![]() |
| Saranami Vol 1 Bab 6 - Malam Panjang |
Imasara desu ga, Osananajimi wo Suki ni Natte Shimaimashita Volume 1 Chapter 6 - Malam Panjang di Sabtu Keempat Bulan Juli
Waktu seolah terbang begitu saja (meskipun sebenarnya memang selalu begitu), dan hubungan antara aku dan Taa-kun masih jalan di tempat tanpa kemajuan berarti. Tahu-tahu, liburan musim panas kelas dua SMA sudah tiba.
Yah, meski begitu, karena sekolah kami berbeda, kesempatan bertemu tidak lantas berkurang. Malah sebenarnya ini peluang besar untuk sering-sering bertemu...
Tapi khusus hari ini, aku akan mengesampingkan dulu segala agenda debar-debar jantung bersamanya. Hari ini adalah hari untuk menghabiskan waktu sepuasnya dengan teman-teman sekolah—orang-orang yang justru kesempatannya bertemu jadi berkurang selama liburan.
Itu adalah senja di satu akhir pekan menjelang penghujung Juli...
"Uwah, cantiknya Hikari!"
"Iya nih, cocok banget lho buatmu, Hikarin."
"Ben... benaran...?"
Haru dan Yuki, dua sahabat lamaku, berteriak lebih heboh dari biasanya. Mereka terus mengarahkan kamera ponsel ke arahku dan menekan tombol shutter berkali-kali.
...Yah, lebih tepatnya, mereka memotretku yang sedang "berbaju renang".
Siang tadi, di bawah langit cerah tanpa awan yang panasnya minta ampun, kami berempat pergi berbelanja. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih baju renang.
Sebenarnya, membeli baju renang sekarang sudah agak terlambat, bisa dibilang musimnya sudah mau berakhir. Namun, karena ada sebuah alasan mendesak, kami tidak punya pilihan selain membelinya sekarang.
Begitu pulang dari belanja, kami langsung mengadakan sesi "pamer hasil buruan" di ruang tamu rumah salah satu teman kami.
Tapi, ini bukan cuma peragaan busana untukku saja...
"Ah, tapi Haru dan Yuki juga keren, kok! Sama sekali nggak kelihatan kalau itu hasil belanja impulsif!"
"Aduh, aku benar-benar bodoh. Ini sudah baju renang ketiga yang kubeli tahun ini."
"Habisnya kita terbawa semangatnya Hikarin, sih~"
Benar. Gara-gara sibuk mengomentari baju renang pilihanku, mereka berdua jadi tidak tahan dan malah asyik memilih baju renang sendiri.
Alhasil, sekarang terciptalah pemandangan surealis di mana semua orang berpakaian renang sambil merangkap jadi fotografer sekaligus model.
Ya, begitu pula dengan Haru, Yuki, dan...
"Hei semuanya, di kulkas ada anggur nih, mau minum?"
"Aya-chan, kita semua masih di bawah umur, tahu!?"
Sang pemilik rumah, Aya-chan, muncul dari balik dapur dengan mengenakan bikini hitam. Sambil memegang botol di tangan kanan dan gelas di tangan kiri, penampilannya sudah seperti pelayan bar dengan konsep yang agak nyeleneh.
...Yah, baju renangnya bukan barang baru yang dibeli hari ini, sih. Dia cuma dipaksa oleh kami semua (termasuk aku), dan akhirnya malah ikut terbawa suasana dengan penuh semangat.
"Tapi beneran deh, keluarga Aya kaya banget ya."
"Iya, nih. Baru kali ini aku main ke apartemen mewah pinggir sungai kayak begini."
Benar, tempat kami berada sekarang adalah unit 3LDK di lantai atas sebuah apartemen mewah yang dibangun di sepanjang sungai di Tokyo.
Dari jendela ruang tamunya, kami bisa melihat pemandangan sungai di bawah, jembatan, hingga kapal pesiar. Properti super mewah ini bikin aku membatin, 『Harus reinkarnasi berapa kali ya biar bisa tinggal di tempat kayak begini?』
"Yah, nggak ada yang bisa dipamerin juga dari tempat ini."
"Tapi Aya-chan, rumah aslimu kan di tempat lain? Berarti apartemen ini semacam vila atau rumah persinggahan?"
"Gimana ya, awalnya sih kayaknya ayahku pakai tempat ini buat simpanan selingkuhannya, tapi gara-gara ketahuan sama Ibu, akhirnya jadi unit kosong, deh."
"Jangan bongkar aib keluarga yang se-ekstrem itu dengan wajah lempeng dong!?"
Yah, aku jadi sadar kalau untuk memiliki properti istimewa semacam ini, memang dibutuhkan "urusan yang tak bisa dibicarakan" seperti itu. Yah, walaupun akhirnya malah dibicarakan juga, sih.
"Tapi, tempat ini paling pas buat acara menginap, kan? Apalagi buat malam ini, ya?"
Sambil mengedipkan sebelah matanya dengan seksi, Aya-chan meletakkan gelasnya di meja ruang tamu. Bukannya anggur, dia malah membuka tutup botol jus lalu mulai merobek bungkus camilan satu demi satu.
Benar, hari ini kami sedang berada di tengah-tengah acara spesial khas liburan musim panas: belanja bersama di siang hari, dan lanjut sesi girls' talk semalaman di apartemennya.
『Ini kan liburan musim panas, sesekali pilih teman dong daripada pacar.』
...Tentu saja aku tidak bisa menolak ajakan tidak sopan yang seolah menganggapku gadis SMA yang selamanya mabuk asmara itu.
Lagipula, mereka ini sama pentingnya dengan dia—eh, maksudku, hal seperti itu tidak perlu dibandingkan, kan?
※ ※ ※
"A-APAAA!?"
Teriakan Haru dan Yuki seketika diredam oleh dinding tebal apartemen mewah ini, hanya bergema di dalam ruangan saja.
Asli, efek peredam suaranya sangat membantu.
"J-jadi AC di kamar cowokmu yang biasa kamu tempatin itu rusak? Di tengah musim panas begini?"
"Kenapa di tengah situasi seistimewa itu kalian nggak ngapa-ngapain sih, Hikarin~?"
"Nggak bakal, lah! Itu kan di rumah! Di lantai bawah ada ibunya, dan di rumah sebelah ada ibuku, tahu!?"
Ah, anu... aku jelaskan dulu ya buat kalian yang mungkin bingung karena isi percakapan girls' talk kami yang terlalu "ajaib" ini?
Kejadiannya beberapa hari lalu, tepat setelah liburan musim panas dimulai.
Waktu itu hari sudah lewat siang. Seperti biasa, sambil mati-matian menahan debar jantung, aku naik ke kamarnya dan menyapa dengan nada bercanda, 『Permisiii~』. Aku tidak akan pernah lupa hawa panas yang menyergap dan seketika membuat seluruh tubuhku bermandi keringat.
Biasanya di musim seperti ini, kamarnya, yang dihuni oleh cowok yang tidak tahan panas dan tidak sabaran... maksudku, cowok yang sangat menjaga kondisi tubuhnya—seharusnya selalu berada di suhu ideal yang nyaman. Tapi tahun ini benar-benar berbeda.
...Yah, ceritanya sederhana saja: AC-nya rusak tepat saat liburan dimulai. Dan karena waktunya sangat tidak tepat, tukang servisnya penuh jadwal dan tidak akan bisa datang dalam waktu dekat.
"Itu sih namanya situasi yang bakal berujung ke adegan panas sambil mandi keringat..."
"Hikarin, apa yang kamu lakukan pas lagi mandi keringat dan menggeliat di atas kasurnya? Masa nggak ada apa-apa?"
"Kalian berdua dengerin omonganku tadi nggak, sih?"
Begitulah, situasi yang penuh trobel—maksudku, masalah—tadi malah dimanfaatkan oleh dua orang berbaju renang di depanku ini untuk mengembangkan imajinasi erotis ala komik dewasa.
"Padahal aku sudah pinjamkan komik dengan situasi yang mirip. Kenapa nggak dipraktikkan, sih?"
"Oh iya, aku ingat, Yuki! Ini aku balikin komiknya!"
Dengan gerakan refleks, aku menyambar tas belanjaku dan melemparkan tas kain berisi beberapa buku ke arah Yuki.
"...Padahal aku bilang balikinnya kapan saja boleh, lho~"
"Berhenti deh mencekoki aku dengan pengetahuan nggak berguna kayak gitu!"
Ya, itu adalah beberapa buku komik yang dipaksakan Yuki kepadaku saat hari pembagian rapor, katanya, 『Hikarin, kamu belajar deh dari sini~』.
Dia cuma kasih kata kunci misterius seperti 『TL』 atau 『Khusus Cewek』, tapi intinya... itu komik khusus dewasa.
"Wah, wah, apa-apaan ini! Mesum banget!"
Haru, yang sedari tadi berlagak sok tahu saat mengejekku, akhirnya menunjukkan jati diri aslinya kalau dia sebenarnya juga polos. Tangannya tidak bisa berhenti membalik halaman komik itu.
Masalahnya, buku itu, terutama cerita pendek pertamanya, benar-benar memicu imajinasi yang gawat...
Ceritanya tentang gadis kota yang liburan ke rumah neneknya di desa, lalu bertemu kembali dengan sepupu sekaligus teman masa kecilnya yang tinggal di sana.
Mereka tinggal serumah, main di sungai bareng, pergi ke festival kembang api, pokoknya menikmati liburan musim panas di desa.
Sampai akhirnya, sehari sebelum si gadis harus pulang ke kota, dia merasa sangat kesepian sekaligus penuh rasa cinta.
Di siang hari musim panas yang membara, di tengah bising suara jangkrik, mereka hanya berdua saja di teras ruang tengah.
Dalam suasana yang berkeringat dan penuh emosi itu, si gadis melontarkan kalimat kepada si laki-laki...
『Hei, mau melakukannya?』
"Melakukan apa!?"-nya silakan imajinasikan sendiri.
Ya, jawaban kalian benar! Silakan lanjut baca sendiri! (Maaf, tidak bisa kami perlihatkan).
"Lagian ya, situasi mandi keringat atau apalah itu yang kesannya 'nggak sehat tapi sehat', lebih cocok buat gadis tomboy dengan bekas belang matahari kayak Haru! Bukan buat aku!"
"Tunggu dulu! Kenapa tiba-tiba aku diseret-seret!?"
Di tengah aksi saling lempar tanggung jawab yang memanas itu, aku dan Haru sama-sama bermuka merah padam dengan keringat yang mulai membasahi tubuh berbaju renang kami. Benar-benar situasi yang membuat pembelaan diri kami tidak ada harganya.
Duduk santai sambil mengelilingi camilan di ruang tamu apartemen mewah pinggir sungai begini, rasanya apa yang kami lakukan tidak ada bedanya dengan jam istirahat di sekolah... yah, meski aku harus mengakui kalau pembicaraannya jadi sedikit lebih vulgar.
Intinya, ini sudah menjadi agenda rutin grup kami: sesi laporan perkembangan cintaku yang bertepuk sebelah tangan, sekaligus sesi sidang untuk menghujat sifat penakutku.
...Yah, fakta bahwa kami semua masih tetap berbaju renang selama pesta berlangsung memang kekhasan yang hanya bisa terjadi di girls' night out.
"Pokoknya, liburan musim panas tinggal sebulan lagi. Tentukan sikapmu dalam waktu dekat, Hikari!"
"Bener banget! Baju renang itu kan dibeli buat tujuan itu, ya kan~?"
"Duh, kalian sendiri dong yang cari pacar, jangan cuma sibuk ngurusin orang lain terus..."
Benar, baju renang yang kubeli hari ini bukan sekadar untuk bersenang-senang di acara kumpul-kumpul yang "bobrok" ini. Yah, walaupun aku sangat menikmatinya, sih!
Tujuan aslinya adalah... tentu saja, untuk kencan renang dadakan yang kujanjikan dengannya di kamarnya yang panas minta ampun itu.
"Hoi, pizanya sudah sampai nih, semuanya."
Entah karena tidak tertarik dengan pertengkaran konyol (?) kami bertiga atau memang sudah lelah melihat tingkah kami...
Aya-chan sang pemilik rumah kembali ke ruang tamu sambil mendekap kotak karton segi enam besar dengan logo jaringan piza terkenal.
"Eh, Aya, kamu juga dong kasih saran soal 'begituan' ke Hikari."
"Iya, iya, semuanya menunggu kata-kata mutiara dari Aya-chin yang berpengalaman, lho~?"
"Ah... aku sudah pensiun dari hal-hal kayak gitu."
"Dih, nggak asyik banget. Padahal baru kemarin-kemarin kamu santai banget mau nyosor ciuman lidah sama Hikari."
"Itu kan karena Hikari bilang dia nggak tahu rasanya ciuman..."
"Aaakh! Jangan diingatkan lagi soal ituuu!"
Begitulah suasana kami; makan, minum (jus), mengobrol, dan tertawa... Di luar sana, siang musim panas yang panjang telah berakhir, dan langit yang akhirnya menggelap mulai diterangi oleh kerlap-kerlip lampu kota...
※ ※ ※
Akhirnya, kotak pizza pun kosong, dan tepat saat obrolan kami mulai sedikit mereda.
"Nah, mumpung pestanya lagi seru-serunya..."
Tiba-tiba, Aya-chan mematikan lampu ruangan.
"Saatnya tiba~"
Lalu, saat dia menunjuk ke luar jendela…
DUARRR! DUARRR!
Seketika, seluruh pandangan kami dipenuhi oleh kilatan cahaya berwarna-warni yang meledak. Beberapa detik kemudian, rentetan suara ledakan menyusul.
"Uwaaaa~! Keren bangeeet!"
"Gila, bener-bener di depan mata!"
"Tamayaaa~!"
Ya, inilah menu utama kita hari ini. Festival kembang api raksasa setahun sekali yang diadakan di sungai tepat di depan mata, bukan sekadar kelihatan dari jendela kamar ini.
"Eh, eh, lihat dari balkon yuk!"
"Tunggu, Haru! Bahaya kalau keluar pakai baju begitu!"
"Empat anak SMA pakai baju renang di balkon sambil nonton kembang api... bisa-bisa langsung masuk siaran televisi, lho~"
Haru yang sudah kepalang girang melihat pawai cahaya dan suara itu mencoba membuka jendela, masih dengan setelan baju renangnya.
Aku sudah berusaha mati-matian menahannya, tapi sejujurnya, aku pun tidak bisa membendung keinginan untuk segera melompat keluar, sama seperti Haru.
"Nih, pakai ini saja kalau mau keluar. Yang kita beli bareng-bareng tadi."
"Ah."
"Oh..."
"Aaa~!"
Seolah sudah membaca dorongan impulsif kami semua, Aya-chan mengeluarkan sesuatu dari kantong belanjaan...
"Gila, bener-bener dekat banget. Rasanya gendang telingaku mau pecah."
"Kagiyaaa~!"
Di balkon apartemen mewah lantai atas di pinggir sungai... empat gadis berdiri bersandar pada pagar pembatas, menengadah menatap kembang api di atas kepala mereka.
...Dengan setelan yang agak "nyeleneh": hanya mengenakan yukata di atas baju renang.
"Bagus banget ya, Aya-chan."
"Iya. Padahal apartemen ini nggak ada gunanya, tapi sesekali boleh jugalah."
"Duh, ngomong begitu lagi..."
Haru dan Yuki sibuk menunjuk setiap kembang api yang meledak sambil berteriak heboh.
Aku dan Aya-chan mendengarkan kebisingan itu dari sisi kiri, sambil menerima hantaman suara ledakan kembang api dari depan. Kami berbincang dengan volume suara yang dipaksakan agar bisa saling mendengar.
"Tapi, ya..."
"Hm~?"
"Ngobrol semalaman sama teman begini... sesekali, eh nggak, lumayan sering ada hari kayak begini pun... rasanya menyenangkan."
"Kan? Bener, kan~? Besok-besok kita begini lagi ya, Aya-chan?"
Sedikit pelarian dari kenyataan, sebuah momen luar biasa.
Sedikit momen luar biasa yang membuatku lupa akan kegalauan sehari-hari.
Hari-hari berharga yang menurutku boleh saja terjadi sesekali atau malah sering-sering.
"Tapi Hikari, tahun depan kamu harus usaha supaya bisa nonton berdua sama dia, ya?"
"Nggak mau ah, ramai banget begini. Kalau cuma berdua, aku mau acara yang lebih tenang saja."
"Sok pilih-pilih~"
"Ahaha!"
Meski tanpa kehadirannya, hari ini aku tetap mendapatkan pengalaman musim panas yang sangat berharga.
※ ※ ※
"He~..."
"...... Apa?"
"Haru, bekas berjemurmu benar-benar kelihatan jelas ya~"
"Jangan dielus-elus gitu, geli tahu."
Makan-makan sudah selesai, menikmati kembang api pun sudah puas. Kini, sebelum memulai rutinitas all-night pajama party (yang belum pernah berhasil kami lakukan sampai pagi), kami memutuskan untuk mandi.
Tapi, kamar mandinya agak terlalu sempit kalau untuk dipakai berempat sekaligus. Setelah melakukan hompimpa untuk membagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama yang masuk adalah aku dan Haru.
"Bisa-bisanya ada bekas berjemur di bagian sini... Bukannya seragam klub atletik sekolah kita itu agak terlalu seksi, ya?"
"Hush, zaman sekarang kata-kata itu tabu diucapkan, lho."
Sambil berendam di bak mandi, aku menyisirkan jemariku di sepanjang batas antara kulit kecokelatan dan kulit putih di punggung mulus Haru yang sedang asyik menyabuni diri di area pancuran.
...Eh, aku sendiri juga jadi kedengaran agak mesum, ya.
"Tapi ya~ kalau dipikir-pikir lagi, aku dan Haru sudah cukup lama berteman, ya~"
"Yah, meski belum bisa dibilang teman masa kecil, sih~"
"Istilah 'masa kecil' untuk sementara ditetapkan sebagai kata terlarang, ya!"
Haru... Ichigaya Haruhi. Orang yang pertama kali kutemui saat...
Yah, klise sekali memang, tapi itu terjadi saat upacara penerimaan siswa baru di SMA.
Saat duduk di kursi yang ditentukan di aula olahraga, dia berada tepat di sebelah kananku. Dan kalau boleh kusebutkan sekalian, di sebelah kiriku ada Yuki... Hirai Yuki. Begitulah awal pertemuan trio kami yang benar-benar biasa saja.
Alasan kami duduk dengan posisi seperti itu pun sangat sederhana: 'karena kami disuruh duduk berderet secara vertikal sesuai urutan abjad dari baris depan kanan'. Benar-benar kebetulan basi yang tidak ada drama atau keajaiban sama sekali.
Hanya saja, kalau ada satu hal yang agak khas...
"Dulu Haru itu cuma asyik ngobrol sama Yuki sambil melewatuiku, aku merasa dikacangi sendirian, tahu~"
"Habisnya gimana lagi? Aku dan dia kan satu SMP."
"Kalau kalian berdua sih mungkin boleh disebut teman masa kecil, ya~"
"Bukannya tadi itu kata terlarang?"
Iya, perkenalanku dengan mereka berdua memang agak sedikit... berjarak.
"Tapi ya... sejujurnya, awalnya aku mengira Hikari itu tipe 『cewek yang sok jual mahal』, lho."
"Eeeh! Masa, sih!?"
Dan inilah fakta mengejutkan yang baru terungkap sekarang...
"Beneran. Setidaknya sampai 30 menit pertama upacara penerimaan siswa baru dimulai."
"Bentar amat!?"
Ternyata kebenaran yang barusan terungkap itu dangkal sekali...
"Habisnya~ pas upacara itu kan kamu yang maju buat pidato perwakilan murid baru, Hikari."
"Ah, kalau itu... yah, soalnya aku kan masuk lewat jalur rekomendasi."
"Nah, aura-aura anak teladan itulah yang bikin aku agak keki."
"Ugh..."
Ngomong-ngomong, Haru yang bicara sinis begini pun sebenarnya masuk lewat jalur prestasi olahraga yang kuotanya bahkan lebih ketat daripada jalur rekomendasiku.
Sejak awal masuk, dia sudah jadi harapan besar klub atletik sekolah kami, dan sekarang semua orang setuju kalau dia adalah atlet andalan yang tak tergoyahkan.
"Lagipula~ Hikari, kamu ingat nggak pas kamu jalan ke panggung buat pidato, kamu sempat menginjak kakiku?"
"AAAAAKH! Maafkan akuuuuu~!"
Itu adalah memori yang mustahil kulupakan, tapi selama ini aku berusaha mati-matian menyegelnya di lubuk otak terdalam agar tidak perlu diingat lagi...
Soalnya, kata-kata pertama yang diucapkan Haru padaku waktu itu adalah, 『Aduh!』.
Dan ekspresi pertama yang dia berikan padaku saat itu adalah tatapan tajam yang sedikit terlihat seperti preman.
"Nah, itu dia. Reaksi berlebihanmu itu."
"Eh?"
"Waktu itu juga kamu minta maafnya persis kayak gitu, kan? Pakai suara lantang yang sampai menggema ke seluruh aula."
"...Ah—"
"Terus gara-gara kepikiran soal injak kaki itu, pidatomu jadi berantakan banget. Kamu belepotan, salah baca, sampai lupa teks."
"Sudah, cukup... jangan diteruskan..."
Rasanya wajahku yang memanas sekarang bukan karena suhu air di bak mandi.
"Nah, pas aku lihat itu, aku langsung mikir, 『Oalah, anak ini ternyata pintar-pintar bego ya』. Di saat itulah aku merasa langsung akrab banget sama kamu~"
"Tadi aku bilang berhenti, kan~?"
Kalau diingat-ingat lagi...
Saat aku kembali dari podium dengan wajah yang nyaris menangis (oke, aku memang setengah menangis), Haru dan Yuki-lah yang menyapaku dengan senyum lebar.
Padahal bagi aku sendiri, aku hanya ingin menyimpan memori positifnya saja: bahwa di hari pertama sekolah, aku langsung dapat teman, bahkan dua orang sekaligus...
"Tapi, ya..."
Begitulah, meski aku sudah menenggelamkan seluruh wajahku ke dalam bak mandi karena saking malunya...
Haru tanpa peduli langsung menceburkan diri ke bak mandi dengan bunyi byurrr, membuat air dalam jumlah besar meluap keluar. Ah, sayang banget airnya terbuang.
"Keanehan... maksudku, kehebatanmu yang sebenarnya baru kusadari pas masuk semester kedua, sih."
"Maksudmu...?"
"Habisnya, siapa sangka kamu bakal membawa 'si itu'—maksudku Aya—masuk ke geng kita~"
"Ah..."
Sekarang kami baru saja menyelesaikan semester pertama kelas dua.
Jadi, semester kedua yang kami lalui itu adalah saat kami masih kelas satu.
"Padahal kami... bahkan kakak kelas pun sampai dibuat ngeri sama dia," ucap Haru, seolah sedang menceritakan sebuah legenda heroik.
Yah, memang sih, waktu itu aku butuh sedikit keberanian.
"Waktu itu, aku benar-benar mengira kamu sudah kehilangan akal sehat."
Tapi sekarang, segalanya terasa begitu manis dan penuh kenangan.
"...Dia itu cuma gadis biasa, kok. Dari dulu sampai sekarang."
"Iya juga, sih. Persis seperti yang selalu kamu bilang, Hikari. Dia itu anak yang baik."
"Bener, kan? Dia itu cuma dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya karena filter aneh yang mereka pasang sendiri..."
"Filter yang cuma nggak kelihatan di mata orang bodoh, ya?"
"...Hei, dari tadi aku penasaran, itu maksudnya memuji, kan?"
"Pujian tingkat tinggi tahu! Ahaha!"
"Iih, dasar...!"
Akhirnya, aku dan Haru berendam di sana sampai tiga puluh menit lamanya.
Akibatnya, kami kena omel habis-habisan oleh Yuki dan Aya-chan yang sudah menunggu giliran berikutnya.
...Kami juga dimarahi karena membuat volume air di bak mandi berkurang drastis.
※ ※ ※
Setelah semua orang selesai mandi, akhirnya tibalah waktu yang ditunggu-tunggu: pajama time.
Di ruang tamu yang luas, kami membentangkan futon, selimut, dan bantal seadanya. Di tengah-tengahnya, camilan tersebar melimpah. Kami semua berbaring melingkar, saling berhadapan dalam jarak dekat, dan mulai asyik mengobrol. Ini adalah acara puncak yang sangat berkelas dan krusial dalam sebuah girls' night out... ya kan?
【Kasus Hirai Yuki】
"He~, jadi Yuki mau ambil jurusan desain!"
"Berarti incar kampus seni? Musashino atau Tama?"
"Mana mungkin aku bisa masuk kampus level dewa kayak gitu~. Paling ke universitas singkat (tanki daigaku) yang ada jurusan fesyennya, yang kira-kira peluang masuknya gede?"
"Dih, nggak jelas banget sih targetmu."
"Ya habisnya, aku sudah cukup sadar diri sama batasan kemampuan akademik dan potensi terpendamku, tahu~"
Dan topik pembicaraan kali ini adalah... hal yang mengejutkan, yaitu tentang 『masa depan kami』.
Mungkin karena topik perkembangan cintaku sudah dikupas habis-habisan sampai bosan tadi sore, makanya obrolan kami jadi agak berbobot... eh, maksudku, pembicaraan ini sedikit lebih serius dan berat dibandingkan biasanya.
"Soalnya ya~ aku kan nggak pintar belajar kayak Hikarin, terus bukan 'monster fisik' kayak Haru-chi juga~"
"Oi, kenapa perbedaan level kata pujian buat kami berdua jauh banget, sih?"
"Terus kalau Aya-chin... rasanya dia tipe yang bakal tetap bisa bertahan hidup apa pun yang terjadi. Dia punya kekuatan dan kecerdasan yang beda dari Hikarin~"
"Yah, aku memang sudah cukup ditempa oleh lingkungan keluargaku, sih..."
"Nggak usah diceritain lanjutannya juga nggak apa-apa kok, Aya-chan!?"
Awalnya, topik ini justru dimulai oleh Yuki—orang yang kukira kerjanya cuma asyik bergosip saja (maaf ya!).
Tapi ya, isinya seperti yang kalian dengar; tidak ada tekad yang menggebu-gebu ataupun ambisi yang muluk-muluk. Hanya sebuah rencana yang sangat "membumi" dan sesuai dengan jati diri kami apa adanya.
"Jadi intinya~ aku tuh orang yang paling bia-sa banget di antara kita berempat."
"Hmm, aku kayaknya agak keberatan sama penilaian itu, atau malah keberatan banget..."
"Soalnya sifatmu yang paling busuk, kan?"
"Heh, situ diam aja deh~!"
Begitulah, kami yang awalnya sempat merasa agak bingung.
Mendengar kata-kata jujur apa adanya yang tidak setinggi 'impian', dan terasa terlalu mengambang untuk disebut 'target' itu.
"Makanya sebagai orang biasa, aku mau masuk kampus yang nggak terlalu berat, kuliahnya dijalanin santai aja~, sambil menikmati masa muda gitu?"
"Bagus, bagus tuh, Yuki. Semacam konsep 'yang kayak gitu aja udah cukup' ya?"
"Bener. Menjadi biasa itu yang paling sulit, dan paling bikin iri."
"......Aya-chin, bisa nggak sih kata-katamu jangan terlalu berat tiap kali ngomong?"
Tanpa sadar, kami mulai merasakan sedikit kecemburuan yang bercampur dengan rasa simpati yang mendalam.
【Kasus Ichigaya Haruhi】
"Kalau aku, targetnya masuk kuliah lewat jalur prestasi olahraga! Sama kayak pas masuk SMA!"
"Nggak berubah ya, Haru-chi."
"Yah, buat mewujudkan itu, meski level nasional mungkin sulit, setidaknya aku harus bisa masuk final kejuaraan tingkat kota. Udah saatnya, nih."
"Oh iya, bulan depan ada pertandingan lagi, kan?"
"Kalian semua harus datang dukung, ya!"
"Tentu saja!"
"Aku mau datang kalau stadionnya ada AC-nya, sih..."
"Kamu beneran teman yang nggak guna ya, Aya..."
Berikutnya adalah Haru, sosok yang punya visi masa depan paling jelas di antara kami.
Atau lebih tepatnya, kami semua sudah tahu kalau dia begitu tenggelam dalam kegiatan klubnya. Di antara kami berempat, dia adalah yang paling bisa dikagumi, tapi juga yang paling sulit untuk diikuti alur pikirannya—singkatnya, dia itu beneran gila olahraga... atau semacamnya.
"Tapi Haru-chi, jangan lari terus dong. Kamu nggak pengin apa nyobain hal-hal yang 'kurang bener' kayak jatuh cinta atau semacamnya~?"
"Kenapa kata-katamu seolah-olah aku ini orang suci yang nggak bener sih!?"
Mungkin karena itulah, begitu kami lengah sedikit saja, topik pembicaraannya akan langsung kembali ke arah "kurang bener" tadi. Yah, begitulah prinsip kami—terutama prinsipnya Yuki.
"Tapi, apa Haru nggak punya rahasia yang disembunyikan dari kami... soal begituan?"
"Iya, iya! Mengingat Haru-chi itu populer banget di kalangan kouhai cewe, potensi ke arah sana pasti ada banget!"
"Bener, bener! Tadi pas di kamar mandi aku sempat sentuh otot punggungnya, lho. Rasanya bikin deg-degan banget~"
"Aku nggak mau mandi bareng Hikari lagi, titik!"
"Kalau bukan sesama cewek, apa mungkin cowok dari klub yang sama? Alasan kenapa gosip cinta Haru-chi nggak pernah kedengaran di kelas, mungkin karena kamu menyembunyikannya di lingkup sedekat itu."
"O-oh, masuk akal juga...!"
"Yah, siapa yang tahu ya~?"
"......Dilihat dari reaksinya, kayaknya emang nggak ada apa-apa, deh."
"Iya nih, kayaknya emang beneran nggak ada~"
"O-oh, begitu ya...?"
"......Kalian bisa menebak isi kepalaku kayak gitu malah bikin aku makin keki!"
【Kasus Sudou Ayami】
"Kalau aku... masa depan sih terserah saja. Keluargaku kaya tujuh turunan, jadi aku nggak perlu kerja juga bisa hidup."
"Itu beneran diucapin sendiri ya, Aya-chin..."
"Woi, jangan ninggalin teman seangkatan di belakang dong!"
"Aya-chan, beneran deh, sebenarnya kamu sudah reinkarnasi berapa kali sih?"
"Iya juga ya, aku kan emang 'mengulang' waktu. Kelas satu saja sampai dua kali."
"......Ah~"
"Bukan 'mengulang' yang itu maksudkuuu!"
"Aya ini jago banget ya pakai lelucon miris buat nyakitin hati nurani orang lain..."
Yah, karena sudah sampai di sini, rasanya percuma kalau aku terus menutup-nutupinya, jadi aku kasih tahu saja...
Aya-chan itu sepertinya masuk sekolah ini setahun lebih awal daripada kami.
Soal alasan di balik hal itu, aku merasa tidak sopan kalau orang lain yang menceritakannya, jadi aku tidak akan bahas lebih detail.
Tapi, pengalaman hidupnya yang kaya—serta kata-kata vulgar... eh, maksudku kata-kata penuh makna yang kadang terucap darinya—sedikit banyak telah menuntun kami menuju kedewasaan, entah itu ke arah yang baik atau buruk.
...Meski aku sangat berharap dia bisa sedikit mengurangi bumbu-bumbu "dewasa" yang terlalu blak-blakan itu, sih.
"Tapi ya, kalau belum punya hal yang ingin dilakukan, berarti kamu bebas mau jadi apa saja, kan? Ayo punya mimpi yang besar, Aya-chan!"
"Bener juga, mumpung nggak ada kerjaan, apa aku kuliah ke luar negeri saja ya?"
"Asyik tuh, kuliah di luar negeri! Tapi aku nggak tahu sih nilai Aya cukup apa nggak buat masuk universitas di sana."
"......Kemarin pas ujian akhir, peringkatku tiga tingkat di atas Haru, lho?"
"Aya, kamu itu cuma selisih tipis sama aku! Itu tandanya kamu dalam bahaya, tahu! Sadar diri dong!"
"Yang harusnya sadar diri itu kamu, Haru-chi..."
【Kasus Shirasaka Hikari】
"Hikari sudah pasti lanjut kuliah, kan?"
"Kalau sampai kamu bilang nggak mau lanjut, bisa-bisa para guru langsung rapat darurat, lho."
"Apalagi kalau Hikarin bisa mempertahankan nilai yang sekarang, masuk universitas negeri atau swasta ternama pun kayaknya bakal gampang banget~"
"Umm, yah, aku memang berencana lanjut kuliah, sih. Tapi jujur, aku belum kepikiran mau ambil apa atau ke mana~"
Dan akhirnya, tibalah giliranku.
Selama ini, karena semua orang seolah hanya tertarik pada urusan asmaraku, aku sempat mengira obrolan serius tentang diriku tidak akan laku. Tapi ternyata, mereka semua malah sangat antusias menanggapi.
Atau lebih tepatnya, ternyata reputasiku di bidang akademik benar-benar tinggi ya di mata mereka.
"Tapi ya, justru karena itulah aku merasa harus terus mengasah diri dari sekarang, supaya nantinya aku siap untuk menempuh jalan mana pun yang kupilih."
"Sebaliknya, aku malah nggak habis pikir gimana kamu bisa sehebat itu di bidang akademik maupun non-akademik padahal nggak punya ambisi atau motivasi apa-apa"
"Hikari itu memang sudah terlahir sebagai murid teladan, ya"
"Jujur saja, gara-gara aspek lainnya yang ponkotsu, selera buruk Tuhan jadi makin kelihatan jelas, ya~"
TN Yomi Novel: Ponkotsu (ポンコツ): Istilah untuk menggambarkan seseorang yang payah, ceroboh, atau tidak becus dalam melakukan hal-hal praktis meskipun di bidang lain (seperti akademik) ia sangat hebat.
"Yuki, itu sih jelas-jelas hinaan, tahu!"
...Tuh, kan? Lihat saja bagaimana penilaian mereka terhadap aspek lain dalam diriku.
"Tapi ya, sisi ponkotsu-nya Hikari ini untungnya belum ketahuan sama cowok-cowok di sekolah~"
"Iya, bener banget! Sampai sekarang masih ada saja cowok yang bilang Hikarin itu kayak orang suci. Aku sampai merinding dengarnya."
"Ahaha, apa-apaan itu? Kalau Hikari benar-benar jadi orang suci, dia cuma bakal jadi cewek menyebalkan yang sok suci, kan?"
"...Anu, Aya-chan, penilaianmu terhadapku bukannya agak terlalu ekstrem?"
"Yah, tapi nggak apa-apa juga, sih! Biarlah Hikari yang asli cuma jadi milik kita berempat saja."
"Betul, betul! Barang siapa di antara kalian yang menyadari daya tarik asli Hikarin, hendaklah dia yang pertama melemparkan batu!"
"Jangan dilempar juga, dong!"
"Ngomong-ngomong Haru, Yuki... malam ini kalian jangan tidur duluan, ya? Aku belum lupa kejadian di rumah Hikari setengah tahun yang lalu, lho."
"Tenang saja, tenang! Minuman energi yang kuminum tadi kayaknya sudah mulai bereaksi, nih!"
"Duh, Aya-chin cerewet banget sih soal hal kecil begitu~"
Begitulah, saat kami semua masih bersemangat mengobrol, waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi.
Sepertinya, all-night pajama party ini baru akan memasuki babak paling seru.
※ ※ ※
Yah, begitulah yang kupikirkan, setidaknya seingatku yang samar-samar...
"......P-pagi, Aya-chan."
"Pagi, Hikari."
Saat aku akhirnya sadar kembali dan mengecek jam di ponsel, angka di layarnya entah sejak kapan sudah hampir menyentuh pukul 5 pagi.
Begitu menyadari tubuhku, juga Haru dan Yuki, sudah terselimuti dengan rapi, aku bergegas mencari ke kamar lain dan kamar mandi, sampai akhirnya aku tiba di jendela besar ruang tamu yang menghadap ke timur.
Di balik jendela itu... di balkon yang menyuguhkan pemandangan kota di bawahnya, sudah tertata meja dan kursi yang tidak ada semalam. Di sana, Aya-chan sedang duduk dengan anggun sambil menyesap kopi, menatap langit sebelum fajar.
"E-eh... Aya-chan, sejak kapan bangun?"
"Seingatku sih, terakhir kali kamu tumbang itu sebelum jam 2 pagi, lho."
"Uwaaa... ujung-ujungnya kali ini pun gagal all-night, ya~"
"Yah, dari awal aku nggak berharap banyak, sih. Mana mungkin anak-anak sehat teladan kayak kalian bisa begadang semalaman."
"Uugh..."
Sebenarnya, acara menginap kami ini sudah pernah dilakukan sekali, sekitar setengah tahun yang lalu.
Waktu itu pun polanya sama: Haru yang langsung tumbang dalam sekejap, lalu Yuki yang merasa aman melihatnya ikut kehilangan kesadaran, dan terakhir dimulailah adu ketahanan antara aku dan Aya-chan. Itulah agenda rutin kami.
...Dan hasilnya, hari ini skornya resmi tercatat menjadi 0 menang dan 2 kalah. Iya, aku kalah.
"Tapi, kamu bangunnya pagi juga ya, Hikari... berkat itu sebentar lagi kamu bisa lihat pemandangan bagus, lho. Lihat tuh."
"Iya ya, jadi nggak sabar!"
Sesuai saran Aya-chan, aku duduk di kursi satunya yang ada di sampingnya.
Langit sudah mulai terang, tapi sinar matahari itu sendiri belum menyentuh pandangan kami.
Namun, aku yakin itu hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi.
"Makasih ya Aya-chan, sudah boleh menginap di kamar sebagus ini."
Di pinggir sungai, di apartemen mewah, di lantai atas.
Apalagi dari balkon besar yang menghadap ke timur ini, kami bisa mendapatkan kursi baris terdepan untuk melihat matahari terbit.
"Kan sudah kubilang kemarin. Ini kamar terkutuk, nggak usah merasa berterima kasih begitu."
"Y-yah, kalau soal latar belakang itu aku memang agak sulit berkomentar, sih..."
Memang, untuk mendapatkan hak yang di luar jangkauan orang biasa ini, mungkin dibutuhkan berbagai pengalaman pahit dan kotor yang harus dilalui.
"Tapi tetap saja, fakta kalau sekarang kita bisa bergaya ala jetset di sini, itu jelas-jelas berkat Aya-chan!"
Aya-chan selalu punya cara untuk menapis hal-hal semacam itu melalui filter self-deprecating, lalu mengubahnya menjadi bahan tertawaan.
Dia seolah membuang-buang waktu demi menghabiskan masa muda yang naif, yang mungkin terasa tidak cocok dengan pembawaannya, bersama kami.
"...Ini berkat kamu, Hikari."
"Ih, aku kan nggak ngapa-ngapain!"
Profil wajahnya mulai merona kemerahan.
"Yang membawaku ke tempat ini... itu kamu, Hikari."
"Tapi apartemen ini kan punya ayahmu, Aya-chan..."
"Bukan itu maksudku."
Rona merah itu bukan karena gejolak emosi tertentu. Itu hanyalah pantulan cahaya matahari yang mulai menampakkan diri di ufuk, mulai menyinari kami berdua.
"Kamulah yang membawaku ke tempat 'fajar menyingsing' ini, Hikari."
"Aya-chan...?"
Meski aku agak tidak mengerti apa maksud perkataannya, tapi entah kenapa, kalimat misterius itu terasa sangat cocok dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"Jadi, sudahlah. Tidak apa-apa."
"...Aku benar-benar nggak paham deh apa yang kamu bicarakan, Aya-chan."
"Nggak paham juga nggak apa-apa. Hal seperti itu nggak penting."
Mendengar itu, aku pun membatin, 『Ya sudah kalau begitu, nggak paham pun kayaknya nggak masalah』.
"Waaaah! Gila, tempat ini keren banget!"
"Lihat, matahari terbit~!"
Tiba-tiba dari arah belakang kami, terdengar sorakan yang membuyarkan atmosfer syahdu tadi.
"Pagi, Haru, Yuki."
"...Akhirnya bangun juga ya, dasar tukang tidur."
Masih pakai piyama, kantung mata menghitam, dan rambut acak-acakan.
Namun, mata mereka berbinar-binar, masih sangat bersemangat untuk menikmati hari spesial ini lebih lama lagi.
"Eh, sarapan di balkon sini yuk?"
"Ide bagus! Ayo bawa dua kursi lagi ke sini!"
Melihat suasana syahdu kami dirusak begitu saja oleh mereka berdua, aku dan Aya-chan saling pandang sejenak lalu tertawa kecut bersama.
"Oke, kalau gitu aku yang buat sarapan! Di kulkas ada bahan apa ya?"
"Jangan, aku nggak mau dapurku kotor. Kita beli sandwich di minimarket saja, yuk?"
Yah, sepertinya untuk urusan kompak dalam segala hal, kami memang masih belum bisa serasi sepenuhnya.
Shirasaka Hikari, 16 tahun...
Malam panjang di hari Sabtu... tidak, bahkan sampai hari Minggu siang.
Aku telah menghabiskan dua hari yang menyenangkan, panjang, namun terasa berlalu dalam sekejap mata.

