Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo Jilid 2 Bab 2

Setelah berhasil lolos dari kejaran Ksatria, Kini Linus & Chronica berlayar menuju ke Kekaisaran. Bagaimana kelanjutanya? Silahkan baca sendiri.

Bab 2: Waikiki Resistance

Bagian 1

Tiga hari telah berlalu sejak kami berlayar meninggalkan Republik.

Di anjungan belakang yang menghadap ke langit cerah dan garis cakrawala, aku sedang menundukkan kepala di hadapan wanita itu.

"Kamu ingin aku menyambungkanmu dengan tunanganku?"

"Ya, tolong."

Di tengah anjungan yang beralaskan karpet hitam, seorang wanita buta duduk di meja teh yang telah disiapkan, menyesap kopi yang dituangkan oleh pelayannya. Namanya adalah Anahito Fuwarati, atau biasa dipanggil Anahit.

Ia adalah Duta Besar Berkuasa Penuh dari Kekaisaran Uap Elbion sekaligus Miko dari agama negara mereka, yang disebut Denkard.

Aku melirik ke luar jendela kaca besar yang terpasang di sana, menatap pemandangan yang membentang luas. 

Haluan baja yang membelah samudera biru. Geladak yang dipenuhi berbagai baterai meriam besar dan kecil, dengan luas yang sanggup menampung dua atau tiga blok pemukiman kota. Katanya air bisa menopang beban yang lebih berat daripada daratan, tapi bagiku, benda ini tetap terasa seperti kemustahilan yang dipaksakan.

Kapal Perang Super Gandharva. Pemilik kapal perang terbesar kebanggaan Kekaisaran Elbion ini saat ini adalah Elbion Navy Company, dan direktur utamanya adalah seorang pria bernama Ragnadan Kabul.

Katanya, ia membeli hak perdagangan, diplomasi, hingga kekuatan militer terhadap Republik dari pemerintah Kekaisaran agar perusahaan dagangnya memiliki otoritas eksekutif penuh. Entahlah, skala tindakan orang kaya dari luar negeri benar-benar berada di level yang berbeda.

Terlepas dari itu, Ragnadan inilah tunangan Anahit, dan menurut kabar yang beredar...

"Biar kuberitahu kau, wahai pemuda dari negara terpencil yang rendah! Nama Presiden kami telah dikenal luas sebagai pengusaha karismatik paling berpengaruh di Kekaisaran saat ini! Beliau dijadwalkan maju dalam pemilihan parlemen periode berikutnya, dan suatu saat nanti... fufu, aku tidak bisa mengatakannya sekarang karena bisa dianggap pengkhianatan, tapi beliau pastilah sosok yang akan menggenggam kekuasaan tertinggi. Bagiku, beliau adalah orang yang sangat layak untuk kujilat! Aku akan terus mencari muka sampai telapak tanganku lecet karena menggosok tangan!"

Suara Barbarossa, sang kepala divisi sekaligus kapten berjanggut itu, kembali menggelegar dari samping.

"Kepala Divisi Barbarossa, kau berisik sekali. Maafkan dia, Tuan Linus. Tentu saja, tidak masalah. Aku akan menulis surat permintaan pertemuan secara pribadi untuknya... untuk Ragna."

"Aku menghargainya, tapi kita sedang di tengah laut, kan? Bagaimana cara mengirim surat?"

"Kami memiliki merpati pos yang luar biasa sebagai sarana komunikasi jarak jauh di kapal ini. Mungkin dalam dua atau tiga hari, surat itu akan sampai di pulau tempat benteng kantor pusat berada."

"Tenanglah," ucap Anahit sambil meletakkan cangkir kopinya dengan denting pelan.

"Namun, setelah kau berbicara langsung dengannya, apa sebenarnya yang ingin kau minta? Jika hanya sekadar suaka ke daratan Kekaisaran, itu bisa diatur hanya dengan otoritas dariku."

Aku menjawab pertanyaan Anahit dengan serius.

"Kau sendiri sudah melihatnya. Aku dan Chronica dikejar oleh orang-orang Ordo... para bangsawan sisa faksi anti-revolusi. Dan, ada masalah yang tidak akan selesai hanya dengan terus melarikan diri."

Ingatan Chronica yang terus terkikis adalah sesuatu yang tidak bisa kubiarkan. Satu-satunya titik terang untuk menyelesaikannya adalah dengan memaksa orang-orang Ordo itu buka mulut.

Saat aku memejamkan mata, aku masih bisa mengingat dengan jelas kedahsyatan serangan tunggal yang menenggelamkan kapal monster bernama Cradle itu dengan begitu mudah. 

Untuk benar-benar menolong Chronica, aku butuh sekutu yang sanggup menandingi kekuatan mereka.

Aku menjelaskan maksudku tanpa menyinggung detail tentang memori Chronica.

"Begitu ya. Baiklah, aku akan mencantumkan situasi sulit kalian dan permintaan dukungan, termasuk bantuan militer. Namun, sayangnya tunanganku bukan orang baik yang tulus sepertiku... dia pasti akan meminta semacam imbalan yang setimpal."

"Itu tidak masalah. Aku mohon bantuanmu."

Aku menelan kalimat, "Kalau dia bukan orang baik, berarti dia lebih bisa kupercaya daripada kau." Lagi pula, jika urusannya hanya soal memanipulasi orang dengan janji kosong dan kata-kata manis, datang dengan tangan hampa pun bukan masalah bagiku.

"Apa! Kau akan bertemu Tuan Presiden!? Kalau begitu, haruskah kuajari cara menjilat sepatu yang benar!?"

"Tidak perlu! Dan kau, turunkan volume suaramu sebelum menurunkan harga dirimu!"

Bagaimanapun juga, aku dan Chronica telah sepakat untuk bertemu dengan sosok bernama Lagnadan di Gayomars—sebuah pulau yang telah disulap menjadi benteng sekaligus lokasi Rapat Umum Pemegang Saham yang akan dihadiri Anahit. Di sana, aku harus membuat pria itu menyetujui perlindungan bagi Chronica dan kerja sama untuk menumbangkan Ordo Ksatria, suka atau tidak suka.

Namun, sebelum itu terjadi...

"Kita harus sedikit menyimpang dari jalur untuk mengisi ulang bahan bakar mesin uap raksasa kapal ini... yaitu batu bara cair! Kapal ini adalah yang terkuat dalam segala aspek, termasuk dalam hal keborosan bahan bakarnya! Hahaha!"

Menurut Barbarossa, pengisian bahan bakar di tengah perjalanan akan dilakukan di kepulauan yang saat ini telah dijadikan wilayah teritorial oleh Kekaisaran Uap Elbion.

"Sebenarnya aku agak gengsi harus berutang pada Divisi Perkebunan yang mengelola pulau itu... tapi karena pertempuran tempo hari kita sampai menembakkan meriam utama dua kali, jadi mau bagaimana lagi."

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan dan pengisian bahan bakar ini, Kepala Divisi Barbarossa?" 

"Kita akan sampai dalam waktu sekitar dua hari lagi. Karena masalah kedalaman air (draft), kapal ini tidak bisa merapat ke dermaga, jadi kita akan melakukan pengisian bahan bakar di laut lepas menggunakan kapal perantara. Kurang lebih kita akan menetap di sana selama tiga hari. Yang Mulia Istri Presiden dan yang lainnya, silakan nikmati pemandangan sebagai turis! Itu adalah pulau tropis yang sangat indah dan terbuka!"


Bagian 2

Begitu aku menyampaikan kata-kata Barbarossa tadi, gadis itu memberikan reaksi yang sudah bisa kutebak.

"Aku tidak sabar! Jadi, berapa hari lagi kita akan sampai?"

"Sudah kubilang dua hari lagi, kan?"

Di teras yang terbuka ke arah laut, beberapa tingkat di bawah anjungan belakang, aku dan Chronica duduk berdampingan di kursi tanpa sandaran, menghabiskan waktu dengan memancing dengan santai.

Di bawah payung peneduh, aku melepas suspender celanaku dan menggulung lengan kemeja putihku. 

Sementara itu, Chronica mengenakan gaun terusan tanpa lengan berwarna krem. Itu adalah pakaian darurat yang kubuat dari sisa kain gorden yang kupinta dari kru kapal. Karena dia menolak diukur badannya, aku terpaksa menjahitnya hanya dengan perkiraan mata, tapi...

"...Hei, ini pas banget sampai-sampai rasanya agak menyeramkan. Jangan-jangan, saat aku sedang tidur kau—"

"Tentu saja tidak. Ini cuma penyakit akibat profesi. Saat memilih cincin kawin atau semacamnya, sangat praktis kalau bisa tahu ukuran hanya dengan sekali lirik."

"Brengsek."

Bagaimanapun juga, berkat bantuan Anahit, kami diperlakukan sebagai tamu kehormatan. Jadi, tidak ada kerja paksa untuk membayar ongkos kapal. Namun, daripada terus menahan guncangan di dalam kabin yang disediakan, rasanya jauh lebih sehat jika kami menunjukkan wajah pada matahari dan angin laut. Itulah alasan aku mengajak Chronica dan satu orang lagi, tapi...

"Cu-cuacanya bagus sekali ya, Linus... Huekk, bo-bo-bo-bo-bo!"

Gadis bangsawan berambut pirang dan bermata biru itu memegang pagar pembatas geladak, lalu memuntahkan isi perutnya dengan dahsyat ke arah lautan.

Muntahannya tampaknya mengandung hawa panas, karena massa yang menyerupai lava pijar itu menghanguskan permukaan laut, menciptakan uap putih yang mengepul panjang mengikuti laju kapal.

"Kau nggak apa-apa?" tanya Chronica khawatir, meski ia sendiri tampak segar bugar. Aku pun sempat merasa payah di hari pertama, tapi sepertinya mabuk laut tidak pandang bulu; status bangsawan pun tak menjamin ketahanan fisik seseorang.

Membiarkan Patricia setengah terabaikan, aku dan Chronica berbagi camilan sejenis roti lapis berisi daging kering dan keju yang kami dapatkan dari kantin kru.

Chronica menggigit sedikit makanan yang terbungkus kertas itu dengan mulut kecilnya.

"Nyam... Muu—!?"

"Hei, jangan ditarik begitu, nanti tumpah ke bajumu."

Keju susu domba asin yang terselip di dalamnya ternyata jauh lebih kenyal dan mulur dibandingkan keju dari Republik.

Chronica dengan canggung menggunakan ujung jarinya untuk menggulung benang putih mulur yang memanjang di antara mulut dan rotinya, lalu memasukkannya kembali ke mulut. Setelah menyelesaikan camilannya, gadis itu kembali berhadapan dengan alat pancingnya.

"Muu... nggak ada yang mematuk sama sekali. Apa umpan kita yang buruk ya?"

"Ya memang begitulah. Laut ini luas. Justru aneh kalau kau cuma asal melempar tali pancing lalu tiba-tiba ada yang menyangkut."

"...Benar juga ya."

Setelah itu, keheningan menyelimuti percakapan kami.

Kami berdua terus menatap tali pancing yang bergoyang pelan, serta awan putih dan laut biru yang seolah membeku dalam waktu.

Hanya suara muntahan membara milik Patricia yang menghanguskan permukaan laut yang terdengar di sela deburan ombak. Di tengah suasana itu, Chronica-lah yang pertama kali memecah keheningan.

"...Hei, Linus."

"Benar juga, Chronica."

"Eh?"

Memotong kata-kata gadis itu, aku mengeluarkan benda yang telah kusiapkan sesuai rencana dari sela-sela peralatan memancing di sampingku.

"Ini, untukmu."

Benda yang kuberikan pada Chronica adalah sebuah buku harian baru.

Tanpa menatap ke arahnya yang hanya terdiam membeku menerima pemberian itu, aku terus menyambung kata-kataku.

"Aku mencur—maksudku, meminta kertas dari berbagai tempat di kapal ini. Dibandingkan yang lama, ini jauh lebih tipis dan jilidnya pun kubuat seadanya, tapi yah, begitulah... Untuk sementara, pakailah itu untuk bertahan."

Kata-kataku sengaja menekankan betapa cerobohnya buatanku, seolah-olah aku sedang mencoba mengalihkan perhatian dari sesuatu yang lain.

"Terima kasih."

Chronica hanya mengucapkan itu dengan suara lirih, lalu mendekap buku harian buatan tangan itu ke dadanya.

Melihat sosoknya, aku sempat berpikir untuk menyampaikan permintaan maaf atau penjelasan tentang kejadian "waktu itu".

Waktu itu—tepat setelah kami berlayar dari pelabuhan Lanston, sesaat sebelum Cradle menyerang.

——Tetaplah di sisiku, selamanya.

Tentang keinginan tanpa suara dari gadis itu, dan tentang isi hatiku yang sebenarnya yang tanpa sengaja telah tersampaikan padanya.

Berada di dekatmu membuatku teringat akan Nee-san, dan itu menyakitkan.

Namun, suara koin yang hanya bisa kudengar sendiri, serta rasa sesak di dada yang kurasakan, pada akhirnya hanyalah produk pemikiran yang muncul secara impulsif.

Dalam menghadapi apa pun, manusia biasanya memikirkan banyak hal. Namun, tindakan yang benar-benar diambil hanyalah satu.

Begitu pula dengan apa yang kurasakan saat itu. Itu hanyalah salah satu kebuntuan berpikir yang seharusnya ditekan dan disembunyikan di dasar hati dalam proses sebelum aku memberikan jawaban secara lisan.

Namun...

Jika memang benar bahwa hal pertama yang terlintas di benak adalah cermin yang memantulkan kebenaran sejati dari manusia tersebut...

Apakah bagi aku, hal itu memang benar adanya?

...Tanpa kusadari, aku tetap membisu tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Kata-kata yang seharusnya keluar dari tenggorokanku hanya berputar-putar sia-sia di dalam dada.

Lucu sekali untuk ukuran seorang penipu. Bahkan tawa mengejek diri sendiri itu pun hanya bisa kutelan dan kutahan di antara gerahamku.

Dan kali ini, keheningan yang sesungguhnya hanya ditemani suara penguapan panas dari muntahan Patricia terus mengalir di atas geladak di sore hari itu.

 

Bagian 3

"Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang."

Mendengar titah itu, pelaut yang bertugas melayani segera memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruangan.

Setelah suara pintu tertutup, Anahit menghela napas panjang seolah memang sudah menahan diri sejak tadi.

"……Fuu, dihormati berlebihan begini benar-benar membuat pundak kaku. Chronica, kamu tidak merasa lelah? Sepertinya kamu tidak mabuk laut, tapi kalau merasa kurang enak badan, jangan sungkan mengatakannya padaku."

Malam hari. Deru rendah mesin uap dan getaran lautan yang memercikkan air pada lambung kapal raksasa ini hanyalah menjadi suara latar yang tenang di dalam kabin kelas atas ini.

Atas permintaan khusus Anahit, aku mendapatkan fasilitas yang setara dengannya. Sebagai perbandingan, kamar tamu biasa yang diberikan kepada Linus—menurut pengakuannya sendiri—tak lebih dari gudang yang kebetulan memiliki pintu sendiri.

Ini mungkin pertama kalinya dalam hidupku aku diperlakukan dengan begitu sopan, rasanya agak sedikit canggung dan menggelitik.

"Aku tidak apa-apa. Justru kau, Anahit, kalau kau lelah, silakan pakai kamar mandinya duluan."

Aku menunjuk ke arah kamar mandi yang terletak tepat di sebelah interior kamar yang mewah ini.

Mendengar itu, Anahit menimpali dengan nada seolah baru saja memikirkan sebuah rencana jahil.

"Kalau begitu aku akan menerima tawaranmu, tapi kamar mandi di ruangan ini sangat luas. Jadi, bagaimana kalau kita masuk bersama saja, Chronica?"

——Dan, beberapa menit kemudian.

Setelah menanggalkan pakaian, kami saling membasuh tubuh di kamar mandi marmer hitam, lalu, entah mengapa...

"……Hei, Ana."

"Ada apa, Chronica?"

"Kenapa kita ada di satu bak mandi (bathtub) yang sama…… tidak, sudahlah itu tidak penting, tapi kenapa kau memelukku? Maksudku—tunggu, ja-jangan sentuh tempat yang aneh-aneh!"

"Maafkan aku. Tapi, yah, seperti yang kau tahu, aku tidak bisa melihat. Aku hidup dengan mengandalkan suara, aroma, dan sensasi kulit. Karena itu, agar aku tidak melakukan kontak fisik yang tidak diinginkan dengan orang yang menemaniku, aku perlu memeriksa ukuran tubuh dan batasan fisik mereka secara mendetail……"

"Kau pasti cuma asal bicara, kan!"

Air di bak mandi yang berwarna putih susu itu dipenuhi busa sabun beraroma mawar yang mengapung layaknya awan.

Aku menyanggul rambutku ke atas agar tidak terendam, namun karena itulah, sentuhan kulit Anahit yang melekat erat dari belakang—mulai dari tengkuk hingga pinggang—terasa begitu nyata hingga membuatku merasa kikuk.

"Hmm, persis dugaanku. Kau sangat ramping, kulitmu halus, dan tubuhmu lentur... tapi juga sangat lembut. Aku jadi iri. Pasti lawan jenis sering kali merasa salah tingkah di dekatmu."

Aku melirik ke belakang. Anahit telah melepas penutup mata hitam yang biasa ia kenakan. Bulu mata peraknya yang panjang tampak basah, dan matanya terpejam rapat. Sosoknya yang dewasa dengan lekuk tubuh eksotis berwarna kecokelatan yang berkilau karena air hangat, menurutku, jauh lebih memikat daripada aku.

Namun, seolah tidak tertarik pada daya tariknya sendiri, Anahit terus-menerus mengelus perut dan pahaku seakan sedang menyelidiki sesuatu. Tidak, ini sih sebenarnya sudah hampir menjurus ke—

"...He-hei, kubilang hentikan, jangan gerakkan tanganmu ke arah yang aneh-aneh!"

"Maafkan aku, kan aku tidak bisa melihat."

Ilustrasi Hitam Putih 1 Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2 Bab 2

Pasti bohong. Walaupun tidak bisa melihat, dia pasti tahu apa yang sedang dia lakukan.

Kami pun terdiam sejenak, meresapi panas air yang menenangkan, hingga akhirnya rasa penasaran yang selama ini mengganjal mencair dan meluncur begitu saja dari mulutku.

"Hei, Anahit…… kenapa kau begitu baik padaku?"

Mengingat betapa banyak masalah yang kami timbulkan sampai kapal ini berangkat, aku merasa kami diperlakukan dengan sangat istimewa, hampir di tahap yang mencurigakan. Dan itu semua terutama berkat pertimbangan darinya.

Dengan nada bicara yang santai, Anahit menjawab.

"Itu karena aku adalah orang baik. ……Sepertinya kau tidak puas dengan jawaban itu, ya? Kalau begitu akan kutambahkan; Hendaknya engkau membagi kebahagiaan. Itu adalah salah satu ajaran agama Denkard. Dan meski mungkin terdengar menyebalkan, secara objektif, aku berada di posisi yang sangat beruntung."

Entah mengapa, meskipun isinya terdengar seperti pamer, suaranya sama sekali tidak menunjukkan nada sombong.

"Ini semua berkat pria yang akan menjadi suamiku. Di usiaku yang masih muda, aku diberikan kedudukan yang luar biasa, dan sebagai istri dari pengusaha terkaya di Kekaisaran, aku menerima hak istimewa dan perlakuan yang sangat mewah. Karena itulah, aku harus membagi keberuntungan ini kepada orang lain sebisa mungkin. Manusia tidak seharusnya memonopoli kebahagiaan. Berdasarkan ajaran itulah, aku menolongmu yang sedang kesulitan."

Mendengar perkataannya, tiba-tiba ingatanku yang masih tersisa pun bangkit.

Waktu itu, di hadapan si kembar Pluto dan Ulna dari Ordo Ksatria, Anahit berdiri melindungi Linus dan aku. Namun, aku merasakan sebuah kontradiksi di sana.

Mungkinkah seseorang yang mengaku dirinya bahagia, bisa mempertaruhkan nyawanya sendiri tanpa ragu sedikit pun?

Memikirkan hal itu, membuat kata-katanya barusan terasa hampa bagiku.

"Anahit, anu, seandainya saja……"

"Ada apa, Chronica?"

——Karena aku bisa memalingkan pandanganku.

Bukankah suara yang bergumam lirih di geladak waktu itu, yang terdengar hampir seperti bicara pada diri sendiri, adalah isi hatinya yang jujur?

Berniat untuk membalas kejujuran itu, aku pun berucap dari lubuk hatiku.

"Kalau kau punya masalah, ceritakanlah padaku. Aku ingin membalas budi, aku akan membantumu sebisa mungkin."

Setelah menghela napas pendek namun terasa dalam, Anahit berkata.

"Tidak, aku tidak punya masalah apa pun. Aku terima niat baikmu," jawabnya tenang.

"Ngomong-ngomong," lanjutnya. "Boleh aku bertanya satu hal? Ini soal Tuan Linus."

Seolah tidak ingin membiarkan napas yang tertahan di tenggorokanku lolos begitu saja, Anahit menyampaikan pertanyaannya.

"Pada akhirnya, apa yang sebenarnya kau rasakan terhadap dia yang menjadi pelindungmu itu? Tenang saja, aku akan merahasiakannya dari Nona Patricia. ……Ini murni karena rasa penasaran, jadi kau tidak perlu menjawabnya jika tidak mau. Tapi kalau boleh jujur, aku berada di pihakmu, Chronica."

Meskipun aku tidak bisa melihat, aku tahu dia sedang sangat tertarik menunggu jawabanku.

Setelah menimbang sejenak, aku akhirnya memutuskan untuk menyerah. Memang agak sedikit taktis, tapi aku berpikir jika aku menunjukkan kejujuran, mungkin Anahit juga akan lebih membuka hatinya padaku.

"……Sejujurnya, aku tidak tahu pasti."

Tepatnya, aku tidak bisa terus mengingatnya.

Ingatanku perlahan-lahan, secara bertahap namun pasti, mulai tercerna dan lenyap.

Di sisi lain, pengetahuan tentang siapa diriku—segala hal yang berhubungan dengan Sang Raja, Bangsawan, Faktor Darah Mulia (Regalia), Ordo Ksatria, hingga nama-nama benda—entah mengapa terus melekat kuat di kepalaku.

Karena itulah aku selalu menulis buku harian. Aku ingin setidaknya mengabadikan kenangan yang perlahan gugur setiap harinya ke dalam untaian kata.

Alasanku terkadang memaksa menatap matanya meski dia tidak suka pun sama. Dengan membaca ingatannya, aku bisa mengalami kembali perjalanan kami meski bukan dari sudut pandangku sendiri. Karena itu, secara teknis tidak ada kendala besar dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, fakta bahwa kenangan itu tidak ada sebagai perasaanku sendiri tetaplah nyata.

Dari kata-kata yang kutulis dan memori dari sudut pandangnya, aku bisa segera mengingat apa yang terjadi. Namun, perasaan yang membuncah di dadaku pada saat itu... tidak peduli sekeras apa pun aku mencoba, aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya kembali.

Setiap kali aku menyadari hal itu, aku merasakan kekosongan yang luar biasa, rasa sia-sia yang tak tertahankan. Hingga tanpa kusadari, kepasrahan dan kejenuhan yang tak berakar itu mulai mendominasi hatiku dengan berat dan menyesakkan.

Itulah sebabnya, dulu aku sempat menginginkan kematian.

"……Maaf, apa kamu merasa kurang enak badan?"

Sebuah suara yang penuh perhatian berbisik di dekat telingaku saat aku terdiam membisu.

"Tidak. Bukan begitu, aku hanya sedikit melamun, anu, jadi... maksudku, aku sendiri pun merasa perasaanku terhadapnya sangat tidak pasti dan samar."

Namun, setiap kali aku membaca ingatan Linus, entah mengapa, dadaku terasa sesak oleh sebuah sensasi nyata yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

"Tapi, satu hal... hanya satu hal ini yang bisa kukatakan."

Selama dia terus bersamaku, perjalanan inilah yang kurasakan sebagai tempat kembaliku—tempat bagi diriku yang sebelumnya tak memiliki siapa pun. Sosok pria bernama Linus Krueger, bagiku, adalah sinonim dari alasan untuk tetap hidup, dan...

"Mungkin, saat aku bersamanya, aku merasa... bahagia."

Namun, aku telah melihatnya.

——Tetaplah di sisiku, selamanya.

Di atas kapal itu, aku telah menaruh keinginan yang tak sanggup kuucapkan ke dalam tatapanku.

Dan saat dia menerima perasaan itu, yang muncul di dalam matanya adalah...

Bukan wajahku, melainkan wajah kakaknya.

Itu karena aku telah mengelupas paksa topeng penipunya di pantai senja itu.

...Pasti, keberadaanku sendiri yang terus membuatnya teringat.

Gara-gara aku, dia terus-menerus menggali lubang kosong di dadanya, bermandikan rasa sakit yang ia temukan di sana, dan menyalahkan dirinya sendiri.

"Tapi Linus... dia tidak merasakan hal yang sama."

Kata-katanya hari itu, saat dia memintaku untuk tidak meninggalkannya sendirian dan menemaninya dalam perjalanan ini, adalah kebenaran yang mutlak. Namun, di atas semua itu...

Sosok dirinya yang menderita setiap kali bersamaku pun adalah kebenaran yang tak terelakkan.

Kenyataan itu terasa sangat menyiksa, memilukan, dan benar-benar menyesakkan.

Dan yang paling membuatku benci, sangat benci hingga tak tertahankan, adalah...

"……Mungkin, dulu aku sempat mengira kalau Linus menyukaiku. Tapi, aku salah."

Identitas dari emosi berwarna pudar yang dia simpan untukku—perasaan yang sulit digambarkan, namun terasa berat, intens, dan seolah-olah ia sedang menuntut sesuatu dengan gigih—kini aku telah memahaminya.

Perasaan itu tidak ditujukan kepadaku. Itu adalah perasaan yang ditujukan kepada kakaknya yang sudah tiada, melalui diriku.

Kenapa, selama ini aku tidak menyadarinya?

Mata kiri ini memproyeksikan pikiran, emosi, dan seluruh bagian dari jiwa manusia. Namun, diriku sendiri tidaklah mahatahu hingga bisa memahami semua yang kulihat. Dan bukan hanya itu alasannya.

Sepertinya, aku pun tidak ingin menyadari identitas sebenarnya dari perasaan pria itu.

Sebab, aku ingin percaya bahwa dia menyukaiku.

Tiba-tiba, Anahit yang sejak tadi mendengarkan dalam diam, bergumam lirih.

"……Aku iri padamu."

Mendengar bisikan basah yang diucapkan tepat di dekat telingaku itu, tiba-tiba aku merasakan sensasi merinding yang menjalar di punggung.

Suaranya yang terdengar begitu tulus mencemburuiku, entah mengapa terasa memiliki kekentalan yang mengerikan.

"……Ternyata, ada gunanya aku menolong kalian."

Detik itu juga, tanpa menunggu jawabanku, Anahit berdiri dari bak mandi seolah ingin memutus pembicaraan.

"Mari kita keluar sekarang. Kau bisa pusing jika berendam terlalu lama, Chronica."

 

Keesokan paginya. Pria yang kucari sedang membakar ikan hasil tangkapannya menggunakan wadah api unggun yang entah ia bawa dari mana, tepat di teras tempat kami memancing kemarin.

"Ada urusan apa, Nona?"

"Ada yang ingin kutanyakan. Soal Anahit."

Sejak kejadian di bak mandi kemarin, aku terus merasa terganggu oleh ucapannya.

"Tapi kalau kau tidak mau bicara, tidak apa-apa."

"Begitu ya? Kalau begitu, silakan sungkan. Paman ini tidak suka membicarakan masa lalu."

"──Akan kulihat sendiri."

Aku mencoba menghunjamkan tatapan mata kiriku ke arah Rostam, namun—

"──ugh!!"

Tatapanku terputus oleh kilatan dari mata pedang yang ia cabut dengan sekejap. Kini, ujung pedang itu tertuju tepat di depan mata kiriku.

"Kau juga termasuk jenis yang disebut bangsawan itu, ya. Tapi aku punya insting yang bagus sejak lahir. Beradu tatap dengan mata kirimu itu berbahaya, kan? Maaf saja, kalau triknya sudah terbongkar, itu tidak akan mempan padaku."

Rostam menyarungkan pedangnya kembali dan memejamkan mata.

"……Kenapa kau ingin sekali tahu urusan si gadis itu?"

"Karena dia sudah menolong kami."

Dan juga,

"Kalau dia sedang kesulitan, aku juga ingin menolongnya."

Rostam mematung sesaat. Kemudian, ia mengembuskan napas panjang perlahan seolah baru saja membuang sesuatu yang berat.

"Berhentilah. Hanya itu yang bisa kukatakan."

 

Bagian 4

Sesuai dengan perkataan Kapten Barbarossa, kapal raksasa yang kami tumpangi tiba di pulau itu setelah dua hari mengarungi samudera luas.

Kepulauan Marina Marcella. Berdasarkan peta laut, ini adalah gugusan pulau yang terletak tepat di tengah jalur pelayaran antara dua benua: Republik Colonial dan Kekaisaran Uap Elbion. Pulau-pulau berbagai ukuran—dari yang sebesar kota kecil hingga seluas distrik administratif—berjejer tak beraturan layaknya remahan roti yang tumpah.

Pantai berpasir tempat kami mendarat dengan sekoci kecil adalah gambaran nyata dari pemandangan tropis yang pernah kudengar. Pohon-pohon pandan laut dengan batang tebal dan daun-daun aneh berbaris rapi. Matahari yang bertakhta angkuh di langit biru memanggang pasir putih hingga menyilaukan mata, sementara angin laut yang lembap mulai membasahi kerah kemejaku dengan keringat. Aku sudah merasa muak bahkan sebelum memulai.

"Wajahmu tidak terlihat bersemangat ya, Tuan Linus."

"……Kau kan tidak bisa melihatnya. Tapi tebakanmu benar. Maaf saja, cuaca di sini benar-benar tidak cocok denganku. Rokokku jadi lembap, rambutku lengket, dan sinar mataharinya menyakitkan……"

"Kalau begitu, silakan berhenti merokok. Lagi pula, tidak kusangka kau bisa mengeluh seperti gadis perawan begitu."

Mendengar bunyi langkah di atas pasir, aku menoleh. Anahit masih mengenakan pakaian putih biasanya dengan Kustig (Tali Suci Putih) tergantung di pinggangnya. Apa dia tidak merasa kepanasan?

Gandharva saat ini sedang dalam proses pengisian bahan bakar di laut lepas. Dan kami dijadwalkan untuk memberi salam kepada pria yang menjabat sebagai Kepala Divisi Manajemen Perkebunan dari Elbion Navy Company yang mengelola pulau ini. Namun, sepertinya pihak sana sedang sangat sibuk, sehingga Anahit mengusulkan agar kami menghabiskan waktu tunggu dengan menikmati pantai.

"Pokoknya, kalau kamu butuh tabir surya, mau kupinjami minyak herbal milikku? ……Ah, sepertinya mereka sudah selesai berganti pakaian. Saling mengoleskan minyak dengan mereka mungkin akan jadi hiburan yang menarik."

Anahit menunjuk ke suatu arah, dan di saat yang sama, terdengar suara langkah kaki baru.

TN Yomi Novel:Kustig (白色聖紐 - Kusuteiigu): Atribut keagamaan Denkard yang dikenakan Anahit. Dalam budaya nyata, ini mirip dengan Kusti dalam Zoroastrianisme.

Dari balik tenda ruang ganti yang dipasang di tepi pantai, sosok itu muncul dengan penuh semangat.

Ilustrasi Berwarna Ketiga Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2

"Fufun! Maaf membuatmu menunggu, Linus!"

Pakaian renang. Sepertinya, Kekaisaran memiliki budaya semacam itu.

Kekaisaran Uap Elbion mulai melakukan ekspansi laut besar-besaran sekitar seratus tahun yang lalu. Konon, pakaian khusus berenang ini awalnya dibuat berdasarkan pakaian tradisional penduduk pulau entah di mana, dan pertama kali dipasarkan untuk para pelaut yang sedang cuti. Lambat laun, tren ini merambah ke keluarga mereka, para istri, hingga anak-anak.

Namun saat ini, permintaan tertinggi kabarnya datang dari kalangan wanita muda. Singkatnya, ini adalah pakaian yang mengandung banyak elemen sensualitas untuk dikenakan saat bermain bersama lawan jenis.

Bagi nilai moral yang kupahami, benda itu tak lebih dari sekadar pakaian dalam.

"Aku merasa ini sedikit... tidak sopan, tapi... ba-bagaimana menurutmu?"

Pakaian dua potong berwarna putih yang dikenakan Patricia memang termasuk jenis itu. Meski ia berusaha bersikap percaya diri, pipinya merona semerah warna koral. Pastinya, dia pun memiliki kesan yang sama denganku saat melihat pantulan dirinya sendiri.

Namun, entah itu pakaian dalam atau telanjang sekalipun, jika seorang wanita sudah berusaha mempercantik diri demi menarik perhatianmu, tidak ada jawaban yang benar selain memujinya.

"Kau manis sekali. Lagipula, kau terlihat sangat cantik dan menawan, Patty."

Aku mendekat dan mengecup pipinya ringan. Ia tampak tersipu malu, namun matanya menyipit dengan binar kebahagiaan yang jauh lebih besar.

Dilihat dari dekat secara saksama, tetap saja ini terlihat seperti pakaian dalam. Di bawah tulang selangka yang halus, lekuk dadanya yang feminin menonjol lebih tegas dari biasanya. Pangkal lengannya yang tampak terlatih namun tetap lentur dan indah, lalu perutnya yang ramping dengan garis otot tipis memperlihatkan pusarnya dengan jelas. Dari pinggulnya yang sempurna—yang rasanya pantas dijadikan karya seni—terbentang garis kaki yang sangat memikat.

Benar-benar tidak terlihat seperti wanita yang kemarin-kemarin terus memuntahkan isi perutnya di atas geladak. Tentu saja, bagian itu kusimpan dalam hati.

Patricia melingkarkan lengannya di lenganku, merapatkan tubuhnya seolah menjadikanku sebagai tameng. Sepertinya dia merasa risi dengan pandangan di sekitar, padahal di sini hanya ada Anahit dan beberapa pengawalnya. Ada Rostam juga, tapi dia duduk agak jauh sambil menenggak rum.

Namun, tepat saat aku berpikir bahwa pakaian seperti ini masih terlalu dini untuk Chronica, tenda ruang ganti di belakang Patricia sedikit terbuka. Gadis yang dimaksud hanya melongokkan wajahnya.

"... Hei, Patricia. Aku sudah ganti baju, tapi menurutku—"

Kalimatnya terputus. Hanya mata kanan hijaunya yang menyipit, menatap tajam ke arahku yang sedang "dikawal" oleh Patricia yang tampil nyaris telanjang.

"Ara, Chronica. Kalau kau merasa malu, kenapa tidak menyerah saja? Sudah jelas dari awal kalau pakaian seperti ini tidak akan cocok untuk anak kecil sepertimu," ucap Patricia dengan nada kemenangan sembari menyandarkan dadanya yang busung ke lenganku.

Yah, sejujurnya aku pun setuju dengannya.

"Jangan memaksakan diri meski ini niat baik Anahit. Biar aku yang bicara padanya—"

"Tidak. Aku tidak memaksakan diri."

Mengucapkan itu dengan penuh tekad, gadis itu menyibak tenda dalam satu gerakan dan menginjakkan kaki telanjangnya di atas pasir putih.

Di bawah terik matahari yang berkilauan, Chronica memamerkan sosoknya yang mengenakan pakaian renang.

Karena rambut belakangnya disanggul ke atas, leher jenjang yang putih dan kedua pundaknya yang terlampau mungil terlihat lebih menonjol dari biasanya.

Bagian dadanya yang masih malu-malu tertutup oleh selembar kain hitam serupa pakaian dalam berhias renda, senada dengan milik Patricia. Meski lingkar perutnya yang terbuka terlihat sangat ramping, pinggulnya tetap membentuk lengkungan yang anggun, dibalut sehelai kain pareo dari sutra tipis yang tembus cahaya matahari.

Wajah gadis itu memerah padam layaknya buah delima yang merekah. Dengan langkah ragu, ia berjalan ke hadapanku dan mendongak, menatapku dengan mata yang seolah-olah sedang menghakimi.

"……C-Cepat, katakan sesuatu."

"A-ah, iya."

Padahal dalam situasi seperti ini, aku seharusnya tahu persis kata-kata apa yang harus diucapkan.

Namun entah mengapa, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari kepalaku. Seolah-olah diriku sendiri menolak untuk menyematkan basa-basi yang dangkal pada sosok Chronica yang sekarang.

Hasilnya, aku hanya bisa mengeluarkan suara seperti pemuda desa yang polos.

"……Kurasa, itu cukup cocok untukmu."

Mendengar jawaban itu, gadis yang sedikit membuka mata kirinya tersebut tersenyum, tampak sedikit puas.

Patricia yang merengut mempererat pelukannya di lenganku dengan lebih kuat lagi.

Tepat saat itu, Anahit mendekat ke arah kami.

TN Yomi Novel:Pareo (パレオ): Kain tipis yang biasanya dililitkan di pinggang sebagai bawahan pakaian renang wanita.

"Kalian berdua sangat cocok memakainya. Lihat saja, sebagai buktinya, wajah Tuan Linus pun merah padam... Yah, karena aku tidak bisa melihat, ini hanya imajinasi, tapi dugaanku pasti tidak jauh meleset."

Chronica kemudian bertanya dengan nada sangsi.

"Anahit, kau sendiri tidak memakainya? Ka-kami merasa hanya kami saja yang dipermalukan di sini."

"Mohon maaf, Chronica. Aku menyandang status sebagai pemuka agama, ditambah lagi aku adalah calon istri orang. Pakaian sesat yang sangat memalukan seperti itu agak... kurang pantas bagiku."

"Ti-tidak sopan sekali caramu mengatakannya padahal kau sendiri yang menyarankan pada orang lain!?"

Anahit dengan santai menenangkan Patricia yang pundaknya menegang karena geram.

Begitulah, kami menghabiskan waktu luang yang sia-sia untuk sejenak.

Lalu, saat sinar matahari mulai sedikit condong ke barat.

Chronica dan Patricia berada di tempat yang agak jauh, mereka berdua sedang sibuk mengumpulkan kerang. Aku yang merasa sedikit lelah, beristirahat bersama Anahit di kursi yang telah disediakan.

"—Mohon maaf atas keterlambatan saya, Yang Mulia Istri Presiden, Anahito-sama. Sudah lama tidak berjumpa."

Muncul seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan pakaian lengan panjang putih yang longgar, didampingi oleh beberapa pengawal.

"Selamat siang, sudah lama ya, Kepala Divisi Fakim. Tuan Linus, izinkan aku memperkenalkanmu. Beliau adalah pria yang mengelola Kepulauan Perkebunan Marcella wilayah teritorial Kekaisaran ini, Kepala Divisi Perkebunan dari Perusahaan Angkatan Laut."

Saat pria itu menatapku, sorot matanya langsung berubah.

Warna penghinaan yang begitu nyata.

"Serge Fakim. Salam kenal—wahai bangsa rendah."

 

Bagian 5

"……Kepala Divisi Fakim. Mereka adalah temanku. Walaupun mereka orang Republik, aku tidak akan memaafkan penghinaanmu."

"Oups, maafkan saya. Haha, bercanda, itu hanya bercanda kok."

Fakim menggaruk kepalanya seolah mencoba memperbaiki suasana.

Aku sudah paham. Orang-orang Kekaisaran Uap Elbion rata-rata memang seperti itu. Mungkin pengecualiannya hanyalah Anahit dan Rostam. Bagi mereka, tidak peduli apakah itu bangsawan atau rakyat jelata, semua orang yang berasal dari Republik dianggap sebagai ras kelas rendah.

"Dia adalah diplomat dari pemerintah Republik, dan bersama putri dari petinggi pemerintahan negaranya, dia telah mengajukan permohonan suaka ke Kekaisaran Uap. Aku selaku duta besar telah menerimanya. ……Oleh karena itu, aku menuntutmu untuk memberikan perlakuan yang pantas, Kepala Divisi Fakim."

"Fuu—, begitu, ya. Baiklah, Yang Mulia Istri Presiden. ……Kalau begitu, maafkan kelancanganku tadi, Nak. Siapa namamu? Yah, tidak penting juga sih. Lebih dari itu, kalian akan tinggal di pulau ini selama pengisian bahan bakar Gandharva, kan? Silakan beristirahat dengan santai."

Senyum palsu pria itu yang tampak kaku terasa jauh lebih mengerikan di tengah cerahnya pasir pantai yang berwarna-warni.

"Aku dipercaya untuk mengelola perkebunan di kepulauan ini, dan ada banyak imigran yang datang dari Republik. Bagaimana kalau sesama monyet liar seperti kalian saling melepas rindu dengan cara yang primitif?"

"—Kepala Divisi Fakim."

"Oups, maafkan saya, Yang Mulia Anahito. Haha, saking senangnya bisa bertemu Anda setelah sekian lama, mulut saya jadi ringan dan tidak bisa berhenti bercanda."

Menilai unggul atau rendahnya diri sendiri dan orang lain berdasarkan warna kulit atau asal-usul—bagiku, benar atau salahnya tindakan itu, atau soal moralitasnya, sama sekali tidak penting. Namun...

Aku menggeser posisi berdiriku dengan santai, menggunakan punggungku untuk menghalangi pandangan Fakim agar kedua gadis yang sedang bermain di kejauhan itu tidak masuk ke dalam jangkauannya.

Entah mengapa, aku tidak tahan membayangkan mereka dipandang rendah dari sudut pandang pria menjijikkan ini.

"Kau juga, maaf ya kalau aku membuatmu tidak nyaman. Aku memang sering dibilang payah dalam bercanda. Ayo, mari kita berjabat tangan."

Ucap Fakim sambil menyodorkan tangannya. Sudah sangat jelas bahwa tidak ada niat persahabatan sedikit pun di sana, namun jelas pula bahwa secara formalitas, aku tidak punya pilihan selain menanggapinya.

Terpaksa, aku membalas jabat tangan itu dengan senyum palsu. Namun, di saat yang sama...

"……ugh!!"

Lengan kananku ditarik dengan tenaga yang kuat hingga keseimbanganku goyah, dan sebuah serangan lutut mendarat telak di perutku.

Erangan kesakitanku dibungkam paksa oleh tangannya yang menutup mulutku.

Anahit tidak bisa melihat apa yang terjadi.

"Jangan melunjak, kau monyet gunung dari negara udik," bisik Fakim tepat di telingaku dengan suara rendah.

"Memperlakukan ras rendah sepertimu sebagai tamu membuatku mual. Benar-benar mual... tapi aku melakukan ini secara istimewa hanya demi menjaga kehormatan Yang Mulia Istri Presiden. Nyawa sampah sepertimu, baik di pulau ini maupun setelahnya, bisa kuhabisi kapan saja hanya dengan satu keputusanku. Jika kau ingin menghabiskan waktu dengan tenang tanpa masalah, tanamkan hal itu baik-baik di otakmu dan sadarilah kerendahan dirimu. ……Mengerti?"

Setelah itu, Fakim mendorongku dengan kasar hingga jarak kami menjauh, lalu menepuk-nepuk tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.

……Kemarahan adalah emosi yang berbahaya. Ia bisa membuatmu kehilangan kendali dengan mudah.

Aku menghabiskan waktu beberapa detik hanya untuk mengembuskan napas, mendinginkan amarah di kepala, dan menyimpan kejengkelan yang telah membeku itu ke dalam lubuk hatiku. Akhir-akhir ini, aku memang sering menjadi impulsif, padahal biasanya mengendalikan emosi adalah keahlianku.

Aku akan membalas utang ini kapan-kapan. Bersyukurlah.

Fakim berbalik ke arah Anahit dan berkata:

"Fuu—, jabat tangan yang panjang. Ya, persahabatan kita telah mendalam! Kalau begitu, Yang Mulia Anahitu, saya telah menyiapkan sebuah vila agar Anda dan rombongan bisa menginap dengan nyaman. Saya akan mengutus orang untuk memandu Anda sebentar lagi. Jika butuh sesuatu, segera beri tahu saya. Kalau begitu, saya pamit dulu."

……Begitulah, Fakim pun pergi.

Sambil berdiri di sampingku, Anahit meminta maaf.

"Aku benar-benar minta maaf, Tuan Linus. Mulai sekarang, aku akan terus mengawasi sebisa mungkin... Ah, itu cuma bercanda. Aku akan menyuruh Rostam untuk tetap waspada, jadi tenanglah."

"Candaanmu juga sering kali tidak lucu. ……Sudahlah, soal aku, aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Tolong jaga Chronica saja."

Saat matahari hampir tenggelam, kami dipandu menuju sebuah pondok peristirahatan (cottage) dengan pohon kelapa di halamannya.

Tepat di seberang jalan, berdiri sebuah rumah megah yang mengingatkan pada istana marmer putih; katanya itu adalah kediaman Fakim. Dia ingin terus mengawasi kami—begitulah kira-kira maksudnya.

Anahit sendiri disiapkan kamar di paviliun mewah milik kediaman tersebut. Sementara aku, Chronica, Patricia, dan Rostam berada di bawah satu atap yang sama.

"……Lelah sekali."

Aku bergumam sendirian sambil berbaring telentang di tempat tidur. Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah alat besar yang mencolok di sudut ruangan.

Tentu saja, itu adalah mesin pembuat kopi bertenaga uap dengan sistem dekompresi buatan Kekaisaran.

Air menguap bukan hanya karena suhu. Dengan sengaja menurunkan tekanan agar air menguap pada suhu di bawah titik didih, uap tersebut kemudian menyeduh biji kopi untuk menghasilkan cairan dengan rasa yang mendalam.

……Sejujurnya, bagiku pahit saja sudah cukup. Apalagi saat sedang lelah begini.

Gyugogogogo... Dengan suara mesin yang cukup mengerikan, cairan hitam kental akhirnya terperas keluar. Sambil menyesap kopi itu, aku melirik ke arah Chronica yang berada di ruangan yang sama.

Gadis itu sudah berganti pakaian ke terusan biasanya. Ia sedang sibuk menuliskan kejadian hari ini di buku harian barunya di atas meja tulis yang ukurannya pas-pasan. Menatap punggung kecil itu, aku membuka suara.

"Pulau ini, apa kau senang berada di sini?"

"……Iya. Aku bisa melihat laut di mana-mana. Dan meski orang yang kau temui tadi sepertinya orang yang menyebalkan, menurutku tempat ini sendiri sangat indah."

Ia membalas tanpa menoleh, dan setelah itu, ia tak menyambung kata-katanya lagi.

Bukannya suasana di antara kami memburuk. Namun, ada sebuah celah tak kasat mata yang kini nyata-nyata hadir di antara kami—sebuah dinding yang memutus percakapan yang biasanya akan terus mengalir.

Sambil mengabaikan rasa sakit dan suara koin yang berdenging di telinga, aku memeras sesuatu dari tenggorokanku, sesuatu yang sangat menyerupai keberanian.

"Hei, Chronica."

Kalau kau tidak keberatan.

"Besok, sedikit... di sekitar sini..."

Baru saja aku hendak mengajaknya jalan-jalan, tepat pada saat itu, sebuah ketukan pintu yang tiba-tiba membuyarkan kata-kata yang hampir terucap.

Saat pintu kubuka, Patricia berdiri di sana dengan rambut pirang yang terurai di bahu tanpa pita. Pipinya merona merah, menatapku dengan senyum malu-malu yang tertahan.

"Selamat malam desuwa~. Apa aku boleh minta waktunya sebentar?"

"……Ada urusan apa?"

Begitu aku bertanya, tiba-tiba Patricia menyambar tanganku, dan dalam sekejap, ia mengangkat tubuhku dengan ringan—gaya bridal carry.

TN Yomi Novel: bridal carry itu kek gendongan putri gitu

Bahkan sebelum aku sempat terkejut, Patricia—yang masih menggendongku yang terpaku kebingungan—berjalan menghampiri tempat tidur Chronica seolah-olah ia sedang membawa pakaian favoritnya.

"Chronica, bolehkah aku meminjam dia sepanjang hari besok?"

"……Aku nggak bisa bilang tidak, kan? Bukankah itu memang sudah menjadi janjinya?"

"Tepat sekali," jawab Patricia sambil mengedipkan sebelah mata. Aku menengadah menatapnya dan baru teringat.

Ah, benar juga. Aku memang pernah menjanjikan hal seperti itu padanya.

"Kalau begitu, saatnya menepati janji desuwa~! Linus, besok engkau akan berkencan denganku, hanya kita berdua saja!"

 

Bagian 6

Keesokan paginya. Di hari kedua kami menetap, matahari tropis terbit lebih awal.

Menepati janji. Aku sedang menjalankan sebuah kewajiban moral yang sangat langka dalam hidupku.

Bukan karena aku begitu menjunjung tinggi janji dengannya, tapi lebih karena ia sudah bersusah payah ikut bersamaku. Akan sangat mubazir jika aku tidak terus mengandalkan kekuatannya mulai dari sekarang.

"Fufu, aku sangat menantikannya desuwa~! Aku sangat gugup sampai hampir tidak bisa tidur... bagaimana denganmu?"

"Sayangnya, aku tidur sangat nyenyak."

"Kalau begitu, baguslah desuwa~."

Tidak bisa. Merusak suasana hati Patricia yang sekarang sepertinya mustahil dilakukan, bahkan oleh Tuhan sekalipun.

Setelah sarapan, di bawah tatapan Chronica yang tampak gusar dan senyuman tipis Anahit, aku teringat sesuatu sebelum melangkah. Aku melepas topi dari kepalaku dan menyerahkannya kepada gadis itu.

"Cuacanya panas, peganglah ini untuk sementara waktu."

"……Baiklah."

Di bawah pohon kelapa, Chronica menerima topi itu dan mendekapnya di dada.

"Kalau begitu Tuan Linus, Nona Patricia. Seperti yang sudah aku katakan, berjalan berduaan saja tanpa pengawalan adalah hal yang mustahil di area pemukiman warga Kekaisaran di sini. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, tapi silakan kunjungi area pemukiman imigran saja. Tempat itu sepertinya agak berbahaya, jadi berhati-hatilah."

Mengabaikan kata-kata Anahit yang terdengar seperti peringatan itu, Patricia dengan riang menautkan jemarinya di sela-sela jariku.

"Ayo berangkat, Linus! Kalau begitu Chronica, kami permisi dulu."

Lalu, sambil bergandengan tangan, aku mulai melangkah bersama kekasih sehari ini.

Selama itu, perasaan adanya tatapan yang terus menusuk punggungku... pasti hanya halusinasiku saja.

 

Pulau Marcella, inti dari gugusan kepulauan yang terapung di tengah samudera.

Di tempat ini, sebuah sistem kelas sosial tertentu diterapkan dengan ketat.

Bagian pantai kemarin dan pondok tempat kami menginap terletak di atas tanjung yang menjorok seperti anak panah ke arah laut biru; sebuah zona yang ditetapkan sebagai area pemukiman warga Kekaisaran.

Kabarnya, hanya para kapitalis Kekaisaran yang memiliki tanah di sana beserta keluarga mereka, serta para pelayan rumah tangga—yang sebagian besar terdiri dari imigran Republik Colonial—yang diizinkan menginjakkan kaki di sana.

Singkatnya, pria dan wanita berkulit putih yang tidak mengenakan pakaian pelayan rendahan akan terlihat sangat mencolok, bahkan ada kemungkinan ditangkap oleh unit keamanan perusahaan.

Mengingat status kami saat ini hanya dijamin oleh kemurahan hati Anahit, aku ingin menghindari situasi di mana kami merepotkannya atau malah sampai dicampakkan olehnya. Patricia, meski dengan enggan, akhirnya menyetujui pendapatku.

Bersama sang wanita bangsawan berambut pirang, aku meninggalkan kawasan perumahan elit dengan jalanan aspal oranye dan bangunan serba putih itu. Kami melangkah menuju bagian dalam pulau di mana perkebunan komersial tebu, tembakau, dan poppy (opium) membentang luas. Setelah berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi hijaunya tanaman tinggi, kami tiba di pemukiman imigran yang menghadap ke laut. Melihat pemandangan itu, Patricia menyatakan kekecewaannya dengan sangat sopan.

"……Tempat yang sungguh, ah, kurang beradab ya."

"Bisa dibilang, ini adalah kawasan kumuh bagi para buruh kelas bawah……"

Gubuk-gubuk liar yang miring berjejer rapat. Asap dari kedai kaki lima dan aroma opium dari rumah bordil bercampur menjadi satu dengan angin laut, berhembus di tengah kota yang pengap dan kotor ini.

Jika seseorang memilih tempat ini sebagai rute kencan, kurasa cinta yang telah terjalin seratus tahun pun akan segera memasuki zaman es.

Namun, Patricia memaksakan senyum cerah dan menggenggam tanganku erat.

"……Ya, ya ampun, selama bersamamu, tempat seperti apa pun tidak jadi masalah! Jadi, mohon jangan lepaskan aku sepanjang hari ini, ya?"

"Iya, iya. Kalau begitu, izinkan aku yang lancang ini mengawalmu dengan lembut. ……Ngomong-ngomong, ini sudah hampir jam makan siang. Bagaimana kalau kedai di sana, Patty?"

"Hah? Eh, tidak, itu…… apa itu benar-benar makanan desuno~?"

Di sebuah kedai yang terlihat dibangun seadanya, cumi-cumi, gurita, dan berbagai hasil laut lainnya sedang dibakar.

Aku baru ingat, dia adalah bangsawan dari wilayah Selatan. Mungkin dia pernah makan ikan sungai atau danau, tapi sepertinya dia belum pernah memakan—bahkan melihat—makhluk laut seumur hidupnya.

"Aku juga baru pertama kali melihatnya. Aku agak tertarik."

"Ditolak! Tidak mau! Mustahil! Memasukkan…… benda kenyal yang entah lengan atau kaki itu ke dalam m-mulut adalah tindakan antisosial yang tidak boleh dimaafkan!"

Ia gemetar karena rasa jijik yang bersifat fisiologis. Sosoknya saat itu benar-benar terlihat seperti gadis manusia normal di usianya.

"Lagipula, semua kedai di sini terlihat kotor dan bising... A-aku mau tempat yang lebih tenang dan elegan, di mana kita bisa menikmati makanan berdua saja!"

Benar juga. Bagiku pun akan lebih mudah jika ada restoran bergaya yang agak sombong, tapi sepertinya para kuli pelabuhan di sini tidak butuh tempat semacam itu.

Helaan napas justru datang dari Patricia sendiri.

"……Me-meskipun aku bilang begitu, kalau memang tidak ada ya mau bagaimana lagi desuwa~. Maafkan aku. Sepertinya aku harus merelakan makan siang bersamamu."

Ia tampak lesu, namun ia berusaha keras untuk menerimanya—mungkin karena tidak ingin aku membencinya.

Yah, mau bagaimana lagi. Hidup memang selalu penuh dengan kekurangan.

Karena itu, bagian yang kurang tinggal diisi dengan sedikit akal.

"Siapa bilang tidak bisa?"

"Eh?"

"Akan kuatur dengan apa yang ada. ——Kalau begitu Nona Muda, mohon tunggu sebentar."

Setelah itu, aku sedikit memaksa sebuah kedai makan terdekat untuk meminjam satu meja dan kursi. Aku membawanya ke tepi jalan setapak yang sepi menuju perkebunan tebu, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Aku sempat kesulitan dengan kontur tanah yang agak miring ke arah tanjung, tapi akhirnya aku berhasil memasang payung peneduh. Aku memotong kain yang kudapat dari rumah bordil—memastikan ujung-ujungnya tidak terurai—untuk dijadikan taplak meja dadakan. Kemudian, aku membentangkan jas luarku di atas kursi kayu yang kasar itu dan mempersilakan sang nyonya pirang untuk duduk.

Di atas piring dan alat makan yang juga kupinjam, aku menyajikan makanan kaki lima yang kubeli. Aku menghindari gurita atau cumi-cumi dan memilih ikan sebagai menu utama, lalu menghiasnya dengan tanaman herbal liar agar terlihat cantik. Sembilan puluh persen dari pengalaman makan adalah suasana; jika tampilannya rapi, rasanya pun seharusnya ikut "rapi". Namun...

"Sayangnya, tidak ada yang jualan bunga."

Aku menggunting sisa kain taplak meja dengan gunting yang kubawa, lalu merangkainya dan memasukkannya ke dalam gelas di atas meja.

Maka jadilah sebuket bunga kain.

Terakhir, aku memberikan hormat layaknya seorang pelayan kepada Patricia yang sedang menutup mulut dengan tangan karena terkejut.

"Silakan dinikmati, Nona Muda."

 

"Maaf. Apa makanannya kurang? ……Aku lupa kalau bangsawan itu makannya banyak."

"……Tidak, kurasa aku tidak makan sebanyak itu, tapi entah kenapa setiap kali aku lengah, makanannya seperti berkurang sendiri—"

Tepat pada saat itu, suara derit langkah kaki dari beberapa orang mengepung meja kami.

Aku dan Patricia serentak menoleh ke sekeliling. Kami mendapati sekelompok pria dengan tampang tidak bersahabat yang sedang menatap kami dengan penuh intimidasi.

Kabarnya, banyak imigran dari Republik Colonial yang melarikan diri dari perkebunan tebu di pulau ini dan membentuk kelompok kriminal yang biasa disebut bajak laut. Mereka menyerang kapal dagang di laut, dan merampok orang-orang di darat.

Aku teringat peringatan Anahit: Mohon berhati-hatilah.

"Oi, oi, kalian berdua. Sedang piknik di tempat seperti ini, hah? Wah, wah, pakaian kalian bagus sekali, ya. Kalian bukan imigran seperti kami, kan? Wisatawan kaya?"

Niat mereka sudah sangat jelas. Dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa kasihan—pada mereka.

"...Aku tidak ingat memesan makanan penutup. Patty, bolehkah aku serahkan padamu?"

"Tentu. Jangan khawatir, ini waktu yang tepat. Pas sekali untuk olahraga setelah makan."

Patricia mengepalkan tangannya yang tanpa cat kuku itu, lalu tersenyum menantang.

"Kali ini giliranku menunjukkan sisi kerenku. Jadi, pastikan kau jatuh hati padaku, ya, Linus."

 

Bagian 7

"Kira-kira, begitulah. ……Haa, tanganku jadi kotor."

Sambil membuka kepalan tangannya perlahan, Patricia mengembuskan napas dingin yang kering akan rasa simpati kepada para pria yang tergeletak mengerang kesakitan di sekelilingnya.

"Ugh, sa-sakit...," "Ibu, to-tolong...," "Ba-bangsawan... asli..."

Aku bangkit dari kursi sambil mengingat kembali bagaimana langkah kakinya yang lincah menghindari todongan pisau dan moncong senjata. Pukulan-pukulannya yang seringan semilir angin namun memiliki daya hancur luar biasa telah menumbangkan para preman itu dalam sekejap.

"Ya ampun. Dasar orang-orang yang tidak beruntung."

"Maksudmu, orang-orang yang tidak tahu waktu. Benar-benar deh, beraninya mengganggu kencan kita."

Udara di sekitar Patricia bergetar pelan, panas yang merembes keluar dari tubuhnya menciptakan bayangan fatamorgana.

Salah satu pria itu berkata dengan suara yang nyaris mati.

"Tu-tunggu... kumohon. Berikan belas kasihan. Kita... kita kan sesama orang Republik."

Mendengar cerita mereka, dugaanku selama ini benar; perlakuan terhadap imigran di pulau ini sungguh mengerikan. Jam kerja yang tak masuk akal, panen tanpa sarung tangan pelindung, kematian di pabrik pemurnian gula, hingga jatah makanan yang ala kadarnya. Semua itu terjadi karena kontrak eksploitasi berkedok "pengabdian masa kerja", di mana para imigran harus melunasi biaya perjalanan dan hutang lainnya kepada orang Kekaisaran melalui kerja paksa.

Para pria itu mulai meratap, mengutuk kesalahan mereka karena telah tergiur janji manis lowongan imigrasi. Namun...

"Omong kosong desuwa~…… Jika kalian menceritakan itu untuk menarik simpati, jujur saja ini sangat menjijikkan. Bagaimana kalau sekalian saja kujadikan abu dan kusebar di ladang?"

Sepertinya, cerita itu malah memberikan efek sebaliknya pada Patricia.

Tepat saat aku bimbang apakah harus menghentikan "api unggun" berbahaya yang hampir tersulut itu, salah satu pria berteriak panik memohon nyawa.

"……Tu-tunggu! Ka-kami dijebak—benar! Ini perintah! Kami hanya menjalankan perintah!"

"……Perintah?"

Mendengar pertanyaanku, pria itu menatapku seolah baru saja menemukan sebatang jerami untuk berpegangan agar tidak tenggelam.

"I-iya, benar! Si keparat Kekaisaran, pengawas perkebunan itu! Dia bilang... kalau kami membunuh atau menangkap kalian, kami akan diberi uang dan cuti……"

Aku tidak butuh waktu sedetik pun untuk menyadarinya.

Wajah Fakim yang kutemui kemarin langsung terlintas di pikiranku.

"—Si keparat itu."

Amarah yang selama ini kupendam kini tersulut. Perasaan bau hangus mulai memenuhi rongga dadaku.

Melihat sikapnya kemarin, sepertinya dia berniat melenyapkanku dan Patricia di tempat yang jauh dari pengawasan Anahit—di luar jangkauan perlindungannya.

Jika begitu, maka Chronica yang kutinggalkan pun juga...

Begitu kemungkinan itu melintas, pikiranku mulai berputar cepat mencari solusi, melupakan segalanya.

Benar, dulu aku menggunakan naluri ini sebagai penipu yang hanya mengejar uang. Namun sekarang, tujuannya berbeda.

Aku menoleh ke arah jalan yang kami lalui tadi, menghentakkan kaki ke tanah beberapa kali, lalu berjongkok dan memicingkan sebelah mata.

"Kemiringan dan kondisi tanahnya... cukup layak dijadikan dasar untuk sebuah gertakan."

 

Bagian 8

Setelah dia, Linus, dan wanita itu, Patricia, pergi berkencan berdua.

Aku sendirian, duduk meringkuk di bawah bayangan pohon kelapa.

Angin laut yang panas dan lembap membelai rambutku yang kini sepi. Aku merasa benci pada diriku sendiri karena bersikap seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Aku rasa aku sudah cukup mengerti.

Patricia, meski dia adalah bangsawan yang "agak unik", dia bukan orang jahat. Jadi, dia pasti sosok yang jauh lebih baik daripada aku.

Aku hanyalah seseorang yang terus menjatuhkan kenangan yang diberikan padaku, tanpa bisa membalas apa pun. Dibandingkan aku—si Draw-Cancer yang hanya bisa menyeretnya ke dalam kesulitan—wanita itu pasti bisa membuat pria itu jauh lebih bahagia dengan cara yang normal.

Tapi, kenapa?

Dadaku terasa sesak. Membayangkan Linus sedang menghabiskan waktu bersama Patricia, bukan bersamaku, membuat hatiku rasanya ingin hancur berkeping-keping.

Saat hari mulai melewati tengah hari, di bawah langit biru yang semakin bersinar—sangat kontras dengan perasaanku—aku meremas topi yang dititipkannya padaku. Tepat saat itu...

"Yo, Nona."

"Rostam... ada apa?"

Sambil tetap menghindari sorot mata kiriku dengan gerakan luwes, pria itu duduk dengan santai di sampingku.

Chapun, botol minuman keras di tangannya mengeluarkan bunyi air yang berguncang, menandakan isinya tinggal setengah.

"Bukan urusan penting, sih. Hanya saja, semua tempat di pulau ini rasanya terlalu terang. Kalau sendirian, aku jadi merasa depresi…… jadi, sekalian saja aku dengarkan keluh kesahmu, Nona."

Aku seharusnya mengucapkan terima kasih, tapi aroma tajam alkohol dan bau badan pahit yang asam membuatku enggan membuka mulut.

Hasilnya, Rostam mulai berbicara sendiri.

"……Dulu, Paman juga pernah punya pengalaman serupa. Aku berpura-pura tidak menyadari perasaanku sendiri, tapi setiap kali melihat dia bersama pria itu, hatiku selalu terasa sesak…… Saat aku menyadarinya, segalanya sudah terlambat."

Suaranya yang lesu terdengar seolah sedang tenggelam ke dalam dirinya sendiri.

"Maaf, ya. Tadinya aku ingin mengatakan sesuatu yang membangun, tapi karena hidupku sendiri pun penuh kegagalan, sepertinya aku memang tidak berhak bicara apa-apa…… Maafkan aku."

"Tidak apa-apa."

Pandanganku mengembara mencari topik pembicaraan baru, hingga akhirnya tertuju pada botol minuman di tangannya.

"Minuman keras itu…… apa rasanya enak?"

"Rasanya tidak enak, lagipula buruk untuk kesehatan…… tapi meski tubuhku menolak, hatiku membutuhkannya. Setiap kali masa lalu yang ingin kulupakan bertambah, aku butuh benda ini untuk membasuh luka-lukanya."

"Kalau aku—"

Rasa keberatan terhadap kata-kata Rostam meluncur keluar hampir seperti insting murni.

"—aku tidak ingin melupakan satu hal pun."

Namun, kata-kata itu terasa hampa, seolah-olah baru saja jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam tanpa dasar.

"Itu adalah logika orang yang bahagia."

Mendengar gumaman yang terdengar sangat kering itu, aku tetap tidak bisa membalas tatapannya.

Wajah adalah titik temu antara hati manusia dan dunia luar—entah kata-kata siapa itu. Sebagai gantinya, melalui mata kananku, wajahnya yang kulihat tampak menua dengan cara yang mengerikan.

"Nona. Di dunia ini, ada hal semacam itu. Hanya karena satu penyesalan yang tidak bisa dijadikan sekadar kenangan, kebahagiaan, kehidupan, dan segalanya yang telah kau bangun bisa hancur berantakan. Ada orang-orang yang selamanya dikutuk oleh ingatan yang ingin mereka hapus, namun tidak akan pernah bisa lenyap."

"────"

Jika demikian, maka Linus...

Gara-gara aku telah mengoyak topeng penipu miliknya... gara-gara aku telah memaksanya untuk mengingat kembali...

Apakah selamanya ia tidak akan pernah bisa bahagia?

Begitu pikiran itu melintas, terdengar suara derap langkah kaki dari banyak orang.

Rostam mencabut pedangnya, lalu berdiri tegak.

"—Ada perlu apa? Kalau ini pengantaran makanan, aku tidak merasa memesannya."

"Bukan, ini hanyalah bagian dari kegiatan pembersihan kota. Pemusnahan hama yang kami lakukan secara berkala."

Aku tidak mengenal pria itu secara langsung. Namun, aku mengenalinya melalui ingatan Linus.

Kepala Divisi Manajemen Perkebunan, Serge Fakim.

"Terkadang, ada monyet berbahaya yang menyelinap masuk dari perkebunan di luar area pemukiman. Karena itu, demi keamanan warga, kami dari pihak Perusahaan mengerahkan kekuatan militer untuk membasmi mereka setiap kali hal itu terjadi."

"Nah, jika kau sudah paham, serahkan gadis itu kepada kami, wahai prajurit rendah."

"Kalian salah paham. Nona ini adalah tamu sang Miko."

"Oups, benarkah begitu?"

Dengan gaya teatrikal, Fakim menengadah ke langit dan berkata:

"Wah, kalau itu aku tidak tahu. Bagiku wajah para monyet itu semuanya sama saja, begitu pula dengan bawahan-bawahanku. Sangat mungkin bagi kami untuk melakukan kesalahan. Ya, sangat mungkin."

Dan tak perlu dikatakan lagi, moncong-moncong senapan itu kini telah mengarah tepat ke arahku.

Aku mengembuskan napas panjang. Perlakuan semacam ini, meski sudah kurasakan berkali-kali, tetap saja membuatku merasa sangat muak.

Namun, lawanku hanyalah manusia biasa. Kalau begitu, mereka bukan tandingan bagi Eye of the Providence. Baru saja aku hendak menggunakan mata kiriku—

"Hup! Oke, saatnya kabur! Nona!"

"Kyaa!?"

Tiba-tiba, sebuah lengan kekar melingkar di pinggangku dan mengapitku di ketiaknya. Konsentrasiku terbuyar, dan pandangan mata kiriku pun terputus.

Suara tembakan beruntun bergema. Berkat Rostam yang membawaku lari dan segera bersembunyi di balik batang pohon kelapa, peluru-peluru itu tidak mengenai kami.

"Jangan menghalangi... kalau cuma mereka, aku bisa membereskan semuanya dalam sekejap," protesku.

"Jangan bodoh. Kalau kau lakukan itu, justru kalian yang akan dianggap menabuh genderang perang melawan Perusahaan," sahut Rostam.

"……Ah."

"Tapi, repot juga ya. Kalau terus-terusan ditembaki begini, aku jadi tidak bisa membalikkan punggung untuk lari……"

Peluru beterbangan—atau lebih tepatnya, saat ini kami hanya menjadi sasaran tembak sepihak. Peluru-peluru itu menyerempet dedaunan yang menjuntai, menghantam batang pohon, dan buah kelapa yang jatuh segera berlubang-lubang hingga isinya tumpah berceceran.

"He-hei, tapi kalau cuma peluru, bukannya orang sepertimu bisa melakukan sesuatu—"

"Iya, kau bicara apa sih? Mana mungkin pedang bisa menang melawan pistol."

Ya, secara logika memang begitu. Tapi, pria yang sanggup melihat menembus Garis Tebasan Tercepat milik bangsawan ksatria Welquix, bahkan sanggup beradu pedang dengannya, kenapa baru sekarang bicara soal logika?

Namun, tangan Rostam tampak gemetar, seolah-olah ia benar-benar merasa ketakutan dari lubuk hatinya.

"……Jangan bilang ini karena kau terlalu banyak minum."

"Itu juga salah satu alasannya, sih."

Rostam menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Sial, pria ini benar-benar tidak bisa diandalkan.

Sepertinya akulah yang harus memaksakan pandangan mataku ke arah mereka. Paling buruk, meski tubuhku jadi sarang peluru pun, aku tidak akan mati.

Baru saja aku berpikir demikian dan sedikit melongokkan wajah dari balik bayangan pohon—

"Aduh, padahal sudah waktunya kudapan sore, tapi Anda masih saja bersemangat ya, Kepala Divisi Fakim. Suara tembakan ini begitu bising sampai-sampai aku tidak bisa tidur siang."

"Ini... wah, Yang Mulia Anahitu. ……Kalian semua, berhenti menembak!"

"Salam," ucap Anahit yang entah sejak kapan sudah muncul di sana. Ia membungkuk hormat kepada para prajurit, lalu dengan tenang berjalan dan berdiri tepat di tengah-tengah antara kami dan kelompok Fakim.

"Begitu bangun tidur, aku berniat menyuguhkan kopi yang sangat pahit untuk teman-temanku, tapi apa yang kulihat ini? Kepala Divisi Fakim, apa Anda tidak tahu cara menyeduh kopi? Yang harusnya ditarik itu aromanya, bukan pelatuk senjatanya."

"Fuu—, terima kasih atas pelajarannya. Saya sangat malu akan ketidaktahuan saya sendiri. Namun, maaf saja, bukankah sama saja? Lidah rendah para monyet itu pasti tidak bisa membedakan mana rasa kopi dan mana rasa darah."

"……Aku tidak mengerti. Kenapa Anda begitu memusuhi mereka? Padahal mereka adalah tamuku yang berada di bawah tanggung jawabku sepenuhnya. Atau, jangan-jangan, skenarionya seperti ini?"

Anahit melanjutkan kalimatnya.

"Kepala Divisi Fakim. Divisi Manajemen Perkebunan yang Anda pimpin adalah divisi emas yang menyokong pasokan komoditas dagang utama seperti tebu dan ganja. Dengan jabatan itu, posisi Anda sudah cukup kuat untuk mengincar kursi Presiden Perusahaan di masa depan. Karena itulah—bukankah Barbarossa dari Divisi Militer yang memegang kekuatan tempur perusahaan menjadi penghalang bagi ambisi Anda?"

Alis Fakim berkedut sedikit.

"Rapat umum pemegang saham sudah dekat. Menyiapkan skandal bagi rival sebelum pemilihan presiden di mana para pemegang saham besar berkumpul memang bukan strategi yang buruk. Misalnya, dengan tuduhan merencanakan pembebasan sesama imigran Republik Colonial…… Anda berencana menghabisi Chronica dan yang lainnya dengan tuduhan yang dibuat-buat, lalu melimpahkan tanggung jawab atas kehadiran mereka kepada Barbarossa untuk mencoreng namanya. Bukankah itu tujuan Anda?"

"……Jika benar begitu, lantas kenapa?"

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa tidak ingin nyawa mereka digunakan untuk rencana dangkal semacam itu."

Fakim menatap tajam ke arah Anahit dari balik topeng kesopanannya. Tepat pada saat itu—

Seorang pria berpakaian seperti sekretaris, bukan tentara, berlari tergesa-gesa menghampiri Fakim.

"Ada apa? Aku sedang sibuk. Apa kau tidak li—"

"Pe-pemberontakan! Para imigran sepertinya melakukan aksi mogok dan pemberontakan massal secara serentak!"

"——Hah?"

 

Bagian 9

Sejak lewat tengah hari itu, suasana di pulau mendadak menjadi kacau balau.

Sebuah rumor menyebar layaknya wabah kegilaan, memacu para imigran Republik Colonial yang selama ini pasrah dalam kasta buruh rendah untuk bergerak demi satu tujuan yang sama.

Mereka—para buruh kontrak perkebunan hingga para penyamun yang telah terusir—bersatu padu. Dengan menggunakan beliung, sekop, cangkul, tongkat, atau bahkan tangan kosong jika tidak punya alat, mereka mulai menggali tanah.

Tanah itu. Tepat di perbatasan antara kawasan pemukiman mewah para elit di tanjung dan bagian pedalaman pulau.

"……Berhasil dengan sangat mulus, ya."

"Tidak, tidak, ini sungguh nyata……? Eh, ini pasti semacam lelucon, kan?"

Aku bersama Patricia, menatap ke bawah dari atas bukit di ladang tebu yang agak jauh, menyaksikan proyek penggalian massal yang lebih mirip dengan kerusuhan tersebut.

Orang-orang pertama yang kutarik ke dalam rencana ini adalah para pria yang sebelumnya dihajar oleh Patricia. Aku menggunakan mereka sebagai sakura—kaki tangan untuk menyebarkan sebuah rumor ke seluruh penjuru pulau.

Isinya begini: Tanjung yang menjorok panjang ke laut itu sudah mencapai batas kemampuannya dalam menopang beban perumahan mewah milik para elit Kekaisaran di atasnya.

"Gali pangkalnya, maka tanjung itu akan patah dan runtuh. Wahai rakyat, rebut kembali kebebasan kalian dengan tangan sendiri!"

Begitulah, para pekerja yang amarahnya sudah di ujung tanduk mulai bergerak persis seperti yang kubayangkan.

Yang paling berguna dari semuanya adalah kata "kebebasan". Simbol revolusi yang terjadi di tanah air kami dua belas tahun lalu membangkitkan halusinasi kolektif dalam diri mereka.

Para imigran asal Republik Colonial seharusnya pernah merasakannya sekali; kenikmatan dan gairah saat terbebas dari penindasan bangsawan, monarki, dan segala tekanan yang menghimpit kepala mereka.

Singkatnya, mereka ingin mencicipi sekali lagi kegembiraan dari peran itu. Jika mereka bisa mementaskan kembali gairah perlawanan terhadap tirani dan melakukan revolusi, mereka akan melahap skenario apa pun yang ditawarkan.

Bahkan jika itu sama sekali bukan kenyataan.

Untuk menjawab pertanyaan Patricia, aku berkata:

"Tentu saja itu bohong. Mana mungkin daratan bisa miring dan tenggelam hanya karena manusia menggali lubang. Tapi, yang ingin mereka percayai bukanlah logika semacam itu."

Tips dalam berbohong, nomor empat:

Kebohongan haruslah sesuatu yang bisa mengabulkan keinginan pihak lawan.

"Yah, yang paling parah menggali lubang kuburnya sendiri adalah orang-orang Kekaisaran itu sendiri. Semurah apa pun biayanya, mengumpulkan dan mempekerjakan paksa orang-orang yang sudah belajar cara menggigit tangan majikannya pasti akan berakhir begini. Tanpa kupicu pun, cepat atau lambat mereka pasti akan meledak sendiri……"

Kulihat kerusuhan itu akhirnya mencapai puncaknya. Para prajurit Perusahaan Angkatan Laut yang mencoba melakukan penekanan sepertinya mulai menyadari bahwa perbedaan jumlah personel terlalu besar. Mereka kini hanya bisa berupaya sekuat tenaga untuk mencegah massa masuk ke area tanjung, sementara para imigran sudah hampir lepas kendali sepenuhnya.

Matahari sudah mulai terbenam. Senja yang menyilaukan dan merah pekat seperti darah membakar garis cakrawala. Setelah demo penggalian yang berlangsung sepanjang sore, entah mengapa mulai muncul rasa lelah atau kejenuhan di udara.

Karena itu, inilah dorongan terakhirnya.

"Patty, bolehkah aku minta satu bantuan?"

"Tentu. Apa itu?"

"Aku ingin melihat kembang api."

Kepada gadis yang tengah menatapku dengan wajah bingung itu, aku memberikan penjelasan tambahan.

"Satu letusan saja sudah cukup. Tidak, satu letusan justru lebih baik. Yang paling megah kalau bisa—ah, tapi usahakan jumlah korban luka seminim mungkin. Tembakkan tepat ke tengah kegaduhan itu. Dengan begitu, kurasa longsoran emosi akan terjadi."

Aku mengatakannya sambil menunjuk ke arah kerumunan imigran yang menggeliat di bawah sana. Memahami maksudku, Patricia menyunggingkan senyum nakal.

"Engkau pria yang buruk desuwa~."

"Kau kecewa?"

"Tidak. Justru karena sisi itulah, aku jatuh hati padamu. Kalau begitu, sesuai keinginanmu."

Lalu, nyala api menyulut ujung jari putihnya. Di sana, aku bisa merasakan kepadatan panas yang seolah sanggup menghanguskan siapa pun yang melihatnya dalam sekejap. Namun...

"Lagipula, dari jarak sejauh ini kekuatannya tidak akan seberapa. Output dari Regalia akan menyusut drastis sebanding dengan jarak dari detak jantung pemiliknya. Seperti ini."

Bibirnya yang mungil mengerucut manis, lalu ia meniup hawa panas dari ujung jarinya ke udara, layaknya meniup lilin.

Serpihan api ledakan yang terbawa angin itu terlihat semakin mengecil seiring jarak yang menjauh, dan beberapa detik kemudian...

Suara ledakan dan kilatan cahaya yang tercipta di atas kepala kerumunan massa itu benar-benar sesuai dengan permintaanku.

Dan setelah itu, situasi yang berkembang justru melampaui dugaanku.

Untuk sesaat, keheningan yang menyerupai riak gelombang menyebar di antara orang-orang, lalu jeritan beberapa orang yang kurang beruntung karena terkena luka bakar berubah menjadi pekikan perang.

Teriakan kemarahan dan kekacauan pecah seketika. Bagaikan daun-daun kering yang tersulut api, para imigran itu berkobar.

Massa dalam jumlah besar yang baru saja mengarahkan perkakas mereka ke tanah, kini mengacungkan alat-alat tersebut—atau kepalan tangan mereka—dan menyerbu barikade pertahanan yang dijaga oleh para prajurit Perusahaan.

Begitu tsunami itu dimulai, tak ada lagi yang bisa menghentikannya.

 

Bagian 10

Setelah itu, dengan digandeng oleh Patricia, aku melompati kerumunan imigran yang sedang mengamuk dengan ringan—dan ini sama sekali bukan kiasan. Kami kembali menginjakkan kaki di area pemukiman warga Kekaisaran yang hingga tadi pagi masih merupakan kawasan hunian yang tenang.

Sejak revolusi dua belas tahun lalu, aku sudah muak melihat yang namanya kerusuhan. Karena itu, seperti halnya semua kerusuhan yang pernah kusaksikan tanpa pengecualian, ini pun hanyalah kegilaan sesaat dalam mimpi satu malam.

Maka dari itu, aku harus segera menyelesaikannya. Sebelum siapa pun terbangun dari mimpi ini.

Di tengah kawasan perumahan yang kacau balau, di mana para elit berkulit gelap dan para pelayan rumah tangga berkulit putih berlarian simpang siur, aku dan Patricia terus berlari sambil bergandengan tangan.

Tujuan kami sudah jelas.

"Ayo, Patty. Kita memang tidak diundang, tapi dia pasti akan 'menyambut' kita."

"Tentu. Bersamamu, ke mana pun, sejauh apa pun. ……Lagipula,"

Patricia dengan lembut mengusap bagian perutku. Itu adalah tempat di mana Fakim mendaratkan serangan lututnya kemarin, yang menyisakan lebam hingga tadi pagi.

Sepertinya dia sudah menyadarinya sejak tadi. Sepasang mata birunya yang menatapku kini berkobar dengan api kemarahan.

"Ini adalah moto keluargaku desuwa~. Balas kesopanan dengan kesopanan, balas kelancangan dengan Blaze (Ledakan Api). Jika aku tidak membalas perbuatannya karena telah merundung suamiku, itu akan mencoreng harga diri Empat Adipati Selatan."

"……Serius, itu benar moto keluargamu? Rumahmu kedengarannya berbahaya sekali."

"Benar, kok desuwa~. Karena barusan aku sendiri yang memutuskannya di tempat ini."

Ucap Patricia sambil menunjukkan senyum manis yang menggemaskan.

Sambil menghela napas, aku menggenggam tangannya, dan kami pun melaju menuju akhir dari kencan kami.

Kami melintasi pondok tempat kami menginap, menendang hancur gerbang utama di seberangnya beserta para penjaganya, menghanguskan deretan pohon flamboyan di sepanjang jalan, dan menerobos taman botani dengan pilar-pilar putih sembari melempar para prajurit penjaga ke saluran air. Rasanya sudah terlambat jika baru sekarang bertanya ini rumah siapa.

Sebagai penutup, pintu masuk yang megah itu diledakkan dengan api sang wanita bangsawan. Kami berdua melompat masuk ke aula besar, diiringi serpihan karpet yang hangus yang beterbangan seperti kelopak bunga.

Dan benar saja, bajingan itu ada di sana.

Pria paruh baya yang sedang berteriak panik memberikan perintah kepada para prajuritnya itu kini menatap kami dengan pandangan penuh keterkejutan.

Percikan api menyulut ujung rokok yang kuhimpit di bibir, mengepulkan asap ungu. Sebagai ganti ucapan terima kasih, aku mengusap lembut bahu wanita di sampingku, lalu mengangkat tangan seperti sedang menyapa kawan lama.

"Yo, sudah sejak kemarin ya."

"Ka-kau... jangan-jangan, kekacauan ini adalah perbuatanmu!"

"Oi, oi. Jangan asal tuduh begitu. Aku hanya sedang berwisata dan melepas rindu seperti yang kau sarankan kemarin. Yah, karena pulau ini panas, mungkin suasananya jadi sedikit terlalu hangat."

Melihat reaksiku, Anahit yang duduk di seberang Fakim tampak terkekeh pelan.

Rostam dan Chronica juga ada di sana, berada di antara mereka seolah sedang dilindungi. Begitu mataku bertemu dengan sepasang permata Amethyst milik Chronica, aku langsung bisa memetakan apa yang telah terjadi pada mereka.

Seketika itu juga, aku merasakan sesuatu bergejolak panas di dalam perutku.

"Ngomong-ngomong, siapa namamu tadi? ……Ah, lupakan saja, itu pertanyaan bodoh. Kalau dipikir-pikir, nama orang yang sebentar lagi akan menggelandang jadi gelandangan sama sekali tidak penting bagiku."

"Kurang ajar kau, bajingan keparat!! Jangan meremehkanku, dasar orang biadab!"

Fakim meledak dalam amarah, membuang jauh-jauh topeng diplomasinya.

"Hanya karena kau berhasil menghasut monyet-monyet imigran itu, kau pikir sistem manajemenku—manajemen Perusahaan kami—akan goyah?! Apa kau lupa kalau saat ini kapal Gandharva yang kalian tumpangi sedang berlabuh di pulau ini?! Dengan kekuatan militer dari Super Dreadnought itu, menumpas kalian adalah perkara mudah! Jadi, dengar baik-baik! Jika kau tidak mau melihat neraka, segera buat para imigran itu tenang dan—"

"Ah, soal itu," aku memotong kalimatnya dengan sekasar mungkin.

"Tenang saja. Aku jauh lebih kompeten dalam bekerja dibanding bawahanmu mana pun, jadi aku sudah menghubungi mereka."

"Hah……?"

Kepada siapa, dan apa. Fakim mulai menyadari arah pembicaraanku, dan wajahnya berangsur-angsur memerah padam.

"Aku sudah menyampaikannya pada Barbarossa. Bahwa kau sedang memohon bantuan padanya. Lalu si Tua itu berkata dengan suara lantang; jika kau mau mengundurkan diri, dia bersedia melindungimu dan keluargamu di dalam Gandharva."

"————gh, ah!"

Benar atau tidaknya ucapanku tidaklah penting, karena sepertinya dia sudah termakan gertakanku.

Dalam ancaman pertamanya, Fakim memerintahkanku untuk meredam kerusuhan. Secara logika itu mustahil, namun melihat betapa kacaunya dia sekarang, jelas sekali bahwa itulah ketakutan terbesarnya.

Sebagai penguasa pulau ini, jika para tenaga kerja melakukan pemberontakan dan ia gagal menumpasnya dengan kekuatannya sendiri, ia pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kegagalan manajemennya. Itu adalah hal yang sangat mudah diprediksi.

Bagi Barbarossa, ini adalah kesempatan emas untuk menyingkirkan rival dalam persaingan promosi jabatan.

Putari, bagaikan benang yang putus, Fakim jatuh berlutut. Para bawahannya gempar, mereka mengerumuni pria itu dengan raut wajah cemas, mencoba membaca situasi.

Namun, di sana kini hanyalah tersisa seorang pecandu kemenangan yang telah hancur, seorang pecundang yang terpaksa merelakan seluruh karier yang telah ia bangun.

Setelah itu, berkat mediasi dari Anahit, Fakim akhirnya setuju untuk mengungsi ke Gandharva bersama keluarganya.

Tak lama kemudian, dengan tembakan peringatan dari meriam Gandharva serta pasukan yang mendarat di pantai, kerusuhan para imigran mulai mereda seketika.

Bagiku, karena telah memanfaatkan mereka dengan lidah manisku, ada sedikit rasa tidak enak di hati melihat akhir dari para imigran tersebut. Tapi, sejak awal, menaiki kapal imigran adalah pilihan mereka sendiri—singkatnya, aku tidak punya kewajiban moral untuk mengurus mereka sampai akhir. Tidak butuh upaya besar bagiku untuk membuang rasa bersalah itu.

"Tuan Linus."

"Anahit, ya."

Rostam tidak terlihat di mana pun. Sepertinya dia pergi ke suatu tempat.

"Maaf atas ketidaknyamanan yang menimpamu. Dan, haa... Kamu benar-benar membuat keributan yang luar biasa ya. Jadi, anggap saja kita impas sekarang."

"Maaf soal itu. Seharusnya aku mendiskusikannya denganmu terlebih dahulu. Aku akan lebih berhati-hati lain kali."

"Tidak ada lain kali. Jadi, tolong pastikan ini yang terakhir ya."

"Iya, iya," jawabku sambil menggaruk kepala. Aku merogoh saku untuk mengambil rokok, namun saat itulah, selembar kertas yang terselip di sana ikut terjatuh ke lantai.

"Ups."

Entah karena suaraku saat menjatuhkan benda itu, atau karena kertas itu jatuh tepat di dekat kakinya. Apa pun alasannya, Anahit bereaksi dengan kepekaan yang luar biasa dan segera berjongkok.

Hanya butuh waktu sekejap bagi sang Miko yang buta itu untuk meraba lantai. Begitu jemarinya menjepit kertas itu, ia hendak menyodorkannya kepadaku, namun tiba-tiba gerakannya membeku seolah terpaku di tempat.

Jemari rampingnya terus meraba permukaan kertas itu—kartu nama yang kudapatkan dari wanita bertelinga aneh itu.

"……Bagaimana bisa kamu memiliki ini?"

"? Aku mendapatkannya dari seorang wanita aneh di pelabuhan Langston. Apa kau tahu apa yang tertulis di sana?"

Ia terdiam sejenak, lalu bergumam pelan.

"Tidak. Aku tidak bisa membaca tulisannya karena mataku tidak bisa melihat…… Hanya saja, teksturnya terasa sangat akrab di jemariku. Maaf atas kelancangannya."

Begitu kata-kata itu terucap, aku menerima kembali kartu nama tersebut dan menyimpannya ke dalam saku.

Untuk saat ini, aku tidak akan mendesaknya soal kertas ini—soal bagaimana ia mencoba menutup-nutupi keterkejutannya.

Alih-alih menyulut rokok yang sudah berada di bibir, aku justru berbalik arah. Aku melangkah menuju seorang gadis berambut seputih salju kemerahan yang sedang berdiri menyendiri, menyandarkan punggungnya pada dinding aula.

"……Chronica."

Kami tidak perlu lagi menjelaskan situasi masing-masing. Namun, justru karena itulah, tidak ada lagi basa-basi yang tersisa untuk memulai percakapan yang ingin kusampaikan.

Dari kejauhan, suara yang menyerupai gemuruh petir terdengar samar. Di balik latar suara tembakan peringatan Gandharva dan kerusuhan yang masih berlangsung di luar, tak ada satu kata pun terucap, tak ada satu tatapan pun yang bertemu di antara aku dan gadis itu.

Setelah beberapa saat, Chronica—yang masih memegang topi titipanku—berkata dengan suara lirih.

"……Bukannya kau sedang berada di tengah-tengah kencan?"

Kemudian, gadis itu melangkah pergi bersama Anahit yang sedari tadi memperhatikan kami dari dekat.

"Kalau begitu, kami pamit dulu. Kami akan meminjam salah satu kamar di rumah ini untuk beristirahat. Selamat malam."

Aku menatap kepergian mereka berdua sekilas, lalu teringat akan peranku sendiri.

……Ah, benar. Begitu rupanya.

Apa yang sedang kulakukan? Aku harus memainkan peran ini hingga akhir.

Maka, seperti biasa, aku mengenakan topeng tak kasat mata itu kembali.

 

Seiring dengan perginya sang pemilik rumah, para pelayan sibuk berlarian mempersiapkan pelarian mereka di tengah malam, meninggalkan halaman tengah yang mewah tanpa penjagaan.

Dari aula yang kini kosong melompong, aku meraih tangan Patricia dan membawanya menuju taman tengah yang memiliki air mancur, tempat cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan masih berkilauan.

Sambil menginjak ubin terakota yang membelah rumput hijau dengan rapi, aku memasang senyum—sebuah senyum yang pantas bagi seseorang yang sedang jatuh cinta—lalu berkata:

"Maukah kamu berdansa satu lagu lagi denganku? Nona Muda."

"Ya, tentu saja desuwa~."

Diiringi gemericik air mancur yang meluap tenang—mengingatkan pada deburan ombak lembut atau aliran sungai di tengah hutan—kami saling bertautan tangan dan berdansa dalam sunyi.

Aku menggenggam tangan ringkih yang rasanya sulit dipercaya sanggup memukul mati manusia dengan mudah, lalu membimbingnya dengan lembut sesuai keinginannya. Telapak tanganku menyentuh pinggangnya yang ramping dan fleksibel, perlahan mencari tempo yang paling nyaman bagi kami berdua.

"Kencan hari ini, apa kau menyukainya, Patty?"

"Ya, sangat menyukai... tapi, masih ada yang kurang."

Melihat matanya yang sayu dan berkaca-kaca, akan sangat tidak peka jika aku memaksanya mengutarakan apa yang kurang itu.

Kami saling menatap, seolah sedang saling menggoda, sebelum akhirnya aku mendekapnya dengan lembut. Dan kali ini, akulah yang memulai; aku mendaratkan ciuman di bibir merah mudanya yang lembap karena gairah.

Sambil memeluk aroma tubuh wanita yang harum dan nyaman—seolah-olah ia tercipta dari kumpulan buket bunga—lidah kami bertautan dengan lembut dan dalam. Melalui pagutan itu, aku menyalurkan apa pun yang terasa kurang ke dalam dirinya, jauh ke lubuk hatinya.

Ilustrasi Hitam Putih 1 - Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2 Bab 2

Lalu, saat bibir kami terpisah, aku mengubah sisa rasa "kejujuran" di dalam mulutku menjadi kata-kata yang nyata.

"……Aku mencintaimu, Patty."

Pipi Patricia merona merah sedalam warna koral, namun di saat yang sama, ia tampak sangat sedih.

"Dasar pembohong desuwa~.".

Ia tersenyum, meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

 

"……Lama-lama, aku pun mulai mengerti. Saat ini, kau mencintaiku dengan sungguh-sungguh, dari lubuk hati, dan sebagai sebuah kebenaran. ——Justru karena itulah, aku tahu itu semua bohong."

Dengan lembut, ia mendorong dadaku. Suhu tubuhnya perlahan menjauh dariku.

Bersamaan dengan itu, kekosongan tanpa suhu yang menganga di tengah-tengah diriku pun menjadi semakin nyata.

"Engkau hanya sedang memanfaatkanku, bukan? Memelukku dengan lembut dan membisikkan kata cinta hanya agar kau bisa mengikatku sebagai kekuatan tempurmu. ……Demi Chronica."

Mungkin, dia sudah tahu sejak awal. Sejak sore itu di tepi pantai, saat kami saling menyandarkan punggung, identitas asliku sebenarnya sudah sangat jelas baginya.

"Kalau begitu, apa kau akan membunuhku?"

"……Sisi dirimu yang itu benar-benar licik. Padahal engkau tahu aku tidak akan bisa melakukannya."

Ia menyatakan bahwa aku adalah seorang penipu dan pembohong, namun meski tahu segalanya, ia tetap ingin berkencan denganku. Lalu, dengan sikap seolah ingin bersandar pada harapan, Patricia merebahkan kepalanya di dadaku.

"Dan aku memang bodoh. Meskipun aku tahu itu bohong... meski aku memahaminya, aku tetap tidak bisa melepaskanmu. Aku... tidak ingin menjauh."

Entah mengapa, hatiku tiba-tiba bergetar saat menatap sepasang mata yang basah dan tampak begitu pilu itu.

Apa yang dikatakannya memang benar. Dia adalah sekutu berharga demi keselamatan Chronica dan diriku. Karena itulah aku memanfaatkannya. Seharusnya memang begitu.

Namun, tiba-tiba Patricia menyeka air matanya dan menyunggingkan senyum yang lebih cerah dari biasanya.

"—Tapi, tidak apa-apa. Ya, aku sudah memutuskan untuk mengesampingkan hal itu untuk sementara waktu!"

Senyum yang merekah bagaikan langit cerah setelah badai itu tiba-tiba berembus masuk ke dalam hatiku.

"Singkatnya, aku hanya perlu merebut kembali hatimu dari Chronica, kan! Um... kalau dipikir-pikir seperti itu, rasanya aku mulai melihat harapan."

……Ah, jika, andaikata saja.

Seandainya aku bisa melupakan segalanya dan terus memeluknya seperti ini, itu pasti juga sebuah kebahagiaan.

Demi menepis pikiran konyol yang tiba-tiba muncul itu, aku berkata, "Dengar ya, satu hal yang perlu kutegaskan, aku sama sekali tidak jatuh cinta padanya. Jangan salah paham, hubunganku dengannya itu cuma seperti kakak yang harus mengurus adik yang merepotkan."

"……Entah kenapa, kalau soal kebohongan yang satu itu, engkau buruk sekali dalam melakukannya." 

"Nah, kalau begitu," lanjut Patricia sambil memutar roknya dengan anggun, lalu berkata dengan penuh tekad, "Suatu saat nanti—tidak, dalam waktu dekat, aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku dari lubuk hatimu yang paling dalam…… Jadi, bersiaplah!"

Dan tepat saat senyum terbaiknya ditujukan kepadaku—

"—!! "

Disertai suara dentuman, sebuah hawa keberadaan mendarat tepat di antara aku dan Patricia.

Haus darah yang nyata seketika mengoyak ketenangan senja yang sunyi.

Dua wajah yang serupa itu adalah dia dan gadis itu—yang seharusnya sudah tenggelam bersama Cradle waktu itu.

"Serbu kalian saat makan malam. Malam ini, Ulna haus akan darah."

"Ulna! Sudah kubilang jangan menyerbu sendirian—hm? Si Sel Kanker tidak ada di sini?"

"Kalian—!!"

Si kembar dari Ksatria, kalau tidak salah Pluto dan Ulna.

Sesaat kemudian, bunyi decakan lidah terdengar singkat. Tangan putih Patricia segera mendorongku ke zona aman yang berjarak belasan kaki, dan kepalan tangannya pun berkobar merah.

"……Benar-benar hama yang menjengkelkan desuwa~. Apa kalian muncul karena pulau ini terlalu panas? Kali ini, akan kupastikan kalian 'disterilkan' sampai bersih."

"Itu!" "Adalah kalimat kami."

Jari si kembar menjentik. Gelombang panas tak kasat mata yang terpancar segera diredam oleh ledakan api Patricia, sama seperti sebelumnya.

"Ah, ampun deh…… Kalau cuma itu yang bisa kalian lakukan desuwa~, lebih baik mati saja sana, dasar kroco."

Di bawah dukungan perbedaan output Regalia yang luar biasa, tepat sebelum gelombang panas mematikan melahap si kembar—

"Maaf ya, kali ini aku juga ada di sini."

"—kh!?"

Entah karena radar pemindai panas miliknya sedang dikacaukan oleh serangan si kembar, atau memang karena kecepatan itu terlalu mustahil—bahkan jika Patricia sedang dalam kondisi prima pun, hasilnya mungkin tidak akan berubah.

Kilatan merah yang lebih pekat dari darah membelah kegelapan senja. Regalia berupa garis tebasan tercepat yang mampu melampaui batas penglihatan manusia itu adalah milik Welquix—

"Patty!!"

Darah segar memuncrat layaknya bunga yang berguguran, memenuhi bidang pandangku saat aku berlari kencang.

Dalam sekilas tatapan mata birunya yang mulai kehilangan cahaya, aku merasa seolah mendengar bisikan suara; maafkan aku.

Tubuh Patricia yang telah tercacah tanpa ampun itu ambruk. Aku berhasil menangkap dan mendekapnya tepat sebelum ia menyentuh tanah. Namun...

"Patty……! Hei, sialan…… tidak mungkin, bajingan!"

Pipinya memucat pasi. Dari tubuh yang terkulai lemas itu, aliran panas yang mengucur deras tak kunjung berhenti.

Tiga bangsawan ksatria itu kini mengepung kami.

"Begitulah, akhirnya kami menyudutkanmu. Berani-beraninya kau mempermainkan kami waktu itu, dasar penipu!"

"Rebus, bakar, pukul, lalu hancurkan untuk makan malam. Maksudku, akan kami jebloskan kau ke penjara setelah kau menderita."

"……Kita harus membuatnya membocorkan keberadaan si Sel Kanker. Urusan membunuhnya bisa dilakukan setelah itu."

Aku tidak tahu harus meletakkan penyesalanku di mana. Mengapa semua ini bisa terjadi?

Kini, tak ada lagi satu pun kartu truf yang tersisa di tanganku.

« Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya »

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar