Bab 5: Kehidupan Non Sehari-hari
Kereta yang disinari matahari pagi dari sudut sangatlah lengang, seolah-olah itu adalah gerbong pribadi untukku dan Kirigiri. Kami berdua bersama menuju stasiun lokal, menikmati momen damai sesaat. Salju sudah berhenti turun, dan hanya sedikit tumpukan yang tersisa di trotoar yang terlihat dari jendela. Rasanya, jika kami terus berada di kereta ini, pemandangan seperti itu akan terus berlanjut selamanya. Namun, kenyataan memang kejam. Perlahan-lahan, keramaian penumpang menutupi jendela dan pemandangan di luar.
Kami turun di stasiun lokal.
Saat tiba di kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Kembali ke kamar, aku seharusnya merasa lega—
Namun, alih-alih merasa lega, aku segera menyadari adanya keanehan.
Di dinding, pada tempat yang paling mencolok, lima lembar kertas hitam disematkan berdampingan dengan anak panah dart.
Dan di kelima lembar kertas itu, tertulis “Selesai” besar-besar dengan pena pink neon. Selain itu, pada setiap anak panah dart, tertusuk foto polaroid seseorang bersamaan dengan kertas hitam itu.
“Tidak mungkin… Ini bohong, kan?” gumamku dengan tercengang.
Itu adalah lima dari enam surat tantangan yang seharusnya ditangani oleh Lico.
“‘Selesai’… artinya sudah diselesaikan?”
“Sepertinya begitu,” kata Kirigiri, yang juga membelalakkan matanya.
“Aku tidak percaya! Dia menyelesaikan lima kasus hanya dalam satu malam?”
Aku mencabut salah satu anak panah dart dan memeriksa surat tantangannya.
Lokasi: Pulau Otobari 70 juta
Senjata: Gitar 10 juta
Trik: Kamar Terkunci 120 juta
Lain-lain: Pengeras Suara 20 juta
Total Biaya: 220 juta
Bersamaan dengan surat tantangan itu, foto seorang pria muda juga disematkan. Pria itu duduk di kursi, tangannya tampak terikat di belakang punggung. Dia menatap ke arah kamera dengan wajah penuh kebencian. Di sekeliling pria itu, terlihat beberapa remaja laki-laki yang tersenyum riang sambil mengacungkan tanda peace ke kamera.
“Aku coba telepon Lico dulu.”
Aku menghubungi Lico menggunakan ponsel yang kuterima dari Ryūzōji. Lico mengangkat telepon setelah tiga kali dering.
“Halo? Lico?”
“Selamat pagi, Yui-san. Aku datang mengunjungimu semalam, tapi kamu tidak ada. Sayang sekali aku tak bisa bertemu.”
“Kau masuk ke kamarku tanpa izin, ya. Baiklah, itu tidak masalah, tapi anak panah dart di dinding itu apa?”
“Maaf sudah membuat lubang lagi di dinding. Itu kebiasaanku.”
“Bukan itu maksudku—maksudku, itu juga masalah, sih—tapi apa artinya ini?”
“Itu adalah surat tantangan yang sudah terselesaikan.”
“Kau mengatakannya dengan santai, tapi apa benar kau sudah menyelesaikan lima kasus? Bagaimana caranya? Itu tidak mungkin!”
“Bukan hanya mungkin, tapi terlalu mudah sampai membuatku kecewa. Sepertinya pertandingan kali ini memang hanya ditujukan untukmu, Yui-san.”
“Jangan bohong, katakan yang sebenarnya. Bahkan kau, tidak mungkin menyelesaikan lima kasus dalam satu malam. Atau jangan-jangan kau memang sudah tahu isi dari ‘Tantangan Hitam’?”
“Aku tidak berbohong, dan aku juga tidak tahu isi ‘Tantangan Hitam’. Memecahkan misteri dengan mengetahui jawabannya adalah hal yang paling membosankan di dunia ini menurutku.”
Memang benar, mengingat obsesi dan kecintaannya pada ‘misteri’, aku tidak yakin dia akan bersusah payah dengan masalah yang sudah dia ketahui jawabannya.
Barangkali dia benar-benar… menyelesaikan kasus-kasus berbiaya tinggi seperti 200 atau 300 juta dengan sangat mudah.
Sekali lagi, aku diingatkan bahwa kelas Triple Zero berada di tingkatan yang jauh melampaui imajinasiku. Aku tidak boleh menilainya dari kesan penampilan atau kategorinya sebagai anak laki-laki yang lebih muda. Dia adalah detektif yang setara dengan Ryūzōji Gekka.
“Aku cuma mau kasih satu rahasia, dari lima kasus yang diposting di sana, pelakunya sudah aku tangkap sebelum kasusnya terjadi. Untuk menangkap pelaku yang sudah lari, kita harus mengejarnya dengan kecepatan yang lebih tinggi, tapi jika target masih berdiri di garis start, aku hanya perlu meletakkan tangan di bahunya, dan semuanya selesai. Itulah triknya mengapa aku bisa menyelesaikan lima kasus dalam satu malam.”
“A-Apa triknya? Itu bukan penjelasan!”
“Maksudnya, jika aku menyelesaikannya sebelum insiden terjadi, maka kamar terkunci dan kejahatan mustahil semuanya bisa dilewatkan.”
Kalau bisa begitu, aku juga tidak akan bersusah payah…
Langkah logis apa yang dia ambil sehingga dia bisa menangkap pelaku dari kasus yang bahkan belum terjadi?
Bagi seorang detektif hebat, mungkin wajar jika bisa menyelesaikan kasus. Tetapi, cara kerja Lico hampir setingkat dengan prediksi masa depan.
“Tapi sebenarnya, aku sedikit menyesal. Aku menyelesaikannya sebelum sempat melihat trik apa yang akan digunakan, jadi rasanya sama sekali tidak memuaskan.”
“Itu terdengar mesum, lho.”
“Memang mesum, kok.”
“Jangan begitu, kau merusak citramu” kataku dengan sedikit kecewa. “Aku tidak bermaksud meragukan, tapi apa kau yakin seratus persen mereka semua pelakunya?”
“Ya, aku sudah mendapatkan pengakuan dari semuanya. Yang ada di foto adalah para pelaku. Aku juga menulis profil singkat di baliknya, jadi jika Komite datang untuk mencocokkan jawaban, Kau hanya perlu mengingatnya.”
“Kau perhatian sekali.”
Aku membalik foto polaroid di tanganku. Dengan tulisan tangan seperti gadis kecil yang imut, tertulis profil pelaku.
Nama Pelaku: Yanagi Hironori Usia: 29
Ulang Tahun: 29 Desember
Pekerjaan: System Engineer (SE)
Catatan: Pandai menyanyi
Motif: Balas dendam untuk orang yang disukai yang bunuh diri saat SMA
“Dilihat dari foto, mereka semua seperti ditahan di suatu tempat. Di mana ini?”
“Kastil Ryūzōji.”
“Hah? Kau menahan musuh di kastil musuh? Itu tidak ada gunanya!”
“Aku menyuruh anak buahnya untuk menahan para pelaku tanpa sepengetahuan Ryūzōji. Tapi meski ketahuan pun tidak masalah. Identitas para pelaku di sana sudah aku ketahui, kok. Biarkan mereka bersenang-senang selama tujuh hari di sana.”
“Apa itu tidak apa-apa…?”
Para pelaku yang ditangkap oleh Riko tidak dapat memenuhi dendam mereka, dan dengan habisnya waktu, kekalahan dalam 'Tantangan Hitam' akan dikonfirmasi. Aku tidak tahu bagaimana Komite Penyelamat Korban Kejahatan akan menilai hasil ini, tapi jika pelaku tidak dapat membunuh target sebelum waktu habis, sesuai aturan, itu seharusnya dianggap kekalahan.
Aku memeriksa surat tantangan dan foto-foto lainnya.
Lokasi: Akuarium Yomi 50 juta
Senjata: Bongkahan Es 3 juta
Trik: Kamar Terkunci 100 juta
Total Biaya: 153 juta
Nama Pelaku: Kuchiki Kaei Usia: 56
Ulang Tahun: 10 Februari
Pekerjaan: Instruktur Selam
Catatan: Memiliki tiga anak perempuan. Balas dendam karena istrinya dibunuh dalam kasus perampokan dan pembunuhan sepuluh tahun lalu.
◆
Lokasi: Akuarium Yomi 50 juta
Senjata: Asam Sulfat 10 juta
Trik: Kamar Terkunci 100 juta
Lain-lain: Pembakar Gas (Gas Burner) 5 juta
Total Biaya: 165 juta
Nama Pelaku: Kuchiki Otsuko Usia: 21
Ulang Tahun: 25 Februari
Pekerjaan: Mahasiswi
Catatan: Putri dari Kuchiki Kaei. Balas dendam karena ibunya dibunuh dalam kasus perampokan dan pembunuhan sepuluh tahun lalu.
◆
Lokasi: Balai Alam Sawameki 30 juta
Senjata: Balok Kayu 3 juta
Trik: Kamar Terkunci 100 juta
Lain-lain: Perkamen 50 juta
Lain-lain: Perhiasan 200 juta
Total Biaya: 383 juta
Nama Pelaku: Oboro Tatsuatora Usia: 33
Ulang Tahun: 13 April
Pekerjaan: Detektif, DSC Nomor '355'
Catatan: Detektif yang mengejar kejahatan uang kertas palsu internasional. Balas dendam karena perseteruan keluarga Oboro yang berlangsung 150 tahun dengan Balai Alam Sawameoni.
◆
Lokasi: Rumah Besar Daiboken 180 juta
Senjata: Gunting Besar 5 juta
Trik: Kamar Terkunci 200 juta
Total Biaya: 385 juta
Nama Pelaku: Kumano Seika Usia: 20
Ulang Tahun: 1 Juli
Pekerjaan: Mahasiswi
Catatan: Merencanakan Ruangan terkunci dengan delapan mahasiswa. Balas dendam untuk temannya yang diduga meninggal karena kecelakaan jatuh ke danau gua saat kemah mahasiswa.
Dengan ini, bisa dianggap 6 dari 12 kasus telah terselesaikan. Hanya dalam satu hari, setengahnya berhasil diselesaikan. Terlebih lagi, semua kasus yang ditangani Lico berhasil dicegah sebelum terjadi. Sejauh ini, hanya ada satu korban jiwa. Siapa yang menyangka akan ada hasil seefektif ini?
Meskipun begitu, masih tersisa lima kasus lagi yang harus kami tangani.
“Ngomong-ngomong, Yui-san. Bisakah kau tebak di mana aku sekarang?”
“Tiba-tiba sekali. Tebak-tebakan apa ini?” Aku tiba-tiba mendapat ide. “Aku tahu, kau ada di atas kapal pesiar mewah, kan?”
“Tepat sekali,” kata Lico dengan gembira. “Aku ada di kapal bernama Echidna, sekarang sedang berada di atas Samudra Pasifik. Ini adalah kasus terakhir yang aku tangani. Tapi akan sia-sia jika segera aku selesaikan, jadi aku memutuskan untuk mengikuti permainan yang disiapkan oleh pelaku. Aku sedang menikmati permainan dengan nyawa sebagai taruhannya.”
“A-Apa? Apa itu tidak apa-apa?”
Apakah Lico sedang mengalami hal yang sama seperti yang kami alami di Hotel Norman? Kurasa dia akan memenangkan permainan apa pun.
“Apa kau bisa dihubungi kapan saja?”
“Sesuai peraturan permainan, ponsel seharusnya tidak boleh digunakan, tapi aku akan menyimpan ponsel ini, jadi silakan hubungi aku kapan pun kau butuhkan. Kalau begitu, aku harus kembali ke permainan.”
“Tunggu, Lico!”
“Ada apa?”
“…Jangan sampai mati ya.”
“Tidak perlu khawatir. Kalau aku kembali dengan selamat, kali ini cium aku, ya.”
Telepon terputus.
“Apa dia benar-benar baik-baik saja…”
Aku meletakkan ponsel.
“Nah, sepertinya Lico baik-baik saja, mari kita tangani kasus kita berikutnya.”
Aku memeriksa surat tantangan yang tersisa. Kasus Rumah Hantu Takeda berada di urutan ketiga dari bawah dalam hal biaya. Dari lima kasus yang tersisa, dua lebih murah, dan tiga lebih mahal.
Aku merasa khawatir.
“Emm, yang lokasinya paling dekat sepertinya…”
Sambil membolak-balik tumpukan surat tantangan, aku melihat Kirigiri. Dia menatap dinding, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Kirigiri-chan, ada apa?”
“—Eh?”
Kirigiri menoleh ke arahku seolah baru tersadar.
Dia menggelengkan kepalanya dengan wajah pucat.
“Kau tidak enak badan?”
“Aku baik-baik saja.”
Jelas sekali dia tidak baik-baik saja.
“Sebaiknya kau istirahat sebentar, ya? Biar aku yang mengumpulkan informasi kasus. Kau tunggu saja di sini.”
“Aku tidak bisa begitu saja,” katanya.
“Jika kau pingsan sekarang, kita benar-benar tidak bisa memperbaikinya lagi. Kumohon, istirahatlah sebentar. Ya?”
Aku memaksa Kirigiri berbaring di tempat tidur dan menyelimutinya. Dia menatapku dengan wajah bingung.
Ketika aku dengan lembut menyibakkan rambut dari pipinya, dia menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, seolah menyerah.
“Maafkan aku, Yui Onee-sama.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Yang kau butuhkan adalah istirahat.”
“Tapi waktunya…”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Seperti yang kubilang sebelumnya, jika kita punya waktu 28 jam untuk setiap kasus, kita masih punya cadangan sekitar lima jam. Setidaknya, gunakan waktu itu untuk istirahat tanpa beban.”
Kirigiri menatapku dengan mata gemetar dan panik, seolah mencari kata-kata, tapi akhirnya dia hanya memejamkan mata tanpa mengatakan apa pun.
Aku menunggu di samping tempat tidur sampai dia tertidur. Sesekali dia membalikkan badan dengan gelisah, seolah sedang bermimpi buruk.
Apa yang membuat dia begitu tertekan?
Apa alasan di balik ketakutan seseorang yang paling tenang dariku?
Keadaan dia menjadi aneh sejak kami kembali ke rumah setelah kasus Hotel Norman. Kemungkinan besar, sesuatu terjadi di sana. Sesuatu yang membuatnya merasa tidak ingin kembali ke rumah lagi.
Jika Kirigiri terus dalam kondisi buruk seperti ini, aku tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan. Demi dia, aku harus tahu apa yang terjadi padanya. Dan jika mungkin, aku ingin menyelamatkannya dari penderitaan itu.
Namun, dia pasti berniat menanggungnya sendirian. Dia pasti tidak ingin melibatkan orang lain.
Itu dia. Aku tiba-tiba punya ide.
Aku akan pergi dan memeriksa rumahnya saat dia tertidur.
Hanya melihat-lihat saja. Jika dengan itu aku bisa tahu sedikit tentang apa yang dia hadapi—
Saat aku hendak berdiri, ujung bajuku ditarik. Tanpa kusadari, Kirigiri telah memegang ujung bajuku. Pergerakanku membuatnya terbangun.
“Yui Onee-sama… kau akan pergi…?” katanya dengan nada mengantuk dan cemas.
“Aku… ikut…”
Dia mencoba bangun.
Aku menahannya dan melanjutkan.
“Aku hanya akan mencari sesuatu sebentar. Aku akan segera kembali. Aku tinggalkan ponsel ini, ya. Aku akan mendaftarkan nomor ponselku di sini, jadi segera hubungi jika terjadi sesuatu.”
Aku meletakkan ponsel Ryūzōji di tangannya.
Ekspresinya tidak banyak berubah, tapi mulutnya yang seolah ingin mengatakan sesuatu sangatlah jelas. Aku bisa memikirkan banyak kemungkinan tentang apa yang ingin dia katakan. Mungkin semuanya benar.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Sampai akhir, Kirigiri tidak mengatakan apa-apa.
Satu-satunya bentuk protesnya saat aku meninggalkan kamar adalah dia berbalik menghadap dinding.
Aku meninggalkan asrama.
Aku merasa cemas meninggalkannya sendirian, tapi aku tidak bisa kembali sekarang.
Setelah keluar dari sekolah, aku berlari menuju rumah Kirigiri. Aku tidak boleh membuang banyak waktu.
Rumahnya berada di atas tanjakan yang landai. Rumah itu seolah mendominasi seluruh area ini, memandang rendah dunia di bawah dari puncak tanjakan. Tembok putih yang menutupi lahan luas, dan gerbang yang besar. Saat aku mengintip dari bawah tanjakan, tiba-tiba awan menutupi langit, dan sekeliling menjadi gelap. Seolah-olah rumah itu mengintimidasiku, berusaha mengusirku kembali.
Aku mengumpulkan keberanian, menaiki tanjakan, dan berdiri di depan gerbang.
Aku tahu bahwa mengetuk gerbang ini berkali-kali pun tidak akan ada jawaban.
Aku menjauh dari gerbang dan mulai berjalan di sepanjang tembok.
Di tengah jalan, aku menemukan sebuah pintu kayu kecil terpasang di salah satu bagian tembok. Tampaknya penghuni rumah, termasuk Kirigiri, biasanya menggunakan pintu ini sebagai jalan keluar masuk.
Aku mencoba membuka pintu, tetapi tentu saja tidak terbuka. Sepertinya terkunci.
Aku rasa, aku yang dulu pasti akan kembali saat ini. Tapi sekarang, aku merasa harus terus maju meskipun tahu risikonya.
Perasaan itu semakin kuat saat aku berdiri di tempat ini lagi.
Aku pernah mengunjungi tempat ini pada malam Natal sebelumnya.
Sejak saat itu, ada rasa tidak nyaman yang samar kurasakan—
Mungkinkah aku telah salah besar dalam memahami sesuatu.
Itu terutama terkait pertanyaan tentang kakek Kirigiri.
Kirigiri Fuhito adalah kepala keluarga Kirigiri saat ini, yang garis keturunannya adalah detektif. Dia berkeliling dunia, dan terkadang menerima permintaan pekerjaan dari pejabat pemerintah di berbagai negara.
Dan dia juga salah satu pendiri Perpustakaan Detektif lima belas tahun yang lalu. Di antara anggota pendiri ini, ada pula Shinsen Mikado, yang saat ini memimpin Komite Penyelamat Korban Kejahatan. Tampaknya ada perseteruan di antara keduanya. Apa yang terjadi lima belas tahun lalu? Hanya mereka yang tahu.
Meskipun Kirigiri Fuhito adalah salah satu pendiri Perpustakaan Detektif, dia kabarnya menentang pengenalan DSC. Konon, kebanggaan nama Kirigiri tidak mengizinkannya untuk diberi peringkat sebagai detektif.
Namun, lima belas tahun kemudian, Kirigiri Kyōko, yang akan mewarisi nama Kirigiri, membiarkan dirinya terdaftar dan diberi peringkat di Perpustakaan Detektif. Terlebih lagi, dia mengatakan bahwa pendaftarannya ‘dilakukan oleh kakeknya’.
Bukankah ini kontradiksi?
Atau mungkinkah lima belas tahun telah mengubah Kirigiri Fuhito?
Aku rasa tidak. Kirigiri Fuhito masih aktif sebagai detektif dan masih menjadi kepala keluarga. Posisinya seharusnya tidak berubah.
Mengapa dia, yang seperti itu, membiarkan pewaris pentingnya terdaftar di Perpustakaan Detektif?
Mungkinkah itu agar dia bisa tumbuh sebagai detektif?
—Alasan seperti itu terlalu dangkal. Keluarga Kirigiri menjunjung tinggi kehormatan sebagai detektif. Mereka bahkan mengutamakan pekerjaan detektif daripada kematian anggota keluarga. Mungkin terdengar tidak fleksibel, tapi itu menunjukkan tekad yang sangat membanggakan. Tidak mungkin mereka mendaftar di Perpustakaan Detektif, dengan mengetahui bahwa mereka akan disamakan dengan detektif biasa lainnya. Menjual murah nama Kirigiri tidak terpikirkan.
Namun, Kirigiri Kyōko sendiri sangat antusias untuk menaikkan peringkat DSC-nya. Dia tampaknya memiliki tujuannya sendiri. Namun, fakta bahwa pendaftarannya dilakukan oleh kakeknya, bukan oleh dirinya sendiri, menimbulkan sedikit kejanggalan.
Ada satu hal lain yang menggangguku.
Menurut Kirigiri, 'Kakek pada dasarnya tinggal di luar negeri'. Faktanya, Kirigiri Fuhito saat ini berada di luar negeri dan sulit untuk kembali. Bahkan pada Hari Tahun Baru, dia sepertinya berada di suatu negara di luar negeri. Kirigiri Kyōko bertanya melalui telepon, 'Selamat Tahun Baru, Kakek. Apakah di sana masih terlalu pagi?' Ini pasti tentang perbedaan waktu.
Kirigiri Kyōko sendiri juga sudah lama tinggal di luar negeri, bepergian bersama kakeknya sejak lama. Ketika dia berusia tujuh tahun, ibunya meninggal karena sakit, tetapi saat itu dia tidak kembali ke Jepang dan tetap bersama kakeknya. Setelah itu, dia mengatakan, 'Selama sekitar lima tahun, aku bepergian ke berbagai tempat di luar negeri bersama Kakek'. Setelah kematian ibunya, setelah pekerjaannya selesai, mungkin dia sempat kembali sebentar, tapi segera kembali menjalani kehidupan di luar negeri—begitukah?
Dan sekitar dua setengah bulan yang lalu, dia mengatakan 'Aku kembali sendirian demi sekolah'.
Setelah mendengar itu, aku bertanya apakah dia 'tinggal di rumah ini hanya berdua dengan Kakek?' Dia mengangguk, dan menjawab bahwa ada juga asisten rumah tangga yang tinggal di sana.
Setelah itu, aku bertemu langsung dengan kakeknya yang keluar dari rumah ini.
Namun, ada yang aneh.
Entah kenapa lokasi kakeknya tidak jelas.
Kejanggalan pertama yang kurasakan adalah kakeknya, yang berada di rumah ini pada malam Natal, menelepon dari suatu negara yang jauh pada Hari Tahun Baru.
Tentu saja, hal itu bukan tidak mungkin.
Namun, bukankah dia terlalu sering bepergian?
Aku hanya menganggap, 'Mungkin saja bagi seorang detektif kelas dunia,' dan langsung mengabaikan kejanggalan itu.
Mungkin saat itu aku seharusnya bertanya pada Kirigiri tentang kakeknya.
Dia memang sulit diajak bicara tentang dirinya sendiri. Apalagi jika menyangkut keluarganya, dia menunjukkan reaksi penolakan. Karena itu, aku tak bisa bertanya lebih dalam…
Kini, aku sedang mendekati sumber kejanggalan itu.
Namun, di depanku, berdiri tembok putih menjulang, seolah menolak keinginanku.
Aku mendongak dari bawah tembok.
Aku pasti bisa mencapainya.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang di sekitar. Entah mengapa, di sekitar rumah ini, tidak ada aura kehidupan manusia yang terasa. Tidak ada mobil yang lewat di jalan, dan tidak ada nenek-nenek yang mengajak anjingnya jalan-jalan.
Justru ini menguntungkan…
Aku menggunakan lompatan vertikal andalanku dan meraih ujung atas tembok.
Aku menarik tubuhku hingga dada, lalu mengaitkan kaki dan memanjat. Ternyata cukup mudah. Selanjutnya, aku tinggal melompat ke sisi lain. Aku membayangkan diriku menjadi kucing, melayang di udara, dan mendarat di tanah sisi seberang tanpa menimbulkan suara.
Di sana, suhu terasa beberapa derajat lebih rendah daripada di luar tembok. Karena itu, ada beberapa tempat yang masih tertutup salju tipis. Jalan setapak dari batu loncatan berlanjut di halaman yang ditumbuhi tanaman yang dipangkas rapi. Di ujung jalan, terlihat pintu belakang rumah gaya Jepang.
Apakah tidak ada respons karena tidak ada siapa pun, atau karena mereka hanya menahan napas?
Aku berharap yang pertama.
Aku mendekati rumah sambil merendahkan diri. Karena pintu kayu geser (amado) tertutup, aku tidak bisa mengintip ke dalam. Jika ada penghuni, tidak aneh jika pintu amado sudah dibuka pada jam segini.
TN Yomi Novel: Amado adalah perlengkapan yang dipasang di bukaan rumah untuk menahan angin, mencegah kejahatan, menghalangi cahaya, dan memberikan privasi.
Tanpa kusadari, awan salju sudah menggantung di langit.
Ke mana perginya sinar matahari pagi yang begitu terang? Remang-remang senja menyelimuti rumah. Sebenarnya, ini menguntungkan. Aku menyembunyikan diri dalam kegelapan.
Aku mencoba memegang salah satu pintu amado.
Tidak terkunci. Aku membukanya sedikit tanpa menimbulkan suara, dan mengintip ke balik jendela kaca.
Namun, tidak ada apa-apa di lorong yang gelap.
Memang, hanya mengintip dari luar tidak akan mengungkap apa pun.
Apakah ada tempat yang bisa kumasuki?
Aku mulai berjalan di sepanjang bangunan. Dalam kasus terburuk, mungkin aku harus masuk dengan memecahkan jendela. Tentu saja, aku belum pernah melakukan tindakan berani seperti itu, tetapi sekarang adalah saatnya aku harus melakukannya. Ada sesuatu di rumah ini.
Sambil bersembunyi di sudut bangunan, aku mengamati halaman di depan. Tiba-tiba, terdengar suara di belakangku.
Aku berusaha menahan diri agar tidak berteriak dan menoleh ke arah sumber suara.
Pintu amado yang kubuka sedikit tadi kini terbuka lebar.
Seseorang menampakkan wajah dari dalam.
Seorang wanita dengan atasan dan rok rajutan hitam, serta apron putih, mengamati keadaan di luar dengan curiga. Dahi yang terbuka karena poni yang disisir rapi ke samping menunjukkan kerutan gugup. Meskipun kurasa dia masih muda, dia terlihat lebih tua dari usianya.
Mungkinkah dia asisten rumah tangga yang tinggal di sini?
Haruskah aku bertanya langsung padanya?
Apa yang terjadi di rumah ini?
Aku mencoba berdiri, tapi segera mengurungkan niat.
Wanita berapron itu mengulurkan tangan ke luar untuk menutup pintu amado—
Di tangannya tergenggam pisau dapur yang memantulkan cahaya redup.
Aku segera bersembunyi di balik bayangan bangunan.
Apakah itu… kebetulan dia sedang memasak?
Adakah alasan lain?
Misalnya, dia datang untuk mengusir penyusup?
Suhu semakin turun, dan keringat dingin mengalir di pipiku.
Apakah ini saatnya untuk mundur?
Aku segera menjauh dari bangunan itu dan berpindah ke balik bayangan tanaman hias. Setelah ini, hanya ada halaman terbuka lebar, tanpa ada tempat untuk bersembunyi di antaranya.
Apakah aku harus kembali…?
Tidak, tidak ada gunanya kembali tanpa mendapatkan apa-apa.
Aku akan menyelidiki selama waktu memungkinkan.
Saat ini, yang terbaik adalah lari melintasi halaman yang luas ini.
Ayo lari!
Aku mulai berlari, membayangkan diriku sebagai seorang atlet yang berlari melintasi lintasan seratus meter.
Namun, di tengah jalan, kakiku tersandung, dan aku terjatuh dengan keras.
“Ugh!”
Kakiku tersangkut di tanah. Hanya di tempat itu tanahnya terasa lunak dan lebih cekung dari sekitarnya. Aku tidak menyadarinya karena salju tipis yang tersisa. Aku mencoba bangkit dari posisi tengkurap dan menjejakkan tangan di tanah.
Tepat di tempat aku menjejakkan tangan, seseorang berpakaian kimono sedang berbaring.
Tidak… lebih tepatnya, dia terkubur.
Itu adalah mayat.
Mayat yang sebagian membusuk dan sebagian sudah menjadi tulang belulang—
Aku merasa tidak asing dengan pakaian dan postur tubuh itu.
Itu pasti.
Kakek Kirigiri, yang menyambutku dan Kirigiri di rumah ini pada malam Natal.
Tidak salah lagi.
Tidak salah lagi.
Tidak salah lagi!
Kakek Kirigiri sudah meninggal.
Kenapa?
Siapa yang membunuhnya?
Apa yang terjadi di sini?
Aku tidak bisa berdiri karena rasa sakit akibat jatuh dan ketakutan yang tidak bisa kujelaskan. Aku duduk lemas di tempatku.
Apalagi, aku bahkan tidak sempat memperhatikan keadaan di belakangku.
Karena itulah saat itu—aku sama sekali tidak menyadari bayangan hitam yang menyelinap mendekat di belakangku.
Baru ketika bayangan itu menutupi tanah di sekitarku dengan warna hitam, aku menyadari bahaya yang mendekat.
Aku menoleh, dan wanita berapron itu berdiri, mengayunkan pisau dapur.
Ah, aku akan mati.
Saat itu, aku bisa memahami situasinya seolah-olah itu bukan urusanku sendiri.
Perasaan terlepas seperti sedang bermimpi.
Saat bilah bernama kenyataan itu diayunkan—
Tepat pada saat berikutnya, lutut wanita berapron itu menekuk dan ambruk.
Seorang pria bersetelan jas dan dasi berdiri di belakang wanita itu. Rupanya dia menusuk bagian belakang lutut wanita itu dengan ujung pegangan sekop di tangannya.
Kemudian, ketika dia menepuk ringan bahu wanita itu, wanita itu jatuh terlentang di tanah dengan sangat mudah.
Pria itu segera meraih salah satu lengan wanita itu, dengan cekatan membalik tubuhnya dari samping, membuatnya tengkurap, dan kemudian mengikat kedua tangannya di belakang punggung.
Saat aku menatap pemandangan itu dengan linglung, dia memberi isyarat padaku dengan jarinya.
Dia menyuruhku lari.
Aku mencoba berdiri.
Namun, kakiku terasa lemas. Aku bergerak maju menuju dasar tembok dengan tubuh membungkuk.
Dalam kondisi seperti ini, aku tidak akan bisa melompati tembok.
Saat aku kebingungan, pria tadi meraih pergelangan tanganku dan mulai berlari. Aku mengikuti pria itu dengan kaki yang tersandung-sandung.
Tak lama kemudian, sebuah pintu kayu kecil terlihat di tengah tembok.
Pria itu membuka kunci dari dalam dan membuka pintu. Aku didorong keluar, melarikan diri ke luar tembok.
Pria itu segera keluar juga. Dia menutup pintu, mengeluarkan kunci dari sakunya, dan memasukkannya ke lubang kunci.
“Ayo lari,” katanya, lalu bergegas menuruni tanjakan.
Di sudut rumah penduduk beberapa langkah dari sana, sebuah mobil hitam diparkir. Pria itu membuka kunci dengan remote key dan mendesakku untuk masuk.
Saat itulah aku melihat wajah pria itu dengan jelas untuk pertama kalinya. Dia mungkin masih berusia pertengahan tiga puluhan. Matanya yang tampak tegas dan wajahnya yang gagah mengingatkanku pada seseorang.
Begitu aku masuk ke kursi penumpang mobil, dia segera menjalankan mobil.
Rumah besar yang terpantul di kaca spion semakin mengecil. Di ujung jalan, cahaya yang menembus celah awan turun dalam bentuk garis-garis.
Akhirnya, mobil itu bergabung dengan iring-iringan kendaraan yang mengalir di jalanan pusat kota.
Aku merasa seolah baru kembali ke dunia nyata.
“Emm… t-terima kasih sudah menolongku.”
“Tidak perlu berterima kasih. Kalau bisa, aku ingin kau melupakan pertemuan ini.”
“E, etto… baiklah.”
Keheningan berlangsung beberapa saat.
Namun, dialah yang tidak tahan dengan kebisuan itu.
“Aku tidak pernah menyangka akan terjadi seperti ini,” katanya sambil menghela napas, kedua tangan tetap berada di kemudi.
“Emm… Anda ini…”
“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu,” katanya, pandangan tajamnya tetap lurus ke depan. “Posisiku cukup rumit. Kumohon, mengertilah.”
Aku mengangguk tanpa mengerti kenapa.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah binder hitam tergeletak begitu saja di atas dashboard. Di sampul binder itu, terdapat lambang yang kukenal. Lambang itu adalah…
Lambang Akademi Kibōgamine.
Pria itu, yang menyadari tatapanku, mengambil binder itu dengan satu tangan sambil menyetir, dan menyelipkannya ke kantong samping pintu seolah menyembunyikannya.
Begitu. Aku tahu dia mirip siapa.
Kirigiri Kyōko.
Setahuku, ayah Kirigiri mengajar di Akademi Kibōgamine.
Kalau begitu, orang ini…
“Jangan-jangan Anda ayah Kirigiri-chan—Kirigiri Kyōko?”
Dia hanya melonggarkan dasinya sedikit, tanpa menjawab apa pun.
Namun, aku tahu. Dia memegang kunci pintu kayu yang digunakan sebagai jalan keluar masuk rumah. Orang yang memiliki kunci rumah pasti sangat terbatas.
“Apa yang kau lakukan di tempat seperti itu?”
Dia balik bertanya.
“Aku punya teman bernama Kirigiri Kyōko,” aku sengaja menyebut namanya. “Dia terlihat aneh belakangan ini… Dia sangat enggan pulang ke rumah. Aku curiga terjadi sesuatu, jadi aku datang untuk menyelidiki rumahnya, dan kemudian…”
“Begitu,” dia hanya menjawab singkat.
Mobil berhenti karena lampu merah.
Di dalam mobil yang terhenti, dia kembali angkat bicara.
“Dia baik-baik saja?”
“Ya.”
“Kalau begitu baguslah.”
Mobil kembali berjalan.
“Aku rasa dia pasti menemukan mayat itu.”
Karena itulah dia merasa dalam bahaya dan meninggalkan rumah.
Dan dia menghilang sendiri, berkeliaran selama sekitar sepuluh hari.
Tapi ada yang aneh.
Sebagian mayat itu sudah menjadi tulang belulang.
Setidaknya sudah dua atau tiga bulan sejak mayat itu dikubur.
Kalau begitu…
Siapa kakek Kirigiri yang muncul di hadapan kami pada malam Natal, sekitar setengah bulan yang lalu?
Ah…
Begitu…
Itu adalah Shinsei Mikado!
Sejak kapan?
Sejak kapan Kirigiri Kyōko ditipu?
Apa tujuan Shinsei Mikado melakukan hal itu—
“Di mana dia sekarang?”
“Dia ada di kamar asramaku.”
“Begitu.”
“Mau menemuinya?”
“Aku tidak sanggup menemuinya,” katanya sambil mengangkat bahu.
Dia mengantarku sampai ke asrama, dan aku turun dari mobil. Pada akhirnya, dia tidak pernah menyebutkan namanya. Dan dia memberiku peringatan keras untuk tidak memberitahu siapa pun bahwa aku bertemu dengannya. Tentu saja, bahkan tidak kepadanya (Kirigiri)—
Karena khawatir dengannya, aku bergegas masuk ke kamarku.
Kirigiri sudah bangun, duduk di tempat tidur dan menyisir rambutnya.
“Selamat datang kembali, Yui Onee-sama. Tepat sekali, aku ingin kau mengepang rambutku.”
Aku mengangguk dan berdiri di belakangnya.
Saat aku mengepang rambutnya yang lembut nan indah, yang seolah merupakan wujud dari kemurniannya, aku tak bisa menahan air mata yang mengalir.
Mengapa dunia ini begitu kejam pada anak ini?
Aku diam-diam menyeka air mataku.
Aku tidak akan memaafkan.
Siapa pun yang menyakitinya—
—to be continued.
