menyegarkan.
Seandainya aku tidak memanggul perlengkapan berat, mungkin ini akan jadi olahraga yang menyenangkan.
Aku mulai berpikir untuk menjadikannya rutinitas sukarela—berlari dari parit ke rumah sakit. Satu-satunya masalah adalah aku akan menjadi bau keringat sejak pagi buta.
Sebelum menemui pasien, sebaiknya aku mengelap tubuh dulu di ruang ganti.
"Touri-chan, syukurlah kau datang. Bisa segera masuk ke Klinik Darurat sekarang?"
"Klinik Darurat?"
Setelah mengatur napas dan menyeka keringat, aku menemui Kepala Bagian Medis Gale dan langsung disambut instruksi tersebut.
Tampaknya hari ini aku tidak ditugaskan di bangsal perawatan, melainkan pekerjaan lain.
Tempat yang ditunjukkan kepadaku adalah sebuah tenda sederhana dengan antrean panjang yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Di dalam tenda itu sudah tersedia perlengkapan medis standar. Masuklah dan tangani para korban luka sesuai urutan."
"Begitu, ya. Dimengerti."
Sepertinya aku ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan awal.
Ini adalah pekerjaan di mana aku harus melihat kondisi korban, menentukan tingkat keparahan luka, dan memberikan tindakan yang tepat.
Karena pekerjaan ini membutuhkan banyak pengalaman, aku tidak menyangka akan ditugaskan ke sini sebagai pemula.
"Tempat tidur pasien sudah penuh total. Semua orang yang masih bisa berjalan sendiri tidak kami rawat inap, melainkan kami minta antre di sana."
"……Sampai segitunya?"
"Korban dengan luka ringan hanya diberikan tindakan minimal, lalu kami suruh istirahat di garis depan agar pulih sendiri. Kalau tidak begitu, kami tidak akan sanggup menangani semuanya."
Gale-san mengeluh dengan wajah yang tampak sangat kelelahan.
Jangan-jangan dia belum tidur sama sekali sejak dua hari yang lalu?
Yah, tidak mungkin bisa tidur, sih. Melihat serangan besar kemarin, pasti ada gelombang pasien dalam jumlah yang mengerikan yang dikirim kemari.
"Sakit... sakit sekali..."
"Aku tidak bisa merasakan lenganku... Apa ini sudah membusuk?"
Suara-suara rintihan mulai terdengar dari barisan antrean yang mengular itu.
Sekilas aku melirik antrean itu. Orang-orang yang biasanya sudah layak mendapatkan kamar rawat inap, kini terpaksa dibiarkan menunggu di bawah terik matahari.
Ada orang yang lengannya nyaris putus dan mulai membusuk, ada juga yang tergeletak diam tak bergerak. Jumlah mereka sangat banyak.
Apa tidak apa-apa membiarkan orang-orang ini begitu saja?
"Karena yang mengantre ini hanya mereka yang luka-lukanya relatif ringan, aku akan menyerahkan semuanya padamu, Touri-chan. Jangan sampai salah memilih waktu untuk menggunakan sihir penyembuhan, ya."
"……Eh?"
Di depan wajahku yang mulai pucat, Kepala Bagian Medis memberikan instruksi yang luar biasa berat.
Tampaknya aku harus menangani sendiri seluruh antrean yang terdiri dari sekitar seratus orang ini.
……Semuanya!?
"Maaf, ya, kami benar-benar kekurangan tenaga di bangsal perawatan. Aku akan mengirimkan tenaga bantuan secepatnya, jadi bertahanlah sampai saat itu tiba."
"Ba-baik……"
……Jadi karena mereka tidak sanggup menangani orang-orang dengan luka ringan yang tidak mengancam nyawa, tugas itu dilemparkan sepenuhnya kepadaku. Alasannya mungkin karena aku sudah tidur cukup semalam, sehingga tenaga dan Mana-ku masih melimpah.
"Aku mengandalkanmu, ya~"
Sambil memasang wajah tidak enak hati, Kepala Bagian Medis bergegas pergi dengan terburu-buru.
Mari kita hitung. Sejauh mata memandang, memang ada 100 orang... lebih. Jika aku menghabiskan 10 menit saja untuk 1 orang, maka totalnya akan memakan waktu lebih dari 16 jam. Aku tidak mungkin membiarkan orang di urutan paling belakang menunggu selama itu.
Artinya, aku harus menangani para korban luka yang kondisinya cukup parah ini dalam waktu kurang dari 10 menit agar tidak keteteran.
"……"
"Ah, akhirnya petugas medisnya datang. Sebelah sini, silakan masuk."
"Ba-baik."
Di dalam tenda, seorang perawat sudah bersiap di posisinya.
Tanpa sempat menyadari betapa berat beban tugas yang baru saja diberikan, aku dipakaikan jas putih yang ukurannya sama sekali tidak pas, lalu dipaksa duduk di kursi ruang periksa.
Telapak tanganku bahkan tenggelam di dalam lengan jas putih yang kebesaran itu.
"Oi! Setelah dibiarkan menunggu lama, kenapa yang menangani cuma bocah begini?!"
"……Kalau tidak puas, silakan pulang."
"Aku sudah menunggu di sini sejak tadi malam! Cepat panggil petugas medis yang lebih senior!"
Yah, begitulah awal mula tugas pemeriksaan pertamaku. Benar-benar sangat merepotkan.
"Gunakan sihir penyembuhan padaku! Lihat, kakiku tidak bisa digerakkan!"
"Kemungkinan besar ini hanya patah tulang biasa. Tanpa sihir penyembuhan pun, kaki Anda akan sembuh hanya dengan fiksasi."
Para korban luka sangat nekat dalam memohon karena ini menyangkut tubuh mereka sendiri.
Seandainya aku bisa menggunakan sihir penyembuhan pada semua orang, tentu akan kulakukan.
Namun, kapasitas Mana-ku hanya cukup untuk tiga kali penggunaan. Luka-luka yang bisa sembuh tanpa sihir terpaksa harus mereka tahan.
"Lenganku... akan jadi apa lengan ini?!"
"……Sudah nekrosis. Menggunakan sihir pun tidak akan berguna. Saya akan melakukan amputasi, jadi persiapkan mental Anda."
"TIDAAAK!!"
Orang-orang yang mengantre di tendaku semuanya adalah mereka yang didiagnosis menderita luka ringan.
Dan di sini, 'luka ringan' berarti 'orang yang nyawanya tidak sedang terancam'.
"……Aa. Uuh……"
"Wajah Anda terkena gelombang ledakan, ya. ……Tidak apa-apa, saya akan berikan salep."
Meski wajah mereka hangus terbakar atau lengan mereka hampir membusuk, para prajurit itu hanya dibiarkan tidur bergelimpangan di depan tenda.
Kepala Bagian Medis memang menyebut mereka "pasien luka relatif ringan", tapi mungkin maksudnya adalah mereka yang sulit kembali ke garis depan meski diobati pun tetap dianggap memiliki prioritas rendah, sehingga dikumpulkan di sini.
Tingkat keparahan mereka bervariasi; dari yang hanya butuh tindakan kecil hingga yang menderita luka berat yang akan meninggalkan cacat seumur hidup.
"Ah, Touri-chan……"
"Ah, Kopral Verdi. Selamat siang. Bagaimana kondisi lengan Anda?"
"Ah, ya, sepertinya baik-baik saja."
Sekitar tengah hari, sesosok wajah yang kukenal masuk ke tenda pemeriksaan. Kopral Verdi.
Rupanya dia juga didiagnosis luka ringan dan terpaksa ikut mengantre.
...Sejujurnya semalam aku kurang percaya diri, tapi kelihatannya lengannya berhasil tersambung dengan baik. Syukurlah.
"Kalau begitu, Kopral sudah sembuh total. Anda sudah boleh kembali ke garis depan."
"Iya, terima kasih ya."
Rasanya agak aneh berbincang dengan anggota peleton di rumah sakit.
Kopral meninggalkan kata-kata penyemangat, "Berjuanglah," lalu melangkah keluar dari Klinik Darurat.
Baiklah, aku akan berjuang sesuai perintah.
"Lihat ini, bo-bokongku meledak dan—"
"Aduh, ini luka bakar yang cukup parah."
Pada akhirnya, antrean panjang itu baru habis saat langit mulai menggelap.
Aku sudah berkali-kali menenggak obat rahasia untuk memeras sisa Mana; kekuatan mental dan fisikku sudah mencapai batasnya.
Jangankan jam istirahat makan, aku hanya sempat menyeruput ransum di sela-sela pemeriksaan sambil terus menggerakkan tubuh.
"Prajurit Dua Medis Touri, tinggal beberapa orang lagi dan selesai."
"O-oh, akhirnya mau selesai, ya."
Perawat veteran yang membantuku menyemangati dengan suara itu.
Kepala Bagian Medis bilang akan mengirim tenaga bantuan, tapi nyatanya orang yang dijanjikan tidak pernah datang.
Yah, mau bagaimana lagi, bangsal perawatan pasti sedang sangat sibuk.
"Kau masih muda tapi sangat cekatan. Terima kasih, Petugas Medis Muda."
"Terima kasih kembali. Tolong jaga kesehatan Anda baik-baik."
Memang ada beberapa pasien yang agak bermasalah, tapi sebagian besar pasien menderita luka ringan dan bersikap sopan.
Hal itu sangat membantuku; aku bisa memeriksa luka-luka mereka secara mekanis dan terus melakukan tindakan medis.
Di saat-saat terakhir, rasanya otakku sudah tidak berfungsi lagi.
Pekerjaan ini jauh, jauh lebih berat daripada tugas bangsal harian.
"Pasien terakhir, silakan masuk."
Akhirnya, tugas kejam ini mencapai puncaknya. Kurasa Kepala Bagian Medis Gale pasti akan memberiku waktu istirahat setelah ini selesai.
Pasti diberi, kan? Setidaknya aku bisa menikmati makan malam dengan tenang, kan?
Maka dari itu, aku mengumpulkan sisa-sisa energi dan keramahanku yang terakhir untuk melakukan pengobatan dengan teliti dan tenang....
"……"
"……Apa lihat-lihat?"
Pasien terakhir yang masuk ternyata adalah Rodry-kun, yang sudah babak belur dengan luka yang luar biasa parah.
"……Anu."
"Cepat obati aku, dasar tidak berguna."
"Anda benar-benar nekat meminta granat kepada Komandan, ya?"
"Berisik!"
Dan ternyata, Rodry inilah pasien dengan luka paling parah hari ini (akibat hukuman fisik dari rekan sendiri).
Seluruh tubuhnya memar, tulang-tulangnya patah, ditambah lagi beberapa sendinya mengalami dislokasi.
Ini adalah jenis luka yang kalau salah sedikit saja bisa berakibat maut.
"……Tolong tunggu sebentar."
"Hah? Kau minum apa itu?"
Karena ini luka berat yang harus ditangani dengan sihir penyembuhan, aku melakukan "doping" dengan ramuan rahasia lalu merapalkan 【Heal】.
Dari sudut pandang tenaga medis, mengobati akibat dari 'bimbingan' beringas Komandan Garback itu benar-benar menyebalkan.
Tolong jangan menambah pekerjaan ekstra untukku, Komandan....
"Jangan lelet, Cebol!"
"Haaa...."
Bagaimanapun juga, dia adalah penyelamat nyawaku, jadi aku menanganinya dengan sangat teliti.
Kurasa aku sudah mengerahkan semua kemampuan medis yang kubisa untuknya.
Namun, Rodry-kun hanya meludahiku dengan kata-kata, "Pengobatanmu lambat, dan masih terasa sakit. Dasar penyembuh gadungan!" sebelum akhirnya melenggang pergi.
Rasa hampa yang tak terlukiskan menyergap perasaanku.
Pasien terakhir benar-benar yang paling menguras tenaga.
"Kerja bagus, Touri-chan. Kau boleh istirahat sebentar."
"Baik, terima kasih banyak."
Setelah melaporkan bahwa tugas di Klinik Darurat telah selesai, aku mendapat waktu istirahat sekitar 1 jam.
Dalam waktu singkat itu, aku menyempatkan diri menyantap makanan yang layak dan tidur ayam.
"Touri, tangani pasien di ranjang nomor 13!"
"Baik!"
Namun, hanya itulah istirahat yang kudapatkan. Begitu malam tiba, aku langsung disibukkan dengan penanganan pasien bangsal yang kondisinya memburuk tiba-tiba.
Berbeda dengan pasien di Klinik Darurat, pasien di bangsal bisa mati jika aku melakukan satu kesalahan kecil saja.
Alarm yang menandakan kondisi kritis pasien berbunyi dari berbagai ranjang, dan atas instruksi kepala perawat, aku dipaksa berlari ke sana kemari tanpa henti.
"Nomor 18 sudah tidak tertolong, menyerahlah dan dampingi saat-saat terakhirnya. Pusatkan pengobatan pada mereka yang masih punya harapan hidup!"
"Kepala, nomor 15 juga kritis!"
"Yang itu masih bisa! Tambah cairan infus! Perhatikan tanda-tanda gagal jantung!"
Mengerikannya, aku baru menyadari fakta bahwa selama ini aku ternyata cukup "diistimewakan".
Kudengar, kepala bangsal dan para senior lainnya bahkan sudah tidak tidur selama seminggu penuh.
"Ke-Kepala. Tekanan darah di ranjang nomor 4 mulai turun."
"Itu pasti sepsis! Bagaimana dengan stok antibiotiknya?"
"Hanya tersisa stok yang direncanakan untuk pasien lain."
"……Kalau begitu, biarkan dia pergi."
Suasana bangsal di malam hari benar-benar seperti neraka.
Jumlah pasien terlalu banyak, sehingga pasokan sumber daya medis sama sekali tidak bisa mengejar.
Saat tidak ada lagi sarana pengobatan yang tersisa, kami tidak punya pilihan selain melakukan seleksi hidup dan mati terhadap pasien yang terbaring tak sadarkan diri.
"Nomor 18 meninggal dunia."
"Bawa keluar jasadnya. Lalu, masukkan pasien luka berat dengan prioritas triase tinggi yang masih telantar di luar!"
"Baik!"
Jika nasibku buruk, mungkin akulah yang terbaring dan meregang nyawa di ranjang itu.
Dan jika aku mati di sini, maka atas perintah kepala bangsal, jasadku akan diangkut secara mekanis dari ranjang dan dilemparkan begitu saja ke dalam lubang kuburan massal.
Garis depan maupun rumah sakit lapangan, keduanya pun neraka dunia.
【19 April】
"Oi, kalian semua! Hari penyerangan yang kalian tunggu-tunggu sudah tiba."
Pagi buta, pukul 5 tepat.
Setelah bekerja semalam suntuk tanpa henti, hal pertama yang kudengar saat dipanggil oleh Komandan adalah kalimat tersebut.
"Dengan kekuatan kita yang sekarang, kita akan menyerang lagi?"
"Menurut pengintaian, pertahanan musuh sudah sangat menipis. Jika kita menyerang sekarang, kita akan merebut kembali semuanya dalam sekali pukul."
"……Dimengerti."
Pada dasarnya, dalam perang parit, pihak yang melakukan penyerangan akan menderita kerugian yang jauh lebih besar.
Meskipun serangan beruntun musuh kemarin menyebabkan kerugian besar di pihak kami, seharusnya jumlah korban di pihak musuh jauh lebih banyak lagi.
"Dalam kesulitan ada kesempatan. Sesaat lagi artileri sihir kita akan memulai pengeboman. Seluruh personel, bersiap untuk menyerbu!"
"Siap, Komandan Peleton!"
Perang ini hanyalah pengulangan dari hal yang sama terus-menerus.
Saat musuh memaksakan serangan, kami akan memanfaatkan celah kelelahan mereka untuk menyerang balik.
Lalu, garis perbatasan antara negara kami, Austin, dan Federasi Sabbath akan bergeser maju-mundur sejauh puluhan meter saja.
Demi pergeseran garis batas yang tak seberapa itu, nyawa para prajurit seperti kami terus dikorbankan dalam jumlah besar.
"Mari kita berikan hukuman surgawi pada orang-orang bodoh yang terlalu percaya diri saat menyerang itu!"
"Uwoooooh!!"
Mendengar perkataan Komandan Garback, semangat Rodry-kun langsung meledak.
Kalau dipikir-pikir, sejak ditempatkan di peleton ini, ini adalah pertama kalinya Rodry-kun berpartisipasi dalam sebuah serangan ofensif.
"Regu Allen maju sebagai perintis! Regu Verdi, jangan banyak pikir, cukup ikuti pergerakanku! Touri, seperti biasa tetaplah tepat di belakangku. Regu Verdi, bentuk formasi di kedua sisi untuk melindungi aku dan Touri!"
"Dimengerti!"
Formasi Peleton Garback tampaknya masih menggunakan pola yang sama seperti biasanya.
Menempatkan regu dengan kemahiran tinggi sebagai pembuka jalan bagi serbuan Komandan Garback, sementara regu satunya mengamankan sisi kanan dan kiri beliau untuk memperkuat daya tekan ke arah depan.
"Verdi, kau di posisi paling belakang! Amankan punggung Touri!"
"Siap!"
Prajurit dengan tingkat kemahiran rendah sepertiku dan Kopral Verdi ditempatkan di belakang untuk dilindungi.
Sepertinya, siapa pun yang berada di belakang Komandan dianggap sebagai 'anak magang' yang perlu diawasi.
"Hari ini aku di sebelah Touri-chan, ya? Mohon bantuannya."
"Saya mengandalkan Anda, Senior Gray."
Yang mengamankan sisiku adalah Senior Gray. Dia juga merupakan bagian dari Regu Verdi.
Sebenarnya, Regu Verdi awalnya dipimpin oleh seorang prajurit serbu veteran bernama Malyu.
Namun, karena Kopral Verdi yang pangkatnya lebih tinggi bergabung, struktur komando pun berubah dan Regu Malyu otomatis menjadi Regu Verdi.
Meski begitu...
"Berarti hari ini Anda izinkan saya yang memegang kendali, kan, Kopral?"
"Ya, silakan, Malyu-san."
Dalam hal kemampuan komando di lapangan, Senior Malyu jauh lebih unggul. Meski Kopral adalah lulusan akademi militer, perbedaan pengalaman mereka terlalu kontras.
Oleh karena itu, Kopral Verdi menyerahkan kendali serbuan hari ini kepada Senior Malyu.
"Kopral, awalnya saya tidak akan minta hal yang sulit. Cukup lari dan amankan posisi di belakang Medis Touri."
"Baik."
"Jarang ada musuh yang menembak dari belakang, jadi mari maju tanpa rasa takut."
Begitulah pengarahan sebelum serbuan berakhir, namun...
"Aku kan anggota Regu Allen, kenapa malah ditaruh di belakang...?"
"Dengan tingkat latihanmu yang sekarang, kau hanya akan merusak formasi."
Rodry-kun yang tadinya sangat bersemangat karena mengira akan menjadi barisan perintis, kini tampak merengut kesal setelah diperintahkan Senior Allen untuk mundur ke barisan belakang.
Benar. Karena dia juga masih rekrutan baru sama sepertiku dan Kopral Verdi, dia ditempatkan di belakang Komandan Garback.
"Belajarlah dengan baik dan jadilah kuat. Kalau sudah begitu, kau bisa bergabung dengan unit perintis."
"Dari posisi sejauh ini di belakang, bagaimana caranya aku bisa membunuh orang...?"
Niat membunuhnya masih luar biasa seperti biasa. Jika ini adalah masa damai, dia adalah tipe orang yang pasti akan kuhindari sebisa mungkin.
"Kau punya keluhan lagi soal perintah atasan, Rodry?"
"T-tidak, Pak!"
Rodry yang sedari tadi bergumam penuh keluhan langsung terdiam dengan wajah pucat begitu dipelototi oleh Komandan.
Sepertinya 'bimbingan' kemarin sangat efektif. Ternyata si berandalan ini pun tahu rasa takut kepada Sersan Garback.
"……"
Atas desakan Komandan, Rodry pun terdiam dan dengan lesu mengambil posisi di belakangku.
Aku sempat melirik wajahnya; pipinya menggembung, menunjukkan rasa tidak puas yang kentara.
Ia memberikan kesan mental yang cukup kekanak-kanakan. Kira-kira berapa ya usianya? Jangan-jangan dia seumuran denganku, kelompok usia termuda 15 tahun?
Setelah pengeboman artileri yang gencar selama beberapa jam...
"Sudah waktunya! Mulai serbuuu!!"
Bersamaan dengan teriakan lantang Komandan, Peleton Garback pun bergerak maju.
Di sisi kanan dan kiri kami, unit-unit lain juga mulai merayap keluar dari parit dan merangsek maju.
"Uwooooooooooaaaaaaarrgh!!"
Kami berlari di belakang Komandan Garback sambil meneriakkan pekik perang.
Jika kami bisa melompat ke dalam parit musuh dan menguasai pangkalan mereka, maka kemenangan akan jadi milik kami.
"Gahahahahahahahaha!!"
Namun, peluru dalam jumlah mengerikan berdesingan dari parit musuh.
Di tengah hujan peluru itu, hanya Komandan Garback yang bisa berlari tanpa tergores sedikit pun.
Regu Allen yang menjadi perintis tampaknya sudah menderita kerugian cukup besar. Ah, satu orang baru saja tertembak tepat di kepala.
Sepertinya Senior Allen juga terkena tembakan di bahu kanannya.
"Habisi mereka! Mampuslah kalian!"
Tanpa membuang waktu, Komandan Garback segera merangsek masuk ke parit musuh menyusul Regu Allen yang sudah lebih dulu berada di sana.
Dia seolah tidak peduli dengan gugurnya satu rekan kami, dan seperti biasa, langsung menciptakan badai darah di sana.
Hanya dalam hitungan detik setelah melompat masuk, Komandan sudah berhasil menguasai titik pertahanan pertama.
"Aku akan pergi mengamankan titik di sisi kanan dan kiri! Touri, cepat tangani Allen mumpung ada waktu!"
"Siap!"
Setelah meninggalkan perintah itu, Komandan berlari menyusuri parit dan menghilang dari pandangan.
Bagian yang terluka pada Senior Allen adalah pleksus saraf di bahu kanannya. ……Luka seperti ini akan membuat lengannya lumpuh jika tidak segera ditangani secara medis di garis belakang.
Untuk saat ini, aku akan melakukan tindakan penghentian pendarahan saja.
"Sepertinya aku hanya bisa sampai di sini. Maaf, Malyu. Sisanya kuserahkan padamu."
"Dimengerti."
Senior Allen terpaksa mengundurkan diri dari pertempuran ini.
Mereka yang terluka dan tidak bisa lagi bergerak akan ditinggalkan di parit yang sudah aman sementara pasukan lainnya terus maju.
Itu adalah prosedur yang paling aman bagi mereka.
Kini, peleton kami hanya tersisa 7 orang.
"Bagus, pengamanan titik utara selesai! Kita lanjut kuasai sisi selatan, kalian semua ikut aku!"
"Siap!"
Selagi aku memberikan penanganan minimal pada Senior Allen, Komandan Garback sudah berlari melesat pergi dengan kecepatan luar biasa.
Kalau dipikir-pikir, saat serangan pertama dulu aku harus berjuang mati-matian hanya untuk membuntuti Komandan Garback, tapi sekarang aku bisa mengikuti kecepatannya dengan wajar.
Kurasa stamina tidak mungkin meningkat secepat itu hanya dalam beberapa minggu, jadi mungkin aku sudah mulai terbiasa dengan teknik berlari yang efisien.
"Mu-mustahil. Ini benar-benar tidak masuk akal!"
"Apa yang Anda lakukan, ayo lari, Kopral! Kita bisa tertinggal jauh."
"Ini aneh, kan?! Kenapa orang itu sudah merangsek maju sendirian sementara unit kawan yang lain bahkan belum mengejar? Dia terlalu jauh di depan!"
"……"
Dari kejauhan, aku bisa mendengar keluhan Kopral Verdi yang lebih mirip teriakan histeris.
Ternyata dugaanku benar, serbuan ini memang aneh. Meninggalkan rekan jauh di belakang dan menonjol sendirian di depan itu tindakan yang sangat berbahaya, kan?
"Kalau masih punya waktu untuk berteriak, lebih baik gunakan untuk lari, Kopral!"
"Metode penyerangan seperti ini tidak ada di buku panduan! Ini malah contoh sempurna dari 'kesalahan penyerangan' yang seharusnya tidak dilakukan!"
"Kopral, biar kuberi tahu satu hal yang bagus. Buku panduan itu cuma kertas toilet yang ditulis oleh para pengecut yang kabur ke garis belakang!"
Prajurit Satu Malyu, yang kini menggantikan Senior Allen memimpin unit perintis, menjawab untuk menggoda Kopral Verdi.
Wah, suasananya terasa sangat 'militer' sekali. Meski sepertinya kurang etis melontarkan lelucon di tempat di mana nyawa dipertaruhkan begini, tapi...
"Jadi maksudmu, selama ini aku menghafalkan kertas toilet dengan penuh rasa syukur?"
"Kopral, jangan meremehkan kertas toilet. Di medan perang, kertas untuk menyeka bokong itu barang berharga, lho."
"Oh, begitu! Kalau begitu sejak awal aku berharap mereka membagikan buku panduan yang ditulis oleh Komandan kita yang pemberani saja! Walaupun sepertinya bakal memakan korban yang sangat mengerikan, sih!"
"Ahahaha! Oi, oi, Kopral. Komandan kita itu tidak punya cukup pendidikan untuk sekadar menulis huruf di buku panduan!"
Kopral Verdi dan Komandan Regu Malyu terus mengejar punggung Komandan Garback sambil melontarkan gurauan ringan.
Konon katanya, dalam pertempuran yang sesungguhnya, keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi yang tepat akan menghasilkan performa maksimal.
Mungkin itu sebabnya mereka sengaja melontarkan lelucon, meski terasa tidak sopan, agar tetap bisa rileks.
"Kalau terus-terusan menyerbu mengikuti Sersan Garback, nyawa sebanyak apa pun tidak akan pernah cukup! Aku menuntut peninjauan ulang formasi secepatnya!"
"Tapi kenyataannya tidak begitu, Kopral. Peleton Garback justru punya tingkat kematian yang relatif rendah. Saking rendahnya, sampai-sampai kami diizinkan memiliki tenaga medis sendiri."
"Ma-mana mungkin... itu tidak masuk akal..."
Verdi-san tampak benar-benar lemas menghadapi kegilaan Komandan Garback.
Tapi itu benar; berkat "perlindungan" Sersan Garback, tingkat kematian di peleton ini memang masih lebih baik dibandingkan unit lain.
Kata kunci di sini adalah 'relatif'.
"Haa— haa—"
"Oi, kau tidak apa-apa?"
Meski terus mengeluh, Kopral Verdi tetap mampu mengikuti ritme penyerangan dengan baik.
Staminanya cukup mumpuni; tampaknya dia benar-benar ditempa di akademi militer.
"……Anu, Rodry-kun. Kalau tidak sanggup, bagaimana kalau Anda tetap tinggal di parit ini saja?"
"A-aku... masih bisa lari... jangan urusi aku, dasar Tepos..."
"Haa."
Di antara anggota peleton saat ini, yang paling mengkhawatirkan justru Rodry-kun.
Mungkin karena kurang stamina, napasnya sudah tersengal-sengal parah.
"Belum... aku belum membunuh... satu orang pun..."
Suara napasnya bahkan sudah mulai berbunyi ngik-ngik, apa dia benar-benar akan baik-baik saja?
Sangat ironis melihat niat membunuhnya yang meluap-luap tapi staminanya tidak sanggup mengimbangi.
"Bagus, aku kembali! Target selanjutnya parit kedua, serbuuu!"
"Siap!"
Selagi kami berbincang, Komandan sudah kembali. Cepat sekali beliau menguasai titik pertahanan di sebelah tadi.
Rodry-kun menjawab dengan sangat lantang, tapi jelas sekali kalau dia sedang memaksakan diri.
Seharusnya dia membuang jauh-jauh harga dirinya dan memohon pada Sersan Garback agar diizinkan tetap tinggal di sini.
Menyedihkan sekali kalau dia sampai gugur besok padahal aku sudah berjuang mati-matian mengobatinya kemarin.
Dan lapisan parit kedua pun dengan cepat dikuasai oleh komandan regu.
Perlawanan musuh ternyata lebih sengit dari yang diperkirakan, dan korban mulai bermunculan secara sporadis di dalam regu.
“Touri, berapa banyak mana yang tersisa?”
“Saya telah menghematnya sejak semalam untuk persiapan. Aku bisa menggunakan 【Heal】 2 kali, atau 3 kali jika menggunakan ramuan.”
“Hmm. Maka gunakan hanya 1 dosis.”
Kopral Verdi, yang dadanya terkena peluru beberapa saat sebelumnya – luka yang hampir fatal – juga diselamatkan oleh perawatan garis depanku. Beruntung, korban hari ini terbatas pada satu orang yang tewas di awal pertempuran.
Setelah menjelaskan bahwa dia akan mati tanpa perawatan segera, izin diberikan dengan enggan. Hal yang jarang terjadi.
“Komandan, barisan belakang tidak bisa mengikuti sama sekali. Bukankah sudah waktunya untuk menghentikan pertempuran?”
“Kau bodoh! Pertempuran sesungguhnya dimulai dari lapisan ketiga. Dengan pasukan cadangan musuh yang mulai menipis sekarang, jika kita tidak menembus pertahanan mereka, kapan lagi?”
Kopral Verdi, yang menderita luka hampir fatal, dan prajurit infanteri dengan luka di kaki telah tertinggal, meninggalkan Skuad Garback dengan 5 orang.
Selain itu, perlawanan musuh diperkirakan akan semakin intensif dari parit-parit lapisan ketiga berikutnya.
Oleh karena itu, mengamankan posisi ini dan mengakhiri pertempuran dengan kemenangan taktis akan ideal...
“Begitu pasukan kita menyusul, aku akan memimpin serangan.”
Komandan Peleton tidak menunjukkan niat untuk mundur di sini.
“Tori masih terlihat seperti bisa berlari. Hmph, kau berubah dari ulat menjadi seperti semut”
“...Ini suatu kehormatan, Komandan Peleton.”
Ah, aku mengerti. Jadi hari ini, karena dia masih memiliki stamina yang cukup, dia masih berniat untuk menyerang ke depan.
Sampai saat ini, dia telah menghentikan serangan sesuai dengan batas fisiknya sendiri.
“Pasukan sayap kami telah maju.”
“Baiklah, sepertinya hari ini mungkin menjadi hari keberuntungan kita.”
Haruskah aku berpura-pura kelelahan total bahkan sekarang?
Tidak, melakukan itu akan membuat mereka berpikir aku melewatkan latihan dan aku akan mendapat teguran.
“Baiklah, kita menyerang. Hari ini kita akhirnya akan menembus pertahanan Federasi!”
Dan begitu, untuk pertama kalinya, aku akan melangkah ke dalam jaringan pertahanan musuh yang sebenarnya.
Tidak seperti sebelumnya, di mana kita menyerang parit yang sudah hancur oleh meriam sihir, tapi ke lapisan ketiga parit, yang dijaga oleh pasukan segar dan utuh yang penuh semangat tempur.
“Ayo kita pergi!!!”
……Perlawanan mereka jauh lebih dahsyat dari apa yang kubayangkan.
Butir-butir peluru yang berdesingan dari parit musuh berbeda dari dunia yang kukenal. Jika dilihat dari depan, peluru-peluru itu memancarkan tujuh warna pelangi.
Sebuah langit berbintang yang bersinar di tengah parit pada siang hari.
Itu pasti karena senjata di dunia ini tidak hanya menggunakan bubuk mesiu, tapi juga diperkuat dengan sihir.
Aku dengar pendar cahaya dari batu sihir memiliki berbagai macam jenis.
Jika dilihat sekilas, pemandangan itu terasa sangat mencolok dan "pop", persis seperti layar video gim.
Ya, jika diibaratkan, itu seperti aurora.
Tirai pelangi yang misterius dan fantastis seolah ditarik untuk mewarnai garis batas parit.
Kebisingan yang memekakkan telinga beradu dengan keindahan warna pelangi yang membuat siapa pun ingin menghela napas.
Itulah—
"Terjang dengan niat matiiii!!"
—pemandangan yang kulihat saat kami menyerbu parit lapis ketiga.
Perlawanan musuh dari titik ini menjadi jauh lebih sengit dari yang kudengar sebelumnya.
"……Guoh!"
Begitu kami semua merayap keluar dari parit, Prajurit Satu Malyu tertembak di perut dan terhempas kembali ke dasar parit.
Itu bukan kematian instan, tapi luka fatal yang sulit untuk diselamatkan.
"Komandan Regu Malyu!"
"Jangan pedulikan aku, lariiii!"
Kini, anggota kami tinggal tersisa 4 orang. Dua di antaranya adalah aku dan Rodry…… sepasang rekrutan baru.
"Kalian para kroco tidak usah banyak pikir, ikuti saja aku!!"
Sekarang, kekuatan tempur yang layak hanya tersisa Komandan Garback dan Senior Gray.
Dengan kondisi mengenaskan seperti ini, apa yang bisa kami lakukan selain terus maju?
"Selama aku masih hidup, semuanya bisa diatur!"
Mungkin sejak awal, Komandan Garback memang berniat menaklukkan parit ini seorang diri.
Baginya, bawahan hanyalah "perangkat keamanan" untuk menjaga punggungnya tetap aman.
Alasan dia menempatkan petugas medis sepertiku di unit ini pun kemungkinan besar karena...
"Kaki kiriku tertembak! Cepat obati, Touri!!"
"Ba-baik!"
Karena dia hanya bisa percaya pada kemampuannya sendiri, dia menyiapkan "kotak P3K berjalan" bernama Touri, lalu menyusun strategi untuk merangsek maju sambil terus diobati di garis depan.
"【Heal】!"
"Minum obatmu! Mungkin akan kugunakan lagi segera!"
"Dimengerti."
Selama pengobatan, meskipun darah menyembur dari kakinya, Komandan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti berlari.
Aku pun terpaksa merapalkan sihir penyembuhan sambil ikut berlari menyamai kecepatannya.
Garback sendirian, dengan wajah yang mengerikan seperti iblis, menahan rasa sakit luar biasa dan menjadi ujung tombak yang menerjang jarak dua puluh meter paling kejam di medan perang ini.
"Komandan, lenganku... kakiku...!"
"Ikuti aku kalau kau tidak mau mati, Gray!!"
Senior Gray yang terus menempel di sisi Komandan Garback langsung bersimbah darah dalam sekejap.
Setidaknya tiga peluru bersarang di tubuhnya. Untungnya, luka di kakinya sepertinya hanya luka gores. Tapi pembuluh darah besar di lengannya terkena tembakan. Bukan luka fatal... tapi jika tidak segera diobati, ini akan gawat.
"Kau punya tugas untuk menjaga parit yang sudah kukitari! Aku tidak peduli kalau kau mati 10 menit lagi, tapi untuk sekarang, lariiiii!!"
Tentu saja, izin untuk mengobati Senior Gray tidak diberikan.
Begitu kita masuk ke dalam parit, setidaknya aku bisa menghentikan pendarahannya, jadi tolong bertahanlah, Senior!
Saat itu, jarak antarparit yang kami lalui hanya sekitar 20 meter.
Jarak antarparit ini memang bervariasi tergantung lokasinya, karena parit selalu digali secara berkelok-kelok.
Normalnya, jika berlari sejauh 20 meter, seorang atlet lari bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 4 detik.
Namun, bagi kami para prajurit, berlari sejauh 20 meter membutuhkan waktu yang terasa sangat lama.
Kami tidak bisa melakukan start jongkok, medan perang dipenuhi rintangan seperti kawat berduri dan jebakan sihir, dan yang terpenting, kami harus berlari sambil memanggul perlengkapan seberat lebih dari 20 kilogram.
"Gray, lemparkan granatnya!!"
"Dimengerti!"
Selain itu, kami harus tetap bertempur bahkan saat berada di area terbuka antarparit tersebut.
Tentu saja, sebelum melompat ke parit musuh, kami harus menghabisi musuh di dalamnya sampai batas tertentu.
Jika melompat tanpa persiapan, yang menanti di sana hanyalah maut.
"Lempar!"
Karena lengan kirinya terluka, Senior Gray menarik pin granat dengan mulutnya lalu melemparkannya ke arah parit musuh.
Granat itu membentuk garis parabola dan meluncur mulus menuju parit tempat musuh bersembunyi.
"■■!"
"Cih."
Namun sayangnya, granat Senior Gray gagal membunuh musuh.
Sebuah peluru angin ditembakkan dari parit musuh, mementalkan granat itu ke arah yang sama sekali tidak relevan.
Itu adalah sihir antiserangan udara, hal yang sama yang pernah dilakukan Senior Allen sebelumnya.
"Gahahahahahahaha!!!"
Meski begitu, Komandan Garback sepertinya sudah memperhitungkan bahwa granat itu akan ditangkis.
Dia memanfaatkan celah sepersekian detik itu untuk menambah kecepatan dan merangsek masuk ke dalam parit.
Sepertinya, mengalihkan perhatian musuh sekejap saja sudah cukup baginya.
"Ayo cepat, Rodry-kun!"
"Ngg... ugh... ooh..."
Kami memang sempat tertinggal, tapi kami pun tidak boleh terlambat lebih lama lagi.
Di dalam parit sana, pasti Komandan sudah mulai membantai musuh.
Daripada membuang waktu berdiri mematung di tempat berbahaya seperti ini, kami harus bergegas memberi bantuan—
"Senior Gray, cepatlah!"
"……Ah, ahaha."
Namun, jawaban Senior Gray terdengar sangat lemah.
Karena cemas, aku menoleh ke belakang. Di sana, Senior Gray sudah tersungkur di tanah dengan kaki kiri yang telah hilang.
"Maaf ya, aku sudah tidak sanggup lagi."
"……!!"
Kaki kiri Senior Gray, mulai dari bagian paha ke bawah, telah lenyap dan hangus.
Gawat. Entah karena terkena sihir musuh atau menginjak jebakan sihir, yang jelas Senior Gray telah kehilangan kakinya.
"Ayo, cepatlah maju."
Senior Gray mendesak kami untuk terus mendahuluinya.
Namun, jika begini, kami tidak akan bisa mengamankan titik pertahanan setelah masuk ke parit nanti.
Mustahil bagi Rodry-kun dan seorang medis sepertiku untuk mempertahankan pangkalan.
"!"
Begitu pikiran itu terlintas, tanpa sadar aku berlari menghampiri Senior Gray dan memapah bahunya.
"Hei, bodoh! Tinggalkan aku dan cepat maju!"
"Kalau saya membiarkan Anda, penaklukan pangkalan oleh Komandan akan jadi sia-sia!"
Seandainya dia tumbang di tempat yang sedikit lebih jauh, mungkin aku sudah meninggalkannya.
Namun, untungnya Senior Gray terjatuh hanya sekitar dua atau tiga meter di depan parit.
Terlebih lagi, titik di depan kami sedang dalam proses pembersihan oleh Komandan. Serangan musuh di titik itu sedang terhenti.
Aku menilai penyelamatan ini sangat mungkin dilakukan.
"Ugh, ggh..."
"Oi, jangan dipaksakan!"
Namun, di detik aku memikul tubuhnya, aku menyadari satu kesalahan fatal dalam penilaianku.
Tubuh Senior Gray benar-benar terlalu berat.
Ya, seorang infanteri mengenakan berbagai macam perlengkapan di sekujur tubuhnya. Bagi prajurit laki-laki dengan perawakan gagah seperti Senior Gray, bobotnya pasti melampaui 100 kilogram.
Tidak mungkin bagi perempuan bertubuh mungil sepertiku bisa melakukan penyelamatan dengan cepat.
Setidaknya, aku harus menyuruh Senior Gray membuang perlengkapannya dulu sebelum kupikul bahunya.
"Pertama, satu langkah... ggh!"
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tak ada gunanya sekarang. Hanya butuh beberapa langkah lagi dari sini, dan kami akan sampai di garis finis.
Sambil menyeret tubuh Senior Gray, aku memaksakan kakiku melangkah dengan kekuatan nekat yang muncul di ambang maut.
"O-oh?"
"Saya belum akan membiarkan Anda mati, Senior.... Saya butuh Anda untuk melindungi kami... di dalam pangkalan nanti...."
Aku melirik sekilas ke dalam parit. Di sana, Komandan sedang mengamuk, menebas leher musuh satu per satu bak monster yang tak tertandingi.
Sepertinya hampir tidak ada musuh yang tersisa di sana.
Syukurlah, kalau begini kami bisa langsung melompat masuk.
"Anda boleh mati 10 menit lagi, tapi untuk sekarang, tolong pertahankan parit yang sudah dikuasai Komandan. Ini adalah perintah atasan!"
"……Jadi aku bahkan belum diizinkan mati, ya? Kau benaran majikan yang galak, Touri-chan."
Senior Gray memang luar biasa berat, tapi setelah aku berhasil memaksakan langkah pertama, tubuhnya mulai terseret maju.
Selama aku bisa menyeretnya masuk ke dalam parit, sisanya adalah bagianku. Aku hanya perlu melakukan penghentian pendarahan sambil menjaga titik yang telah dikuasai.
"Sedikit lagi……"
Tepat sebelum aku mengayunkan langkah terakhir itu.
Tiba-tiba, bantuan dari pangkalan musuh di sebelah—yang secara ceroboh luput dari pengawasanku—mulai masuk.
"────Ah."
────Wusss. Sebuah benda bulat melayang perlahan ke arah kami.
Dari arah kanan—seorang prajurit musuh dari pangkalan sebelah melemparkan granat tepat ke arahku dan Senior Gray yang sedang berusaha melompat masuk ke parit.
Pada saat otakku menyadari kenyataan itu, semuanya sudah terlambat.
"Tanganku...!"
【Shield】 tidak akan sempat.
Aku harus menjulurkan kedua tangan ke depan untuk membentuk 【Shield】 miring yang efektif.
Dalam kondisi memapah Senior Gray dan menggunakan kedua lenganku, aku hanya bisa menciptakan 【Shield】 datar yang tak berguna.
"Ada apa, Touri-cha—"
"A-a-aaaah!!!"
Tidak, lagipula... ledakan granat yang dilemparkan tepat di depan mata begini tidak mungkin bisa ditahan dengan 【Shield】 payahku.
Dalam situasi ini, satu-satunya cara bagiku untuk selamat hanyalah membuang Senior Gray dan menghindar.
Meski begitu, entah karena aku lengah sesaat sebelum mencapai garis finis, pikiranku mendadak kosong begitu melihat granat itu melayang.
—Mati. Saat itu, aku dengan jelas membayangkan masa depan di mana aku akan mati secara mengenaskan seperti Salsa-kun.
Bisa dikatakan aku jatuh dalam kepanikan. Benar-benar tidak kompeten; malah mematung dan berhenti berpikir di saat genting seperti ini.
Namun, dengan tubuh Senior Gray yang menindihku hingga aku tidak bisa bergerak bebas, ditambah granat yang dilemparkan tepat ke arahku, aku hanya bisa menerima maut yang mendekat dengan tatapan kosong.
Dan seketika dunia—aliran waktu—terasa melambat.
Mungkin inilah yang disebut kilas balik kematian. Memori tentang kehidupanku selama ini menyembur keluar. Di sisi lain, seperti rekaman slow motion, aku hanya bisa terpaku melihat granat musuh itu jatuh perlahan menuju kakiku.
Ah, ternyata semudah ini ya aku mati.
Mohon maaf, Salsa-kun. Nyawa yang telah kau selamatkan dengan melindungiku kini terbuang sia-sia.
Seharusnya aku tidak pernah datang ke medan perang. Seharusnya aku tidak pernah menjadi prajurit.
Aku benci diriku di kehidupan sebelumnya, yang dengan ringannya menembaki orang-orang di dalam gim.
Aku mengutuk kebodohanku sendiri karena telah mengajukan diri secara sukarela dengan perasaan ringan, semua itu akibat pengalaman masa laluku yang begitu santai hingga rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri.
Jika aku bisa berinkarnasi sekali lagi...
Setidaknya di kehidupan selanjutnya, tak apa meski hanya menjadi orang biasa, aku ingin hidup di dunia damai tanpa peperangan.
"Dapat... barang bagus...!!"
Begitulah, saat itu aku sudah benar-benar siap untuk mati.
Namun tiba-tiba, sebuah bisikan riang yang terasa seperti emosi negatif yang mendidih menyela kilas balik kematian dari hidupku yang singkat ini. Suara itu terdengar tepat di telingaku.
"Terima kasih... barang bagusnya...!!!"
"Hah?"
Lalu, di dunia yang melambat itu, tepat di samping granat yang hampir mendarat, sebuah tangan menjulur keluar.
Tangan itu menangkap granat yang seharusnya merenggut nyawaku tepat sebelum menyentuh tanah, seolah-olah sedang menyendoknya.
Dan kemudian—
"TERIMA KASIH BANYAAAAKKK!!!"
"Eeeehh!?"
Sambil tertawa terbahak-bahak, ia melemparkan kembali granat itu ke arah pangkalan musuh yang tadi menyerang kami.
Pihak musuh sepertinya sangat tidak menyangka hingga gagal bereaksi; granat yang dilempar balik itu meluncur mulus ke dalam markas mereka tanpa sempat ditangkis, lalu meledak dengan suara dentuman yang dahsyat.
"Mati kau kena bom!! Ahiahiahiyaaaa!!!"
Ya, itu adalah Rodry-kun.
Rodry-kun entah bagaimana bisa bereaksi terhadap granat yang dilemparkan ke arah kami, menangkapnya, lalu melemparkannya kembali—sebuah aksi gila yang nyaris mustahil dilakukan.
"To-Touri-chan! Sekarang waktunya!"
"Ba-baik!"
Berkat aksi dewa dari Rodry, kami yang berhasil menyambung nyawa ini akhirnya bisa melompat masuk dengan selamat ke dalam parit.
Aku tidak terluka sedikit pun, dan meski Senior Gray menderita luka berat, dia masih bernyawa.
Ini... bukankah ini pencapaian besar dari Rodry-kun?
"Hm, kau terluka ya, Gray. Masih bisa mempertahankan pangkalan?"
"Tangan kiriku memang begini, tapi kalau bisa memfiksasi senapan, aku masih bisa bertarung."
"Hun, kalau begitu bagus. Touri, hentikan pendarahannya."
Di dalam pangkalan, Komandan Garback sudah menghabisi seluruh pasukan musuh.
Dia menyentakkan pedangnya dengan satu gerakan mantap untuk membersihkan sisa darah. Dari tampilannya, dia tidak tampak menderita luka serius.
"Lho? Semuanya sudah mati...?"
"Rodry juga selamat, ya. Kalau begitu kalian semua, pertahankan pangkalan ini!"
"Dimengerti."
"Padahal aku juga ingin membunuh mereka."
Setelah mengatakan itu, Komandan langsung berlari pergi menuju pangkalan sebelah.
Staminanya benar-benar luar biasa seperti biasa.
"……"
"Apa? Apa lihat-lihat?"
Sambil menangani luka Senior Gray, aku menatap kosong ke arah Rodry-kun.
Tidak, aku benar-benar bingung harus bagaimana.
Beberapa waktu lalu, saat aku berterima kasih padanya, aku malah dimaki habis-habisan.
Tapi, aku tidak bisa membendung rasa syukur atas tindakan beraninya tadi.
Meskipun nanti aku dimarahi lagi, haruskah aku menyampaikan rasa terima kasihku dengan benar sekali lagi?
"……"
……Tapi mungkin, dari sudut pandangnya, dia bukan ingin menyelamatkan kami, melainkan hanya ingin membunuh musuh saja.
Kalau memang begitu, ucapan terima kasih mungkin hanya akan membuatnya risih.
Jika begitu, kata-kata yang paling tepat untuknya saat ini adalah...
"Etto. Pe-pembunuhan bom yang bagus (Nice Bakusatsu), tadi itu."
"Hah? Bicara apa kau, mau kubunuh?"
Sepertinya, ini juga salah.
"Aduh, sakit tahu...!"
"Maaf, Senior. Tolong tahan sebentar."
Setelah masuk ke dalam parit.
Aku menyerahkan tugas jaga lingkungan sekitar kepada Rodry-kun dan mulai menangani luka Senior Gray.
Kaki dan lengan kiri Senior mengalami luka yang sangat parah. Karena pembuluh darah besar di kedua bagian itu telah robek, aku tidak punya pilihan selain membakar permukaan dagingnya dengan pemantik api untuk menghentikan pendarahan.
Saraf-sarafnya pun terpaksa ikut terbakar, jadi kemungkinan besar ia akan mengalami kecacatan permanen yang membuatnya sulit bergerak. Namun, inilah tindakan medis maksimal yang bisa kulakukan dalam kondisi di mana aku tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan secara terus-menerus.
"Nah, Touri-chan, tolong selipkan senapan ini di sela-sela karung pasir itu."
"Begini, ya?"
"Benar. Lalu tumpuk satu karung lagi di atasnya..."
Setelah selesai menangani lukanya, aku mulai memasang fiksasi senjata sesuai instruksi Senior.
Aku menyangga laras senapan dengan karung pasir agar ia tetap bisa menembak meskipun hanya dengan satu tangan.
Sementara itu, Rodry-kun—meski dia masih rekrutan baru—sedang berusaha keras melakukan pengintaian di balik bayang-bayang karung pasir.
"Terima kasih, ini sudah cukup bagus. Touri-chan, sisanya kau bersembunyi saja di belakangku."
"Mohon bantuannya, Senior."
Melihat dudukan senjata buatanku yang payah itu, Senior Gray tersenyum puas. Hmm, seharusnya aku mempelajari hal-hal seperti ini juga sebelumnya.
Senior bilang ini sudah bagus, tapi karena aku tidak terampil, bentuknya jadi sangat miring.
"Hei, Senior Gray, tidak ada granat lagi?"
"Tidak ada. Kalaupun ada, tidak akan kuberikan padamu. Kita diperintahkan untuk mempertahankan pangkalan, kenapa kau malah berniat menyerang?"
Bahkan saat mendekam di balik karung pasir menunggu musuh datang, Rodry-kun masih sangat bersemangat untuk membunuh.
Padahal dia baru saja meledakkan orang tadi, kan? Apa dia masih belum puas?
"Cih, kalau begini semuanya bakal habis dibunuh Komandan Peleton."
"Kenapa sih, kamu punya niat membunuh yang begitu tinggi, Rodry-kun?"
"Ya jelas karena aku benci musuh, dasar cebol!"
Rodry-kun menjawab pertanyaanku dengan mata yang berkilat tajam.
Karena musuh itu membenci kita, begitukah?
"Heh, Cebol. Apa kau tidak punya orang berharga yang dibunuh oleh bajingan Sabbat itu?"
"……Kalau harus mengatakannya, tempo hari teman masa kecil dan rekan seperjuanganku baru saja tewas."
"Nah, itu sudah cukup. Cukup untuk menjadi alasan membunuh musuh."
Alasan untuk membunuh.
Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu sebelumnya. Lagipula aku adalah seorang medis, tugasku bukan untuk membunuh seseorang secara langsung.
Namun...
"Setidaknya kau harus punya alasan untuk membunuh. Kalau tidak, saat waktunya tiba nanti, kau akan ragu dan justru kau sendiri yang akan mati."
"Heh. Rodry, untuk ukuran rekrutan baru, bicaramu sok tahu juga ya."
"Itu kata-kata yang diucapkan komandan reguku di peleton sebelumnya. Senior Gray, itu adalah ucapan dari seorang veteran yang pangkatnya lebih tinggi darimu."
"Begitu, ya."
Bagi mereka para infanteri yang harus merenggut nyawa musuh, memiliki 'alasan untuk membunuh' sepertinya adalah sesuatu yang sangat krusial.
"Dia adalah senior yang jauh lebih bisa diandalkan daripada seseorang yang tergeletak sekarat penuh luka di sini."
"Ya ampun, kau benar-benar anak yang tidak ada manis-manisnya."
Senior Gray hanya tertawa kecut menanggapi mulut tajam Rodry.
Saat waktunya tiba nanti. Misalnya, saat ada musuh tepat di depan mataku, dan hanya aku yang berada dalam posisi bisa membunuh musuh tersebut.
Akankah aku bisa membunuhnya tanpa ragu?
"……"
"Yah, tapi Touri-chan tidak butuh hal semacam itu kok."
"Eeh. Petugas medis pun seharusnya punya niat membunuh yang jelas, tahu."
Salsa-kun mati karena granat yang dilemparkan musuh.
Itu adalah kejadian yang sangat menyedihkan, dan hingga kini aku masih sering memimpikan wajahnya saat mengembuskan napas terakhir.
Aku pun sudah berkali-kali hampir terbunuh. Musuh pernah mengayunkan pedang militer ke arahku dengan niat membunuh yang sangat nyata.
"……Saya,"
Tapi, entah mengapa. Aku tidak benar-benar merasakan kebencian yang mendalam terhadap prajurit musuh.
Alih-alih membenci musuh, aku lebih sering merasa sedih atas kematian rekan-rekan sepihak.
Bahkan, terkadang... aku juga merasa sedih melihat para prajurit musuh yang mati bergelimpangan dalam jumlah besar.
"Saya... sepertinya tidak bisa melakukan hal seperti itu. Saya payah dalam hal membenci."
"Hah. Dasar pengecut penakut.”
Dulu aku mengira pengalaman bermain gim akan menjadikanku prajurit yang hebat, tapi aku salah besar.
Sepertinya karena nilai-nilai dari kehidupanku yang sebelumnya, aku merasakan penolakan yang sangat kuat terhadap tindakan merenggut nyawa manusia.
Tidak, mungkin sejak awal kepribadianku memang tidak cocok jadi prajurit.
Saat aku sedang merasa terpuruk memikirkan hal itu, tiba-tiba Senior Gray mengusap kepalaku.
"Hei, Rodry. Kau tahu nggak tipe orang seperti apa yang menjadi petugas medis?"
"Hah? Mana kutahu."
"Konon katanya, bakat sihir penyembuhan itu tidak akan muncul kecuali 'perasaan memikirkan orang lain' lebih kuat daripada 'keinginan mencelakai orang lain'."
Mungkin itu cuma mitos, lanjut Senior Gray sambil tertawa kecil.
"Touri-chan ini pasti secara alami memang sulit untuk membenci seseorang."
"Itu..."
"Orang sepertinya nggak butuh 'tekad untuk membunuh'. Biar kami para orang liar ini saja yang melindunginya."
Sulit membenci seseorang karena kepribadian...
Kata-kata Senior Gray entah bagaimana terasa sangat masuk akal bagiku.
Benar. Aku memang payah dalam urusan membenci orang lain.
Bahkan kepada Komandan Garback yang sangat kasar dan penuh paksaan, atau kepada Prajurit Dua Naridome yang pernah menyerangku saat aku tidur.
Aku tidak benar-benar membenci mereka.
……Yah, meskipun aku merasa takut pada mereka, sih.
"Cih, intinya cuma pengecut, kan?"
"……Iya, Anda benar. Saya memang seorang pengecut."
"Tsk."
Aku adalah seorang penakut. Hal itu sangat kusadari sejak menginjakkan kaki di medan perang ini.
Karena takut terluka, aku mencoba tidak terlibat terlalu dalam dengan orang lain.
Karena takut dipukul, aku tidak berani membangkang pada Komandan Garback.
"Kalau memang sepenakut itu, mengurung diri saja sana di rumah sakit. Jangan ke garis depan."
"Oi, oi. Jangan bicara begitu pada Touri-chan yang sudah menekan rasa takutnya dan mengikuti kita sampai ke sini demi mengobati kita. Kau bisa ditelantarkan olehnya, lho."
"Hah, mati di medan perang adalah impianku. Aku akan membawa sebanyak mungkin musuh bersamaku ke liang kubat."
Karena aku yang seperti inilah, dia pasti sangat membenciku.
Aku takut mati. Aku tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa mati di sini adalah impianku seperti dia.
Namun, mungkin orang seperti Rodry-kun inilah yang memiliki bakat luar biasa sebagai seorang infanteri.
"Mati adalah impianmu, ya..."
Mendengar kata-kata Rodry yang begitu sok kuat, Senior Gray menatapnya dengan pandangan iba, sekaligus seperti sedang melihat seorang anak kecil yang sedang berlagak.
"Aku kembali."
Tak lama kemudian.
Komandan Garback kembali ke pangkalan kami dengan raut wajah yang masih terlihat kaku dan keras.
"Titik-titik di sekitar sudah dikuasai. Sekarang, kita tinggal menunggu unit kawan untuk bergerak maju."
"Kerja bagus, Komandan."
"Satu lagi, perutku tertembak. Touri, obati aku."
Setelah mengatakan itu, Komandan Garback segera melepaskan perlengkapannya dan bertelanjang dada.
……Di hadapanku terpampang tubuh berotot yang dihiasi bekas luka tembak dan sayatan lama yang tak terhitung jumlahnya.
Di bagian kanan atas perutnya, sebuah hematoma berwarna merah kehitaman telah terbentuk, dengan aliran darah yang terus merembes keluar dengan deras.
"……Tunggu, ini kan luka fatal!"
"Ya, makanya cepat sembuhkan."
Ketika aku memeriksa bagian yang katanya tertembak itu, ternyata peluru bersarang di area hati.
Saat kusentuh, perutnya terasa tegang karena penumpukan cairan (ascites). Hatunya pasti sudah hancur meledak.
Bagaimana bisa orang ini masih berjalan dengan kondisi tubuh seperti itu?
"I-ini butuh operasi darurat. Saya akan mencoba teknik yang bahkan belum pernah saya pelajari dengan meniru apa yang saya tahu, jadi kalau saya gagal dan Anda mati, tolong jangan hantui saya."
"Jangan banyak bicara, jangan sampai gagal."
Ini adalah luka parah yang seharusnya membutuhkan perawatan intensif tingkat tinggi. Seberapa gila orang ini sampai bisa terus bergerak?
Tak ada waktu untuk ragu. Jika dibiarkan, Komandan akan tewas di sini.
Setelah memberikan bius melalui suntikan, aku mulai membedah perut Komandan sambil mencoba menggali ingatan tentang prosedur yang pernah dilakukan Kepala Bangsal.
"Hi-hiii...!"
"Musuh bisa kembali kapan saja, selesaikan dalam 5 menit."
"Mana mungkin bisa sesingkat itu!?"
Darah menyembur deras seperti air terjun. Sambil panik membakar luka untuk menghentikan pendarahan, dengan nekat aku merogohkan tanganku ke dalam perut Komandan.
Karena tidak membawa peralatan bedah lengkap, aku terpaksa menggunakan tangan yang sudah memakai sarung tangan steril untuk mencungkil peluru yang bersarang di dalam hatinya.
Sekalian saja, aku membakar pembuluh-pembuluh darah di dalam perut yang pendarahannya terlalu hebat.
……Baru kali ini aku bersyukur memiliki tubuh mungil. Ukuran tanganku yang kecil ini justru memudahkanku melakukan prosedur bedah darurat tersebut.
Aku memotong bagian hati yang tampak sudah mati, lalu menjahit bagian-bagian yang masih bisa disambung dan menyatukannya secara paksa.
Terakhir, aku meminta Rodry-kun—yang menjadi asisten dadakan—untuk menyiramkan cairan saline ke dalam perut untuk membersihkannya.
Karena aku hanya bisa memberikan bius lokal di permukaan, seharusnya Komandan Garback merasakan rasa sakit luar biasa yang tak terbayangkan, tapi...
"Anu..."
"Kalau kau punya waktu untuk memerhatikan raut wajahku, lebih baik cepat selesaikan."
Melihat Komandan yang tetap tenang dan memelototiku tanpa mengernyit sedikit pun meski sedang "diacak-acak" begini, benar-benar membuatku merinding.
Wajahnya sama sekali tidak berubah, sehingga aku sama sekali tidak bisa menebak seberapa banyak darah yang hilang atau bagaimana kondisi tanda-tanda vitalnya.
Sebaliknya, saat ini aku justru memohon padanya untuk menunjukkan rasa sakit di wajahnya. Tolonglah, tunjukkan sedikit saja.
"……Fuuuh, ini adalah tindakan minimal yang bisa saya lakukan. Sisanya…… 【Heal】!"
"Selesai?"
Aku berhasil memperbaiki bentuk hati yang hancur berantakan itu dengan cara yang cukup kasar, mengeluarkan peluru, dan berhasil menghentikan pendarahannya.
Sisanya, aku hanya bisa berdoa agar sihir penyembuhanku bekerja dengan semestinya.
Apakah tidak apa-apa jika seseorang sepertiku—yang kemampuannya hanya sedikit di atas amatir—melakukan operasi dengan tingkat kesulitan setinggi ini hanya dengan tangan kosong?
Karena aku mengutamakan kecepatan dan melakukan prosedur ini seperti "proyek sistem kebut semalam", aku yakin masih banyak bagian yang terlewatkan.
"Selesai…… kurasa."
"Hun."
────Aku juga tidak begitu percaya diri, apakah benar-benar tidak apa-apa menghentikan pendarahan secara paksa menggunakan 【Heal】 seperti tadi.
Lagipula, mungkin akulah orang pertama yang pernah melakukan operasi bedah di garis depan yang se-ekstrem ini.
"Aku sudah boleh bangun, kan?"
"Tidak, dengan tingkat keparahan luka Komandan, apa pun tindakan yang sudah dilakukan, Anda harus istirahat total."
"Hun, kenyataannya ini sudah jauh lebih ringan. Kalau begini, aku bisa lanjut maju."
"Anda. Harus. Istirahat. Total."
Ya ampun orang ini, benar-benar tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.
Kau masih berniat maju, Komandan? Senior Gray sudah tidak bisa bergerak, ayolah, kita cukupkan saja sampai di sini.
"Komandan. Menurut opini bodoh saya, melanjutkan pergerakan lebih jauh akan sangat sulit mengingat kondisi kesehatan Anda. Saya mengusulkan untuk mengakhiri pertempuran setelah mengamankan titik ini."
"Ditolak. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Penyerangan hari ini adalah peluang emas yang hanya datang beberapa tahun sekali."
Aku sudah mengusulkan untuk berhenti, tapi Komandan tidak mau menerimanya.
Apa sebenarnya alasan dia sampai ingin terus maju meski baru saja dioperasi di tengah medan perang?
"Komandan. Apa maksud Anda dengan 'peluang emas'?"
"Hun. Touri, menurutmu apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri perang ini?"
"……Saya rasa, dengan menaklukkan ibu kota musuh."
"Itu mustahil. Tidak realistis."
Komandan Garback melirikku dengan tajam.
"Touri, apa yang ada di belakang garis pertahanan musuh?"
"Di belakang, ya. Saya berasumsi kemungkinan besar ada fasilitas medis musuh, serta tempat penyimpanan logistik makanan dan senjata."
"Benar. Dan hari ini, kita akan menghancurkan itu."
Lalu, Komandan Garback mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik dadanya.
Minuman keras? Tanpa sepatah kata pun, Garback mulai menenggaknya dengan rakus.
Minum alkohol tepat setelah operasi... apalagi tepat setelah hatinya hancur meledak...
"Prajurit juga manusia. Kalau tidak ada makanan dan tidak diobati, mereka tidak akan bisa bertarung."
"……"
"Rumah sakit lapangan, tempat yang kau anggap aman setiap harinya, justru merupakan target serangan utama bagi kami para prajurit garis depan."
Tanpa sempat kucegah, Komandan sudah menghabiskan minumannya dan melemparkan botol kosong itu ke sembarang tempat.
"Apakah maksud Anda, bahkan non-muharib pun akan dibantai tanpa ampun?"
"Jika tidak begitu, perang ini tidak akan pernah berakhir."
"Dan peluang emas itu adalah hari ini?"
"Akibat serangan bertubi-tubi selama beberapa hari terakhir, musuh sudah sangat kelelahan. Tampaknya saat ini pertahanan mereka berada dalam kondisi paling lemah dalam beberapa tahun terakhir."
"……"
"Jika kita tidak bisa menembus garis pertahanan hari ini, entah kapan kesempatan berikutnya akan datang. Karena itu, hari ini kita akan maju sejauh mungkin."
Setelah berkata demikian, Komandan Garback duduk di atas karung pasir. Beliau menengadah ke langit seolah sedang berdoa, lalu bergumam:
"Aku sudah membereskan pangkalan di sekitar sini. Sekarang, tinggal menunggu pasukan kawan menyusul kita."
Setelah itu, yang kami lakukan hanyalah menunggu.
"……Aku merasakan hawa keberadaan musuh lagi. Aku akan memeriksa titik sebelah."
"Tolong berhati-hatilah."
Karena energi sihirku sudah terkuras habis, aku benar-benar tidak berguna di tempat ini.
"Touri-chan, tolong bantu aku menegakkan tubuh."
"Baik, Senior."
"Terima kasih."
Mundur sendirian terlalu berbahaya, namun karena aku tidak memegang senjata, berjaga-jaga pun terasa sia-sia.
Akhirnya, aku hanya berperan sebagai pembantu bagi Senior Gray yang lengan dan kakinya tidak bisa digerakkan.
"Apakah pasukan sekutu masih belum maju juga?"
"……Entahlah."
Dengan tubuh yang menderita luka parah itu, Komandan Garback sesekali pergi ke pangkalan sebelah, menebas mati musuh yang ada, lalu kembali lagi.
Dia kemudian duduk membisu di atas karung pasir di depanku dan Senior Gray.
"Ada instruksi, tunggu sebentar."
"Siap."
Mungkin sudah sekitar 15 menit berlalu sejak kami menguasai pangkalan ini.
Sebuah pesan masuk melalui alat komunikasi sihir yang dipegang oleh Komandan.
"……Begitu ya, dimengerti."
"Anu, Komandan?"
Setelah menerima instruksi tersebut, Komandan Garback menghela napas panjang sambil menatap ke langit.
"Mundur. Pangkalan ini akan kita tinggalkan."
Sepertinya pasukan sekutu… telah gagal menaklukkan parit lapis ketiga.
"Ditinggalkan, ya……"
"Tak lama lagi musuh akan menyerbu kembali pangkalan ini. Kemasi barang-barang kalian."
Komandan Garback mengepalkan tangannya hingga gemetar, tampak begitu terpukul.
Harus melepaskan titik pertahanan yang telah direbut dengan perjuangan mati-matian seperti ini... Memikirkannya saja membuatku merasa hampa.
"……Komandan Garback."
"Ada apa, Rodry?"
"Orang ini, bagaimana nasibnya?"
Rodry-kun mengajukan pertanyaan setelah mendengar perintah Komandan.
Yang dimaksud dengan "orang ini" adalah dia yang kehilangan kakinya dan tergeletak di sana...
"Hun. Gray, kau mengerti kan?"
"Ya, saya mengerti, Komandan."
Itu adalah Senior Gray.
Benar, siapa yang akan memapahnya?
Secara logis seharusnya Rodry-kun, tapi dengan stamina seorang rekrutan baru, mampukah dia berlari sejauh 20 meter sambil memikul beban berat?
"Dia akan menjadi umpan pelindung (shinngari). Tinggalkan dia di sini."
Komandan Garback melirik sekilas ke arah Senior yang telah kehilangan kakinya.
"Selama kami mundur, pastikan mereka tidak menyerang punggung kami. Bertahanlah sekuat tenaga sampai mati di sini."
Dia melemparkan kata-kata itu begitu saja kepada Senior Gray.
Perasaan seperti apa yang dirasakan manusia saat maut sudah di depan mata?
Komandan Garback memberikan perintah itu tanpa keraguan sedikit pun.
Perintahkan dia untuk mati di sini.
"Siap, Komandan."
Senior Gray menjawab dengan nada yang begitu wajar, seolah itu adalah hal yang lumrah.
Aku rasa, aku tidak akan pernah bisa melupakan ekspresi wajah Senior Gray saat itu seumur hidupku.
……Kenapa kau tersenyum, Senior?
"Bagus. Touri, Rodry, ikuti aku."
"Eh, a...!"
"Musuh tidak akan melewatkan kesempatan saat kita mundur. Kita akan keluar saat titik-titik di sekitar sedang terlibat baku tembak. Lari begitu aku memberi aba-aba."
Komandan memberi isyarat agar kami mendekat ke dinding belakang parit.
Dia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Senior Gray, orang yang baru saja beliau perintahkan untuk mati.
"……Nah, cepat pergilah, Touri-chan."
"Se-senior……"
……Aku hanya bisa menatap Senior Gray yang menerima perintah kejam itu dengan linglung.
Dia duduk bersila dengan tenang di depan dudukan senjata yang tadi kupasang, jemarinya menggenggam senapan dengan mantap.
Mungkin, saat itu air mataku sudah mulai mengalir tanpa kusadari.
"……Ah, benar juga. Komandan. Di dalam barang bawaanku, ada sepucuk surat untuk keluargaku yang belum selesai kutulis."
"Begitu ya."
"Maaf kalau saya lancang menyuruh Anda, tapi bisakah Anda melampirkannya bersama surat pemberitahuan kematian saya nanti?"
"Akan kulakukan."
Ditinggalkan sendirian di tengah kepungan musuh dan diperintahkan untuk menjadi tumbal.
Tidak mungkin beliau tidak merasa takut. Tidak mungkin beliau tidak merasa ngeri.
Namun, Senior Gray sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan itu dalam sikapnya.
"Lalu yang terakhir. Terima kasih atas segalanya selama ini, Komandan."
"Hm."
Beliau tetap bersikap santai seperti biasanya.
Pasti dia sengaja melakukannya agar kami, para rekrutan baru, tidak merasa goyah.
"……Hei, Komandan Garback."
"Ada apa, Rodry?"
"Aku masih punya sisa tenaga, lho."
Setelah menatap Senior Gray selama beberapa saat, Rodry—yang sama-sama rekrutan baru sepertiku—menggumamkan hal itu.
"Boleh tidak kalau aku membawa Senior Gray sebagai daging pelindung punggungku?"
"Tidak boleh."
"……Kenapa begitu?"
"Karena itu akan menaikkan probabilitas kematianmu."
Bagiku, usul Rodry-kun itu terasa sangat mengejutkan.
Usulnya jelas-jelas bermaksud untuk menyelamatkan Senior Gray.
Bagaimana mungkin dia, yang staminanya belum seberapa, mau berpura-pura kuat demi memikul Senior Gray?
"……Tidak mungkin begitu."
"Ditolak."
"……”
Rodry, yang usulannya ditolak mentah-mentah, menatap tajam ke arah Komandan dengan wajah tidak puas.
Dari ekspresi itu, sepertinya rasa sesal pun mulai merembes keluar.
"Apa gunanya menolong Gray? Dengan kaki yang sudah hilang, dia tidak akan bisa bertarung lagi."
"……"
……Aku tidak tahu karena jarang ikut menggali parit, tapi mungkinkah Rodry-kun sebenarnya punya hubungan yang cukup dekat dengan Senior Gray?
Sampai-sampai dia ingin menolongnya meski harus memaksakan diri.
"Sudahlah, Rodry. Jangan pikirkan aku lagi. Berhenti di situ, atau kau bakal dipukul begitu sampai di markas nanti."
"……Hun."
Akhirnya, setelah dinasihati oleh Senior Gray sendiri, Rodry memalingkan wajahnya. Mungkin saja, dia juga sedang menangis.
"Ah, benar juga, Rodry. Terakhir, aku beri satu nasihat."
"……Apa?"
"Memaki ke segala arah begitu... sebaiknya kau berhenti melakukannya."
Sambil menunggu Komandan mengintai kesempatan untuk meloloskan diri dalam diam, Senior Gray berbicara kepada Rodry.
Wajahnya tampak lembut dan hangat seperti biasanya.
"Kau sangat mirip denganku, Rodry. Mungkin, apa yang kau pikirkan juga sama."
"……"
"Kau... di unitmu yang sebelumnya, kau sangat akrab dengan rekan-rekanmu, kan? Aku mendengarnya dari penyintas yang lain."
Mendengar perkataan Senior Gray, raut wajah Rodry berubah.
Jadi, ada unit yang bisa menjalin hubungan baik dengan Rodry-kun?
Mungkinkah di unit sebelumnya dia tidak terus-menerus melontarkan makian?
"Rasanya menyakitkan, kan? Saat melihat orang-orang yang dekat denganmu dibantai."
"……Tentu saja."
"Rasanya kau ingin membunuh mereka semua karena begitu membenci musuh, kan?"
"Tentu saja!!"
……Para penyintas dari unit yang telah hancur biasanya akan dialokasikan kembali untuk mengisi kekosongan personel di peleton-peleton lain.
Fakta bahwa Rodry-kun ditugaskan ke Peleton Garback berarti unit asalnya kemungkinan besar telah....
"Karena itulah, kan? Makanya kau terus memaki dan mencari keributan dengan semua orang."
"Itu..."
Setelah mengatakan hal itu, Senior Gray melanjutkan.
"Kau pikir, kalau kau akan mati juga pada akhirnya, lebih baik tidak usah berteman dengan siapa pun agar perasaanmu lebih tenang, kan?"
Senior Gray mulai mengusap kepala Rodry yang ternyata sudah berurai air mata.
"Tapi cara hidup seperti itu tidak cocok untukmu. Kau itu terlalu baik."
"……"
"Sejak kau ditempatkan di sini, kau selalu memperhatikan keadaan rekan-rekanmu. Kau sangat ketakutan akan kehilangan rekan lagi, kan?"
Sudahlah, itu bukan tugasmu lagi.
Rodry-kun mendengarkan kata-kata Senior itu sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.
"……Jangan-jangan, Rodry-kun selama ini..."
"Begitulah. Berterima kasihlah padanya, Touri-chan. Si brengsek ini terus melontarkan makian, tapi dia selalu melindungimu yang lebih lemah darinya. Seseorang dengan cara hidup seperti itu tidak akan pernah bisa bertarung sendirian. Itu pemikiran yang cacat."
Mendengar hal itu, banyak hal yang mulai terlintas di benakku. Rodry-kun selalu bilang itu hanya kebetulan, tapi dia sudah 2 kali menyelamatkanku dari situasi kritis.
Terlebih lagi, di saat-saat yang sangat tepat.
"Bukan begitu……"
"Lalu kenapa kau sampai mengusulkan untuk memikulku dan melarikan diri, hah?"
Dia... Rodry-kun, ternyata sama denganku.
Dia bersikap dingin agar tidak terlalu terbawa perasaan terhadap rekan-rekannya, namun ia tetap tidak bisa membuang sisi lembut dalam dirinya.
Sama sepertiku yang secara refleks memapah Senior Gray, dia pun pasti secara refleks datang menolongku.
Padahal sebenarnya, dia ingin dibenci semua orang dan dibiarkan sendiri.
"Bukan…… aku……"
"Jujurlah pada dirimu sendiri, jangan mengurung diri di dalam cangkang. Milikilah kekuatan untuk berduka atas kematian kawanmu, lalu melangkahlah maju. Kalau mentalmu hancur lebih dari ini, kau benar-benar akan mati."
……Tepat setelah Senior menyelesaikan kata-katanya.
"Sekarang, keluar! Lari sekuat tenagaaaaa!!"
Aba-aba dari Komandan Garback menggelegar layaknya raungan singa.
Sontak aku dan Rodry-kun merangkak keluar dari parit.
Kami segera masuk ke dalam lindungan 【Shield】 yang dibentuk oleh Komandan dan mulai memacu kaki.
"Senior Gray!! Akuuu!!"
"Jangan banyak bacot, gerakkan kakimu, bodoh!"
Di antara mereka semua, aku adalah yang paling lambat.
Karena itu, aku menggerakkan kakiku seolah kesurupan, berlari demi mencapai parit kawan yang aman barang sedetik lebih cepat.
"Aku benci semua ini!! Melihat orang-orang yang baik padaku semuanya mati itu sudah—"
Belum sempat kalimat itu selesai.
Suara tembakan yang memekakkan telinga meletus dari parit yang dipertahankan oleh Senior Gray.
Musuh pasti sudah merangsek masuk begitu melihat kami meloloskan diri.
"UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!"
Sebuah teriakan lantang terdengar dari belakang kami.
Itu adalah raungan perkasa dari Senior Gray yang lembut, hangat, dan begitu gagah.
"OOO... OOOOO, OOOOOOO!!"
Namun, suara itu mulai terputus dan parau dalam hitungan detik.
"……O, ……"
Hingga akhirnya, suara itu lenyap bersamaan dengan bunyi ledakan sesuatu.
Sambil menatap punggung Komandan yang terus berlari kencang, aku terisak dalam pelarianku.
Suara tadi... itu sudah pertanda buruk. Itu adalah suara penderitaan dari prajurit yang terluka parah di ambang maut, di mana darah sudah memasuki paru-parunya.
Bahkan seandainya aku kembali ke sana sekarang dan mengobatinya dengan energi sihir penuh pun, akan sulit untuk menyelamatkannya.
Senior Gray telah mengulur waktu sesuai perintah Komandan.
Demi melindungi nyawa kami, demi kami yang melarikan diri dan mencampakkannya, beliau bertarung mati-matian.
Waktu yang beliau beli dengan nyawanya itu hanyalah beberapa detik saja.
"Sedikit lagi……"
Namun dalam beberapa detik itu, kami berhasil maju cukup jauh.
Setelah kami berhasil melompat masuk ke parit belakang dengan selamat.
"Ugh, aaaaahhh!"
Dari kejauhan, terdengar jeritan kematian yang menyayat hati.
"Tolong, Ibu... Ma-ma..."
Jeritan terakhir Senior Gray yang lamat-lamat terdengar itu... adalah suara yang memanggil ibunya.
"Komandan! Apa Anda menjadikan Prajurit Satu Gray sebagai tumbal?!"
Setelah berhasil kembali ke parit lapis kedua, aku dan Rodry-kun hanya bisa terduduk lemas membisu selama satu jam.
Di samping kami yang sudah seperti raga tanpa jiwa, Kopral Verdi dengan wajah yang terdistorsi kemarahan melabrak Komandan.
"Ya."
"Kenapa Anda tidak mengakhiri pertempuran setelah mengamankan parit ini? Tidak mungkin kita bisa menembus pertahanan dengan sisa kekuatan yang ada!"
"Bisa saja. Seandainya aku punya 10 orang lagi sepertiku."
Prajurit Maryu yang tertembak saat melompat keluar dari parit sudah dinyatakan tewas.
Dengan ini, jumlah korban tewas dan luka hari ini menjadi 3 orang.
"Seandainya Anda mengurungkan niat untuk maju!!"
Di sisi lain, Kopral Verdi yang tertolong berkat pengobatan daruratku tampak sudah pulih.
Begitu sadar dan memahami situasi yang terjadi, ia langsung menyudutkan Sersan Garback.
"Ini jelas-jelas pergerakan yang ceroboh. Saya meragukan kualifikasi Anda sebagai komandan!"
"Begitu ya."
"Saya akan melaporkan kejadian ini. Seorang komandan garis depan tidak seharusnya hanya tahu cara maju membabi buta tanpa perhitungan!"
"Lakukan sesukamu."
Sang Kopral terus mencecar dan menghardik Garback yang merupakan atasannya dengan sengit.
Aku hanya bisa terpaku mendengarkan pertikaian antara Kopral Verdi dan Komandan Garback.
Berbagai emosi di dalam diriku sudah mati rasa; aku tidak bisa merasakan apa pun terhadap pertengkaran mereka.
"Maafkan aku. Seandainya saja aku tidak tertembak dan kehilangan kesadaran... Prajurit Dua Rodry, Prajurit Dua Medis Touri, apa kalian terluka?"
"……Tidak."
Setelah akhirnya memalingkan wajah dari Komandan, Kopral Verdi menghampiri kami untuk meminta maaf.
Raut wajahnya menunjukkan penyesalan yang sangat mendalam.
"Aku ingin menanyakan situasi detailnya kepada kalian berdua."
"……Baik, saya mengerti."
"Kondisi kerugian saat instruksi pergerakan maju dari Komandan, sisa amunisi, dan dia…… Prajurit Satu Gray, apa kata-kata terakhir yang beliau ucapkan? Jika kalian berkenan, tolong beritahu aku."
"……"
"Aku berniat memasukkan hal itu juga ke dalam laporan untuk atasan."
Setiap pertanyaan dari atasan harus dijawab dengan akurat dan jujur.
Namun, aku tidak punya cukup tenaga untuk menjawab pertanyaan Kopral Verdi secara mendetail.
Saat itu, aku berada dalam kondisi setengah tak bernyawa, seperti cangkang kosong.
"……Beliau sangat keren."
Yang menjawab pertanyaan Kopral Verdi justru Rodry-kun.
"Eh? Keren……?"
"Senior Gray... beliau sangat keren. Hanya itu saja."
Rodry-kun mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga darah menetes dari bibirnya yang ia gigit, berbicara dengan suara yang seolah diperas keluar dari tenggorokannya.
Seingatku, ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku melihatnya menangis sehebat itu.
"Beliau tidak melarikan diri sepertiku. Meski beliau tahu berteman dengan orang lain pada akhirnya hanya akan menyakitkan, beliau tidak lari dan terus mendukung orang seperti aku sampai akhir."
"……Prajurit Dua Rodry?"
"Beliau pergi dengan rida. Beliau mengucapkan 'terima kasih' kepada Komandan Garback, dan pergi sambil tersenyum."
Setelah menggumamkan itu, tiba-tiba Rodry mencengkeram kerah baju Kopral Verdi dan mengangkatnya.
Melihat tindakan nekat yang luar biasa itu, Kopral Verdi hanya bisa terbelalak kaget.
"Jangan sekali-kali membuat laporan yang mencoreng kehormatan Senior Gray, Kopral……! Jangan buat laporan yang menghina tekadnya, seperti dia dipaksa oleh Komandan Garback, atau dia mati dengan tidak ikhlas! Jangan berani-berani!!"
"Te-tenanglah, Prajurit Dua Rodry."
"Aku... setidaknya, aku ingin menjaga kehormatannya. Aku harus melindunginya, apa pun yang terjadi!"
"Apa maksudmu? Apa yang sedang kau—"
"Beliau menerima perintah Komandan Garback dengan senang hati, dan bertarung tanpa menyayangkan nyawanya demi melindungi mundurnya aku dan Touri!"
Meski Rodry melakukan tindakan pembangkangan terhadap atasan, Kopral Verdi sama sekali tidak menunjukkan gelagat akan memarahinya. Pasalnya...
"Kalau bukan 'keren', lalu mau disebut apa lagi itu……"
Rodry terus menangis tersedu-sedu sambil mencengkeram Kopral, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan air mata besar yang membasahi wajahnya.
"……Saya juga sependapat denganmu, Rodry-kun."
Kata-kata terakhir Senior Gray juga tertanam sangat dalam di hatiku.
——Berduka atas kematian kawanmu, lalu miliki kekuatan untuk melangkah maju.
Itu pasti hal penting yang selama ini hilang dari diriku.
Terlalu takut kehilangan kawan hingga akhirnya menutup hati. Pasti ada banyak rekrutan baru yang bersikap seperti itu.
Namun, dalam kondisi seperti itu, kerja sama unit tidak akan pernah terjalin.
Mustahil bisa menang jika kita bertarung bersama orang yang tidak bisa dipercaya untuk menjaga punggung kita.
"Karena itulah, kita harus meratapi kematian Senior Gray, lalu melangkah maju."
Setelah selesai mengatakan itu.
Aku meraih lengan Rodry-kun yang sedang emosional dan menariknya menjauh dari Kopral.
"Karena itu, tenanglah Rodry-kun. Musuhmu bukanlah Kopral."
"……Cih."
"Kopral Verdi, maaf atas kekacauan ini. Rodry-kun pasti merasa sedikit lelah."
"……"
"Saya sendiri pun sudah cukup terkuras secara mental. Bisakah Anda memberikan kami waktu sejenak sebelum meminta laporan tersebut?"
"E-eh, ya. Tentu saja."
Jika Rodry-kun terus membuat keributan, dia pasti akan menerima hukuman fisik lagi dari Komandan.
Aku tidak ingin orang yang telah menyelamatkan nyawaku mengalami hal seperti itu. Karena itu, aku berdiri di antara Rodry-kun dan Kopral Verdi untuk menengahi.
"Lalu, Rodry-kun."
"Apa lagi? Aku sudah bilang aku mengerti."
Aku meraih tangannya, dan tetap menggenggamnya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku di situasi berbahaya hari ini. Kamu juga... sangat keren, kok."
"……!"
Tanpa rasa takut, aku menatap lurus matanya dan menyampaikan rasa terima kasihku dengan tulus.
Operasi penyerangan kami kali ini berakhir dengan sukses besar. Berkat pertahanan musuh yang sedang melemah, tingkat kerugian personil tidaklah begitu besar. Banyak unit yang berhasil maju lebih dari 5 meter tanpa mengalami kelelahan atau kerusakan yang berarti.
Para prajurit di garis depan bersorak gembira, saling merangkul bahu rekan seperjuangan sambil menyanyikan lagu kemenangan.
Semangat bertempur mereka membara, yakin bahwa hari di mana mereka bisa mendorong mundur garis pertahanan hingga ke tepi sungai sudah dekat.
Sebagai perayaan kemenangan, setiap prajurit dibagikan sedikit kudapan.
Keberhasilan serangan dan pemberian barang pemuas keinginan yang sudah lama tidak mereka rasakan ini benar-benar mendongkrak moral para infanteri.
Tidak heran jika suasana menjadi begitu meriah.
Jika hanya melihat hasilnya, kami telah berhasil bertahan dari gempuran musuh yang bertubi-tubi, menguras tenaga mereka, dan merebut kembali wilayah dengan kerugian minimal.
Ini adalah kemenangan taktis yang tak terbantahkan, dan kabarnya Markas Besar Umum juga mengumumkan hal yang sama kepada rakyat.
"……"
Namun, di tengah euforia tersebut.
Ada segelintir orang yang mengepalkan tangan dengan rasa sesal saat melihat pemandangan itu.
Ada beberapa personel militer yang menganggap hasil pertempuran kemarin bukanlah sebuah kemenangan, melainkan sebuah kekalahan.
【20 April】
"Rodry-kun."
"Apaan, Cebol."
Malam setelah operasi penyerangan yang sukses biasanya menjadi waktu istirahat yang langka bagi para pasukan penyerbu.
Malam ini pun tidak terkecuali, Komandan memberikan perintah untuk beristirahat.
"Mulai malam ini, bolehkah aku tidur di sebelahmu?"
"Hah!?"
"Ini untuk pencegahan pelecehan. Sebelumnya aku selalu meminta tolong pada Senior Gray."
"……Ah. Begitu ya."
Namun, berbeda dengan waktu istirahat sebelumnya, Komandan Garback tidak mengadakan pesta perjamuan.
Alasannya sederhana: hatinya baru saja hancur meledak. Minum alkohol sudah jelas dilarang. Bisa mati dia.
Demi kesehatan Komandan, aku menyarankannya untuk segera pergi ke rumah sakit.
Sepertinya Komandan sendiri sedang tidak ingin berpesta, dia hanya menjawab "Hun, begitu ya" dan berjalan kaki dengan tenang menuju rumah sakit.
Bagaimana bisa orang itu masih sanggup berjalan kaki, ya?
"Aku tidak keberatan kau tidur di sebelahku, tapi malam ini aku tidak ada di barak."
"……Lho?"
"Senior Allen mengajakku keluar."
Setelah mengatakan itu, Rodry-kun memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang sedikit canggung.
Senior Allen yang terluka di awal pertempuran dan ditarik mundur sepertinya sudah selesai diobati.
……Syukurlah lukanya tidak sampai mengancam nyawa.
"Jadi, kamu memutuskan untuk mulai bergaul dengan yang lain, ya?"
"Aku belajar dari Senior Gray. Aku juga tidak mau jadi anak kecil terus."
Wajah Rodry-kun tampak jauh lebih lega, seolah beban berat yang selama ini menghantui dirinya telah sirna.
Sepertinya hari ini dia telah tumbuh dewasa, baik sebagai manusia maupun sebagai seorang prajurit.
"Jadi, kamu diajak ke mana?"
"……Yah, ke suatu tempatlah."
Hanya saja, melihat caranya bicara yang agak ambigu tentang ajakan itu, sepertinya dia memang berniat pergi ke tempat "hiburan" seperti itu.
"Ah, benar juga. Rodry-kun, kalau kamu pergi ke tempat seperti itu, aku punya kata-kata rayuan yang bagus."
"Oi, jadi kau tahu aku mau ke mana?"
"Ini adalah kata-kata yang pernah diucapkan oleh seorang pria hebat saat merayuku dulu."
……Rasanya rindu juga. Kalau diingat-ingat, Salsa-kun juga pernah diajak seniornya ke tempat seperti itu setelah operasi penyerangan berakhir.
"Wanita yang baik itu bisa mengenali pria hebat secara naluriah. Itu artinya, kau adalah wanita yang baik."
"……Apa-apaan itu? Rayuan murahan yang bikin merinding saja."
"Menurutku itu kalimat yang bagus. Berlatihlah sampai kamu bisa mengucapkannya dengan lancar."
"Tak disangka. Ternyata seleramu pria tipe pesolek seperti itu, ya."
Aku hanya membalas tatapan heran Rodry dengan sebuah senyuman.
Saat matahari mulai terbenam.
Para prajurit pria sudah pergi entah ke mana.
Aku tertinggal sendirian di dalam parit yang sunyi.
"……"
Garis depan hari ini dipenuhi atmosfer ceria karena kemenangan.
Suasana ini pernah kurasakan saat pesta kemenangan sebelumnya.
"Padahal ada orang yang mati, tapi mereka bisa tertawa sebahagia itu, ya……"
Baru sekarang aku benar-benar menyadari betapa gilanya lingkungan ini.
Tentu saja, mungkin ada unit yang berhasil maju tanpa luka sedikit pun, tapi itu adalah kasus yang sangat langka.
Dalam penyerangan kali ini pun, hampir setiap peleton pasti kehilangan seseorang.
"……"
Apakah semua orang sudah terbiasa dengan kematian rekan seperjuangan mereka?
Ataukah mereka hanya berpura-pura ceria untuk menyembunyikan rasa sedih?
……Jika begitu, mungkin pesta perjamuan saat kemenangan adalah sebuah ritual untuk melupakan penderitaan karena kehilangan kawan.
"……Senior."
Aku sendiri masih belum bisa merelakan kematian Senior Gray.
Hanya sedikit orang yang tahu betapa keren dan beraninya beliau.
Di seluruh pasukan kita, yang mengetahui detik-detik terakhirnya hanyalah Komandan, aku, dan Rodry-kun.
"…………Senior."
Bagi seorang prajurit, kematian adalah penyelamatan sekaligus garis finis.
Seandainya aku bisa berpegang teguh pada kata-kata yang diucapkan Senior Gray sendiri itu, betapa ringannya perasaanku.
Namun, aku masih belum bisa menganggap Senior Gray sebagai orang yang beruntung karena telah terbunuh.
"……"
Karena itu, biarkan aku berkabung sendirian dalam keheningan. Lalu mulai besok, aku harus menerima kematiannya dan melangkah maju.
Senior telah memberiku terlalu banyak hal.
Beliau memberiku kata-kata lembut saat aku kesulitan, menolongku saat bahaya mengancam, dan di saat-saat terakhirnya, beliau bahkan membukakan pintu hati Rodry-kun.
Aku tidak bisa, dan tidak mau, melewati kematiannya begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Jadi, setidaknya untuk hari ini saja, izinkanlah aku bersedih.
"……"
Di dalam parit yang kosong, aku menyandarkan tubuhku di celah kecil dekat barang bawaan Rodry-kun, dan mulai terlelap.
Sekarang tidak apa-apa. Karena tidak ada yang melihat.
Di sana, setelah puas menangis sambil membungkam suara, aku mengusap wajah dan memejamkan mata.
Jika masih ada bekas tangis, Rodry-kun pasti akan mengejekku nanti.
Prajurit selalu berdampingan dengan maut.
Tinggal di medan perang ini membuatku merasa nyawa manusia menjadi semakin lama semakin ringan.
Mengapa aku harus bertempur dengan musuh dan saling membunuh?
Alasannya pasti karena dendam kesumat antarnegara yang sudah terjadi jauh di masa lampau.
Dan 'kebencian' semacam itu pasti akan semakin kuat setiap kali kita bertempur.
Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh para petinggi dengan terus melanjutkan "permainan memperebutkan wilayah" ini?
Apakah mereka diam-diam sedang mengembangkan senjata baru yang bisa menghancurkan kebuntuan situasi saat ini?
Ataukah, seperti yang dikatakan Komandan Garback... segalanya akan terus seperti ini selamanya kecuali kami bisa menembus garis pertahanan musuh dan menghancurkan bagian belakang mereka?
"……Fuuh."
Sebagai seorang prajurit rendahan, aku tidak punya cara untuk mendapatkan jawaban itu.
Sampai perang ini berakhir, sudah berapa banyak rekan yang harus aku hilangkan, dan berapa kali lagi aku harus menangis?
Tidak, berapa kali lagi aku bisa selamat dan tetap memiliki kesempatan untuk menangis?
Dan suatu saat nanti, ketika tiba giliranku untuk mati... jeritan kematian seperti apa yang akan aku keluarkan?
Di saat aku terus mengulang pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban itu di dalam kepala...
"……Ssu, ssu."
Tanpa disadari, aku telah jatuh ke dalam tidur yang lelap.
Waktu menunjukkan tengah malam.
"……Bajingan-bajingan itu, aku tidak akan pernah memercayai mereka lagi……"
Karena semalam aku bertugas di rumah sakit dan kurang tidur, lalu langsung harus berangkat menyerbu hari ini, aku tertidur sangat pulas karena kelelahan.
Kematian Senior Gray sepertinya juga menguras mentalku secara signifikan. Karena itulah, malam ini aku menjadi sedikit kurang peka terhadap lingkungan sekitar.
"Surga apanya. Itu tempat paling mengerikan yang pernah kudatangi!"
Belakangan aku baru tahu, bahwa mengajak rekrutan baru ke kota di malam hari, lalu memaksa mereka menyerbu "kamar penyuka sesama jenis" dalam keadaan telanjang bulat, ternyata adalah tradisi turun-temurun di Peleton Garback.
Saat aku bertanya, "Siapa orang bodoh yang memulai tradisi seperti itu?", muncul nama seorang senior pesolek yang sangat kuhormati itu.
Tampaknya Rodry-kun juga tidak luput dari kejahilan Senior Allen dan dipaksa menyerbu gubuk penyuka sesama jenis tanpa sehelai benang pun.
"Geh. Si Cebol ini... dia memeluk ranselku……"
Berbeda dengan Salsa-kun yang dulu terlanjur "dihancurkan" tanpa daya di sana,
Rodry-kun kabarnya melakukan perlawanan mati-matian. Setelah berhasil membuka jalan keluar, dia langsung melarikan diri dan pulang ke barak tanpa sempat memungut pakaian yang dilepasnya.
"……Jangan bangun, kumohon jangan bangun……"
Yah, begitulah awal mula dari kecelakaan yang menyedihkan ini.
Kebiasaan tidurku yang buruk—yaitu memeluk apa pun yang ada di dekatku—ternyata menjadi bumerang. Ransel miliknya sudah telanjur menjadi guling di dalam pelukanku.
"……Uhn?"
"Ah."
Tepat saat Rodry-kun mencengkeram lenganku untuk menarik ranselnya demi mengambil baju ganti, aku akhirnya terbangun.
"……"
"……"
Jika seseorang tidak tahu duduk perkaranya, bagaimana pemandangan ini akan terlihat? Mari kita deskripsikan situasinya secara objektif.
Tengah malam. Rodry-kun yang telanjang bulat sedang menindihku yang baru bangun tidur sambil mencengkeram lenganku.
"…………"
"Tunggu, ini tidak seperti yang kau pikirkan, Cebol!"
Aku hanya menatap Rodry-kun dengan tajam dalam kebisuan.
Beruntung sekeliling sangat gelap, jadi aku tidak perlu melihat "barangnya" dengan jelas.
"……………………"
"Ini salah paham, jadi tenanglah dulu. Dan lepaskan ransel yang kau pegang itu."
"…………………………………………"
"Aku akan jelaskan, aku akan bicara baik-baik, jadi pertama-tama tetaplah tenang."
Rodry-kun terus-menerus meracau "tenanglah", tapi sepertinya yang sedang panik di sini justru dia sendiri.
Saat itu, sebenarnya aku cukup tenang.
Aku sempat berpikiran macam-macam, seperti: Rodry-kun kan masih sangat muda, mungkin dia tidak bisa menahan nafsu birahinya, atau jangan-jangan seleranya adalah gadis mungil yang belum tumbuh sepertiku.
Tapi, aku masih punya niat untuk mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Masalahnya adalah...
"Apa yang sedang kau lakukan, Prajurit Dua Rodry...?"
"Geh, Kopral Verdi!?"
Entah ini waktu yang tepat atau justru yang terburuk, Kopral Verdi terbangun dan datang untuk memeriksa keadaan.
"…………Haaah. Apakah kau masih ingat insiden Naridome?"
"Tunggu, ini salah paham! Biarkan aku menjelaskan duluuu!"
"Aku mengerti kalau gairah masa muda itu sulit ditahan, tapi mengarahkan syahwat binatang seperti itu kepada rekan seperjuangan... kurasa itu sangat tidak pantas."
"A-ah, tidak, ini sal—"
Kenapa hanya Kopral Verdi yang ada di sini? Rupanya sejak sore beliau berada di tenda petinggi untuk melaporkan insiden Komandan Garback.
Karena sudah terlalu lelah, beliau memilih tidak pergi ke tempat hiburan dan kembali ke parit ini untuk tidur.
"……Anu. Bagiku, aku berutang nyawa pada Rodry-kun. Meski ini bertentangan dengan keinginanku, jika aku bisa membantu agar kau tidak melanggar peraturan militer..."
"Kubilang ini salaaaah, Cebol! Bukan begitu, ini tuh karena...!?"
"Sudah, pakai bajumu, Prajurit Dua Rodry. Aku akan menginterogasi situasinya secara mendalam."
"AKU JUGA MAU PAKAI BAJU DARI TADIIII!"
Setelah itu, kabarnya khotbah panjang lebar dari Kopral Verdi dimulai.
Karena rasa kantukku sudah mencapai puncaknya, aku meminta izin pada Kopral untuk kembali tidur dengan nyenyak.
Pada akhirnya, kesalahpahaman itu langsung terselesaikan berkat penjelasannya.
Kesaksian Senior Allen yang baru kembali, ditambah fakta bahwa aku yang tertidur lagi kembali memeluk ranselnya, membuat pembelaan Rodry-kun dianggap kredibel.
Namun, sejak saat itu, para senior di peleton mulai menjulukinya dengan nama panggilan yang tidak terhormat: "Erodry" (Rodry si Mesum).
"……Syukurlah kamu bisa membaur dengan peleton dengan cepat, ya."
"……"
Tentu saja itu hanya candaan para senior. Itu adalah cara mereka menunjukkan kasih sayang kepada Rodry-kun yang kini mulai mau berbicara dengan mereka.
Mungkin ini juga menjadi bentuk balas dendam kecil dari para senior atas sikap tidak sopan yang Rodry tunjukkan selama ini kepada mereka.
Alhasil, Rodry-kun jadi sering mengeluh padaku bahwa militer adalah organisasi yang benar-benar tidak masuk akal.
"Tenang saja. Aku sama sekali tidak menganggapmu sebagai 'Erodry-kun', kok."
"Berisik."
Dan begitulah, hati Rodry-kun yang baru saja mulai terbuka sedikit demi sedikit, kini kembali tertutup rapat-rapat.
Ternyata, Rodry-kun punya kepribadian yang jauh lebih serius daripada yang kubayangkan.




