Saranami (LN) Jilid 1 Bab 10 - Janji di Balik Wajah yang Menangis

Hikari mengajak Taa-kun ke festival budaya, tapi responsnya memicu kecanggungan dan konflik perasaan di antara mereka.
Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita 1 - Chapter 10
Saranami Vol 1 Bab 10 - Janji

Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 10 - Janji di Balik Wajah yang Menangis

September tiba, dan semester kedua pun dimulai. 

Pemandangan pagiku—pemandangan pagi kami—telah berubah sedikit... 

Tidak, rasanya sudah tidak ada gunanya lagi bersikap rendah hati; pemandangan itu sudah berubah total.

 

"Pagi, Taa-kun."

"Yo."

Pertukaran sapaan pagi yang sangat sederhana itu tidak lagi terjadi di stasiun terdekat dari rumah kami seperti saat semester pertama lalu. 

Sekarang, aku sedang menyandarkan punggungku pada pilar gerbang yang terukir papan nama "Shirasaka". 

Ya, dengan kata lain, aku menyambutnya yang baru saja keluar dari rumah setelah menunggunya beberapa saat sebelumnya—sebuah skenario yang sangat umum (atau mungkin saja terjadi) di antara teman masa kecil.

"Pagi ini pun kamu cepat ya, Hikari."

"Soalnya persiapan festival budaya sudah dimulai~"

Kami tidak janjian. Namun, aku juga tidak perlu lagi berpura-pura kalau ini adalah sebuah kebetulan. 

Aku menunggunya di depan rumah, dan dia menerimanya seolah itu hal yang wajar. 

...Sejak semester kedua dimulai, "janji temu" seperti ini sudah menjadi rutinitas harian kami.

"Berarti pas minggu libur nasional, ya? Enak banget~, sekolahku baru bulan November."

"Aku malah penginnya bulan segitu saja. Kalau sekarang mah masih panas banget."

Sambil bercerita, kami berjalan berdampingan secara alami menyusuri jalan menuju stasiun. 

Dulu, aku selalu berpura-pura berpapasan secara tidak sengaja di stasiun sebelum menyapanya. 

Tapi sekarang, hal semacam ini sudah tidak terasa aneh lagi bagi kami. 

Kami merasa tidak apa-apa melakukan sejauh ini. 

Bagi aku dan dia, hal-hal seperti ini sudah dianggap biasa. 

Sebab, kami telah melewati "pengalaman musim panas" yang cukup berkesan.

...Yah, meski tidak ada kontak fisik yang spesifik atau langsung, sih!

"Terus, kelasmu mau buat apa?"

"Maid Cafe."

"Klasik banget ya... Itu pasti hasil paksaan dari fraksi otaku di kelasmu, kan?"

Yah, meski dia bilang begitu, kenyataannya alasan 『persiapan festival budaya』 ini benar-benar menjadi kedok yang sempurna bagiku. 

Selama setengah bulan ke depan, mau itu pagi buta atau larut malam, aku akan dengan senang hati menggunakan kalimat sakti ini sebagai alasan untuk menunggunya. 

...Yah, meski jadwal persiapannya memang sangat padat, sampai-sampai aku sangsi apakah kami benar-benar punya waktu untuk sekadar mengobrol berdua.

 

Yah, hal semacam itu sudahlah. Tidak baik juga sih, tapi untuk sekarang lupakan dulu.

"Terus, anu..."

"Hm~?"

Hari ini, atau lebih tepatnya saat ini juga, ada sesuatu yang harus aku selesaikan bagaimanapun caranya! 

Karena hubungan kami sudah berubah, meski hanya sedikit. 

Justru karena itulah, keinginan yang sedikit lebih berani dari biasanya mulai meluap dari dalam diriku...

"Festival budaya di sekolahku itu pakai sistem undangan, lho."

"Ah~ kalau tidak salah aku pernah dengar. Tiap murid cuma dikasih satu tiket, kan? Populer banget ya festival di sekolahmu."

"Dan tiket itu, sekarang ada di sini..."

"Ah..."

Benar, seperti yang dia katakan, festival budaya di sekolahku memang cukup populer di kalangan murid sekolah lain. 

Katanya sih begitu. Kemarin, saat tiket dibagikan ke tiap orang, suasana kelas langsung heboh dengan omongan seperti, 『Hei, kamu mau ajak siapa?』 atau 『Ada yang punya tiket sisa nggak!?』. Bisa dibilang itu semacam perpaduan antara perang perebutan dan perang informasi yang unik.

"...Mau dikasih ke aku?"

"Yah, kalau aku lagi mau, sih."

"Eh, tiket selevel platinum ticket begitu. Kamu nggak perlu memaksakan diri demi aku..."

"Ini bukan soal memaksakan diri, tahu~!"

"O-oh, gitu...?"

Sebenarnya, ada beberapa alasan kenapa aku melakukan jurus "ajakan maut" yang agresif namun tetap (sok) sopan seperti ini. 

Pertama, alasan klasik: tekanan dari sahabat-sahabatku, Haru dan Yuki, yang bilang, 『Cepat tunjukkan pacarmu itu!』 

Kedua, soal legenda urban yang romantis... atau tepatnya, kisah-kisah emo yang biasa ada di sekolahku—yah, mungkin di semua sekolah juga ada sih. Tahu kan, soal: 『Pasangan yang jadian karena si gadis menyatakan cinta saat festival budaya bakal (dan seterusnya)』.

 

Dan alasan yang terakhir adalah... tentu saja sudah jelas. 

...Aku ingin menikmati festival budaya bersama orang ini. 

Keliling kelas, makan-makan, heboh bareng, dan tertawa. 

Aku ingin menghabiskan waktu yang tak tergantikan seperti itu. 

Lalu, setelah acara masa muda itu selesai, aku juga ingin gantian diundang ke festival budaya di sekolahnya. 

Kemudian, kami bakal ketahuan sama teman-teman sekelasnya dan jadi sedikit gempar.

 

『Heh! Siapa tuh cewek yang bareng kamu!?』

『Sudah kubilang dia cuma teman masa kecil!』

 

Aduh, dia malah gelisah sendiri... dan itu kelihatan banget sampai bikin aku hampir tertawa!

"……Hikari?"

"Ups."

……Yah, sudahlah. Soal apa yang bakal terjadi nanti memang belum ada yang tahu.

Tapi tiket ini adalah tiket sekali jalan penuh harapan yang mungkin saja bisa menyambungkan aku ke masa depan itu. 

Tapi...

 

"Emm... tapi ya..."

"……Taa-kun?"

"Bukannya apa-apa, aku senang kok kamu mengajakku, dan aku beneran tertarik juga."

Reaksinya berada di antara skenario terbaik dan terburuk yang kubayangkan, tapi rasanya agak sedikit condong ke arah terburuk.

"Tapi untuk kali ini, kayaknya agak..."

"Nggak bisa, ya?"

"Habisnya, kalau ke sekolahmu itu berarti..."

"Ada apa dengan sekolahku?"

"Eh, sori, aku salah ngomong."

Entah kenapa, aku tidak menyangka dia bakal sebingung ini. 

Rasa terkejut yang kurasakan kali ini kualitasnya berbeda dari yang sudah-sudah.

"Kamu... ada acara lain?"

"Nggak, bukan gitu juga, sih..."

Ternyata, bukannya "memang belum saatnya", tapi "memang tidak akan pernah terjadi", ya. 

Yah, namanya juga "hanya teman masa kecil", wajar saja kalau dia tidak mau "disalahpahami". 

Payah banget aku ini, terlalu buru-buru... Lagian, aku ini sedang salah paham soal apa, sih? 

Terlalu agresif begini malah bikin dia menjauh, kan. 

Ayo, katakan. Katakan 『Oke』

Katakan, 『Sip! Anggap saja obrolan ini nggak pernah ada!』, lalu hapus semuanya.

 

"Terus, kenapa...!?"

"Eh...?"

Duh, payah banget. 

Aku kan tahu kalau bertingkah begini cuma bakal bikin dia ilfeel. 

Ada apa sih denganku? 

Akhir-akhir ini, kenapa aku jadi tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri?

"Maksudku, Hikari... selama ini kamu nggak pernah mengajakku dengan cara begitu, kan?"

"……Belakangan ini kan aku memang sering begitu."

Tuh, bener kan, dia ilfeel! 

Kalau begini, aku tidak ada bedanya sama Seki-san, adik kelas yang menembak dengan paksa lalu berakhir bunuh diri secara sosial itu... 

Menyebalkan banget ya, perempuan tipe begini. 

Aku jadi sangat egois padanya. 

Cara bicaraku malah jadi sok seperti pacarnya. 

Ini sih sudah pasti bakal berakhir dengan penolakan...

 

"Oke, sudah... lupakan saja...!"

"E-eh, Hi-Hikari!?"

Gawat, kali ini kalimatku memang sudah benar, tapi caraku mengucapkannya salah besar! 

Kenapa suaraku harus tersendat begini? 

Kenapa aku malah mengeluarkan suara seperti mau menangis? 

...Yah, alasannya sudah jelas, sih, karena aku memang benar-benar mau menangis.

"I-iya, aku paham! Maaf, aku bakal datang! Aku pasti datang, kok!"

"......Makanya aku bilang sudah tidak apa-apa, lupakan saja."

"Jangan begitu, kumohon..."

"Habisnya... kalau kamu menerimanya cuma karena terpaksa, rasanya kan..."

Aduh, padahal aku sudah berhasil memenangkan jawaban "oke" lewat negosiasi yang alot, tapi sekarang aku malah mencoba menghancurkannya dengan tanganku sendiri! 

Aku ini tipe yang merepotkan banget ya? 

Sampai-sampai aku sendiri bingung gimana cara membela diri...

"Aku beneran senang kamu mengajakku! Sumpah!"

"Baru sekarang kamu berusaha kasih follow-up mati-matian begitu..."

Mundur! Ayo cepat mundur, diriku! 

Jangan malah merajuk nggak jelas! Jangan dibikin makin rumit! Jangan bertingkah sok feminin! 

Ayo cepat kasih tiketnya sambil bilang 『Oke, sampai nanti ya~!』 dengan santai!

"Tolong! Izinkan aku menerima tiket platinum itu! Aku mohon~!"

"Beneran ya? Ini tuh barang yang sangat berharga, lho. Kamu paham, kan?"

"Iya, iya, aku paham kok~!"

 

Soal kelakuanku pagi ini... ya, aku benar-benar tidak bisa membela diri lagi.

※ ※ ※

"Hooo, jadi tiket festival budayanya sudah aman di tangan si pacar, nih?"

"I-iya... tapi dia belum jadi pacarku."

Begitulah, di dalam kelas setelah jam pelajaran usai, aku kembali diinterogasi seperti biasa tentang kejadian "pahit" tadi pagi.

"Kalau gitu Hikarin, kali ini kamu sudah benar-benar siap mental, kan~?"

"I-itu, soal itu... ee-ng... iya."

Seperti biasa... aku dikelilingi oleh teman-temanku, meski kali ini jumlahnya sedikit lebih sedikit dari biasanya. 

Karena bakal jadi bencana fatal kalau sampai berita sensasional semacam 『Aku hampir menangis di depan teman masa kecilku tadi pagi』 bocor, aku memutuskan untuk membeberkan fakta kulitnya saja: 『Aku mengajak teman masa kecilku ke festival budaya dan dia setuju』, demi menghindari interogasi lebih lanjut.

 

"Aah, ini sih pola yang biasanya."

"Membungkus kegagalan buat menyatakan cinta di momen krusial jadi seolah-olah 'cerita indah', padahal cuma alasan buat menunda-nunda saja~."

"Heii! Jangan asal menyimpulkan begitu, dong!?"

"Sudah, sudah, tenang dulu, Gadis Serigala."

"Kamu pikir aku bisa tenang setelah dikasih julukan nggak terhormat begitu!?"

"Tapi ya, kami beneran menantikannya lho, Hikarin. Soalnya ini pertama kalinya buat kami ketemu Taa-kun."

"Jangan bilang Taa-kun itu 'laki-laki pertama'-ku, dong!"

"Cara kamu salah paham itu agak maksa lho, Hikari..."

Yah, berkat itu aku pun jadi sasaran empuk bahan candaan mereka seperti biasanya. Benar-benar sudah jatuh tertimpa tangga. Tapi ya, daripada mereka malah jadi khawatir beneran atau malah makin parah memanas-manasiku, mending begini saja.

Di dalam kelas, bukan cuma ada aku, Haru, dan Yuki. Teman sekelas laki-laki dan perempuan sibuk keluar masuk, tapi khusus hari ini... tidak, khusus minggu ini dan minggu depan, meski kami membicarakan rahasia tingkat tinggi sekalipun, (seharusnya) tidak perlu khawatir bakal bocor ke luar.

Pasalnya, seperti yang tadi jadi topik pembicaraan, festival budaya sekolah kami akan diadakan akhir pekan depan. Di waktu dan tempat seperti sekarang, semua orang sedang sibuk setengah mati dengan persiapan masing-masing, jadi tidak ada yang punya waktu luang untuk menguping obrolan orang lain.

Memanfaatkan situasi khusus itu, kami merapatkan meja di pojok kelas, saling mendekatkan wajah, dan sibuk melakukan pekerjaan menjahit sambil asyik mengobrol. 

Alasan kenapa geng berempat kami tidak lengkap adalah karena Aya-chan sudah kabur duluan ke tim belanja dengan alasan, 『Aku nggak bakat jahit-menjahit!』

"Tapi ya, lucu juga kalau dipikir-pikir kita melakukan hal yang sama persis dengan personel yang sama persis kayak tahun lalu."

"Eh~? Kan baju yang kita bikin beda sama tahun lalu."

"Bener banget~. Tahun lalu tuksedo, tahun ini baju maid~."

Setengah dari apa yang dikatakan Haru memang benar. Kami bertiga juga sekelas tahun lalu, dan kami juga bermain "si tukang jahit" seperti ini. 

Tahun lalu untuk menyiapkan kostum Kafe Butler Cafe, dan tahun ini untuk Maid Cafe.

"Bukan cuma itu lho. Ingat nggak, tahun lalu dan tahun ini kita sama-sama heboh ngomongin 'cowok yang lagi ditaksir' sama Hikari."

"Iya juga ya, pernah ada momen itu..."

Dan tahun lalu, isinya adalah rumor tentang gadis yang membuatku penasaran. 

Tahun ini, isinya adalah rumor tentang cowok yang membuatku penasaran.

Benar, sekitar waktu yang sama tahun lalu pun, perasaanku sama kacaunya dengan sekarang. 

Mungkin orang bakal bilang aku ini cuma cewek yang high tension sepanjang waktu... yah, mungkin memang ada benarnya juga sih.

Tapi, berkat perasaan yang meluap-luap itu, tahun lalu aku berhasil menambah satu lagi sahabat yang tak tergantikan.

Karena festival budaya itu istimewa.

Sebab itu adalah hari di mana kita bisa melakukan hal-hal yang biasanya mustahil dilakukan, berkat atmosfer perayaannya yang kental. 

...Hari di mana perasaan kita bisa saling terhubung dengan orang yang disukai. Pasti.

 

"Aku pulang... Ini kain tambahannya, sudah kubeli."

Di saat kami bertiga sedang tenggelam dalam nostalgia, si "orang keempat", Aya-chan, kembali dengan rambut hitam pendeknya yang bergoyang.

"Wah, pas banget! Panjang umur!"

"Waktunya tepat sekali ya, Aya-chin."

"Hah? Apaan sih?"

"Kami baru saja heboh membicarakanmu tahu, Aya-chan~!"

"Topik yang mana? Kalau soal kejelekanku, pilihannya terlalu banyak sampai aku nggak tahu yang mana yang kalian maksud."

"Kok langsung berasumsi kami ngomongin kejelekanmu, sih!"

"Seberapa nggak percayanya sih kamu sama kami, Aya-chin..."

"Ahaha, tapi memang begitulah sifat khasnya Aya-chan ya~"

Sambil meninggalkan dia yang terpaku sendirian karena bingung, kami bertiga saling bertatapan dan tertawa kecil.

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar