![]() |
| Saranami Vol 1 Bab 9 - Perubahan |
Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 9 - Perubahan Kecil yang Sangat, Sangat Besar
Musim panas yang panjang... masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Namun, tetap saja ada hal yang harus berakhir tepat sesuai jadwal.
"Ah, Taa-kun, selamat datang kembali."
"Duh, kamu cepat banget sih datangnya, Hikari!"
"Ya iyalah, kan hari ini upacara pembukaan semester baru. Kita berdua pasti cuma sampai siang saja, kan?"
"Ya, memang benar sih..."
Kamar Yuu-kun, tempat yang sudah seperti markas pribadiku.
Meski begitu, sekarang masih jam satu siang lewat sedikit, benar-benar masih tengah hari bolong.
Sebab, dunia kini sudah memasuki bulan September...
Di hari pertama sekolah ini, baik aku maupun dia sudah dibebaskan dari tugas sekolah sejak pagi hari tadi~.
Ya, bagi aku dan dia, liburan musim panas yang penuh drama itu telah usai.
...Namun, musim panas itu sendiri belum berakhir.
Belakangan ini di Jepang, hawa panas rasanya datang lebih awal dan perginya makin lama.
Suhu di awal September masih dengan mudahnya menembus angka 30°C.
"Tapi akhirnya ya, AC-mu beneran sudah sembuh~"
"Libur musim panas kemarin bener-bener berasa kayak di neraka..."
Dia sekarang memasang ekspresi sangat puas sambil berdiri di depan AC yang mulai mengeluarkan embusan angin dingin.
Dia menarik kerah bajunya, membiarkan udara sejuk itu masuk ke dalam pakaiannya. Ujung-ujungnya, perbaikan AC yang rusak sejak akhir Juli itu baru bisa terealisasi di penghujung Agustus karena sulitnya mengatur jadwal tukang servis.
Gara-gara itu, selama bulan Agustus, aku hampir tidak bisa berlama-lama di kamar ini. Kalau mau menghabiskan waktu bersama Yuu-kun, pilihannya adalah pergi ke luar rumah. ...Yah, sebenarnya bagiku pribadi, meski harus kepanasan dan mandi keringat sekalipun, menghabiskan waktu bersamanya di kamar ini adalah hal positif.
Hanya saja, kalau tiap sebentar otakku terus-terusan "diserang" imajinasi liar ala manga dewasa, bisa-bisa kewarasanku nggak bakal sanggup menahannya.
"Ngomong-ngomong, Hikari."
"Hm~ ada apa?"
"Aku mau ganti baju sekarang..."
"Ah, jangan sungkan-sungkan, lanjut saja~"
"Bukan gitu, maksudku..."
"Eh, apa?"
"...Nggak jadi, lupakan."
...Hm~?
Lho? Kok kayak ada yang beda dari biasanya?
Candaanku barusan kok nggak dibalas sama candaan dia lagi...?
Biasanya kan alurnya: 『Jangan ngintip ya~』 terus aku jawab 『Nggak bakal lah~』. Tapi barusan kayak terputus di tengah jalan dengan cara yang aneh...?
Aneh banget.
Padahal aku selalu berusaha keras menjaga "kebiasaan" kami, mengulang reaksi yang sama supaya semuanya tetap terasa normal.
Kalau sesuai simulasiku, harusnya setelah ini aku mendengar helaan napas 『Haaah』 tanda dia lelah menghadapiku.
Tapi yang terdengar malah embusan napas 『Hah』 yang kedengarannya... campur aduk dengan rasa bingung?
Ada apa? Kenapa sih?
"Oya Hikari, gimana hari pertama sekolah setelah sekian lama?"
"Emm, nggak banyak yang berubah sih..."
"Ooh."
Aku hampir saja memiringkan kepala karena heran.
Tapi tak lama kemudian, dia melontarkan candaan yang kedengarannya "normal", jadi keraguan kecil tadi langsung kusingkirkan ke sudut kepala.
"Habisnya, aku kan masih sering ketemuan sama geng berempatku itu pas liburan musim panas."
"Kamu emang anak gaul banget ya soal gituan."
"Lagipula, yang nggak berubah itu kan kita juga~. Pas liburan pun kita main bareng hampir tiap minggu."
"---... Iya, bener juga."
...Hmmmm~?
Eh?
Tapi tetep aja ada yang beda, kan?
Obrolan kita kok rasanya jadi nggak nyambung begini?
『Ih, kalau sama kamu sih nggak ada yang berubah sejak zaman SD juga kali.』
『Yee! Kalau ngomong gitu berarti ceritanya tamat dong, Taa-kun!』
『Ahaha, sori-sori.』
...Terus, skenario masa depan yang sudah kususun tadi ke mana?
Hari ini akurasi simulasiku buruk banget.
Ada apa ya? Kok nggak lancar...
Apa tanpa sadar aku sudah bikin dia kesal hari ini?
"Te-terus kalau Taa-kun gimana? Hari pertama sekolahnya?"
"Nggak ada apa-apa juga, sih."
"Masa nggak ada temen yang glow up pas liburan? Misalnya ngecat rambut, pakai tindik, atau tiba-tiba ada temen sekelas yang jadian gitu?"
Karena merasa obrolannya tidak nyambung, aku jadi sedikit panik. Aku mencoba memperbaiki atmosfer canggung ini secara paksa dengan mengambil inisiatif dalam percakapan.
Aku memilih topiknya sendiri, terus mencoba mengarahkan jalannya obrolan sampai dia mau ikut menanggapi, pokoknya aku terus saja mengoceh tanpa henti...
"Ah, ngomong-ngomong..."
"Hm~? Apa-apaan? Ada anak yang penampilannya berubah drastis atau gimana?"
"Ada kouhai kenalanku, dia... tadi berangkat sekolah bareng pacar barunya."
"............ Eh."
"Eh."
Padahal aku sudah memantapkan tekad, tapi suasananya malah mendadak membeku!
"I-itu... anak itu... maksudnya..."
"Ah, bukan, dia bukan orang yang kamu kenal kok. Bukan dari SMP yang sama, dia setingkat di bawahku."
Bohong! Aku pasti tahu anak itu!
Habisnya, itu pasti Seki-san, kan!?
Kouhai yang sedikit menhera (※menurut pendapat pribadi) yang sempat menembak Taa-kun sebelum liburan musim panas kemarin!
"Ta-tapi... a-aku mau dengar dong soal itu~!"
Iya, aku pengin banget dengar! Aku harus memastikan dengan detail dan saksama apakah anak itu sudah benar-benar jadi "zona aman" sekarang.
Saking pengin tahunya, aku sampai tidak peduli lagi dengan atmosfer canggung atau obrolan yang tidak nyambung tadi!
"Enggak, kayaknya... sori, aku tadi asal bicara saja. Lupakan."
Melihatku yang mengejarnya dengan begitu menggebu-gebu, dia malah jadi ciut lagi.
Dengan wajah yang tampak sedikit canggung, dia duduk bersandar membelakangiku agar tidak perlu bertatapan, lalu mulai memainkan ponselnya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ayolah, ayolah, ayolah! Nggak apa-apa kali! Ceritain yang detail dong~"
"He-hei! Berhenti!"
"Hubunganmu sama cewek itu gimana? Tadi kamu bilang 'pacar baru', kan? Jangan-jangan dia mantan pacarmu, Taa-kun?"
Namun, rasa penasaran (dan rasa gelisahku) kini jauh melampaui usahanya untuk kabur.
Aku menyandarkan punggungku ke punggungnya seperti biasa, tidak membiarkan celah baginya untuk menghindar dari interogasiku.
"Ayo~ ngaku saja~. Kamu dulu pacaran sama kouhai itu, kan~?"
"Sudah kubilang berhenti..."
"Eeeh~? Kenapa, kenapa~?"
Benar, ini "seperti biasa".
Aku akan menerobos situasinya dengan 『keakraban teman masa kecil』 seperti biasanya. Lalu kalau dia benar-benar mulai marah, aku tinggal kabur dengan alasan, 『Duh, cuma bercanda kali~』 seperti yang selalu kulakukan.
Tapi…
"He-hei, Hikari..."
"Hm~?"
"Ini... kejauhan... maksudku, terlalu dekat."
"Tuh kan, mau mengalihkan pembicaraan lagi~"
"Bukan, ini serius..."
"............"
"............"
Ternyata hari ini, kami benar-benar jauh dari kata "seperti biasa".
Ini bukan diriku yang seperti biasanya.
Bukan, bukan begitu. Aku sudah berusaha keras untuk bersikap seperti biasa.
Tapi, dialah yang tidak seperti biasanya...
"……Sori, hari ini, aku agak sedikit..."
"……Enggak, aku yang terlalu berisik, ya. Maaf."
"Bukan itu. Bukan itu maksudku."
"……Taa-kun?"
Rasanya seolah-olah dia sedang menyadari sesuatu.
Hanya berdua, di dalam kamar.
Saling menempelkan punggung satu sama lain.
Membicarakan tentang lawan jenis.
Padahal sebelum libur musim panas, dia tidak pernah menunjukkan reaksi seperti ini.
Tidak, bahkan selama liburan pun, tidak pernah ada.
Ah, tapi...
Kalau diingat-ingat, selama liburan musim panas, kami hampir tidak pernah "benar-benar hanya berdua saja", kan?
Meski kami main bareng hampir setiap minggu, tapi itu di kolam renang, di festival kembang api... selalu di tempat yang ada orang lain di sekitar kami.
……Eh, tapi tunggu?
Hanya karena sekarang kami cuma berdua, dan hanya karena topiknya sedikit sensitif, mungkinkah dia—yang selama ini "tidak punya perasaan padaku"—tiba-tiba mulai menyadari kehadiranku seserius ini?
"…………"
"…………"
Punggungku terasa panas.
Mana ya... punggung siapa yang sebenarnya terasa panas?
Padahal AC-nya seharusnya sudah diperbaiki.
Seharusnya rasa panas dariku, dan juga darinya, bisa mendingin... tapi nyatanya...
Shirasaka Hikari, 16 tahun...
Dan Takamura Yuu, 16 tahun...
Setelah itu, kami tidak bertukar sepatah kata pun sampai Tante memberi tahu bahwa waktu makan malam telah tiba.
