Misshitsu Ougon Jidai no Satsujin: Bab 1

The Murder in the Golden Age of Locked Rooms Chapter 1, awal kisah misteri ruang terkunci, Kasumi dan Yozuki menuju Yukishirokan.

Era Ruang Terkunci

Wanita itu tampak sangat bersemangat. Ia terus saja mencercaku dengan nada tinggi, seolah ludahnya akan muncrat kapan saja. Namun, di saat berikutnya, ia bisa menjadi anehnya muram. Aku berpikir, ia pasti memiliki emosi yang tidak stabil.

Setelah mendengarkan ceritanya, ternyata wanita itu adalah satu-satunya yang selamat dari upaya bunuh diri massal. Bersama anggota lain yang ia kenal dari situs bunuh diri, ia pergi ke sebuah rumah kosong di pedalaman gunung. Di sana, mereka menyiapkan gelas berisi air sebanyak jumlah peserta. Di dalam gelas-gelas itu, mereka mencampurkan akonitin, atau mungkin sianida kalium, atau bahkan tetrodotoksin. Tapi, faktanya, salah satu gelas itu hanya berisi obat tidur, bukan racun.

"Jadi, Anda mengerti maksudnya?" tanya wanita itu. "Hanya akan ada satu orang yang selamat."

Aku berpikir, Ya, tentu saja.

"Dan yang meminum obat tidur itu adalah aku."

Aku berpikir, Ya, tentu saja.

"Sungguh, ini merepotkan. Kami semua berniat mati bersama-sama dengan damai, tapi kini aku malah duduk di tempat menyebalkan ini, minum kopi."

"Baguslah, 'kan?" Ucapku. "Hidup itu berharga."

Wanita itu menyeringai.

"Anda yang mengatakan itu?"

Aku menyeruput kopi. Rasanya tidak enak. Padahal, kopi itu kubuat sendiri. Rupanya, Aku tidak punya bakat meracik kopi.

Atau lebih tepatnya, hanya ada satu hal yang aku kuasai.

Yaitu—menciptakan ruang terkunci.

"Pokoknya, Aku selamat," ujar wanita itu. "Itu sebabnya aku datang menemui Anda."

Wanita itu menunjuk wajahku.

"Tuan 'Master Ruang Terkunci', Aku datang menemui Anda."

*

"Kasumi-kun, mau Pocky?"

Saat aku sedang menatap pemandangan dari jendela kereta, Asahina Yozuki, yang duduk di kursi seberang, menyodorkan sekotak Pocky.

"Mau." jawabku sambil mengambil sebatang dari kotak yang dipegangnya. Aku menjepitnya di bibir, lalu kembali menatap jendela.

Pemandangan bulan Desember mengalir dengan kecepatan yang sama dengan laju kereta. Meskipun salju tidak menumpuk, pepohonan yang meranggas terasa sunyi dan menyedihkan. Entah mengapa, hatiku jadi gelisah.

"Kenapa jadi murung begitu, sih?" tanya Yozuki sambil memakan Pocky-nya. "Jangan-jangan kamu bercita-cita jadi penyair? Tipe yang nulis puisi buatan sendiri di buku catatan sebelum tidur setiap malam, ya?"

Setidaknya, aku tahu dia sedang mengejek penyair. Aku menanggapinya dengan santai.

"Puisi? Aku sudah tidak menulis sejak SMP."

"Waktu SMP kamu nulis, ya?"

"Normalnya anak SMP memang suka menulis, 'kan?"

"Aku enggak paham standar normalmu. Tolong, jangan bandingkan standarmu dengan standar dunia."

Entah kenapa aku malah dimarahi. Omong-omong, Kasumi adalah nama depanku, sementara nama keluargaku adalah Kuzushiro. Kuzushiro Kasumi. Karena itu, saat SD aku sempat dipanggil 'Kuzukasu'. Itu menggunakan logika yang sama dengan 'Kimutaku', tapi hasilnya terasa jauh berbeda. Bahkan sampai terjadi rapat kelas, di mana guru menegur semua orang, 'Mari kita berhenti memanggil Kuzushiro-kun dengan sebutan Kuzukasu.' Sepanjang rapat kelas itu, aku merasa sangat sedih. Ketika aku menceritakan hal itu pada Yozuki, ia malah memberiku dorongan semangat yang aneh, "Karena namamu 'Kuzu' dan 'Kasumi', kedengarannya seperti kigo dalam haiku, ya."

Yozuki yang seperti itu adalah teman masa kecilku. Ia berusia 20 tahun, mahasiswa semester 4—3 tahun lebih tua dariku yang masih kelas 2 SMA. Rambutnya sebahu, berwarna cokelat muda, dan bergelombang lembut. Wajahnya sangat cantik. "Aku pernah ditawari scouting tujuh kali dalam sehari," adalah kebanggaan andalannya. Empat di antaranya adalah tawaran dari cabaret club, dua kali untuk model rambut salon.

"Tapi, yang satu lagi itu dari agensi hiburan sungguhan, lho!" ia bersikeras. "Sayang banget, ya. Ah, tapi aku punya sifat kayak kucing yang moody. Jadi, pekerjaan yang penuh ikatan kayak dunia hiburan memang nggak cocok buatku."

Memang benar, Yozuki itu orangnya plin-plan, dan kemungkinan besar dia tidak cocok untuk dunia hiburan. Bahkan, dia tidak cocok untuk bekerja. Ia punya keahlian khusus, yaitu dipecat dari pekerjaan paruh waktu mana pun dalam waktu satu bulan.

Kucing yang moody itu kini memainkan ponselnya sambil memakan Pocky. Tiba-tiba, ia berseru, "Ah!"

Ia menatap ponselnya dengan saksama dan berkata,

"Hei, Kasumi-kun, sepertinya terjadi lagi kasus pembunuhan ruang terkunci."

"Eh, serius?"

"Ya, di Aomori. Katanya Divisi Ruang Terkunci dari Departemen Kriminal Kepolisian Prefektur sedang menyelidiki sekarang."

Aku mengambil ponselku sendiri dan memeriksanya. Ternyata benar. Pembunuhan ruang terkunci masih merajalela di negara ini.

"Dunia jadi aneh, ya," kata Yozuki sambil mengunyah Pocky.

Aku berpikir, Tentu saja.

Dipicu oleh satu kasus pembunuhan, dunia telah berubah drastis. Sejak kasus pembunuhan ruang terkunci pertama di Jepang tiga tahun lalu, kejahatan di negara ini berputar di sekitar misteri ruang terkunci.

*

Stasiun tujuan kami adalah stasiun tanpa awak. Aku dan Yozuki meregangkan tubuh lebar-lebar di peron yang sepi. Sendi-sendi kami berbunyi pok-pok. Tiga jam sejak kami meninggalkan rumah—perjalanan yang cukup panjang.

"Lalu, penginapan tempat kita menginap hari ini?"

"Ehm," Yozuki menjawab sambil berjalan dan sibuk dengan ponselnya, "Kita bakal masuk ke tengah lereng gunung dari sini menggunakan mobil. Setelah jalanan mobil terputus, kita bakal lanjut jalan kaki."

"Jalanan mobilnya terputus di tengah?"

"Ya. Kira-kira jalan kaki selama satu jam."

"Lumayan jauh juga, ya,". 

Walaupun sepertinya bagus untuk kesehatan.

Kami berdua melewati gerbang tiket dan keluar menuju bundaran di depan stasiun. Di sana, kami mencegat sebuah taksi.

Yozuki memberi tahu tujuan kepada pengemudi taksi.

"Tolong antarkan kami ke Yuki-shirokan."

*

Yuki-shirokan saat ini berfungsi sebagai hotel. Alasan kami memutuskan untuk mengunjunginya selama liburan musim dingin adalah karena Yozuki mendatangi rumahku sekitar sebulan yang lalu. Sebenarnya, ia sering datang, sih. Tapi hari itu, Yozuki sepertinya punya tujuan yang pasti. Sambil menyeruput kopi yang kubuat, ia langsung berkata,

"Kasumi-kun, Aku berencana pergi mencari Yeti."

Aku langsung berpikir, Apakah dia jadi gila.

"Eh, Yeti itu?"

"Masa nggak tahu sih? Sejenis UMA ( Unidentified Mysterious Animal ). Hewan besar, berbulu lebat—mudahnya, manusia salju."

Bukan, Aku tahu Yeti itu apa. Masalahnya itu kenapa dia berniat pergi mencarinya.

"Begini, Aku kan lumayan suka UMA dan sejenisnya tuh. Aku bahkan sudah langganan majalah okultisme Mu sejak kecil."

Kalau dipikir-pikir, Aku memang pernah melihatnya membaca majalah itu.

Aku menyeruput kopi seolah menelan napas berat.

"Yah, pokoknya, selamat berjuang," ujarku dengan tulus. "Mencari Yeti pasti sulit, tapi aku berdoa semoga kau bisa kembali dengan selamat."

Semoga ini bukan perpisahan terakhir. Teman masa kecilku hilang karena mencari Yeti, itu terlalu menyedihkan.

Melihat ekspresiku yang begitu serius, Yozuki menghela napas dengan kesal.

"Kamu bicara apa sih, Kasumi-kun. Kamu juga ikut."

Apa katamu?.

"...Kau menyuruhku ikut ke Himalaya?"

Cintaku pada teman masa kecil tidak sedalam itu.

Yozuki kembali menatapku dengan wajah jengkel.

"Kamu ini bicara apa sih, Kasumi-kun. Kita bakal pergi ke Saitama, bukan Himalaya."

Aku benar-benar berpikir dia sudah gila.

Aku mengucek mata. Wajahnya penuh keyakinan. Sepertinya dia benar-benar serius. Padahal, aku berharap ini hanya salah dengar.

Aku menatap Yozuki lekat-lekat dan bertanya.

"Ehm, kenapa kita harus pergi ke Saitama untuk mencari Yeti?"

"Tentu saja, karena Yeti-nya ada di sana."

Dia mengatakannya seolah-olah, karena gunungnya ada di sana.

"...Mana mungkin ada Yeti di Saitama."

"Ada, kok. Karena itu tuh Yeti Saitama."

"Yeti Saitama."

Kedengarannya seperti nama tim J-League.

"Waktu zaman es dulu, Jepang dan daratan utama masih terhubung darat," jelas Yozuki dengan bangga. "Makanya, orang bisa berjalan kaki dari Jepang ke Himalaya dan sebaliknya."

"Jadi, Yeti bermigrasi dari Himalaya ke Saitama saat zaman es?"

"Ya, itu mungkin saja, 'kan."

Aku rasa itu sama sekali tidak mungkin.

"Jadi, Kasumi-kun. Ayo kita pergi cari Yeti di Saitama bersama-sama." Yozuki mencondongkan tubuh ke depan. "Pasti bakal jadi kenangan yang takkan terlupakan seumur hidup."

Memang, Aku yakin itu akan tak terlupakan. Kenangan mencari Yeti di Saitama.

"..."

Aku berpikir sejenak dan sampai pada kesimpulan.

Yah, tentu saja aku tidak akan pergi.

Dengan pasti, Aku memutuskan untuk menolak. Seketika, Yozuki memelukku dan memohon.

"Kumohon, Kasumi-kun, ikutlah. Kamu kok tega banget membiarin aku bepergian sendirian?"

"Kenapa tidak ajak temanmu saja?"

"Apa yang kamu bicarakan? Kalau aku bilang mau pergi cari Yeti di Saitama, teman-temanku pasti bakal ilfil!"

"Justru aku terkejut kau masih punya akal sehat seperti itu."

Aku melepaskan diri dari Yozuki yang memelukku. Dia mengeluarkan suara lirih "Aah," tetapi kemudian, sambil terduduk di lantai, ia berdeham dan berkata.

"Dengerin aku, Kasumi-kun."

"Ya."

"Pencarian Yeti kali ini, ada manfaatnya juga buatmu, lho."

Aku memiringkan kepala dengan curiga. "Manfaat untukku?" Ketika aku bertanya, Yozuki yang masih duduk di lantai menjawab, "Ya, manfaat. Manfaat yang tak butuh kondisioner." 

TN Yomi: リンスのいらないメリットです ( rinsu no iranai meritto desu ) secara harfiah berarti "manfaat yang tidak membutuhkan kondisioner" yang merupakan plesetan dari iklan populer di Jepang. 

Agak ketinggalan zaman.

Dia mengangkat jari telunjuk. Kemudian, dengan bangga, ia mendongak menatapku.

"Begini, hotel tempat kita bakal menginap adalah Yuki-shirokan itu."

"Yuki-shirokan?"

Aku memiringkan kepala sedikit. Apa, ya? Rasanya aku pernah mendengar nama itu.

"Itu, lho. Yuki-shirokan milik Yukishiro Byakuya, yang kamu suka itu."

"Aah, kastel itu!"

Melihat semangatku yang tiba-tiba meluap, Yozuki tersenyum bangga. Ekspresi menjengkelkan itu membuatku sedikit kesal. Aku berdeham.

"Begitu, ya. Kau berencana menginap di Yuki-shirokan."

Meskipun aku berusaha terlihat tenang, sebenarnya aku sangat bersemangat.

Yukishiro Byakuya adalah penulis misteri bergaya klasik, yang terutama ahli dalam menciptakan kasus ruang terkunci. Meskipun beliau telah meninggal 7 tahun lalu, banyak karyanya yang masih terpajang di toko buku, menjadikannya penulis populer.

Aku juga penggemar beratnya. Meskipun karya-karya terbaiknya sering dianggap Pembunuhan di Desa Ruang Terkunci atau Pembunuhan di Kastel Ruang Terkunci, ada anggapan umum di antara para penggemar bahwa karya terbaiknya yang sesungguhnya ada di tempat lain—dan itu bukanlah sebuah novel. Bukan drama televisi, bukan pula manga, apalagi film.

Itu adalah sebuah kasus nyata.

Sekitar 10 tahun yang lalu, Yukishiro Byakuya mengumpulkan para penulis dan editor di kastelnya untuk sebuah pesta. Ada hidangan lezat, minuman keras yang nikmat—serta keramahan Byakuya sendiri. Pesta itu berlangsung meriah. Namun, di tengah-tengah acara, sebuah insiden terjadi.

Itu adalah insiden kecil, bahkan bisa dibilang hanya sebuah kenakalan. Tidak ada yang terluka. Hanya saja, di salah satu ruangan kastel, ditemukan boneka Prancis dengan pisau tertancap di dadanya.

Dan ruangan itu adalah ruang terkunci. Pintunya terkunci dari dalam, dan satu-satunya kunci ruangan itu ditemukan di dalam ruangan. Namun, tidak hanya ditemukan begitu saja. Kunci itu dimasukkan ke dalam botol plastik, dan tutup botol itu tertutup rapat.

Ini dikenal dengan julukan, Ruang Terkunci dalam Botol.

Sejak insiden itu terjadi, Byakuya selalu tersenyum kecil di sudut bibirnya. Melihatnya, semua orang langsung paham. Pelaku insiden ini adalah dia, dan ini hanyalah salah satu hiburan pesta—sebuah permainan misteri yang telah disiapkan oleh Byakuya selaku tuan rumah.

Kalau begitu, mari kita terima tantangannya.

Para tamu yang hadir adalah rekan penulis dan editor. Mereka semua adalah orang-orang yang punya satu-dua kata tentang misteri ruang terkunci. Segera setelah itu, perdebatan sengit pun dimulai dan berkembang menjadi turnamen adu tebak dadakan.

Para peserta pesta itu sama-sama mengatakan mereka "senang." Dan mereka selalu menambahkan di akhir, "Pasti akan lebih menyenangkan lagi kalau misterinya bisa terpecahkan."

Trik ruang terkunci itu tetap tidak terpecahkan.

Inilah karya terbaik Yukishiro Byakuya yang sesungguhnya—Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan. Tentu saja, karena ini bukan kasus kriminal, tidak ada urusan dengan pengadilan. Namun, kejadian ini terjadi tujuh tahun sebelum kasus pembunuhan ruang terkunci pertama di Jepang tiga tahun lalu.

Sebuah ruang terkunci yang tidak terpecahkan selama 10 tahun.

Hingga kini, kasus ini masih menjadi buah bibir di kalangan penggemar misteri, dan Yuki-shirokan, lokasi kejadiannya, menjadi tempat populer yang ingin dikunjungi penggemar setidaknya sekali seumur hidup. Meskipun Yuki-shirokan sekarang telah berpindah tangan dan diubah menjadi hotel, konon ruangan tempat insiden itu terjadi masih dijaga persis seperti kondisi aslinya. Katanya, jejak-jejak trik juga masih tersisa di sana.

"..."

Dan kali ini, Yozuki berencana menggunakannya sebagai umpan untuk menarikku ikut dengannya. Meskipun menyebalkan, aku memutuskan untuk mengikuti rencananya. Yuki-shirokan memiliki sistem yang agak unik; hanya tamu yang menginap jangka panjang—secara spesifik, yang tinggal selama seminggu atau lebih—yang diperbolehkan menginap, sehingga biayanya pasti mahal. Aku tidak tahu dari mana Yozuki mendapatkan uang untuk biaya itu, tetapi jika aku bisa pergi ke Yuki-shirokan secara gratis, tidak ada tawaran yang lebih menarik dari ini. Sekalian saja, aku akan sedikit membantunya mencari Yeti.

*

Setelah turun dari taksi dan berjalan kaki selama sekitar 1 jam, sebuah jembatan mulai terlihat. Itu adalah jembatan gantung kayu dengan panjang sekitar 50 meter. Sebuah lembah curam terbentang di kedua sisi, membelah hutan, dan jembatan kayu itu tergantung di sana dengan rapuh, menghubungkan kedua ujungnya. Kedalaman lembah mencapai sekitar 60 meter. Kedua tepi lembah adalah tebing yang curam, sehingga mustahil bagi manusia untuk naik atau turun.

Yozuki mengintip ke dasar lembah dan berseru, "Wah!"

"Kalau jatuh dari sini, kita pasti bakalan mati, ya."

Dia mengatakan hal yang sudah jelas. Tapi karena memang pasti mati jika jatuh, kami menyeberangi jembatan itu dengan sangat hati-hati. Setelah selesai menyeberang, kami berjalan kaki lagi selama kurang lebih 5 menit, dan di balik jalan setapak pegunungan yang belum beraspal, tampaklah sebuah pagar putih.

Pagar itu sangat tinggi, mungkin sekitar 20 meter.

Di tengah pagar terdapat sebuah gerbang besi. Karena terbuka, kami pun melewatinya. Di samping gerbang terdapat kamera pengawas, dan lensanya menangkap kami sebagai tamu yang datang.

Ya—tamu yang datang. Di dalam pagar itu ada sebuah pekarangan, dan di tengahnya berdiri hotel yang kami tuju. Sebuah puri bergaya Barat dari batu kapur putih, bahkan lebih putih daripada pagarnya. Yuki-shirokan, sesuai namanya, adalah bangunan yang berwarna seputih salju baru.

Pekarangan yang dikelilingi pagar itu luas—terkesan seperti tanah di sekitar puri itu hanya dikelilingi tembok. Hanya ada sedikit pohon di pekarangan, tanahnya berupa tanah hitam yang terbuka, dan tidak terlihat adanya hamparan bunga.

Saat kami berjalan menuju pintu masuk utama puri, seorang wanita berambut pirang mengenakan seragam pelayan sedang merokok di sana. Usianya sekitar 20 tahun, rambutnya sebahu—sepertinya diwarnai, bukan warna asli. Dia cukup cantik, tetapi tidak mengenakan riasan, memberikan kesan yang santai dan apa adanya. Begitu menyadari kedatangan kami, pelayan itu mengambil asbak portabel dari sakunya dan mematikan rokoknya dengan enggan.

"Apakah Anda tamu yang sudah memesan?" tanya pelayan itu dengan nada cuek.

"Ya, aku Asahina yang sudah memesan," jawab Yozuki.

Pelayan itu mengangguk. 

"Kami sudah menunggu. Silakan masuk."

Pelayan itu mengatakannya dengan nada yang membuat kami ragu apakah dia benar-benar sudah menunggu. Secara keseluruhan, keramahannya kurang. Atau, mungkin yang kurang bukan keramahan, tapi semangat kerjanya.

Kami melewati pintu masuk dan memasuki Yuki-shirokan. Sambil menyusuri koridor pendek dari pintu masuk, pelayan itu berujar seolah baru teringat.

"Nama saya Meirozaka Chika. Saya bekerja sebagai pelayan di hotel ini. Jika Anda memerlukan sesuatu, silakan beri tahu saya."

Dia mengatakannya seperti kalimat standar. Nada bicaranya benar-benar formal, membuatku khawatir apakah kami benar-benar boleh meminta bantuannya.

"Meirozaka-san, ya," gumam Yozuki. "Meirozaka-san si maid." Rupanya, dia membuat plesetan nama. Yozuki memang punya kebiasaan membuat plesetan saat menghafal nama orang.

*

Kami melewati koridor pendek dari pintu masuk, dan di sana terhampar sebuah lobi. Lobi itu begitu luas sehingga sulit dipercaya bahwa ini dulunya adalah kediaman pribadi, ukurannya sebanding dengan lobi hotel kelas menengah.

Beberapa meja dan sofa berjejer di lobi, tempat beberapa tamu sedang menikmati kopi atau teh. Piring kue juga diletakkan di atas meja, jadi rupanya ada layanan makanan ringan seperti di kafe. Di dekat dinding, terdapat televisi besar.

Aku dan Yozuki memutuskan untuk check-in terlebih dahulu di meja resepsionis.

Di meja depan ada seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan, dengan potongan rambut pendek. Ia mengenakan apron hitam di atas sweternya, memberikan kesan seperti pemilik kedai kopi. Dia adalah wanita dewasa yang tenang. Mirip seperti pemilik kedai kopi cantik yang akan memecahkan misteri sehari-hari jika dibawa kepadanya.

Ternyata, dia adalah Manajer hotel ini. Konon, puri ini dikelola hanya oleh dia dan pelayan, Meirozaka-san.

Dia memperkenalkan diri sebagai Shihai Reiko.

"Shihai si Manajer, ya," gumam Yozuki tanpa jeda.

TN Yomi: 支配人のシハイさんか ( Shihainin no Shihai-san ka ) diterjemahkan menjadi Manajer Shihai, ya untuk mempertahankan plesetan nama Yozuki. Dalam bahasa Jepang, 支配人 ( Shihainin ) berarti Manajer.

Shihai-san tersenyum lembut dan berkata,

"Asahina-sama, Kuzushiro-sama, selamat datang di Yuki-shirokan. Kami, staf Yuki-shirokan, akan melayani Anda dengan sepenuh hati, dengan alam yang indah, hidangan lezat—dan misteri ruang terkunci yang ditinggalkan oleh penulis misteri, Yukishiro Byakuya."

Shihai-san mengucapkan sambutan itu dengan sedikit canggung, lalu mengetuk tombol di komputer yang ada di meja resepsionis. Rupanya, ia sedang memeriksa nomor kamar.

"Akomodasi kalian berdua berada di Sayap Barat lantai 2. Asahina-sama di Kamar 204, dan Kuzushiro-sama di Kamar 205, benar?"

Ia kemudian masuk sejenak ke ruangan di belakang meja resepsionis dan kembali dengan 2 buah kunci. Kunci perak sepanjang 10 sentimeter. Desainnya ramping, dan nomor kamar terukir pada bagian pegangannya. Ia menyerahkan kunci tersebut masing-masing satu kepadaku dan Yozuki.

Saat aku memeriksa kunci yang diterima, Shihai-san berkata seolah bercanda,

"Jangan sampai hilang, ya. Kami tidak punya kunci duplikat."

Mendengar itu, aku melihat kunci itu lagi. Ujung kunci memiliki bentuk yang cukup rumit. Kemungkinan besar, mustahil untuk diduplikasi.

Aku memasukkan kunci ke dalam saku. Setelah menggumamkan nomor kamarku, "Kamar 205," Aku menanyakan hal yang mengganggu pikiranku kepada Shihai-san.

"Em, Sayap Barat itu?"

Kamarku adalah Kamar 205 di Sayap Barat. Tapi aku baru pertama kali datang ke puri ini, dan aku baru mengamati luarnya sebentar, jadi jujur saja aku tidak begitu memahami struktur bangunan ini.

"Kebetulan, ada panelnya di sini."

The Murder in the Golden Age of Locked Rooms: The House of Snow and The Six Tricks - Chapter 1

Shihai-san menunjuk panel yang dipajang di dinding belakang meja resepsionis. Terdapat gambar bangunan dari sudut pandang atas. Tampaknya itu adalah denah Yuki-shirokan.

"Yuki-shirokan ini terdiri dari empat bangunan," jelas Shihai-san. "Pertama, bangunan tempat kita berada sekarang—yang ada lobinya ini, kami sebut Sayap Pusat. Sayap Pusat hanya 1 lantai. Kemudian, di timur dan barat Sayap Pusat, ada Sayap Timur dan Sayap Barat—dan di sebelah utara Sayap Pusat ada Ruang Makan. Ruang Makan, sesuai namanya, adalah tempat ruang makan berada. Semua makanan, baik pagi, siang, maupun malam, kami sajikan di sana."

Menurut denah itu, Sayap Timur, Sayap Barat, dan Sayap Ruang Makan (Sayap Utara) terhubung ke lobi di Sayap Pusat melalui pintu atau koridor penghubung. Namun, ketiga bangunan di timur, barat, dan utara itu tidak terhubung langsung satu sama lain. Untuk berpindah antar-sayap, kami harus selalu melewati lobi di Sayap Pusat. Misalnya, untuk berpindah dari Sayap Barat ke Sayap Timur, kami wajib melewati lobi.

"Pemahaman Anda benar," Shihai-san tersenyum lembut. "Bisa dibilang Sayap Pusat berfungsi sebagai penghubung yang menyatukan tiga bangunan lainnya. Selain itu, Yuki-shirokan ini sama sekali tidak memiliki pintu belakang. Semua jendela adalah jendela mati ( fixed window ) yang tidak bisa dibuka, atau jenis jendela yang dipasang teralis sehingga manusia tidak bisa keluar masuk. Satu-satunya jalur untuk keluar ke pekarangan hanyalah pintu masuk utama di Sayap Pusat, tetapi seperti yang baru saja saya jelaskan, karena puri ini tidak memiliki pintu belakang, strukturnya dibuat sedemikian rupa sehingga Anda tidak dapat berpindah ke sayap lain melalui pekarangan."

"Hmm, merepotkan, ya," kata Yozuki. "Kenapa strukturnya harus dibuat kayak gitu?"

"Entahlah. Pikiran seorang penulis misteri..." Shihai-san menunjukkan senyum ambigu, lalu menunjuk denah lagi. "Ngomong-ngomong, koridor penghubung antar-sayap ini memiliki atap dan dinding. Jadi, karena tidak terpapar langsung ke luar, Anda juga tidak bisa keluar ke area luar dari sana."

Aku mengangguk menanggapi kata-kata Shihai-san. Jadi, meskipun disebut koridor penghubung, sebenarnya itu tidak ada bedanya dengan koridor di dalam ruangan.

Aku melihat denah dan bertanya, "Bagaimana dengan bangunan ini?" Pada denah itu, ada satu bangunan lagi selain empat sayap tadi. Bangunan kecil yang menonjol keluar dari sisi utara Sayap Barat. Bangunan itu tampak terhubung dengan koridor penghubung.

"Oh, ini adalah paviliun," kata Shihai-san. "Ini adalah salah satu ruangan yang digunakan Yukishiro Byakuya untuk menulis. Julukannya adalah Kanzume Heya, Ruangan Kalengan. Konon, saat kehabisan ide, dia akan mengurung diri di sini dan menggigit apel."

"Kenapa apel?" tanya Yozuki.

"Ada cerita seperti itu di kisah Agatha Christie," jawabku. Konon, jika menggigit apel sambil berendam di bak mandi, ide-ide bagus akan bermunculan. Setiap kali aku mendengar episode itu, aku selalu bertanya-tanya, apakah itu benar?

Bagaimanapun, paviliun milik Yukishiro Byakuya, ya. aku sangat ingin melihatnya.

"Sayangnya, sekarang ruangan itu digunakan sebagai kamar tamu, jadi kami tidak bisa menunjukkannya," kata Shihai-san dengan nada menyesal. "Kamar itu sudah dipesan hari ini."

Sayang sekali. Omong-omong, karena paviliun itu terhubung dengan koridor penghubung, untuk menuju ke sana, kami harus melewati Sayap Barat.

*

"Kalau begitu, silakan bersantai dengan tenang." Setelah selesai check-in di resepsionis, kami diantar oleh pelayan Meirozaka-san menuju kamar penginapan. Sayap Barat adalah bangunan tiga lantai, dan Kamar 205 milikku terletak di ujung koridor lantai 2. Lima kamar, mulai dari 201 hingga 205, berjejer menghadap koridor yang lurus.

Setelah mengantarku sampai di depan kamar, Meirozaka-san membungkuk sedikit. "Makan malam akan disajikan pada pukul 7 malam. Mohon datang ke ruang makan pada jam tersebut. Kamar saya dan Shihai-san juga ada di Sayap Barat ini. Jika Anda memerlukan sesuatu pada malam hari, silakan beri tahu kami."

Meirozaka-san mengatakannya dengan nada to the point seperti biasa. Benarkah kami boleh memintanya pada malam hari? Aku merasa cemas.

Aku bergumam pelan sambil meraih kenop pintu dan membukanya. Di dalamnya, terhampar ruangan bersih didominasi warna putih. Kebersihannya luar biasa, sulit dipercaya bahwa hotel ini hanya dikelola oleh 2 orang karyawan.

"Sebenarnya, kami memelihara sekitar 20 unit Roomba," kata Meirozaka-san sambil mengintip ke dalam kamar dari belakangku. "Jadi, sebagian besar pembersihan diserahkan pada robot penyedot debu. Tentu saja, detail kecil masih membutuhkan campur tangan manusia, dan itu tugas saya. Saya cukup ahli dalam hal kebersihan, kok."

"Benarkah?" Aku merasa itu agak tidak terduga.

"Ya. Saya adalah finalis di Kejuaraan Dunia Kebersihan Pelayan, lho."

"Finalis Kejuaraan Dunia Kebersihan Pelayan."

Aku tidak tahu gelar misterius apa itu. Mungkin dia hanya bercanda, tetapi mungkin saja itu fakta.

"Kalau begitu, silakan bersantai."

Meirozaka-san mengatakan itu sekali lagi dan kemudian pergi menuju lobi. Setelah meletakkan barang bawaan, aku memutuskan untuk segera mengamati isi ruangan.

Luas kamar itu sekitar 10 jo (tatami), dan selain itu dilengkapi dengan toilet, kamar mandi, dan wastafel yang luas. Perabotannya hanya terdiri dari tempat tidur, televisi, dan kulkas dua tingkat dengan ruang freezer. Lantainya adalah flooring berwarna cokelat madu, dan jendelanya adalah jendela mati yang tidak bisa dibuka. Ini adalah kamar yang sangat bagus. Menurut Meirozaka-san, kamar ini dulunya digunakan sebagai kamar tamu. Yukishiro Byakuya suka mengundang tamu, dan sebagian besar kamar di Sayap Barat adalah kamar tamu seperti ini.

Selanjutnya, aku memutuskan untuk memeriksa pintu.

Pintu tunggal berwarna cokelat. Meskipun terlihat kokoh, ternyata ringan, dan tampaknya menggunakan tipe flush door yang memiliki rongga di dalamnya, jenis pintu yang sering digunakan untuk pintu interior rumah biasa. Karena terbuat dari kayu, berat pintu mungkin hanya sekitar 10 kilogram. Dengan begini, orang dewasa bisa mendobraknya dengan beberapa kali dorongan tubuh.

Lalu, ini juga hal yang aku dengar dari Meirozaka-san: semua pintu kamar di Sayap Barat memiliki jenis yang sama. Desain, ukuran, bahkan apakah ia membuka ke dalam atau ke luar, semuanya sama. Jadi, jika aku memahami struktur pintu kamarku, aku juga bisa memahami struktur semua pintu kamar lainnya. Kebetulan, pintu kamar ini adalah tipe inner-opening (membuka ke dalam). Jadi, semua pintu kamar di Sayap Barat pasti membuka ke dalam.

Tiba-tiba bersemangat, aku membungkuk ke lantai dan mengintip bagian bawah pintu. Pintu dan kusennya menempel rapat, tanpa celah. Itu adalah tipe 'tidak ada celah di bawah pintu'. Dengan begini, trik ruang terkunci yang paling klise—mengembalikan kunci ke dalam kamar melalui celah di bawah pintu—tidak bisa digunakan. Fakta itu saja sudah membuatku, sebagai seorang penggemar misteri, menyeringai senang.

Setelah selesai memeriksa pintu, aku memutuskan untuk segera keluar kamar. Aku sudah berjanji untuk minum teh bersama Yozuki di lobi.

Aku pindah ke kamar sebelah—Kamar 204. Aku mengetuk pintu, dan Yozuki keluar sambil berkata.

"Maaf, ya. Bongkar barangku belum selesai. Kamu duluan aja."

Meskipun dia berkata begitu, jelas itu adalah kebohongan. Rambut loose wave Yozuki memiliki cowlick bekas tidur yang menonjol. Rupanya dia baru tidur, dan butuh waktu untuk merapikan diri.

Ketika aku menatap cowlick itu, Yozuki menyisir rambutnya dengan jari tangan, sedikit malu.

*

Mau tak mau, aku memutuskan untuk pergi ke lobi sendirian.

Saat aku turun ke lantai satu Sayap Barat melalui tangga, Aku melihat sosok itu. Aku sedikit terperanjat. Di dekat jendela koridor, seorang gadis diam-diam menatap ke pekarangan. Kulitnya putih dan rambut peraknya dipotong rata sebahu. Sekilas, aku tahu dia orang asing. Terlebih lagi, penampilannya begitu sempurna, mirip boneka.

Usianya kira-kira sama denganku, terlihat seperti anak SMA.

Ketika gadis itu menyadari keberadaanku, ia tersenyum ramah. "Halo," katanya dalam Bahasa Jepang yang fasih.

Aku buru-buru membalas, "Halo." Rasanya sedikit tegang berbicara dengan orang asing.

Sebaliknya, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Ia tersenyum dan berkata, "Ini tempat yang indah, ya.” dan ia memulai basa-basi. “Saat musim panas, pasti jadi tempat peristirahatan yang menyenangkan." 

Dia tahu kata-kata sulit seperti tempat peristirahatan.

"Apakah tujuanmu datang ke sini untuk berwisata?" Aku juga mencoba menyambung basa-basi.

"Ya, untuk berwisata," jawab gadis itu. "Karena kudengar ada Skyfish di dekat sini."

"Skyfish?" Aku memiringkan kepala.

Gadis itu mengangkat jari telunjuknya dan menjelaskan,

"Skyfish itu ikan yang terbang di langit. Mudahnya, itu UMA."

"Mudahnya, itu UMA."

Mendengar kata-kata itu, aku terpaku.

...Anak ini, dia punya aura yang sama dengan Yozuki.

Kemiripan aura dengan Yozuki yang muncul tiba-tiba itu membuatku waspada. Tapi setelah berpikir keras, aku akhirnya menyesuaikan pembicaraan, "Keren sekali ya, Skyfish."

"Mimpiku adalah melihat skyfish di langit." Keinginan untuk disukai gadis manis membuatku melontarkan pernyataan plintat-plintut.

Usaha itu berhasil, gadis itu tersenyum senang. "Keren sekali ya, Skyfish," ujarnya malu-malu. "Karena ingin melihatnya, Aku sengaja datang jauh-jauh dari Fukuoka."

"Fukuoka? Bukan dari luar negeri?"

"Aku orang Inggris yang tinggal di Fukuoka. Aku sudah tinggal di sana sejak usia 5 tahun."

Aku berpikir, Pantas saja Bahasa Jepangnya fasih sekali.

Setelah mengobrol sebentar dengannya, aku memutuskan untuk pergi ke lobi. "Sampai jumpa lagi," kataku sambil membungkuk, dan ia membalasnya dengan gerakan yang sama. Kemudian, saat berpisah, ia menyebutkan namanya.

"Namaku Fenrir Alice Hazard. Aku berencana menginap di sini untuk sementara waktu, jadi mari kita cari Skyfish bersama-sama."

Aku mengacungkan jempol.

"Aku Kuzushiro Kasumi. Mari kita cari Skyfish bersama-sama."

*

"Gawat, Kasumi-kun, di sini nggak ada koneksi internet!" teriak Yozuki, sambil menyeruput melon soda, mengeluarkan suara putus asa dari kursi di hadapanku.

Aku yang duduk di sofa lobi, menyesap teh dan berkata,

 "Sejak kita turun dari taksi juga sudah blank spot, 'kan?"

"Memang sih, tapi Aku kira setidaknya setelah sampai di hotel kita bisa pakai Wi-Fi," rengek Yozuki. Ia kemudian menghentikan pelayan Meirozaka-san yang sedang mengelap meja di dekatnya dengan lap.

"Permisi, apa di sini nggak ada sinyal Wi-Fi?"

"Mohon maaf," jawab Meirozaka-san, yang terdengar tidak menyesal sama sekali. "Kami memang memasang kabel internet, tetapi kami tidak menyediakan LAN nirkabel. Jadi, ponsel pasti akan tetap di luar jangkauan."

"Ugh, seriusan. Ini mah pulau terpencil di darat," keluh Yozuki sambil memasukkan ponselnya ke saku.

Lalu, ia melihat sekeliling lobi. Ada beberapa tamu di sana.

"Hari ini ada berapa banyak tamu yang menginap?"

"Ada 12 tamu yang sudah memesan."

"12 orang? Sebanyak itu!" Mata Yozuki melebar. Kemudian, ia memasang wajah seolah sudah mengerti. "Pasti, semua orang tertarik pada Yeti, ya."

"Yeti?"

"Abaikan saja dia," ujarku kepada Meirozaka-san.

Meirozaka-san memiringkan kepala sebentar, lalu memberi tahu kami alasan hotel itu ramai.

"Mungkin ini kurang etis, tetapi masakan yang dibuat oleh Manajer kami sangat lezat."

"Masakan Shihai-san?" tanya Yozuki. "Dia yang memasak?"

"Ya, beliau membuat kreasi masakan Italia, dan sangat terkenal lezat. Alasan puri ini hanya menerima tamu yang menginap jangka panjang pada awalnya adalah keinginan pribadi Shihai-san agar para tamu dapat mencicipi berbagai macam masakannya. Namun, berkat usahanya, banyak pelanggan datang ke sini memang demi mencicipi masakannya. Misalnya, seperti Yashiro-sama yang duduk di sana."

Meirozaka-san mengalihkan pandangan ke seorang pria yang sedang mengobrol di meja yang agak jauh. Seorang pria berusia sekitar 40 tahun mengenakan setelan mahal tampak berbincang santai dengan pria berusia sekitar 30-an yang memakai sweter dan jins. Yashiro adalah pria yang berusia 40 tahunan.

"Ngomong-ngomong, Yashiro-sama ini kabarnya adalah seorang presiden direktur perusahaan."

"Yashiro-san si Direktur," gumam Yozuki.

"Dia sangat menyukai masakan kami, jadi sering berkunjung ke sini. Meskipun saya curiga, dia sebenarnya datang untuk merayu Manajer."

Mendengar itu, aku juga merasakan hal yang sama. Yashiro adalah tipe pria yang penuh percaya diri, dan matanya tampak berkilau. Entah kenapa, aku merasa dia punya reputasi buruk terhadap wanita.

"Apakah pria yang satu lagi itu temannya Yashiro-san?" tanya Yozuki, mengarahkan pandangannya pada pria bersweter yang berbicara dengan Yashiro. Berlawanan dengan Yashiro, pria itu terlihat tenang.

"Bukan. Kabarnya, beliau dan Yashiro-sama baru bertemu hari ini," jawab Meirozaka-san. "Mereka sama-sama hobi mengoleksi jam tangan, dan percakapan mereka langsung cair setelah melihat jam tangan masing-masing. Mereka berdua menginap sejak kemarin, tetapi hanya dalam 1 hari sudah menjadi akrab seperti itu."

Memang, suasana mereka tidak terlihat seperti baru bertemu. Namun, pria bersweter itu pasti mengenakan jam tangan yang menarik perhatian seorang presiden direktur sekelas Yashiro. Jangan-jangan pria bersweter itu juga orang yang sangat kaya?

"Ya, kabarnya beliau adalah seorang dokter."

"Dokter, ya." Aku berpikir, Ternyata memang dari kalangan atas.

"Ya, nama beliau Ishikawa-san."

"Ishikawa-san si Dokter," celetuk Yozuki.

"Kabarnya, jam tangan yang mereka kenakan harganya mencapai jutaan yen. Saya pribadi merasa mengenakan barang semewah itu justru terlihat norak."

Meirozaka-san melontarkan 'racun' seperti itu. Dia adalah pelayan bermulut pedas. Selain itu, jika dipikir-pikir, dia juga blak-blakan menceritakan informasi pribadi pelanggan seperti profesi. Mungkin dia adalah pelayan dengan privasi yang longgar. Meskipun menyenangkan sebagai teman mengobrol, aku ragu dia cocok sebagai karyawan hotel.

Pelayan dengan informasi pribadi longgar itu memberi hormat sedikit dan bersiap untuk pergi. Di saat itu, aku teringat bahwa aku punya urusan dengannya. Ketika aku memanggilnya, Meirozaka-san menatapku dengan ekspresi sedikit terganggu.

"Ada apa?"

"Bukan, hanya saja," kataku sambil membasahi tenggorokan dengan teh. "Aku dengar di puri ini ada satu ruangan yang kondisinya tidak diubah sejak masih menjadi milik Yukishiro Byakuya."

Meskipun aku berbicara dengan samar, Meirozaka-san tampaknya langsung mengerti. "Ah, jadi Anda juga mengincar ruangan itu?" tanyanya.

"Lokasi kejadian 'Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan' itu."

Aku mengangguk. Lokasi insiden yang terjadi di pesta rumah Yukishiro Byakuya dahulu kala.

Meirozaka-san mengangkat bahu sedikit.

"Memecahkan misteri ruang terkunci—Saya tidak tahu apa menariknya, tapi tentu saja saya bisa menunjukkannya. Itu adalah daya tarik hotel kami, setara dengan kreasi masakan Italia dari Manajer."

Aku menghabiskan teh dan bangkit. Kemudian, aku bertanya pada Yozuki yang sedang minum melon soda.

"Yozuki gimana?"

"Aku sama sekali nggak tertarik."

Jawabannya datang tanpa jeda sedikit pun. Aku merasa sangat sedih.

*

Lokasi Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan berada di lantai 2 Sayap Timur, yang letaknya berlawanan dengan Sayap Barat tempatku menginap.

Koridor lantai 2 Sayap Timur dilapisi karpet berbulu panjang, terasa empuk saat diinjak. Meirozaka-san yang berjalan di depanku berhenti dan menunjuk ke sebuah pintu.

"Kamar inilah tempatnya," kata Meirozaka-san.

Kamar ini, pikirku.

Dengan sedikit rasa gugup, aku memegang kenop dan membuka pintu.

Ruangan itu memiliki luas yang hampir sama dengan kamarku di Sayap Barat, sekitar 10 jo. Namun, strukturnya terdiri dari 2 ruangan yang saling bersambungan. Ada 1 pintu lagi di dinding sisi kiri dari pintu masuk ruangan, memungkinkan akses ke kamar sebelah. Dan kamar sebelah itulah yang merupakan lokasi kejadian sebenarnya dari Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu melewati pintu di dinding sebelah kiri. Pintu itu saat ini terbuka. Rupanya, pintu itu juga terbuka saat insiden terjadi, 10 tahun yang lalu.

Yang menarik perhatianku saat menginjakkan kaki di ruang sebelah adalah sebuah boneka. Bukan boneka Prancis yang tertancap pisau—melainkan boneka beruang tak terluka. Rupanya, boneka beruang itu diletakkan di sana sebagai pengganti, karena boneka yang tertancap pisau pasti akan terlalu mengejutkan.

Aku mencoba mengingat kembali ringkasan kasus yang pernah kubaca di buku. Garis besarnya seperti ini:

10 tahun yang lalu—saat pesta yang diselenggarakan Yukishiro Byakuya. Semua orang sedang menikmati jamuan di ruang keluarga Sayap Pusat (yang sekarang diubah menjadi lobi), ketika tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita dari arah Sayap Timur. Terkejut, semua orang menuju ke Sayap Timur, ke arah datangnya suara. Di sana, mereka mendengar jeritan lagi. Rupanya berasal dari lantai dua.

Saat menaiki tangga dan berjalan mondar-mandir di koridor, jeritan ketiga terdengar. Barulah saat itu semua orang akhirnya menyadari dari kamar mana jeritan itu berasal.

Seseorang meraih dan memutar kenop. Terkunci.

Salah satu tamu, seorang penulis misteri sebaya dengan Byakuya, bertanya pada Byakuya, "Di mana kunci kamar ini?"

"Kunci itu sudah hilang sejak beberapa hari lalu," jawab Byakuya. "Aku tidak tahu ke mana perginya. Tapi, aneh. Kemarin, saat kucoba periksa, kamar ini seharusnya tidak terkunci."

"Kalau begitu, ada seseorang yang mengunci dari dalam?"

"Kita harus berasumsi begitu," ujar Byakuya.

Seorang tamu lain, seorang editor muda dari penerbit besar, bertanya, "Apakah tidak ada master key?"

"Tidak ada master key," Byakuya menggeleng.

"Tapi, Anda punya master key, 'kan? Saya pernah melihat Anda menggunakannya."

"Ah, itu master key untuk Sayap Barat. Sistem kunci Sayap Barat dan Sayap Timur berbeda. Master key Sayap Barat tidak bisa membuka kamar di Sayap Timur. Dan Sayap Timur tidak memiliki master key."

"Kenapa tidak ada?"

"Entahlah, kenapa, ya? Aku lupa," jawab Byakuya dengan santai.

Seorang tamu lain, seorang penulis wanita remaja yang baru debut, bertanya padanya, "Kalau begitu, tidak ada kunci duplikat?"

"Tidak ada kunci duplikat. Semua kunci di Yuki-shirokan ini menggunakan jenis kunci yang sangat spesial. Mustahil membuat kunci duplikat."

"Kalau begitu, satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan memecahkan jendela, ya."

"Tidak, karena jendelanya terpasang teralis, mustahil bagi orang untuk keluar masuk," jawab Byakuya.

"Kalau begitu, bagaimana cara kita masuk..."

Saat itulah, jeritan wanita kembali terdengar. Semua orang saling pandang. "Tidak ada pilihan lain," kata tamu lain. Ia adalah seorang kritikus pria berusia tiga puluhan yang dikenal berbicara kasar.

"Ayo kita dobrak pintunya. Boleh, 'kan, Sensei?"

"Ini keadaan darurat," Byakuya mengangguk enggan.

Beberapa pria bertubuh besar berjajar di depan pintu yang membuka ke dalam itu. Sambil berteriak aba-aba, mereka menubruk pintu. Terdengar suara pintu berderit. Mereka mengulanginya berkali-kali. Setelah mendekati 10 kali tubrukan, akhirnya pintu itu menyerah.

Pintu yang rusak itu terbuka dengan keras. Bagian dalam ruangan gelap gulita. Seseorang meraba-raba dan menyalakan lampu.

Di dalam ruangan yang diterangi cahaya, tidak ditemukan keanehan apa pun.

"Jangan-jangan, di kamar sebelah?" kata editor muda dari penerbit besar itu. Dia menunjuk pintu yang terpasang di dinding sebelah kiri dari pintu masuk. Itu adalah pintu penghubung ke kamar sebelah, dan kini pintu itu terbuka. Dalam kondisi terbuka lebar. Pintu itu dipasang lebih ke kanan dari pusat dinding—artinya, lebih jauh ke dalam jika dilihat dari pintu masuk kamar.

Semua orang dengan hati-hati mendekati pintu yang mengarah ke kamar sebelah. Lampu di kamar sebelah tampaknya terhubung dengan lampu kamar utama tempat pintu masuk berada. Karena lampu kamar utama sudah dinyalakan, lampu di kamar sebelah kini juga menyala. Oleh karena itu, saat mendekati pintu, kondisi di dalam terlihat jelas.

Di kamar sebelah, tergeletak boneka Prancis yang tertancap pisau. Posisinya tepat di hadapan pintu penghubung. Pisau dengan panjang bilah sekitar tiga puluh sentimeter menancap ke boneka seolah menembus lantai, dan bilahnya berkilauan ke arah pintu.

Tidak ada yang menjerit. Hanya saja, semua orang tampak terkejut.

Di kamar sebelah, tempat boneka Prancis tergeletak, ada dua benda khas lainnya selain boneka itu. Benda-benda itu bisa disebut barang bukti insiden.

Yang pertama adalah perekam suara. Benda itu tergeletak di samping boneka Prancis. Saat diputar, terdengar jeritan wanita. Rupanya, jeritan yang didengar sebelumnya berasal dari rekaman ini.

Dan yang kedua adalah botol yang tergeletak agak jauh dari 'korban' yaitu boneka Prancis. Di dalam botol itu terdapat kunci. Byakuya mengambil botol plastik transparan itu dan berkata, "Benar, ini kunci kamar ini."

Semua orang menjadi riuh.

"Kalau begitu, kamar ini—" kata penulis misteri sebaya dengan Byakuya. "—adalah ruang terkunci?"

"Sulit dipercaya," kata Byakuya. "Tapi begitulah adanya."

"Tidak, tidak mungkin begitu. Sensei, coba pinjam kuncinya sebentar," ujar kritikus pria berusia tiga puluhan yang dikenal pedas. Ia menerima botol berisi kunci dari Byakuya. Membuka tutup yang tertutup rapat, ia mengeluarkan kunci kamar. "Ini trik yang biasa. Pasti kuncinya ini palsu atau semacamnya."

Ia berjalan ke pintu masuk kamar, membawa kunci itu. Ia memasukkannya ke lubang kunci dan matanya terbelalak karena terkejut.

"Kunci asli," gumam kritikus pria berusia tiga puluhan itu.

"Sungguh tidak bisa dipercaya," kata Byakuya. "Siapa sangka hal seperti ini akan terjadi."

"Ngomong-ngomong, Sensei,"

"Ya?"

"Sejak tadi, kenapa Sensei menyeringai?" tanya penulis wanita remaja yang baru debut.

Semua mata tertuju pada Byakuya. Byakuya menghilangkan senyumnya dan berkata dengan polos,

"Aku tidak tersenyum."

"Jelas-jelas Anda tersenyum! Ah, jangan-jangan, Sensei—"

Penulis remaja itu menghentikan kata-katanya di sana. Ia berpikir, Lebih baik tidak usah diteruskan. Tidak ada kata terlambat untuk mempermalukan si kakek tua ini setelah misteri ruang terkunci terpecahkan.

Ia menatap Byakuya dengan senyum menantang, layaknya sebuah deklarasi perang. Bukan hanya dia yang tersenyum seperti itu. Penulis misteri sebaya Byakuya, editor muda dari penerbit besar, kritikus pria berusia tiga puluhan yang dikenal pedas—dan semua tamu lainnya—merasakan hal yang sama.

Aku akan jadi yang pertama memecahkan misteri ini dan membuat kakek tua ini malu.

Maka, acara tersembunyi pesta itu—Turnamen Misteri Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan—pun dimulai. Sepanjang malam, berbagai teori bertebaran, namun tak seorang pun yang berhasil mencapai kebenaran.

"..."

Begitulah garis besar Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan yang kubaca di buku. Kisah itu dicantumkan di bagian akhir kumpulan cerita pendek penulis wanita remaja (yang kini sudah berusia dua puluhan dan telah memenangkan beberapa penghargaan besar) yang hadir di sana. Karena aku sudah membacanya berulang kali, aku benar-benar hafal di luar kepala.

Aku menarik napas, fuh, dan segera memulai penyelidikan. Pertama, aku memeriksa satu-satunya jendela di ruangan ini. Jendela itu berada tepat di seberang pintu penghubung antara kamar utama dan kamar sebelah. Jendelanya besar, tingginya mencapai dari lantai ke langit-langit. Sesuai dengan yang kudengar, teralis logam dipasang di sana. Jendela itu adalah tipe geser yang bisa dibuka, dan kabarnya memang terbuka saat insiden terjadi, tetapi karena ada teralis, mustahil bagi orang untuk keluar masuk dari sana.

Setelah selesai memeriksa jendela, aku memutuskan untuk memeriksa barang bukti paling penting dalam kasus ini: kunci kamar yang dimasukkan ke dalam botol. Aku mengambil benda yang tergeletak di lantai itu.

Botol itu ternyata lebih kecil dari yang aku bayangkan. Ukurannya kira-kira sebesar tempat film kamera. Tutupnya terbuat dari logam, seperti tutup botol selai, dan berjenis putar. Tentu saja, saat insiden terungkap, tutupnya dilaporkan tertutup rapat. Di bagian atas tutup botol itu, terpasang tonjolan kecil berbentuk 'O'. Tonjolan itu tampaknya berfungsi untuk memasukkan tali atau semacamnya.

Setelah mengamati tonjolan itu sebentar, aku mengalihkan pandangan ke kunci yang ada di dalam botol transparan.

"Itu kunci kamar ini," kata Meirozaka-san, yang tampak bosan di sampingku. "Itu barang asli, bukan replika. Berhati-hatilah agar tidak hilang."

Kunci itu jauh lebih kecil daripada kunci Sayap Barat tempatku menginap. Panjangnya sekitar 5 sentimeter. Ukuran yang cukup untuk masuk ke dalam botol plastik kecil yang tersisa di lokasi kejadian. Namun, ukurannya tidak cukup untuk melewati lubang-lubang teralis persegi yang dipasang di jendela kamar sebelah. Ukuran setiap lubang teralis jauh lebih kecil daripada kunci yang ada di dalam botol. Artinya, kunci tidak bisa dimasukkan ke dalam ruangan melalui teralis jendela.

Tetapi, jika dari tempat lain—

"Begitu, ya," gumamku.

"Apa yang 'begitu', ya?" tanya Meirozaka-san.

Sambil memegang botol kecil di tangan, aku berjalan menuju pintu masuk kamar. Meirozaka-san ikut mengikuti. Begitu keluar ke koridor bersamanya, aku menutup pintu dan berlutut di atas karpet berbulu panjang. Aku membungkuk perlahan dan mengintip bagian bawah pintu.

"...Apa yang Anda lakukan?" tanya Meirozaka-san dengan curiga.

"Aku sedang memeriksa celah di bawah pintu," jawabku.

The Murder in the Golden Age of Locked Rooms: The House of Snow and The Six Tricks - Chapter 1 Ilustrasi 2

Terdapat celah di bawah pintu. Pintu kamarku di Sayap Barat tidak memiliki celah seperti ini, tetapi sepertinya konstruksi kamar di Sayap Timur ini berbeda. Sebenarnya, aku sudah mengetahui informasi ini sebelumnya, karena tertulis dalam buku yang membahas kasus tersebut.

Ketika aku menjelaskan hal itu, Meirozaka-san menimpali, "Secara akurat, celah di bawah pintu ini hanya ada di kamar lantai 2 dan 3 Sayap Timur. Sayap Timur memang 3 lantai, tapi kamar di lantai 1 tidak memiliki celah di bawah pintu."

"Kenapa lantai satu tidak punya celah?"

"Itu karena lantai kamar di lantai 1 tidak dilapisi karpet."

Aku memiringkan kepala, tetapi setelah jeda sejenak, aku menyadari maksud ucapannya.

"Jangan-jangan, itu agar karpetnya tidak tersangkut saat pintu dibuka?"

Meirozaka-san mengangguk. Aku berpikir, Masuk akal. Aku kembali mengamati pintu.

Pintu kamar ini membuka ke dalam, dan bagian dalam kamar dilapisi karpet berbulu panjang, sama seperti koridor. Panjang bulu karpet koridor sekitar tujuh sentimeter, sementara karpet di kamar ini mungkin sekitar 1 sentimeter. Kemungkinan besar, kamar di lantai atas (lantai 3) juga memiliki spesifikasi yang sama. Jadi, seandainya tidak ada celah di bawah pintu, karpet akan tersangkut saat pintu dibuka, membuatnya sulit dibuka dan ditutup.

Dan celah di bawah pintu inilah yang penting untuk misteri ruang terkunci. Meskipun hampir tak terlihat karena tertutup oleh karpet panjang koridor, celah itu memang ada. Kalau begitu, kesimpulan yang didapat adalah—

Aku mengeluarkan kunci kamar dari botol plastik kecil. Aku mencoba memasukkannya melalui celah di bawah pintu. Ukurannya sangat pas. Tampaknya, setelah mengunci pintu menggunakan kunci, kunci itu bisa dikembalikan ke dalam ruangan melalui celah ini.

Kalau begitu, hal selanjutnya yang harus aku pastikan adalah—

Aku memasukkan kunci kembali ke dalam botol dan menutup tutupnya. Kemudian, aku mencoba mendorong botol itu melalui celah di bawah pintu.

Botol plastik itu tersangkut di pintu dan mengeluarkan bunyi klik-klik. Sepertinya, ukuran botol ini tidak memungkinkan untuk melewati celah di bawah pintu.

"Hoam."

Aku melihat Meirozaka-san menguap. Aku merasa sangat sedih.

Kalau begitu, pendekatan lain—, aku mengamati pintu. Di bagian dalam pintu, tidak ada kenop putar untuk mengunci, melainkan hanya lubang kunci. Artinya, kunci diperlukan bahkan untuk mengunci pintu dari dalam. Ini berarti trik yang mengandalkan benang atau semacamnya untuk memutar kenop kunci dari dalam tidak bisa digunakan.

Dengan kata lain, untuk menciptakan ruang terkunci, satu-satunya cara tetap mengunci dari luar menggunakan kunci—

"...Masalahnya adalah bagaimana cara mengembalikan kunci itu ke dalam ruangan."

"Ya, masalahnya adalah kita tidak tahu caranya,"

Tiba-tiba, suara asing menyela, membuatku mengalihkan pandangan.

Di sana berdiri seorang pria. Ia mengenakan setelan kuno, seperti yang dipakai bangsawan Inggris sebelum perang. Usianya sekitar pertengahan dua puluhan, tingginya setara denganku. Wajahnya cukup tampan. Fitur wajahnya tegas, rambutnya yang pendek disisir klimis dengan wax, memperlihatkan dahinya yang cerdas.

"Sagurioka-sama," sapa Meirozaka-san. Kemudian, dia menghela napas dengan kesal. "Anda masih di sini rupanya. Saya kira Anda sudah kembali ke kamar."

"Tidak, Aku hanya pergi ke toilet," jawab pria yang dipanggil Sagurioka itu. "Sekaligus mencari suasana baru. Kalau terus berpikir, rasanya seperti kaki tersangkut di lumpur pikiran dan jadi tidak bisa bergerak."

Dari percakapan mereka berdua, aku secara samar memahami situasinya.

Pria bernama Sagurioka ini mungkin adalah tamu yang lebih dulu datang. Tentu saja dia adalah tamu hotel, tetapi 'lebih dulu' di sini bukan hanya berarti itu. Sagurioka ini pasti, sama sepertiku, adalah orang yang sedang menantang misteri Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan. Dan dia memulai penyelidikan lebih awal dariku.

"Persis seperti yang kau pikirkan," kata Sagurioka seolah membaca pikiranku. "Aku juga, sama sepertimu, sedang menantang ruang terkunci ini. Ah, maaf, Aku belum memperkenalkan diri—Aku adalah orang seperti ini."

Sagurioka mengeluarkan kartu nama dari sakunya. Pada kartu nama yang aku terima, tertulis: Detektif Ruang Terkunci, Sagurioka Eiji.

Detektif Ruang Terkunci—jadi, orang ini adalah Detektif Ruang Terkunci?

Detektif Ruang Terkunci adalah profesi baru yang muncul di negara ini sejak pembunuhan ruang terkunci mulai sering terjadi. Saat ini, 30% dari pembunuhan ruang terkunci di Jepang menggunakan trik yang sangat sederhana, seperti memutar kenop kunci dengan kekuatan fisik atau pelaku yang bersembunyi di dalam kamar. Namun, 70% persen sisanya menggunakan trik yang cukup rumit—atau bahkan mutakhir—sehingga polisi biasa tidak bisa menanganinya. Oleh karena itu, polisi meminta bantuan detektif eksternal untuk memecahkan misterinya. Detektif yang ditunjuk adalah Detektif Ruang Terkunci. Mereka dibayar oleh negara untuk memecahkan misteri ruang terkunci.

Meskipun begitu, hanya sebagian Detektif Ruang Terkunci yang diminta bantuan oleh polisi, dan sebagian besar tidak bisa hidup hanya dari kasus ruang terkunci. Kabarnya, mereka mencari nafkah dengan melakukan penyelidikan perselingkuhan atau mencari anjing hilang.

Menyadari tatapan curigaku, Sagurioka mengangkat bahu.

"Hei, jangan menatapku seperti itu. Aku pernah masuk 10 besar di Detektif Ruang Terkunci Terbaik, lho."

"Eh, benarkah? Hebat sekali!"

Sikapku langsung berubah drastis. Detektif Ruang Terkunci Terbaik adalah majalah yang terbit 2 kali setahun, yang sesuai namanya, memuat peringkat detektif ruang terkunci berdasarkan rekam jejak kasus. Masuk sepuluh besar di sana adalah suatu kehormatan besar.

Aku juga membaca majalah itu setiap saat, jadi aku seharusnya tahu pria ini. Aku mencoba menelusuri ingatan. Sagurioka Eiji—ya, namanya tidak asing. Apa yang tertulis tentang dia?

Namun, yang akhirnya aku ingat tentang Sagurioka adalah artikel yang sama sekali berbeda dari yang ditulis di Detektif Ruang Terkunci Terbaik.

"...Jangan-jangan Sagurioka-san ini yang beberapa waktu lalu terlibat skandal perselingkuhan?"

"Ah, tolong lupakan yang itu."

Jawabannya datang tanpa jeda. Ia menunjukkan senyum masam yang tampak bermasalah.

Aku ingat sekitar setahun yang lalu, sebuah majalah mingguan memuat berita: detektif muda yang terpilih di Detektif Ruang Terkunci Terbaik berselingkuh dengan istri orang. Aku ingat betapa terkejutnya aku saat itu, berpikir, “Siapa sangka zaman sekarang skandal perselingkuhan detektif bisa masuk berita.”

"Sungguh, kenangan pahit," Sagurioka mengangkat bahunya. "Yah, setiap detektif punya kelebihan dan kekurangan, 'kan. Aku mahir memecahkan kasus, tapi tidak mahir memecahkan misteri cinta."

Sagurioka berbicara dengan cerdas. Yah, mungkin tidak terlalu cerdas.

Dia berdeham.

"Singkatnya, Aku adalah detektif spesialis ruang terkunci, dan kali ini aku datang ke sini sekaligus untuk meliput majalah. Bukan meliput artikel perselingkuhan, lho, ya! Ini adalah proyek untuk majalah misteri, di mana aku akan diwawancarai di lokasi kejadian Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan. Tentu saja, aku juga menantang misteri kasus ini. Tapi sepertinya wartawannya belum datang. Aku sedang melakukan penyelidikan awal. Bukankah lebih keren kalau aku memecahkan misteri ini dengan mudah saat wartawannya tiba?"

Dia mengatakan sesuatu yang cukup realistis. Aku pun bertanya pada Sagurioka.

"Jadi—sampai mana Anda berhasil memecahkannya?"

"Jujur saja, buntu total," Sagurioka mengangkat bahunya. "Seperti yang kau lakukan tadi, kunci tidak bisa melewati celah di bawah pintu dalam kondisi dimasukkan ke dalam botol. Itu berarti, pelaku—atau lebih tepatnya, Yukishiro Byakuya—tidak mengembalikan kunci ke ruang terkunci setelah memasukkannya ke dalam botol, melainkan memasukkannya ke dalam botol setelah kunci dikembalikan ke ruang terkunci."

"Ah, sepertinya memang begitu," kataku. "Artinya, kunci dimasukkan ke dalam kamar dari celah di bawah pintu, dipindahkan ke kamar sebelah menggunakan benang pancing atau semacamnya, lalu dimasukkan ke dalam botol dengan cara tertentu."

"Ho, kau paham, Nak," Sagurioka bersiul kagum. "Jadi, masalahnya di sini adalah 2 poin: , bagaimana kunci dimasukkan ke dalam botol—dan , bagaimana tutup botol ditutup."

"Poin ① mungkin bisa diusahakan, tapi poin ② sepertinya sulit, ya."

"Benar. Aku juga memikirkan metode memutar benang pancing pada tutup botol untuk menguncinya, tetapi botolnya tidak dipasang secara tetap di lantai—secara fisik, itu akan sulit. Tapi, kalau begitu, bagaimana dia menutup tutupnya?"

"Kalau begitu, bagaimana dengan ini? Kita letakkan botol dalam posisi miring dengan tutup terbuka di dalam kamar—tepat di samping pintu. Lalu, dari sisi koridor, kunci didorong dengan kencang dari bawah pintu menggunakan jentikan jari ( dekopin ) atau semacamnya. Dengan begitu, kunci bisa masuk ke dalam botol. Setelah itu, tutup botol bisa ditutup dari celah di bawah pintu menggunakan tongkat tipis atau semacamnya."

"Dan sisanya tinggal memindahkan botol ke kamar sebelah?" Sagurioka bergumam sambil mengangguk. "Untungnya, tutup botol itu punya tonjolan berbentuk 'O'. Jika kita memasukkan benang ke sana dan menariknya, botol memang bisa dipindahkan. Tapi sayangnya, trik itu tidak mungkin dilakukan. Seperti yang kau lihat, celah di bawah pintu sangat sempit. Sekitar satu sentimeter. Mustahil menutup tutup botol dengan kawat atau semacamnya melalui celah sesempit ini. Terlebih lagi, tutupnya kabarnya ditutup dengan sangat rapat. Tidak mungkin bisa ditutup sekencang itu tanpa diputar langsung dengan tangan."

"Hmm, kalau begitu, bagaimana caranya..."

"Ya, di situlah misterinya. Sungguh, Yukishiro Byakuya ini menyiapkan kasus kriminal mustahil yang luar biasa."

Meirozaka-san menatap kami yang sedang berdiskusi dengan tatapan dingin. Akhirnya, dia menghela napas, "Silakan nikmati waktu Anda," katanya, lalu pergi.

*

Omong-omong, laporan Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan yang disusun oleh penulis wanita remaja yang hadir di tempat kejadian—ditutup dengan kalimat dari penulis misteri, Yukishiro Byakuya.

Meskipun Byakuya tidak mengakui dirinya sebagai pelaku, bahkan setelah fajar menyingsing dan turnamen misteri ditutup, ia hanya mengatakan ini kepada penulis wanita itu:

"Sungguh disayangkan." "Padahal, hanya dengan informasi yang ada saat ini, misteri ruang terkunci ini sudah bisa dipecahkan."

*

2 jam kemudian, aku dan Sagurioka, yang benar-benar dikalahkan oleh misteri ruang terkunci, kembali ke lobi dalam keadaan sempoyongan. Sagurioka berkata padaku, "Sampai jumpa nanti," lalu berjalan terhuyung-huyung menuju kursi di dekat jendela. Dia tampak lelah. Yah, aku juga lelah.

Aku bergabung dengan Yozuki yang duduk di dekat meja resepsionis. Yozuki, yang sedang asyik bermain gim di ponselnya, mengangkat wajahnya begitu menyadari kedatanganku.

"Kerja bagus, gimana misteri ruang terkuncinya?"

"Aku jujur saja, buntu total."

"Tentu saja. Sudah kuduga."

Dia berkata begitu, lalu kembali menatap ponselnya. Aku kesal, tapi menyedihkan karena aku tidak bisa membalas apa-apa. Aku memesan jus pisang pada Meirozaka-san, lalu duduk di sofa dan menutup mata. Lelah. Tubuhku terasa seperti lumpur. Aku ingin sekali tertidur saat ini juga....

Tapi, Yozuki menendang tulang keringku. Aku mengabaikannya, mengira itu hanya benturan kaki, tetapi kali ini aku ditendang dengan kuat. Aku yakin itu disengaja. Sungguh wanita yang kejam.

Aku membuka mata, dan terpampang wajah Yozuki yang tidak merasa bersalah sama sekali. Untuk alasan yang aneh, dia berbicara dengan suara pelan dan bersemangat.

"Kasumi-kun, Kasumi-kun."

"Berisik sekali, ada apa?"

"Hei, lihat itu."

Yozuki menunjuk ke arah konter. Di sana berdiri sepasang pria dan wanita yang tampak seperti tamu hotel. Pria itu berusia akhir dua puluhan, dan gadis itu berusia pertengahan belasan tahun. Jelas sekali mereka bukan pasangan. Pria itu mengenakan kacamata dan berpenampilan biasa saja, sedangkan gadis itu terlihat berkilauan. Rambut cokelatnya dikuncir twintail. Wajahnya terlihat muda, tetapi memancarkan aura cantik, dan penampilannya sangat menarik perhatian. Auranya luar biasa. Bahkan, aku merasa pernah melihat gadis itu di suatu tempat.

"Lihat! Itu Hasemi Riria. Aktris drama pagi."

"Ah!"

Aku tanpa sengaja meninggikan suara. Tatapan Riria beralih ke sini. Aku buru-buru memalingkan muka.

Riria—Hasemi Riria. Dia adalah aktris nasional yang membintangi drama pagi hingga musim gugur lalu. Usianya sekitar 15 tahun. Dia sudah populer, tetapi drama pagi itu membuatnya big break, dan sekarang dia sangat laris di drama maupun acara varietas.

Kami, yang merupakan simbol orang biasa, tentu saja ikut bersemangat.

"Hei, Kasumi-kun, itu beneran dia, kan?"

"Ya, jelas itu dia."

"Imut banget."

"Memang."

"Hei, nanti kita minta tanda tangan, yuk."

"Dia tidak akan terganggu?"

"Itu risiko jadi orang terkenal, 'kan."

"Benar juga."

"Kalau gitu, dia punya kewajiban buat memberikannya."

Kami berbisik-bisik sambil terus mengamati Riria. Riria menerima kunci dari Manajer Shihai-san di meja resepsionis. Dia melihat nomor kamar yang terukir pada kunci dan berseru senang.

"Wah, Kamar 001! Ini, itu kan? Kamar yang terpisah itu?"

"Ya, itu adalah paviliun di Sayap Barat. Yang digunakan Yukishiro Byakuya untuk menulis."

"Wah, ternyata benar! Riria adalah penggemar berat Yukishiro Sensei, jadi Riria memang pengin sekali menginap di sana."

Rupanya Riria adalah penggemar Yukishiro Byakuya—Aku mengetahui fakta yang tak terduga. Dan Riria yang aku temui secara langsung memiliki kepribadian yang cukup centil (burikko). Yah, aku sudah tahu dari acara varietas bahwa dia memang berkarakter seperti ini.

"Pokoknya, terima kasih banyak!~ Aku terharu," kata Riria sambil menggenggam kunci dengan gembira, mengucapkan terima kasih kepada Shihai-san.

Kemudian, senyum itu tiba-tiba menghilang, dan dia berbicara kepada pria yang menemaninya.

"Kalau begitu, Manei-san, tolong bawa barang-barangku ke depan kamar."

Suara itu sangat dingin, sampai membuatku terkejut. Pria yang dipanggil Manei itu menjawab, "Baik, Riria-san," lalu menghilang ke arah Sayap Barat sambil membawa tas koper bermerek (yang sepertinya milik Riria) yang diletakkan di lantai.

Riria kembali tersenyum manis kepada Shihai-san.

"Apa Riria bisa minum teh di lobi ini? Riria haus banget."

"Ba-baik, jika Anda bicara pada pelayan di sana, Anda bisa memesan berbagai macam minuman."

"Benarkah! Wah senengnya! Permisi, Pelayan, bolehkah Riria memesan?"

Riria berjalan cepat menuju Meirozaka-san dengan gembira.

Aku merasa dia adalah anak yang sangat bermuka dua. Manei mungkin manajer Riria, tetapi melihat perlakuan dingin seperti itu, aku jadi berpikir, dunia artis sungguh menakutkan.

"Kasihan Manei-san, ya. Padahal dia Manajer," Yozuki kembali membuat plesetan.

TN Yomi: マネージャー ( Manējaa ) dan 真似井 ( Manei ) sengaja dibuat berdekatan di terjemahan: Manajer dan Manei-san untuk mempertahankan plesetan Yozuki.

Meirozaka-san membawakan jus pisang yang baru saja aku pesan, dan aku menyesapnya sedikit.

Saat aku melihat sekeliling lobi dengan samar, aku menyadari bahwa sejumlah tamu telah berkumpul di sana. Presiden direktur Yashiro dan Dokter Ishikawa tampaknya masih membicarakan jam tangan. Aktris drama pagi Riria terlihat gembira meminum jus grapefruit. Detektif Sagurioka terkapar di sofa.

Termasuk aku dan Yozuki, ada 6 tamu yang berada di lobi saat ini. Karena jumlah tamu yang menginap malam ini adalah dua belas orang, berarti setengah dari total tamu sudah berkumpul di tempat ini.

Siapakah tamu-tamu sisanya?

Saat aku sedang memikirkan hal itu, aku melihat sosoknya.

Seketika, seluruh bulu kudukku merinding. Aku tidak bisa mempercayainya. Kenapa—kenapa dia ada di sini?

Dia tampaknya baru saja pindah dari Sayap Barat ke lobi. Rambut hitam panjangnya mencapai pinggang, wajahnya yang cantik dan sejuk tertata indah. Dan mata besarnya berbentuk sipit yang tajam. Aku tidak tahu ada orang lain yang lebih pantas disematkan kata gadis cantik selain dirinya.

Namun, penampilannya terlihat sedikit lebih dewasa dari yang aku ingat. Tentu saja—sudah lebih dari setahun sejak terakhir kali aku bertemu dengannya.

Tanpa sadar, aku berdiri dan mendekatinya. Menyadari kehadiranku, matanya terbelalak. Kemudian, dia berkata dengan terkejut.

"Kuzushiro-kun?"

Alih-alih mengangguk, aku menjawab,

"Lama tidak bertemu, Mitsumura."

Ah—Aku merasa senang telah datang ke sini. Ketika Yozuki pertama kali berkata, "Ayo kita cari Yeti," Aku sempat ragu, tetapi hadiah ini lebih dari cukup untuk menandingi pengorbanan itu.

"Lama tidak bertemu juga, Kuzushiro-kun," dia tersenyum.


Inilah pertemuan kembali aku dengan Mitsumura Shitsuri setelah satu tahun.

*

"Kasumi-kun, siapa gadis ini?"

Tertarik dengan hubunganku dan Mitsumura, Yozuki mendekat dengan melompat-lompat.

"Dia," kataku, "teman sekelasku waktu SMP. Kami juga anggota klub sastra yang sama."

TN Yomi: ぴょこぴょこと寄ってくる ( pyokopyoko to yottekuru ) diterjemahkan sebagai mendekat dengan melompat-lompat.

Meski begitu, Mitsumura dan aku adalah satu-satunya dua anggota Klub Sastra, jadi sampai dia berhenti, aku menghabiskan sebagian besar waktu sepulang sekolah bersamanya.

Ketika aku menceritakan hal itu kepada Yozuki, wajahnya menunjukkan ekspresi mengerti.

"Begitu, ya," kata Yozuki. "Berarti, dia mantan pacar, dong."

Bukan, bukan itu. Apa yang didengarkan anak ini sih?

"Kalau begitu, lebih dari teman, kurang dari pacar?"

"Apa yang kau dengarkan, sih!"

"Kuzushiro-kun, siapa dia?"

Kini giliran Mitsumura yang bertanya kepadaku. Tampaknya dia menanyakan hubunganku dan Yozuki.

"Hmm, bagaimana ya," Aku merasa itu pertanyaan yang sulit dijawab. "Dia bisa dibilang teman masa kecil? Dia tinggal di sebelah rumahku, dan sudah seperti kakak perempuan bagiku sejak kecil."

"Begitu," Mitsumura mengangguk. "Berarti, lebih dari teman masa kecil, tapi kurang dari kakak, ya."

Entah kenapa, dia mulai mengatakan hal-hal aneh.

Setelah menatapnya dengan curiga, aku menanyakan hal yang benar-benar membuatku penasaran.

"Ngomong-ngomong, Mitsumura, kenapa kau ada di sini hari ini?"

"Jangan-jangan kamu datang buat nyari Yeti juga?" sela Yozuki.

"Yeti? Tidak, Aku cuma datang buat liburan, kok," jawab Mitsumura. "Eh, memangnya ada Yeti di sini?"

Yozuki membusungkan dada dengan bangga.

"Ada!"

"Tidak, tidak ada," selaku.

"Jadi, mana yang benar?"

Mitsumura bertanya dengan bingung, tetapi tak lama kemudian dia tertawa kecil. Kepada kami yang memiringkan kepala, dia tersenyum, "Bukan apa-apa, hanya saja rasanya nostalgia. Sudah lama aku tidak mengobrol bareng Kuzushiro-kun."

"Oh, ya, itu pasti nostalgia," Yozuki menanggapi. Ia kemudian bertanya dengan rasa tertarik, "Bagaimana sih Kasumi-kun waktu SMP?"

"Bagaimana, ya," Mitsumura menjawab seolah menelusuri ingatannya.

"Entah kenapa, dia sangat sok keren. Dia selalu berjalan dengan wajah yang seolah-olah berkata, Aku ini serigala penyendiri."

Wajah macam apa itu!. Meskipun waktu SMP, kurasa aku tidak berjalan dengan wajah seperti itu.

"Lalu, aku juga pernah mendengar rumor ini: Aku bisa mengingat apa pun yang kulihat, seperti foto. Aku punya kemampuan khusus itu. Tapi karena terlalu membebani otakku, Aku tidak menggunakannya untuk tes harian atau semacamnya. Aku hanya menggunakannya saat satu waktu—saat dunia berada dalam bahaya. Katanya dia membual seperti itu dengan bangga kepada teman-temannya."

Aku dalam hati berteriak, Masa SMP-ku memalukan sekali! Yah, memang benar aku pernah mengatakannya! Tapi bukankah sudah ada janji bahwa hal-hal seperti itu akan kadaluwarsa setelah waktu berlalu?

Mengabaikan jeritan hatiku, Yozuki berkata. 

"Tolong ceritain kisah itu lebih detail."

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita mengobrol sambil minum teh."

2 orang yang baru saja akrab karena menjelek-jelekkanku itu duduk bersama di meja. Aku ikut duduk bersama mereka. Mitsumura kelihatannya memang keren dan serius, tetapi dia punya sisi yang cukup seenaknya. Aku harus mengawasi mereka agar dia tidak menceritakan hal-hal yang dilebih-lebihkan atau bohong.

Saat aku sedang mengawasi mereka berdua, pada saat itu juga seorang pria kembali dari Sayap Barat. Pria berkacamata yang berpenampilan biasa—Manajer aktris drama pagi Hasemi Riria. Namanya Manei. Manei duduk di kursi di hadapan Riria yang sedang bersantai di sofa. Dia mengeluarkan selembar kertas tipis dari tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja.

Riria, yang sedang menyeruput jus grapefruit, melihat kertas itu dan bertanya,

"Manei-san, itu apa?"

"Ini formulir survei untuk acara varietas."

"Ugh."

Riria menunjukkan wajah tidak suka yang sangat kentara. Dia menyeruput sedotan jusnya dan berkata,

"Riria sedang nggak mood sekarang. Manei-san, tolong isi saja untukku."

"Tidak bisa. Anda harus mengisinya dengan benar."

"Tapi, Riria ngga bisa mengangkat benda yang lebih berat dari sumpit. Dan pulpen itu lebih berat dari sumpit, 'kan?"

"Tergantung bahannya, sih."

Aku setuju dengan Manei.

Riria tampaknya semakin tidak senang.

"Tidak mengerti, ya? Riria bilang nggak mau menulis."

"Tapi, survei untuk acara varietas itu penting," kata Manei dengan sikap yang ternyata cukup tegas. "Banyaknya kesempatan tergantung pada cara Anda mengisi survei. Jika Anda menulis banyak, pembawa acara (MC) akan sering mengarahkan pertanyaan pada Anda. Sebaliknya, jika surveinya kosong, Anda akan dianggap tidak punya semangat oleh MC dan staf."

"Iya, Riria tahu. Makanya Riria minta Manei-san yang menulisnya."

"Pembicaraannya berputar-putar lagi, ya."

"Mungkin aja ada sihir yang menghinggapi pembicaraan ini?"

Riria menghabiskan jusnya, lalu merenggut kasar formulir survei dari tangan Manei.

"Oke, baiklah, Riria bakal menulisnya. Di... ka... mar, ya!"

Dia berdiri dengan cepat dan keras. Riria kemudian pergi menuju Sayap Barat dengan langkah kaki yang kesal. Manei menghela napas panjang.

Bahkan selama interaksi Manei dan Riria, Yozuki dan Mitsumura terus asyik mengobrol tentang masa SMP-ku. Banyak sekali 'sejarah hitam' yang terungkap. Tapi, mereka berdua tiba-tiba menghentikan percakapan. Tepat saat Riria meninggalkan lobi, salju mulai turun.

Di luar jendela—salju.

Salju berkilauan, menari-nari dengan cepat di udara dan menumpuk secara fantastis. Taman tertutup oleh lapisan putih. Aku baru menyadari, ini pertama kalinya aku melihat salju tahun ini. Apalagi, ini salju yang kulihat saat bepergian. Mau tak mau, semangatku meningkat. Tamu-tamu lain yang berkumpul di lobi juga mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Presiden direktur Yashiro, Dokter Ishikawa, dan Detektif Sagurioka—semuanya. Manei, yang baru saja bertengkar dengan Riria, juga memandangi salju seolah mencari hiburan. Meirozaka-san, yang sedang membawa kopi, juga menatap ke luar jendela. Hanya Manajer Shihai-san yang tetap mengetik di komputer di meja resepsionis.

Aku dengar total ada 12 tamu yang menginap malam ini. Sekarang, tujuh di antaranya berkumpul di lobi. Di antara tamu yang aku kenal, yang tidak ada di sini hanyalah Riria dan—Fenrir Alice Hazard, wanita Inggris itu.

Fenrir muncul di lobi sekitar 10 menit setelah salju mulai turun. Dia mengenakan mantel dan ada salju di bahunya, jadi dia sepertinya baru saja berjalan-jalan di taman. Kini, ada 8 tamu yang berkumpul di lobi. Fenrir, dengan rambut peraknya yang basah oleh salju, melihat-lihat lobi sebentar, tetapi saat melihatku, dia mendekat dengan gembira.

"Kuzushiro-san." Dia meletakkannya di atas meja. Itu adalah kelinci yang terbuat dari salju. "Ini oleh-oleh."

Kelinci salju mungil itu berdiri di atas meja kayu. Imut.

Fenrir tersenyum lebar.

"Silakan dimakan."

"Eh, dimakan?"

"Karena di dalamnya ada anko (pasta kacang merah)."

"...Serius?"

Tepat ketika aku hendak menggigitnya dengan hati-hati, Fenrir tertawa, "Cuma bercanda." Dia meninggalkan tempat duduk kami seperti anak nakal, lalu berjalan perlahan ke dekat jendela dan mulai memotret taman dengan ponselnya. Salju di luar jendela semakin lebat.

Sekitar 20 menit kemudian, salju berhenti. Meskipun hanya turun sebentar, taman sudah sepenuhnya menjadi dunia perak. Pekarangan puri yang dikelilingi tembok tinggi itu dicat putih bersih.

Momen berhentinya salju itu menjadi pemicu, 8 tamu yang berkumpul di lobi mulai meninggalkan tempat duduk mereka satu per satu. Shihai-san, yang sejak tadi bekerja di konter, melakukan peregangan besar dan berjalan menuju Ruang Makan. Meirozaka-san menggantikannya di konter.

Aku juga memutuskan untuk kembali ke kamar. Kelinci salju yang aku dapatkan dari Fenrir sudah agak lemas. Aku perlu memasukkannya ke freezer kamar agar tidak meleleh dan memperpanjang 'umur'nya.

*

Pukul 7 malam, Aku dan Yozuki menuju Ruang Makan.

Tampaknya makan malam sudah dimulai. Dinding sisi utara ruang makan sepenuhnya terbuat dari jendela kaca besar untuk masuknya cahaya, dan meskipun kini hanya memantulkan kegelapan, pasti terasa sangat lapang di siang hari. Ada beberapa meja di ruangan yang luas itu, dan para tamu duduk di tempat masing-masing, menikmati makanan mereka dengan penuh selera.

Kursi tampaknya telah ditentukan sebelumnya. Kami duduk di meja tempat piring bertuliskan Asahina-sama · Kuzushiro-sama diletakkan. Melihat kami duduk, Meirozaka-san segera membawakan hidangan.

"Ini adalah Hidangan Hors d'oeuvres Istimewa Koki—Bersama Angin Eropa Selatan, Barat, dan Utara."

Aku langsung disuguhi hidangan misterius. Aku sama sekali tidak tahu masakan dari negara mana ini.

"Ini multinasional, ya. Omelet Spanyol ini pasti dari Spanyol, kan? Lalu carpaccio ini dari Italia, dan ikan hering ini dari Nordik?" Yozuki mengambil ikan hering itu. Matanya langsung terbelalak. "Makanan apa ini—uwaa enak banget!"

"Eh, serius?"

"Coba aja. Lidahmu bakal meleleh sampai kehilangan bentuk aslinya."

Aku tidak mau lidahku kehilangan bentuk aslinya.

Sama seperti Yozuki, aku mencicipi masakan ikan hering itu. Dan tanpa sadar aku berseru, "Hahawa!"

"Makanan apa ini—enak banget, sial!"

"Lidahmu meleleh, 'kan?"

"Meleleh, meleleh! Ini mungkin hidangan ikan paling enak yang pernah kumakan!"

Semangatku meningkat drastis karena makanan itu. Aku tanpa sadar memasuki mode "Panggil Koki". Aku menjentikkan jari (finger snap) untuk memanggil Meirozaka-san yang sedang melayani di dekat kami.

Kepada Meirozaka-san yang datang, aku berkata. 

"Makanannya sangat lezat!"

"Oh, begitu," jawabnya datar.

Aku mendapat balasan yang dingin. Aku merasa sangat sakit hati.

Mengabaikanku yang seperti itu, Yozuki dan Meirozaka-san mulai mengobrol.

"Masakan ini dibuat oleh Manajer, ya?"

"Ya, Shihai yang membuatnya. Mungkin tidak etis, tapi beliau memiliki keahlian yang tidak kalah dari koki kelas satu di Tokyo."

"Sayurannya juga sangat segar, ya. Seperti tomat ini."

"Ah, itu dikirimkan oleh adik kembar Shihai. Shihai punya adik kembar yang bekerja sebagai petani di Yamanashi."

Percakapan mereka sangat hidup. Aku merasa heran. Padahal percakapan mereka denganku tidak sehidup ini.

Saat itulah, aku teringat hal yang sejak tadi mengganggu pikiranku, dan aku pun bertanya.

"Apa hubungan Anda dan Shihai-san?"

"Maksud Anda hubungan yang bagaimana?"

"Yah, karena kalian berdua mengelola hotel ini, kupikir kalian sudah saling kenal sejak lama."

Karena ini adalah hotel di tempat terpencil, dan Meirozaka-san tinggal dan bekerja di puri ini, aku berpikir mereka pasti memiliki ikatan, bukan sekadar orang asing.

Tebakanku ternyata benar.

"Ya, kami memang sudah saling kenal sejak lama," kata Meirozaka-san. "Shihai itu guru-ku semasa SMA. Setelah lulus, kami sesekali bertemu, dan suatu hari saya dengar dia berhenti dari sekolah dan mulai mengelola hotel. Entah kenapa, saya pun ikut membantunya. Kebetulan, saya sedang menganggur."

Jadi dia dulu seorang NEET, pikirku.

"Meskipun begitu, dia hebat banget, ya," kata Yozuki sambil memakan ikan hering. "Shihai-san baru sekitar usia tiga puluh tahun, kan? Tapi udah punya uang buat membeli puri sebesar ini."

Yozuki, yang sedang terkagum-kagum, tiba-tiba memasang wajah seolah menyadari sesuatu. Ia mengangkat jari telunjuknya dan bertanya dengan ragu-ragu.

"Jangan-jangan, dia memenangkan lotre?"

"Tidak, bukan itu," Meirozaka-san menggeleng. "Tapi ada yang mendekati itu."

"Mendekati itu?"

"Shihai memang sangat populer sejak dulu. Terutama oleh pria yang lebih tua," Meirozaka-san mengatakan itu, lalu merendahkan suaranya sedikit. "Saat saya lulus SMA, Shihai menikah dengan pria kaya yang usianya terpaut sekitar 40 tahun. Setahun kemudian, pria itu meninggal dunia, dan Shihai menerima warisan senilai miliaran yen. Dengan uang itulah dia membeli puri ini, dan kini mengelola hotel dengan sesuka hati."

"Wah, gitu, ya," kata Yozuki. "Shihai-san punya masa lalu kayak gitu."

"Ya, Shihai adalah wanita iblis (femme fatale)," kata Meirozaka-san. "Bahkan saat menjadi guru, dia berkencan dengan siswa pria dan melakukan banyak hal. Tapi anehnya, dia adalah guru yang baik dan disukai murid-muridnya."

Meirozaka-san mengakhiri ucapannya dengan follow-up itu sebelum pergi. Entah itu bisa dianggap follow-up atau tidak, itu misteri.

*

Setelah mandi di kamar usai makan malam, aku berjalan di koridor Sayap Barat, berniat membeli minuman di mesin penjual otomatis lobi, ketika aku melihat sosok yang mencurigakan. Itu adalah aktris drama pagi, Hasemi Riria. Dia memegang alat seperti transceiver dan mengarahkan antenanya ke berbagai arah dengan ekspresi serius.

"Permisi, kamu sedang melakukan apa?"

"Hah?"

Riria, yang tiba-tiba disapa dari belakang, tampak sangat terkejut. Dia melihatku sambil menarik napas dalam-dalam, lalu memasang wajah bingung.

"Siapa?"

"Cuma tamu hotel biasa."

"Kenapa tamu biasa sepertimu merasa berhak menyapa Riria?"

Aku mendapat ucapan yang luar biasa menyakitkan. Melihat ekspresiku, Riria tampaknya akhirnya menyadari kesalahannya. Dia buru-buru berkata seolah memperbaiki keadaan.

"Cuma bercanda, kok. Silakan sapa aku kapan aja. Lihat, Riria ini kan wujud fan service sejati. Sampai-sampai Riria berpikir buat mengganti namanya jadi 'Hasemi Fan Service Riria'."

"Oh."

"Hah... 'Oh'? Reaksimu datar banget. Jangan-jangan kamu gugup ya? Aku ngerti, Riria ini, kan, aktris nasional. Aku ini wanita dengan rating penonton rata-rata 25%."

"Oh."

GEDEBUK!

GUH!

Entah kenapa, aku ditendang di tulang kering dengan sangat kuat. Ada apa dengan wanita ini? Aku jadi ingin menuntutnya ke majalah mingguan!

Riria, yang sama sekali tidak berniat meminta maaf, menatapku yang sedang kesakitan.

"Kalau kau ngadu ke majalah mingguan, kubunuh kau."

Riria berkata sambil tersenyum ramah. 

Apa-apaan wanita ini? Sifatnya jahat sekali.

"...Baiklah," Setelah aku akhirnya pulih dari rasa sakit, Riria bertanya sambil menatap rendah. "Kenapa kau menyapa Riria? Minta tanda tangan? Atau foto? Sebagai uang tutup mulut karena Riria menendang tulang keringmu, Riria mungkin bisa ngabulin permintaan kecil kayak gitu."

"Tidak," kataku dengan kesal. Tanda tangan wanita ini, aku sudah pasti tidak mau lagi. "Aku hanya penasaran kamu sedang melakukan apa. Membawa alat aneh seperti itu."

Aku menunjuk alat seperti transceiver di tangannya. Begitu tahu aku tidak mencari tanda tangan, Riria agak cemberut, dan berkata dengan wajah tidak tertarik, "Ah, hanya itu, ya."

Dia mengangkat alat seperti transceiver itu dan berkata, "Ini adalah alat pendeteksi penyadap."

"Alat pendeteksi penyadap?"

Kenapa dia butuh benda seperti itu?

Mungkin menangkap kebingunganku, Riria menghela napas panjang.

"Dengar ya, Riria ini kan aktris nasional."

"Oh."

"Mau tulang keringmu ditendang lagi?"

"Tidak mau."

"Benarkah? Jangan-jangan kamu sengaja bersikap kayak begitu karena pengin ditendang Riria?"

Itu sungguh tuduhan yang keterlaluan. Sungguh—tuduhan yang keterlaluan.

"Yah, pokoknya," kata Riria. "Riria ini, aktris nasional yang lagu debutnya udah diputar 200 juta kali, selalu diincar oleh pers. Dan juga oleh penggemar yang hampir kayak stalker. Jadi, Riria harus selalu waspada. Setiap menginap di hotel, entah untuk liburan atau pekerjaan, Riria selalu menggunakan alat ini buat memastikan tidak ada penyadap atau kamera tersembunyi di kamar."

Dia mengayunkan alat seperti transceiver itu.

Aku hampir saja menjawab "Oh," tapi buru-buru meralatnya menjadi, "Pantas saja!" dengan nada sebersemangat mungkin. 

"Berarti alat itu menangkap gelombang radio yang dipancarkan oleh penyadap atau kamera tersembunyi, ya!"

"Begitulah. Ternyata kau cukup pintar, budak."

"...Aku bukan budak."

"Kalau gitu, pelayan? Yah, pokoknya, dengan alat ini, kamera dan penyadap bisa ditemukan dengan mudah. Hari ini pun sudah Riria cari dengan saksama—sekitar 30 menit."

"Oh, begitu," pikirku. Dasar orang tak ada kerjaan. Padahal, kalau punya waktu, lebih baik dia mengisi formulir survei acara varietas.

Namun, saat itu aku teringat sesuatu.

"Pekerjaan remeh seperti itu, kenapa tidak minta manajermu saja yang melakukannya? Riria-san tidak perlu repot-repot."

Mendengar itu, Riria menatapku seperti melihat anak yang menyedihkan. Aku dikasihani oleh Riria.

Dia menghela napas.

"Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja Riria nggak bakal membiarin Manei-san melakukannya."

Oh, begitu, pikirku. Aku sempat sedikit menilainya lebih baik.

"Benar juga, Manei-san memang terlihat sibuk. Riria-san pasti berusaha mengurangi sedikit beban kerjanya, ya."

Riria terdiam sejenak. Kemudian, dia menatapku dengan ekspresi jijik.

"Bukan, Riria hanya nggak mau Manei-san masuk ke kamarku. Kamu tahu, dia itu otaku idola yang parah! Sampai sekarang aja, dia masih pergi ke acara handshake saat libur. Menjijikkan, bukan? Riria nggak mungkin membiarin orang kayak gitu masuk ke kamarnya. Entah apa yang akan dia lakukan. Malah, dia yang paling mungkin memasang alat penyadap."

Tingkat kepercayaan Riria terhadap Manei adalah nol. Aku menyesal telah menilainya lebih baik tadi.

Riria tampak bosan dengan percakapan kami. Dia kembali mencari alat penyadap sambil memegang alat seperti transceiver. Aku pun berkata padanya, "Kalau begitu, sampai nanti."Aku kira dia akan mengabaikanku, tetapi Riria membalas, "Selamat malam, budak."

*

Di lobi, aku memasukkan koin ke mesin penjual otomatis dan membeli susu buah. Sambil meminumnya, aku mengganti saluran TV yang ada di lobi. Sebuah berita disiarkan: kecelakaan bus besar baru saja terjadi di dekat lokasi ini. Kabarnya, ada 2 korban meninggal.

Penyiar membacakan nama-nama korban. "Korban yang meninggal adalah Nakanishi Chizuru, Kuroyama Haruki—"

"Eh?" Terdengar suara dari belakang. Aku menoleh. Itu adalah Meirozaka-san.

Meirozaka-san tampak terkejut, sesuatu yang jarang terjadi. Aku mengerutkan alis dan berkata,

"Jangan-jangan, kenalan?"

"Bukan kenalan, tapi..." Dia sedikit tergagap. Kemudian berkata dengan suara bingung, "Mereka berdua adalah tamu yang seharusnya menginap di sini malam ini. Saya kira mereka terlambat tiba, tapi ternyata hal seperti ini yang terjadi."

Mendengar kata-katanya, mataku terbelalak. Tamu yang seharusnya menginap tewas?

Mendengar percakapan kami, tamu-tamu lain di lobi juga mendekat. "Benarkah itu?" kata Detektif Sagurioka. "Tidak bisa dipercaya," kata Fenrir, si wanita Inggris. "Hal seperti ini bisa terjadi, ya," kata seseorang dengan nada santai. Orang ini—kalau tidak salah, Dokter Ishikawa.

"Ada apa ini, ada apa?" Yozuki, yang baru saja tiba di lobi, ikut bergabung. Setelah mendengar situasinya, dia pun terbelalak.

Pada saat itu, dari arah pintu masuk, terdengar bunyi langkah kaki yang mantap.

Dalam suasana tegang itu, semua mata serempak tertuju ke sana. Dan kami, yang sudah dibuat gelisah oleh berita kecelakaan, menjadi semakin cemas. Itu karena pria yang muncul secara tiba-tiba itu.

Di ujung pandangan semua orang—

Berdiri di sana adalah seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun. Melihat dia datang dari arah pintu masuk, dia kemungkinan besar adalah tamu hotel. Total tamu yang menginap malam ini seharusnya dua belas orang. Sudah ada 9 orang di puri ini, dan 2 orang yang seharusnya menginap tewas dalam kecelakaan. Dengan demikian, pria yang baru muncul ini adalah tamu yang ke-12. Tamu terakhir yang datang terlambat.

Masalahnya adalah penampilannya.

Pria itu mengenakan jubah keagamaan, seperti yang dikenakan oleh pastor Katolik. Jubah itu berwarna putih bersih, dan di dada kirinya terlukis sebuah salib. Hanya saja, yang disalib bukan Kristus, melainkan kerangka tanpa daging.

Aku pernah melihat ilustrasi salib itu. Itu adalah lambang sebuah kultus. Perlahan, aku menggumamkan nama kultus itu.

"Menara Fajar."

Mendengar kata-kataku, ketegangan kembali menyelimuti semua orang. "Hei, Menara Fajar itu," kata Yozuki, "yang memuja mayat—"

Secara teknis, pemahaman itu salah. Yang mereka puja bukan mayatnya, melainkan lokasi pembunuhannya.

Menara Fajar (Akatsuki no Tou) adalah organisasi keagamaan yang baru-baru ini memperbanyak pengikutnya. Namun, alih-alih agama baru, sejarahnya ternyata cukup tua. Kultus ini lahir di Prancis sekitar abad ke-17, dan—entah itu benar atau bohong—kabarnya memiliki hampir seratus ribu pengikut di seluruh dunia. Kultus itu masuk ke Jepang tak lama setelah perang, tetapi baru mulai meluaskan pengaruhnya sejak 3 tahun lalu—sejak pertama kalinya pembunuhan ruang terkunci terjadi di Jepang.

Menara Fajar menjadikan lokasi pembunuhan sebagai objek keyakinan. Mereka memotret lokasi tersebut dan menjadikannya pengganti benda suci. Lokasi pembunuhan dipenuhi energi negatif korban. Doktrin mereka adalah bahwa dengan memurnikan energi negatif itu melalui doa para pengikut, negatif akan berbalik menjadi positif, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan.

Dan di antara lokasi pembunuhan yang mereka puja, yang dianggap paling tinggi nilainya adalah lokasi pembunuhan ruang terkunci. Lebih tepatnya, doktrin ini ditambahkan menyusul kasus pembunuhan ruang terkunci tiga tahun lalu. Alasannya, karena lokasi itu tertutup. Karena tertutup, kebencian (onnen) mudah terkumpul, dan semakin besar energi kebahagiaan yang diperoleh saat dimurnikan.

Mengambil keuntungan dari booming ruang terkunci sejak tiga tahun lalu, Menara Fajar memperluas pengaruhnya di Jepang. Di sisi lain, desas-desus buruk juga tak pernah berhenti. Bahkan ada cerita bahwa para pengikut sendiri melakukan pembunuhan untuk menambah lokasi pembunuhan ruang terkunci yang akan mereka sembah.

Kami mendengarkan obrolan Meirozaka-san dengan pria berjubah agama itu. Pria itu bernama Kanzaki dan tampaknya adalah Pastor dari Menara Fajar. Aku mendengar Yozuki bergumam, "Kanzaki si Pastor, ya."

Sambil memproses prosedur check-in di konter, Meirozaka-san bertanya,

"Apa tujuan Kanzaki-sama datang ke hotel ini kali ini? Apakah lokasi ruang terkunci itu? Untuk melihat lokasi Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan yang dilakukan Yukishiro Byakuya?"

"Tidak, bukan itu," Kanzaki menggelengkan kepala dengan nada lembut. "Tidak ada orang yang meninggal di sana. Itu tidak bisa menjadi objek keyakinan kami."

"Begitu, lalu untuk tujuan apa?"

"Kami mendapat informasi bocoran,"

kata Kanzaki. Suaranya tetap tenang.

"Bahwa malam ini, pembunuhan ruang terkunci akan terjadi di puri ini."

*

Ketika aku bangun, waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Aku membuka tirai, dan warna putih di taman langsung terlihat. Itu adalah salju yang turun kemarin siang. Karena jumlah tumpukannya tidak berubah, salju pasti tidak turun lagi semalam.

Aku mencuci muka di wastafel kamar, lalu berganti pakaian dan mendatangi Yozuki di kamar sebelah. Setelah aku mengetuk pintu, dia muncul dengan rambut acak-acakan. Dia berkata dengan kesal,

"...Ada apa, sepagi ini?"

"Aku mau mengajakmu sarapan bersama."

"Kasumi-kun, apa kamu gila?"

Aku merasa tersinggung. Yozuki menghela napas dan berkata,

"Mana mungkin kan aku sarapan sepagi ini? Sarapan di hari libur itu dimakan setelah lewat tengah hari, tahu!" 

Bukankah itu sudah makan siang? 

"Jangan banyak alasan, bodoh!"

Setelah mengatakan itu, dia membanting pintu. Aku merasa sangat sedih.

Mau tak mau, aku pergi sendirian ke Ruang Makan. Sudah ada beberapa orang berkumpul di sana. Sarapan tampaknya berupa prasmanan sederhana yang didominasi hidangan Barat, dengan sekitar sepuluh jenis hidangan. Aku mengambil omelet dan wiener, menciptakan piring sarapan ala Inggris.

Saat aku melihat sekeliling mencari tempat duduk, aku melihatnya sedang sarapan sendirian. Aku meletakkan nampan di kursi seberangnya.

"Selamat pagi," kataku.

"Ya, selamat pagi," balas Mitsumura.

Di piring Mitsumura, ada dua omelet dan dua telur mata sapi. Penuh dengan telur. Kalau tidak salah, dia memang selalu menyukai hidangan telur sejak dulu. Bahkan saat kami pergi ke restoran keluarga Tionghoa, dia makan tumis jamur kuping dan telur serta nasi goreng kepiting.

Mitsumura menatapku dengan curiga saat aku tenggelam dalam kenangan itu.

"Kenapa kamu nyengir?"

"Tidak, aku hanya berpikir kamu masih menyukai hidangan telur seperti biasanya."

"Aku ini reinkarnasi ayam betina."

"Oh, begitu, ya."

"Ya. Setelah tua dan tidak bisa bertelur lagi, akhirnya aku dijadikan ayam goreng."

"Reinkarnasi yang menyedihkan."

"Tentu saja. Jadi, aku mengumpulkan nutrisi seperti ini agar bisa bertelur banyak di kehidupan berikutnya."

"Kamu mau jadi ayam betina lagi di kehidupan berikutnya?"

"Sayangnya begitu. Aku punya sifat terlahir kembali secara bergantian, menjadi ayam betina lalu manusia, begitu terus."

Mitsumura melontarkan lelucon itu dengan wajah datar. Aku merasa nostalgia. Memang, kami sering mengobrol tentang hal-hal tidak penting seperti ini saat SMP.

*

Sekitar pukul 10 pagi, saat aku dan Mitsumura sedang bermain Othello portabel di lobi, Yozuki datang dengan wajah agak panik.

TN Yomi: Othello adalah permainan papan strategi klasik untuk dua pemain yang juga dikenal sebagai Reversi, di mana tujuannya adalah menguasai papan dengan membalikkan bidak lawan menjadi warna Anda sendiri, menggunakan papan 8x8 dan 64 bidak dua sisi (hitam dan putih), yang mengasah logika dan taktik dengan aturan sederhana namun mendalam.

"Jangan-jangan, sarapannya udah selesai?"

Tampaknya dia baru bangun. Aku membalik pion Othello dan berkata, "Sudah selesai. Sarapan tadi dari jam 8 sampai jam 9."

"Seriusan?" Dia menjawab dengan wajah datar.

Serius bagaimana? Bukankah seharusnya dia sudah mendapat penjelasan itu saat check-in di resepsionis kemarin.

Yozuki menekan perutnya yang berbunyi 'guk' dengan wajah sedih. "Tapi, aku lapar."

Tepat pada saat itu, pion Othello-ku dibalik dalam jumlah besar oleh Mitsumura. Aku berseru, "Ah!"

"Putih semua," kata Yozuki.

Memang, papan itu putih semua, dan pion hitamku dimusnahkan. Mungkinkah kekalahan sebesar ini benar-benar terjadi dalam Othello?

"Hei, lupakan itu, gimana dengan sarapannya?"

"Tahan saja," kataku kesal pada Yozuki. "Jam 12 sudah waktunya makan siang, kok."

"Jangan melampiaskan kekalahan Othello-mu padaku."

"Bukan kekalahan besar. Kami hanya tipis sekali perbedaannya."

"Tipis sekali?" Mitsumura melihat papan itu dengan wajah curiga.

Melihat kami seperti itu, Shihai-san, yang berada di konter, datang menghampiri. "Ehm, mau saya buatkan sesuatu?" tanyanya dengan ramah. "Meskipun hanya sisa prasmanan."

"Eh, beneran? Asyik!" Yozuki bersorak dengan tidak tahu malu. Aku berpikir, aku tidak mau menjadi dewasa seperti ini.

Kemudian, Shihai-san berkata, seolah teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, selain Asahina-sama, ada satu tamu lagi yang tidak muncul untuk sarapan."

Selain Yozuki, ada satu orang lagi?

"Dia kesiangan?" tanyaku.

"Mungkin. Tapi, ada yang aneh."

"Aneh?"

"Di pintu kamar tamu itu, entah kenapa tertempel kartu remi."

Mendengar itu, aku mengerutkan alisku. Itu memang aneh, tapi—

"Jangan-jangan ulah seseorang?" Yozuki menunjukkan ketertarikannya. "Atau orang yang menginap di kamar itu menempelkannya sendiri?"

"Tapi, untuk apa?" Dalam kasus mana pun, aku tidak mengerti tujuannya.

Setelah beberapa saat memiringkan kepala, aku menyadari bahwa aku lupa menanyakan hal yang paling penting kepada Meirozaka-san.

"Siapa tamu yang menginap di kamar dengan kartu remi itu?"

"Itu Kanzaki-sama."

"Kanzaki?" Siapa dia?

"Dia yang datang terakhir tadi malam."

Ah—Aku ingat. Pastor dari Menara Fajar itu.

Mitsumura, yang sedang menyimpan Othello, memiringkan kepala. "Tamu yang datang tadi malam?" Aku baru ingat, Mitsumura tidak ada di sana saat Kanzaki datang.

"Kalau gitu, gimana kalau kita lihat-lihat dulu aja?" Yozuki mengusulkan. "Ada pepatah 'seratus kali ke lokasi kejadian', jadi mungkin kita bakal nemuin sesuatu jika kita ke sana. Naluri detektifku mengatakan begitu."

"Ternyata Yozuki-san seorang detektif hebat, ya," Mitsumura menyahut.

"Kau bersemangat tidak seperti biasanya." Aku menatap Yozuki dengan pandangan curiga. Jujur saja, aku mengira Yozuki adalah tipe yang tidak tertarik pada misteri semacam ini. Dia bahkan tidak menunjukkan minat sedikit pun pada misteri Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan yang ditinggalkan Yukishiro Byakuya.

Mendengar itu, Yozuki menggaruk pipinya dengan malu-malu, lalu membuat pengakuan yang berani. "Sebenarnya, baru-baru ini aku membaca novel Misteri Sehari-hari untuk pertama kalinya dalam hidupku."

"Jadi, aku ingin mengatakannya sekali saja: Aku penasaran."

*

Kamar Kanzaki berada di lantai tiga Sayap Timur. Aku, Yozuki, Shihai-san—dan Mitsumura—berempat, berjalan menyusuri koridor yang karpetnya tebal, sama seperti di lantai 2.

Kamar Kanzaki terletak tepat di atas kamar yang menjadi lokasi Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan. Dan di pintu kamar itu, sesuai kata Shihai-san, tertempel selembar kartu remi menggunakan selotip. Angka pada kartu itu menghadap ke luar. Kartu remi itu adalah Ace Hati.

"Memang aneh," Aku mengutarakan pendapat itu sekali lagi, lalu mencabut kartu remi dari pintu. Di sisi baliknya, yang bukan angka, terlukis gambar aneh seekor kelinci dan rubah sedang mengadakan pesta teh. Tampaknya gambar itu dilukis tangan, bukan dicetak. Gambarnya dilukis menggunakan cat air, menyerupai kartu pos mewah, dan bahkan ada tanda tangan yang diperkirakan milik si pelukis di sudut kanan.

"Kartu remi mahal, ya," kata Yozuki.

"Memang, untuk ukuran ulah iseng, ini aneh," kata Mitsumura sambil mengintip kartu itu.

Tepat pada saat itu, jeritan seorang pria terdengar dari balik pintu. Dengan volume yang memekakkan telinga, kami semua yang ada di sana tersentak dan bahu kami bergetar. Aku segera meraih kenop pintu. Aku memutarnya dan mendorong pintu yang terbuka ke dalam, tetapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Terkunci.

"Kunci kamar ada di mana?" tanyaku.

"Kanzaki-sama yang memegangnya," jawab Shihai-san.

Aku terlambat menyadarinya. Tentu saja. Itu kamar Kanzaki. Sudah pasti dia yang memegang kuncinya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan master key?"

Shihai-san menggelengkan kepala pada pertanyaanku selanjutnya.

"Kamar-kamar di Sayap Timur tidak memiliki master key. Sayap Barat memilikinya, tetapi sistem kunci antara Sayap Barat dan Sayap Timur berbeda. Jadi, master key Sayap Barat tidak bisa membuka kamar di Sayap Timur."

Mendengar itu, aku merasa sedikit aneh. Sebentar? Aku pernah mendengar penjelasan ini sebelumnya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan kunci cadangan?" kata Yozuki dengan cemas. "Apa tidak ada kunci cadangan?"

"Tidak ada kunci cadangan," Shihai-san menggeleng lagi. "Semua kunci di Yukishiro-kan ini menggunakan bahan yang sangat khusus. Mustahil untuk membuat duplikat kunci."

"Itu berarti, satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan memecahkan jendela?" kata Mitsumura.

"Tidak, itu juga tidak bisa," Shihai-san memasang wajah pahit.

"Karena jendelanya terpasang jeruji besi, orang tidak bisa keluar masuk."

"Kalau begitu, bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam..."

Keheningan menyelimuti tempat itu. Kalau begitu, satu-satunya cara yang tersisa adalah—

"Hei, ada apa ini!"

Pada saat itu, Sagurioka, si detektif, datang ke koridor Sayap Timur. Ada juga Meirozaka-san dan tamu-tamu lainnya. Ini berarti semua orang di puri ini, kecuali Kanzaki, telah berkumpul.

Aku menjelaskan situasi kepada mereka. Tentang kartu remi yang tertempel di pintu. Tentang jeritan yang terdengar dari dalam. Tentang tidak adanya cara untuk membuka kunci pintu dan tidak bisa keluar masuk melalui jendela.

Jika demikian, satu-satunya cara untuk masuk ke dalam kamar adalah—

"Berarti satu-satunya cara adalah mendobrak pintu," kata Sagurioka. Dia mengalihkan pandangan ke Shihai-san. "Apa Anda keberatan?"

Shihai-san mengangguk.

"Mau bagaimana lagi. Silakan."

Aku dan Sagurioka berbaris di depan pintu. Kami memutar kenop, lalu menabrak pintu dengan sekuat tenaga. Pintu itu berderit. Setelah mencapai 10 kali tabrakan, barulah pintu itu terbuka. Dengan momentum itu, aku dan Sagurioka terjerembap masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar gelap gulita. Tak lama kemudian, lampu langit-langit menyala. Rupanya Meirozaka-san yang menyalakannya.

Kanzaki tidak ada di dalam kamar.

"Jangan-jangan, di kamar sebelah?"

Yang mengatakan itu adalah Manei, manajer Riria. Jari telunjuknya mengarah ke pintu yang dipasang di dinding, di sebelah kiri dari pintu masuk. Kamar tamu ini tampaknya memiliki struktur dua kamar. Jadi, itu adalah pintu untuk berpindah ke kamar sebelah. Saat ini pintu itu terbuka. Pintu itu dipasang lebih ke kanan dari pusat dinding—maksudku, di sisi yang lebih jauh dari pintu masuk.

Semua orang dengan hati-hati menuju pintu itu. Aku yang pertama kali mengintip ke kamar sebelah. Lampu di kamar sebelah tampaknya terhubung dengan lampu di kamar utama, jadi saat lampu utama dinyalakan, lampu di kamar sebelah juga menyala.

Karena itu, aku bisa melihatnya dengan jelas.

Sosok pria yang disinari cahaya—itu adalah mayat Kanzaki, yang mengenakan jubah agama.

Jeritan seseorang bergema di ruangan itu. Itu adalah suara Riria. Jeritan itu sama sekali tidak mirip dengan tingkahnya yang sombong tadi malam—

Tapi, jeritan itu tidak terlalu aku dengar. Aku sudah menemukannya sedetik lebih cepat dari jeritan Riria, dan karena itu, pikiranku sangat kacau hingga suara di sekitarku terasa samar.

"Kau pasti bercanda," gumamku, lalu mengambil sesuatu yang jatuh tidak jauh dari mayat itu.

Melihatku berbuat begitu, Sagurioka mendekat dengan tergesa-gesa. Dan dia mengucapkan kalimat yang sama denganku.

"Kau pasti bercanda?"

Ya, memang, ini pasti semacam lelucon. Sebab, apa yang kini aku pegang adalah—

Sebuah botol plastik kecil seukuran wadah film kamera, yang tertutup rapat.

Dan di dalam botol plastik itu ada sebuah kunci. Tak perlu dipastikan lagi, itu pasti kunci kamar ini.

"Kejahatan imitasi," kata Sagurioka.

Aku mengangguk.

Ah—memang ini kejahatan imitasi. Hanya saja, peniruan ini didasarkan pada kasus yang belum terpecahkan—kasus yang triknya tidak diketahui.

Aku menatap botol berisi kunci itu dan berkata,

 

"Kasus ini adalah reka ulang dari Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan."

*

Pisau tertancap di dada Kanzaki. Tampaknya tidak ada bekas jeratan di leher, jadi dapat dipastikan itulah penyebab kematiannya. Pisau itu tertancap tegak lurus di dada mayat yang telentang, panjang bilahnya sekitar 30 sentimeter, dan bilahnya berkilauan menghadap ke arah pintu penghubung antara kamar utama dan kamar sebelah. Dilihat dari panjang dan bentuknya, itu bukan pisau dapur biasa, sehingga diperkirakan bahwa pisau itu dibawa oleh pelaku dari luar puri.

Mayat itu, sama seperti Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan, terletak tepat di depan pintu penghubung antara kamar utama dan kamar sebelah. Di balik mayat itu, ada jendela yang tertutup gorden tebal ant cahaya, seperti yang digunakan di kamar gelap. Ada celah sekitar satu sentimeter antara gorden dan lantai, tetapi karena cahayanya redup, hampir tidak ada sinar matahari yang masuk. Dengan kondisi ini, cahaya tidak akan mencapai kamar utama. Masuk akal mengapa ruangan itu gelap gulita seperti tengah malam, padahal waktu sudah mendekati tengah hari.

Setelah gorden dibuka, terlihat jendela berjeruji. Jendela geser itu memang terbuka, tetapi karena adanya jeruji, tidak ada orang yang bisa keluar masuk dari sana. Selain itu, ukuran setiap jeruji persegi itu kecil, sehingga mustahil mengeluarkan atau memasukkan kunci kamar dari sana.

Dan, sama seperti Kasus Ruang Terkunci Yuki-shirokan, sebuah alat perekam suara diletakkan di samping mayat. Ketika diputar, terdengar jeritan seorang pria. Awalnya aku kira itu suara Kanzaki, tetapi ternyata itu suara orang lain. Pasti itu rekaman suara dari film atau semacamnya.

Kemudian, aku menatap botol plastik kecil di tanganku. Tutupnya juga memiliki tonjolan berbentuk 'O'. Aku membuka tutup botol dan mengeluarkan kunci dari dalamnya. Aku perlu memastikan apakah kunci ini asli atau tidak. Jadi aku pindah ke dekat pintu dan memasukkan kunci itu ke lubang kunci. Ketika diputar, kunci itu berputar penuh. Ternyata kuncinya asli.

"Pokoknya, kita harus panggil polisi," kata Manei, seolah baru teringat. Di sampingnya, Riria menangis tersedu-sedu.

"B-benar, kita harus panggil polisi," kata Shihai-san, juga seolah baru teringat.

Kami semua pindah ke lobi. Kami mengawasi Shihai-san yang mencoba menelepon polisi, tak lama kemudian matanya terbelalak. Dia meletakkan gagang telepon dengan gelisah dan berkata,

"Teleponnya tidak tersambung. Mungkin, kabel teleponnya terputus."

"Atau dipotong," kata Sagurioka sambil memegang dagu. Ketika semua mata tertuju padanya, Sagurioka mengangkat bahu. "Itu sangat mungkin terjadi, kan? Itu adalah klise Closed Circle."

"Closed Circle?" tanya Yozuki.

"Oh, kau tidak tahu? Aneh sekali," kata Sagurioka. "Itu adalah genre di mana kasus pembunuhan terjadi di puri atau pulau terpencil yang tertutup dari dunia luar. Dalam kasus seperti itu, biasanya kabel telepon akan dipotong agar tidak bisa menghubungi polisi."

TN Yomi: クローズドサークル ( kurōzu sākuru ) diterjemahkan sebagai Closed Circle (genre fiksi misteri).

Yozuki berkata dengan wajah bingung, "Apakah ada kerugian bagi pelaku jika polisi datang?"

"Tentu saja. Jika polisi ikut campur, pelaku tidak bisa bergerak bebas. Dia tidak akan bisa membunuh target berikutnya."

"Itu artinya..." Wajah Riria memucat. "Pelaku berniat membunuh orang lain selain Pastor itu?"

"Jelas. Kalau tidak, tidak ada gunanya memotong kabel telepon."

Wajah Riria menjadi sangat pucat. Dia mengeluarkan ponselnya dengan cemas dan mengoperasikannya dengan jari gemetar. "Aku harus... harus menghubungi polisi!" Tapi tak lama kemudian, seolah kehilangan darah, dia bergumam, "Nggak ada sinyal..."

"Ini namanya pulau terpencil di daratan!"

Riria membanting ponselnya ke lantai lobi. "Tenang, Riria-san!" Manei buru-buru menenangkannya. Kemudian dia menatap Sagurioka dengan pandangan kesal.

"Kau juga! Tolong jangan mengeluarkan pernyataan yang menakut-nakuti orang lain! Belum tentu ini akan menjadi pembunuhan berantai, kan!"

Sagurioka mengangkat bahu, tampak tidak enak hati.

"Ah, benar, maaf soal itu. Aku memang kurang berhati-hati," katanya, namun tetap melanjutkan dengan nada tegas. "Tapi sayangnya, hampir pasti ini akan menjadi pembunuhan berantai."

"Apa dasarnya?" tanya Manei.

"Kartu remi yang tertempel di pintu itu," Sagurioka memberitahu, lalu mengalihkan pandangannya padaku. "Nak, kau bilang tadi ada kartu remi tertempel di pintu kamar, kan? Bisa kau tunjukkan kartu itu?"

"Ah, ya," Aku mengeluarkan kartu remi yang masih tersimpan di saku. Ace Hati. Di baliknya, tergambar kelinci dan rubah sedang berpesta teh, dilukis dengan cat air.

Sagurioka menerima kartu remi itu dan melihat bolak-balik sisi depan dan belakangnya. Kemudian dia berkata, "Ternyata benar. Aku sudah menduganya saat mendengar ada kartu remi tertempel di dinding. Dan setelah melihat aslinya, aku yakin. Ini adalah kartu remi yang sama yang digunakan dalam Kasus Pembunuhan Berantai Kartu Remi."

Beberapa orang memiringkan kepala, sementara yang lain memucat. Aku termasuk kelompok kedua. Kasus Pembunuhan Berantai Kartu Remi—kasus pembunuhan berantai tak terpecahkan yang terjadi sekitar lima tahun lalu. Jumlah korbannya ada tiga orang, dan di lokasi kejadian selalu ditinggalkan selembar kartu remi. Aku mencari di sudut ingatanku. 

Tepat ketika aku mencoba mengingat detail kasus itu, sebuah suara sejuk menyahut.

"21 April, 5 tahun lalu. Seorang pria dipukul sampai mati di sebuah gang di Prefektur Kanagawa."

Semua mata tertuju pada gadis berambut perak yang cantik itu, sang pembicara. Fenrir Alice Hazard tersenyum malu-malu. "Kebetulan saja, aku mengingatnya." Lalu dia mulai menceritakan kelanjutannya dengan suara yang tenang.

"Korban itu dikenal sebagai detektif ulung, dan selain kemampuannya, dia juga sangat beruntung. Di masa lalu, dia pernah secara kebetulan bertemu dengan pelaku kasus tak terpecahkan di sebuah kedai minum, dan pelaku yang mabuk itu dengan bangga mengatakan, 'Sebenarnya aku pernah membunuh seseorang.' Jadi, dia adalah orang terkenal di kalangan polisi. Namun, kejayaan itu runtuh karena kecelakaan lalu lintas yang dia sebabkan 6 bulan sebelum dibunuh. Kecelakaan fatal akibat mengemudi sambil lalai. Tentu saja dia dibenci oleh keluarga korban, sehingga polisi menyelidiki kasus ini dari sisi itu. Namun, pelakunya tidak pernah tertangkap. Dan ada satu hal aneh dalam kasus ini."

Fenrir menghentikan ucapannya sejenak, lalu menunjuk kartu remi yang dipegang Sagurioka.

"Yaitu selembar kartu remi terjatuh di samping mayat. Angka pada kartu itu adalah 6 Hati."

Semua orang menatap Fenrir dengan tercengang saat dia berbicara panjang lebar. Dia tersenyum malu-malu. "Kebetulan saja, aku mengingatnya." Mungkinkah ada kebetulan seperti itu?

Fenrir berdeham kecil dan melanjutkan penjelasan kasus itu.

"Kasus berikutnya terjadi pada 6 Juli, 5 tahun lalu. Mayat seorang pria Tionghoa berusia 30-an ditemukan tercekik di tempat parkir apartemen di Prefektur Chiba. Pria itu adalah seorang peneliti di universitas, dan dia dikenal sangat cerdas sejak kecil. Namun, sebaliknya, dia memandang rendah ayahnya yang tidak berpendidikan, dan sudah lebih dari 10 tahun tidak kembali ke Tiongkok. Hari itu, dia diserang dan dibunuh oleh seseorang saat pulang dari universitas. Senjata yang digunakan adalah tali plastik untuk mengepak barang, dan di samping mayat pria itu, terjatuh kartu remi 5 Hati."

Dia kemudian menyampaikan ringkasan kasus itu. "4 bulan setelah itu," katanya.

"Kasus ketiga—yaitu kasus terakhir—terjadi. Tanggalnya 12 November, 5 tahun lalu. Seorang pria direktur perusahaan diracuni oleh seseorang di sebuah apartemen di Tokyo. Ditemukan jamur beracun jenis baru yang menyerupai matsutake di dalam perutnya, dan diperkirakan seseorang telah membubuhkan jamur itu. Perusahaan yang dijalankan pria itu memaksa karyawannya bekerja terlalu keras—yang disebut black company—dan dia diduga dibenci oleh banyak orang. Namun, kasus ini juga tidak terpecahkan. Dan di samping mayatnya, ditinggalkan kartu 4 Hati."

Setelah Fenrir selesai berbicara, wajah semua orang terlihat muram. Jadi, pembunuh yang membunuh 3 orang 5 tahun lalu, kini telah melanjutkan kasusnya di puri ini.

"Yah, begitulah," kata Sagurioka. Dia mengangkat bahu dan memuji Fenrir. "Hebat sekali, kau mengingat detailnya dengan baik, meskipun kasus itu memang cukup ramai dibicarakan saat itu. Yah, aku juga mengingatnya, sih." Sagurioka mengatakan sesuatu yang sulit dibedakan apakah itu benar atau hanya untuk pamer.

"Ta-tapi, pembunuhan kali ini nggak harus dilakukan oleh pelaku yang sama dengan Kasus Pembunuhan Berantai Kartu Remi!" seru Riria. "Kemungkinan itu copycat... Ugh, pasti gitu! Karena ini mudah ditiru, cukup membeli aja kartu remi jenis yang sama!"

"Memang, ada kemungkinan itu," kata Sagurioka.

"Tidak, kemungkinan itu tidak ada," Fenrir menggelengkan kepala. "Kartu remi yang digunakan dalam kejahatan itu adalah satu-satunya (one-of-a-kind), tidak ada duplikatnya. Hanya ada satu set di dunia. Mustahil bagi orang lain untuk mendapatkan kartu yang sama dan berpura-pura menjadi pelaku imitasi."

Mendengar penjelasan itu, Sagurioka mengangkat bahu.

"Memang, itu benar."

"Tapi, tapi, ada kemungkinan kartu remi yang digunakan kali ini adalah palsu, kan? Pelaku mungkin menyiapkan kartu remi palsu dan menggunakannya."

"Ada kemungkinan itu," kata Sagurioka.

Posisi mana sebenarnya yang diambil pria bernama Sagurioka ini?

"Kalau begitu, maukah kita memastikannya?" Fenrir mengeluarkan ponselnya dan meluncurkan sebuah aplikasi.

"Aplikasi apa itu?" tanya Yozuki.

"Ini aplikasi pendeteksi keaslian karya seni," jawab Fenrir. "Aplikasi ini mendeteksi apakah suatu karya seni asli atau tidak, cukup dengan memotretnya dan memasukkannya ke dalam aplikasi. Aplikasi ini berisi data foto karya seni asli, dan menggunakan AI untuk membandingkannya dengan data yang tersimpan. Sehebat apa pun pemalsu, mustahil membuat barang yang benar-benar identik dengan karya asli. Jadi, selama ada data foto karya asli, menentukan keaslian menjadi mudah," katanya sambil mengoperasikan ponselnya.

"Dan di dalam aplikasi ini, tersimpan juga data foto kartu remi yang digunakan dalam Kasus Pembunuhan Berantai Kartu Remi lima tahun lalu. Data 53 kartu, termasuk Joker. Lukisan pesta teh yang digambar pada kartu remi itu adalah cat air, dan setiap kartu memiliki sedikit perbedaan, sehingga diperlukan data ke-53 kartu untuk memverifikasi keasliannya. Ngomong-ngomong, foto kartu remi yang ada di aplikasi ini diambil oleh pedagang seni jauh sebelum insiden 5 tahun lalu—jauh sebelum pelaku mendapatkan kartu remi itu. Cerita tentang polisi yang menggunakan aplikasi ini untuk menentukan keaslian kartu remi yang tertinggal di lokasi kejadian saat itu sudah sangat terkenal."

"Memang, terkenal," kata Sagurioka.

"Kalau begitu, Sagurioka-san."

"Ada apa? Kau meragukanku? Aku tahu betul soal itu."

"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan keaslian kartu remi itu, bisakah Anda meminjamkannya?"

Fenrir melihat ke kartu remi di tangan Sagurioka—Ace Hati yang tertempel di pintu untuk kasus ini. Sagurioka, tampak terkejut, berkata, "Ah, ini." Dia memberikannya kepada Fenrir. Fenrir memotretnya dengan ponselnya. Seketika terdengar bunyi pilori.

"Hasilnya sudah keluar. Tampaknya ini asli."

Suasana seketika menjadi berat. 

Pembunuh berantai dari lima tahun lalu—pelaku itu kembali memulai pembunuhan di puri ini.

"Jika digabungkan dengan 5 tahun lalu, jumlah korban sekarang menjadi 4 orang," kata Fenrir. "Total kartu remi yang digunakan ada 4 lembar. Angkanya 6, 5, 4—dan As. Meskipun urutan angka ini melompat-lompat dan tidak jelas aturannya untuk sebuah countdown, ada satu kesamaan: semua kartu yang digunakan adalah berjenis Hati. Jika kita berasumsi pelaku hanya menggunakan kartu Hati, sisa kartu yang ia miliki adalah sembilan lembar. Ditambah Joker, menjadi sepuluh lembar. Dan ini yang penting: Jumlah tamu dan karyawan yang ada di puri ini sekarang adalah—"

"11 orang," bisikku. Aku merinding. Jumlah orang yang tersisa 11, dan sisa kartu remi yang dimiliki pelaku 10. Itu artinya—

"Pelaku berniat membunuh semua orang kecuali dirinya sendiri?"

Sagurioka mengatakan itu, dan ekspresi semua orang kembali membeku. Hampir 10 detik berlalu tanpa ada yang bicara—

"JANGAN BERCANDA!"

Teriakan marah yang tiba-tiba memecahkan keheningan. Semua mata tertuju padanya. Yang berteriak adalah Yashiro, direktur perusahaan perdagangan.

Yashiro, dengan wajah yang diwarnai amarah, melangkah tegang ke arah Sagurioka. Dia mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Sagurioka merintih, "Gwah!" tanpa didengarkan, Yashiro membantingnya ke dinding dengan sekuat tenaga. Kemudian dia berkata dengan nada marah yang hampir memecahkan jendela.

"Dari tadi kau bicara omong kosong terus! Kau meremehkan kami, hah!"

"T-tidak, aku," Sagurioka berkata dengan panik. "Aku hanya melakukan deduksi logis berdasarkan bukti objektif."

"Apanya deduksi logis! Cara bicaramu itu yang meremehkan orang! Dasar detektif bodoh tak berguna! Dengarkan, aku ini jauh lebih pintar darimu! Aku lulusan Keio!"

"Aku lulusan Todai."

"...Sialan!"

Yashiro memukul Sagurioka. Suasana sudah benar-benar kacau. Shihai-san buru-buru melerai.

"Yashiro-sama, tenanglah!"

"Kau juga! Manajer!"

"Eh, saya?"

"Ya! Kenapa kau menjalankan hotel di tempat yang bahkan tidak ada sinyal ponsel! Apa kau tidak mengantisipasi situasi seperti ini? Situasi di mana pembunuh menyusup ke puri dan kabel telepon dipotong!"

"S-situasi seperti itu, mana mungkin bisa diantisipasi!"

"Jangan banyak alasan!"

Dia berteriak keras. Di tengah ketegangan itu, teriakan marah lainnya menyela. Itu Riria, dengan mata bengkak karena menangis.

"Cukup! Hentikan pertengkaran karena hal nggak penting kayak gitu! Itu hanya membuang waktu!"

Karena ucapan itu, Yashiro menjadikan Riria target berikutnya.

"Apanya yang membuang waktu! Kau meremehkanku, hah!"

"Aku nggak meremehkanmu, Kakek Tua. Akan kubunuh kau!"

"...Kubunuh katamu?"

"Sudahlah, diam sebentar, Kakek Tua. Kau mengganggu jika terus bicara!"

Riria berkata cepat sambil menahan amarah. Dia lalu menghela napas, dan berkata dengan sedikit lebih tenang.

"...Pokoknya, aku sudah muak berada di tempat kayak gini. Menghabiskan waktu dengan pembunuh di puri ini nggak akan cukup meski nyawaku ada banyak!"

Setelah mengatakan itu, dia bergegas menuju pintu masuk. Manei menahan punggungnya.

"R-Riria-san, kau mau ke mana!"

"Sudah jelas, kan! Aku mau turun gunung!"

"Turun gunung?"

"Ini memang pulau terpencil di daratan, tapi bukan pulau terpencil sungguhan! Jika berjalan selama satu jam, kita bakal sampai di jalan raya! Kita bisa menumpang dan mencari mobil di sana!"

Memang, apa yang dikatakan Riria adalah hal yang benar. Saat kabel telepon terputus dan tanda-tanda pembunuhan berantai mulai terlihat, itu tampak sebagai satu-satunya cara yang paling realistis.

Karena itu, aku setuju dengan Riria.

"Shihai-san, aku juga setuju dengan pendapatnya. Mari kita semua turun gunung."

Mendengar kata-kataku, Riria tersenyum senang.

"Lumayan juga, budak."

"Aku bukan budak."

Kami berkumpul di pintu masuk dengan membawa barang bawaan seperlunya. Kami semua keluar dari puri dan mulai turun gunung. Kami melewati gerbang tembok yang mengelilingi puri, dan setelah berjalan sekitar 5 menit, kami tiba di lembah curam yang membelah gunung. Namun, aku segera merasa ada yang aneh. aku tertegun. Ada sesuatu yang hilang—di lembah itu. Apa yang hilang? Ah—benar.

Jembatan.

"Jembatannya—nggak ada,"

kata Riria dengan nada merintih. Tidak—sebenarnya jembatan itu ada. Hanya saja, wujudnya sudah tidak utuh.

Jembatan itu hangus terbakar. Tampaknya sudah terbakar sejak beberapa waktu lalu, dan panasnya sudah tidak terasa lagi. Kemungkinan besar, api disulut semalam.

"Pulau terpencil di daratan."

Yozuki bergumam seperti itu.

Dengan demikian, Yukishiro-kan terisolasi dari dunia luar.

*

Semua orang kembali ke lobi Yukishiro-kan dengan perasaan putus asa. Kami semua terjebak di puri ini.

"Berapa banyak persediaan makanan yang tersisa di puri?" tanyaku.

"Kurasa ada cukup banyak untuk semua orang di sini bertahan hidup selama setengah bulan," jawab Shihai-san.

Berarti kami bisa bertahan hidup selama setengah bulan. Aku ingin percaya bahwa dalam waktu selama itu, pasti ada seseorang yang akan menyadari keanehan ini dan datang untuk menyelamatkan kami.

Saat itu, aku teringat sesuatu.

"Apakah tidak ada tamu yang dijadwalkan menginap di sini setelah hari ini? Kupikir jika mereka datang dan menemukan jembatan yang terbakar, mereka akan menghubungi polisi."

Riria berkata dengan terkejut.

"Benar sekali, ide bagus, budak."

Riria menatap Shihai-san dengan penuh harap. 

"Memang, ada tamu yang dijadwalkan menginap mulai hari ini dan seterusnya," kata Shihai-san. 

Wajah semua orang kembali berseri. Tapi Shihai-san melanjutkan dengan wajah pahit.

"Namun, saya rasa tamu itu pasti tidak akan datang."

"K-kenapa?" tanya Riria.

"Begini... bagaimana mengatakannya—"

"Dia adalah tamu yang agak aneh," Meirozaka-san mengambil alih pembicaraan. Dia berkata dengan datar. "Sebenarnya, tamu itu telah memesan seluruh kamar puri ini (full manor booking) selama satu minggu, mulai dari kemarin. Dan itu sudah dipesan sejak lebih dari setengah tahun yang lalu."

"Sudah dipesan full booking sejak lebih dari setengah tahun lalu? Bukankah itu aneh?" kata Yozuki. "Aku memesan di sini sebulan lalu, tapi saat itu reservasi masih bisa dilakukan? Kalau udah full booking oleh pemesan lain, seharusnya aku nggak bisa melakukan reservasi, kan?"

"Itulah keanehan tamu tersebut," kata Meirozaka-san. "Saat memesan, tamu itu berpesan seperti ini: Jika ada reservasi dari tamu lain selama periode full booking, tidak masalah untuk mengutamakan tamu itu dan membiarkannya menginap. Namun, dia tidak ingin ada tamu yang pulang di tengah periode full booking, atau ada tamu baru yang tiba. Tolong tolak reservasi tamu semacam itu—begitu katanya."

Mendengar penjelasan itu, aku mengerutkan alis. Artinya, reservasi bisa diterima untuk tamu yang akan menginap selama tujuh hari penuh—yaitu selama periode full booking itu. Tetapi reservasi untuk tamu selain itu harus ditolak. Karena puri ini memang hanya menerima tamu yang menginap jangka panjang (lebih dari seminggu), aku dan Yozuki memang berencana menginap selama 7 hari penuh. Tamu lain pun mungkin begitu. Karena itulah kami bisa memesan meskipun ada pemesanan full booking. Tetapi, reservasi tamu yang ingin menginap mulai besok dan seterusnya akan ditolak.

"Itu, berarti—" Aku merintih.

"Ya, artinya, kecuali tamu yang melakukan full booking itu, tidak akan ada orang lain yang datang ke puri ini selama satu minggu. Tamu itu seharusnya tiba kemarin, tetapi kemarin pagi dia tiba-tiba menghubungi kami dan mengatakan 'tertunda sehari'. Namun, seperti yang dikatakan Shihai barusan, tamu itu mungkin tidak akan benar-benar datang hari ini. Sebab—Anda mengerti, kan? Identitas tamu itu, kemungkinan besar, adalah—"

Pelaku yang memotong kabel telepon dan merobohkan jembatan? Pelaku memesan seluruh kamar puri (full booking) agar tidak ada bantuan yang datang ke puri ini.

"JANGAN BERCANDA! Kenapa kau menerima pemesanan seperti itu!" Yashiro kembali marah.

Meirozaka-san menjawab dengan datar, "Karena uangnya sudah ditransfer penuh di muka. Kami pikir dia adalah pelanggan yang baik."

"Apa maksudmu pelanggan baik! Jelas-jelas itu mencurigakan!"

"Kalau dipikir sekarang memang begitu. Tapi saat itu kami tidak membayangkan situasi ini akan terjadi."

"Bayangkan! Gunakan otakmu!"

"Imajinasi manusia ada batasnya."

"Kau meremehkanku, hah! Aku lulusan Keio!"

"Saya lulusan Todai. Tapi saya drop-out."

"...Sialan, kau juga lulusan Todai!"

Yashiro menjatuhkan bahunya dengan lesu. Dia lalu berdiri dari kursi lobi. Setelah pergi ke Sayap Barat tempat kamarnya berada, dia segera kembali sambil membawa tasnya. Shihai-san berkata dengan panik.

"Yashiro-sama, Anda mau ke mana!"

"Pulang. Aku sudah muak berada di tempat seperti ini."

"Pulang? Jembatannya sudah runtuh, lho."

"Aku tahu itu! Tapi, kita bisa melewati lembah itu dengan berputar melalui hutan, kan? Artinya, kita bisa turun gunung!"

"T-tunggu! Itu berbahaya! Hutan di sana sangat terjal, itu bukan jalan yang bisa dilewati dengan berjalan kaki!"

"Meskipun begitu, itu lebih aman daripada berada di puri ini bersama pembunuh! Sudahlah, aku pergi! Lepaskan aku!"

“Harap Tunggu”

Saat aku menatap interaksi keduanya dengan terkejut, Sagurioka mendekat sambil tertawa. "Kacau sekali, ya." Dia mengusap pipinya yang dipukul Yashiro dan berkata, "Pasti, orang seperti itu yang akan dibunuh di awal."

Sungguh cara bicara yang penuh dendam. Justru Sagurioka sendiri yang terlihat akan membunuh Yashiro.

"Daripada itu, bagaimana kalau kita mulai bergerak?" kata Sagurioka.

"Mulai bergerak?" Aku memiringkan kepala. "Apa Sagurioka-san juga berniat turun gunung?"

"Tentu saja tidak, jangan samakan aku dengan orang bodoh itu." Sagurioka melirik Yashiro dengan pandangan menghina. Lalu dia mengangkat bahu dan berkata, "Kabel telepon terputus, polisi tidak bisa dihubungi. Dan kita terkurung."

"Sebuah Closed Circle yang sempurna, ya."

"Kalau begitu, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan."

"Apa itu?"

"Sudah jelas, kan?" Sagurioka tertawa. "Kita selidiki tempat kejadian sendiri. Dan kita pecahkan kasus ini."

*

Dengan demikian, Tim Detektif Sagurioka pun dibentuk. Anggotanya adalah Sagurioka sang detektif dan aku sebagai asistennya (?). Dan—

"Hei, kau juga ikut." Sagurioka memanggil pria yang melihat keributan antara Yashiro dan Shihai-san dengan ekspresi tenang. Pria itu, Ishikawa, berusia awal tiga puluhan. Kenapa orang ini bisa menyaksikan keributan itu dengan ekspresi setenang ini?

Dia memiringkan kepala dengan ekspresi yang sama tenangnya. "Aku?"

Sagurioka mengangguk.

"Kau kan seorang dokter, kan? Kau pasti bisa melakukan otopsi."

"Memang bisa, tapi itu bukan spesialisasiku, lho. Pekerjaan utamaku adalah ahli bedah jantung."

"Otopsi pasti lebih mudah daripada operasi jantung."

"Memang begitu, sih... tapi nanti aku akan dimarahi oleh dokter forensik."

Ishikawa berkata begitu dan tertawa geli. Aku tidak tahu apa yang lucu.

Dengan demikian, Tim Detektif Sagurioka menambahkan Ishikawa sang dokter sebagai anggota—

"Bolehkah aku bergabung dengan Tim Detektif Sagurioka?"

Fenrir Alice Hazard menatap kami dengan tatapan memohon agar diizinkan bergabung. Sagurioka memasang wajah yang jelas-jelas tidak suka. Rupanya, Ketua Tim Sagurioka tidak terlalu menyukai Fenrir. Mungkin dia khawatir dengan tingkat pengetahuan Fenrir yang dia tunjukkan saat menjelaskan kasus pembunuhan berantai kartu remi. Ketua tim benci jika ada anggota yang lebih pintar darinya.

Namun, pada akhirnya,

"Baiklah, ikut," Ketua Tim menerima Fenrir. Dia menunjukkan kelapangan hati-nya. Dengan demikian, tim detektif itu menjadi beranggotakan empat orang.

Kemudian, kami kembali ke lantai tiga Sayap Timur—ke kamar Kanzaki. Mayat yang dadanya tertusuk pisau di atas jubah agamanya. Ishikawa mulai memeriksa mayat itu.

Sambil menyaksikan pemandangan itu, aku merasakan suasana yang sureal—perasaan aneh. Meskipun ini terjadi secara kebetulan, aku tidak menyangka akan berpartisipasi dalam penyelidikan dan menyaksikan otopsi. Hal ini mustahil terjadi dalam keadaan normal—kecuali jika aku berada dalam situasi seperti sekarang: jembatan terbakar, komunikasi dengan dunia luar terputus—dan aku menjadi semacam asisten detektif di ruang terkunci.

Tak lama kemudian, Ishikawa menyelesaikan otopsi dan menyampaikan hasilnya.

"Perkiraan waktu kematian adalah antara jam 2 pagi hingga jam 4 pagi hari ini."

"Tengah malam buta, ya... Yah, sesuai dugaan."

Sagurioka merenung, "Hmm." Di sampingnya, aku juga berpikir. Jika terjadi pada jam sedini itu, hanya sedikit orang yang memiliki alibi. Akan sulit untuk mempersempit daftar tersangka hanya berdasarkan alibi.

Sementara kami merenung, Fenrir mendekati mayat dan berjongkok di sampingnya. Dia dengan santai menyentuh mayat itu.

"...Apa yang kau lakukan?" tanya Sagurioka.

Fenrir tersenyum manis. "Tidak, Aku juga ingin melakukan otopsi."

Sagurioka mengerutkan alisnya dan menatapnya. "Kau... memang bisa melakukan otopsi?"

"Aku punya keahliannya."

"Eh, benarkah?"

"Meskipun penampilanku begini, Aku pernah melakukan otopsi pada hampir 200 mayat. Mungkin, aku adalah gadis 17 tahun dengan pengalaman otopsi paling banyak di dunia."

Fenrir mengatakan itu, dan segera mulai memeriksa mayat. Dari belakang, Ishikawa berkata kepadanya.

"Tapi, aku yakin perkiraan waktu kematian yang kusebutkan tadi sudah benar."

Fenrir kemudian menoleh dan berkata,

"Kudengar dalam dunia medis ada istilah second opinion."

"Ada, meskipun di Jepang belum terlalu umum."

"Aku pikir second opinion juga harus diterapkan dalam dunia otopsi."

"Maksudmu, untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa otopsiku salah?"

"Bukan. Untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa Ishikawa-san adalah pelakunya."

Fenrir berkata sambil tersenyum polos.

"Dalam situasi Closed Circle, jika dokter adalah pelakunya, dia mungkin saja memberikan perkiraan waktu kematian yang salah, untuk menciptakan alibi palsu bagi dirinya sendiri, atau sengaja menghilangkan alibi seseorang. Untuk menghindari hal seperti itu, otopsi harus selalu dilakukan oleh dua orang—Aku rasa seharusnya begitu dalam kondisi Closed Circle."

"Begitu, ya. Memang benar," Ishikawa mengangkat bahu. Lalu dia tersenyum lembut dan berkata, "Silakan selidiki sepuasnya. Itu akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah."

"Itu tidak akan membuktikan Anda tidak bersalah. Ada juga kemungkinan Ishikawa-san adalah pelakunya meskipun Anda memberikan hasil otopsi yang benar."

"Ah, ya. Memang benar juga."

Ishikawa berkata seolah terkesan. Lalu dia tertawa senang, "Sepertinya aku sulit keluar dari lingkaran tersangka." Aku tak tahu harus berkomentar apa. Pria ini aneh, dia sama sekali tidak menunjukkan ketegangan.

Sesuai permintaan Ishikawa, Fenrir menyelidiki mayat itu sepuasnya. Tak lama kemudian, dia menyampaikan hasilnya.

"Perkiraan waktu kematian adalah antara jam 2 pagi hingga jam 4 pagi tadi malam."

Fenrir mengumumkan hasil otopsi yang sama dengan Ishikawa. Setidaknya, ini menghilangkan kemungkinan Ishikawa memberikan hasil otopsi palsu.

Fenrir berkata, "Dilihat dari kaku mayat dan lebam mayat, perkiraan waktu kematian ini tidak salah. Sebenarnya aku ingin memeriksa suhu rektal juga, tapi sayangnya aku tidak membawa peralatannya."

"Hei, sebenarnya kau ini siapa?" Sagurioka menatapnya dengan curiga.

Fenrir tertawa kecil. "Maksud Anda, siapa aku?"

"Tidak, maksudku—" Sagurioka menaikkan nada suaranya. "Jelas aneh, kan? Seorang di bawah umur bisa melakukan otopsi, dan memiliki pengetahuan yang sangat detail tentang Kasus Pembunuhan Berantai Kartu Remi."

Mendengar pertanyaan itu, Fenrir tertawa.

"Aku hanyalah warga sipil biasa. Seorang gadis yang sedikit lebih tahu tentang kasus pembunuhan dan ilmu forensik daripada orang lain. Yah, hanya saja—"

Dia memasukkan tangan ke balik pakaiannya, mengeluarkan sesuatu, dan menunjukkannya kepada kami.

"Dewa yang aku sembah—mungkin berbeda dari kalian."

Yang dia keluarkan adalah rosario perak yang tergantung di lehernya. Aku menatap 'benda' yang disalibkan pada rosario itu. Patung kerangka yang tertunduk, dengan tangan dan kaki dipaku.

"Menara Fajar?"

Senyum lembut yang terukir di wajahnya tiba-tiba terlihat seperti senyum misterius. Gadis berambut perak yang cantik itu memberitahu kami.

"Izinkan aku memperkenalkan diri lagi. Aku Fenrir Alice Hazard—salah satu dari Lima Uskup Agung organisasi keagamaan Menara Fajar."

"Lima Uskup Agung?" Ishikawa memiringkan kepala mendengar kata-kata itu.

Tapi aku—dan Sagurioka—tampaknya langsung mengerti. Di bawah Paus yang memimpin Menara Fajar, terdapat para eksekutif yang disebut Lima Uskup Agung. Artinya, di usianya yang baru tujuh belas tahun, dia adalah salah satu calon Paus berikutnya dari Menara Fajar.

Fenrir menatap mayat Kanzaki, yang adalah seorang Pastor dari organisasi yang sama.

"Aku turut berduka untuk Kanzaki." Dia menundukkan kepala, seolah berbelasungkawa. "Namun, di akhir hidupnya, dia telah mencapai prestasi yang luar biasa. Lihatlah—ruang terkunci yang sempurna ini."

Suaranya tenang dan terdengar sangat bangga.

"Aku belum pernah melihat ruang terkunci sesempurna ini sebelumnya. Tempat Kanzaki meninggal ini pasti akan memberikan kebahagiaan yang tak tertandingi bagi banyak orang."

Dia mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto mayat Kanzaki, jepret

Menara Fajar menyembah foto TKP pembunuhan sebagai benda suci. Dengan menghilangkan penyesalan orang mati melalui doa, energi negatif itu dibalik dan diubah menjadi kebahagiaan. Aku ingat, itu adalah doktrin mereka.

*

Setelah Fenrir pergi dari tempat kejadian, kami masih tercenung menatap dinding dan karpet di kamar itu selama beberapa saat. Sagurioka tersentak, dan melanjutkan pemeriksaan TKP. Aku pun mengikutinya.

"Hei, aku baru memikirkan ini," kata Sagurioka, berjongkok di samping mayat. "Kasus ini—mungkinkah ada kemungkinan bunuh diri?"

Aku mengangguk menanggapi perkataannya. "Kebetulan sekali, aku juga memikirkan hal yang sama."

Karena doktrin 'Menara Fajar' yang sangat menginginkan TKP, bunuh diri untuk menciptakan ruang terkunci sempurna demi kebahagiaan sekte adalah spekulasi yang masuk akal.

"Tidak, bunuh diri itu mustahil," Ishikawa menyangkal.

Aku bertanya pada dirinya yang terlihat yakin. "Apa dasarnya?"

"Mungkin karena luka di mayat," kata Ishikawa, lalu menyingsingkan lengan baju Pastor Kanzaki. Di sana terdapat luka besar, seolah diiris dengan pisau.

"Lihat ini," Ishikawa, yang terbiasa melihat darah karena pekerjaannya, berkata dengan wajah datar. "Selain bagian dada yang ditikam, ada juga luka di tempat ini. Pelaku pasti yang melukainya. Dan luka ini, dibuat setelah Kanzaki-san meninggal."

"Maksudmu tidak ada reaksi hidup?" tanya Sagurioka.

"Ya, benar. Lukanya tetap terbuka."

Mendengarkan percakapan keduanya, aku mengangguk. 

"Hmm." Tubuh manusia, ketika terluka, secara alami akan menutup lukanya untuk menghentikan pendarahan dan memperbaiki luka. Inilah yang disebut reaksi hidup.

Namun, pada orang mati, reaksi hidup itu menghilang. Jika tubuh terluka setelah kematian, luka itu akan tetap terbuka. Jadi, dengan memeriksa luka pada mayat, bisa dibedakan apakah luka itu dibuat sebelum atau sesudah kematian.

"Tapi yang tidak kumengerti," kata Ishikawa, "kenapa pelaku sengaja melukai lengan Kanzaki-san dengan pisau setelah membunuhnya. Sejujurnya, itu adalah tindakan yang tidak ada artinya. Kenapa pelaku repot-repot melakukan hal seperti itu?"

"Hmm, memang benar," Sagurioka mengerang. "Whydunnit ya. Ini misteri."

Namun, aku langsung mengerti. "Tidak, alasannya sederhana," Aku memberitahu mereka berdua. "Ishikawa-san, Anda langsung menolak kemungkinan bunuh diri setelah melihat luka di lengan. Tapi bagaimana jika itu adalah tujuan pelaku? Pelaku melukai lengan mayat untuk menepis salah satu pola baku ruangan terkunci—yaitu korban bunuh diri yang berpura-pura dibunuh."

"Masuk akal," Ishikawa tertawa tercengang. "Benar-benar totalitas. Sama seperti meniru Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan di masa lalu, pelaku kasus ini tampaknya sangat terobsesi dengan ruang terkunci."

"Memang, agak menyimpang," kata Sagurioka juga. "Yah, justru karena itu jadi layak untuk ditantang. Ah, benar, Nak. Jawaban atas Whydunnit tadi—tentu saja aku juga sudah memikirkannya, lho. Aku hanya memberimu kesempatan untuk bersinar."

Aku merasa dia baru saja mengatakan, "Ini misteri." Yah, sudahlah.

"Yah, yang penting semangat ya," Ishikawa berkata sambil mengangkat bahu. "Aku akan kembali sekarang. Aku sudah melakukan bagianku. Ruang terkunci bukan bidangku, dan kurasa aku tidak bisa banyak membantu."

Ishikawa mengatakan itu dan meninggalkan tempat kejadian. Kami melambaikan tangan ke punggungnya yang menjauh.

"Baiklah," Sagurioka meregangkan tubuh. "Kalau begitu, mari kita mulai memecahkan misteri ruang terkunci secara serius."

"Misteri ruang terkunci daripada mencari pelaku?"

"Yah, sepertinya tidak ada petunjuk yang mengarah ke pelaku. Lagipula, aku lebih mahir dalam Howdunnit daripada Whodunnit."

"Begitu," Aku mengangguk. Kalau begitu, mari kita lihat kemampuan Anda.

Untuk beberapa saat setelah itu, kami memeriksa satu per satu kondisi tempat kejadian. Tempat itu adalah kamar dengan tata letak yang sama dengan lokasi Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan di masa lalu, dengan perabotan dan interior yang hampir identik. Bahkan panjang bulu karpet di lantai dan celah di bawah pintu masuk pun sama. Lebih jauh lagi, panjang bulu karpet di koridor pun sama.

Dan barang bukti yang tertinggal di lokasi kejadian juga identik dengan Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan. Sebuah voice recorder yang merekam suara jeritan, dan sebuah botol plastik kecil berisi kunci.

Aku membawa botol itu dan keluar ke koridor. Sagurioka ikut. Setelah menutup pintu, kami menguji apakah botol itu bisa melewati celah di bawah pintu. Tentu saja hasilnya mustahil. Ukuran botol itu lebih besar dari celah di bawah pintu dan pasti tersangkut.

"Kalau begitu, ini saatnya alat ini unjuk gigi," Sagurioka mengeluarkan senar pancing dari sakunya.

"Anda sudah siap, ya," Aku kagum. Sagurioka tersenyum.

"Tujuan awalku mengunjungi puri ini memang untuk memecahkan misteri Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan. Jadi, tentu saja aku menyiapkan senar pancing. Tidak ada gunanya membuat hipotesis di kepala jika kita tidak bisa mengujinya."

Aku mengangguk. Memang benar.

Setelah itu, kami melakukan berbagai macam percobaan. Mencoba menaruh botol di samping mayat dan berusaha memasukkan kunci yang dililit senar pancing dari bawah celah pintu ke dalam botol. Atau mencoba melilitkan senar ke tutup botol dan menutupnya dari jarak jauh. Hasilnya sama-sama buruk. Berulang kali kami mencoba, kunci itu tidak bisa masuk ke dalam botol, dan kami tidak bisa menutup tutup botol meski sudah memanipulasi senar.

Kami juga mempertimbangkan pendekatan lain. Namun, pintu itu, sama seperti TKP Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan, adalah jenis yang membutuhkan kunci untuk mengunci dari dalam ruangan. Ini berarti trik yang menggunakan kekuatan fisik pada kenop kunci tidak bisa digunakan. Singkatnya, untuk menciptakan ruang terkunci, kunci harus digunakan untuk mengunci dari luar pintu.

Ketika kami sadar, matahari sudah tenggelam, dan pemandangan di jendela koridor menjadi gelap gulita. Kami dilanda kebingungan. Selama botol itu tidak bisa melewati celah di bawah pintu, pelaku harus memasukkan kunci yang digunakan untuk mengunci dari luar ke dalam botol di dalam ruangan melalui celah tersebut. Benar-benar kejahatan yang mustahil.

"Ngomong-ngomong, kenapa pelaku menggunakan botol plastik?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala. Apakah ada makna di balik penggunaan botol plastik, bukan kaca? Atau hanya kebetulan?

"Ah, aku tahu, mungkinkah—" Sagurioka mencoba menghancurkan dan mengubah bentuk botol kecil itu agar bisa melewati celah di bawah pintu. Masuk akal, pikirku. Memang, tidak seperti kaca, plastik bisa berubah bentuk. Itu adalah ide sederhana, tetapi karena itulah menjadi blind spot.

Tapi—

"Hmm," Sagurioka tampak langsung menyerah. Plastik itu keras, dan tidak berubah bentuk meski ditekan. Jika dipaksakan, botol itu bisa pecah. Jadi, ide ini pun tidak berhasil.

"Ugh," Aku mengerang. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Apa maksudmu, apa yang harus kita lakukan—"

Aku menoleh ke arah suara, dan di sana ada Mitsumura. Dia menghela napas kecil.

"Aku terkejut—kalian masih melanjutkannya, ya."

Aku dan Sagurioka saling pandang. Memang, kami masih melanjutkannya. Meskipun matahari sudah terbenam.

"Mau bagaimana lagi," kataku. "Kami punya misi untuk memecahkan misteri ruang terkunci ini. Dan ini juga demi semua orang. Jadi, hargai sedikit kerja keras kami."

"Ya ya, bakal kuhargai. Jika kalian benar-benar bisa memecahkannya," Mitsumura berkata acuh tak acuh. "Daripada itu, sudah waktunya makan malam. Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Kecuali kalian berdua."

Aku dan Sagurioka saling pandang. Kami berdua memegangi perut kami yang keroncongan.

"Kami akan makan setelah misteri ini terpecahkan," kataku.

"Kau berniat puasa?" dia terheran-heran.

"Kami akan berusaha tidak mati kelaparan."

"Berapa jam lagi rencananya?"

"Sampai ganti hari."

"Itu akan merepotkan Shihai-san, kan."

"Memang."

"Apanya yang memang, sok pintar banget."

"Hmm, bagaimana ya. Ah, kalau begitu—"

"Ya?"

"Maukah kau membantu kami? Memecahkan misteri ruang terkunci ini."

Mendengar kata-kataku, matanya terbelalak.

"Sebab—" lanjutku. "Bukankah kau bisa memecahkan misteri pembunuhan ruang terkunci ini?"

Matanya yang terbelalak segera berubah menjadi ekspresi kesal.

"...Apa yang coba kau lakukan," kata Mitsumura. "Sebenarnya, apa tujuanmu?"

Aku sedikit mengangkat bahu. Sagurioka kemudian menyela percakapan kami.

"Memang, apa maumu?" katanya. "Jangan bercanda. Dia bisa memecahkan misteri ruang terkunci ini? Itu tidak mungkin."

"Tapi dia sangat pintar," kataku. "Dia pernah meraih peringkat pertama dalam ujian tiruan nasional, lho. Benar, kan?"

"Benar, katanya. Tapi itu cerita waktu SMP, kan?"

"Meskipun begitu, itu hebat."

"Mungkin, sih."

Melihat interaksi kami, Sagurioka tertawa kecil.

"Ah, memang benar. Itu hebat. Mendapat peringkat satu di ujian tiruan nasional, bahkan aku pun belum pernah." Dia berkata begitu, menyunggingkan senyum menghina. "Tapi, kepintaran dalam belajar dan kecerdasan esensial itu berbeda. Aku tahu banyak orang yang pintar belajar tapi sama sekali tidak berguna."

Mungkin dia sedang membicarakan dirinya sendiri, pikirku. Tapi Mitsumura tampaknya menangkapnya secara berbeda. Bertentangan dengan penampilan luarnya yang tenang, dia ternyata mudah terpancing. Dengan sikap jelas terprovokasi, dia bertanya padaku.

"Siapa dia tadi?"

"Sagurioka-san. Kau sudah bertemu dengannya beberapa kali, kan."

"Oh, orang yang bicara ngelantur saat mayat ditemukan itu, ya. Karena level intelektualnya terlalu rendah, dia terhapus secara alami dari ingatanku. Percuma saja mengingatnya."

Wajah Sagurioka memerah karena marah. Dia berkata dengan suara penuh amarah, karena terprovokasi.

"Aku juga sudah melupakanmu. Baru saja."

"Tenang, aku melupakanmu jauh lebih lama."

"Tidak, aku yang lebih lama."

"Tidak, tidak, aku yang lebih lama."

Sungguh seperti pertengkaran anak SD. Ini sama sekali bukan percakapan orang-orang yang pintar.

Akhirnya Sagurioka bahkan mulai mengatakan hal seperti, "Pokoknya, aku jauh lebih pintar darimu!"

"Ah, benar! Kalau begitu, ayo bertanding. Siapa yang paling cepat memecahkan misteri ruang terkunci ini. Yang kalah akan meminta maaf dengan dogeza kepada yang menang—bagaimana?"

Mendengar kata-kata itu, Mitsumura mengangkat bahu dengan sombong.

"Baiklah. Tapi, apa kau yakin? Itu berarti kau harus ber-dogeza padaku."

"Wah, percaya diri sekali."

"Tentu saja. Aku sudah pasti menang. Sebab—" katanya.

"Aku sudah memecahkan misteri ruang terkunci ini."

Mendengar kata-kata itu, pikiranku dan Sagurioka seketika terhenti. Mitsumura menatap kami dan memiringkan kepalanya, seolah heran.

"Justru, aku sama sekali tidak mengerti kenapa kalian berdua kesulitan dengan ruang terkunci kelas tiga seperti ini."

*

Untuk melakukan eksperimen reproduksi trik ruang terkunci, kami pindah ke ruangan tepat di bawah kamar Kanzaki—ruangan yang dulunya merupakan TKP Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan. Pintu kamar Kanzaki sudah kami dobrak saat penemuan mayat, jadi kunci dan engselnya sudah rusak. Mitsumura ingin mereproduksi trik itu dengan pintu yang kondisinya senormal mungkin. Pintu TKP Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan juga sempat didobrak saat kasus sepuluh tahun lalu, tetapi sudah diperbaiki dan kini bisa dibuka-tutup dengan normal. Karena tata letaknya sama dengan kamar Kanzaki, ruangan ini memang tempat yang optimal untuk mereproduksi trik.

Namun, Mitsumura, yang akan melakukan reproduksi, terlihat sangat kesal. Dia tampak menyesal telah mengaku bisa memecahkan misteri itu, terucap karena terbawa emosi.

"Ditambah lagi, semua orang berkumpul," Mitsumura melihat sekeliling dengan tidak senang. Benar, hampir semua tamu dan staf Yukishiro-kan berkumpul di ruangan ini. Sagurioka yang memanggil mereka.

"Menurutku, akan lebih seru jika ada penonton," katanya dengan wajah datar, meskipun niatnya jelas terlihat. Dia pasti ingin mempermalukannya dengan membiarkannya memberikan deduksi yang meleset di depan banyak orang. Akankah keinginannya terkabul, atau—

Mitsumura menghela napas.

"Baiklah, mari kita mulai," katanya seolah pasrah. Dia melihat ke sekeliling penonton, lalu memulai dengan sambutan awal. "Seperti yang kalian semua tahu, dini hari tadi, salah satu tamu di puri ini—Kanzaki-san—dibunuh. Penyebab kematiannya adalah tusukan, dan tempat kejadiannya adalah ruang terkunci. Ditambah lagi, ini adalah copycat dari Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan yang terjadi sepuluh tahun lalu. Tapi, sebaliknya, itu berarti jika misteri Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan terpecahkan, misteri kasus ini juga akan terpecahkan. Jadi, eksperimen reproduksi trik akan dilakukan di ruangan tempat Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan terjadi ini. Yah, sebenarnya karena pintu TKP yang asli sudah rusak. —Baiklah, semuanya, silakan pindah ke ruangan sebelah dulu."

Atas instruksi Mitsumura, kami pindah dari ruang utama (tempat pintu masuk) ke ruangan yang bersebelahan—tempat boneka tertusuk pisau ditemukan 10 tahun lalu. Di ruangan itu, diletakkan boneka beruang sebagai pengganti mayat, serta pisau dapur yang sepertinya dibawa dari ruang makan. Di sampingnya, ada juga voice recorder dan botol kecil berisi kunci kamar.

Mitsumura mengambil botol kecil itu. Dia membuka tutupnya dan mengeluarkan kunci dari dalamnya.

"Saat kasus 10 tahun lalu, para penulis dan kritikus yang berada di tempat kejadian, semuanya mengatakan dengan bulat, 'Ini adalah ruang terkunci yang sempurna.' Aku belum pernah membaca Yukishiro Byakuya, jadi aku tidak tahu detail kasus 10 tahun lalu, tetapi ada kenalanku yang tahu, dan dia memberitahuku begitu."

Tentu saja, kenalan yang dimaksud adalah aku. Kami sempat mengobrol tentang hal itu saat waktu luang sebelum para penonton berkumpul di ruangan ini.

"Tapi, Aku bertanya-tanya. Ruang terkunci yang sempurna—tidak mungkin, kan? Sebaliknya, ini adalah ruang terkunci yang mudah dipecahkan, yang dihiasi dengan banyak petunjuk. Jika kita mengurai petunjuk-petunjuk itu satu per satu, jejak trik yang dipasang pelaku akan terlihat dengan sendirinya."

Setelah mengatakan itu, Mitsumura memasukkan botol dan kunci di tangannya ke dalam saku. Kemudian, dia menyatukan kedua jari tangannya dan mendirikan sembilan jari.

TN Yomi: 九本立てた ( kyūhon tateta ) diterjemahkan sebagai mendirikan sembilan jari (dengan menyatukan kedua tangan, biasanya untuk menghitung atau menunjukkan jumlah).

"Totalnya ada sembilan petunjuk: 

Voice recorder yang merekam jeritan. 

② Jendela berjeruji. 

③ Tonjolan berbentuk 'O' pada tutup botol. 

④ Pisau yang tertusuk di mayat. 

⑤ Celah di bawah pintu yang lebih sempit daripada lebar botol. 

⑥ Karpet koridor dengan panjang bulu tujuh sentimeter. 

⑦ Ruangan gelap gulita karena lampu dimatikan. 

⑧ Karpet kamar dengan panjang bulu satu sentimeter. 

⑨ Botol yang terbuat dari plastik."

"Ternyata petunjuknya banyak banget!" gumam Yozuki. "Tapi, aku nggak paham apa maksudnya."

"Apakah panjang bulu karpet itu penting?" tanya Fenrir.

"Riria juga nggak yakin apakah ruangan yang lampunya padam itu penting," ujar Riria.

Mitsumura mengacak-acak rambut hitamnya yang panjang.

"Kalau begitu, mari kita jelaskan setiap petunjuk satu per satu. Kita mulai dari 'Voice recorder yang merekam jeritan.' Kuzushiro-kun, menurutmu apa artinya ini?"

"Eh, aku?"

Aku terkejut karena tiba-tiba dipanggil. Mitsumura mengangkat bahu kepadaku. "Lebih mudah bicara jika ada yang mendengarkan deduksi," katanya. Masuk akal, pikirku. Artinya, aku menjadi asisten pengganti.

Aku berpikir sejenak, agar bisa memenuhi harapannya. Kemudian aku menyampaikan pendapatku.

"Itu pasti untuk memberitahu bahwa ada mayat di kamar, kan? Jadi, pelaku memasang voice recorder agar mayatnya ditemukan."

Mitsumura mengangguk. 

"Ya, benar. Dan karena '② Jendela berjeruji' tidak memungkinkan orang untuk keluar masuk, satu-satunya cara untuk masuk ke kamar adalah dengan mendobrak pintu."

"Itu, berarti—"

"Ya, benar. Pelaku memasang voice recorder untuk memaksa pintu didobrak. Dan tindakan mendobrak pintu ini akan menjadi kunci utama dalam menciptakan ruang terkunci kali ini."

Setelah mengatakan itu, Mitsumura mengeluarkan botol plastik kecil dari sakunya.

"Baik, selanjutnya penjelasan untuk '③ Tonjolan berbentuk 'O' pada tutup botol'. Tonjolan ini digunakan seperti ini."

Kali ini dia mengeluarkan tali karet sepanjang sekitar 3 meter dari sakunya. Tali itu sepertinya dibuat dari beberapa gelang karet tebal berdiameter 5 milimeter yang dipotong dan dihubungkan.

Dia memasukkan tali karet itu ke dalam tonjolan berbentuk 'O' pada tutup botol. Lalu dia mendekati jendela berjeruji dan berlutut di atas karpet. Dia kemudian memasukkan ujung tali karet itu melalui jeruji persegi (disebut 'Jeruji A') yang paling dekat dengan lantai. Setelah mengeluarkannya ke luar jendela, dia menarik kembali ujung tali karet itu ke dalam ruangan melalui jeruji yang bersebelahan (disebut 'Jeruji B').

Tali karet itu membentuk putaran yang mengelilingi salah satu bilah vertikal jendela berjeruji. Selanjutnya, Mitsumura mengeluarkan pemberat tipis berbentuk batang dari sakunya, lalu mengikat erat kedua ujung tali karet pada pemberat itu. Setelah kedua ujung terikat pada pemberat yang sama, tali karet itu berubah menjadi lingkaran karet raksasa.

"Dan, pemberat berbentuk batang ini kita gantung di luar jendela."

Sesuai yang dikatakan, Mitsumura mengeluarkan pemberat itu ke luar jendela melalui 'Jeruji B'. Karena ruangan ini berada di lantai dua puri, pemberat itu menggantung di luar jendela tanpa menyentuh tanah.

Setelah itu, dia menggeser botol plastik kecil yang terpasang pada tali karet ke posisi yang berlawanan dengan pemberat yang menggantung di luar jendela—yaitu, ke posisi terjauh dari jendela. Dengan begitu, lingkaran karet raksasa itu memiliki botol plastik kecil di salah satu ujungnya—dan pemberat berbentuk batang yang menggantung di luar jendela di ujung yang berlawanan, dengan bilah vertikal jendela berjeruji berada di dalam lingkaran.

Mitsumura mencoba menarik lingkaran karet itu menjauhi jendela, dan ujung lingkaran itu tersangkut pada jeruji, membuat karetnya meregang, "biyooon."

Mitsumura mengangguk sekali, lalu menutup tirai seperti saat mayat Kanzaki ditemukan. Karena ada celah sekitar satu sentimeter antara tirai dan lantai, tirai itu tidak menyentuh lingkaran karet yang menjulur di lantai.

"Baik, selanjutnya '④ Pisau yang tertusuk di mayat'."

Mitsumura berkata demikian, lalu berlutut perlahan di samping boneka beruang yang berperan sebagai mayat. Dia mengambil pisau dapur besar dengan mata pisau setajam pisau sungguhan sepanjang sekitar 30 sentimeter, lalu menusukkannya ke boneka beruang seolah menusuknya hingga ke lantai. Boneka beruang itu diletakkan tepat di depan pintu yang menghubungkan ruang utama dan ruang sebelah, dan pisau yang tertancap itu berkilat mengarah ke pintu.

Di seberang boneka beruang itu terdapat jendela berjeruji. Pintu, boneka, dan jendela berada dalam satu garis lurus.

Lingkaran karet yang dipegang Mitsumura meregang karena tersangkut pada bilah vertikal jendela berjeruji, menjadi hampir lurus. Ia terlihat seperti dua tali yang berjalan paralel. Dia memposisikan dua tali karet itu hingga menjepit pisau yang tertancap di boneka. Artinya, dia mengelilingi pisau itu dengan lingkaran karet yang memanjang, seperti bermain lempar gelang (ring toss).

Kemudian, sambil memegang botol kecil yang dilewati tali di ujung lingkaran, dia mulai berjalan mundur.

"Dalam keadaan ini, aku akan keluar ke koridor."

Sesuai yang dikatakan, dia berjalan menuju pintu keluar kamar. Lingkaran karet yang tersangkut di jeruji jendela meregang seiring dengan pergerakan Mitsumura, menambah panjangnya. Saat mencapai pintu keluar kamar, karet itu sudah meregang hingga lebih dari tiga kali panjang aslinya.

Dia kemudian keluar ke koridor. Semua orang mengikutinya.

Karet itu menegang kencang. Di tengah jalan, ia menyentuh kusen pintu yang memisahkan ruang utama dan ruang sebelah, membentuk garis patah-patah. Untuk pergi dari ruang sebelah (TKP) ke ruang utama, kami harus melewati pintu di dinding kiri ruang utama. Jadi, ketika karet diregangkan dari ruang sebelah melalui ruang utama menuju koridor, karet itu pasti akan menyentuh kusen pintu yang memisahkan kedua ruangan dan menekuk. Kebetulan, saat mayat ditemukan, pintu yang memisahkan dua ruangan ini dibiarkan terbuka, jadi kami membiarkannya terbuka juga.

"Baik, sekarang aku akan menutup pintu masuk kamar," kata Mitsumura yang sudah berada di koridor.

Dia menutup pintu masuk kamar. Karet yang meregang itu menjulur keluar ke koridor melalui celah di bawah pintu. Sambil memegang karet, dia mengambil kunci kamar dengan tangan yang lain dan mengunci pintu.

Dia berkata kepada semua orang. "Dengan ini, pintu sudah terkunci. Dan kunci ini, pada tahap ini, dimasukkan ke dalam botol."

Dia membuka tutup botol yang dilewati tali karet. Dia memasukkan kunci ke dalam botol, dan menutupnya kembali.

"Sisanya, jika botol berisi kunci ini kembali ke samping mayat, ruang terkunci selesai."

Memang benar. Tapi masalahnya ada di sini. Misteri terbesar dari ruang terkunci ini, tentu saja, adalah bagaimana cara mengembalikan botol berisi kunci itu ke dalam kamar.

"Botol itu dikembalikan seperti ini."

Mitsumura berjongkok di samping pintu dan mencoba memasukkan botol itu melalui celah di bawah pintu. Tapi botol itu tersangkut di bagian bawah pintu dan tidak bisa lewat.

Melihat itu, Sagurioka tertawa terbahak.

"Hei, hei, kau bercanda? Seberapa bodoh dirimu?" Dia berkata dengan gembira. "'⑤ Celah di bawah pintu yang lebih sempit daripada lebar botol'—botol tidak bisa melewati celah di bawah pintu. Melupakan apa yang kau katakan sendiri, kau punya daya ingat seperti ayam."

"Habis, reinkarnasiku  itu memang ayam."

"Hah?"

"Cuma bercanda. Lagipula Anda salah paham. Aku tidak mencoba memasukkan botol melalui celah di bawah pintu. Aku memanfaatkan fakta bahwa botol tidak bisa lewat, dengan mengaitkan botol pada pintu seperti ini."

Setelah mengatakan itu, Mitsumura melepaskan botol itu. Botol itu ditarik oleh tegangan karet, seolah siap kembali ke dalam kamar. Tapi tidak kembali. Itu karena tersangkut di celah bawah pintu yang lebih sempit dari lebar botol. Tersangkut di sudut kiri pintu—posisi yang berlawanan dengan engsel.

Mitsumura, yang masih berjongkok, mengelus karpet di sekitar pintu dengan kedua tangan. Dia mengusap-usapnya, seperti mengelus anjing atau kucing.

"'⑥ Karpet koridor dengan panjang bulu 7 sentimeter'," katanya.

"Bagaimana dengan ini?"

Mataku terbelalak. Karena karpet berbulu panjang itu diusapkan ke arah pintu, botol yang tersangkut di pintu terkubur dalam bulu karpet, tertutup rapi. Akan sulit untuk menyadari bahwa botol itu tersembunyi di sana, kecuali jika seseorang berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan.

"Dengan ini, persiapan selesai," Mitsumura berdiri dari samping pintu dan berkata. "Nah, saat mayat ditemukan, kita mendobrak pintu dengan bahu, kan. Hei, Kuzushiro-kun—jika kita melakukan hal yang sama sekarang, apa yang akan terjadi?"

"Apa yang akan terjadi?" kataku dengan bingung. Mendobrak pintu dalam kondisi saat ini—artinya membuka pintu yang membuka ke dalam—bukankah itu akan menjadi seperti itu? Jadi, trik ruang terkunci ini—

"Kalau begitu, mari kita coba saja."

Mitsumura kembali berjongkok di samping pintu, mengambil botol dari karpet, membuka tutupnya, dan mengambil kunci. Setelah membuka kunci pintu dengan kunci itu, dia mengembalikan kunci ke dalam botol. Setelah menutup tutupnya dengan rapat, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan akhirnya matanya tertuju pada Yozuki.

"Yozuki-san."

"Y-ya."

"Bolehkah aku meminta sedikit bantuan?" Mitsumura berkata demikian dan menyerahkan botol di tangannya kepada Yozuki. "Sekarang kami akan kembali ke dalam kamar, tapi Yozuki-san, aku ingin kamu tetap di koridor dan membantu kami mereproduksi trik ini. Maksudku, berperan sebagai asisten. Secara spesifik, setelah kami masuk ke kamar, tolong kaitkan lagi botol itu pada celah di bawah pintu. Dan saat aku memberi isyarat, buka pintu dengan sekuat tenaga. Bisakah kamu melakukannya?"

"Mengaitkan botol, dan membuka pintu," Yozuki bergumam, lalu menatap botol di tangannya. "Baik, aku nggak keberatan."

Mitsumura mengangguk, lalu membuka pintu kamar lagi dan mengundang kami masuk. Yozuki, yang sendirian di koridor, menutup pintu perlahan. Terdengar bunyi klik saat botol itu dikaitkan pada celah di bawah pintu.

Aku melihat kembali kondisi di dalam kamar. Di dalam, tali karet menjulur tegang di lantai, seolah merayap. Tali karet itu menjulur dari botol yang tersangkut di pintu menuju bilah vertikal jendela berjeruji. Dan di tengah lingkaran karet yang meregang itu, terdapat mata pisau dapur yang tertancap di boneka beruang.

Mitsumura berhenti di depan pintu yang memisahkan ruang utama dan ruang sebelah. Sama seperti saat mayat ditemukan, pintu itu dibiarkan terbuka lebar. Mitsumura menghadap ke pintu dan bergerak ke samping dinding, menjauhi pintu. Semua orang berkumpul di sekelilingnya.

"Kalau begitu—" kata Mitsumura.

"Kalau begitu, Yozuki-san—tolong buka pintunya."

Ada jeda sebentar setelah isyarat itu—lalu, pintu dibuka dengan sekuat tenaga.

Seperti anak panah yang melesat—atau seperti tikus yang berlari di tanah. Botol berisi kunci yang tersangkut di pintu kehilangan penahannya, dan seketika berakselerasi, ditarik oleh karet yang tegang. Botol itu melesat melintasi karpet dengan kecepatan yang tak terbayangkan—lalu menikung tajam dan tersedot ke ruangan sebelah.

Dengan momentum itu, ia terbang menuju mata pisau dapur yang dilewati lingkaran karet. Dan karena botol itu tertarik ke pisau, lingkaran karet yang melewati tutup botol itu mengenai mata pisau.

Dengan mata pisau tajam sepanjang 30 sentimeter, lingkaran karet itu terpotong putus, berubah menjadi seutas tali karet panjang, dan dari ujung tali karet itu, gantungan 'O' pada botol terlepas.

Tali karet itu kemudian ditarik oleh pemberat berbentuk batang yang menggantung di luar jendela, menyelinap melalui celah sempit antara lantai dan tirai, dan menghilang ke luar kamar melalui jeruji jendela lantai 2.

The Murder in the Golden Age of Locked Rooms: The House of Snow and The Six Tricks - Chapter 1 Ilustrasi 3

Di dalam kamar, hanya botol berisi kunci yang tersisa.

Ya—hanya kunci itu saja.

"Inilah trik yang digunakan pelaku," kata Mitsumura. "Saat kami mendengar voice recorder dan bergegas ke kamar, kunci itu masih berada di luar kamar. Namun, saat pintu didobrak dan dibuka, kunci itu ditarik oleh karet dan kembali ke dalam kamar seperti ini."

Kami terkejut dan kehilangan kata-kata. Inilah kebenaran di balik trik pembunuhan Kanzaki—dan Kasus Ruang Terkunci Yukishiro-kan 10 tahun lalu.

"Ta-tapi, bukankah trik itu tidak masuk akal?" Sagurioka yang mengatakannya. Dia berusaha mencari kelemahan. "Meskipun botol yang ditarik oleh karet bergerak ke ruangan sebelah dalam sekejap, itu pasti membutuhkan waktu kurang dari satu detik. Saat itu, bukankah botol yang bergerak dengan kecepatan tinggi di atas karpet akan terlihat oleh salah satu dari kita?"

Memang benar, pikirku. Argumen Sagurioka masuk akal. Namun—

"Justru karena itu, ada petunjuk nomor ."

"⑦?"

"Ya, '⑦ Ruangan gelap gulita karena lampu dimatikan'," kata Mitsumura. "Saat mayat ditemukan, lampu kamar dimatikan, dan jendela ditutupi oleh tirai kedap cahaya tebal, seperti yang digunakan di kamar gelap, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. Selain itu, punggung dua orang yang mendobrak pintu—Kuzushiro-kun dan Sagurioka-san—berfungsi sebagai penutup, menghalangi pandangan kami yang ada di koridor. Jadi, pertama-tama, botol itu tidak terlihat."

"Dan kedua orang yang mendobrak pintu itu masuk dari koridor yang terang ke dalam kamar yang gelap gulita. Dibutuhkan waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan, dan tepat setelah mendobrak pintu, mereka tidak punya waktu untuk memperhatikan apa yang ada di kaki mereka."

Sagurioka mengerang. Mitsumura terus menekan.

"Dan '⑧ Karpet kamar dengan panjang bulu satu sentimeter'. Suara botol yang bergerak di lantai diserap oleh karpet itu. Meskipun suara kecil tidak bisa dihilangkan jika botol yang melaju kencang membentur dinding atau jeruji jendela, tapi itu terjadi tepat setelah pintu didobrak. Suara kecil apa pun yang terdengar setelah suara keras itu akan terabaikan, menghilang dari kesadaran. Artinya, sama saja dengan tidak terdengar."

"Dan, petunjuk ⑨—" Mitsumura memandang semua orang dan berkata. "Botol yang digunakan dalam kejahatan ini adalah '⑨ Botol yang terbuat dari plastik'. Botol itu tidak akan pernah pecah meskipun meluncur di lantai atau menabrak dinding. Jika botol ini terbuat dari kaca, sudah pasti akan pecah.

"—Itulah kebenaran di balik trik ruang terkunci ini. Terima kasih atas perhatian kalian."

*

"Siapa sebenarnya anak itu?" 

Yozuki bertanya padaku setelah deduksi Mitsumura selesai. Aku mengangkat bahu dan berkata, "Hanya orang biasa." Tentu saja, Yozuki menunjukkan ekspresi tidak puas.

"Benarkah?"

"Benar."

Tentu saja, itu bohong. Tidak, atau mungkin tidak bohong. Mitsumura Shitsuri memang hanya orang biasa, dia tidak memiliki pekerjaan khusus atau menerima pendidikan istimewa.

Hanya saja—dia memiliki masa lalu yang berbeda dari orang lain.

3 tahun lalu, di musim dingin, seorang gadis SMP kelas 2 ditangkap atas tuduhan membunuh ayahnya. Berdasarkan kondisi di tempat kejadian, tidak ada keraguan bahwa gadis itu adalah pelakunya, tetapi hasil persidangan, dia dibebaskan. Kenapa? Karena tempat kejadiannya adalah ruang terkunci.


Musim dingin 3 tahun lalu—Kasus Pembunuhan Ruang Terkunci Pertama di Jepang.

Nama tersangka itu adalah Mitsumura Shitsuri. Gadis yang dulunya adalah teman sekelasku.

« Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya »

About the author

Koyomin
Yomi Novel adalah blog fan translation yang menerjemahkan web novel (WN) dan light novel (LN) Jepang pilihan ke dalam Bahasa Indonesia. Nikmati kisah fantasi, romansa, hingga dark story dengan terjemahan berkualitas dan update rutin.

Posting Komentar