Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo Jilid 2 Bab 4

Akhirnya tirai penutup untuk Masquerade Confidence Jilid 2, kini telah bergulir. Bagaimana Linus selamat dari rentetan kesialan ini?

Bab 4: Reverse the Edge

Bagian 1

Dua hari telah berlalu sejak aku menjebak Chronica dan teman-temannya di Pulau Marcela.

Di bawah langit biru yang cerah benderang, hanya pulau itulah yang tampak seolah memakai payung dari kepulan asap abu-abu kusam.

Pulau yang mengalirkan limbah cair berwarna kelabu ke samudera biru tua itu mengingatkan pada pemandangan di tanah air kami—tempat di mana sebagian besar hutan alamnya telah musnah akibat polusi uap.

Dia pernah menjelaskan bahwa tempat ini adalah basis logistik (heintan) untuk mempersiapkan invasi militer perusahaan ke wilayah Republik suatu hari nanti.

Pulau Benteng, Gayomarus.

Di pulau kecil yang luasnya kira-kira seukuran satu kota ini, terdapat pelabuhan militer yang memanfaatkan teluk yang dalam, gudang-gudang penampungan logistik, serta beberapa pabrik senjata yang saling berhimpitan. Segala fungsi untuk menyokong kekuatan brutal demi menguasai lautan terkonsentrasi di sini dengan sangat efisien, tidak kurang dan tidak lebih.

Dan di tengah pulau, berdiri sebuah benteng kokoh dari bata dan mortar yang secara de facto berfungsi sebagai markas pusat Perusahaan Dagang Angkatan Laut Kekaisaran, Elbion Navy Company. Dari sinilah komando atas seluruh kantor cabang dan karyawan yang tersebar di lautan luas dikendalikan.

Di salah satu ruangan di dalam gedung benteng itulah, aku sedang bersamanya.

"Berikutnya. Buka pakaianmu, Ana."

"Baik."

Sesuai perintahnya, aku menanggalkan pakaianku dengan dibantu oleh seorang pelayan. Membiarkan seluruh helai kain selain penutup mata (eyemask) jatuh ke lantai dan mengekspos kulitku. Bagaikan boneka pajangan, aku hanya menurut saat dipakaikan busana berikutnya sesuai instruksi.

Lima hari lagi, di acara rapat umum pemegang saham yang sekaligus dirangkap sebagai resepsi pernikahan, aku akan menikah dengan pria ini—Presiden Perusahaan Dagang Angkatan Laut Kekaisaran, Ragnadan Kabul. Agenda hari ini adalah sesi pengepasan gaun pengantin untuk hari besar tersebut.

Namun, hari bersejarah bagi diriku yang sudah di depan mata itu sama sekali tidak penting bagiku.

Menikah ataupun tidak, segalanya sudah tidak ada bedanya lagi sekarang. Lagipula, sejak dulu sekali, hidupku memang sudah bukan milikku lagi.

Dibandingkan hal itu, pikiranku justru tertuju pada Chronica. 

Aku penasaran bagaimana keadaan gadis yang telah kujebak dengan tanganku sendiri itu.

"Kau ingin tahu?"

"……Ya. Saya sedikit penasaran, ekspresi seperti apa yang akan dia tunjukkan jika melihat saya nanti."

Proses berganti pakaian selesai di tangan para pelayan. Bagiku yang tidak bisa melihat, aku tidak tahu seperti apa rupaku saat ini. Begitu pula dengan bagaimana reaksi pria itu.

Namun sepertinya, busana dengan bagian punggung yang terbuka lebar ini cukup memuaskan seleranya. Ia tidak memberitahukan instruksi selanjutnya, dan sebagai gantinya, aku bisa merasakan sebersit tawa mengejek dari arahnya.

"Kalau dipikir-pikir…… aku belum banyak menceritakannya padamu, ya. Baiklah. Akan kuberi tahu apa yang dikatakan oleh orang-orang dari ksatria ordo, Ana."

Setelah berkata demikian, ia menyuruh para pelayan keluar dari ruangan, lalu mulai berbicara.

Tentang identitas asli Linus-san, yang ternyata seorang penipu ulung yang mencurigakan.

Serta tentang Chronica, sang bangsawan bidat yang dijuluki sebagai Sel Kanker.

"……Ingatannya,"

Kian memudar. Begitu memikirkannya kembali, barulah aku menyadari…… alasan mengapa selama ini Chronica enggan menceritakan masa lalunya, ternyata karena hal itu.

Saat itu, aku sempat merasa iri pada mereka berdua. Karena di mataku, perjalanan mereka hanyalah sebuah pelarian biasa.

Tetapi, apakah di atas benang perjalanan serapuh itu dia dan pria itu selama ini melangkah bersama?

Seolah bisa mengendus sedikit keguncangan yang bertahta di lubuk hatiku, Ragnadan melanjutkan bicaranya.

"Gadis itu sekarang disekap di penjara bawah tanah. Aku belum mengizinkan orang-orang dari ksatria ordo menyentuhnya. Karena ada sesuatu yang kuinginkan dari si monster itu."

Belum sempat aku mempertanyakan apa hal itu, suara Ragnadan sudah kembali menyambar.

"Aku mencintaimu. Namun di saat yang sama, aku juga teramat sangat membencimu."

Aku tahu. Karena kalimat itu sudah teramat sering dicekokkan ke telingaku sejak dulu.

Katanya, aku adalah pengganti wanita yang melahirkanku. Sebagai ganti ibuku yang tidak pernah mencintainya, aku harus memberinya cinta, dan…… dibiarkan hidup hanya demi menebus dosa-dosa itu.

Sejak hari ketika dia mengadopsiku dua belas tahun lalu—saat aku kehilangan penglihatan dan kedua orang tuaku—dia terus-menerus menuntut penyesalan dan ganti rugi dari raga serta batinku. Dan aku selalu dipaksa untuk membayarnya.

"Si monster itu, kabarnya bisa menyalin ingatan manusia—dan seluruh kesadaran batin yang terbentuk dari ingatan itu—secara utuh ke dalam tubuh manusia lain. Karena itulah, sebuah ide brilian tebersit di kepalaku. Cara agar aku bisa menumpahkan cintaku padamu, sembari membalaskan dendamku kepadamu berulang-ulang tanpa batas."

Merinding hebat menjalar di sepanjang punggungku. Namun, aku sudah terlanjur terbiasa dengan sensasi horor seperti ini.

Dan aku juga sudah tahu betul bagaimana caranya agar bisa merasa mati rasa.

"Mulai sekarang, kau harus mengandung dan melahirkan anakku."

Dalam sekejap, kedua bahuku dicengkeram dengan kasar, lalu tubuhku diempaskan paksa ke lantai.

Bobot tubuhnya yang berat mulai menindihku. Tenggorokanku tercekat, lumpuh oleh rasa takut.

"Lalu dengan memanfaatkan si monster, aku akan memindahkan seluruh kesadaranmu ke dalam tubuh anak yang lahir nanti. Dengan begitu…… kh-kh, fufu, hahahaha! Sembari mencintaimu, aku bisa membunuh dirimu yang lain di saat yang bersamaan!!"

Namun, khusus untuk kali ini saja, akal sehatku tidak sanggup mencerna kata-katanya dalam sekejap.

Meniduri diriku secara paksa, membuatku melahirkan seorang anak. Kemudian, memindahkan jiwaku ke dalam tubuh anak itu dengan kemampuan Chronica, lalu membantainya? Apakah itu yang baru saja diucapkan oleh pria jahanam ini?

Begitu mengerikan. Menjijikkan. Dan di atas segalanya, teramat sangat biadab.

Aku tidak mengerti. Aku tidak paham sedikit pun, dan aku menolak untuk memahaminya.

Setelah sekian lama, rasa muak yang mendarah daging serta penolakan naluriah akhirnya meledak ke permukaan diri.

Berteriak histeris karena tidak sanggup lagi menahannya, aku mencoba mendorong sekuat tenaga untuk menyingkirkan tubuhnya.

Namun, usahaku sia-sia. Tubuhku dikunci oleh tenaga yang luar biasa besar, dan tamparan keras mendarat di pipiku dua, tiga kali—seolah-olah dia sedang menjinakkan seekor binatang peliharaan.

"Kenapa!? Kenapa kau tidak mau mengerti……! Ana! Itu sudah menjadi kewajibanmu, tahu!!"

Dan tamparan itu terus berlanjut berulang kali. Setelah sekian lama, ia kembali mengukir rasa sakit yang menyiksa pada tubuhku.

"Kebaikan! Pasti akan memberi ganjaran kepada mereka yang telah memeras keringat! Bukankah itu adalah hukum absolut di dunia ini!? Itulah ajaran yang benar, tatanan yang dituntun oleh moralitas sejati! Namun, kenapa…… kenapa Mishura tidak pernah mencintaiku tidak peduli sekeras apa pun aku berjuang!? Kalau begitu! Cinta yang seharusnya kudapatkan darinya, kaulah yang wajib memberikannya padaku! Kau juga yang harus menyerahkan kesempatan balas demdam ini demi menyembuhkan hatiku yang terluka!

Dagingmu, kukumu, bahkan sehelai rambutmu sekalipun, beserta segala hal yang lahir darimu, semuanya harus dikorbankan sebagai imbalan untukku! Itulah—hanya itulah!! Pelaksanaan dari kebaikan yang sejati, tahu—aaaaaaakh!"

……Ah, pada akhirnya, pria ini memang sudah tidak bisa tertolong lagi.

Apa pun yang kukatakan padanya tidak akan pernah tersampaikan. Jiwanya sudah begitu hancur hingga tidak ada lagi ruang untuk logika maupun akal sehat. Dan sejak hari ketika pria seperti ini memilihku, hidupku pun ikut hancur bersamanya.

Karena itu, sekarang segalanya sudah tidak penting lagi.

Seperti biasa, seluruh tenaga meluncur turun dari kedua tangan dan kakiku. Sebuah sensasi di mana kebahagiaan, harapan, dan seluruh ekspektasi terhadap kehidupan direnggut hingga ke akar-akarnya. Namun di saat yang sama, rasa kehilangan itu berubah menjadi mati rasa dekaden yang adiktif bagai candu. Perlahan tapi pasti, aku mulai terbuai oleh rasa nyaman yang kelam ini.

Namun tiba-tiba, suara ketukan pintu menggema di dalam ruangan, dan tubuh Ragnadan perlahan menjauh dariku.

"……Rapikan pakaianmu, Ana."

Setelah itu, ia berteriak ke arah pintu dengan nada membentak, menanyakan urusan apa yang mengganggu momennya.

Dari balik pintu, terdengar suara yang mirip dengan salah satu karyawannya.

"Lapor, Presiden. Mengenai Pulau Marcela tempat armada kita ditinggalkan untuk melanjutkan penumpasan para imigran…… baru saja kami menerima kabar bahwa seluruh kekuatan tempur kita di sana telah dihancurkan."

"Apa katamu?!"

"Itu…… kapal yang berhasil kembali ke pulau ini hanyalah satu unit kapal penjelajah. Menurut laporan mereka, tampaknya akibat dampak dari pertempuran monster dari faksi Republik (Colonials)…… maksud saya, kaum bangsawan, kondisi pulau saat ini benar-benar tidak diketahui."

Setelah bertukar kata beberapa kali lagi, Raghunadan mendecakkan lidahnya lalu bergegas keluar dari ruangan.

"……"

Aku yang ditinggalkan sendirian kembali mengenakan gaun formalku yang biasa, lalu melangkah keluar kamar.

Sembari mati-matian meredam sebersit kehangatan samar di dalam dadaku—sesuatu yang bahkan belum pantas kusebut sebagai harapan.

 

Bagian 2

Tanpa kusadari, langkah kakiku telah membawaku ke penjara bawah tanah benteng ini seorang diri.

Aku meminta kepada prajurit penjaga agar mengizinkanku masuk ke dalam sel sendirian.

"T-Tapi, masuk sendirian terlalu berbahaya, Nona."

"Sihir atau kekuatannya tidak akan mempan pada orang buta, bukan? Lagipula, dia pasti sudah dirantai dengan kuat. Bukankah justru akan lebih berbahaya jika kamu yang memiliki penglihatan malah berakhir dikendalikan olehnya?"

Setelah membungkam prajurit itu dengan alasan tersebut, aku pun melangkah masuk ke dalam sel.

Aku berdiri diam selama beberapa detik, mengetukkan ujung sepatuku ke lantai beberapa kali. Melalui gema suara serta aliran udara yang menyentuh kulit, aku mencoba meraba denah ruangan ini di dalam benakku.

"Selamat siang, Chronica. Aku membawakan makan siang. Jika kau masih hidup, maukah kau makan bersamaku?"

Aku meletakkan nampan makanan yang kubawa ke atas tempat tidur. Tepat ketika aku berbalik menghadap ke arah dinding...

"……Ana…… hito."

Suara itu terdengar seperti seseorang yang sedang memuntahkan darah—tidak, dia memang benar-benar sedang memuntahkannya. Aroma anyir yang menyerupai karat besi tercium samar, dibarengi suara tetesan cairan yang jatuh ke lantai.

"Sayang sekali, tapi aku harus menolaknya. Mungkin karena…… dada dan perutku dihujam oleh pasak. Aku tidak punya selera untuk makan."

"Begitu, ya."

Sepertinya tubuhnya ditembus oleh sesuatu yang menyerupai pasak besi, membuat dirinya dipaku pada dinding batu bawah tanah yang dingin. Jadi, itu alasan mengapa auranya sama sekali tidak bergerak.

Meski ini terasa kejam, karena dia tampaknya makhluk abadi, kurasa ini bukan masalah besar baginya.

Aku tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Namun, kenyataan bahwa perasaanku sama sekali tidak merasa lega seperti yang kubayangkan, adalah hal yang tak terbantahkan.

Chronica. Kupikir dia adalah seorang gadis yang jauh lebih bahagia. Dia manis, tegar, dan bebas—tidak seperti diriku. Dia bisa melangkah dengan kakinya sendiri, berdampingan dengan seseorang yang tulus dia sayangi dari lubuk hatinya.

Justru karena dia adalah sosok yang begitu berkilau dan sangat bertolak belakang denganku, aku ingin memberinya harapan, lalu mengempaskannya ke dasar jurang terdalam dan menginjak-injaknya tanpa ampun. Anggap saja itu sebagai pelipur lara bagi hidupku yang telah dipaksakan menerima kebahagiaan kelam oleh pria jahanam itu.

Namun, jujur saja, saat ini aku merasakan sesuatu yang agak meleset dari ekspektasiku.

"……Aku sudah mendengar semua tentang situasimu."

"Eum."

"Ternyata, kau telah melalui hal-hal yang jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan, ya."

Begitu mengatakannya, aku langsung membatin. Berani-beraninya mulut ini bicara seperti itu? Padahal akulah orang yang menjerumuskannya ke dalam situasi ini—akulah yang menuntunnya dengan penuh sukacita meski tahu hal ini akan terjadi. Sungguh tidak tahu malu, sekarang malah menunjukkan simpati.

Namun, tepat saat aku hendak mengabaikan perasaan itu karena menganggapnya tidak penting lagi, Chronica bersuara.

"Hei, Ana-hito."

"? ... Ya."

"Bisa tolong beri tahu aku sekali lagi? Apakah kau... benar-benar bahagia menikah dengan pria itu...?"

"Iya. Aku bahagia. ……Hanya jawaban itu yang diizinkan untuk kuucapkan. Atau lebih tepatnya, Chronica, kau kan sudah pernah melihat isi hatiku sekali, bukan?"

Aku merasa sedikit kesal, menganggap pertanyaannya sama sekali tidak masuk akal.

"Aku hanya tidak bisa melawannya. Sejak kecil, aku selalu dibesarkan dengan doktrin seperti itu. Kau ingin dengar? Apa saja yang telah pria itu lakukan padaku selama ini? Memukul, menendang, menginjak-injak, melecehkanku…… Ah, kalau dipikir-pikir, Chronica, saat kita mandi bersama, kau bilang aku ini cantik, kan? Fufu, haha…… Kau benar-benar salah besar. Sudah tidak ada lagi bagian yang suci pada tubuhku ini."

Di situ, aku menyadari bahwa kata-kataku terdengar emosional secara aneh. Kalimat-kalimat meluncur begitu saja dari dadaku yang serasa mau pecah. Seolah-olah aku sangat ingin dia mendengarnya. Kenapa? Padahal tidak ada gunanya menceritakan hal seperti ini kepada Chronica.

"……Tapi, semua itu sudah tidak penting lagi. Karena sejak lama sekali, aku sudah menyerah."

Jika memang begitu, seharusnya aku diam saja. Tapi kenapa aku malah terus mengatakannya? Namun, aku tidak bisa berhenti. 

Seakan-akan, aku hanya ingin Chronica seorang yang mengetahui hal ini.

 

"Apakah kau benar-benar tidak apa-apa dengan hal itu?"

"Tentu saja. Lagipula, Chronica, katakanlah aku bisa menolak pria itu, lalu bagaimana caranya aku harus melanjutkan hidup setelahnya?"

Tenggorokanku terus bergerak, mengeluarkan suara seolah sedang memuntahkan segala beban yang menumpuk di dalam diri.

"Status ini pun diberikan olehnya. Aku sendiri tidak memiliki kemampuan yang pantas untuk posisi ini. Pengetahuanku lumayan, tapi lihatlah mataku ini. Aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dokumen sendirian, dan aku juga tidak bisa mengurus rumah tangga. Bahkan berjalan sendirian di kota saja sulit bagiku. Aku tidak memiliki kekuatan untuk bertahan hidup atas usahaku sendiri. Dan yang terpenting…… aku tidak memilikinya. Alasan untuk ingin hidup dengan penuh semangat, ataupun seseorang yang ingin kuajak berjalan bersama…… Bagi dirimu yang begitu diberkati, apakah hal seperti ini pun tidak bisa kau pahami?"

Tanpa sadar, aku sudah bicara terlalu banyak, dan suaraku pun terlampau emosional.

Aku mengatur napas untuk menenangkan diri. Di tengah keheningan yang sempat merayap sesaat, Chronica tiba-kira memecah kesunyian.

"……Sebelum pergi ke kedutaan tempat kita bertemu waktu itu, tahu tidak? Aku sempat makan es krim."

"Hah?"

Suara gadis yang bergumam bahwa dia masih mengingat rasanya itu terdengar sangat pilu.

 

"Dingin, manis…… meleleh di dalam mulut seperti salju yang lembut, itu adalah camilan yang sangat, sangat lezat. Karena itulah, hal pertama yang ingin kulakukan adalah pergi memakannya bersamamu."

"Apa…… yang kau bicarakan?"

"Bukan cuma itu. Kita juga bisa berjalan berdua ke berbagai tempat lain, menyentuh, merasakan, lalu mengobrol tentang betapa menyenangkannya hari itu. Bagaimana? Tidakkah itu terdengar sedikit indah?"

Di dalam pandanganku yang gelap, aku membayangkan pemandangan itu.

Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Napas seakan tercekat oleh rasa damba yang mendalam.

"Jika masa depannya seperti itu, apakah kau juga…… akan berpikir untuk ingin hidup?"

Tidak boleh. Ini salah. Perasaan seperti ini, harapan seperti ini, sama sekali tidak boleh kumiliki.

"Jika kau merasakannya walau hanya sedikit, kumohon, Ana-hito."

"Berisik, diam."

Karena jika tidak, aku hanya akan menderita lebih parah lagi.

Kuhentikan. Berulang-ulang. Dorongan batin yang bahkan belum sempat menjadi sebuah perasaan, yang mencoba mendongak di dalam lubuk hatiku, kuhancurkan tanpa ampun.

Berkali-kali, berulang kali, aku menggilas hatiku sendiri, hingga akhirnya, aku selesai mematikan rasa itu.

"……Aku akan kembali sekarang. Maaf sudah mengganggumu, Chronica."

Meski begitu, dengan paksa aku memunggungi sesuatu yang seolah menahan langkahku dari belakang, lalu melangkah pergi meninggalkan penjara bawah tanah itu.

 

Bagian 3

Dan lima hari kemudian. Hari diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Dagang Angkatan Laut Kekaisaran, Elbion Navy Company. Hari yang sekaligus menjadi hari resepsi dan pernikahan kami.

Mengenakan jubah putih bersih berukuran longgar di luar gaun pengantin yang membungkus tubuhku laksana kertas kado, aku menghadiri rapat umum yang dimulai sejak pagi hari itu dari kursi tamu agung.

Tempat pelaksanaannya adalah di geladak depan pertama kapal perang super Gandharva, armada yang menjadi kebanggaan Kekaisaran Uap Elbion sekaligus simbol kekuatan militer laut milik Perusahaan Dagang Angkatan Laut.

Bagian atas kapal perang itu telah disulap dengan sempurna menjadi tempat perjamuan bagi sekitar seratus orang. Karpet merah putih membentang indah, menutupi lantai besi yang terasa agak dingin, sementara hidangan yang berpusat pada sayuran segar dan hidangan laut—yang tergolong mahal di tanah air—berjejer rapi. Para hadirin yang merupakan pemegang saham perusahaan tampak menikmati suasana santai sesuai keinginan masing-masing, saling berdenting gelas anggur, dan sibuk bersosialisasi.

Di balik keriuhan para hadirin tersebut, jalannya persidangan berlangsung secara formal seperti biasanya.

Pembawa acara yang berdiri di atas panggung selesai menyampaikan laporan bisnis yang menjanjikan serta pandangan masa depan yang optimis kepada para pemegang saham.

Dan setelah rapat umum ini selesai tanpa hambatan, acara akan dilanjutkan dengan upacara pernikahanku dan Ragnadan.

Bagaimanapun juga, susunan acara berjalan sesuai rencana. Sebagai penutup rapat umum, pemungutan suara oleh perwakilan pemegang saham untuk menentukan perwakilan perusahaan periode berikutnya—yaitu posisi Presiden Direktur—dimulai.

Ini karena Perusahaan Dagang Angkatan Laut Kekaisaran adalah sebuah perseroan terbatas (kabushiki kaisha). Hak pengelolaan perusahaan berada di tangan para pemegang saham, sehingga secara formal, perusahaan harus dijalankan oleh direktur perwakilan berdasarkan instruksi mereka.

Posisi Presiden Direktur telah dijabat oleh Ragnadan secara konsisten selama sepuluh tahun terakhir ini.

Pihak yang memiliki hak suara adalah total sembilan pemegang saham utama. Selain tiga orang yaitu Ragnadan, Barbarossa, dan Fakim, ada enam pemegang saham dari luar perusahaan.

Kali ini, selain ketidakhadiran Fakim yang sudah sewajarnya, satu lagi pemegang saham utama kabarnya juga absen.

Total tujuh orang berkumpul di meja bundar bagian tengah, dan pemungutan suara dengan sistem angkat tangan hampir saja dimulai. Tepat pada saat itulah.

"Waduh, maaf aku terlambat. Persiapannya agak memakan waktu, ya kan, Fakim-san?"

"……Benar sekali. Dasar monyet, tidak—huuh, Tuan Kruger."

"Eh……?"

"──Apa-apaan ini?!"

Aku mengatakannya karena mendengar suara itu. Sementara Ragnadan, kemungkinan karena melihat sosoknya. Bagaimanapun, kami berdua menyuarakan keterkejutan kami di saat yang bersamaan.

Berikutnya, suara riuh rendah dari sekeliling mulai terdengar. Tentu saja begitu.

Fakim, yang seharusnya sedang dihukum skors akibat kelalaiannya dalam mengelola perkebunan di Kepulauan Marcela—yang berujung pada pemberontakan skala besar dan hangusnya lahan pertanian—entah bagaimana bisa datang bersama pria itu, yang tak lain hanyalah seorang warga Republik (Colonials).

Dan, aku tahu betul nama pria itu.

"Ah, mohon maaf atas keterlambatan perkenalan saya. Nama saya Linus Kruger, yang ditunjuk sebagai perwakilan dari salah satu pemegang saham utama, Tuan Murguz, yang berhalangan hadir hari ini karena sakit mendadak."

Walau tidak bisa melihat, aku tahu pasti. Pria itu mengucapkannya dengan nada yang teramat memprovokasi Ragnadan, yang kini terdiam kaku sembari menahan amarah yang hampir meledak.

"Kalau begitu, mohon kerja samanya."

 

Bagian 4

Lima hari yang lalu. Berjalan gagah menuruni tangga kapal penjelajah melewati para prajurit yang memberi hormat, aku akhirnya menginjakkan kaki di tanah Pulau Benteng Gayomarus.

Pakaian yang kukenakan adalah seragam perwira yang kucuri dari atas kapal saat aku menyelinap menyamar sebagai pelaut biasa. Warna kulitku pun, tentu saja, sudah disamarkan dengan bedak rias.

Dan, topeng yang kukenakan ini tidak bisa dilihat oleh siapa pun.

Aku memang tidak punya pengalaman masuk militer, tapi aku tahu betul makhluk seperti apa tentara itu. Selama masa perang saudara revolusi dua belas tahun lalu, mereka berkeliaran di setiap sudut kota sampai-sampa aku muak melihatnya.

Mereka sangat intimidatif terhadap warga sipil, tapi di atas segalanya, mereka sangat lemah di hadapan atasan.

"Kerja bagus, kalian boleh bubar."

"Siap, Pak!"

Di sinilah aku sekarang, di dalam kapal perang Gandharva. Menggunakan topeng perwira fiktif dengan wibawa dan keangkuhan yang sangat meyakinkan, aku menyuruh bawahan untuk mengantarku sampai ke kamar yang kutuju.

Kondisi Chronica memang mencemaskan, tapi membuat persiapan di balik layar adalah prioritas utama. Tidak apa-apa, bocah itu setidaknya tidak akan pernah bisa mati. Namun, meski begitu——

Di titik itu, aku menghentikan pikiranku. Percuma saja, itu hanya akan mengikis ketenanganku dengan sia-sia.

Setelah menenangkan diri, aku mengetuk pintu dan membukanya sembari melepas topeng dari wajahku.

Dan begitu kami saling bertatap muka kembali, si brengsek itu langsung melototiku seolah-olah aku ini pembunuh orang tuanya.

"B-Dasar monyet dari ras kelas rendah……! K-Kalau bukan karena bajingan sepertimu, aku tidak akan——!"

"Maaf ya soal waktu itu. Makanya, sebagai tanda permintaan maaf, aku membawakan info bagus untukmu. Bersyukurlah, keparat."

Kepala Departemen Pengelolaan Perkebunan, Serge Fakim, kalau tidak salah namanya. Agak tidak enak hati juga sih karena telah menghancurkan hidupnya, tapi dalam situasi ini, mending sekalian saja kumanfaatkan dia sampai ke sumsum tulangnya.

"Dengar, kalau begini terus, kau beserta keluargamu bisa-bisa dipecat secara fisik, kan? Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja kau rebut kursi Presiden Direktur?"

"……Apa yang kau rencanakan?"

Gampang, pikirku, sembari mengayunkan umpan semanis mimpi di depan hidung mangsaku ini.

"Di rapat umum pemegang saham nanti, posisi pengelola tertinggi perusahaan ditentukan lewat pemungutan suara, kan? Kalau begitu, kumpulkan saja suara untuk dirimu sendiri. Kau masih memegang sahamnya, kan?"

"A-Ah, iya…… untuk saat ini aku masih memilikinya di sini. Jadi hak hadir dan hak suara harusnya masih ada, tapi, memilih diriku sendiri dengan modal satu suara tidak akan……"

"Makanya, cari sekutu. Kira-kira ada berapa orang yang bisa kau seret untuk memihakmu?"

"A-Ada dua orang. Satu orang adalah rekanku seangkatan yang berasal dari Kementerian Perdagangan, dan satu lagi masih terhitung kerabat dekat."

"Kalau begitu, mari kita bujuk mereka berdua sekarang. Kau juga harus ikut dan bekerja sama."

"Aku ini sedang diskors gara-gara kau, dasar monyet."

"Kalau kau ikuti instruksiku, trik kecil begini tidak akan ketahuan."

"……T-Tidak, tapi lagipula, membujuk mereka itu mustahil. Orang yang reputasinya sudah hancur sepertiku tidak punya daya tarik——"

"Jangan cemas. Kalau soal uang pelicin, aku punya sedikit modal. Ditambah lagi, ada ini."

Jumlah uang yang kukuras dari rekening rahasia Karman di Lanston sebelum kapal berlayar memang tergolong sangat besar. Untuk berjaga-jaga, aku sudah melakukan remitansi kilat melalui bursa efek di pelabuhan.

Kemudian, aku merogoh saku pakaianku dan menunjukkan secarik kertas kecil ke depan matanya.

Bank Supranasional Unseen Co., Ltd. Anggota Staf No. 44 — Fran

Seperti biasa, bagiku yang buta huruf dan sama sekali tidak bisa membaca ini, tulisan itu tidak ada artinya. 

Namun, menilai dari reaksi Anahito waktu itu, secarik kertas ini tampaknya memiliki nilai yang jauh lebih berbobot daripada yang kubayangkan.

Fakim mengamati secarik kertas yang kulihatkan padanya itu lekat-lekat, seolah ingin melubanginya dengan tatapan mata.

"Monyet……? K-Kau, di mana sebenarnya k-kau mendapatkan kartu nama ini……?"

"Tidak penting. Aku dikasih. Jadi, bisa dipakai buat membujuk?"

Menilai dari raut wajah Fakim, pertanku itu sepertinya pertanyaan bodoh.

"……Lalu, masih ada lagi tidak? Dari para pemilik suara, ada yang kelihatan gampang disetir atau penakut?"

"Ada pemegang saham bernama Murguz, mantan anggota parlemen usia delapan puluh empat tahun…… seingatku, jantungnya lemah."

"Orang itu sudah ada di pulau ini, kan? Bagus."

"Hei…… apa yang kau rencanakan."

"Nggak, cuma bakal bikin dia sakit mendadak besok, lalu aku jadi perwakilannya. Nggak usah dipikirin. Pokoknya, sekarang kita sudah pegang empat suara."

"Y-Ya. Benar, kalau lancar kita dapat empat suara…… tapi."

Kalau tidak mencapai suara mayoritas, keputusan tidak bisa diambil.

"Dari lima suara sisa, satu dipegang Presiden Direktur sendiri, satu Barbarossa, dan dua lagi…… itu mustahil. Mereka berasal dari Kementerian Pertahanan, faksi pendukung penuh presiden sekarang."

"……Lalu satu orang sisanya?"

"Sayangnya, justru itulah yang paling susah diajak kompromi."

Fakim menajamkan suaranya, seolah mengisyaratkan aku pun mengenalnya.

"Yang Mulia Anahito."

 

Bagian 5

Bagaimanapun juga, sisanya tinggal bagaimana aku memaksakan keadaan berdasarkan suasana pada hari H nanti.

Setelah membujuk Fakim dengan pemikiran itu dan berpisah, aku bergerak sendirian menuju jantung pulau pada malam hari kedua, menuju markas pusat benteng.

Karena aku akhirnya berhasil mengendus keberadaan Chronica di sana.

Di depan pintu besi yang terbuat dari bata abu-abu, berdiri beberapa prajurit bersenjata. Tapi tetap saja, bagiku mereka tak lebih dari sekadar anjing penjaga.

"Atas instruksi presiden, aku yang akan mengambil alih interogasi. Bukakan jalan ke sel."

Kutembak punggung prajurit muda yang dengan senang hati mengantarku ke penjara bawah tanah,

"Kerja bagus."

Kutembak juga perut prajurit penjaga yang tadi lengah, lalu dengan cepat menyumbat mulut dan mengikat kedua orang yang tengah mengerang kesakitan itu. Namun, kurasa aku tidak punya banyak waktu luang.

Dengan lampu minyak paus yang berbau busuk di satu tangan, kubuka pintu besi, melangkah masuk ke dalam sel yang gelap gulita, lalu.

"……Yo, masih hidup?"

"Iya. Kurang lebih."

Chronica terpaku di dinding batu, dada dan perutnya ditembus pasak besi.

Secara refleks kutahan emosi tak berguna yang mendidih naik, lalu menelannya kembali.

Kusampaikan hal-hal penting saja, satu demi satu.

"……Aku tidak bisa menyiapkan sarana untuk kabur."

"Eum."

"Jadi, kita tidak bisa lari ke pengasingan, atau kabur kembali ke Republik."

"……Eum."

"Karena itu, kita bakal hajar Ragnadan sampai babak belur, lalu merebut perusahaan ini."

Benang takdir yang mengikatku dan Chronica telah berbenturan dengan Anahito, Rostam, dan Ragnadan, menjadi kusut masai hingga berujung di sini.

Untuk menyelesaikannya, tidak ada pilihan selain memotongnya secara paksa.

"……Maaf, ini salahku."

Gara-gara saat itu kita kabur ke kedutaan.

"Nggak apa-apa."

Ucap Chronica sembari membuka mata kirinya.

"Karena aku sudah percaya padamu. Dan lagi, aku tidak mau mencampakkan Anahito."

"……Soal wanita itu. Bisa minta tolong kau bujuk?"

Begitu kusampaikan rencanaku mengenai rapat umum pemegang saham, Chronica mengangguk kecil dengan mantap.

"Iya, serahkan padaku. Kali ini, aku benar-benar akan berteman dengannya."

Sembari tersenyum mendengarkan ucapan Chronica, aku memegang pasak yang menembus tubuhnya. Demi mencabut pasak yang sudah menempel erat dengan dagingnya itu, aku sempat keluar dari sel sebentar untuk mengambil palu besi—yang kemungkinan besar biasa digunakan untuk interogasi.

"Ini bakal sedikit sakit."

"Eum, tidak apa-apa. Kumohon."

Saat kupukul kepala pasak tersebut, suara dentang nyaring terdengar dibarengi dengan sensasi hantaman yang membuat ngilu. Darah pun kembali merembes dari tubuh gadis itu.

Chronica mengerang pendek menahan sakit. Secara refleks, aku menghentikan tanganku seketika.

"……Hei, Linus. Jawaban yang waktu itu…… bisa tolong kau katakan sekali lagi?"

Mata kiri yang berada tepat di depan wajahku itu kembali memancarkan perasaan terpendam—perasaan yang dulu sempat kutolak.

"……Kepalaku rasanya seperti habis terbentur sesuatu, jadi aku tidak begitu ingat."

Wajahnya yang mencoba tersenyum tegar itu tampak pucat pasi dan berlumuran darah.

"Karena itu, sekali lagi saja. Sekali lagi saja sudah cukup. Kalau kau mengatakannya, kurasa aku akan sanggup menahan rasa sakit ini."

Bagaikan sebuah pengakuan dosa, aku mengikrarkan janji itu sekali lagi.

Aku akan selalu berada di sisimu. Karena bagaimanapun juga, tempat di sebelahmu itulah…… tempat yang paling cocok untuk seorang penipu seperti diriku.

 

Dan sekarang, beginilah situasinya.

Pemungutan suara untuk menentukan presiden direktur berikutnya telah dimulai sesuai agenda persidangan.

Empat orang termasuk diriku yang duduk di meja bundar ruang perjamuan mengangkat tangan untuk memilih Fakim, persis seperti rencana.

Sementara empat orang lainnya termasuk Raghunadan mengangkat tangan untuk memilih sang presiden petahana.

Dan satu suara yang tersisa, secara harfiah, kini berada di tangan Anahito.

Di bawah tatapan tajam seluruh orang di ruangan itu, sang Miko (miko) yang buta tersebut hanya terdiam membisu.

"Aku……"

Jari-jarinya yang gemetar tampak ragu, terombang-ambing di antara Raghunadan dan Fakim yang duduk saling berhadapan.

"Pilih aku, Ana."

Sebelum suara itu merenggut ujung jari Ana laksana magnet, aku langsung berseru lantang.

"Tunggu dulu! Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk mengubah hidupmu sendiri!"

Karena itu, setidaknya.

"Tidakkah kau ingin memilih berdasarkan keinginanmu sendiri?!"

"Diam! Jangan lancang bicara pada istriku!"

Jari Anahito perlahan mulai terarah pada Raghunadan.

Sial, ternyata masih tidak bisa, ya?

Kata-kataku tidak akan bisa menjangkaunya. Di saat genting seperti ini, hanya ada satu orang di dunia ini yang sanggup menyentuh hatinya—dan orang itu bukanlah aku. Tapi tenang saja, aku sudah memanggilnya ke sini.

Tik! Aku menjentikkan jariku tinggi-tinggi sebagai isyarat.

Tap, tap. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Sosok itu membungkam para prajurit hanya dengan tatapan matanya, lalu berdiri tepat di sampingku.

"Anahito…… ada satu hal yang ingin kuminta darimu."

 

Bagian 6

"Mau apa lagi kamu memohon kepadaku di saat seperti ini, Chronica?"

"──Buka matamu."

Mendengar perkataanku, dia sempat terdiam sejenak seolah sedang berpikir.

"Ah, begitu rupanya. Kau kan bisa mengintervensi batin orang lain. Jadi kau bermaksud mengendalikan hatiku sekarang? Tentu saja, aku menolak."

Di tengah-tengah itu, Ragnadan meninggikan suaranya demi memutus percakapan kami.

"Jangan dengarkan dia, Ana! Hei, siapa saja, seret orang asing itu keluar!"

Namun sedetik kemudian, Fakim yang mendapat bisikan dari Linus langsung pasang badan memberi bantuan.

"Anda terlalu sensitif, Tuan Presiden. Bukankah ini hal yang wajar jika seorang teman wanita datang memberikan ucapan selamat kepada mempelai wanita sebelum upacara pernikahan dimulai? Tidak perlu sampai melotot ketakutan begitu, kan?"

"Omong kosong macam apa itu──!"

Sembari memanfaatkan celah perdebatan yang mulai memanas di meja bundar tersebut, aku menahan pergerakan para penjaga hanya dengan tatapan mataku, lalu melangkah berdiri tepat di sampingnya.

"Aku hanya…… ingin berbicara dengan jiwamu."

"Memangnya apa gunanya hal itu di saat seperti ini?"

Suara Anahito terdengar begitu berat dan dalam, seolah ia berada tepat di ambang ledakan amarah.

Sambil mencengkeram dadanya erat-erat, ia berteriak histeris, seolah seluruh emosi yang dipendamnya tidak sanggup lagi ditahan.

"Tidak ada gunanya…… Memangnya semua ini bisa mengubah keadaan?! Aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk hidup sendirian! Seekor burung kecil yang sayap dan kakinya telah dicabik-cabik, apa gunanya dia terbang ke langit sekarang?!"

Di titik itu, Anahito merendahkan suaranya, mendesiskan kata-kata berikutnya laksana sebuah kutukan.

"……Ah, atau jangan-jangan, kau yang mau mengurusku, Chronica? Ufufu, mulia sekali ya. Benar-benar kemunafikan yang luar biasa. Membuatku ingin muntah. ……Aku sudah menipu kalian, mengkhianati kalian, dan melukai kalian, tahu? Apa kau benar-benar berniat berteman dengan orang seperti itu?"

"Mana mungkin," gumamnya sembari bangkit berdiri dan menggelengkan kepala dengan gestur yang dilebih-lebihkan.

"Tidak akan ada seorang pun yang membutuhkan perempuan buruk rupa sepertiku. Tidak peduli seberapa menyimpang ataupun salahnya tempat itu…… rumahku hanya ada di sisi pria itu. ……Karena itulah, pernikahan ini, melebihi apa pun di dunia, adalah sebuah kebahagiaan bagiku."

Setelah tak terhitung banyaknya kemungkinan masa depan yang direnggut secara paksa darinya, ia dipaksa untuk menerima satu-satunya pilihan terburuk yang tersisa sebagai bentuk kebahagiaan tertinggi. Aku baru bisa memahami kepedihan mendalam yang dirasakannya sekarang.

Namun, setidaknya aku ingin dia membuka mata untuk memikirkan satu kemungkinan masa depan yang lain.

"Tidak, Anahito. Aku serius. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar ingin berteman denganmu."

"Makanya, aku bertanya…… kenapa harus aku?! Jawab aku!"

"Karena aku menyukaimu."

"────Eh?"

Kalimat-kalimat berikutnya mengalir begitu saja, meluap dari dalam dadaku. Sembari merajut kembali kepingan memori yang terbentuk selama kurang dari dua minggu sejak pertemuan pertama kami, aku melanjutkan.

"Karena sejak pertama kali kita bertemu, kau selalu memperlakukanku seperti seorang kakak perempuan, dan itu membuatku sangat senang. Kopi buatanmu memang terasa sangat pahit…… tapi aku sangat menikmati waktu saat kita mengobrol banyak hal. Saat kita mandi bersama, juga saat mencoba baju renang, walaupun rasanya sangat memalukan, tapi aku bahagia. Terima kasih banyak karena sudah benar-benar menolongku."

"……Bukan, hentikan, jangan katakan lagi. Semua itu…… kulakukan hanya untuk menjatuhkanmu sedalam mungkin setelah memberimu harapan, demi bisa mengkhianatimu!"

"Kalau begitu, apakah kau sendiri tidak merasa bahagia saat melakukannya?"

Anahito seketika tercekat. Di balik kain penutup matanya, kedua matanya tampak terbelalak lebar.

"──Berisik! Berisik, berisik! Diam, tutup mulutmu! Ayah dan Ibu sudah mati! Seingat hari itu, hidupku sudah tidak bisa tertolong la——"

"Tidak seperti itu! Tidak peduli terlambat atau apa pun, kau tetap bisa bahagia! Tidak, akulah yang akan mewujudkannya untukmu! Kita akan pergi ke kota bersama, berjalan di jalanan menanjak yang disinari matahari hangat sambil bergandengan tangan. Setelah membeli es krim, kita akan duduk berdampingan di bangku taman dan memakannya bersama. ……Meskipun itu hanya hal yang sederhana, tidakkah kau menganggapnya indah? Karena itu, tidak ada masa lalu yang tidak bisa diperbaiki! Sebab, jika……"

Di jarak sedekat jangkauan tangan, aku menatap lurus ke arah matanya yang tidak bisa melihat, menghujamkan setiap untaian kata jauh ke dalam lubuk jiwanya.

"Jika masa lalu yang telah terjadi harus membelenggu seseorang selamanya, maka tidak ada seorang pun di dunia ini—"

Melebihi siapa pun, melebihi apa pun. Pria penipu itu……

Linus!

"—yang akan bisa mendapatkan kebahagiaan! Hal seperti itu, sama sekali tidak akan pernah kuizinkan terjadi!"

Aku menarik napas dalam-dalam setelah meluapkan teriakan itu. Saat aku mendongak, kudapati sosoknya yang bergetar.

"Hentikan, kumohon…… Lagipula, aku sudah menjadi begitu buruk rupa, licik, pengecut, dan kotor…… Kebahagiaan bersamamu sama sekali tidak pantas untukku."

Melihat dirinya yang terus terombang-ambing di antara dinding keraguan batinnya, rasa tidak sabar menyergapku.

Perlahan, aku mengulurkan tangan ke arah kain yang menyembunyikan sepasang mata cokelatnya, lalu menariknya hingga terlepas dengan satu gerakan halus.

"Maafkan aku."

Tepat ke arah sepasang mata yang kini terekspos dan basah oleh air mata itu, kupaksakan pandanganku mengunci netranya lewat sebuah serangan kejutan batin.

"Second Eye!"

Detik berikutnya, kesadaranku dan kesadaran Anahito melebur, menyatu menjadi satu.

Pemandangan masa lalu yang kumasuki itu hampir seluruhnya diselimuti oleh kegelapan dan rasa sakit.

Namun, saat aku menelusurinya lebih jauh ke belakang, segalanya mulai diwarnai sejak suatu hari tertentu.

Warna ingatan yang tampak sedikit pudar itu justru terlihat begitu berkilau karena alasan tersebut.

Uu…… Kopi buatan Ibu pahit sekali.

Rasa pahit itu bagus untuk kesehatan, Ana. Tapi, kau kan memang masih anak-anak.

Kalau begitu, masukkan susu sejak awal dong…… Ini, Ana.

Ayah, terima kasih banyak!

Saal, kau tentu saja cukup kopi hitam tanpa gula, kan?

Ah. Aku sudah terbiasa.

Pandangan punggung mereka di dapur saat menyiapkan kopi tampak begitu bahagia.

"Aku" pun berpikir bahwa suatu hari nanti, aku ingin menyeduh kopi untuk orang yang kucintai, sama seperti Ibu.

Ah, karena itulah "aku" selama ini selalu, selalu, selalu……

Kau harus menikah denganku.

Ingin seseorang menyelamatkanku.

Dari kegelapan hari itu, hari di mana segalanya direnggut dariku, aku selalu dan selalu ingin diselamatkan.

Saat menemukan perasaan jujur itu, aku memutuskan pandanganku dan menyudahi sinkronisasi kesadaran kami. Karena itu sudah lebih dari cukup. Sisanya, aku hanya ingin menyampaikannya secara langsung.

"──Anahito."

Bersamaan dengan air mata yang mengalir deras dari sepasang mata abu-abu yang kehilangan warnanya, jubah putih yang melingkari bahunya merosot lembut ke lantai.

Kemudian, gaun pengantin suci yang menyerupai mawar putih itu memelukku erat-erat, seolah sedang bersandar penuh harap.

"……Semuanya akan baik-baik saja sekarang."

Entah sudah berapa lama dia menahan semua ini. Entah seberapa keras dia telah menderita.

Demi melindungi matanya yang kini tanpa penutup dari silau cahaya, aku berbisik meminta maaf seraya mendekapnya ke dadaku, lalu menepuk punggungnya lembut untuk meyakinkan bahwa dia telah berjuang dengan sangat baik.

"Ma-Maafkan aku…… Chronica, a-aku…… sudah melakukan banyak hal kejam kepadamu…… Ta-Tapi, tapi…… walau ini terdengar sangat egois di saat seperti ini, kumohon."

Bibirnya yang basah oleh air mata bergerak dengan gemetar.

"Tolong…… selamatkan aku."

Kemudian, ujung jarinya yang gemetar terarah lurus ke arah Fakim.

 

Bagian 7

"J-Jangan bercanda kau bajiingaaann!!"

Ragnadan yang mengamuk hebat membalikkan meja bundar dan berteriak murka.

Demi melenyapkan segala hal yang terjadi di tempat ini, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah para prajurit.

"──Ini perintah. Bunuh mereka semua. Jangan biarkan satu pun orang yang tahu hasil di tempat ini pulang dalam keadaan hidup!"

Para pemegang saham seketika riuh panik. Di sisi lain, meski tampak ragu, rasa takut yang mendalam terhadap sang Presiden membuat para prajurit mulai mengokang dan mengarahkan senapan mereka ke arah para tamu.

Berbalik dari rasa gembira sesaat, aku menepis Fakim yang mendadak panik dan mencoba menggelayutiku, lalu melontarkan teriakan lantang. Walau sejak menginjakkan kaki di pulau ini kami selalu bergerak terpisah, aku tahu si pemabuk itu pasti berada di sekitar sini.

"──Kau mendengarnya kan, dasar pemabuk! Putrimu baru saja meminta tolong, tahu!"

Cepatlah datang! Tepat pada detik ketika teriakan itu lepas dari tenggorokanku—

Sosok yang melesat keluar dari celah kerumunan para tamu adalah sebilah pedang melengkung bermata tunggal.

Tebasan pedang yang mengalir bak aliran arus air memantulkan dan menghalau setiap butir peluru yang telanjur ditembakkan.

Bagaikan sebuah perisai yang melindungi dua gadis yang sedang saling mendekap itu, sang pria berdiri kokoh menghadang bahaya.

"Rostam…… Kau, jangan-jangan, untukku……"

Mendengar suara Anahito, pria itu menoleh sembari menyipitkan matanya lembut, lalu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Semuanya sudah aman sekarang. Karena Ayah pasti akan menyelamatkanmu."

Pria yang akhirnya berhasil menundukkan bayang-bayang masa lalunya itu segera memalingkan wajah dari sang putri, menatap lurus ke arah musuh bebuyutannya.

"Rostam!! Bajingan, kenapa kau bisa ada di sini……!!"

Ragnadan yang mengamuk hebat membalikkan meja dan berteriak murka.

"Tidak penting, Ragna. Situasi ini memang sangat mencerminkan dirimu yang suka main kasar. Tapi sampai mengarahkan moncong senapan pada para pemegang saham yang kau kumpulkan sendiri? Kau benar-benar sudah tumpul. Apa patah hati untuk kedua kalinya ini begitu memukulmu?"

"Diam……! Kalau bukan karena kau yang merebut Mishura dariku sejak awal, semua ini tidak akan pernah terjadi!"

"Kau benar. Karena itu, mari kita akhiri semuanya sekarang. Aku datang ke sini demi menuntaskan apa yang tersisa dua belas tahun lalu. ──Aku akan membunuhnya. Menebasmu sampai mati. Teruslah mendekam di dasar neraka sembari memohon maaf atas apa yang telah kau lakukan pada istri dan putriku."

"Jangan konyol…… Yang harus memohon maaf dan mati itu adalah kau!"

Menanggapi tepukan tangan Ragnadan yang berbunyi nyaring, sosok yang dinantikan pun muncul.

"Bantu aku, Bangsawan! Habisi semua orang, jangan sisakan siapa pun di tempat ini!"

"Iya, iya── eh, tunggu dulu, bukankah itu si Paman waktu itu!? Wah, ini benar-benar kejutan yang menyenangkan! Ayo, ayo, ayo, ayo! Kali ini, pastikan kau menemaniku bertarung sampai ke ujung maut!"

Sembari mengacak rambut perak pendeknya, sang bangsawan dengan garis tebasan tercepat itu menampakkan diri. 

Welquix menyeringai buas, langsung melesatkan kilatan cahaya ke arah Rostam.

 

Begitulah, dari tengah rapat umum pemegang saham yang kini telah berubah menjadi medan pertempuran asura yang bersimbah darah, aku melarikan diri sembari menggendong Anahito di punggungku dan menggandeng Chronica.

Namun entah mengapa, Fakim ikut mengekor di belakang kami.

"Lah, kenapa kau malah ikut, sih?!"

"Berisik! Kau sudah melemparku ke dalam situasi kritis lagi, dasar orang biadab! Bukankah sudah seharusnya kau bertanggung jawab dan menjamin keselamatan jiwaku?!"

"Masa bodoh. Tanggung sendiri akibatnya karena sudah mau termakan bualanku."

"A-Apa katamu?!"

"Mantan Manajer Fakim. Kau berisik sekali. Tolong diam…… Chronica, jangan lepaskan tanganku."

"Eum. ──Sudah, yang penting kita harus cepat kabur!"

Demi bisa turun ke daratan dari kapal Gandharva, kami mengincar tangga gangway yang membentang di sisi lambung kapal, mencoba membaur di antara para pemegang saham yang berlarian panik. 

Namun, para peserta rapat yang berlari di depan kami mendadak bertumbangan seiring dengan gema suara tembakan.

Langkah kami seketika terhenti. Di depan tumpukan mayat yang bergelimpangan, jalan menuju tangga dijaga oleh barisan prajurit yang bersiap dengan peluh ketakutan, dipimpin langsung oleh Barbarossa.

"Mohon maaf, tapi ini perintah Presiden. Kami tidak boleh membiarkan satu orang pun lolos dalam keadaan hidup!"

Benar-benar kesetiaan yang luar biasa. Sembari menahan urat kemarahan yang berkedut di pelipisku, aku berseru pada mereka.

"Oi, Paman yang suaranya keras! Presidenmu itu baru saja dipecat beberapa saat lalu, tahu. Kau salah mengibaskan ekor pada majikan."

"Ngh……! T-Tapi……"

"Majikan yang seharusnya kau kibasi ekormu adalah Presiden Baru yang ada di sini……"

"B-Benar! Tepat sekali! Tumben ucapanmu bermutu, dasar monyet! Hei Barbarossa, beri jalan untuk Presiden Baru, Serge Fakim! Minggir kau, si jenggotan!"

"……Fakim. Dasar bocah ingusan. Jabatan tidak akan ada artinya jika kita tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup!"

Melihat Fakim yang kembali bungkam kehilangan kata-kata, aku membisikkan kalimat umpan ke telinganya untuk ia tawarkan pada si jenggotan.

"──Bagaimana kalau gaji tiga kali lipat, ditambah posisi Direktur Eksekutif, Barbarossa?"

"…………E-Eh, serius?"

Untuk sesaat, para prajurit menatap Barbarossa dengan ekspresi seolah berkata, 'Apa bajingan ini serius?'

Si jenggotan itu langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah mencoba mengusir godaan tersebut.

"~~kh!! Tidak boleh, tidak boleh! J-Jangan remehkan aku! Kesetiaanku pada Presiden tidak akan goyah semudah itu hanya karena rayuan manis seperti itu!"

“Bual, kau jelas-jelas sempat bimbang tadi, Bangsat.”

Namun bagaimanapun juga, Barbarossa tetap memberikan perintah tembak kepada pasukannya. 

Sepertinya kali ini mereka benar-benar sudah belajar dari pengalaman sebelumnya; para prajurit itu menembak sembari memejamkan mata mereka rapat-rapat.

"Sial……!"

Secara refleks aku menarik tangan Chronica, mengedarkan pandangan ke sekeliling demi mencari tempat berlindung atau penghalang. 

Tepat pada saat itulah, seberkas bayangan hitam pekat bangkit berdiri di depan mataku, menghalau seluruh terjangan peluru.

"──kh!! Ja-jangan-jangan……"

"──Pria sepertimu ini, dari dulu sampai sekarang, benar-benar tidak pernah berhenti bertindak bodoh, ya."

Sosok wanita yang kalau bisa, tidak ingin kutemui lagi seumur hidup.

Namun dalam situasi sesulit ini, dia jugalah sosok yang mungkin paling ingin kutemui melebihi siapa pun.

"Sudah lama tidak berjumpa, Penipu, dan Gadis Kecil."

Evelyn Havelhaval telah berdiri tegap di sana.

 

Bagian 8

"A-Apa-apaan makhluk ini……!! S-Si monster──"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tolong bicara dengan bahasa yang bisa dipahami."

Seolah merasa terganggu oleh kebisingan itu, maid berpakaian hitam-putih itu membuat Fakim pingsan seketika hanya dengan satu sentilan maut (dekopin). Bersamaan dengan itu, ia membangkitkan bilah-bilah bayangan tajam yang berdiri tegak di sekeliling tubuhnya.

"J-Jangan gentar! Tembak──!!"

Atas aba-aba Barbarossa, peluru-peluru yang dilepaskan bersama kepulan asap mesiu bertubi-tubi sama sekali tidak memberikan dampak apa pun. Peluru itu mental saat menghantam permukaan hitam pekat milik perisai bayangan, lalu bergulingan di lantai bagaikan kerikil yang tak berdaya.

Kemudian, bilah bayangan berbentuk bulan sabit melesat di atas geladak laksana sirip punggung monster laut yang buas, menyapu bersih barisan prajurit. 

Namun, hal yang tidak biasa bagi karakternya, tampaknya serangan itu tidak membawa niat membunuh sedikit pun. Meski begitu, serangannya tetap dilakukan tanpa ampun. Para prajurit yang terkena telak langsung terlempar ke udara, lalu terempas keras oleh bobot tubuh mereka sendiri ke lantai besi dari ketinggian beberapa kaki, membuat mereka mengerang kesakitan akibat luka memar dan patah tulang.

Setelah memastikan Barbarossa ikut pingsan dengan tragis, Evelyn mengalihkan pandangannya menatapku lalu berkata:

"Aku pun tidak punya hobi untuk bersusah payah membunuh manusia yang bahkan bukan seorang bangsawan. Jika kau sudah paham, singkirkan ekspresi wajah tidak sopan itu, Penipu."

"Bukan, maksudku, dari mana sebenarnya kau bisa muncul……"

"Apakah kau sudah melupakan faktor milikku? Jika menggunakan bayangan, aku bisa berpindah ke mana saja sembari menyembunyikan diri. Aku bisa sampai ke pulau ini hanya dengan menyelinap di kapal yang sekiranya cocok. ……Lagipula, jika kau mempertanyakan bagaimana aku bisa melacak kalian, tidakkah terlintas di benakmu tentang seorang gadis pirang bodoh yang sangat ideal untuk dijadikan sebagai tirai pelindung?"

Bisa dimengerti, misteri itu langsung terpecahkan seketika di dalam kepalaku.

"……Evelyn."

Gumaman Chronica terdengar agak asing dan berjarak. 

Sang maid pun memalingkan wajahnya ke arah gadis itu.

"Ah, benar juga. Kau pasti sudah tidak mengingatku lagi, bukan?"

Itulah takdir dari Sel Kanker yang secara perlahan mengikis habis ingatan inangnya. Ditambah lagi, buku harian yang merekam seluruh perjalanan mereka kala itu juga telah hangus terbakar. Chronica hanya bisa menundukkan kepalanya dengan raut sedih.

"Maafkan aku. Melalui ingatan Linus, aku memang tahu tentangmu…… tapi……"

"Tidak masalah," ucap Evelyn datar sembari merendahkan suaranya.

"Apakah kau mengingatku atau tidak, itu sama sekali tidak ada hubungannya. Sebagai kewajiban sukarelawan militer Republik sekaligus prinsip pribadiku, aku tidak bisa membiarkanmu lolos begitu saja. Lagipula……"

Lagipula.

"Chronica, Kau telah melakukan satu tindakan tidak sopan kepadaku, tahu."

"……Eh?"

"Kau berani-beraninya melontarkan omong kosong bahwa aku adalah temanmu."

Menatap lurus ke dalam sepasang mata biru sedingin es yang terarah padanya, seolah berhasil memanggil kembali kenangan di antara mereka berdua dari balik tatapan itu, mata Chronica mulai berkaca-kaca saat ia mengutarakan rasa terima kasihnya.

"Eum…… Terima kasih banyak, Evelyn."

"Tidak perlu berterima kasih. ──Dan berikutnya, Penipu."

Ujung tombak pandangan dari pelayan sadis itu kini beralih lurus menancap ke arahku. 

Sepasang matanya memancarkan keheningan yang dalam dan mencekam, menyerupai amarah yang terpendam.

Punggungku seketika membeku. 

Berbeda dengan Chronica, aku tentu saja mengingatnya dengan sangat jelas dan mustahil bisa melupakannya. 

Fakta bahwa kami pernah saling membantai di tepi pantai waktu itu…… dengan kata lain, jika dipikirkan secara logis.

"Aku memiliki utang yang harus diselesaikan denganmu."

Tepat pada detik saat tubuhku menegang secara refleks, kedua bahuku dicengkeram erat olehnya yang telah mendekat tanpa suara. 

Parasnya yang dingin dan menawan laksana mahakarya pembuat tembikar terbaik kini memancarkan aura buas dari jarak yang teramat dekat.

"Berani-beraninya, di hadapanku, Kau memalsukan wajah anak itu untuk menipu."

Evelyn membuka bibirnya yang tipis, lalu menancapkan gigi taringnya yang menyeringai buas tepat ke leherku.

Ilustrasi Hitam Putih 1 - Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2 Bab 4

Rasa sakit yang menyiksa seketika menjalar saat sesuatu yang tajam merobek kulit dan menghujam jauh ke dalam dagingku. Hembusan napasnya yang begitu dekat terasa memburu dan intim di kulitku——bersamaan dengan itu, bobot raga dan tenaga luar biasa dari wanita yang menggigit leherku itu mengempaskanku ke atas tanah.

"Gah, kh, aakh……!!"

"────"

Rasa sakit yang mendera membuatku kesulitan bernapas. Cengkeraman tangannya di kedua bahuku begitu kuat seolah ingin meremukkannya, mengingatkanku pada seekor beruang buas. Aku benar-benar merasa seolah-olah sedang dimangsa oleh seekor binatang buas raksasa.

Dalam sudut pandangku yang terjungkir, aku bisa melihat Chronica yang membelalakkan matanya karena terkejut, serta Anahito yang menyentuh bahu gadis itu dengan raut cemas.

Tepat pada saat itu, sebuah sensasi yang sedingin es namun sepanas api mengalir masuk, menyelinap dari balik luka di leherku.

Beberapa detik kemudian, Evelyn akhirnya menjauhkan mulutnya, menegakkan tubuh dan melepaskan kunciannya padaku.

Seutas benang cairan tipis yang mencampurkan air liurnya dengan darahku terputus begitu saja.

Sepasang mata biru sedingin es miliknya kini menatap wajahku dengan sebersit kehangatan yang ganjil.

"Ah…… ternyata, kalian memang tidak mirip. Kau bukanlah adikku, Isaac."

Setelah itu, sang maid berpakaian hitam-putih mengurai bayangan hitam yang melilit lehernya——yang tak lain adalah bagian dari kekuatannya sendiri. 

Di sana, bekas luka gigitan yang pernah kutorehkan di laut kala itu masih tercetak dengan sangat jelas.

Sembari menyeka bibirnya yang berlumuran darah, Evelyn bergumam lirih.

"……Yang tadi itu adalah pembalasan. Aku pikir akan tidak adil jika kau tidak merasakan luka yang sama denganku…… Namun, ini aneh. Saat benar-benar menggigitmu, aku malah merasakan luapan emosi yang membingungkan. Rasanya seperti ingin mengoyakmu sampai mati seperti waktu itu, namun di saat yang sama juga tidak…… Tapi, sepertinya aku tetap ingin membunuhmu."

Evelyn terus meracau pelan, tampak seperti orang yang sedang dirundung demam batin.

——Sial, ini benar-benar situasi terburuk. Demi bisa bertahan hidup di pantai berpasir kala itu, aku telah memanfaatkan celah di hatinya secara maksimal. Namun jujur saja, aku sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Lagi pula, saat itu aku tidak punya kemewahan waktu untuk berpikir sejauh itu.

"Kau tidak apa-apa, Linus?"

Chronica yang berlari mendekat segera mengusap tengkuk leherku. Pendarahannya ternyata sudah berhenti. 

Kemudian, gadis itu menyipitkan matanya dengan penuh selidik, menatapku dan Evelyn bergantian sebelum akhirnya mengerucutkan birbunya seolah menyadari sesuatu.

"……Benar-benar, kau ini dasar cowok yang nggak tahu diri."

Dengan wajah cemberut dan pipi yang menggembung kesal, Chronica menyenggol pelan rusukku.

Anahito ikut melontarkan komentar dengan nada lelah.

"Aku tidak begitu memahami bagaimana kronologi situasinya, namun singkat kata, hubungan Linus-san dengan kaum hawa kini menjadi semakin rumit dan merepotkan. Apakah kesimpulanku ini sudah tepat?"

"Itu cuma kesalahpahaman."

Gumamku, sangat berharap agar kalimatku itu benar adanya. Namun, tepat pada detik saat aku merapal doa tersebut di dalam hati——

Sesosok rambut pirang mendadak menyembul keluar dari bawah kaki Evelyn.

"Tunggu duluuuu yaaaa!! Saat aku sedang diam mengamati, berani-beraninya maid licik ini menodai kesucian Linus-kuuuu!! Akan kujadikan engkau abu lalu kusebar di halaman rumahku, jangan bergerak dari sana!"

Menanggapi Patricia yang baru saja meloloskan diri dari dalam bayangannya sendiri, Evelyn hanya mengernyitkan alisnya dengan dingin.

"……Ah, kalau dipikir-pikir, aku juga belum menyelesaikan urusan denganmu, ya. Baiklah. Akan aku buat isi kepalamu yang kelewat ceria itu meledak terbang sampai ke kediaman keluargamu."

Sembari memasang kuda-kuda bertarung dengan gerakan yang mengalir, paras menawan mereka yang menyerupai boneka itu saling melotot, seolah berniat menghancurkan wajah satu sama lain.

Melihat keduanya, Chronica memegangi kepalanya dengan raut yang agak lelah.

"Sudah, hentikan kalian berdua. Lihat, Anahito sampai ketakutan, kan."

"Tidak, aku hanya merasa heran, kok……"

Kemudian, gadis itu mengedarkan pandangannya ke arah wajah-wajah yang pernah berkumpul dalam perjalanan waktu itu dengan raut yang tampak gembira.

"Bagaimanapun juga, mari kita bekerja sama untuk melewati situasi ini."

Menanggapi suara riangnya yang ceria, sang maid tetap bungkam, si rambut pirang mengangguk pasrah sambil menghela napas, sementara aku ikut menyatakan kesepakatan dengan sebuah helaan napas panjang.

Tepat pada saat itulah…… 

Langkah kaki yang berdentang pelan membuat kami semua menoleh serentak.

"Kh, kuku……"

Benar saja, pria yang menampakkan diri di sana terlihat seperti orang yang telah kehilangan segalanya dan menjadi putus asa.

"──kh, Ragna."

"Ana. Kau…… berniat mencampakkanku? Kau ingin berpisah denganku dan pergi bersama tikus-tikus ini?"

Sembari menunduk, kacamata pria itu merosot turun dari wajahnya yang memancarkan tawa hampa yang mengerikan. 

Kemudian, Ragnadan merogoh saku pakaiannya.

"Apakah aku harus kehilangan dirimu lagi, Mishura? ……Kalau begitu, ah, sudahlah. Jika segala hal di dunia ini berniat mengkhianati seluruh perjuanganku, tidak ada pilihan lain selain melakukan ini."

Aku mengenali secarik kertas kecil yang ia jepit di antara dua jarinya.

"Para penipu dan monster di sana…… beserta seluruh sampah yang telah menghasut Ana-ku. Akan kubuat kalian menyesal seumur hidup."

Setelah berucap demikian, darah segar menetes dari ujung jarinya yang ia gigit, jatuh tepat di atas kertas kecil yang merupakan kartu nama tersebut.

Tindakan itu terlihat persis seperti sebuah kontrak magis untuk memanggil iblis yang mengerikan. Dan secara naluriah aku langsung menyadari, bahwa itulah cara penggunaan yang benar dari kartu nama tersebut.

"Akan kuberikan kepadamu. Ambil seluruh eksistensiku, wahai Bankir! Sebagai gantinya── bantai habis mereka semua tanpa sisa!"

Seketika, seolah merespons panggilan Ragnadan, seberkas entitas melesat jatuh dari ujung cakrawala dan menghujam telak ke atas geladak depan Gandharva.

Badai dampak gelombang kejut hanya mengamuk selama satu detik, dan di tengah keheningan mutlak seolah segala kehidupan telah punah, sebuah sapaan dengan bahasa formal yang kelewat tertata mulai menggema.

"Terima kasih banyak karena telah sudi memanggilku pada hari yang berbahagia ini."

Sosok berselimut gaun hitam elegan yang mengekspos pundak putihnya serta menyisakan juntaian lengan longgar itu membungkuk dalam-dalam memberi hormat.

Rambut sewarna rumput kering, sepasang netra berona hijau tua, serta sepasang telinga runcing khas yang menghiasi sisi wajahnya.

"Staf Anggota Nomor 44 dari Bank Supranasional Unseen Co., Ltd., Fran yang rendah hati ini, hadir memenuhi panggilan setelah mendeteksi sumpah setia yang terpatri pada kartu nama yang merupakan belahan jiwaku. ──Naah, aku tidak tahu apa urusanmu, tapi aku bakal mengabulkan apa saja, kok. Tapi sebagai gantinya, uangmu, nyawamu, dan segala hal yang kau miliki, semuanya resmi menjadi milikku, ya."

Aku mengenal wanita ini. Dia adalah seorang wanita Elf, suku minoritas yang konon berasal dari wilayah Timur Jauh.

"Aaah!! Lama tidak jumpa, ya!! Kakak disana! Bagaimana kabarmu? Sudah kuduga kita bakal bertemu dengan cara seperti ini! Kalau begitu, wahai hadirin sekalian yang telah menanti-nanti!"

Deklarasi yang terdengar penuh kepura-puraan namun menghujam tepat sasaran bagaikan sebuah kebenaran mutlak itu menggema keras, memicu rasa merinding yang hebat.

"Sang Pembela Kebenaran telah tiba, lho~!"

Bagian 9

Waktu berputar mundur sedikit ke belakang.

Ke mana perginya atmosfer perayaan penuh keanggunan yang sempat menyelimuti tempat ini sebelumnya? Di atas geladak yang telah porak-poranda—di antara meja-meja yang bertumbangan dan makanan yang terbuang sia-sia—dua orang pria berdiri saling berhadapan.

"Baiklah, mari kita mulai."

Rostam melemaskan ketegangan yang tidak perlu; kelenturan lengan pedangnya masih sama seperti biasanya. 

Namun, ia sangat menyadari bahwa batinnya kini berada di bawah tekanan kecemasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, tepat di hadapan musuh terkuat dalam hidupnya.

"Ayo, ayo, ayo! Mari kita mulai, Pak Tua! Biar begini aku ini orang yang beradab, tahu, jadi aku kurang suka kalau langsung main kasar di awal. Bagaimana kalau kita mulai dengan pemanasan dulu, haah?!"

Di ujung salah satu lengan Welquix, seberkas kilatan merah berkilau. Karena mustahil untuk dilihat, serangan itu tidak menyisakan ruang untuk bertahan maupun menghindar. Sebuah dobrakan mutlak berbasis kecepatan ekstrem, mewujudkan garis kematian yang mampu menebas apa saja.

Menghadapi hawa kematian yang menusuk kulit, Rostam hanya mengalirkan bilah pedangnya seolah menempelkannya dengan lembut. 

Hanya dengan gerakan itu, ia berhasil membelokkan arah serangan dan menepisnya tanpa kesulitan berarti.

 

Di titik ini, kemampuan membaca gerakan miliknya telah mencapai kesempurnaan. Bahkan hingga mampu membongkar wujud asli dari kilatan merah tersebut.

"Kau menembakkan darah yang kau tipiskan laksana seutas benang, kan?"

"Oh, tampangmu kelihatan seolah tahu sesuatu, ya! Jangan-jangan kau sudah membaca Stormbringer-ku?!"

Seperti biasa, Rostam sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan lawannya. Namun seolah menganggap hal itu tidak penting, ia berucap dengan ekspresi wajah yang tampak begitu lega.

"Aku ingat dulu pernah bilang tidak bisa menang darimu. Maaf, tapi aku menarik kata-kataku itu. ──Segala omong kosong itu sama sekali tidak ada hubungannya lagi. Aku akan membunuhmu. Menebasmu sampai mati."

Sembari mengarahkan ujung pedangnya lurus ke tenggorokan Welkix, ia mulai berlari. Hanya dengan gerakan pergelangan tangan, ia menebas rantai garis serangan yang mengurungnya, lalu dengan sangat mudah merangsek masuk ke dalam jarak tembak musuh.

"Apa──?!"

"Dan berikutnya, aku akan membunuh Ragna. Jadi, mari kita selesaikan ini dengan cepat, monster keparat."

Langkah serbuan luar biasa yang disusul dengan tebasan vertikal ke atas itu merobek dalam-dalam lengan Welquix, yang padahal sudah menarik tubuhnya mundur secara refleks berkat refleksnya yang abnormal.

Aliran pedangnya tidak hanya telah sepenuhnya lepas dari jerat alkohol dan kemerosotan moral selama bertahun-tahun, melainkan telah mencapai tingkat kemurnian yang belum pernah ada sebelumnya. Semua itu berkat perasaan jujur sang putri yang berhasil dibongkar oleh gadis kecil itu.

Tolong selamatkan aku, Anahito telah berkata demikian. Sembari menangis, dia mengaku bahwa selama ini dia selalu ingin diselamatkan.

"Setelah ini, aku harus menyelamatkan putriku, lalu meminta maaf kepadanya."

Ia merasa sangat tidak berguna hingga rasanya ingin membunuh dirinya sendiri saat ini juga. Namun, ia tidak punya waktu untuk mati. Bahkan menghabiskan tenaga untuk mati di hadapan pria seperti ini terasa teramat sia-sia. Karena itu, jika ia tidak bangkit sekarang, ia akan benar-benar kehilangan harga diri bahkan untuk sekadar mati.

Serangan susulan Rostam yang datang bertubi-tubi sebenarnya hanyalah kombinasi tebasan kiri dan kanan yang teramat sederhana. Namun entah mengapa, Welquix kewalahan untuk mengantisipasinya. Pundak dan lengannya secara bertahap mulai tergores oleh luka sayatan. Hal itu terjadi karena Rostam terus-menerus mengincar celah kosong di setiap embusan napas musuhnya tanpa ampun.

Menyerang celah pada serbuan pertama, ia kemudian terus mengacaukan ritme pernapasan musuh secara akurat. 

Bagaimanapun, seorang Bangsawan tetaplah makhluk hidup. Mereka menghirup oksigen lewat napas dan menggerakkan tubuh melalui aliran darah. Jika dipaksa bergerak di tengah-tengah siklus napas yang kacau, hal itu akan berdampak besar pada refleks dan gerakan selanjutnya. 

Dengan kata lain, Rostam sedang memaksa sang Bangsawan yang melampaui manusia itu ke dalam kondisi kekurangan oksigen.

"Cih!!"

Welquix, yang sangat familier dengan seni bertarung layaknya tarian, memahami situasi di atas dengan sangat akurat. 

Ia mendecak kesal, sempat berpikir bahwa ia terpaksa harus menerima satu tebasan demi mendapatkan waktu untuk mengatur kembali napasnya——namun, ia segera membuang jauh-jauh opsi tersebut. 

Jika melakukan itu, aku akan kalah.

Kompetensi pria paruh baya ini sama sekali tidak main-main. Niatnya untuk mengatur napas pasti akan terbaca dengan mudah. Jika ia mengambil posisi bertahan yang kentara, kepalanya dipastikan akan langsung menggelinding di detik itu juga. 

Maka, ia membuang seluruh penilaian rendahnya, dan memutuskan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya tanpa memedulikan penampilannya lagi.

"〈Stormbringer〉: Akselerasi Pertumpahan Darah!"

Akselerasi darah. Itulah Faktor Darah Mulia (Regalia) milik Welquix Nesilbeth.

Kemampuan yang aslinya hanya mempercepat sebagian kecil darah perifer di dalam tubuh untuk ditembakkan keluar sebagai tebasan, pada detik ini ia aplikasikan ke seluruh darah di tubuhnya, termasuk organ dalam dan sumsum tulang.

Hasilnya, sebagai ganti atas kerusakan masif pada organ dalam, otot, serta struktur tulangnya, tubuhnya berhasil mematahkan hukum inersia.

Tanpa aba-aba, seolah ditarik oleh seutas benang tak kasat mata, tubuh Welquix melesat mundur dengan akselerasi tinggi bersama seluruh aliran darahnya. Ia lolos dari jarak tebas Rostam dengan paksaan yang tergolong mustahil.

"Gah, fuh……!"

Sembari terlempar mundur dengan darah yang mengucur dari seluruh wajahnya, Welkix tidak melewatkan kesempatan itu. 

Sebuah celah super tipis dari sang musuh, di mana keterkejutan dan sedikit keraguan sesaat bercampur ke dalam gerakannya.

Karena itu, ia tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini. Sebelum hubungannya dengan faktor genetik dalam butiran darah yang berceceran itu terputus, ia mengerahkan akselerasi semaksimal mungkin untuk mengubahnya menjadi gelombang tebasan.

"──kh, jangan remehkan aku!"

Serangan gencar dari lebih dari sepuluh garis tebasan bertubi-tubi itu datang menerjang, namun Rostam sanggup meresponsnya.

Ia hanya menangkis jumlah minimal yang diperlukan dan menyelinap masuk ke dalam celah di antaranya. Beberapa luka sayatan menggores berbagai bagian tubuhnya, tetapi tidak ada satu pun yang berujung fatal.

Dengan demikian, beberapa menit sejak pertempuran dimulai, setelah saling bertukar teknik pedang dan kemampuan supranatural, situasi pertempuran berakhir seimbang dengan kedua belah pihak sama-sama terluka.

Bisa dikatakan, ini adalah hasil yang mustahil terjadi.

Welquix adalah seorang Bangsawan Ordo Utama Pertama. Garis keturunannya yang sangat dekat dengan Bangsawan Agung—leluhur dari seluruh Faktor Darah Mulia (Regalia)—menempatkannya di posisi puncak di antara kaum bangsawan, baik dalam hal output faktor genetik maupun performa fisik.

Terlebih lagi bagi manusia biasa yang bahkan tidak pantas dijadikan bahan perbandingan. Menghadapi seorang pria yang baru menginjak usia kepala empat, seharusnya pertarungan ini selesai dalam sekejap mata.

Menyadari kenyataan yang seharusnya tidak boleh terjadi ini, Welquix justru tertawa dari lubuk hatinya.

"Hahahaha, ahahaha! Gilaaaaa! Hebat, kau hebat sekali, Pak Tua! Di wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh darahku, kau benar-benar ada di sana! Kau berdiri kokoh! Aku senang sekali! Di dunia ini ternyata masih ada kekuatan yang tidak kuketahui! Kau telah mengajarkannya kepadaku…… Terima kasih banyak, ya."

Ungkapan terima kasih yang disampaikan dengan antusiasme abnormal itu langsung dipatahkan oleh bahasa yang berbeda.

"Berisik. Makanya kubilang aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan…… kecuali fakta bahwa kau itu bodoh."

Sambil berkata begitu, Rostam mencoba mengatur napasnya yang memburu.

Pertarungan jangka panjang sangat merugikannya. Pendarahan Welquix sudah berhenti, bahkan luka-luka yang ia torehkan tadi mulai beregenerasi dengan cepat.

Sebaliknya, kelelahan pada tubuhnya sendiri sudah sangat parah. Lengan yang mengayunkan pedang terasa seberat timah, dan paru-parunya serasa ditusuk oleh tombak, memicu rasa sakit yang menyiksa setiap kali ia menarik napas. Jumlah darah yang hilang juga tidak sedikit.

……Benar-benar membuat muak. Tidak peduli seberapa besar ia mengutuk dirinya sendiri yang telah membiarkan bakatnya menumpuk karat di tengah keputusasaan dan pelarian sejak hari itu, rasanya itu semua masih belum cukup untuk menebus penyesalannya.

"……Mari kita akhiri ini segera. Aku akan membunuhnya di serangan berikutnya, jadi cepatlah maju."

Apakah niat untuk menyudahi pertempuran yang tertuang pada ujung pedang yang terarah itu tersampaikan meski tanpa kata-kata?

Sang bangsawan berlengan satu itu mengembuskan napas dalam-dalam secara perlahan, lalu mengangkat lengan kiri yang tersisa seolah sedang meresapi momen tersebut.

"Aku kalah, Pak Tua…… Aku akhirnya sadar kalau teknikku masih belum bisa menandingi teknikmu. ──Tapi omong-omong, hei, coba dengarkan sebentar. Aku ingin menjadi lebih kuat. Aku ingin mengasah darah yang kumiliki sejak lahir ini. Menjadi lebih cepat, lebih tajam, menempanya di dalam pertempuran, dan melihat seni pemotongan yang bersemayam dalam darah ini mencapai puncaknya. Untuk tujuan itu, tidak peduli berapa kali aku kalah, aku akan menjadikannya pelajaran. Kemenangan tanpa arti sama sekali tidak penting bagiku, tapi aku juga tidak berniat untuk mati. Karena itulah── mohon maaf, mulai dari sini, ini bukan lagi sebuah pertandingan. Aku hanya akan membunuhnya dengan mudah dan cepat."

Dan kemudian, Welquix menebasnya hingga putus.

Bersama dengan lengan kiri yang tersisa, ia memotong seluruh bagian kedua lengannya langsung dari pangkal bahu. Begitu mudah dan tanpa ragu.

Darah merah yang mengucur deras dari pangkal bahunya mengalir turun, lalu seolah merayap naik kembali dari bawah kaki sang majikan, darah itu berkumpul di kedua kakinya dan membentuk sebuah wujud perlindungan baru.

"Dress bertarungku ini agak sedikit mengerikan, sih. Kurang populer kalau dipakai di pesta dansa yang elegan…… tapi, aku tidak pernah kalah sekali pun saat menggunakannya."

Ia tidak butuh kedua tangan. Karena tidak diperlukan untuk kecepatan, ia membuangnya begitu saja. Aliran darah dari bagian tersebut dialihkan sepenuhnya untuk mempercepat kedua kaki dan seluruh tubuhnya. Inilah Noble Cross yang dirancang khusus untuk melesat di kecepatan tertinggi demi merenggut nyawa musuh melalui jalur terpendek.

"──〈Stormbringer〉: Kaki Tebasan Langit!"

Pelindung kaki berwarna merah tajam yang mengingatkan pada seekor kalajengking yang membara mencengkeram tanah dengan impresif. 

Welquix yang kini telah kehilangan kedua lengannya merendahkan pinggul dan menekuk lututnya.

Pada saat itulah, indra keenam Rostam yang melampaui manusia biasa mendadak mengirimkan sinyal bahaya yang luar biasa ke seluruh tubuhnya, laksana alarm yang rusak. 

Mengabarkan bahwa nyawanya benar-benar berada dalam ancaman mutlak.

Patuh pada nalurinya seketika, ia melompat menghindar ke arah samping.

Pada saat yang bersamaan, sesuatu yang melewati ruang tempat dirinya berada seperseratus detik lalu hanyalah sebuah kehampaan. 

Tidak, lebih tepatnya, itu adalah wujud dari kesempurnaan mutlak yang sanggup mereduksi segala hal menjadi ketiadaan akibat kecepatan yang melampaui batas ekstrem fisik manusia.

"──!!??"

Ketika segala suara seakan hancur lebur, gelombang kejut yang tercipta akibat hal itu mengempaskan Rostam dan menghantamnya keras ke pagar pembatas di tepi geladak.

Angin ledakan yang mengamuk menerbangkan debu dan sandaran material dalam jumlah yang luar biasa. Saat ia menyipitkan matanya untuk melihat ke depan, jalur yang baru saja dilewati oleh wujud itu telah lenyap tak bersisa.

Anjungan belakang kapal, meriam baterai yang terpasang kokoh, hingga para personel yang seharusnya berada di sana——segalanya telah lenyap, seolah dikeruk bersih hanya dengan ujung sendok.

Di tengah debu yang berjatuhan seperti butiran bubuk, hanya laut biru tua yang kini terhampar kosong di bagian belakang kapal perang yang telah menganga lebar.

"Kau berhasil menghindarinya? Astaga, refleks macam apa itu? Naluri bertahan hidupmu agak terlalu hebat tahu, Pak Tua."

Suara derit langkah terdengar saat Welquix yang kini tidak memiliki kedua lengan menginjak geladak yang terkikis.

Ia sebenarnya hanya berlari. Mengambil jalur pulang-pergi, lalu kembali ke posisi semula. Hanya itu saja.

Namun, kecepatan serta gelombang kejut tajam yang menyertainya telah mencabik-cabik segala hal yang berada di jalurnya menjadi abu, secara harfiah menghancurkannya begitu partikel tersebut tersentuh.

Ketuk, ketuk. Ujung kakinya mengetuk lantai besi. Tidak perlu dipertanyakan lagi apa arti dari suara itu.

"Yah, karena sudah lama tidak menggunakannya, bidikanku agak meleset, ya. Evaluasi, evaluasi. Baik, kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos, jadi persingkat pesan terakhirmu, Paman."

Sembari terhuyung-huyung, Rostam mencoba bangkit berdiri.

Kali ini, benar-benar tidak ada harapan lagi. Ia paham betul. Wujud itu sudah tidak berada di ranah yang bisa dijangkau oleh teknik manusia. Sama sekali tidak ada celah bagi akal maupun taktik untuk menyelinap; tidak ada ruang untuk melawan bencana alam itu sendiri.

Bahkan setelah memahami hingga ke sumsum tulangnya bahwa itulah hukum dunia ini——ia tetap menolak menyerah.

"……Ana."

Jika ia menebas habis jalan mundur menuju akal sehat, maka jalan keluar untuk menang pasti akan terbuka.

Gaya Pedang Langit Mengalir Faksi Pengawal Kerajaan Kekaisaran Uap——Wolcarshia, sebuah teknik rahasia turun-temurun.

Bagaikan air yang dipanaskan hingga menguap menjadi asap, ini adalah teknik pedang yang mengantarkan penggunanya menuju dimensi lain meskipun ia hanyalah seorang manusia.

Sebilah pedang uap yang meloloskan diri dari segala hal di dunia ini, sekaligus menebas apa saja yang bertahta di dalamnya.

……Dirinya yang dulu tidak sanggup melakukannya.

Karena itulah, pedang yang telah ia dedikasikan sepanjang hidupnya patah, dan cinta yang bersumpah ia lindungi hancur berkeping-keping dengan tragis.

Namun, kali ini pasti——

"────"

Di tengah pandangannya yang melambat akibat fokus yang teramat ekstrem, Welquix mulai mengambil ancang-ancang untuk melesat.

Ada dua syarat untuk memicu teknik rahasia ini. Mengubah jiwa menjadi energi panas, serta menyempurnakan teknik secara mutlak.

Maka dari itu, langkah pertama adalah menaikkan suhu jiwanya. Demi membakar habis seluruh keterikatan fana terhadap dunia ini.

Kehangatan Mishura saat berada di dalam dekapannya, rasa pahit dari seduhan kopi.

Raut wajah Ragnadan pada hari itu.

Serta wajah putri semata wayangnya yang kali ini bertekad ia lindungi sampai mati. Ia meresapi setiap kepingan memori itu hingga batas ekstrem, lalu meleburnya menjadi ketiadaan.

Melalui bilah pedang yang ia angkat tinggi di atas kepala, seluruh jiwanya mulai membubung tinggi bertransformasi menjadi uap asap.

Detik berikutnya, sebuah sensasi yang mendekati kemahakuasaan mendominasi tubuh Rostam seolah dirinya terlahir kembali. Serangan yang akan ia lepaskan setelah ini adalah tebasan yang benar-benar telah menyentuh ranah dewa. Sebuah hantaman dengan teknik sempurna yang tidak kalah sedikit pun dari masa jaya dirinya di masa lalu.

Welquix menghilang.

Dan di tengah hawa kematian yang merangsek mendekat, sebuah pencerahan mendadak menyergap benaknya secara tiba-tiba.

……Ini sama saja. Aku sedang melakukan hal yang sama persis seperti waktu itu.

Karena itu, hasilnya tidak akan berubah sedikit pun.

Ternyata, ini masih belum cukup. Secara struktural, secara krusial, dan secara mutlak.

Tidak peduli sekeras apa pun ia memanaskan jiwanya, tidak peduli sejauh apa pun ia menyempurnakan tekniknya, ia tetap tidak akan bisa menggapai ranah tersebut.

Ia tidak akan pernah bisa menyentuh wilayah uap asap yang sanggup lolos dari hukum dunia ini.

Dan hal yang melintas di depan matanya laksana lentera berputar (soumatou) hanyalah seonggok keputusasaan kelam tak berujung.

Raga Mishura yang terkoyak-koyak di tengah badai baja saat wanita itu masih bernyawa.

Serta dirinya sendiri, yang kala itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak histeris.

Sekali lagi, keputusasaan yang akan segera menjemputnya ini mencoba menyeret sang pria ke dalam pusaran kegelapan tanpa akhir.

……Tidak.

"Bukan."

Di sekat dimensi waktu yang entah di mana, Rostam menggumamkan sebuah firasat samar.

Seluruh jiwanya telah ia ubah menjadi energi panas. Batas terjauh dari tekniknya pun telah ia kuasai sepenuhnya. 

Namun, semua itu masih belum cukup. Karena...

──Air menguap bukan semata-mata karena faktor suhu. 

Hanya ketika pergerakan partikel terkecil dari air itu sendiri—yang meningkat akibat pemanasan—mampu melampaui tekanan udara di sekitarnya, barulah air itu akan bertransformasi menjadi uap asap.

Jika demikian, sebuah pertanyaan pun lahir. Apa yang selama ini memenjarakan tekad ini? 

Siapa yang masih mengurung sebilah pedang yang seharusnya melampaui nalar ini di dalam dunia akal sehat? 

Jiwa, teknik…… lalu, satu elemen terakhir yang kurang itu, apa?

"……Diriku, sendiri?"

Pemahaman itu datang dalam sekejap mata, dan waktu sudah tidak menyisakan ruang lagi. 

Pertama-tama, ia harus menghancurkan penghalang itu. Jika tidak, tekad bulat untuk menembus batas kemanusiaan akan tetap penjara di dalam sangkar daging, dan hanya akan berakhir sebagai sebuah tebasan biasa. Hal yang harus diprioritaskan di atas segalanya adalah……

Membunuh raganya sendiri.

Tidak ada waktu untuk menurunkan pedang demi menggorok leher sendiri. Menggigit lidah pun membutuhkan waktu yang sama sia-sianya. 

Jika demikian, apa yang harus dilakukan? 

Tidak ada pilihan lain selain menghentikan napas kehidupan raga ini dengan tangannya sendiri saat ini juga. Hanya dengan menggunakan satu-satunya kehendak bebas yang bisa digerakkan, ia harus menghujamkan pukulan mematikan langsung ke jantungnya sendiri.

"……Ah, ternyata begitu."

Rasa lega yang teramat nyata merayap di dada Rostam. Karena jika hanya melakukan hal itu, ia merasa sanggup menyelesaikannya.

Seats dulu, selalu, dan selamanya ia teramat membenci sosok itu. Ia sangat ingin membunuhnya. 

Sosok lemah yang gagal melindungi Mishura dari cengkeraman Ragnadan. 

Sosok pengecut yang membiarkan Anahito terjerumus ke dalam kubangan kehinaan dan penderitaan tanpa pernah sanggup menyelamatkannya. 

Padahal, terlepas dari semua kepengecutan itu, ia masih egois ingin melihat sang putri tumbuh dewasa walau hanya sedikit lebih lama. 

Sosok bodoh yang bahkan tidak punya keberanian untuk memilih mati atas kehendak sendiri. 

Melebihi apa pun dan siapa pun di dunia ini, ia sangat membenci makhluk itu hingga rasanya ingin mencabik-cabiknya sampai mati.

Menjadikan seluruh murka itu sebagai mata pisau, Saal Haft—pria yang dulu pernah menyandang status sebagai seorang ayah—menghujamkan tebasan mematikan tepat ke arah detak jantung milik 'Rostam' yang selama ini hidup merangkak, menghentikan paksa aliran hidupnya.

Dan ── keselarasan mutlak antara Jiwa, Teknik, dan Raga (Shin-Gi-Tai) kini telah berdiri sejajar. 

Seluruh persyaratan telah terpenuhi sempurna. Eksistensi kehidupan dari seorang pria, dilepaskan laksana uap asap yang membubung tinggi dari raga yang baru saja mengakhiri masa hidupnya.

Seutas garis serangan yang berhasil memotong rantai belenggu kehidupan itu terasa teramat sunyi, dan bergerak begitu tenang. 

Garis itu meloloskan diri dari segala bentuk hukum alam laksana asap tipis, menyambar dari dimensi luar yang bertahta di ujung dunia ini.

"────"

Badai angin darah pemotong yang telah mencapai puncak kecepatan absolut, menangkap raga Welquix dan menebasnya jatuh seketika.

──Dan.

"Uhuk, gah…… aakh, sakit sekali…… Sialan, ini benar-benar membuatku kesal, tahu. Lagian, Pak Tua. Apa-apaan serangan barusan itu? Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu…… Hei, pelit sekali, tidak ada salahnya kan kalau kau membagikan rahasianya padaku?"

Rostam—yang raganya kini telah benar-benar berhenti bernapas—menatap lurus ke bawah, ke arah sang bangsawan tanpa kedua lengan yang kini terbaring di dalam kubangan darahnya sendiri. 

Ia menang. Namun, langkah sang pria paruh baya hanya bisa sampai di titik ini. 

Jangankan bertarung, melangkah satu jengkal pun ia sudah tidak sanggup lagi. Ia tidak akan bisa membunuh Ragnadan. 

Sembari tetap mencengkeram erat hulu pedangnya bersama rasa sesal yang teramat pekat karena tugasnya belum tuntas, kedua lutut pria itu runtuh ke atas lantai besi.

Namun, tepat pada saat itulah.

"Ha…… kau mau mati ya, Pak Tua? Sayang sekali, padahal kau sudah bersusah payah menjatuhkanku."

Seolah tidak punya pilihan lain, Welquix yang terbaring di dalam genangan darahnya sendiri menyunggingkan senyum pahit yang terasa lepas.

"Aku sendiri sih masih belum mau mati. Tubuhku ini tergolong sangat tangguh, tahu…… jadi aku masih bisa bertahan hidup untuk beberapa saat lagi. ……Sisa waktu itu, akan kuhadiahkan kepadamu. Anggap saja ini sebagai bonus karena makhluk fana sepertimu berhasil menumbangkan diriku."

Setelah melontarkan kalimat tersebut, sang bangsawan menancapkan taringnya tepat ke tengkuk leher pria yang roboh di sampingnya.

"Kau masih punya urusan yang belum kelar, kan? ……Aku memang tidak mengerti bahasamu, tapi entah mengapa, aku bisa menangkap maksudmu."

Ia mengalirkan darahnya sendiri yang masih menyimpan kehangatan serta sisa kehidupan, melebur jadi satu bersama kemampuan supranaturalnya.

"──〈Stormbringer〉:  Akselerasi Aliran Darah!"

 

Bagian 10

"Kalau begitu, izinkan aku bertanya sekali lagi, Tuan Ragnadan. Urusan seperti apa yang kamu miliki denganku, Fran, pada kesempatan kali ini?"

Aku tidak bisa mencerna situasinya.

Aku hanya berdiri terpaku laksana waktu telah dihentikan, menatap wanita yang sedang bertukar kata dengan Ragnadan itu. 

Wanita itu, kalau tidak salah—bukan, sebelum itu, apa-apaan semua ini sebenarnya?

"Bunuh semua orang di tempat ini. Itu saja, hanya itu yang kuinginkan…… Hancurkan semuanya, tanpa sisa."

"Baik, aku mengerti. Kalau begitu, dengan menjadikan seluruh aset pribadimu termasuk saham di Perusahaan Dagang Angkatan Laut Kekaisaran, Elbion Navy Company, sebagai jaminan, aku akan meminjamkan diriku sendiri kepadamu. Silakan kamu menunggu dengan tenang."

Wanita berbusana hitam itu berbalik menghadap ke arah kami. Aku mengenal sosoknya yang memiliki telinga runcing tersebut.

"……Siapa wanita itu, Linus?"

"Siapa wanita bertelinga aneh itu, Penipu?"

"K-Kau bermain api dengan wanita baru lagi, ya! Padahal kau sudah punya istri sepertiku~……!"

"Bukan, kami cuma sempat kenalan sebentar di pelabuhan Lanston…… tapi,"

"Yaa-ho. Kakak, lama nggak jumpa, ya. Tapi, bukankah rombongan wanitamu ini agak kebanyakan?"

Menghadapi elf—ralat, wanita bernama Fran yang melemparkan senyum santai itu, kami masing-masing menunjukkan kewaspadaan karena tidak bisa mengukur seberapa besar kekuatannya.

Namun, hanya Anahito yang bersuara dengan nada yang teramat tegang.

"……Semuanya, cepat lari sekarang juga."

Seolah sedang berhadapan dengan seorang penguasa absolut, atau menghadapi sebuah bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya, suara Anahito bergetar di antara rasa tegang dan ketakutan mendalam, mencoba mempertahankan sisa ketenangannya yang setipis benang.

"Dia…… wujud itu adalah…… Elit Bernomor dari Bank Supranasional Unseen Co., Ltd. Seorang Elf."

Dan kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Anahito membuatku tidak bisa mempercayai telingaku sendiri.

"Mereka adalah segelintir bankir elit yang mengendalikan dunia ini."

Apa-apaan yang kau bicarakan?

Bantahan yang seharusnya keluar dari mulutku seketika bungkam, terkunci oleh senyuman Fran yang teramat anggun namun seolah terpancar dari tempat yang teramat tinggi di atas sana. 

Secara naluriah aku merasa ini sama. Senyum keangkuhan yang sama dengan para bangsawan yang memandang rendah manusia jelata.

Namun, paras wanita yang kini menunjukkan jati diri aslinya ini, meski sejenis dengan mereka, terasa teramat jauh di atas segalanya. 

Seolah-olah dia adalah sosok yang mengendalikan takdir itu sendiri.

Laksana seorang penguasa yang bertakhta di puncak dunia.

Kehidupan seperti apa yang harus dilewati seseorang agar bisa menunjukkan raut wajah seperti itu?

Aku tidak tahu. Mustahil untuk diukur. Bahkan andai aku mengetahuinya, akal sehatku berbisik bahwa aku tidak akan pernah sanggup menyamainya. 

Jemariku pasti tidak akan bisa merajut kehidupan seperti miliknya. Topengku tidak akan pernah bisa memerankan sosoknya.

Saat aku menahan napas menghadapi firasat mengerikan yang baru pertama kali kurasakan ini, sang penguasa absolut melontarkan sebaris kalimat.

"Keadilan itu──adalah uang, lho."

Sebuah nilai yang diikrarkan dengan penuh kemutlakan, nilai yang teramat vulgar namun sudah sangat akrab di telinga.

"Uang adalah nilai universal yang mengatur manusia, barang, dan segala hal di dunia ini. Satu-satunya penggerak ekonomi yang absolut dan mutlak. Karena itulah, aku adalah pembela keadilan──yaitu, pembela orang kaya."

Oleh karena itu, ia akan memihak orang kaya, sang Presiden Elbion Navy Company, Ragnadan.

"Kalau begitu, mari aku jelaskan sekali lagi. Kami adalah Bank Supranasional Unseen Co., Ltd., bank raksasa yang mengatur dunia ini, sekaligus pihak yang memegang kendali atas operasional jagat raya. Kami meminjamkan tangan dan modal kepada setiap nasabah, dengan tujuan utama untuk menyukseskan segala ambisi dan hasrat mereka secara lancar."

Dengan gerakan lugas, Fran melenyapkan senyumannya, lalu membungkuk hormat dengan sangat santun.

"Karena itulah, khusus untuk hari ini di tempat ini, aku akan bergerak sesuai dengan permintaan sebelumnya. Dengan segala hormat, aku akan melenyapkan kalian semua di sini──demi menuntaskan kontrak."

Dan tepat pada detik saat ia menegakkan kembali tubuhnya dari posisi membungkuk...

Laut seketika tenang. Angin mendadak mati.

Segala hal di dunia ini seolah bungkam dan terdiam membisu. Seakan-akan mereka semua sedang didera rasa takut dan tunduk memberi hormat kepadanya.

Namun, kesunyian mutlak itu langsung dicabik oleh sepasang kepalan tangan yang bersiap maju.

"Mau bank atau apa pun itu, tidak ada hubungannya denganku. Aku juga tidak punya rencana untuk membuka rekening."

"Aku sependapat desuwa~. Jika ada sesuatu yang berani mengganggu jalannya kisah cintaku, hanya ada satu tindakan yang pantas untuknya."

Berbicara serempak, yang melangkah maju ke hadapanku adalah seorang maid berpakaian hitam-putih dan seorang bangsawan perempuan.

Mereka berdua memasang kuda-kuda dengan saling memunggungi.

""Akan kami balikkan situasinya di sini.""

Menatap punggung mereka yang sejujurnya terasa sangat bisa diandalkan, aku berseru.

"Hati-hati. ……Dia itu, sepertinya, kuatnya tidak masuk akal."

"Aku sudah tahu, Penipu. Karena itu, Kau tidak perlu cemas."

"Hanya dengan mendengar kata-katamu itu saja, aku sudah merasa sangat membara, lho~."

"Ahahaha. Semangat yang bagus. ──Tapi ya, lihat dulu siapa lawan kalian sebelum membuka mulut, dasar bocah-bocah ingusan. Bangsawan katak dalam tempurung seperti kalian, berani-beraninya mengoceh di hadapan pihak Bank yang terhormat?"

Kemurkaan Fran yang menyipitkan matanya itu mungkin hanyalah sebatas candaan baginya. 

Namun, aura mengerikan yang mengamuk bagai tekanan angin masif itu membuat napasku yang menonton dari samping hampir saja terhenti.

"Koneksi Jaringan Jukai (Dunia Pepohonan), Pengajuan Eksekusi Kekerasan──Pelepasan Batas Tahap Pertama, disetujui. Sip, kalau begitu, tiga detik."

Kepada Evelyn dan Patricia yang sedang menyipitkan mata dengan waspada, Fran menjelaskan dengan nada santai.

"Bagi staf elit super sibuk yang produktif kayak aku, ada yang namanya aturan tiga detik, tahu. Intinya, pekerjaan tidak berguna seperti bertarung ini harus diselesaikan dalam waktu kurang dari tiga detik. Menyingkirkan segala rintangan dalam tiga detik demi mengeksekusi kontrak secara lancar. Itulah gaya kerja kami, para staf Bank Unseen Co., Ltd."

Usai berbicara, Fran mengibaskan kedua lengan gaun hitamnya yang longgar, lalu mengacungkan kepalan tangan putihnya yang tersembunyi laksana sebilah pedang.

"Jika ada pesan terakhir untuk sisa hidup tiga detik kalian, katakan sekarang."

Sebagai jawaban, Evelyn dan Patricia saling melirik sekilas, lalu berkata.

"Aku punya satu pertanyaan."

"Boleh aku bertanya?"

"Apaan, tuh~?"

"Mengingat semua penjelasanmu tadi, ditambah dengan percakapan ini……"

"Waktu tiga detiknya bukankah sudah lewat?"

"………………"

Keheningan merayap. Fran tidak tampak syok atau apa, ia hanya menggelengkan kepalanya dengan jengkel.

"──Berisik, dasar bodoooh!! Jangan suka mencari-cari kesalahan orang, keparaaat!!"

"──kh!!"

"Hah?!"

Bersamaan dengan teriakan itu, Fran yang memasang kuda-kuda melangkah maju satu langkah.

Hanya dengan satu gerakan itu, gelombang kejut dari entakan kakinya (shinjaku) menggetarkan geladak dan memiringkan seluruh kapal perang. Hantaman itu menyapu bersih bilah bayangan milik Evelyn serta kobaran api milik Patricia yang dilepaskan secara bersamaan tanpa sisa.

"Seni Bela Diri Finansial Gaya Hakkyoku──Ein (Satu)!"

Apa-apaan ini? Rangkaian kejadian yang terjadi berturut-turut ini bahkan tidak memberi kesempatan bagi tenggorokanku untuk meloloskan teriakan syok.

"──Zwei (Dua)!"

Langkah kedua Fran menghentak geladak. Gelombang kejut yang menyembur keluar lantas mengempaskan paksa mereka berdua yang seharusnya sudah bersembunyi di dalam bayangan Evelyn.

Meski posisi mereka sudah goyah, tampaknya keduanya masih berusaha memaksakan sebuah serangan balasan.

Darah segar, bayangan hitam pekat, serta kobaran api yang menghanguskan langit membubung tinggi──

Namun, kepalan tangan Fran memadamkan segalanya bagai meniup sebatang lilin.

"──Drei (Tiga)!"

Serangan berkekuatan maha dahsyat dilepaskan. Sebuah entakan kaki yang sanggup mengguncang samudra itu sendiri, mengumpulkan seluruh reaksi baliknya demi memicu langkah ketiga serangan mematikan, yang tingkatannya sudah jauh melampaui batas kepalan tangan manusia.

Di ujung lintasan pukulan lurusnya, udara yang terhempas bertransformasi menjadi sebatang tombak raksasa yang menembus geladak Gandharva. Ujungnya mengeruk pulau hingga ke sisi sebaliknya, membelah lautan, lalu meledak hebat dengan suara bergemuruh di ufuk cakrawala yang teramat jauh.

Ilustrasi Hitam Putih 2 - Masquerade Confidence: Sagishi wa Shoujo to Kamen Shikake no Tabi o Suru Volume 2 Bab 4

Fran perlahan menarik kembali posisi kesiagaannya, menyembunyikan kembali kepalan tangannya ke balik juntaian lengannya yang longgar.

Lalu, bagaimana dengan kondisi mereka berdua?

Di ujung depan dan belakang geladak, Evelyn menghantam dudukan meriam utama, sementara Patricia terlempar ke ujung haluan kapal. Tubuh mereka yang bersimbah darah terperosok dalam ke dalam struktur baja…… terdiam membisu bagai telah mati.

"Bohong…… Tidak mungkin, ini……"

Suara Chronica bergetar lirih, seolah teramat sulit memercayai hasil nyata yang terpampang di depan matanya.

Aku sendiri bahkan tidak bisa mengeluarkan suara.

Kedua orang itu, sama sekali bukan tandingannya.

Ini bukan lagi ranah di mana keunggulan teknik seperti milik Rostam bisa mengubah keadaan. Jelas-jelas skala kekuatan yang dikerahkan oleh wanita itu memiliki digit yang jauh berbeda dari akal sehat.

Sembari mengibaskan kepalan tangannya dengan bosan, ia melirik ke arah akhir tragis dari dua orang yang baru saja diempaskannya, lalu berkata:

"Jadi ini yang namanya kaum bangsawan…… Sifat makhluk ini ternyata cukup tegar untuk ukuran kecoak. Yah, urusan menghabisi mereka bisa menyusul nanti. Le-bih da-ri i-tu. Akhirnya kita bisa mengobrol ya, Kakak. Omong-omong, kau penasaran tidak? Kenapa aku bisa sekuat ini?"

Seolah baru saja menyegarkan suasana, Fran melanjutkan bicaranya dengan nada santai.

"Bank, pada mulanya, lahir dari sebuah brankas besi. Tugas untuk menjaga emas, perak, dan harta karun milik nasabah, serta menjamin keamanan dan nilai dari aset tersebut—itulah awal mula lahirnya bank, dan awal mula dari Bank Supranasional Unseen Co., Ltd. Secara keseluruhan, kami ras Elf hidup abadi dengan usia biologis per individu mencapai sekitar seribu tahun. Karena itulah, selama beberapa generasi, kami telah memikul peran sebagai pihak yang menjamin aset umat manusia. Dan, hanya ada satu hal yang mutlak diperlukan dalam operasional brankas besi. Kau tahu, kan? ──Keamanan aset yang dititipkan harus dijamin secara absolut."

Mengenai apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut, kalimat Fran berikutnya terdengar teramat serius.

"Oleh sebab itu, kami melatih kepalan tangan kami. Menghabiskan waktu seumur hidup yang jauh melampaui usia manusia untuk bertapa dan berlatih, demi menolak segala bentuk kekuasaan politik, menghalau seluruh bencana alam, hingga akhirnya kami berhasil memiliki kepalan tangan tak terkalahkan (invincible fist) yang sanggup menjamin aset nasabah selamanya. Dan hari ini, kredibilitas itulah yang mengundang uang, kepercayaan itulah yang menjamin nilai, hingga kami bertransformasi menjadi Unseen Co., Ltd. Kami adalah tangan tak terlihat (invisible hand) sekaligus agen dari kapitalisme. Tanpa membedakan baik dan buruk, benar dan salah, kami mendukung pemeliharaan aset dan aktivitas ekonomi nasabah berdasarkan kontrak yang sah. Kami adalah Omega Bank (Bank Pemersatu Dunia).Karena itulah, tidak ada yang bisa mengendalikan kami. Tidak boleh. Dan tidak akan kami biarkan. Seseorang tidak akan bisa mengemban tugas sebagai bankir jika tidak memiliki kepalan tangan tak terkalahkan yang cukup untuk mengeksekusi idealisme tersebut."

Apa sebenarnya esensi dari sebuah argumentasi yang meyakinkan? 

Jika hal itu ditunjukkan dalam bentuk tertinggi, mungkin wujudnya bukanlah untaian kata. 

Dan Fran telah menunjukkan esensi tersebut dengan sangat gamblang.

Tanpa diizinkan untuk mempertanyakannya, aku dipaksa untuk memahaminya. 

Bajingan ini adalah sebuah kemutlakan. Ini bukan lagi ranah tentang menang atau kalah, melainkan sebuah hukum dunia yang dibangun oleh massa sejarah yang luar biasa masif. 

Dan kenyataan pahit itu kini terpampang di depan mataku dan Chronica dengan cara yang paling buruk di seberang lautan ini.

Tap, tap. Langkah kaki yang mendekat perlahan itu akhirnya berhenti tepat di hadapanku.

Di saat keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuhku, jari-jari yang tersembunyi di balik lengan bajunya mengusap pipiku dengan gerakan menggoda.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Wahai Kakak penjahat tampan yang licik, rintihan seperti apa yang akan kau tunjukkan di saat-saat seperti ini? Kalau kau melakukan tindakan yang membosankan, kau bakal mati, lho. Jadi hati-hati, ya."

Wanita ini adalah eksistensi yang mengerikan. Berdiri di puncak peradaban manusia, menindas atau menolong sesuka hati. Eksistensi seperti itu bukankah biasanya disebut sebagai 'Dewa'?

Di sisi lain, aku yang teramat kerdil ini hanya bisa melakukan satu hal di hadapannya: mempertaruhkan nyawaku dengan sangat hati-hati pada ujung bibirku yang gemetar oleh rasa takut.

"……Kau menyebut dirimu sendiri sebagai pihak bank, kan?"

"Um."

"Dengan menjadikan perusahaan dan aset Ragnadan di sana sebagai jaminan, kau meminjamkan kekuatan militer kepadanya sekarang…… Kalau begitu, biar kuberi tahu. Bajingan itu sudah bukan lagi seorang Presiden."

Fran menyipitkan matanya. Aku tidak tahu apakah itu pertanda ketertarikan atau sekadar rasa iba.

"Melalui pemungutan suara di rapat umum pemegang saham, bajingan itu baru saja dipecat beberapa saat lalu. Kalau situasinya seperti itu, bukankah kontrak di antara kalian sudah tidak berlaku lagi?"

Sembari meletakkan tangan di bibirnya, Fran bergumam seolah sedang memikirkan hal yang sulit.

"Hmm…… Yah, boleh juga, boleh juga, tebakanmu tidak sepenuhnya meleset. Nilai empat puluh."

BUM!!

Tanpa peringatan, ujung jari yang tersembunyi di balik lengan bajunya menusuk dadaku secara santai. 

Semburan gelombang kejut yang meledak seketika meremukkan organ dalamku, membuatku memuntahkan darah segar dan bergulingan di lantai menahan rasa sakit yang menyiksa.

"Ragnadan di sana mungkin memang kehilangan kursi Presiden karena kalian berhasil memanfaatkan kelengahannya. Demi membalikkan keadaan, dia terpaksa menggunakan kekerasan, dan sekarang dia mungkin telah kehilangan kepercayaan dari para pemegang saham sehingga peluangnya untuk kembali bertakhta sudah tertutup. Namun, dia masih memegang otoritas komando atas para tentara dan karismanya belum sepenuhnya pudar. Dia berada dalam kondisi kejatuhan yang tanggung. Nah, kalau ditanya apakah orang yang Kakak sekalian jadikan boneka itu, atau kalian sendiri, punya kapasitas untuk menguasai Perusahaan Dagang Angkatan Laut—zona ekonomi laut raksasa ini…… kurasa itu mustahil Kesimpulannya, perusahaan ini beserta asetnya sekarang sedang dalam kondisi tanpa penguasa untuk sementara. Oleh karena itu, izinkan aku menyampaikan pandangan bank kami, yang telah diberi kesempatan untuk melakukan intervensi ini. Cara yang paling menguntungkan bagi kami cuma satu. Pertama, berdasarkan kontrak, aku akan membunuh Kakak sekalian. Lalu, sebagai bunga atas pinjaman kekuatanku, aku akan membuat Ragnadan membayar kekurangannya dengan nyawanya, dan kami akan mengambil alih perusahaan yang sudah kehilangan jajaran pimpinannya ini. Selesai."

Fran memamerkan senyum licik ke arahku yang sedang muntah darah sambil terengah-engah.

"Singkatnya, logika itu tidak bisa menghentikanku. Sayang sekali."

Namun, kata sambung pertentangan yang terucap berikutnya, apakah benar-benar didasari oleh niat baik?

"──Tapi, khusus untuk Onii-san, boleh saja kalau aku menyelamatkanmu."

Mungkin? Tidak, pasti bukan.

"Wajahmu tampan, sih. Dan yang terpenting, kau punya kemampuan untuk bisa sampai ke tahap ini. Jadi, bagaimana? Kalau kau mau jadi bawahanku, setidaknya nyawamu akan kuselamatkan."

Ini adalah rasa iba dan kasih sayang terhadap makhluk hidup yang lemah dan tak berdaya.

Pada saat itu, Ragnadan, yang sedang menonton dari tepi Gandharva yang hancur mengenaskan, berteriak dengan nada kasar.

"Tunggu! Apa yang kau katakan, Bankir! Nyawaku tidak penting, jadi aku yakin sudah menyuruhmu membunuh mereka semua!"

"Diam. Tutup mulutmu."

Fran memotongnya dengan satu kata.

"Kontrak akan ditepati. Tapi, bagaimana cara menepatinya, akulah yang menentukan. Aku diperintahkan untuk membunuh semuanya. Karena itu, aku akan membuat Kakak mati sebagai manusia."

Lalu dia kembali menatapku, menjabarkan persyaratan dengan fasih.

"Makan, tidur, buang air, aktivitas seksual, memakai baju, berbicara, kira-kira seluruh hak yang menyertai kehidupan akan dicabut di bawah izin ku, sampai kau menjadi boneka berbentuk manusia. Dan kau harus sepenuhnya menjadi hak milikku──kalau begini, rasanya sama saja dengan sudah membunuhmu sebagai manusia, kan?"

Jalan keluar yang ditawarkan sama sekali bukan sesuatu yang bisa kuterima.

Aku menatap dua orang yang telah dikalahkan, lalu Chronica dan Anahito di belakangku.

"Jangan serakah. Alasan itu cuma bisa menyelamatkan Kakak seorang. Kalau sampai tidak ada yang benar-benar dibunuh, itu terlalu melanggar kontrak. Jadi, relakanlah nyawa dua wanita di sana, dan dua 'kecoak' di sebelah sana."

Anahito berkata.

"Tuan Linus…… keputusannya, aku serahkan padamu. Aku tidak akan membencimu."

Selanjutnya aku menatap Chronica, yang masih terduduk lemas tanpa tenaga.

Fran tidak tahu kalau gadis ini abadi. Jadi, kalau aku pura-pura patuh, mungkin kami berdua bisa bertahan hidup. Tapi, Evelyn, Patricia, dan Anahito akan mati.

Mata kecubung (amethyst) yang basah oleh air mata itu berkata, kalau masa depan seperti itu tak tertahankan.

……Logika bocah. Mencoba melewati ini tanpa kehilangan apa pun.

Mungkin mengatakannya pada diri sendiri itu mudah. Tapi...

Fran melanjutkan seolah mengejekku yang hanya bisa terdiam.

"Tapi tahu tidak, Kakak pasti bakal lebih bahagia kalau jadi milikku. Kenapa? Karena aku kuat. Dan sebagai ras Elf yang berumur panjang, aku punya kesempatan belajar dan praktik yang melimpah, jadi aku itu eksistensi yang menguasai rasionalitas ekonomi dengan lebih sempurna daripada kalian manusia. Karena itu, Kakak tidak perlu lagi bertindak gegabah, tidak perlu berjuang keras, tidak perlu berpikir, cukup patuhi perintahku dan lakukan apa yang bisa kau lakukan saja. Kalau begitu, sesekali…… tidak, setiap malam akan kumanjakan."

Kata-kata selanjutnya mengumumkan hal itu seolah-olah sudah sewajarnya, bahwa itulah kebahagiaanmu, wahai hewan ternak.

"Kalian manusia memang seharusnya dikelola oleh kapitalisme yang kami para Elf bentangkan.Itulah yang di negara kalian sebut sebagai──Hukum dan Keadilan, lho.”

Mendengar kata-kata itu, aku memantapkan tekadku.

Aku menggenggam jemari Chronica di sampingku dengan lembut. Lewat tatapan mata yang saling bertukar, aku menyampaikan rencanaku.

Sembari mengumpulkan keberanian dari kehangatan tubuh sang gadis yang membalas genggamanku dengan lemah seolah mengiyakan, aku menarik napas dalam-dalam, mengusir rasa takut yang sempat melengket di sekujur tubuhku.

Fran. Bajingan ini memang kuat. Tapi untuk ukuran seorang bankir, dia sama sekali tidak punya kemampuan menilai orang.

Bahagia, katanya? Memangnya dia pikir hal seperti itu yang kucari? Dan yang terpenting dari segalanya……

Hukum dan Keadilan, ya…… Sayang sekali, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk mematuhi hal semacam itu.”

Aku menggesekkan korek api yang kukeluarkan dari balik saku, menyalakan rokok yang agak lembap demi menutupi kegentaranku.

“Ngomong-ngomong, kita belum saling memperkenalkan diri, kan? ……Namaku Linus Kruger.”

Di hadapan Fran yang membelalakkan matanya, kupamerkan kartu nama yang kuterima darinya tempo hari.

Lalu, seolah hanya iseng, aku membakarnya dengan api korek tadi.

“Pekerjaanku──adalah seorang penipu.”

Semua ini demi menarik ketidaksukaan, permusuhan, dan rasa kelamnya kepadaku sebanyak mungkin. 

Dan, apakah rencana itu berhasil?

“Begitu, ya. Sayang sekali, aku ditolak, nih. Kalau begitu, matilah.”

Sentilan santainya membidik tepat ke arah dahiku. 

Tepat pada detik itu, aku melepaskan faktorku.

“ 〈Shadow Taker〉!”

“Eh?”

Kekuatan itu mengalir masuk saat Evelyn menggigitku tadi. Sebagian dari Faktor Darah Mulia (Regalia) miliknya, kartu sekali pakai yang langsung habis.

Aku akhirnya tidak sempat bertanya apa niat sebenarnya dari wanita itu, tapi masa bodohlah. Apa pun yang diberikan akan kumanfaatkan.

Teleportasi instan melalui bayangan. Targetnya adalah dua orang. 

Dalam sekejap, posisiku dan Chronica saling bertukar.

Dan, tepat ke arah mata Fran yang membelalak terkejut, kilau batu kecubung (amethyst) dari mata kiri Chronica yang terbuka lebar langsung menghujam telak.

“ (Mata Kebenaran Ilahi)—Second Eye!!”

Aku yakin serangan itu masuk dengan sempurna. Tatapan mata mereka berdua terkunci kaku saling bertautan. Jika sudah begini, perbedaan kekuatan fisik tidak ada artinya lagi. Bagi Fran yang bahkan bukan seorang bangsawan, seharusnya tidak ada cara untuk lolos dari mata kiri Chronica.

……Seharusnya begitu.

“Apa…… ini?! Jumlah informasi ini, akh……!?”

“Guaah, gah, gagagagaga!! Dasar bocah brengsek……!!”

Suara retakan keras baki-baki terdengar, entah bagaimana, justru seolah berasal dari ruang hampa udara di antara kedua orang yang tatapannya saling bertautan itu.

“──Jangan berani-berani!! Masuk ke dalam Jaringan Jukai (Dunia Pepohonan)!!”

Bersamaan dengan gertakan keras itu, tubuh Chronica terpental ke belakang. 

Secara refleks aku menangkap tubuh gadis itu yang mengucurkan darah dari mata kirinya yang terpejam rapat, membuatku lagi-lagi kehilangan kata-kata.

Mustahil. Jangan-jangan, kekuatan mata kiri itu berhasil dinetralkan?

“Chronica! Hei, apa yang terjadi?!”

kh, massa jiwanya terlalu besar, tidak bisa digerakkan! Intervensiku ditolak mentah-mentah secara paksa…… Dia tidak sendirian, ada suatu dunia lain di dalam lubuk jiwanya!”

“Tepat sekali, bocah brengsek,” ucap Fran sembari mendecak kesal dan menutupi kedua matanya.

“Jaringan Jukai. Wilayah suci kesadaran kolektif tempat kami ras Elf selalu terhubung setiap saat. Sepanjang sejarah, kaulah orang pertama yang berani melangkah masuk tanpa izin, bocah brengsek. Ah sialan, ini sih bisa membuatku harus menulis laporan kronologi kejadian. Lagian, di luar semua itu, kepalaku pusing sekali…… Apa-apaan mata kiri itu, berbahaya banget tahu!”

Aku sama sekali tidak memahami apa arti dari perkataan yang diucapkannya sembari mendesah itu. 

Namun, hal yang jauh lebih krusial saat ini adalah……

“……Nah, berani sekali kalian melakukannya, ya.”

Fakta telak bahwa kami sudah kehabisan kartu as kini berdiri menghadang tepat di depan kami.

“Linus……”

Chronica yang menggenggam tanganku menyampaikan pesan lewat tatapan mata tanpa suara.

Maafkan aku.

“──Tidak!”

Jangan katakan itu. Pasti masih ada cara. Jika aku bisa tenang, aku pasti akan menemukannya. Harus ketemu.

Kartu as, jalan keluar, pasti ada di suatu tempat.

Karena jika tidak, aku akan kembali…… sama seperti saat Kakak dulu……

“Kau mengharapkan keajaiban? Sayang sekali, barang itu sudah habis sejak awal sejarah manusia.”

Sembari mengibaskan lengannya yang longgar, Fran mengejek.

“Catatan kematian tidak akan berubah, karena itu keajaiban tidak akan pernah tercipta. Begitulah hukum dunia ini bekerja. Tapi, kurasa kau sudah berjuang cukup baik, Kakak Tampan.”

Oleh karena itu, kau sudah boleh mati sekarang—begitulah pesan yang terpancar dari sepasang mata hijau tua milik sang penguasa puncak dunia.

Namun, tepat pada detik di mana aku benar-benar enggan untuk menyerah.

“──”

Sesosok pria yang menyerupai mayat berjalan melewati sampingku.

 

Bagian 11

Pria itu melangkah mengabaikan segalanya, melewati geladak kapal yang telah porak-poranda. Seolah-olah dirinya sudah tidak lagi menjadi bagian dari dunia fana ini.

“Siapa sih kau, Paman? Tampangmu sudah seperti mayat hidup begitu…… kau baik-baik saja?”

Namun, Anahito yang bangkit berdiri langsung menjerit pilu.

“Tunggu, kumohon berhentilah, Rostam!! ……kh, Ayah!”

Sembari menepis Chronica yang mencoba menahannya, Anahito melangkah dengan raga yang tidak stabil. Hanya dengan mengandalkan suara sebagai pemandu, ia berlari sembari berulang kali jatuh tersungkur.

“Bunuh bajingan itu! Bankir!”

Ragnadan yang sejak tadi terdiam kini berteriak histeris.

Dengan raut wajah heran, Fran mengangkat salah satu kakinya dengan gerakan santai. Namun, tendangan yang melesat ke arah wajah Rostam itu mendadak berhenti tepat satu inci sebelum mengenai sasaran.

Ia menarik kembali kakinya, lalu mengangkat bahu dengan ekspresi pasrah.

“Menarik sekali. ……Pria ini sebenarnya sudah mati. Jantungnya telah berhenti berdetak. Namun, entah bagaimana, darah yang seharusnya membeku justru mengalir dengan kecepatan tinggi dan menggerakkan tubuhnya. Astaga, menyuruhku membunuh sesosok mayat adalah permintaan yang teramat filosofis, ya. Karena itu, mohon maaf, aku tidak bisa menuruti perintahmu, Tuan Ragnadan.”

“J-Jangan bercanda…… K-Kalau begitu, bereskan dia! Hancurkan mayat sialan itu sampai tidak bisa bergerak lagi! Jika begini──”

“Aku menolak. Mempertimbangkan kondisi finansialmu saat ini, Kamu sudah tidak memiliki kemampuan untuk membayar utang lebih banyak lagi. Oleh karena itu, mulai detik ini, hak untuk memberikan perintah baru kepadaku tidak dapat dipinjamkan lagi. Harap maklum.”

Tepat pada saat itu, seolah baru saja mendapatkan ide, Fran memungut sebilah pistol yang tergeletak di antara puing-puing hancuran.

“Jika kamu merasa terganggu, bagaimana kalau kamu bereskan saja sendiri?”

Ia melemaparkan senjata itu ke arah Ragnadan.

“──Hentikan!!”

Seolah bisa merasakan hawa keberadaan moncong senjata yang kini tengah ditargetkan, Anahito berteriak sembari berurai air mata.

“Semua ini sudah lebih dari cukup…… Jadi, kumohon, jangan merebut apa pun lagi dari kami!”

“Mana mungkin aku mau!”

Ragnadan menepis permohonan itu dengan kasar, seolah-olah ia baru saja diajukan sebuah tuntutan yang teramat tidak adil.

“Mishura seharusnya menjadi istriku! Kau seharusnya menjadi putriku! Orang yang paling…… paling banyak direnggut masa depannya di dunia ini adalah aku, tahu?!”

Jari telunjuknya menarik pelatuk. Suara tembakan pun menggema memekakkan telinga.

Namun, suara dentang nyaring yang memotong udara itu tercipta dari kilatan pedang melengkung bermata tunggal yang menebas hancur butir peluru.

Bahkan sebelum rasa syok sempat melanda orang-orang di tempat itu, Rostam telah bergerak melesat. Raganya yang konon telah berhenti bernapas itu merangsek masuk ke dalam jarak tembak dengan kecepatan yang luar biasa masif.

Dan akhir dari pertikaian di antara kedua pria itu, ternyata berjalan dengan sangat singkat dan antiklimaks.

Sembari menyemburkan cipratan darah segar dari lingkar tubuhnya yang tertebas robek, Ragnadan ambruk ke atas lantai besi.

“Kenapa…… kenapa bukan aku yang terpilih?”

Suara yang bergetar lirih bersama muntahan darah itu terdengar hampa, seolah tidak ditujukan kepada siapa pun, melainkan sebuah gugatan putus asa yang dialamatkan langsung kepada takdir itu sendiri.

“Mishura…… sama sekali tidak…… mencintaiku……?”

Tanpa memberikan jawaban, Rostam kini tak lagi bergerak bagai boneka yang putus talinya. Anahito segera berlari mendekat ke arah pria itu.

“Tidak…… jangan…… Apa-apaan kau malah mati sendirian begini? Aku tidak akan memaafkanmu! Padahal kita baru saja benar-benar bertemu…… Kali ini, aku berjanji akan menyeduhkan kopi yang pahitnya setengah mati untukmu, jadi kumohon…… jangan pergi.”

Sembari mengusap kepala putrinya yang terisak-isak memohon agar dia tidak pergi, Rostam menghembuskan napas terakhirnya secara perlahan. Kedua lututnya runtuh ke lantai, seolah-olah seluruh tugasnya di dunia ini telah usai.

Sembari mengulurkan tangan dengan penuh kerinduan ke arah ‘sesuatu yang tak kasat mata’ di antara hubungan erat ayah dan anak tersebut, Ragnadan pun akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.

Wajah Rostam yang terpejam—tertidur untuk selamanya—tampak begitu tenang. Sebilah scimitar yang telah kehilangan tuannya tergelincir berdentang melewati geladak yang miring, lalu berguling tepat ke dekat kakiku.

Menyaksikan seluruh rangkaian drama tersebut, Fran bertepuk tangan dengan raut wajah bosan.

“Hmm. Pertunjukan yang lumayan juga, sih. Cukup menghibur untuk ukuran pekerjaan sampingan. Kalau begitu, mari kita sudahi urusan kita di sini. Selamat tinggal, Kakak Tampan.”

Tepat pada saat itu, aku menyadarinya.

“Seni Bela Diri Finansial Gaya Hakkyoku──Ein (Satu)!”

Chronica tengah menangis.

Namun, aku merasa bahwa air mata itu bukan ditujukan untuk meratapi keputusasaan yang ada di depan mata kami sekarang. 

Begitu pandangan kami saling bertautan, aku pun akhirnya memahami alasannya.

 

Bagian 12

Untuk sesaat, di celah dimensi waktu yang terhubung melalui tautan mata, aku berdiri berhadapan dengan sang gadis. 

Sama seperti waktu itu, di atas dunia yang kami pandang dari sudut pandang absolut, kami saling bertukar kesadaran di bawah waktu yang terhenti.

“Memori milik Rostam……?”

Satu-satunya berkas harapan yang tersisa bertahta di sana. Benar saja, Chronica mengangguk kecil. 

Namun di saat yang sama, sang gadis mengisyaratkan bahwa hal itu akan membawa sebuah akhir yang mutlak bagiku.

“Apakah aku…… akan mati?”

Kepada sang gadis yang kembali mengangguk dengan gestur agak kaku, aku berkata.

“……Yah, dalam situasi seperti sekarang ini, tidak masalah kok. Kumohon.”

“Tidak mau…… Aku benar-benar tidak mau!”

“Tapi kalau kita diam saja begini, kita semua akan mati, tahu.”

“Tapi…… tapi kalau begitu, kau akan…… Lagipula, bukankah kau sudah berjanji? Kau bilang…… kau akan selalu berada di sisiku.”

Lalu, kenapa harus berakhir seperti ini?

“Dasar penipu.”

Sembari terisak, ia melontarkan tuduhan yang sejujurnya sudah teramat terlambat untuk diucapkan sekarang.

Padahal kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku termasuk orang yang giat berusaha menepati janji, tahu. Jika situasinya begitu, yang salah bukanlah aku, melainkan segala bentuk kemalangan absurd yang terus-menerus datang menghujam ini.

“Jangan mencari-cari alasan……!”

Chronica, dengan sepasang mata yang digenangi air mata laksana embun pagi, memukul-mukul perutku berulang kali.

Bagaimanapun juga, jalan keluar sudah terlihat. Karena kesimpulan kami sudah bulat, aku harus bisa membujuk gadis yang tengah merajok ini agar bersedia memindahkan memori tersebut ke dalam kepalaku. 

Namun, dalam kondisi di mana isi hatiku selalu terbaca secara instan melalui tautan kesadaran batin ini, bualan manis tentu saja tidak akan mempan. Singkat kata, tidak ada pilihan lain selain memohon kepadanya secara jantan.

“Hei, Chronica.”

“……Apa?”

Tanpa kusadari, gadis berambut seputih salju bernoda merah yang sejak tadi mencengkeram erat kemeja di dadaku itu mendongakkan wajahnya. 

Sembari mengusap kepalanya dengan lembut, aku melanjutkan.

“Ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan, sih. Tapi seumur hidup, aku nggak pernah sekali pun sudi membayar uang makan, biaya administrasi, ataupun pajak secara patuh saat ditagih, tahu.”

Menanggapi sepasang mata sang gadis yang menatapku dengan tatapan yang teramat curiga, aku melontarkan pernyataan penuh optimisme.

“Karena itu, tenang saja. Kali ini pun, aku pasti bakal kabur dari tagihan hutang itu.”

Jika bilah pedang itu menuntut nyawaku sebagai alat bayar—

“Anggap saja kau sedang termakan bualanku, lalu percayalah padaku.”

Sama sekali tidak ada dasar kuat. Oleh karena itu, tidak ada logika maupun strategi matang di sini. Aku hanya mengekspos diriku apa adanya—bahwa aku adalah seorang penipu ulung yang tidak bisa diselamatkan—lalu memohon agar dia memercayai satu poin tersebut.

Dan akhirnya, sang gadis pun membuka suara.

“……Sebagai gantinya. Kali ini, berjanjilah padaku.”

“Janji apa?”

“Aku ingin makan es krim lagi. Jadi, ajak aku sekali lagi. Lalu…… kali ini aku ingin berjalan-jalan santai melihat pasar ikan, dan memancing di tempat yang ikannya benar-benar bisa ditangkap. Terus, soal baju renang waktu itu, meski rasanya memalukan sekali…… aku ingin pergi berenang di laut lagi bersamamu dan yang lainnya.”

“……”

“Tidak perlu semuanya, kok. Jadi, setidaknya…… kabulkan salah satu saja…… kumohon.”

Tepati janjimu, ya, ucap sang gadis tanpa menunggu jawabanku.

Bersamaan dengan luapan memori asing yang mengalir masuk ke dalam kepalaku, kesadaranku pun tersentak kembali ke alam nyata.

 

──Mari kita urai situasinya.

Kepalan tangan Fran tidak akan bisa dikalahkan.

Entah kebohongan macam apa itu, namun pukulan tersebut memiliki massa hantaman yang setara dengan dunia itu sendiri. Siapa pun orangnya, bahkan seorang bangsawan sekalipun, tidak akan pernah bisa menandinginya. Itulah hukum absolut yang ia agungkan.

Oleh karena itu, seperti biasa, aku mulai merajut sebuah topeng tak kasat mata di ujung jariku.

Kehidupan milik Rostam—milik Saal Haft—yang baru saja ditransfer ke dalam kepalaku ini, langsung kulekatkan erat pada wajahku.

Detik berikutnya, tanganku yang bahkan belum pernah menyentuh senjata itu sebelumnya, kini mencengkeram hulu pedang seolah benda itu adalah bagian dari raga murniku sendiri.

“──Zwei (Dua)!”

Kuulangi sekali lagi, sama sekali tidak ada logika di dunia ini yang bisa memenangkan pertarungan melawan langkah ketiga serangan mematikan (Sanpo Kessatsu) yang merangsek maju sembari mengguncang kapal perang dan memicu badai dahsyat.

Namun, jika aku mengubur dalam-dalam jalan mundur menuju akal sehat tersebut demi membuka seberkas peluang kemenangan...

Hanya ada tiga syarat yang harus kupenuhi.

Sembari menelusuri kepingan memori milik Rostam, aku melompati batasan Jiwa, Teknik, dan Raga satu demi satu dalam seperseratus detik.

Syarat pertama: membakar habis seluruh jiwa hingga menjadi hampa.

Kehendak, nalar, emosi, segala keraguan dan beban pikiran yang membara hebat, harus kulenyapkan tanpa sisa khusus untuk detik ini saja.

Menjalankannya sama sekali tidak sulit. Di bawah situasi ekstrem seperti sekarang, kapasitas otakku untuk mempertahankan pemikiran waras memang sudah berada di batasnya.

Namun, penyesalan yang masih mempertahankan wujudnya dengan kokoh di tengah situasi kritis inilah yang justru menjadi kebenaran paling mendalam sekaligus paling sulit dihilangkan dari dalam diri seorang manusia.

Karena itulah, telingaku masih bisa mendengar lentingan suara koin itu.

──Aku ingin kau selalu berada di sisiku.

Untaian suara Chronica yang dulu sempat kutolak itu bergema berulang kali di dalam kepalaku bersama sebersit rasa sakit. 

Setiap kali aku bersama gadis itu, suara dentang ini tidak pernah mau berhenti mendengung.

Aku yang telah menyebabkan kematian Nee-san, aku yang gagal membahagiakannya, tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. 

Rasa bersalah yang teramat pekat itulah yang terus-menerus melentingkan koin tersebut. 

Mengingatkanku bahwa aku tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan.

Namun…… ah, ternyata selama ini ada satu hal yang terus-menerus kupura-pura tidak kusadari.

Mengapa suara koin itu baru terdengar justru hanya di saat aku sedang bersama Chronica?

Jawabannya adalah, karena…… karena.

“Chronica.”

Saat aku melakukan perjalanan bersamamu, menghabiskan waktu bersama, dan mendengarmu mengutarakan keinginan agar aku selalu mendampingimu. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam...

“──Aku merasa sangat bahagia.”

Sebuah kebahagiaan yang begitu besar, hingga rasanya sanggup mengikis rasa sesalku pada Kakak dan mengubahnya menjadi sekadar serpihan kenangan masa lalu. 

Aku telah terpikat dan jatuh hati kepamadumu. Karena aku akhirnya menyadari bahwa kebahanyaanku yang sejati bertahta di sisi perjalanan ini.

Aku sengaja menyumbat telingaku dengan dentang koin rasa bersalah, memaksakan netraku hanya untuk memandangi penderitaan. 

Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa melangkah bersamamu bukanlah sebuah bentuk kebahagiaan bagiku. Namun...

……Maafkan aku, Nee-san.

Aku mungkin akan melupakan kenangan bersamamu. 

Rasa sakit di dada ini—yang membuatku bahkan tidak bisa bernapas satu detik pun jika tidak menutupinya dengan topeng penipu—mungkin akan sepenuhnya terobati oleh setiap kepingan memori berharga bersama Chronica.

Aku mungkin akan mengampuni diriku sendiri yang pada hari itu telah menyebabkan kematianmu.

Maaf. Benar-benar maafkan aku, Nee-san.

Namun meski begitu, bersama dengan gadis itu……

“……Aku ingin hidup.”

Aku ingin terus hidup.

"Aku ingin terus melakukan perjalanan bersamamu."

Kebenaran itu ada sebanyak jumlah manusia di bumi. 

Dan bagi diriku, satu-satunya kebenaran yang baru saja kusadari itu seketika melebur menjadi energi panas yang membara.

Menyerahkan diri pada tuntunan keahlian dari memori yang bukan milikku, kupertaruhkan seluruh eksistensiku pada ujung pedang yang menyapu permukaan tanah.

Jiwa dan teknik kini telah berpadu sempurna. Persyaratan yang tersisa tinggal satu lagi. 

Karena itu, sekali lagi saja. Pinjamkan aku kekuatanmu, ‘Nee-san’ ‘Evelyn’.

"Shadow Taker〉── Persona Drive!"

Bayangan yang mengalir dari leherku adalah bayangan ganda yang bertolak belakang namun sejalan dengan kebencian. 

Bersamaan dengan bayangan hitam yang kugunakan sebelumnya, seberkas bayangan merah crimson yang tersisa di sisi sebaliknya mengejawantahkan wujud murka di dalam aliran darahku.

Namun, mana mungkin orang asing sepertiku bisa mengendalikan sisa-sisa kesadaran milik mendiang adiknya, Isaac, yang terus berteriak histeris untuk membantai segalanya? Alhasil, konsekuensi yang telah kuprediksi pun terjadi.

Kebencian merah yang mewujud di dalam tubuhku seketika menghanguskan sekujur raga, merangsek menuju jantungku, lalu menikamnya tanpa ampun.

Secara teramat wajar…… aku pun mati.

Jika harus begini, tidak apa-apa. Walaupun aku tidak bisa lagi melangkah bersama Chronica setelah ini. Bisa meyakini bahwa keselamatan jiwaku berada di sisinya…… itu saja sudah lebih dari cukup bagiku.

Pada akhirnya, aku kembali mengingkari janji. Tapi mau bagaimana lagi. 

Salahnya sendiri karena telah memercayai seorang penipu.

Dan di titik inilah, keselarasan mutlak antara Jiwa, Teknik, dan Raga akhirnya terpenuhi. 

Seluruh persyaratan telah berhasil dicapai.

Sebuah garis kehidupan terbebas laksana uap asap yang membubung tinggi dari raga yang baru saja kehilangan nyawanya. 

Hantaman yang berhasil memotong rantai belenggu kehidupan itu tidak memiliki kecepatan yang masif, tidak pula membawa kekuatan yang dahsyat.

Jalur yang pernah digapai oleh sepenggal kisah hidup penuh luka milik seorang pria di Negeri Uap kala itu—— kini kupentaskan kembali sekali lagi di balik topeng penipuku.

"──Drei (Tiga)!"

Serangan yang akhirnya dilepaskan adalah langkah ketiga serangan mematikan (Sanpo Kessatsu), sebuah hantaman yang telah melampaui batas kecepatan suara serta kekuatan kepalan tangan manusia.

Namun, jauh lebih cepat sebelum serangan satu hantaman maut itu sempat tercipta——

Meloloskan diri dari hukum nalar, menyambar dari dimensi luar di ujung dunia, sebilah pedang yang bahkan sanggup mengubur hukum sebab-akibat ke dalam kabut asap...

"──Ha?"

……telah menebas habis raga Fran dari depan secara telak.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar