Danganronpa Kirigiri Jilid 5 Bab 1 Akademi Putri Libra - Samidare Yui Bagian 1

Terjebak di Akademi Putri Libra, Yui Samidare menghadapi pembunuhan misterius dan dua siswi terborgol, dipermainan mematikan Gekka Ryuuzouji
Ilustrasi Pertama Danganronpa Kirigiri Volume 5 Chapter 2

Bab 1: Kegilaan Bertahan Hidup

Akademi Putri Libra — Samidare Yui Bagian 1

“Kau mirip dengan diriku di masa lalu—”

Ryuuzouji Gekka, detektif ulung yang juga merupakan petinggi Komite Penyelamat Korban Kejahatan dan koordinator serangkaian insiden kali ini, mendeskripsikan diriku seperti itu.

Sepertinya ia tidak mengatakannya terkait dengan kemampuan detektif, melainkan tentang sikap. Lagipula, antara detektif ‘000’ sepertinya dan diriku, perbedaan kemampuan dan rekam jejak kami bagaikan bumi dan langit. Sungguh tak sebanding.

“Kau sama saja dengan diriku. Aku juga tidak bisa memaafkan kejahatan. Karena itu, demi menumbangkan kejahatan, aku memutuskan untuk mengambil senjata yang lebih kuat dari milik mereka.”

Begitu kata Ryuuzouji.

Perasaan tak bisa memaafkan kejahatan, memang ada dalam diriku. Sejak kehilangan adik, perasaan itu terus terukir kuat di dalam hati.

Namun, aku berbeda dari mereka.

Apakah benar menyelamatkan seseorang berarti harus mengorbankan orang lain?

“Demi penyelamatan murni, pengorbanan adalah hal yang tak terhindarkan—itulah kesimpulan yang kutetapkan.”

—Tidak.

Itu adalah teori sang kuat.

Itu adalah jawaban yang hanya bisa dicapai oleh orang yang diberkahi talenta seperti Ryuuzouji. Intinya, ini adalah semacam tingkat kesadaran yang mustahil kuraih, aku yang tak punya talenta dan hidup dalam hari-hari biasa.

Meskipun begitu, apakah ia masih akan bilang kalau aku mirip dengannya?

Tidak mungkin.

Maka, pertempuran kali ini juga merupakan pertempuran untuk membuktikan bahwa dia dan aku tidaklah sama.

Ryuuzouji pasti membebankan berbagai makna lain pada permainan kali ini. Ada beberapa tujuan yang aku sendiri pahami. Misalnya, tujuan mengungkap detektif misterius bernama Rei Mikagami, atau niat untuk memancing Kyouko Kirigiri ke lokasi. Selain itu, ada pula aspek konflik di antara mereka yang setara dengan kelas ‘000’. Tergantung hasilnya, ini juga akan menentukan masa depan Komite Penyelamat Korban Kejahatan.

Inilah cara Sang Armchair Earl, yang dijuluki sebagai jenius parallel thinking dan multitasking, bekerja.

Namun… aku merasa ada aliran yang lebih besar yang menghubungkan berbagai cabang tujuan itu menjadi satu.

Tujuan sebenarnya.

Sebenarnya, apa yang ingin Ryuuzouji Gekka temukan dari permainan ini?

Bagaimanapun, untuk mengalahkan Ryuuzouji Gekka, aku harus menyelesaikan insiden yang ada di depan mata.

Aku berada di salah satu dari dua belas tantangan, yaitu ‘Akademi Putri Libra’.

Aku tidak ingat bagaimana bisa sampai di sini. Aku ingat setelah berpisah dengan Kirigiri Kyoko , aku melanjutkan perjalanan dengan berganti dari kereta ke bus, tetapi setelah itu, ingatanku kabur. Saat tersadar, aku mendapati diriku tergeletak di sebuah ruangan asing, dan di depanku ada seseorang yang diduga pelaku, mengenakan jubah berkerudung hitam. Di belakangku, tergeletak sesosok mayat yang tampaknya adalah siswi berseragam pelaut.

Si jubah hitam menyadari keberadaanku, lalu melarikan diri dan melompat masuk ke sebuah ruangan. Aku mengejarnya dan memasuki ruangan itu. Ternyata sosok berjubah hitam itu sudah menghilang entah ke mana, dan sebagai gantinya, ada dua peti mati diletakkan berdampingan.

Aku menduga si jubah hitam bersembunyi di salah satu peti mati itu… tapi yang ada di dalamnya adalah dua siswi berseragam pelaut yang sama dengan korban. Tangan mereka diborgol, kaki mereka dibelenggu, dan mulut mereka dilakban.

Yang berambut hitam lurus, berponi belah tengah dengan bando yang memperlihatkan dahi sepenuhnya, adalah Nada Tsukiyo. Dia terlihat tegas dengan mata seperti kucing.

Dan yang seorang lagi, berambut bob mengembang berwarna merah, adalah Tōakitsu Nazuna. Secara penampilan, ia tampak tenang dan berwatak lembut.

Mereka tampaknya adalah teman sekelas.

Mengapa mereka dimasukkan ke dalam peti mati—

Dan ke mana perginya si jubah hitam?

“Tsukiyo-san,” Nazuna memanggil. “Kau ingat apa yang terjadi sebelum kita dimasukkan ke peti mati ini?”

“Tidak… aku ingat tadi pagi seperti biasa hendak pergi ke sekolah, dan naik taksi, tapi…”

“Taksi? Kau biasa naik taksi untuk ke sekolah?”

Ketika aku bertanya, dia menggelengkan kepala.

“Kebetulan hari ini saja. Bus yang biasa kugunakan telat karena macet atau apa. Aku pakai taksi karena takut terlambat kalau harus menunggu.”

“Aku juga,” kata Nazuna. “Meskipun jalur busnya berbeda dengan Tsukiyo-san, kelihatannya bus itu telat parah dari biasanya, dan ada antrean panjang di halte. Jadi, mau tak mau aku naik taksi. Dan… dari sekitar saat itu ingatanku mulai samar.”

“—Berarti, kemungkinan besar sopir taksi itulah yang membawa kalian ke sini. Bahkan, situasi bus yang telat itu mungkin saja ulah mereka. Untuk menjebak kalian agar naik taksi palsu.”

“Begitu…” Tsukiyo berkata dengan wajah pucat. “Siapa ‘mereka’ itu? Kelompok penculik atau semacamnya?”

“Kurasa itu anggapan yang benar.”

“Kenapa mereka menculik kami? Karena orang tuaku orang kaya?”

“Kalian orang kaya?”

“Dibandingkan orang pada umumnya, iya. Tapi di sekitarku ada anak-anak yang jauh lebih kaya. Kenapa harus aku, di antara yang lain…?”

Tsukiyo tampak seolah akan menangis.

“Takezaki-san yang terbunuh itu, apa dia juga anak orang kaya?”

“Ya… sepertinya… tapi aku tidak terlalu mengenalnya.”

“Kalau boleh jujur, Takezaki-san adalah siswi yang berada di kelompok bawah di kelas kami.”

Nazuna menyela dan menjawab.

“Tunggu, Naz—”

“Itu kan fakta, ya kan?”

“Yah, memang benar, sih…”

“Pada kenyataannya, ada jurang pemisah yang besar antara kelompok mereka dan kelompok kami di dalam kelas, nyaris tak ada interaksi. Namun, hal itu bukan berarti kami saling bentrok, kurasa kami berada dalam hubungan yang saling non-intervensi.”

Cerita tentang kelompok di kalangan anak SMA memang ada di mana-mana. Yang lebih menarik perhatianku adalah anak bernama Nazuna ini; ia berbicara blak-blakan jauh lebih tepat sasaran dari kesan lembutnya, dan tampaknya memiliki daya pengamatan yang luar biasa. Awalnya ia memang menunjukkan kepanikan saat peti mati dibuka, tetapi kini ia terlihat sangat tenang.

Gadis seperti dia—aku merasa ia bahkan bisa memerankan tokoh pelaku dalam ‘Tantangan Hitam: Duel Noir’.

“Mengenai Takezaki-san,” Natsuna melanjutkan. “Apa benar ia sudah dibunuh?”

“Ya. Aku melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri. Darahnya sangat banyak, dan aku juga sudah memeriksa bahwa ia tak lagi bernadi. Sayang sekali… ia benar-benar sudah meninggal.”

“Aku tidak bisa memercayainya.”

“Tidak, maksudku… nih, ini kartu pelajar miliknya.”

“Benda seperti itu bisa dipalsukan kapan saja. Atau, jika Takezaki-san sendirilah yang menjadi dalang dari teror aneh ini, kurasa itu akan lebih masuk akal.”

“Kalau kau berkata begitu, lebih baik kau lihat saja sendiri,” kataku dengan sedikit putus asa. “Keluar dari ruangan ini dan lurus saja ke sana—”

“Aku ingin sekali, tapi dalam kondisi seperti ini aku tak bisa bergerak.”

Nazuna memperlihatkan borgol di tangannya. Mengesampingkan borgol, ia tentu tak bisa berjalan bebas jika belenggu kakinya tak dilepas. Rantai belenggu itu memang hanya menghubungkan kedua kakinya dan tidak terpasang pada peti mati, jadi seandainya ia memaksa, ia mungkin masih bisa berjalan.

“Benar! Makanya, urus ini dulu! Cepat lepaskan!”

Tsukiyo mulai ribut.

“Dibilang dilepas juga… kuncinya tidak ada, sih.”

Kataku sambil mengangkat bahu.

Saat aku memeriksa tubuh mereka barusan, tidak ada kunci yang ditemukan.

“Lagipula, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Kalian berdua mungkin saja pelakunya.”

“Lepaskan bagian kaki saja!”

“Tidak, kan sudah kubilang kuncinya—”

“Jangan lambat! Cari sana kuncinya. Kalau si pelaku yang kau sebutkan itu memilikinya, rebut! Seorang detektif pasti bisa melakukan hal itu, kan?”

“Jangan minta yang aneh-aneh, dong…”

Namun, percuma saja jika aku terus berdebat seperti ini.

Sambil mencari kunci, sekalian saja aku menyelidiki tempat lain.

“Kalian berdua, maukah kalian diam di sini baik-baik?”

“Memang apa lagi yang bisa kami lakukan selain diam. Cepatlah! Sekalian carikan kamar kecil. Sebaiknya kau jangan membuatku terlalu lama menahan diri.”

“Y-ya, aku mengerti.” Aku membuka pintu kamar, lalu berbalik. “Kalau terjadi sesuatu, teriak saja. Pintu ini akan kubiarkan terbuka.”

Keduanya mengangguk.

Apakah aman meninggalkan mereka di kamar…?

Jika mereka memang pelakunya, aku tak perlu khawatir.

Aku mencoba melepaskan tangan dari gagang pintu, berniat membiarkannya terbuka. Namun, pintu geser itu meluncur sendiri secara otomatis di relnya, dan perlahan-lahan tertutup dengan sendirinya. Ini bukan pintu otomatis, melainkan ada mekanisme closer yang terpasang pada kastor pintu, tipe yang sering kulihat di rumah sakit. Ketika pintu dibuka penuh dan didorong sampai ke ujung, luncurannya akan terkunci, sehingga pintu bisa dibiarkan terbuka.

Tiba-tiba, aku menyadari hal yang aneh.

Masalahnya bukan pada mekanisme closer itu…, melainkan pada fakta bahwa ketika si jubah hitam melarikan diri ke kamar ini, pintunya sudah terbuka.

Apakah pintu itu memang sengaja dibiarkan terbuka sebelumnya?

Kalau kuingat-ingat, sepertinya semua pintu yang lain juga dibiarkan terbuka. Seolah-olah jalur pelarian sudah ditetapkan sejak awal.

Apakah si pelaku memang berniat datang ke ruangan ini sejak awal?

Ada satu keanehan lain.

Tidak ada kenop atau lubang kunci untuk mengunci pintu di mana pun.

Saat aku mengejar si jubah hitam dan pertama kali sampai di ruangan ini, pintu sempat tidak bisa dibuka, seolah-olah terkunci. Padahal, tidak ada kunci pada pintu itu.

Lalu, mengapa pintu itu tidak bisa dibuka?

Apakah ada galah yang menyangkut?

Pintu geser ini meluncur pada rel yang berada di sisi dalam ruangan, jadi dengan menyelipkan sesuatu seperti tongkat pada rel, pintu memang bisa dibuat tidak bisa dibuka.

Namun, dilihat-lihat, tidak ada benda apa pun yang jatuh di sekitar pintu.

Kalau begitu, apakah si jubah hitam yang menahan pintu dari dalam?

Jika demikian, si jubah hitam nyaris tidak punya waktu untuk bersembunyi…

“Hei, kau! Kenapa kau berdiri diam di situ?!” Suara Tsukiyo datang dari belakang. “Cepat cari kuncinya!”

“Ah, ya…”

Aku memutuskan untuk mengesampingkan masalah itu sementara waktu dan keluar menuju koridor.

Koridor itu panjangnya sekitar 10 meter. Lebarnya tidak terlalu besar. Karpet terhampar di lantai, membuat langkah kaki jadi sunyi. Dinding dan langit-langitnya terbuat dari kayu, mengeluarkan aroma khas kayu tua yang unik. Karena tidak ada jendela, suasana luar tidak bisa terlihat.

Aku melewati koridor dan melewati ambang pintu. Pintu di sini adalah pintu ayun biasa. Kalau kuingat, sepertinya pintu ini juga terbuka saat si jubah hitam melarikan diri.

Begitu keluar dari koridor, aku tiba di sebuah kapel yang luas. Lantai di dalam kapel dilapisi ubin batu yang terasa dingin. Ada sekitar 20 bangku panjang untuk jemaat, dan sepertinya masing-masing bisa menampung sekitar sepuluh orang. Di bagian belakang, ada mimbar yang lebih tinggi, di mana salib dan patung Bunda Maria diletakkan. Bagian depan itu tampaknya adalah pintu masuk dan keluar bangunan. Sekilas, tidak ada jendela di dalam kapel. Hanya lampu pijar yang terpasang di dinding yang menjadi sumber cahaya.

Ilustrasi Kedua Danganronpa Kirigiri Volume 5 Chapter 1 - Samidare Yui Bagian 1
Ilustrasi Peta Umum Akademi Putri Libra

Aku segera menuju ke arah pintu masuk dan keluar.

Saat kubuka pintu ganda yang besar, aku sampai di ruangan kecil yang tampak seperti pintu masuk. Pintu di depannya seolah-olah terhubung ke luar. Namun, pintu itu sudah ditutup dengan papan tebal dan dipaku. Tentu saja, aku tidak bisa melepaskan papan itu dengan kekuatanku, dan aku tidak bisa keluar.

Di samping pintu masuk terdapat toilet terpisah untuk pria dan wanita. Aku masuk ke toilet wanita untuk memastikan tidak ada siapa pun. Ada jendela di bagian belakang, tetapi ini juga disegel dengan papan.

Untuk berjaga-jaga, aku mengintip ke toilet pria. Kosong. Bahkan, jika ada orang di sana, aku mungkin akan menjerit. Sama saja, jendela di belakang juga disegel.

Kini, struktur bangunan secara garis besar sudah bisa kupahami. Kapel yang luas dan memanjang berada di tengah, dengan koridor penghubung membentang ke kiri dan kanan, dan di ujung masing-masing terdapat ruangan berbentuk melingkar. Jika dilihat dari atas, keseluruhan bangunan membentuk simbol salib. Ini adalah struktur yang umum ditemukan pada gereja atau katedral.

Jika patung Bunda Maria berada di posisi jam dua belas, maka Ruangan Dua Peti Mati berada di posisi jam sembilan, dan ruangan tempat aku pertama kali terbangun ada di posisi jam tiga. Di posisi jam enam adalah pintu masuk. Selain toilet, tidak ada ruangan tambahan, dan tidak ada jendela. Dapat diasumsikan bahwa pintu masuk dan keluar telah tertutup rapat.

Kami terkunci di dalam.


Jam berapa sekarang, ya? Cahaya luar tidak terlihat. Tidak ada jam juga. Tetapi secara naluri, kurasa belum berlalu 1 hari penuh. Kami berjanji untuk saling menghubungi pada siang hari, jadi jika aku tidak bisa dihubungi, Kirigiri dan detektif lain pasti akan segera datang.

Tidak—dalam skenario terburuk, detektif-detektif lain mungkin juga terperangkap seperti ini.

… Kirigiri-chan, apakah dia baik-baik saja?

Aku tidak perlu khawatir soal kemampuannya dalam menyelesaikan kasus. Yang membuatku cemas adalah sikapnya yang rela berkorban demi mengejar kebenaran. Kurasa kecemasan bahwa ia suatu hari akan menghilang berasal dari hal itu.

Aku harus keluar dari sini dan kembali ke asrama bersama Kirigiri-chan.

Aku harus cepat menyelesaikan kasus ini.

Pelaku pasti ada di sisi bangunan yang tertutup rapat ini.

Si jubah hitam itu bukan mimpi atau ilusi.

Itu kenyataan.

Namun, dia menghilang dari ruangan tertutup tanpa pintu keluar.

Apakah benar salah satu dari dua gadis di peti mati itu pelakunya—

Hmm?

Tunggu sebentar.

Aku memeriksa kartu pelajar yang kudapatkan dari kedua siswi itu.

Jika diperhatikan baik-baik, tanggal lahir mereka juga tertulis.


Nada Tsukiyo, Tanggal Lahir: 30 Juli

Tōakitsu Nazuna, Tanggal Lahir: 21 Agustus


Kalau tidak salah, Kirigiri sempat berkata saat berpisah denganku, ‘Hati-hati dengan Libra (Tenbinza)’. Aku lupa menanyakan alasannya, tapi sepertinya ada kemungkinan pelaku berzodiak Libra.

Selama perjalanan dengan kereta, aku sudah sempat mencari tahu rentang tanggal lahir zodiak Libra. Biasanya, orang yang lahir antara 24 September hingga 23 Oktober adalah Libra.

Baik Tsukiyo maupun Nazuna, bukan Libra

Aku tidak tahu seberapa akurat ‘kemungkinan pelaku’ yang disebut Kirigiri, tetapi karena ia repot-repot memperingatkanku, aku tidak bisa mengabaikannya.

Mereka berdua bukan pelakunya?

Atau, apakah mereka memalsukan kartu pelajar itu, mengantisipasi bahwa tanggal lahir mereka akan diperiksa? Kalau begitu, rasanya lebih baik tidak membawa kartu pelajar sama sekali…

Ngomong-ngomong, korban, Takezaki Hana, juga bukan Libra. Aku sudah memastikannya dari kartu pelajar.

Jika Tsukiyo dan Nazuna bukan pelakunya, lalu ke mana menghilangnya si jubah hitam itu?

Sambil tenggelam dalam pikiran, aku kembali ke kapel.

Aku berjalan melewati bangku-bangku panjang yang berjejer dan menuju mimbar di bagian belakang. Rasa penasaran membuatku mengintip ke belakang mimbar, tetapi tidak ada seorang pun yang bersembunyi. Tidak ada tempat lain di mana seseorang bisa bersembunyi.

Aku mendongak ke patung Bunda Maria. Apakah ini patung gips? Ukurannya sebanding dengan anak kecil. Patung itu diletakkan pada ketinggian setara dadaku. Salib digantung di dinding, jauh di atasnya.

Ketika kulihat lebih dekat, patung Bunda Maria itu mengenakan liontin perak yang bersinar.

Aneh sekali melihat Patung Maria dihiasi perhiasan.

Setelah mendekat, ternyata itu bukan liontin, melainkan sebuah kunci kecil yang dirangkai pada rantai.

Kunci—?

Mustahil ini kunci borgol, kan?

Aku memanjat mimbar tempat patung Bunda Maria diletakkan dan mencoba mengambil kunci itu. Namun, rantainya tidak bisa dilepas. Aku mencoba melepaskannya dari kepala, tetapi lingkarannya terlalu kecil dan tersangkut di bagian dagu.

Gagal. Lebih cepat jika aku memanggil mereka berdua ke sini.

Tidak, itu juga mustahil. Membawa mereka kemari mungkin saja, tetapi sulit menggunakan kunci yang berada di atas kepala. Apalagi jika itu adalah kunci belenggu kaki…

Haruskah aku mematahkan leher patung gips itu dan mengambil kuncinya?

Aku tidak mungkin melakukan perbuatan yang bisa mendatangkan kutukan seperti itu. Bunda Maria biasanya menjaga para siswi, bahkan di sekolahku sendiri. Secara psikologis, menghancurkannya mustahil.

Sekilas, kaki patung Bunda Maria tidak menyatu dengan alasnya, jadi patung itu sepertinya bisa diangkat dan dipindahkan.

Aku tidak punya pilihan selain memindahkannya ke ruangan tadi…

Aku melihat sekeliling.

Di sudut kapel, ada troli dengan roda kastor. Ada pegangannya, jenis yang biasa digunakan untuk mendorong dan membawa barang-barang berat.

Sempurna!

Aku menggulirkan troli itu hingga berada di bawah Patung Bunda Maria. Selanjutnya, aku naik ke alas patung, lalu memeluk patung itu dan dengan hati-hati menurunkannya ke atas troli. Patung ini mungkin memiliki berat dua puluh hingga tiga puluh kilogram. Jika ini adalah novel Edogawa Ranpo, pasti ada mayat di dalam patung gips ini, tetapi sepertinya kali ini tidak. Kalau ada, beratnya pasti akan jauh lebih besar.

Setelah berhasil meletakkannya di atas troli, aku menurunkan troli dari mimbar dan mendorongnya menuju ruangan peti mati.

Aku melewati koridor, lalu mengintip ke dalam ruangan dari ambang pintu yang terbuka.

“Aku menemukan kuncinya!”

Dari ambang pintu, aku bisa melihat peti mati berjejer, tetapi sosok Tsukiyo dan Nazuna tidak terlihat.

“Lho?”

Aku masuk ke dalam ruangan sambil mendorong troli.

Saat itu juga, sesuatu menghantam tubuhku dari samping.

Aku terdorong oleh momentum itu, dan jatuh ke lantai dalam posisi miring.

Kemudian, sesuatu yang lain menimpaku.

“Naz, sekarang! Rebut kuncinya dari dia!”

Itu Tsukiyo. Dia menjatuhkan diri ke atasku, menahan tubuhku.

Nazuna berdiri di ambang pintu. Belenggu di tangan dan kakinya masih terpasang.

“Maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain.”

Dia berjongkok di sampingku, dan dengan tangannya yang masih diborgol, dia merogoh pakaian dan saku-sakuku.

“Lho…?”

“Ada apa, Naz? Cepat berikan kuncinya.”

“Sepertinya tidak ada.”

“Tidak ada? Dia berbohong!”

“Aku tidak berbohong,” ujarku sambil mengerang. “Aku akan memberikannya padamu tanpa kalian harus melakukan hal seperti ini!”

“Berisik sekali kau ini! Penculik!”

“Aku bukan penculik!” Itu adalah julukan yang paling tidak ingin disandang di dunia ini. “Aku ini detektif!”

Dengan sekuat tenaga aku mendorong Tsukiyo, dan berdiri tegak.

Tsukiyo tiba-tiba meringis ketakutan, menundukkan kepala, dan menatapku. Nazuna juga berlutut di lantai dengan ekspresi bingung.

Aku mengibas-ngibaskan ujung coat-ku dan merapikan kerah.

Aku menarik napas dalam-dalam seolah mendinginkan kepala, lalu mengembuskannya.

“Namaku Samidare Yui. Aku belum mengatakannya, kan? Kalian berdua mungkin tidak bisa memercayaiku… tapi sejujurnya, aku juga masih mencurigai kalian. Karena kita sama-sama mencurigai, anggap saja ini imbang, dan untuk sementara kita gencatan senjata. Oke?”

Keduanya mengangguk dalam diam.

Aku menunjuk ke Patung Bunda Maria di atas troli.

“Kuncinya di sini. Tergantung di leher Bunda Maria. Karena tidak bisa dilepas, aku membawanya ke sini sekalian. Aku tidak tahu apakah kuncinya cocok, tapi patut dicoba.”

Aku menggerakkan troli dan memindahkan patung itu ke samping Tsukiyo. Dia duduk dengan kedua kaki terentang ke samping, mengulurkan kedua tangannya ke depan.

“Kalau borgolnya terlepas, jangan berulah seperti tadi lagi, ya?”

“… Aku mengerti.”

Aku mendekatkan borgol ke leher Patung Bunda Maria dan memasukkan kunci ke lubang kunci.

Kunci itu berputar.

Borgol terlepas dengan bunyi klik.

“Tepat sasaran.”

“Segala puji bagi Tuhan.”

Tsukiyo membuat tanda salib di dadanya.

“Sekalian kita coba untuk belenggu kaki.”

Aku mengangkat kedua kakinya di samping Patung Bunda Maria dan memasukkan kunci ke lubang kunci belenggu kaki.

Ternyata, itu juga mudah lepas.

“Baguslah. Kuncinya sama untuk keduanya. Mungkin ini semacam master key.”

“Naz, sekarang giliranmu.”

Aku serahkan sisanya pada Tsukiyo.

Tak lama kemudian, Nazuna pun terbebas dari belenggu.

Mereka berdua berpelukan sejenak dengan gembira.

“Tadi aku sudah menyelidiki bagian dalam bangunan ini sekilas, tapi pintu masuk dan jendela semuanya disegel. Sepertinya kita tidak bisa keluar dengan mudah. Rupanya kita terjebak di dalam.”

“Ini tidak lucu! Aku ada les biola hari ini, padahal…” Tsukiyo bergumam sambil merogoh saku seragamnya. “Ponselku tidak ada.”

“Ponselku juga tidak ada,” kata Natsuna.

“Sepertinya sarana komunikasi kita juga diputus,” kataku sambil berkacak pinggang. “Fakta bahwa pelaku mengunci kita di sini mungkin berarti insiden ini belum berakhir.”

“M-maksudmu apa?”

“Seseorang akan dibunuh lagi.”

“Siapa yang ‘seseorang’…”

Wajah Tsukiyo dan Nazuna memucat saat saling berpandangan.

“Kita harus keluar dari gedung ini sebelum itu terjadi. Pembunuhan yang diumumkan biasanya menggunakan trik yang hanya bisa dilakukan di lokasi yang ditentukan. Jadi, jika kita berhasil keluar dari gedung, kemungkinan pembunuhan itu tidak akan terjadi.”

“Tapi… pintu dan jendelanya disegel, kan?”

“Mungkin sulit menerobosnya sendirian, tapi jika kita bertiga bekerja sama, kita mungkin bisa menghancurkannya dan keluar. Bagaimana? Mau coba bersama?”

“Baiklah… Saling bermusuhan juga tidak akan konstruktif. Bagaimana menurutmu, Naz?”

“Aku setuju,” kata Nazuna sambil merapikan pita seragam pelautnya. “Hanya saja, sebelum itu, izinkan aku memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Apa benar Takezaki-san sudah terbunuh?”

“Ya… sayangnya.”

“Aku ingin memastikan.”

“Astaga, Naz, itu tidak penting, lho. Aku tidak mau melihat mayat!”

“Meskipun hampir tidak ada interaksi, Takezaki-san adalah teman sekelas kita. Kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja.”

“Ugh…” Tsukiyo bergumam sambil melipat tangan. “Baiklah, mau bagaimana lagi kalau Naz bilang begitu.”

“Baiklah. Aku juga ingin memeriksa ulang lokasi kejadian. Mari kita temui dia.”

Aku memimpin mereka berdua keluar dari kamar. Pintu menutup otomatis. Kami bergerak menyusuri koridor dan masuk ke dalam kapel.

Tsukiyo dan Nazuna berseru kagum.

“Apakah ini gereja? Atau kapel?”

“Apakah kalian berdua mengenali tempat ini?”

Saat kutanya, keduanya menggelengkan kepala.

“Ini jauh lebih tua daripada kapel di sekolah kita. Eh… apa nama tempat ini, ya?”

“‘Akademi Putri Libra’—sepertinya ini adalah sekolah berbasis misionaris yang sudah ditinggalkan 17 tahun lalu.”

TN Yomi Novel: ミッション系の学校 (misshon-kei no gakkō) diterjemahkan menjadi sekolah berbasis misionaris (merujuk pada sekolah yang didirikan oleh lembaga keagamaan/misionaris).

“Itu cerita sebelum kami lahir.”

“Meskipun begitu, tempat ini tidak tampak kotor, ya,” kata Nazuna. “Padahal sudah menjadi bangunan tak berpenghuni selama 17 tahun…”

“Kelompok yang mengirim surat pemberitahuan pembunuhan itu merawat tempat ini untuk dijadikan panggung insiden.”

Heh… organisasi yang mengerikan,” kata Tsukiyo seolah itu bukan urusannya.

Kami menyeberangi kapel dan membuka pintu yang mengarah ke koridor. Di ujung pintu yang terlihat di depan itulah kamar tempatku tersadar, dan kamar tempat mayat itu tergeletak.

“Ngomong-ngomong, kalian berdua, apakah kalian mendengar suara apa pun saat berada di dalam peti mati? Seperti suara seseorang masuk ke ruangan atau semacamnya…”

“Kurasa aku mendengarnya, tapi mungkin itu langkah kakimu? Setelah itu, yang kudengar adalah suaramu yang mengumpat dengan kasar.”

“Kau pingsan sampai sesaat sebelum aku membuka peti mati?”

“Ya. Bagaimana denganmu, Naz?”

“Aku… aku terbangun dengan perasaan seolah jatuh dari tempat tinggi… Sama seperti Tsukiyo-san, aku merasakan keberadaan seseorang bergerak di sekitar peti mati. Lalu kudengar suara Samidare-san, dan beberapa saat kemudian peti matinya dibuka.”

“Apakah ada keberadaan orang lain yang masuk ke ruangan selain diriku?”

“… Aku tidak tahu.”

Nazuna menundukkan mata dan menggelengkan kepala. Wajar saja kalau begitu. Jika mereka benar-benar korban yang terlibat dalam insiden ini, mereka pasti dimasukkan ke peti mati dalam keadaan tak sadarkan diri. Mustahil mereka bisa langsung memahami apa yang sedang terjadi.

“Nah, kita sampai. Mayat Takezaki-san ada di sini.”

Aku menyentuh pintu.

Pintu yang satu ini tampak persis sama dengan pintu ruangan tadi. Mungkin karena ruangannya melingkar, maka pintu gesernya pun melengkung menyesuaikan bentuk ruangan.

Aku membukanya perlahan.

Hmm?

Ada sesuatu yang aneh.

Seiring pemandangan ruangan mulai terlihat sedikit demi sedikit, aku menyadari bahwa napas menjadi lebih cepat tanpa bisa kukendalikan. Bahkan sebelum otakku memahaminya, ketidakberesan yang mengerikan sudah kurasakan secara naluriah.

Pintu terbuka lebar, memperlihatkan keseluruhan ruangan melingkar itu.

Tidak ada mayat di sana.

“Eh? Apa? Apa maksudnya ini?”

Aku melompat masuk ke ruangan, berjongkok di tempat seharusnya mayat itu terbaring, dan memeriksa karpet. Tapi, boro-boro bercak darah, bahkan bekas lap darah pun tidak ada.

“Aku yakin sekali mayatnya ada di sini…”

“Kau… baik-baik saja?”

Tsukiyo dan Nazuna mendekatiku, menunduk dengan tatapan heran. Bahkan tersirat rasa iba di wajah mereka.

Aku merasa pusing, dan tanpa sadar menundukkan wajah.

Aku merasa tidak enak badan. Apakah ini karena pikiranku tidak mampu mengikuti situasi yang terlalu abnormal ini?

“Hei, ada apa?”

“Maaf… Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.”

“Maksudmu, mayat Takezaki-san tadinya ada di sini, lalu menghilang?” Nazuna bertanya sambil melihat sekeliling ruangan. “Bahkan tanpa meninggalkan jejak?”

“Sepertinya begitu…”

“Apa benar ada mayat di sini?”

Tatapan Tsukiyo kepadaku semakin curiga.

“Sungguh, itu benar—Ah, benar! Kartu pelajar milik dia!” Aku teringat dan mengambilnya dari saku. “Anak ini benar-benar meninggal di sana! Aku yakin!”

“Mungkinkah pelaku kembali dan menyembunyikan mayat itu di suatu tempat?”

Nazuna berkata sambil mengusap bibirnya dengan jari, tampak berpikir keras.

“Hanya itu satu-satunya yang masuk akal.”

“Kalau begitu, kecurigaan terhadap aku dan Tsukiyo-san sudah sirna, ya. Jika salah satu dari kami, atau kami berdua adalah pelakunya, kami pasti akan berpapasan dengan detektif saat memindahkan mayat. Lagipula… dalam kondisi tangan dan kaki terbelenggu, kami tidak mungkin bisa memindahkan mayat.”

“Benar. Kami sama sekali bukan pelakunya. Atau, jangan-jangan… apa benar ada kasus pembunuhan sejak awal?”

Keduanya memasang senyum kemenangan yang samar.

Apakah pelaku menyelinap masuk ke ruangan ini dan memindahkan mayat saat aku sedang memeriksa toilet?

Mengapa repot-repot melakukan hal seperti itu?

Andaikan mayat itu dipindahkan, ke mana ia dibawa? Tempat persembunyiannya hanya toilet, tetapi mungkinkah ia berhasil membawa mayat itu tanpa ketahuan olehku?

Aku tidak tahu!

“Masalah ini kita pikirkan nanti! Sekarang, mari kita fokus untuk keluar dari sini.”

“Ya. Aku harus cepat pulang, kalau tidak aku akan terlambat les.”

Tsukiyo menyentuh gagang pintu sambil bersenandung. Ia sepertinya tidak menyadari betapa seriusnya situasi ini. Apakah ia masih menganggap ini hanya sebagai gangguan atau kejahilan yang keterlaluan?

Saat ia mencoba keluar dari ruangan, tubuhnya membeku.

“Ada apa, Tsukiyo-san?”

Natsuna berlari mendekat.

“… Tidak bisa dibuka.”

Tsukiyo berusaha sekuat tenaga menarik pintu, tetapi pintu itu sama sekali tidak bergerak. Nazuna menggantikannya menyentuh gagang pintu, tetapi pintu itu tetap tidak bisa dibuka.

Wajah keduanya perlahan-lahan berubah muram.

“Tadi di ruangan seberang, pintunya sempat tidak bisa dibuka untuk sementara waktu. Mungkin ada trik tertentu untuk membukanya.”

Kali ini, aku yang memegang gagang pintu.

Namun, pintu itu sama sekali tidak bergerak, tidak peduli bagaimana aku mencobanya.

“Kita terjebak…”

Kami saling pandang.

“T-tidak mungkin, kan? Di tempat tanpa TV atau ponsel seperti ini?” kata Tsukiyo dengan ekspresi terkejut. “Ah, aku belum ke toilet!”

“Jika kita bernasib buruk, mungkin kita akan terus seperti ini…”

“Terus? Sampai kapan?”

“Skenario terburuk… mungkin enam hari lagi.”

Jika detektif lain tidak ada yang datang menolongku, dan pelaku memang mengincar time over dari ‘Tantangan Hitam’, aku harus siap menghadapi kemungkinan selama itu.

“Aku tidak mau! 6 hari di sini, aku bisa mati!” Tsukiyo panik dan menggedor pintu. “Setidaknya bawakan kami air dan makanan! Tapi jangan air keras! Beri kami air mineral soft water! Dan sebelum itu, biarkan aku ke toilet!”

“Mengapa pintu ini tidak bisa dibuka, ya?” Nazuna berkata sambil mengamati pintu. “Padahal tidak ada kunci…”

Fakta bahwa pintu ini tidak memiliki kunci sama dengan ruangan peti mati tadi. Hanya saja, kali ini kami berada di dalam ruangan, dan pintunya tidak bisa dibuka.

“Eh?” Aku menyadari keanehan. “Pintu ini… aneh, ya?”

“Aneh apanya, sih?” Tsukiyo bertanya dengan nada menusuk.

“Pintu ruangan tadi memiliki rel geser di sisi dalam. Jadi, kupikir jika tongkat penyangga diselipkan di dalam ruangan, pintu tidak akan bisa dibuka dari luar… Tapi pintu ruangan ini tidak memiliki rel di sisi dalam. Jadi, jika tongkat penyangga diselipkan dari sisi koridor, ada kemungkinan pintu tidak bisa dibuka.”

“Jadi, si orang aneh berjubah itu menunggu kita masuk, lalu memasang tongkat penyangga?”

“Mungkin…”

Apa yang hendak dilakukan pelaku dengan mengunci kami?

Kami benar-benar telah jatuh ke dalam jebakan pelaku. Sampai titik ini, semuanya mungkin berjalan sesuai rencana, dan dia sedang mempermainkan peran detektif ini.

Aku benar-benar merasa menyedihkan.

Apakah benar aku tidak bisa melakukan apa-apa sendirian?

Apa yang akan dilakukan Kirigiri-chan dalam situasi seperti ini?

Dia selalu memikirkan langkah selanjutnya.

Dan dia tidak pernah berhenti mengejar kebenaran.

Ya, dia tidak akan pernah mengalihkan pandangan dari insiden yang ada di depannya—

Aku tidak boleh menyerah.

Aku harus berdiri dan melangkah maju.

“Aku yakin ini pasti ada mekanisme yang sedang bekerja,” kataku sambil menjauh dari pintu dan melihat sekeliling. “Mungkin fakta bahwa kita dikunci di sini tidak ada hubungannya dengan hilangnya mayat. Pasti ada rahasia yang tersembunyi, yang belum kita sadari.”

“Rahasia?”

Tsukiyo dan Nazuna menoleh ke arahku dan bertanya serempak.

Aku mengangguk.

“Aku pasti akan memecahkan misteri ruangan terkunci ini!”

Aku menyatakan hal itu, seolah-olah meyakinkan diriku sendiri—dan agar suaraku terdengar oleh si pelaku—

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar