Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo Jilid 2 Bab 1

Awal baru akhirnya dimulai, Kisah Linus Kruger & Chronica kini mencapai babak baru. Bisakah Linus membawa pergi Chronica dari kejaran Ksatria?

Bab 1: Embassy of Albion

Bagian 1

Namaku Linus Kruger. Pekerjaanku adalah seorang penipu.

"Sial, rokoknya lembap banget."

Asap pahit yang kehilangan aromanya itu tertiup angin laut, menyatu dengan kebisingan kota. Aku membetulkan letak topi hitamku yang miring diterjang angin hingga menutupi mata. Dari jalan utama Bukit Apona tempat kami berjalan, hamparan laut biru yang memantulkan cahaya matahari pagi terpampang luas dengan jelas.

"Anginnya segar! Ada bau ikan juga!"

Rambut panjang sewarna akayuki—perpaduan antara magenta dan perak—tampak menari-nari di atas kepala gadis yang berjalan di depanku itu. Chronica mengendus aroma pasar ikan raksasa yang tertiup dari bawah bukit, lalu bergumam riang sambil mengibaskan rambutnya.

Ini adalah Lanston, kota pelabuhan terbesar di pesisir barat Republik Colonials.

Sejak kebijakan liberalisasi perdagangan dibuka, nilai perdagangan serta volume ekspor dan impor terus melonjak. Pelabuhan yang setiap harinya diperluas melalui reklamasi itu menampung semuanya, sebelum akhirnya didistribusikan ke seluruh negeri melalui jalur kereta api. Sekarang, kota pelabuhan utama di Republik ini memiliki kepentingan ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan Parinton, sang ibu kota yang terletak di pedalaman.

Mungkin karena latar belakang itulah, pemandangan kota di atas bukit yang baru kami datangi pagi ini tampak luar biasa indah. Deretan bangunan tinggi dari bata kuning yang menghadap ke laut, semuanya memiliki atap berwarna oranye yang terlihat sangat makmur. Jika aku masih Linus yang dulu, pemandangan ini pasti sudah membuat tanganku gatal untuk beraksi. Namun saat ini situasinya berbeda.

Chronica berjalan dengan penuh semangat sambil melangkah ringan di atas jalan setapak batu yang putih.

"Seperti dugaanku, banyak toko yang menarik! Bagaimana kalau kita makan dulu? Setelah itu aku ingin mampir ke butik. Oh, aku juga ingin turun ke pelabuhan di bawah bukit untuk melihat kapal-kapal besar." 

"Tenang sedikit, Bodoh. Kau masih ingat tidak kita ke sini mau apa?"

"Tentu saja. Untuk melarikan diri ke luar negeri, kan? Kau dan aku."

Gadis itu, Chronica, sedang dalam pelarian karena nyawanya diincar. Dia diburu oleh organisasi teroris bernama Ksatria yang berisi sisa-sisa bangsawan penyintas revolusi, dan kemungkinan besar, pemerintah Republik ini juga mengejarnya.

Hal itu dikarenakan jati dirinya yang sebenarnya adalah Drow Cancer, si Sel Kanker. Dia adalah sel mata abadi yang lahir setelah membunuh sang Raja abadi yang pernah bertakhta selama seribu tahun di negeri ini. Terlebih lagi, mata kirinya memegang kunci untuk membangkitkan kembali sang Raja tersebut.

Karena alasan itulah, tepat dua hari setelah pertarungan hidup dan mati di pantai yang tak terelakkan itu, kami tiba di kota pelabuhan ini demi melarikan diri ke luar negeri. Padahal, bisa dibilang situasi kami saat ini sedang di ujung tanduk.

Entah ini hal baik atau buruk, namun bertolak belakang dengan takdir kejam yang dipikulnya, gadis itu justru berkata begini tanpa rasa sedih maupun tegang sedikit pun.

"Lupakan soal itu. Pertama-tama, Linus, belikan aku es krim."

"Hah?"

Ujung jarinya yang ramping dan putih menunjuk ke sebuah kedai kaki lima di alun-alun, di samping balai kota yang sedang dikerumuni antrean kecil.

"Kubilang es krim. Sejak tadi aku sudah penasaran dengan itu."

Berdasarkan informasi yang Chronica petik dari mata orang-orang yang lewat, es krim adalah kudapan beku terbaru yang sangat digemari penduduk pelabuhan yang sok modis. Semua berkat pasokan es dari pegunungan abadi di utara yang kini bisa didistribusikan secara stabil melalui kapal uap dan kereta api.

"Kalau sudah melaut, kita pasti tidak akan bisa menemuinya lagi. Lagipula, kapal menuju Kekaisaran Uap Albion tidak akan langsung berangkat sekarang, kan?"

"Ya, memang benar sih. Tapi apa kau niat sekali mengantre hanya demi makan itu? Itu cuma es, lho."

"Kau ini pria yang tidak punya rasa seni, ya. Lagian, ini sekalian buat menghilangkan rasa tidak enak di mulut. Kopi mirip lumpur yang kau pesan tadi rasanya pahit banget tahu."

"Bukannya kau sendiri yang minta cicip tadi?"

Untuk jalur laut ke luar negeri, kami memutuskan untuk menggunakan kapal migran menuju Kekaisaran Uap Albion. Alasannya bukan karena harga tiketnya paling murah, melainkan karena perekrutan migran di sana sedang gencar dilakukan, sehingga jumlah jadwal pelayarannya cukup banyak. Sangat cocok bagi buronan seperti kami untuk menyelinap ke dalamnya.

Tadi aku sudah memesan kursi di kedai kopi yang merangkap sebagai agen perkapalan. Keberangkatannya besok.

Sebagai informasi tambahan, kedai kopi juga merupakan penemuan dari Kekaisaran Uap Albion. Begitu pula dengan fasilitas koran dan majalah mingguan gratis, serta mesin pengekstrak biji kopi bertenaga uap bagi pelanggan sepertiku yang suka mengeluh jika kopinya terlalu encer.

"Pokoknya, sekarang es krim dulu! Mumpung masih ada waktu, ayo kita makan bareng!"

Melihat senyumnya yang tanpa beban, aku akhirnya menyerah dan mengangguk pasrah.

Aku membeli rokok, juga edisi terbaru Weekly Continental, dan satu lagi dari loper koran yang lewat.

"Ada koran luar negeri juga...? Berikan satu, meski aku tidak bisa membacanya."

"Terima kasih, Tuan. Bagaimana dengan koran mingguan yang ini? Isinya tentang sisi gelap kerusuhan besar di Kota Kanal tempo hari."

"Tidak perlu."

Setelah itu, aku ikut mengantre di kedai es krim bersama Chronica.

Tidak ada artikel yang terlalu menarik di Weekly Continental. Untungnya, di koran yang sepertinya berbahasa Kekaisaran itu terdapat beberapa catatan kaki berbahasa Republik Colonials yang tampak seperti coretan asal-asalan.

"Perusahaan... saham, pertemuan, pemilihan umum, segera. Sial, apa ini dibuat sambil belajar menerjemah otodidak? Aku sama sekali tidak paham."

"Ah, sepertinya kita bisa memilih selai buat topping-nya. Ada stroberi, jeruk, wijen, snap, lada hitam.... Kau mau yang mana?"

Aku segera menyerah pada usaha yang sia-sia itu, lalu menyelipkan koran yang sudah terlipat di ketiakku.

Tak lama kemudian, giliran kami pun tiba. Sebuah tabung logam bertangkai tampak didinginkan di dalam tong penuh es, diselimuti kabut putih yang dingin.

"Karena Nona sangat manis, akan kuberi bonus satu sendok tambahan."

"Terima kasih!"

Es krim putih susu yang dikerok dari dinding wadah logam itu diletakkan di atas kerucut kue kering.

Saat Chronica menerima es krim itu sambil mengucap terima kasih, wajahnya yang tersenyum lebar entah kenapa terasa begitu menyilaukan di mataku.

—Ting. Di dalam kepalaku, terdengar suara koin berdenting.

Benar-benar perasaan yang tidak cocok bagi seorang penipu. Tidak pantas dan sama sekali tidak relevan.

Topeng yang selama ini melindungi luka di hatiku telah terkoyak di pantai waktu itu. Karena itulah, sejak hari itu sosok Chronica terasa begitu nyata dan langsung merasuk ke dalam lubang di tengah dadaku yang masih menganga.

Meski perasaan itu membawa rasa perih dan sesak, seharusnya itu bukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

—Lantas, mengapa tiba-tiba aku merasakan sakit yang menusuk seperti ini?

"Ada apa, Linus?"

"Bukan apa-apa. Angin lautnya cuma terasa perih di luka bekas serangan maid brutal itu."

Aku memalingkan wajah untuk mengecohnya agar dia tidak bisa membaca ekspresiku.

"Begitu ya. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau sakitnya tidak tertahankan, katakan saja, aku bakal melakukan sesuatu. Omong-omong, kau yakin tidak mau pesan? Ini enak banget, lho."

"Tidak usah. Lagian, itu pasti susah dimakan, kan?"

"Nggak masalah. Yang penting kan tampilannya lucu."

Bibirnya yang mungil itu pun terbuka, mulai mencicipi puncak es krim yang bertumpuk tiga tersebut.

...Kira-kira, sampai kapan ingatan Chronica mampu menyimpan momen di hari ini?

Melarikan diri dari Ksatria. Selain tujuan itu, aku menaruh satu lagi harapan di seberang lautan yang belum pernah kupijak.

Drow Cancer, si Sel Kanker, memiliki takdir abadi yang menyedihkan—ingatannya akan perlahan-lahan terkikis dan "dicerna" oleh sang Raja.

Aku ingin membebaskannya dari kutukan semacam itu. Meski sejujurnya aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya, aku telah membulatkan tekad mengenai apa yang harus kulakukan.

Aku butuh sekutu. Untuk terus melarikan diri dari Ksatria maupun untuk menyelamatkannya, kekuatanku sendiri yang hanya manusia biasa ini tidak akan ada gunanya.

Aku tidak bisa berharap pada pemerintah Republik Colonials. Para petinggi yang ingin menjaga hasil revolusi itu kemungkinan besar justru akan mencoba melenyapkan Chronica. Sama seperti yang mereka lakukan pada Evelyn.

Aku melirik sekilas ke arah sebuah bangunan putih megah yang baru saja kami lewati.

"Hm? Ini tempat apa? Suasananya terasa berbeda." 

"Jangan dipedulikan. Kita tidak ada urusan di sini, bakal merepotkan kalau mereka mencurigai kita."

Seorang penjaga bertubuh kekar dengan kulit gelap dan seragam wol putih tampak mengawasi kami dengan tatapan tajam.

Lebih baik tidak mencari masalah dengannya. Mari kembali ke topik awal.

Itulah sebabnya, tujuan kami haruslah Kekaisaran Uap Albion.

Nama resminya adalah Kekaisaran Albion dari Dinasti Aquarta yang Suci. Negara maju terkuat di dunia yang pertama kali mempraktikkan penggunaan mesin uap, sekaligus sosok "penolong" yang menyokong revolusi di negeri ini dua belas tahun yang lalu.

Tentu saja, mereka melakukan itu hanya karena rezim kerajaan lama yang tertutup dianggap menghalangi pembukaan pasar perdagangan baru. Aku juga tahu betul tidak ada jaminan bahwa orang-orang yang akan kami temui nanti adalah orang baik yang tulus.

Namun, siapa pun mereka, aku tidak peduli. Aku hanya perlu memaksa mereka bekerja sama, suka atau tidak.

Karena di tepi pantai waktu itu, aku sudah berjanji pada diri sendiri. Apa pun caranya, aku ingin memberikan kenangan yang tidak akan pernah sirna kepadanya.

Tepat saat aku memikirkan hal itu, sepasang mata amethyst miliknya tiba-tiba menoleh dan menatap mataku yang tengah melamun.

"…Terima kasih."

Aku segera memalingkan wajah dari senyum malunya. Itu jelas bukan karena aku tersipu, benar-benar bukan.

Bagian 2

"Hei... es krimku hilang nih."

"Kan sudah kau makan."

"Bukan begitu. Dia lenyap. Meleleh begitu saja di dalam mulut. Karena itu aku mau coba sekali lagi, kali ini rasa yang berbeda."

"Iya, iya, lain kali saja. Kalau makan es terus, perutmu bisa sakit."

"Muuu..."

Aku mengabaikan gerutuan protes kecil di sampingku dan terus berjalan menuju penginapan untuk hari ini.

Beberapa langkah setelah melewati tikungan jalan, tiba-tiba saja sesuatu menabrakku dari samping.

"Woi! Apa-apaan ini?"

"Kyaa!"

Sosok itu ternyata seorang gadis yang tubuhnya bahkan lebih pendek daripada Chronica.

"Aduh... Aku menabrakmu. Maaf ya, Kakak yang tidak kukenal."

Sepertinya dia pelayan magang dari suatu tempat. Dia mengenakan seragam pelayan modis dengan celana culotte putih. Dengan rambut pirang sewarna bulir gandum yang tergerai di atas jalan setapak batu, gadis itu menggumamkan permintaan maaf yang terdengar sangat datar.

Di satu tangannya, ada es krim dari kedai tadi. Saat aku mengalihkan pandangan ke arah tulang kering kaki kananku yang terasa dingin, satu es krim lainnya sudah hancur berantakan di atas sepatuku, mengotori celanaku.

"Ah, es krim milik Kakak jadi hancur. Tapi punyaku selamat, hmm. Nyam nyam."

Gadis itu berdiri dan langsung melahap es krimnya yang selamat dalam sekali suap. Melihat wajah kekanak-kanakannya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, malah terlihat sangat santai. Aku merasakan urat di pelipisku berdenyut kesal.

"Heh, Bocah Tengik. Sejak kapan lututku pesan layanan antar es krim, hah? Mana orang tuamu? Akan kubuat mereka bangkrut untuk bayar biaya cuci bajuku."

"Hentikan, Linus. Jangan seperti anak kecil." 

Chronica menegur sambil mencolek telapak tanganku dengan jarinya. Kemudian, dia berbicara kepada gadis itu.

"Maaf, ya. Laki-laki ini memang luar biasa sempit hatinya. ...Tapi karena kau juga kurang hati-hati, kau harus minta maaf dengan benar, ya?"

"Baik, Kakak Cantik. Kalau begitu, maaf ya karena sudah tidak sengaja menabrakmu, Kakak Galak."

Cara bicaranya masih sedatar tadi, tapi kali ini gadis itu menundukkan kepalanya dengan benar. Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang.

"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi..."

Seolah merasakan gelagat bahwa dirinya sudah dimaafkan, gadis pelayan itu perlahan mengangkat wajahnya.

Dan tepat di saat itulah, aku melayangkan tendangan depan sekuat tenaga ke wajahnya.

"Gkh!!"

Dia pun terpental telentang ke jalanan. Aku tidak peduli lagi pada sosok malang yang terkapar itu, ataupun wajah kaget orang-orang di sekitar. Situasinya sudah berubah menjadi sangat genting.

"Lari, Chronica!"

—Sebab baru saja, jari Chronica menuliskan satu kata itu di telapak tanganku.

Ksatria.

Kami berlari berbalik arah ke jalan yang tadi kami lalui. Namun tak lama, seorang sosok mungil berambut sewarna gandum tiba-tiba menghadang di depan kami.

Aku terpaksa berhenti karena terkejut. Apa dia sudah berhasil mengejar? ...Tidak, tunggu. Kalau diperhatikan, anak ini memakai setelan pelayan laki-laki dan rambutnya pendek. Apa mereka kakak beradik? Kembar?

Seolah menjawab pertanyaan di dalam hatiku, bocah laki-laki berwajah angkuh itu membuka suara.

"Hehe, hebat juga kau bisa membongkar rayuan maut adikku! Dasar penipu dan Drow Cancer!"

"...Bagian mana dari tadi yang kau sebut rayuan maut?"

Aku membalasnya dengan nada jengah, tapi bocah yang sepertinya pembunuh bayaran itu tidak peduli sama sekali.

"Tapi perjalanan kalian berakhir di sini. Karena apa?! Karena anggota Baris Kedua Garda Pelindung Ksatria, Pluto dan—"

"—bersama Kakak sebagai bonusnya, Ulna yang sangat amat imut ini bakal membunuh kalian. V!"

Tiba-tiba sesuatu melompat melewati kepalaku dan mendarat di samping bocah itu. Ternyata gadis yang tadi.

Tentu saja, dia sama sekali tidak terluka. Dan dia mengacungkan tanda V dengan punggung tangan menghadap ke arah kami, seolah mengejek.

"Woi, aku bukan bonus! ...Bukan, bukan itu maksudku! Kita tidak boleh membunuh mereka! Abaikan si pria, tapi si Drow Cancer harus ditangkap hidup-hidup!"

"Tapi Kakak, si Sel Kanker itu tidak akan mati meski dibunuh, jadi tidak rugi kalau dicoba. Lagian aku sedang ingin membunuh sekarang. Bunuh, bunuh."

…Sambil mendengarkan perdebatan berbahaya namun konyol dari kakak beradik itu, aku mulai memutar otak.

Ke mana kami harus lari? Aku tidak tahu seberapa besar kekuatan mereka, tapi aku tidak akan terkejut jika mereka adalah jenis monster yang sanggup meratakan seluruh bangunan hanya demi menangkap kami.

Sebab kaum bangsawan yang dulu berkuasa di kerajaan ini memang makhluk-makhluk semacam itu.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, aku hanya punya satu tempat tujuan. Namun, tidak ada jaminan kami akan selamat meski berhasil masuk ke sana. Sebaliknya, aku sangat yakin hal itu justru akan memicu masalah besar yang jauh lebih pelik.

Akan tetapi, sorot mata sewarna aster itu kembali membaca pikiranku seperti biasa, lalu sang gadis tersenyum.

"Rencana yang bagus. Kalau begitu, ayo pergi, Linus."

Chronica kemudian mengarahkan kata-katanya kepada si kembar yang menghadang di depan.

"Kalian bilang perjalanan kami berakhir di sini, ya?"

Suaranya mengandung tekad kuat yang seolah menghantam musuh di hadapan kami.

"Sayang sekali, aku sama sekali tidak berniat menurut. Akhir dari perjalanan ini, kamilah yang akan menentukannya."

Tidak ada jawaban verbal. Sebagai ganti, aura mengerikan membuncah seiring dengan seringai buas yang tersungging di wajah kedua bocah itu.

Aku menyambar tangan Chronica dan melangkah maju untuk bertukar posisi.

Sambil membopong tubuh gadis itu yang seringan bulu, aku mengambil satu langkah, lalu dua langkah. Langkah kakiku tidak terlalu cepat, tidak juga lambat. Aku hanya memijak ritme untuk menusuk celah di sela-sela kesadaran lawan.

"Apa?!" "Tidak mungkin!"

Keduanya berseru kaget secara bersamaan.

Noble Cross, Sebuah teknik bertarung milik si maid itu yang dulu disalin oleh mata kiri Chronica dan diberikan kepadaku. Ini adalah etiket duel tradisional yang dahulu hanya diwariskan di kalangan kelas bangsawan.

Namun kali ini, aku menggunakannya bukan untuk bertarung, melainkan sebaliknya.

Respons si kembar melambat secara signifikan. Mungkin mereka terkejut melihat manusia biasa sepertiku menantang mereka dengan teknik milik mereka sendiri.

Keberuntungan berpihak padaku. Aku berhasil menghindar dari tendangan dan tinju yang mereka lepaskan secara serentak, lalu melesat melewati celah di antara mereka.

"Ah! Sial!" "Mereka kabur."

Sambil terus mendekap Chronica, aku berlari kencang tanpa menoleh sedikit pun, menabrak bahu orang-orang di kerumunan yang menghalangi jalan.

Tiba-tiba, aku merasakan panas yang membara seperti kulit yang terpanggang di punggungku.

Instingku berteriak. Ini jelas bukan karena teriknya sinar matahari yang mulai meninggi. Rasanya lebih seperti hawa panas yang ganas sedang mengunci sasaran. Dirayapi rasa ngeri yang mendadak, aku segera menarik Chronica dan melompat berlindung di balik bayangan pohon peneduh jalan.

“"Radiasi Amplitudo—Halo Rain!"”

Deklarasi yang diucapkan serempak itu tidak lain adalah aktivasi kemampuan abnormal di luar nalar manusia, sebuah anugerah yang bersemayam dalam darah kaum bangsawan.

Bersamaan dengan bunyi dentuman keras, jalanan yang baru saja kami lalui sekejap berubah memerah karena panas, mengepulkan uap, dan meledak seolah-olah mendidih. Gelombang panas dan daya ledak yang dimuntahkannya menghancurkan segala yang ada di sekitar.

Aku membungkuk sambil menahan topi, membiarkan serpihan pintu kaca dari bangunan di sepanjang jalan hancur berkeping-keping dan menghujani kepalaku.

"Sialan, benar dugaan-ku! Mereka masih saja melakukan hal gila sesuka hati."

"Masuk ke gang! Kalau terus begini, warga sipil bakal jadi korban!"

Begitu mataku bertemu dengan tatapan Chronica saat dia memanggilku, sebuah informasi langsung terkirim ke dalam benakku.

Keputusanku diambil dalam sekejap. Memanfaatkan debu dan pasir yang beterbangan akibat ledakan, aku dan Chronica melesat ke dalam gang sempit.

Dua pasang suara langkah sepatu mengejar kami yang terus berlari. Saat menoleh ke belakang, pemandangan konyol terlihat; si kembar itu berlari sambil saling bergandengan tangan, menggunakan dinding kiri dan kanan gang sebagai pijakan kaki mereka.

Lalu, masing-masing tangan mereka yang bebas menjentikkan jari, seolah sedang mempersembahkan sebuah buket bunga.

"Gkh!!"

Secara refleks, aku menarik dan membuka lebar sebuah pintu dapur yang baru saja kulewati.

Pintu yang engselnya di sebelah kiri itu untungnya tidak terkunci. Tapi, apakah selembar papan kayu bercat cukup untuk menjadi pelindung yang efektif? Jawabannya sudah kuketahui. Baru saja, mata kiri sewarna aster itu telah memberitahuku.

Kebenarannya terbukti seketika. Pintu yang menerima hantaman sesuatu yang tak kasatmata itu menggembung layaknya balon, lalu meledak hancur.

Namun, kekuatan tak terlihat itu tidak menembus lebih jauh; hanya serpihan kayu hangus yang sempat menyayat pipiku.

"Hmm, kita dikerjai ya, Kakak. 'Gelombang' kita memang serangan mematikan jika kena, tapi kita lemah terhadap penghalang tipis. Aku tidak menyangka dia bisa membaca sejauh itu hanya dengan menatap matamu selama satu detik."

"Kenapa kau malah membocorkan semuanya dengan kata-kata, hah?!"

Sekali lagi, jari mereka menjentik serempak dan melepaskan "Gelombang" tak kasatmata. Aku menangkisnya dengan melempar papan rongsokan yang ada di dekatku. Berikutnya aku menggunakan tempat sampah, lalu kain tenda milik gelandangan.

"Sip! Kita masih bisa bertahan, Chronica. Bocah-bocah ini..."

"Iya, mereka bodoh sekali."

"Tolong jangan menjelek-jelekkan Kakakku."

"Bukannya itu lebih merujuk padamu, Ulna?! Aku ini serius—"

"Diamlah, Kakak. Mereka kabur."

"Ah, sudah cukup! Kau benar-benar terlalu santai, Adikku sayang!"

"Urus saja diri kalian sendiri, Kakak-Beradik Bodoh!"

Sambil melontarkan kalimat ejekan itu, aku menarik tangan Chronica dan melesat keluar dari gang dalam satu tarikan napas. Kami terus berlari dengan sisa momentum yang ada.

Tujuannya sudah dekat. Karena bangunannya sangat mencolok, aku tidak akan lupa meski baru melewatinya sekali.

Di ujung pelarian kami yang terengah-engah, tampaklah sebuah gerbang putih megah yang terlihat kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Sedikit lagi. Namun, tepat saat kaki ini melangkah masuk ke jarak krusial yang hanya tinggal beberapa langkah lagi...

Rasa takut yang tiba-tiba menyergap membuat pikiranku seputih kertas.

Aku tidak lagi sendirian. Justru karena itulah, aku berpikir bagaimana jika pilihan ini salah?

Langkahku sempat terhenti karena beban eksistensi gadis yang ada di dekapanku ini. Namun, di saat itulah...

"Tidak apa-apa, Linus."

Dia turun dari pelukanku dengan gerakan ringan. Senyumnya saat melangkah maju terasa meresap lembut ke dalam hatiku.

"Aku pasti akan baik-baik saja. Apa pun yang terjadi, selama aku bersamamu."

Rasanya seolah dia baru saja mengelus hatiku dengan lembut.

Tanpa kusadari, kakiku kembali bergerak.

Di depan gerbang putih itu, penjaga berkulit gelap yang berbadan kekar menghadang jalan. Dengan cara yang sama seperti saat menghadapi si kembar tadi, aku menarik tangan Chronica dan menyelinap melewatinya. Kami berdua pun melompat masuk ke dalam area bangunan tersebut.

Omong-omong, sepertinya aku lupa memberi tahu jati diri bangunan dan lahan ini, ya?

Kedutaan Besar Albion untuk Republik.

Ini adalah kantor perwakilan luar negeri milik kekaisaran militer terbesar di dunia.

Peluit peringatan penjaga melengking nyaring. Suara derap langkah kaki yang tak terhitung jumlahnya segera menyusul. Para prajurit kekaisaran berseragam putih menyambut kami—para penyusup yang menginjakkan kaki tanpa izin—dengan barisan ujung bayonet yang terhunus.

"Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?"

Suara Chronica yang terdengar seperti senandung itu menunjukkan bahwa dia sudah tahu apa yang akan kuperbuat.

Maka, seperti biasa, aku pun memasang seringai tipis. Dengan perasaan pasrah sekaligus tekad yang bercampur jadi satu, aku menyahut.

"Tentu saja, aku akan mengarang alasan sampai mereka merasa puas."

Tepat setelah aku bergaya sok keren seperti itu, aku baru teringat satu masalah besar.

"...Ah, permisi. Apa ada seseorang di sini yang bisa mengerti bahasaku?"

一Para prajurit dari ras kekaisaran yang berkulit cokelat dan bermata gelap itu berbicara cepat satu sama lain, namun aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan. Mengingat ini adalah kantor perwakilan, mustahil tidak ada penerjemah di sini, tapi sepertinya kedatangan kami terlalu mendadak.

Pada saat itulah, si kembar pembunuh berhasil memanjat gerbang dan menyusul kami. Mata mereka membelalak melihat barisan orang asing bersenjata lengkap yang membentang di depan mata, lalu mereka berlari ke sampingku dan Chronica.

Bagus sekali. Bahan alasan dan tameng peluruku datang bersamaan.

"A-apa-apaan tempat ini?! Jelaskan padaku, Penipu!"

"Penjelasan, buat Ulna please, yang lembut dan mudah dimengerti, ya."

"Bisa diam tidak, Bocah Tengik. Lihat saja sendiri, sebentar lagi kita semua akan jadi sarang lebah dengan kompak."

Melirik dari sudut mata, para prajurit kekaisaran itu sepertinya sangat paham situasinya. Bahwa metode untuk menangani pihak yang tidak mengerti bahasa mereka hanya ada satu, sejak dulu hingga sekarang.

Di kedua sayap barisan, aku melihat sesuatu yang takkan pernah kulupakan; sesosok benda raksasa serupa baju zirah yang dilengkapi dengan meriam gatling bertenaga uap di kedua bahunya.

Lalu, seorang pria yang tampaknya adalah komandan dengan sorot mata dingin mengangkat tangannya. Bersamaan dengan itu...

"Kalau kalian tidak mau mati, tangkis ini sekuat tenaga!"

"Hah?" "Ih, ogah."

Aku mencengkeram tengkuk Pluto dan Ulna dengan masing-masing tanganku, lalu melempar mereka ke depan layaknya memberikan tumbal ke kandang binatang buas. Tepat setelah itu...

"Gkh?! Oooooooh!!"

Barisan penembak memuntahkan api. Kekerasan mengerikan dari senjata modern pun mengamuk.

Namun, hujan besi yang turun tiba-tiba itu tidak cukup untuk mencabik-cabik tubuh bocah laki-laki dan perempuan tersebut. Malahan, di luar nalar, si kakak—Pluto—menepis peluru-peluru itu dengan tangan kosong.

"Ah, tapi ini gawat! Adikku, bantu aku sedikit—"

"Kalau begitu, aku pulang duluan ya, Kakak. Selamat bersenang-senang jadi umpan, jangan sampai mati."

"Hah, kau sudah lari?! Ah, kau ini benar-benar, ya!"

Pluto menghentakkan kakinya dengan marah hingga jalanan batu di bawahnya mendidih. Aku segera mendekap Chronica dan merunduk. Sesaat kemudian, kilatan cahaya dan ledakan mengguncang halaman tengah kedutaan.

Teriakan para penjaga menggema, dan suara tembakan terhenti sejenak. Saat aku mendongak, si kembar sudah berdiri bersama di atas gerbang putih.

"Cukup untuk hari ini! Kalian beruntung masih hidup, Penipu dan Drow Cancer!"

"Kalimat ancaman ini adalah oleh-oleh dari kami. Silakan buang ke tempat sampah yang tidak bisa dibakar."

Dengan satu gerakan membungkuk hormat yang rapi, si kembar berputar di udara dan melompat melewati gerbang hingga menghilang dari pandangan.

Bahaya dari kelompok Ksatria mungkin sudah teratasi untuk sementara, namun ancaman yang sesungguhnya baru akan dimulai sekarang.

Saat kembali menoleh, aku mendapati diri kami telah dikepung oleh para prajurit berseragam putih yang memancarkan haus darah. Di saat itulah, aku merasakan Chronica menarik ujung lenganku.

"Ada apa? Maaf, tapi tolong sampaikan dengan singkat. Sekarang ini, bisa dibilang situasi kita benar-benar di ujung tanduk."

"Tenang, hanya butuh waktu sekejap mata. Aku baru saja membacanya. Linus, tatap mataku."

Aku pun menunduk untuk membalas tatapannya. Sepasang mata amethyst yang saling berpaut itu seolah menyuntikkan sesuatu langsung ke dalam otakku.

Itu adalah sebuah sensasi, pengalaman, dan kemampuan kognitif itu sendiri.

Eye of the Providence: Third Eye. Tidak perlu dipertanyakan lagi, kemampuan area linguistik yang dijejalkan ke dalam benakku ini memberiku kekuatan di saat-saat paling kritis.

Kekuatan untuk membela diri, memberikan klarifikasi, atau dengan kata lain; kekuatan untuk merangkai segala macam alasan.

Maka, seperti biasa, aku pun menciptakan topeng tak kasatmata di ujung jemariku. Sebuah topeng imajiner untuk memerankan sebuah skenario kehidupan yang tidak pernah ada sebagai diriku sendiri.

Aku menyerahkan topi hitamku yang miring kepada Chronica, dan sebagai gantinya, aku mulai menghidupkan peran yang kini melekat di wajahku.

Dulu, topeng ini adalah pelarian untuk menutupi sosok "diriku" di hari itu—sosok yang begitu lemah, menyedihkan, dan sangat ingin kuhapus karena rasa benci.

Namun, sekarang berbeda.

"Tuan-tuan sekalian, mohon maaf atas kegaduhan ini. Sayangnya, kami sedang menjadi sasaran para teroris."

Karena aku telah memutuskan untuk menempuh perjalanan ini bersama gadis yang telah memercayai orang sepertiku.

Demi menatap ke depan dan melawan kenyataan yang tak terelakkan, aku mengenakan topeng ini.

"Nama saya Linus Kruger. Saya adalah diplomat yang diutus secara rahasia oleh pemerintah Republik Colonials.

Kami memohon perlindungan atas keselamatan kami."

Bagian 3

Aku menyebutkan nama asliku karena memang tidak ada gunanya memakai nama samaran. Lain ceritanya jika aku punya daftar nama diplomat pemerintah di balik saku bajuku, tapi sayangnya, jas ini sepertinya tidak punya saku yang seajaib itu.

Memalsukan detail yang tidak perlu justru hanya akan menjadi bumerang.

Gunakan kebohongan hanya jika benar-benar diperlukan. Mari kita sebut ini sebagai kaidah nomor lima.

(Setidaknya, mataku bisa membereskan mereka semua sekarang juga... Mau kucoba?)

(Terima kasih tawarannya. Tidak perlu. Orang-orang Ksatria sudah ada di kota ini. Kita harus mencari cara agar bisa bersembunyi di sini untuk sementara. Kekerasan adalah jalan terakhir.)

Saling lempar pandang dengan Chronica terjadi tak sampai satu detik, lalu aku kembali menatap ke depan.

"Diplomat, katamu?"

Rasa tidak percaya yang terang-terangan itu keluar dari mulut sang komandan, pria yang tadi memberikan perintah tembak.

Dia mengenakan kacamata, tingginya hampir sama denganku, alias cukup jangkung. Seragam putihnya yang bersih dan rapi seolah menunjukkan bahwa dia jarang terjun ke lapangan, yang sekaligus menjadi bukti bahwa dia memiliki posisi cukup tinggi di kedutaan ini.

"Salam kenal. Sekali lagi, saya memohon maaf karena telah menimbulkan kegaduhan."

Pria itu hanya diam dan terus memelototiku, mengabaikan ucapanku. Sopan santun diplomatik yang luar biasa, ya. Baiklah, akan kuanggap ini sebagai perbedaan budaya. Tidak ada gunanya mengeluh sekarang.

Tepat saat aku mencoba mencari celah untuk memulai percakapan agar setidaknya kami tidak diusir, sebuah suara bergema di tengah ketegangan. Suara itu terdengar bening, seperti denting lonceng.

"Tuan-tuan sekalian, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Semua orang sontak menghentikan gerakan mereka. Kata-kata seperti Miko dan Yang Mulia Duta Besar lamat-lamat sampai ke telingaku.

Tanpa kusadari, di sudut lingkaran prajurit yang mengelilingiku dan Chronica, telah berdiri seorang wanita ditemani oleh para pelayannya.

Kulitnya berwarna cokelat eksotis dengan rona kemerahan yang samar. Dia mengenakan jubah putih suci yang tampak bersahaja. Sebuah topi kerudung menutupi kepalanya, memperlihatkan sedikit helaian rambut perak. Di pinggangnya melingkar Kusteig, tali suci berwarna putih. Namun, ada satu elemen yang secara mutlak mendominasi seluruh penampilannya dan menutupi area matanya.

Sebuah penutup mata hitam serupa tirai gelap menutup kedua matanya dari dunia luar.

"Selamat datang, wahai para tamu."

Suara itu diarahkan dengan ketepatan yang luar biasa ke arahku dan Chronica.

Sambil melakukan salam hormat khas kekaisaran dengan menyilangkan tangan di depan dada dengan anggun, dia memperkenalkan dirinya.

"Saya mengemban posisi sakral sebagai Miko Agung Simurghmira dari Yang Mulia Kaisar, sekaligus menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk hubungan diplomatik dengan negara Anda. Nama saya Anahito Fuwarati.

Jika pelafalannya terasa sulit, jangan sungkan untuk memanggil saya Anahit saja."

Mendengar sapaan yang begitu tenang, para prajurit di sekitar dan pria berkacamata itu tampak terperangah. Aku tidak tahu pasti apa maksud dari gelar Miko tersebut, namun Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh pastilah posisi yang sangat tinggi dalam dunia diplomasi.

Seseorang dengan jabatan setinggi itu baru saja memperlakukan kami, yang baru pertama kali ditemuinya sebagai tamu.

Pria berkacamata itu angkat bicara, mewakili rasa tidak percaya yang menyelimuti tempat itu.

"Mohon maaf sebelumnya, Yang Mulia Duta Besar. Orang-orang ini hanyalah penyusup ilegal. Terlebih lagi, mereka bersalah karena telah membawa keributan ke tempat ini, yang secara teknis merupakan wilayah Kekaisaran. Memperlakukan mereka sebagai tamu bukankah itu bentuk kemurahan hati yang berlebihan?"

Menanggapi ucapan pria itu, bibir kecokelatan sang wanita menyunggingkan tawa kecil.

"Aduh, aduh, tidak boleh begitu, Kalman. Ucapan yang tidak punya perasaan seperti itu bertentangan dengan ajaran kita. Saya bisa mendengar situasi mereka. Pasti mereka sedang dikejar oleh kesulitan yang mendesak hingga terpaksa menerobos gerbang ini.

Cintailah sesama, dan jadilah sosok yang dicintai sesama. Di tanah asing ini, kita adalah perwakilan dari kewibawaan Yang Mulia Kaisar yang menjalankan ajaran kebajikan. Dengan kata lain, kita harus menolong orang yang sedang kesusahan."

Kemungkinan besar itu adalah bantahan yang sudah dia siapkan sebelumnya. Suara wanita itu—Anahit—terdengar senang. Bertolak belakang dengan isi ucapannya yang terdengar seperti basa-basi suci, aku bisa merasakan semacam niat jahil di sana.

Pria bernama Kalman itu akhirnya bungkam. Sebuah keheningan yang menunjukkan bahwa secara formal, dia tidak punya pilihan selain patuh.

"Kalau begitu, Tuan dan Nona sekalian. Mohon maaf atas ketidaksopanan si kacamata keras kepala ini. Saya akan menyiapkan tempat untuk kita berbincang, jadi mari kita dengarkan detail ceritanya di sana."

Keputusan yang diambil dengan senyum lembut itu membuat Kalman terpaksa mengikuti perintahnya dengan berat hati.

Izinkan aku menyampaikan kesan pertamaku setelah mengamati interaksi barusan.

"Selamat datang di Albion, Kekaisaran Kebajikan. Meski hanya sambutan sederhana, kami menerima kehadiran Anda."

──Orang yang paling tidak bisa dipercaya di tempat ini adalah wanita ini.

──Ruang dialog kali ini adalah sebuah teras dadakan yang disiapkan di halaman tengah kedutaan.

Sejujurnya, pemandangannya luar biasa indah. Taman yang dikelilingi oleh pilar-pilar marmer dan dinding luar seputih salju itu terasa luas. Sinar matahari diatur sedemikian rupa agar masuk dengan sempurna, sementara suara air dari air mancur yang tinggi berpadu harmonis dengan semilir angin di sela dedaunan pohon zaitun, terdengar seperti gemericik sungai di tengah hutan.

Mengingat betapa sempitnya lahan di distrik atas Bukit Lanston, memiliki taman seluas ini adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Untuk saat ini, aku akan mengabaikan betapa pamer dan memuakkannya kekayaan mereka ini.

Di balik taplak meja linen dengan motif kerawang yang halus, aku dan Chronica duduk berhadapan dengan dua orang tadi. Di sekeliling kami, para pengawal dengan senapan laras panjang buatan Kekaisaran tersampir di bahu tetap berjaga. Demi kesehatan jantungku, aku memutuskan untuk tidak memedulikan mereka.

"Sekali lagi, saya Kalman Bachthory, Menteri Kelas Satu yang menjabat sebagai asisten duta besar."

Perkenalan dirinya terasa sangat formal, kaku, dan dingin. 

Rasa tidak percaya, kewaspadaan, serta sedikit rasa jengah terpancar jelas dari sikapnya.

"Pengenalan diri saya masih sama seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Kalau begitu, bolehkah saya mendengar mengenai Anda berdua?"

Suara Anahit berbanding terbalik dengan Kalman; penuh dengan rasa ingin tahu, minat, dan keramahtamahan.

Instingku mengatakan dia tidak sedang berbohong. Namun, yang mengusik pikiranku adalah spekulasi apa yang sedang dia susun tepat di balik keramahtamahan yang terasa dangkal itu. 

Kebaikan tanpa pemikiran memang merepotkan, tapi kebaikan yang disertai perhitungan jauh lebih licik.

Di saat seperti ini, mata kiri Chronica sebenarnya sangat berguna, tapi...

"…Ah, omong-omong, apakah Anda penasaran dengan mata saya?"

"Ya, begitulah. Saya tidak bermaksud lancang ingin tahu urusan pribadi, tapi jika tidak keberatan, bolehkah saya bertanya?"

"Tentu saja," Anahit mengangguk dengan santai. "Itu cerita lama. Saya terlibat dalam sebuah kecelakaan. Meski bola mata saya selamat, sejak saat itu saya kehilangan hampir seluruh penglihatan saya. Terlebih lagi, mata saya terasa sakit jika terkena cahaya, jadi saya terpaksa bersikap kurang sopan dengan mengenakan penutup ini di depan orang lain. Saya tahu ini merusak pemandangan, jadi mohon dimaafkan, ya."

Anahit mengucapkan bagian merusak pemandangan dengan sedikit nada gurauan.

Lalu, dengan gerakan yang begitu alami seolah dia tidak buta sama sekali, wanita itu mengangkat cangkir kopi di depannya dan menyesapnya. Bibirnya yang tampak lembap karena uap panas seolah mendesakku dalam diam untuk segera bicara.

"Kalau begitu, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kunjungan yang tidak sopan ini. Nama saya Linus Kruger. Saya adalah semacam utusan diplomatik pribadi yang diutus oleh seseorang dari kalangan pemerintah Republik Colonials."

Aku memutar arah pembicaraan sejenak, sengaja tidak menyebutkan nama menteri yang masih menjabat saat ini, namun memberikan isyarat kuat bahwa aku adalah utusannya.

"Tugas saya adalah membawa lari Nona ini, putri dari pejabat tersebut, demi menyelamatkannya dari faksi musuh politik di dalam negeri."

Intinya, kami ingin suaka ke Kekaisaran Uap Albion secara diam-diam. Calman, yang tampaknya sudah menangkap maksudku, menatapku dan Chronica bergantian.

"Begitu ya, saya mengerti tuntutanmu. Anak-anak tadi adalah monster yang dirumorkan sebagai bangsawan itu, kan? Berarti mereka adalah pembunuh bayaran yang dikirim untuk menghabisi kalian."

Dia langsung menyimpulkan jalan cerita yang kupancing tadi. Syukurlah, ini membuat urusan jadi lebih cepat.

"Lalu, imbalan tidak resmi apa yang bisa kami dapatkan?"

"Sedikit aset milik majikan saya yang saya bawa, serta informasi dari kalangan pemerintah Republik Colonials."

Kalman terdiam, tampak sedang menimbang-nimbang.

Di saat itulah, Anahit yang sedari tadi hanya tersenyum tanpa menyela, akhirnya angkat bicara. Namun, dia tidak bicara padaku.

"Boleh saya tahu nama Nona muda ini?"

Chronica menoleh padaku dengan tatapan sedikit bingung. Aku memberikan anggukan kecil sebagai isyarat.

"E-eh... namaku Chronica. Maaf, aku baru saja belajar bahasanya, jadi tadi aku cuma diam. Kurang sopan, ya? Maafkan aku."

"...Tidak, kemampuan bahasa Anda justru sangat luar biasa, Nona Chronica. Suara Anda juga sangat indah, saya iri mendengarnya. Jadi, tolong percaya dirilah sedikit."

(Kau juga sudah bisa bicara bahasa mereka, ya? Kau benar-benar bisa apa saja.)

(Aku tidak seajaib itu. Kalau cuma kemampuan bahasa, aku bisa meniru informasi yang kubaca, tapi kalau harus berpura-pura menjadi orang lain seperti yang kau lakukan, aku tidak akan sanggup.)

Saat kami sedang beradu pandang, Kalman membuka suara.

"Mengenai permohonan suaka Anda, saya menolaknya."

"Eh?"

Yang berseru kaget secara tak terduga justru Anahit.

"Kalman, saya sudah bilang bahwa menolong orang yang kesulitan adalah kewajiban kita."

"Benar seperti yang Anda katakan, Yang Mulia Duta Besar. Namun, tidak ada bukti kuat untuk memercayai orang-orang ini. Terlebih lagi, demi keselamatan Anda sendiri, kita tidak seharusnya membiarkan orang yang sedang diincar pembunuh masuk ke tempat ini."

"...Kau tahu sendiri penjagaan di sini sangat ketat, tapi kau masih merasa cemas?"

"Menggunakan kekuatan militer sebagai gertakan saja sudah cukup, itu yang terbaik, Yang Mulia."

"Haa, ya, kurasa kau benar. Jadi..."

"Anjing telantar, biarkanlah tetap telantar. Mohon pengertiannya."

Mendengar percakapan mereka berdua, aku mulai memahami situasinya.

Secara jabatan atau kasta, Anahit memang lebih tinggi. Namun, otoritas untuk mengambil keputusan praktis sepertinya dipegang oleh Calman. Hubungan mereka bisa dibilang mirip seperti nona muda yang egois dan kepala pelayannya.

Namun, jika terus begini, rencana kami untuk mendapatkan perlindungan bisa gagal total. Aku membuka cermin lipat kesayanganku di bawah meja, lalu bertukar pikiran melalui tatapan mata dengan pantulan sepasang mata amethyst di sana.

(Chronica, ini bagianmu.)

(? Apa maksudmu?)

(Urus si kacamata ini. Spesifiknya begini; buat dia jadi anjing penurut yang kegirangan sampai meneteskan liur dan mau melakukan apa saja perintahku.)

(Bayangan yang kau berikan benar-benar menjijikkan... Tapi lupakan itu, aku tidak bisa melakukannya. Mata Keduaku—Second Eye—memang bisa mengintervensi mental melalui kontak mata, tapi tidak bisa semudah itu. Paling banter, aku hanya bisa memasukkan perintah sederhana atau memotong dan menyambung ingatan serta sensasi. Mengubah kepribadian seseorang atau mengendalikan tindakan jangka panjang itu mustahil. Hati manusia itu cukup rapuh. Seperti susu yang dituang ke dalam kopi ini, jika diaduk sembarangan, hatinya akan langsung hancur.)

Dalam kenyataan, ujung jari Chronica memperagakan gerakan seolah sedang mengaduk kopi dengan sendok teh.

(Padahal seingatku, kau memperlakukanku dengan cukup kasar waktu itu.)

(...Entahlah, aku tidak ingat. Terlepas dari itu, situasinya gawat, Linus.)

(Apanya?)

(Si kacamata itu, sepertinya dia orang jahat. Dia diam-diam memalsukan pembukuan uang dan melakukan banyak hal ilegal lainnya.)

(Pemalsuan akun, ya? Berarti penggelapan dan suap juga pasti sepaket. Tampangnya saja yang sok serius, ternyata dia pejabat korup. Apa dia sedang kesulitan karena gajinya kecil?)

(Lalu, ada satu hal lagi.)

(...Jangan bilang dia sudah membunuh seseorang dan membuangnya ke laut.)

(Bukan. Tapi sepertinya, dia berencana melakukan hal itu kepada kita.)

"Kau serius?"

"Kau mengatakan sesuatu?"

Tanpa sengaja, aku menggerakkan mulutku. Aku menutupi semuanya dengan benar lalu menatap mata Kalman.

Dia mungkin takut kesalahannya akan terungkap. Daripada mengambil masalah yang tidak perlu dan mempermalukan dirinya sendiri, dia berencana untuk segera menyembunyikannya.

"Saya mengerti. Tuan Kalman, saya mohon maaf telah meminta Anda melakukan ini, tetapi bisakah Anda mengizinkan saya tinggal di sini sedikit lebih lama? Pembunuh bayaran tadi mungkin masih ada di sekitar sini."

"Baiklah. ...Kalau begitu, silakan kembali, Yang Mulia Duta Besar, dan serahkan sisanya kepada saya."

"Ah, ya. Yah, saya benar-benar minta maaf karena tidak dapat memenuhi harapan kalian berdua. Semoga berhasil."

Suara Anahit terdengar lirih, seolah ia telah menyerah pada keadaan. Nada bicaranya menunjukkan bahwa ia sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini.

Segera setelah berhasil mengusir Anahit dengan halus, Calman menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.

Ia mengangkat tangannya dengan cepat, memerintahkan para prajurit di sekelilingnya untuk menodongkan senjata.

"Kalian tidak pernah muncul di sini. Mari kita anggap kalian tewas terkena peluru nyasar dalam pertempuran tadi. Benar-benar ya, kalian hanya menambah repot saja. Apa sistem pendidikan di negara ini tidak mengajarkan cara agar tidak menyusahkan orang lain?"

Dengan gerakan yang luar biasa tenang, aku memiringkan kursi dan menyilangkan kaki di atas meja. Aku mengambil sebatang rokok dari balik saku lalu menyulutnya.

"Maaf saja, aku ini termasuk murid bermasalah. Tapi, setidaknya ada satu hal yang bisa kupelajari dan kuberitahukan padamu. Lebih baik kau pikirkan ulang tindakanmu ini sekarang juga."

Kalman mencibir, "Jika ingin memohon nyawa, pasanglah sikap yang lebih pantas, dasar rakyat rendahan dari negara kelas bawah yang tidak tahu tata krama. Atau kau mau belajar sedikit sebelum mati?"

"Tawaran yang menarik, tapi aku menolak. —Chronica, lakukan."

Aku melemparkan cermin lipat yang sedari tadi kumainkan ke atas meja dalam keadaan terbuka. Semua orang selain aku mengalihkan perhatian ke benda itu.

Dan setelahnya, hanya butuh satu kerlingan dari sang gadis untuk membereskan segalanya.

—Aku mengangkat kepala Kalman yang pingsan dengan wajah terbenam di dalam cangkir kopi, lalu merampas kacamata miliknya. Lensanya agak terlalu tebal, tapi masih bisa kutoleransi.

"……Jadi? Kita sudah melakukannya, sekarang apa rencana selanjutnya?"

"Pertama, hapus ingatan para prajurit ini tentang apa yang baru saja terjadi. Lalu untuk si brengsek ini, bisakah kau membuatnya tetap tertidur untuk sementara waktu?" 

"Ya, kurasa aku bisa membuatnya tertidur selama tiga hari. Tapi aku tidak bisa melakukannya dua kali berturut-turut. Tubuhnya yang lemah karena tidak makan dan minum pasti tidak akan sanggup bertahan."

"Begitu ya. Kalau begitu kuserahkan padamu. —Satu lagi, salin juga ingatan orang ini ke dalam kepalaku."

Tiga hari. Itulah batas waktu yang kumiliki. Jika aku memperpanjangnya lebih dari itu, itu sama saja dengan membunuhnya. 

Aku memang tidak merasa sayang dengan nyawa orang ini, tapi aku tidak ingin tangan Chronica ternoda oleh darah.

Selama tiga hari ke depan, aku akan....

"Menyamar menjadi orang ini dan menyiapkan sarana pelarian kita."

Aku mencampurkan bedak kecokelatan dari cermin lipatku untuk menyesuaikan warna kulit, mengenakan pakaian yang kurampas darinya, dan memakai kacamatanya. Untungnya, tinggi badan kami tidak jauh berbeda, sehingga persiapannya terasa cukup.

Dan seperti biasa, aku pun mengenakan topeng tak kasatmata itu.

Bagian 4

"Sekali lagi, selamat datang di Kekaisaran Uap Albion. Kami menyambut kehadiran Anda, Nona Chronica."

Sekitar satu jam telah berlalu sejak keributan di halaman tengah.

Aku ditemani oleh Anahit, sang Miko buta sekaligus duta besar, beserta para pengawalnya untuk dipandu melihat-lihat bagian dalam bangunan yang megah itu. Menurut penjelasannya, wilayah kedutaan ini merupakan tanah milik Kekaisaran Uap Albion secara resmi. Katanya, itu adalah tradisi internasional.

Terlepas dari itu, aku benar-benar terpukau oleh interior kedutaan. Mulai dari karpet merah, wallpaper putih, hingga langit-langit plester hitam, semuanya dihiasi dengan ukiran emas yang rumit dan dekoratif. Motif bunga, tanaman, hingga hewan disusun secara geometris, membuatku berkali-kali lupa untuk terus melangkah.

"Interior yang indah, bukan? Yah, meskipun saya sendiri tidak bisa melihatnya... tapi karena kami sampai memanggil pengrajin khusus dari negara asal, saya akan merasa tidak enak jika Anda tidak terkesan."

Anahit yang berjalan memandu di depanku tetap mengenakan penutup mata hitam itu. Meski begitu, langkah kakinya sangat mantap dan tenang, hingga aku sempat curiga apakah dia benar-benar tidak bisa melihat.

Tiba-tiba, Anahit menoleh ke arahku dan berkata:

"Mengenai mata saya, Anda tidak perlu khawatir. Sekarang saya sudah terbiasa. Entah bagaimana, saya bisa merasakan hawa dan sensasi kulit terhadap lingkungan sekitar. Berjalan di dalam ruangan yang sudah saya kenal sama sekali bukan masalah. Jadi jangan cemas, saya akan memandu Anda dengan baik."

"Iya, terima kasih."

Meski aku menjawab demikian, sebenarnya ada sedikit masalah di pihakku. Tak perlu dikatakan lagi, masalahnya adalah aku tidak bisa melihat ke dalam jiwanya. Bukannya aku suka mengintip privasi orang lain, tapi rasanya tidak tenang ketika aku tidak bisa melihat sesuatu yang biasanya selalu terlihat.

"Mengenai rekan Anda, hmm, Tuan Linus kalau tidak salah? Saya mohon maaf atas sikapnya. Kalman memang orang yang kaku dan tidak fleksibel. Fakta bahwa dia berubah pikiran mengenai masa tinggal Anda di sini saja sudah merupakan keajaiban. Lain kali, saya akan diam-diam menghancurkan kacamatanya, jadi tolong dimaafkan, ya."

"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Dan tolong jangan hancurkan kacamatanya. Linus juga bilang kalau dia akan mengurus urusannya sendiri."

Linus sedang bertindak terpisah dariku dengan menyamar sebagai Calman. Kemungkinan besar dia sedang menggeledah ruang kerja atau semacamnya. Sementara Calman yang asli sedang pingsan dan dikurung di gudang yang tidak terpakai.

"...Tapi syukurlah. Sejujurnya saya sangat khawatir. Jika gadis seperti Anda yang dikejar oleh orang-orang jahat dan memohon pertolongan dengan putus asa justru diusir begitu saja, itu benar-benar melanggar jalan kebajikan. Sebagai seorang penganut, saya merasa tindakan Kalman tadi sangat tidak pantas."

"Penganut...?"

Mendengar pertanyaanku, Anahit menghentikan langkahnya dan tersenyum tipis.

"Mungkin istilah ini asing bagi penduduk Republik Colonials, tapi secara sederhana, itu berarti orang-orang yang mengimani kebajikan dan mempraktikkan ajarannya. Di Kekaisaran Uap Albion, mayoritas penduduknya adalah penganut tersebut."

"Mengimani kebajikan...? Maksudmu, orang-orang yang tidak melakukan hal buruk atau tidak jahat kepada orang lain?"

"Kurang lebih begitu," ia mengangguk menyetujui.

"Anda tidak salah. Bagi kami penganut Den-Kard, tindakan yang memihak pada Tujuh Dosa Besar seperti ketidakadilan atau fitnah, adalah hal yang terlarang."

Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu mulai memberikan penjelasan layaknya seorang pengkhotbah.

"Saya dengar negeri ini dulu memuja satu penguasa absolut. Sama halnya dengan itu, kami memuja 'Kebajikan' kami sendiri. Sesuatu yang tidak terlihat, tidak bisa disentuh, namun benar-benar ada di sana sebagai kompas absolut yang nyata."

Suara dan artikulasinya terdengar sangat jernih seperti seorang guru teladan, membuatnya sangat mudah untuk disimak.

"Lantas, apakah Kebajikan itu? Kebajikan adalah tujuh moralitas yang menjadi lawan dari Tujuh Dosa Besar. Kesalahpahaman (Aka), Dusta (Druj), Kekerasan (Sarva), Nafsu (Jahi), Hasrat (Zarich), Gairah (Tarvi), Kemalasan (Ahriman), Keadilan (Wohu), Kejujuran (Asha), Akal Budi (Fshya), Kesucian (Spun), Kesederhanaan (Amu), Ketenangan (Halu), Kerja Keras (Ahura Mazda) Dengan mempraktikkan moralitas yang benar sebagai manusia, kami harus membasmi kejahatan di dunia ini dan meraih kemenangan—singkatnya, itulah kewajiban Perang Suci yang dibebankan kepada seluruh penganut kami. Karena itu, Nona Chronica. Agar Anda juga bisa berkontribusi pada kemenangan Kebajikan dan pergi ke surga setelah kematian nanti, maukah Anda bergabung dengan kami sekarang? Tanpa memandang ras atau jenis kelamin, Kebajikan adalah jalan yang bisa ditempuh oleh semua orang secara luas."

Ajakan itu datang begitu tiba-tiba hingga aku sempat kehilangan kata-kata untuk menjawab.

"E-eh, anu..."

Melihatku kebingungan, sikap Anahit tiba-tiba berubah. Ia menggelengkan kepalanya dengan ringan dan santai.

"Fufu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud memaksa. Salah satu misi staf Kedutaan Besar Kekaisaran Uap adalah melakukan kegiatan syiar di tanah yang belum mengenal Kebajikan. Jadi, apa yang saya katakan tadi hanyalah sekadar memenuhi kewajiban tersebut. Memilih keyakinan adalah urusan hati nurani Anda sendiri. Jadi, tolong jangan merasa risih, ya? Jarang-jarang saya bisa mendapatkan teman yang usianya sebaya, akan sangat menyedihkan jika saya dibenci hanya karena hal seperti ini."

"Yang... Yang Mulia. Ucapan Anda barusan sepertinya sedikit merendahkan ajaran Kebajikan..."

Mendengar teguran ragu-ragu dari pelayannya, Anahit menutup mulutnya dengan tangan dan berkata:

"Wah, apa terdengar seperti itu?"

"I-iya."

"Saya adalah Miko Agung Simurghmira. Pendeta peringkat tertinggi yang diakui oleh Kementerian Iman, satu dari sepuluh orang terpilih di seluruh kekaisaran. Dengan kata lain, setiap kata yang keluar dari mulut saya sudah pasti selaras dengan ajaran. Karena itu, penolakan saya sama saja dengan menolak Kebajikan itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut... mari saya tanya sekali lagi. Apa memang terdengar seperti itu?"

Wajah pelayan itu seketika memucat. Dengan suara yang nyaris hilang, ia bergumam gemetar.

"……Ti-tidak. Mohon maafkan saya, mohon ampuni saya."

"Tentu saja saya maafkan. Saya kan orang baik yang lembut hati."

...Melihat kejadian itu, aku teringat ucapan Linus—yang sedang dalam wujud Calman—saat kami berpisah tadi.

"Hati-hati dengan wanita penutup mata itu. Sembilan puluh persen kemungkinannya dia punya sifat yang buruk."

"——Ini adalah kamar Anda. Kami telah menyiapkan kamar khusus untuk tamu agung."

"Desainnya sesuai dengan gaya budaya kita, jadi saya rasa tidak akan terlalu merepotkan, tetapi jangan ragu untuk bertanya jika Anda membutuhkan sesuatu. Saya membersihkannya setiap pagi, dan jarang digunakan, jadi sangat bersih."

"Terima kasih. Um... Anahito-san."

Anahit memanduku dengan sopan hingga ke tengah lorong berkarpet merah, tepat di depan pintu masuk yang dihiasi tirai bambu berwarna-warni.

Saat aku mengucapkan terima kasih, ia melipat tangannya dan mengerang pelan, seolah tidak puas.

"Hmm, memanggil dengan imbuhan '-san' benar-benar menciptakan jarak, ya. Usia kita sepertinya hampir sama, kita juga sesama perempuan, jadi lupakan saja perbedaan jabatan kita... Kamu boleh memanggil namaku saja tanpa embel-embel. Aku juga akan melakukan hal yang sama.

Nah, Chronica, mari kutunjukkan bagian dalam kamarnya."

Mengatakan itu, Anahit menggandeng tanganku dengan lembut. Tubuhnya setingkat lebih tinggi dariku. Aku membiarkannya menarikku masuk melewati tirai, layaknya seorang adik yang dituntun oleh kakaknya.

Dia ini tipe orang yang suka mengurusi orang lain, atau mungkin cuma sedikit memaksa? Karena aku tidak bisa menatap matanya, aku tidak tahu seperti apa jati dirinya yang sebenarnya. Namun bagiku, dia tidak terlihat sejahat yang dituduhkan oleh Linus.

Atau mungkin, aku hanya sekadar ingin mempercayainya.

Tanpa sempat melanjutkan lamunanku yang tak berujung, Anahit menyibak tirai jendela dengan cepat, menyambut cahaya masuk ke dalam ruangan.

Sambil mensyukuri perhatiannya, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Benar kata Anahit, dengan jendela kaca, meja, tempat tidur, serta lemari pakaian, tata ruangnya tidak terasa terlalu asing.

Namun, ada satu hal yang terlihat baru di mataku: sebuah tapestri yang tergantung di dinding.

Kain hiasan itu ditenun dengan benang warna-warni, menggambarkan sebuah adegan cerita.

Karena tertarik, aku mendekat. Seolah menyadari gerak-gerikku, Anahit menyentuhkan jari-jemarinya ke tenunan tersebut. Menakjubkan, mungkin melalui tekstur permukaannya yang sedikit menonjol, ia bisa menebak isi gambarnya dengan tepat.

"Kamu tertarik dengan ini? Hmm... Ah, ini adalah kisah kuno tentang Tiga Permintaan."

"Tiga Permintaan?"

Saat aku bertanya balik, Anahit mengangguk pelan.

"Ini adalah salah satu fabel moral yang tercatat dalam kitab suci Den-Kard. Sebagian besar diadaptasi menjadi buku cerita atau lukisan agar anak-anak pun bisa memahaminya, dan hiasan dinding ini adalah salah satunya. Jika kamu mau, bolehkah aku menceritakannya? Ini kisah yang sangat menarik."

Tanpa sempat dicegah, Anahit sudah mempersilakan aku duduk di kursi. Begitu ia sendiri duduk, ia berdehem sekali dan mulai bercerita dengan gaya tutur yang mengalir lancar.

"Dahulu kala, ada dua orang saudara laki-laki. Si kakak adalah jenius pedang; saat masih kecil ia sudah bisa mengalahkan orang dewasa, dan ketika tumbuh besar serta turun ke medan perang, tak ada satu pun musuh yang sanggup menandinginya. Ia selalu menjadi yang pertama membawakan kepala jenderal musuh. Tentu saja, ia sangat dipercaya oleh penguasa wilayahnya, bahkan sampai diizinkan menikahi putri sang penguasa.

Di sisi lain, si adik adalah pria yang sangat biasa, bertolak belakang dengan kakaknya. Ia bercita-cita menempuh jalan pedang yang sama dan merupakan pekerja keras yang sangat tekun, namun kemampuannya tidak pernah bisa mendekati sang kakak.

Si kakak selalu berkata kepada adiknya bahwa jalan itu tidak cocok untuknya dan sebaiknya ia mencari sesuatu yang bisa dilakukan dengan lebih mudah. Namun, si adik menjawab bahwa jika seseorang menempuh jalan yang mudah, pada akhirnya ia tidak akan bisa membangun apa pun. Tapi jika ia bekerja keras dan menumpuk penderitaan, maka Kebajikan pasti akan memberinya balasan.

Si kakak berpikir bahwa adiknya itu bodoh."

...Suara Anahit yang melantun merdu begitu kaya akan intonasi, seolah ingin menutupi matanya yang tersembunyi. Emosinya begitu meluap-luap hingga tanpa sadar aku terhanyut ke dalam ceritanya.

"Suatu hari, sang kakak mendengar desas-desus tentang sebuah gua tempat tinggal roh yang bisa mengabulkan permintaan apa pun. Mendengar itu, sang kakak berpikir, 'Inilah jawabannya'. Jika roh itu mengabulkan permintaannya, dia bisa menjadi lebih kuat dengan cara yang mudah—menjadi yang terkuat dari yang paling kuat.

Sang kakak pergi bertualang dan akhirnya tiba di gua tersebut. Di kedalaman kegelapan gua, roh itu berkata padanya: 

'Selamat karena telah sampai di sini. Sebagai hadiah, aku akan mengabulkan tiga permintaan apa pun. Namun, dilarang meminta tambahan permintaan dan dilarang mencelakaiku.'

Sang kakak langsung menyambar tawaran itu dengan tiga permintaan.

Pertama, aku ingin hati yang tak terkalahkan, yang tidak akan pernah takut atau gentar dalam situasi apa pun.

Kedua, aku ingin teknik yang tak terkalahkan, yang sanggup menang melawan senjata apa pun.

Ketiga, aku ingin tubuh yang tak terkalahkan, yang tidak akan pernah tumbang oleh serangan apa pun.

Dia berniat menjadi yang terkuat dengan meminta hati, teknik, dan tubuh yang tak terkalahkan secara terpisah.

Roh itu berkata: 'Itu perkara mudah'."

Aku menahan napas saat cerita mencapai puncaknya.

"Sesuai janjinya, roh itu memberikan sang kakak hati sekeras baja yang tidak akan goyah oleh apa pun. Kemudian, ia memberikan keahlian pedang yang tidak bisa ditandingi oleh senjata mana pun di dunia ini. Dan terakhir, roh itu menjentikkan jarinya. Seketika, tubuh sang kakak berubah menjadi asap dan menghilang. Sesuai janji, ia diberikan tubuh asap yang tidak akan pernah tumbang oleh serangan apa pun.

Kepada asap yang tak lagi bisa memegang pedang maupun berbicara itu, sang roh tertawa. Ternyata roh itu adalah iblis jahat yang menggunakan dalih mengabulkan permintaan untuk menjebak orang-orang agar tidak bisa pulang dengan selamat.

Waktu berlalu, dan sang adik datang ke gua tersebut untuk mencari kakaknya. Ia menempuh penderitaan yang jauh lebih berat daripada kakaknya untuk sampai ke sana. Roh itu pun menawarkan tiga permintaan yang sama kepada sang adik. Sang adik segera menyadari bahwa kakaknya telah tewas akibat tipu daya roh ini, lalu ia berkata:

'Pertama, aku ingin kau mengembalikan kakakku seperti semula.'

Dengan berat hati, roh itu mengembalikan tubuh sang kakak. Saat diperintahkan untuk menyebutkan permintaan kedua, sang adik berkata bahwa ia tidak punya permintaan lagi.

Sebab, dengan bekerja keras dan meraih sesuatu dengan tangannya sendiri, ia bisa mengabulkan permintaan apa pun sebanyak yang ia mau. Jadi, ia tidak butuh bantuan roh itu.

Melihat sang adik pergi meninggalkan gua bersama kakaknya, roh itu mengamuk karena merasa terhina. Begitu panas kemarahannya hingga ia sendiri menguap habis seperti asap.

Setelah kembali ke kampung halaman bersama kakaknya, sang adik menepati kata-katanya. Ia terus bekerja keras hingga menjadi ahli pedang yang melampaui kakaknya, mengalahkan raja negara musuh, menikahi putrinya, dan menaklukkan sebuah negara. ...Begitulah kisahnya. Pesan moralnya adalah: kerja keras adalah yang utama. Menempuh jalan yang mudah hanya akan berakhir buruk.

...Bagaimana menurutmu? Sangat klise, membosankan, dan saking biasanya sampai membuat ingin muntah, kan? Menarik, bukan?"

Tiba-tiba, sikap Anahit berubah sinis saat menanyakan pendapatku. Aku pun balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan—menanyakan nama-nama tokoh yang sepertinya sengaja dia hilangkan dari cerita tadi.

"Ah, maafkan aku. Kupikir nama-nama asing hanya akan mengganggu telingamu, jadi sengaja aku hapus. Biar aku beri tahu; nama si adik adalah Shagard, dan nama kakaknya yang bodoh itu adalah..."

Tepat saat itu, bahu Anahit tiba-tiba bergetar hebat.

Terkejut oleh reaksinya yang tiba-tiba menoleh, aku pun ikut memutar pandangan ke arah tempat tidur.

Baru kusadari, di balik sprei putih itu, ada sesuatu sebesar ukuran manusia yang bergerak-gerak gelisah. Tampaknya benda itu sudah ada di sana sejak awal kami masuk ke ruangan.

Seharusnya, saat itu juga aku segera memalingkan muka.

"Huaaaah, ahhh... ah, sudah pagi? Atau sudah siang, ya. Sial, aku ketiduran pulas sekali."

Tak lama kemudian, sesosok tubuh bangkit perlahan dari tempat tidur sambil meregangkan badan layaknya kucing tua yang baru bangun tidur... Dia adalah seorang pria paruh baya yang telanjang bulat.

"...Hmm? Siapa kau? Wajahmu asing sekali, Nona Muda."

Di depanku yang mematung, pria itu duduk bersila di atas kasur sambil menggaruk bagian belakang kepalanya—bukan, sebelum itu, tolong tutupi bagian depanmu itu!

Aku berlari ke samping Anahit seperti kelinci yang ketakutan, menutup mata rapat-rapat, dan berteriak ketus.

"Apa-apaan itu?!"

Anahit memang tidak bisa melihatnya, namun sepertinya dia tahu siapa orang itu.

"Ah, pantas saja aku tidak merasakan keberadaannya saat keributan tadi pagi. Ternyata dia menyelinap ke sini... Sepertinya dia mengejutkanmu ya, maafkan aku, Chronica."

Anahit menjelaskan; pria itu bernama Rostam.

Dia adalah Atase Militer di kedutaan ini. Kerjaannya hanya mabuk-mabukan dan berjudi, sikap kerjanya benar-benar buruk. Terlebih lagi, kabarnya dia tidak bisa lagi menggunakan senjata karena luka lama, jadi dia tidak pernah ikut latihan dan hanya berkeliaran tidak jelas.

"...Meski tampilannya sangat tidak menyenangkan, tapi dia tidak berbahaya secara langsung, mungkin. Jadi Chronica, bisakah kamu keluar dari balik punggungku?"

Sadar akan kehadiran kami, Rostam menyahut dengan santai.

"Oya, ada Yang Mulia Miko juga di sini? Maaf ya tampil begini. Kemarin saya habis minum-minum berat sambil judi bareng para penjaga. Karena kalah terus, pakaianku sampai dilucuti habis. Lalu saya cari tempat buat tidur, kebetulan pintu ini tidak dikunci, jadi saya masuk... Omong-omong, bisa tolong ambilkan saya pakaian?"

"……Kau, jangan-jangan sekarang sedang tidak memakai apa-apa?"

"Sangat memalukan, tapi ya."

"Dengan segala hormat, tolong mati saja sana sekali."

Tak lama kemudian, setelah seorang pelayan yang diperintah Anahit menyerahkan pakaian, pria itu selesai berganti baju dengan asal-asalan.

"Terima kasih. Maaf soal yang tadi ya, Nona Muda. Aku Rostam, atase militer di sini. Ngomong-ngomong, kelihatannya kau penduduk lokal sini, apa kau mengerti bahasaku?"

"Dia sangat fasih bahasa Kekaisaran, Rostam. Justru kaulah yang tidak punya akal sehat. Sudah berulang kali aku peringatkan, jangan mabuk sembarangan lalu tidur telanjang bulat," tegur Anahit.

"……Maaf, aku menyesal. Tapi ya, bersenang-senang secukupnya juga bagian dari tugas perwira militer. Bukankah Kitab Suci juga menyarankan pergaulan di meja perjamuan?"

"Memang benar, minum alkohol itu bukan kejahatan, tapi mabuk karena alkohol—Aeshma—adalah salah satu dosa, dan judi adalah sekutunya. Karena itu, kau harus menebus dosa besarmu: berjudi, mabuk sambil telanjang, dan yang terpenting, mencoba bersilat lidah di hadapanku. Spesifiknya, kau dilarang minum alkohol untuk sementara, dan gaji bulan ini ditiadakan."

"Eh, tunggu, kalau begitu bulan depan aku cuma bisa hidup dengan garam dan air—"

"Ada masalah? Jika kau punya iman yang benar-benar teguh, itu bukan hal yang mustahil," pungkas Anahit dengan santai.

Rostam tertunduk lesu, seolah kehilangan segala keinginan untuk melawan. Namun tak lama kemudian, ia segera bangkit kembali dan menoleh padaku.

"Omong-omong, aku lupa menanyakan namamu, Nona Muda. Aku Rostam. Yah, jabatan resmiku adalah perwira pengawal di kedutaan ini."

Sebuah tangan besar yang gelap kecokelatan terjulur ke depanku, mengajak bersalaman.

"Ooh, kalau dilihat baik-baik, wajahmu manis sekali ya. Bagaimana? Sepuluh tahun lagi, mau jadi istri paman?"

Tanpa menunda sesaat pun, aku menolaknya mentah-mentah.

"Namaku Chronica, Dasar Mesum. Setidaknya kembalilah setelah kau tiga puluh tahun lebih muda."

Lalu, aku teringat sesuatu.

"Anahit, maaf, tapi aku punya satu permintaan."

"? Apa itu? Jika itu sesuatu yang bisa saya lakukan, katakan saja."

Maka tanpa ragu, aku menunjuk ke arah tempat tidur tadi.

"Aku tidak mau tidur di sana lagi, bisa pindahkan aku ke kamar lain?"

Bagian 5

Pekerjaanku baru selesai setelah matahari terbenam.

Di dalam ruang pribadi Kalman Bachthory, Menteri Kelas Satu Kedutaan Besar Kekaisaran Uap Albion.

Saat aku sedang sibuk menggeledah tumpukan dokumen, termasuk buku kas rahasia yang tertata dengan sangat rapi, terdengar suara ketukan pelan di pintu.

"Bukankah sudah kubilang untuk diam saja di kamar tamu?"

"Memangnya kenapa? Aku hanya penasaran... apa kau bekerja dengan baik atau tidak. Ah, omong-omong... ini, oleh-oleh buatmu."

Tangan kecil itu menyodorkan sebuah buku kepadaku.

"Apa ini?"

"Aku dapat dua buku dari Anahit. Jadi, satu kuberikan padamu. Isinya menarik, lho, di luar dugaan."

Aku membolak-balik halaman kitab suci yang diberikannya. Sebenarnya, isinya sudah ada dalam pengetahuan Kalman yang telah disalin ke otakku, tapi tetap saja...

"…Apa kau sedang menyindirku? Maaf ya, tapi sudah terlambat bagiku untuk menunjukkan wajah di depan hal-hal seperti 'kebajikan' atau 'moralitas'."

Aku melemparkan buku itu ke tempat sampah di sudut ruangan, lalu segera mengalihkan pembicaraan.

"Terlepas dari itu. Mengenai urusan kapal menuju Kekaisaran Uap Albion, sepertinya aku bahkan tidak perlu repot-repot mengaturnya."

"Lihat ini," kataku sambil meletakkan beberapa lembar surat perintah di atas meja tulis agar dia bisa melihatnya.

Di sana tertulis bahwa tepat tiga hari lagi, sebuah kapal perang akan datang ke pelabuhan Lanston untuk menjemput Anahit guna menghadiri sebuah upacara, lalu kapal itu akan langsung berlayar menuju sebuah pulau di samudra luar.

"Perusahaan Angkatan Laut Kekaisaran... Rapat Umum Pemegang Saham?"

Secara mengejutkan, hampir semua dokumen instruksi resmi di kedutaan ini tidak dikirim oleh pemerintah Kekaisaran Uap, melainkan oleh sebuah perusahaan.

Sejak pembukaan wilayahnya, Pemerintah Republik Colonials telah menjalin hubungan dengan Kekaisaran Uap Albion. Namun, mitra bicara mereka bukanlah Kaisar atau pemerintahannya, melainkan sebuah organisasi perusahaan swasta raksasa.

Albion Navy Company—Perusahaan Angkatan Laut Kekaisaran.

Perusahaan raksasa yang memonopoli seluruh hak perdagangan, diplomasi, hingga militer di antara kedua negara dengan membelinya langsung dari pemerintah Kekaisaran Uap.

Berbasis di sebuah kepulauan di samudra luar yang memisahkan kedua negara, perusahaan angkatan laut ini tampaknya mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) beberapa bulan sekali. Di sana, para pemegang saham dari kedua negara berkumpul untuk pengumuman laporan keuangan, penetapan kebijakan, serta sesi tanya jawab. Namun, jika mengesampingkan istilah formal itu, acara tersebut pastilah tak lebih dari sekadar pesta perjamuan sosial.

Bagaimanapun, Anahit selaku duta besar tampaknya turut diundang ke acara tersebut.

Ini adalah keberuntungan bagi aku dan Chronica. Kami bisa ikut menumpang, lalu dari sana mencari cara untuk menyambung kapal menuju tanah utama Kekaisaran Uap.

Sepertinya tidak ada keberatan khusus, Chronica mengangguk dengan santai.

"Begitu ya. Aku jadi tidak sabar. Kira-kira menu makanan seperti apa yang disajikan selama perjalanan di kapal?"

"Jangan berharap terlalu banyak, paling-paling cuma makanan awetan yang rasanya tidak keruan. Omong-omong, kau baru selesai mandi?"

"Iya."

Chronica menopang dagu dengan wajah bosan, seolah sudah jemu melihat tumpukan dokumen. Aku menyadari rambutnya masih agak basah. Di lehernya melingkar handuk sutra yang sepertinya buatan Kekaisaran.

Tak punya pilihan lain, aku mengeluarkan sisir dan minyak kamelia dari saku.

"Duduk di sana. ...Astaga, keringkan rambutmu dengan benar, dong."

Aku menyeka sisa tetesan air dari rambut merah saljunya yang terurai dengan handuk, lalu menyisirnya helai demi helai sambil mengoleskan sedikit minyak rambut.

"Struktur metabolismeku berbeda dari manusia biasa, jadi kau nggak perlu melakukannya sedetail ini juga."

"Aku melakukannya karena merasa terganggu saja melihatnya."

"Fufu, terima kasih... Hei, bolehkah aku meminta tolong seperti ini lagi sesekali?"

"Kalau aku sedang ingin—Nah, sudah selesai. Sekarang kembalilah ke kamarmu."

Namun, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.

"Ada... sedikit masalah dengan tempat tidurnya. Sebisanya aku tidak ingin memakainya. Sialnya, kamar lain pun sepertinya sedang tidak bisa digunakan. Anahit memang menawariku menginap di kamarnya, tapi aku merasa tidak enak jika sampai merepotkan sejauh itu."

Maka dari itu, setelah memberikan penjelasan singkat, Chronica berkata padaku:

"Biarkan aku tidur di sini hari ini."

Aku menuangkan rum yang disembunyikan Calman di dalam lemari ke dalam mangkuk kristal, lalu membiarkannya membakar tenggorokanku dengan kasar. Sepertinya, minuman keras yang kuat bukan kegemaran yang terpuji di Kekaisaran.

Setelah membiarkan wajahku memerah karena alkohol, aku merelakan tempat tidur itu untuk Chronica.

"Hei, Linus."

"Apa. Anak kecil harus cepat tidur."

"Kau tidak punya tempat untuk tidur, kan? ...Jadi, begini."

Setelah sempat ragu sejenak, gadis itu bergeser sambil tetap terbungkus sprei, menyisakan ruang yang cukup untuk satu orang di tepi tempat tidur.

"Kau boleh... tidur di sampingku."

……Beberapa puluh menit kemudian.

Dengan mata terpejam, Chronica tertidur lelap sendirian di atas ranjang, napasnya terdengar tenang dan teratur.

Aku duduk di kursi dengan tangan bersedekap, menghabiskan gelas rum keempat, lalu membiarkan rasa mabuk menuntun mataku untuk terpejam.

Aku tidak berniat berbaring. Kesiangan bisa berakibat fatal, dan yang terpenting, tidur tepat di samping gadis itu entah mengapa terasa sangat—

Begitu aku menyadarinya, dengungan telinga yang sudah akrab mulai bergema di lubuk kepalaku.

Suara koin berdenting.

Seiring dengan suara emas yang tak kasatmata itu, alkohol yang meresap ke dalam otak menjadi pelarut yang mencampuradukkan masa lalu dan masa kiniku dalam satu gema.

Linus, suara Nee-san memanggilku. Hei, suara sang gadis menarik ujung lenganku. Tempat tidur jerami yang sempit di apartemen kumuh tempat kami hidup saling bersandar sebagai kakak beradik; hanya ada satu meja, taplak meja linen yang bergoyang itu ada di kereta saat aku pertama kali bertemu mata amethyst itu; Nee-san selalu menuangkan susu untuk sarapanku; Chronica ingin mencicipi kopi hitamku meski dia tahu dia tidak akan sanggup meminumnya.

Di pantai itu, topeng sang penipu telah terkelupas. Suara koin imajiner yang kugunakan untuk menutupi masa lalu seharusnya tidak lagi dibutuhkan, tapi mengapa?

Setiap kali aku bersama Chronica, entah kenapa, rasanya sangat—

……Tanpa kusadari, kesadaranku yang sempat terlelap dalam posisi duduk terbangun tepat saat fajar menyingsing.

Di atas tempat tidur, sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

Bagian 6

Dan inilah kisah yang terjadi pada pagi hari itu.

Bagiku, wajah adalah titik temu antara hati manusia dengan udara di luar sana.

Itulah sebabnya, dengan menempelkan sebuah kebenaran atau kebohongan yang tulus di sana, aku bisa dengan mudah menjelma menjadi orang lain.

"Kalau begitu, dana ini akan kami sita."

"Ba-baik... Jadi, saya mohon, tolong rahasiakan keterlibatan saya...! Tuan Investigator!"

"Tentu saja. Karena Anda telah kooperatif dalam penyelidikan ini, nama Anda akan saya hapus dari daftar tersangka."

Dana hasil korupsi milik Kalman Bachthory, Menteri Kelas Satu Kedutaan Besar Kekaisaran Uap.

Uang itu sebagian besar didapat dari perdagangan gelap. Karena takut ketahuan, sepertinya ia tidak menyimpannya di pihak Kekaisaran, melainkan di bank kota Lanston melalui hubungan suap dengan petugas bank di sana.

Di Kekaisaran dalam beberapa tahun terakhir, sering terjadi kasus di mana pejabat yang ditugaskan di luar negeri berkolusi dengan pedagang lokal untuk memperkaya diri secara tidak sah. Untuk mengatasi korupsi tersebut, pihak Kekaisaran bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk melakukan penyelidikan dan penindakan.

Itulah skenario yang baru saja kumainkan dengan sempurna sebagai Jonathan Huwick, seorang investigator pajak yang andal dari Pemerintah Republik Colonials.

Sambil menjinjing tas berisi uang sitaan, aku melangkah keluar dari pintu depan bank dengan penuh wibawa. Begitu melewati ambang pintu, aku menanggalkan wajah "pegawai negeri usia tiga puluhan yang gila kerja hingga ditinggal anak-istri", bersamaan dengan setelan jas kusam yang kugunakan untuk mendalami peran.

Mengapa aku masih butuh uang sekarang? Tentu saja bukan (hanya) karena aku seorang penipu.

Melainkan sebagai persiapan logis untuk masa depan. Setelah menyeberangi lautan bersama Chronica nanti, akan jadi lelucon konyol jika kami tidak punya uang sepeser pun. Sayangnya, kekayaanku yang dulu dibekukan secara tidak sah oleh "Mata Itu" itu tersebar di berbagai rekening rahasia dan surat berharga di seluruh negeri, sehingga aku tidak punya waktu untuk mencairkannya.

Karena itu, aku memutuskan untuk merogoh "dompet" terdekat, yaitu bank ini.

Bagiku, bank tak ada bedanya dengan dompet wanita yang berhasil kupikat. 

Kapan pun, berapa pun, aku bisa mengambilnya.

Waktunya merokok setelah bekerja. Aku menyulut rokok, lalu mengembuskan asapnya ke tengah polusi udara di distrik bawah bukit.

Lanston adalah kota dengan struktur dua lapis; terbagi menjadi distrik administratif di atas bukit tempat kedutaan berada, dan distrik komersial di bawah bukit yang berpusat pada pelabuhan dagang. Udara di bawah sini sangat buruk, mungkin karena fasilitas pelabuhan yang telah terindustrialisasi uap tingkat tinggi. Terutama berkat derek gantung mekanis yang terus-menerus mengangkat peti kayu standar untuk menjembatani kapal dan daratan, sambil tak henti-hentinya menyemburkan uap limbah ke langit.

Tetapi, terlepas dari baik atau buruknya, tempat ini adalah garis depan perdagangan luar negeri. Jika aku berjalan sedikit lagi, kabarnya ada tempat yang sangat praktis: bursa sekuritas valuta asing. Rencananya, aku akan menukarkan uang hasil sitaan tadi dengan saham Albion Navy Company atau surat berharga lain yang bisa digunakan di seberang lautan. Aku sedang melangkah ke sana ketika tiba-tiba...

"Boleh minta waktunya sebentar, Kakak yang tampan di sana?"

Aku terperanjat dan langsung menoleh. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah wajah si kembar dari Ordo Ksatria itu.

Namun, yang berdiri di sana adalah orang yang sama sekali berbeda.

Seorang wanita muda berambut pendek sewarna rumput kering (khaki), usianya mungkin baru awal dua puluhan, bertubuh mungil. Ia mengenakan atasan hitam kebesaran dengan lengan yang menutupi seluruh ujung jarinya. Rok sutra hitamnya terpotong sangat pendek hingga pangkal paha, memperlihatkan kakinya yang ramping terbungkus stoking hitam.

Penampilannya yang unik namun modis itu sebenarnya memberikan kesan elegan, namun kesan itu kalah telak oleh ciri fisik yang ia miliki.

Telinga di samping wajahnya itu... meruncing. Saat aku membelalakkan mata karena terkejut, wanita itu tersenyum santai padaku.

"……Siapa kau?"

"Salam kenal, Kakak. Aku adalah si cantik elf misterius yang kebetulan lewat."

"……Elf?"

Ia berbicara dalam bahasa Republik yang sangat fasih. Namun, aura wanita ini terasa ganjil. Tatapan matanya, jarak berdirinya, dan cara ia membawa diri menunjukkan satu hal: ia datang dari waktu dan budaya yang berbeda denganku.

Sejak isolasi negara ini berakhir sepuluh tahun lalu, aku memang mendengar rumor bahwa banyak ras asing yang datang berkunjung, tapi baru kali ini aku melihat etnis dengan ciri fisik semencolok ini.

"Ah, ternyata istilah itu belum populer di sini ya? Yah, anggap saja aku berasal dari ras yang tinggal jauh di seberang lautan. Omong-omong, kau penasaran dengan telinga ini? Mau coba pegang? FYI, ini agak keras lho."

"Tidak, terima kasih. ……Lalu, ada urusan apa denganku?"

"Entahlah ya~ Bagaimana kalau kubilang aku menyapamu karena kau tampan? Semacam tebar pesona?"

"Masa bodoh. Kalau mau berburu laki-laki, cari saja orang lain. Aku sibuk."

Aku membuat gerakan mengusir wanita mungil yang tingginya hanya sedikit di atas Chronica itu. 

Aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan wanita aneh lagi. Belakangan ini, aku merasakannya dengan sangat sungguh-sungguh.

"Bercanda, bercanda. Sebenarnya begini, Kakak. Aku mencium aroma yang sedap, jadi sambil mengerjakan tugasku, aku memutuskan untuk menyapamu. Aroma yang kotor dengan cara yang pas, aroma kebusukan, dan aroma yang sangat licik…… aroma uang."

Jantungku berdegup kencang, seolah ada beban yang menghantam dadaku.

Ujung jari yang tersembunyi di balik lengan baju hitam yang kebesaran itu menunjuk ke arah tas yang kubawa.

"Tas itu kelihatan berat sekali ya. Mungkin jenis tas kerja untuk membawa logam mulia. Tapi desainnya terlalu kusam, tidak cocok dengan pakaianmu yang modis. Dan tadi, kau baru saja keluar dari bank kota. Tapi Kakak, kau tidak terlihat seperti orang yang suka kekerasan, jadi kemungkinan perampokan dicoret. Kalau begitu... kau pasti baru saja berhasil membodohi seseorang dan membawa lari uangnya, kan?"

"............"

Rasa terkejut dan penghinaan yang sama—seperti yang pernah kurasakan dari sepasang mata di kereta waktu itu—kembali merayap di benakku.

Sial, sepertinya kali ini caraku memang agak ceroboh. Aku akan menjadikannya bahan evaluasi nanti.

Bagaimanapun, sambil memusatkan konsentrasi pada otot kakiku agar siap melarikan diri kapan saja, aku menjawab:

"Begitu ya. Tuduhan yang cukup berani untuk orang yang cuma kebetulan lewat. Aku hanya sedang bekerja dan kebetulan menarik uang dalam jumlah besar. Lalu... kau mau apa dengan tuduhan itu? Memanggil aparat?"

Wanita elf itu mengerang panjang dengan gaya teatrikal, lalu melipat tangannya.

"Hmm, enaknya diapain ya~ ...Bercanda, kok. Aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan sejak pertama kali menyapamu. Jadi, inilah pertanyaan utamanya. Saat aku bertemu pria tampan yang jahat, licik, bermulut manis, dan terlihat menggiurkan sepertimu, kira-kira apa yang akan kulakukan? Jawabannya adalah—"

Perlahan, ia menyodorkan ujung lengannya. Untuk sesaat, aku menegang, waspada terhadap kemungkinan serangan fisik.

Namun, di luar dugaan, jari-jarinya yang ramping justru mengeluarkan selembar potongan kertas kecil.

"—Jawabannya adalah, memberimu kartu namaku sebagai hadiah! Salam kenal ya, Kakak tampan."

"Ha...?"

Keheningan misterius yang sempat tercium sesaat tadi menguap entah ke mana. Dengan wajah tanpa dosa, wanita itu menyodorkan kedua ujung kertas kecil itu sambil tetap menyembunyikan jemarinya di balik lengan baju.

Setengah tidak sadar, aku pun menerimanya begitu saja.

"...Eh? Serius? Baru kali ini aku melihat orang menerima kartu namaku dengan satu tangan."

"Kalau ada tata kramanya, bilang dari awal... Lagipula, apa-apaan ini?"

Bank Ultranasional Unseen Co., Ltd.Pegawai No. 44 — Fran

Ilustrasi Hitam Putih 1 Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2


"...Oi, aku sama sekali tidak bisa membacanya. Ini bahasa apa?"

Tulisan yang tertera di sana bukanlah bahasa Republik maupun bahasa Kekaisaran, melainkan deretan huruf misterius yang tegak lurus dan tampak seperti cacing kaku.

"Rahasia. Kalau nanti takdir mempertemukan kita lagi, akan kuberitahu. ...Ah, tapi setidaknya, biarkan aku memperkenalkan diri. —Aku hanyalah seorang Pembela Kebenaran yang kebetulan lewat."

Sambil melambaikan tangannya, ia mulai melangkah pergi dengan gaya yang angkuh namun elegan.

"Nah, aku ada urusan untuk menemui orang penting sekarang, jadi sampai di sini saja. Semoga harimu menyenangkan, Kakak. Ingat ya, jangan terlalu banyak berbuat jahat, kalau tidak—"

Sambil berlalu, ia memberikan satu kedipan mata dan meninggalkan kata-kata terakhir:

"Si Pembela Kebenaran ini tidak akan tinggal diam."

Bagian 7

Sore hari di hari saat Kalman—bukan, Linus—pergi sejak pagi.

Aku diundang ke ruang pribadi Anahit untuk apa yang ia sebut sebagai "pesta teh".

"—Silakan, Chronica. Santai saja. Aku akan menyeduh minumannya sekarang."

Para pengawalnya berjaga di luar ruangan. Di dalam kamar pribadinya yang hanya berisi kami berdua, terdapat karpet bermotif geometris dengan warna dominan merah, meja rias tanpa cermin, tempat tidur besar berkelambu, serta meja dan kursi yang kini kududuki. Udara di sini dipenuhi aroma parfum mawar yang memberikan kesan elegan, namun...

Gyugogogogogogo!

Suara bising yang dahsyat terdengar bersamaan dengan kepulan uap tebal yang memenuhi sudut ruangan.

Pemandangan sebuah mesin berbentuk kotak besi dalam bingkai kayu yang meneteskan cairan hitam pekat ke dalam cangkir tembaga itu benar-benar merusak suasana anggun yang tadi sempat kurasakan.

Beberapa saat kemudian suara mesin berhenti, dan Anahit berkata dengan senyum puas:

"Ini adalah mesin ekstraksi biji kopi terbaru yang aku datangkan langsung dari pusat kekaisaran. Omong-omong, tahukah kamu? Jika tekanan udara rendah, air bisa menguap bahkan di bawah titik didihnya. Dengan memanfaatkan prinsip itu, air diuapkan dalam kondisi vakum untuk mendapatkan uap suhu rendah, yang kemudian digunakan untuk mengukus biji kopi secara perlahan sehingga aromanya lebih kaya..."

"E-eh, aku tidak terlalu mengerti, tapi terima kasih. Akan kucicipi."

"Ada camilan juga, silakan ambil yang kamu suka."

Sejujurnya, aku sedikit tegang. Seperti biasa, aku tidak bisa menebak apa yang ada di balik perkataan dan tindakan Anahit yang penuh makna tersembunyi, apalagi sekarang Linus tidak ada di sisiku.

Apakah aku benar-benar bisa akrab dengan orang ini? Sambil memikirkan hal itu, aku menyesap cairan panas tersebut. Rasa pahit yang sangat kuat segera menyerang lidahku, membuatku tersedak seketika.

"Astaga... apa kamu tidak suka kopi hitam? Karena cara bicaramu sangat dewasa, kukira kamu tidak akan bermasalah dengannya."

"A-aku tidak masalah, kok. ...Tapi, aku mau susunya."

Sambil terkekeh pelan, Anahit menyodorkan botol susu kepadaku.

Saat aku sudah menuangkan hampir setengah botol susu ke dalam cangkirku, Anahit tiba-tiba berujar pelan.

"Aku sendiri lebih suka kopi hitam."

Sambil memegang cangkirnya, ia seolah sedang menikmati aroma yang menari-nari di depan bibirnya.

"Dulu, Ibu sering menyeduhkannya untukku. Awalnya Ayah dan aku tidak terlalu suka rasa pahit, tapi Ibu selalu memaksa dengan alasan yang tidak jelas kalau rasa pahit itu bagus untuk kesehatan. Akhirnya kami jadi terbiasa. ...Maaf ya, aku tiba-tiba ingin menceritakannya padamu karena baru saja teringat. Tidak ada maksud mendalam apa pun."

"Begitu, ya."

Aku menyahut pelan, bibirku terasa sedikit kering.

...Mungkin, mendekatkan jarak antarmanusia berarti saling berbagi kenangan satu sama lain. Jika benar begitu, entah itu disengaja atau tidak, cerita Anahit tadi adalah sebuah bentuk pernyataan keinginan untuk berteman.

Tapi, aku tidak punya apa-apa. Dengan tubuh yang hanya bisa menyimpan ingatan paling lama satu bulan terakhir ini, berbagi masa lalu dengan seseorang adalah hal yang mustahil bagiku.

Memikirkannya lebih jauh hanya akan terasa menyakitkan. Aku pun mengalihkan pembicaraan dengan meminum kopi yang mulai mendingin itu untuk menutupi kegelisahanku.

"Mengenai kapal lusa nanti... Kalman sudah mengatur semuanya untuk keberangkatan kami?"

Anahit mengangguk, namun ia memiringkan kepalanya dengan ekspresi yang benar-benar tidak percaya.

"Itu tidak mungkin. Apa kepalanya habis terbentur sesuatu? Makhluk berdarah dingin seperti dia mau menolong orang lain... atau jangan-jangan ini karena dia baru saja ganti kacamata?"

Setelah aku menambahkan bahwa Linus telah melakukan semacam "kesepakatan dagang" dengannya, Anahit akhirnya tampak bisa menerima penjelasan itu.

"Yah, sudahlah. Aku juga senang kalau kamu ikut, Chronica. —Karena sudah diputuskan begitu, aku harus membawa banyak hal yang bisa kita mainkan bersama. Ada Sugoroku papan, ada catur kavaleri. Nanti kuajari aturannya dengan benar. ...Tapi setelah itu, akan kubuat kamu bertekuk lutut."

"Anu... apa teman bermain game seperti itu harus aku? Tidak bisa orang lain?"

"Tidak bisa. Semua orang di sini, tanpa pengecualian, selalu sengaja mengalah jika bermain denganku, dan aku benci itu. Terutama Kalman, dia terlalu terang-terangan melakukannya. ...Benar-benar ya, rasanya ingin sekali kuhancurkan kacamatanya."

Aku heran, dari mana datangnya keinginan agresi yang begitu eksplisit dan ganjil terhadap kacamata itu?

"E-eh, sepertinya kau cukup menderita ya. Omong-omong, Ana... kenapa kau diundang ke acara... Rapat Umum Pemegang Saham perusahaan itu? Sejujurnya, sepertinya itu tidak ada hubungannya denganmu."

"Ah, itu karena rapat umum kali ini juga merangkap sebagai pesta pernikahan antara aku dengan perwakilan direksi mereka." 

"……Kau, eh, mau menikah?"

Anahit mengangguk.

"Iya. Calon suamiku adalah Ragnadan Kabul, Direktur Utama Albion Navy Company. Jadi, rapat umum kali ini sepertinya lebih banyak ditujukan untuk memperkenalkanku sebagai istri sang presiden direktur."

Melihat Anahit menyampaikannya dengan begitu datar, aku jadi ingin bertanya lebih jauh; sejak kapan, di mana, dan orang seperti apa calon suaminya itu.

Namun, rasa ingin tahuku langsung dipatahkan oleh pertanyaan berikutnya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu, Chronica? Apa hubunganmu dengan Tuan Linus?"

"Eh……"

Aku terdiam seribu bahasa. Ditanya soal hubungan, aku tidak mungkin menceritakan yang sejujurnya, tapi aku juga tidak ingat banyak hal. Di sisi lain, lidahku tidak selicin si penipu itu. Sebenarnya dia itu terbuat dari apa sih sampai bisa berbohong semulus itu?

Tapi, situasi sudah begini. Aku harus mencoba memberanikan diri.

Tips saat ingin berbohong: sampaikanlah hanya kebenaran. Kurasa begitu, kan?

Karena aku tidak mungkin mendadak berakting menjadi orang lain seperti Linus, aku memutuskan untuk bicara apa adanya secara singkat. Aku tidak akan berbohong, aku hanya akan menyembunyikan bagian-bagian yang tidak menguntungkan.

"Aku... hampir tidak pernah bertemu orang tuaku karena berbagai alasan... Jadi, ya, Linus itu semacam wali bagiku, kira-kira begitu."

Setelah mengatakan itu, aku mengambil napas sejenak. 

Syukurlah, sepertinya dia tidak berniat mengorek lebih dalam. Aku melanjutkan kata-kataku.

"Kami melakukan perjalanan berdua dari ibu kota sampai ke sini, lalu setelah melewati banyak hal, kami memutuskan untuk pergi ke Kekaisaran Uap Albion bersama-sama."

Anahit kemudian memberikan pertanyaan yang seolah menuntunku.

"Di tengah perjalanan, eh... ksatria, ya? Bukankah kalian sempat diserang dan berada dalam bahaya?"

"Iya. Kami sempat mengalaminya."

"Lalu, saat situasi genting seperti itu, apa yang dilakukan Tuan Linus?"

"Dia... melindungiku."

Ingatan tentang kejadian itu sebenarnya sudah tidak ada lagi dalam kepalaku. Namun, jika dia tidak melindungiku, tidak mungkin aku bisa berada di sini sekarang.

"Jadi, kau menyukai sisi darinya yang seperti itu?"

Aku tersedak kopi susu yang baru saja kusesap untuk menenangkan diri.

"Uhukk... b-bukan begitu! Dia itu cuma orang yang pernah menolongku, wali... teman perjalanan, itu saja."

Namun, secara tidak terduga, aku malah terdiam setelah itu.

Aku tidak punya ingatan saat pertama kali bertemu dengannya. Hal-hal yang terjadi setelahnya pun hampir tidak kuingat sama sekali.

Tapi, setiap kali aku melihatnya, setiap kali aku membaca kembali buku harian itu, dadaku selalu berdesir.

Sesuatu seperti sisa-sisa kehangatan dari ingatan yang seharusnya sudah hilang itu terus saja meluap.

Karena aku tidak bisa menemukan kata-kata di dalam laci hatiku yang sanggup mengekspresikan perasaan seperti itu.

Anahit tetap menopang dagunya, mengarahkan wajahnya lekat-lekat kepadaku yang kini terbungkur dalam diam.

"Hmm, begitu ya. Jadi suasananya seperti itu."

"Jangan tersenyum penuh arti begitu, Anahit."

"Aku tidak melakukannya, kok. Justru wajah Chronica yang sekarang merah padam seperti bunga mawar."

"……Pembohong. Kau kan tidak bisa melihat."

"Melihat dengan mata bukanlah satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran. Jadi, meskipun tidak melihat, aku tetap tahu."

Lalu sang Miko buta itu menegaskan dengan senyuman lembut.

"Dirimu yang sekarang, terlihat sangat manis lho."

Saat itulah, aku menyadari ada sesuatu di dekat tangan Anahit, tergeletak di atas meja.

Itu adalah selembar potongan kertas tipis, dengan tulisan dalam bahasa yang tidak bisa kubaca.

Bagian 8

Dua hari sisanya berlalu tanpa kejadian berarti.

Selama aku menghabiskan waktu dengan wajah Kalman, Chronica sepertinya menjalin hubungan yang cukup baik dengan sang Miko buta itu. Hubungan antar wanita memang cepat sekali berubah; entah itu semakin dalam, atau sebaliknya.

Kuharap dia bisa membawa diri dengan baik. Perasaan cemas yang tidak biasa itu segera kuenyahkan bersama kepulan asap rokok yang kuhisap sambil berjalan.

Saat aku tiba di gerbang kedutaan, kereta kuda yang akan menjemput kami menuju pelabuhan sudah terparkir di sana.

Hari ini adalah hari ketiga. Hari di mana kami akan berlayar menuju—bukan langsung ke Kekaisaran Uap Albion—melainkan ke lokasi Rapat Umum Pemegang Saham tersebut.

Kembali mengenakan topeng diplomat, aku menyapa para prajurit penjaga. Tak lama kemudian, aku dipersilakan masuk ke hadapan mereka.

"Selamat pagi, Yang Mulia Duta Besar Anahit. Terima kasih banyak karena telah membantu saya dan gadis ini."

"Tidak perlu sungkan, saya pun tidak bisa berbuat banyak. Tuan Linus, saya senang Anda baik-baik saja. Oh ya, mengenai Kalman, sepertinya dia terserang flu karena tidur di gudang, jadi hari ini dia tidak bisa hadir... Astaga, apa jadinya kalau ada dua pemabuk di sini."

"Begitu ya. Tolong sampaikan salam saya, semoga dia lekas sembuh."

Aku menerima topi yang selama ini kutitipkan pada Chronica, lalu mengenakannya di kepala.

Kami bertiga kemudian naik ke dalam kereta kuda mewah tersebut. 

Keretanya benar-benar luas. Meski diisi oleh kami berdua, Anahit, dan pelayannya—total lima orang—tidak ada rasa sesak atau terhimpit seperti di kereta pos. Aku bahkan bisa merenggangkan kaki dengan santai.

Sebelum berangkat, Anahit meminta pelayan yang ikut di dalam untuk menyajikan minuman.

"Hari ini udaranya agak dingin ya. Tolong bawakan kopi panas untukku dan kedua tamu ini... Ah, buatkan satu yang susunya sangat banyak."

Tepat saat pelayan membawakan pesanan dari kabin penyimpanan di dalam kereta...

"Ah, maaf, saya kesiangan. ...Permisi, saya ikut ya. Selamat pagi, Yang Mulia Miko. Bisa minta secangkir kopi?"

Splash!

Tanpa ragu sedikit pun dan dengan kecepatan luar biasa, Anahit menyiramkan kopi yang baru saja diterimanya tepat ke arah wajah prajurit paruh baya yang baru saja menyerobot masuk itu.

Pria itu memiringkan kepalanya dengan sekejap untuk menghindar. Namanya, kalau tidak salah, adalah Rostam.

"Uwoh! Hei, itu kalau kena bukan cuma melepuh lho!"

"Cih. Maaf, tanganku terpeleset. Lagipula, kenapa kau ada di sini?"

"Yah, saya dapat perintah untuk mendampingi Yang Mulia Miko sebagai pengawal sampai rapat umum selesai, jadi..."

"Orang payah yang cuma menunggu masa pensiun sepertimu? Meminta tolong pada kucing jauh lebih masuk akal karena setidaknya kucing itu lucu. Pasti ada yang salah dengan perintah itu."

"Jangan ketus begitu dong. Saya juga cuma menjalankan tugas, jadi mohon maklumnya."

Suara Rostam yang memberikan pembelaan diri terdengar parau, seolah pita suaranya telah hangus oleh alkohol selama bertahun-tahun.

Penampilannya benar-benar tidak mencerminkan seseorang yang baru saja berkaca sebelum keluar rumah. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi tepat di sebelahku.

"Yo, Kawan. ...Kudengar kau dan Nona kecil di sana mau mencari suaka, ya? Namaku Rostam. Pengawal Yang Mulia Miko—ah, maksudku, pengawal Yang Mulia Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Salam kenal untuk perjalanan ini."

"Senang bertemu denganmu. Nama saya—"

"Hentikan, hentikan. Kita berdua ini kan sama-sama pendamping, sama-sama bawahan. Buang saja bahasa formalnya."

Mengatakan itu, mulutnya yang gelap dengan janggut yang tidak dicukur itu menyeringai santai. Seragam putihnya yang berantakan sudah memudar menjadi kecokelatan, menunjukkan bahwa pakaian itu jarang sekali dicuci dengan benar.

Aku menjaga jarak agar siku kami tidak bersentuhan, lalu memulai kembali perkenalanku.

"Namaku Linus. Kau... benar-benar seorang prajurit pengawal, kan?"

"Tentu saja. ...Tapi hei, bahasa Kekaisaranmu hebat juga ya. Sudah di level bisa digunakan untuk merayu wanita."

Rostam tertawa, namun penampilannya sama sekali tidak bisa dibilang sebagai perlengkapan militer yang semestinya. Jangankan senapan mesin standar prajurit Kekaisaran, di pinggangnya bahkan tidak tersampir sebuah pistol pun. Terlebih lagi, pada jemarinya yang kulitnya mengeras itu, tidak ada satu pun bekas noda bubuk mesiu.

"Kenapa kau tidak membawa senjata api?"

Sebagai gantinya, hanya sebuah pedang sabre lengkung yang tergantung lunglai di pinggangnya. Gagangnya yang dibalut kulit sudah menghitam, menandakan bahwa senjata itu telah berusia cukup tua.

Rostam menjawab dengan nada seolah itu bukan masalah besar.

"Yah, sejujurnya, paman ini payah kalau soal pistol atau senapan. Suaranya berisik, menakutkan, dan kalau kena bisa mati. Aku benci kalau ditodong, dan aku takut memegangnya sendiri karena khawatir meledak tiba-tiba. Tapi ya, kalau tangan kosong pasti aku kena semprot atasan, jadi aku bawa penggantinya saja asal-asalan."

"Bagaimana bisa kau tidak dipecat... Apa keluargamu orang berkuasa?"

"Kalau iya, dari awal aku nggak bakal sudi jadi tentara yang dikirim ke luar negeri. Yah, setiap orang punya urusannya masing-masing."

Sambil berkata demikian, Rostam menepuk pundakku dengan akrab.

Di kursi seberang, Chronica duduk dengan anggun sambil mulai asyik berbincang-bincang dengan Anahit.

Setelah itu, kereta kuda yang sederhana namun kokoh itu menuruni bukit perlahan, hingga akhirnya tiba di salah satu sudut pelabuhan dagang.

Di dermaga tempat kami sampai, para prajurit kedutaan sudah berbaris rapi menyambut kami—terutama menyambut Anahit.

Persiapan keberangkatan telah selesai. Kapal besi hitam yang baru saja melepas tali tambatnya melontarkan suara peluit uap ke langit biru yang cerah.

"Kapal yang luar biasa. Ngomong-ngomong, bagaimana cara kapal uap bergerak?"

"Membakar batu bara, kan. Mungkin bagian dalamnya penuh dengan jelaga."

"Kau benar-benar genius kalau soal merusak suasana ya."

Dari atas tas yang tersampir di bahunya, Chronica mengelus buku harian yang ia simpan di dalam sana.

Selama tiga hari terakhir, aku telah memanfaatkan posisi Calman untuk memerintahkan para prajurit agar dalam status siaga penuh. Namun, sosok yang menyerupai si kembar itu tidak kunjung muncul. Begitu pula dengan orang-orang mencurigakan lainnya.

Aku juga sudah memerintahkan agar pelabuhan ini dijaga ketat terlebih dahulu.

Namun, tetap saja, situasi sejauh mata memandang masih tenang tanpa riak sedikit pun.

"Kalau begitu, kalian berdua silakan ikuti kami."

Jika kami bisa berlayar sekarang, segalanya pasti akan baik-baik saja.

Mungkin, karena aku sempat berpikir demikian.

Bukannya suara peluit uap untuk yang kesekian kalinya, yang dilepaskan oleh kapal uap itu justru adalah ledakan api yang menjilat angkasa.

Semua orang terpaku dengan wajah yang terpapar pantulan cahaya jingga, kehilangan kata-kata.

Ledakan kedua dan ketiga menyusul, menghantam dan mematahkan kapal itu menjadi dua bagian tepat di tengahnya.

Lalu, dari balik kobaran api yang kian ganas melahap angin laut, dua bayangan manusia melompat keluar dan mendarat tepat di hadapan kami.

"Tuan dan Nyonya sekalian, terima kasih telah menunggu. Ulna-chan sudah tiba!"

"Hanya ada satu pertunjukan: pembantaian massal! Dasar rakyat jelata!"

Sambil merapatkan tumit dan membungkuk memberi hormat, si kembar pelayan dan pelayan wanita itu tersenyum buas.

Itu adalah kedatangan kembali para pembunuh dari ordo ksatria, Pluto dan Ulna.

Bagian 9

Para prajurit yang berbaris segera mengatur formasi tempur.

Moncong senapan yang tak terhitung jumlahnya, bersama dengan prajurit berbaju zirah uap (Steam-Armored Soldiers) yang memanggul meriam otomatis, membidik ke arah yang sama seperti waktu itu.

Di depan latar belakang kapal uap yang berkobar, sepasang kakak-beradik kembar itu berdiri saling memunggungi.

Dua orang yang beberapa hari lalu terpaksa mundur di hadapan kekerasan baja itu, kini menyatukan suara mereka dengan penuh tantangan.

"Ayo kita buat pertunjukan yang meriah, Adikku! Balas dendam untuk yang waktu itu! Akan kurebus mati kalian semua!"

"Baik, Kakak. Mari membunuh banyak orang. Kita akan membangun rumah permen di atas tumpukan mayat."

"Itu sedikit tidak higienis, tahu—ah, sudahlah, berisik sekali kalian!"

Dalam sekejap, aku menyambar Chronica, sementara Rostam yang berada di sampingku menggendong Anahit.

Detik berikutnya, tepat saat kami melompat menjauh dari medan tempur, perintah tembakan serentak komandan bergema. Hujan peluru Gatling yang mengincar si kembar justru menguap di udara.

Gelombang tak kasat mata memancar secara konsentris dengan mereka berdua sebagai pusatnya. Peluru yang menyentuh amplitudo gelombang tersebut mendidih dan meledak satu per satu di udara, lenyap sebelum sempat menyentuh si kembar.

"Kemarin lusa kami hanya lengah! Lagipula Ulna sedang tidak bersemangat! Kalau kami menyatukan kekuatan dengan benar, mainan seperti ini tidak ada gunanya!"

"Tidak akan mempan pada kami. Mari kita simpan mainan yang tidak bisa dimainkan. Mari kita bereskan nyawa-nyawa yang tidak berguna."

Pachin, pachin. Suara petikan jari yang terdengar ceria layaknya senandung bergema. Petikan jari si kembar yang merayakan kematian orang-orang memberikan arah pada gelombang Faktor Darah Bangsawan (Regalia) mereka, lalu menembakkannya bertubi-tubi.

“"〈Halo Ring〉: Radiasi Amplitudo!!"”

Targetnya adalah para prajurit yang sedang membentuk formasi. Tubuh mereka mulai meledak.

Seluruh cairan di tubuh mereka mendidih, kulit yang memerah membengkak layaknya balon. Begitu pecah, daging dan cairan tubuh yang terpanaskan seperti lava menyembur bersama gelombang kejut, hancur berkeping-keping di berbagai sudut barisan.

Jeritan dan pekikan memekakkan telinga. Dalam sekejap, tatanan militer modern itu runtuh, dan neraka Avici mulai tercipta di dermaga.

"Jadi itu yang namanya 'Bangsawan', monster yang dirumorkan itu ya—jangan bercanda, deh. Hei, ayo cepat kabur!"

Suara Rostam yang luar biasa tenang memberikan sedikit rasa waras di tengah kekacauan ini.

"……Pegangan yang kuat, Chronica."

"Jangan sampai jatuh, Yang Mulia Miko."

Bersama Rostam yang menggendong Anahit di punggungnya, kami berdua berbalik membelakangi tragedi yang sedang berlangsung dan mulai melarikan diri.

Hanya dengan memfokuskan kesadaranku pada tangan Chronica yang mencengkeram dadaku, aku entah bagaimana berhasil menghalau rasa takut yang mencekam.

"Bagus! Terus begini, Adikku! Biar senjata apa pun yang mereka punya, akan kita tunjukkan bahwa rakyat jelata tetaplah manusia biasa!"

"Baik, Kakak. Tapi bagaimana kalau mereka kabur selagi kita sibuk? Kapan kita harus memakan stroberi di atas kuenya?"

"Aku tahu. Karena itulah aku menyerahkan urusan penjagaan belakang pada dia. ...Lagipula, Ulna, kau kan selalu memakan stroberinya duluan, bahkan jatah milikku juga."

Dan kemudian...

"Kita tidak punya pilihan selain kembali ke kedutaan untuk sementara."

"Si bapak paruh baya payah ini benar. Kita harus bertahan di sana dan menunggu bantuan dari militer Kekaisaran... tidak, dari Perusahaan Angkatan Laut."

Aku sudah berlari mungkin sekitar setengah mil. Sambil mengatur napas yang memburu layaknya kuda sekarat, aku menyeka keringat yang membanjiri daguku.

Pelabuhan dagang yang menghadap Teluk Lanston ini sangat luas. Area tempat kami melarikan diri tampaknya merupakan tempat penyimpanan sementara barang impor-ekspor di dekat gudang pabean; peti-peti kayu kemasan (container) yang penuh isi bertumpuk di mana-mana.

"Linus, kau nggak apa-apa?"

"Tidak, aku parah. Aku jadi serius mempertimbangkan buat berhenti merokok."

"……Bodoh."

Aku membalas kekhawatiran Chronica dengan seloroh kecil, lalu memberikan usul kepada dua orang lainnya.

"Kalau di pelabuhan, pasti ada kereta angkut di area gudang. Kita curi saja kuda dari kandangnya."

"Oho, ide cemerlang. Bagaimana, Yang Mulia Miko?"

"Boleh saja. Dalam keadaan darurat begini, mau bagaimana lagi. Tolong catat nama pemiliknya; nanti pihak kedutaan yang akan membayar ganti rugi kudanya."

Dari kejauhan, suara ledakan dan kegaduhan masih bergema sampai ke sini.

Meski tidak bisa melihat, Anahit pasti merasakan bahaya lebih sensitif daripada orang biasa, namun ia tetap bersikap sangat tenang. Mungkin itu bukan sekadar reaksi karena terbiasa dengan situasi sulit.

Begitu pula Rostam. Meski berlari sambil menggendong Anahit, dia terlihat jauh lebih segar daripadaku.

Orang-orang ini, sebenarnya mereka... Tidak, sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu.

Sambil memulihkan kesadaran, aku bangkit dari tumpukan peti kargo tempatku bersandar tadi. Baru saja aku hendak memanggil Chronica dan mulai melangkah, tepat pada saat itu...

Tumpukan peti kayu yang baru saja bersentuhan dengan tubuhku tiba-tiba hancur berantakan dibarengi suara dentuman keras.

"—Ha?"

Aku dan Chronica menahan napas dengan perasaan hampa. Di tengah tumpukan massa yang hancur berantakan dengan potongan melintang yang rapi dan cahaya matahari yang menusuk celah reruntuhan, sebuah bayangan manusia muncul di hadapan kami dan mulai bersuara.

"—Yo. Salam kenal. Jadi kalian? Sang 'Sel Kanker' dan penipu tambahan di sampingnya itu."

Sosok itu adalah seorang pria.

Rambut perak pendek. Tubuh tinggi tegap dengan otot dada yang sangat terlatih terbalut polo linen, tanpa pretensi maupun kemewahan yang mencolok.

Namun, hanya dengan tatapan matanya yang buas, ia menyampaikan niat yang sederhana: untuk membunuh kami.

"Aku adalah First Guards dari Ordo Ksatria Pelindung, Welquix Nesilbeth. ……Cukup sekian. Kalian sudah melihat teknikku barusan, kan? Kalian juga sudah mendengar namaku sekarang, kan?"

Puing-puing peti kayu yang berserakan di kakinya—dengan bekas potongan berwarna keputihan yang masih baru—seolah memberikan pengumuman. 

Melalui suara tanpa kata, puing itu seakan berkata bahwa itulah nasib akhir kami beberapa detik lagi.

"Kalau begitu, kalian sudah boleh mati."

Sekejap kemudian, cahaya merah yang tidak menyenangkan berkilat di sekeliling bangsawan bernama Welquix itu. 

Bagaikan meteor, kilatan cahaya itu melesat untuk mencabik-cabik tubuhku dalam sekejap mata.

Namun, pada detik yang krusial itu...

"Merunduklah sebentar."

Bersamaan dengan suara seseorang di sampingku, terdengar beberapa bunyi benturan logam yang keras. Aku tersadar kembali, namun lidahku kelu.

Kulihat mata Chronica membelalak, dan Anahit menutup mulutnya.

Dan persis seperti mereka, Welquix pun terpaku tak percaya.

Hanya satu orang, pria paruh baya itu, yang menggaruk kepalanya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Rostam... kau, barusan, apa yang—"

"—Siapa kau sebenarnya, Brengsek."

Kilatan merah kembali melesat, kali ini jelas-jelas ditujukan kepada si pria paruh baya itu.

Dengan hanya memiringkan wajah sedikit untuk menghindar, pria itu melirik bekas potongan di sekelilingnya, lalu berujar pelan.

"Aku tidak tahu banyak soal Bangsawan atau apa pun itu, tapi kalian menggunakan semacam kekuatan sihir, kan? ...Yah, aku sedang beruntung. Kalau yang kau gunakan itu api, es, angin, atau petir, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Sambil menendang potongan kayu yang terbelah secara tajam namun kasar oleh tebasan tak kasatmata itu dengan ujung sepatunya, ia melanjutkan:

"Kalau cuma soal pedang, aku sedikit pahamlah."

Kapan pedang itu ditarik dari sarungnya? Tak ada satu pun dari kami yang bisa melihatnya.

Sambil menggenggam sabre melengkung yang berkilau redup, ia melangkah maju melindungi kami, menghadapi monster yang telah melampaui batas manusia itu.

"Rostam, kau..."

"Aku ini pengawalmu. Setidaknya aku akan membuktikan kalau aku bisa lebih berguna daripada sekadar bantuan tangan kucing, Yang Mulia Miko."

Tanpa menoleh, ia menjawab Anahit. Dari punggungnya, aku berhalusinasi melihat aura yang meliuk seperti asap, namun terasa sedingin dan sekeras baja, terhunus dengan tajam.

"Mantan Resimen Pedang ke-16 Pengawal Kaisar—Shamshir—sekarang hanya Rostam. ——Aku datang."

Dari punggung pria itu, tidak tercium aroma kemegahan maupun bau darah. Seolah-olah segala hal yang tidak perlu telah dikikis habis. Aku menahan napas melihat ketenangan luar biasa dari aura yang menyerupai mata pedang yang telah diasah sempurna itu.

"Kau menarik juga, Pak Tua."

Mungkin Welquix merasakan hal yang sama denganku. Ia menyeringai, lalu meneriakkan nama kekuatan darah bangsawan (Regalia) yang menyayat sekeliling dengan sihir tak kasatmata.

"〈Stormbringer〉: Akselerasi Pertumpahan Darah!"

Lebih dari sepuluh kilatan merah meledak dalam sekejap—disusul gema dentuman logam yang bertalu-talu.

Tanpa bergeser dari tempatnya, Rostam mengalirkan pedang lengkungnya di sekeliling tubuh dengan keanggunan yang menyerupai tarian, seolah mengenakan jubah sutra dari air.

Tentu saja, ujung pedang yang menangkis tebasan berkecepatan tinggi itu bergerak dengan kecepatan yang mustahil tertangkap mataku. Namun, bayangan sisa dari lintasan pedang yang samar itu meninggalkan kesan mendalam di benakku.

Hasilnya terpampang nyata; seolah dipandu oleh gerakan pedang Rostam, jalur tebasan berkecepatan tinggi itu dibelokkan dan hanya berakhir menyayat peti-peti kayu atau tanah di sekitarnya.

Bahkan salah satu serangan itu sepertinya dipantulkan kembali dengan sudut yang tajam. Welquix terpaksa memiringkan lehernya secara mendadak, namun percikan darah merah tetap melesat dari kulit lehernya.

Dengan wajah tak percaya, Welquix mengusap darah yang menetes dari lehernya dengan jari, lalu tertawa liar.

"Haha... Gila kau, Pak Tua. Aku jadi bersemangat. Kau... benar-benar bisa melihatnya?"

Rostam menjawab luapan semangat Welquix yang membara itu hanya dengan helaan napas panjang.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Bicara pakai bahasa yang kupahami, bodoh."

Sekali lagi kilatan cahaya memancar. Dentuman pedang bergema, dan pemandangan di sekitar mereka tersayat-sayat. 

Namun Rostam, seolah itu adalah hal yang sangat wajar, tetap berdiri tanpa luka sedikit pun dan berujar:

"Sejak lahir instingku memang tajam. Meski tidak bisa melihat dengan jelas, aku biasanya tahu benda apa yang berbahaya jika mengenaiku, dan aku bisa menghindarinya."

Aku tersentak dan saling bertukar pandang dengan Chronica. Mata kiri gadis itu seolah berbicara padaku.

Aku tidak tahu, dan sebelumnya aku tidak mencoba membacanya, tapi sejak awal... mata mereka bahkan tidak pernah bertemu satu detik pun.

Kalau begitu, apakah pria ini—secara tidak sadar—selama ini telah merasakan ancaman dari pandangan Chronica yang seharusnya tak kasatmata, dan menghindarinya secara naluriah?

Belum sempat aku tenggelam dalam kekaguman, ribuan serpihan puing yang baru saja terpotong melayang di udara.

Dalam celah waktu yang sangat singkat itu, Rostam telah mengunci Welquix dalam jarak jangkau pedangnya.

"—Kau lambat, Tolol."

Di mataku, terlihat seolah sebuah tusukan tangan kosong Welquix telah mencungkil wajah Rostam.

Namun kenyataannya, sebuah lengan kiri terbang di udara bersama cipratan darah, lalu jatuh berdebum di atas tanah.

Welquix menatap lengannya sendiri yang telah tertebas putus. Kali ini, ia benar-benar terdiam seribu bahasa, terpaku di tempatnya berdiri.

Tanpa menoleh, Rostam memberikan perintah padaku.

"Sudah lihat, kan? Hei, Linus. Aku akan menahan mereka di sini. Cepat bawa Yang Mulia Miko dan Nona kecil itu lari dari sini."

"……A-ah, baiklah."

"Oh, ada satu hal yang lupa kukatakan. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Yang Mulia Miko—aku sendiri yang akan membunuhmu.Hanya itu. Sana, kerjakan tugasmu dengan baik."

Aku tidak punya waktu untuk menyelidiki beratnya niat yang terkandung dalam suara itu.

"Kau sendiri, jangan sampai mati setelah bicara besar begitu!"

Entah mengapa, Welquix tetap berdiri mematung dan membiarkan kami lewat. Tidak, itu salah. Seluruh minatnya kini telah terfokus sepenuhnya pada satu titik: Rostam. Seolah-olah hal lain di dunia ini sudah tidak masuk lagi dalam penglihatannya.

Namun, tepat saat aku mulai berlari sambil menggendong Anahit yang buta bersama Chronica...

"Ah! Ketemu! Si Penipu dan Sel Kanker! Beraninya kalian mempermainkan kami kemarin!"

"Kami datang untuk mengecek keadaan, dan ternyata kalian di sini. Kebetulan sekali, mari kita bunuh mereka. V (peace)."

Bagian 10

Gelombang milik si kembar berfungsi untuk memanaskan target secara mendadak hingga meledak. Namun untungnya, sepertinya bidikan mereka cukup sembrono.

Memanfaatkan kobaran api dan asap yang menyebar akibat tumpukan peti kemas yang meledak pada serangan pertama, aku segera menggendong Anahit dan bersembunyi di balik tumpukan kayu terdekat bersama Chronica.

"Sial, aku kehilangan jejak mereka! Ulna, ini semua karena kau menembak sembarangan!"

"Maaf, Kakak. Berisik sekali sih, aku kan sudah menyesal."

"Apa? Kau sedang dalam masa puber ya? Berani-beraninya bicara begitu pada kakakmu sendiri!"

Meskipun mereka kehilangan jejak kami, terus bersembunyi hanya akan membawa kami ke jalan buntu. 

Aku menurunkan Anahit di sampingku, lalu mengepalkan tangan yang gemetar. Jarak ke kandang kuda masih cukup jauh. Lagipula...

"Akan sulit mencuri kuda sambil diserang oleh anak-anak itu, bukan?"

"Benar. Apa kita bisa mengatasinya dengan serangan mendadak?"

Untungnya, dibandingkan para bangsawan yang pernah kutemui sebelumnya, kekuatan si kembar ini tergolong masih masuk akal, jika kita mengesampingkan isi otak mereka. 

Kalau begitu, aku tidak punya pilihan selain mengandalkan kekuatan itu sekali lagi. Aku memejamkan mata, mencoba menyelami memori pelayan petarung yang telah disalin ke otakku. Namun saat itulah, aku menyadari sesuatu.

"Aku... lupa."

"Eh?"

Aku merenggangkan kepalan tanganku sedikit, mencoba mereka ulang gerakan bela diri tersebut dalam benakku sambil tetap bersembunyi. 

Namun, insting sang master yang menuntunku waktu itu telah lenyap sepenuhnya, seolah aku baru saja terbangun dari mimpi.

Secara refleks aku menoleh ke arah Chronica. Gadis itu seolah langsung mengerti dan bergumam pelan.

"Memori yang disalin bukanlah milikmu sendiri. Meskipun bisa menempel dengan baik padamu, sepertinya ada batas waktunya. Maaf ya, aku baru pertama kali menggunakan kemampuanku kayak gini."

"Apa kau bisa melakukannya sekali lagi sekarang?"

"Itu juga tidak mungkin. Aku pun sudah tidak ingat memori Evelyn yang menjadi sumber salinannya. Untuk melakukan transfer jiwa lagi, pemilik aslinya harus ada di tempat ini."

"Maaf, aku tidak paham apa yang kalian bicarakan, tapi jika terus begini, apa kita akan mati?"

Aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan keheningan.

Tepat saat itu, sebuah kilasan ide mendadak melintas di benakku seperti wahyu yang membakar otak. 

Aku menoleh dengan cepat hingga leherku terasa hampir patah. Di balik tumpukan peti kayu yang hancur terbakar, aku melihatnya: sebuah derek uap mekanis untuk bongkar muat kargo.

──Bersamaan dengan suara petikan jari, tumpukan kargo di sekitar kami meledak berkeping-keping, menerbangkan api dan angin kencang. 

Sepertinya mereka mulai tidak sabar dan menyerang sembarangan untuk memancing kami keluar.

Memanfaatkan kekacauan ledakan itu, aku berhasil menyelinap mendekati ruang kendali derek. Sambil menyesap rokok untuk meningkatkan konsentrasi, aku membidik sasaran dengan saksama.

Di belakangku, Chronica bertanya dengan nada ragu, "Apa yang akan kau lakukan dengan benda ini?"

"Lihat saja nanti."

Mesin ini menggunakan sistem operasi tunggal yang menggabungkan tenaga uap dan hidrolik. Suara mesin yang mulai menderu sepertinya menarik perhatian mereka, tapi semuanya sudah terlambat. 

Aku memberikan momentum yang cukup pada peti kemas yang masih tergantung, lalu menghantamkannya sebagai serangan mendadak tepat ke arah mereka berdua.

"Ketemu! Di sana rupanya, eh, aghh!" 

"Ah, Kakak, eh, aku juga kena, ugh!"

Meski masih anak-anak, mereka tetaplah kaum bangsawan. Walau terlempar seperti daun kering dan menabrak tumpukan kargo dengan keras, mereka tidak langsung mati dan masih bisa bergerak. Karena itu, aku tidak akan memberi ampun.

Selanjutnya aku menghantamkan peti berisi cabai, lalu peti berisi tar batu bara. Aku mengangkatnya dengan pengait dan menghujamkannya dalam satu aliran kerja yang sistematis.

"Gawat juga ya, ini seru sekali."

"Kau ini terkadang kekanak-kanakan, ya. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau belajar mengoperasikan alat ini?"

"Kemarin lusa saat aku jalan-jalan ke kota. Kelihatannya menarik, jadi aku menyamar sebagai pekerja baru. Tapi karena bosnya menegurku, aku ceburkan saja dia ke laut lalu kabur."

"Tuan Linus, kamu luar biasa ya."

"Jangan dipuji, Anahit. Itu jelas-jelas perbuatan jahat... nanti dia jadi besar kepala." 

Terserah kau mau bilang apa, gerutuku dalam hati.

Setelah melemparkan sekitar sepuluh peti kemas berisi secara beruntun, aku menyadari sesuatu. 

Tumpukan peti di belakang si kembar mulai goyah akibat benturan yang bertubi-tubi.

"Uugh... Kakak, tubuhku kena banyak benda aneh. Licin sekali, licin."

"S-Sial... k-kau tidak apa-apa, Adikku? ...Ah, gawat, cairan lengket ini membuatku susah bergerak! S-selain itu, bubuk merahnya masuk ke mataku, p-pedas, sakit, a-air mataku tak mau berhen—eh, sudah datang lagi! Gawat—guhaaa!?"

Saat menghantamkan satu serangan lagi, sama sekali tidak ada rasa belas kasihan yang timbul di hatiku.

Sesuai dugaan, tumpukan kargo itu runtuh dengan suara gemuruh yang dahsyat, mengubur si kembar di bawahnya.

Tidak hanya itu, bersama serpihan kayu dan debu tanah yang beterbangan, asap putih tebal mulai mengepul dari celah peti yang hancur, membuatnya terlihat seperti lokasi kebakaran.

Tidak, jika diperhatikan lebih teliti, itu bukan asap, melainkan bubuk putih yang biasa ada di dapur pembuat roti. Sepertinya isi peti-peti itu adalah tepung terigu.

Sebuah ide gila terlintas di benakku. Aku menjentikkan rokok yang sedang kuhisap dengan jariku, lalu melemparnya dalam keadaan masih menyala ke tengah kepulan debu putih yang pekat itu.

Sesaat kemudian, pilar api yang menjulang tinggi hingga seolah menembus langit meledak dengan dentuman yang jauh melampaui keruntuhan tadi. Sebuah kecelakaan besar baru saja tercipta.

"Kyaa...!"

Anahit menutup telinganya dan berjongkok karena dahsyatnya gelombang kejut yang menerpa.

"Hei, Linus!" 

"Ah, maaf, maaf! Tapi dengan ini, mereka juga pasti sudah—"

Sambil membenarkan posisi topi yang hampir terbang, aku baru saja hendak mengatakan "sudah mati" ketika...

Hantaman tiba-tiba menghajar tubuhku, membalikkan pandanganku.

Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, aku terbatuk darah dan mencoba bangkit dari tanah dengan tubuh yang penuh luka lecet.

"...Berani sekali kau memperlakukan kami seperti ini, rakyat jelata."

"Kami bunuh kau di sini. Bunuh sekarang. Aku yang memutuskan, sudah diputuskan. V (peace)."

Beberapa langkah di depanku, di tempatku berdiri tadi, si kembar yang menyerupai iblis berdiri dengan rambut hangus berantakan dan pakaian compang-camping yang berkibar. Wajah mereka yang melepuh tampak bengkok karena amarah, sementara kaki mereka masih dalam posisi setelah melancarkan tendangan.

Lalu Pluto, sang kakak, mencengkeram leher Chronica dengan kasar.

"Brengsek...!"

Tanpa rencana apa pun, aku mencoba menggerakkan tubuhku yang berderit karena rasa sakit yang luar biasa. Namun, Ulna segera mendekat dengan langkah bela diri yang lincah. Tendangan tumitnya menghancurkan bahu kiriku, menghantamku kembali ke tanah. 

Topi hitamku terlempar dari kepala dan melayang di sudut mataku. Sebelum sempat melihat ke mana topi itu jatuh, wajahku sudah diinjak oleh sepatu kecil.

"Tolong tenanglah sedikit. Pertama-tama, kita tunggu sampai Sel Kanker ini selesai dipanggang matang."

"Jangan... bercanda... dasar... bocah tengik."

Pluto, yang masih mencengkeram leher Chronica, menyadari sesuatu dan bersuara.

"Hmm...? Apa ini?"

Aku menoleh ke arahnya dan melihat tali tas yang tersampir di bahu Chronica telah putus. Sebuah buku harian terjatuh di dekat kaki Pluto. 

Remaja laki-laki itu memungutnya dengan satu tangan, membalik halamannya, lalu tertawa mengejek.

"Begitu ya, aku paham sekarang... Menyedihkan sekali kau, Sel Kanker. Mencoba mempertahankan ingatanmu dengan benda semacam ini?"

"Jangan... sentuh. Ke... kembalikan...!"

"Tolak. Ulna, tangkap!"

Pluto melempar buku harian itu tinggi-tinggi hingga membentuk garis lengkung di udara.

"Baik, Kakak."

Tepat di atasku, Ulna menjentikkan jarinya. Tanpa sempat aku berteriak untuk menghentikannya, buku harian yang sedang melayang itu bergetar hebat di udara. Halamannya sempat terbuka lebar sekejap, lalu meledak bersama kobaran api.

"Aaah..."

Kejadian itu begitu cepat, begitu rapuh hingga terasa menyakitkan. Serpihan kenangan yang telah hilang dari ingatan maupun tulisan kini berguguran perlahan. Air mata mulai menggenang di mata odd-eye Chronica saat ia menatap sisa-sisa kenangannya yang lenyap menjadi abu.

Ilustrasi Hitam Putih Chronica: Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2

Pada detik itu, ada sesuatu yang putus di dalam diriku.

Suara koin yang terdistorsi mengguncang kepalaku. Dibakar oleh dorongan putih yang membutakan, aku mencengkeram pergelangan kaki ramping yang sedang menginjak kepalaku, lalu menariknya sekuat tenaga hingga ia jatuh terjungkal.

"Kya!"

Ia pasti lengah. Aku mengangkat kepalan tangan yang kuremas hingga nyaris berdarah ke arah wajah gadis yang jatuh itu. Namun pada saat yang sama, sebuah hantaman keras di punggung melempar tubuhku hingga terbang.

"Guakh...!"

Aku bergulingan dan memuntahkan darah. Saat berusaha bangkit dan menyingkirkan benda yang menghantamku, tanganku menyentuh sosok itu dan aku tersadar.

"Chronica!"

Sosok yang dilempar layaknya peluru meriam dan menghantam punggungku adalah gadis itu sendiri. Chronica meringkuk di atas tanah, terbatuk darah karena cedera serius pada tulang atau organ dalamnya.

"Jangan marah begitu."

"Lagian, sebentar lagi kalian akan mati." 

Ujung jari mereka kini membidik tepat ke arah kami. 

Sambil melindungi Chronica yang tak sanggup bangkit di belakangku, aku menyadari bahwa aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. 

Tiba-tiba, sebuah bayangan menyelinap dan merentangkan tangan di depanku.

"Eh?" "Apa?" "Hah!?"

Anahit berdiri di tengah-tengah antara keterkejutan si kembar dan diriku.

"Tuan Linus, bawa Chronica dan larilah. Aku bisa menjadi tameng peluru setidaknya untuk satu kali tembakan."

"Apa!? Kau gila? Kau bisa mati!"

"Benar. Karena itu, bawalah kenangan akan kematianku dan teruslah melangkah maju."

Anahit tersenyum dengan nada yang seolah tidak peduli, bahkan terkesan sedikit sinis.

"Hentikan... Anahit."

Pluto mendesah seolah merasa bosan dengan drama di depannya, sementara Ulna mendengus dingin dengan wajah tanpa ekspresi.

Lalu, suara petikan jari yang begitu santai—suara yang mampu meledakkan manusia dengan mudahnya—bergema di udara.

"Guakh!" "Gobu!?"

Tiba-tiba, sebuah pukulan keras menghantam kepala Ulna dari samping, membuatnya membentur kepala kakaknya, Pluto, layaknya bola biliar. Si kembar pun terpental bersamaan ke satu arah. Gelombang ledakan yang meleset itu pun lenyap, menghantam tempat yang salah.

Jawaban atas apa yang terjadi baru saja terungkap.

"Pertama, kalian telah menyakiti orang yang kucintai."

Sosok wanita terhormat yang berdiri bersedekap dengan cahaya matahari siang di belakangnya itu sangat kukenal.

"Kedua, kalian telah memperolok kekasihku. Ketiga, dosa karena telah membuat suamiku menangis. Kembalilah menjadi abu dan bertobatlah!"

"Kau..." "Tidak mungkin!"

Tanpa memedulikan si kembar yang mulai bangkit berdiri, wanita berambut pirang itu membungkukkan badannya ke arahku.

"Sudah lama tidak bertemu, ya. Jangan berani-berani bilang dirimu sudah melupakanku."

Ia memungut topi hitamku, membersihkan debu dengan ujung jarinya yang putih, lalu mengembalikannya ke kepalaku dengan lembut. 

Kepalan tangannya yang polos membelah udara, sementara gaun mantel birunya berkibar pelan di tengah panas api yang mulai berkobar dari tubuhnya.

"Lagipula, dirimu belum menepati janji kencan kita."

Itulah momen pertemuanku kembali dengan sang putri bangsawan pengendali api, Patricia Ushkeen.

Bagian 11

"Setelah tersadar, aku mengikuti jejak kaki yang kalian tinggalkan di pantai hingga tiba di Kota Lanston ini. Aku sempat menghabiskan waktu untuk merapikan penampilanku, sehingga reuni kita sedikit tertunda. Namun, sepertinya aku tiba tepat pada waktunya desuwa~."

Sambil membiarkan pita biru barunya berayun, mata zamrud yang berapi-api itu menatap tajam ke arah si kembar.

"...Nah, Bocah Kembar yang kurang ajar di sana. Berani sekali kalian bertindak biadab terhadap pria yang ditakdirkan untukku. Aku tidak akan mendengarkan pembelaan apa pun. Vonisnya adalah hukuman mati; tingkat kematangannya, well-done."

"Kakak, jangan-jangan wanita ini otaknya sudah tidak beres, ya?"

"Aku setuju, Adikku! Baiklah, ayo kita habisi! Pengkhianat tidak boleh dibiarkan hidup!"

"...Rasanya aku tidak pernah punya loyalitas pada Ordo Ksatria hingga pantas disebut pengkhianat. Ah, sudahlah, itu tidak penting. Ayo, cepatlah maju ke sini," tantang Patricia sambil memberi isyarat tangan yang memprovokasi.

Di belakang punggungnya, kami bertiga berlindung.

"Siapakah wanita itu? Apakah dia kenalan Tuan Linus?" 

"Ya... begitulah," jawabku setengah hati sambil memeriksa kondisi Chronica.

"Aku baik-baik saja, hanya sedikit patah tulang rusuk... ini bakal segera sembuh, jadi jangan pasang wajah seperti itu."

Tepat saat aku hendak menyangkal bahwa lukanya bukan hanya itu, ia menusuk pipiku pelan dengan jarinya. 

Senyuman berlumur darah yang ia paksakan demi menenangkanku itu membuat dadaku terasa sesak.

Tanpa sadar, aku menitipkan suaraku yang serak pada punggung wanita di hadapanku.

"Patty."

"Ya, ada apa desuwa~?"

"……Tolong. Habisi mereka."

Ia menoleh, menatapku dan Chronica bergantian, lalu tersenyum dengan sedikit rasa iri.

"Baik, keinginanmu adalah perintah bagiku."

Kemudian, sebuah serangan balasan sempurna meledak. Pukulan punggung tangan dan tendangan memutar yang diselimuti kobaran api menghantam telak wajah si kembar yang mencoba menyergap dari belakang.

"Gakh!" "Gufh!"

"Apa kalian pikir kemampuan rendahan seperti itu bisa memanfaatkan celah di hadapanku?"

Bagaikan kobaran api yang kian memuncak, ia melesat mengejar si kembar yang baru saja terpental.

Noble Cross, bela diri istana. Tarian yang telah mencapai tingkat master itu menggerakkan anggota tubuh dengan keanggunan angsa yang berjalan di atas air, sekaligus menyimpan amukan panas layaknya gunung berapi aktif tanpa ada kontradiksi di dalamnya.

"Sial, jangan meremehkan kami!" "Bagaimanapun, kami ini bertarung berdua!"

Sang kakak dan adik saling berpegangan tangan di udara, dengan cepat memutar posisi tubuh mereka, lalu mendarat dengan mantap. 

Kemudian mereka bergerak memutar, mengepung Patricia dari kiri dan kanan, lalu menyerang secara bersamaan. Namun...

"Ringan."

Tinju Pluto yang diselimuti gelombang panas ditepis dengan mudah oleh sentakan tangan Patricia yang terlihat seperti tamparan santai.

"Lambat."

Tendangan Ulna yang membelah angin meleset sepenuhnya, seolah-olah arah gerakannya sudah terbaca sejak awal.

"Dan yang paling penting, kalian lemah desuwa~... Sungguh, kepalaku sampai sakit. Bagaimana bisa dengan kemampuan seadanya ini..."

Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan tanpa henti dari kedua sisinya—mungkin mencapai belasan serangan dalam hitungan detik—dapat ditangkis dan dialirkan oleh Patricia dengan sangat mudah. Pemandangan itu mempertegas jurang kemampuan yang sangat jauh di antara mereka.

Dan ketika pihak yang bertahan jauh lebih unggul, serangan balasan adalah hal yang pasti akan terjadi.

"Apa kalian benar-benar berpikir bisa menang melawanku?"

Seketika, persendian pada bahu, siku, pinggang, lutut, hingga pergelangan tangan dan kaki Patricia menyemburkan api. Ledakan panas yang terkendali itu memberikan dorongan kecepatan yang luar biasa pada gerakan bela diri superusianya.

"Apa!?" "Gofuh!"

Ujung kaki Patricia menghantam perut Pluto, disusul sebuah upper-cut yang telak menghajar wajah Ulna ke atas. Dimulai dari situ, rentetan tinju dan tendangan yang digerakkan oleh semburan api itu mengabaikan jumlah musuh, menghajar mereka habis-habisan menembus pertahanan dan upaya menghindar mereka.

"Gakh, hah...!" "Gukh, fuh...!"

Sang kakak dan adik memuntahkan darah, lalu jatuh bertumpu pada kedua lutut mereka. Tanah di bawah kaki mereka mulai beriak, seolah-olah sedang mendidih.

"Patty! Di bawahmu!"

"Oh?"

"Sudah... terlambat!" "Matilah kau!"

Teriakanku tetap saja terlambat. Gelombang konduksi panas tinggi yang mampu mendidihkan makhluk hidup mana pun merambat melalui dasar sepatu dan mengalir masuk ke tubuh Patricia.

“"〈Halo Ring〉: Radiasi Amplitudo!!"”

Tanah meledak hebat, seolah hendak melenyapkan wanita yang berdiri di atasnya. Gelombang panas dan embusan ledakan menampar pipiku seakan sedang mengejek. 

Namun, ternyata kekhawatiran itu hanyalah kecemasan yang sia-sia.

"Kemampuan perambatan panas yang didefinisikan sebagai gelombang, ya? Benar-benar menyebalkan desuwa~. Beraninya kecoak dengan faktor darah rendah, apalagi cuma level bawahan dibanding kekuatanku, bersikap sesongong ini di hadapanku."

Patricia tetap berdiri dengan tenang, merapikan rambutnya tanpa luka sedikit pun.

"Karena itulah, saatnya hukuman. 〈White Flare〉: Perluasan Zona Panas."

Dalam sekejap, tinjunya yang telah mencengkeram kerah baju si kembar memancarkan energi panas yang destruktif.

Lalu, ledakan api raksasa pun tercipta. Aliran energi panas yang meluap layaknya air bah itu memiliki daya hancur yang jauh melampaui gelombang milik si kembar. Kekuatan itu menelan tubuh mereka, melelehkan dan mengeruk dermaga serta tanggul, hingga melesat menembus permukaan laut siang itu dengan cahaya yang menyilaukan.

Setelah itu, dengan senyum paling manis, ia menoleh padaku dan berujar:

"Sudah beres! Nah, sekarang, tolong puji lah Patty-mu ini!"

Bagian 12

Beberapa saat kemudian, aku dan Chronica menjelaskan situasi kami saat ini kepada wanita yang baru saja bertemu kembali dengan kami itu.

"Begitu ya, aku paham... Jadi kalian berdua akan melarikan diri ke seberang lautan. Kalau begitu, aku akan ikut bersama kalian!"

Keputusannya terlalu cepat. Yah, dia memang sangat bisa diandalkan sebagai kekuatan tempur dan kehadirannya membesarkan hati, tapi tetap saja.

"Patty, apa kau tidak apa-apa dengan keluargamu dan hal lainnya? Kau mungkin tidak akan bisa pulang lagi, lho."

"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula, sejak awal aku memang kabur dari rumah dan tidak berniat kembali. Selain itu, aku tidak mungkin membiarkan calon suamiku pergi melakukan perjalanan tanpa tiket pulang sendirian."

"...Begitu ya. Baiklah, kalau kau sudah mengerti risikonya, lakukan sesukamu."

Aku memutuskan untuk tidak mempedulikan hubungan yang berkembang secara sepihak di dalam kepalanya itu. 

Paling tidak, aku hanya perlu menjaga suasana hatinya agar tidak dibakar hidup-hidup, sambil mengandalkan kekuatannya.

"Anu, salam kenal."

Seolah menunggu jeda dalam percakapan kami, Anahit menyapa Patricia dengan sopan. Patricia segera menanggapi dengan bahasa Kekaisaran yang sebelumnya telah diajarkan oleh Chronica.

"Ya, salam kenal desuwa~, Bangsawan dari negeri asing. Keberanian yang engkau tunjukkan tadi sangat luar biasa untuk ukuran seorang manusia. Mohon maaf atas keterlambatan saya memperkenalkan diri, nama saya Patricia Ushkeen. Salah satu dari empat keluarga adipati agung di wilayah Selatan, sekarang hanya seorang gadis yang kabur dari rumah, namun di masa depan berencana menjadi istri Linus. Mohon bantuannya."

"Ah, begitu rupanya. ——Anu, Tuan Linus. Walau aku tahu ada perbedaan budaya, tapi memiliki banyak kekasih dalam waktu bersamaan itu bukan hal yang patut dipuji, lho."

"Bukan, ini salah paham!"

Tepat setelah aku mengatakannya, suara ringkikan kuda dan derap kuku yang berhenti terdengar dari samping kami.

Saat aku menoleh, terlihat Rostam sedang turun dari pelana sambil memegangi pinggangnya.

"Fuih... Syukurlah, kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup. Sepertinya Yang Mulia Miko juga aman, aku jadi lega."

Rostam, dengan pedang yang masih tersampir, mengangkat sebelah tangannya ke arah kami sambil menggerutu.

"Kau... jangan-jangan, kau berhasil mengalahkan orang itu?"

"Aduh, itu sih kau terlalu menilaiku tinggi. Karena situasinya mulai gawat, aku memutuskan buat menyelesaikannya seadanya lalu kabur. Aduh, duh... otot-ototku sakit semua, sudah lama sekali aku tidak bergerak sebanyak ini."

"Ngomong-ngomong, siapa wanita cantik di sana itu?"

Aku pun menjelaskan situasi singkatnya kepada Rostam. Setelah selesai mendengarkan, pria paruh baya itu menatap Patricia lekat-lekat, lalu berkata padaku:

"Ho, begitu ya. Walau aku tahu ada perbedaan budaya, tapi harus kukatakan kau benar-benar pria brengsek, Linus."

"Sudah kubilang ini cuma salah paham!"

"...Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Anahit menjawab Kronika yang terdengar agak kesal dan terkejut.

"Begitu ya... Rostam, pembunuh yang bertarung denganmu itu masih ada di sekitar sini, kan?"

"Sepertinya begitu. Meski kehilangan sebelah lengan dia masih terlihat segar, jadi dia pasti belum menyerah. Yang jelas, sebaiknya kita segera bergerak secepat mungkin."

Anahit mengangguk pelan.

"Kalau begitu, mari kita bergerak sesuai rencana awal. Chronica, Tuan Linus. Memang tidak ada waktu lagi untuk bersiap-siap, tapi—mari kita berangkat."

Proses penyediaan kapal pengganti berlangsung sangat cepat. Dengan otoritasnya, Anahit menyewa sebuah kapal dagang berbendera Kekaisaran yang sedang berlabuh di pelabuhan, lengkap dengan seluruh awak kapalnya.

Sang kapten kapal, yang pekerjaannya memuat kargo terpaksa dihentikan secara sepihak, sama sekali tidak menunjukkan wajah kesal setelah Anahit menjelaskan situasinya. Ia justru merasa terhormat dan segera memerintahkan anak buahnya untuk melepas tali tambat.

"Ternyata gelar pajangan ini cukup berguna juga ya." komentar Anahit pelan.

Selama persiapan keberangkatan, tidak ada serangan baru yang muncul. Kali ini, kapal yang kami tumpangi benar-benar meninggalkan daratan tanpa hambatan, perlahan bergerak menuju laut lepas.

Bangunan berwarna-warni di Lanston perlahan mengecil hingga seukuran biji sawi. Tubuhku kini menjauh tanpa bisa dicegah dari daratan Republik—tempatku dilahirkan. Aku tidak pernah menyangka akan merasakan rindu pada tanah air, namun sensasi aneh itu benar-benar ada.

Bahkan setelah daratan menghilang sepenuhnya, aku masih terpaku di geladak, menatap ke arah tempat asalku yang kini lenyap.

Selama itu, Patricia terus menempel padaku hingga terasa menyebalkan, jadi aku mengusirnya dengan alasan asal-asalan seperti "angin laut tidak baik untuk rambutmu". Sosok Anahit dan Rostam tidak terlihat, mungkin mereka sedang beristirahat di kabin.

Begitu sendirian, aku tidak bisa menahan diri untuk memikirkan masa depan.

Di akhir perjalanan bersama Chronica ini, akankah datang hari di mana semuanya terselesaikan?

Tentang Ordo Ksatria, tentang kenyataan bahwa gadis itu adalah "Sel Kanker" sang Raja, juga tentang ingatannya yang tak bisa tertahan karenanya.

Aku mencoba membayangkan senyum Chronica yang telah terbebas sepenuhnya dari beban itu.

Bayangan di mana gadis itu menerima kebahagiaan yang dulu ingin kuhadiahkan kepada kakakku, tanpa ada satu pun masalah. Seharusnya itulah yang menjadi keinginanku saat ini.

Tapi benar-benar, entah mengapa, setiap kali memikirkan hal itu, suara koin bergema di kepalaku.

Telingaku berdenging hebat, dadaku sesak. Kepalaku terasa sakit.

Untuk mengalihkan perhatian, aku membetulkan posisi topi dan menyelipkan rokok di bibir. 

Tepat saat itulah, Chronica sudah berada di sampingku.

"...Linus. Apa luka-lukamu tidak apa-apa?"

Chronica mendongak menatapku dan bertanya.

Bahuku yang terkena hantaman tumit Ulna masih terasa sakit sekarang. Namun, setidaknya lenganku masih bisa digerakkan.

"Aku baik-baik saja. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau tubuhku bukan lagi manusia biasa? Kau sendiri, tulang rusukmu patah, kan?"

"Sudah sembuh." 

"Begitu ya..."

Di bahu Chronica, tas kecil itu sudah tidak ada. Begitu pula dengan buku harian yang tersimpan di dalamnya.

Keheningan menyelimuti kami sejenak. Gadis yang membuka mata kirinya itu kemudian bergumam pelan.

"Kalau soal aku, tidak apa-apa kok."

Chronica perlahan bersandar di dadaku. Lalu, dengan jarak yang begitu dekat hingga wajah kami hampir bersentuhan, mata amethyst-nya menatapku lekat-lekat. Di dalam netra itu, pemandangan yang pernah kulihat dan waktu yang telah kami lalui bersama tampak berputar membentuk pusaran kecil.

"Meski ingatanku terus terkikis, meski kata-kata yang kutulis telah hangus dan lenyap... selama kau terus mengingatnya, aku pasti bisa memanggilnya kembali kapan saja."

Entah berapa lama kami saling menatap dalam diam setelah ia mengucapkan itu.

"Karena itu, jadi... anu, Linus..."

Chronica membuka mulutnya. Sebagai ganti kata-kata yang nyaris menghilang, tatapannya menyampaikan kelanjutan kalimat itu.

Tetaplah di sisiku, selamanya.

Tepat pada saat batinku mendengar perasaan tak bersuara itu, suara koin kembali berdenging di dalam kepalaku—kali ini begitu keras, seolah aku baru saja dipukul dengan telak.

Aku tersentak hendak mengatakan sesuatu, namun rasa sesak di dada menyumbat tenggorokanku. 

Rasa sakit yang teramat sangat itu memaksa lututku lemas hingga terjatuh, dan topi hitamku terlepas dari kepala.

"!? Linus! Tunggu, kau kenapa tiba-tiba—ah."

Hentikan. Jangan lihat aku. Bahkan untuk mengucapkan itu pun aku tak mampu, sementara mata amethyst itu terus menatapku lekat.

Denging koin itu mendistorsi pandanganku. Wajah kakakku tumpang tindih dengan wajah gadis ini.

Sejak topeng penipuku dikelupas paksa di pantai senja itu hingga sekarang, aku selalu pura-pura tidak melihat rasa sakit ini. Aku berpura-pura tidak menyadarinya. Namun, sekarang aku sudah mencapai batasnya.

Perih. Sesak.

Setiap kali melihat senyum Chronica, setiap kali aku menyadari keberadaannya di sisiku, rasa kehilangan yang tak terbendung menusuk dadaku, dan suara itu terus menghakimiku di dalam kepala.

—Aku bisa melihat kamar itu, ruangan yang hanya menyisakan sepucuk surat dan botol kaca. —Aku bisa merasakan kembali dinginnya tanah yang mengubur kakakku saat aku bersimpuh di sana.

Mata kiri gadis yang merampas topeng pertamaku ini, setiap kali kami beradu pandang, selalu memantulkan masa lalu yang tak tertahankan dengan begitu nyata. Tidak, akulah yang memaksakan diri untuk melihatnya di sana.

...Hentikan. Jangan berpikir lebih jauh lagi. Jangan biarkan gadis ini melihat isi hatiku yang sebenarnya.

Meskipun aku mendoakan kebahagiaan Chronica dan ingin berusaha demi hal itu, di saat yang sama...

"Hentikan...!"

Tanganku yang menutupi wajah dan mata sudah terlambat. Segalanya kini menjadi sia-sia.

Tak bisa dicegah, setiap kali aku bersamanya, aku selalu teringat akan Kakak.

Bagi aku, hal itu terasa lebih pedih, lebih sesak, dan lebih menyakitkan daripada apa pun. Tak ada cara untuk membendungnya.

Dan akhirnya...

Mata kiri amethyst yang telah menembus inti kelemahan sang penipu itu mulai mengabur oleh air mata.

"……Maafkan aku."

Chronica menarik dirinya menjauh dari dadaku seolah-olah ia baru saja melakukan kesalahan besar. Bahu kecilnya gemetar, persis seperti seseorang yang tangannya ditepis saat sedang memohon pertolongan.

"Benar-benar, maafkan aku. Kalau dipikir-pikir, seharusnya aku sudah cukup bersyukur hanya karena kau mau menemaniku dalam perjalanan ini. ……Lupakan saja yang tadi."

Aku bahkan tidak tahu harus berpura-pura seperti apa kepada Chronica yang kini menjaga jarak dariku.

"Ah, ternyata kalian berdua ada di sini. Apa aku baru saja mengganggu adegan ciuman kalian?"

Anahit yang baru saja muncul di geladak menyapa kami.

Tanpa tenaga sedikit pun untuk menyangkalnya, aku hanya berujar pelan.

"……Kau sudah banyak membantu kami. Aku tahu aku sudah sangat merepotkanmu, tapi terimalah kenyataan itu."

Aku tersadar bahwa tanpa sadar topeng dan bahasa formalku telah runtuh, namun saat aku hendak buru-buru memperbaikinya...

"Jangan dipikirkan. Tidak apa-apa bicara dengan sikap dan bahasa aslimu. Aku sedikit terkejut karena ternyata situasi kalian berdua jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Tapi bagaimanapun juga, menolong kalian adalah keinginanku sendiri, jadi tidak perlu berterima kasih."

Anahit memegang pagar pembatas geladak dan bergumam.

"……Aku memang suka menolong orang. Karena hanya saat mencampuri urusan orang lainlah, aku bisa memalingkan pandanganku dari masalahku sendiri."

—Tepat pada saat itulah.

Di depan haluan kapal yang menghadap samudera luas, permukaan laut yang berwarna biru tua tiba-tiba membubung tinggi seperti gunung.

Lalu, sebuah gelombang raksasa menerjang ke arah kami.

Bagian 13

Semua orang terdiam saat melihatnya. 

Muncul dari balik laut dan menghalangi jalan kami, sebuah kapal kayu raksasa yang menyerupai raksasa purba. 

Di anjungan kapal yang memercikkan air layaknya air terjun, berdirilah sang kakak dan adik kembar itu.

"Beraninya kalian melakukan itu pada kami! Dasar penipu, Sel Kanker, dan pengkhianat! Tapi tidak apa-apa. Lihatlah baik-baik! Inilah keagungan agung yang dibangun sendiri oleh sang Pilar Pertama, Bangsawan Orisinal yang memimpin Ordo Ksatria kita." 

"Persiapan tembakan serentak selesai, Kakak. Tembak." 

"Eh, ucapanku belum selesai..."

Sesaat setelah suara Pluto dan Ulna bergema di sela gemuruh air yang menetes dari massa raksasa di depan mata kami, kapal perang kayu itu—entah bagaimana caranya—mulai bertransformasi. 

Ratusan moncong meriam besi hitam menyembul keluar, mengarahkan moncongnya secara serempak ke arah kami.

"Sial! Bercandanya keterlaluan!"

Aku segera melindungi kedua gadis di sampingku, menarik mereka untuk tiarap di atas geladak. 

Tepat pada saat itu, benturan dari peluru yang menghantam kapal melemparkan tubuh kami ke udara.

Aku terguling akibat guncangan dahsyat hingga punggungku menghantam pangkal tiang utama. Sambil menahan telinga yang berdenging hebat, aku berusaha membuka mata. Pemandangan di depanku mengerikan; lambung kapal kami telah hancur tertembus, kini mulai miring dan tenggelam dengan cepat ke dasar laut.

"Uhuk... Li-nus, Ana... kalian masih hidup?" 

"Yah, begitulah."

"Apa... apa yang sebenarnya terjadi?"

Kedua gadis yang kupeluk sepertinya tidak mengalami luka parah, namun Anahit terlihat sangat kebingungan. Wajar saja, aku pun merasakan hal yang sama.

Suara Pluto dan Ulna kembali menggema.

"Biar kuberitahu. Menurutmu, kenapa kami membiarkan kalian menuju laut tanpa pencegahan berarti?"

"Karena itu sia-sia. Hanya membuang tenaga. Garis cakrawala ini adalah akhir dari segalanya."

"Sebab..."

"Di laut ini terdapat salah satu markas bergerak milik Ordo Ksatria..."

"Caesar's Cradle, Sang Buaian Sang Juara. Inilah alasan kenapa selama ini kami bisa beraksi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di daratan. Penampilan perdana, sedang berlayar di depan mata. Menyesal pun sudah terlambat."

Alasan di balik rentetan serangan yang terasa seperti sudah direncanakan itu akhirnya terhubung dengan kemustahilan di hadapanku. 

Seketika, moncong meriam yang bergerak secara tidak masuk akal itu kembali mengarah ke kami.

"Semuanya hanyalah pertunjukan boneka yang sesuai dengan naskah. Terima kasih atas kerja kerasmu, Sel Kanker. Sekarang, selamat tinggal."

"Setelah semuanya hancur berkeping-keping, kami akan memungut sisa-sisa tubuhmu ke dalam keranjang."

Aku merasakan Anahit menahan napas. 

Meski tidak bisa melihat, dia pasti merasakannya: sebuah aura luar biasa yang sanggup meniup habis nyawa kami semudah mematikan lilin.

"〈White Flare〉!! Perluasan Zona Panas!"

Dinding api meledak ke atas, menangkis serangan meriam susulan itu. Di atas geladak yang perlahan mulai karam, sosok yang membawa hawa panas membara itu mendarat dengan mantap.

"Patty! Kau selamat?"

"Tentu saja, aku tidak berniat menjadikanmu seorang duda. Namun, menghadapi produk hasil Faktor Orisinal milik Bangsawan Orisinal di saat seperti ini sungguh merepotkan. Walau begitu..."

Sambil menghela napas, tangan apinya memotong tiang utama yang sudah miring. 

Gemuruh keras dan percikan air menyusul. Berkurangnya beban secara drastis membuat kecepatan tenggelamnya kapal melambat secara nyata.

"Karena terbuat dari kayu, kapal ini adalah sasaran empuk bagiku. Akan kujadikan kalian abu di perapian."

Hawa panas yang menari-nari menjatuhkan peluru-peluru meriam bagaikan cambuk. Sang wanita bangsawan, dengan daya dorong yang meledak dari punggung dan telapak kakinya, melesat menerjang lambung kapal yang sebesar bukit itu.

Tentu saja, yang ia hantamkan adalah tinjunya.

Tinju yang memutih saking panasnya hingga menyebarkan fatamorgana di udara, dibawa oleh langkah kaki yang meledakkan atmosfer sebagai pijakan, lalu meledak menghujam haluan kapal yang sudah di depan mata.

Tinju yang menembus zirah kayu itu melepaskan panas yang terpendam. Bagaikan embusan napas pengrajin pada kaca yang membara, energi panas dalam jumlah besar itu membuat Cradle menggembung, seolah hendak meledak dari dalam—atau begitulah kelihatannya. Namun...

"Apa!? Perasaan ini—jangan-jangan, Fungsi Rekonstruksi (Regenerate)!?"

"Bodoh! Mana mungkin bangsawan biasa sepertimu bisa menghancurkan Cradle ini!"

Sebelum bentuknya hancur, kapal itu berderit kencang; pembuluh darah merah kehitaman muncul di permukaannya. 

Kapal itu memungut kembali serpihan yang berhamburan, bahkan "menggigit" kapal kami yang sedang tenggelam untuk memulihkan struktur tubuhnya sendiri.

Dan meriam serangan balik memuntahkan api dengan kecepatan pengisian peluru yang mustahil dilakukan oleh tenaga manusia.

"Cih!"

Penghalang panas Patricia menahan peluru-peluru itu. Namun karena serangan yang bertubi-tubi—pijakan kami sudah tidak sanggup lagi menahan beban. Tubuh kami sudah mulai tenggelam ke dalam laut hingga setinggi pinggang.

"Tuan Linus, jika begini terus, kita akan mati tenggelam ya." 

"Aku tahu. Pokoknya pegangan pada tiang kapal! Anahit! Chronica, kau juga cepat—"

Tepat saat aku berteriak begitu.

Laut, sekali lagi, membubung tinggi.

Bagian 14

"Ada sesuatu—yang datang!!"

Dalam sekejap, Patricia merengkuh kami bertiga dan meledakkan permukaan laut di bawah kakinya sebagai pijakan.

Kami melesat tinggi ke langit senja. Dari sudut pandang burung, aku melihat garis cakrawala biru tua yang begitu indah namun terasa mengerikan karena tidak pada tempatnya. Detik berikutnya, gravitasi mulai bekerja, menarik kami jatuh kembali dan membuat pandanganku berputar.

Lalu, di antara celah langit dan laut yang terbalik, kami melihatnya.

Sebuah bongkahan baja raksasa kelas Super-Dreadnought, yang ukurannya bahkan dua kali lipat lebih besar dari Cradle

Benda itu muncul dari bawah laut, menyembul ke permukaan dengan megahnya.

Seolah untuk mengatasi tekanan air, tepat sebelum Patricia mendarat di atasnya, bagian kulit luar yang berbentuk silinder terbuka, memperlihatkan geladak baru di bawahnya tempat kami akhirnya menapakkan kaki.

"Ternyata, mereka memang sudah berada di dekat sini. ……Sepertinya aku belum sempat mengatakannya ya." 

Anahit berkata dengan nada datar yang menenangkan di tengah kekacauan.

"Kapal uap yang seharusnya kita naiki sebelumnya hanyalah kapal penghubung untuk transit di tengah laut. Karena terlalu besar untuk bersandar di pelabuhan biasa, kapal perang inilah tujuan utama yang sebenarnya datang untuk menjemput kita."

"Benda apa ini... Apakah ini benar-benar sebuah kapal?" 

"Ya," Anahit mengangguk. "Ini adalah kekuatan pemukul laut terbesar yang dimiliki oleh Kekaisaran Uap Elbion……"

"Tepat sekali! Satu dari hanya empat kapal perang uap kelas super di dunia, Kapal Ketiga: GANDHARVA!"

Berdiri di atas geladak yang basah oleh air laut adalah seorang pria raksasa berjanggut yang sedang mengisap pipa tembakau. 

Tubuhnya yang besar, bagaikan beruang yang dipakaikan seragam militer, berdiri kokoh seolah kakinya berakar pada baja geladak. Sosoknya saja sudah menunjukkan bahwa dialah sang menara komando di sini.

"—Mumu! Aku naik ke atas karena merasa permukaan laut sangat berisik, dan ternyata—selamat datang! Duta Besar Berkuasa Penuh sekaligus Miko yang Bijaksana dan Istri Presiden, Yang Mulia Anahitu! Aku, Kapten Gandharva sekaligus Kepala Divisi Militer Kedua dari Perusahaan Angkatan Laut Kekaisaran Elbion, Barbarossa Ardim, datang menjemput Anda!"

Dan di atas segalanya, suaranya sangat menggelegar.

"Mumu! Istri Presiden! Pakaian Anda basah kuyup! Hei! Seseorang, cepat bawakan handuk paling mewah dan pakaian ganti yang rapi sekarang juga! Jangan lupa untuk rekan-rekan beliau—eh, tunggu sebentar! Kenapa ada bangsa rendah dari Republik di samping Istri Presiden? Jangan-jangan, kalian penyusup!"

Pria raksasa bernama Barbarossa itu dengan cepat menghunus pistolnya. Sepertinya dia tipe orang aneh yang sangat merepotkan. Karena aku sudah merasa lelah dengan segala kegilaan ini, aku hanya menepuk bahu Anahit, menyerahkan urusan padanya.

"……Kepala Divisi Barbarossa, aku tidak akan memaafkan ketidaksopanan terhadap mereka. Mereka adalah temanku." 

"Oh, mohon maaf sebesar-besarnya, hadirin sekalian! Kalau begitu, sembari berganti pakaian, bagaimana kalau mandi sekalian? Kapal perang kami dilengkapi dengan fasilitas pancuran air panas. Kopi hangat juga akan segera kami siapkan!"

"Hei, cepat sekali kau berubah sikap!"

"……Sepertinya orang ini merasa bahwa menjilat secara terang-terangan dan ksatria adalah rahasia kesuksesan karirnya."

"Terserahlah, aku sudah tidak peduli. Aku hanya ingin mandi air panas sekarang ~desuwa."

Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam dari bawah, mengguncang pijakan kami. Aku refleks menyambar tangan Chronica agar ia tidak jatuh. 

Saat aku melongok dari tepi geladak ke arah laut, Cradle yang ditumpangi si kembar ternyata telah mengarahkan moncong meriamnya ke arah kami.

"Beraninya kalian mengejutkan kami! Dasar tumpukan besi tua!"

"Akan kami hancur leburkan kalian sampai jadi lumut laut!"

Barbarossa melangkah santai ke sampingku dengan bunyi sepatu bot yang berdentum. Ia memiringkan kepalanya secara berlebihan seolah sedang bertanya-tanya.

"Oya…… benda apa itu? Sampah besar yang bentuknya sangat mirip kapal itu?"

Anahit menjawab dengan nada datar.

"Itu adalah teroris dari dalam Republik. Kami sedang dikejar karena berbagai alasan, bisa kau tangani ini, Kepala Divisi Barbarossa?"

"Siap laksanakan, Yang Mulia!! Tolong sampaikan salam hormatku pada Tuan Presiden!"

Barbarossa menarik napas dalam.

"──Target: rongsokan kapal karam di depan! Meriam Uap Tekanan Super, Crank On! Koreksi ketinggian lambung kapal!"

Suaranya yang menggelegar layaknya terompet perang merambat ke anak buahnya, lalu melalui pipa suara, mungkin menyebar ke seluruh bagian dalam kapal dengan kecepatan tinggi.

Seketika, raksasa baja tempat kami berdiri mengerang hebat. Di atas geladak, ada sesuatu yang begitu besar hingga awalnya aku tidak menyadari bahwa itu adalah meriam—ukurannya seperti menara jam kota yang ditidangkan secara horizontal. 

Meriam itu berputar, menyedot air laut di sekitarnya dengan suara menderu, sementara seluruh tubuh kapal perlahan mulai turun lebih dalam ke permukaan air.

Berada di tengah-tengah pergerakan massa yang belum pernah kualami sebelumnya membuat organ dalamku terasa mual. Aku merasa keberadaanku begitu kerdil, seolah semua ini terjadi di luar nalar manusia.

"TEMBAAAAK!"

"Ah, kalian bertiga, tolong tutup telinga dan merunduk ya." pinta Anahit tenang.

Sesuai instruksinya, aku menutup telinga dan merunduk. Detik berikutnya, atmosfer dan pandanganku seolah meledak.

Uap tebal dan gelombang panas mengamuk di atas geladak. Tulang-tulang di lenganku yang menekan telinga bergetar hebat. 

Saat semua kekacauan itu mereda dan pandanganku kembali terbuka, apa yang terlihat di depan sana adalah...

"Eh?" "Hah?" "Bo... bohong kan...?"

Satu tembakan meriam raksasa. Lebih dari separuh volume Cradle lenyap tak berbekas dalam sekejap.

"Hahaha! Merasalah terhormat! Kapal kayu ketinggalan zaman seperti itu bisa mencicipi langsung Meriam Utama Uap Kompresi Super 7.000 marl kaliber 33 milik Gandharva—daya gempur laut terkuat di dunia! Dan karena perusahaan kami sangat dermawan... tentu saja, kalian boleh tambah satu porsi lagi!"

Sekali lagi, meriam raksasa itu mengerang dan melepaskan tembakannya. Kami kembali menutup telinga rapat-rapat.

Tembakan kedua. Cradle yang sedang dalam proses regenerasi hancur berkeping-keping menjadi debu.

Lalu, semuanya berakhir. Permukaan laut yang sebelumnya mengamuk perlahan-lahan kembali tenang.

"Fumu. Masalah sudah beres. Kalau begitu, Yang Mulia Istri Presiden dan para tamu sekalian, silakan masuk ke dalam kapal. Kami akan menyambut Anda dengan sepenuh hati! Hah-hah-hah-hah!"

Diiringi gelak tawa Barbarossa yang membahana, aku dan Chronica hanya bisa berdiri terpaku, menatap permukaan laut tempat si kembar tenggelam bersama kapal raksasanya.

"Hei, menurutmu... apa mereka akan menyerah setelah ini?"

"Tidak. Alangkah baiknya jika mereka adalah tipe orang yang menyerah hanya karena hal semacam ini," gumam Chronica. "Tapi untuk sekarang, mari kita rayakan keberhasilan kita untuk tetap hidup dengan perasaan positif."

"……Kau benar."

Tepat saat itu, Anahit angkat bicara.

"Ngomong-ngomong, di mana Rostam?"

Kami berempat saling berpandangan.

"……Oooiii! Seseorang, bisakah kalian menolongku di siniiii…!?"

Kisah tentang bagaimana Rostam yang terapung-apung di laut akhirnya diselamatkan adalah cerita untuk lain waktu.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar