BAR ‘Goodbye’ - Yaki Hajiki Bagian 1
Jalan pertokoan yang perlahan meredup selama sekitar 30 tahun, kini menjadi lorong tertutup di mana hanya sedikit toko yang masih buka. Hitunglah dari pintu masuknya, di sebelah kanan, di antara toko ketujuh dan kedelapan. Di sana, ada sebuah lorong sempit yang nyaris hanya bisa dilewati satu orang.
Masuk ke lorong itu, belok kiri, kanan, lalu kiri, maka akan terlihat papan nama ‘Klinik Kuroi’. Pintu tua di bawah papan nama itulah pintu masuk menuju BAR ‘Goodbye’.
Tempat ini telah berkali-kali dibuka dan ditutup, dengan pergantian pemilik, nama, dan gaya. Mulai dari kafe murni dengan kopi yang berkelas, hingga snack bar yang menyediakan karaoke dan wanita penghibur. Konon, tempat ini juga pernah menjadi mahjong parlor untuk judi ilegal atau bahkan dart bar.
Nama toko yang terakhir menempati lokasi ini adalah ‘Goodbye’. Sebuah nama yang pas untuk sebuah akhir. Itu adalah bar dengan suasana menyenangkan di mana seorang bartender pendiam akan menyiapkan berbagai koktail. Tidak ada catatan yang tersisa tentang di mana dan bagaimana bartender itu sekarang. Khusus ‘Goodbye’, tampaknya tidak ada pelanggaran hukum yang terjadi.
Setelah tutup, tempat ini diam-diam digunakan sebagai markas rahasia oleh preman jalanan dan anggota yakuza untuk bisnis ilegal mereka. Ada seruan dari warga kota untuk merobohkannya, tetapi ada banyak bangunan lain di lorong tertutup itu yang harus dirobohkan, dan pihak administrasi pasti pusing memikirkannya. Namun, akhir-akhir ini, bahkan preman dan tunawisma pun konon tidak mendekati tempat ini. Mungkin, orang yang tahu cara menuju tempat itu kini sudah lenyap.
Yaki Hajiki, dalam waktu setengah hari setelah berpisah dengan detektif lain, berhasil mendapatkan informasi tentang ‘Goodbye’. Masa lalu tempat itu yang pernah digunakan untuk judi ilegal, secara kebetulan tersangkut dalam jaringan informasi Hajiki.
11 Januari, pukul 10 malam lewat—
Hajiki, ditemani 2 pria, menaiki taksi menuju ‘Goodbye’.
“Maaf sudah memanggilmu mendadak, Ōba.”
Hajiki berbicara kepada pria muda yang duduk di sebelahnya. Pria itu memakai topi terbalik, T-shirt mencolok, dan jaket down sehelai. Namanya Ōba Ryō . Ia adalah rekan Hajiki yang pernah mengobrak-abrik tempat-tempat judi bersama. Dialah yang berhasil menemukan lokasi ‘Goodbye’.
“Wah, suatu kehormatan bisa membantu Aniki. Daerah sini adalah daerah asalku, jadi aku cepat mengetahuinya. Jadi—apa hasil buruan kita kali ini?”
“Bukan, kali ini bukan soal judi.”
“Yah, kupikir aku bisa mengamuk lagi bareng Aniki, jadi aku sempat bersemangat. Sungguh kejam dunia ini, ya.”
“Bukankah kau sudah bersumpah meninggalkan dunia judi?”
“Iya, tentu saja. Aku sudah punya anak juga, kan. Dan aku sudah kapok dengan judi. Kukira di dunia yang didominasi oleh keberuntungan, orang bodoh sepertiku yang dari keluarga miskin dan tak berpendidikan pun bisa sukses… Tapi ternyata di dunia seperti itu pun, aku bahkan bisa dihajar habis-habisan oleh bocah yang jauh lebih muda dariku… Jadi, aku sadar.”
“Jangan-jangan, rumor tentang kau dikeruk habis-habisan oleh gadis gothic lolita misterius itu benar?”
TN Yomi Novel: tau lah siapa, ini Celestia Ludenberg
“Bukan cuma rumor, Aniki, itu kisah nyata.”
“Sungguh memalukan. Kalau aku, 5 detik juga sudah kuhancurkan. Di mana bocah itu sekarang?”
“Aku tidak tahu. Dia muncul begitu saja dan menghilang begitu saja,” kata Ōba sambil menghela napas berlebihan. “Dibandingkan itu, ada apa di ‘Goodbye’ ini? Kalau ada yang bisa dijadikan mangsa, izinkan aku membantu, Aniki.”
“Dasar mentalitas bajingan! Jangan salah paham, ini kasus pembunuhan.”
“Kasus pembunuhan…?”
“Begitulah. Ini bukan bidang keahlianku. Aku hanya diminta mengumpulkan informasi.”
“Menjadi detektif juga sulit, ya.”
Ōba, tiba-tiba kehilangan minat, lalu merapikan posisi topinya dan tenggelam ke jok mobil.
“Kita sebentar lagi sampai,” kata pria di kursi depan sambil menoleh.
Di saku jas pria itu ada lencana nama dari jaringan properti real estat. Namanya Arai Gunzō. Perusahaan real estat tempat ia bekerja mengelola banyak toko kosong di jalan pertokoan itu.
Hajiki adalah tipe orang yang rela menggunakan cara ilegal dalam aktivitas detektif, tapi kali ini ia memilih jalan yang benar. Untuk memasuki ‘Goodbye’, ia memanggil perusahaan pengelola bangunan. Biasanya ia akan mendobrak kunci dan menyusup, tapi karena ini lebih seperti pekerjaan sukarela, tidak perlu mengambil risiko berbahaya.
“Ngomong-ngomong, Ōba.”
“Ya?”
“Kapan ulang tahunmu?”
“Ada apa, Aniki? Mau memberiku sesuatu?”
“Sudah, kasih tahu saja.”
Ōba Ryō, Tanggal Lahir: 29 September
“Hmm. Paman, kalau kau?”
Hajiki bertanya pada Arai di kursi penumpang di depan.
“Eh? Saya?”
Arai Gunzō, Tanggal Lahir: 1 November
“Kau jadi suka ramalan, ya, Aniki?”
“Aku sedang mencari angka keberuntungan, untuk referensi saat membeli tiket pacuan kuda,” Hajiki mengelak sekenanya.
“Kalau menang berkat referensiku, beri aku 10%!”
“Dasar kau ini, masih saja pelit.”
Tiba-tiba, taksi berhenti.
Hajiki, Ōba, dan Arai turun dari taksi di pintu masuk jalan pertokoan.
Dinding-dinding shutter berjejer di kedua sisi jalan sempit yang sepi. Benar-benar seperti labirin. Di kegelapan di kejauhan, pasti ada sesuatu yang bukan manusia bersembunyi.
Di bawah lampu jalan, Arai membuka peta.
“Hmm… Sebenarnya, saya baru-baru ini ditugaskan di area ini, jadi saya kurang begitu menguasai lokasi toko-toko ini, tapi…”
“Pinjamkan saja kuncinya. Kau tunggu di sini.” Ōba mendesak untuk mendapatkan kunci.
“Tidak, saya tidak bisa begitu saja—”
Saat itu, ponsel berdering.
Semua orang merogoh saku mereka, tapi yang berdering adalah ponsel milik Arai.
“Permisi sebentar,” kata Arai, meminta izin, lalu menekan tombol jawab. “Ya, benar. Iya…”
Di samping Arai yang sedang berbicara di telepon, Hajiki yang tidak sabar mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan mengulumnya. Ia tidak menyalakannya. Sudah sekitar setahun ia berhenti merokok. Suatu hari, ia tiba-tiba merasa seolah menghembuskan keberuntungan bersama asap rokok, dan sejak saat itu ia berhenti. Itu hanyalah takhayul konyol, tapi di dunia perjudian, tidak sedikit orang yang terperangkap dalam takhayul yang jauh lebih tidak masuk akal.
“Maaf… suara teleponnya agak jauh… ‘Goodbye’? Ya, memang ada toko seperti itu, tapi…”
Suara Arai terdengar.
Hajiki dan Ōba saling pandang.
“Dia baru saja menyebut ‘Goodbye’ atau semacamnya, kan?”
“Ya, dia mengatakannya.”
“Hei, telepon dari siapa itu?” Hajiki mendekati Arai. “Siapa yang menelepon?”
“Tidak, saya juga tidak mengerti apa maksudnya…”
“Sini, pinjamkan.” Hajiki merebut ponsel itu. “Ah—Halo. Aku yang bicara sekarang. Nah, kau siapa?”
‘Tolong aku…’
Suara menyeramkan terdengar dari seberang telepon.
Seolah erangan hantu.
“Hah?”
‘Tanganku diikat… aku tidak bisa bergerak.’
“Apa yang kau bicarakan, hei.”
‘Kakiku juga diikat… sepertinya aku disekap.’
“Disekap?”
Hajiki menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar dan memeriksa layar. Namun, hanya tertulis ‘Nomor Tidak Dikenal’, dan nomor penelepon tidak terlihat. Dari nada suaranya, penelepon adalah pria yang sudah agak berumur.
“Hei, kau disekap di suatu tempat? Kenapa kau menelepon ke ponsel ini?”
‘Di depanku ada ponsel… aku mencoba menghubungi 110 (nomor darurat), tetapi tombolnya tidak merespons… setelah menekan tombol telepon, sambungan terjadi… Kumohon… panggilkan polisi…’
Suara itu serak dan sulit didengar.
“Kau ada di mana sekarang?”
‘Di korek api… tertulis BAR ‘Goodbye’…’
Dalam benak Hajiki, titik-titik mulai terhubung.
Komite Entah-Apalah itu sudah mengumumkan akan terjadi kasus pembunuhan di ‘Goodbye’. Kalau begitu, orang di seberang telepon ini pastilah korban yang menjadi sasaran organisasi tersebut.
Benar—permainan telah dimulai.
“Aku akan ke sana sekarang, tunggu aku!” Hajiki berbalik dan memberi isyarat mata pada Ōba. “Antar aku ke tokonya, cepat!”
“B-baik, Aniki. Lewat sini!”
Ōba mulai berlari.
“Kau juga ikut!”
Hajiki melambai ke Arai. Meskipun bingung, Arai mengikuti di belakang Hajiki dan Ōba.
“Hei, kau dengar aku?” Hajiki berseru ke arah ponsel. “Jangan tutup teleponnya, biarkan tetap tersambung!”
Mengikuti panduan Ōba, mereka berlari menyusuri jalan yang seperti labirin.
Gang belakang jauh lebih gelap daripada jalan utama, dan pipa-pipa yang menempel di dinding bangunan tampak menyeramkan, seperti tanaman asing. Tempat itu sudah bukan lagi labirin, melainkan hutan rimba di malam hari. Jika tersesat tanpa tahu apa-apa, mungkin mereka tidak akan pernah bisa kembali.
Sambil mengikuti Ōba, Hajiki mendial 110 di ponselnya sendiri. Ia sebenarnya tidak ingin berurusan dengan polisi, tapi karena orang di telepon memintanya, mau tidak mau ia harus melakukannya. Ia tahu jika ia lalai melapor, posisinya sendiri yang akan menjadi sulit di kemudian hari.
Setelah menjelaskan bahwa ada seorang pria di jalan pertokoan yang meminta pertolongan darurat, ia menutup telepon. Polisi di seberang sana mungkin sedang kebingungan.
Ōba menghentikan langkahnya.
“Di sini.”
Di tempat yang tanggung, di mana sulit diketahui batas satu bangunan dengan bangunan lain, pintu itu berada. Itu adalah pintu hitam pekat tanpa hiasan apa pun, yang tampak semakin gelap di tengah kegelapan, dan dipenuhi dengan kesunyian yang seolah menyedot suara-suara di sekitarnya.
Hajiki tanpa ragu memutar kenop pintu.
Namun, pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka.
“Hei, kau dengar aku?”
Ia menggedor pintu dengan kasar sambil berteriak.
‘Kau yang menggedor pintu? Kenapa kau bisa secepat ini…?’
Ada respons dari penelepon.
“Jangan pedulikan hal-hal kecil. Kau baik-baik saja?”
‘Ya… Sejauh ini, aku baik-baik saja, selain tidak bisa bergerak.’
Kesadaran orang di telepon sepertinya sudah pulih, karena kata-kata yang tadinya tidak jelas kini sudah jauh lebih baik.
Rupanya, ia berhasil bertindak selangkah lebih cepat daripada organisasi itu. Meskipun detektif bocah berwajah pucat itu berkata untuk tidak terlalu mendalami pelaku, tidak masalah jika insiden itu bisa dicegah sebelum terjadi. Hajiki saat itu sudah yakin akan mendapatkan gelar MVP.
“Aku akan buka pintunya sekarang, tunggu sebentar. Kunci!”
Hajiki berbalik dan memanggil Arai.
Arai mengeluarkan seikat kunci dari sakunya. Ada banyak kunci yang tergantung di cincin, dan masing-masing diberi nomor. Akan sangat sulit mencari kunci ‘Goodbye’ di antara semua itu.
“Siapkan dulu dong! Nggak berguna sekali kau ini.”
“Maaf… Tunggu, tunggu,” Arai semakin panik karena didesak. “Ketemu! Mungkin ini yang benar.”
Hajiki merebut kunci itu dan memasukkannya ke lubang kunci.
Kunci berputar.
Tampaknya itu adalah kunci yang tepat.
Hajiki mendorong pintu hingga terbuka dan melompat masuk.
“Uh… Ugh…”
Suara erangan tertahan terdengar dari suatu tempat.
Itu pasti penelepon tadi.
Namun, bagian dalam ruangan sangat gelap, nyaris tidak ada yang terlihat. Itu adalah kegelapan yang telah mengendap di sana untuk waktu yang lama, saking pekatnya hingga terasa sesak.
Satu-satunya yang terlihat hanyalah cahaya kecil yang samar-samar menyala di bagian belakang ruangan. Mungkin itu lampu meja di atas konter. Cahayanya sangat redup dan tidak meyakinkan, seolah-olah sengaja dikecilkan.
“Uh… Uuh…”
Di samping cahaya itu, seorang pria tersungkur.
Saat mendekat, situasi yang aneh itu perlahan mulai terlihat.
Pria itu adalah seorang lelaki tua berjas cokelat, duduk di atas stool dan tersungkur ke depan di atas konter. Kedua lengannya diikat di bawah konter, disatukan, dan diikatkan ke tiang stool dengan tali. Karena itu, dia tidak bisa mengangkat tubuhnya. Kedua kakinya juga diikat.
“Kau baik-baik saja? Hei…”
Hajiki hendak menyentuh bahu pria itu, tetapi tanpa sengaja ia menahan napas.
Sebilah pisau tertancap di punggung pria itu.
Pria itu gemetar sedikit-sedikit. Dia masih hidup. Tentu saja, ia baru saja berbicara di telepon. Itu berarti pria itu baru saja ditikam.
“Aniki, ada apa?”
“Aku nggak tahu! Pokoknya ada orang ditikam!”
“Hah?”
Ōba dan Arai mendekati konter dengan rasa takut.
Hajiki menyentuh leher pria yang tersungkur di konter itu. Masih hangat. Ada denyut nadi juga.
“Panggil ambulans! Dia mungkin masih bisa diselamatkan.”
“B-baik!”
Ōba mengeluarkan ponsel dari saku jaket down-nya. Dia mulai menekan tombol dengan panik.
Hajiki dengan hati-hati mengintip ke konter.
Lampu meja di konter menyinari tiga benda di dalam cahayanya.
Yang pertama adalah kotak korek api tua. Di permukaannya tertulis ‘BAR “Goodbye”’. Alamat dan nomor telepon juga tercantum. Ini pasti yang dikatakan pria di telepon yang dia lihat.
Yang kedua adalah ponsel lipat. Terbuka, dengan layar LCD menghadap ke atas. Saat ini, ponsel itu masih dalam kondisi terhubung. Hajiki mengambilnya, membungkusnya dengan tisu agar tidak meninggalkan sidik jari.
Ketika dia berbicara ke ponsel itu, suaranya sendiri terdengar sedikit tertunda dari ponsel yang dia ambil dari Arai tadi. Tidak salah lagi, kedua ponsel itu terhubung. Ketika dia memutus sambungan salah satunya, yang lain pun ikut terputus.
Dan yang ketiga adalah pulpen biasa saja. Tutupnya masih terpasang.
“Paman, kau tidak bisa menyalakan lampu di sini?” Hajiki bertanya pada Arai.
“I-iya… Kontrak dengan perusahaan listrik sudah diputus sejak lama.”
“Kau punya lampu senter tua? Tentu saja nggak, ya,” kata Hajiki pada dirinya sendiri, sambil berseru pada pria di konter. “Jangan mati, Pak Tua! Ambulans akan segera datang!”
“Aniki… Situasi ini gawat. Ini terlihat seolah kita yang melakukannya.”
“J-jangan takut!”
“Punya anak baru-baru ini, dan masuk penjara itu nggak lucu! Lelucon tentang ‘Ayah bekerja di balik jeruji besi’ itu sama sekali nggak lucu.”
“Tenang! Kau dan Paman jaga pintu masuk. Jangan biarkan siapa pun kabur dari sana.”
Ōba dan Arai mengangguk sambil gemetar, lalu kembali ke pintu masuk toko. Dari posisi Hajiki, hanya siluet mereka yang nyaris terlihat di tengah kegelapan.
Mungkinkah pelaku memanfaatkan kegelapan ini dan masih bersembunyi di dalam ruangan?
Hajiki mengambil lampu meja itu. Karena bertenaga baterai, ia bisa menggunakannya sebagai senter. Meskipun cahayanya sangat redup, seperti bohlam kecil.
Ia berkeliling menjelajahi ruangan. Di seberang konter terdapat dapur dan lemari cabinet, tetapi tidak ada tanda-tanda seseorang bersembunyi.
“Aniki!”
“Ada apa?”
“Aku baru teringat, bukankah toko ini punya pintu belakang di ujung sana?”
“Pintu belakang?”
Hajiki bergerak ke sudut toko, dan memang ada pintu aluminium yang terasa dingin di sana.
Namun, gagang pintu itu tidak bisa diputar. Kenop di bagian tengah gagang pintu sudah terbalik horizontal, yang berarti pintu itu terkunci.
Inikah yang disebut ruangan terkunci…
Hajiki berdecak kesal.
Sesaat sebelum Hajiki dan yang lain masuk, korban masih selamat dan bisa berbicara di telepon. Namun, ketika Hajiki masuk, pisau sudah tertancap di punggung korban, dan ia berada dalam kondisi kritis.
Apakah pelaku menikam korban sebelum Hajiki masuk, lalu melarikan diri ke suatu tempat?
Ke mana, tepatnya?
Jika pelaku kabur melalui pintu masuk, ia pasti akan berpapasan dengan Hajiki dan yang lain. Lagipula, pintu itu terkunci, dan kuncinya ada pada Hajiki.
Kalau begitu, apakah pelaku bersembunyi di dalam ruangan?
Kemungkinan itu tidak ada. Hajiki sudah memeriksa dengan cermat. Pelaku tidak ada di mana pun. Baik di balik konter, di dalam lemari, maupun di dalam jukebox tua yang mustahil dimasuki orang, semuanya kosong.
Kalau begitu, apakah pelaku kabur melalui pintu belakang?
Namun, pintu belakang juga terkunci dari dalam. Kunci itu adalah tipe thumb-turn sederhana, tetapi karena tidak ada celah pada pintu, mustahil mengoperasikannya dari luar menggunakan benang atau semacamnya.
Pelaku menikam korban dalam sekejap, dan menghilang dalam sekejap—
“Sialan… aku nggak bisa menyerah begitu saja!”
Dilarang untuk terlibat terlalu dalam.
Kata-kata itu benar-benar lenyap dari kepala Hajiki, yang harga dirinya sebagai detektif telah dilukai.
“Ōba! Tetap di sana sampai aku kembali!”
“Mau ke mana, Aniki?”
“Aku akan mengambil kembali kekalahan ini.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Hajiki tersadar.
Kata-kata itu adalah pantangan yang berarti kematian bagi seorang penjudi—
TN Yomi: 負けを取り返しに行く (make o torikaeshi ni iku) diterjemahin jadi mengambil kembali kekalahan ini (istilah umum dalam perjudian yang sering berakhir buruk).
Namun, ia tidak bisa menghentikan kakinya yang sudah bergerak. Hanya karena alasan bahwa kembali itu memalukan, Hajiki melampaui batas.
Ia membuka kunci pintu belakang dan melompat keluar.
Karena pelaku tidak ada di dalam ruangan, tidak ada kemungkinan lain selain dia keluar. Selain pintu masuk, hanya ada pintu belakang sebagai jalan keluar. Itu artinya, pelaku melarikan diri melalui jalur ini. Hajiki tidak tahu bagaimana caranya, tetapi pasti pelaku menggunakan semacam trik untuk mengunci pintu dari luar.
Persis di depan pintu setelah keluar, ada dinding.
Jalur sempit itu berlanjut ke kanan dan kiri.
Sebelah kiri adalah jalan buntu. Dinding bangunan menjulang dan menutup hingga ke atas kepala. Tidak mungkin bisa maju. Tiga peti kayu bir yang entah berasal dari zaman kapan tertumpuk di sana. Tentu saja, peti itu tidak cukup besar untuk menyembunyikan seseorang.
Hajiki berlari ke kanan.
Suasana gelap gulita hingga membuat kepala pusing. Cahaya dari lampu meja di tangannya bahkan tidak mampu menerangi jauh ke depan. Tanpa peta maupun senjata, Hajiki merasa seperti berjalan di hutan rimba yang dihuni monster mengerikan, dan ia merasakan lagi sensasi ujung jarinya yang berdenyut-denyut, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.
Ya, ini dia.
Dahulu, ia menikmati sensasi itu melalui berbagai perjudian. Namun lambat laun, itu menjadi kebas. Namanya juga kejenuhan.
Dari sana, ia sampai pada pekerjaan sebagai detektif. Mengakali orang-orang yang berbakat dan cerdas, lalu mengambil keuntungan dari mereka. Jantungnya berdebar, seperti saat ia masih kecil. Kadang-kadang ia bahkan mendapat ucapan terima kasih dari klien. Seorang preman pun bisa menjadi pahlawan.
Narkoba pun bukan tandingannya.
Sensasi menjadi pahlawan.
Ayo lari.
Di depan Hajiki, jalan berbelok ke kanan.
Dalam kondisi high yang bercampur antara rasa takut dan kegembiraan, ia berbelok—
Tiba-tiba, sesosok bayangan kecil muncul di sana.
Hajiki tanpa sadar menahan napas dan melompat mundur.
Refleksnya telah menyelamatkan dirinya berkali-kali. Kali ini juga, itu memberinya waktu untuk mengamati orang di depannya.
—Anak-anak?
Seorang anak, entah laki-laki, dengan kecantikan misterius yang tampak tidak manusiawi, tersenyum kecil—
atau perempuan?
Di sana, berdiri seorang anak bergaya asing yang mengenakan rompi. Jaketnya yang dilepas diletakkan di salah satu lengannya. Warna kulitnya tampak seperti antara hidup atau mati, yang berpadu dengan kegelapan di sekitarnya, seolah-olah sisi di seberangnya tembus pandang. Dan ada aroma khas. Mungkinkah itu sejenis parfum?
Dia—atau mungkin dia adalah perempuan?—berdiri di tengah kegelapan dengan ekspresi tenang, menghalangi jalan.
Jangan-jangan anak ini?
“Kau… apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?”
“Salah sasaran.”
“Hah?”
“Tidak ada seorang pun yang datang ke arah sini.”
Suaranya yang riang mengingatkan Hajiki pada suara organ pipa.
Itu adalah suara yang seolah menikmati situasi ini.
“Kalau begitu, kau pelakunya, ya?” kata Hajiki sambil menyingsingkan lengan baju.
“Jawabannya sudah kukatakan sejak awal. Salah sasaran.”
“Jangan bercanda! Kalau bukan, kenapa anak sepertimu berada di tempat begini? Sepertinya kau juga tahu situasi di sini… Kau ini siapa?”
“Aku datang untuk memperingatkanmu. Mereka pasti tidak ingin menimbulkan korban yang tidak perlu.”
“Hah?”
“Jangan maju lebih jauh dari sini.”
“Bukan urusanmu!”
Hajiki mengulurkan tangan, hendak mencengkeram kerah anak itu.
Namun, anak itu mengelak dengan lincah.
Kemudian, ia tersenyum seolah menyerah dengan nada ya sudahlah, dan seketika menghilang di ujung jalan.
“H-hei, tunggu!”
Hanya aroma misterius yang tersisa dalam kegelapan.
“Sialan, aku nggak bakalan membiarkan ini berakhir dengan aku yang terus direndahkan!”
Hajiki berlari mengejar anak yang menghilang itu.
