Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo Jilid 2 Bab 3

Bab 3 Masquerada Confidence ini, menceritakan kisah masa lampau dari seorang pria yang telah kehilangan hal yang berharga.

Bab 3: Rusty Blade

Bagian 1

Mari kita bicara tentang sesuatu yang mustahil.

Kisah tentang pedang yang mampu menebas peluru.

Sejak senapan pertama kali muncul di dunia ini, entah sudah berapa banyak orang yang mempermainkan pertanyaan tersebut.

Bisakah pedang menang melawan senapan?

Seorang ahli mungkin bisa melakukannya jika jaraknya sudah dekat, atau mungkin jika... ya, setelah memperdebatkan berbagai teori kosong dengan segala macam kondisi, pada akhirnya setiap orang akan kembali pada akal sehat yang umum.

Mana mungkin bisa menang.

Namun dahulu kala, pernah ada orang-orang yang menebas habis jalan keluar menuju "akal sehat" tersebut.

 

——Dua puluh tahun yang lalu, Kekaisaran Uap, Ibu Kota Kekaisaran Ronmascus.

Bertempat di Taman Wisata Peringatan Kaisar, sebuah hutan buatan yang dibangun di tengah kota demi pemurnian udara.

Di salah satu sudut taman yang dibuka terbatas untuk latihan para pengawal, di bawah rimbunnya pepohonan yang lebat,

Seorang pria bertelanjang dada tengah berhadapan dengan beberapa prajurit bersenjata lengkap.

"Baiklah, kapan pun kalian siap."

Pria itu berbicara dengan santai. Para prajurit pun tidak menunjukkan ketegangan sedikit pun; seolah-olah ini hanyalah rutinitas biasa bagi mereka. Mereka kemudian membidikkan senapan laras panjang sekali tembak (single-shot rifle) ke arah pria itu.

Pria itu tidak bertangan kosong. Ia membalas dengan menggenggam sebuah scimitar—pedang lengkung bermata satu—dalam kuda-kuda yang rileks.

 

Hanya untuk sesaat, kelesuan pagi hari yang masih menyisakan sisa-sisa kantuk, serta kicauan burung dari pucuk pohon yang basah oleh embun, seketika membeku dalam keheningan yang mencekam.

Suara tembakan beruntun bergema. Dan sebelum asap mesiu putih sempat membubung ke langit...

Suara dentingan logam yang terdengar ritmis telah membelokkan peluru-peluru tersebut.

Liku pedang yang mengalir bak air itu selaras dengan prinsip aliran sungai.

Bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan menempelkan mata bilahnya pada kekuatan lawan, mengikuti arusnya, lalu membelahnya—atau mengalihkannya.

Itulah dasar sekaligus inti dari Ilmu Pedang Aliran Uol-Kalshia (Faksi Pengawal Tradisional), dan begitulah pemandangan latihan harian mereka.

Mereka adalah para pendekar pedang era usang, sisa-sisa dari kejayaan masa lalu yang dipaksa mati-matian menjaga martabat sebagai pengawal jarak dekat terkuat pelindung Kaisar—sebuah tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun.

"Baiklah, kurasa cukup sampai di sini untuk hari ini. Silakan lanjut berlatih sendiri-sendiri. Bubar!"

"Siap!!"

Sambil memandangi para bawahannya yang mundur dengan penuh semangat, pria itu—Saal Haft—berbalik menoleh ke arah sebuah kehadiran yang mendekat dari belakang.

"Selamat atas kerja kerasmu. Kau sangat bersemangat hari ini, Saal."

"Selamat pagi, Mishura... Aduh, kau ini."

"? Ada apa?"

Di sana berdiri seorang wanita berpakaian serba putih dengan Kusteig—Tali Suci Putih—yang berayun di pinggangnya. Ia telah melepas tudungnya, membiarkan rambut perak panjangnya berkilau ditembus cahaya matahari yang menyelinap di sela dedaunan pagi.

Namanya adalah Mishura Fuwarati.

Kepada teman masa kecilnya yang bekerja sebagai Miko di kuil itu, Saal mengeluh pelan.

"Sudah berkali-kali kubilang, apa tidak apa-apa? Seorang Miko memperlihatkan rambutnya di depan orang lain."

"Habisnya, rasanya sesak. Lagipula, kalau di sini, tidak akan ada yang melihat selain kalian..."

Sambil memainkan ujung rambut dan kata-katanya secara bersamaan, Mishura mengibaskan rambutnya yang tertiup semilir angin.

Aroma mawar yang samar tercium melewati hidung Saal.

"Daripada itu, ini. Tolong pegangkan sebentar. Aku mau menyeduh kopi."

Keranjang rotan yang ia sodorkan berisi sarapan untuk tiga orang.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dengan terburu-buru.

"Ha—hah... a-aku ketiduran...!!"

Seorang pemuda berkacamata dengan rambut hitam yang sedikit berantakan meluncur masuk ke hadapan mereka berdua seolah-olah baru saja melakukan sprint.

"……Bukannya jam kantormu baru satu jam lagi? Lagipula dari sini ke sana cuma butuh tiga menit, Ragna."

"Memang benar! Tapi, berkurangnya waktu pagi yang bisa kuhabiskan bersama Mishura adalah masalah yang sangat krusial bagiku!"

"Selamat pagi, Ragna. Ini, kopi untuk kalian berdua sudah siap."

Setelah latihan pagi Komandan Resimen Pengawal Kaisar, Saal Haft.

Setelah ibadah pagi Miko Junior, Mishura Fuwarati.

Dan tepat sebelum jam kerja birokrat muda Departemen Perdagangan, Ragnadan Kabul.

Ketiga teman masa kecil ini selalu menjadikan sarapan bersama sebagai rutinitas harian mereka.

 

"—Lalu, anu, Mishura. So-soal hari libur besok..."

Sambil menyantap sarapan, Ragnadan segera memulai rutinitas hariannya.

Di sela-sela makan, ia tampak sibuk merapikan rambut hitamnya yang masih berantakan karena bantal, mencoba bersikap sealami mungkin sementara otaknya diperas untuk memikirkan cara mengajak gadis itu pergi.

"M-maukah kau pergi kencan bersamaku?"

"Maaf ya. Aku menolak."

"Eh... A-ah, apa kau sudah ada janji lain? Maaf, maaf. Kalau begitu, lain kali saja ya."

"Tidak juga. Aku tidak ada janji apa-apa, tapi aku memang tidak ingin mengisi waktu luang di hari liburku dengan berkencan denganmu. Maaf banget, ya."

Hari ini pun, Saal hanya bisa memandangi teman masa kecilnya yang baru saja patah hati secara telak itu sambil menyeruput kopinya sedikit demi sedikit.

"Kau tidak ada bosannya ya..."

Percakapan mereka selalu mengikuti alur yang sudah bisa ditebak.

Ragnadan sangat mencintai Mishura.

Saking cintanya, ia terlihat begitu tergila-gila sampai-sampai orang yang melihatnya pun merasa malu sendiri.

"Haa... Kau kan sudah tahu. Aku tidak berniat jatuh cinta padamu. Aku ini seorang Miko, dan paling buruk, aku merasa tidak masalah jika harus melajang seumur hidup."

"Ta-tapi zaman sekarang tidak ada lagi yang mematuhi aturan kuno seperti itu, kan? Miko yang sedang menjabat pun sudah biasa jatuh cinta atau menikah."

"Mungkin saja. Tapi... pokoknya maaf. Lagipula, berhentilah mengejarku dan fokuslah pada pekerjaanmu. Bukankah mimpimu adalah menggunakan koneksi birokrat untuk pindah ke dunia bisnis dan hidup mewah?"

"Ma-maka dari itu! Semua itu tidak akan ada artinya kalau tidak bersamamu—"

"Jangan seenaknya memasukkan aku ke dalam rencana masa depanmu!"

"Te-tega sekali... Ku-mohon! Aku berjanji akan membuatmu bahagia!"

"Berisik tahu!! Ah, sudahlah! Pokoknya aku menolak lamaran, pernyataan cinta, atau rayuan apa pun! Kalau kau bicara begitu lagi, akan kuhancurkan 'asetmu' dan kuhentikan garis keturunan keluargamu di sini juga!"

Jangan-jangan, mereka berdua ini sebenarnya akrab sekali, pikir Saal.

Sambil terus menjadi pengamat dengan cangkir kopi yang isinya seolah tak berkurang-kurang di satu tangan, kedua orang itu tiba-tiba menoleh ke arah Saal.

"Saal! Bantu aku! Mishura-ku kali ini benar-benar tangguh!"

"Siapa yang kau sebut 'milikmu', hah?! ……Saal, tolong. Selagi aku masih bisa bersikap tenang, bisa tidak kau buat Ragna ini, ya semacam... membuat dia tutup mulut seketika?"

"Ah, iya, iya. Kalian berdua ini, tidak ada yang mau menyerah saja apa?"

""TIDAK AKAN!""

Begitulah, setelah sesi sarapan yang ramai itu berakhir.

"Aduh, kopimu masih sisa tuh. Cepat habiskan, aku tidak bisa membereskan cangkirnya kalau belum kosong, Saal."

"……Tunggu sebentar. Mishura, seperti biasa, kopi buatanmu ini selalu terlalu pahit."

"Yang pahit itu justru bagus untuk kesehatan. Sudah, jangan banyak alasan, cepat minum."

"Iya, iya…… Teori aneh macam apa itu."

"……Padahal aku suka rasa pahit dari kopi yang dibuatkan Mishura. Kau ini, Saal, badan saja yang besar tapi lidahmu masih seperti anak kecil," timpal Ragnadan sambil tertawa. Di bawah kacamatanya, terlihat kantung mata yang sangat gelap.

Implementasi Mesin Uap Generasi Kedua—Bahmot-Wool—mesin penggerak berbahan bakar batu bara cair yang kekuatannya jauh melampaui mesin konvensional, telah membuat ekspansi kelautan Kekaisaran menjadi sangat agresif.

Tujuannya jelas: menaklukkan wilayah seberang laut, menjadikannya pasar untuk membuang hasil produksi industri yang terus membengkak, sekaligus menundukkannya sebagai daerah pemasok sumber daya primer bagi industri tersebut.

Dampaknya, belakangan ini prosedur ekspor-impor termasuk bea cukai yang melonjak telah berubah menjadi tumpukan beban kerja raksasa yang menyerang para birokrat pemerintah, termasuk Ragnadan.

Namun, ia sanggup merampungkan beban kerjanya yang mengerikan itu sambil tetap bergerak gesit membangun relasi dengan pejabat tinggi pemerintah maupun tokoh dunia usaha, bahkan rela membuang waktu tidurnya.

Sejujurnya, itu bukan cara kerja manusia normal. Alasannya, menurut dia sendiri:

"Habisnya, aku butuh uang, kan. Aku sudah memutuskan untuk menjadikan Mishura wanita paling bahagia di dunia. Dan untuk itu, aku harus menjadi orang paling kaya di dunia ini."

Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci: Hendaklah engkau berupaya.

Itulah nilai-nilai dasar dari Agama Denkard, yang juga menjadi nilai umum masyarakat Kekaisaran. Upaya adalah sesuatu yang lebih mulia dari apa pun. Dalam banyak kasus, nilai ini berfungsi untuk mendoktrin pentingnya kerja keras dan ketekunan. Ajaran kebajikan mengatakan bahwa tindakan "berusaha" memiliki nilai lebih tinggi daripada sekadar hasil akhir.

Namun bagi pria ini, keadaannya sedikit berbeda.

Ia adalah orang yang jauh lebih bersemangat sekaligus lebih pragmatis dalam mengejar hasil ketimbang sekadar menikmati proses. Ia benar-benar serius ingin menimbun kebahagiaan nomor satu di dunia di hadapan orang yang ia cintai.

"Lalu kau sendiri bagaimana?" tanya Ragnadan, mengalihkan pembicaraan kepada Saal.

"Sejak mesin generasi kedua mulai meluas, industri militer seperti senjata api dan meriam jadi semakin gila-gilaan, kan? Dengan tenaga mesin, mereka bisa menembakkan daya hancur seratus kali lipat dari biasanya secara beruntun…… Ada desas-desus kalau unitmu sedang berada dalam posisi sulit."

"……Yah, begitulah. Masih bertahan," jawab Saal pendek.

"Hmm, aku memang tidak paham hal-hal seperti itu, tapi tidak mungkin kan kalau Saal sampai menganggur? Habisnya, pria ini kan monster yang menebas peluru setiap pagi," timpal Mishura.

"Monster katamu…… Aku cuma melakukan apa yang bisa kulakukan. Lagipula, meski aku bisa melakukan itu, hal itu tidak akan terlalu berguna di medan tempur yang sebenarnya."

Saal tergabung dalam Resimen Pengawal Pedang ke-16. Nama itu berasal dari prestasi unit penyerbu yang berada langsung di bawah perintah Kaisar lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Sebuah pasukan pendekar pedang yang diwajibkan untuk menjadi "Bilah sang Kaisar".

Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan senjata api, argumen bahwa pasukan ini sudah tidak diperlukan lagi mulai bermunculan. Sepuluh tahun yang lalu, mereka bahkan sempat didesak hingga ke ambang pembubaran.

Mungkin akan lebih baik jika saat itu mereka menghilang dengan tenang, pikir Saal.

Sayangnya, tradisi yang hampir punah itu justru memutuskan untuk melawan arus zaman secara frontal. Beberapa prajurit melakukan demonstrasi langsung di hadapan Kaisar.

Tebasan Peluru. Sebuah puncak pencapaian dari Ilmu Pedang Aliran Uol-Kalshia.

Berkat itulah, pasukan pendekar pedang yang ketinggalan zaman ini entah bagaimana bisa tetap bertahan hingga sekarang.

Namun, Saal—sang komandan resimen yang terlanjur mewarisi kemampuan "tak masuk akal" tersebut—tahu bahwa kenyataannya berbeda.

Mampu menangkis tembakan tunggal dengan teknik pedang adalah satu hal, namun bisa menang melawan senapan di medan perang yang sesungguhnya adalah perkara lain. Menebas satu atau dua butir peluru tidak akan mengubah apa pun. Di medan perang, puluhan bahkan ratusan peluru akan menghujanimu. Sebelum sempat mendekati musuh dengan pedang, kau pasti sudah hancur menjadi daging cincang.

Begitu Saal menjelaskan hal itu, Mishura mengerutkan alisnya yang tipis.

"……Lalu, kalau kau sampai kehilangan pekerjaan, apa yang akan kau lakukan?"

Mishura bertanya dengan nada khawatir, seolah ingin mengingatkan bahwa selama ini Saal tidak tahu apa-apa selain mengayunkan pedang.

"Begitulah. Ya, kalau saat itu tiba, aku akan jadi penghibur jalanan saja. Meski tidak berguna di medan perang, kalau dipamerkan di depan orang banyak, kurasa setidaknya bisa jadi cara untuk menyambung hidup."

Bagi Saal, itu sudah cukup.

Ia tidak memiliki obsesi khusus terhadap pedang. Sejak dulu, ia hanya melakukan apa yang ia bisa. Ia terus mengayunkan pedang hanya karena ia lebih mahir dibanding siapa pun, dan karena dengan begitu, ia bisa meraih hasil dengan mudah.

Bagaikan dongeng masa lalu itu, Ragna yang terus berjuang dengan gigih adalah sang adik, Shagard.

Sedangkan aku, bagaikan sang kakak yang jatuh terpuruk, Rostam, aku akan terus hanyut dan tenggelam ditelan zaman.

Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

 

Bagian 2

"……Patty! Hei, sadarlah!"

Aku mendekap tubuhnya yang terkulai bersimbah darah dan mengerang lirih di pelukanku.

Sesuatu yang tidak bisa dihindari—meski kelihatannya begitu, pasti ada jalan keluar di suatu tempat. 

Setidaknya, berpikir demikian akan lebih baik untuk diriku sendiri. Karena itulah aku selalu meyakinkan diriku bahwa dalam situasi apa pun, aku harus tetap tenang dan memperhatikan sekeliling dengan saksama.

Namun, dalam situasi ini...

"Nah, nah, nah, bagaimana baiknya ya, Kak? Apa yang harus kita lakukan padanya, Kak? Apa makan malamnya belum siap, Kak? Kalau dipanggang, apakah si penipu ini bisa dimakan?"

"Kurasa kau akan sakit perut, Adikku. ……Untuk saat ini, mari kita beri serangan penghabisan pada si pengkhianat itu, lalu si penipu ini—"

"Aku tidak pandai dalam hal penyiksaan, sih. Bukankah ada satu kroco berduri yang ahli dalam hal itu? Apa dia tidak ikut? ……Ah, benar juga, dia sudah mati ya."

Tatap mata para bangsawan yang merendahkanku itu persis seperti cara mereka menatap hewan ternak. Artinya, aku tahu betul bahwa memohon ampun pun nilainya akan lebih rendah daripada lenguhan babi.

Meski begitu, demi secercah harapan terakhir, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara.

"……Tunggu sebentar, dengarkan dulu penjelasanku—"

"Shut up."

Ulna, sang adik, menjentikkan jarinya. Gelombang panas tak kasat mata terpancar, menyerempet dan menghanguskan bahu kiriku.

Aku berteriak kesakitan sambil berguling di tanah. Di tengah deru napas yang memburu, sebuah vonis dingin menyelinap masuk ke gendang telingaku.

"Aku sudah menahan diri. Jadi tolong jangan menangis. Kalau kau begitu, aku malah jadi makin ingin membunuhmu."

"Ah, tunggu sebentar! Ulna!"

"—Hup!"

""—!?""

Benar-benar tidak terduga, entah sejak kapan ia sudah berada di sana.

Memecah kaca jendela, Rostam meluncur masuk ke halaman tengah dengan gerakan mengalir. Pedangnya menebas secara horizontal dari belakang, mengincar leher si kembar dalam satu kilatan cahaya. 

Namun, entah refleks macam apa yang mereka miliki, keduanya merunduk secara serempak di saat yang genting dan berhasil menghindar.

"Apa-apaan!?" "Apa lagi ini, apa dia karakter baru?"

"Cih, kupikir serangan mendadak bakal berhasil... ternyata memang mustahil, ya."

Si kembar melakukan salto ke belakang secara bersamaan, menjaga jarak dari Rostam sambil menyiapkan jemari mereka. 

Awalnya tatapan mereka dipenuhi keterkejutan dan kewaspadaan, namun begitu melihat lawan mereka hanyalah seorang pria paruh baya yang hanya menggenggam sebilah pedang, tatapan itu segera berubah menjadi penghinaan dan cibiran.

"Oi, oi, jangan-jangan... Welquix, apa kemampuanmu cuma segitu!?"

"Bisa-bisanya hampir kena oleh rakyat jelata yang kusam begini. Pupu, Ulna tertawa terbahak-bahak."

"Berisik kalian, bocah tengik…… Yo, aku sudah menantikan saat ini, Pak Tua!"

Rostam mengabaikan teriakan Welquix yang kini berhadapan dengannya, lalu berbicara ke arahku.

"Oi, Linus. Bisa bergerak tidak? Sang Miko memerintahkanku untuk melindungi kalian. Merepotkan memang, tapi kalau lawannya bukan senapan, aku akan membantumu. Jadi cepatlah—"

Seketika, seolah ingin menghukum kelancangan Rostam, sebuah kilatan merah menyambar. 

Namun, seolah sudah ditakdirkan, teknik mumpuni dari ujung pedang yang berputar berhasil membelokkan garis tebasan tersebut.

Di tengah perubahan situasi medan tempur yang sangat cepat ini, aku hanya bisa meringkuk sambil mendekap Patricia erat-berat.

Si kembar bergerak lagi. Dua ujung jari mereka membidik Rostam, namun secara mengejutkan, sebuah tebasan justru menyambar ke arah kaki mereka sendiri.

"Jangan menghalangiku!! Minggir kalian, bocah-bocah!" teriak Velquix.

"Eh?" "Oi, kau, kami ini kawanmu—"

"Hah, persetan dengan itu. 〈Stormbringer〉…… Akselerasi Konvergensi!"

Dalam sekejap mata, di ujung salah satu lengan Welquix, garis tebasan merah yang berputar spiral mulai memadat membentuk wujud sebilah pedang yang nyata.

Ujung pedangnya menyala—seketika itu juga, si kembar berteriak dengan wajah pucat pasi.

"Bodoh, bodoh! Serius, hentikan itu!"

"Gemetar, gemetar. Aku minta maaf soal yang tadi, jadi tolong maafkan aku. Tadi itu Kakak yang menyuruhku tertawa."

"Jangan menjualku di tengah kekacauan begini, dong!!"

"—Persetan dengan semua itu. Intinya kalian itu benar-benar mengganggu, jadi enyahlah."

Seketika, bahkan tanpa sempat menghindar, gumpalan garis tebasan yang menghujam tanah di antara si kembar meledakkan halaman tengah tersebut.

Sepertinya ia memang tidak berniat memberikan serangan langsung pada sekutunya sendiri, tapi tetap saja.

"Gwaaaa (nada datar)." "Kenapa sih kita selalu diperlakukan begini—!?"

Terbawa oleh tekanan angin pemotong yang menyerupai puting beliung, puing-puing halus beterbangan di udara.

Di tengah kemelut itu, aku sempat melihat sekilas si kembar terpental jauh ke angkasa hingga menghilang.

"Siapa pun yang menyela tarian duel orang lain, lebih baik ditendang kuda dan jadi bintang saja sana. Ha-ha! Sekarang tinggal kita berdua! Pak Tua! Ayo, mari kita selesaikan ini sampai tuntas!"

Kata-kata Welquix mungkin tidak sampai ke telinganya. Namun, Rostam yang tetap dalam kuda-kuda pedangnya bertanya padaku yang berada di belakangnya dengan nada yang terdengar ragu.

"Hei, Linus."

"Apa?"

"……Anu, kuharap ini cuma salah paham si Om saja, ya. Tapi jangan-jangan, dia bilang kalau dia suka padaku?"

Aku pun menerjemahkannya dengan penuh perasaan.

"Ya. Dia bilang dia sangat mencintaimu sampai-sampai ingin memenggal kepalamu dan membawanya pulang."

"……Menjijikkan."

Tepat saat ia mulai menunjukkan niat bertarung, aku segera mengangkat tubuh Patricia yang napasnya kian melemah, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk berlindung.

Di atas rumput hijau dan ubin terakota, darahnya menetes, jatuh membasahi lantai.

"……Kumohon."

Kepada siapa, dan untuk apa. Tanpa kepastian itu, aku berlari kembali ke aula utama, dan sosok yang muncul di hadapanku adalah—

"Chronica!"

Bagian 3

"Minumkan ini."

Begitu kata-kata itu terucap, gadis berambut seputih salju kemerahan itu segera menggigit ujung jarinya yang ramping.

Setetes darah membuncah dari luka tersebut. Hampir secara otomatis, aku mengikuti instruksinya: kubuka mulut Patricia yang tengah terengah lemah, lalu kuteteskan darah Chronica ke sana.

"Di dalam darahku terlarut keabadian sang Raja. Bagi kaum bangsawan yang menyandang Regalia, seharusnya darah ini bisa mempercepat proses penyembuhan mereka sampai batas tertentu."

Sesuai ucapannya, efeknya langsung terlihat. Pendarahan hebat yang membasahi lenganku seketika terhenti.

"……Aku merasa cemas karena keadaan menjadi sangat bising, ternyata keputusanku untuk turun sudah tepat. Jadi mereka sudah datang ya, para ksatria itu."

"Ya. Dan Patty menjadi korbannya. Sekarang Paman Rostam sedang menahan si pembantai itu. Kita harus segera lari selagi ada kesempatan, tapi—"

Untuk saat ini, aku dan Chronica sepakat bahwa nyawa Patricia adalah prioritas utama.

Dengan terburu-buru, aku merobek kain sprei dari ruangan terdekat untuk digunakan sebagai perban darurat. Dia adalah makhluk yang tangguh. Jadi, dia akan baik-baik saja—aku terus meyakinkan diriku sendiri sembari menyeka keringat dingin yang membasahi tengkuk. Saat itulah...

"Uuuughhh... aa-aku... dikalahkan... hwaaaa...!"

"Patty!? O-oi... kau... kau hidup!"

Tanpa sadar aku mencengkeram bahunya dan menatap wajahnya lekat-lekat. Mata berwarna zamrud itu mengerjap beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangan padaku—dan kemudian, tangisnya pecah seolah ada bendungan yang runtuh.

"Ma-maafkan aku... Linus... A-aku... padahal ingin berguna bagimu... kalau tidak, engkau tidak akan... mencintaiku... hiks!"

Melihatnya mulai menangis sesenggukan begitu, jelas sekali nyawanya sudah terselamatkan. Namun, karena membuang-buang tenaga hanya akan memperburuk lukanya, aku harus menenangkannya.

"Tenanglah, Patty."

"Li... nus...? Mmhp!? ……Uuh, ah."

Sekali lagi, aku menciumnya. Kali ini hanya kecupan singkat, semata-mata untuk memberinya rasa aman. Aku melumat bibir lembutnya dengan penuh kasih, sebagai bentuk penghargaan tulus bagi dirinya yang telah terluka demi melindungiku.

Setelah melepaskan tautan bibir kami, aku merendahkan suara, membujuknya dengan lembut.

"Sudah kubilang kan, aku mencintaimu. Jadi, sekarang istirahatlah."

Tatapan matanya yang melirik ke atas seolah ingin menyindir, itu juga bohong, kan? Namun, ia memilih untuk menyimpan kata-katanya di balik kelopak mata yang terpejam rapat. Ia merebahkan tubuhnya yang terluka di dadaku, lalu terlelap.

Dan, seluruh rangkaian interaksi tadi...

"............"

Begitu mataku bertemu dengan sepasang permata Amethyst yang sedari tadi memperhatikanku lekat-lekat, ia segera membuang muka dengan ketus.

"……Kalau begitu, ayo kita lari."

Dengan Patricia yang napasnya sudah stabil di punggungku, aku mulai melangkah bersama Chronica.

Tepat saat kami bersepakat untuk terlebih dahulu bergabung dengan Anahit, sang Miko muncul di hadapan kami seolah memang sedang mencari keberadaan kami.

"……Begitu rupanya. Namun untuk saat ini, biarkan saja Rostam yang menanganinya."

Setelah kujelaskan situasinya secara singkat, ia menanggapi dengan nada bicara yang sangat tenang.

"Bisa dibilang ini keberuntungan di tengah kemalangan. Karena bala bantuan sudah tiba."

Bersamaan dengan perkataannya, aku yang menggendong Patricia dan Chronica dibimbing keluar dari kediaman tersebut.

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Lautan berkilauan di bawah cahaya rembulan, menampakkan pasir pantai tempat kami bermain air kemarin siang. Dan di dekat dermaga, sebuah kapal uap baja sedang berlabuh.

Anahit menunjuk ke arah kapal itu, seolah-olah ia bisa melihatnya, lalu berkata:

"Kapal itu baru saja tiba. Memang sedikit meleset dari rencana awal, tapi Tuan Linus, Chronica... setelah aku menyampaikan tentang kalian melalui surat, sepertinya mereka sendiri yang datang untuk menemui kalian.

 

——Nah, bagaimana kalau sekarang kita pergi menemui mereka sembari mengungsi?"

Anahit berpamitan sejenak dengan membungkuk hormat, katanya hendak menjemput pengawal dan kuda untuk transportasi kami.

Aku menoleh ke arah kediaman di belakang kami. Dari sana, suara pertempuran masih terdengar samar bagaikan guruh di kejauhan.

Kemudian, aku berhadapan dengan Chronica yang sedari tadi hanya berdiri mematung dalam diam. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu kepadanya.

Aku tahu situasi ini tidak mengizinkanku untuk bersantai. Namun, justru karena itulah, aku merasa tidak boleh pelit dalam menyampaikan kata-kata yang memang seharusnya diucapkan.

Suara Patricia yang tadi bergema kembali di dalam benakku.

『Entah kenapa, kalau soal kebohongan yang satu itu, engkau buruk sekali dalam melakukannya.』

Aku tidak akan menyangkal kalau aktingku memang buruk, tapi itu bukan bohong.

Aku hanya tidak ingin hubungan kami dikategorikan sebagai "jatuh cinta" atau semacamnya. Bagiku, Chronica memiliki arti yang jauh lebih penting dan mendalam dalam hidupku daripada sekadar kata itu.

Hari itu, di pantai saat senja, topeng sang penipu telah terkelupas sepenuhnya.

Saat bersamanya, denting koin tak kunjung berhenti berbunyi. Masa lalu menggema kembali sebagai rasa sakit. 

Namun, hanya bunyi inilah yang tetap menjadi bukti nyata atas eksistensi hidupku.

"Chronica."

Aku mengambil topi yang sedari tadi ia genggam erat, lalu mengenakannya hingga menutupi sebagian mataku.

"Aku mengerti."

"……Apa maksudmu?"

"Ini jawaban untuk yang waktu itu. Aku belum menjawabnya, kan?"

Tetaplah di sisiku. Melalui tatapan matanya, ia telah menyampaikan permohonan itu tanpa suara. 

Dan di tempat ini, aku memberikan jawaban tersebut sembari berusaha keras menyembunyikan isi hatiku yang sesungguhnya.

"Ini janji. Aku akan selalu berada di sisimu…… Tidak, izinkan aku untuk terus berada di sisimu."

"————"

Keheningan menyergap sejenak sebelum suara Chronica terdengar, bergetar pelan seolah ada emosi yang meluap dari dalam dirinya.

"Kenapa…… pria sepertimu, kenapa tiba-tiba... bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu!?"

Bahunya yang terlalu ringkih itu tampak gemetar. Sesuatu jatuh menetes di dekat kakinya, berkilauan seperti tetesan air mata rembulan.

"Padahal waktu itu, kau merasa Kakak jauh lebih penting! Lagipula, kau ini...! Tadi kau baru saja berkencan dengan Patricia…… bahkan sampai berciuman dengannya!!"

Gadis itu menumpahkan seluruh perasaannya kepadaku, nyaris berteriak.

"Jangan ucapkan kata-kata yang paling ingin kudengar itu secara tiba-tiba! Dasar bodoh!!"

Dan, tepat pada saat itu.

Di belakang gadis berambut seputih salju kemerahan itu, sosok Anahit tampak mendekat tanpa suara, bagaikan bayangan yang mengintai.

Ia telah melepas penutup matanya. Sepasang matanya yang putih pucat seperti abu kini terbuka lebar.

Senapan di tangannya sudah menempel tepat di belakang kepala Chronica.

Dan sebelum sempat aku menghentikannya, suara tembakan menggelegar, menembus kepala sang gadis.

 

Bagian 4

Akibat benturan keras dari belakang kepala, tubuh mungil itu jatuh tersungkur ke depan.

Seketika aku berlutut, mencoba menopang tubuh sang gadis yang darahnya mengucur deras dari tengkorak yang pecah.

Tidak apa-apa, dia akan baik-baik saja. Chronica itu abadi; di laut waktu itu pun, ia menembak kepalanya sendiri. Jadi, kali ini pun ia tidak akan mati. Karena itu... karena itu, aku harus tenang.

Ilustrasi Hitam Putih 1 - Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2 Bab 3

Sambil menekan detak jantung yang rasanya nyaris pecah karena kalut, aku berteriak pada pelakunya.

"……Bajingan! ANAHIT!!!”

Moncong senjata masih mengepulkan asap mesiu. Sosok berjubah putih yang limbung akibat sentakan senjata itu berdiri goyah sembari menyunggingkan senyum.

"Ya, Tuan Linus. Ini aku. Akulah yang melakukannya."

Sebelum aku sempat bertanya mengapa, Anahit membuka mulutnya seolah telah memendam hal ini sejak lama. 

Dari kedua matanya yang telah kehilangan warna itu, perasaan aslinya akhirnya meluap keluar dengan pekat.

"Aku suka menolong orang. Itu sungguh-sungguh, lho. Karena hanya saat menolong seseorang, aku bisa mengalihkan pandangan dari masalahku sendiri. Tapi, yang jauh lebih aku sukai adalah..."

"—Mengkhianati orang yang telah kubantu dengan tanganku sendiri."

Kata-kataku tertahan di tenggorokan. Hanya kepalan tanganku yang semakin mengeras.

"Aku sudah lama menantikan momen ini. Sejak pertama kali kita bertemu, terus... terusan... aku merasa muak sekaligus iri melihat kalian berdua yang terikat hubungan yang rapuh, indah, sekaligus menyedihkan. Aku tidak tahan, karena itulah aku ingin menghantamkan keputusasaan yang luar biasa pada kalian. Demi saat inilah, aku menarik kalian hingga sejauh ini dan memberikan bantuan."

Suara Anahit terdengar demam, seolah sedang meracau, dan ia tak kunjung berhenti bicara.

"Seperti yang kukatakan, mata ini hampir kehilangan penglihatannya. Dan akan terasa sakit jika terkena cahaya. Tapi... jika di tengah malam seperti sekarang, aku masih bisa melihat samar-samar. Fufu... Ahaha, ternyata wajahmu memang tampan ya, Tuan Linus. Aku mengerti kenapa wanita di sekitarmu sampai tergila-gila. Dan Chronica... kau juga, ah, betapa manisnya dirimu."

Karena itulah aku membenci kalian, matanya tampak menangis, bagaikan cairan yang menetes dari buah yang membusuk.

"Apa kalian pernah melihat diri kalian secara objektif? Seorang gadis yang sangat manis, diincar oleh penjahat, lalu diselamatkan oleh pria keren sepertimu. Kalian terjebak dalam hubungan yang ambigu, melihat dunia dengan mata sendiri, dan berjalan dengan kaki sendiri! Betapa indahnya! Perjalanan yang terlihat sangat menyenangkan! Jadi, hei—apa itu semua sengaja kalian lakukan untuk menyindirku?"

Dihantam oleh rasa iri yang hitam dan tertekan itu, aku tidak punya kata-kata untuk membalas. Aku tidak tahu latar belakangnya. Dan bagi kebencian yang buta, logika tidak akan pernah sampai.

"Sekali lagi, terima kasih, Tuan Linus, dan juga Chronica. Berkat kalian, suasana hatiku sedikit... sedikit saja merasa lega."

Anahit membungkuk hormat, lalu saat ia mengangkat wajahnya, ia seolah-olah telah menanggalkan penutup mata sekaligus topeng yang selama ini menyembunyikan monster busuk di dalam dirinya.

Namun, di saat kritis seperti ini, sosok yang paling pantas menerima kemarahanku adalah diriku sendiri yang gagal menyadarinya.

Aku memang sudah menduga bahwa ia memanfaatkan aku dan Chronica untuk tujuan tertentu. Tapi, aku tidak menyangka akan dihadapkan pada kebencian yang begitu vulgar dan telanjang…… Seharusnya, aku sudah mempertimbangkan kemungkinan ini.

Hanya dia satu-satunya yang bisa kuandalkan. Tidak, yang lebih parah, Chronica sudah telanjur merasa nyaman dengannya.

Karena itulah, aku ingin membunuh diriku sendiri—diriku yang telah menyerahkan serpihan kepercayaan sekecil apa pun kepadanya.

Tepat saat aku menggertakkan gigi, Anahit kembali mengarahkan moncong senjatanya, kali ini tepat ke arahku.

Dan kemudian—di dalam pelukanku yang basah dan panas, gadis yang terluka parah itu bergerak.

"……Eye of the Providence."

"—!?"

Dari balik kelopak mata yang bersimbah darah, sinar ungu dari mata kiri Chronica menghujam tepat ke arah mata telanjang Anahit.

Sesaat, aku merasa Chronica seolah terbelalak kaget melihat sesuatu di sana.

 

Namun, setelah melepaskan serangan pamungkas demi membalikkan keadaan itu, sang gadis kehilangan kekuatannya dan kembali memejamkan mata sebelum sempat menuntaskan niatnya. Sambil menekan matanya yang tampak terguncang, Anahit berkata:

"Ah…… benar juga ya, Chronica. Aku lupa kalau kau tidak akan mati hanya karena kepalamu ditembus peluru. Benar-benar tubuh yang sangat menyenangkan untuk disiksa."

Bagaimana kau bisa tahu? Baru saja aku hendak melontarkan pertanyaan itu...

"—Karena aku yang memberitahunya."

Sebuah suara baru beserta derap langkah kaki bergema.

"Sesuai janji, izinkan aku memperkenalkan tunanganku."

Mendengar ucapan Anahit, aku menoleh dan akhirnya berhadapan langsung dengan pria itu.

Rambut hitam, kulit kecokelatan, mengenakan kacamata, dan berperawakan tinggi meski usianya sudah memasuki kepala empat. Sosoknya tampak awet muda, namun entah mengapa, aku sama sekali tidak bisa menemukan kesan cerah sedikit pun dari impresi pria ini.

"Ragnadan Kabul……"

"Salam kenal. Aku sudah mendengar banyak tentang kalian. ——Dari orang-orang Ksatria."

Suara yang terdengar datar itu diucapkan dalam bahasa Colonials (Republik), dan seketika itu juga, segalanya menjadi jelas bagiku bagai air yang jatuh menghujam bumi.

Serangan tadi, serta pengetahuan mendalam tentang Chronica. Begitu rupanya, sejak awal mereka memang sudah bekerja sama.

"……Kabar tentang munculnya tamu aneh di kedutaan, serta serangan dari organisasi bernama Ksatria—Anahit selalu melaporkannya padaku secara rutin. Terkadang melalui perantara, terkadang lewat merpati pos.

Karena itulah aku mencari mereka. Wilayah operasional perusahaanku mencakup seluruh lautan ini. Tidak sulit bagiku untuk menjalin kontak. Menghubungi para Ksatria, kelompok yang mendambakan kejatuhan pemerintah Republik dan restorasi monarki."

Jadi, semuanya telah terbaca olehnya?

"Sebab itu, kami bekerja sama. Tujuan kami selaras. Dalam hal menggulingkan pemerintah Republik, kepentinganku dan kepentingan mereka berada di titik yang sama."

Segala upaya yang kulakukan sebagai individu, sama sekali tak berarti di hadapan kekuatan organisasi yang begitu masif.

Suara Ragnadan, yang bahkan tidak terdengar seperti cibiran, mengalir seolah-olah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"Perusahaanku memang besar. Tapi aku tidak puas. ……Ini saja tidak cukup. Mungkin kau tidak bisa membayangkannya, tapi pertama-tama, aku akan menaklukkan Republik kalian. Lalu, aku akan membangun kekaisaranku sendiri dengan mengembangkan wilayah serta sumber daya yang belum terjamah di bawah kendaliku. Dan kelak, aku akan melampaui Kekaisaran Uap Elbion; aku akan menguasai dunia."

"……Hah?"

Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap pria yang memaparkan rencana gila nan mustahil itu dengan nada bicara yang sangat serius. Yang pasti, di dalam matanya, sosok seperti aku ini sama sekali tidak dianggap ada.

"Sebab itulah, ini masih belum cukup. Aku butuh lebih banyak kucuran dana dan kekuatan militer. Aku tidak akan pilih-pilih cara untuk mendapatkannya. Bahkan monster-monster dari bangsa inferior seperti Ksatria itu pun akan kumanfaatkan. Karena, aku sudah memutuskannya sejak lama. Aku akan menjadikan wanita yang akan menjadi istriku sebagai orang paling bahagia di dunia. Hei, Penipu, aku akan bertanya padamu sekadar untuk iseng. Menurutmu, apa syarat untuk sebuah kebahagiaan?"

Jawaban atas pertanyaannya adalah kata-kata yang entah mengapa terdengar familier.

"Itu uang, dan juga kekuasaan."

Setelah menegaskan hal itu, Ragnadan membetulkan letak kacamata dan berujar pelan sembari menengadah ke langit, seolah sedang bersaksi.

"Aku akan menguasai dunia, memperoleh kekuatan ekonomi yang masif, serta kekuasaan dari puncak tertinggi dunia ini. Dan saat itu tiba, kali ini aku pasti akan menjadikannya…… pengantin paling bahagia di dunia. Itulah impianku."

Sesumbar yang tidak waras itu justru terasa begitu nyata karena keyakinannya yang mutlak. Bagaimanapun, sudah sangat jelas bagiku bahwa tidak ada ruang sedikit pun untuk negosiasi di sini.

"Benar kan…… Anahit. Kau pasti bahagia, bisa menjadi istri dari pria sepertiku."

"Ya."

Anahit mengangguk pelan, namun tiba-tiba, Ragnadan menghantamnya dengan tinju bersarung tangannya.

"Suaramu terlalu pelan."

"Kh…… Ya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya."

Sikap pria itu sudah seperti ancaman murni, sementara sang wanita menanggung rasa sakitnya dengan ekspresi yang tampak apatis. Dan saat itulah, aku menyadarinya.

Ah, jadi begitu rupanya.

Jika wanita ini dicintai oleh pria semacam ini, mungkin wajar saja jika jiwanya menjadi sedemikian menyimpang.

Tawa kering nyaris meledak dari tenggorokanku. Sialan, apa aku benar-benar harus terlibat dengan orang-orang yang sudah tidak tertolong lagi seperti mereka ini?

Namun, kini sudah terlambat untuk memutuskan ikatan. Sambil menelan kemarahan yang nyaris menghancurkan diriku beserta rasa tidak berdaya yang pekat, aku mendengarkan suara Raghunadan.

"Jadi, Penipu. Berani-beraninya kau mengacau sejauh ini…… Perkebunan yang dikelola perusahaanku berantakan total, apa kau tahu? Melihat kelihaianmu, aku sebenarnya ingin mempekerjakanmu. Tapi tidak, kau terlalu merusak pemandangan. Karena itu, pembersihan sampah masyarakat sepertimu akan kuserahkan pada sesama orang pengangguran saja."

Lalu muncullah Welquix dengan wajah tidak puas seolah permainannya baru saja dihentikan di tengah jalan, bersama seorang pria paruh baya yang menggenggam pedang.

"……Rostam."

"Yo, Linus."

Suara itu masih santai seperti biasanya, namun sama sekali tidak memberikan penghiburan apa pun bagiku.

 

Bagian 5

……Setelah itu, Ragnadan, Anahit, dan Welquix dari Ksatria pun pergi.

Mereka membawa pergi Chronica yang sudah tak lagi bersuara.

Aku membaringkan Patricia yang masih tidak sadarkan diri di atas tempat tidur di salah satu kamar di kediaman tersebut.

Rostam tetap menghunuskan pedangnya, namun ia tidak melarang tindakan yang kulakukan.

"Ini bentuk belas kasihan. Aku tidak menerima perintah apa pun terkait gadis itu. Yah, pokoknya. Sebelum kau mati, temani aku sebentar, Linus. ……Kita belum sempat minum bersama, kan?"

Sambil berkata demikian, ia menghentakkan sebotol minuman keras dan dua buah cangkir kristal ke atas meja di ruangan itu.

Cairan berwarna amber dituang pelan hingga memenuhi cangkir. Aku duduk dengan patuh di kursi meja tersebut. Sembari mengulur waktu—meski aku tak bisa berharap banyak Patricia akan segera siuman—aku mencoba bertanya.

"Apa kau juga tahu? Bahwa sejak awal Anahit berniat menjebakku dan Chronica?"

"Tidak... aku hanya bergerak sesuai instruksi."

"Instruksi Ragnadan," jawab Rostam singkat.

"Baik aku maupun Anahit, kami tidak bisa menentang orang itu. Aku diperintahkan untuk menjadi pengawal gadis itu, melindunginya sekaligus mengabdi di sisinya... karena dia tahu, hal itulah yang paling menyiksaku."

Aku tidak mengerti arah pembicaraannya. Seolah menjawab kebingunganku, Rostam mengangkat gelasnya.

"Temani keluh kesahku sedikit lagi. ……Minumannya masih banyak."

Dan mulailah ia bercerita tentang masa lalu antara dirinya, Ragnadan, dan seorang wanita.

 

——Sembilan belas tahun yang lalu.

"……Apa maksudmu, Saal?"

Mishura memanggil Saal ke sudut taman tempat mereka bertiga biasa menghabiskan waktu pagi bersama.

"……Yah, itulah alasanmu selalu menolak pernyataan cinta Ragna, kan?"

Saal menjawab suara Mishura yang terdengar bingung.

Masalah yang dipendam Mishura adalah fakta bahwa ia secara sepihak disukai oleh Pangeran Pertama yang terkenal cabul. Selama ini, ia menolak setiap lamaran pernikahan dengan alasan statusnya sebagai Miko, namun sepertinya ia sudah mencapai batasnya.

"Makanya, sudah kuselesaikan."

Ia telah menerobos masuk ke kediaman sang pangeran, melumpuhkan para penjaga bersenjata mutakhir, dan memberikan sedikit "pelajaran". Jika nasibnya buruk—atau bahkan tanpa perlu berandai-andai—tindakan itu adalah pengkhianatan berat, namun ia berniat meminta pengampunan langsung dari Kaisar. Ia sudah mengatur segalanya dengan memanfaatkan posisinya sebagai pengawal pribadi.

Bagaimanapun, ia tidak bisa terima jika usaha dan perasaan sahabatnya terhalang oleh alasan semacam itu.

"……Sekarang tidak ada lagi ikatan yang merepotkan, kan? Nah, Mishura. Karena itu, jujurlah pada perasaanmu sendiri dan—"

Bersatulah dengan Ragna. Baru saja ia hendak mengucapkan itu, bibirnya dibungkam oleh bibir gadis itu.

"Hah—?"

"Tidak. Aku tidak bisa bersama Raghuna. Karena aku..."

Wanita itu bersandar di dada sang pria. Matanya yang menatap ke atas tampak bergetar karena rasa bersalah, namun suaranya terdengar begitu teguh.

"……Tanpa kusadari, aku telah jatuh cinta padamu."

Dan, setelah Mishura pergi, Saal berbalik dan tiba-tiba mendapati pemandangan itu.

Di balik bayang-bayang pohon yang temaram, tampak sosok Ragnadan yang berlutut lemas seolah-olah ditinggalkan sendirian oleh dunia.

Saal refleks hendak mengucapkan sesuatu, namun tenggorokannya tercekat oleh suara yang terdengar seperti gerigi mesin yang hancur.

"……Aku sudah berusaha begitu keras."

Pria yang meringkuk itu tampak seolah-olah sedang menumpahkan isi perutnya—sebuah ilusi yang mengerikan. Seakan-akan sesuatu yang fatal bagi seorang manusia telah patah, dan hal-hal yang tidak seharusnya keluar kini meluap tanpa kendali.

"Padahal aku... aku sudah berjuang sekuat tenaga... aku bekerja mati-matian demi meraih penghasilan yang mampu membahagiakan Mishura puluhan kali lipat... aku sudah berusaha keras, akhirnya, akhirnya... tapi kenapaaa!"

Wajahnya terangkat, menanggalkan topeng kemanusiaan yang selama ini menjadi lapisan pelindung yang krusial. Matanya yang hampa hanya menyisakan kebencian, menatap tajam ke arah Saal dari balik kacamatanya.

"Kenapa harus kau?"

Itu bukanlah Ragna yang selama ini ia kenal.

Namun, itulah jati diri Ragnadan yang sesungguhnya.

"Kenapa, kenapa hah!? Prajurit rendahan sepertimu, yang tidak punya kemampuan apa-apa selain mengayunkan pedang kuno itu. Kau... kau cuma punya bakat, kau bahkan tidak pernah berusaha keras, tapi kenapaaa!!"

Kebencian, kegelapan, dan obsesi—emosi yang mendidih di wajah pria itu terasa begitu panas hingga sanggup menghanguskan tulang siapa pun yang menyentuhnya.

"Beraninya kau merebut Mishura-ku darikuuu!!!"

Dan itulah momen di mana persahabatan mereka terbakar habis menjadi abu.

 

Tak lama setelah hubungan dengan Ragnadan berakhir secara tragis.

Saal Haft dan Mishura Fuwarati akhirnya bersatu.

Setahun setelah pernikahan mereka, lahir seorang putri yang diberi nama Anahito.

 

Itu adalah nama anggota keluarga kedua yang telah sang pria sumpahi untuk dilindungi dengan seluruh nyawa dan pedangnya.

Lalu, tujuh tahun setelah pernikahan, saat Anahit0 berusia enam tahun.

Hari itu adalah hari biasa yang tidak istimewa.

"Ini, kopinya."

"Kopi Ibu terlalu pahit……"

"Jangan mengeluh, minum saja. Ini bagus untuk kesehatanmu."

"Uuuh…… Ayah, tolong ambilkan susunya."

"Iya, iya."

Sesuai permintaan putrinya, Saal meraih wadah susu di atas meja—dan saat itulah, ia merasakan firasat buruk.

Penyebabnya ada di luar rumah. Ledakan mesin uap generasi kedua yang katup tekanannya sengaja disumbat.

Kebahagiaan keluarga itu tersapu bersih dalam sekejap oleh uap panas bertekanan tinggi yang menghantam dan memecahkan jendela.

"……Kalian, masih hidup?"

Di dalam ruangan yang berantakan oleh serpihan hangus, Saal membantu keduanya bangun. Ia merasa lega sesaat karena mereka berdua masih hidup, meski tidak sadarkan diri.

Mishura, yang mungkin karena membelakangi jendela, pingsan setelah terhempas ke dinding oleh gelombang ledakan, namun lukanya tidak terlalu parah.

Namun, Anahito berada dalam posisi menghadap jendela. Wajahnya, terutama kedua mata dan area sekitar rongga matanya, melepuh hebat akibat uap panas. Dengan luka seperti ini, mustahil baginya untuk bisa melihat cahaya lagi…….

Pada saat itulah, derap langkah kaki terasa membakar tengkuknya dengan firasat buruk.

Seorang prajurit menyusup masuk dengan mudah melalui jendela yang hancur. Saal menghunus pedang kesayangannya yang selalu ia bawa bahkan di dalam rumah, lalu menebas lengan beserta moncong senapan yang diarahkan kepadanya.

"—Gyaaaaah!!"

"Apa ini perbuatan kalian?"

Ia menebas tiga orang. Melihat lencana resimen di dada mereka, itu adalah Resimen Kedua Ibu Kota—pasukan pelindung yang bertanggung jawab atas keamanan kekaisaran. Baru saja ia hendak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, ia menyadari sesuatu.

Mereka telah dikepung. Dua baris penembak jitu dengan senapan kokang berjejer di luar jendela yang hancur total.

Seorang pria yang tampak seperti komandan berteriak ke arahnya.

"Menyerahlah! Komandan Resimen Pengawal Keenam Belas, Mayor Saal Haft! Anda dituduh melakukan pengkhianatan besar terhadap negara. Kami ulangi—"

"Apa... katamu...?"

Saat itu juga, Saal melihat seorang pria di balik barisan tentara. Dan ia tidak mungkin salah lihat. 

Meski sedikit lebih tua, rambut hitam pendek dan kacamata itu masih sama seperti saat itu.

Benang-benang takdir di dalam kepalanya pun terhubung menjadi satu rangkaian utuh.

"Begitu rupanya. ——Jadi ini perbuatanmu."

Ia memasang kuda-kuda pedang. Hanya ada satu hal yang harus dilakukan.

Niat membunuh yang nyata mempertajam indra keenamnya hingga batas maksimal. Seolah menyelinap di antara celah garis tembak yang tak terhitung jumlahnya, Saal berlari tanpa ragu menuju batas antara hidup dan mati.

"A-apa-apaan orang itu... hanya dengan sebilah pedang!?"

"Senapannya! Pelurunya tidak ada yang kena!?"

Saal memanipulasi bilah pedang di depannya dengan gerakan pergelangan tangan yang sangat presisi, membelokkan lintasan peluru ke kiri dan kanan untuk menembus berondongan peluru.

Lalu ia menerjang masuk ke barisan, menggorok leher para prajurit muda yang berteriak ngeri, dan menghabisi mereka satu per satu. Tak ada ampun, tak ada belas kasihan. Tatapan matanya menegaskan bahwa siapa pun yang berdiri di depannya akan mati.

Dua, tiga, empat, lima, enam orang tewas bersimbah darah sementara Saal meneriakkan nama pria di ujung sana.

"RAGNAAAAAAAAAAA!!!"

Bersamaan dengan teriakan itu, beberapa orang lagi ia ubah menjadi mayat. Tiba-tiba, prajurit yang tersisa menjaga jarak, gemetar ketakutan sembari mengepungnya dengan waspada. Sepertinya mereka akhirnya sadar: siapa pun yang masuk ke dalam jangkauan pedangnya akan mati seketika.

Sambil memijak genangan darah, Saal mengarahkan suara dan ujung pedangnya ke arah pria yang berada belasan langkah di depannya.

"Sudah lama ya, Ragna. Ini semua perbuatanmu, kan? Matilah kau."

Menanggapi itu, Ragnadan mengangguk pelan.

"Benar. Aku menggali kembali dosa yang kau lakukan di masa lalu dan menggunakannya sebagai alasan. ……Apa Mishura dan putrimu sudah mati?"

"Mereka hidup."

"Begitu. Itu kabar baik."

Ragnadan tetap tanpa ekspresi, namun hanya matanya yang memancarkan binar kegembiraan yang mengerikan.

Saal merasa sangat ingin mencincang wajah itu menjadi potongan-potongan kecil sekarang juga, hingga ia menyodorkan pedangnya.

Namun, tiba-tiba ada satu hal yang benar-benar ingin ia tanyakan.

"Biar kutanya satu hal. Kenapa kau melibatkan Mishura? Jika kau membenciku, seharusnya kau mengincarku saja. ——Bukankah kau juga! Bukankah kau juga mencintainya!?"

"Benar... justru karena itulah, bajingaaannn!!!"

Teriakan balasan Ragna seolah dihantamkan langsung dari waktu dua tahun yang lalu, di hari itu.

Wajahnya yang semula tanpa ekspresi kini terdistorsi oleh obsesi yang persis sama seperti saat itu.

"Benar! Aku mencintai Mishura! Lebih dari siapa pun, lebih dari apa pun! Karena itulah... tidak mungkin aku bisa memaafkannya karena telah melahirkan anak dari pria selain aku!"

"————"

"Makanya, aku lega kalian masih hidup. ……Dengan begini, aku bisa memberinya kesempatan untuk menebus dosa. Dia hanya perlu membunuh anak yang lahir darimu, lalu melahirkan anakku. Ah, itu ide bagus. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa memaafkannya."

Pada saat itu juga, semua kata-kata kehilangan maknanya bagi Saal.

Tebas. Lalu bunuh. Tepat sebelum ia menerjang maju sebagai bilah pedang yang hanya membawa satu tujuan itu.

Wajah Ragna yang tersenyum sinis tampak bergetar oleh kenikmatan arogan, seolah sedang memamerkan peradaban kepada manusia purba.

Pada saat yang sama, selubung tenda pada benda yang sedari tadi berada di samping pria itu disingkap, menampakkan senjata kekerasan mutakhir yang baru saja dioperasikan pada masa itu di bawah sinar matahari.

Meriam mesin bertenaga uap, yang dilengkapi dengan mesin uap generasi kedua Bahmot-Wool.

Sebuah kristalisasi dari pemikiran pembantaian modern, yang mampu melenyapkan kemahiran individu sepenuhnya tanpa sisa.

"Mati dan membusuklah di hadapanku bersama bakat kunomu itu, Saal!"

"……kh!!"

Pria yang mendedikasikan hidupnya pada pedang ini sangat menyadari hal itu. Mampu menangkis tembakan tunggal adalah satu hal, namun bisa menang melawan senapan di medan perang yang sesungguhnya adalah perkara yang sama sekali berbeda.

Di hadapan puluhan, bahkan ratusan butir peluru yang berhamburan, menangkis satu atau dua peluru tidak akan mengubah apa pun.

Ya, dia memahaminya.

Namun, jika setelah memahami itu ia tetap membuang jalan mundur menuju akal sehat, maka hanya ada satu hal yang terlintas di benaknya.

Bagi pedang yang mampu menebas peluru, masih ada tingkatan selanjutnya di atas itu.

Kekaisaran Uap, teknik rahasia yang diwariskan dalam aliran pedang Uol-Kalshia faksi Pengawal.

Puncak yang melampaui pedang aliran air; pedang uap.

Pedang itu tidak lagi mengikuti arus, melainkan membebaskan diri dari hukum fisika dunia ini sendiri.

Bagaikan air yang menguap menjadi asap, ia tetaplah air namun berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi air. Sebuah teknik rahasia yang membawa manusia menuju dimensi di luar kemanusiaan melalui perantara pedang.

Terbebas dari segalanya dan menjadi asap, pedang itu menyelinap di antara hukum dunia untuk menebas musuh.

Legenda yang terdengar seperti khayalan belaka itu, mau tak mau, harus diyakini sepenuhnya oleh Saal. Sebab dalam hidupnya yang ketinggalan zaman, ia tidak memiliki apa pun lagi untuk diandalkan selain pedang.

Konon, ada dua syarat untuk mencapai teknik rahasia ini: jiwa dan raga.

Pertama adalah jiwa. Bagian krusialnya adalah membuang jiwa tersebut. Untuk menantang hukum alam dunia ini, seseorang tidak boleh terikat oleh keterikatan apa pun pada dunia. Maka dari itu, ia harus membakar habis segalanya. Segala hal yang ada pada dirinya dalam sekejap ini.

Cinta, kebencian, dan juga...

Satu-satunya nilai kehidupan yang bisa ia sebutkan selain pedang: senyum anak tercinta yang telah ia sumpahi untuk dilindungi.

Tanpa dusta, ia menguapkan seluruh isi hatinya yang bisa ia sebut sebagai jati dirinya hingga batin Saal menjadi kosong melompong. Setelah itu, apa yang harus dilakukan? Ia tidak perlu berpikir.

Sebab, syarat kedua—teknik yang telah terukir hingga ke tulang dan daging—kini telah terbebas dari segala belenggu.

Dan benar saja, satu tebasan yang telah mencapai taraf dewa itu menangkis, menepis, dan membelokkan peluru yang datang bertubi-tubi.

Raghunadan terbelalak seolah napasnya terhenti seketika.

Pada saat yang sama, sebutir peluru bersarang di bahu Saal. Lalu di kaki dan lengan atasnya. Namun, nyawa dari manusia yang mengayunkan pedang itu tidak lagi relevan. Tangkis, belokkan, paksa logika untuk tunduk, dan tebas kemustahilan. Karena ini adalah pedang yang telah mencapai tingkatan itu, maka wajar saja jika ia mengabaikan nyawa penggunanya—

Tepat di saat itulah, sebuah sensasi tentang kesalahan yang fatal mengembalikan kewarasan Saal.

"—Gugh!?"

Kedua lengannya—otot-otot yang menopang pedang itu sendiri—tertembus peluru.

Hantaman di perut dan kakinya merusak keseimbangan tubuhnya. Pedangnya terlepas, dan tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah.

"A-ah, nyaris saja... bukan begitu, Saal?"

Suara tembakan telah berhenti. Saat Saal mendongak, di depannya ada senyum kelegaan yang basah oleh keringat dingin.

Satu langkah lagi. Seandainya ia bisa mendekat satu langkah saja, ia pasti bisa lepas dari sudut tembak senapan mesin dan memenggal kepala Raghunadan. Seharusnya begitu. Namun, kenyataan tidak berkata demikian.

Mimpi buruknya dimulai dari sini.

"Lenganmu sudah mati sekarang."

"Gugh! ……Sialan, gakh, AAAAAAAKKKKH!?"

Sambil menginjak lengan yang bersimbah darah itu, Raghunadan berteriak lantang.

"Aku tidak akan membunuhmu. Tidak akan pernah membunuhmu. Terimalah hukuman karena telah merebut Mishura dariku! Rasakan dosamu! Rasakan ketidakberdayaan dan keputusasaan ini sembari perlahan-lahan membusuk!

Sebagai permulaan, akan kubunuh kehormatanmu. Yang terkuat di kekaisaran, sang ahli pedang kuno, Saal Haft, telah mati hari ini. Kau bukan siapa-siapa lagi—hanya Rostam, si abang bodoh dari cerita lama!"

Kemudian, dengan napas tersengal, ia berbalik dan memerintah para prajurit yang masih terpaku.

"Oi. Bawa kemari istri dan putri pengkhianat ini."

——Mishura digiring keluar, mungkin dipaksa bangun oleh para prajurit. Ia mendekap Anahita yang masih pingsan, tubuhnya gemetar karena keletihan yang luar biasa.

Meski begitu, ia menatap Saal dalam diam, menyunggingkan senyum pedih yang penuh kasih. Kemudian, ia beralih melotot ke arah pria yang pernah menjadi sahabat mereka.

"Mishura……"

Dengan suara yang terdengar pekat, pria itu melemparkan sebuah pistol ke arah wanita idamannya, seolah memberikan sebuah tawaran.

"Akan kuberikan kau kesempatan. Pilihan untuk menebus dosamu padaku dan memulai hidup baru. Pertama, bunuh dirimu sekarang juga dengan pistol itu. Jika kau melakukannya, aku akan menyelamatkan mereka berdua. Tapi jika kau ingin tetap hidup, ambillah pilihan kedua. Bunuh anak itu dan Saal. Jika kau melakukannya, aku berjanji akan menjadikanmu istri paling bahagia di dunia."

Saal yang terkapar tak berdaya tidak akan pernah menaruh dendam seandainya Mishura memilih opsi kedua. Yang ia benci hanyalah pedang kunonya yang tidak berguna, yang gagal melindungi istri dan putrinya.

Mishura meletakkan Anahita yang berada di dekapannya dengan lembut di sisi suaminya.

"……Maafkan aku. Selamat tinggal."

Ia menempelkan pistol itu ke pelipisnya sendiri.

"Satu-satunya kebahagiaanku sudah kau hancurkan, Ragna."

 

Tanpa sempat ada yang berteriak menghentikannya, Mishura menarik pelatuknya.

Namun, palu pistol itu hanya menimbulkan bunyi klik yang hampa—pistol itu kosong.

Di tengah keheningan yang seolah kehilangan momentum itu, Ragnadan tersenyum sembari meneteskan air mata.

"Iya. Sudah kuduga kau pasti akan melakukannya, Mishura."

Dan sekali lagi, kali ini dengan membidik sosok wanita yang benar-benar tak berdaya itu, mesin uap yang terpasang pada senjata pembantai mutakhir tersebut meraung keras.

"Enyahlah tanpa sisa. Aku tidak bisa lagi mencintai ataupun memaafkanmu yang telah ternoda."

Saal berdoa. Tangannya yang tak lagi bisa menggenggam pedang, kini hanya bisa digunakan untuk berdoa.

Kumohon. Jika memang ada kebaikan yang nyata di dunia ini, aku akan melakukan apa pun.

Tolong, selamatkan Mishura. Aku mohon.

——Berondongan peluru, bagai cakar binatang buas, mencabik-cabik tubuh wanita yang berdiri mematung itu.

Daging yang lembut meledak bersama percikan cairan merah. Dari tubuh yang telah ia peluk berkali-kali itu, organ-organ dalam tumpah keluar, sementara peluru yang tertanam di sana mengepulkan asap panas.

Wajah yang pernah tersenyum lembut padanya, rambut perak yang indah, semuanya hancur berantakan dan terbang tertiup angin.

Tembakan itu berlanjut dengan kejam, tanpa henti, hingga menghabiskan dua kotak sabuk amunisi.

Wanita yang dicintai pria itu kini telah berubah menjadi gumpalan daging cacah yang tak berbentuk lagi.

 

Bagian 6

Saal Haft—Rostam—mengosongkan gelas kesekiannya sembari menceritakan masa lalu itu.

"Setelah itu, Anahito yang selamat diambil paksa olehnya sebagai anak angkat. Dia diajari bahwa ayah dan ibunya mati karena pengkhianatan. Karena itu, gadis itu tidak tahu kalau aku adalah ayahnya. Aku bahkan tidak diizinkan untuk memberitahunya. Dan saat rapat umum pemegang saham nanti... ketika dia menginjak usia delapan belas tahun, dia akan dipaksa menikah dengan pria itu."

Lalu, cairan rum kembali mengucur, memenuhi dasar gelas yang telah kosong.

"Dan aku dibiarkan hidup. Bukan sebagai ayahnya, Saal, melainkan sebagai Rostam... Aku diperintahkan untuk mengabdi sebagai pengawal di sisi anak itu dan menyaksikan pertumbuhannya. Ragna tahu betul... bahwa aku tidak akan bisa lagi melawannya, dan hanya itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan."

Berkali-kali ia menyentuhkan tangan ke pedangnya. Ia sangat ingin membunuh orang yang telah menghabisi istrinya serta merenggut cahaya dan masa depan putrinya. Namun ia tidak mampu, dan desah napasnya terdengar seperti rasa kecewa yang tak berujung pada diri sendiri.

"Aku takut. Setiap kali aku menggenggam pedang dan berniat melakukannya…… tanganku gemetar, aku tidak bisa. Tapi tetap saja, meski hanya sepatah kata. Seandainya anak itu memintaku untuk menolongnya, mungkin aku bisa bangkit kembali."

Rostam mengatakan bahwa Anahit yang ia temui kembali tampak seperti boneka yang telah kehilangan segalanya.

Hanya seekor burung dalam sangkar yang buta, yang mempermainkan kebahagiaan dan niat baik kosong demi mematuhi perintah suaminya.

"Pada akhirnya, itu pun hanya alasan belaka. Aku ini pecundang yang tidak tertolong. Hanya saja, aku tidak sanggup menanggung kehilangan nyawa Anahita jika aku mencoba melawan pria itu lagi. Karena itu…… ayolah, setidaknya tertawalah, Linus."

"Mana kutahu."

Lewat gelas yang isinya masih tersisa separuh, aku melontarkan kesan jujurku. Aku sudah memahami garis besar situasinya. Bukannya aku tidak bersimpati, tapi ini bukan urusanku.

Melihat sikapku yang seperti itu, Rostam tertawa mencemooh dengan nada lelah.

"……Aku diperintahkan untuk membunuhmu."

Cairan baru dituang pelan, mengisi gelasku yang masih berisi sisa minuman.

"Minumlah. Itu bisa meredakan rasa sakit. Saat kau ingin menyerah pada sesuatu, bantuan terbaik memang hanya alkohol."

Menyerah. Mendengar kata-kata ringan yang seolah sudah biasa ia ucapkan itu, entah mengapa aku merasa sangat marah.

Seandainya aku bisa melakukan itu, betapa mudahnya hidup ini.

"Atau, hei, Linus. Apa kau benar-benar ingin selamat? Jika iya——haruskah aku menolongmu?"

Tawaran itu tidak terdengar seperti niat baik, melainkan seolah pria itu sendiri yang sedang memohon.

 

"Bawa gadis pirang itu bersamamu dan pulanglah ke Republik. Lalu, lupakan soal Nona Chronica dan jangan pernah terlibat lagi dengan kami. Jika kau setuju, yah…… aku bisa saja mengarang alasan dalam laporan nanti."

Pandangan Rostam beralih antara aku dan Patricia. Seolah-olah ia sedang memproyeksikan sesuatu yang tidak bisa ia raih kembali kepada kami.

"Gadis yang cantik. ……Dia jatuh cinta padamu, kan? Kalau begitu, hargailah dia. Dengan begitu, kau bisa menjadi bahagia."

Aku menyesap sedikit minumanku.

Kemudian, sambil bersandar pada kata-kata Rostam, aku mencoba bertanya sekali lagi pada hidupku dengan kepala dingin.

Kembali ke Republik bersama Patricia, lalu menjalani hidup bersamanya.

Jika aku melakukannya, apakah aku bisa memperbaiki masa lalu saat aku kehilangan Kakak?

Sebagai ganti perjalanan bersama Chronica, apakah hari-hari yang bising namun hangat bersama Patricia mampu menutup lukaku?

Ah, mungkin saja memang begitu.

"Aku sudah memikirkannya baik-baik. Kau benar sekali, Rostam."

Justru karena itulah, di dalam benakku—suara koin berdenting nyaring.

Bukan. Hidupmu bukan di sana. Rasa sakit yang memekakkan telinga terus berbunyi, memperingatkanku.

……Benar. Itu benar. Apa yang sedang kupikirkan? Aku ini.

"Karena itu, aku akan mengalahkanmu, lalu pergi menyelamatkan Chronica."

Aku tidak boleh menjadi bahagia.

Bukan karena aku seorang penipu yang telah membohongi banyak orang demi menutupi masa laluku—bukan itu.

Akulah, aku sendiri, yang telah menyakiti Nee-san dan mendorongnya menuju kematian.

Selama kebenaran itu masih ada di balik topeng yang terkelupas, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Begitu rupanya. Karena itulah aku memilih Chronica. Harus Chronica.

Perjalanan dengannya, baik secara situasi, fisik, maupun mental, selalu melemparkanku ke dalam kesulitan, menyiksaku, dan menjauhkanku dari kebahagiaan. Justru karena itulah, hidup seperti itulah yang pantas untukku.

"Kebahagiaan sama sekali tidak cocok untuk penipu sepertiku. Kalau sudah paham, minggirlah dari sana, Pak Tua."

"……Kau benar-benar bodoh."

Aku sudah tahu, jadi kau tidak perlu mengatakannya.

"Anggaplah kau bisa mengalahkanku, lalu bagaimana kau akan mengecoh bajingan Raghuna itu? Bahkan monster-monster yang kau sebut Ksatria itu sekarang sudah ada di pihaknya. Tidak mungkin seorang penipu kelas teri bisa berbuat apa-apa."

"……Akan kuberitahu tiga hal yang paling kubenci. Rokok yang lembap, rengekan bocah, dan omongan benar yang keluar dari mulut orang tua. ——Kalau kau ingin berputus asa dengan wajah sok bijakmu itu, lakukan saja sendiri sesukamu. Sayangnya, aku terlalu sibuk untuk melakukan kebodohan."

Tepat saat aku melontarkan kata-kata itu, Rostam berdiri dengan senyum kecut.

Dari sekujur tubuhnya, hawa keberadaan yang mengerikan bangkit, seolah menyapu bersih aroma alkohol di sekitarnya.

"Begitu ya. Kalau begitu, akan kubunuh kau. ……Padahal aku tidak benci anak muda yang kurang ajar."

Lalu, tanpa direncanakan, kami menyelaraskan napas dan menghentakkan gelas kosong masing-masing ke atas meja.

Bunyi nyaring dari pecahnya gelas-gelas itu menjadi aba-aba bagi Rostam untuk menghunus pedangnya.

Dan aku? Aku menendang meja hingga tumbang, lalu lari tunggang langgang secepat kilat.

 

Bagian 7

Kelemahan Rostam adalah trauma terhadap senjata api.

Hal itu disampaikan oleh Chronica melalui kontak mata saat kami menyudutkan Fakim di aula tadi.

Dalam ingatan itu, Rostam tampak ketakutan pada pistol. Meski dengan kemampuan pedangnya yang luar biasa gila itu ia seharusnya bisa menangani peluru dengan mudah, tangannya justru gemetar hebat.

Jadi, pertama-tama aku butuh beceng. Apa pun yang terjadi, aku harus mencari senjata api. Aku berlari menyusuri koridor kediaman yang sudah tak berpenghuni ini.

Aku sudah punya perkiraan. Sebuah bangunan paviliun di luar yang sempat kulihat sekilas dari jendela, sepertinya itu adalah pos penjagaan para prajurit.

Tepat saat aku meluncur turun melalui pegangan tangga hingga sampai ke depan pintu utama di lantai satu—

"—Apa-apaan!?"

Mendengar suara aneh dari lantai atas, aku mendongak ke arah area terbuka di tengah ruangan. Yang menghujaniku saat itu adalah rak buku, meja tulis, hingga sofa—segala macam perabot berat dan mahal yang sudah hancur tercincang menjadi puing-puing.

"Gugh, goh, akh! Sakit, sakit, sakiittt!"

Serpihan tajam dan keras menghantam kepala serta punggungku. Akibat rentetan benturan itu, tanpa sadar aku memegangi kepala dan menghentikan langkah sesaat.

"Oi. Bukannya aku peduli, tapi kalau kau diam saja begitu, kau bakal mati."

Yang terakhir melompat turun dari lantai atas adalah Rostam, mendarat dengan ujung pedang satu bilahnya mengarah ke bawah.

Begitu aku berguling menghindar, rentetan kilatan pedang yang mendesing seperti suara angin membelah lantai tempatku berada tadi, memutuskan karpet tebal hingga terangkat.

Aku sudah tahu. Aku benar-benar sudah tahu kalau orang ini pun pada dasarnya bukan manusia.

Sambil tersandung puing-puing yang berserakan, aku meraih barang apa saja yang dipajang secara menyebalkan di depan pintu masuk dan melemparkannya ke arah Rostam yang mendekat dari belakang.

Patung perunggu berbentuk wanita ia hindari dengan enteng; piring hias yang indah ia tebas seperti memukul serangga. Dan terakhir, saat aku melemparkan jambangan besar dari porselen putih, Rostam dengan mudah menyangkutkannya di ujung pedang, lalu—

"Ini, ambil balik!"

"Gabhok!?"

Pandangan menggelap. Merasakan hantaman tumpul di kepala, instingku langsung menyadari bahwa jambangan yang dilemparkan balik itu telah amblas membungkus kepalaku, mengurungku di dalamnya—gawat.

Tepat saat hawa dingin menyentuh perutku, refleks aku memuntir tubuh. Rasa panas yang membakar seketika menyambar pinggangku.

"Cih, instingmu tajam juga. Biasanya delapan atau sembilan dari sepuluh orang bakal mati kena ini. Keputusan tepat untuk menghindar ke samping. Karena aku mengincar tusukan, kalau kau cuma mundur, kau pasti sudah jadi sate."

"Ku... rang... ajar! Eng-nggak bisa lepas...!"

Tak ada celah untuk membalas. Aku tidak bisa melihat depan. Mulut jambangan yang membungkus kepalaku seperti lelucon bodoh ini entah mengapa sedikit lebih kecil dari ukuran kepalaku sendiri, hingga ditarik sekuat apa pun tetap tidak mau lepas.

Bahkan untuk sekadar bertepuk tangan memuji keahlian dewa yang tak masuk akal karena bisa memakaikan jambangan ini tepat sasaran pun, bajingan itu tidak akan memberiku kesempatan.

"Mau coba mengetes apa kau bisa melepasnya sebelum mati?"

Kematian yang tak kasat mata sudah mendekat. Punggungku gemetar hebat, membuat tangan dan kakiku bergerak serampangan tanpa arah. Hasilnya, tidak mengejutkan lagi, kakiku tersangkut dan aku jatuh tersungkur.

Aku terus berguling-guling, melewati pintu depan yang mungkin sudah hangus hancur, lalu terjatuh dengan mengenaskan di anak tangga yang sepertinya adalah tangga utama. Tepat saat tubuhku terbentur keras, kegelapan di depan mataku akhirnya pecah berkeping-keping.

"Gakh, haah, cuih... Sialan!"

Aku bangkit dan meludahkan serpihan porselen yang masuk ke mulut. Rostam tampak sedang menuruni tangga depan dengan langkah tenang. 

Tangan kanannya yang menggenggam pedang dibiarkan tergantung lemas, sementara tangan satunya lagi mengangkat botol miras ke mulutnya.

 

"Haha, itu tadi mahakarya, Linus. Baru digertak sedikit pakai hawa membunuh saja, kau sudah jungkir balik seputus asa itu... Kalau strategimu adalah membuatku mati tertawa, itu rencana yang bagus."

Aku membelakangi sang maestro yang sangat percaya diri itu, lalu berlari menuju bangunan paviliun targetku bak anjing yang ketakutan.

Mustahil. Orang itu bukan lawan yang bisa dihadapi dari depan.

Dia bukan bangsawan yang memiliki kekuatan supranatural. Sebaliknya, justru karena dia adalah manusia dengan spesifikasi yang sama denganku, perbedaan pengalaman dan teknik yang meresap hingga ke tulang itu terpampang nyata dengan sangat kejam.

Bagaimanapun, dengan kondisi babak belur, aku berhasil merangkak masuk ke dalam pondok paviliun yang berbau mesiu itu.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik sampai pintu yang kukunci dengan panik itu ditebas hancur.

Akhirnya, aku berhasil mendapatkannya.

Kepada pemilik langkah kaki yang memasuki pondok itu, aku menodongkan pistol perlengkapan yang kutemukan.

"!!"

Mata Rostam membelalak. Aku pun ikut menahan napas.

Klik. Pelatuk pistol yang kuarahkan padanya hanya mengeluarkan suara hampa—pelurunya kosong.

Tersentak, kami berdua menyadarinya di saat yang bersamaan, lalu menoleh ke arah poster yang tertempel di dinding.

Di sana tertulis semboyan keselamatan dalam bahasa Kekaisaran: Keluarkan peluru dari senjata yang sedang tidak digunakan.

Sialan, kenapa mereka harus patuh sekali pada aturan di saat seperti ini!

Tepat saat aku memaki di dalam hati.

"Kalau begitu, sudah diputuskan—selamat tinggal."

Demi menebas leherku, teknik pedang maut yang telah terasah itu berkilat menerjang.

Dan ternyata—ujung pedang yang elok itu hanya menyambar ruang kosong beberapa inci di samping leherku. Meski meleset, jaraknya sangat tipis hingga nyaris merenggut nyawaku.

"Hah!?"

Rostam memekik konyol. Dia sepertinya baru menyadari sesuatu. Tiba-tiba kakinya limbung, ia terhuyung-huyung di tempat. Akhirnya, efek dari benda yang kucampur ke dalam minumannya mulai bekerja.

 

Aku menunjukkan botol kecil yang kukeluarkan dari balik bajuku ke arah sepasang mata merahnya yang tampak curiga.

Sebagai seorang petarung, aku memang tidak ada apa-apanya dibanding pria paruh baya ini. Tapi sebagai penipu, aku jauh di atasnya.

Ini produk lokal pulau ini. Getah bunga opium. Lain kali kalau mau minum, seharusnya kau lebih waspada pada gelasmu.

"Mengenaskan sekali. Kau sama sekali tidak pantas disebut peminum, Pak Tua."

"Kur-kurang ajar... tanganmu benar-benar terlalu jahil, hah!?"

Maaf saja, tapi kakiku juga cukup jahil. Entah karena tradisi atau apa, bahkan di tempat seperti ini pun mereka memasang karpet hitam dengan teliti. Aku menghentakkan tumitku dan menarik karpet itu sekuat tenaga.

Kain yang bergeser itu membuat langkah sempoyongan Rostam kehilangan keseimbangan, dan ia pun jatuh tersungkur dengan memalukan.

Dalam celah sempit itu, aku segera mengambil peluru dari rak penyimpanan terdekat untuk mengisi pistolku. Namun, sebuah pedang lengkung (scimitar) melesat bangkit dari lantai, merobek dadaku hingga aku terjatuh terduduk—dan pistol itu pun terlepas dari tanganku.

"……Berakhir sudah."

Rostam bangkit sambil menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikiran, lalu mengarahkan ujung pedangnya tepat ke arahku.

Sebaliknya, aku masih terduduk di lantai. Jarak tanganku memang cukup dekat untuk menjangkau pistol yang sudah terisi peluru itu, tapi bagaimanapun juga, aku tidak akan punya cukup waktu.

Karena itu, aku harus bergerak lebih cepat dari peluru, lebih cepat dari pedangnya.

Dengan ujung jari yang sudah sangat terbiasa, aku mengenakan topeng tak kasat mata.

Aku sudah bertemu dengannya sekali. Aku sudah mendengar masa lalunya. Jika demikian, tidak mungkin aku tidak bisa melakukannya.

Wajah yang kupasang sekarang adalah wajah Ragnadan Kabul, yang membawa kegelapan kelam, obsesif, dan melankolis.

Kemungkinan besar—apa yang sebenarnya pria ini takuti bukanlah senjata api.

Benar saja, Rostam terpaku kaku. Di celah sempit itu, aku menyambar pistol dan melepaskan tembakan.

Meski begitu, pedang yang sudah terayun jatuh itu tidak berhenti sepenuhnya.

Hasilnya, hantaman peluru yang menembus bahu Rostam merusak keseimbangan sang ahli pedang secara signifikan.

Aku selamat, meski pipiku tergores luka sayatan dangkal.

Dan, selesai sudah.

Sambil tetap menodongkan pistol, aku menyesap rokok sesaat, lalu mengembuskan asapnya.

Rostam tergeletak di lantai dengan darah yang mengucur dari bahunya dan pedang yang terlepas dari genggamannya.

"……Bunuh aku. Dengan begitu, akhirnya, aku bisa berakhir. Maafkan aku, Mishura, Ana……"

"Berisik."

Aku menembakkan sisa peluru ke lantai tepat di samping wajahnya, lalu membuang pistol itu dengan kasar.

Rasanya benar-benar memuakkan. Baik si ayah ini maupun putrinya, mereka seenaknya menyeret aku dan Chronica ke dalam keputusasaan mereka sendiri.

Karena itu, aku sudah tidak sudi lagi membiarkan segalanya berjalan sesuai keinginan mereka. Perasaan itulah yang kurasakan sekarang.

Kepada Rostam yang menatapku dengan lunglai, aku menyatakan ini:

"Oi, dengar baik-baik. Aku akan pergi menyelamatkan Chronica sekarang. Sekalian juga, aku akan menghancurkan bajingan bernama Ragnadan itu. Perusahaannya, semua uangnya, segala yang dia miliki akan kurampas. Termasuk putrimu, Anahit."

"……Hah?"

"Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku sangat pandai menangani wanita. Dalam sekejap, aku akan membuatnya tidak bisa hidup tanpaku."

"Oi, tunggu sebentar, kau... omong kosong apa yang kau—"

"Kalau kau tidak suka, berarti kau tidak punya waktu untuk mati. Datanglah dan hentikan aku."

Aku melemparkan beberapa perban pertolongan pertama dari rak ke arahnya bersamaan dengan kata-kataku.

Lalu aku menyuruhnya melakukan apa pun yang dia mau, dan berbalik.

 

Bagian 8

Di ambang pintu depan yang hangus terbakar, sosok yang menyambutku adalah Patricia yang sudah berdiri tegak.

"Apa lukamu baik-baik saja?"

"Ya, berkat bantuanmu. Lihatlah sendiri desuwa~."

Ia menyingkap kain perban darurat yang telah hangus, memperlihatkan kulit putihnya yang luka-lukanya telah menutup sempurna. 

Sepertinya darah Chronica sangat berkhasiat; keceriaan yang biasa telah kembali ke wajahnya.

Kepada Patricia yang seperti itu, kali ini aku menundukkan kepala dengan wajah asliku tanpa topeng apa pun.

"Kumohon. Bisakah kau meminjamkan kekuatanmu padaku?"

Mungkin jika ia memutuskan untuk membunuhku di sini pun, aku tidak berhak mengeluh. 

Namun bagiku, tidak ada lagi cara lain untuk menghadapi dirinya selain dengan kejujuran ini.

"Aku ingin menyelamatkan Chronica."

Patricia tersenyum lembut, lalu mengusap kepalaku seolah berkata, Yah, mau bagaimana lagi.

"Baiklah. Aku mengerti. Namun sebagai gantinya, maukah engkau pergi berkencan denganku lagi? Terus menerus mulai sekarang, sampai engkau benar-benar jatuh cinta padaku."

"Ya…… aku berjanji."

Mungkin aku baru saja menyanggupi janji yang benar-benar harus kutepati. Aku menjabat tangan Patricia yang mengangguk gembira, lalu mulai melangkah menuju pelabuhan. Tepat pada saat itulah...

"Tunggu dulu."

Mendengar derap langkah kaki yang gontai, aku menoleh dan mendapati Rostam berdiri di sana dengan bahu yang sudah dibalut perban.

"Kalian serius? Apa kalian punya peluang menang?"

"Entahlah, aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. Tapi tidak seperti kau, aku tidak punya niat untuk menyerah. Jadi, nantikan saja."

"Lancang sekali bicaramu…… tapi, yah, sudahlah."

Rostam menggaruk kepalanya dengan kasar, lalu berkata:

"Aku jadi ingin melihat dan menertawakan saat-saat terakhirmu nanti. Dan satu lagi…… berani-beraninya kau menyentuh Ana meski hanya seujung jari, kali ini aku benar-benar akan membunuhmu."

Lalu, Patricia menjawab dengan senyum penuh percaya diri.

"Fufun! Sayang sekali bagimu, selama ada diriku disini, aku tidak akan membiarkan Linus mati! ……Dan juga, aku tidak akan membiarkan dia mendekati wanita lain lagi."

"Oho, benar-benar bisa diandalkan…… Linus, kau sepertinya akan menderita, ya."

"Jangan bersimpati padaku, itu menyebalkan."

Kami bertiga melangkah menuju pelabuhan.

Pelabuhan di distrik imigran itu terasa sepi bagai pemakaman, terlebih karena malam sudah semakin larut. Mungkin ini akibat dari sebagian besar penduduk yang menjadi penggerak keramaian di sini telah ditindas sejak tadi malam.

Kapal-kapal uap bersandar di pelabuhan bagaikan objek raksasa yang mengintimidasi. Di sekelilingnya, tampak beberapa prajurit yang berjaga.

"Pertama, kita rebut kapalnya dulu, Patty."

"Baik desuwa~. Umm, jadi aku hanya perlu membakarnya saja, kan?"

"Jangan, Nona, kalau apinya menyambar bahan bakar di lambung kapal, semuanya akan meledak. Kita habisi dulu penjaganya, lalu rebut kapalnya secara langsung."

Baru saja kami menyusun rencana darurat itu, tiba-tiba—

"……Uuuh, akhirnya bisa naik ke daratan juga. Sialan, dasar si bodoh pemotong itu…… uuu, asin, dingin, aku ingin cepat-cepat istirahat di tempat tidur——eh, dia itu!"

"Ada api unggun yang pas sekali di sana, ya. Mari kita gunakan untuk menghangatkan diri. Sebagai balasannya, mari kita ambil nyawa mereka. Tapi tidak perlu ada balasan kembali. Cukup cipratan darah saja sudah cukup bagi kami. Brrr, dingin."

Sambil merangkak naik, di ujung dermaga teluk kecil dekat tempat kami berdiri, sepasang kakak beradik itu naik ke darat seolah baru saja terdampar.

Mereka adalah si kembar yang malang, yang terlempar akibat serangan Welquix yang seharusnya adalah rekan mereka sendiri.

Pluto dan Ulna, pembunuh dari ksatria ordo, memunculkan diri dengan mata merah yang berkilat buas.

"Biarkan bagian ini menjadi urusanku."

Menanggapi tantangan itu, Patricia berdiri dengan gagah di depan kami.

"Tidak ada yang lebih mengganggu daripada anjing yang terus menggonggong meski lemah. Kali ini, aku akan benar-benar membakar mereka hingga habis——kalian berdua, pergilah ke kapal. ……Jangan khawatir, aku pasti akan menyusul ke sisimu, Linus."

Terpaku oleh suaranya, punggungku terasa seolah didorong maju.

"Ayo pergi, Linus. Para prajurit mulai berkumpul."

Didorong pula oleh Rostam, aku pun mulai berlari cepat.

Sambil menoleh ke belakang, aku bergumam ke arah senyuman yang membalas tatapanku, seolah-olah gumaman itu adalah sebuah jimat pelindung.

"……Jangan sampai mati."



Bagian 9

"Ya, tentu saja. Kalau begitu——bagaimana jika kalian berdua mati saja?"

Patricia membakar pita birunya hingga terlepas, membebaskan hawa panas membara yang bersemayam di dalam dirinya.

Di hadapannya, si kembar juga mengeringkan pakaian mereka dengan panas radiasi dari faktor genetik mereka, lalu memasang kuda-kuda tempur.

"I-itu adalah kalimat kami! Kalian selalu saja meremehkan kami! Kali ini, akan kami tunjukkan kesungguhan kami yang sebenarnya!"

"Belalaki, teliti, dan perhatikan baik-baik. Kami, akhirnya, akan beraksi. V (peace)."

Patricia tidak melepaskan senyum tenangnya.

Faktor genetik si kembar, baik kemampuan maupun kekuatannya, jelas merupakan versi inferior di bawah dirinya sendiri. Kemampuan bela diri mereka pun sudah bisa ditebak. Jika demikian, tidak ada alasan baginya untuk kalah. Penilaian itu benar adanya.

Kecuali untuk satu hal yang tak terduga.

"Ayo lakukan, Ulna." "Baik, Kakak."

Setelan pelayan pria dan pelayan wanita. Sambil bergandengan tangan, si kembar memasang kuda-kuda dengan luwes dan tersenyum penuh nyali.

"Sekali lagi," "Kami akan memperkenalkan diri."

Dua belas tahun lalu, di era Kerajaan lama, terdapat sebuah unit pembunuh rahasia yang terdiri dari para pemilik Faktor Darah Mulia (Regalia) khusus. Anggotanya, secara teknis, bukanlah kaum bangsawan.

Itulah alasan mengapa mereka mengenakan seragam pelayan.

""Kami adalah Barisan Kedua Pengawal Ksatria (Second Guards)——.

Sapu kesepuluh dan kesebelas dari <Sapu Hitam (Broom Sweeper)>!! Pluto dan Ulna.""

Mereka lahir secara kebetulan dalam proses genetik. Pemilik faktor mutasi tunggal yang hanya muncul dalam satu generasi. Mereka adalah produk gagal sekaligus di luar nalar yang keluar dari kerangka manusia super bernama bangsawan.

Peran yang diberikan kepada mereka yang lahir sebagai bidat adalah menjadi sapu yang bertugas membersihkan "sampah"——yaitu para bangsawan dan pewaris kanibal (Carnibalist) yang dianggap merugikan stabilitas monarki.

"Kami adalah Bentuk Serupa yang Tak Termaafkan (Coherent)."

"Kami adalah Sifat Kembar yang Terlarang (Resonance)."

Di antara tangan mereka yang saling bertautan, gelombang masing-masing mulai berinterferensi, dan darah mereka mulai beresonansi bersama faktor genetik tersebut.

Itu adalah sebuah anomali mutasi. Sebuah keunikan yang hanya dimiliki oleh Faktor Darah Mulia (Regalia) yang telah menembus batasan standar genetik.

"Gemetarlah dalam kemarahan," "Merataplah dalam kegembiraan."

<Halo-Line>: Over Carnage.

""——Inilah titik kritismu!!!!""

 

Gemini Blood.

Satu Faktor Darah Mulia (Regalia) normalnya hanya akan diwariskan kepada satu orang anak. Dengan kata lain, jika hanya salah satu orang tua yang merupakan bangsawan, maka hanya satu dari anak-anak mereka yang akan menjadi bangsawan.

Namun, dalam kasus yang sangat langka, ada kejadian di mana satu faktor dibagi dan dimanifestasikan di antara sepasang kembar.

<Halo-Line>. Faktor tunggal yang dibagi oleh si kembar ini memanifestasikan kemampuan yang benar-benar identik pada masing-masing individu. Yakni, kemampuan pelepasan panas yang didefinisikan sebagai "gelombang".

Secara individu, kekuatan ini memang mengancam namun tidaklah luar biasa; tipikal Faktor Darah Mulia tingkat kedua.

Namun, karena sepasang kembar yang berbagi darah ini memiliki keserupaan bentuk, mereka memiliki karakteristik mengerikan yang hanya bisa diaktifkan jika mereka bekerja sama.

"Aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan—tapi tidak akan kubiarkan."

Namun, sang wanita pirang tidak punya alasan sedikit pun untuk membiarkannya.

Api neraka yang dilepaskan segera menelan Pluto dan Ulna yang saling berpegangan tangan. Namun, panas ledakan bersuhu ratusan derajat itu hanyalah pengalih perhatian yang sudah diperkirakan akan tertahan.

Target utamanya adalah serangan fisik tangan kosong yang mengandung panas ledakan yang megah.

 

Satu langkah, dua langkah. Dengan tempo cepat untuk serangan mendadak, ia memangkas jarak. Tinju panas yang anggun namun tajam itu seharusnya akan menghancurkan wajah mereka yang masih polos——seharusnya.

"—kh!! Atas!?"

Tinju itu membelah kobaran api, namun hanya mengenai udara kosong. Patricia segera mendongak ke arah target yang tertangkap oleh indra pendeteksi panasnya, dan ia tertegun.

"Sudah kubilang, kan? Kami akan menunjukkan kesungguhan kami."

"Singkatnya, singkatnya, kau akan mati. Selamat jalan."

Ilustrasi Hitam Putih 2 - Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2 Bab 3

Di belakang punggung mereka, sepasang sayap cahaya yang saling melengkapi mengepak. Siluet si kembar yang melayang di angkasa bergoyang seperti fatamorgana.

Output faktor genetik yang meluap dari tubuh mereka menggetarkan atmosfer dan membiaskan cahaya bintang. Sepasang saudara yang kini bersinar menyilaukan itu berpijak di angkasa, mencapai sebuah tingkatan kekuatan yang mengerikan.

Melihat aura luar biasa yang bersinar di langit malam, insting Patricia seketika membeku.

"Jangan-jangan, ini sama dengan... maid licik itu!?"

——"Gelombang" yang dipancarkan oleh faktor genetik si kembar memiliki sifat interferensi yang sangat tinggi satu sama lain karena bentuk gelombangnya yang serupa.

Gelombang milik sang kakak, Pluto, memperkuat gelombang milik sang adik, Ulna. Pihak yang diperkuat kemudian memperkuat kembali pihak satunya. Dengan menggunakan gelombang kemampuan yang terus meningkat ini sebagai perantara, faktor genetik yang berbagi darah ini beresonansi tanpa batas, menembus langit-langit kekuatan.

Output faktor yang telah melampaui segala batasan itu terwujud menjadi sepasang sayap cahaya—satu di kiri dan satu di kanan—yang membentang dari punggung mereka.

Si kembar bergerak. Sayap cahaya yang berkedip dan bermuatan listrik menghanguskan langit, meluncur memutar seraya mengacaukan radar pendeteksi panas.

"Musnahkan," "Tembus dan lubangi."

Aliran cahaya yang memancar dari ujung jari mereka bukan lagi gelombang tak kasat mata seperti sebelumnya, melainkan sinar penghancur (laser beam) berwarna-warni yang sangat padat hingga bisa tertangkap oleh mata manusia.

Sifat gerak lurus yang meningkat hingga titik ekstrem itu menembus penghalang panas yang dikerahkan Patricia dalam sekejap. Sinar itu merobek pinggangnya, dan massa energi panas yang menghantam tanah di belakangnya tertahan sejenak sebelum meledak dahsyat.

Hujan sinar penghancur turun bertubi-tubi. Akibat rentetan ledakan itu, Patricia terhempas ke arah yang tak menentu tanpa sempat memasang kuda-kuda pelindung. Namun, semangat tempurnya justru semakin berkobar.

"Kh, kalian ini——!! Jangan meremehkanku!"

Ia pun melepaskan kekuatan sejatinya. Aliran darah yang mengucur ia jalin menjadi gaun tempur api (flame dress), sementara tinju dan tendangannya yang mengandung ledakan mulai menangkis sinar-sinar tersebut.

Memanfaatkan momentum itu, ia mengincar si kembar yang menari di angkasa dengan kecepatan tinggi—namun.

"Kami sama sekali tidak meremehkanmu."

"Tidak ada bagian dari dirimu yang layak diremehkan, karena peluang menangmu memang nol besar."

"—!? Sejak kapan kalian!!"

Akselerasi super yang jauh melampaui penglihatan dinamis Patricia. Sepasang kembar dengan satu sayap di masing-masing punggung mereka mendarat di tanah, berdiri di sisi kiri dan kanan seolah menjepit sang wanita api.

"Ayo, mari kita mulai. Di sini sudah masuk dalam jarak jangkauan dansa pertempuran!"

"Lonceng perang pukul dua belas sudah berdentang sejak lama sekali, ding-dong, ding-dong."

Kombinasi si kembar yang selaras sempurna—tinju dan tendangan yang menyerang dari kiri dan kanan—tak lagi bisa ditangkis atau dialirkan oleh Patricia seperti sebelumnya.

"Gakh! Haah……!?"

Tinju Pluto menghantam perutnya, sementara tendangan Ulna mendarat telak di wajahnya. Sama seperti pelayan berambut hitam waktu itu, kekerasan yang dijalin dari kecepatan dan kekuatan fisik absolut—yang telah menembus batas kewajaran bangsawan—secara paksa membalikkan perbedaan kemahiran teknik. Mereka menghajar Patricia dengan cara yang nyaris terlihat seperti sebuah karya seni.

Dan itu tidak berhenti.

Serangan beruntun yang mengalir deras mematahkan lengannya, menghancurkan kakinya, dan momentum yang masih meluap-luap itu memutar tubuhnya yang sudah compang-camping bak daun yang gugur.

"Berputarlah wahai nyawa, seperti gasing!", "Sampai kau mati kelelahan karena menari!"

Tak ada ampun dalam serangan tangan kosong si kembar yang menari-nari itu. Tubuh Patricia terus dihantam tanpa henti dari kiri dan kanan, membuatnya tetap melayang di udara sembari memuntahkan darah dan percikan api dalam putaran spiral.

""Burung robin yang malang, spin-out, spin-out, berputar dan berputarlah terus dalam siklus, spin-spin-spin-spin!!""

Lalu, putaran itu mencapai titik akhir. Sebelum Patricia yang hancur fisik dan keseimbangannya jatuh ke tanah, si kembar yang telah mengumpulkan tenaga sesaat melepaskan tendangan berputar secara bersamaan yang diselimuti cahaya ledakan.

Hantaman silang diagonal tepat di dada Patricia yang tanpa pertahanan memicu ledakan panas seketika, dahsyat bagaikan sambaran petir.

Tubuh mengenaskan yang berlumuran darah dan jelaga itu terlempar kuat, menghantam tanah puluhan kaki jauhnya. Lebih parah lagi, belasan sinar laser raksasa menghujam gundukan tanah yang tersisa sebagai serangan penutup, meledak tepat saat menyentuh sasarannya.

……Begitulah, di tengah kawah yang segalanya telah hangus terbakar, Patricia yang hancur lebur tergeletak telentang.

Kedua tangan dan kakinya patah, tulang rusuk yang hancur menusuk paru-parunya. Akibat hantaman dan panas yang bertubi-tubi, segalanya mulai dari sumsum tulang hingga organ dalamnya telah porak-poranda.

Secara objektif, ia sudah seperti mayat hidup. Sehebat apa pun seorang bangsawan kelas atas tingkat pertama, dalam kondisi begini, bukan hanya pertarungan, bahkan kelangsungan hidupnya pun berada di ujung tanduk.

Namun, dengan tubuh limbung, Patricia bangkit berdiri dan mengepalkan tinjunya.

Faktor genetik yang mengalir di darahnya berteriak nyaring tentang rasa sakit dan ketakutan, memprioritaskan pertahanan diri dan mendesak insting kelangsungan hidupnya untuk melarikan diri karena mustahil untuk menang. Akan tetapi—

"Menang atau tidak, itu tidak ada hubungannya…… Aku akan menang."

Ia mengusap bibirnya yang hangus dengan ujung jari.

Ia masih mengingat rasa ciuman dengan pria itu. Ia masih mengingat sensasi lengan yang memeluknya.

Bahkan jika segalanya adalah kebohongan, momen itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan yang ia cari.

Ia tidak punya waktu untuk mati. Alasan itu sudah lebih dari cukup untuk tetap berdiri dan bertarung. Sekali lagi—tidak, berkali-kali pun ia ingin bertemu dengannya. Ingin dipeluk, ingin memeluk.

Oleh karena itu, ia membungkam darahnya yang gemetar ketakutan dengan api yang membara di dadanya.

Membakar organ serta daging yang rusak, mengendalikan panas yang dihasilkan dengan kemampuannya untuk menggantikan bagian tubuh yang hilang. 

Tubuh fisik, jika ditelusuri lebih jauh, hanyalah sekumpulan suhu panas. Maka, sebagai bahan bakar untuk bergerak saat ini, Patricia membakar hari esoknya menjadi abu sembari melotot ke arah si kembar.

Melihat musuh yang seperti itu, Pluto tertawa mengejek.

"Gertakan yang luar biasa! Padahal akan lebih mudah jika kau diam saja dan merasapi pahitnya darahmu sendiri."

Sebaliknya, Patricia membalas tawa itu dengan berani dan menantang.

"……Luka segini, dibanding teh buatan seseorang, sama sekali tidak ada apa-apanya."

"Eh, apa maksud dari omongan pecundang itu?"

Ulna mengerutkan dahi, benar-benar tampak heran. Pada saat itulah—

Secara tiba-tiba, sebuah cangkir teh yang mengeluarkan uap harum menyembul tepat di depan wajah si kembar.

"……Benar-benar ya, apa maksudnya. Siapa sebenarnya yang bilang tehku tidak enak?"

Dalam sekejap itu, mereka bertiga tanpa kecuali kehilangan celah karena serangan yang sama sekali tidak terduga dan tanpa konteks.

Berdiri di atas bayangan yang dijatuhkan oleh sayap cahaya, adalah seorang wanita berseragam pelayan dengan rambut hitam sepekat sayap gagak yang terurai.

"Kau," "Kamu,"

Pluto dan Ulna yang terkejut membelalakkan mata, menatap sosok tersebut, dan—

""……Siapa ya?""

Mereka memiringkan kepala secara serempak. Kemudian, mereka mengalihkan pandangan kembali ke cangkir teh yang disodorkan tadi.

"……Gubigubi." "……Gokugoku."

Detik berikutnya, mereka menyemburkan isinya secara bersamaan.

""TIDAK ENAKKKKKKK——!!!?""

Dua cangkir yang terlepas itu jatuh tanpa suara ke dalam bayangan dan tertelan habis.

"Dan juga……" "Kami sudah ingat."

Sambil tersedak dan mata berkaca-kaca, pengenalan kakak-beradik itu kini benar-benar selaras.

"Sapu ketujuh dari <Sapu Hitam (Broom Sweeper)>……!"

"Si Wanita Bayangan penghancur pekerjaan rumah tangga dengan teh rasa sampah……!!"

Mantan rekan sekaligus kenalan lama, sekuntum bunga monokrom pemegang Faktor Darah Mulia (Regalia) bayangan. Namanya adalah—

""Evelyn Havelhaval!""

"Sudah lama tidak bertemu, si kembar idiot. Sepertinya kalian masih akur seperti biasanya. Baguslah. Membuatku ingin membunuh kalian berdua sekaligus."

Teleportasi melalui bayangan. Sang maid yang baru saja menghindari tinju si kembar kini muncul tepat di samping Patricia.

"Sudah lama juga tidak bertemu, gadis bodoh. Kau mau secangkir juga?"

"Tentu saja tidak! Jadi, tanpa permisi engkau bersembunyi di bayanganku selama ini, ya!?"

"Ya. Karena aku juga mengalami luka yang sangat parah, aku menjadikanmu tempat persembunyian sampai pulih."

"Kalau begitu, tidak bisakah engkau keluar lebih awal!? Aku tadi nyaris mati, tahu!?"

"Kenapa harus? Padahal akan lebih bagus kalau kau mati sekalian."

"D-dasar maid licik berhati busuk……!! Setidaknya berlakulah buruk hanya pada wajahmu saja!"

"Hah?"

Di tengah adu mulut mereka, tekanan aura yang dibarengi cahaya terang membubung tinggi, memutus percakapan.

"Mereka datang. Apa kau masih punya sisa tenaga untuk bertarung?"

"Tentu saja desuwa~. ……Tapi, bicara soal mereka, ternyata mereka sama sepertimu."

"Ya. Mereka adalah (mantan) rekanku. Dan sama sepertiku, mereka adalah pemilik faktor mutasi. Pemilik Faktor Regalia normal sepertimu bukanlah tandingan mereka. Karena itu——"

Evelyn perlahan mengulurkan tangannya ke arah Patricia, seolah mengundang.

"Mari berdansa bersama. Bersyukurlah, gadis bodoh."

"Haaa..."

"Kenapa kau menghela napas?"

"Tidak, bukan apa-apa... Aku sudah tahu bahwa diajak olehmu tidak akan membuatku senang sedikit pun, tapi ternyata rasanya memang persis seperti dugaanku, bahkan lebih buruk."

Namun, Patricia menggelengkan kepalanya.

"Tapi dalam kondisi begini, aku tidak bisa pilih-pilih. Baiklah. Setidaknya, jangan menghambatku dengan tarian lumpurmu yang kasar itu, maid desa yang licik."

"……Itu kalimatku, bahan bakar bodoh yang manja."

Lalu, sambil saling melotot, keduanya saling menggenggam tangan dan memasang kuda-kuda dengan punggung yang saling menempel.

"Jangan jadi besar kepala hanya karena Evelyn berpihak padamu."

"Kalian tidak akan bisa menang melawan Kakak, dan terutama melawanku. V (peace)."

Meninggalkan segala makna selain tantangan untuk bertarung, si kembar berubah menjadi panah cahaya dan melesat ke angkasa.

Sembari meninggalkan ekor cahaya penghancur, kecepatan super mereka yang saling menyilang melukiskan melodi ganda di langit malam.

Begitulah, di antara langit dan bumi, filosofi yang membentuk pertarungan empat arah ini dimulai—hanya ada satu.

Sang wanita yang mengendalikan api yang bergejolak, dan sang pelayan yang diikuti oleh bayangan ganda. Serta sepasang sayap kembar yang terus beresonansi dan kekuatannya meningkat secara destruktif setiap detiknya, menyatakan secara serempak:

Mari, di sini.

““““MARI KITA MULAI PESTA DANSA PERTEMPURAN INI!!!!””””

 

Bagian 10

Di tepi pelabuhan yang telah lama berubah menjadi tanah hangus tanpa sisa, kedua wanita itu menari dengan punggung saling menempel, menyambut hujan sinar penghancur yang turun dari langit.

Bilah bayangan berwarna merah pekat membelah dan membuyarkan cahaya ekstrem, sementara gelombang panas yang membara menahan hawa panas dan guncangan yang terus berkecamuk tanpa henti.

Bagaikan menarikan waltz yang saling bersilangan, sang pelayan dan sang wanita bangsawan bertukar posisi kiri dan kanan, melangkah dengan ritme yang tetap di tengah hujan kehancuran yang turun dari angkasa.

Melihat pemandangan itu dari atas, Pluto berdecak kesal sambil terus berputar di udara.

"Bayangan merah baru milik wanita itu... apakah itu bisa menahan panas dan cahaya yang merupakan kelemahannya!?"

"Sepertinya begitu, Kakak. Berarti mata si Sapu Nomor Satu—nenek tua itu—memang tidak salah. Evelyn juga sama seperti kita, seorang pemegang kualifikasi 'Sapu' yang berlumuran darah. Apa yang harus kita lakukan, Kakak? Kalau begini terus, kita tidak akan sampai ke mana-mana, Kakak."

"Sudah jelas——kalau begitu, kita hancurkan mereka langsung dengan tinju kita!"

Output dari Faktor Darah Mulia (Regalia) berbanding terbalik dengan jaraknya dari jantung sang inang. Oleh karena itu, hanya ada satu jawaban untuk menghantamkan output maksimal dengan efisiensi tertinggi.

Serangan jarak dekat (Full Contact). Hanya itu.

Di sisi lain, di daratan, Evelyn mendecakkan lidah dengan nada muak.

"Apa kalian berniat terus bermain jarak jauh seperti nyamuk...? Benar-benar kakak-beradik yang membuat orang kesal."

"Tidak, ini... pergerakan panasnya berbeda—mereka datang! Kh, ce-cepat sekali~—!!"

Output faktor genetik si kembar, yang terus menembus batas setiap detiknya tanpa henti, meledak di sayap cahaya di punggung mereka, mengubahnya menjadi kecepatan gerak yang di luar nalar.

Manuver terbang yang menembus berlapis-lapis dinding udara dan menundukkan inersia itu, secara meyakinkan melukiskan tarian di langit malam dengan sisa cahaya yang tajam. Dengan membawa ritme pendek-pendek-panjang dari kecepatan super, tendangan tumit (heel drop) si kembar yang menukik tajam menghujam kedua orang di darat dengan kekuatan layaknya jatuhnya meteor.

"Jurus maut, Meteor ☆ Ulna-chan Falling Down!!"

"Jangan seenaknya menghilangkan namaku dari nama jurusnya, Ulna, kau ini bajingaannn!!"

Atmosfer di sekitar permukaan tanah seketika memadat rata saat dua komet itu menghantam.

Kekuatan hantaman sesaat itu cukup untuk membuat pulau tersebut miring, dan dalam sekejap, benar-benar menenggelamkannya ke bawah permukaan laut. Namun.

"Gerakan kalian sudah terbaca. Dasar bodoh."

"!!!?"

Tepat sebelum serangan itu mendarat, dengan kemampuan antisipasi di titik ekstrem, Evelyn—yang telah mengevakuasi dirinya beserta Patricia ke dalam bayangan si kembar sendiri—muncul kembali tepat di celah setelah serangan mereka berakhir.

Sebuah serangan kejutan yang sempurna. Namun, dengan saraf refleks abnormal yang terus berakselerasi meski tubuh mulai terbakar habis, Pluto menahan tendangan bayangan dari kiri, sementara Ulna menahan tinju panas dari kanan.

““““TCH!!””””

Di tempat itu juga, keempatnya memulai sebuah tarian maut yang instan.

Saling membenturkan tinju dan tendangan, menyambungkan setiap pantulan serangan ke serangan berikutnya tanpa sia-sia, sambil menambahkan kekuatan yang bersemayam di dalam darah. Pertarungan yang menjadi semakin fatal di setiap detiknya itu berakselerasi secara destruktif dalam waktu kurang dari satu detik.

"Mati saja kau, biar kubantu membantaimu. Sekarang setelah kalian memihak ksatria ordo, di mataku, kalian resmi menjadi sampah yang layak dibersihkan."

"Cih! Kau sendiri yang jatuh merendah hingga menjadi peliharaan pemerintah, Evelyn si Sapu Ketujuh! Kita seharusnya adalah 'Sapu' yang melayani sosok yang benar-benar mulia! Beraninya kau mengkhianati niat tulus itu."

"Aku tidak peduli."

Bilah bayangan merah yang mendidih dengan kebencian beradu tebas dengan sayap cahaya yang menyilaukan. Di bawah benturan yang terasa fantastis itu, tendangan yang diselimuti kegelapan malam dan tinju yang berkilauan juga saling beradu.

"Sejak awal, aku tidak punya niat untuk melayani siapa pun. Aku menjadi pelayan 'Sapu Hitam' hanya untuk membunuh kaum bangsawan menjijikkan seperti kalian. ……Ah, benar juga, kalau begitu aku salah. Biar kuratali."

Evelyn yang dibalut bayangan ganda saling melotot dengan Pluto yang berpijar secara periodik.

"Dulu maupun sekarang, tidak ada yang berubah. Bagiku, kau tetaplah sampah yang sangat tidak menyenangkan."

Di belakangnya, tepat setelah telapak tangan Ulna mengunci wajah Patricia, telapak tangan yang bergoyang samar itu memancarkan kilatan cahaya, melepaskan sinar penghancur jarak nol tepat ke arah wajah sang wanita bangsawan.

"Padahal kau begitu lemah, beraninya kau bersikap sombong di depan aku dan Kakak. Tapi jangan khawatir, tidak perlu minta maaf. Aku ini pemaaf. Nyawamu sudah cukup sebagai ganti ruginya."

"……Aku sama sekali tidak berniat membayar apa pun."

Patricia, yang nyaris menghindari serangan itu dengan memuntir lehernya, mengernyitkan pipinya yang hangus karena marah.

"Kalianlah yang telah melukai pria yang kucintai…… dan juga orang-orang yang berharga baginya ~tsu!"

Lalu, panas api yang mengamuk hebat ditebas habis oleh satu kepakan sayap cahaya.

"Kira-kira apa yang akan kau katakan, ternyata ini. Ulna ingin tertawa. Bagaimana mungkin kau, seorang bangsawan, bisa mencintai seorang manusia biasa?"

"Entahlah!"

Namun, seolah itu adalah buktinya, Patricia menghantamkan api dan tinjunya.

"……Karena aku sudah terlanjur mencintainya!"

Namun secara keseluruhan, timbangan kemenangan tetap miring ke arah si kembar. Melalui penguatan fisik yang terus meningkat pesat setelah menembus batas maksimal sejak lama, bukan hanya Patricia, bahkan Evelyn pun akhirnya terdesak ke posisi bertahan sepenuhnya——namun, di sana.

"……A-agh!! A-apa…… tubuhku……"

"Ah, gawat——Kakak!"

Apa yang sebenarnya terjadi, atau bagaimana situasi ini bisa pecah, jelas merupakan hal yang paling tidak penting untuk dipikirkan saat ini.

Maka, kepada Pluto yang tiba-tiba mengerang kesakitan dan menghentikan gerakannya, serta Ulna yang menampakkan keguncangan, yang mendarat bukanlah belas kasihan, melainkan kehancuran.

"Matilah."

"Meledaklah."

Tusukan tangan yang membawa dua bayangan memotong lengan kanan Pluto yang nyaris memelintir tubuhnya, lalu merobek pinggangnya.

Tinju yang mengandung panas masif dari seluruh jiwa raga mematahkan kedua lengan yang digunakan untuk bertahan, lalu meledak telak di batang tubuh Ulna.

Serangan fatal itu mengempaskan si kembar dengan sangat kuat, memaksa mereka yang tadinya menguasai langit untuk tersungkur mencium tanah——namun.

"Cih, aku berniat menyelesaikannya dengan itu tadi——tapi sepertinya, kita tidak sempat."

Melihat rekannya menurunkan kepalan tangan sambil berdecak kesal dengan nada muak yang amat dalam, Patricia memiringkan kepala.

"……Apa maksudmu? Desuno~"

 

Yang menjawab adalah sang adik, yang sambil memeluk kakaknya yang merintih memuntahkan darah dengan kedua lengannya yang patah, menunjukkan senyum yang membawa firasat buruk.

"Batas waktu kegagalan pembatalan (Time Limits). Kalian gagal membunuh kami. Kalau begitu, apa yang akan terjadi? Tirai akan ditutup. Pesta telah usai (Party is over)."

Siluet si kembar yang berkedip sembari memicu listrik statis di atmosfer tampak seolah akan meleleh kapan saja.

"Mari kita putar bunga anyelirnya (Carnation). Roda reinkarnasi kami akan berputar."

"Aa, aakh, panas, tubuhku, hancur…… Ul, na……!!"

Itu terlihat seperti nyala terakhir dari sebatang lilin yang hampir habis terbakar.

"Kakak yang malang. Karena itulah kau kakak yang manis. Semoga di kehidupan selanjutnya, kau bisa makan es krim."

Seketika, Evelyn menyambar lengan Patricia, merapatkan tubuhnya hingga mereka hampir menempel sepenuhnya.

"He…… eh!? Tu-tunggu sebentar, kau, apa yang kau——"

"Tidak ada waktu untuk bertanya. Jika kau tidak berniat kalah, dengarkan baik-baik."

Melihat peringatan yang sangat serius dari lubuk hati Evelyn, ekspresi Patricia pun seketika menegang.

"Gadis bodoh. Kerahkan seluruh sisa tenagamu sekarang juga, meskipun harus mati, pasanglah penghalang panas (barrier) api tanpa menahan diri sedikit pun. Mereka akan segera——"

Output faktor genetik yang terus meningkat di dalam tubuh si kembar akhirnya mencapai titik pecah yang fatal, mulai merobek siluet mereka dari dalam.

"Meledakkan diri."

Seketika, segalanya ditelan oleh warna putih.

 

……Faktor genetik yang memiliki keserupaan tidak hanya saling berinterferensi untuk beresonansi dan memberikan penguatan tak terbatas pada dua tubuh tersebut.

Begitu resonansi dimulai, ia menjadi tak terkendali bahkan oleh pemiliknya sendiri. Karena itu, ia tidak akan berhenti meski telah meluap jauh melampaui kapasitas wadah si kembar. Output faktor yang telah menembus langit-langit akan melampaui batas ekstrem dalam hitungan menit dan mencapai titik kritis.

Yang dipicu kemudian adalah ledakan dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebuah anomali dalam proses genetik. Inilah titik akhir dari Faktor Darah Mulia (Regalia) yang telah mengabaikan proposisi utama pertahanan diri dan melepas pembatas insting kelangsungan hidup. Tak lain adalah fenomena pelepasan energi berkekuatan mega-ton yang jauh melampaui tujuan desain awalnya: sekadar membunuh manusia biasa.

 

Di titik pusat ledakan di mana badai dahsyat yang bahkan mampu mengubah cuaca itu akhirnya mereda.

Cahaya yang memusat di sana kembali membentuk dua sosok manusia.

Dengan kata lain, dalam keadaan polos seperti saat mereka dilahirkan, Pluto dan Ulna telah berhasil melakukan regenerasi.

"Loh? Di sini... aku... sebenarnya..."

"…………kh, Ka-kakak..."

Pluto menampakkan ekspresi bingung. Sebaliknya, Ulna tampak sangat letih dan kuyu.

Konvergensi ulang dari gelombang yang sempat tercerai-berai akibat titik kritis. Dalam proses itulah tubuh si kembar diregenerasi.

Namun, berbeda dengan Pluto yang kehilangan ingatan saat momen ledakan dan regenerasi, Ulna tetap mengingat rasa sakit dan guncangan yang tak terbayangkan. Meski ada perbedaan itu, dalam arti tertentu, si kembar ini setara dengan makhluk abadi.

Bagaikan gelombang yang berulang, mereka menyapu bersih medan perang dengan kehancuran dan regenerasi, terlahir kembali dari tengah puing-puing tanah hangus—sepasang bunga kembar dalam roda reinkarnasi ledakan maut.

Inilah mereka, <Sapu Hitam (Broom Sweeper)> nomor sepuluh dan sebelas: Pluto dan Ulna.

"Apa... kau baik-baik saja, Ulna!?"

Sang kakak berlari mendekat, mendekap erat adiknya yang memiliki tatapan mata kosong.

"……U-Ulna tidak apa-apa. Selama ada Kakak... V (peace)."

Sembari memeluk Ulna dengan lembut, Pluto membisikkan kata maaf dan mengusap kepalanya untuk menenangkan.

"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi semua akan baik-baik saja, Ulna. Aku ada di sini. Mulai sekarang, selamanya, aku akan melindungimu."

Anak laki-laki itu mengangkat adiknya, bergumam pelan untuk memberi rasa aman.

"Pokoknya, kita cari pakaian dan air minum dulu. Serahkan padaku, Ulna boleh tidur sebentar——"

Pada saat itu juga.

Ujung bayangan hitam menusuk dada Pluto dari belakang, sekaligus menembus tepat di jantung Ulna.

 

"……Ternyata kau berhasil bertahan hidup, ya. Kerja bagus, Si Pirang Bodoh."

"T-tentu saja, kalau aku yang turun tangan hal begini bukan masalah——tapi jangan pernah minta aku melakukannya lagi ~desuwa! Lagipula, apa-apaan sebutan 'Si Pirang Bodoh' itu!? Sudah lama kupikirkan ~desuno, cepat panggil namaku dengan benar!"

"Mustahil. Aku tidak tahu namamu."

"……Waktu di kafe itu, aku kan sudah memperkenalkan diri!"

"Aku tidak tertarik, jadi aku lupa."

"~~kh! D-dasar kau ini!! Ah, sudahlah! Aku benar-benar sangat membencimu ~desuwa!"

"Kebetulan sekali. Aku juga."

Hawa panas ledakan yang menerjang tadi sebenarnya hanya bisa ditahan oleh penghalang panas maksimal Patricia selama sepersekian detik.

Oleh karena itu, di detik mereka bertahan, Evelyn menggunakan kemampuannya untuk memindahkan mereka ke bayangan sekitar yang tercipta akibat cahaya ekstrem. Mereka melakukan itu berulang kali—bertahan, lalu berpindah—terus-menerus lolos dari maut di sepanjang radius ledakan yang seharusnya memastikan kematian mereka.

Evelyn menarik kembali tombak bayangannya dari tubuh polos si kembar yang kini terkapar di genangan darah, lalu merapikan kembali head dress-nya yang hangus. Patricia, sambil mengatur napas yang sesak, bertanya dengan nada waswas.

"……Mereka tidak akan hidup lagi, kan?"

"Ya. Mereka hanya bisa beregenerasi jika meledakkan diri dengan kekuatan mereka sendiri."

Evelyn membalikkan badan dengan perasaan lega karena tugasnya telah tuntas. Di depan punggung sang pelayan itu, Patricia bertanya.

"Ke mana kau akan pergi setelah ini?"

"Pertanyaan bodoh. Aku hanya akan mengejar mangsa yang sempat lolos. Kalau kau?"

"Tentu saja. Aku hanya akan melanjutkan perjalanan cinta takdirku."

"Bodoh sekali."

"Kau juga."

Langkah kaki mereka yang mulai berjalan bersama tiba-tiba terhenti secara serentak. Keduanya menoleh. Di ujung pandangan mereka—

"……Be-belum……"

Darah tumpah dari rongga dada sang kakak, namun tubuhnya berkedip secara mengerikan. Ia mengangkat adiknya yang berada dalam kondisi serupa.

Lalu, sekali lagi, sepasang kakak beradik itu meledak.

 

Ledakan kedua ini skalanya jauh lebih kecil.

Mungkin karena mereka memaksa output faktor genetik hingga ke titik kritis dalam kondisi nyawa yang nyaris habis. Itulah mengapa proses regenerasi yang mereka incar menjadi begitu cacat dan menyimpang.

Yang memusat di titik ledakan adalah sebuah anomali tunggal.

Tubuh mereka berdua menyatu, membengkak secara aneh seolah-olah itu adalah harga yang harus dibayar untuk saling menambal bagian yang hilang. Faktor genetik yang mengamuk mulai beresonansi kembali di dalam satu tubuh tunggal, memicu siklus ledakan dan regenerasi yang terus-menerus terjadi di permukaan kulit mereka.

"Aku... akan... melindunginya... Ulna... adikku... uwaaaaaAAAAAGH!"

"Kakak... bukan... aku yang akan... Kakak... aaaaaAAAAAGH!"

Sebuah akhir yang teramat tragis, atau mungkin memang pantas, bagi kakak beradik yang telah memutar roda reinkarnasi ledakan maut selama ini.

Menanggapi hal itu, dua kepalan tangan membelah badai ledakan yang menghantam bertubi-tubi, menyatakan kesepakatan yang sama.

"……Mengenaskan sekali ~desuwa."

"Ya, benar-benar tidak sanggup untuk dilihat."

Maka, demi mengakhirinya kali ini, cahaya dan bayangan saling tumpang tindih dan melebur menjadi satu.

"Hei, output di bagianmu itu lemah sekali. Berusahalah lebih keras, Maid Licik."

"Kau sendiri, pengendalian kekuatannya terlalu kasar. Bisakah kau belajar sedikit pengendalian diri, Gadis Bodoh?"

Sambil terus beradu mulut, keduanya menghela napas secara bersamaan, lalu—

""Sudah, diamlah dan——""

Dengan suara bulat, mereka membentak di saat yang benar-benar bersamaan.

""IKUTI IRAMAKU!!""

Pada saat itu juga, faktor genetik dari kedua wanita yang pernah bertarung dan kini bertempur bersama itu saling bertolak belakang namun selaras, mencapai resonansi yang hanya terjadi sekali ini saja.

Cahaya dan bayangan yang saling bertentangan namun saling memperkuat itu dihubungkan oleh darah segar dari kebencian yang membara. Serangan yang menyatukan dua—tidak, tiga lapisan darah itu menembus tepat ke jantung gabungan Plut-Ulna, dan—

"——A-ah, Ka... kak..."

"Ul... na... kita akan... selalu bersama..."

Kali ini, benar-benar untuk terakhir kalinya, si kembar lenyap ditelan badai ledakan.

 

——Di perairan lepas pantai, beberapa mil laut jauhnya dari Pulau Marcela.

"A-apa-apaan ledakan tadi itu...?"

Sang kapten kapal yang mengintip melalui teropong binokular mengeluarkan instruksi dengan nada panik.

"Pokoknya, laporkan ke kantor pusat. Kita akan kembali ke Pulau Benteng Gayomarus. Cepat lakukan persiapan!"

"Baik!"

Perintah itu ditujukan kepada seorang pelaut baru yang memiliki bekas luka di pipinya.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar