![]() |
| Saranami Vol 1 Bab 8 - Musim Panas |
Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 8 - Pemanggang (Tanpa Asap) di Akhir Musim Panas
Agustus. Liburan musim panas masih berlanjut!
...Yah, meski tidak bisa sombong-sombong amat karena sisa harinya sudah tidak banyak lagi.
"Eeh? Taa-kun, kamu langsung mau bakar karbi?"
"Aku sih nggak masalah kalau dari awal sampai akhir makan karbi terus. Paling sesekali selingin pakai horumon."
"Tapi kan nanti tan shio yang lagi dibakar ini rasanya jadi aneh kalau kecampur?"
"Makan lidah (tan) itu cuma selingan tahu. Yang namanya yakiniku ya karbi, saus, sama nasi!"
"Uwaa, nggak habis pikir! Isinya cuma karbo sama lemak doang!"
"Kamu sendiri ngapain datang ke tempat yakiniku kalau mau protes soal itu, Hikari..."
Begitulah, di hari yang sudah memasuki babak akhir dari pengumpulan kenangan musim panas ini, aku masih menghabiskan waktu bersama Taa-kun, seolah tidak ingin menyia-nyiakan sisa waktu yang ada.
"Duh, kalian ini! Sudah SMA tapi masih saja meributkan hal kekanak-kanakan begitu!"
"Fufu... mereka berdua nggak berubah ya, Hikari maupun Yuu-kun."
...Ya, kami makan bersama, dengan ditemani ibu kami masing-masing!
Di sebelah kiriku ada ibuku, Shirasaka Himari.
Di depanku ada Taa-kun. Dan di sebelah kanannya ada ibunya, Tante Takamura Haruyo.
Formasinya adalah satu laki-laki dan tiga perempuan.
Rata-rata usia 20-an... eh, tidak ada gunanya juga ya menghitung rata-rata umur antara orang tua dan anak.
Pokoknya, kelompok berempat ini sedang berkumpul mengelilingi pemanggang yakiniku, bergelut dengan panggangan dan daging yang mulai terbakar lemaknya.
Sebab, hari ini adalah tanggal 29 Agustus.
Meskipun ada banyak teori tentang bagaimana dunia menyebut hari ini, bagi keluarga Shirasaka dan keluarga tetangga kami Takamura, ini adalah hari tahunan: "Hari Yakiniku (8/29)"!
Awal mulanya kalau tidak salah saat kami masih kelas 3 SD?
Aku ingat samar-samar saat ibunya Yuu-kun—Tante Takamura—pulang dengan sangat antusias membawa kupon 『Diskon Setengah Harga Khusus Hari Yakiniku』 dari restoran yang baru buka di lingkungan sekitar.
Keasyikan makan besar dan keakraban kedua keluarga hari itu tidak bisa dilupakan oleh para ibu, hingga mereka sangat bersemangat menjadikannya acara rutin tahunan.
Lalu, setelah melewati tragedi di tahun berikutnya di mana acara batal karena kedua ayah kami sibuk bekerja, sebuah perjanjian rahasia pun dibuat: 『Mulai tahun depan, kita adakan tanpa para ayah saja, ya?』. Dan begitulah tradisi ini berlanjut sampai sekarang.
...Ngomong-ngomong, pernah ada suatu tahun di mana Mamaku juga tidak bisa ikut karena urusan pekerjaan. Tapi di tahun itu, mereka dengan santainya membuang kupon diskon demi menjadwal ulang hari makan-makannya. Melihat itu, aku dan Taa-kun cuma bisa pasang tampang canggung sambil membatin, 『Nasib para ayah gimana, ya...』
Tapi, ya sudahlah...
"Ah, lihat tuh Taa-kun, lengan bajumu kena saus~"
"Sudahlah, biarin. Namanya juga makan yakiniku, aku sudah siap mental kalau baju bakal kotor."
"Siap mentalmu itu maksudnya sudah siap minta tolong Tante buat rendam dan cuci bajunya, kan? Sini, mumpung masih baru, hapus dulu sebisa mungkin!"
Aku pun mengambil tisu dari dalam tas, memegang lengan bajunya, lalu mulai mengusap noda itu pelan-pelan.
Iya, aku tahu kok. Begitu menginjakkan kaki di "medan perang" bernama restoran yakiniku ini, aku sudah menyerah untuk mengharapkan atmosfer romantis atau situasi yang mendebarkan seperti biasanya.
Lagipula, bagi keluargaku, makan mewah di luar seperti ini cuma terjadi beberapa kali dalam setahun, jadi ini lebih ke arah perbaikan gizi daripada kencan!
Yah, sejak ada orang tua pun, ini sudah bukan kencan lagi namanya.
"Duh, Hikari-chan makasih banyak ya~ Jadi, kapan nih kamu mau jadi menantu Tante?"
Uhuk!? Geho, geho, geho!
"Du-duh, Tante bisa saja deh~"
Untunglah suara hati dan suara asliku tidak tertukar, kalau tidak meja ini bisa jadi lokasi bencana besar...
"Itu sudah ke berapa kalinya sih, Bu! Sampai kapan Ibu mau ngomong sesuatu yang menjurus ke parental harassment begitu? Lama-lama nggak lucu, lho."
"Aduh, aduh, Yuu-kun nggak puas ya kalau sama Hikari? Terus tipemu yang kayak gimana, dong?"
"Tante, barusan denger nggak sih apa yang aku omongin?"
...Ngomong-ngomong dalam kasus kami, kalau ada Ibu masing-masing memang tidak ada rasa deg-degan romantis, tapi malah jadi senat-senut karena jantung dipacu rasa ngeri.
"Habisnya gimana ya? Hikari-chan itu perhatian, sifatnya baik, sudah kenal dari kecil lagi. Dia itu tipe gadis yang nggak ada celahnya buat dikritik lho, Yuu?"
"Yuu-kun juga baik, pekerja keras, sudah kenal dari kecil lagi. Ibu rasa Ibu bisa tenang kalau menyerahkan Hikari padamu, ya kan?"
"Uwaa, Ibu-ibu ini cara mujinya abstrak banget deh~"
"Iya kan? Nggak ada nilai jualnya sama sekali~"
Rangkaian kata-kata manis dari para Ibu yang terdengar dibuat-buat itu—selain bagian "sudah kenal dari kecil"—semuanya terlalu klise. Tipe pujian yang kalau ditulis di kolom kelebihan pada CV, tidak akan ada orang yang peduli...
...Ah, tapi.
Biasanya hal seperti ini kalau salah satu pihak tidak punya perasaan apa-apa, pasti mereka akan benar-benar merasa risi atau marah.
Tapi sekarang, dia terlihat tidak sekesal itu.
Apa ini tandanya...
Eh, nggak boleh!
Berpikir terlalu jauh dan menyimpulkan sesuatu demi keuntungan sendiri itu hal yang paling buruk. Harus jaga diri, jaga diri…
"Lho, Hikari-chan sudah selesai? Dagingnya masih ada, lho?"
"Ah, aku sudah kenyang..."
"Wah, Hikari sudah berubah ya. Padahal dulu kalau makan yakiniku, kamu sampai minta jatahnya Yuu-kun juga."
Gah!
"A-apaan sih, Ma! Jangan ngarang cerita sejarah yang nggak-nggak begitu, dong~"
Untunglah suara hati dan suara asliku tidak... nggak, biar nggak tertukar pun ini sudah jadi bencana besar!
"Kalau diingat-ingat memang begitu, sih. Waktu kecil, bagian tan sama harami-ku semuanya disikat sama Hikari."
"Taa-kun, kamu ikut-ikutan juga!?"
Dan parahnya, bencana besar ini sampai ada serangan susulan segala!
Gimana ini, masa aku dianggap sebagai 『cewek maruk yang suka nyolong daging』 sama cowok yang aku suka!?
"I-itu kan gara-gara Taa-kun sendiri pas SD makannya dikit banget!"
"Eh~? Masa sih?"
"Ah, kalau itu benar! Yuu itu pas zaman TK bahkan sering ditinggal sendirian di kelas sampai jam istirahat selesai gara-gara nggak habis makan siangnya." sela Tante Takamura.
"Lho, tapi Yuu-kun sekarang makannya banyak, kan? Malah paling cepat selesai makannya dibanding yang lain," timpal Mamaku.
"Kayaknya pas kelas dua SMP deh. Waktu itu ada latihan paduan suara pas jam istirahat. Karena tiap hari harus balapan makan bekal dalam lima menit terus lari ke ruang musik, eh, tahu-tahu jadi kebiasaan..."
"Ada ya momen paduan suara itu! SMP kita emang rada-rada ambis kalau soal acara begituan!"
"Bener banget! Guru-gurunya juga tipe yang serius banget, kalau ada yang bercanda pas latihan bisa-bisa dipreteli... Dipikir-pikir, emang apa salahnya coba bercanda pas jam istirahat!"
"Ahaha, kalau diingat lagi, itu sih SMP black ya~"
...Yah, berkat pengalihan isu yang (kurasa) cukup lihai dariku, fitnah akibat bencana susulan ini berhasil dicegah.
Atau mungkin bisa dibilang, aku sukses menutupi jejak bencananya sama sekali.
Kalau sudah begini, sisanya tinggal mengikuti arus.
Obrolan kami mengalir begitu saja—santai, tanpa kepura-puraan, tanpa bumbu romantis, benar-benar ramai seperti obrolan keluarga besar. Momen "anggun" yang berlumuran panas, lemak, dan asap ini pun perlahan-lahan terlewati.
※ ※ ※
"Uwah, baju aku bau asap banget nih~"
"Aku juga... pulang nanti langsung ganti baju, deh."
"Harus mandi juga ya~"
Acara makan yakiniku gabungan dua keluarga pun resmi berakhir dengan sukses. Setelah urusan pembayaran beres (tentu saja oleh para Ibu), kami pun melangkah pulang dengan aroma asap yang meresap kuat di sekujur pakaian.
Ngomong-ngomong, kedua ibu kami sepertinya masih belum puas mengobrol. Baru saja mereka "terhisap" masuk ke dalam kedai kopi, jadi sekarang tinggallah aku dan Taa-kun berjalan berdua dengan langkah gontai di jalanan malam yang hawa panasnya belum juga reda.
Saat aku sengaja melambatkan langkah kaki dari biasanya, entah dia sadar atau tidak, dia tetap mengikuti di belakangku dengan selisih setengah langkah pada kecepatan yang sama.
"Tapi ya... liburan musim panas sudah mau berakhir, ya~"
"Kenapa? Kamu merasa berat hati?"
"Ya iyalah! Liburannya cuma sisa dua hari lagi, tahu!"
"Tapi, Hikari... tiap kali pulang dari acara makan yakiniku ini, bukannya kamu selalu bilang, 'Aah, kapan ya semester baru cepat dimulai'?"
"...Masa, sih?"
"Iya, beneran."
Benar, setiap tahun saat perjalanan pulang hari ini, entah bagaimana ujung-ujungnya kami selalu berakhir berdua saja.
Jadi setiap tahun pun, seharusnya kami melakukan percakapan yang mirip seperti ini, tapi...
"Yah... mungkin dulu memang begitu."
Tentu saja, sampai tahun lalu, saat hal terpenting bagiku adalah bermain, belajar, atau berolahraga bareng teman-teman sekolah, aku mungkin saja mengatakan hal seperti itu di hadapannya.
Tapi...
"Tapi, liburan musim panas tahun ini tuh berat banget buat dilepaskan!"
"Oh, ya?"
"Iya! Habisnya, isinya cuma hal-hal yang menyenangkan semua!"
"...Termasuk acara makan yakiniku ini?"
"Liburan musim panas kan bukan cuma soal yakiniku doang!"
...Aku bilang begitu, tapi tentu saja acara yakiniku hari ini juga menyenangkan, lho.
Tahun-tahun sebelumnya mungkin tidak begitu, tapi tahun ini berbeda!
Semenjak libur musim dingin beberapa bulan lalu di bab pertama... tidak, mungkin sedikit lebih lama lagi, sejak sekitar musim gugur tahun lalu ya?
Waktu luang yang bisa dihabiskan di rumah, serta libur panjang dengan banyak acara keluarga, telah menjadi salah satu hal yang paling kunantikan.
Saat SD, kami bertemu hampir setiap hari... yah, tidak setiap hari juga sih, tapi setidaknya tiga kali seminggu saat libur musim panas.
Saat SMP, setidaknya seminggu sekali kami masih makan bareng sebagai satu keluarga besar.
"Kalau diingat-ingat, tahun lalu kita nggak terlalu sering main bareng, ya."
"............ Yah, tahun lalu sih... aku lagi nggak punya energi buat main."
Dan setelah masuk SMA... karena sekolah kami jadi berbeda, aku jadi sulit melihat wajahnya di hari-hari biasa.
Liburan musim panas kami sempat menjadi sesuatu yang terasa sedikit hampa.
"Kalau diingat-ingat, di acara yakiniku tahun lalu pun kita membicarakan hal yang mirip ya."
"Maaf ya, waktu itu aku pasti sudah membuatmu merasa tidak enak."
"Enggak, kok..."
Tapi, sekarang aku sudah tahu kalau sebenarnya dia sempat mengincar sekolah yang sama denganku...
Dan dia gagal dalam ujian tersebut.
Saat ini, terlalu banyak informasi dan emosi yang berkecamuk, sampai-sampai jika ada soal ujian bertajuk 『Jelaskan perasaan laki-laki tersebut pada saat itu』, aku rasa aku tidak akan bisa menemukan jawabannya.
"Ngomong-ngomong, Hikari."
"Hm?"
Mungkin karena kepalaku terus berputar-putar memikirkan kenangan negatif?
Aku sampai tidak menyadari kalau nada suara Yuu-kun sedikit berbeda dari biasanya.
"Menurutmu, tahun ini kita sudah bertemu berapa kali lipat dibanding liburan musim panas tahun lalu?"
"Eh...?"
"Waktu menjawabnya cuma lima detik, ya? Li~ma... em~pat..."
"Eh? Eh? Eeeh...?"
Mungkin ekspresiku sekarang terlihat sangat kebingungan, tapi sangat kontras dengan matanya yang kini memancarkan binar jahil yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Ti~ga... du~a..."
Hei, lima detik itu sebentar banget! Otakku ini nggak bisa ganti topik secepat itu, tahu!
"Sa~tu..."
"E-e-eto... kalau gitu, dua kali lipat?"
"Saaalaah! Jawabannya sepuluh kali lipat!"
"Eeeeeehh!?"
Aku benar-benar terkejut, lho.
Bukan hanya karena angka jawabannya yang terlalu banyak.
Tapi karena perasaan yang mendasari pertanyaannya itu... tiba-tiba terasa sangat mudah untuk kupahami.
"Se-sebanyak itu...?"
"Iya, tahun ini kita sudah ketemu kira-kira sepuluh kali, kan?"
"Eh? Kalau itu sepuluh kali lipat... lho? Berarti tahun lalu..."
"Kamu nggak ingat? Tahun lalu kita cuma ketemu sekali, pas acara yakiniku doang, tahu."
"Yang itu malah lebih nggak mungkin lagi, khaan!?"
"Padahal AC rumahku rusak, tapi intensitasnya malah begini. Hikari, seberapa pengangguran sih kamu di liburan musim panas tahun ini?"
Kenapa... kamu menanyakan hal seperti ini?
Kenapa kamu mengatakan sesuatu yang memberiku harapan seperti itu?
Kalau begini, bukankah itu berarti... jarak di antara kita sudah terkikis sepuluh kali lipat lebih dekat dibanding tahun lalu?
"Biarin... biarin aja, sih! Mau aku lagi senggang atau sibuk, itu kan urusanku~!"
"Iya juga, sih. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku yang selalu bisa nemenin kamu pas kamu lagi senggang itu berarti seberapa penganggurannya ya aku?"
"Bener kan~? Tiap kali aku main ke rumahmu, kamu selalu ada terus~"
Hari ini... bukan, hari ini pun (secara emosional) adalah hari yang sangat sibuk.
Antara sosok teman masa kecil "Taa-kun yang nggak bisa dibiarin sendiri".
Dan sosok pujaan hati "Taa-kun yang kusukai", keduanya berganti peran dalam sekejap mata.
"Ah, ngomong-ngomong, manga yang kemarin kamu baca itu baru saja keluar volume terbarunya, lho."
"Eh! Ah, tapi di versi digital belum..."
"Karena sudah menduga hal ini bakal terjadi, makanya sudah kusiapkan versi cetaknya~"
"Kenapa nggak bilang dari tadi! Ah, tapi bau yakiniku-nya masih nempel begini~!"
"Kalau gitu, kita masing-masing pulang dulu buat mandi, terus satu jam lagi kumpul ya."
"Ngomong-ngomong, AC-nya..."
"Ya masih mati lah, sudah pasti itu. Sabar, ya, sabar."
"Ueeeh~, setidaknya nyalain kipas angin dong~"
Begitu akrab, namun di saat yang sama juga begitu mendebarkan.
Sebuah serangan ketenangan dan debaran jantung yang datang bersamaan, yang tidak akan bisa kudapatkan jika bukan darinya.
Shirasaka Hikari, 16 tahun...
Liburan musim panas akan segera berakhir.
Dan setelah itu, aku rasa aku akan kembali menjadi 『seorang gadis yang tingkahnya jadi aneh karena jatuh cinta pada laki-laki di depannya』.

